E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — My Articles

Near Win

Kesuksesan adalah racun. Ya, karena begitu kita mencapai puncak sukses, kita cenderung terjangkit penyakit puas diri dan kemapanan. Kita cenderung terjebak pada perangkap kenyamanan. Kita menjadi “penikmat” prestasi masa lalu, dan tak lagi menjadi “pejuang” capaian masa depan. Dalam kondisi ini sense of crisis hilang, sense of striving pupus, daya kreasi dan imajinasi pun kemudian memudar.

“Perfection is the enemy of progress,” kata Winston Churchil. Ketika kita menganggap apa yang kita perjuangkan telah mencapai kesempurnaan, maka pada titik itulah sesungguhnya kita mandek. Ketika kita merasa hebat, bahkan merasa yang terhebat, maka sesungguhnya di situlah awal titik kejatuhan kita.

Itu sebabnya saya mengatakan musuh kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan menciptakan kondisi enak, nyaman, dipuja-puji, disanjung-sanjung, ditiru-tiru, dijadikan role model, dianggap paling hebat, dianggap menginspirasi. Kondisi serba enak dan nyaman ini seringkali menjadikan kita lupa, lalai, bahkan takabur. Kondisi paling parah adalah kalau kesuksesan menjadikan kita malas berpikir keras, malas bekerja keras, malas berkreasi keras, malas belajar keras. Ketika itu terjadi maka kiamat di depan mata.

“Hampir Menang”
Saya suka dengan istilah “near win” yang diperkenalkan oleh Sarah Lewis, seorang kurator seni, dalam bukunya The Rise (Simon & Shuster, 2014). Ia mengatakan bahwa kita seharusnya tak pernah boleh merasa betul-betul sukses. Kita harus menganggap sukses yang kita capai sebagai sesuatu yang belum betul-betul final.

Sehebat apapun kesuksesan yang kita raih harusnya tetap kita anggap sebagai “setengah sukses” atau “hampir sukses”. Ya, karena kalau kita merasa betul-betul sukses maka penyakit kemapanan dan kenyamanan bakal menyergap. Dalam berjuang menggapai impian, sesungguhnya kita tak pernah betul-betul menang, yang ada adalah “hampir menang”.

Near win menjadikan kita terus memompa andrenalin untuk mencapai sukses berikutnya. Near win memungkinkan kita tetap menjaga vitalitas perjuangan untuk menerima tantangan-tantangan dalam mencapai sukses-sukses berikutnya. Near win menjadikan kita tidak malas, tidak comfort, dan tidak takabur. Near win membebaskan kita dari sikap mendewakan prestasi masa lalu, dan lupa pada tantangan kesuksesan masa depan.

Singkatnya, near win yang membuat kita selalu bersemangat untuk terus maju, tidak mandek. “In our pursuit of success, it is actually our near wins that push us forward,” ujar Sarah. Kalau “menang” adalah racun kesuksesan, maka “hampir menang” adalah madu kesuksesan.

“Sekali Sukses, Sesudah Itu Mati”
Dalam salah satu sajaknya Chairil Anwar pernah bilang, “Sekali berarti, sesudah itu mati.” Untuk tulisan ini, boleh kiranya bunyi sajak itu saya plesetkan sedikit menjadi, “Sekali sukses, sesudah itu mati.” Ungkapan ini pas sekali menggambarkan sosok-sosok yang sukses, tapi suksesnya tak berkesinambungan. Begitu sukses diraih, sekonyong-konyong penyakit sok hebat, penyakit kemapanan, dan penyakit kemalasan menghinggapi. Akibatnya kemudian bisa ditebak: kesuksesan yang diraih tersebut adalah yang pertama, sekaligus yang terakhir.

Untuk bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya, maka kita harus memiliki mentalitas near win. Mentalitas untuk tetap rendah hati menjadi underdog. Mentalitas untuk menganggap kesuksesan sebagai sebuah never-ending journey: perjalanan yang tak pernah mengenal kata akhir.

Bicara mengenai sukses sebagai sebuah never-ending journey, saya teringat ungkapan Steve Jobs ketika ia di depak dari Apple di tahun 1980-an. Steve bilang, “…getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”

Ia tidak menyikapi pemecatannya sebagai akhir dari segalanya, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif dalam perjalanan karirnya. Memulai kembali di titik nol justru memberinya energi luar biasa untuk berkreasi menghasilkan produk demi produk hebat di kemudian hari mulai iPod, iPhone, hingga iPad. Kondisi serba keterbatasan di tengah keterpurukan justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan berikutnya.

Keterpurukan menjadikan Steve Jobs berpikir 1000% lebih keras, bekerja 1000% lebih keras, berkreasi 1000% lebih keras. Hanya dengan begitu kita bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya. Hanya dengan begitu kita mencapai sukses yang berkesinambungan, bukan “sekali sukses, sesudah itu mati.”

October 17, 2015   8 Comments

Village Biopreneur

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan teman-teman dari Divisi CSR (Corporate Social Responsibility) Bank BCA, di bawah payung Program Bakti BCA dan para aktivis komunitas. Ada mas Sapto Rachmadi Kepala Divisi CSR BCA, mas @kemalgani, @handokoH, @dididiarsa, @hastjarjobw, @eritasantosa, dan lain-lain. Kita ngobrol santai mengenai program pemberdayaan desa untuk menjadikan desa sebagai pusat kegiatan ekonomi yang menarik sehingga warganya tidak kepincut pindah ke kota.

Kebetulan sejak beberapa tahun terakhir Divisi CSR BCA melakukan pendampingan di desa wisata Goa Pindul Gunung Kidul sehingga menjadi kasus menarik untuk kita obrolkan. Goa Pindul merupakan magnet bagi wisatawan karena goa ini memiliki dasar berupa sungai dan mengandung stalagtit terbesar keempat di dunia. Ekonomi desa ini bergairah sejak beberapa tahun terakhir karena pengembangan paket wisata susur gua (cavetubing) yang dikembangkan oleh warga desa. BCA mendampingi para entrepreneur desa untuk mengembangkan usaha operator cavetubing.

Entrepreneur Desa
Dalam diskusi tersebut kami mencapai kesimpulan bulat bahwa kunci keberhasilan pemberdayaan desa adalah peran aktif entrepreneur desa yang menjadi driver aktivitas ekonomi produktif di desa. Mereka memainkan peran sebagai leader yang menggerakkan masyarakat desa untuk mengembangkan aktivitas ekonomi mandiri di desa. “Kuncinya adalah SDM yang menjadi penggerak di desa,” ujar mas Sapto Rachmadi.

Banyak program CSR perusahaan besar lupa hal ini. Kebanyakan program mereka hanya memberikan bantuan modal, peralatan, infrastruktur, pelatihan, atau pendampingan tanpa memikirkan bagaimana keberlanjutannya. Setelah modal, peralatan, infrastruktur diadakan dan setelah pelatihan/pendampingan diberikan, umumnya kegiatan ekonomi produktif di desa berlangsung sebentar untuk kemudian lenyap dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Sebabnya itu tadi, tidak ada leader yang menggerakkan masyarakat desa untuk melakukan aktivitas ekonomi produktif. Program CSR perusahaan harusnya tak hanya sebatas menyediakan modal, peralatan, dan pelatihan. Tapi justru yang terpenting “menanam” entrepreneur yang berasal dari penduduk desa setempat dan berfungsi sebagai driver bagi penduduk desa untuk mengembangkan ekonomi produktif. Jadi village entrepreneurship adalah jantung dari segala upaya pemberdayaan ekonomi desa.

Biopreneur
Minggu depan, tepatnya Kamis 15 Oktober, saya dan Pak Iskandar, Dirut Bio Farma berencana meluncurkan sebuah buku berjudul Life Science for a Better Life. Salah satu poin penting yang kami majukan dalam buku tersebut adalah perlunya Indonesia “go to basic” untuk mengolah sumberdaya hayati menjadi bioproduk, bioindustri, dan bioekonomi. Kenapa begitu? Karena kita memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa baik tanah, tumbuhan, maupun hewan.

Kami katakan di dalam buku tersebut, Indonesia akan menjadi negara besar bukan karena industri otomotif, kimia, informatika, atau dirgantara, tapi industri berbasis hayati seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga energi terbarukan. Nah, selaras dengan kesimpulan diskusi di atas, pemain sentral di balik ide bioproduk, bioindustri, dan bioekonomi itu adalah para entrepreneur yang bergerak di sektor-sektor hayati. Istilah saya adalah biopreneur. Para biopreneur inilah yang nantinya mengubah kekayaan keanekaragaman hayati kita menjadi bioproduk yang memiliki daya saing kokoh di pasar lokal maupun global.

Cover Final

Harus diingat kita punya kekayaan hayati yang luar biasa. Bicara ternak, kita punya sapi Pasundan, sapi Bali, kambing Gembrong, atau domba Garut. Bicara buah kita punya manggis, durian, hingga salak pondoh. Bicara kopi, kita punya kopi Gayo, Toraja, Mandailing, Kintamani, atau kopi Wamena. Kalau kekayaan hayati itu bisa disulap menjadi produk bernilai tinggi oleh para biopreneurs, maka Indonesia akan menjadi raksasa bioproduk yang kokoh di pasar global.

Dengan punya keunggulan bioproduk maka, pertama, kita tak perlu lagi tergantung pada impor daging sapi, beras, kedelai, cabe, buah, atau garam. Kedua, bahkan kita bisa mengekspor bioproduk unggul mulai dari sapi, domba, beras, kedelai, kopi, atau buah ke pasar regional dan global. Bioproduk harusnya menjadi senjata ampuh untuk menarik devisa sekaligus memperkokoh benteng rupiah melawan mata uang kuat dunia.

Pemerataan + Kemandirian
Akan menjadi sangat indah, jika para biopreneur itu adanya di desa bukan di kota. Para biopreneur desa (yang umumnya adalah anggota kelompok-kelompok tani) bisa mengembangkan bioproduk yang menjadi potensi masing-masing desanya. Kalau ini bisa dilaksanakan secara massif di seluruh penjuru tanah air maka akan begitu banyak desa yang menghasilkan produk-produk unggulan yang memiliki daya saing kokoh di pasar. Kalau sudah begitu harusnya ide “One Village, One Bioproduct” bisa dikembangkan di Indonesia.

Ketika masyarakat bawah seperti petani, nelayan, atau peternak bisa mengembangkan produk unggulan desa, maka ini akan menjadi jembatan terwujudnya pemerataan pembangunan. Artinya, manfaat dari pengembangan bioproduk, bioindustri dan bioekonomi di Indonesia tak hanya dirasakan oleh pelaku ekonomi besar tapi juga menengah dan kecil. Saya justru melihat, kekuatan ekonomi Indonesia nantinya justru ditopang oleh kekuatan para biopreneurs di tingkat desa yang jumlahnya sangat besar. Ketika hal ini terwujud saya yakin Indonesia betul-betul akan menjadi negara besar yang mandiri dan disegani di dunia.

 

Book Discussion & Launch:

Kamis, 15 Oktober 2015, 08.39 – 12.00 wib, @ Kembang Goela, Jl. Sudirman Kav. 50, Jakarta. Pembicara: Iskandar, Prof. Dr. Bambang Purwantara (IPB), RM Karliansyah (KLH), Yuswohady (Moderator).

 

October 10, 2015   No Comments

Dua Kaki

Jumat pagi (18/9) lalu untuk kesekian kalinya saya diundang di program Indonesia Morning Show NET TV untuk membahas start-up yang keren dan lagi naik daun. Tamunya kali ini adalah Sofian Arjanggi dan Bonny Andrew pendiri kacamata kayu berlabel Kabau (bahasa Minang yang berarti kerbau). Kacamata kayu ini unik karena menggunakan bahan bekas papan luncur (skateboard).

Memulai bisnisnya tahun 2011, Kabau bisa dibilang perintis kaca mata kayu di tanah air. Selama sekitar empat tahun ini usaha Kabau berkembang pesat. Kadang mereka kelabakan memenuhi permintaan dari konsumen baik lokal maupun mancanegara. Dalam sebulan Sofian dan Andro memroduksi sekitar 25 kacamata dengan harga berkisar Rp 1-1,5 juta per bijinya. Proses distribusi berlangsung melalui email, media sosial, dan menitip ke toko-toko milik teman.

Kacamata Kabau

Yang membuat saya kagum pada keduanya adalah unique selling point yang mereka tawarkan. Pertama, proses pembuatannya mengandalkan kerajinan tangan (crafting) dan customized. Kedua, brand story-nya kuat karena mengusung konsep green karena diolah dari recycle papan luncur bekas. Ketiga, dengan konfiden mereka mengedepankan kearifan lokal dan nasionalisme. Dengan bangga mereka mencantumkan label “Handcrafted by RI” dalam produk dan kemasan mereka.

Dengan konsep produk yang unik tersebut, tak heran jika Kabau diminati konsumen global dari Australia, Jepang, hingga Hawai. Ketika saya tanya ke mas Sofian, apakah di masa krisis seperti sekarang bisnis mereka lesu. Dengan enteng ia menjawab, jusrtu saat sekaranglah penjualan mereka melesat. Biangnya gampang ditebak, rupiah sedang murah-murahnya, sehingga permintaan konsumen mancanegara meroket.

Pasar Ekspor
Sekitar dua minggu sebelumnya saya diundang hadir pada acara perayaan ulang tahun Bio Farma di gedung Sabuga Bandung. Saya diundang pak Iskandar, direktur utama, karena sejak enam bulan terakhir saya sedang meriset dan menulis buku beliau berjudul Life Science for Better Life. Tahun ini perayaan ulang tahun Bio Farma istimewa karena bertepatan dengan 125 perjalanan bisnis life science company kebanggaan Indonesia ini.

Acara diisi dengan atraksi kesenian seluruh karyawan dari berbagai bagian dan divisi yang ditampilkan secara kolosal. Yang istimewa, perayaan juga menampilkan para seniman suku Baduy yang memainkan kecapi khas Baduy. Ya, karena salah satu kegiatan corporate responsibility Bio Farma adalah melestarikan dan mengembangkan kebudayaan adi luhung suku Baduy. Dalam sambutannya, pak Is menguraikan betapa cerahnya prospek industri life science global, dan bermodal pengalaman 125 tahun Bio Farma siap untuk ikut mendulangnya.

Aura yang saya tangkap dari setengah hari mengikuti perayaan tersebut adalah optimisme yang begitu menggebu dari Bio Farma mengenai prospek bisnisnya di tengah pemain lain yang tiarap karena krisis. Biangnya gampang ditebak, karena pasar utama perusahaan life science terkemuka Asia ini adalah pasar mancanegara. Di tengah rupiah yang makin terpuruk sekarang, justru kinerja Bio Farma kian perkasa. Dengan sekitar 70-80 persen omsetnya datang dari ekspor ke 130 negara, Bio Farma menatap krisis di tanah air dengan optimisme dan kepercayaan diri.

It’s about Survival
Yang ingin saya ungkapkan dari perjumpaan dengan dua perusahaan hebat di atas adalah satu hal. Bahwa Anda harus berpikir keras untuk “mengamankan” sumber pendapatan perusahaan di tengah krisis dan pelemahan sistematis rupiah beberapa tahun terakhir. Seperti yang telah dilakukan dua perusahaan di atas, pesannya jelas. Pertama Anda harus terus memperkuat local content agar tetap tak bergeming dihempas dolar atau yuan. Kedua, Anda harus melakukan diversifikasi sumber pendapatan, tak hanya datang dari pasar domestik (rupiah), tapi juga pasar luar negeri (dolar).

Saya menamakan perusahaan yang mengepakkan sayap pasarnya hingga ke mancanegara dengan sebutan global chaser. Dulu ketika rupiah sehat walafiat, menjadi global chaser adalah sebuah pilihan. Namun kini ketika rupiah kian terlunta-lunta, menjadi global chaser untuk meraup dolar adalah sebuah keharusan. Bahkan lebih jauh lagi, menjadi global chaser adalah masalah hidup dan mati. It’s about survival.

Ketika fondasi rupiah kian rapuh, maka Anda harus memiliki roadmap jangka panjang untuk perlahan menggeser tujuan pasar ke mancanegara, tak cukup hanya menjadi jago kandang. Anda harus memiliki dua kaki: yang satu adalah kaki pasar domestik dan yang kedua kaki pasar mancanegara. Dengan portofolio sumber penghasilan yang lebih sehat antara pasar domestik dan mancanegara, maka Anda akan memiliki posisi yang lebih baik dalam menghadapi krisis seperti yang dinikmati Kabau dan Bio Farma. Ketika produk lokal Indonesia kompetitif di pasar global karena pelemahan rupiah, maka kini justru peluang emas bagi kita untuk mendulang dolar dari pasar luar negeri.

So, pesannya sangat jelas. Jadikanlah momentum krisis saat ini untuk menjadi the real global chaser, seperti Kabau dan Bio Farma. Jangan justru terus mengeluh karena pasar lesu, konsumen tak punya duit, jualan kian sulit. Anyway, saya suka dengan istilah ini: “be a global chaser is not a choice. It’s about a survival.”

September 20, 2015   No Comments

Strategy in Crisis

Minggu lalu saya membagi konsumen di masa krisis menjadi empat jenis, yaitu: Panickers, Bargainers, Floaters, dan Wisers. Empat jenis konsumen ini memiliki profil dan karakteristik yang berbeda berdasarkan persepsi mereka mengenai tingkat keamanan hidup (life security) di masa krisis dan respons mereka terhadap datangnya krisis. Minggu ini giliran saya memberikan strategi dan tips bagaimana mengarap empat jenis konsumen tersebut.

Consumers in Crisis
Sebagai pengingat, ada baiknya jika saya sedikit memberikan rangkuman ciri-ciri dari empat jenis konsumen tersebut. Panickers adalah konsumen yang secara ekonomi merasa tak aman di masa krisis dan menyikapi bencana krisis dengan reaktif, panik (saking bingungnya), dan tak rasional. Konsumen jenis ini cenderung mengetatkan ikat pinggang, mengurangi level konsumsi, secara drastis memangkas pengeluaran, dan melakukan brand switching dengan memilih barang-barang murahan (price seeker).

Floaters adalah konsumen yang secara ekonomi merasa cukup aman di masa krisis namun dalam menyikapi krisis sangat reaktif, cemas, dan tak rasional. Konsumen jenis ini sangat reaktif begitu mendengar berita-berita atau omongan-omongan orang mengenai kian tak menentunya ekonomi. Tindakan-tindakannya dalam merespons krisis seringkali emosional dan tidak rasional, mereka cenderung latah mengikuti apa yang dilakukan banyak orang lain. Walaupun reaktif dalam melakukan pembelian, secara umum mereka cenderung menunda pengeluaran.

Bargainers adalah konsumen yang secara ekonomi merasa tidak aman di masa krisis namun mereka menyikapinya dengan sangat rasional dan dengan perencanaan yang baik. Bargainers adalah jenis konsumen yang adaptif, artinya cakap melakukan penyesuaian-penyesuain ketika kemampuan daya belinya terpangkas. Mereka tahu persis bahwa daya beli yang menurun harus diikuti dengan pengurangan konsumsi, pengurangan pengeluaran, seleksi produk secara lebih cermat, atau bahkan brand switching kalau diperlukan. Mereka juga getol mencari program sales promotion yang ditawarkan produk mulai dari diskon, beli dua dapat tiga, refund, atau bonus.

Wisers adalah konsumen yang secara ekonomi merasa aman dan menyikapi krisis dengan tenang dan bijak. Hal ini dikarenakan umumnya konsumen jenis ini lebih knowledgeable dan memiliki wawasan yang luas karena akses informasi yang terbuka lebar. Dengan kemampuan ini, mereka cakap mencari solusi dari setiap hempasan krisis yang menerpanya. Dari awal mereka adalah brand-minded, karena itu saat krisis pun mereka cenderung tetap loyal pada brand-brand yang menjadi dambaannya.

Strategy in Crisis
Nah, bagaiaman menghadapi empat konsumen berbeda tersebut? Berikut ini adalah strateginya.

Strategy in Crisis

Strategi pemasaran yang tepat dalam menghadapi konsumen Panickers adalah dengan strategi harga murah. Konsumen tipe ini akan memilih merek apapun yang paling murah. Mereka tidak terlalu mementingkan kualitas barang. Tawaran diskon-diskon menarik di toko bisa menjadi penarik utama kelompok konsumen ini. Apalagi jika ditambahkan dengan bahasa komunikasi pemasaran yang mengandung unsur empati terhadap kondisi mereka yang sedang di ujung tanduk akibat krisis. Brand dapat pula menawarkan produk dengan kualitas yang diturunkan dengan harga yang jauh lebih murah (“less for less” offers). Merek-merek yang selama ini ada tetap diberikan harga normal, kalaupun ada promo diskon tidak perlu diberikan tiap hari, cukup pada perayaan-perayaan tertentu saja.
Untuk menarik minat konsumen Floater kita bisa menerapkan strategi packaging yang memberi kesan bahwa konsumen mendapatkan barang lebih banyak dengan harga yang tidak terlalu jauh dari harga satuan. Kemasan produk berupa bulk, bundling, atau smaller size memberi efek psikologis yang menenangkan konsumen Floater yang ingin menimbun/membeli dengan kuantitas banyak untuk berjaga-jaga sebelum harga semakin melonjak tajam. Brand juga bisa mencoba pilihan-pilihan channel distribusi yang berbeda dari biasanya. Jualan lewat media online seperti media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, website) menjadi pilihan tepat untuk memangkas biaya sehingga harga ke konsumen bisa ditekan.

Dalam menghadapi konsumen smart dan kritis seperti Bargainers, brand dapat menerapkan kombinasi strategi marketing yang mengutamakan value innovation (“more for less” offers). Intinya, Anda harus bisa menawarkan produk yang berkualitas bagus, dengan harga murah melalui inovasi nilai. Misal, saat memilih alat transportasi umum, mereka langsung tertarik memilih tawaran Go-Jek yang memberi berbagai kemudahan, kenyamanan, keamanan, dan kepastian layanan angkutan umum dengan harga terjangkau hanya melalui satu aplikasi di smartphone.

Untuk konsumen Wisers, brand perlu mengutamakan strategi untuk mempertahankan loyalitas mereka supaya tidak pindah ke merek lain di bawahnya. Konsumen jenis ini cenderung lebih banyak menuntut kualitas produk dan layanan prima, sehingga mereka akan mudah pindah ke merek lain jika kecewa dengan layanan yang diberikan. Dengan tetap mempertahankan harga dan kualitas terbaik, brand bisa memberikan manfaat tambahan seperti after sales service, garansi kualitas, atau promo-promo khusus untuk mengunci loyalitas konsumen.

Tips in Crisis

September 12, 2015   No Comments

Life Science for Indonesia

Akhir pekan ini selama beberapa hari saya “masuk gua” di sebuah hotel di tepian kota Bogor. “Masuk gua” adalah istilah yang sering saya gunakan untuk menyebut “laku nyepi” dalam rangka menulis buku yang sudah masuk deadline untuk diterbitkan dalam waktu dekat. Biasanya kalau sudah masuk gua: HP mati, urusan macam-macam di Jakarta di-kill off, dan otak di-delete untuk urusan lain selain konten buku. Layaknya dikarantina, saya betul-betul lenyap dari hiruk-pikuk Jakarta.

Sebelum masuk gua, biasanya seluruh bahan dan referensi telah disiapkan dan sudah dibaca. Sehingga di dalam gua tidak ada lagi ritual membaca referensi, otak betul-betul dipakai untuk berolah ide dan data. Inilah ritual unik yang saya lakukan setiap kali ada di dalam gua: posisi duduk bersila layaknya sedang bersemedi, tangan nempel di tuts-tuts laptop, buku dan dokumen referensi tercecer di sekeliling siap dilahap, sesekali seperti orang gendheng pandangan menerawang ke langit-langit ruangan, ya itu tanda-tanda saya sedang mengeluarkan jurus “menangkap ide tulisan”.

Ilmu Hayati
Buku yang saya tulis kali ini istimewa karena menggabungkan topik spiritualitas, aplikasi teknologi tercangih di dunia yaitu ilmu hayati (life science), dan nasionalisme. Rencana judulnya adalah: “Life Science for Life”. Saya katakan rencana judul, karena last minute judul yang direncanakan di awal, tiba-tiba bisa berubah jika dalam perjalanan penulisan saya ketemu ide judul lain yang lebih sexy. Buku ini mengenai Biofarma, sebuah perusahaan life science yang moncer di kancah dunia (produknya kini dipasarkan di sekitar 130 negara), namun justru di negaranya sendiri tidak begitu dikenal.

Pak Iskandar, Dirut Biofarma dan narasumber utama buku ini, punya visi luar biasa yang langka dimiliki oleh anak negeri. Pendapat Pak Is membuat saya terhenyak. Kata beliau, Indonesia akan menjadi negara besar bukan karena kekuatan teknologi otomotif (upss, mobnas nggak pernah kejadian), bukan karena teknologi informatika secanggih Android, bukan pula karena teknologi ruang angkasa seperti yang dikembangkan NASA. “Negeri ini bakal besar karena life science,” paparnya.

Kenapa bisa begitu? Ya, karena Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (berupa spesies tumbuhan/hewan, gen, maupun ekosistem) terbesar dan terhebat di dunia. Keanekaragaman hayati yang demikian kaya dan tak ada duanya di dunia ini bisa disulap menjadi faktor kunci keunggulan bersaing (competitive advantages) luar biasa bagi Indonesia. Senjata pamungkasnya cuma satu, yaitu ilmu hayati.

Mega Biodiversity
Terus-terang saya tercenung menelusuri data-data mengenai betapa kayanya keanekaragaman hayati kita. Coba saja simak beberapa angka berikut. Dengan sekitar 17.000 jumlah pulau dan 2/3 dari seluruh wilayah merupakan perairan, negeri ini memiliki sekitar 10% dari total spesies tanaman di dunia. Kita memiliki 12% spesies mamalia dunia, termasuk mamalia langka seperti orangutan, harimau Sumatera, hingga komodo. Bahkan Indonesia memiliki 17% dari segala macam spesies burung yang ada di dunia. Tak hanya itu, Indonesia juga berada di peringkat pertama sebagai the world’s center of agroindustry yang memiliki tanaman budidaya (plant cultivar) dan unggas (domesticated livestock) terbesar di dunia.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta km persegi wilayah laut dengan spesies ikannya mencapai 37% dari total spesies ikan dunia. Kita juga memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, merupakan peringkat kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dari garis pantai sepanjang itu, 2/3 di antaranya dilindungi oleh batu karang yang mencapai 15% dari total batu karang yang dimiliki dunia. Praktis semua jenis batu karang di dunia ada di Indonesia. Tak heran jika Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies karang terbesar di dunia. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa tak heran jika negeri ini disebut: “the mega biodiversity country

Kelompok Tani Mizumi
Nah, kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa tersebut akan betul-betul menjadi kekuatan daya saing bangsa hanya jika mampu diolah menjadi produk kompetitif dunia dengan memanfaatkan ilmu hayati. Dalam perspektif Pak Is, produk yang diolah dengan pendekatan ilmu hayati akan menjamin sustainability karena ramah lingkungan (tak merusak lingkungan), ramah sosial (mendukung pemberdayaan ekonomi lokal), dan ramah budaya (melestarikan budaya dan kearifan lokal). Jadi tidak seperti produksi mobil yang menimbulkan polusi/degradasi lingkungan atau produksi obat farmasi yang justru menciptakan penyakit baru seperti kanker.

Awalnya saya silau dan pesimis, karena begitu mendengar life science atau biotechnology bayangan saya ilmu ini begitu canggih di menara gading dan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan super besar. Namun begitu saya ditunjukkan hasil ilmu hayati tepat guna yang dikembangkan Bio Farma bersama Kelompok Tani Mizumi Koi Farm di desa Sukamulya Sukabumi wawasan saya terkuak lebar. Rupanya ilmu hayati tepat guna juga bisa diterapkan oleh para petani lulusan SD untuk menghasilkan produk-produk yang diminati konsumen global.

Kebetulan beberapa bulan lalu saya datang ke desa Sukamulya, menyaksikan secara langsung bagaimana penerapan ilmu hayati untuk budidaya ikan koi yang dilakukan kelompok tani Mizumi. Dengan semangat kewirausahaan yang luar biasa, Pak Asep Munanwar sang ketua kelompak, memimpin puluhan rekan sedesanya menerapkan ilmu hayati yang praktis dengan bimbingan dari Bio Farma. Caranya dengan menggunakan teknik pemurnian (purification) dan pemuliaan (breeding) benih untuk menghasilkan komoditas koi unggul. Dengan kolaborasi ini kini desa Sukamulya tersulap menjadi sentra budidaya ikan koi unggul yang memiliki jangkauan pasar tak hanya nasional tapi juga global.

Kemandirian Indonesia
Dengan success story kelompok tani Mizumi mengaplikasikan ilmu hayati tepat guna, saya kemudian berpikir, harusnya kelompok-kelompok tani di ribuan desa di tanah air juga bisa melakukannya. Kalau desa Sukamulya berspesialisasi pada budidaya ikan koi, maka desa-desa lain bisa berspesialisasi di produk-produk unggulan lain sesuai potensi keanekaragaman hayati yang mereka miliki. Desa-desa di Kepulauan Halmahera misalnya, bisa berspesialisasi di produk perikanan. Desa-desa di Aceh berspesialisasi di kopi Gayo yang tenar di seantero dunia. Desa-desa di Sulawesi Utara fokus di kelapa. Desa-desa di NTT fokus di peternakan sapi. Demikian seterusnya. Kalau hal ini terwujud, maka ide “one village, one product” bisa digulirkan di seluruh penjuru tanah air.

Eksperimen Bio Farma dengan Kelompok Tani Mizumi adalah kasus sederhana yang seharusnya bisa menjadi model bagi terwujudkan kemandirian ekonomi nasional yang kini didengung-dengungkan pemerintahan Jokowi. Di dalam model tersebut terdapat sebuah kombinasi yang sangat cantik dari tiga elemen kunci. Pertama key asset, berupa modal kekayaan keanekaragaman hayati yang begitu besar. Kedua key enabler, berupa aplikasi ilmu hayati tepat guna untuk mengubah keanekaragaman hayati menjadi produk kompetitif di pasar global. Ketiga key player, berupa wirausahawan desa yang mampu mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Kalau saya singkat menjadi sebuah rumus, maka bunyinya kira-kira begini: [Keanekaragaman Hayati] + [Ilmu Hayati Tepat Guna] + [Kewirausahaan Desa] = [Kemandirian Indonesia].

Di tengah kian terpuruknya rupiah saat ini, rumus ini mendesak untuk kita realisasikan.

August 22, 2015   2 Comments

UMKM dan Desa

Hari Rabu malam (5/8) lalu saya ketemu dan berhalal bihalal dengan para “UMKM hero”, para tokoh pemimpin komunitas yang peduli memajukan UMKM (usaha mikro kecil menengah) Indonesia. Mereka antara lain adalah pak Budi Isman (pendiri Komunitas Smartpreneur), pak Subiakto (pakar branding), mas Badroni Yuzirman (pendiri Komunitas Tangan Di Atas), mas Jaya Setiabudi (pendiri Young Entrepreneur Academy), mas Emille Jayamata (Komunitas Organik Indonesia), dan lain-lain. Kami diundang oleh temen-temen Telkom DBS, divisi yang khusus membidangi sektor bisnis UMKM. Di situ kami ngobrol ngalor-ngidul mengenai bagaimana memajukan UMKM Indonesia.

Yang menarik dari forum itu, rupanya isi otak kami sama. Kami memang punya movement masing-masing yang berbeda untuk memajukan UMKM, namun rupanya memiliki spiritdan keresahan yang sama. Keresahan terbesar yang kami rasakan adalah makin mengkhawatirkannya dominasi kapitalisme global melalui kehadiran perusahaan-perusahaan global asing yang merasuk hingga ke urat nadi perekonomian negeri ini.

Praktis semua sektor industri (mulai dari pertambangan, telekomunikasi, perbankan, otomotif, konsumer, elektronik, farmasi, ritel, hingga film dan musik) secara sistematis dan struktural dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing melalui kekuatan modal, teknologi, manajemen, dan SDM berkelas dunia. Dalam forum tersebut teman-teman khawatir dengan tren terakhir dimana jagad online shop kita secara agresif mulai dikuasai kekuatan modal asing. Para pendiri online shop lokal begitu bangga ketika start-upyang mereka rintis dibeli pemodal asing. Tentu saja, karena triliunan rupiah masuk ke pundi-pundi kekayaan mereka.

UMKM
Seperti teman-teman yang lain, dalam forum tersebut saya mengemukakan konsern mengenai keresahannasional ini. Saya bilang bahwa “pertahanan terakhir” kemandirian ekonomi Indonesia ditentukan oleh dua hal, yaitu UMKM dan desa. Saya katakan di situ, kalau perusahaan-perusahaan global asing menguasai perusahaan-perusahaan besar lokal (jumlahnya tak sampai 5000 biji), maka itu masih bisa diterima. Namun kalau sampai seluruh perusahaan UMKM kita (jumlahnya ada sekitar 50 juta biji) dikuasai oleh kekuatan asing, itu baru terjadi “kiamat” nasional. Kalau itu terjadi maka so pasti benteng kemandirian ekonomi nasional betul-betul jebol.

UMKM betul-betul menjadi senjata terakhir kemandirian ekonomi nasional karena kekuatan modal asing akan enggan mencaploknya. Ya, karena ukuran mereka kecil maka tentu saja tidak menarik untuk diakuisisi karena potensi ekonominya kecil. Namun perlu diingat, kecil kalau jumlahnya banyak hingga jutaan dan mereka bersatu-padu bersinergi, maka mereka akan menjadi sebuah kekuatan yang maha besar. “Smalls are the new big” adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan kekuatan jutaan UMKM kita.

Bicara kekuatan jutaan UMKM kita, serta-merta saya teringat dengan perang gerilya merebut kemerdekaan. Keberhasilan para pejuang gerilya kita melawan Belanda terutama ditentukan oleh “small power” ini. Kenapa pejuang gerilya kita yang hanya bersenjata bambu runcing dan senapan sulit ditundukkan tentara Belanda yang memiliki senjata lengkap seperti meriam dan tank? Tak lain karena pejuang kita “kecil-kecil”, pergerakannya tak berpola seperti amuba, sulit dideteksi keberadaannya, dan begitu lincah melakukan penyerangan.Nah, saya gambarkan jutaan UMKM kita layaknya pejuang gerilyawan yang kecil-kecil banyak, super lincah, dan sulit dikooptasi dan dikendalikan oleh kekuatan korporasi global asing

Desa
Lalu bagaimana dengan desa? Kenapa desa adalah kekuatan pamungkas kemandirian ekonomi nasional. Kalau Ibukota, provinsi, kota/kabupaten di kuasai oleh kekuatan korporasi global asing maka itu masih bisa diterima. Namun kalau sampai terjadi desa mereka kuasai, maka pada saat itu juga akan terjadi “kiamat” nasional. Negeri ini akan jatuh terpuruk oleh suatu bentuk penjajahan baru. Penjajahan bukan oleh kekuatan senjata, namun oleh kekuatan modal dan kapitalisme yang menghisap.

Untuk memberikan gambaran gampang saya memberi contoh dominasi gerai-gerai waralaba makanan asing yang sepuluh tahun terakhir begitu agresif melakukan ekspansi pasar di seluruh penjuru tanah air. Ekspansi waralaba makanan asing ini begitu massif meminggirkan kuliner-kuliner lokal yang menjadi kekayaan Indonesia. Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan seminar publik saya sering curhat mengenai kekawatiran bahwa pecel, rawon, rendang, atau gudeg makin tidak dikenal dan kian tak dikonsumsi oleh anak-cucu kita, kalah pamor oleh kuliner asing.

Nah, kalau gerai-gerai waralaba makanan branded asing itu hanya menguasai ibukota, provinsi, atau kabupaten/kota, maka itu masih bisa ditolerir. Namun kalau sampai mereka hadir hingga di tingkat desa, maka pada saat itu jebol pula tanggul kemandirian ekonomi nasional kita. Dengan tingkat laju ekspansi waralaba makanan asing seperti sekarang, tak tertutup kemungkinan jebolnya tanggul ini terjadi dalam waktu yang tak lama.

Sekarang saja ekspansi mereka sudah meluber hinggadi tingkat kabupaten/kota.Tinggal sejurus lagi mereka masuk kecamatan dan desa. Kalau dulu kita mengenal AMD singkatan “ABRI Masuk Desa” maka nanti kita bakal mengenal “Asing Masuk Desa”. Kalau itu terjadi, saya takut suatu saat akan ada “Museum Kuliner Nusantara” dimana anak-cucu kita yang berkunjung takjub menyaksikan pecel, rawon, atau gudeg yangjadul dan langka ditemui.

Kalau betul UMKM dan desa menjadi pilar kemandirian ekonomi nasional, lalu apa agenda besar yang harus kita rintis dan kembangkan? Pekerjaan besarnya cuma satu, yaitu menciptakan wirausahawan UMKM di tingkat desa (grass root) dalam jumlah besar, tak hanya ribuan tapi bahkan jutaan. Wow… sebuah mimpi dan pekerjaan besar. Namun seperti kata orang bijak, tak ada sesuatu yang tak mungkin jika kita punya niatan dan kerja keras. Yuk wujudkan!!!

August 8, 2015   4 Comments

4 Pilar Pariwisata Indonesia

Saya bungah ketika beberapa waktu lalu Pak Arief Yahya, sebelumnya direktur utama Telkom, diangkat Pak Jokowi sebagai Menteri Pariwisata. Kenapa? Karena saya kenal lama belia dan tahu betul dia adalah seorang marketer tulen. Saya kira kementrian ini butuh sosok yang piawai mengembangkan produk destinasi wisata, mengintegrasikan segenap stakeholders pariwisata (agen perjalanan, perhotelan, penerbangan, pengelola destinasi wisata, pelaku MICE, dsb) untuk memperkokoh daya saing, dan menciptakan kampanye branding pariwisata massif di seantero negeri. Dan Pak AY, demikian biasa dipanggil, cukup mumpuni untuk itu.

Khusus mengenai kampanye branding, kita merindukan sebuah kampanye branding massif yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia seperti yang pernah digelar di era Orde Baru dengan kampanye “Visit Indonesia Year”. Di bawah nakhoda pak Joop Ave, kampanye branding ini terbukti cukup sukses menggerakan kesadaran seluruh elemen bangsa untuk ikut terlibat memasarkan pariwisata Nusantara dan ampuh mendatangkan turis ke Tanah Air. Setelah itu praktis kampanye branding pariwisata kita mlempem, tenggelam oleh kampanye branding negara tetangga seperti Singapura dengan “Uniquelly Singapore” atau Malaysia dengan “Truly Asia”.

Saya berharap di bawah nakhoda baru, pariwisata kita menggeliat kembali mengejar ketertinggalan negara tetangga Singapura-Malaysia-Thailand yang agresif meraup devisa dari sektor yang sangat seksi ini. Saya melihat ada empat destinasi wisata yang bisa menjadi pilar daya saing pariwisata di pasar dunia. Keempat pilar tersebut adalah: wisata budaya (culture), wisata maritim (maritime/archipelago), Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE), dan wisata syariah.

Budaya, Tetap Menjanjikan
Wisata budaya adalah keunikan Indonesia yang tidak ada tandingannya dibanding negara manapun di muka bumi ini. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik (atau 1.340 suku bangsa) dan 546 bahasa daerah. Dengan kekayaan budaya yang luar biasa, Indonesia adalah salah satu negara paling eksotis di dunia. Hebatnya lagi, setiap konten etnik tersebut menyimpan brand story yang luar biasa. Kalau brand story itu dikemas dan kemudian dipromosikan ke masyarakat dunia maka ia akan menjadi magnet penarik wisman (wisatawan mancanegara) yang luar biasa ampuhnya.

Destinasi wisata budaya paling berpotensi mengalami penuaan sehingga kehilangan keeksotisannya. Karena itu challenge terbesar dari destinasi wisata ini adalah upaya revitalisasi produk agar relevan dan bisa tetap menarik bagi wisatawan asing. Beberapa upaya dilakukan untuk merevitalisasinya seperti penguatan brand story atau brand heritage, pemanfaatan teknologi canggih untuk pertunjukkan (misalnya dengan pemanfaatan multimedia), atau dengan menciptakan ataraksi-atraksi budaya yang experiential. Cirque du Soleil adalah contoh pas bagaimana pemanfaatan teknologi, multimedia, dan atraksi yang experiential telah mampu merevitalisasi pertunjukkan sirkus yang jadul menjadi sebuah tontonan yang cool, modern, dan luar biasa menarik.

Maritim, The Rising Star
Tak hanya budaya dan bahasa, Indonesia juga memiliki kepulauan lebih dari 13.000, suatu jumlah yang luar biasa dan tak ada tandingannya di dunia. Dengan panjang pantai mencapai 99.000 km, Indonesia menyimpan pantai-pantai indah yang yang tak kalah ampuh menjadi magnet penarik wisman. Potensi-potensi destinasi pantai itu kini mulai muncul dan pelan tapi pasti mulai dikenal dunia seperti Raja Ampat (Papua) yang begitu eksotik, pantai Takabonerate (Makassar) yang memiliki atol terbesar kedua di dunia, atau Wakatobi (Sulawesi Tenggara).

Saya menyebut wisata pantai dan kepulauan sebagai “the new rising star”, karena selama ini luput dari sentuhan promosi/pengemasan, namun kini di bawah pemerintahan Jokowi-JK mulai mendapatkan kegairahan baru. Tak hanya pemerintahan baru, seluruh pelaku industri pariwisata kita kini sedang ancang-ancang memanfaatkan momentum bonanza wisata maritim. Hanya saja challenges untuk mengembangkan destinasi pariwisata ini bukannya kecil. Harus diakui, pantai-pantai indah yang menjadi magnet bagi wisatawan asing ini banyak terdapat di kepulauan-kepulauan Indonesia bagian timur yang masih perawan dan minim infrastruktur baik jalan, bandara, hotel, dan sebagainya. Jadi, infrastructure bottleneck akan menjadi penghalang terbesar, kita butuh waktu untuk mengembangkannya.

MICE Mencorong
Pilar ketiga adalah wisata MICE. Blessing in disguise, di tengah lesunya perekonomian di Eropa dan Amerika, pasar MICE kini mulai bergeser ke emerging countries seperti Indonesia. Untuk jumlah pertemuan, hingga tahun 2010 lalu pasar MICE sebagian besar memang masih dikuasai negara-negara maju lebih dari separuhnya. Namun beberapa tahun terakhir pasarnya mulai bergeser ke emerging countries. Selama kurun waktu 2000-2010 misalnya, menurut ICCA pasar MICE di Cina tumbuh 15%, Brasil (12%), UEA (32%) dan Indonesia (10%), sementara negara-negara Eropa hanya tumbuh 5-6% dan Amerika 2,5%.

Singapura, Malaysia, dan Thailand masih memimpin industri MICE di kawasan Asia Tenggara. Dari sisi jumlah pertemuan misalnya, pada tahun 2010 lalu jumlah pertemuan di Indonesia hanya setengah kalau dibandingkan Singapura. Seiring dengan mantapnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan siknifikannya jumlah penduduk kelas menengah sejak 3 tahun terakhir, saya yakin Indonesia akan makin memantapkan diri menjadi primadona MICE di Asia. Apalagi jika hal ini diikuti membaiknya country image dan country brand Indonesia karena berbagai faktor yang mendukung seperti: pasarnya yang besar, peringkat investasi (investment grade) yang terus membaik, kualitas infrastruktur, birokrasi yang kian efektif dan efisien, dan sebagainya.

Pusat Fashion Muslim Dunia
Pilar keempat adalah fesyen muslim. Saya konfiden mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi menjadi pusat fesyen muslim dunia. Ditinjau dari sisi konsumen, negeri ini punya pasar yang besar karena kita memiliki populasi muslim terbesar di dunia mencapai 87% dari total penduduk Indonesia. Sementara dilihat dari sisi industrinya, kita menyaksikan gairah industri fesyen yang berkembang begitu mengagumkan. Pertama, maraknya bermunculan para desainer fesyen muslim yang melahirkan banyak produk inovatif, modern, dan stylish. Kedua, tumbuh suburnya brand busana muslim seiring maraknya pasar busana muslim di Tanah Air. Ketiga, menjamurnya berbagai acara hijab fashion show ataupun pameran produk desain fesyen di seluruh penjuru Tanah Air.

Visi mewujudkan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia menuntut adanya event-even fesyen berskala dunia dengan target audiens pelaku industri fesyen muslim dari seluruh penjuru dunia. Karena itu setiap pelaku industri ini harus bangkit dan mengambil peran aktif untuk mewujudkan visi besar ini. Kita harus mulai secara bertahap dan sistematis mulai membangun place branding Indonesia sebagai kiblat fesyen dunia. Dengan gerakan “Indonesia Inc” dari seluruh stakeholders yang terkait dengan industri ini kita yakin bisa mewujudkannya lima atau sepuluh tahun ke depan.

 

December 14, 2014   No Comments

Meme Marketing

Minggu lalu Line mengunggah video mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) versi 2014 di YouTube untuk memperkenalkan fitur baru pencarian teman sealmamater. Kharisma AADC memang luar biasa, terbukti video 10 menitan itu mampu mengaduk-aduk emosi siapapun yang pernah terbuai oleh film itu 12 tahun lalu. Mendadak sontak, video itu langsung memicu kehebohan. Dalam waktu 2-3 hari video itu telah ditonton oleh jutaan orang.

Tak hanya itu, yang lebih spektakuler AADC 2014 mampu memicu pergunjingan para netizen di media sosial. Dalam waktu singkat meme pun berseliweran membentuk viral yang heboh luar biasa. Netizen seperti berlomba-lomba beradu kreativitas memparodikannya dalam bentuk meme video, gambar, maupun cuit-cuit di Twitter. Di tangan netizen, AADC yang sendu mengharu-biru berubah menjadi banyolan ngocol yang fun dan happening. Tak pelak lagi, Line pun ketiban ganjaran publisitas yang luar biasa.

Meme AADC

Heboh meme bukan sekali ini saja terjadi. Beberapa minggu sebelumnya Mastin mengalaminya. Jingle iklan TV Mastin, “Kabar gembira untuk kita semua. Kulit manggis, kini ada ekstraknya…” menjadi sasaran empuk pergunjingan netizen di ranah maya.
Seperti biasa meme selalu berpotensi menyebar luar biasa bak virus ebola karena sifat humornya, sindiran cerdasnya, atau ungkapan-ungkapan nakalnya yang menggerakkan kita untuk mem-forward, me-retweet, dan menyebarkannya.

Walaupun video AADC dan jingle iklan “Kabar Gembira…” menjadi bahan guyonan, lucu-lucuan, atau tertawaan, namun saya kira tak sampai merusak elemen dasar brand equity Line maupun Mastin. Justru sebaliknya, gelombang meme di media sosial justru berbuah manis, dalam waktu singkat awareness Line dan Mastin meroket secepat kilat. Jadi so far, gempuran meme di media sosial baik-baik saja pengaruhnya bagi kedua brand tersebut, persis seperti bunyi tagline Mastin yang eksentrik: “goooood…”

Powerful Marketing
Contoh kasus di atas memberikan gambaran gamblang, bahwa kita para marketers bisa memanfaatkan meme sebagai alat dan teknik pemasaran yang ampuh. Dengan kejelian dan kreatifitas, marketers bisa memanfaatkannya untuk membangun awareness, menciptakan connection dengan konsumen, atau bahkan membangun keterlibatan dan engagement dengan mereka. Seperti halnya kasus Line dan Mastin, potensi buzz dan viral meme yang luar biasa menjadikannya alat pemasaran yang “low budget, high impact” dan mampu meroketkan brand Anda dalam waktu super singkat.

Dalam kasus di atas, Mastin menjadi “korban” atau obyek serangan bully yang dilakukan oleh netizen dengan menggunakan media meme. Namun kenapa tidak marketers justru secara proaktif dan cerdas memanfaatkan dan merekayasa meme yang sedang hot dibicarakan di media sosial untuk kepentingan pemasaran. Saat meme AADC sedang hot-hotnya, beberapa brand seperti Heineken, Indomie, dan XL dengan sigap memanfaatkannya dengan membuat meme AADC versi mereka untuk numpang ketenaran.

Memejacking - Heineken

Ketika gelombang meme video Harlem Shake melanda ranah maya beberapa bulan lalu, brand hebat seperti Google, Facebook, Pepsi dan McDonalds membuat meme video Harlem Shake versi mereka untuk menciptakan emotional connection baik dengan karyawan maupun konsumen. Pendekatan meme marketing dengan “menunggangi” meme yang sedang hot ini sering disebut dengan “memejacking”.

Marketers bahkan bisa menciptakan meme yang dirancang sedemikian rupa agar riuh dibicarakan di dunia maya dan memicu gelombang viral. Ini nggak gampang, beberapa syarat harus dipenuhi agar meme bikinan marketers ini bisa betul-betul heboh dibicarakan. Pertama, meme harus memenuhi tiga elemen dasar: fun-humor, memorable, dan shareable. Kedua, meme tersebut harus otentik (authentic) tanpa dibebani unsur jualan (soft-hard sell). Dan yang terakhir, meme tersebut harus tetap relevan dan mengoneksikan brand dengan konsumen.

Momentum
Umumnya gelombang viral meme berlangsung dalam kurun waktu singkat bisa hanya beberapa hari atau minggu. Karena itu, memanfaatkan momentum merupakan kunci sukses dalam setiap meme marketing. Begitu gelombang viral meme terbentuk, maka dengan cepat brand Anda harus masuk memanfaatkannya. Anda tidak boleh terlambat sedikitpun, karena kalau Anda masuk bukan pada saat meme sedang hot-hot nya dibicarakan, maka Anda akan kehilangan kesempetan untuk dibicarakan. Dan tak cuma itu, brand Anda justru dicemooh oleh netizen karena dianggap telmi alias telat mikir atau jadul alias ketinggalan jaman.

Selain tepat momentum, meme marketing yang Anda jalankan haruslah relevan dengan target audiens yang dibidik. Dalam memilih meme yang akan “ditunggangi”, Anda harus yakin bahwa meme tersebut relevan dengan minat, identitas, dan dunia target audiens Anda. Pokoknya audiens Anda harus sampai bilang: “Ini gue banget”. Meme video Harlem Shake atau Gangnam Style misalnya relevan ditunggangi oleh brand dengan target audiens mass market. Tapi mungkin tidak sesuai untuk target audiens yang lebih eksklusif dan mengangkat prestise produk.

Meme marketing memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menjadi berkah, tapi di sisi lain juga bisa musibah. Karena itu ketika memutuskan mengusung meme marketing, maka Anda harus berani take risk. Dalam kasus Line dan Mastin, meme menjadi berkah karena secara umum pengarunya positif bagi pembentukan brand equity mereka. Namun dalam kasus klinik Tong Fang saya kira pengaruhnya lebih banyak musibah ketimbang berkah. Karena itu Anda harus hati-hati. Ingat, netizen lebih suka mempergunjingkan sisi jelek dari brand ketimbang sisi baiknya.

Ketika memanfaatkan meme marketing maka kata kuncinya hanya satu: fun. Tak peduli produk dan layanan yang Anda tawarkan, gaya komunikasi Anda haruslah cool, banyak humor, gokil, dan full of fun. Persis seperti dibilang Cheryl Conner, seorang blogger: “The greatest aspect of meme marketing is that it allows any company to create something memorable in a spirit of fun.” So, apakah Anda jualan shampo, gadget, atau pesawat terbang, pendekatan meme marketing yang Anda usung haruslah tetap dilandasi spirit of fun. Mau nggak mau Anda harus menjadi fun brand.

 

Sumber gambar: http://bit.ly/1GRnvAN dan http://bit.ly/1xgayO1

 

November 12, 2014   2 Comments

Jomblo Lifestyle

Jomblo di masa lalu adalah sebuah aib memalukan. Namun sekarang, ia menjadi sebuah simbol sosial yang keren, cool, awasome. Saya nggak tahu kenapa bisa demikian. Mungkin ini yang disebut jaman edan. Semua serba kebolak-balik.

Ketika sebuah bangsa makin maju. Ketika masyarakatnya makin makmur. Dan ketika pola kehidupannya kian industrial-urban, maka kecenderungan mereka untuk tidak menikah menjadi kian besar. Di negara tetangga Singapura misalnya, satu dari lima warganegaranya ogah menikah dengan alasan macam-macam: mengejar karir, menghindari beban ekonomi yang berat, nggak mau repot, hingga alasan lifestyle. Seperti Singapura, di negeri ini jumlah jombloers pun kian merangkak naik.

Lifestyle
Bakal maraknya jombloers di Indonesia tak lepas dari revolusi kelas menengah yang memicu mobilitas sosial massif selama sekitar lima tahun terakhir. Saya sering mengatakan masyarakat kelas menengah memiliki tiga ciri. Mereka memiliki daya beli yang makin tinggi, knowledgeable, dan socially-connected. Mobilitas sosial ini menciptakan pergeserangaya hidup rural-agraris-tradisionalis menjadi urban-industrialist-modern.

Data BPS tahun 2010 mengatakan, usia kawin pertama (UKP) masyarakat kita adalah 22,3 tahun untuk wanita dan 25,7 untuk laki-laki. Coba bandingkan dengan UKP orang tua kita dahulu yang rata-rata sudah menikah di bawah usia 20 tahun. Tak bisa dipungkiri, merangkak naiknya UKP ini adalah buah dari pendidikan dan naik knowledgeability mereka.

Yang saya amati, naiknya sikap menunda perkawinan dan menjomblo kini tak hanya dipengaruhi faktor rasional (faktor ekonomi, umur, karir, kesiapan mental) berkat naiknya knowledgeability mereka. Sikap menjomblo ini kini juga mulai dipengaruhi oleh faktor koneksi sosial (social connetion), dimana “siapa kita” di mata kolega, teman, komunitas, dan lingkungan kita menjadi demikian penting.

Masyarakat kelas menengah kita makin socially-connected yang didorong oleh pertumbuhan media sosial dimana eksis, narsis, ekspresi diri, dan pencitraan menjadi sesuatu yang penting dan bermakna. Ketika mereka semakin socially-connected, maka fenomena menjomblo memasuki babakan baru dimana alasan menjomblo tak lagi sebatas rasional-fungsional, tapi mulai memasuki ranah emosional-sosial. Menjomblo adalah sebuah pernyataan dan penanda identitas diri. Bahkan sikap menjomblo menjadi alat ekspresi diri dan pencitraan. Hasilnya, kini menjomblo bermetamorfse menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang keren, cool, dan awasome.

Hot Topic
Kalau dulu obrolan mengenai jomblo merupakan aib bagi empunya, maka kini sebaliknya, menjadi topik pembicaraan yang begitu atraktif. Di media sosial kini banyak kita temuai ekspresi kreatif dalam bentuk meme terkait jomblo. Meskipun ceritanya satire, isu jomblo menjadi cerita unik yang hangat diperbincangkan di ranah maya. Bahkan, ada beberapa blog yang secara serius menggarap isu jomblo.

Saking hot-nya, terkadang status jomblo menjadi sasaran empuk di lini masa sebagai objek sindiran dan satire yang justru mengasyikan. Hal atau momen apapun kerap dikait-kaitkan dengan jomblo. Contohnya saat 17 Agustus lalu, para netizen sibuk buat meme di media sosial mengenai lomba 17 Agustusan yang paling cocok untuk jomblo. Saking menariknya, meme ini sempat jadi trending topic di media sosial. Inilah fenomena isu tentang jomblo sangat menarik banyak orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kata “galau” dan “galauers” yang bisa menggambarkan pergumulan batin seorang jomblo menjadi sebuah magic word yang diminati untuk diperbincangkan. Beberapa situs secara cukup serius mengangkat isu seputar jomblo dan membangun komunitas jombloers. Situs ini mencoba membangun identitas, kepercayaan diri, dan kebanggaan di kalangan anggotanya. Jomblo.com misalnya, menebarkan ungkapan motivatif di front page-nya dengan kata-kata seperti: “Jadikan hidupmu lebih positif, terhubung selalu dengan temanmu, dan buat hidupmu lebih berwarna.”

Biro Jodoh Laris Manis
Dari sisi industri, saya melihat industri yang menyasar segmen jomblo secara khusus sedang booming di Tanah Air. Contohnya adalah bisnis biro jodoh atau mak comblang (matchmaker) dan konsultasi kepribadian untuk soal cinta. Fenomena banyaknya biro jodoh ini baru terjadi sekitar lima tahun terakhir. Ketika ekonomi sudah mapan, daya beli meningkat, tapi kesempatan dan keahlian menggaet calon pasangan hidup tak memadai, maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online.

Bisnis biro jodoh ini tumbuh luar biasa, seiring besarnya pula populasi jomblo di negeri ini. Kini mulai banyak orang yang memiliki lisensi matchmaker dari Amerika Serikat atau Eropa. Hitman System misalnya, adalah sebuah perusahaan relationship coach untuk percintaan. Hampir setiap bulan, Hitman System kerap membuat event seminar atau workshop untuk para jomblo. Saking hot-nya industri perjombloan, artis Christian Sugiono yang dikenal memiliki situs www.malesbanget.com pun kini membuka layanan biro jodoh online www.setipe.com.

Saking hot-nya bisnis perjombloan ini, beberapa biro jodoh membuka layanan biro jodoh untuk segmen muslim. Mereka mempertemukan pasangan sesama muslim. Contohnya adalah biro jodoh online www.syifa.com dan www.jodohislam.net. Selama ini, masyarakat muslim yang taat terhadap ajaran agamanya akan cenderung memilih pasangan hidupnya yang sama. Ini adalah niche market, sehingga model platform mencari pasangannya pun berbeda.

Seiring maraknya populasi jombloers di Indonesia, pasar jomblo akan kian moncer. Yuk marketer!!! Action now, or never… bergerak sekarang juga, atau Anda nggak akan dapat apa-apa. (ditulis bersama Iryan Herdiansyah, Business Analyst, Inventure).

October 25, 2014   3 Comments

Customer Voice

Ada satu pelajaran yang harus dimengerti dan harus dipraktikan oleh para wakil rakyat (yang kemarin memberikan voting Pilkada tak langsung) dari sosok seorang marketer. Kualitas personal paripurna (ultimate) dari seorang marketer adalah kemampuannya mendengarkan suara-suara halus keinginan konsumen. Di dalam dunia marketing itu disebut, customer voice. Kualitas ini begitu penting sehingga saya berani mengatakan bahwa, “listening to the voice of customer is marketer’s reason for being.”

Kehebatan paripurna seorang marketer bukanlah ditentukan oleh kemampuannya dalam jualan dan menawarkan produk. Bagi saya kehebatan paripurna seorang marketer adalah kemampuannya dalam mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan, strategi, dan program yang pas untuk memenuhi keinginan dan harapan tersebut. Di dalam dunia marketing kebijakan, strategi, dan program terbaik adalah yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan konsumen. Kebijakan, strategi, dan program marketing secanggih dan sehebat apapun akan gugur ketika ia menyimpang dan mencederai konsumen.

Begitupun, kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah bebal terhadap suara hati konsumen dan abai terhadapa aspirasi mereka. Kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah menjadi “psikopat” yang tak lagi memiliki kepekaan dalam membaca kegelisahan dan keluh-kesah konsumen.

Untuk itulah riset konsumen (baik formal maupun informal) menjadi demikian penting dalam dunia marketing untuk mendengar dan menangkap desir-desir suara halus konsumen. Riset konsumen belakangan begitu populer dan menjadi buzzword luar biasa saat Jokowi naik ke panggung politik Pilkada DKI Jakarta dengan istilah Jawa yang cool yaitu: blusukan.

Wakil Rakyat = Marketer
Wakil rakyat haruslah punya karakter dasar seorang marketer. Seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah selalu mendengarkan customer voice dari konstituen yang diwakilinya, yaitu rakyat. Mereka harus mampu mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan (dalam bentuk perundang-undangan) yang sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.

Seperti halnya marketer, wakil rakyat haruslah menempatkan peran “mendengarkan suara-suara lirih konstituen” sebagai reason for being. Itu artinya, jikalau mereka sudah tak mampu lagi memerankan fungsi itu, maka secara otomatis keberadaannya patut dipertanyakan. Kalau itu terjadi, meminjam istilah Annas Urbaningrum saat divonis di pengadilan korupsi kemarin, sudah waktunya para wakil rakyat itu melakukan “sumpah kutukan” (hehehe…).

Nah, dalam konteks wakil rakyat yang harus memainkan karakter marketer, saya menjadi sedih melihat drama pengesahan UU Pilkada Jumat (26/9) dinihari. Yang saya saksikan di ruang sidang yang amat mulia di gedung DPR itu bukanlah sosok-sosok negarawan yang empati terhadap suara-suara rakyat, tapi “psikopat-psikopat” yang bebal dan abai terhadap keinginan dan harapan konstituen yang mereka wakili. Mereka berjuang mengatur strategi untuk kepentingan diri dan kelompak mereka dan dengan vulgar mencederai kepentingan dan kemauan rakyat.

Kenapa saya sebut mereka psikopat? Karena mereka sudah tak memiliki sedikitpun kepekaan mendegar customer voice. Karena mereka tak punya empati pada kegelisahan dan kegalauan rakyat. Bahkan mereka telah abai terhadap kemauan dan kepentingan rakyat. Mereka tega memperkosa kepentingan rakyat, diplintar-plintir sedemikian rupa agar mengabdi kepentingan pribadi dan golongan mereka.

Sudah sebulan terakhir ini sesungguhnya sinyal-sinyal aspirasi rakyat ini diteriakkan berbagai kalangan masyarakat mulai dari cendekiawan, akademisi, para gubernur dan walikota, LSM, mahasiswa, bahkan rakyat kecil dalam bentuk demo-demo di jalan. Ini namanya tak hanya customer voice, tapi sudah customer scream. Namun tetap saja teriakan-teriakan lantang rakyat tersebut nyaris tak terdengar oleh mereka. Telinga mereka tuli. Hati mereka tak peka. Mereka menjadi psikopat.

Politik = Building Brand
Apa jadinya jika para wakil rakyat abai terhadap customer voice? Ketika wakil rakyat mencederai kepercaaan yang diberikan rakyat dengan mengabaikan aspirasi dan keinginan mereka, maka cedera pula hubungan keduanya. Rakyat menjadi tak punya trust lagi pada si wakil rakyat. Dalam dunia marketing, trust adalah “roh” bagi pembentukan brand (brand building) produk di mata konsumen. Ketika trust sirna, maka sebuah produk tak akan dibeli oleh konsumen.

Dalam kehidupan bernegara, prinsip dasar marketing ini pun berlaku. Ketika trust si wakil rakyat sudah tak ada lagi di mata rakyat yang diwakilinya, maka mereka tak akan “dibeli” alias dipilih lagi di Pemilu mendatang. Sebaliknya, jika mereka bisa menjaga dan merawat trust tersebut, maka besar kemungkinan mereka akan dipilih lagi. Karena itu seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah melakukan brand building dengan cara senantiasa merawat trust dari rakyat.

Duka masih menyelimuti hati saya menyusul disahkannya UU Pilkada tak langsung dua hari lalu. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Seperti halnya Annas, saya hanya bisa mengusulkan para wakil rakyat yang telah menggolkan UU tersebut menggelar “sumpah kutukan”. Agar mereka introspeksi dan cepat insyaf, untuk mengembalikan hak rakyat dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang mereka mau. Mari jangan isi DPR/DPRD kita dengan psikopat-psikopat yang mengabaikan suara rakyat.

September 27, 2014   No Comments