E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

“Mukidi Effect”

Seminggu ini jagat online dihebohkan oleh viral sosok dan cerita humor Mukidi. Berawal dari blog, lalu Facebook, menemukan critical mass di grup-grup WA, dan akhirnya “boom!!!” mencapai mass audience di media mainstream seperti koran-koran, TV, dan tentu situs berita online. Seperti halnya fenomena viral yang sudah-sudah (Gangnam Style, Mastin, dan terakhir Pokemon Go), dalam ukuran jam jutaan audiens tersedot perhatiannya.

Kehebohan viral Mukidi bisa dijelaskan dengan tiga elemen kunci pencipta word of mouth (WOM) yaitu: Story, Content, Media.

Mukidi by Broniesngakak

Story: The Power of (Down-to-Earth) Persona
Kenapa Mukidi demikian ampuh menjangkau seluruh lapisan netizen mulai dari presiden, wakil rakyat, pengusaha, pegawai kantoran, mahasiswa, ibu rumah tangga, tukang parkir, hingga tukang becak? Karena sosok fiktif Mukidi adalah potret dari kebanyakan kita. Ia adalah potret wong cilik dan siapapun yang pernah merasa menjadi wong cilik.

Mukidi adalah sosok biasa dengan keluguannya, kekonyolannya, keusilannya, ke-ndeso-annya, kebebalannya, keterlaluannya, yang sesekali bloon, tapi tiba-tiba bisa begitu cerdas sekali. Tak ada yang dibuat-buat dari sosok ini. Ia sosok yang apa adanya, natural, otentik, orisinil. Salah satu faktor kunci kesuksesan viral Mukidi adalah keotentikan tokoh ini.

Kita sudah capek dengan sosok-sosok hebat macam Jokowi, Habibie, Ridwan Kamil, Nelson Mandela, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg. Kenapa capek? Ya, karena kita hanya bisa mengagumi dan menyanjung mereka, tak lebih dari itu. Kita hanya bisa berangan-angan untuk menjadi seperti mereka tanpa pernah bisa mewujudkannya.

Itu berbeda dengan sosok Mukidi. Tanpa upaya keras dan memaksakan diri kita sudah bisa menjadi Mukidi. Ya, karena Mukidi adalah kita. Ia hadir di setiap hati dari kebanyakan kita. Tanpa sadar kita merindukan sosok “biasa-biasa saja” macam Mukidi. Mukidi jauh dari sosok sempurna. Karena itu kita bisa semena-mena memperoloknya, mem-bully-nya dan menertawakannya, persis seperti ketika kita menertawakan diri sendiri.

Saya kira banyak dari kita iri pada sosok Mukidi karena ia begitu konfiden untuk tetap menjadi dirinya sendiri walaupun dia lugu, ndeso, bloon sekaligus cerdas, nyebelin, njengkelin, banyak apes-nya, dan sarat dengan beribu kekurangan. Di tengah ketidaksempurnaannya, Mukidi tetap bersahaja, tak sudi memakai topeng dan tak merasa perlu menjadi orang lain.

Kita iri pada Mukidi, karena dengan alasan gengsi, ego, dan harga diri, seringkali kita tak mampu menjadi diri kita sendiri.

Mukidi adalah sosok yang down-to-earth. Itulah sebabnya ia bisa mencuri perhatian jutaan manusia dari semua lapisan masyarakat dalam ukuran jam bahkan menit.

Content: Humor Is (Always) Viralable
Di samping kehadiran sosok down-to-earth dan orisinil, viral Mukidi juga terwujud karena konten humor khas Indonesia yang menyegarkan urat-urat saraf. Siapa yang nggak suka humor? Siapapun kita pasti menyukai humor. Meme begitu merajalela di jagat online Indonesia karena adanya humor. Praktis 99% konten meme di Indonesia berisi konten humor.

Persoalan seserius apapun (Pilkada DKI, Jokowi salah pilih menteri, atau heboh vaksin palsu) menjadi begitu renyah, konyol, dan lucu minta ampun di tangan para meme creator. Humor is the most viralable content. Karena itu jika Anda ingin pesan-pesan Anda mencapai viral, bumbuilah pesan-pesan tersebut dengan humor.

Humor Mukidi tak sekedar humor biasa, tapi humor yang relevan. Humor yang khas Indonesia. Kenapa lawakan Srimulat demikian ampuh dan melegenda, karena format lawakannya relevan dan khas Indonesia dengan mengombinasikan dagelan Mataraman dan ludruk Suroboyoan.

Seperti halnya guyonan Srimulat, cerita humor Mukidi mengambil tema dan tokoh yang berpusar pada keseharian kita. Guyonan wong cilik. Style-nya bisa Suroboyoan, Meduroan, Banyumasan, dagelan Mataraman, atau bahkan guyonan khas Gus Dur.

Media: Grup WA, Penggoreng Viral
Di samping Story dan Content, viral Mukidi juga dipicu oleh media penggoreng viral luar biasa bernama: grup Whatsapp (WA). Cerita humor Mukidi sudah hadir sejak tahun 2012 di blog: ceritamukidi.worpress.com dan di akun Facebook milik Soetantyo Moechlas. Namun selama 4 tahun cerita-cerita itu tak kunjung memviral, sampai beberapa hari lalu ketika entah dari mana asalnya cerita-cerita lucu itu masuk ke grup WA. Melalui medium grup WA cerita Mukidi memviral begitu hebat.

Artinya, di medium grup WA lah, critical mass viral Mukidi terbentuk. Perlu diingat, dalam setiap fenomena viral, faktor paling kunci adalah pembentukan critical mass ini. Celakanya, hingga saat ini tak ada satupun teori yang bisa menerangkan bagaimana critical mass ini terbentuk. Penyebabnya adalah adanya momentum yang mempertemukan beberapa faktor yang tak kuasa kita atur dan kendalikan. Tak heran jika Pak Soesantyo sendiri tak paham, bagaimana cerita-cerita lucunya menjadi viral. Semakin critical mass ini diatur dan direncanakan, umumnya viral yang terbentuk menjadi tak seheboh yang diharapkan.

Blog umumnya memiliki audiens yang terbatas dan terbuka, artinya siapapun bisa mengunjunginya dan berkomentar. Facebook, Twitter, atau Instagram memiliki massa audiens yang jauh lebih besar, tapi sekali lagi sifatnya terbuka, sehingga hubungan, kedekatan, dan connection di antara audiens ini kurang intens. Singkatnya, hubungan audiens di dalam keempat platform komunitas terbuka (open community) ini lebih cair.

Hal ini berbeda dengan komunitas tertutup (closed community) seperti grup WA. Grup WA berisi anggota yang lebih sedikit tetapi memiliki intensitas hubungan yang sangat dekat dan kuat. Apalagi anggota di dalam grup-grup WA ini umumnya memiliki common interest yang kuat dan dipupuk setiap saat melalui chit-chat di antara mereka sehari-hari.

Intensitas hubungan yang kuat di dalam grup WA inilah yang memungkinkan sebuah konten seperti cerita lucu Mukidi bisa demikian intens diperbincangkan dan dibahas. Dan ketika cukup menghebohkan, maka konten tersebut begitu mudah di-forward dari satu grup WA ke grup WA lainnya. Kalau ini terjadi, maka tak terhidarkan lagi critical mass akan terwujud. Begitu critical mass terbentuk maka media mainstream buru-buru memberitakannya, dan boom, ledakan dahsyat viral pun akan terjadi.

Dengan kejadian viral Mukidi, saya semakin meyakini bahwa grup WA merupakan medium inkubator viral yang paling ampuh dari medium online apapun.

 

Sumber foto ilustrasi: browniesngakak @ pojoksatu.id

 

August 27, 2016   2 Comments

Family Business Inc.

Indonesia Brand Forum (IBF) is back! Tiga hari lagi, Rabu 24 Agustus 2016, bertempat di Hotel Grand Hyatt, saya bersama Koran Sindo akan menggelar #IBF2016. Tahun ini #IBF2016 mengambil tema: Branding Family Business for the Nation masih dalam suasana nasionalisme menyambut HUT RI ke-71. #IBF2016 menampilkan 15 pembicara para great family business leaders dari perusahaan keluarga terkemuka di Tanah Air. #IBF2016 juga menampilkan special session “BNI’s 7 Entreprepreneur Heroes”, para wirausahaan hebat binaan BNI yang sukses menembus pasar global.

Sejak awal saya merancang IBF bukan sekedar acara seminar semata, tapi sebuah “gerakan” (movement). Sebuah gerakan untuk mengingatkan bangsa ini mengenai pentingnya membangun brand. Itu sebabnya setiap penyelenggaraan IBF selalu pekat spirit nasionalisme dan keIndonesiaannya. Brand di sini bisa berupa produk (product brand), perusahaan (corporate brand), orang (personal brand) atau bahkan negara (country brand).

Kami di IBF meyakini bahwa brand adalah alat perjuangan yang ampuh bagi bangsa ini untuk menjadi negara besar dan disegani di dunia. Amerika besar karena punya Coca Cola, Starbuck atau GE. Jepang besar karena punya Sony, Toyota, atau Canon. Korea Selatan besar karena Samsung, Hyundai, atau Kia.

Sebagai sebuah gerakan, tiap tahun IBF memiliki tradisi mengeluarkan deklarasi untuk mengingatkan anak bangsa mengenai sebuah urgensi nasional tertentu. Sesuai tema, tahun ini IBF mengeluarkan deklarasi bertema: “Family Business Inc. Menuju Indonesia Besar”. Apa itu Family Business Inc?

IBF 2016 - Speaker Line up

Kolaborasi Perusahaan Keluarga
Bicara perusahaan keluarga kita tak bisa lepas dari peran dan kontribusinya yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014). Total kekayaan mencapai US$134 miliar, atau sekitar 25% dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Dan ingat, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

Karena posisinya yang sangat strategis, IBF mengusulkan perlunya perusahaan keluarga di Indonesia bersatu dan menyamakan langkah untuk masuk dan bersiang di pasar global, melalui apa yang saya sebut “Family Business Inc.

Antar grup-grup besar perusahaan keluarga harus terjalin kolaborasi dalam menghimpun kekuatan di tingkat global. Selama ini antar grup-grup besar perusahaan keluarga ini jalan sendiri-sendiri. Padahal mereka bisa melakukan sinergi sumber daya, jejaring bisnis, pertukaran informasi, hingga benchmarking pengalaman yang menghasilkan kekuatan gabungan yang luar biasa.

Ambil contoh beberapa kasus gampang. GarudaFood misalnya, punya pengalaman berharga masuk ke pasar Cina dan India, maka pengalaman itu seharusnya bisa dibagi ke grup-grup perusahaan keluarga lain di Tanah Air sehingga mereka tidak mulai dari nol sama sekali. Grup Kalbe cukup punya jejaring pemasaran yang kokoh Filipina karena produknya Extra Joss menjadi market leader. Maka perusahaan lain bisa menggunakan jejaring tersebut untuk mengembangkan bisnis. Atau Indofood yang memiliki jaringan operasi yang kokoh di pasar Afrika dan Timur Tengah misalnya, bisa membuka akses pasar bagi perusahaan-perusahaan nasional yang mau beroperasi di situ.

Antar grup-grup perusahaan keluarga ini boleh saja bersaing di dalam negeri, tapi harus berkolaborasi dan bersinergi di pasar luar negeri. Kenapa? Karena mereka adalah “Siapa” di dalam negeri. Tapi “Tidak Siapa-Siapa” di pasar luar negeri. Ketika kita kecil di pasar luar negeri, maka jalan paling ampuh adalah bekerjasama menghimpun kekuatan agar menjadi besar.

Ketika perusahaan nasional bersaing di pasar global, maka size does matter. Ukuran dan skala bisnis (modal, teknologi, manajemen, SDM) merupakan tuntutan dasar untuk memenangkan persaingan. Di sinilah kolaborasi grup-grup besar perusahaan keluarga untuk mengakses pasar, bernegosiasi dagang, mengembangkan kapasitas manajemn/teknologi, hingga mengintegrasikan rantai nilai sangat diperlukan. Inilah yang dilakukan Jepang dengan Zaibatsu-nya atau Korea Selatan dengan Chaebol-nya.

Indonesia Inc.
Selama beberapa tahun terakhir kementrian BUMN sangat agresif menggabungkan BUMN-BUMN yang sejenis atau terkait operasinya dalam sebuah holding. Nantinya akan terbentuk holding bank, farmasi, pertanian-perkebunan, semen, industri strategis, dsb. Tujuan pembentukan strategic holding ini tak lain adalah untuk menciptkan economies of scale yang menjadikan BUMN kita perkasa melawan raksasa-raksasa global. Modelnya kira-kira mirip dengan Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia.

Nah, pemikiran di balik pembentukan strategic holding di lingkungan perusahaan-perusahaan plat merah itu sama, yaitu untuk menghimpun kekuatan sehingga kita cukup perkasa melawan raksasa regional maupun raksasa global. Hanya dengan begini kita memiliki kemampuan modal skala dunia dan mampu mengakuisisi teknologi, manajemen, dan talenta terbaik di dunia. Proses pembentukan perusahaan-perusahaan holding ini saat ini sedang intensif berjalan.

Nah, kalau Family Business Inc. ini bisa dikolaborasikan lebih lanjut dengan holding BUMN-BUMN, sekali lagi, dalam konteks kepentingan masuk di pasar global, maka akan terwujud apa yang disebut “Indonesia Inc.” Kalau ini terjadi maka antara perusahaan swasta (perusahaan keluarga) dan perusahaan milik pemerintah akan terjalin kerjasama yang saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain.

Bangsa kita adalah bangsa yang suka berjamaah, melakukan sesuatu secara bersama-sama. Hanya dengan bergotong royong segenap anak bangsa kita akan menjadi negara besar. Mewujudkan Indonesia Inc. adalah sebuah mimpi besar. Untuk menjadi bangsa besar, kita harus bermimpi besar, berpikir besar, dan melakukan hal besar.

Melalui tulisan ini dan Deklarasi IBF 24 Agustus mendatang saya menghimbau kepada para family business leaders di seluruh Tanah Air, mari wujudkan Family Business Inc.

August 20, 2016   No Comments

Road to #IBF2016: “Family Business for the Nation”

Perusahaan keluarga merupakan aset nasional sangat berharga yang menjadi pilar kemajuan Indonesia. Lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014). Dari jumlah yang sangat siknifikan tersebut perusahaan keluarga memiliki total kekayaan US$134 miliar, luar biasa. Kalau dihitung, kontribusi mereka di dalam PDB (produk domestik bruto) sangat besar sekitar 25%. Dan ingat, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

Dengan peran yang demikian menonjol, perusahaan keluarga haruslah menjadi senjata pamungkas bagi kebangkitan Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tema inilah yang akan diambil dalam talkshow santai “Road to IBF” dan #KelasInspirasi Komunitas Memberi dalam rangka menyonsong event akbar tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) 2016: “Branding Family Business”, 24 Agustus, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Tema “Road to IBF” dan #KelasInspirasi kali ini adalah: “Family Business for the Nation” yang mengupas bagaimana perusahaan keluarga memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, tema yang pas di saat kita merayakan HUT Kemerdekaan. Narasumbernya adalah Junius Rahardjo, pendiri dan CEO Javaplant dan salah pemimpin generasi kedua grup Deltomed (Antangin).

Sepak terjang Junius dengan Javaplant-nya, sarat nasionaisme. Ia membuktikan diri, mampu membawa produk herbal Indonesia perkasa menembus pasar mancanegara. “Sekitar 90% produk saya menghasilkan dolar,” ujarnya. Yang dijual Pak Junius adalah ekstrak herbal yang bahan dasarnya tersedia melimpah di bumi pertiwi seperti kunyit, temulawak, kayu manis, pasak bumi, binahong, jahe, purwoceng, tapak liman, atau sarang semut. Produk-produk tanaman unik Indonesia ini punya nilai sangat tinggi di Amerika, Jepang, dan Eropa.

Road to IBF 2016

Dengan bahan baku yang tersedia melimpah di dalam negeri maka tak seperti umumnya perusahaan manufaktur di tanah air, Javaplant tidaklah “haus dolar”. Bukannya menghambur-hamburkan rupiah ke luar negeri, tapi justru sebaliknya menyedot banyak dolar ke dalam negeri. Dengan begitu perusahaan seperti Javaplant pantas disebut “Pahlawan Rupiah”, ya karena menjadikan rupiah kita kian perkasa. Nasionalisme seorang Junius bisa dibaca di link ini.

Ayo teman-teman datang di event ini, yang diselenggarakan:

Hari/Tanggal : Kamis, 18 Agustus 2016, 15.00-17.00 WIB.
Tempat              : Gedung Koran Sindo, Jl. Wahid Hasyim No. 38
Pembicara        : “Family Business for the Nation
Narasumber     : Junius Rahardjo, Pendiri & CEO Javaplant dan Samuel Pranata, penulis buku: The Second Generation Challenge: “Bagaimana Pemimpin Generasi Kedua Perusahaan Kelaurga Mencapai Sukses Berkesinambungan.”

Moderator         : Yuswohady, Indonesia Brand Forum (IBF)

Temen-temen cepetan daftar, karena peserta dibatasi 50 orang saja. Untuk daftar hubungi Lia: 085780789897 atau email: kelasmemberi@gmail.com

*Indonesia Brand Forum #IBF2016 akan diselenggarakan 24 Agustus 2016 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Mengambil tema: “Branding Family Business for the Nation“, #IBF2016 menampilkan 15 pembicara pemimpin perusahaan keluarga (owner/CEO/director) terkemuka di Indonesia, plus “BNI’s 7 Entrepreneur Heroes” wirausahawan binaan Bank BNI yang sukses menembus pasar global. Berikut ini line-up pembicaranya:

IBF 2016 - Brosur

August 10, 2016   1 Comment

Pariwisata: Mesin Pertumbuhan Baru

Hari Sabtu (30/7) lalu saya ada di tengah-tengah para villageprenur (wirausahawan desa) di desa wisata Geopark Ciletuh, Sukabumi. Bersama teman-teman Bio Farma kami melakukan workshop bersama mereka untuk mengembangkan branding strategy bagi empat produk dan layanan yang tumbuh seiring mulai maraknya Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata utama Sukabumi.

Empat produk dan layanan tersebut adalah: PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan homestay dan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad, Batik Pakidulan, pengembangan ikan Koi Mizumi, dan budidaya Sidat (unagi). Produk dan layanan baru yang dirintis para wirausahawan desa ini tumbuh menjamur dua tahu terakhir seiring banyaknya wisatawan yang datang ke obyek wisata Geopark Ciletuh.

Menarik pengakuan Kang Ali, kreator Batik Pakidulan mengenai powerful-nya dampak ekonomi dari industri pariwisata. “Sejak banyak wisatawan datang ke sini, banyak bermunculan komunitas-komunitas masyarakat yang mengembangkan beragam produk seperti batik, kerajinan, beras hitam, hingga sidat,” ujarnya.

Workshop Ciletuh

Multiplier Effect
Apa yang diceritakan Kang Ali tersebut dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah: multiplier effect. Multiplier effect adalah sebuah kegiatan ekonomi yang menggerakkan kegiatan ekonomi lain. Datangnya wisatawan ke Geopark Ciletuh menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan-minuman lokal, dsb-dsb.

Ketika wisatawan tersebut membelanjakan uangnya di suatu desa wisata, maka uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan oleh wisatawan, maka uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif ke desa wisata tersebut, ia menggerakan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan.

Tak heran kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran. Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD Inpres.

Pernah suatu kali saya naik taksi di Bali. Dengan bangganya si sopir taksi bilang ke saya, “Di Bali ini pekerjaan gampang, praktis nggak ada pengangguran, hanya orang yang malas keterlaluan saja yang jadi pengangguran.”

Intinya si sopir ingin mengatakan bahwa di daerah yang ekonominya didukung sektor pariwisata seperti Bali, lapangan kerja terbuka luas untuk semua lapisan masyarakat. Orang yang nggak lulus SD saja dengan modal cas-cis-cus berbahasa Inggris (tanpa ikutan kursus) bisa menjadi pemandu wisata (tour guide) dengan penghasilan lumayan. Potensi industri ini sebagai penyedia lapangan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tak tertandingi oleh industri lain apapun.

New Growth Engine
Menariknya, industri pariwisata tak hanya powerful sebagai alat pemerataan kemakmuran, tapi juga berpotensi menjadi mesin baru perekonomian Indonesia pasca bonanza minyak. Kita tahu komoditi migas sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita di tengah harga minyak dunia yang terus terjun bebas.

Kalau komoditi migas tak mampu lagi, lalu sektor apa lagi yang bisa menggerakkan mesin perekonomian kita? Batubara sama-sama jatuh. Komoditi pertanian/perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, atau karet setali tiga uang karena harganya yang terus anjlog di tengah pasok dunia yang berlebih. Begitupun tekstil dan pakaian jadi yang kian tak kompetitif karena ongkos buruh yang tak lagi murah.

Urgensi mengenai perlunya mesin pertumbuhan baru ini tersirat dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah Sidang Kabinet Paripurna Rabu lalu (3/8) saat mengumumkan pemangkasan anggaran. Menurut Menteri penerimaan pajak kita bakal mengalami tekanan yang sangat berat karena jatuhnya harga komoditas minyak dan gas, batubara, kelapa sawit, dan pertambangan lainnya. Sementara sektor yang selama ini bisa menjadi andalan seperti konstruksi, perdagangan, dan manufaktur juga tak menggembirakan, pertumbuhannya hanya separuh dari tahun sebelumnya.

Lalu apa calon terbaik mesin pertumbuhan baru itu? Jawabnya adalah sektor pariwisata. Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% pertahun selama 5 tahun terakhir). Sementara itu perolehan devisa migas tahun 2015 sebesar USD18,9 miliar, merosot tajam hampir 40% dari tahun sebelumnya. Tren yang saling berseberangan antar dua sektor ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, maka bisa jadi 3 tahun ke depan sektor migas akan tersalib oleh pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. Dengan jejak kinerja yang mengesankan seperti ini tak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor ini sebagai sektor unggulan perekonomian kita yang menjalankan dua fungsi sekaligus: mesin pertumbuhan dan mesin pemerataan.

Fokus Pariwisata
Anda yang berkecimpung di dunia manajemen pasti mengenal BCG Matrix. Secara sederhana matriks ini digunakan untuk merumuskan strategi portofolio (portfolio strategy) bagi organisasi yang memiliki banyak lini bisnis. BCG Matrix memberikan panduan mengenai mana-mana portofolio bisnis yang harus dikembangkan dan mana yang tidak. Ada empat posisi di dalam BCG Matrix yaitu: Cash Cow, Star, Question Mark, dan Dog.

Cash Cow artinya portofolio bisnisnya telah menghasilkan sehingga harus terus diperah (milking). Star artinya harus di-invest dan dikembangkan karena akan menjadi tulang punggung di masa depan. Question Mark artinya masih tanda tanya mau di-invest atau justru di-divest. Dan terakhir Dog, artinya portofolio bisnis tersebut tak bisa diharapkan lagi sehingga harus di-divest alias ditanggalkan.

Nah, dengan menggunakan analogi matriks tersebut, seharusnya secara strategis pemerintah Jokowi menempatkan sektor pariwisata pada posisi Star mengingat potensi luar biasa yang dimilikinya. Konsekuensinya, pemerintah harus mendorong habis-habisan sektor ini melalui alokasi sumberdaya yang tepat agar sektor ini bisa berkembang sesuai potensinya. Sebaliknya, sektor migas adalah Dog yang memang tak bisa diharapkan lagi, karena itu tak layak diprioritaskan dan mendapatkan alokasi sumberdaya secara semestinya.

Dengan portfolio strategy yang tepat maka pemerintah akan bisa mengalokasikan sumberdayanya secara tepat dan efektif. Jangan sampai terjadi sektor yang sunset diprioritaskan, sementara sektor yang sunrise justru dihambat. Kalau itu yang terjadi, maka itu namanya misallocation of resources, mismanagement, alias salah urus.

August 6, 2016   No Comments

Pendaftaran #UKMgoGlobal Angkatan 4

Teman-teman para UKMers, Komunitas Memberi membuka pendaftaran untuk mengikuti kelas #UKMGoGLobal Angkatan 4. Program reguler Komunitas Memberi ini bertujuan untuk memberikan fondasi bagi para pebisnis kecil/menengah (UKM) untuk menjadi UKM kelas dunia.

Poster Memberi 4

Program ini menggunakan pendekatan peserta aktif (participant-centered learning) dengan pengajar para profesional berpengalaman di bidang masing-masing selama belasan tahun. Program berlangsung selama sekitar 4 bulan (dilaksanakan 2 minggu sekali di Jakarta) untuk menyelesaikan 8 modul pelatihan.

Modul 1: Professional Operation Management
Modul 2: Effective Human Resource Management
Modul 3: Simple Finance & Accounting
Modul 4: Product & Pricing
Modul 5: Basic Branding & Communications
Modul 6: Effective Sales & Distribution Management
Modul 7: Simple Marketing Plan
Modul 8: Leadership for SME Business Owner

Peserta program ini tidak dipungut biaya alias GRATIS tapi disaring melalui seleksi yang ketat oleh sebuah panel seleksi untuk memilih sekitar 20 orangyang memenuhi syarat. Calon peserta wajib mempresentasikan usahanya di depan panel seleksi. Persyaratan umum untuk mengikuti program ini adalah sebagai berikut:

1. Memiliki usaha yang telah beroperasi minimal 2 tahun.
2. Memiliki usaha dengan omset Rp. 300 juta – 2,5 miliar setahun.
3. Diprioritaskan bagi peserta yang usahanya telah memiliki badan hukum.

Teman-teman UKMers yang memenuhi syarat di atas silahkan mendaftar. Caranya, kirimkan CV dan dokumen profil usaha Anda ke: kelasmemberi@gmail.com. Cepetan ya, karena pendaftaran ditutup pada tanggal 10 Agustus 2016. Informasi lengkap mengenai program ini bisa dilihat di www.memberi.id.

Yuk temen-temen UKMers buruan daftar!!!

July 28, 2016   No Comments

Merayakan Viral Pokemon Go

Minggu-minggu ini kita menyaksikan dua kejadian viral dahsyat yang terjadi bersamaan yaitu Pokemon Go dan kasus virus palsu. Setiap terjadi gelombang viral, baik itu produk (iPhone), layanan (Klinik Tong Fang), iklan (Mastin si kulit manggis), meme (Bekasi dan AADC), video (Gangnam Style), game (Pokemon Go), atau kasus (virus palsu dan sidang kasus Jessica) selalu saja terjadi aksi massa untuk “menggoreng” viral tersebut hingga menjadi bola liar yang kian menggila.

Seperti dalam kasus viral Pokemon Go yang sedang hot saat ini, seperti dikomando, kita berpartisipasi aktif menanggapi, mengembangkan pernik-pernik cerita, atau menciptakan kontroversi agar magnitute isunya menjadi kian membesar. Kita berkreasi habis-habisan dengan membuat diskusi terbuka, melempar isu, menciptakan hastag, atau menyebarkan meme untuk memanaskan suasana. Hasil akhirnya bisa kita tebak, bola salju viral kian membesar dan menggulung-gulung liar.

Dalam kondisi seperti ini massa, kita semua, seperti sedang hiruk-pikuk merayakan viral Pokemon Go. Kita seperti berpesta pora dan bergotong-royong untuk melipatgandakan viralnya.

Pokemon Go 2

Go Viral
Coba kita tengok bagaimana viral Pokemon Go menjalar dalam seminggu terakhir. Begitu game fenomenal ini meluncur di pasar (terbatas di beberapa negara), dalam ukuran hari viralnya langsung menyebar ke seluruh pelosok dunia dari New York hingga Gunung Kidul. Awalnya isu viral menyangkut kehebatan game tersebut seperti: pengalaman mencari Pokemon yang mengasyikkan, penggunaan teknologi augmented reality (AR) yang canggih, atau dampak positifnya bagi kesehatan karena intensnya aktivitas fisik.

Tapi kemudian isu viral berkembang ke berbagai kejadian yang terkait dengan game ini. Dimulai dari para selebritas global maupun lokal yang berlomba-lomba narsis memproklamirkan diri sebagai pengguna fanatik Pokemon Go. Lalu isu meluas ke dampak samping Pokemon Go seperti banyaknya orang yang kecanduan atau banyaknya kasus kecelakaan lalu-lintas karena asyik memainkan Pokemon Go.

Berikutnya isu viral menjorok kian dalam dan rumit. Tiba-tiba muncul hoax Dekan Fakultas Psikologi UGM yang memperingatkan bahaya serius dari permainan ini. “Go to hell Pokemon,” seru hoax tersebut. Hoax ini sukses menghasilkan perdebatan seru di media sosial, walaupun akhirnya kita tahu bahwa hoax ini tak jelas sumbernya.

Tak hanya itu, isu viral kemudian berkembang semakin menakutkan. Tiba-tiba muncul isu seolah-olah game ini merupakan alat CIA untuk memata-matai seluruh dunia. Di salah satu blog, saya menemukan seorang pendeta secara lugas menyebut Pokemon Go sebagai permainan iblis dan bagian dari penyebaran ajaran setan di dunia maya. Di sini kontroversi di seputar viral Pokemon Go mulai terbentuk dan menjalar liar.

Viral Pokemon Go menjadi kian panas ketika satu-persatu menteri, gubernur, bupati hingga kepolisian mulai berlomba-lomba melarang personilnya bermain Pokemon Go saat bekerja. “Kapolres Depok Razia Anggotanya yang Bermain Pokemon Go,” begitu salah satu judul headline sebuah surat kabar. Para petinggi negeri ini seperti tidak mau ketinggalan untuk numpang beken di tengah heboh Pokemon Go.

Api Unggun
Saya menggambarkan fenomena viral layaknya sebuah api unggun di ujung gang yang ramai. Api unggun ini begitu eksotis dengan lidah api yang menjilat-jilat udara. Oleh karena itu, setiap orang yang lalu-lalang selalu menyempatkan diri untuk melihatnya. Nah, sambil melihat dan menikmati kehangatan api, mereka melemparkan apapun yang dibawanya. Mereka yang punya kulit kacang, koran habis baca, kardus bekas kemasan, atau ranting kayu dilemparkan ke pusat bara api. Itu sebabnya api terus menyala.

Nah, api unggun itu akan membesar nyala apinya jika banyak orang datang dan melemparkan apapun yang ia punya. Sebaliknya, api unggun itu akan meredup dan berhenti menyala ketika sudah tak ada lagi orang lewat yang melempar barang. Ketika api tak lagi menyala, maka api unggun itu tak lagi menarik dan kemudian tak lagi ada orang yang mau mendatanginya.

Saya menggambarkan isu yang sedang hot dari sebuah viral sebagai api yang sedang hebat menyala-nyala. Setiap orang yang datang ke api unggun untuk sekedar melihat atau mencari kehangatan merepresentasikan kita semua para penggembira (baca: cheerleaders) viral. Dan kulit kacang, kertas koran, kardus, ranting kayu, dan barang apapun yang dimasukan ke bara api menggambarkan tanggapan, isu, ataupun beragam cerita yang mereka lemparkan untuk meramaikan viral.

Dengan penggambaran itu menjadi jelas bahwa, sebuah viral akan hot dan terus menjalar ke mana-mana jika banyak penggembira yang berpartisipasi dan kemudian melemparkan beragam isu dan cerita untuk membesarkan viral. Sebaliknya viral itu meredup dan berhenti menjalar jika sudah tak ada lagi orang yang tertarik memperbincangkannya karena memang isu dan ceritanya sudah tak ada lagi yang tersisa.

Minggu-minggu ini kita sedang hot-hot-nya merayakan api unggun Pokemon Go. Semua orang begitu bersemangat nimbrung dan melempar isu untuk membesarkan apinya.

Namun setiap perayaan tentu ada usainya. Let’s see, kapan api unggun Pokemon Go bakal meredup dan akhirnya mati ditelan bumi. Mungkin minggu depan, bulan depan, atau mungkin juga tahun depan.

 

Sumber Gambar: pbs.twimg.com

 

 

July 23, 2016   No Comments

Time to Give

Time to Give

Selama 20 tahun yang lampau saya diberi kesempatan oleh Yang Di Atas untuk mengasah kemampuam di bidang Branding, Marketing, Sales, dan Servis.

Pengalaman membantu ratusan perusahaan besar nasional maupun global telah menghasilkan akumulasi ilmu yang luar biasa. Kini saatnya ilmu itu dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan, yaitu para pelaku UKM. It’s time to give.

Karena itu saya ingin menyedekahkan #sedekahilmu waktu saya 2,5 jam tiap minggu untuk memberikan coaching session gratis kepada teman-teman pelaku UKM, satu minggu satu UKM #1minggu1UKM untuk bidang Branding, Marketing, Sales, dan Servis.

Syaratnya, teman-teman UKM harus sudah menjalankan usàhanya minimal 2 tahun dengan omset Rp 300 juta – Rp 2,5 miliar pertahun. Teman-teman UKM silahkan menghubungi:

Lia: HP 0857 8078 9897
Email: nurkamalia.makinuddin@gmail.com.

Semoga manfaat.

The more you give, the more you get.

Yuswohady

July 20, 2016   No Comments

Candu Pokemon

Pokemon Go menjadi hits di seluruh dunia hanya beberapa hari sejak diluncurkan. Viralnya begitu hebat menyebar sehingga siapapun dari anak-anak hingga kakek-kakek mengenalnya dan sontak berburu mencobanya. Dalam beberapa minggu ke depan kita akan menyaksikan fenomena kecanduan Pokemon Go di berbagai pelosok dunia. Seluruh dunia akan berpacu mengoleksi sebanyak mungkin Pokemon seperti bunyi slogannya: “Gotta Catch ‘Em All.”

Pokemon Go memiliki pengalaman unik dan baru. Tak seperti game-game sebelumnya, si pengguna bisa tamat berlevel-level hanya dengan berdiam diri selama berjam-jam. Di Pokemon Go si pengguna diharuskan bertualang dan berjalan-jalan di dunia nyata untuk mencari Pokemon. Lokasi keberadaan pokemon pun bergantung pada bentuk asli lingkungan pengguna. Ada Pokemon jenis air, api, angin, pohon, hantu, dan sebagainya. Inilah sensasi yang menjadi daya tarik utama Pokemon Go.

Kenapa Pokemon Go demikisn hype dan memicu kecanduan seluruh penduduk bumi? Berikut ini analisis saya.

Pokemon Go

Brand New AR Experience
Elemen utama kehebohan Pokemon Go adalah penggunaan augmented reality (AR) untuk menghasilkan pengalaman bermain yang tak ada tandingannya. AR memungkinkan realitas virtual (dalam hal ini karakter digital Pokemon) disisipkan (superimpose) ke dalam realitas sesungguhnya di sekitar kita. Dengan imbuhan teknologi geolokasi kita bisa menikmati sensasi berburu dan mengoleksi karakter digital yang bisa kita dapat di tempat-tempat nyata di sekitar kita seperti kuburan, masjid, atau taman kota (Pokestops).

Kehebohan berburu dan mengoleksi Pokemon ini akan menghasilkan pengalaman yang kian dalam (deeper experience) ketika kita bisa membagi pengalaman tersebut ke teman dan komunitas melalui Twitter, Facebook, Instagram, atau blog. Studi yang dilakukan oleh gabungan psikolog dan pakar komputer tahun 2013 lalu menghasilkan kesimpulan menarik bahwa ke depan AR akan menjadi highly addictive alias menimbulkan efek kecanduan bagi penggunanya. “This effect can cause a high degree of surprise and curiosity in users,” simpul studi itu.

The Power of Gamification
Seperti umumnya game lain Pokemon Go diciptakan untuk mengeksploitasi bagian otak kita yang sensitif dengan kenikmatan. Membunuh monster, mendapatkan poin, menaiki level capaian, mengoleksi barang langka, memenangkan pertarungan, atau menyalip lawan dalam balapan menghasilkan kepuasan yang tak ada habisnya. Inilah esensi dari gamification yang seringkali mengarahkan penggunanya terperosok pada kondisi kecanduan.

Dalam kasus Pokemon Go, keberhasilan berburu, mengoleksi, melatih Pokemaon dan kemampuan naik level, misalnya, bisa menciptakan sensasi pencapaian (sense of accomplishment), kebanggaan (sense of pride), kemajuan (progression), dan aktualisasi diri (self actualization) yang menjadikan si pengguna ingin melakukannya berulang-ulang.

New Sosial Cool
Seluruh atribut Pokemon Go mulai dari permainannya, karakter monsternya, istilah-istilahnya, kini telah menjadi symbol of coolness baru. “Berburu Pakemon di jalan, mal, atau taman tengah kota itu keren,” begitu ungkapan yang tepat menggambarkan fenomena ini. Karena itu siapapun berlomba-lomba mengadopsinya. Dan sudah bisa diduga para selebritas (Ellen DeGeneres, Jo Jonas, Chrissy Teigen, Jimmy Fallon, dll.) menjadi role model yang menjadikan wabah Pokemon kian menghebat.

Karena menjadi symbol of coolness maka ia menjadi ajang narsis untuk menunjukkan siapa kita. Berburu Pokemon pun kini menjadi ajang untuk mendapatkan “social acceptance” dan “social reward” dari teman dan peers. Kalau sudah begini, maka sensasi bermain Pokemon Go tak hanya sebatas saat kita berburu dan mengoleksi Pokemon, tapi juga saat kita bisa menunjukkan kepada teman-teman dan kolega di kantor bahwa kita sedang berburu dan mengoleksi Pokemon. Di era media sosial dimana apapun bisa menyebar demikian hebat dan cepat, kehebohan Pokemon Go mendapatkan medium yang luar biasa melalui jalur peer-to-peer.

Kecanduan video game umumnya membuat orang tua resah karena dampak negatif yang ditimbulkannya seperti kemalasan, kesehatan, pemborosan waktu, dan sebagainya. Namun Pokemon Go agak lain. Kalangan profesional medis di Amerika justru mengapresiasi Pokemon Go karena bagus untuk kesehatan. “It potentially improving the mental and physical health of players,” ujar mereka.

Ya, karena dengan banyak berburu Pokemon di taman-taman atau jalan-jalan, badan menjadi lebih sehat, lemak banyak terbakar, dan kolesterol turun tajam. Saya hanya berharap mudah-mudahan kecanduan ini betul-betul membawa berkah.

 

Sumber gambar: techtimes.com

July 16, 2016   No Comments

Pesona Lebaran

Kemarin saya mendapat mention Twitter dari teman yang mudik ke Pati, Jawa Tengah. Mention itu berisi link yang membawa saya meluncur ke akun Facebook Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan hastag #PesonaLebaranPati. Saya pun sampai ke tulisan berjudul “Mudik ke Pati? Ini dia 10 destinasi paling keren” di akun tersebut.

Di dalam tulisan itu tersemat ajakan Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata. “Kami punya 10 daftar lokasi wisata yang perlu dikunjungi, semampang punya waktu longgar di Pati. Ada wisata alam, wisata religi, dan wisata sejarah di sana,” demikian ajakan Pak Menteri.

Sejurus kemudian 10 destinasi unggulan kota Pati yang layak dikunjungi pemudik diuraikan satu-satu berikut gambar-gambarnya. Di samping itu, tulisan tersebut juga memberikan informasi menarik mengenai 10 tujuan kuliner Pati dan 10 atraksi khas Pati yang layak disambangi semasa lebaran. Tulisan ditutup dengan sederetan hastag: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Tweet teman saya tersebut adalah bagian dari kampanye viral #PesonaLebaran dari Kemenpar yang dikomando langsung oleh Pak AY (demikian Pak Menteri biasa dipanggil) untuk memberikan informasi destinasi, kuliner, dan atraksi wisata di seluruh kota/kabupaten setanah air, terutama di kantong-kantong mudik dalam beberapa minggu ke depan.

Sedikit menyinggung Pak AY, sejak menjabat tahun lalu, menteri satu ini menggebrak dengan jurus-jurus marketing ampuh sehingga brand “Wonderful Indonesia” kian mencorong di dunia mengalahkan kampanye branding Malaysia, Thailand, Singapura. Bisa dikatakan inilah manteri paling marketer di antara menteri-menteri di dalam Kabinet Jokowi.

Malioboro

Wisata Mudik
Ide program #PesonaLebaran Kemenpar simple, kita punya liburan mudik lebaran selama dua bahkan ada yang sampai tiga minggu. Dari liburan sepanjang itu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya adalah untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan.

Nah, peluang inilah yang ingin ditangkap Kemenpar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan khususnya ke destinasi wisata di sekitar kantong-kantong mudik. Karena itu kemudian Pak AY memobilisasi semua kepala dinas pariwisata (Kadispar) provinsi, kota, maupun kabupaten untuk mempromosikan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing.

Ia meminta semua Kadispar untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. Agar branding-nya kuat menancap dan mudah terbaca oleh Mbah Google, hastag-nya pun diseragamkan. Misalnya kalau merekomendasikan wisata Pati maka hastag-nya: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pemasaran Horisontal

Kampanye viral #PesonaLebaran menarik, menurut saya, setidaknya dari dua aspek. Pertama, kampanye tersebut jeli memanfaatkan momentum setahun sekali Puasa-Lebaran untuk mendorong kunjungan wisata domestik. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 18 juta orang. Nah, secara jeli Kemenpar mencoba memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat.

Kedua, dengan men-share informasi 10 destinasi, 10 kuliner, 10 atraksi kabupaten/kota dan mendorong para netizen (seperti teman saya di atas) sebagai buzzer/influencer, maka kampanye tersebut mengandalkan pemasaran horisontal (word of mouth) yang powerful. Alih-alih menggunakan iklan yang mahal di koran atau TV, Kemenpar justru memanfaatkan netizen sebagai influencer sehingga murah tapi impactful (low budget high impact).

Pertanyaannya, siapa buzzer/influencer kampanye ini? Yang terutama tentu adalah para pemudik yang memiliki “nasionalisme” terhadap kampung halaman mereka. Seperti teman saya yang asal Pati, dengan senang hati ia menjadi advocator bagi Pati. Dengan semangat empat-lima ia berjibaku mempromosikan destinasi, kuliner, dan atraksi Pati kepada para pemudik lain melalui tweet dan status update di Facebook.

Saya sering mengatakan kampanye pemasaran horisontal atau word of mouth marketing adalah metode pemasaran paling ampuh dan tak tertandingi oleh metode pemasaran apapun yang lain.

Tapi untuk menyukseskan kampanye satu ini tidaklah gampang. Kuncinya terletak pada kemauan para pemudik sebagai advocator dalam menyebarkan viral. Menggerakkan mereka bukanlah pekerjaan gampang. Ya, karena mereka tidak dibayar.

 

Sumber foto: spotunik.com

 

July 3, 2016   No Comments

Transformasi Branding BRI

Satelit BRIsat milik BRI minggu dini hari lalu (19/6) sukses meluncur dari stasiun peluncuran di Kourou, Guyana Perancis. Kesuksesan ini merupakan momentum bersejarah tak hanya bagi BRI tapi juga dunia perbankan di Tanah Air.

Peluncuran itu punya arti penting bagi BRI karena dalam waktu singkat mampu meroketkan ekuitas merek (brand equity) BRI sebagai bank di jajaran terdepan dalam hal kecanggihan teknologi. Begitu mendengar BRI asosiasi yang muncul tak lagi “bank ndeso” seperti sebelumnya, tapi berubah lebih fresh dan canggih yaitu “bank satelit” atau “bank hitech”.

Peluncuran tersebut juga punya makna besar karena telah mengantarkan BRI pada capaian kelas dunia. Ya, karena satelit senilai Rp 3,375 triliun itu merupakan satelit pertama dan satu-satunya di dunia yang dipunyai institusi perbankan. “Jika Satelit Palapa merupakan satelit pertama yang dimiliki oleh rakyat Indonesia, maka BRIsat merupakan satelit pertama dan satu-satunya yang dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh bank,” ujar Hari Amijarso, Sekretaris Perusahaan BRI.

Transformasi Branding
Saya melihat peluncuran BRIsat merupakan tonggak penting yang menandai transformasi branding ketiga BRI atau saya sebut BRI 3.0. Nah, kalau ada BRI 3.0, maka tentu saja ada BRI 1.0 dan BRI 2.0.

Transformasi pertama BRI (saya sebut BRI 1.0) ditandai dengan keberhasilan bank ini dalam melayani masyarakat pedesaan melalui produk-produk legendarisnya seperti Simpedes dan Kupedes. Transformasi BRI 1.0 juga kesuksesan membangun jaringan layanan yang menyebar luas hingga ke pelosok desa (antara lain melalui BRI Unit). Melalui perjuangan puluhan tahun BRI mampu mengukuhkan diri sebagai “the biggest micro branking in the world”. Berkat keberhasilan inilah BRI kemudian identik dengan sebutan “bank ndeso” atau “bank rakyat”.

Transformasi branding kedua (BRI 2.0) dirintis sejak awal tahun 2000-an ketika BRI banyak berinvestasi di bidang teknologi informasi (TI). Kala itu BRI mulai mengimplementasi aplikasi BRINETS yang menjadi batu loncatan baginya memasuki era “tech banking”. Hasilnya, sejak akhir tahun 2000-an BRI begitu agresif meluncurkan produk-produk baru berbasis TI seperti: Tabungan BRItama, layanan ATM, kartu kredit/debit, internet banking, mobile banking, hingga private banking. Istilah yang populer waktu adalah: “BRI masuk kota”.

Nah, transformasi branding ketiga (BRI 3.0) ditandai dengan peluncuran satelit BRIsat yang sekaligus menandai era baru perbankan satelit. Kalau BRI 1.0 berwajah “ndeso”, BRI 2.0 berwajah “kota”, maka BRI 3.0 memiliki nuansa wajah “global” dan ”techy”. Kenapa “global”? Karena capaian BRI kali ini merupakan capaian berkelas dunia, bahkan seperti dikatakan Pak Hari, belum ada satu pun bank di dunia yang memiliki satelit. Kenapa “techy”? Ya karena satelit sudah terlanjur identik dengan teknologi canggih.

Menuju BRI 3.0
Tapi apakah dengan meluncurkan satelit kemudian semuanya beres? Apakah kesuksesan meluncurkan BRIsat secara otomatis mengantarkan BRI menjadi BRI 3.0? Tentu saja tidak. Jalan masih panjang untuk mewujudkan BRI 3.0.

Branding is about value. Branding bukan sebatas pencitraan. Kesuksesan branding ditentukan oleh kemampuan brand memberikan value ke konsumen. Ketika branding BRI 1.0 mengukuhkan posisinya sebagai bank pedesaan, itu karena BRI memang mampu menciptakan value kepada masyarakat pedesaan melalui solusi micro branking-nya. Bukan sebatas pencitraan.

Apakah sukses peluncuran BRIsat secara otomatis menghasilkan value ke nasabah BRI? Belum tentu. Di sinilah justru PR terbesar BRI, bagaimana ia bisa mengkonversi investasi pembelian satelit tersebut menjadi customer value yang betul-betul dirasakan oleh nasabahnya. Ingat, branding bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Bisa bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

So, Sukses transformasi BRI 3.0 ditentukan kemampuannya mendiversifikasi produk perbankan dengan kualitas kelas dunia, khususnya produk perbankan digital yang memerlukan teknologi mutakhir secanggih satelit.

Sukses transformasi branding BRI 3.0 juga ditentukan oleh kemampuannya mewujudkan konsep integrated payment system dengan memanfaatkan berbagai channel seperti EDC Wifi, POS Wifi, Web BRIlink. Juga kemampuan melayani nasabah

Sukses transformasi BRI 3.0 juga ditentukan oleh kemampuannya mewujudkan visi menjadi agent of development yang melayani masyarakat pedesaan di seluruh pelosok tanah air yang selama ini tak tersentuh layanan perbankan (unbank). Dengan satelitnya, BRI 3.0 harus bisa menjangkau yang tak terjangkau, dan melayani yang tak terlayani.

Wah, PR-nya masih banyak.

July 3, 2016   No Comments