E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Asian Games & Nation Branding: eBook

Asian Games 2018 adalah momentum eras untuk membangun Nation Branding Indonesia… Bagaimana strateginya? Berikut ini eBooknya, silahkan download di sini:

eBook: Asian Games 2018 & Nation Branding 

Screen Shot 2018-09-09 at 5.04.59 PM

September 9, 2018   No Comments

YOLO

Milenial adalah YOLO generation.

YOLO singkatan “You Only Live Once”: Manusia hanya hidup sekali, karena itu nikmatilah hidup saat ini juga. Terus, hidup yang besok-besok gimana? “Emang gua pikirin,” begitu jawab kaum milenial.

YOLO menjadi populer sejak istilah tersebut muncul dalam salah satu lagu milik rapper kondang Drake “The Motto” pada tahun 2011. Sejak itu hastag #YOLO menjadi trending topic dan menjadi bahasa gaul kaum muda milenial di seluruh dunia.

Dapatkan ebook: Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy

Istilah itu menjadi begitu “gue banget” bagi milenial, sehingga setiap kali mereka mem-posting foto-foto (saat naik gunung, liburan di pantai, berolahraga ekstrim, atau hura-hura bersama teman di kafe) di Instagram, mereka selalu menyematkan hastag #YOLO.

YOLO juga sering diasosiasikan dengan gaya hidup yang mewabah di kalangan kaum muda milenial Korea yang mementingkan momen kesenangan dan kepuasaan saat ini, tanpa peduli hari esok.

Kenapa milenial punya gaya hidup YOLO?

Karena pada dasarnya milenial adalah “generasi susah”. Masa kecil dan remaja mereka pekat diliputi krisis ekonomi, perang di mana-mana, terorisme dan merebaknya kasus SARA, pengangguran masal dan kesulitan hidup, dan ketidakpastian akibat disrupsi teknologi.

YOLO

Kita tahu milenial lahir di awal tahun 1980an. Saat mereka remaja krismon 1998 menghantam membuat orang tua mereka jatuh miskin. Kemudian diikuti pemboman WTC dan bom Bali yang memicu krisis politik berbasis SARA berkepanjangan di awal tahun 2000an. Lalu di susul krisis ekonomi dunia (subprime mortgage crisis) tahun 2008. Dan kini rupiah mulai menembus angka 15.000.

Karena hidup begitu tidak menentu dan masa depan penuh dengan ketidakpastian, maka tak heran jika mereka menjadi berorientasi saat ini (present-oriented atau NOW-oriented). Mereka semakin tak mau pusing memikirkan masa depan.

“Kalau tidak ada jaminan hidup ke depan menjadi lebih baik, maka akan lebih baik dipuas-puaskan hidup hari ini,” begitu argumentasi mereka. Mereka cenderung mengorbankan masa depan untuk mendapatkan kesenangan hari ini.

Itu sebabnya YOLO menjadi biang utama munculnya “leisure economy” dimana masyarakat makin banyak menghabiskan uangnya untuk berlibur, dine-out, main games, nonton konser, olahraga, hingga ber-selfie ria.

Apa akibatnya jika milenial memiliki YOLO lifestyle?

Yang paling jelas terlihat adalah, mereka lebih senang menghabiskan uangnya untuk kesenangan sesaat seperti hura-hura dan nongkrong di kafe, menjadi backpacker keliling dunia, atau nonton konser Ed Sheeran di Singapura; ketimbang menabung atau menyicil KPR.

Tren menunda menikah bisa juga ditelusur dari YOLO lifestyle di kalangan milenial. Ya, karena menikah bisa mereka artikan sebagai kerepotan mengurus anak, mengelola rumah tangga, membeli rumah, atau menyekolahkan anak. “Hidup cuma sekali, kenapa harus dibikin repot,” ujar mereka.

Dengan begitu dampaknya ke bisnis pun bisa ditengarai: bisnis leisure/experience seperti liburan atau kafe bakal boom; tapi sebaliknya bisnis seperti reksadana atau KPR bakal mengerut.

Di atas itu semua, milenial akan menjadi “instant generation” atau “Now generation”, generasi serba instan, serba sekarang, nggak peduli masa lampau dan masa depan.

Petuah Master Oogway kepada Po di film Kung Fu Panda (2008) ini barangkali menjadi begitu “gue banget” bagi kalangan muda milenial:

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.”
“That is why it is called the present.”

September 8, 2018   No Comments

Nation Branding: Agenda Bangsa setelah Asian Games Usai

Hari ini adalah penutupan Asian Games. Sebagai bangsa kita bangga karena telah sukses menyelenggarakan event akbar empat tahunan ini. Kita juga bungah karena prestasi atlet kita mencuat mengharumkan nama bangsa.

Tak hanya itu, Asian Games 2018 betul-betul menjadi pemersatu bangsa ketika kita sejenak melupakan perbedaan kubu politik, suku, agama, golongan, demi kemenangan dan kejayaan Indonesia tercinta.

Baca juga ebook 43 halaman dan donlot: Asian Games 2018 & Nation Branding

Namun, setelah menutup “pesta kemenangan” hari ini apakah kemudian semuanya berakhir begitu saja?

Tidak! Justru di sinilah pekerjaan besar harus dimulai. Asian Games haruslah kita jadikan momentum, bahkan batu loncatan, untuk membangun nation brand Indonesia.

Apa itu nation brand? Intinya adalah adalah citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara.

Citra dan reputasi negara ini bisa dilihat dari enam kualitas yaitu: Export (citra produk nasional yang kompetitif), Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment (ketertarikan investor untuk menanam modal), Culture (kekayaan budaya), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Singkatnya, nation branding bertujuan untuk menarik TTI (trader, tourist, investor) dengan menciptakan citra dan reputasi di enam kualitas di atas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak nation brand Indonesia setelah Asian Games berakhir?

Super Junior di Asian Games 2018

#1. Kampanye Nation Branding
Dalam waktu yang tidak lama setelah Asian Games berakhir, Indonesia harus meluncurkan kampanye nation brand sebagai upaya me-leverage kesuksesan dalam mendapatkan eksposur global yang luar biasa.

INASGOC mengonfirmasi bahwa ada sekitar 11 ribu media lokal maupun global meliput Asian Games 2018. Ini merupakan eksposur luar biasa yang hanya bisa kita perolah melalui event akbar (sport mega-event) seperti Asian Games, Olimpiade, atau Piala Dunia. Momentum inilah yang harus kita perpanjang dengan meluncurkan kampanye nation branding untuk menarik TTI datang ke Tanah Air.

Kita harus banyak belajar dari negara tetangga Australia. Australia me-leverage habis-habisan posisinya sebagai tuan rumah Olimpiade Sidney tahun 2000. Event akbar ini kemudian diikuti dengan berbagai kampanye nation branding: “Life a Different Light” (2004-2006); lanjut “A Uniquely Australian Invitation” (2006-2008); kemudian “Come Walkabout” (2008-2009); dan terakhir “There’s Nothing Like Australia” (2010-sekarang).

#2. Diplomasi Global
Afrika Selatan memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Cina memanfaatkan Olimpiade Beijing 2008 untuk menunjukkan bahwa dengan laju pembangunannya yang supercepat, Cina bakal menyalip Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melalui Asian Games Indonesia juga bisa memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan populasi terbesar keempat, Indonesia juga sedang bertransformasi menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

#3. Visi Olahraga 2032
Dengan bekal kesuksesan menyelenggarakan Asian Games Indonesia harus berani think big dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Olimpiade 2020 bakal diadakan di Tokyo, 2024 di Paris, dan 2028 di Los Angeles. Untuk Olimpiade 2032, kini sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk bidding yaitu Jerman, Australia, dan India. IOC bakal menetapkan pemenangnya pada tahun 2025, jadi masih ada waktu tujuh tahun untuk berbenah diri.

Perlu diingat sejak tahun 2000an, negara-negara maju baru BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah sport mega-event seperti Olimpiade dan Piala Dunia sebagai bentuk diplomasi global untuk mengangkat nation brand mereka masuk dalam “club of elite” negara-negara maju.

Kalau betul Indonesia bisa mewujudkan visi ini, maka nation brand Indonesia akan naik kelas sejajar dengan negara-negara maju dunia. Karena perlu diingat, negara yang mampu menyelenggarakan event-event olahraga besar tersebut hanyalah negara-negara maju.

 

Sumber foto: Okezone.com

Artikel ini dimuat di Jawa Pos edisi Senin, 3 September 2018, hal. 1.

 

September 3, 2018   No Comments

Sukses Asian Games & Visi 2032

Sejak tahun 2000-an muncul sebuah tren baru dimana negara-negara BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah event olahraga besar (sport mega-event) seperti Olimpiade atau Piala Dunia.

Baca juga ebook 43 halaman: “Asian Games 2018 & Nation Branding”

Bukan kebetulan, karena negara-negara tersebut ingin dipersepsi negara lain sebagai negara maju baru (newly-industrialized countries). Mereka ingin dilihat masuk dalam “club of elites” sejajar dengan negara-negara maju di Eropa dan Amerika.

Asian Games 2018

“Brand Africa Dilemma”
Afrika Selatan misalnya, memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Melalui event ini Afrika ingin keluar dari apa yang disebut “Brand Africa Dilemma” yaitu lepas dari citra negara-negara Afrika pada umumnya yang identik dengan kemiskinan, kelaparan, dan wabah penyakit.

Melalui Piala Dunia 2010 Afrika Selatan melakukan nation brand repositioning sebagai negara termaju di Afrika yang menjadi surga bagi tourist, trader, dan investor.

BRIC & Sport Mega-Event

Super Power Baru
Begitu juga, Cina memanfaatkan Olimpiade 2008 di Beijing untuk membentuk pandangan dari masyarakat global sebagai “Cina Baru” dengan keajaiban ekonomi dan kemampuan penguasaan teknologinya. Kejayaan Cina ini tergambar pada Beijing National Stadium (“Bird’s Nest Stadium”) yang berbentuk menyerupai sarang burung.

Upaya ini dilakukan dalam satu paket karena dalam waktu hampir bersamaan Cina menjadi tuan rumah dua event besar yang lain yaitu Shanghai World Expo 2010 dan Asian Games Guangzhou 2010.

Melalui Olimpiade dan Asian Games Cina ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia sedang bertransformasi menjadi kekuatan baru ekonomi dunia menandingi Amerika Serikat. The new super power.

Diplomasi Global
Inilah yang disebut diplomasi global melalui olahraga. Alih-alih memperlihatkan kekuatan militer (jumlah kapal, tank, pesawat tempur, atau hulu ledak nuklir), dominasi ekonomi, atau penguasaan teknologi, mereka menggunakan event olahraga untuk menunjukkan keperkasaan. Mereka melakukan diplomasi global bukan dengan “hard power” tapi dengan “soft power”.

By-design mereka melakukan diplomasi global untuk mendongkrak nation brand. Ada sebuah alur pikir runut dan strategis yang mengaitkan posisi sebagai tuan rumah event olahraga akbar dengan transformasi ekonomi-politik bangsa.

Pertanyaannya, apakah Indonesia juga melakukan diplomasi yang sama saat menjadi tuan rumah Asian Games kali ini?

Inilah yang belum terlihat. Kita menjadi tuan rumah Asian Games mengalir begitu saja, belum ada sebuah strategi dan visi yang menjangkau jauh ke depan. We lack of vision.

Tapi itu tak perlu disesali. Sukses menyelenggarakan Asian Games dengan opening ceremony yang spektakuler saja sudah luar biasa. Namun memang itu saja tidak cukup.

Vision 2032
Kesuksesan membesut Asian Games 2018 adalah modal tak ternilai bagi pembentukan nation brand Indonesia. Modal inilah yang harus di-leverage ke horizon yang lebih jauh ke depan.

Bangsa ini harus berani berfikir mega dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Dan seperti negara-negara BRICS di atas, kita harus menjadikan momentum tuan rumah Olimpiade 2032 untuk membawa Indonesia bertransformasi ekonomi-politik menjadi negara maju baru. Bangsa besar adalah bangsa yang berani bermimpi besar.

Visi ini bukanlah hal yang mengada-ada. Sudah banyak lembaga kajian global yang menempatkan Indonesia sebagai “the big five” ekonomi terbesar di dunia di tahun 2030-an.

Ingat, event olahraga akbar seperti Olimpiade dan Asian Games bukanlah sekedar event olahraga. Ia adalah juga pemercepat pembangunan infrastruktur, momentum memperbaiki citra/reputasi negara; menarik TTI; pemersatu bangsa; juga alat transformasi bangsa.

Karena itu, kita harus menempatkan tuan rumah Olimpiade 2032 sebagai katalis untuk melakukan dua hal: Pertama, ke dalam melakukan transformasi ekonomi-politik untuk naik kelas menjadi negara maju baru. Kedua, ke luar, membangun citra, reputasi, dan nation brand yang disegani di kancah dunia.

September 1, 2018   No Comments

Mem-branding Indonesia lewat Asian Games

Asian Games adalah kesempatan setengah abad sekali untuk membangun nation brand Indonesia.

Ingat, globalisasi memaksa setiap negara untuk bersaing memperebutkan trader, tourist, dan investor (TTI) dari seluruh belahan dunia. Akibatnya, kini negara sudah disikapi sebagai sebuah brand yang harus dibangun value dan competitiveness-nya. Negara harus di-branding.

Anyway, apa itu nation branding? Gampangnya, apapun yang dilakukan sebuah negara untuk mendongkrak identitas, citra, dan reputasinya.

Tujuannya, kalau menurut Simon Anholt “bapak nation branding” ada enam elemen: Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Export (produk nasional yanghebat di pasar global), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment & Immigration (ketertarikan investor dan talents untuk datang), Culture & Heritage (kekayaan budaya yang adi luhung), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Mascot Asian Games 2018

Lalu apa saja strategi yang bisa kita lakukan untuk mem-branding Indonesia dengan memanfaatkan Asian Games? Berikut lima di antaranya:

#1. Managing Massive Media Exposure
INASCOC sudah mengonfirmasi bahwa Asian Games 2018 diliput oleh sekitar 11 ribu media lokal maupun global. Tak heran jika selama dua minggu penyelenggaraannya Indonesia menjadi sorotan masyarakat dunia.

Berita sedap maupun tak sedap mengenai Indonesia akan ter-blow up ke seluruh dunia yang ujung-ujungnya membentuk citra Indonesia di mata dunia.

Ingat, yang ter-blow up itu tak hanya berita-berita mengenai beragam pertandingan yang digelar, tapi juga berita apapun yang sedang terjadi di tanah air.

Alhamdulillah, hingga hari ini penyelenggaraan Asian Games berjalan lancar, apalagi gelaran opening ceremony yang begitu memukau.

Namun di sela-sela itu, berita-berita tak sedap juga muncul menjadi santapan media global seperti: penanganan Kali Item, pengamanan Asian Games yang berlebihan, gempa Lombok, hingga yang terakhir penetapan tersangka Mensos karena kasus korupsi.

Agar citra kita baik, selama dua minggu ini kita harus menjaga agar berita-berita yang keluar bisa membangun citra positif bagi Indonesia.

#2. Bring Indonesia Culture to the World
Opening ceremony minggu lalu sungguh memukau tak hanya bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi juga seluruh warga dunia. Media-media ternama dunia seperti diorkestrasi memuji gelaran tersebut sebagai yang terbaik sepanjang sejarah Asian Games.

Tak hanya itu, opening ceremony tersebut mampu membawa kebinekaan budaya Indonesia ke panggung dunia. Di situ dipergelarkan 19 tarian dari Sabang sampai Merauke mulai dari Ratoh Jaroe Aceh yang kolosal, Lenong Betawi, Jaipongan, hingga tari Yospan Papua.

Identitas Indonesia begitu kental terwakili oleh kekayaan budaya Nusantara tersebut.

#3. Global Diplomacy through Sport Event
Afrika Selatan adalah contoh negara yang begitu smart memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini menjadi kekuatan ekonomi baru dunia sekaligus memosisikan diri sebagai sebagai negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Afrika Selatan juga menggunakan momentum tuan rumah Piala Dunia untuk menghapus bersih citra buruk Afrika Selatan sebagai negara yang melegalkan praktek apartheid.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Apakah Indonesia juga bisa melakukannya? Kenapa tidak. Indonesia adalah negara maju baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia. Indonesia juga sedang berkerja keras menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Ambisi dan visi ini harus kita tunjukkan ke dunia salah satunya melalui event akbar seperti Asian Games.

#3. Cobranding: Indonesia + Asian Games
Indonesia adalah brand. Asian Games juga brand. Ketika keduanya bersatu, maka terbentuklah cobranding collaboration. Asian Games memanfaatkan brand Indonesia; sebaliknya Indonesia memanfaatkan brand Asian Games.

Ambil contoh kasus Cina saat gelaran Olimpiade 2008. Cina habis-habisan memanfaatkan dan mendompleng brand Olimpiade untuk mendongkrak citra dan reputasi Cina yang ekonominya sedang bergerak cepat menyamai Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

Lalu, bagaimana dengan di Asian Games 2018 kali ini?

Terus terang, awalnya saya menduga Indonesia lah yang bakal mendompleng kehebatan brand Asian Games. Namun melihat opening ceremony yang memukau, saya jadi berubah pikiran: justru Asian Games yang mendompleng kehebatan brand Indonesia.

Namun secara umum saya kira sinergi antar dua brand ini berlangsung secara komplementer. Namanya sinergi, 1 +1 bukannya 2, tapi 3 atau bahkan 5.

#5. Post Event: Nation Branding Campaign
Jangan sampai momentum Asian Games ini menguap begitu saja, saat eventnya berakhir. Kita harus terus me-leverage dengan cara terus mengampanyekan nation brand dengan kegiatan-kegitan lanjutannya (post-event campaign).

Dalam hal ini kita harus mencontoh Australia. Setelah sukses menyelenggarakan Olimpiade 2000 di Sidney, Australia tak tinggal diam. Ia memfollow-up dengan melakukan kampanye pariwisata besar-besaran lewat peluncuran branding baru “Brand Australia: Life in a Different Light” pada tahun 2004.

Australia memanfaatkan momentum Olimpiade Sidney untuk melakukan repositioning dengan membentuk citra baru sebagai destinasi wisata bergengsi di dunia.

Seperti halnya Australia, kita harus melakukan post event campaign di bidang trading, tourism, dan investment (TTI) agar momentum Asian Games menguap begitu saja. Apalagi bulan November nanti kita masih punya event yang tak kalah bergengsinya, World Bank-IMF Annual Meeting.

August 25, 2018   No Comments

Asian Games dan Nation Branding

Dua hari menjelang pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta koran paling bergengsi di dunia The New York Times membuat tulisan dengan judul nyinyir: “How to Spruce Up for Asian Games? Cover a Polluted River”. Bagaimana ‘mempercantik’ Asian Games? Menutupi Kali Item. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya.

The New York Times tak sendirian, The Guardian, Washington Post, hingga CNN melakukan hal yang sama.

Terakhir sekitar 20 jam sebelum opening ceremony BBC News membuat judul tulisan yang tak kalah sangar: “Asian Games: Indonesia Police Kill Dozens in Criminal Crackdown.

Dengan mengutip temuan Amnesty International, BBC menulis, polisi Indonesia menembak mati puluhan kriminal dalam beberapa bulan terakhir untuk mengamankan Asian Games.

Asian Games opening ceremony

Tulisan-tulisan miring media berpengaruh dunia itu tentu bukannya tanpa risiko. Tulisan tersebut tentu berpotensi membentuk citra buruk tak hanya bagi penyelenggaraan Asian Games tapi juga bagi nation brand Indonesia, sekarang dan beberapa tahun ke depan.

Dalam dua minggu ke depan Indonesia bakal menjadi sorotan seluruh dunia karena menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Karena menjadi sorotan dunia, maka bagi Indonesia menjadi host Asian Games layaknya pedang bermata dua.

Di satu sisi merupakan opportunity karena bisa mendongkrak nation brand Indonesia. Tapi di sisi lain, seperti tercermin dari pemberitaan media berpengaruh di atas, bisa justru backfired menjadikan citra Indonesia jatuh ketika kita belepotan menggelar event akbar ini.

Karena itu kendala apapun yang kita hadapi hingga menjelang penyelenggaraan saat ini (LRT Kelapa Gading-Rawamangun yang tidak jadi dioperasikan, kasus Kali Item, kemacetan Jakarta, hingga Jakarta yang masih terbengkelai karena banyaknya pembangunan infrastruktur) kita harus “total football” menyukseskannya.

Tak ada kata tidak, Asian Games Jakarta-Palembang harus sukses. Persis seperti kata Elvis Presley “now or never”: Sukses menjalankan Asian Games atau kita kehilangan momen tak bernilai ini dan menyesal seumur hidup.

Asian Games merupakan momentum luar biasa untuk pembentukan nation branding Indonesia karena tiga alasan.

Global Visibility
Dalam dua minggu ke depan Indonesia akan disorot oleh seluruh warga dunia, tak hanya dari sisi kemampuan menyelenggarakan Asian Games, tapi juga masyarakatnya, kebudayaannya, keberagamannya, keindahan alamnya, kekayaan kulinernya, ekonominya, infrastrukturnya, apapun.

Perlu diingat bahwa branding value terbesar dari penyelenggaraan event akbar (mega sport event) seperti Asian Games terletak pada media exposure yang amat luas.

Ambil contoh Rusia yang baru saja sukses menggelar Piala Dunia bulan lalu menuai global media exposure yang luar biasa karena ditonton oleh sekitar 3,4 miliar atau hampir separo penduduk dunia.

Nation Brand Identity
Asian Games juga bisa menjadi alat untuk membentuk identitas bangsa (nation brand identity) di mata warga dunia. Asian Games bisa menjadi medium untuk memperkenalkan karakter bangsa: sejarahnya, nasionalisme, keberagaman budayaannya, keramahtamahannya, keindahan alamnya, atau kemajuan pembangunannya.

Opening ceremony yang spektakuler tadi malam misalnya, bisa menjadi jendela untuk menunjukkan “brand story of the nation” ke audiens global.

Namun sebaliknya, jika selama Asian Games berlangsung pemberitaaan media dipenuhi hal-hal miring seperti di atas, maka bukan brand identity kuat yang kita dapat, tapi justru sebaliknya, citra buruk yang merugikan.

Rebranding & Repositioning
Asian Games juga bisa menjadi momentum untuk melakukan rebranding dan mengubah positioning bangsa ke arah yang lebih baik.

Afrika Selatan adalah kasus negara yang dengan cerdas memanfaatkan mega event olahraga untuk melakukan rebranding/repositioning saat ia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010.

Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia secara ekonomi Afrika Selatan mengokohkan posisinya sebagai negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy). Sementara secara politik event tersebut mampu menghapus tuntas citra buruk Afrika Selatan sebagai negara yang melegalkan praktek apartheid.

Seperti Afrika Selatan Indonesia bisa memanfaatkan Asian Games untuk membentuk citra baru negara: secara sosial-politik sebagai negara yang tetap teduh di tengah kebinekaan; secara ekonomi sebagai emerging country yang akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia; dan terakhir negara eksotis dengan kekayaan budaya dan keindahan alamnya yang luar biasa.

Sumber foto: Republika.co.id

 

August 18, 2018   No Comments

Ketidaktahuan

Survive dari disrupsi itu bukanlah semata masalah teknologi digital atau inovasi model bisnis. Yang terpenting justru adalah masalah mindset. Yaitu mindset yang menganggap bahwa kita telah “tahu semuanya”.

Dan celakanya, ketika kita sudah merasa tahu semuanya maka semakin sulit pula kita menanggalkannya. Bahkan ketka kita paham bahwa apa yang kita tahu itu telah obsolet dan tak relevan lagi. Di situlah bencana berawal.

Itu sebabnya disrupsi di industri otomotif bukan dilakukan oleh Ford atau Toyota yang “tahu semuanya” mengenai dunia otomotif, tapi oleh Tesla dan Google. Itu sebabnya disrupsi di dunia perhotelan bukan dilakukan Hilton atau Aston tapi oleh Airbnb. Itu sebabnya disrupsi di layanan taksi bukan dilakukan oleh Blue Bird tapi oleh Uber.

Unlearn

“Tahu semuanya” tentu saja merupakan berkah tak terhingga. Namun, ketika semua yang kita tahu itu sudah tak relevan lagi, sudah obsolet, sudah menjadi barang usang, maka ia justru menjadi racun mematikan.

Ya, karena mindset “tahu semuanya” telah membutakan mata, hati, dan pikiran kita mengenai hal baru yang tidak kita ketahui.

Di dunia yang sarat disrupsi, mindset yang kini diperlukan bukanlah “tahu semuanya”, tapi justru sebaliknya “tak tahu semuanya”.

Karena itu saya berani mengatakan, di era disrupsi saat ini “unlearning” itu menjadi sangat penting. Untuk adaptif dan cepat merespons datangnya disrupsi, mengosongkan hal-hal usang yang selama berpuluh tahun kita ketahui dan kita yakini kebenarannya menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Apa konsekuensinya jika kita merasa tak tahu semua? Dengan menganggap diri kita tak tahu apa-apa mengenai paradigma, formula, dan resep sukses baru akibat datangnya disrupsi maka rasa keingintahuan kita akan begitu menyala-nyala.

Keingintahuan yang membara ini mendorong kita untuk terus-menerus mengeksplorasi, bereksperimen, dan akhirnya menemukan formula untuk sukses melewati disrupsi.

So, ketidaktahuan saja tidak cukup, kita juga perlu keingintahuan.

Karena itu saya berani mengatakan, untuk sukses melewati disrupsi kita harus memiliki dua mindset sekaligus: ketidaktahuan dan keingintahuan.

Ketidaktahuan memungkinkan kita menjadi agile learner. Sementara keingintahuan memungkinkan kita menjadi fast learner.

Agile learner menjadikan kita begitu lincah melahap berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk sukses melewati disrupsi. Sementara fast learner memungkinkan kita super cepat menemukan formula sukses melewati disrupsi.

July 29, 2018   No Comments

Artis Nyaleg

Musim Pemilu seperti sekarang ini banyak artis yang pindah profesi menjadi politisi. Bukan kebetulan kalau kebanyakan artis ini adalah mereka yang sudah surut popularitasnya. Daripada nggak kepakai lagi di dunia keartisan, lebih baik pindah ke Parpol yang lagi hot-hot nya saat ini dan menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Aksi kutu loncat para artis ini ditangkap dengan sangat taktis oleh Parpol. Ya, karena dengan posisinya sebagai selebritas dan public figure, mereka menjadi mesin pengais suara yang sangat powerful. Inilah cara instan Parpol meraup kursi sebanyak mungkin di DPR.

Artis Nyaleg 2

Minggu lalu beberapa media mengabarkan, kini Parpol begitu agresif menggaet artis untuk menjadi mesin pemenangan kursi DPR.

Nasdem misalnya ditengarai yang paling agresif dengan menggaet 26 artis mulai dari Olla Ramlan, Kristina, Conny Dio, Lucky Hakim, hingga Nafa Urbach. Sementara itu PDIP menggaet 13 artis top mulai dari Rieke Diah Pitaloka, Nico Siahaan, Krisdayanti, Ian Kasela, Angel Karamoy, hingga Tina Toon.

Pertanyaannya, efektifkah artis menjadi “celebrity endorser” bagi Parpol untuk memengaruhi massa pemilih?

Yes!
Kehadiran artis di dalam sebuah Parpol menghasilkan berbagai dampak positif bagi brand equity Parpol yang bersangkutan, baik di level awareness (dikenal), credibility (menciptakan kredibilitas) maupun loyalty/advocacy (membangun loyalitas dan koneksi emosional) dengan para pemilih.

Pertama artis bisa menciptakan perhatian (create attention) dan memiliki daya tarik tersendiri bagi massa pemilih. Parpol yang biasa-biasa saja dan tak punya banyak capaian berarti misalnya, menjadi dikenal masyarakat ketika di dalamnya ada artis yang tersohor. Kehadiran artis menjadikan Parpol gampang dikenal dan diingat oleh massa pemilih.

Baca juga: “Caleg Artis dan Branding Partai”

Ketika si artis memiliki citra positif di mata masyarakat, misalnya memiliki kemampuan di bidangnya yang unggul, maka kehadiran artis di Parpol akan meningkatkan kredibilitas dan kualitas dari Parpol yang di-endorse.

Dan jangan lupa, jika si artis memiliki “emotional connection” dan digandrungi oleh jutaan penggemar (followers), dan penggemar tersebut merupakan pemilih, maka besar kemungkinan pilihan mereka saat pemilu akan jatuh kepada Parpol tempat si artis bernaung. Emotional connection ini menciptakan loyalitas dan intensi untuk membela (advocacy)

No!
Namun jangan salah, kehadiran seorang artis di dalam Parpol juga bisa berdampak buruk ke Parpol tempat ia bernaung. Ketika si artis tidak memiliki cukup diferensiasi (kompetensi atau talenta unggul) dan citra artis tersebut kurang begitu bagus maka ia bukannya menambah kredibilitas tapi justru memperburuknya. Artinya si artis bukanlah menjadi asset, tapi liability bagi Parpol.

Ketika seorang artis yang dikenal suka bikin sensasi dan gosip masuk Parpol, maka identitas dan reputasi Parpol tersebut akan diidentikan dengan identitas dan reputasi si artis yang kurang sedap.

Ketika seorang artis yang selalu bermasalah (misalnya hobi kawin-cerai) memiliki dan reputasi buruk di mata masyarakat, maka citra buruk itu akan berimbas ke citra Parpol.

Kondisinya akan menjadi runyam ketika karena suatu peristiwa tertentu reputasi si artis jatuh. Misalnya ketika si artis terkena kasus narkoba atau kriminal, maka reputasi yang hancur itu akan direlasikan ke Parpol yang ia masuki.

Karena itu memasukan artis ke dalam eksponen Parpol adalah sebuah pilihan yang berisiko (risky) dan rapuh (fragile) karena begitu si artis terkena skandal yang menghancurkan reputasinya, maka serta-merta reputasi Parpol juga akan berada di ujung tanduk.

Tips!
So, bagaimana sebaiknya Parpol menggaet artis agar betul-betul efektif menjadi mesin penggaet suara (jangka pendek) sekaligus juga mendongkrak reputasi Parpol (jangka panjang) secara sustainable. Saya punya tiga tips.

Pertama, Parpol harus secara cermat menyelaraskan positioning dan identitas merek (brand identity) Parpol dengan positioning dan identitas merek si artis. Jadi tidak ngasal si artis populer dan memiliki followers jutaan, tapi Parpol juga harus mempertimbangan apakah positioning dan identitas sesuai dengan Parpol atau tidak.

Ketika Parpol mengidentikan diri sebagai Parpol yang peduli kepada rakyat kecil misalnya, maka artis yang digaet haruslah artis yang identik dengan rakyat kecil dan memiliki kepedulian pada rakyat kecil. Ketika Parpol menarget anak muda milenial, maka pilihan artis yang diambil adalah mereka yang identik dengan kaum milenial.

Kedua, sebelum memutuskan merekrut seorang artis untuk nyaleg, Parpol harus melakukan penelitian secara mendalam mengenai reputasi masa lalu dan track record sang artis. Tak hanya masa lalu, Parpol juga harus melakukan “forecasting” mengenai prospek reputasinya di masa depan.

Ingat, track record masa lalu yang cemerlang tidak menjamin reputasi si artis di masa depan. Untuk melakukannya, kajian mendalam terhadap karakter dan kompetensi si artis menjadi sangat menentukan.

Kajian ini sangat krusial, karena seperti saya katakan di depan memasukan artis ke dalam Parpol sangat berisiko dan rapuh karena setiap polah tingkah negatif artis akan disorot masyarakat dan bisa menimbulkan dampak disruptif ke Parpol.

Ketiga, dari pengalaman saya, kemampuan memengaruhi (influncing power) para artis ke para penggemar/followers yang siknifikan bukanlah dari sisi rasional, tapi sisi emosional. Jadi emotional connection itu lebih powerful dibanding rational arguments.

So, sentuhlah massa pemilih dengan cerita-cerita (brand story) sang artis yang menyentuh dan menimbulkan simpati yang mendalam.

 

Sumber foto: tribunnews.com

 

July 28, 2018   No Comments

Caleg Artis dan Branding Parpol

Pemilu 2019 kebanjiran artis. Lebih dari 70 artis sudah mendaftar menjadi caleg. Walaupun sudah terbukti artis bukanlah kendaraan yang ampuh untuk mendulang suara di Pemilu 2014, namun parpol masih nggak kapok menggunakannya untuk mengais suara pemilih.

Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis hitung-hitungan politik dari kehadiran artis di dalam sebuah parpol karena memang saya bukanlah pakar politik. Namun saya mencoba melihat fenomena artis nyaleg ini dari sudut pandang brand.

Ya, karena parpol itu brand. Sebuah parpol dipilih oleh voters karena brand-nya. Kira-kira sama seperti seorang konsumen menetapkan pilihannya kepada sebuah produk; kira-kira sama seperti konsumen yang lebih memilih Starbucks, ketimbang warung kopi murahan di ujung gang.

Voters menjatuhkan pilihannya kepada parpol tertentu di kotak suara karena ia memiliki brand value yang “nancep” di hati si voters.

Artis Nyaleg

Apa brand value dari sebuah parpol? Sama seperti produk, ada dua: functional dan emotional value. Contoh functional value dari parpol adalah program-program yang ditawarkan, kapabilitas dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, atau kemampuan parpol dalam mewujudkan apa-apa yang ia janjikan saat pemilu.

Sementara contoh emotional value adalah adanya emotional connection antara voters dengan parpol. Emotional connection ini bisa terbentuk karena alasan historis, ideologis, latar belakang sosial, atau bisa juga ketokohan para pemimpin yang ada di partai.

Massa pemilih PDIP misalnya, tak bisa dilepaskan dengan emotional connection dan ketokohan sosok Soekarno dan Megawati. Begitu juga Partai Demokrat tak lepas dari ketokohan SBY.

Baca juga: “Artis Nyaleg”

Secara umum, voters mengkaji functional value secara rasional (kognitif), sementara emotional value mereka timbang-timbang dengan menggunakan hati, perasaan, (feeling), dan emosi.

Pertanyaannya, bagaimana fenomena caleg artis ini ditempatkan dalam konteks branding dan brand value ini?

Kalau kita sudah memahami konsep dasarnya seperti itu, maka kini menjadi mudah kita menganalisis dan mengetahui apakah artis nyaleg itu bagus atau sebaliknya bagi parpol.

Logikanya sederhana, yaitu apakah apakah artis yang masuk parpol itu menambah brand value parpol, atau sebaliknya justru menguranginya, atau bahkan merusaknya.

Coba kita sisir satu-persatu. Bagaimana artis bisa mendongkrak functional brand value dari sebuah parpol. Tentu bisa. Ambil contoh Rieke Dyah Pitaloka.

Rieke menaikkan brand value PDIP melalui berbagai aktivitasnya di partai dalam memperjuangkan nasib kaum buruh. Kontribusinya dalam ikut melahirkan UU BPJS dan SJSN selama bergabung di Komisi IX juga tak bisa dibilang kecil.

Lalu apakah seorang artis bisa menaikkan emotional brand value? Bisa juga. Contohnya Rieke di atas. Ketika ia dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan kaum buruh, maka dengan sendirinya voters dari kalangan kaum buruh akan memiliki emotional connection tak hanya dengan Rieke, tapi juga parpol tempatnya bernaung, yaitu PDIP.

Sebaliknya, apakah seorang artis bisa mengurangi atau bahkan merusak brand value dari sebuah parpol? Sangat bisa.

Ketika seorang artis yang sudah masuk partai bertubi-tubi terundung beragam masalah (mulai dari kawin-cerai, terkena kasus narkoba, hingga tertangkap OTT KPK) maka bisa jadi hal tersebut berdampak mengurangi atau merusak brand value parpol.

Pertanyaannya, ngomongin kemampuan artis mendongkrak brand value parpol, bagaimana prospek 70-an lebih artis yang memutuskan nyaleg minggu lalu? Apakah mereka bisa mendongkrak brand value parpol?

Terus terang dengan sedih saya katakan prospeknya gloomy dan meresahkan. Kenapa? Karena sebagian besar yang nyaleg tersebut adalah artis yang sudah mulai tidak eksis di dunia keartisan dan mulai surut popularitas dan brand-nya.

Saya menduga mereka berpindah profesi menjadi politisi bukan karena alasan yang substansial, tapi karena alasan instan ingin mengadu nasib dan keberuntungan di lahan yang baru.

Namun saya tak mau suudzon. Who knows… saya tetap berharap makin banyak artis tanah air yang menjadi politisi handal seperti Ronald Reagan atau Arnold Schwarzenegger.

 

Sumber foto: variety.com

July 28, 2018   1 Comment

Ambush Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 di Rusia tak hanya menjadi peluang luar biasa bagi para official sponsors yang telah mengeluarkan bujet miliaran bahkan triliunan rupiah untuk membangun brand dan meraup omset, tapi juga dimanfaatkan dengan cerdas oleh brand-brand yang bukan sponsor resmi.

Caranya gimana? Caranya dengan ambush marketing, yaitu melakukan kampanye pemasaran yang memanfaatkan asosiasi dan impresi yang terkait dengan event Piala Dunia. Tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan-ketentuan hukum FIFA yang menjadi “pemilik” event empat tahun sekali itu.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

European Sponsorship Association (ESA) mendefinisikan ambush marketing sebagai berikut:

A strategy where brands have developed and run creative marketing campaigns using the opportunity to push the boundaries and sometimes give the impression that they are an event sponsor, when they are not.”

Kata kunci dari definisi tersebut adalah “creative marketing campaign”, artinya strategi ambush marketing mengandalkan kreativitas dari marketer dalam “menunggangi” event Piala Dunia walaupun mereka bukanlah sponsor resmi.

Download the ebook: bit.ly/brandingworldcup2018

Powerful-nya ambush marketing tercermin dari hasil survei yang dilakukan terhadap Piala Dunia 2014 lalu di Brasil. Enam dari duabelas brand yang memuncaki volume “buzzing” di media sosial ternyata bukanlah brand yang menjadi sponsor resmi.

Brand tersebut termasuk Nike yang mampu menghasilkan 232.000 social mentions, dibandingkan Adidas (yang merupakan sponsor resmi) yang hanya mampu menghasilkan 129.000.

Do & Don’t
Pertanyaannya, bagaimana agar ambush marketing yang dilakukan marketers tidak melanggar ketentuan-ketentuan sponsorship FIFA? Berikut ini adalah apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menjalankan ambush marketing.

Perlu diingat, kalau sebuah brand bukan sponsor resmi, maka ia tidak boleh menggunakan logo, trademark, dan kata-kata “Piala Dunia”, “Piala Dunia 2018”, “Piala Dunia Rusia 2018” dan berbagai kombinasinya.

Tapi tentu saja boleh dong kalau marketers menggunakan kata “sepakbola” atau “Rusia” di dalam kampanye iklannya. Jadi untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia selama sebulan ini, marketers bisa membuat iklan versi sepakbola tanpa sedikitpun menggunakan logo, trademark, atau kombinasi kata “Piala Dunia Rusia 2018”.

Baca juga: Piala Dunia Zaman Now

Menurut ketentuan FIFA, memang brand tidak boleh melakukan sales promotion dengan hadiah memberikan tiket kepada konsumen untuk menonton Piala Dunia di Rusia. Tapi tentu boleh dong melakukan sales promotion dengan memberikan hadiah berlibur selama seminggu ke kota Moscow atau St. Petersburg selama penyelenggaraan Piala Dunia.

Itulah “guerrilla strategies” yang bisa dilakukan tanpa sedikitpun melanggar ketentuan FIFA. Kuncinya adalah menciptakan asosiasi atau impresi yang nge-link dengan event Piala Dunia.

Contoh-contoh berikut memberikan gambaran bagaimana ambush marketing dijalankan.

The Winner
Ambush marketing dijalankan dengan sangat kreatif di ajang Piala Dunia 2014 Brasil oleh Beats by Dre. Produsen headphone anak perusahaan Apple ini mencuri momen Piala Dunia 2014 dengan mengunggah video 5 menit di YouTube yang menampilkan Neymar dan Suarez tanpa sedikitpun menggunakan atribut dan trademark Piala Dunia. (lihat videonya di sini: “The Game before the Game”)

Video human interest yang menampilkan Neymar sedang menelpon interlokal ayahnya di kampung tersebut menciptakan engagement yang luar biasa dari para pecinta bola sejagad. Iklan ini menghasilkan 26 juta views di YouTube, peningkatan penjualan online 130% dan PR value sekitar US$ 50 juta.

The Loser
Kalau Beats menuai sukses, maka sebaliknya Paddy Power, perusahaan taruhan asal Irlandia justru melakukan blunder. Di gelaran Piala Eropa 2012, Paddy Power mengontrak Nicklas Bendtner pemain Denmark, untuk memperlihatkan logo Paddy Power di celana dalamnya saat melakukan selebrasi selepas mencetak gol. (lihat videonya di sini: “Paddy Power Lucky Pants”)

Tentu saja ambush marketing ini melanggar ketentuan FIFA dan karena itu Bendtner dan Paddy Power akhirnya terkena denda 80 ribu poundsterling oleh UEFA. Namun berkahnya, kejadian ini memicu kontroversi yang meroketkan brand awareness Paddy Power.

The Smart
UberEats dan McDelivery menyentil kegagalan Italia masuk di laga Piala Dunia 2018 dengan meluncurkan iklan yang menampilkan legenda Italia Andrea Pirlo. Ini adalah iklan ambush yang sangat cerdas.

Dalam iklan bertema #TeamForPirlo itu Pirlo membutuhkan bantuan dari bintang-bintang lain seperti Cafu dan Luiz Hernandes untuk menentukan tim mana yang layak menjadi juara, ketika Italia tak ikut berlaga. (lihat videonya di sini: #teamforpirlo).

Bagi para suporter Italia tentu saja iklan ini merupakan sentilan menyakitkan sekaligus menggelitik. Dengan gaya iklan yang kocak, UberEats mampu “menunggangi” momen Piala Dunia tanpa sedikitpun menggunakan atribut Piala Dunia.

The Coolest
Yang paling cool adalah ambush marketing yang tanpa sengaja “dilakukan” oleh AirPod milik Apple. Saat gelaran Piala Dunia Rusia kali ini secara kebetulan banyak pemain top dunia seperti Neymar dan Jesse Lingard, yang tertangkap kamera media sedang mengenakan AirPod untuk mendengarkan musik saat mereka mendarat di bandara Moscow dan saat mereka pulang karena timnya kalah. Padahal sepeser pun mereka tidak dibayar Apple.

Barangkali inilah ambush marketing paling natural dan paling otentik di sepanjang gelaran Piala Dunia 2018. Semua serba kebetulan, tidak dirancang, dan tidak direkayasa (lihat artikel lengkapnya di sini: “AirPod is the Real Winner of World Cup 2018“).

Dan dalam marketing berlaku, promosi yang otentik selalu menghasilkan dampak branding beribu-ribu lipat lebih powerful. Ini namanya rezeki nomplok bagi Apple.

July 13, 2018   No Comments