E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

#GenM: Islam Universal

Aksi 212 yang teduh dan damai Jumat lalu adalah sebuah kemenangan besar. Kemenangan besar tak hanya untuk umat Islam, tapi juga untuk NKRI. Saya sebut kemenangan, karena jutaan orang yang berkumpul di seputaran Monas tersebut mampu menunjukkan kearifan dan kematangan sebagai umat Islam. Mereka mampu mengalahkan nafsu amarah, mampu menahan diri untuk tidak bertindak beringas atau berkata kasar penuh hujatan. Yang ada justru doa, kesejukan, dan cinta.

Fenomena aksi damai 212 semakin membangun optimisme kita bahwa Islam merupakan aset terbesar NKRI. Dengan jumlah umat terbesar di negeri ini, mencapai hampir 90% dari total penduduk kita, memang seharusnyalah Islam memimpin negeri ini. Memimpin bukan dengan arogansi atau menebarkan kebencian dan rasa curiga. Bukan pula dengan tirani mayoritas dimana yang besar menindas yang kecil. Tapi memimpin dengan kearifan, keteduhan, dan cinta. Memimpin melalui kebaikan-kebaikan yang dibawa oleh nilai-nilai Islam.

Inilah esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam yang membawa kebaikan tak hanya bagi umat Islam semata, tapi juga seluruh umat manusia dari agama, suku, ataupun etnik apapun.

aksi-damai-212

Universal Goodness
Kebetulan sekali, lusa Selasa (6/12) saya akan meluncurkan sebuah buku berjudul: Generation Muslim #GenM (Bentang Pustaka, 2016) di Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri, Jakarta. Buku ini mengupas mengenai generasi baru muslim Indonesia yang religius, modern, universal, dan makmur.

Generasi ini lahir di penghujung tahun 1980an. Karena lahir, tumbuh, dan dewasa di periode waktu yang sama, maka mereka mengalami kejadian dan pengalaman sosio-historis yang sama (common formative experiences). Kejadian dan pengalaman membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi mereka.

Karena pengaruh pengalaman sosio-historis bersama tersebut, #GenM memiliki empat karakteristik yang unik. Pertama, mereka religius dan taat pada kaidah-kaidah Islam. Kedua, mereka modern, berpengetahuan, melek teknologi, dan berwawasan global. Ketiga, mereka melihat Islam sebagai rahmatan lil alamin yang memberikan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh umat manusia. Keempat, mereka makmur dengan daya beli memadai, kemampuan berinvestasi lumayan, dan jiwa memberi (zakat dan sedekah) yang cukup tinggi.

Nah, mengamati aksi teduh 212 Jumat lalu, spontan saya jadi teringat dengan sosok #GenM yang diwakili oleh salah satu dari empat karakteristik di atas, yaitu karakteristik ketiga: universal goodness. Sosok #GenM yang mengedepankan universal goodness memiliki tiga ciri berikut.

#1. Rahmatan Lil Alamin
Mereka melihat Islam sebagai berkah bagi seluruh alam dengan segala isinya. Islam tak hanya baik dan bermanfaat bagi kaum muslim semata, tapi bagi seluruh umat manusia. Karena itu mereka melihat kaidah-kaidah Islam membawa kebaikan dan kemanfaatan bahkan tak hanya untuk umat Islam semata tapi juga untuk seluruh umat manusia terlepas dari suku, ras, agama, ataupun keyakinan yang dimiliki.

Mereka melihat konsep makanan halal dan thoyyiban misalnya, membawa kebaikan dari sisi kebersihan, kesehatan, ketiadaan penyakit, dan keutamaan lain, yang bermanfaat tak hanya untuk kaum muslim tapi juga berbagai kalangan di luar muslim.

Begitu juga konsep ekonomi yang tak memperkenankan riba, baik tak hanya untuk kaum muslim tapi juga untuk seluruh penduduk bumi dari manapun mereka berasal. Telah kita lihat bersama, ekonomi kapitalis telah membawa kerusakan akhlak berupa ketamakan dan keserakahan, krisis ekonomi yang bertubi-tubi datang, ketimpangan kemakmuran antara yang kaya dan miskin, hingga kerusakan lingkungan. Di tengah berbagai kerusakan seharusnya ekonomi non riba bisa menjadi obat penawar.

#2. Humanis
Masa kecil dan awal remaja #GenM diwarnai dengan tragedi pahit berupa maraknya terorisme seperti pemboman menara kembar World Trade Center, peristiwa bom Bali 1 dan 2, kerusuhan di Poso, Ambon, dan daerah-daerah lain. Berbagai peristiwa tersebut bukannya menjadikan mereka radikal dan penuh amarah, tapi justru tersentuh hatinya untuk membalik citra bahwa wajah Islam bukanlah seperti itu. Islam adalah agama yang humanis dan cinta damai.

Islam yang damai dan penuh kasih sayang menuntut mereka untuk saling kenal-mengenal, saling berbuat baik, saling bersikap adil, saling mencintai, saling mengasihi, menjaga kebersamaan, dan hidup berdampingan secara damai tak hanya dengan sesama umat Islam tapi juga seluruh umat manusia apapun background agama, suku, ras, dan alirannya.

Dalam pandangan #GenM, humanisme dalam Islam tentu saja berbeda dengan humanisme Barat yang mengagungkan manusia secara berlebihan, bahkan mendewakannya. Dalam Islam humanisme ditempatkan dalam konteks ketundukan, kepatuhan, dan pengabdian pada kekuasaan tertinggi yaitu Allah. Humanisme yang tak hanya mengedepankan rasionalitas manusia semata, tapi menyatukan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

#3. Inklusif
Islam di Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai agama yang inklusif dan toleran dengan mengakomodasi pengaruh-pengaruh dari budaya atau tradisi setempat. Walaupun mengakomodasi pengaruh setempat tentu saja inklusifitas ini bukan menjadikannya tercerabut dari nilai-nilai dasar Islam dan hanya mementingkan identitas kebudayaannya.

Islam kekinian juga tak lepas dari tradisi inklusifitas tersebut. Kini makin banyak #GenM yang menggunakan kemajuan di bidang teknologi informasi dan digital seperti apps, blog, atau media sosial sebagai medium untuk melakukan dakwah. Walaupun kemajuan berbagai perangkat digital tersebut diciptakan oleh orang-orang Barat yang bukan muslim, namun mereka tak mempermasalahkannya karena perangkat-perangkat tersebut bisa mempermudah dan mengefektifkan kerja dakwah mereka.

Hijab mendapatkan penerimaan yang luar biasa di kalangan #GenM karena memasukkan unsur-unsur fesyen seperti model rancangan, warna, tema, cerita (brand story), bahkan gaya hidup yang mengikuti tren terkini di dunia. Tentu saja penyerapan unsur-unsur kekinian tersebut tetap tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dasar Islam yang memang tidak bisa dikompromikan.

Aksi 212 yang penuh bertabur doa, kesejukan, dan cinta merupakan sebuah momentum penting bagi perkembangan Islam di Indonesia. Sejak menggagas ide mengenai #GenM dua tahun lalu, saya sudah meyakini bahwa kaum muslim Indonesia adalah kaum muslim yang hebat, yang bisa menjadi teladan bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Dengan landasan rahmatan lil alamin, humanisme, dan inklusifitas, saya semakin yakin kaum muslim Indonesia akan mampu memimpin tak hanya NKRI, tapi juga dunia. Amin.

 

Sumber foto: www.riauone.com

December 3, 2016   2 Comments

Peluncuran dan Talkshow Buku #GenM

Lima tahun terakhir pasar muslim menggeliat dan bertumbuh demikian pesat ditandai maraknya industri hijab, kosmetik halal, bank dan keuangan syariah, makanan halal, hotel syariah, turisme halal, dan lain-lain.

Driving force di balik geliat pasar muslim tersebut adalah generasi muslim baru yang religius, modern, universal, dan makmur, yang disebut Generation Muslim atau disingkat #GenM.

#GenM lahir di sekitar akhir tahun 1980-an dan merupakan generasi muslim yang mendapatkan kebebasan berekspresi keagamaan dan menikmati kemakmuran ekonomi. Mereka adalah muslim yang menjadi warga global village. Mereka adalah muslim yang digital savvy, karena itu saya menggunakan logo yang menyerupai simbol “@”.

#GenM adalah “creme de la creme” pasar muslim di Indonesia. Inilah segmen pasar yang akan menentukan kesuksesan Anda para marketers di masa depan.

Are you ready for #GenM?

Untuk tahu apa itu #GenM dan bagaimana menggarap pasarnya, ayo temen-temen ikutan peluncuran dan talkshow buku baru #GenM pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 6 Desember 2016
Pukul: 15.30 – 18.00 WIB
Tempat: Auditorium Kantor Pusat Bank Mandiri, Jl. Thamrin Kav. 5, Jakarta

Narasumber:
Yuswohady, penulis
Gangsar Sukrisno, CEO Mizan Production
Aisha Maharani, Halal Corner
Irna Mutiara, desainer hijab

Yuk gabung, gratis tapi harus daftar karena tempatnya terbaas. Lia: 857 8078 9897.

brosur-book-launch-genm

December 2, 2016   1 Comment

The New Cool

Minggu lalu saya menulis topik mengenai cool. Saya bilang di situ bahwa marketers harus sadar bahwa coolness (sesuatu yang keren) menjadi kian penting sebagai pendiferensiasi produk. Kenapa? Karena coolness kian menjadi penentu keputusan membeli (decision to buy) konsumen. Cool adalah hal esensial yang dicari konsumen.

Dalam tulisan tersebut juga saya bilang bahwa apapun yang berbau global selalu dianggap sebagai cool. Globalisasi, global market, global corporation, global brand, global culture, global lifestyle, global citizen, global fashion, Hollywood, hip-hop, boy band adalah cool.

Begitu pula apapun yang berbau digital selalu dianggap cool. Google, Facebook, digital lifestyle, digital entrepreneur, digital start-up, Go-jek, hingga wearable device adalah cool.

gen-m-2

Coolness Baru
Awal bulan depan saya akan meluncurkan buku baru berjudul #GenM (Generation Muslim). Dalam buku tersebut saya melihat adanya sebuah tren menarik mengenai kegairahan kebudayaan Islam di Indonesia. Fesyen bernuansa muslim (hijab), buku-buku inspirasi Islam, novel bernuansa Islam (“Ayat-Ayat Cinta”), apps bernuansa Islam, film dan sinetron bernuansa Islam, musik bernuansa Islam, termasuk dunia dakwah Islam masuk dalam ranah budaya mainstream yang diterima secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Saya menyebutnya fenomena geliat peradaban Islam di Indonesia.

Nah, di tengah geliat peradaban Islam tersebut, saya melihat bahwa kebaikan, kesalehan, dan kearifan yang dibawa oleh Islam menemukan identitas baru yang cool. Inilah yang saya sebut sebagai the new cool. Maka, gaya hidup Islam pun menemukan identitas baru yang keren. Muslim lifestyle is the new cool.

Hijabers Lifestyle Is the New Cool
Sejak lima tahun terakhir hijab mendapatkan penerimaan yang luar biasa dari #GenM. Saya sering menyebutnya sebagai fenomena revolusi hijab. Populasi hijabers tumbuh sangat pesat, bisnis hijab maju begitu cepat, dan terkait dengan itu, industri kosmetik halal menggeliat.

Bagaimana revolusi hijab bisa terjadi? Salah satu hipotesis saya adalah karena adanya “daya magnet” gaya hidup hijabers. Gaya hidup hijabers memiliki nilai-nilai dan citra yang positif sehingga mampu menarik kaum muslimah #GenM untuk mengenakan hijab.

Mereka tercitrakan sebagai sosok yang salehah, memiliki banyak teman (yang terhimpun dalam komunitas-komunitas hijabers), dan memiliki kegiatan positif (mengaji, seminar, wirausaha, filantropi, dsb.). Mereka juga fashionable (selalu mengikuti mode hijab terbaru) dan digital savvy (ngeblog, bermedsos ria, antusias mengenakan wearable devices). Mereka memiliki identitas baru yang saya sebut new cool. Hijabers lifestyle is the new cool.

Halal Lifestyle Is the New Cool
Dengan semakin teredukasi dan open minded-nya #GenM, kesadaran akan kemanfaatan halal akan semakin tinggi tak hanya di tingkat normatif tapi juga substantif. Mereka memahaminya tak hanya melulu normatif yaitu sebatas menjalankan perintah agama, tapi lebih jauh lagi dalam rangka betul-betul mencari kemanfaatan yang bersifat universal.

Harus diingat, konsep halal-haram secara hakiki memang diarahkan agar kaum muslim mengonsumsi makanan-minuman yang sehat dan tak merusak tubuh. Jadi prinsip halal-haram sesungguhnya membawa kemanfaatan yang positif tak hanya bagi kaum muslim semata, tapi juga umat manusia secara umum.

Dengan pemaknaan yang lebih universal dan positif semacam ini konsep halal pada gilirannya akan menyandang identitas baru yang cool. Halal becoming a new cool. Dengan begitu konsep ini akan diterima lebih luas tak hanya di kalangan kaum muslim, tapi juga di luar muslim.

Non-Riba Is the New Cool
Riba adalah sebuah skema yang diciptakan oleh sistem kapitalisme yang menggiring umat manusia untuk berlaku tamak dan serakah, mau menang sendiri, memangsa sesama, dan segudang penyakit selfish yang lain. Riba membentuk manusia menjadi economic animal.

Sistem ini terbukti telah menumbuh-suburkan ketamakan dan keserakahan. Hasilnya, sistem itu telah membikin kerusakan di muka bumi: ketimpangan kaya-miskin, persaingan yang mematikan antar sesama, krisis ekonomi dunia yang silih berganti, kerusakan lingkungan seperti penggundulan hutan dan pemanasan global. Sebuah kerusakan peradaban yang kini sudah nyata kita alami.

Nah, di tengah kerusakan peradaban inilah konsep non-riba muncul, sebagai koreksi atas konsep kapitalisme. Dengan wawasan dan pengetahuan yang baik, #GenM mampu menangkap nilai-nilai keadilan, kemitraan, kesetaraan, kepedulian, dan gotong-royong dari konsep ini, sehingga konsep ini akan menemukan identitas baru yang cool. Ekonomi non-riba akan menjadi the new cool.

Dian, Fatin, Nadiem, Alfatih Are the New Cool
Konsepsi the new cool juga bisa terbentuk jika elemen-elemen keislaman berpadu dengan apa yang selama dianggap cool seperti: global, digital, green, atau giving.

Contoh paling gampangnya adalah dengan melihat empat sosok yang menjadi role model #GenM yaitu: Dian Pelangi, Fathin Shidqia, Nadiem Makarim, dan Alfatih Timur.

Dian Pelangi adalah desainer muda berpengaruh Tanah Air yang membawa spirit fesyen modern dalam busana muslim. Dian adalah sosok digital savvy karena aktif di media sosial dan merupakan salah satu hijab blogger terkemuka di Instagram dengan pengikut jutaan orang. Dian aktif mengikuti event-event fesyen global seperti New York Fashion Week atau London Fashion Week. Nilai-nilai keislaman yang berpadu dengan identitas global dan digital menjadikan Dian Pelangi sebagai sosok role model #GenM. Dian Pelangi is the new cool.

Fatin Shidqia adalah muslimah yang solehah. Namun tidak itu saja yang membuat ia istimewa bagi kalangan muda (teen) #GenM. Fatin juga memiliki bakat istimewa dengan memenangkan ajang X Factor yang merupakan event global (global TV competition franchise) yang digelar oleh puluhan negara di lima benua. Identitas kesolehan Fatin yang berpadu dengan bakatnya yang berkelas dunia menghasilkan sosok yang cool di mata anak muda #GenM. Fatin is the new cool.

Nadiem Makarim adalah sosok idola baru #GenM. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital, ia berhasil merevolusi industri transportasi dengan Go-Jek. Tak hanya itu lulusan Harvard Business School ini juga menjadi sosok giving leader karena Go-Jek berkontribusi mengurangi pengangguran dengan menampung ratusan ribu pengojek menjadi “karyawan”-nya.

Alfatih Timur melakukan hal yang sama dengan mendirikan Kitabisa.com, sebuah platform berbagi untuk penggalangan dana. Sosok muslim Nadiem dan Alfatih yang berpadu dengan citra digital dan giving menghasilkan sesuatu yang cool. Nadiem & Alfatih are the new cool.

Welcome to the era of the new cool.

November 19, 2016   3 Comments

Cool

Belum lama berselang saya membaca sebuah buku yang membuat saya terus berpikir. Buku itu berjudul, Cool: How the Brain’s Hidden Quest for Cool Drives Our Economy and Shapes our World (2015) karya Steven Quartz dan Anette Asp. Sebelum membaca buku tersebut beberapa tahun terakhir saya meyakini bahwa coolness (sesuatu yang keren) merupakan faktor yang sangat penting sebagai penentu keputusan membeli (decision to buy) konsumen. Rupanya buku ini mengonfirmasinya.

Ambil contoh gampang, orang membeli produk Apple, apakah iPhone, iPod, atau Mac, bukanlah karena kecanggihan teknologi atau keawetannya semata, tapi karena coolness-nya. Karena Apple adalah sebuah merek yang cool. Orang membeli Toyota Prius bukanlah semata karena bensinnya yang irit atau rancangannya yang ramah lingkungan, tapi karena Prius itu cool. Apa itu cool?

cool-dean-jobs

Sinyal
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan sedikit menguraikan sebuah teori yang disebut teori sinyal atau lengkapnya Costly Signalling Theory.

Ide dasar dari teori ini mengatakan bahwa, secara tak sadar (unconsciously) seseorang akan memperlihatkan sebuah sinyal kepada orang lain sebagai cara untuk mengomunikasikan siapa dia sesungguhnya (status, kekayaan, karakter, nilai-nilai, identitas, aspirasi, gaya hidup, dll.). Dengan sinyal tersebut orang lain akan tahu bagaimana seharusnya bersikap dan menjalin hubungan dengan orang tersebut.

Contoh gampangnya Toyota Prius tadi. Seseorang membeli mobil Toyota Prius bukan melulu untuk keperluan alat transportasi. Orang tersebut menggunakan Toyota Prius sebagai sinyal untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia adalah sosok yang memiliki kepedulian lingkungan.

Ketika di survei, 57% pembeli Prius di Amerika Serikat mengatakan alasan utama mereka membeli adalah “make a statement about me”. Sementara, hanya 37% pembeli yang mengatakan “fuel economy” sebagai pertimbangan mereka memilih mobil hibrid massal pertama di dunia ini. Singkatnya, ia menggunakan Toyota Prius sebagai alat untuk mengomunikasikan kepada orang lain siapa dia sesungguhnya.

Dalam kasus Apple, kita membeli dan memakai produk Apple sebagai sebuah sinyal untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita adalah sosok yang kreatif, berani beda, dan fun selaras dengan brand identity Apple.

Seorang konglomerat nasional banyak memberi sumbangan dan melakukan kegiatan filantropi. Itu ia lakukan sebagai sebuah sinyal untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia adalah sosok yang peduli kepada masyarakat dan lingkungannya.

Cool Signal
Nah, dalam buku tersebut Steven-Asp menyimpulkan bahwa sesuatu yang dianggap cool oleh suatu masyarakat tertentu bisa menjadi sinyal yang ampuh untuk mengomunikasikan kepada orang lain siapa kita.

Quartz-Asp melihat di tahun 1950-an misalnya, muncul apa yang mereka sebut Rebel Cool dimana sesuatu yang bersifat memberontak (rebellious) merupakan sesuatu yang dianggap keren sehingga mereka yang mengadopsi rebellious lifestyle misalnya, dianggap sebagai orang-orang yang keren.

Menariknya, konsep cool ini bersifat dinamis dan bisa berubah dari masa ke masa. Rebellious lifestyle yang di tahun 1950-an merupakan sesuatu yang keren, begitu memasuki tahun 1990-an menjadi tidak lagi, digantikan oleh apa yang mereka sebut DotCool.

Kalau dalam Rebel Cool pemberontakan merupakan sesuatu yang keren, maka di era DotCool, kreativitas, inovasi, sesuatu yang tak biasa (unconventionality), dan pembelajaran (learning) dianggap sebagai bentuk kekerenan baru (new cool).

Kalau di tahun 1950-an, sosok seperti James Dean atau Elvis Presley dianggap sebagai sosok ideal yang mewakili era Rebel Cool, maka di tahun 1990-an sosok seperti Steve Jobs atau Bill Gates (dan belakangan Mark Zuckerberg) dianggap sebagai sosok yang menjadi role model bagi era DotCool.

Cool Factor
Apa sedikit pelajaran yang bisa kita petik dari buku tersebut? Bahwa coolness atau saya lebih senang menyebutnya cool factor bisa menjadi faktor kunci untuk menaklukkan konsumen. Begitu Anda bisa menyuntikkan cool factor ke dalam produk dan layanan Anda, maka pastilah si konsumen akan klepek-klepek tak berdaya untuk menolaknya.

Kalau begitu, maka Anda harus bisa dengan jeli menemukan cool factor tersebut. Agar sedikit punya gambaran, berikut beberapa contoh cool factor yang patut Anda cermati.

Kenapa memesan makan siang di kantor lewat Go-Food atau memesan taksi lewat GrabTaxi itu cool? Kenapa juga menjadi backpacker yang mencari tempat-tempat penginapan murah di AirBnB itu cool? Karena sesuatu yang berbau digital itu cool, digital lifestyle itu cool. Pesannya, digital adalah cool factor yang ampuh.

Kenapa tokoh superhero komik DC atau Marvel seperti Superman, Batman, The Avengers, dan Captain America, lebih cool dibandingkan dengan tokoh superhero lokal seperti Gatotkaca, Godam, Gundala, dan Si Buta dari Gua Hantu. Karena sesuatu yang berbau global itu lebih cool ketimbang lokal. So, citra global bisa menjadi kandidat cool factor produk Anda.

Kenapa TOMS, merek sepatu paling hot di Amerika saat ini, yang mendonasikan sepasang sepatu kepada masyarakat papa untuk setiap sepasang sepatu yang terjual begitu cool? Juga, kenapa Blake Mycoski sang pendiri yang menyebut posisinya Chief of Shoe Giver adalah sosok yang cool dan menginspirasi? Karena giving itu cool. So, suntikan unsur giving sebagai cool factor produk Anda.

Satu lagi, kenapa Prius menjadi merek mobil paling cool saat ini? Karena Prius adalah mobil yang paling peduli dengan nasib bumi kita. Green is always cool. So, gunakan kepedulian lingkungan sebagai elemen cool factor Anda.

Anda boleh berimaginasi, berkreasi, dan mengeksplorasi apapun yang hendak Anda jadikan cool factor. So, pertanyaan terakhir saya: apa cool factor produk Anda?

November 12, 2016   1 Comment

2017: Tahun Curi Start

Pada bulan September-Oktober 2016 ini para marketer sedang sibuk menyusun marketing plan 2017. Karena itu tulisan ini mencoba memberikan raw guidance mengenai bagaimana arah marketing plan tahun depan.

Saya menyebut tahun 2017 adalah tahun curi start. Kenapa? Karena tahun depan ekonomi kita mulai menemukan kembali momentum pertumbuhannya dan di tengah ekonomi yang mulai bertumbuh, siapa cepat ia akan dapat dan menjadi pemenang.

Selama kurun waktu 2010- 2015 secara konsisten pertumbuhan ekonomi kita terus melambat pertumbuhannya, berturut-turut dari 6,8%, 6,4%, 6,2%, 5,8%, 5%, dan 4,8%. Tahun ini diperkirakan akan naik sedikit menjadi 5,1% dan tahun depan kita akan menemukan momentum pertumbuhan kembali di posisi 5,5%. Dengan dorongan suntikan dana tax amnesti dan APBN 2017 yang ekspansif (pemerintah baru saja menarik utang Rp 729 triliun) bukan hal mustahil target pertumbuhan sebesar ini terwujud.

FIX Marketing Plan final Terakhir.cdr

2017: Tahun Come Back
Setidaknya ada tiga indikator utama yang membuat kita optimis tahun depan perekonomian kita menemukan momentum pertumbuhannya kembali.

#1. Ready for Growth: Bottoming-Up.
Indikator ekonomi tahun ini dan proyeksi tahun depan memperlihatkan kondisi membaik (pertumbuhan, inflasi, ekspor-impor, rupiah, konsumsi, dll.) sehingga menjadi landasan bagus bagi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya. Membandingkan indikator tersebut dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya terlihat adanya tren bottoming-up. Di samping itu, secara politik, posisi pemerintahan Jokowi makin kokoh dan kian mendapatkan kepercayaan pasar di ujung tahun kedua pemerintahannya. Ini merupakan modal bagus untuk mendorong perkembangan ekonomi di sisa masa jabatannya.

#1. Economic Packages: Get Momentum. Paket kebijakan ekonomi 1-13 (akan disusul paket ke-14 tentang e-commerce beberapa minggu ke depan) selama ini memang belum dirasakan secara signifikan. Wajar saja karena masih relatif baru. Namun di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, ekonomi kita akan mulai menuai dampak positif dari berbagai paket tersebut. Di tahun 2017 paket ekonomi akan menunjukkan taringnya dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat permintaan, meningkatkan daya saing industri, mengefisienkan distribusi dan rantai pasokan, dan mendorong pertumbuhan sektor UKM.

#2. Tax Amnesty: Prime Mover. Indonesia menjadi negara tersukses dalam menyelenggarakan program pengampunan pajak. Di tahap 1 yang berakhir akhir September 2016 lalu, total deklarasi (dalam negeri dan luar negeri) dan repatriasi saja telah mencapai Rp 3.600 triliun dengan dana tebusan mencapai Rp 97 triliun. Di samping menguatkan rupiah karena aliran dana masuk (sekarang sedang siap-siap menembus level psikologis Rp 12.000), program ini juga akan mendorong investasi di dalam negeri terutama investasi di bidang infrastruktur. Program pengampunan pajak akan menjadi prime mover pertumbuhan 2017.

Speed Is Everything
Di tengah ekonomi yang bakal menggeliat, maka kecepatan untuk menjadi pemain pertama yang meramaikan pasar merupakan faktor kunci penentu kesuksesan. Saya teringat ketika sekitar 15 tahun lalu bertemu dengan Pak Mochtar Riady di kantornya di Karawaci, Tangerang. Pak Mochtar bercerita mengenai bagaimana Lippo masuk ke pasar Cina di kala negeri Tirai Bambu itu dirundung krisis politik.

Kala itu hanya beberapa tahun setelah terjadi tragedi Tiananmen tahun 1989, perusahaan-perusahaan asing di Cina beramai-ramai hengkang karena situasi politik yang gawat tak menentu. Dalam kondisi semacam itu praktis semua marketers mengambil langkah wait and see, tak satupun yang berani take dangerous risk untuk masuk pasar Cina

Tapi Pak Mochtar berpikiran lain. “Kalau perusahaan lain tak berani masuk Cina dan saya satu-satunya yang masuk, maka tentu saja saya akan mendapatkan advantages,” ujar Pak Mochtar kala itu. Itulah yang disebut first entrant advantages seperti pengetahuan, pengalaman, dan eksposur sebagai pemain pertama. Tapi di balik keunggulan-keuanggulan itu, tentu saja risiko yang arus ditanggung juga luar biasa besar karena memang kondisi politik Cina kalau itu serba tidak menentu.

Kondisi yang dihadapi Pak Mochtar tersebut mirip dengan apa yang dihadapi para marketers di Indonesia saat ini. Sudah 3-4 tahun ini ekonomi kita mandek: konsumen adem-ayem, permintaan lesu, penjualan melemah, banyak target perusahaan tak tercapai. Dan seperti terurai di depan, tahun depan ekonomi kita bakal menggeliat. Nah, siapa yang bergerak cepat memanfaatkannya bakal mendapatkan first entrant advantages dan merekalah yang bakal meraup sukses besar. Itulah sebabnya saya menyebut tahun depan adalah tahun curi start.

5 Strategi Curi Start
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana strategi untuk curi start di tahun 2017? Dalam beberapa minggu terakhir kami di Inventure melakukan kajian dan menemukan 5 strategi curi start dalam rangka mendapatkan first entrant advantages di tahun 2017.

#1. Be a Trailblazer, Take the Dangerous Risk. Anda harus menjadi pionir di pasar yang telah cukup lama “mati suri”. Kalau bukan Anda lalu siapa lagi? Tanpa ada yang memulai mustahil pasar bisa menggeliat. Strategi market-driven (menunggu maunya pasar) tak bakal mempan lagi. Anda harus mengeluarkan jurus market-driver (menggerakkan pasar) agar pasar bangkit dari kelesuan dan bergairah kembali. Karena itu Anda harus menjadi industry hero dan nasib geliat industri ada di tangan Anda. Karena menjadi yang pertama tentu Anda harus siap dengan segala risiko seberbahaya apapun risiko tersebut. Tapi ingat, “high risk, high return”, begitu bisa menerobos risiko, maka Anda akan berpotensi memimpin pasar, pesaing hanya menjadi followers Anda.

#2. Spark-up the Demand. Pekerjaan tersulit bermain di pasar yang sudah terlanjur lama melemah adalah meletikkan (spark-up) permintaan. Untuk bisa melakukannya, Anda tak boleh memberikan yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Anda harus menciptakan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin ditolak oleh konsumen. Opsinya ada tiga. Pertama, Anda harus menciptakan produk tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary product with extraordinary value. Kedua, Anda harus menciptakan layanan dan pengalaman tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary service & experiences with extraordinary value). Dan ketiga, Anda harus menciptakan produk biasa tapi dengan harga supemurah (ordinary product with super low customer cost = hyper-value product).

#3. Speed-up Value Innovation. Ketika para pesaing masih wait and see, menunggu situasi kondusif dan banyak berhitung, kecepatan memanfaatkan pasar yang akan menggeliat menjadi senjata paling ampuh bagi Anda. Lakukan inovasi nilai (value innovation) dengan cepat, sebelum pesaing sadar untuk melakukannya. Inovasi nilai berujung pada penciptaan produk dan layanan yang more for less: benefit luar biasa tinggi, harga luar biasa murah. Gojek, IKEA, AirBnB, adalah contoh great value innovator. Untuk menjadi great value innovator, maka digitalisasi bisnis sudah menjadi keniscayaan dan keharusan. Tanpa digitalisasi Anda stuck menjadi pemain medioker.

#4. Create Niche, Twist Industry Rules of the Game. Untuk sukses menghasilkan fresh & extraordinary offering pasti Anda tak bisa langsung menguasai mainstream market. Anda harus memulai dari pasar ceruk (niche) yang unik dan kecil, dan kemudian membesarkannya dan Anda menjadi penguasa tunggal. Jadi pendekatan yang Anda gunakan adalah: menjadi ikan besar di kolam yang kecil, bukannya sebaliknya, menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena itu strategi curi start memang cocok untuk para challenger untuk mencuri pasar dari si market leader. Si challenger harus smart memanfaatkan transisi pasar yang sedang menggeliat untuk mencuri pasar dari si market leader.

#5. Be Stand-Out in the Mind of Customers. Ketika Anda bisa mendayagunakan first entrant advantages dan mampu menghasilkan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin bisa ditolak oleh konsumen, maka secara otomatis posisi brand Anda di benak konsumen akan kokoh. Brand Anda yang stand-out di benak konsumen itu harus “dipatri” sehingga membalik peta persaingan dimana Anda di posisi terdepan. Kalaupun Anda tak menjadi market leader, setidaknya Anda adalah thought leader yang dikagumi konsumen.

Selamat menyongsong tahun cerah 2017.

October 29, 2016   6 Comments

#GenM

* #GenM adalah judul buku baru saya yang diterbitkan oleh Bentang akhir tahun 2016 ini.

 

Selama ini kita mengenal Gen X, Gen Y (Milenial), dan Gen Z. Namun di Indonesia ada generasi lain yang mewakili sebuah kohort (cohort) tertentu yang sangat khas Indonesia. Saya menyebutnya, Gen M (biar seksi saya tulis #GenM), yang merupakan kependekan dari “Generation Muslim”. Apa itu #GenM? Apa bedanya dengan gen-gen yang lain?

gen-m-hijaber

Common Formative Experience
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita memahami apa itu kohort. Dalam pemasaran, segmentasi berdasarkan kohort adalah pengelompokkan orang (konsumen) berdasarkan suatu periode waktu tertentu dimana di dalam periode waktu tersebut mereka mengalami kejadian dan pengalaman yang sama (common formative experiences). Kejadian dan pengalaman ini penting karena akan membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi mereka.

Gen Y misalnya, lahir di awal tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an. Di Amerika Serikat generasi yang lahir di rentang waktu tersebut akan mengalami berbagai peristiwa penting seperti: mulai maraknya era digital dan penggunaan media sosial, invansi AS atas Irak, tren acara reality TV, hingga trauma peristiwa 9-11. Sementara generasi sebelumnya, Gen X, didominasi oleh peristiwa berakhirnya perang dingin dan jatuhnya Tembok Berlin, rivalitas Reagen vs Gorbacev, maraknya penggunaan PC, hingga melonjaknya tingkat perceraian.

Pengalaman yang sama di masa kecil, remaja, dan dewasa, pada gilirannya akan membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi yang sama. Gen Y misalnya, banyak dikatakan sebagai generasi yang optimis, suka berbagi info (social media savvy), menghargai perbedaan, suka narsis, budaya berkomunikasi dengan teks (texting culture) menggunakan BBM atau WA, dsb. Dalam konteks pemasaran, nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi ini akan menentukan pola pengambilan keputusan pembelian dan pola konsumsi mereka.

Perlu diingat, kita tak bisa menggunakan kohort Gen X atau Y di AS secara begitu saja di Indonesia karena latar belakang common formative experiences yang dialami berbeda. Celakanya, referensi Generasi Baby Boomers, X, Y, dan Z yang kita pakai selama ini berasal dari Barat, terutama AS. Peristiwa 9-11 misalnya, memang merupakan sebuah kejadian yang sangat traumatis bagi Gen Y di AS, namun tidak demikian halnya dengan Gen Y di Indonesia. Digitalisasi memang sama-sama berpengaruh terhadap Gen Y di AS maupun di Indonesia, namun tingkat kedalaman tentu berbeda, sehingga nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi yang terbentuk pun akan berbeda.

Geliat Keislaman
Konsumen Indonesia memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan AS maupun negara lain manapun. Memang betul globalisasi, teknologi (Google, media sosial, mobile, cloud), dan gaya hidup Barat (Hollywood, Hip-Hop, Justin Bieber) begitu pekat memengaruhi nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi konsumen Indonesia. Namun kelokalan dan nilai-nilai Islam tetap dominan memengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak mereka. Ini wajar karena 88% penduduk Indonesia adalah muslim.

Bahkan menurut pengamatan saya, dalam 10 tahun terakhir kehidupan keislaman di Indonesia bergerak begitu dinamis dan mengejutkan. Pasar muslim menggeliat dan bertumbuh demikian pesat ditandai maraknya industri hijab, kosmetik halal, bank dan keuangan syariah, makanan halal, dsb. Kini kita menyongsong promising industries yang menarget pasar muslim yang kian lukratif seperti: hotel syariah, properti syariah, ZISKAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf), hingga industri budaya berbasis Islam seperti buku inspirasi Islam, musik, sinetron atau film.

Yang menarik dari fenomena menggeliatnya pasar muslim dan industri berbasis Islam tersebut adalah bahwa nilai-nilai Islam dan ajaran Nabi mulai menjadi driving factors bagi konsumen muslim Indonesia dalam memutuskan pembelian dan memengaruhi perilaku membeli dan mengonsumsi mereka. Artinya, ketaatan kepada ajaran Islam menjadi faktor yang kian penting bagi mereka dalam memutusakn produk dan jasa yang akan mereka beli dan konsumsi. Jadi, pertimbangan halal atau tidak, mengandung riba atau tidak, syar’i atau tidak menjadi faktor penentu penting dalam keputusan pembelian.

komunitas-hijabers

Siapa #GenM?
Kembali ke pertanyaan semula, siapa itu #GenM. Dengan menggunakan pendekatan kohort, saya mencoba menelusur akar di balik geliat pasar muslim di Indonesia. Hasil telusuran itu mengerucut pada sebuah generasi yang saya beri nama Generation Muslim atau #GenM. Generasi ini lahir antara tahun 1989/1990 hingga sekitar tahun 2010. Peristiwa-peristiwa sosial-politik di akhir-akhir kekuasaan Orde Baru, globalisasi gaya hidup, inovasi teknologi digital, kemajuan ekonomi yang pesat yang kemudian diikuti krisis yang dalam, juga ancaman terorisme global, pekat mewarnai generasi tersebut.

Saya mengambil penghujung dekade 1980-an sebagai awal kemunculan generasi muslim ini, saat itulah ekspresi kehidupan keislaman di Indonesia mendapatkan angin segar, siring semakin kondisifnya pemerintahan Orde Baru terhadap kaum muslim. Pada kurun-kururn waktu sebelumnya ekspresi keagamaan, kesukuan, dan ras cenderung ditekan dengan pendekatan keamanan untuk menghindari perpecahan dan menjamin keutuhan bangsa.

Secara ringkas pembentukan dan perkembangan #GenM saya ringkaskan pada bagan di bawah (Pembentukan dan Perkembangan #GenM). Seperti tampak di bagan, beberapa common formative experiences penting yang dialami generasi ini adalah: iklim sosial-politik yang kondusif bagi umat Islam sejak awal 1990-an; kejatuhan Soeharto 1998; Pemilu demokratis 1999 dimana partai Islam beroleh hawa segar; peristiwa bom Bali 1 dan 2, dan maraknya konflik sosial bermotif SARA; revolusi digital dan media sosial; hingga menggeliatnya budaya pop Islam.

formative-experience-gen-m

Karena pengaruh common formative experiences tersebut, #GenM memiliki empat karakteristik yang unik dan hanya ada di Indonesia. Pertama, mereka religius (religious) dan taat pada kaidah-kaidah Islam. Kedua, mereka melihat Islam sebagai rahmatan lil alamin yang memberikan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh umat manusia. Ketiga, mereka berpengetahuan, melek teknologi, dan berwawasan global (modern). Keempat, mereka makmur dengan daya beli tinggi (high buying power), kemampuan berinvestasi luwayan, dan jiwa memberi (zakat dan sedekah) yang cukup tinggi.

gen-m-values

Mari kita lihat satu-satu.

Religious

Dalam buku saya Marketing to the Middle Class Muslim (2014), saya mengungkapkan sebuah fenomena menarik mengenai konsumen muslim di Indonesia. Di negara-negara Barat, semakin kaya dan semakin pintar penduduknya, maka semakin luntur pula kehidupan keagamaannya. Di Indonesia sebaliknya, semakin kaya dan semakin pintar kaum muslimnya, mereka justru semakin religius.

Hal ini terlihat jelas dalam 5 tahun terakhir fenomena revolusi hijab, kepedulian akan makanan, minuman, dan kosmetik halal, juga gerakan anti riba. Konsumsi mereka mulai diletakkan dalam kerangka ketaatan pada ajaran Islam. Dengan kata lain, ketakwaan mereka kepada rukun Islam, rukun Iman, dan prinsip Ihsan kian meningkat, tak hanya dalam hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, tapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Modern
Knowledgeable. Tak seperti generasi muslim sebelumnya, #GenM adalah generasi yang berpengetahuan dan berwawasan (knowledgeable). Mereka lahir di akhir tahun 1980-an dimana pendidikan sudah demikian mudah dan murah. Beberapa daerah provinsi mulai menggratiskan pendidikan SD hingga SMA. Sejak masa kanak-kanak, mereka sudah familiar dengan Google untuk mencari informasi dan pengetahuan apapun. Mereka adalah juga social media freak yang intens menggunakan blog, Facebook, dan Twitter, yang memungkinkan sharing informasi dan pengetahuan berlangsung demikian mudah dan massif.

Digital Savvy. #GenM adalah 5 screens heavy users. Mereka adalah generasi yang tergantung pada teknologi dan massif menggunakan lima jenis layar (five screens: TV, desktop, laptop, iPad, smartphone) tiap harinya. Dengan beragam gadget dan apps mereka tersambung 24/7 dengan internet. Mereka lebih nyaman berkomunikasi melalui email atau text messaging daripada dengan bertemu langsung face-to-face. Online presence mereka tinggi sekali melalui aktivitas di blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain.

Global Mindset. By-default mereka lahir sebagai warga dari “global village”. #GenM juga lahir di era dimana informasi, nilai-nilai, gaya hidup, teknologi, dan produk global bisa mereka akses demikian mudah. Musik yang mereka dengarkan, film yang mereka tonton, produk yang mereka beli, dan informasi yang mereka akses semuanya serba global melintas batas-batas negara.

gen-m-role-models

Dian Pelangi (pengusaha), Rio Hariyanto (pembalap), Fathin  (Penyanyi), dan Alfatih Timur (pendiri kitabisa.com) adalah beberapa role model #GenM.

Universal Goodness
Rahmatan Lil Alamin. #GenM melihat Islam sebagai berkah bagi seluruh alam dengan segala isinya. Islam tak hanya baik dan bermanfaat bagi kaum muslim semata, tapi bagi seluruh umat manusia. Karena itu mereka melihat kaidah-kaidah Islam membawa kebaikan dan kemanfaatan bahkan tak hanya untuk umat Islam semata tapi juga untuk seluruh umat manusia terlepas dari suku, ras, agama, ataupun keyakinan yang dimiliki.

Humanistic. Masa kecil dan awal remaja #GenM diwarnai dengan tragedi pahit berupa maraknya terorisme seperti pemboman menara kembar World Trade Center, peristiwa bom Bali 1 dan 2, kerusuhan di Poso, Ambon, dan daerah-daerah lain. Namun hal itu tak serta-merta menjadikan mereka radikal. #GenM melihat Islam sebagai agama yang teduh, damai, dan penuh kasih sayang. Islam yang damai dan penuh kasih sayang menuntuk mereka untuk saling kenal-mengenal, saling berbuat baik, saling bersikap adil, saling mengasihi, menjaga kebersamaan, dan hidup berdampingan secara damai tak hanya dengan sesama umat Islam tapi juga seluruh umat manusia apapun background agama, suku, ras, dan alirannya.

Inclusive. #GenM juga berpandangan bahwa Islam adalah agama yang inklusif dan membuka diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Tentu saja sejuh pengaruh tersebut tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dasar Islam yang memang tidak bisa dikompromikan. Mereka melihat bahwa keterbukaan dan keinklusifan itulah yang menyebabkan Islam menjadi terus relevan di tengah perubahan dan kemajuan jaman.

High Buying Power
High Consumption. #GenM tak hanya pintar dan berpengetahuan, tapi juga kaya dan memiliki daya beli yang cukup tinggi. Mereka adalah kelompok masyarakat kelas menengah yang sudah memiliki standar hidup (standard of living) lumayan karena memiliki aset finansial yang cukup memadai seperti penghasilan tiap bulan, rumah, mobil, barang-barang rumah tangga (TV, lemari es, AC, mesin cuci, dan sebagainya), tabungan, atau instrumen investasi seperti emas, deposito mudharabah, reksadana syariah, dan sebagainya.

High Investment. Tak hanya itu, #GenM adalah kelompok kelas menengah yang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Sehingga mereka memiliki pendapatan menganggur (discretionary income) yang bisa mereka tanamkan dalam beragam bentuk instrumen investasi. Dana menganggur inilah yang mereka investasikan dalam berbagai bentuk, baik di sektor riil (mereka terjun menjadi entrepreneur) atau di sektor keuangan syariah seperti deposito mudharabah, reksadana syariah, obligasi syariah, asuransi syariah, dan lain-lain.

High Giving. “Makin kaya, makin pintar, makin banyak memberi.” Begitu kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan #GenM. Seperti kami katakan di depan, #GenM sudah memiliki discretionary income yang besar. Pendapatan “menganggur” itu tak hanya diinvestasikan untuk mengembangbiakan kekayaan, tapi juga disisihkan kepada orang lain yang membutuhkan dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, wakaf (ziskaf), dan bermacam kegiatan filantropis.

#GenM akan mewarnai dan mendominasi pasar dan jagat pemasaran di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan karena Indonesia adalah negara dengan hampir 90% penduduknya muslim. Karena itu mulai sekarang kencangkan ikat pinggang: amati perilakunya, luluhkan hatinya, dan menangkan pasarnya.

Welcome to the #GenM world

 

Sumber foto: dream.co.id dan 4.bp.blogspot.com

October 22, 2016   1 Comment

Nobar & Diskusi Film | Movie Marketing: The “Wondeful Life” Story

Kita para penonton film pasti nggak pernah menyangka bahwa memasarkan sebuah film adalah pekerjaan yang super sulit, penuh risiko kegagalan, unpredictable, dan uncertain. Ini saya ketahui setelah saya ngobrol sejam dengan Amalia Prabowo dalam sebuah acara talkshow radio minggu lalu. Amalia adalah marketer, eksekutif periklanan, dan novelya Wonderful Life difilmkan dan pekan lalu putar perdana.

Amalia bilang bahwa kerja berbulan-bulan mempersiapkan kampanye pemasaran sebuah film “nasibnya” hanya ditentukan selama empat hari film tayang di gedung bioskop. Memang waktu tayang itu bisa lebih panjang kalau film sukses, namun kalau gedung cuma terisi 5 orang di hari ketiga misalnya, maka finish-lah film tersebut.

Intinya, daur hidup film praktis hanya beberapa hari, ini berbeda dengan produk pada umumnya yang bisa bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Mobil misalnya bisa bertahun-tahun, bahkan sudah barang second pun masih laris-manis di pasaran. Film memang bisa dipasarkan dalam bentuk DVD pasca tayang di bioskop, namun di tengah membudayanya pembajakan di negeri ini, potensinya kurang menggembirakan.

wonderful-life-movie

Pemasaran sebuah film banyak ditentukan kemampuan pemasar menciptakan story dan membangkitkan word of mouth di kalangan calon penonton sebelum dan semaa pemutaran film di gedung bioskop. Film-film Hollywood seperti Captain of America, Star Wars: The Force Awakens, Furious 7, atau AADC, Warkop DKI Reborn sukses melalui resep ini.

Sedikit gambaran itu membikin kita penasaran, pengin tahu bagaimana strategi menyukseskan sebuah film dan membuatnya menjadi box office. Dan yang lebih penting lagi, apa saja lessons-learned yang bisa kita petik dari pemasaran film ini untuk bisnis kita masing-masing.

Nah temen-temen entrepreneurs, kita akan membahas topik menarik ini dengan mengambil kasus film Wonderful Life yang kini sedang tayang di gedung bioskop bersama sang eksekutif produser Handoko Hendroyono dan sang penulis novel Amalia Prabowo.

Acara akan dimulai dengan nonton bareng (nobar) yang berlanjut dengan diskusi santai pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 18 Oktober 2016, 16.45-19.00 (Nobar); 19.00-20.30 (diskusi film)
Tempat: Bioskop Kasablanka XXI, Mal Kota Kasablanka, Jl. Casablanca Raya Kav. 88.
Tema: Movie Marketing: The “Beautiful Life” Story
Nara Sumber: Handoko Hendroyono (Eksekutif Produser), Amalia Prabowo (Penulis Novel dan eksekutif periklanan), Samuel Pranata (Sponsorship Partner), dan Yuswohady (Moderator).

Teman-teman yang berminat, GRATISSS!!! Tapi very limited seat, so cepet daftar via WA 0977 0708 2001.

 

October 15, 2016   No Comments

Pariwisata Kerakyatan

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke desa wisata Geopark Ciletuh Sukabumi untuk memberikan workshop branding kepada para wirausahawan desa (villagepreneur) dari beberapa desa di kawasan wisata tersebut. Selama dua hari mengisi workshop saya dan teman-teman rombongan tinggal di rumah salah satu penduduk yang “disulap” menjadi sebuah homestay yang memang secara khusus disewakan untuk para wisatawan yang datang.

Belasan homestay di desa wisata tersebut dikoordinir oleh PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) sebuah komunitas masyarakat lokal yang secara swadaya mempromosikan dan melestarikan wisata Geopark Ciletuh. Agar memiliki atraksi yang menarik, komunitas yang menghimpun pemuda desa ini mengembangkan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad di Geopark Ciletuh. Mereka menggunakan website untuk memasarkan paket tersebut.

Agar dapat memberikan pelayanan yang baik, PAPSI membina para penduduk desa yang rumahnya dijadikan homestay dengan memberikan beragam keterampilan seperti: bagaimana mempercantik kamar, standar kebersihan, menyajikan sarapan untuk tamu, pelayanan konsumen, dan sebagainya. Tujuannya, agar homestay yang mereka kelola bisa memberikan pelayanan ala hotel kepada para wisatawan.

Sejak obyek wisata Geopark Ciletuh ramai dikunjungi wisatawan tiga tahun terakhir, ekonomi desa-desa di sekitarnya mulai menggeliat. Kegiatan ekonomi bertumbuh dan masyarakatnya mulai kreatif menangkap peluang yang muncul para wisatawan yang datang. Salah satunya adalah layanan homestay yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat di bawah koordinasi PAPSI tersebut.

homestay

Homestay = Ekonomi Kerakyatan
Bagi saya homestay adalah “magic word” kalau kita bicara mengenai pariwisata dan keterkaitannya dengan ekonomi kerakyatan. Pariwisata dan ekonomi kerakyatan? Apa hubungannya?

Sudah banyak kita tahu bahwa sektor pariwisata memiliki multiplier effect yang sangat luas. Kedatangan para wisatawan di Geopark Ciletuh di atas misalnya, menimbulkan kegiatan berbagai sektor ekonomi di desa seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan-minuman lokal, dan lain sebagainya. Akibatnya semua kalangan di desa sekitar obyek wisata menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan. Kehadiran obyek wisata akan menggeliatkan perekonomian desa secara luas.

Nah, homestay adalah sebuah model pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan karena melibatkan masyarakat lokal untuk ikut menikmati tetesan rezeki dari wisatawan yang datang. Alih-alih membangun hotel magrong-magrong yang dibiayai dan dimiliki investor kakap dari Jakarta, konsep homestay memungkinkan masyarakat lokal ikut menikmati rezeki yang dibawa oleh wisatawan. Sehingga majunya sebuah obyek wisata akan berkait langsung dengan kemakmuran masyarakat lokal secara merata. Kalau sudah begini maka sektor pariwisata menjadi kandidat paling sempurna untuk menjadi “mesin pemerataan” pembangunan. Pariwisata yang berpihak pada ekonomi kerakyatan inilah yang saya sebut “pariwisata kerakyatan”.

Ketika investor besar dari Jakarta yang bermain, (dengan hotel, mal, theme park, water boom, atau mal yang serba raksasa dan mewah) maka sebuah obyek wisata memang lebih kinclong dan maju begitu cepat. Tapi pola ini jelas tak berpihak kepada masyarakat lokal. Memang di tangan investor kakap obyek wisata tersebut tumbuh super cepat, tapi pertumbuhan yang cepat itu tidak serta-merta diikuti kemakmuran masyarakat lokal.

Alih-alih memajukan masyarakat lokal, pengembangan obyek wisata tersebut justru menjadi mesin penghisapan kemakmuran dari masyarakat miskin desa ke orang-orang kaya di Jakarta. Dengan kata lain, pengembangan pariwisata model ini bersifat ekseklusif dan “tercerabut” dari masyaraktnya.

Ekonomi Berbagi
Konsep pariwisata kerakyatan di atas akan semakin cantik jika dikoneksikan dengan platform ekonomi berbagi (sharing economy) yang sekarang sedang menggeliat. Idenya kira-kira seperti Gojek atau AirBnB. Kalau masyarakat lokal pemilik homestay di seluruh Tanah Air menggabungkan diri di dalam sebuah platform berbagi (sharing platform), maka secara bersama-sama mereka bisa memasarkan layanan homestay mereka ke seluruh dunia.

Secara umum model bisnisnya mirip dengan AirBnB, namun prinsip kepemilikannya agak berbeda. Kalau AirBnB dimiliki oleh segelintir investor besar di Silicon Valley, maka platform berbagi ini dimiliki oleh seluruh pemilik homestay, misalnya dalam bentuk koperasi. Atau bisa juga platform berbagi tersebut dibangun dan dikuasai negara dan bisa dimanfaatkan oleh para pemilik homestay secara cuma-cuma. Artinya platform tersebut menjadi public good yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Dalam rubrik ini beberapa bulan lalu saya pernah menyebut bahwa platform berbagi memiliki prospek untuk menjadi platform pemerataan kemakmuran. Syaratnya cuma satu, yaitu jika platform itu dimiliki, digunakan, dan dikelola oleh para pemain yang terlibat di dalamnya. Gojeg atau Uber misalnya, seharusnya bukan dimiliki oleh segelintir investor super kaya, tapi dimiliki oleh tukang-tukang ojek atau sopir-sopir taksi yang bergabung di dalamnya.

Dengan model platform berbagi maka pertumbuhan serta-merta akan diikuti dengan pemerataan, karena rezeki yang didapat langsung dinikmati oleh tukang ojek, sopir taksi, atau pemilik homestay. Kalau sudah begitu maka platform ini bisa menjadi enabler terwujudnya ekonomi kerakyatan seperti divisikan oleh Bung Hatta.

Sektor pariwisata bakal menjadi sektor unggulan ekonomi kita menyusul meredupnya sektor migas. Karena itu sektor ini harus dikembangkan dengan cermat, tak hanya sebagai “mesin pertumbuhan”, tapi juga “mesin pemerataan”. Tentu saja homestay adalah contoh kecil saja dari model pengelolaan sektor pariwisata yang berbasis pemerataan kemakmuran dan berpihak pada masyarakat kecil. Beragam model lain bisa dikembangkan dengan prinsip-prinsip dasar yang sama.

Mari kita wujudkan bersama pariwisata yang berkerakyatan.

 

Sumber foto: media.viva.co.id

October 1, 2016   1 Comment

The Dark Side of the Gen Z

Beberapa hari lalu (20/9) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan akun Awkarin (Karin Novilda) dan Anya Geraldine dan beberapa akun lain di media sosial kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pasalnya akun-akun tersebut dinilai meresahkan banyak orang tua karena gambaran gaya hidup yang di-posting di akun Instagram mereka dikhawatirkan bisa menjadi contoh tak baik bagi remaja seusianya.

Dua remaja putri tersebut memicu viral di media sosial karena postingan foto-foto mereka yang seksi dan berani. Beberapa postingan mereka juga memaparkan pola berpacaran yang tidak sehat dan gaya hidup yang hedonik yang membuat banyak orang tua khawatir. Dua remaja putri tersebut kini menjadi selebgram dengan followers mencapai jutaan orang. Dan celakanya, apa yang telah mereka lakukan itu bisa jadi menjadi semacam “success story” sosok netizen yang mendapatkan kepopuleran di media sosial dalam waktu super singkat.

family-big-disconnection-2

Fully Digital Native
Cerita Awkarin-Anya adalah contoh sisi kelam dari generasi baru yang bakal kita songsong yaitu Generasi Z (sering disebut Gen Z). Generasi ini lahir setelah pertengahan tahun 1990-an dan merupakan generasi yang sejak kecil sudah sepenuhnya menggunakan internet. Istilah kerennya, fully digital native. “Generation Z has never lived in the world without the internet and on average they use five screens a day,” ungkap sebuah riset. Tak heran jika sebagian besar waktu mereka dihabiskan secara online ketimbang berinteraksi dengan sesama teman secara fisik.

Untuk pertama kali dalam sejarah, inilah generasi dimana orang tua tidak punya kendali penuh terhadap anak-anak mereka. Ya karena sejak usia dini (12, 11, bahkan di bawah 10 tahun) mereka sudah diberi smartphone oleh orang tua, dan melalui smartphone tersebut mereka bisa begitu bebas berselancar di internet untuk mendapatkan informasi, mencari teman, dan menemukan apapun yang diinginkannya.

Begitu si anak masuk ke jagad internet, maka lepaslah kendali si orang tua terhadap anak. Tak heran jika kekhawatiran terbesar orang tua Gen Z adalah ketika anak mereka menyendiri di kamar dan memainkan smartphone mereka. Karena di situlah berbagai kemungkinan mereka berinteraksi dengan “evil of the world” di jagat internet (mulai dari gaya hidup Hollywood, online bullying, gambar-gambar porno, hingga predator pedofili) bisa terjadi.

Ketika orang tua tak punya kendali sepenuhnya, maka pengasuhan anak (parenting) akan diambil alih oleh “orang tua lain” yaitu Google, Facebook, Instagram, blog, dan jutaan situs di jagat internet. “In the digital age, internet becomes their co-parent.”

Internet as a Co-Parent
Kok bisa internet menjadi orang tua lain? Bisa. Tentu kita sepakat, tugas terbesar orang tua adalah menanamkan nilai-nilai, sikap, perilaku, dan karakter mulia kepada anak. Dengan bekal karakter mulia itu si anak akan bisa selamat dan sukses menjalani hidup bahkan ketika si orang tua tak ada lagi. Nah, tugas krusial ini pun bisa dimainkan dengan sangat efektif oleh internet, apalagi kalau sebagian besar waktu Gen Z dihabiskan di internet.

Pergaulan mereka dengan teman-teman di Facebook atau Instagram, interaksi mereka dengan sang idola di bagian lain dunia (Justin Bieber, Rihana, Miley Cyrus, dsb.), atau segudang informasi gaya hidup Barat yang mereka dapatkan di internet, semuanya bisa membentuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku mereka. Bagi mereka internet menjadi medium yang sangat kaya untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan berpetualang dalam rangka menemukan jati diri mereka.

Dalam kasus Anya di atas misalnya, salah satu konten menghebohkan yang ia posting di Instagram adalah video saat ia liburan dengan sang pacar dengan pola pacaran yang tak beda jauh dengan gaya pacaran selebriti-selebriti top Hollywood. Melihat kemiripannya, bisa jadi ide video itu diinspirasi oleh acara reality show semacam Keeping Up with the Kardasians (Kim Kardasian) atau Simple Life (Paris Hilton) di Hollywood. Begitu mudahnya gaya hidup tak patut di dalam acara reality show itu dikopi dan dijadikan role model.

Ingat, salah satu karakteristik utama Gen Z adalah bahwa mereka adalah self-learner yang sangat mumpuni. Dengan cepat mereka meniru dan menginternalisasi apapun yang mereka dapatkan di internet hingga kemudian membentuk nilai-nilai dari perilaku mereka.

Big Disconnection
Dalam bukunya, The Big Disconnect: Protecting Childhood and Family Relationship in the Digital Age (2013), Catherine Steiner-Adair mewanti-wanti terjadinya “tragedi keluarga” terbesar abad ini, yaitu apa yang ia sebut “big disconnection”. Tragedi ini sudah riil kita temukan di ruang-ruang keluarga kita. Coba saja lihat suasana di ruang makan atau ruang tamu di banyak keluarga kita. Pada hari Sabtu atau Minggu di situ berkumpul seluruh anggota keluarga; ayah, ibu, dan dua anak. Sekilas suasananya begitu akrab mencerminkan sebuah keluarga yang harmonis dan ideal.

Namun kalau kita telisik lebih dalam, baru kita temukan ketidakberesan di situ. Ya, karena masing-masing bapak, ibu, dan anak itu memegang smartphone dan mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Mereka asyik dengan “screen time” mereka masing-masing dan tak peduli satu sama lain. Tak jarang mereka senyum-senyum sendiri sambil mata tak bisa lepas dari screen. Inilah potret dari keluarga-keluarga kita. Sebuah potret yang kelam.

Mereka highly-connected dengan jagat internet, tapi celakanya highly-disconnected dengan sesama anggota keluarga. Inilah yang oleh Steiner-Adair disebut big disconnection, tragedi keluarga terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Dan barangkali disconnection inilah yang memunculkan fenomena seperti kasus Awkarin-Anya di atas.

Sadarkah kita bahwa tragedi dan bencana besar big disconnection itu sudah terjadi? Kasus Awkarin-Anya harusnya menjadi wake-up call bagi kita setiap orang tua. Ia harus menjadi peringatan mengenai bencana lebih besar yang bakal terjadi di jaman digital ini. Setiap orang tua harus lebih kritis dalam menyikapi screen time dan aktivitas online putra-putrinya.

Saya adalah juga orang tua dari dua anak 10 dan 11 tahun. Terus terang kini saya takut, kasus ini hanyalah puncak kecil dari gunung es raksasa di laut kutub utara. Barangkali kasus yang sama dalam skala yang ribuan kali lebih besar bakal kita hadapi tiga tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depan.

 

Sumber foto: Getty Image

September 24, 2016   13 Comments

Remote Influence

Salah satu seni dalam memimpin adalah melalui kemampuan memotivasi pegawai. Ketika seorang pemimpin mampu memengaruhi anak buahnya untuk melakukan arahannya, maka tanpa harus diawasi terus-menerus dan tanpa harus bertemu, pegawai tersebut akan selalu bekerja sebaik-baiknya. Mereka akan selalu merasa diawasi meskipun tidak bertemu atasannya sehingga akan menghasilkan kinerja terbaik. Inilah yang disebut: remote influence.

Selama 20 tahun menekuni bidang bisnis dan marketing, guru paling hebat bagi saya adalah para CEO perusahaan yang menjadi klien saya. Banyak dari mereka yang begitu senang memberi saya “kelas MBA privat” yang barangkali tidak mungkin didapatkan di sekolah MBA manapun.

Kali ini saya mendapatkan leadership wisdom mengenai remote influence dari Pak Zulkifli Zaini, Dirut Mandiri 2010-2013. Ya, karena kini saya sedang meriset dan menulis buku mengenai kepemimpinan bisnis Pak Zul sehingga saya berkesempatan mendapatkan “kuliah-kuliah” yang luar biasa mengenai kepemimpinannya.

leadership-penguin

The Power of Influence
Pak Zul menggunakan analogi remote televisi untuk menjelaskan remote influence secara gampang. Meskipun ada jarak antara kita dan televisi namun kita tetap bisa mengontrol apa saja channel acara yang ingin ditonton. Walaupun ada jarak dan tak selalu bertemu anak buah, dengan adanya remote influence si pemimpin tetap bisa memonitor dan mengontrol mereka. Sebaliknya para anak buah juga merasa dimonitor dan dikontrol oleh si pemimpin.

Seorang pimpinan cabang di Papua atau di Pulau Timor misalnya, akan merasa bahwa CEO di kantor pusat memonitornya dan tahu bahwa ia akan muncul jika si pimpinan cabang tak melakukan pekerjaan dengan baik. Padahal si CEO tak ada di sana dan mereka terpisah jarak ribuan kilometer. Inilah hebatnya remote influence.

Dengan adanya remote influence kita tidak perlu memegang terus buntut bawahan tapi mereka tetap punya urgensi dan tanggung jawab untuk menciptakan kinerja terbaik. Inilah seharusnya keahlian terpenting dari seorang pemimpin. Ia tak bisa selalu dekat secara fisik dengan anak buahnya, namun ia harus bisa dekat secara pengaruh.

Seorang pemimpin harus bisa memengaruhi pegawai meskipun dia tidak selalu bertemu dengannya. Ketika si pemimpin tak hadir, pegawai tetap bekerja dengan semangat membara. Ia bekerja bukan karena terus-menerus ditelepon atasan. Ia tetap bekerja sangat keras walaupun atasannya sedang tidak di tempat.

Leadership is about influencing others. Pemimpin bekerja melalui orang lain lewat pengaruhnya. Dengan pengaruh itu orang lain bekerja sungguh-sungguh, walaupun ia tidak ada di situ.

“Karena itu saat memimpin, saya selalu berupaya memastikan the power of influence ini bekerja,” ujar Pak Zul. Dan bagi Pak Zul, ukuran sukses kepemimpinannya ditentukan oleh bekerja atau tidaknya the power of influence ini.

Leadership Means Motivating
Oleh sebab itu, tugas pemimpin tak lain adalah merancang sebuah sistem kepemimpinan yang mampu memotivasi karyawan. Saat karyawan termotivasi, maka mereka akan mempersembahkan kinerja terbaik walaupun si pemimpin tidak ada di sekitarnya.

Kalau seorang pemimpin tidak mampu memengaruhi dan memotivasi karyawannya, maka dia akan kelelahan karena harus terus-menerus berada di dekat mereka, mengawasi, dan memberi arahan. Apalagi saat karyawan yang harus kita pimpin sudah mencapai jumlah ribuan bahkan puluhan ribu, maka tidak mungkin kita mengawasi mereka satu-persatu selama 7 hari 24 jam.

Oleh karena itu, kemampuan memotivasi adalah bagian yang paling penting sekaligus paling sulit. Inilah kunci dari seni memimpin. Kalau seseorang masih belum sampai pada level memotivasi, maka dia masih sebatas seorang manajer yang hanya cakap dalam melakukan planning, organizing, dan controlling.

Kemampuan paling unik dari seorang pemimpin adalah memotivasi pegawai sehingga mereka berdaya (empowered) dan mandiri dalam menjalankan tugas dan misi organisasi tanpa bantuan si pemimpin. Ingat, indikator kesuksesan seorang pemimpin adalah jika orang-orang yang dipimpinnya berdaya dan mandiri. Kesuksesan paripurna seorang pemimpin adalah jika ia mampu menjadikan pegawai tak lagi tergantung kepadanya.

Ketika seorang pemimpin mampu menjalankan remote influence dengan baik maka proses kepemimpinannya akan sangat efektif karena ia bisa mengarahkan dan mengontrol anak buahnya walaupun ia tidak hadir. Pegawai akan tetap alert, karena merasa terus diawasi dan dikontrol untuk mencapai kinerja terbaik.

Ingat, seorang pemimpin bisa menghasilkan kinerja yang luar biasa berkat the power of influence yang ia kembangkan.

 

Sumber gambar: www.omniagroup.com

September 23, 2016   No Comments