E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Jomblo Lifestyle

Jomblo di masa lalu adalah sebuah aib memalukan. Namun sekarang, ia menjadi sebuah simbol sosial yang keren, cool, awasome. Saya nggak tahu kenapa bisa demikian. Mungkin ini yang disebut jaman edan. Semua serba kebolak-balik.

Ketika sebuah bangsa makin maju. Ketika masyarakatnya makin makmur. Dan ketika pola kehidupannya kian industrial-urban, maka kecenderungan mereka untuk tidak menikah menjadi kian besar. Di negara tetangga Singapura misalnya, satu dari lima warganegaranya ogah menikah dengan alasan macam-macam: mengejar karir, menghindari beban ekonomi yang berat, nggak mau repot, hingga alasan lifestyle. Seperti Singapura, di negeri ini jumlah jombloers pun kian merangkak naik.

Lifestyle
Bakal maraknya jombloers di Indonesia tak lepas dari revolusi kelas menengah yang memicu mobilitas sosial massif selama sekitar lima tahun terakhir. Saya sering mengatakan masyarakat kelas menengah memiliki tiga ciri. Mereka memiliki daya beli yang makin tinggi, knowledgeable, dan socially-connected. Mobilitas sosial ini menciptakan pergeserangaya hidup rural-agraris-tradisionalis menjadi urban-industrialist-modern.

Data BPS tahun 2010 mengatakan, usia kawin pertama (UKP) masyarakat kita adalah 22,3 tahun untuk wanita dan 25,7 untuk laki-laki. Coba bandingkan dengan UKP orang tua kita dahulu yang rata-rata sudah menikah di bawah usia 20 tahun. Tak bisa dipungkiri, merangkak naiknya UKP ini adalah buah dari pendidikan dan naik knowledgeability mereka.

Yang saya amati, naiknya sikap menunda perkawinan dan menjomblo kini tak hanya dipengaruhi faktor rasional (faktor ekonomi, umur, karir, kesiapan mental) berkat naiknya knowledgeability mereka. Sikap menjomblo ini kini juga mulai dipengaruhi oleh faktor koneksi sosial (social connetion), dimana “siapa kita” di mata kolega, teman, komunitas, dan lingkungan kita menjadi demikian penting.

Masyarakat kelas menengah kita makin socially-connected yang didorong oleh pertumbuhan media sosial dimana eksis, narsis, ekspresi diri, dan pencitraan menjadi sesuatu yang penting dan bermakna. Ketika mereka semakin socially-connected, maka fenomena menjomblo memasuki babakan baru dimana alasan menjomblo tak lagi sebatas rasional-fungsional, tapi mulai memasuki ranah emosional-sosial. Menjomblo adalah sebuah pernyataan dan penanda identitas diri. Bahkan sikap menjomblo menjadi alat ekspresi diri dan pencitraan. Hasilnya, kini menjomblo bermetamorfse menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang keren, cool, dan awasome.

Hot Topic
Kalau dulu obrolan mengenai jomblo merupakan aib bagi empunya, maka kini sebaliknya, menjadi topik pembicaraan yang begitu atraktif. Di media sosial kini banyak kita temuai ekspresi kreatif dalam bentuk meme terkait jomblo. Meskipun ceritanya satire, isu jomblo menjadi cerita unik yang hangat diperbincangkan di ranah maya. Bahkan, ada beberapa blog yang secara serius menggarap isu jomblo.

Saking hot-nya, terkadang status jomblo menjadi sasaran empuk di lini masa sebagai objek sindiran dan satire yang justru mengasyikan. Hal atau momen apapun kerap dikait-kaitkan dengan jomblo. Contohnya saat 17 Agustus lalu, para netizen sibuk buat meme di media sosial mengenai lomba 17 Agustusan yang paling cocok untuk jomblo. Saking menariknya, meme ini sempat jadi trending topic di media sosial. Inilah fenomena isu tentang jomblo sangat menarik banyak orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kata “galau” dan “galauers” yang bisa menggambarkan pergumulan batin seorang jomblo menjadi sebuah magic word yang diminati untuk diperbincangkan. Beberapa situs secara cukup serius mengangkat isu seputar jomblo dan membangun komunitas jombloers. Situs ini mencoba membangun identitas, kepercayaan diri, dan kebanggaan di kalangan anggotanya. Jomblo.com misalnya, menebarkan ungkapan motivatif di front page-nya dengan kata-kata seperti: “Jadikan hidupmu lebih positif, terhubung selalu dengan temanmu, dan buat hidupmu lebih berwarna.”

Biro Jodoh Laris Manis
Dari sisi industri, saya melihat industri yang menyasar segmen jomblo secara khusus sedang booming di Tanah Air. Contohnya adalah bisnis biro jodoh atau mak comblang (matchmaker) dan konsultasi kepribadian untuk soal cinta. Fenomena banyaknya biro jodoh ini baru terjadi sekitar lima tahun terakhir. Ketika ekonomi sudah mapan, daya beli meningkat, tapi kesempatan dan keahlian menggaet calon pasangan hidup tak memadai, maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online.

Bisnis biro jodoh ini tumbuh luar biasa, seiring besarnya pula populasi jomblo di negeri ini. Kini mulai banyak orang yang memiliki lisensi matchmaker dari Amerika Serikat atau Eropa. Hitman System misalnya, adalah sebuah perusahaan relationship coach untuk percintaan. Hampir setiap bulan, Hitman System kerap membuat event seminar atau workshop untuk para jomblo. Saking hot-nya industri perjombloan, artis Christian Sugiono yang dikenal memiliki situs www.malesbanget.com pun kini membuka layanan biro jodoh online www.setipe.com.

Saking hot-nya bisnis perjombloan ini, beberapa biro jodoh membuka layanan biro jodoh untuk segmen muslim. Mereka mempertemukan pasangan sesama muslim. Contohnya adalah biro jodoh online www.syifa.com dan www.jodohislam.net. Selama ini, masyarakat muslim yang taat terhadap ajaran agamanya akan cenderung memilih pasangan hidupnya yang sama. Ini adalah niche market, sehingga model platform mencari pasangannya pun berbeda.

Seiring maraknya populasi jombloers di Indonesia, pasar jomblo akan kian moncer. Yuk marketer!!! Action now, or never… bergerak sekarang juga, atau Anda nggak akan dapat apa-apa. (ditulis bersama Iryan Herdiansyah, Business Analyst, Inventure).

October 25, 2014   No Comments

Customer Voice

Ada satu pelajaran yang harus dimengerti dan harus dipraktikan oleh para wakil rakyat (yang kemarin memberikan voting Pilkada tak langsung) dari sosok seorang marketer. Kualitas personal paripurna (ultimate) dari seorang marketer adalah kemampuannya mendengarkan suara-suara halus keinginan konsumen. Di dalam dunia marketing itu disebut, customer voice. Kualitas ini begitu penting sehingga saya berani mengatakan bahwa, “listening to the voice of customer is marketer’s reason for being.”

Kehebatan paripurna seorang marketer bukanlah ditentukan oleh kemampuannya dalam jualan dan menawarkan produk. Bagi saya kehebatan paripurna seorang marketer adalah kemampuannya dalam mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan, strategi, dan program yang pas untuk memenuhi keinginan dan harapan tersebut. Di dalam dunia marketing kebijakan, strategi, dan program terbaik adalah yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan konsumen. Kebijakan, strategi, dan program marketing secanggih dan sehebat apapun akan gugur ketika ia menyimpang dan mencederai konsumen.

Begitupun, kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah bebal terhadap suara hati konsumen dan abai terhadapa aspirasi mereka. Kegagalan terbesar seorang marketer adalah ketika ia sudah menjadi “psikopat” yang tak lagi memiliki kepekaan dalam membaca kegelisahan dan keluh-kesah konsumen.

Untuk itulah riset konsumen (baik formal maupun informal) menjadi demikian penting dalam dunia marketing untuk mendengar dan menangkap desir-desir suara halus konsumen. Riset konsumen belakangan begitu populer dan menjadi buzzword luar biasa saat Jokowi naik ke panggung politik Pilkada DKI Jakarta dengan istilah Jawa yang cool yaitu: blusukan.

Wakil Rakyat = Marketer
Wakil rakyat haruslah punya karakter dasar seorang marketer. Seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah selalu mendengarkan customer voice dari konstituen yang diwakilinya, yaitu rakyat. Mereka harus mampu mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan (dalam bentuk perundang-undangan) yang sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.

Seperti halnya marketer, wakil rakyat haruslah menempatkan peran “mendengarkan suara-suara lirih konstituen” sebagai reason for being. Itu artinya, jikalau mereka sudah tak mampu lagi memerankan fungsi itu, maka secara otomatis keberadaannya patut dipertanyakan. Kalau itu terjadi, meminjam istilah Annas Urbaningrum saat divonis di pengadilan korupsi kemarin, sudah waktunya para wakil rakyat itu melakukan “sumpah kutukan” (hehehe…).

Nah, dalam konteks wakil rakyat yang harus memainkan karakter marketer, saya menjadi sedih melihat drama pengesahan UU Pilkada Jumat (26/9) dinihari. Yang saya saksikan di ruang sidang yang amat mulia di gedung DPR itu bukanlah sosok-sosok negarawan yang empati terhadap suara-suara rakyat, tapi “psikopat-psikopat” yang bebal dan abai terhadap keinginan dan harapan konstituen yang mereka wakili. Mereka berjuang mengatur strategi untuk kepentingan diri dan kelompak mereka dan dengan vulgar mencederai kepentingan dan kemauan rakyat.

Kenapa saya sebut mereka psikopat? Karena mereka sudah tak memiliki sedikitpun kepekaan mendegar customer voice. Karena mereka tak punya empati pada kegelisahan dan kegalauan rakyat. Bahkan mereka telah abai terhadap kemauan dan kepentingan rakyat. Mereka tega memperkosa kepentingan rakyat, diplintar-plintir sedemikian rupa agar mengabdi kepentingan pribadi dan golongan mereka.

Sudah sebulan terakhir ini sesungguhnya sinyal-sinyal aspirasi rakyat ini diteriakkan berbagai kalangan masyarakat mulai dari cendekiawan, akademisi, para gubernur dan walikota, LSM, mahasiswa, bahkan rakyat kecil dalam bentuk demo-demo di jalan. Ini namanya tak hanya customer voice, tapi sudah customer scream. Namun tetap saja teriakan-teriakan lantang rakyat tersebut nyaris tak terdengar oleh mereka. Telinga mereka tuli. Hati mereka tak peka. Mereka menjadi psikopat.

Politik = Building Brand
Apa jadinya jika para wakil rakyat abai terhadap customer voice? Ketika wakil rakyat mencederai kepercaaan yang diberikan rakyat dengan mengabaikan aspirasi dan keinginan mereka, maka cedera pula hubungan keduanya. Rakyat menjadi tak punya trust lagi pada si wakil rakyat. Dalam dunia marketing, trust adalah “roh” bagi pembentukan brand (brand building) produk di mata konsumen. Ketika trust sirna, maka sebuah produk tak akan dibeli oleh konsumen.

Dalam kehidupan bernegara, prinsip dasar marketing ini pun berlaku. Ketika trust si wakil rakyat sudah tak ada lagi di mata rakyat yang diwakilinya, maka mereka tak akan “dibeli” alias dipilih lagi di Pemilu mendatang. Sebaliknya, jika mereka bisa menjaga dan merawat trust tersebut, maka besar kemungkinan mereka akan dipilih lagi. Karena itu seperti halnya marketer, seorang wakil rakyat haruslah melakukan brand building dengan cara senantiasa merawat trust dari rakyat.

Duka masih menyelimuti hati saya menyusul disahkannya UU Pilkada tak langsung dua hari lalu. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Seperti halnya Annas, saya hanya bisa mengusulkan para wakil rakyat yang telah menggolkan UU tersebut menggelar “sumpah kutukan”. Agar mereka introspeksi dan cepat insyaf, untuk mengembalikan hak rakyat dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang mereka mau. Mari jangan isi DPR/DPRD kita dengan psikopat-psikopat yang mengabaikan suara rakyat.

September 27, 2014   No Comments

Menteri Marketer

Di tengah hot-nya bursa calon menteri dalam kabinet baru, minggu ini Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu menteri nantinya haruslah jago marketing. Tujuannya, agar bisa memperkenalkan produk-produk Indonesia di luar negeri. “Contohnya, produk industri kreatif, apa yang kita nggak punya? seni pertunjukan tari, musik, video, film punya semuanya. Game, animasi, produk industri kreatif yang ada di kampung, bordir, tenun, perak, emas, ada semuanya,” jelasnya.

Lebih lanjut Jokowi mengatakan, “produk wisata kita dari ujung timur sampai barat, nggak ada yang ngalahin di dunia. Produknya ada, sekarang apa yang kita perlukan saat ini, memasarkan, memarketingi produk itu.. menteri yang berkaitan dengan itu harus mengerti soal marketing.” Jokowi sekaligus menegaskan, nantinya menteri marketer handal itu akan ditempatkan di kursi tertentu seperti Kementerian Pariwisata, Perdagangan, dan Koperasi UKM.

Pertanyaannya, apa itu menteri marketer? Saya punya beberapa kriteria seorang menteri dikatakan sebagai marketer hebat. Berikut ini beberapa diantaranya.

#1. Create Opportunity
Seorang menteri adalah seorang marketer kalau ia jeli melihat peluang dan kemudian mengambil peluang itu untuk diwujudkan melalui program-program yang inovatif, tak sekedar business as usual apalagi mengekor menteri sebelumnya. Untuk bisa tajam mengendus peluang ia harus banyak melihat, mendengar, dan bertemu dengan konsumennya; menyelami kebutuhan dan perilakunya; dan kemudian menemukan ide-ide program dan inisiatif untuk mengakuisisi, meretensi, dan membikin si konsumen loyal.

Karena itu saya berani mengatakan, mutlak bagi seorang menteri untuk selalu blusukan menyambangi konsumen di lapangan, tak cukup duduk manis di kantor dan sibuk dengan meeting-meeting. Tanpa terjun ke lapangan, mustahil ia punya sense yang tajam mengenai kebutuhan dan perilaku konsumen. Dengan nyebur dan bergumul langsung dengan konsumen, maka kita akan mendapatkan insight-insight berharga untuk menggarapnya.

Pertanyaannya, siapa konsumen di sini? Kalau ia Menteri Pariwisata misalnya, maka konsumennya ada dua. Pertama, para wisatawan domestik maupun mancanegara yang harus digaet (diakuisisi, diretensi, dan dibikin loyal). Kedua, para pelaku dan stakeholder pariwisata (hotel, maskapai penerbangan, agensi travel, pengelola destinasi wisata, pelaku industri kreatif, dsb) yang harus dikembangkan daya saingnya sehingga produk dan layanan pariwisata yang mereka tawarkan memiliki daya saing lokal maupun global.

#2. Sell Idea
Setelah blusukan menggumuli konsumen dan menemukan peluang, maka si menteri harus bisa menciptakan ide-ide produk dan program yang cerdas dan kemudian menjualnya ke konsumen yang ditarget. Ia harus mampu mengemas ide produk dan program demikian atraktif sehingga mampu menarik minat si konsumen. Untuk bisa menjual ide produk dan program maka tak bisa tidak si menteri harus membangun hubungan (relationship) dengan konsumen dan memiliki jejaring (network) pasar yang solid dan massif, baik di dalam maupun di luar negeri.

Untuk gampangnya ambil contoh Menteri Koordinator Penanaman Modal. Sebagai seorang marketer ia harus mampu mengemas potensi-potensi investasi secara atraktif dan kemudian piawai menawarkan dan memasarkannya ke para investor. Untuk bisa melakukannya maka ia harus tahu persis apa kebutuhan dan perilaku dari para investor dan mampu memenuhi kebutuhan itu dan memuaskannya. Tak cukup hanya itu, ia juga harus memiliki network kalangan investor di dalam maupun di luar negeri.

#3. Build Brand
Agar produk memiliki nilai jual yang tinggi di pasar maka si menteri arus mampu mengembangkan program-program kreatif untuk menciptakan nilai tambah yang tinggi kepada produk tersebut. Proses membangun nilai tambah produk inilah yang disebut “brand-building”. Ingat, building brand adalah tugas terpenting seorang marketer, bahkan saya berani mengatakan, “mission of a marketer is building brand. It’s his reason for being”.

Ambil contoh Menteri Koperasi dan UKM. Sebagai marketer ia haruslah mampu menciptakan progrm-program kreatif untuk mendorong pelaku koperasi dan UKM menghasilkan produk-produk yang memiliki brand kuat dan berdaya saing tinggi di pasar. Hebatnya Starbucks adalah ketika ia mampu menjual kopi yang kalau tidak di apa-apakan hanya laku Rp. 3.000, tapi ketika disuntikkan nilai tambah alias telah telah mengalami proses brand building kini berharga Rp. 30.000.

Nah, seorang menteri haruslah seorang brand builder. Tak ada gunanya ia jago menjual tapi sebatas menjual kopi seharga Rp. 3000, bukannya seperti Starbucks seharga Rp. 30.000. Indonesia akan menjadi negara besar jika jutaan koperasi dan UKM yang kita miliki didorong untuk menciptakan produk yang memiliki brand kita seperti halnya Starbucks. Kalau sampai jutaan koperasi dan UKM tersebut mampu menyulap kopi, cokelat, buah-buahan, sayur-sayuran, beragam kuliner Nusantara, hingga aneka kerajinan di berbagai daerah menjadi produk bernilai tinggi dan memiliki brand kuat seperti halnya Starbucks, wow alangkah majunya negeri ini.

#3. Action, Acion, Action
Seorang menteri blusukan, mendapatkan insight-insight berharga dari konsumen, dan menghasilkan ide-ide produk dan program yang luar biasa tak akan ada gunanya kalau tidak di eksekusi secara kongkrit. Inilah ujian terakhir dari seorang marketer: mengeksekusi, mengambil risiko atas kegagalan yang mungkin terjadi, dan memecahkan seluruh persoalan yang muncul selama eksekusi. Di sinilah keberanian dan nyali sekaligus persistensi dan daya tahan seorang menteri marketer diuji.

Karena itu saya mengatakan menteri marketer adalah seorang executor, risk taker, sekaligus problem solver. Menteri marketer bukanlah sosok yang jago pidato dan meeting-meeting koordinasi melulu, tapi tak becus mengimplementasi program-program dan memecahkan semua persoalan di lapangan. Ia haruslah terampil memobilisasi sumber daya dan piawai menggerakan dan memotivasi seluruh stakeholders-nya untuk mewujudkan visi dan program yang ia canangkan.

Semoga janji Jokowi menempatkan menteri-menteri marketertak hanya sebatas pepesan kosong.

September 13, 2014   2 Comments

Brand as a Movement

Membangun brand kini tak cukup hanya pakai iklan dan promosi. Bahkan membangun brand dengan iklan kini sudah dianggap jadul, boring, dan tidak keren. “Yang sedang cool sekarang adalah membangun brand sebagai sebuah movement,” kata teman saya @Handoko_H, penulis buku hebat Brand Gardener. “Movement bisa menjadi cool factor bagi sebuah brand,” ujarnya. Movement bisa menjadi unsur pembeda (differentiating factor) bagi sebuah brand dibanding pesaingnya.

Apa itu brand as a movement? Sebelum sampai ke situ, saya ingin melihat tantangan-tantangan bisnis terkait dengan persoalan-persoalan sosial di masyarakat. Persoalan sosial kemasyarakan saat ini kian memprihatinkan mulai dari persoalan kemiskinan, kesehatan, infrastruktur, kemacetan, korupsi, hingga degradasi lingkungan.

Celakanya, biang di balik persoalan-persoalan itu rupanya adalah kalangan bisnis sendiri. Bisnis dianggap sebagai biang dari kian kurusnya bumi dan turunnya kualitas lingkungan. Bisnis juga musabab dari segepok problem sosial dari kesehatan, pendidikan, hingga korupsi. Bahkan bisnis juga kontributor persoalan-persoalan ekonomi dari kemiskinan hingga ketidakberdayaan masyarakat tertinggal.

Dengan background seperti itu, maka dunia bisnis tak bisa cuci tangan menganggap semua persoalan itu adalah tanggung jawab pemerintah. Kalangan bisnis harus peduli dan turun tangan untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan itu. Nah, upaya membangun brand dengan cara mengusung gerakan untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan inilah yang saya sebut branding as a movement.

Mengayomi Wong Cilik
Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke PT KML yang didirikan teman saya pak Nadjikh. Sosok satu ini hebat karena dalam mengembangakan usaha, ia mengusung semangat branding as movement. Ia puluhan pabrik pengolahan ikan di berbagai pantai perairan Nusantara dengan satu tujuan mulia untuk mengangkat harkat-martabat nelayan kita. Berbeda dengan kebanyakan pengusaha besar konglomerat yang serakah menguasai bisnis dari hulu hingga hilir, pak Nadjikh fokus hanya mengembangkan industri pengolahan ikan dimana bahan bakunya ia beli dari para nelayan.

Sengaja ia tak melebarkan bisnisnya di usaha penangkapan ikan dengan kapal-kapal besar nan modern, karena ia sadar itu menjadi “jatahnya” para nelayan. Misinya satu, untuk memutus rantai kemiskinan nalayan. Harap diketahui, dari waktu ke waktu pekerjaan sebagai nelayan kini semakin tidak menguntungkan karena ulah tengkulak. Akibatnya, banyak nelayan kita pada lari ke kota untuk menjadi tukang batu.

Alih-alih menjadi predator yang memberangus sumber nafkah nelayan, KML justru mengayomi mereka dengan memberikan kepastian harga dan bisnis yang saling menguntungkan. Saat ini bisnis KML didukung oleh 600 UKM (pengepul) dan 125 ribu nelayan di sepanjang perairan Nusantara mulai dari Gresik, Madura, Makassar, Kendari, hingga Ambon. KML menjadi semacam bapak angkat bagi nelayan. Apa yang dilakukan KML tak lain adalah sebuah gerakan untuk memberdayakan nelayan hingga mencapai kehidupan yang lebih baik.

Solusi Penuh Kearifan
Dalam spirit yang sama Singgih Kartono dengan Radio Magno melakukan brand building dengan cara menggelar sebuah gerakan pemberdayaan desa. Radio Magno sepintas memang hanya seonggok kayu dengan sedikit komponen elektronik di dalamnya. Namun di balik itu terdapat sebuah idealisme luar biasa mengenai bagaimana sebuah desa seharusnya merespons kapitalisme dan globalisasi yang destruktif dengan pendekatan yang lebih arif dan manusiawi. Melalui Radio Magno, Singgih ingin menjadikan Kandangan, desa tempat lahirnya, sebagai model solusi alternatif bagi persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kehidupan desa Kandangan mengalami kemunduran sistematis baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan sebagai akibat pendekatan pembangunan yang parsial dan instan. Kegagalan sektor pertanian misalnya, menjadikan warga desa jatuh miskin dan kemudian lari ke kota menjadi buruh pabrik atau kuli bangunan. Mereka yang tetap tinggal miskin di desa melakukan apapun untuk bisa survive hidup termasuk merambah hutan yang berpotensi merusak lingkungan.

Bisnis Singgih dibesut dengan spirit untuk memecahkan persoalan yang tipikal dihadapi seluruh desa di negeri ini. Untuk membendung laju urbanisasi, Radio Magno mengambil pekerja tidak terampil dari desa yang pelan-pelan dibangun kemampuannya hingga berkelas dunia. Ya, karena pasar utama Radio Magno adalah Jepang, Amerika, dan Eropa. Ia juga menanam hutan (replant) di daerah pinggiran desa seluas sekitar 10 hektar. Untuk radio kayunya, ia hanya memenfaatkan 0,5 hektar saja dengan prinsip “cut less, plant more”.

Dua pemimpin bisnis hebat di atas memiliki niat ingsun yang sama, yaitu mengusung misi mulia memecahkan persoalan-persoalan sosial yang hadir di masyarakat. Dengan memecahkan persoalan-persoalan aktual masyarakat, by default mereka menciptakan emotional connection dengan konsumen, partner bisnis, pemasok, dan segenap anggota stakeolders. Dengan memecahkan persoalan-persoalan sosial sesungguhnya mereka membangun reputasi, kepercayaan (trust), bahkan loyalitas dengan segenap stakeholders tersebut.

Dengan kata lain, dengan berkontribusi kepada masyarakat, sesungguhnya sedang melakukan brand building. Sebuah brand building yang tak hanya pencitraan, semu, dan selfish, tapi brand building yang solutif, rahmatan lil alamin, dan mulia.

 

August 30, 2014   4 Comments

Livetwit “Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim”

Hari Senin (25/8) Inventure-SWA akan menggelar ajang Indonesia Middle Class Brand Forum (IMBF) III, sekaligus presentasi hasil riset Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS) bertajuk: “Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim: Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya” di Hotel Sangri-La, pkl. 12.00 -16.00 WIB. Agar temen-temen bisa mengikuti materinya, saya kaan livetwit sesi demi sesi dari seminar tersebut mulai pkl 13.00 hingga sesi terakhir pkl.16.00. Silahkan temen-temen yang ingin menyimak, pantengin TL saya di hari-H.

Sebagai informasi sekilas, seminar ini akan mengupas hasil penelitian CMCS di 6 kota besar terhadap 11 kategori industri hot yang menarget pasar muslim seperti: bank Syariah, makanan-minuman halal, fesyen hijab, hotel syariah, dsb. CMCS adalah lembaga studi yang dibentuk oleh Inventure dan majalah SWA. Pemaparan dilakukan oleh saya sendiri Yuswohady bersama partner riset saya di CMCS, Hasanuddin Ali.

Seminar juga membahas strategi membidik pasar muslim dengan menampilkan jawara-jawara pasar muslim seperti: Dinno Indiano (CEO, BNI Syariah), Salman Subakat (Director, Wardah Cosmetic), Riyanto Sofyan (Owner, Hotel Sofyan), Feni Mustafa (Owner, Shafira), Aisha Maharanie (founder, Halal Corner), Nur Effendi (Rumah Zakat), dan Yuli Pujihardi (Dompet Dhuafa), dsb. Seminar dilaksanakan pada:

Hari: Senin, 25 Agustus 2014
Waktu: Pukul 12.30-18.00
Tempat: Indonesia Room, Shangri-La Hotel, Jakarta
Tema: Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim:
“Pahami Perilakunya, Petakan Strateginya”
Hiburan: Hijab Fashion Show by Shafira dan Hijab Ayu

 

Seminar Brochure: IMBF III:

August 24, 2014   2 Comments

Ngobrolin #MiddleClassMuslim di Makassar

Yuk temen-temen Makassar, kita ngobrolin buku terbaru saya “Marketing to the Middle Class Muslim” (Gramedia, 2014) yang lagi hot. Kebetulan hari ini ada di Makassar dalam rangka workshop klien. Coba-coba menghubungi temen-temen Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Makassar dan komunitas Tangan Di Atas (TDA) Makassar, eh rupanya direspons cepet untuk bikin obrolan santai mengenai buku tersebut.

Sedikit informasi mengenai buku “Marketing to the Middle Class Muslim”, buku ini baru hadir di Toko Buku Gramedia seminggu ini, jadi masih fresh from the oven. Buku ini mencoba menguak fenomena menggeliatnya pasar kelas menengah muslim di Indonesia sejak tiga tahun terakhir. Kita tahu bank/asuransi syariah, makanan/minuman halal, fesyen hijab, kosmetik halal, investasi emas/dinar, hingga hotel syariah, saat ini tumbuh pesat di tanah air.

Untuk membidik pasar ini setiap marketer harus memahami perilaku konsumen muslim dan harus menerapkan strategi yang unik. Buku ini memberikan panduan gampang mengenai bagaimana menggarap pasar yang sedang boom ini. Informasi detail mengenai buku bisa dilihat di link ini: #MiddleClassMuslim.

Obrolan santainya akan dilakukan pada:

Hari: Sabtu, 23 Agustus 2014,
Waktu: Pukul 09.00 -12.00 WIT
Tempat: TOP 19 Cafe, Grahapena, Harian Fajar, Jl. Urip Sumohardjo, Makassar
Tema: Marketing to the Middle Class Muslim
Pembicara: Yuswohady (Penulis)

Yuk temen-temen marketer/entrepreneur Makassar!!!

August 21, 2014   No Comments

Connecting Muslim Customers

Minggu ini saya masih menulis mengenai buku anyar saya Marketing to the Middle Class Muslim. Ya, karena geliat pasarnya memang mencengangkan dan respons pembaca terhadap buku itu luar biasa. Kali ini saya akan mengupas The Principle of Engagement dalam menyasar pasar muslim. Saya katakandi buku tersebut bahwa alat paling jitu untuk meng-engage konsumen muslim adalah melalui komunitas. The most powerful approach to engage muslim market is community marketing. Kenapa?

Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan (shared purpose) yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Mereka juga memiliki kesamaan nilai-nilai (common values) dan perilaku (common behavior), yaitu nilai-nilai dan perilaku luhur seperti tertuang di dalam Al Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Kesamaan tujuan dan nilai-nilai adalah syarat dasar terbentuknya sebuah komunitas yang solid.

Jadi, by default sesungguhnya kaum muslim adalah sebuah sebuah komunitas yang memiliki tujuan besar yang sama dan antar mereka saling bersaudara, saling peduli, dan saling membantu untuk mewujudkan tujuan besar tersebut.

Pre-order “Marketing to the Middle Class Muslim” di sini

Connect
Karena by default kaum muslim adalah sebuah komunitas, maka pendekatan pemasaran yang paling ampuh untuk menggarap pasar ini adalah dengan menggunakan pendakatan komunitas (community marketing). Pemasaran komunitas sangat ampuh bagi basis konsumen muslim karena kesamaan tujuan, nilai-nilai, dan perilaku cenderung mendorong mereka untuk saling berinteraksi dan berbagi. Customer base Anda akan kokoh jika merek Anda bisa menjadi wahana untuk bertemunya mereka dan membangun relationship.

Pemahaman mengenai perilaku pelanggan yang suka saling berinteraksi dan berhubungan di dalam sebuah komunitas merupakan fondasi bagi Anda dalam memasarkan produk secara efektif. Kuncinya, Anda harus bisa menghubungkan satu konsumen dengan konsumen lain di dalam komunitas, lalu hubungkan mereka dengan merek Anda. “Connect your muslim customers to each other, then connect them to your brand.

Pesannya kemudian menjadi jelas, bahwa merek Anda harus mampu mengakomodasi pelanggan untuk membangun komunitas, dan memungkinkan setiap anggota komunitas tersebut berinteraksi satu sama lain.

Pemasaran komunitas menjadi sangat krusial bagi basis konsumen muslim karena pemasaran melalui medium ini menghasilkan pelanggan yang sangat loyal. “Customer who form a communal bond around your bran, are usually extremely loyal,” Kata Richard Cross dan Janet Smith dalam buku larisnya, Customer Bonding. Bahkan komunitas tak hanya mampu menciptakan relationship customer dan loyal customer, tapi lebih jauh lagi ia dapat membangun advocator customer.

Muslim Advocators
Advocator customer tak lain adalah jenis pelanggan yang selalu mati-matian membela merek dan produk Anda. Pelanggan yang selalu menjadi juru bicara dan “papan iklan berjalan” yang baik bagi pelanggan lain. Mereka adalah pelanggan yang marah kalau mendengar orang lain menjelek-jelekkan merek Anda.

Karena jenis pelanggan yang Anda hasilkan adalah advocator customer maka mereka akan cenderung menjadi salesman Anda yang sangat fanatik. Mereka akan cerita ke orang lain dan merekomendasikan merek dan produk Anda. Kita tahu rekomendasi pelanggan atau customer referral adalah alat promosi dan jualan yang sangat efektif dan ampuh mempengaruhi pelanggan prospek.

Dan harus diingat, cara ini low budget high impact karena Anda tak perlu mengeluarkan anggaran jutaan bahkan miliaran rupiah untuk iklan di koran dan televisi.

Kalau diferensiasi adalah faktor kunci untuk memenangkan persaingan, saya berani bilang, diferensiasi merek mestinya tak hanya dilakukan melalui kualitas produk yang baik, layanan yang excellent, atau teknologi yang canggih. Tapi juga melalui bagaimana Anda membangun komunitas pelanggan dan bagaimana Anda menghubungkan dan menginteraksikan satu pelanggan dengan pelanggan lain.

Di samping kualitas produk yang ekselen dan identitas kehalalan, sesungguhnya kunci kesuksesan Wardah yang lain adalah kemampuannya dalam mendekati komunitas-komunitas hijabers. Wardah aktif mendekati para community leader di lingkungan hijabers dan menggelar banyak aktivasi komunitas (community activation).

Trust Is Your Currency
Pertanyaan kemudian muncul: bagaimana kita memasarkan melalui komunitas? Harus diakui, memasarkan merek di dalam sebuah komunitas bukanlah pekerjaan gampang. Pendekatannya memang agak lain dari pendekatan konvensional. Anda sudah tak bisa lagi menggunakan paradigma produsen-konsumen dalam memasarkan merek Anda. Kenapa? Karena lingkungan di dalam komunitas bersifat egaliter dan peer to peer. Dalam buku saya CROWD: Marketing Becomes Horizontal (2008), saya menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan pemasaran horisontal.

Karena itu Anda harus smart! Posisikan merek Anda sebagai anggota komunitas, bukan sebagai produsen. Sebagai anggota komunitas Anda harus melakukan hal-hal penting berikut ini. Pertama, dorong interaksi dan komunikasi yang intensif antar sesama anggota komunitas dan lakukan lakukanlah soft-selling, bukan hard-selling dalam jualan produk.

Kedua, jalankan fungsi fasilitasi, Anda harus menjadi fasilitator yang baik bagi komunitas dan kalau Anda sudah menjadi fasilitator yang baik, bangunlah “sense of community” ke seluruh anggota.

Ketiga, saling perkenalkan antar anggota dengan satu minat (common interests) tertentu, dan dorong para anggota memberikan kontribusi kepada komunitas dan membantu anggota lain. Dan yang terakhir, ciptakan identitas, atau kalau mungkin, budaya komunitas.

Tapi di atas berbagai kiat di atas, satu hal terpenting yang harus Anda perhatikan adalah kredibilitas dan trust. Anggota sebuah komunitas selain Anda pasti akan merasa jengkel dan sebal, jika Anda terus-menerus melakukan promosi secara terang-terangan dalam komunitas itu. Mereka akan mengganggap Anda hanya memanfaatkan komunitas itu untuk kepentingan Anda semata. Kredibilitas Anda perlahan akan hilang, dan orang pun akhirnya tidak akan percaya lagi kepada Anda.

Pendeknya, bangun dulu kredibilitas Anda di dalam komunitas. Anda dapat menjadi referensi bagi komunitas itu. Jika kredibilitas Anda sudah terbentuk, lambat-laun komunitaslah yang akan “bekerja” untuk Anda, bukan sebaliknya. Word-of-mouth yang terjadi membuat Anda dikenal secara luas, tanpa perlu mengeluarkan biaya promosi yang besar.

Ikuti Seminarnya: “Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim“, 25 Agustus 2014:

August 9, 2014   2 Comments

Unique Universal Value

Kalau mau diperas ke dalam sari-patinya, maka keseluruhan isi buku baru saya Marketing to the Middle Class Muslim (Gramedia, 2014) mengandung pesan esensial yang bisa diformulasikan dalam satu kalimat berikut: “Offer unique universal value and win the competition”. Ya, tawarkan nilai universal seunik mungkin untuk memenangkan persaingan. Agar gampang diingat, singkat saja menjadi UUV alias unique universal value.

Dalam buku tersebut saya mengajukan tesis bahwa formula nilai (value formula) telah berubah ditandai dengan munculnya manfaat spiritual (spiritual benefit). Dalam mengonsumsi produk dan jasa, kini konsumen muslim Indonesia tak hanya sekedar mencari manfaat fungsional (functional benefit, Fb) dan emosional (emotional benefit, Eb) seperti sebelum-sebelumnya, tapi juga mulai mencari manfaat spiritual.

Manfaat spiritual ini terwujud jika produk dan jasa tersebut bisa menjadi “enabler” bagi mereka dalam memperkokoh keislaman dan keimanan mereka kepada Allah SWT. Ketika bank syariah menyediakan layanan pengelolaan aset yang membersihkan riba, maka bank tersebut bisa menjadi jembatan bagi si nasabah untuk memperdalam pengamalan nilai-nilai Islam yang pada gilirannya akan memperkuat sendi-sendi keimanannya.

Universal Value
Dengan berubahnya formula nilai tersebut, saya melihat bahwa nilai tertinggi bagi konsumen akan terwujud jika produsen mampu menghasilkan apa yang saya sebut sebagai nilai universal (universal value). Apa itu nilai universal? Nilai universal adalah gabungan antara manfaat produk (yang terdiri dari manfaat fungsional dan manfaat emosional) dan manfaat spiritual yang kemudian dibagi dengan biaya-biaya (cost) yang dikeluarkan oleh konsumen. Rumusannya sebagai berikut:

Nah, untuk memenangkan persaingan di pasar muslim, maka merek Anda harus mampu menghasilkan unique universal value (UUV) ke konsumen dengan menyeimbangkan manfaat produk (product benefit) dan manfaat spiritual (spiritual benefit) secara pas. Anda harus mengombinasikan manfaat fungsional, emosional, dan spiritual dalam sebuah bauran manfaat (benefit mix) yang tepat sehingga menghasilkan value proposition yang unik kepada target konsumen muslim Anda. Anda tak bisa hanya sekedar menghasilkan manfaat fungsional dan emosional yang ekselen tapi mengesampinkan manfaat spiritual, begitu juga sebaliknya. Dalam kasus layanan perbankan syariah misalnya, Anda tak bisa mengandalkan kesyariahan layanan Anda, tapi kemudian tak menghiraukan layanan ATM yang banyak, mobile dan internet banking yang convenient, atau retail banking officer (RBO) yang sigap memberikan solusi.

Point of Differentiation
Wardah memiliki keotentikan sebagai merek Islami, tapi kesuksesan Wardah tak melulu ditopang oleh faktor tersebut. Sejak awal dirintis Nurhayati, Wardah sudah mengedepankan manfaat produk baik fungsional maupun emosional. Dari sisi fungsional Wardah menawarkan produk berkualitas prima dari bahan-bahan alami yang aman untuk kulit. Produk-produk tersebut diramu oleh para ahli farmasi dan dermatologi dengan memanfaatkan teknologi canggih. Dari sisi emosional, Wardah memberikan kecantikan yang menginspirasi (beauty that inspires), bahwa kecantikan tak melulu dari segi fisik, tapi juga karakter dan kepribadian yang mulia.

Jadi kesuksesan Wardah terletak pada kemampuannya meramu manfaat universal yang merupakan kombinasi antara manfaat fungsional dan emosional dengan kepatuhan pada nilai-nilai Islam (manfaat spiritual). Dalam kasus Wardah manfaat spiritual ini menjadi faktor pembeda (point of differentiation) dalam menghadapi merek-merek kosmetik konvensional. Faktor pembeda ini menjadi sangat kokoh karena sebagai merek Islami, Wardah telah mencapai level authenticity.

Dompet Dhuafa punya pola lain lagi dalam menawarkan universal value kepada konsumennya yaitu para pemberi zakat dan sedekah. Kalau point of differentiation Wardah terletak pada aspek manfaat spiritual yaitu kepatuhan pada prinsip-prinsip kehalalan, maka Dompet Dhuafa justru mengandalkan aspek manfaat fungsional dan emosional.

Hal ini tercermin dari program-program yang dibesutnya. Dompet Dhuafa tak hanya menjalankan program-program distribusi zakat, pembangunan masjid, atau menyantuni anak yatim (manfaat spiritual), tapi juga program-program yang memberikan kemanfaatan umum (manfaat fungsional dan emosional) seperti pengembangan pendidikan (sekolah dan beasiswa), pembangunan rumah sakit gratis, pemberdayaan UKM, memajukan industri kreatif, pengembangan keuangan mikro, hingga pendampingan buruh migran. Dengan bauran program yang pas antara manfaat fungsional, emosional, dan spiritual Dompet Dhuafa semakin mengukuhkan positioning sebagai brand yang inklusif dan universal.

So, pesannya singkat. Kalau Anda menyasar konsumen muslim, yang terpenting Anda lakukan teringkas dalam satu kalimat: “offer unique universal value and win the competition

August 2, 2014   1 Comment

Spiritual Value

Menjelang lebaran ini banyak teman-teman di berbagai kota yang minta sharing mengenai buku anyar saya Marketing to the Middle Class Muslim (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Praktis dalam seminggu ini sekalian mudik ke Yogya saya melakukan “safari Ramadhan” (hehe..) untuk sharing buku tersebut. Di awali di Jakarta, Bandung, Solo, dan terakhir kemarin malam di Yogya. Banyak berdialog dengan teman-teman di berbagai kota saya semakin yakin bahwa kelas menengah muslim (#MiddleClassMuslim) merupakan “the hottest market in Indonesia”. Ada dua alasannya. Pertama, karena market size-nya luar biasa besar. Kedua, karena perilaku mereka bergeser 180 derajat.

Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia memang mengalami pergeseran nilai-nilai dan perilaku yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu yang menarik adalah semakin meningkatnya religiositas mereka. Semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology-savvy, justru mereka semakin mencari manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Yaitu produk dan jasa yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam.

Coba lihat fenomena berikut. Kalau dulu konsumen muslim kurang begitu konsern dengan praktek riba dalam berbank, kini mereka menjadi peduli untuk menghindari riba. Buktinya bank syariah tumbuh demikian pesat selama 15 tahun terakhir mencapai 40 persen pertahunnya. Kalau dulu mereka tak begitu peduli dengan makanan halal, kini mereka menjadi sanga peduli. Survei yang saya lakukan tahun ini terhadap masyarakat kelas menengah muslim menunjukkan, untuk produk kosmetik setidaknya 95 persen dari responden mengecek label halal saat membeli produk. Begitu pula kaum wanita muslim kini semakin konsern untuk menutup auratnya, terbukti kini mereka berlomba-lomba mengenakan hijab.

Sharing di Petakumpet Yogya

Konsumsi Sebagai Ibadah
Mereka menempatkan konsumsi produk dan jasa sebagai bagian dari kegiatan ibadah dalam rangka mematuhi perintah-perintah Tuhan serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Artinya, konsumsi terhadap produk dan jasa bukanlah berada di ruang hampa, tapi secara inheren merupakan perwujudan dari keimanan kepada Tuhan. Mereka menginginkan seluruh aspek kehidupannnya terjamah oleh unsur-unsur religi dengan menempatkannya dalam koridor nilai-nilai Islam.

Tak mengherankan jika dalam mengonsumsi makanan dan minuman kini mereka mulai tunduk pada prinsip-prinsip halal. Dalam hal berbusana mereka tak lagi sembarangan membuka aurat, khususnya untuk kaum muslimah, karena itu jelas menentang prinsip-prinsip Islam. Dalam mengelola aset mereka juga semakin peka untuk membersihkan praktek-praktek riba yang dilarang agama. Bahkan dalam urusan menginap di hotel kini pun mereka peduli bahwa hotel tersebut harus menyediakan mushola, tidak menyajikan minuman beralkohol, atau tidak membolehkan orang yang bukan mukhrim menginap dalam satu kamar.

Dalam mengonsumsi produk dan jasa, mereka tak hanya sekedar mencari manfaat fungsional dan emosional seperti sebelum-sebelumnya, tapi juga mulai mencari manfaat spiritual. Manfaat spiritual ini terwujud jika produk dan jasa tersebut bisa menjadi “enabler” bagi mereka dalam memperkokoh keislaman dan keimanan mereka kepada Allah SWT.

Apa yang didapat jika si konsumen telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan spiritualnya? Ketika telah yakin menghindari riba atau memakan makanan yang halal, maka mereka mendapatkan ketenangan jiwa, merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta, menemukan kepasrahan dan keikhlasan hidup di dunia, atau keyakinan kelak masuk surga berkat investasi amal yang sudah mereka tanamkan di dunia. Dengan manfaat spiritual, mereka merasakan keselamatan tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Formula Baru
Dalam dunia pemasaran, customer value didefinisikan sebagai manfaat-manfaat yang didapatkan oleh konsumen (benefits) dibandingkan dengan biaya-biaya yang ia keluarkan (cost). Customer value akan tinggi jika sebuah merek memberikan manfaat yang tinggi dan biaya-biaya yang rendah. Selama ini customer value umumnya hanya mengandung dua elemen yaitu manfaat fungsional (functional benefit) dan manfaat emosional (emotional benefit).

Nah, dengan adanya pergeseran konsumen yang semakin religius seperti saya uraikan di depan, kini muncul variabel manfaat baru yang kian penting dan mulai dituntut oleh konsumen kelas menengah muslim Indonesia, yaitu manfaat spiritual (spiritual value). Dengan adanya variabel baru ini, maka formula nilai (value formula) juga ikut-ikutan berubah seperti terlihat pada rumusan di bawah ini.

Apa jadinya jika formula nilai di atas berubah? Bagi para pemasar perubahan formula tersebut membawa implikasi yang luar biasa dan sangat fundamental. Dengan jumlah konsumen muslim demikian dominan mencapai 87 persen, para pemasar kini tak bisa lagi mengesampingkan mereka terhadap manfaat spiritual yang mereka butuhkan dan tuntut. Pemasaran di Indonesia harus mulai serius memasukkan manfaat spiritual tersebut dalam rumusan value proposition produk dan jasa yang ditawarkan, tentu dengan tetap mengedepankan manfaat fungsional dan emosionalnya.

Mengingat perubahan perilaku konsumen kelas menengah muslim ini masih sangat baru dan bakal berlangsung dalam waktu lama ke depan, maka Anda harus bergerak cepat. “Create a unique spiritual value!!! Get action now!!! And be the first in the market!!!

July 27, 2014   2 Comments

#Kultwit Revolusi Hijab

Tmn2, sy akan kultwit mgnai REVOLUSI HIJAB di Ind, mengacu buku anyar sy: “Marketing to the Middle Class Muslim

1. #MiddleClassMuslimah beda dg muslimah jmn dulu, kini mrk MODERN, BERWAWASAN GLOBAL, KNOWLEDGEABLE n TECHY

2. #MiddleClassMuslimah jg SOCIALLY-CONNECTED. Mrk aktif bermedia sosial spt ngeblog, Facebook n Twitter

3. #MiddleClassMuslimah jg aktif berkomunitas, itu sebabnya KOMUNITAS HIJABERS tumbuh subur sprti jamur di musim hujan

4.Semakin makmur n berpengetahuan, maka #MiddleClassMuslimah kita mjd semakin RELIGIUS

5.Di tgh gempuran globalisasi, mrk kini makin peduli utk berbusana yg sesuai dg nilai2 Islam, dg mnggunakan hijab penutup aurat

6.Seiring tumbuhnya #MiddleClassMuslimah kini muncul fenomena REVOLUSI HIJAB di Indonesia. Apa itu?

7.Yaitu fenomena dmn menggunakan hijab mjd sebuah tren gaya hidup yang meluas di kalangan #MiddleClassMuslimah Ind.

8.REVOLUSI HIJAB trjadi krn hijab sdh mjd bagian dr gaya hidup, tak hy sekedar mematuhi ketentuan2 agama

9.Klo dl mnggunakan hijab msh dianggap jadul n kampungan, mk kini mjd ssuatu yg FASHIONABLE, COOL n KEREN

10.Dulu #MiddleClassMuslimah ke ktr pakai hijab msh dianggap aneh, mk kini justru membuat mrk bangga n makin pede

11.Memakai hijab merupk bagian dr EKSPRESI DIRI sbg muslimah yg solehah, modern, open mind, knowledgeable, n techy

12.Slh satu driver tren hijab adl byknya SELEBRITI kita yg ramai2 berhijab. Mrk mendorong VIRUS revolusi hijab

13.Contoh HIJABERS CELEBRITY itu adl: Ineke Koesherawati, Zaskia, Marshanda, Dewi Sandra, dll

14.Di samping itu muncul sosok hijabers ROLE MODEL bg #MiddleClassMuslimah sprti Dian Pelangi or Fathin X Factor

15.Mrk mjd PANUTAN sbg sosok hijabers yg CANTIK, SUKSES, KREATIF, KARIR GEMILANG, n tentu SOLEHAH

16.Mrk adl POSTER CHILD bagi pr hijaber di Ind khususnya kalangan muda. Mrk mjd sosok ideal n sosok panutan

17. Revolusi hijab jg didorong oleh munculnya brand2 hijab yg cool sprti: Shafira, Zoya, Rabbani, Dian Pelangi, Irna La Perle dll.

18.Klo dulu muslimah beli hijab tak brmerek berharga murah, kini mrk mulai menyukai hijab brmerek brharga sp jutaan rupiah

19.Kini jg brmunculan HIJAB DESIGERS spt Ida Royani, Dian Pelangi, Irna Mutiara, dll yg kian mnggeliatkan psr hijab

20.Gaya fesyen hijab kini jg beragam dg mengadopsi fesyen modern sprti Threeva Style, Sarangheo Style, n Bergo Eropa Zoya Style

21.Toko Online hijab jg marak. Wajar, krn #MiddleClassMuslimah sdh biasa berselanjar di dunia maya

22.Survei Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS): 27% #MiddleClassMuslimah beli hijab scr online

23.Hijabers mnggunakan KOMUNITAS HIJABERS utk brsosialisasi, brbagi informasi, n brbagi pngalaman brhijab

24.Majalah hijab jg tumbuh subur sprti Hijabella, Paras, Noor, Aquila, Laiqa, Khasanah, Muslimah, Mosaicht, dll

25.Di samping TUTORIAL HIJAB di Youtube jg mjd favorit bg #MiddleClassMuslimah utk mengikuti tren gaya hijab

26.Dulu, hijab tak pernah masuk dunia catwalk, kini HIJAB FASHION SHOW massif berlagsung di brbagai kota

27.Kini hampir tiap bln ada HIJAB FASHION SHOW sprti IIFF, IFW, JIFW, dll

28.Ramainya industri, disainer, n event hijab merupk modal bg Ind utk mjd World’s Center of Islamic Fashion

29.Ind berpotensi mjd pusat fesyen muslim dunia krn fesyen muslim kita inklusif n dinamis menyerap pengaruh fesyen global

30.Mari wujudkan Indonesia sbg World’s Center of Islamic Fashion, Bersama kita bisa!!!

July 22, 2014   2 Comments