E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Mati Rasa

Istilah “mati rasa” biasanya dipakai oleh sepasang kekasih atau suami-istri yang sudah tidak harmonis lagi hubungannya. Karena sudah tak saling cinta, maka tak ada lagi perasaan atau getar-getar asmara di antara mereka. Sebagai contoh, ini dia lirik lagu berjudul Mati Rasa yang dinyanyikan oleh Dewi Sandra: Kau mati rasa/Ketika kau bersamanya/tak ada lagi perasaan/Tak bisa lagi merasakan cinta uu uu uu…

Nah, entah kenapa, setiap kali saya mendengar suara indah di ruang tunggu bandara yang mengumumkan keterlambatan pesawat, otak saya pasti langsung meloncat ke istilah tersebut. Bunyi pengumuman tersebut saya yakin Anda semua sangat familiar sebagai berikut: “Mohon maaf, dikarenakan alasan operasional, pesawat bla bla bla dengan nomor penerbangan bla bla bla tujuan bla bla bla mengalami keterlambatan selama bla bla bla jam.”

Kalau pengumuman itu datang sekali-sekali nggak apa-apa, para penumpang masih bisa memaklumi. Namun celaka tiga belas, pengumuman itu hadir praktis tiap hari. Bahkan untuk jam penerbangan malam habis magrib, keterlambatan ini terjadi hampir di setiap penerbangan. Dan setiap kali pesawat terlambat “alasan operasional” menjadi sasaran empuk kambing hitam. Begitu pengumuman berkumandang, serta-merta kejengkelan penumpang meradang, dan seperti dikomando cemoohan pun tumpah-ruah: huuuuuuuhhh…

Saya adalah heavy traveler. Dalam seminggu saya bisa beberapa kali melakukan penerbangan untuk memberikan seminar atau training di berbagai kota. Dan sudah saya hitung, praktis semua penerbangan malam yang saya lakukan bisa dipastikan mengalami keterlambatan. Parahnya, keterlambatan tersebut tak hanya 10-15 menit, tapi minimal 1 sampai 2 jam atau lebih.

Tak Berperasaan
Saya menggunakan istilah mati rasa bagi industri penerbangan kita karena dalam urusan keterlambatan ini mereka, seperti kata Dewi Sandra, sudah pada tahapan tak memiliki perasaan. Mereka tak lagi memiliki perasaan bersalah kepada konsumen; tak lagi memiliki perasaan menyesal karena telah melakukan kesalahan; tak memiliki perasaan gundah karena telah “menyiksa” konsumen. Mereka tak lagi memiliki kepekaan kepada kesusahan pelanggannya. Mereka begitu ringan mengucapkan kata “minta maaf” beribu-ribu kali. Mereka telah menjadi brand yang bebal karena abai terhadap keluhan dan aspirasi konsumennya. Dalam prinsip layanan pelanggan, ini harusnya nggak boleh sekecilpun terjadi. Pamali, kata orang Bandung.

Yang paling saya khawatirkan adalah jika kesalahan yang terjadi setiap hari itu kemudian mereka yakini sebagai sesuatu yang lumrah dan menjadi kebenaran umum. Yang saya takutkan adalah kalau kemudian muncul keyakinan di kalangan para insan pelayanan industri penerbangan kita bahwa: “kalau jasa penerbangan kita jago ngaret, yang memang seharusnya begitu”. Kalau budaya ngaret ini sudah mendarah daging di industri penerbangan kita, maka dengan sedih saya katakan, ini indikasi sakitnya industri penerbangan kita.

Coba ingat, kenapa korupsi begitu sulit diberantas di Indonesia? Karena selama berpuluh tahun sogok, suap, pungli, uang pelicin, uang lelah, atau uang rokok telah menjadi sesuatu yang lumrah, menjadi sesuatu yang biasa, menjadi rutinitas keseharian kita. Karena telah menjadi kerutinan di seluruh lapisan masyarakat kita dari menteri hingga pegawai kelurahan, maka mereka kemudian meyakini bahwa sesuatu yang salah dan hina itu menjadi kebenaran umum. Dan karena sudah mendarah-daging dan menjadi budaya selama berpuluh tahun, perilaku korupsi menjadi sangat sulit dihilangkan.

Nah, yang saya takutkan adalah, kalau budaya ngaret di industri penerbangan kita kelak juga mendarah-daging seperti budaya korupsi yang sulit diberantas. Kalau ngaret terlanjur menjadi budaya yang telah mengeras, maka untuk mengubahnya akan sangat-sangat sulit.

Hukuman
Karena itu, agar budaya ngaret ini tidak terlanjur mendarah daging layaknya budaya korupsi, maka setiap insan pelayanan di industri penerbangan kita haruslah selalu diingatkan bahwa ngaret itu sesuatu yang keliru, bahwa ngaret itu menciderai kepercayaan konsumen, bahwa ngaret itu menyusahkan konsumen. Caranya bagaimana? Harus ada mekanisme hukuman untuk menimbulkan “efek ingat”, “efek menyesal”, dan “efek jera”. Industri penerbangan kita harus secara voluntary berani “menghukum diri” setiap kali terjadi keterlambatan, dan dengan hukuman tersebut diharapkan muncul sense of urgency bahkan sense of crisis untuk memperbaikinya.

Mekanisme hukuman itu bentuknya bisa macam-macam tergantung bagaimana perusahaan secara kreatif merumuskannya. Ada yang memberikan kompensasi ke pelanggan. Ada yang memberikan sangsi internal kepada karyawan di setiap rantai proses yang menjadi biang keterlambatan. Bisa juga dengan memberikan reward bagi karyawan atau unit kerja yang mencapai prestasi terbaik dalam memperbaiki on-time performance (OTP).

Yang saya maksud industri penerbangan di sini tentu saja bukan hanya maskapai penerbangan saja, tapi juga pengelola bandara, ground handling services, dan stakeholders lain yang berkontribusi pada jebloknya kinerja OTP. Sebagai sebuah jejaring dan sistem, para stakeholders ini harus bersama-sama bahu-membahu menumpas budaya ngaret ini. Seperti halnya budaya korupsi yang tak bisa ditumpas oleh KPK saja (harus didukung seluruh masyarakat), budaya ngaret industri penerbangan kita pun tak bisa ditumpas oleh maskapai penerbangan saja. Upaya ini juga harus menjadi tanggung jawab seluruh stakeholders yang ada di industri ini.

Akhirnya saya cuma bisa berharap, jangan sampai insan pelayanan industri penerbangan kita mati rasa. Ya, karena mati rasa akan menjadi sumber segala kemalangan. Seperti halnya hubungan antara suami-istri: mati rasa bisa menimbulkan ketidakharmonisan brand dengan konsumen. Mati rasa bisa menimbulkan percekcokan brand dengan konsumen. Dan yang paling parah mati rasa juga bisa memicu perceraian antara brand dengan konsumen. Jangan sampai layanan penerbangan kita “dicerai” oleh para konsumennya.

 

December 20, 2014   No Comments

4 Pilar Pariwisata Indonesia

Saya bungah ketika beberapa waktu lalu Pak Arief Yahya, sebelumnya direktur utama Telkom, diangkat Pak Jokowi sebagai Menteri Pariwisata. Kenapa? Karena saya kenal lama belia dan tahu betul dia adalah seorang marketer tulen. Saya kira kementrian ini butuh sosok yang piawai mengembangkan produk destinasi wisata, mengintegrasikan segenap stakeholders pariwisata (agen perjalanan, perhotelan, penerbangan, pengelola destinasi wisata, pelaku MICE, dsb) untuk memperkokoh daya saing, dan menciptakan kampanye branding pariwisata massif di seantero negeri. Dan Pak AY, demikian biasa dipanggil, cukup mumpuni untuk itu.

Khusus mengenai kampanye branding, kita merindukan sebuah kampanye branding massif yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia seperti yang pernah digelar di era Orde Baru dengan kampanye “Visit Indonesia Year”. Di bawah nakhoda pak Joop Ave, kampanye branding ini terbukti cukup sukses menggerakan kesadaran seluruh elemen bangsa untuk ikut terlibat memasarkan pariwisata Nusantara dan ampuh mendatangkan turis ke Tanah Air. Setelah itu praktis kampanye branding pariwisata kita mlempem, tenggelam oleh kampanye branding negara tetangga seperti Singapura dengan “Uniquelly Singapore” atau Malaysia dengan “Truly Asia”.

Saya berharap di bawah nakhoda baru, pariwisata kita menggeliat kembali mengejar ketertinggalan negara tetangga Singapura-Malaysia-Thailand yang agresif meraup devisa dari sektor yang sangat seksi ini. Saya melihat ada empat destinasi wisata yang bisa menjadi pilar daya saing pariwisata di pasar dunia. Keempat pilar tersebut adalah: wisata budaya (culture), wisata maritim (maritime/archipelago), Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE), dan wisata syariah.

Budaya, Tetap Menjanjikan
Wisata budaya adalah keunikan Indonesia yang tidak ada tandingannya dibanding negara manapun di muka bumi ini. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik (atau 1.340 suku bangsa) dan 546 bahasa daerah. Dengan kekayaan budaya yang luar biasa, Indonesia adalah salah satu negara paling eksotis di dunia. Hebatnya lagi, setiap konten etnik tersebut menyimpan brand story yang luar biasa. Kalau brand story itu dikemas dan kemudian dipromosikan ke masyarakat dunia maka ia akan menjadi magnet penarik wisman (wisatawan mancanegara) yang luar biasa ampuhnya.

Destinasi wisata budaya paling berpotensi mengalami penuaan sehingga kehilangan keeksotisannya. Karena itu challenge terbesar dari destinasi wisata ini adalah upaya revitalisasi produk agar relevan dan bisa tetap menarik bagi wisatawan asing. Beberapa upaya dilakukan untuk merevitalisasinya seperti penguatan brand story atau brand heritage, pemanfaatan teknologi canggih untuk pertunjukkan (misalnya dengan pemanfaatan multimedia), atau dengan menciptakan ataraksi-atraksi budaya yang experiential. Cirque du Soleil adalah contoh pas bagaimana pemanfaatan teknologi, multimedia, dan atraksi yang experiential telah mampu merevitalisasi pertunjukkan sirkus yang jadul menjadi sebuah tontonan yang cool, modern, dan luar biasa menarik.

Maritim, The Rising Star
Tak hanya budaya dan bahasa, Indonesia juga memiliki kepulauan lebih dari 13.000, suatu jumlah yang luar biasa dan tak ada tandingannya di dunia. Dengan panjang pantai mencapai 99.000 km, Indonesia menyimpan pantai-pantai indah yang yang tak kalah ampuh menjadi magnet penarik wisman. Potensi-potensi destinasi pantai itu kini mulai muncul dan pelan tapi pasti mulai dikenal dunia seperti Raja Ampat (Papua) yang begitu eksotik, pantai Takabonerate (Makassar) yang memiliki atol terbesar kedua di dunia, atau Wakatobi (Sulawesi Tenggara).

Saya menyebut wisata pantai dan kepulauan sebagai “the new rising star”, karena selama ini luput dari sentuhan promosi/pengemasan, namun kini di bawah pemerintahan Jokowi-JK mulai mendapatkan kegairahan baru. Tak hanya pemerintahan baru, seluruh pelaku industri pariwisata kita kini sedang ancang-ancang memanfaatkan momentum bonanza wisata maritim. Hanya saja challenges untuk mengembangkan destinasi pariwisata ini bukannya kecil. Harus diakui, pantai-pantai indah yang menjadi magnet bagi wisatawan asing ini banyak terdapat di kepulauan-kepulauan Indonesia bagian timur yang masih perawan dan minim infrastruktur baik jalan, bandara, hotel, dan sebagainya. Jadi, infrastructure bottleneck akan menjadi penghalang terbesar, kita butuh waktu untuk mengembangkannya.

MICE Mencorong
Pilar ketiga adalah wisata MICE. Blessing in disguise, di tengah lesunya perekonomian di Eropa dan Amerika, pasar MICE kini mulai bergeser ke emerging countries seperti Indonesia. Untuk jumlah pertemuan, hingga tahun 2010 lalu pasar MICE sebagian besar memang masih dikuasai negara-negara maju lebih dari separuhnya. Namun beberapa tahun terakhir pasarnya mulai bergeser ke emerging countries. Selama kurun waktu 2000-2010 misalnya, menurut ICCA pasar MICE di Cina tumbuh 15%, Brasil (12%), UEA (32%) dan Indonesia (10%), sementara negara-negara Eropa hanya tumbuh 5-6% dan Amerika 2,5%.

Singapura, Malaysia, dan Thailand masih memimpin industri MICE di kawasan Asia Tenggara. Dari sisi jumlah pertemuan misalnya, pada tahun 2010 lalu jumlah pertemuan di Indonesia hanya setengah kalau dibandingkan Singapura. Seiring dengan mantapnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan siknifikannya jumlah penduduk kelas menengah sejak 3 tahun terakhir, saya yakin Indonesia akan makin memantapkan diri menjadi primadona MICE di Asia. Apalagi jika hal ini diikuti membaiknya country image dan country brand Indonesia karena berbagai faktor yang mendukung seperti: pasarnya yang besar, peringkat investasi (investment grade) yang terus membaik, kualitas infrastruktur, birokrasi yang kian efektif dan efisien, dan sebagainya.

Pusat Fashion Muslim Dunia
Pilar keempat adalah fesyen muslim. Saya konfiden mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi menjadi pusat fesyen muslim dunia. Ditinjau dari sisi konsumen, negeri ini punya pasar yang besar karena kita memiliki populasi muslim terbesar di dunia mencapai 87% dari total penduduk Indonesia. Sementara dilihat dari sisi industrinya, kita menyaksikan gairah industri fesyen yang berkembang begitu mengagumkan. Pertama, maraknya bermunculan para desainer fesyen muslim yang melahirkan banyak produk inovatif, modern, dan stylish. Kedua, tumbuh suburnya brand busana muslim seiring maraknya pasar busana muslim di Tanah Air. Ketiga, menjamurnya berbagai acara hijab fashion show ataupun pameran produk desain fesyen di seluruh penjuru Tanah Air.

Visi mewujudkan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia menuntut adanya event-even fesyen berskala dunia dengan target audiens pelaku industri fesyen muslim dari seluruh penjuru dunia. Karena itu setiap pelaku industri ini harus bangkit dan mengambil peran aktif untuk mewujudkan visi besar ini. Kita harus mulai secara bertahap dan sistematis mulai membangun place branding Indonesia sebagai kiblat fesyen dunia. Dengan gerakan “Indonesia Inc” dari seluruh stakeholders yang terkait dengan industri ini kita yakin bisa mewujudkannya lima atau sepuluh tahun ke depan.

 

December 14, 2014   No Comments

Meredefinisi Ukuran Sukses

Beberapa bulan lalu, aktor hebat peraih Oscar, Robin Williams, dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Seluruh dunia terenyak, tak habis pikir bagaimana seseorang yang begitu sukses, bergelimang harta, dan bertabur ketenaran justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu hina dan konyol. Mengenai sebab kematian, sang istri mengatakan, beberapa waktu terakhir sebelum meninggal, sang aktor menghadapi masalah depresi, kecemasan akut, kesulitan tidur, hingga keluhan penyakit parkinson.

Kematian Williams adalah tragedi kemanusiaan di dalam dunia, ketika materialisme menjadi panglima, ketika kekayaan, jabatan, dan ketenaran menjadi dewa yang diagung-agungkan. Dalam dunia picik macam ini, kekuasaan dan uang harus dikejar hingga ke ujung dunia secara membabibuta, at all cost. Untuk menggapai semua itu, dimensi-dimensi lain kemanusiaan kita cenderung terabaikan. Akibatnya, keletihan karena kerja berlebih, stres, dan depresi menjadi penyakit sosial yang kian meradang. Celakanya lagi, kondisi menghimpit itu menjadi sumber bagi beragam penyakit dari diabetes, kanker, hingga parkinson.

Karena kenyataan mengenaskan itu, kini kesuksesan harus diredefinisi secara fundamental agar tidak melenceng lebih jauh. Sukses tak melulu menyangkut gelimang kekayaan, tak sebatas jabatan atau gemerlap ketenaran. Sukses adalah penghargaan terhadap kemanusiaan kita secara utuh, tanpa disunat sana-sini. Di sinilah diperlukan “ukuran ketiga” (third metric) untuk mendefinisikan ulang hakiki kesuksesan. Diperlukan kriteria ketiga karena dua kriteria sebelumnya, yaitu kekayaan (money) dan kekuasaan (power) sudah tidak memadai lagi.

Ukuran ketiga

Dalam Thrive, Arianna Huffington, pendiri koran daring (online) paling berpengaruh di Amerika saat ini, merumuskan ukuran kesuksesan ketiga tersebut mencakup empat elemen, yaitu kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini, sukses harus berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive). “How we measure success is changing,” ujarnya.

Bagi Arianna, buku ini sangat emosional karena merupakan refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran. Buku ini tercipta setelah ia bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan material, yaitu kekayaan dan kekuasaan. Untuk mewujudkan Huffington Post, ia superstres dan supersibuk bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Hasilnya, awal April 2007, ia kolaps jatuh tak sadarkan diri, bersimbah darah, nyaris menyongsong ajal karena terlalu lelah bekerja.

Menurut ukuran konvensional, Arianna telah mencapai puncak sukses. Berkat sukses Huffington Post, ia masuk jajaran orang terkaya di Amerika. Namanya masuk dalam World’s 100 Most Influential People-nya majalah Time. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah terkemuka dunia. Kurang apa? Namun, di tengah puncak kesuksesan tersebut, justru muncul pertanyaan eksistensial dari lubuk hatinya yang terdalam, “Seperti inikah kesuksesan yang saya cari, seperti inikah hidup yang saya dambakan?

Ukuran ketiga mendesak dimasukkan dalam kriteria sukses agar kita tak terperosok lebih jauh menjadi “robot pengumpul uang” atau “mesin penimbun kekuasaan”, atau bahkan “monster pemburu ketenaran”. Sukses bukanlah to take you at the top of the world, melainkan to change the world. Sukses haruslah sarat dengan kerendahan hati, kontribusi kepada umat manusia, kekayaan nurani, kearifan budi, dan hidup yang penuh makna.

“How Will You Measure Your Life”

Dalam ungkapan yang berbeda, Prof Clayton Christensen, pencipta teori inovasi (disruptive innovation) dan penulis buku fenomenal The Innovator’s Dilemma, menempatkan ukuran sukses dalam posisi penting sebagai titik simpul dari keseluruhan perjalanan hidup untuk mencapai kebahagiaan. Dalam buku barunya, How Will You Measure Your Life?, profesor di sekolah bisnis Harvard ini menekankan, ukuran sukses merupakan kompas yang akan menuntun arah kehidupan kita. How will you measure your life, ujarnya, adalah pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum kita menentukan arah kemudi kehidupan dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip scientific management yang menjadi bidang keahliannya, Clayton berargumen bahwa ukuran sukses dalam meniti karier, membina keluarga, dan membangun relasi dengan orang lain merupakan batu pijakan dalam mengalokasikan waktu, tenaga, talenta, dan uang yang kita punya untuk mewujudkan kebahagiaan hidup. Selama tak mampu merumuskan ukuran sukses hidup, maka selama itu pula kita tak akan mampu mengisi hidup dengan hal-hal bermakna yang memperkaya jiwa dan nurani.

Buku ini memiliki perspektif unik, berbeda sama sekali dengan kebanyakan buku mengenai inspirasi sukses lain, karena menggunakan teori-teori manajemen perusahaan sebagai tools dalam memandu kita melakukan pilihan-pilihan hidup yang tepat guna mencapai kehidupan yang bermakna. “Good theory help people steer to good decisions, not just in business, but in life, too,” ujar Clayton. Dengan bekal teori tersebut, buku ini memberikan arahan how to mengenai bagaimana kita menyusun visi dan tujuan hidup, menemukan passiondalamkarier,melakukan alokasi sumber daya (waktu, tenaga, pikiran, kekayaan, talenta), menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan, hingga membesarkan anak. Yang menarik, dalam menjelaskan teorinya, Prof Clayton menggunakan contoh-contoh kasus perusahaan seperti Honda, Dell, dan IKEA.

Wong urip iku mung mampir ngombe (orang hidup itu sekadar istirahat sejenak untuk mampir minum), begitu kata ungkapan bijak orang Jawa. Hidup itu hanya sebentar, maka kita harus mengisinya dengan hal-hal penuh makna. Kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki jika bisa menemukan makna di setiap detik hidup. Persis seperti kata Prof Clayton, untuk mewujudkannya, kita harus bisa menjawab pertanyaan how will you measure your life.

***

Titik Balik

Dua buku ini memiliki kemiripan substansi dan latar belakang penciptaan walaupun penulisnya tidak pernah janjian. Dua buku ini lahir sebagai refleksi personal penulisnya setelah mereka mengalami titik balik kehidupan. Arianna menulis Thrive setelah kolaps hampir menjemput ajal akibat kelelahan bekerja, sementara Prof Clayton menulis How Will You Measure Your Life setelah teridentifikasi mengidap follicular lymphoma (penyakit kanker yang telah menewaskan ayahnya) dan terkena stroke pada 2010.

Ketika berada di puncak sukses, Arianna sebagai pengusaha/jurnalis dan Clayton sebagai ilmuwan, mereka justru mengalami cobaan hidup begitu berat hingga terpuruk di titik terbawah. Di tengah kegalauan di titik nol, mereka melakukan perenungan mengenai hakikat sukses kehidupan dan menemukan bahwa sukses yang diraup selama ini semu belaka. Becermin pada pengalaman personal itu, mereka mencoba merumuskan jalan sukses yang lebih arif dan manusiawi.

Ide besar yang ingin disampaikan kedua penulis ini sama, yaitu bagaimana menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dengan mengisinya dengan hal-hal bermakna. Becermin pada pengalaman personalnya, Arianna akhirnya menyadari bahwa uang dan jabatan ternyata bukanlah jawaban paripurna. Ada hal lain yang juga mendesak untuk digapai di tengah ajal yang selalu sigap mengintai, seperti kesehatan raga tak terjangkit beragam penyakit, ketenangan jiwa tak tertawan oleh stres karena bekerja, atau kearifan hidup yang diperoleh dari segudang pengalaman masa lalu.

Sementara itu, Prof Clayton, dengan kerangka teori manajemennya yang disiplin, menganjurkan kita menjalani hidup secara “strategis” dengan menetapkan arah, prioritas, strategi, dan alokasi sumber daya yang dimiliki. Menjalani hidup, dalam kacamata Prof Clayton, sesungguhnya tak banyak berbeda dengan mengoperasikan sebuah perusahaan, prinsip-prinsipnya sama. Ketika kita terlalu sibuk bekerja dan mengesampingkan keluarga misalnya, itu tak lain merupakan bentuk dari alokasi sumber daya yang tak benar (misallocation of resources). Ketika alokasi waktu, tenaga, pikiran, dan talenta kita terlalu banyak ditumpahkan kepada karier dan pekerjaan, “kepentingan” keluarga akan terkorbankan, dan dari sini akan timbul bibit-bibit masalah.

Karena menulis di tengah duka mendalam akibat titik balik hidup yang sangat tragis, tak heran jika energi, emosi, dan keterlibatan penulis dalam melahirkan buku ini begitu total. Barangkali karena totalitas ini, dua buku ini menjadi bestseller dunia. Dengan peristiwa tragis yang menimpanya, barangkali mereka merasa menjadi “orang terpilih” untuk mengingatkan kita semua untuk tidak terperosok dalam kesuksesan hidup yang semu.

Mengenai sukses yang sesungguhnya, ada satu benang merah yang menyatukan buah pikiran mereka (yang sekaligus menjadi happy-ending dari kedua buku ini), yaitu memberi (giving). Sukses yang sesungguhnya bukanlah menyangkut diri kita, melainkan orang lain. Sukses adalah kontribusi kepada orang lain. Sukses adalah memberi untuk orang lain. Persis seperti dibilang Albert Einstein, “only a life lived for others is the life worthwhile.”

***

Judul: Thrive: The Third Metric to Redefining Success  and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder. Penulis: Arianna Huffington Penerbit: HarmonyBooks, 2014 Halaman: 352 Cover Thrive, Arianna Huffington

 

Judul: How Will You Measure Your Life? Penulis: Clayton Christensen, James Allworth, Karen Dillon Penerbit: HarperBusiness, 2012 Halaman: 240

 

Cover How Will You Measure - Clayton Christensesn

 

*Artikel ini telah dimuat di KompasKlass, Jumat 12 Desember 2014

December 12, 2014   2 Comments

Entrepreneurial Government

Mana bisa pemerintahan dikelola seperti layaknya bisnis? Tentu saja tidak bisa. Kenapa? Karena misi, orientasi, dan tujuan dari pengelolaan sebuah organisasi pemerintahan tentu saja berbeda 180 derajat dengan organisasi bisnis. Organisasi bisnis kita tahu adalah profit-making entity di mana revenue, profit, dan cash flow menjadi tujuan terpenting. Sebaliknya, organisasi pemerintahan bukanlah organisasi pencari laba. Tugas dan tujuan dari sebuah organisasi pemerintahan adalah memakmurkan penduduk dan warganegara, ”menciptakan masyarakat adil dan makmur,” kata Pak Harto di jaman Orde Baru.

Lalu judul tulisan ini kok entrepreneurial government? Istilah apalagi ini. Sebelum lebih jauh masuk, saya ingin terlebih dahulu mencari tahu definisi dari kata ”entrepreneur” sendiri. Bagi saya, seorang entrepreneur memiliki tiga kualifikasi. Pertama, ia mampu secara jeli menangkap peluang yang muncul dari suatu keadaan tertentu. Kedua, ia mampu menterjemahkan peluang tersebut menjadi sebuah ide cerdas dan kemudian merealisasikan ide tersebut menjadi sebuah aktivitas penciptaan nilai (value-creating activities). Dan yang terakhir, seorang entrepreneur haruslah bisa jualan. Ia harus bisa memasarkan produk, layanan, ide, dan gagasan kepada stakeholder-nya dalam rangka value-creation di atas. Jadi keyword-nya adalah ”value creation

Klop
Lalu bagaimana kalau kata ”entreprenerial” ditempelkan ke kata ”government”? Dari definisi di atas saya kira kok klop. Bahwa sebuah pemerintahan harus mampu secara jeli menangkap peluang yang muncul dari adanya perubahan yang ada di tingkat lokal maupun global, saya kira memang harus. Bahwa sebuah pemerintahan harus menterjemahkan peluang tersebut menjadi sebuah ide dan kemudian merealisasikan ide tersebut menjadi value-creating activities, saya kira juga harus. Lalu, bahwa sebuah pemerintahan harus bisa memasarkan dirinya kepada stakeholder-nya, juga semestinya harus begitu.

Jadi, kalau mengacu ke definisi di atas, entrepreneurial government tak lain adalah pemerintah yang jeli dan selalu berpikir keras untuk melihat dan memanfaatkan peluang yang muncul dalam rangka value-creation. Bedanya dengan entitas bisnis adalah bahwa kalau entitas bisnis value-creation activities ini adalah penciptaan laba, sementara kalau organisasi pemerintahan adalah penciptaan kemakmuran dan peningkatan kualitas hidup masyarakatnya: peningkatan pendapatan per kapita, standar kesehatan, pendidikan, dan seterusnya.

Mengenai value-creating activities ini, Michael Porter, seorang maha guru strategi, punya pendapat yang menarik. Menurutnya, semua upaya yang dilakukan oleh sebuah pemerintahan haruslah diarahkan untuk membangun keunggulan bersaing negara. Lebih lanjut ia mengatakan, membangun keunggulan bersaing ini tak lain adalah upaya meningkatkan produktivitas (nilai output yang dihasilkan per unit input yang digunakan) yang pada gilirannya akan menaikkan kualitas dan standar hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Value Creation
Dari argumen saya tersebut, menjadi jelas bahwa organisasi bisnis maupun pemerintahan sesungguhnya mengemban misi dan tujuan yang sama, yaitu value-creation. Hanya saja penterjemahan value-creation ini antara organisasi bisnis dan pemerintahan memang berbeda.

Pertanyaannya kemuadian, kalau organisasi bisnis mampu menghasilkan sebuah struktur dan sistem organisasi yang sangat efisien, responsif, dan adaptif, kenapa kebanyakan organisasi pemerintahan umumnya loyo untuk melakukannya? Kalau organisasi bisnis seperti Astra atau Wings Group mampu menciptakan budaya organisasi yang menghasilkan orang-orang yang customer-focused dan inovatif, kanapa kebanyakan organisasi pemerintahan justru membentuk orang-orang yang korup? Kalau organisasi bisnis mampu merancang dan mengimplementasi value-creating strategy dengan sangat cerdas dan piawai, kenapa kebanyakan organisasi pemerintahan justru dikelola tanpa arah dan strategi? Kalau organisasi bisnis mampu me-maintain sense of urgensi untuk selalu berubah dan bertransformasi, kenapa kebanyakan organisasi pemerintahan terus terbuai dalam tidur panjang?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya berupa alasan eskapis yang klise. ”Karena perusahaan kan organisasinya lebih sederhana!”; ”karena scope permasalahan yang dihadapi perusahaan kan tak sebanyak dan sekompleks organisasi pemerintahan—Ipoleksosbud!”; ”Karena stakeholder sebuah organisasi bisnis kan tak sebanyak dan seheterogen organisasi pemerintahan!” Demikian alasan yang sering di kemukakan banyak pemimpin organisasi pemerintahan.

Memang betul kompleksitas pengelolaan sebuah organisasi pemerintahan jauh lebih tinggi dibanding organisasi bisnis. Namun, saya kira hal ini tidak bisa secara membabi buta dijadikan alasan ketidakbecusan dan mismanagement dari kebanyakan organisasi pemerintahan. Saya berkeyakinan, sebuah organisasi pemerintahan harusnya bisa seefisien GE atau Apple.

Singapura adalah sedikit entrepreneurial government yang mampu melakukannya dengan baik. Lee Kuan Yew, sang entrepreneurial leader, membangun Singapura selama 25 tahun untuk menjadikan negara liliput ini menjadi kekuatan ekonomi yang siknifikan di dunia. Saya takjub pada pendekatan yang digunakannya dalam mengembangkan strategi pembangunan. Ia menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang diterapkan untuk perusahaan mulai dari segmentasi, positioning, diferensiasi, branding, dan sebagainya.

Sudah waktunya para bupati di seluruh tanah air menjadi entrepreneurial leader seperti halnya Lee Kuan Yew. Sebagai seorang entrepreneur mereka haruslah jeli membidik target market; fokus mengalokasi sumber daya; tepat menetapkan positioning, dan piawai membangun diferensiasi. Thanks god, kini mulai ada sosok CEO-CEO pemerintah yang semangatnya entrepreneur seperti Ahok, Ridwan Kamil, Azwar Anas, atau Bu Risma. Kalau bupati-bupati kita sudah menjadi entrepreneurial leader, saya hanya punya satu mimpi. Suatu hari kabupaten macam Wonogiri atau Tulungagung memiliki organisasi, budaya organisasi, dan strategi setangguh GE atau Apple. Semoga.

 

December 8, 2014   No Comments

Meme Marketing

Minggu lalu Line mengunggah video mini drama Ada Apa Dengan Cinta (AADC) versi 2014 di YouTube untuk memperkenalkan fitur baru pencarian teman sealmamater. Kharisma AADC memang luar biasa, terbukti video 10 menitan itu mampu mengaduk-aduk emosi siapapun yang pernah terbuai oleh film itu 12 tahun lalu. Mendadak sontak, video itu langsung memicu kehebohan. Dalam waktu 2-3 hari video itu telah ditonton oleh jutaan orang.

Tak hanya itu, yang lebih spektakuler AADC 2014 mampu memicu pergunjingan para netizen di media sosial. Dalam waktu singkat meme pun berseliweran membentuk viral yang heboh luar biasa. Netizen seperti berlomba-lomba beradu kreativitas memparodikannya dalam bentuk meme video, gambar, maupun cuit-cuit di Twitter. Di tangan netizen, AADC yang sendu mengharu-biru berubah menjadi banyolan ngocol yang fun dan happening. Tak pelak lagi, Line pun ketiban ganjaran publisitas yang luar biasa.

Meme AADC

Heboh meme bukan sekali ini saja terjadi. Beberapa minggu sebelumnya Mastin mengalaminya. Jingle iklan TV Mastin, “Kabar gembira untuk kita semua. Kulit manggis, kini ada ekstraknya…” menjadi sasaran empuk pergunjingan netizen di ranah maya.
Seperti biasa meme selalu berpotensi menyebar luar biasa bak virus ebola karena sifat humornya, sindiran cerdasnya, atau ungkapan-ungkapan nakalnya yang menggerakkan kita untuk mem-forward, me-retweet, dan menyebarkannya.

Walaupun video AADC dan jingle iklan “Kabar Gembira…” menjadi bahan guyonan, lucu-lucuan, atau tertawaan, namun saya kira tak sampai merusak elemen dasar brand equity Line maupun Mastin. Justru sebaliknya, gelombang meme di media sosial justru berbuah manis, dalam waktu singkat awareness Line dan Mastin meroket secepat kilat. Jadi so far, gempuran meme di media sosial baik-baik saja pengaruhnya bagi kedua brand tersebut, persis seperti bunyi tagline Mastin yang eksentrik: “goooood…”

Powerful Marketing
Contoh kasus di atas memberikan gambaran gamblang, bahwa kita para marketers bisa memanfaatkan meme sebagai alat dan teknik pemasaran yang ampuh. Dengan kejelian dan kreatifitas, marketers bisa memanfaatkannya untuk membangun awareness, menciptakan connection dengan konsumen, atau bahkan membangun keterlibatan dan engagement dengan mereka. Seperti halnya kasus Line dan Mastin, potensi buzz dan viral meme yang luar biasa menjadikannya alat pemasaran yang “low budget, high impact” dan mampu meroketkan brand Anda dalam waktu super singkat.

Dalam kasus di atas, Mastin menjadi “korban” atau obyek serangan bully yang dilakukan oleh netizen dengan menggunakan media meme. Namun kenapa tidak marketers justru secara proaktif dan cerdas memanfaatkan dan merekayasa meme yang sedang hot dibicarakan di media sosial untuk kepentingan pemasaran. Saat meme AADC sedang hot-hotnya, beberapa brand seperti Heineken, Indomie, dan XL dengan sigap memanfaatkannya dengan membuat meme AADC versi mereka untuk numpang ketenaran.

Memejacking - Heineken

Ketika gelombang meme video Harlem Shake melanda ranah maya beberapa bulan lalu, brand hebat seperti Google, Facebook, Pepsi dan McDonalds membuat meme video Harlem Shake versi mereka untuk menciptakan emotional connection baik dengan karyawan maupun konsumen. Pendekatan meme marketing dengan “menunggangi” meme yang sedang hot ini sering disebut dengan “memejacking”.

Marketers bahkan bisa menciptakan meme yang dirancang sedemikian rupa agar riuh dibicarakan di dunia maya dan memicu gelombang viral. Ini nggak gampang, beberapa syarat harus dipenuhi agar meme bikinan marketers ini bisa betul-betul heboh dibicarakan. Pertama, meme harus memenuhi tiga elemen dasar: fun-humor, memorable, dan shareable. Kedua, meme tersebut harus otentik (authentic) tanpa dibebani unsur jualan (soft-hard sell). Dan yang terakhir, meme tersebut harus tetap relevan dan mengoneksikan brand dengan konsumen.

Momentum
Umumnya gelombang viral meme berlangsung dalam kurun waktu singkat bisa hanya beberapa hari atau minggu. Karena itu, memanfaatkan momentum merupakan kunci sukses dalam setiap meme marketing. Begitu gelombang viral meme terbentuk, maka dengan cepat brand Anda harus masuk memanfaatkannya. Anda tidak boleh terlambat sedikitpun, karena kalau Anda masuk bukan pada saat meme sedang hot-hot nya dibicarakan, maka Anda akan kehilangan kesempetan untuk dibicarakan. Dan tak cuma itu, brand Anda justru dicemooh oleh netizen karena dianggap telmi alias telat mikir atau jadul alias ketinggalan jaman.

Selain tepat momentum, meme marketing yang Anda jalankan haruslah relevan dengan target audiens yang dibidik. Dalam memilih meme yang akan “ditunggangi”, Anda harus yakin bahwa meme tersebut relevan dengan minat, identitas, dan dunia target audiens Anda. Pokoknya audiens Anda harus sampai bilang: “Ini gue banget”. Meme video Harlem Shake atau Gangnam Style misalnya relevan ditunggangi oleh brand dengan target audiens mass market. Tapi mungkin tidak sesuai untuk target audiens yang lebih eksklusif dan mengangkat prestise produk.

Meme marketing memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menjadi berkah, tapi di sisi lain juga bisa musibah. Karena itu ketika memutuskan mengusung meme marketing, maka Anda harus berani take risk. Dalam kasus Line dan Mastin, meme menjadi berkah karena secara umum pengarunya positif bagi pembentukan brand equity mereka. Namun dalam kasus klinik Tong Fang saya kira pengaruhnya lebih banyak musibah ketimbang berkah. Karena itu Anda harus hati-hati. Ingat, netizen lebih suka mempergunjingkan sisi jelek dari brand ketimbang sisi baiknya.

Ketika memanfaatkan meme marketing maka kata kuncinya hanya satu: fun. Tak peduli produk dan layanan yang Anda tawarkan, gaya komunikasi Anda haruslah cool, banyak humor, gokil, dan full of fun. Persis seperti dibilang Cheryl Conner, seorang blogger: “The greatest aspect of meme marketing is that it allows any company to create something memorable in a spirit of fun.” So, apakah Anda jualan shampo, gadget, atau pesawat terbang, pendekatan meme marketing yang Anda usung haruslah tetap dilandasi spirit of fun. Mau nggak mau Anda harus menjadi fun brand.

 

Sumber gambar: http://bit.ly/1GRnvAN dan http://bit.ly/1xgayO1

 

November 12, 2014   1 Comment

#KelasInspirasi Visit to Gramedia

Toko CD tutup. Toko DVD tutup. Pertanyaannya? Apakah toko buku juga akan tutup? Tunggu dulu!!! Masih ada 1001 cara untuk membikin konsumen keranjingan membaca buku cetak!!! …bukan ebook!!! Ini setidaknya keyakinan temen-temen di Gramedia Pustaka Utama (GPU), penerbit buku terbesar di negeri ini. Di tengah terjangan gelombang tsunami digital saat ini GPU terus bertransformasi untuk “riding the wave” agar tetap relevan dan tumbuh pesat membesarkan pasar.

Anak perusahaan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) ini telah merajai pasar perbukuan di Indonesia selama 40 tahun (berdiri 1974). Karya pertama GPU adalah novel Karmila karya Marga T (1974) dan sejak itu satu-persatu buku bestseller membanjiri pasar. GPU jeli membaca selera pasar sehingga berhasil menerbitkan buku-buku yang digemari masyarakat dari dekade ke dekade. Sebut saja buku-buku laris terbitannya seperti novel-novel karya Sidney Sheldon, Agatha Christie, Lupus, hingga Harry Potter. Atau buku-buku non fiksi seperti karya Robert Kiyosaki, Stephen Covey, hingga Tung Desem Waringin.

Bagaiman GPU bisa sustainable merajai persaingan buku di Indonesia? Tak gampang! Strategi, brand building, riset pasar, promosi, aktivasi komunitas, membangun loyalitas pembaca, mengembangkan jejaring distribusi toko buku, dan masih banyak kiat untuk memenangkan persaingan.

Nah, untuk mengetahuinya, Komunitas Memberi @memberiID akan mengelar #KelasInspirasi dengan berkunjung plus ngobrol santai di GPU. Kita akan mendapatkan inspirasi luar biasa dari mas Wandi S. Brata, Direktur Eksekutif, orang di balik sukses GPU. Ia akan cerita santai mengenai bagaimana GPU sukses merajai pasar perbukuan di Indonesia, termasuk bagaimana strategi ke depan GPU untuk menyongsong pasar buku digital. Yang menarik, ia juga akan kasih tips-tips agar buku karangan Anda bisa boom dan menjadi bestseller di pasar.

Tanggal: Selasa, 11 November 2014, pk. 14.00 – selesai
Tempat: Gramedia Pustaka Utama, Jl. Palmerah Barat No. 33-37, Jkt
Tema: “Making a Bestseller”: The Art of Book Marketing
Pembicara: Wandi S. Brata, Direktur Eksekutif
Moderator: Yuswohady

Yuk ikutan… Gratis!!! Cukup daftar di blog Komunitas Memberi berikut -> www.memberi.org

November 8, 2014   1 Comment

Jomblo Lifestyle

Jomblo di masa lalu adalah sebuah aib memalukan. Namun sekarang, ia menjadi sebuah simbol sosial yang keren, cool, awasome. Saya nggak tahu kenapa bisa demikian. Mungkin ini yang disebut jaman edan. Semua serba kebolak-balik.

Ketika sebuah bangsa makin maju. Ketika masyarakatnya makin makmur. Dan ketika pola kehidupannya kian industrial-urban, maka kecenderungan mereka untuk tidak menikah menjadi kian besar. Di negara tetangga Singapura misalnya, satu dari lima warganegaranya ogah menikah dengan alasan macam-macam: mengejar karir, menghindari beban ekonomi yang berat, nggak mau repot, hingga alasan lifestyle. Seperti Singapura, di negeri ini jumlah jombloers pun kian merangkak naik.

Lifestyle
Bakal maraknya jombloers di Indonesia tak lepas dari revolusi kelas menengah yang memicu mobilitas sosial massif selama sekitar lima tahun terakhir. Saya sering mengatakan masyarakat kelas menengah memiliki tiga ciri. Mereka memiliki daya beli yang makin tinggi, knowledgeable, dan socially-connected. Mobilitas sosial ini menciptakan pergeserangaya hidup rural-agraris-tradisionalis menjadi urban-industrialist-modern.

Data BPS tahun 2010 mengatakan, usia kawin pertama (UKP) masyarakat kita adalah 22,3 tahun untuk wanita dan 25,7 untuk laki-laki. Coba bandingkan dengan UKP orang tua kita dahulu yang rata-rata sudah menikah di bawah usia 20 tahun. Tak bisa dipungkiri, merangkak naiknya UKP ini adalah buah dari pendidikan dan naik knowledgeability mereka.

Yang saya amati, naiknya sikap menunda perkawinan dan menjomblo kini tak hanya dipengaruhi faktor rasional (faktor ekonomi, umur, karir, kesiapan mental) berkat naiknya knowledgeability mereka. Sikap menjomblo ini kini juga mulai dipengaruhi oleh faktor koneksi sosial (social connetion), dimana “siapa kita” di mata kolega, teman, komunitas, dan lingkungan kita menjadi demikian penting.

Masyarakat kelas menengah kita makin socially-connected yang didorong oleh pertumbuhan media sosial dimana eksis, narsis, ekspresi diri, dan pencitraan menjadi sesuatu yang penting dan bermakna. Ketika mereka semakin socially-connected, maka fenomena menjomblo memasuki babakan baru dimana alasan menjomblo tak lagi sebatas rasional-fungsional, tapi mulai memasuki ranah emosional-sosial. Menjomblo adalah sebuah pernyataan dan penanda identitas diri. Bahkan sikap menjomblo menjadi alat ekspresi diri dan pencitraan. Hasilnya, kini menjomblo bermetamorfse menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang keren, cool, dan awasome.

Hot Topic
Kalau dulu obrolan mengenai jomblo merupakan aib bagi empunya, maka kini sebaliknya, menjadi topik pembicaraan yang begitu atraktif. Di media sosial kini banyak kita temuai ekspresi kreatif dalam bentuk meme terkait jomblo. Meskipun ceritanya satire, isu jomblo menjadi cerita unik yang hangat diperbincangkan di ranah maya. Bahkan, ada beberapa blog yang secara serius menggarap isu jomblo.

Saking hot-nya, terkadang status jomblo menjadi sasaran empuk di lini masa sebagai objek sindiran dan satire yang justru mengasyikan. Hal atau momen apapun kerap dikait-kaitkan dengan jomblo. Contohnya saat 17 Agustus lalu, para netizen sibuk buat meme di media sosial mengenai lomba 17 Agustusan yang paling cocok untuk jomblo. Saking menariknya, meme ini sempat jadi trending topic di media sosial. Inilah fenomena isu tentang jomblo sangat menarik banyak orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kata “galau” dan “galauers” yang bisa menggambarkan pergumulan batin seorang jomblo menjadi sebuah magic word yang diminati untuk diperbincangkan. Beberapa situs secara cukup serius mengangkat isu seputar jomblo dan membangun komunitas jombloers. Situs ini mencoba membangun identitas, kepercayaan diri, dan kebanggaan di kalangan anggotanya. Jomblo.com misalnya, menebarkan ungkapan motivatif di front page-nya dengan kata-kata seperti: “Jadikan hidupmu lebih positif, terhubung selalu dengan temanmu, dan buat hidupmu lebih berwarna.”

Biro Jodoh Laris Manis
Dari sisi industri, saya melihat industri yang menyasar segmen jomblo secara khusus sedang booming di Tanah Air. Contohnya adalah bisnis biro jodoh atau mak comblang (matchmaker) dan konsultasi kepribadian untuk soal cinta. Fenomena banyaknya biro jodoh ini baru terjadi sekitar lima tahun terakhir. Ketika ekonomi sudah mapan, daya beli meningkat, tapi kesempatan dan keahlian menggaet calon pasangan hidup tak memadai, maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online.

Bisnis biro jodoh ini tumbuh luar biasa, seiring besarnya pula populasi jomblo di negeri ini. Kini mulai banyak orang yang memiliki lisensi matchmaker dari Amerika Serikat atau Eropa. Hitman System misalnya, adalah sebuah perusahaan relationship coach untuk percintaan. Hampir setiap bulan, Hitman System kerap membuat event seminar atau workshop untuk para jomblo. Saking hot-nya industri perjombloan, artis Christian Sugiono yang dikenal memiliki situs www.malesbanget.com pun kini membuka layanan biro jodoh online www.setipe.com.

Saking hot-nya bisnis perjombloan ini, beberapa biro jodoh membuka layanan biro jodoh untuk segmen muslim. Mereka mempertemukan pasangan sesama muslim. Contohnya adalah biro jodoh online www.syifa.com dan www.jodohislam.net. Selama ini, masyarakat muslim yang taat terhadap ajaran agamanya akan cenderung memilih pasangan hidupnya yang sama. Ini adalah niche market, sehingga model platform mencari pasangannya pun berbeda.

Seiring maraknya populasi jombloers di Indonesia, pasar jomblo akan kian moncer. Yuk marketer!!! Action now, or never… bergerak sekarang juga, atau Anda nggak akan dapat apa-apa. (ditulis bersama Iryan Herdiansyah, Business Analyst, Inventure).

October 25, 2014   3 Comments

Customer Voice

Ada satu pelajaran yang harus dimengerti dan harus dipraktikan oleh para wakil rakyat (yang kemarin memberikan voting Pilkada tak langsung) dari sosok seorang marketer. Kualitas personal paripurna (ultimate) dari seorang marketer adalah kemampuannya mendengarkan suara-suara halus keinginan konsumen. Di dalam dunia marketing itu disebut, customer voice. Kualitas ini begitu penting sehingga saya berani mengatakan bahwa, “listening to the voice of customer is marketer’s reason for being.”

Kehebatan paripurna seorang marketer bukanlah ditentukan oleh kemampuannya dalam jualan dan menawarkan produk. Bagi saya kehebatan paripurna seorang marketer adalah kemampuannya dalam mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan, strategi, dan program yang pas untuk memenuhi keinginan dan harapan tersebut. Di dalam dunia marketing kebijakan, strategi, dan program terbaik adalah yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan konsumen. Kebijakan, strategi, dan program marketing secanggih dan sehebat apapun akan gugur ketika ia menyimpang dan mencederai konsumen.

Begitupun, kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah bebal terhadap suara hati konsumen dan abai terhadapa aspirasi mereka. Kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah menjadi “psikopat” yang tak lagi memiliki kepekaan dalam membaca kegelisahan dan keluh-kesah konsumen.

Untuk itulah riset konsumen (baik formal maupun informal) menjadi demikian penting dalam dunia marketing untuk mendengar dan menangkap desir-desir suara halus konsumen. Riset konsumen belakangan begitu populer dan menjadi buzzword luar biasa saat Jokowi naik ke panggung politik Pilkada DKI Jakarta dengan istilah Jawa yang cool yaitu: blusukan.

Wakil Rakyat = Marketer
Wakil rakyat haruslah punya karakter dasar seorang marketer. Seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah selalu mendengarkan customer voice dari konstituen yang diwakilinya, yaitu rakyat. Mereka harus mampu mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan (dalam bentuk perundang-undangan) yang sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.

Seperti halnya marketer, wakil rakyat haruslah menempatkan peran “mendengarkan suara-suara lirih konstituen” sebagai reason for being. Itu artinya, jikalau mereka sudah tak mampu lagi memerankan fungsi itu, maka secara otomatis keberadaannya patut dipertanyakan. Kalau itu terjadi, meminjam istilah Annas Urbaningrum saat divonis di pengadilan korupsi kemarin, sudah waktunya para wakil rakyat itu melakukan “sumpah kutukan” (hehehe…).

Nah, dalam konteks wakil rakyat yang harus memainkan karakter marketer, saya menjadi sedih melihat drama pengesahan UU Pilkada Jumat (26/9) dinihari. Yang saya saksikan di ruang sidang yang amat mulia di gedung DPR itu bukanlah sosok-sosok negarawan yang empati terhadap suara-suara rakyat, tapi “psikopat-psikopat” yang bebal dan abai terhadap keinginan dan harapan konstituen yang mereka wakili. Mereka berjuang mengatur strategi untuk kepentingan diri dan kelompak mereka dan dengan vulgar mencederai kepentingan dan kemauan rakyat.

Kenapa saya sebut mereka psikopat? Karena mereka sudah tak memiliki sedikitpun kepekaan mendegar customer voice. Karena mereka tak punya empati pada kegelisahan dan kegalauan rakyat. Bahkan mereka telah abai terhadap kemauan dan kepentingan rakyat. Mereka tega memperkosa kepentingan rakyat, diplintar-plintir sedemikian rupa agar mengabdi kepentingan pribadi dan golongan mereka.

Sudah sebulan terakhir ini sesungguhnya sinyal-sinyal aspirasi rakyat ini diteriakkan berbagai kalangan masyarakat mulai dari cendekiawan, akademisi, para gubernur dan walikota, LSM, mahasiswa, bahkan rakyat kecil dalam bentuk demo-demo di jalan. Ini namanya tak hanya customer voice, tapi sudah customer scream. Namun tetap saja teriakan-teriakan lantang rakyat tersebut nyaris tak terdengar oleh mereka. Telinga mereka tuli. Hati mereka tak peka. Mereka menjadi psikopat.

Politik = Building Brand
Apa jadinya jika para wakil rakyat abai terhadap customer voice? Ketika wakil rakyat mencederai kepercaaan yang diberikan rakyat dengan mengabaikan aspirasi dan keinginan mereka, maka cedera pula hubungan keduanya. Rakyat menjadi tak punya trust lagi pada si wakil rakyat. Dalam dunia marketing, trust adalah “roh” bagi pembentukan brand (brand building) produk di mata konsumen. Ketika trust sirna, maka sebuah produk tak akan dibeli oleh konsumen.

Dalam kehidupan bernegara, prinsip dasar marketing ini pun berlaku. Ketika trust si wakil rakyat sudah tak ada lagi di mata rakyat yang diwakilinya, maka mereka tak akan “dibeli” alias dipilih lagi di Pemilu mendatang. Sebaliknya, jika mereka bisa menjaga dan merawat trust tersebut, maka besar kemungkinan mereka akan dipilih lagi. Karena itu seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah melakukan brand building dengan cara senantiasa merawat trust dari rakyat.

Duka masih menyelimuti hati saya menyusul disahkannya UU Pilkada tak langsung dua hari lalu. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Seperti halnya Annas, saya hanya bisa mengusulkan para wakil rakyat yang telah menggolkan UU tersebut menggelar “sumpah kutukan”. Agar mereka introspeksi dan cepat insyaf, untuk mengembalikan hak rakyat dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang mereka mau. Mari jangan isi DPR/DPRD kita dengan psikopat-psikopat yang mengabaikan suara rakyat.

September 27, 2014   No Comments

Menteri Marketer

Di tengah hot-nya bursa calon menteri dalam kabinet baru, minggu ini Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu menteri nantinya haruslah jago marketing. Tujuannya, agar bisa memperkenalkan produk-produk Indonesia di luar negeri. “Contohnya, produk industri kreatif, apa yang kita nggak punya? seni pertunjukan tari, musik, video, film punya semuanya. Game, animasi, produk industri kreatif yang ada di kampung, bordir, tenun, perak, emas, ada semuanya,” jelasnya.

Lebih lanjut Jokowi mengatakan, “produk wisata kita dari ujung timur sampai barat, nggak ada yang ngalahin di dunia. Produknya ada, sekarang apa yang kita perlukan saat ini, memasarkan, memarketingi produk itu.. menteri yang berkaitan dengan itu harus mengerti soal marketing.” Jokowi sekaligus menegaskan, nantinya menteri marketer handal itu akan ditempatkan di kursi tertentu seperti Kementerian Pariwisata, Perdagangan, dan Koperasi UKM.

Pertanyaannya, apa itu menteri marketer? Saya punya beberapa kriteria seorang menteri dikatakan sebagai marketer hebat. Berikut ini beberapa diantaranya.

#1. Create Opportunity
Seorang menteri adalah seorang marketer kalau ia jeli melihat peluang dan kemudian mengambil peluang itu untuk diwujudkan melalui program-program yang inovatif, tak sekedar business as usual apalagi mengekor menteri sebelumnya. Untuk bisa tajam mengendus peluang ia harus banyak melihat, mendengar, dan bertemu dengan konsumennya; menyelami kebutuhan dan perilakunya; dan kemudian menemukan ide-ide program dan inisiatif untuk mengakuisisi, meretensi, dan membikin si konsumen loyal.

Karena itu saya berani mengatakan, mutlak bagi seorang menteri untuk selalu blusukan menyambangi konsumen di lapangan, tak cukup duduk manis di kantor dan sibuk dengan meeting-meeting. Tanpa terjun ke lapangan, mustahil ia punya sense yang tajam mengenai kebutuhan dan perilaku konsumen. Dengan nyebur dan bergumul langsung dengan konsumen, maka kita akan mendapatkan insight-insight berharga untuk menggarapnya.

Pertanyaannya, siapa konsumen di sini? Kalau ia Menteri Pariwisata misalnya, maka konsumennya ada dua. Pertama, para wisatawan domestik maupun mancanegara yang harus digaet (diakuisisi, diretensi, dan dibikin loyal). Kedua, para pelaku dan stakeholder pariwisata (hotel, maskapai penerbangan, agensi travel, pengelola destinasi wisata, pelaku industri kreatif, dsb) yang harus dikembangkan daya saingnya sehingga produk dan layanan pariwisata yang mereka tawarkan memiliki daya saing lokal maupun global.

#2. Sell Idea
Setelah blusukan menggumuli konsumen dan menemukan peluang, maka si menteri harus bisa menciptakan ide-ide produk dan program yang cerdas dan kemudian menjualnya ke konsumen yang ditarget. Ia harus mampu mengemas ide produk dan program demikian atraktif sehingga mampu menarik minat si konsumen. Untuk bisa menjual ide produk dan program maka tak bisa tidak si menteri harus membangun hubungan (relationship) dengan konsumen dan memiliki jejaring (network) pasar yang solid dan massif, baik di dalam maupun di luar negeri.

Untuk gampangnya ambil contoh Menteri Koordinator Penanaman Modal. Sebagai seorang marketer ia harus mampu mengemas potensi-potensi investasi secara atraktif dan kemudian piawai menawarkan dan memasarkannya ke para investor. Untuk bisa melakukannya maka ia harus tahu persis apa kebutuhan dan perilaku dari para investor dan mampu memenuhi kebutuhan itu dan memuaskannya. Tak cukup hanya itu, ia juga harus memiliki network kalangan investor di dalam maupun di luar negeri.

#3. Build Brand
Agar produk memiliki nilai jual yang tinggi di pasar maka si menteri arus mampu mengembangkan program-program kreatif untuk menciptakan nilai tambah yang tinggi kepada produk tersebut. Proses membangun nilai tambah produk inilah yang disebut “brand-building”. Ingat, building brand adalah tugas terpenting seorang marketer, bahkan saya berani mengatakan, “mission of a marketer is building brand. It’s his reason for being”.

Ambil contoh Menteri Koperasi dan UKM. Sebagai marketer ia haruslah mampu menciptakan progrm-program kreatif untuk mendorong pelaku koperasi dan UKM menghasilkan produk-produk yang memiliki brand kuat dan berdaya saing tinggi di pasar. Hebatnya Starbucks adalah ketika ia mampu menjual kopi yang kalau tidak di apa-apakan hanya laku Rp. 3.000, tapi ketika disuntikkan nilai tambah alias telah telah mengalami proses brand building kini berharga Rp. 30.000.

Nah, seorang menteri haruslah seorang brand builder. Tak ada gunanya ia jago menjual tapi sebatas menjual kopi seharga Rp. 3000, bukannya seperti Starbucks seharga Rp. 30.000. Indonesia akan menjadi negara besar jika jutaan koperasi dan UKM yang kita miliki didorong untuk menciptakan produk yang memiliki brand kita seperti halnya Starbucks. Kalau sampai jutaan koperasi dan UKM tersebut mampu menyulap kopi, cokelat, buah-buahan, sayur-sayuran, beragam kuliner Nusantara, hingga aneka kerajinan di berbagai daerah menjadi produk bernilai tinggi dan memiliki brand kuat seperti halnya Starbucks, wow alangkah majunya negeri ini.

#3. Action, Acion, Action
Seorang menteri blusukan, mendapatkan insight-insight berharga dari konsumen, dan menghasilkan ide-ide produk dan program yang luar biasa tak akan ada gunanya kalau tidak di eksekusi secara kongkrit. Inilah ujian terakhir dari seorang marketer: mengeksekusi, mengambil risiko atas kegagalan yang mungkin terjadi, dan memecahkan seluruh persoalan yang muncul selama eksekusi. Di sinilah keberanian dan nyali sekaligus persistensi dan daya tahan seorang menteri marketer diuji.

Karena itu saya mengatakan menteri marketer adalah seorang executor, risk taker, sekaligus problem solver. Menteri marketer bukanlah sosok yang jago pidato dan meeting-meeting koordinasi melulu, tapi tak becus mengimplementasi program-program dan memecahkan semua persoalan di lapangan. Ia haruslah terampil memobilisasi sumber daya dan piawai menggerakan dan memotivasi seluruh stakeholders-nya untuk mewujudkan visi dan program yang ia canangkan.

Semoga janji Jokowi menempatkan menteri-menteri marketertak hanya sebatas pepesan kosong.

September 13, 2014   2 Comments

Brand as a Movement

Membangun brand kini tak cukup hanya pakai iklan dan promosi. Bahkan membangun brand dengan iklan kini sudah dianggap jadul, boring, dan tidak keren. “Yang sedang cool sekarang adalah membangun brand sebagai sebuah movement,” kata teman saya @Handoko_H, penulis buku hebat Brand Gardener. “Movement bisa menjadi cool factor bagi sebuah brand,” ujarnya. Movement bisa menjadi unsur pembeda (differentiating factor) bagi sebuah brand dibanding pesaingnya.

Apa itu brand as a movement? Sebelum sampai ke situ, saya ingin melihat tantangan-tantangan bisnis terkait dengan persoalan-persoalan sosial di masyarakat. Persoalan sosial kemasyarakan saat ini kian memprihatinkan mulai dari persoalan kemiskinan, kesehatan, infrastruktur, kemacetan, korupsi, hingga degradasi lingkungan.

Celakanya, biang di balik persoalan-persoalan itu rupanya adalah kalangan bisnis sendiri. Bisnis dianggap sebagai biang dari kian kurusnya bumi dan turunnya kualitas lingkungan. Bisnis juga musabab dari segepok problem sosial dari kesehatan, pendidikan, hingga korupsi. Bahkan bisnis juga kontributor persoalan-persoalan ekonomi dari kemiskinan hingga ketidakberdayaan masyarakat tertinggal.

Dengan background seperti itu, maka dunia bisnis tak bisa cuci tangan menganggap semua persoalan itu adalah tanggung jawab pemerintah. Kalangan bisnis harus peduli dan turun tangan untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan itu. Nah, upaya membangun brand dengan cara mengusung gerakan untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan inilah yang saya sebut branding as a movement.

Mengayomi Wong Cilik
Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke PT KML yang didirikan teman saya pak Nadjikh. Sosok satu ini hebat karena dalam mengembangakan usaha, ia mengusung semangat branding as movement. Ia puluhan pabrik pengolahan ikan di berbagai pantai perairan Nusantara dengan satu tujuan mulia untuk mengangkat harkat-martabat nelayan kita. Berbeda dengan kebanyakan pengusaha besar konglomerat yang serakah menguasai bisnis dari hulu hingga hilir, pak Nadjikh fokus hanya mengembangkan industri pengolahan ikan dimana bahan bakunya ia beli dari para nelayan.

Sengaja ia tak melebarkan bisnisnya di usaha penangkapan ikan dengan kapal-kapal besar nan modern, karena ia sadar itu menjadi “jatahnya” para nelayan. Misinya satu, untuk memutus rantai kemiskinan nalayan. Harap diketahui, dari waktu ke waktu pekerjaan sebagai nelayan kini semakin tidak menguntungkan karena ulah tengkulak. Akibatnya, banyak nelayan kita pada lari ke kota untuk menjadi tukang batu.

Alih-alih menjadi predator yang memberangus sumber nafkah nelayan, KML justru mengayomi mereka dengan memberikan kepastian harga dan bisnis yang saling menguntungkan. Saat ini bisnis KML didukung oleh 600 UKM (pengepul) dan 125 ribu nelayan di sepanjang perairan Nusantara mulai dari Gresik, Madura, Makassar, Kendari, hingga Ambon. KML menjadi semacam bapak angkat bagi nelayan. Apa yang dilakukan KML tak lain adalah sebuah gerakan untuk memberdayakan nelayan hingga mencapai kehidupan yang lebih baik.

Solusi Penuh Kearifan
Dalam spirit yang sama Singgih Kartono dengan Radio Magno melakukan brand building dengan cara menggelar sebuah gerakan pemberdayaan desa. Radio Magno sepintas memang hanya seonggok kayu dengan sedikit komponen elektronik di dalamnya. Namun di balik itu terdapat sebuah idealisme luar biasa mengenai bagaimana sebuah desa seharusnya merespons kapitalisme dan globalisasi yang destruktif dengan pendekatan yang lebih arif dan manusiawi. Melalui Radio Magno, Singgih ingin menjadikan Kandangan, desa tempat lahirnya, sebagai model solusi alternatif bagi persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kehidupan desa Kandangan mengalami kemunduran sistematis baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan sebagai akibat pendekatan pembangunan yang parsial dan instan. Kegagalan sektor pertanian misalnya, menjadikan warga desa jatuh miskin dan kemudian lari ke kota menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan. Mereka yang tetap tinggal miskin di desa melakukan apapun untuk bisa survive hidup termasuk merambah hutan yang berpotensi merusak lingkungan.

Bisnis Singgih dibesut dengan spirit untuk memecahkan persoalan yang tipikal dihadapi seluruh desa di negeri ini. Untuk membendung laju urbanisasi, Radio Magno mengambil pekerja tidak terampil dari desa yang pelan-pelan dibangun kemampuannya hingga berkelas dunia. Ya, karena pasar utama Radio Magno adalah Jepang, Amerika, dan Eropa. Ia juga menanam hutan (replant) di daerah pinggiran desa seluas sekitar 10 hektar. Untuk radio kayunya, ia hanya memenfaatkan 0,5 hektar saja dengan prinsip “cut less, plant more”.

Dua pemimpin bisnis hebat di atas memiliki niat ingsun yang sama, yaitu mengusung misi mulia memecahkan persoalan-persoalan sosial yang hadir di masyarakat. Dengan memecahkan persoalan-persoalan aktual masyarakat, by default mereka menciptakan emotional connection dengan konsumen, partner bisnis, pemasok, dan segenap anggota stakeolders. Dengan memecahkan persoalan-persoalan sosial sesungguhnya mereka membangun reputasi, kepercayaan (trust), bahkan loyalitas dengan segenap stakeholders tersebut.

Dengan kata lain, dengan berkontribusi kepada masyarakat, sesungguhnya sedang melakukan brand building. Sebuah brand building yang tak hanya pencitraan, semu, dan selfish, tapi brand building yang solutif, rahmatan lil alamin, dan mulia.

 

August 30, 2014   4 Comments