E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Lebaran Zaman Now (1)

Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur lebaran lebih panjang; cairnya THR bagi PNS dan pensiunan; dan beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Download ebook-nya di: bit.ly/lebaranzamannow2018

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat. Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama lebaran mencapai Rp 188 triliun, seentara sirkulasi uang melalui remittance menurut Pos Indonesia mencapai Rp 3-4 triliun. Fantastis!!!

Menyambut lebaran 2018 ini saya menyusun sebuah kajian singkat Lebaran Zaman Now yang mengungkap tren terkini terkait lebaran 2018. Tren tersebut mengungkap perilaku konsumen muslim zaman now dalam berlebaran dan menjalani ritual mudik 2018. Untuk urian lengkapnya, silahkan unduh ebook-nya di link: bit.ly/lebaranzamannow.

Untuk minggu ini saya akan menguraikan 10 tren dan insight berharga mengenai lebaran zaman now. Sementara 10 tren sisanya akan dituntaskan di kolom minggu depan.

Lebaran Zaman Now 2018

#1 Lebaran Adalah Liburan
Momen lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Sholat Ied dan halal-bihalal di kampung hanya makan setengah hari. Sisanya diisi apa? Liburan dan kulineran. Waktu libur yang cukup panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeskplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata lebaran.

#2 Lailatul Obral: The Paradox of Consumption
Setiap menjelang lebaran atau sepuluh hari terakhir ramadhan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late nite sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Di bulan suci ramadhan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin di saat lebaran. Saat harus i’tikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral”.

#3 Online Late Nite Sale
Selain mal-mal yang menggelar late nite sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce menggelar hal serupa. Antrian panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak. Tokopedia misalnya menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain untuk membangkitkan nafsu belanja…belanja…belanja!!!

#4 Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran
Bulan ramadhan dan momen mudik lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar brand. Daya beli masyarakat yang cukup tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand. Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun posko-posko yang dibuat oleh brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

#5 Mudik = Pamer Kesuksesan
Momen lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru. Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka untuk membeli smartphone di saat lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana untuk membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

#6 Mudik is Expensive… but It’s a Must
Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transporatasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji + THR pun seketika ludes… cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan. Begitu anggaran defisit, kalau perlu ngutang atau menggadaikan perhiasan.

#7 Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs
Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka kota yang identik dengan kemacetan, selama lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantong-kantong mudik di berbagai daerah. Di samping itu sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

#8 Syawalan Digital
Keriuhan bermaafan saat lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama buat teman atau kerabat yang jauh. H-1 lebaran ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan lebaran di WA, Facebook atau Twitter.

#9 Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”
Membayar zakat kini semakin techy. Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Basnaz juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman.

#10 Lebaran = Fashion War
Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah bawah juga menunggangi tren baju lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

 

June 18, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (3)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: bit.ly/muslimzamannow).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Muslim Zaman Now

Untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut adalah tren 11-15, menyambung tren-tren yang sudah dibahas di kolom minggu lalu.

#11. Ngaji-gital: The Rise of Socmed Ustadz
Dakwah yang selama ini dilakukan dengan metode pendekatan ceramah, tabligh, dan komunikasi satu arah (one-way comm) kini menjadi tidak cool lagi di mata muslim zaman now.

Bagi mereka, dakwah yang keren adalah melalui grup WA atau YouTube. Ustadz yang mereka gemari adalah ustadz gaul (Ustadz Abdul Somad, Adi Hidayat, atau Salim Fillah) yang ceramahnya renyah melalui Snapchat atau Facebook Live. Mereka menginginkan experience dakwah yang lebih dari sekedar nonton Mamah Dedeh di TV. Digital memungkinkan dakwah menjadi komunikasi dua arah dan fun.

#12. Muz-match: The New Way of Ta’aruf
Mencari jodoh memang susah-susah gampang. Diperlukan kesabaran dan sikap pantang menyerah karena jodoh memang sudah diatur oleh Allah SWT dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Jalan yang dianjurkan agama islam dalam mencari pasangan adalah melalui proses ta’aruf bukan pacaran.

Di era digital, konsep ta’aruf pun berkembang dari offline ke online. Kini bermunculan beragam apps yang menawarkan solusi dating untuk muslim-muslimah yang syar’i, alias sesuai dengan ajaran islam. Misalnya Minder yang mengadaptasi konsep Tinder, Muzmatch, Crescent, dan Salaam Swipe.

Minder

#13. The New Muslimpreneur: The New Cool
Menjadi entrepreneur kini semakin menjadi pilihan bagi generasi kekinian, termasuk muslim zaman now. Mulai banyak muslim zaman now yang memilih menjadi entrepreneur, terutama di sektor kreatif seperti kuliner, fesyen, travel hingga bisnis digital. Bisnis yang digeluti pun tak hanya menawarkan produk islami, tapi juga dikelola dengan cara yang islami.

Ria Ricis misalnya, adalah sosok muslimpreneur muda kreatif yang sukses sebagai Youtuber dan mengembangkan produk kue kekinian. Jannah Corp yang diinisiasi oleh Irwansyah dan Zaskia Sungkar cukup sukses mengembangkan bisnis kue kekinian dan kini berekspansi ke bisnis travel. Menjadi muslimpreneur adalah sesuatu yang keren (“the new cool”).

Muslimpreneur

#14. Be Part of Pop Culture
Muslim zaman now adalah konsumen yang modern, tech-savvy, dan memiliki mindset global. Mereka tumbuh dengan budaya pop sebagai identitas mereka. Walaupun Islam dan budaya pop (yang identik dengan dunia Barat) sering digambarkan saling bertentangan, namun fenomena muslim zaman now membalikkan anggapan itu. Islam dan budaya pop bisa berjalan beriringan.

Contohnya Yuna Zarai adalah seorang penyanyi berhijab yang mampu menembus pasar musik global, berkolaborasi dengan bintang Amerika Usher. Hijab tak membatasi dirinya untuk berkarya, malah sebaliknya menjadi unique selling point yang membedakannya dengan penyanyi lainnya.

Yura - Muslim Pop Culture

#15. Beyond Halal… Towards Halal Value Chain
Bagaimana cara brand mengomunikasikan kehalalan kepada muslim zaman now? Hingga hari ini, banyak brand yang masih melakukannya melalui logo sertifikasi halal. Tentu saja, hal ini tidak salah, tetapi kalau semua brand menonjolkan logo halal, maka hasil branding-nya kurang unik.

Karena itu saya meramalkan dalam beberapa tahun ke depan brand tak sekedar menonjolkan logo halalnya, tapi juga masuk ke ranah halal supply-chain, yaitu menelusur kehalalan produk ke seluruh rantai pasoknya (dari peritel, distributor, pabrik, bahkan hingga ke pemasok ahan bakunya. .

Umpamanya, brand dapat melakukan komunikasi pemasaran dengan menunjukkan proses bisnisnya secara transparan atau menerapkan nilai-nilai bisnis yang islami. Contohnya adalah yang dilakukan TipTop Swalayan. Peritel islami ini tidak begitu menonjolkan logo halal atau simbol-simbol islam. Mereka cenderung mengomunikasikan nilai-nilai perusahaan yang sangat islami, misalnya mengambil keuntungan 2-3% sesuai kaidah islam, seluruh karyawan berhijab, dan selalu mengingatkan jika waktu shalat tiba.

June 9, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (2)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: bit.ly/muslimzamannow ).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Muslim Zaman Now

Untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut adalah tren 6-10, menyambung tren-tren yang sudah dibahas di kolom minggu lalu.

#6. Soleh-Smart Kids: The New Paradigm of Parenting
Di kalangan mamah-mamah muda muslim zaman now kini muncul pergeseran mindset dan perilaku dimana mereka lebih memilih dan menyukai pendidikan berbasis Islam. Mereka tak hanya menginginkan anak-anak mereka pintar di bidang matematika, fisika, atau mahir berbahasa Inggris, tapi juga ingin anaknya memiliki nilai-nilai dan karakter Islam yang mulia.

Fenomena yang lagi happening saat ini adalah kemunculan SD Islam Terpadu (SD-IT) yang justru lebih diminati dibanding SD-SD biasa. Di berbagai kota besar/menengah di Tanah Air kini banyak bermunculan sekolah-sekolah (TK-SD-SMP-SMA) berkelas global yang menggabungkan sains dengan pendidikan karakter Islam. Sekolah-sekolah ini sangat diminati oleh orang tua muslim walaupun biayanya selangit.

#7. Lei-Sharia: Muslim-Friendly Leisure
Muslim zaman now adalah juga experience-seeker yang hobi banget melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang saya sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip sharia-friendly. Banyuwangi misalnya mulai memperkenalkan wisata pantai syariah. Kolam renang hotel syariah kini mulai tidak lagi mencampur antara tamu pria dan wanita.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal trip. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, hingga panduan doa.

Lei-Sharia

#8. Mipster: The New Role Model
Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan bahkan terkenal. Sosok muslim kekinian ini sering disebut “Mipster” atau Muslim Hipster. Mereka adalah sosok muslim zaman now yang memiliki mindset global, toleran, inklusif, digital-savvy, tapi juga tetap soleh dan religius. So, seimbang antara “faith” dan “fun” (2F).

Di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran dengan penampilan yang sangat stylish. Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di media sosial seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana.

Muzamil Hasballah

#9. Sportyjab: The New Hype
Gaya hidup sehat kini semakin menjadi pilihan bagi muslim zaman now. Berolah raga sambil narsis telah menjadi “kewajiban”. Bagi muslimah zaman now, menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab tak serta-merta membatasi aktivitas berolah raga dan aktivitas produktif lainnya. Mereka tetap jogging, nge-gym, zumba, atau berenang mengenakan hijab yang sporty. Yup, sehat dapat, syar’i pun dapat.

Melihat tren ini, Nike sampai mengembangkan lini brand baru untuk hijabers: Pro Hijab. Produk tersebut diperuntukkan bagi hijabers yang aktif berolahraga tapi tetap ingin stylish dengan hijabnya. Tak hanya Nike, brand lokal seperti Specs dan Sporte justru sudah lebih dulu mengeluarkan lini produk yang sama. Sportyjab… the new hype!

SportyJab

#10. Muslizen: the New Digital Lifestyle
Perkembangan dunia digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak bisa lepas dari gaya hidup digital. Hidup mereka sudah tergantung kepada media sosial, apps, wearable device, dan sejenisnya.

Aktivitas kehidupan sehari-hari mereka pun mulai beralih ke digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintech, travelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial seperti: HalalTrip (berlibur), Muslimarket (belanja), IndVes (berinvestasi), Kitabisa.com (sodaqoh), Minder (ta’aruf), dan sebagainya.

Tunggu 5 tren berikutnya di kolom minggu depan. Dan ebook “15 Tren Muslim Zaman Now” bisa diunduh di: bit.ly/muslimzamannow.

June 3, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (1)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: www.bit.ly/muslimzamannow ).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

M2M dan Gen M

Untuk menangkap perkembangan esat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut tren-trennya.

#1. Halal of Things: The Hot Label
Di dunia digital selama ini kita mengenal istilah “Internet of Things” (IoT). Artinya, semua peralatan apapun (TV, lemari es, mobil, hingga wearable devices) nantinya akan membentuk jejaring internet yang terkoneksi satu sama lain. Dengan menggunakan analogi yang sama saya punya istilah baru “Halal of Things (HoT) yaitu fenomena dimana seluruh produk (terutama yang terkait makanan) akan diberi label halal.

Lemari Es Halal Pertama

Labelisasi halal ini akan berlangsung begitu massif menjelang dan setelah tahun 2019 karena memang UU Jaminan Produk Halal (UU JPH) akan diterapkan di tahun tersebut. Label halal akan menjadi “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen muslim zaman now. Pemilik merek pun berlomba-lomba menggunakan label halal.

#2. Riding the Conversations
Dengan munculnya fenomena Halal of Things, pemilik brand non-makanan/minuman seperti lemari es, panci, hijab, tisue, lingerie, hingga pembalut wanita, berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Tujuannya untuk menciptakan percakapan: word of mouth dan viral di media sosial yang ujung-ujungnya melesatkan awareness produk. Mereka mencuri perhatian muslim zaman now. Tapi ingat, langkah berani ini bukannya tak membawa risiko, karena bisa menimbulkan kontroversi yang membahayakan brand: “high return, high risk… even high loss!”

#3. Hijrah: The New Way of Life
Hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi mereka, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan kerudung. Mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam dan lebih murni. Mereka, misalnya, rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya mereka yang bekerja di bank konvensional, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba). Fenomena hijrah ini banyak didorong oleh para celebritas dari bintang film, pemain sinetron, hingga penyanyi rock.

Hijarah - Tidak Bekerja di Bank Konvensional

#4. The Rise of Riba Awareness
Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan muslim zaman now, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech. Go-Pay yang sempat dianggap riba, kini mulai ancang-ancang meluncurkan produk Go-Pay syariah.

Kick RIba

#5. Umat-nomic: The New Movements
Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety & desire muslim zaman now. Mereka muncul dengan mengedepankan konsep syariah. Yang saya maksud Umat-nomic adalah gerakan ekonomi umat yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Muslim zaman now menyukai geliat gerakan ini karena konsep ekonomi yang dikembangkannya mengacu kepada ajaran Islam dan dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan profesional.

212 Mart

Umat-nomic hadir sebagai alternatif bagi sistem ekonomi kapitalistik yang bersifat menghisap dan menghasilkan ketimpangan kaya-miskin. Contohnya adalah 212 Mart, perusahaan jaringan gerai ritel, yang dikelola dengan sistem baru yang sangat Islami yaitu: amanah (dapat dipercaya), jamaah (bersam-sama/koperasi), dan izzah (kemuliaan). Contoh lain, Bank Wakaf mikro dirancang untuk membantu kelompok segmen bawah-menengah dengan akad yang menguntungkan nasabah. Kita tunggu tren 6-10 pada tulisan minggu depan.

Silahkan unduh ebook-nya di link: www.bit.ly/muslimzamannow

May 26, 2018   No Comments

Tantangan Revolusi Industri 4.0

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu.

Angka-angka yang dijanjikan oleh Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto begitu fantastis: “Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1%-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik, dari baseline sebesar 5% menjadi 6%-7% pada periode tahun 2018-2030,” ujarnya.

Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Mudah-mudahan angka-angka super optimis tersebut bukan sekedar slogan politik menjelang Pemilu 2019 dan inisiatif luar biasa ini bukan sekedar pencitraan nir-substansi. Tapi betul-betul bisa membangkitkan semangat kita untuk bersama-sama menyukseskan era Revolusi Industri 4.0 dan meraih kejayaan.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi di tingkat negara untuk menghadapinya.

Agar kita tidak silau oleh janji-janji Revolusi Industri 4.0 dan angka-angka yang super optimis di atas, tulisan ini mecoba menyajikan “sisi gelap” dan beberapa tantangan yang harus kita hadapi. Bukan bermaksud buruk, tapi justru sebaliknya, untuk mengingatkan kita semua dengan memberikan rambu-rambu agar kita tak gegabah memasukinya.

Revolusi Industri 4.0 New

#1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus secara bijak dan hati-hati menyikapi transformasi industri terutama “masa peralihan” dari industri lama tradisional ke industri baru berbasis digital. Strategi tersebut harus bisa meminimalisir dampak sosial-ekonomi dari peralihan ini agar industri-industri lama bisa melakukan transformasi digital secara smooth, bukannya dibiarkan mati oleh kerasnya persaingan pasar (“Digital Darwinism”).

#2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Di tingkat mikro, platform effect akan memperlebar jurang yang kaya dan miskin: para pemilik modal (innovators, entrepreneurs, shareholders, investors) akan semakin kaya dan semakin menguasai kekayaan; sementara para pekerja semakin miskin. Celakanya, di Indonesia 99% penduduk masuk di kelompok yang kedua.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus merespons secara baik isu konsentrasi aset oleh global digital giant dengan skema regulasi baru yang kreatif. Cina melakukan hal ini dengan snagat cantik. Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa semua unicon kita kini telah dimiliki oleh global digital giants seperti Google, Alibaba, atau Tencent, sehingga Indonesia hanya dijadikan pasar bukan pemain aktif dan mandiri.

#3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.
* Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
* Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
* Driverless car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
* Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
* Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Pertanyaannya, apakah nantinya Industri 4.0 akan mampu menampung jutaan angkatan kerja kita (para petani, pedagang pasar Impres, guru, teller, kasir, sopir, satpam, hingga tukang batu proyek) yang tenaganya tidak dibutuhkan lagi karena tergantikan oleh robot?

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 haruslah tetap pro pada pemerataan lapangan pekerjaan. Skenarionya ada dua. Pertama, industri-industri yang dipilih tetap menggunakan skill set yang sekarang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kedua, melakukan “skill transformation” menuju skill set baru yang dibutuhkan Revolusi Industri 4.0.

Prerequisite: “Agile Government”
Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “agile government”.

Agile governement menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

Konsep strategi Industri 4.0 sehebat apapun hanya akan menjadi dokumen yang tak berarti apa-apa jika pemerintah tak mampu mengeksekusinya. So, sebelum pemerintah mentransformasi Indonesia memasuki Revolusi Industri 4.0, terlebih dahulu mereka harus melakukan transformasi diri untuk menjadi agile government.

Tanpa itu, Making Indonesia 4.0 hanya sekedar slogan overpromise untuk menyongsong Pemilu 2019.

 

Sumber foto: rctom.hbs.org

April 29, 2018   3 Comments

Surveillance Economy

If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itu adalah mantra yang melandasi bekerjanya ekonomi baru yang kini populer dikenal sebagai “Surveillance Economy”. Yup, terminologi ini kian populer menyusul terkuaknya skandal Facebook-Cambridge Analytica bulan lalu.

Intinya, kalau Anda mendapatkan layanan hebat seperti layanan jejaring sosial Facebook atau mesin pencarian Google secara gratis, maka Anda harus was-was. Karena Anda tidak membayar sepeserpun maka Anda bukanlah konsumen. Dan karena Anda bukan konsumen, besar kemungkinan Anda adalah “produk” yang dijual oleh Facebook maupun Google.

Dan memang demikianlah adanya, data mengenai perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) adalah “tambang emas” paling berharga di jaman now.

Surveillance Economy New

“Barang Dagangan”
The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) kini memiliki nilai pasar luar biasa besar yaitu sekitar $2700 miliar atau tiga kali GDP Indonesia. Dan nilai pasar fantastis itu didapat bukan dari mengebor minyak atau mendulang emas, tapi dari menjual data pribadi kita.

Caranya gimana? Gampang. Kita diberi layanan gratis yang memudahkan hidup kita: layanan berjejaring sosial dengan Facebook, mencari lokasi dengan Google Map, menghindari titik-titik kemacetan dengan Waze, mendapatkan layanan ojek ekselen tapi murah dengan Gojek. Tapi jangan salah, layanan-layanan gratis ini layaknya “jebakan Batman” karena sekaligus menjadi mesin efektif untuk mengumpulkan data-data pribadi kita.

Setelah data-data tersebut terkumpul (karena datanya super besar disebut: “big data”), maka perusahaan seperti Google atau Facebook menganalisis dan mengolahnya menjadi “emas baru” dan dijual ke pemilik brand dan pemasang iklan.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Untuk gampangnya, kita-kita para pemakai Facebook, Google, atau Waze telah menjadi “barang dagangan” yang diperjualbelikan ke pihak lain untuk menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar. Ingat sekali lagi bunyi mantranya: “If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itulah nasib kita yang mendapatkan layanan gratisan. Persis seperti ungkapan pahit yang dikemukakan Prof. Von Shoshana Zuboff pengritik Surveillance Economy: “We exist to be harvested, harvested for behavioral data.” Kita eksis di Surveillance Economy layaknya “budak” yang diperah dan dipanen data-data perilaku kita.

“Kelinci Percobaan”
Secara sederhana Surveillance Economy didefinisikan sebagai sebuah bentuk ekonomi baru dimana para pelaku ekonomi (entrepreneurs) mencipta nilai dengan cara mengekstraksi, menganalisis, dan memonetisasi data konsumen.

Perusahaan seperti Google atau Facebook mengekstraksi dan menganalisis data pribadi kita dengan tujuan untuk membentuk dan mengarahkan perilaku sesuai tujuan komersial yang mereka kehendaki. Ujar Zuboff, “They are actually intervening us to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next”.

Hal Varian, chief of economist Google mengidentifikasi Surveillance Economy memiliki empat ciri.

#1. Data extraction & analysis, yaitu melibatkan ekstraksi dan analisis terhadap data pribadi yang terkumpul secara real-time dan terus-menerus selama konsumen menggunakan layanan. Setiap kali kita melakukan update status di Facebook, maka saat itu juga kita memberikan data pribadi kita untuk diekstraksi dan dianalisis Facebook.

#2. New contractual forms, yaitu adanya bentuk kontrak baru yang menggunakan pemantauan dan otomasi komputer. Dengan teknologi digital, perjanjian penggunaan data antara pemberi layanan dan konsumen dilakukan secara seamless menggunakan komputer.

#3. Personalization & customization, yaitu memanfaatkan layanan-layanan yang memberikan manfaat personalization dan customization. Layanan Google misalnya sangat personalized, itu sebabnya jika kita mengetikkan kata kunci yang sama di mesin pencari Google, maka hasil yang diperoleh akan berbeda antara satu orang dibanding orang lain. Karena hasil pencarian di Google ditentukan oleh historical searches masing-masing kita sebelumnya.

#4. Continual experiments, yaitu konsumen menjadi obyek percobaan yang dilakukan secara terus-menerus. Tujuannya adalah tadi, untuk mempengaruhi, membentuk, dan mengarahkan perilaku mereka sesuai dengan tujuan komersial yang dikehendaki pemilik layanan. Jadi, sepanjang hidup kita bakal menjadi “kelinci percobaan” bagi Google atau Facebook.

Welcome to the Brand New World
Sekilas surveillance economy baik-baik saja dan tak begitu menjadi masalah bagi kita. Namun kita seperti tersambar petir bulan lalu saat skandal Facebook-Cambridge Analytica terkuak.

Skandal tersebut menyadarkan kita bahwa data pribadi kita bisa begitu mudah disalahgunakan berbagai pihak (baik pemilik layanan maupun pihak ketiga) untuk tujuan-tujuan yang tidak kita kehendaki. Dalam kasus Cambridge Analytica, mereka mengekstraksi dan menganalisis data pengguna Facebook untuk melakukan microtargeting yang berujung pada kemenangan Donald Trump atau keluarnya Inggris dari EU (Brexit).

Dengan algoritma tertentu, machine learning, atau artificial intelligence mereka bisa mengolah data pribadi kita untuk membentuk dan mengarahkan suatu perilaku tertentu bagi kepentingan bisnis dan politik mereka, yang mungkin tidak kita kehendaki. Ini tentu saja akan menjadi ancaman bagi kemanusiaan: privasi, kebebasan, dan demokrasi.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya. Karena model bisnis mereka bekerja berdasarkan “surveillance platform”.

Welcome to the jungle.
Welcome to the end of privacy.
Welcome to the Surveillance Economy.

 

 

Sumber foto: employernews.co.uk

April 21, 2018   No Comments

Memberi eTalk: Surveillance Economy

Skandal Facebook-Cambridge Analytica menyadarkan kita semua bahwa kini kita telah memasuki era Surveillance Economy yang ditandai dengan fenomena “the end of privacy”.

Dengan memanfaatkan layanan, apps atau website yang diberikan oleh Google, Facebook, Twitter, atau Youtube data-data pribadi kita diambil, diolah, dan kemudian dijual kepada brand dan pengiklan sehingga menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar.

Surveillance economy adalah sebuah bentuk ekonomi baru dimana value diciptakan melalui big data dari seluruh perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) yang diekstraksi diolah, dan kemudian dimonetisasi menjadi bisnis menggiurkan.

Surveillance Economy

The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) menggurita begitu cepat (kapitalisasi pasar keempatnya $2700 miliar, tiga kali GDP Indonesia) karena mereka smart bermain di era Surveillance Economy.

Tipikal perusahaan yang sukses di Surveillance Economy adalah perusahaan semacam Facebook dan Cambridge Analytica yang membentuk, memodifikasi, dan mengarahkan perilaku kita untuk tujuan monetisasi bisnis atau kepentingan politik tertentu.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Seperti kata Shoshana Zuboff, profesor Harvard pengritik Surveillance Economy, “They are intervening to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next.” Data 87 juta warganet dikumpulkan, dibaca perilakunya, dan kemudian diarahkan sedemikian rupa untuk memilih Donald Trump sebagai presiden.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya, karena model bisnis mereka beroperasi berdasarkan “surveillance platform”.

Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi Surveillance Economy? Baik sebagai konsumen/masyarakat maupun sebagai pebisnis?

Yuk kita bahas di Memberi eTalk Komunitas Memberi:

Tema: Skandal Facebook! Welcome Surveillance Economy
Waktu: Sabtu, 21 April 2018, 09.00-12.00 WIB
Tempat: Kolla Space | Co-working @ Sabang, Jl. Agus Salim 32B, Jakarta

Narasumber:
Ahmad Sugiarto, penulis Synergy Way of Disruption (2018)
Nukman Lutfie, pakar media sosial
Yuswohady, pakar marketing

Moderator:
Kris Moerwanto, redaktur Jawa Pos

Yuk ikutan, WAJIB daftar ke Ajib: WA 0812 2760 7219

April 20, 2018   No Comments

Resto Diaspora

Akhir bulan Maret lalu saya mendapatkan kesempatan emas bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman pemilik restoran Indonesia di luar negeri di Nusa Dua Bali.

Beberapa restoran tersebut antara lain adalah Ron Gastrobar Indonesia di Amsterdam; Djakarta Bali di Paris; The Yono’s Indonesian Fine Dinning di Albany, USA; Kasih Restoran di LA, Fluffy lamb di Perth; Sendok Garpu di Brisbane, Ubud Resto di Sydney, Sari Ratu di Singpore, juga Bumbu Desa di Kuala Lumpur Malaysia.

Dari pagi hingga sore kami berdiskusi merancang program untuk mempromosikan resto-resto Indonesia di luar negeri. Memang Kemenpar melalui cobranding task force sedang merintis sebuah program untuk mengajak resto diaspora (resto masakan Indonesia di luar negeri) mempromosikan kuliner Nusantara dan pariwisata Indonesia ke seluruh dunia.

Indonesia punya segudang makanan-makanan hebat dari Sabang sampai Merauke. Rendang Sumatera Barat, Gudeg Yogya, Ayam Taliwang Lombok, Konro Makassar, Bubur Menado, hingga Papeda Papua. Wow… pokoknya enak-enak semua. Sayang jika aset luar biasa itu tidak dipromosikan sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi nation branding Indonesia.

Resto Diaspora

Thailand adalah contoh negara yang dengan cerdas menjadikan kekayaan kulinernya sebagai bagian dari nation branding mereka. Di masa pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada pertengahan tahun 2000an negeri GajahPutih ini meluncurkan program “The Kitchen of the World” yang bertujuan ambisius mendongkrak jumlah resto Thailand di luar negeri dari sekitar 6.900 pada tahun 2003 menjadi 20.000 pada tahun 2008 atau naik sekitar empat kali lipat.

Berikut adalah insights berharga yang saya peroleh dari diskusi dengan teman-teman pemilik resto terkait strategi promosi pariwisata melalui resto-resto Indonesia di seluruh dunia.

#1. Resto as a Tourism Etalage
Ide dasar memanfaatkan resto Indonesia di luar negeri adalah menjadikan resto-resto tersebut sebagai “etalase” pariwisata Indonesia di luar negeri. Kenapa resto demikian strategis sebagai “marketing channel”? Ya, karena resto-resto tersebut tentu sudah memiliki basis pelanggan yang kokoh, apalagi jika resto tersebut sudah beroperasi bertahun-tahun.

Di samping itu audiens global yang ada di restoran Indonesia tentu sudah memiliki interest terhadap Indonesia sehingga mereka lebih mudah diyakinkan untuk datang berwisata ke Indonesia. Jadi mereka sudah merupakan unique targeted prospects.

Dengan menjadi “window of Indonesia” maka di resto-resto tersebut kita bisa menyajikan konten-konten yang Indonesia banget seperti kekayaan budaya Indonesia (tari, musik, kerajinan, dll), destinasi wisata eksotik Indonesia, di samping tentu saja beragam kuliner khas Nusantaar. Ketika konten-konten itu disampaikan menyatu dengan resto experience yang hendak disampaikan maka ia akan memiliki influence power yang luar biasa untuk menarik wisman ke Indonesia.

#2. Integrating 3A
Menampilkan kuliner Indonesia dan beragam atraksi budaya Indonesia di resto-resto diaspora baru mencakup dua elemen dari konsep 3A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas), yaitu elemen pertama dan kedua.

Agar efektif, maka elemen ketiga yaitu aksesibilitas juga harus diintegrasikan. Aksesibilitas yang dimaksud di sini adalah bagaimana wisman menjangkau Indonesia terutama melalui perjalanan udara. Di sini maskapai penerbangan harus mempromosikan resto-resto diaspora ke para wisman dari kota-kota di mana resto itu berada. Dengan promosi tersebut diharapkan mereka akan mengunjungi resto diaspora dan mengenal lebih dekat pariwisata Indonesia.

Dengan mekanisme ini, maka resto diaspora menjadi semacam “saluran” yang akan “menggiring” wisman untuk semakin mengenal, dekat, dan kemudian mencintai pariwisata Indonesia. Dalam konsep marketing, peran resto diaspora semacam ini disebut sebagai “marketing funnel”. Melalui marketing funnel inilah wisman akan digiring dari non-consumer menjadi first-time buyer, dan akhirnya loyal customers.

#3. Seasonal Brand Activations
Agar peran resto diaspora sebagai promotion channel kuliner dan pariwisata Indonesia berjalan efektif, maka kita harus menggelar brand activation secara berkala (seasonal) dan berkelanjutan. Bahkan kalau perlu dirancang calendar of event (CoE) yang tetap tiap tahunnya.

Karena pertimbangan ini, akhir tahun ini rencananya Kemenpar akan menginisiasi semacam festival gastronomi di berbagai resto diaspora selama sebulan penuh. Targetnya akan serentak dilakukan oleh sekitar 100 resto diaspora di berbagai kota-kota utama dunia. Kalau event ini bisa direalisasikan, apalagi rutin dilakukan tiap tahun, maka awareness kuliner dan pariwisata Indonesia perlahan akan terangkat.

Agar seluruh cita-cita ini bisa diwujudkan, tentu saja resto-resto diaspora tidak bisa bergerak sendiri. Semua stakeholders harus dilibatkan untuk mendukung gerakan ini mulai dari Kementerian (Kemenpar, Bekraf, Kemendag, dll.), KBRI, diaspora Indonesia, hingga perusahaan-perusahaan kita yang beroperasi di luar negeri.

Kalau kita, seluruh elemen bangsa, bersatu-padu mewujudkannya, maka kita optimis akan bisa mewujudkan Indonesia Inc. dengan menjadikan resto diaspora sebagai senjata ampuh nation branding Indonesia.

 

Foto: Rekan-rekan pemilik Resto Diaspora di Nusa Dua Bali

April 14, 2018   No Comments

Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Wikipedia mendefinisikan imperialisme sebagai berikut: “an action that involves a nation extending its power by the acquisition of inhabited territory.” Imperium berasal dari bahasa Latin yang berarti “kuasa yang tak ada tandingannya” (“supreme power”).

Melihat konteks kekinian, terutama era digital, saya mencoba memperluas makna imperialisme, tak hanya menyangkut negara menguasai negara; tapi juga korporasi menguasai korporasi; atau korporasi menguasai individu. Esensinya tetap sama yaitu hegemoni, superioritas, dominasi, dan pemaksaan pengaruh satu pihak ke pihak lain.

Makna hakiki imperialisme adalah eksploitasi aset berharga milik pihak yang dikuasai baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Lenin menyebut: “imperialism was the highest form of capitalism”.

Mengacu pada pengertian baru ini saya membagi imperialisme modern ke dalam tiga gelombang besar.

Imperialisme 1.0 adalah penguasaan oleh negara-negara penjajah (imperial nations) terhadap tanah-tanah baru di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.

Imperialisme 2.0 adalah penguasaan oleh korporasi-korporasi digital raksasa terhadap internet yang kemudian diikuti pencaplokkan terhadap perusahaan lain di seluruh dunia.

Imperialisme 3.0 adalah penguasaan oleh negara (dijalankan oleh lembaga seperti CIA atau NSA), korporasi (seperti Cambridge Analytica dan Facebook), atau individu terhadap seluruh umat manusia melalui penguasaan data privat yang sangat besar yang kini kita kenal dengan big data.

Imperialism 3.0 - New

Imperialism 1.0: “Pirates of the Land”
Imperialisme 1.0 ditandai dengan pendudukan oleh negara-negara besar seperti Inggris, Portugis, Belanda, atau Jepang terhadap “tanah-tanah baru” di Asia, Afrika hingga Amerika Latin. Pendudukan dan penjajahan yang berlangsung sejak abad 16 hingga penghujung abad 20 ini dilakukan untuk menguasai perdagangan komoditas global dan mendapatkan bahan mentah untuk menggerakkan industri.

Aksi ini dimulai dari pendudukan dan pembentukan koloni terhadap Kepulauan Mauritius oleh Belanda pada tahun 1598 yang kemudian disusul gelombang pendudukan koloni-koloni baru selama tiga abad berikutnya.

Gelombang imperialisme pertama ini mencapai masa kejayaannya pada abad 18 (disebut “The Age of Imperialism”) seiring terjadinya Revolusi Industri di Eropa yang membutuhkan bahan baku dan bahan mentah untuk industri.

Imperialisme 1.0 menghasilkan perusahaan multinasional pertama di dunia yaitu EIC (East India Company, 1600-1874) yang di masa kejayaan menguasai sekitar setengah perdagangan dunia. Mereka merampas kekayaan alam seperti cengkeh, kapas, pala dari negara jajahan untuk dibawa ke Eropa. Di Indonesia kita mengalami masa kelam Imperialisme 1.0 dengan kehadiran VOC selama lebih dari tiga abad.

Imperialism 2.0: “Pirates of the Internet”
Melompat ke abad 21, Imperialisme 2.0 ditandai oleh adanya penguasaan oleh korporasi-korporasi digital (dikenal dengan sebutan “The Big Four”: Google, Facebook, Amazon, Apple plus perusahaan platform seperti Uber, AirBnB, hingga Alibaba) terhadap perusahaan lain secara massif.

Kalau imperialisme 1.0 menguasai “tanah-tanah baru” di dunia ketiga, maka Imperialisme 2.0 menguasai “tanah-tanah digital baru” yaitu: internet. Ambisi The Big Four adalah memonopoli internet untuk dimonetisasi menjadi bisnis triliunan dolar.

Penguasaan ini dilakukan dengan cara menciptakan model bisnis baru berbasis digital untuk menghasilkan disrupsi (“digital disruption”) yang memporakporandakan model bisnis konvensional di berbagai industri.

Setelah perusahaan luluh-lantak terdisrupsi, maka para disruptor itu serta-merta “menghisap”-nya layaknya vacuum cleaner. Amazon menghisap industri ritel; Google dan Facebook menghisap industri media; Uber menghisap industri transportasi. Begitulah cara mereka menggurita dan menghegemoni bisnis dunia.

Imperialisme 2.0 digerakkan oleh para libertarian entrepreneur/investor yang tak percaya pada kekuatan negara. Mereka adalah sosok-sosok seperti: Peter Thiel, Jeff Bezos, Larry Page, Sean Parker, Elon Musk, dll.

Ideologi mereka adalah neoliberalisme (mengacu pada pemikiran sosok seperti: Ayn Rand, Milton Friedman, atau Alan Greenspan) dengan ambisi megalomania menguasai sumber daya global dan mengendalikan ekonomi/politik dunia.

Kemampuan keuangan mereka praktis tanpa batas, karena begitu mereka berhasil mendisrupsi industri demi industri, maka harga sahamnya langsung meroket setinggi langit. Dan dengan kapitalisasi pasar mencapai ratusan miliar dolar, dengan mudah mereka membeli satu-persatu pesaingnya. Dan memang salah satu hobi mereka adalah “menyantap” perusahaan lain.

Kalau di era Imperialisme 1.0 senjata yang digunakan adalah senapan dan kapal perang, maka senjata ampuh Imperialisme 2.0 adalah: pertama, teknologi (disruptive technologies); kedua, modal (limitless capital) yang diperoleh dari kapitalisasi pasar.

Imperialism 3.0: “Pirates of the Big Data”
Imperialisme 3.0 adalah penguasaan oleh negara (corporaticracy), korporasi (data analytic companies), atau bahkan individu terhadap seluruh umat manusia melalui penguasaan dan manipulasi data privat kita yang sangat besar (big data). Manifestasinya adalah terbentuknya apa yang disebut: “Surveillance Economy”.

Penguasaannya dilakukan dengan cara mengekstraksi dan menganalisis data privat kita: data pencarian kita di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, atau foto keseharian kita layar CCTV, juga aktivitas kita yang terekam oleh wearable devices atau piranti internet of things (IoT).

Data tersebut kemudian dimanipulasi untuk memengaruhi dan membentuk perilaku kita. Dan pada akhirnya (dengan algoritma tertentu) digunakan untuk mengontrol dan mengarahkan tindakan kita sesuai kepentingan si pengolah data. Bisa kepentingan ekonomi, politik, atau budaya.

Untuk gampangnya lihatlah skandal Facebook-Cambridge Analytica. Sekitar 50 juta data privat warga Amerika di Facebook diekstraksi dan dianalisis oleh Cambridge Analytica untuk mengetahui karakteristik psikografis pemilih dan kemudian Cambridge Analytica memanfaatkannya untuk merancang sebuah kampanye digital untuk memengaruhi dan membentuk preferensi pemilih ke satu kandidat tertentu.

Barangkali kita tidak sadar bahwa hasil pencarian di Google atau YouTube dalam jangka panjang bisa membentuk pola pikir dan perilaku kita. Kita juga tidak sadar bahwa “Likes” Facebook telah mengembangbiakkan budaya narsis (narcissistic epidemic).

Dalam bukunya Hooked: How to Build Habit-Forming Products (2014), Nir Eyal mengatakan bahwa beragam apps yang kita pakai setiap hari (dari Facebook hingga Snapchat) memang dirancang untuk membentuk perilaku dan kebiasaan kita.

Shoshana Zuboff, profesor Harvard pengkritik surveillance business, menggambarkan bahwa di dalam surveillance economy setiap penduduk dunia tanpa kecuali adalah “tikus percobaan”.

Setiap kali kita men-scroll newsfeed di Facebook, ngeklik tombol “hati” di Instagram, atau menonton video di YouTube, maka saat itu juga kita menjadi obyek eksperimen. Apps tersebut mengumpulkan data mengenai perilaku kita dan menganalisisnya. Berdasarkan analisa tersebut mereka mendisain algoritma untuk membentuk perilaku dan kebiasaan kita di masa depan sesuai kemauan mereka. Tentu saja tujuan akhirnya adalah monetisasi dan marketisasi.

Kalau imperialisme 1.0 menguasai tanah, Imperialisme 2.0 menguasai internet; maka sasaran Imperialisme 3.0 adalah big data. Kalau senjata Imperialisme 1.0 adalah senapan, senjata Imperialisme 2.0 adalah model bisnis disruptif, maka senjata utama Imperialisme 3.0 adalah algoritma dan piranti data analytics.

Kasus Facebook-Cambridge Analytica menyentak kesadaran kita akan munculnya sebuah dunia baru yang menyeramkan dalam sejarah umat manusia yaitu kelahiran surveillance economy.

Kelahiran ekonomi baru ini mengingatkan kita pada novel klasik George Orwell berjudul 1984 mengenai sebuah negara yang warganegaranya terus-menerus diawasi oleh sebuah kekuasaan tiran. Barangkali dunia kelam yang secara dramatik digambarkan Orwell bakal kita alami sebentar lagi.

Welcome surveillance economy.
Welcome Imperialism 3.0.

 

March 31, 2018   No Comments

Ketika Leisure Menjadi Candu

Secara sederhana leisure didefinisikan sebagai waktu luang (free time atau spare time). Jadi aktivitas leisure adalah segala aktivitas yang bertujuan memanfaatkan waktu luang. Yang dimaksud waktu luang di sini adalah waktu-waktu di luar waktu untuk bekerja, bisnis, atau berbagai urusan rumah tangga.

Definisi klasik leisure menurut Veblen (1899) adalah: “nonproductive consumption of time”, seluruh aktivitas tidak produktif untuk menghabiskan waktu luang.

Karena sebatas memanfaatkan waktu luang, maka seharusnya leisure dilakukan sesekali waktu. Liburan misalnya, dilakukan sekali atau dua kali setahun. Makan bersama keluarga di mal/restoran dilakukan sekali sebulan.

Habitual Leisure
Namun di era leisure economy kita menyaksikan fundamental shift dalam perilaku konsumen. Leisure yang awalnya dilakukan sesekali waktu (occasional) kini menjadi sering dan telah menjadi kebiasaan (habitual).

Ambil contoh, aktivitas nge-gym. Dulunya aktivitas ini dilakukan secara occasional. Namun dengan munculnya skema langganan (subscription) di pusat-pusat kebugaran, nge-gym kemudian dilakukan secara rutin tiap minggunya.

Dahulu orang makan di luar rumah (dine-out) dilakukan jarang-jarang, namun seiring dengan munculnya budaya nge-mal, kegiatan dine-out mulai dilakukan secara rutin seminggu atau dua minggu sekali.

Membeli makanan malam melalui layanan takeaway awalnya dilakukan hanya sesekali, namun dengan adanya layanan seperti Go-Food yang begitu mudah dan convenience, maka kini pesanan takeaway dilakukan 3-4 kali seminggu.

Begitu juga dengan bermunculannya banyak coffee shop, orang mulai memanfaatkannya untuk bertemu baik kumpul-kumpul dengan teman (sosial) maupun meeting dengan mitra bisnis (profesional). Akibatnya, mengunjungi coffee shop yang awalnya dilakukan sesekali, kini dilakukan secara rutin: sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali seminggu.

Ketika konsumsi leisure bergeser dari occasional ke habitual, maka dampaknya bagi perekonomian secara luas bisa ditebak. Konsumsi leisure meningkat pesat dan industri ini tumbuh pesat. Inilah yang men-trigger terbentuknya leisure economy.

Menariknya, ketika konsumsi leisure sudah menjadi habit dan kemudian dilakukan secara terus-menerus, maka pada akhirnya akan mencapai fase kecanduan. Kini mulai banyak orang “kecanduan” main games, liburan, dine-out, atau nonton TV/film.

Kecanduan
Pertanyaannya, bagaimana bisa aktivitas leisure menciptakan habit bahkan kecanduan?
Menjawab pertanyaan ini saya jadi ingat buku hebat berjudul: Hooked: How to Build Habit-Forming Product (2014) ditulis oleh Nir Eyal dari Universitas Stanford.

Menurut Eyal, sebuah aktivitas konsumsi akan membentuk habit dan kecanduan jika prosesnya mengikuti empat fase yaitu: Trigger, Action, Reward, Investment. Nah, banyak aktivitas leisure seperti nge-games, liburan, dine-out, atau nonton TV/film persis mengikuti empat fase ini. Coba kita cermati fase-fase ini.

The Hook Model

Trigger adalah pemicu bangkitnya sebuah kebiasaan. Trigger biasanya terwujud karena adanya “sakit” (pain) atau masalah mendalam yang dihadapi oleh konsumen. Dalam kasus liburan, sakit ini berupa stress karena himpitan pekerjaan kantor. Dalam kasus gaming, sakit ini berupa kebosanan atau kesepian.

Action adalah respon konsumen atas Trigger yang telah tercipta di fase pertama. Action di sini dilakukan untuk “mengobati” sakit di fase Trigger. Jadi di sini liburan dilakukan untuk “mengobati” stres karena himpitan pekerjaan. Main games dilakukan untuk “mengobati” kebosanan atau kesepian.

Reward adalah solusi atau “obat penyembuh” yang didapatkan konsumen dari aktivitas leisure yang dilakukan konsumen. Apa reward yang diperoleh jika kita liburan? Reward-nya adalah hilangnya stres atau hati yang bahagia selama dan setelah liburan. Apa reward yang diperoleh jika kita main games? Reward-nya berupa kemenangan-kemenangan yang kita peroleh dalam bentuk poin.

Investment adalah “investasi” (dalam bentuk uang, waktu, dan tenaga) yang kita lakukan untuk mendapatkan reward di atas. Investasi konsumen inilah yang berfungsi “mengunci” sehingga kebiasaan dan kecanduan terbentuk. Dalam kasus liburan dan main games, kita sudah terlanjur mengalokasikan uang, waktu, dan tenaga yang cukup besar tiap bulannya untuk melakukannya. Semakin besar investasi yang dilakukan konsumen, maka semakin besar pula kemungkinan terbentuknya kebiasaan dan kecanduan.

Kalau saat ini Anda mulai sadar bahwa aktifitas leisure (liburan, dine-out, main games, nonton) menjadi habit bahkan kecanduan, Anda tak usah heran. Gampangnya, leisure itu memang enak dan bikin kita happy, karena itu tak heran jika kita ingin melakukannya terus-menerus dan berulang-ulang.

 

March 17, 2018   1 Comment