E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Free eBook – Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy”

Berikut ini adalah slide presentasi saya di eTalk di Menara BCA hari ini: Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy” dalam bentuk ebook.

Mudah-mudahan menjadi bekal berharga untuk menghadapi The Challenging Year 2018.

Monggo didonlot: E- Book Leisure

Cover eBook Leisure Economy

December 9, 2017   1 Comment

Fear of Disruption

Jaman saya kecil di kampung, cara petani menakut-nakuti dan mengusir burung yang hendak memakan padi di sawah adalah dengan memasang “memedi sawah”, semacam boneka dari jerami dengan kepala dari batok kelapa. Memedi sawah itu biasanya diberi baju dan caping agar menyerupai sosok manusia.

Kini, di jaman semua serba digital cara paling ampuh untuk menakut-nakuti pelaku ekonomi dan pebisnis adalah dengan cukup membisikkan satu kata: “disruption”.

Itulah setidaknya yang kita alami selama 1-2 tahun terakhir. Satu kata ini menjadi momok menakutkan yang beredar di berita media, di postingan blog, tweets, update status di Facebook, atau foto-foto di Instagram yang menghasilkan viral yang merambat cepat, bergentayangan layaknya malaikat pencabut nyawa.

“Taksi konvensional bakal bangkrut terkena disruption”
“Glodok dan Roxi bakal tutup terkena dampak disruption”
“Matahari dan Ramayana sepi pengunjung karena disruption”
“Karyawan bank siap terkena PHK massal karena disruption”

Begitu kira-kira bunyi pesan viral yang membuat pelaku ekonomi ketakutan setengah mati. Semua pesan berseliweran ini menghasilkan fenomena yang saya sebut: “Fear of Disruption(FoD).

FoD muncul karena: kita takut bisnis kita terkanibalisasi oleh startup seumur jagung; kita gamang kehilangan pekerjaan; atau cemas karena tidak tahu harus berbuat apa. Kian hari ketakutan ini kian dramatis dan mencekam.

Keep Calm and Start Thinking Clearly

Fear Is Contagious
Celakanya, di era media sosial, FoD itu menular dan menyebar begitu cepat dan massif menghasilkan ketakutan dalam besaran dan intensitas yang luar biasa. Tipping point matters!

Diawali dengan postingan seseorang di blog atau Facebook mengenai dampak buruk disruption. Misalnya, berita mengenai Glodog dan Roxi yang kian sepi karena konsumen sudah pindah berbelanja ke Tokopedia dan Bukalapak beberapa bulan yang lalu. Maka dalam ukuran menit postingan itu menciptakan FoD yang menyebar begitu cepat menjangkau ribuan bahkan jutaan netizen.

Karena berita mengenai FoD selalu seksi, menarik (shareable), dan selalu memicu viral (viralable), maka di hari dan minggu berikutnya netizen mulai berlomba-lomba mengungkap fakta, analisis, atau sekedar obrolan mengenai sisi buruk disruption.

Perlu diingat netizen memang haus “like” dan “share”. Karena itu berita apapun yang menarik dan memicu “like” dan “share” akan mereka sebar atau dibikin meme-nya. Yang terjadi kemudian gampang ditebak, mereka berjamaah menebar virus ketakutan, tanpa sedikitpun mereka sadari. Unconsciously,we spread fear of disruption.

Negativity Bias
Kenapa hanya dampak buruk disruption yang viral? Padahal kita semua tahu bahwa di samping berdampak negatif, digital disruption juga menghasilkan dampak positif berupa layanan yang lebih baik, pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien, atau munculnya inovasi-inovasi yang menggerakkan perekonomian secara luas.

Inilah yang disebut “negativity bias”. Karena kita lebih suka menyebarkan berita buruk ketimbang berita baik. “Bad news travel faster than good news”. Pesan buruk menyebar berlipat-lipat lebih cepat dibanding pesan baik.

Itu sebabnya tak banyak pesan atau berita yang melihat disruption dari sisi positif. Kalaupun ada tak pernah mampu mencuri perhatian kita. Dampaknya di kalangan pelaku ekonomi sangat impactful: sangat sedikit pebisnis (incumbent) yang melihat disruption dari sisi opportunity, hampir semua melihatnya sebagai threat yang mengancam keberadaan mereka.

Dengan begitu negativity bias membentuk stigma di kalangan pelaku ekonomi bahwa disruption adalah bencana korporasi yang luar biasa dan dari sinilah virus FoD mulai terbentuk dan menyebar hebat.

Confirmation Bias
Tak cukup di situ, ketika di kalangan pelaku ekonomi sudah terbentuk stigma negatif mengenai disruption, maka keyakinan negatif ini memicu apa yang disebut “confirmation bias”.

Confirmation bias adalah tendensi dimana kita cenderung membenarkan dan mengonfirmasi sesuatu yang sebelumnya kita yakini. Ketika kita mendapati berita mengenai dampak buruk disruption, maka kita cenderung menjadikannya sebagai pembenaran bahwa disruption bakal betul-betul menciptakan bencana ketimbang kemanfaatan.

Confirmation bias makin memperdalam proses penciptaan ketakutan. Dan pada satu titik tertentu mendorong terjadinya “vicious circle of fears” dimana satu pesan ketakutan teramplifikasi secara eksponensial sehingga menghasilkan rentetan ketakutan dalam jumlah dan intensitas yang berlipat-lipat.

Hasilnya, di tengah rundungan ketakutan, para pelaku ekonomi menjadi gamang, kehilangan konfiden, kehilangan pegangan, pesimis, bahkan merasa hopeless menghadapi ekonomi yang tidak menentu. Kejadian inilah yang saya sebut: “FoD Effect

“FoD Effect” kita alami dalam 1-2 tahun terakhir dimana hampir setiap hari kita diterpa berita-berita mengenai bencana disruption yang meluruhkan optimisme dan harapan kita. Ini baru permulaan. Semakin hari “FoD Effect” ini akan makin intensif menggerus nyali dan optimisme kita.

Barangkali karena “FoD Effect” inilah ekonomi kita seperti “mati suri” selama tiga tahun terakhir: ekonomi terasa lesu; banyak perusahaan tak mampu mencapai target; banyak pelaku bisnis cemas dan pesimis; produsen dan konsumen “wait and see”; muncul dugaan daya beli masyarakat menurun; muncul dugaan terjadinya consumer shifting; masyarakat menyalahkan pemerintah; pemerintah mencari pembenaran dan kambing hitam, dan sterusnya, dan seterusnya.

Baca juga: “Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru”

Fear Is Bad for Us
Apa yang terjadi jika para pebisnis dan pelaku ekonomi dirundung ketakutan di tengah ketidakmenentuan akibat disruption? Bukti-bukti terakhir yang diperoleh dari studi behavioral economics dan neuroscience (antara lain: Park, et.al., 2016 dan Hartley-Phelps, 2012) menghasilkan kesimpulan yang menarik.

Ketika pelaku ekonomi diliputi ketakutan akut, maka keputusan-keputusan yang mereka ambil cenderung blunder. Mereka cenderung mengambil jalan teraman dengan terus-menerus “wait and see” alias tak melakukan apa-apa. Mereka enggan mengeksplorasi peluang-peluang dari adanya disruption dan tak mau mengambil risiko untuk menangkap peluang yang muncul (risk aversion). Kalau sikap risk aversion ini terjadi secara massal dan seketika, maka tak heran jika ekonomi seperti mandek.

“Anxiety increases the attention to negative choice options, the likelihood that ambiguous options will be interpreted negatively, and the tendency to avoid potential negative outcomes, even at the cost of missing potential gains,” tulis Hartley-Phelps.

Artinya, di tengah ketakutan dan kecemasan, mereka cenderung melihat gelas sebagai “setengah kosong”, bukannya “setengah penuh”. Mereka menyikapi disruption sebagai threat, bukan opportunity. Mereka merespons disruption secara reaktif, bukan proaktif.

Kondisi ketakutan di tengah disruption juga menciptakan apa yang di kalangan behavioral economist disebut “endowment effect”, yaitu tendensi dimana orang secara irrational menilai terlalu tinggi apa-apa yang telah dimilikinya, karena itu mati-matian ia tak akan melepaskannya (loss aversion).

Para pebisnis mapan (incumbent) tak rela jika perusahaannya “digembosi” oleh startup digital milik kids jaman now. Loss aversion yang berlebihan ini menjadikan mereka semakin kalut dan kalap ketika memang mereka sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghadapi dan mengelola disruption.

Begitulah kira-kira gambaran situasi perekonomian kita selama 1-2 tahun ini: ekonomi melesu layaknya “mati suri”, banyak pelaku ekonomi/pebisnis “wait and see” sambil takut dan berharap-harap cemas (banyak berdoa tentu), pesimis bahkan hopeless, gamang dan kehilangan pegangan, dan reaktif karena tak tahu harus berbuat apa.

Ketika ketakutan berdampak begitu buruk bagi pelaku ekonomi dan perekonomian secara keseluruhan, pertanyaannya kemudian, apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi spiral ketakutan akibat disruption?

Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mendengar nasihat kecil dari para behavioral economists dan neuroscientists.

Nasihat itu mirip bunyi poster yang dibuat Pemerintah Inggris tahun 1939 untuk memotivasi rakyatnya yang dirundung ketakutan ketika harus mengemban tugas negara berangkat ke Perang Dunia II:

Keep calm and start thinking clearly… manage disruption smartly

 

Catatan:

Catherine A. Hartley and Elizabeth A. Phelps, “Anxiety and Decision-Making,” Biological PsychiatryVolume 72, Issue 2, 2012, p.113–118.

Park, et.al., “Anxiety Evokes Hypofrontality and Disrupts Rule-Relevant Encoding by Dorsomedial Prefrontal Cortex Neurons,” Journal of Neuroscience

December 2, 2017   1 Comment

Cultureless Organization

Searching di medsos, beberapa bulan terakhir saya makin sering mendapati konsumen yang mengeluhkan layanan taksi online.

Keluhannya macam-macam: mulai dari sopir yang tak hapal rute jalan sehingga harus terus-menerus tanya ke penumpang; mobil yang tidak standar; sopir yang pilih-pilih dan seenaknya membatalkan order; kondisi dalam mobil yang jorok; tertangkap polisi karena larangan ganjil-genap; sopir yang tidak ramah, hingga yang paling parah yaitu percobaan perkosaan”.

Karena semakin banyaknya kasus kegagalan layanan oleh taksi online, kini mulai banyak konsumen yang kembali ke taksi konvensional khususnya Blue Bird. Dan kini mulai terjadi segregasi positioning antara dua pemain ini.

Taksi konvensional seperti Blue Bird atau Express makin kuat memiliki positioning seperti: “sopirnya hapal jalan”, “mobilnya standar dan bersih”, atau “tak pernah membatalkan order”. Sementara taksi online kuat dipersepsi sebagai taksi yang “pilih-pilih penumpang”, “merepotkan penumpang karena kebingungan memilih jalan”, atau “sering tertangkap di jalur ganjil-genap”.

Kalau mau diurut, sumber dari seluruh kegagalan layanan taksi online tersebut ujung-ujungnya akan mengerucut ke satu faktor yaitu orang (sopir). Ya, karena untuk sebuah jasa seperti taksi, memang orang merupakan faktor yang amat krusial. Dan bicara orang, maka faktor penentu kesuksesan organisasi terletak pada budaya kerjanya (corporate culture).

Cultureless Organization

Culture Is (Still) the Key
Pada saat taksi online sedang euforia sekitar dua-tiga tahun lalu, kita semua terkesima oleh keajaiban teknologi digital bernama: platform berbagi (sharing platform). Teknologi yang identik dengan jargon “disruptive” ini diyakini akan merevolusi layanan taksi di tanah air. Platform ini juga diyakini akan menjadi “malaikat pencabut nyawa” bagi perusahaan tradisional yang ogah berubah.

Segudang keunggulan platform ini menjadi buzzword yang begitu massif menghiasi media. Mulai dari harga yang super murah, cara pemesanan yang super convenient cukup dengan beberapa pencetan jari, atau sopir yang piawai karena dibekali teknologi GPS yang super canggih.

Buzzword ini bekerja sangat efektif sehingga migrasi massal konsumen terjadi dari taksi konvensional ke taksi online. Dan ramalan pun bermunculan, layanan taksi konvensional akan bangkrut dalam 3 tahun ke depan karena ditinggalkan oleh konsumen.

Kala itu saya terheran-heran, bagaimana bisa corporate culture yang begitu kokoh dimiliki para sopir Blue Bird dan dibangun puluhan tahun bisa begitu mudah ditumbangkan oleh sebuah keajaiban teknologi.

Dalam diskursus teori manajemen, teknologi (secanggih apapun itu) memiliki peran periferal (baca: pinggiran) karena fungsinya hanyalah sebagai “enabler”. Faktor kesuksesan sesungguhnya sebuah organisasi terletak pada orang dan budaya kerjanya.

Ribuan studi selama puluhan tahun telah mengonfirmasi hal ini: mulai dari Schein (1980an), Kotter (1992), hingga Collins-Porras (1994). GE dengan Jack Welch sebagai legendary CEO-nya dianggap sebagai ikon kesuksesan perusahaan karena kekuatan budaya korporasinya yaitu: GE Values.

Lalu, apakah dengan munculnya kecanggihan teknologi seperti sharing platform, budaya perusahaan kini tidak mempan lagi sebagai elemen inti kesuksesan organisasi? Apakah di era disrupsi digital budaya perusahaan tak relevan lagi? Inilah yang saya ragukan.

Baca juga: Sharing Economy dan Koperasi

Cultureless
Sharing platform seperti yang dimiliki Grab, Gojeg, atau AirBnB menciptakan sebuah entitas organisasi baru yang saya sebut: cultureless organization. Organisasi tanpa budaya kerja. Sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena setiap organisasi pasti punya budaya perusahaan, seburuk apapun budaya tersebut.

Istilah itu saya pilih untuk menunjukkan betapa sulitnya pembentukan budaya perusahaan dilakukan melalui sebuah platform teknologi yang menempatkan karyawan sebagai “alat produksi”, bukan sebagai “manusia seutuhnya”.

Perusahaan seperti Uber atau Grab memiliki keunggulan tak tertandingi dibanding taksi konvensional karena asset-light, overhead-nya bisa dipangkas serendah mungkin. Ya, karena mereka tak perlu memiliki sopir atau kendaraan. Itu sebabnya mereka bisa memangkas harga semurah mungkin yang membuat taksi konvensional tak mampu bersaing lagi.

Namun platform tersebut memiliki kelemahan mendasar karena tak mampu membentuk budaya perusahaan kokoh seperti halnya perusahaan konvensional. Kenapa? Karena esensinya membangun budaya perusahaan membutuhkan “human interaction” yang menempatkan karyawan sebagai manusia seutuhnya. Bukan semata “technology interaction” yang menempatkan karyawan sebagai “robot” dan economic animal.

Membangun budaya di dalam organisasi membutuhkan interaksi personal antar karyawan, pendekatan emosional, pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi mereka, sikap saling pengertian, spirit kebersamaan dan sense of family, sikap saling percaya, dan sentuhan hati dan cinta. Budaya organisasi dibangun dengan pendekatan “heart” (emosional), bukan sebatas “head” (rasional): bukan semata bermotif uang (economic), tapi nilai-nilai luhur (values).

Di dalam organisasi yang memiliki strong culture karyawan membentuk sebuah “keluarga besar” dimana antar mereka tercipta nilai-nilai bersama (shared values) dan perilaku sama (common behavior) yang menyatukan mereka. Shared values dan common behavior inilah yang menjadi pondasi kesuksesan organisasi dalam bentuk layanan yang lebih baik, inovasi tiada henti, atau organisasi yang adaptif merespons perubahan.

Nah, inilah sesungguhnya yang membedakan taksi konvensional seperti Blue Bird dengan taksi online? Blue Bird memiliki shared values dan common behavior kokoh yang dibangun selama puluhan tahun. Sementara taksi online tidak.

Kenapa? Karena para sopir taksi online bekerja sendiri-sendiri tanpa ikatan sebagai sebuah “keluarga besar” yang penuh keteduahan. Hubungan manajemen pemilik aplikasi dengan para sopir bersifat transaksional, dimana kepentingan satu-satunya adalah uang. Tak heran jika setiap kali ada persoalan, penyelesaiannya adalah dengan berdemo.

Antar karyawan tak ada sense of family, tak ada hubungan kekeluargaan, tak ada koneksi personal, tak ada kebersamaan, tak ada trust dan saling pengertian, dan tak ada cinta di antara mereka seperti halnya organisasi konvensional. Dengan kontrol sebuah aplikasi mereka bekerja secara individualistik, layaknya robot. Para sopir itu layaknya “free rider” yang bekerja dengan satu motif: uang.

Singkatnya, mereka tak memiliki shared values dan common behavior. Mereka cultureless.

Di era digital disruption saat ini, saya masih percaya 1000% bahwa manusia adalah faktor kunci kesuksesan. “Technology isn’t everything, people are”.

November 25, 2017   2 Comments

Milenial Jaman Now: Penggerak Leisure Economy

Tulisan saya “Welcome Leisure Economy” sekitar dua minggu lalu viral luar biasa di medsos. Kenapa tulisan itu viral, menurut saya, karena banyak pembaca yang mengamini fenomena tersebut seraya bergumam: “ini gue banget”.

Artinya, tanpa disadari (unconsciously) mereka de facto telah merasakan bahwa leisure dan experience sudah menjadi bagian dari “kebutuhan pokok” mereka sehari-hari. Tak beda jauh dengan kebutuhan akan wifi atau Facebook.

Pertanyaan kemudian muncul, siapa sesungguhnya yang menjadi driver dari fenomena menggeliatnya leisure economy tersebut di Indonesia. Mesin penggerak bertumbuhnya leisure economy tak lain adalah para milenial jaman now (MJN).

Milenial Jaman Now Selfi 2

Experience Consumers
By-default, konsumen milenial adalah konsumen yang paling haus akan pengalaman (experience) dibanding generasi-generasi sebelumnya. Survei di seluruh dunia (Everbrite-Harris Poll, 2014) membuktikan bahwa milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman (experience) ketimbang barang (material goods).

Tulis Everbrite-Harris Poll: “For millennials, happiness isn’t as focused on possessions or career status. Living a meaningful, happy life is about creating, sharing and capturing memories earned through experiences.”

Karena itu saya menyebut generasi milenial sebagai e-generation atau experience generation.

Ada pergeseran arti kebahagiaan antara MJN dengan generasi-generasi sebelumnya (sebut saja: “Generasi Jaman Old”, GJO). Bagi MJN, kebahagiaan bukan ditentukan oleh kepemilikan akan rumah besar, mobil mewah, atau karir yang mentereng, tapi mendapatkan pengalaman dan membaginya (baca: “memamerkan”) ke teman-teman dan orang lain.

Jadi, kalau GJO pamer baju, sepatu, mobil, atau iPhone yang dimilikinya, maka kini MJN pamernya adalah: liburan di mana, nonton film apa, dine-out di mana, ndengerin musik apa, nongkrong di mana, atau jalan-jalan weekend di mal apa. Dan itu begitu mudah di-share melalui akun seperti Instagram atau Facebook.

Go Minimal: From Owning to Sharing
Walaupun masih di fase dini, kini mulai muncul pergeseran gaya hidup di kalangan MJN dari memiliki barang (owning) ke berbagi (sharing). Mereka berhemat dengan cara mengurangi konsumsi yang sifatnya memiliki barang dan mengalokasikan hasil penghematan tersebut untuk konsumsi yang berbasis pengalaman.

Contoh yang kini sudah terlihat adalah mengoleksi CD/DVD sudah tergantikan oleh koleksi musik/film melalui layanan digital seperti iTunes, Spotify, atau Netflix. MJN juga mulai memilih layanan Grab atau Gojek ketimbang mempunyai mobil atau motor sendiri. Ketimbang memiliki ruko sendiri untuk kantor, mereka mulai memanfaatkan kantor bersama (co-working space) yang tiga tahun terakhir menjamur di kota-kota utama tanah air.

Alasan mengadopsi sharing lifestyle di Indonesia agak berbeda dengan di negara-negara maju. Kalau di negara-negara maju pertimbangan utamanya adalah faktor-faktor seperti simplisitas atau kepedulian kepada lingkungan, di Indonesia alasan utamanya adalah keren. Karena sharing lifestyle itu memang keren dan bisa menjadi alat ekspresi diri.

Baca juga: Brand Disruption

Travelling More
Studi di berbagai negara mengonfirmasi bahwa MJN mengonsumsi liburan (travelling) lebih sedikit dibanding GJO (terutama Gen-X). Sebabnya tak lain, karena MJN saat ini (usia mereka 18-35 tahun) masih berada di masa awal-awal karir (first jobber).

Sehingga dari sisi kemampuan daya beli mereka untuk liburan masih rendah. Di sisi lain, mereka relatif tak punya cukup waktu untuk berlibur karena sebagian besar waktunya ditumpahkan untuk bekerja menggapai karir.

Tapi seperti dikatakan di depan, by-default MJN adalah experience customer yang haus liburan. Nielsen Millennial Travellers Study (2017) menyimpulkan: “In fact, they travel more than any other generation, and they’ll likely travel more as their incomes and financial standings grow.”

Sesungguhnya MJN adalah generasi yang paling besar berkeinginan untuk liburan. Karena itu, di tengah kendala daya beli dan keterbatasan waktu di atas, MJN semaksimal mungkin menyisihkan pendapatannya untuk liburan.

Nah, sekitar 5 tahun lagi saat mereka menduduki posisi penting di organisasi dan cukup punya pendapatan menganggur (discretional income) maka di situlah MJN akan massif berlibur dan betul-betul menjadi mesin penggerak leisure economy.

Dine-Out Revolution
Studi yang dilakukan oleh Nielsen di 11 kota di Indonesia menunjukkan bahwa MJN memiliki pengeluaran paling tinggi untuk makan di luar (dine-out) dibanding GJO.

Masih menurut survei Nielsen di 60 negara termasuk Indonesia (Global Generational Lifestyles Report 2016), antara tahun 2013-2016 porsi milenial yang dine-out setidaknya sekali seminggu mencapai dua kali lipat (58% vs 29%) jika dibandingkan dengan Generasi Baby Boomers.

Itu sebabnya di era leisure economy warung gaya hidup (seperti OTW atau Warung Upnormal), kedai kopi “third wave” (Tanamera atau One-Fifteenth), atau kafe tempat nongkrong berkonsep “third place” (resto di Citos) menjamur tak hanya di Jakarta atau Surabaya, tapi juga mulai merambah ke second cities, bahkan third cities.

MJN makan di luar rumah tak sekedar untuk menghilangkan lapar dan dahaga, tapi lebih karena alasan social dan experience. Yaitu untuk bercengkrama dengan anggota keluarga, bersosialisasi dengan teman, mendapatkan pengalaman dan membaginya melalui medsos.

Instagram Effect
MJN hidup di “dua alam” yaitu alam offline dan online. Celakanya, dengan adanya mobile (gadget) revolution, kini makin banyak mereka terperangkap di ranah online. Kalau di offline saya sebut pengalaman realitas; kalau di online pengalaman hiper-realitas. Kalau di offline apa adanya (authentic); kalau online penuh dengan pencitraan yang sarat kepalsuan (fake).

Melalui media seperti Instagram dan sejenisnya MJN menunjukkan sosok ideal yang mereka inginkan kepada para audiensnya. Mereka menunjukkan sosok ideal tersebut dengan cara memperlihatkan di mana mereka liburan, dengan siapa mereka bergaul, atau di mana mereka nongkrong dan dine-out.

Tak heran jika kita selintas mencermati foto-foto mereka di Instagram kita menemukan sosok-sosok yang selalu bahagia, penuh senyum-ceria, inspiratif, positif, sarat prestasi, seolah dunia ini tak punya masalah. Itulah dunia hiper-realitas. Apakah dunia realitasnya semengkilap itu? Sudah bisa ditebak, jauh lebih muram.

Inilah yang saya sebut Instagram Effect. Dengan adanya Instagram atau Facebook kini semua orang menjadi selebritas, mereka punya audiens yang siap dipameri (self-promotion) pengalaman dan gaya hidup mereka. Di tengah kerumunan audiens online itulah mereka eksis dan menemukan kebahagiaan palsu. Tak heran jika di era leisure economy salah satu “komoditi” yang paling bernilai adalah “Like”, “Comment” atau “Share”.

FOMO
Di era leisure economy kini mewabah fenomena yang disebut “fear of missing out” (FOMO), sebuah ketakutan di kalangan MJK jika mereka tidak ikut menikmati sebuah pengalaman. Takut jika tidak ikutan heboh nonton konser Ed Sheeran di Jakarta. Takut jika tidak bisa merasakan pengalaman berlibur di Raja Ampat. Atau bagi kids jaman now takut tidak bisa menikmati pengalaman nongkrong di Warung Upnormal.

Fenomena FOMO inilah yang menjadi sebab kenapa resto-resto kekinian yang experiential seperti OTW atau Warung Upnormal ramai minta ampun di awal-awal launching. Karena para MJN dihinggapi ketakutan jika teman-teman mereka sudah pernah makan dan nongkrong di resto-resto tersebut, sementara dia sendiri belum pernah. Mereka takut dibilang kurang gaul.

FOMO inilah yang menjadi katalisator menggeliatnya beragam industri yang berbasis experience mulai dari liburan, kafe-resto, hiburan, gadget, musik, film, perawatan kecantikan, hingga wellness.

Memasuki tahun 2018 tren kearah leisure economy semakin menemukan critical mass-nya, dimana apapun bentuk konsumsi oleh konsumen Indonesia selalu dikaitkan dengan experience dan leisure.

Ketika milenial jaman now sudah berubah sedemikian rupa menjadi experience consumers, secara mendasar pula strategi Anda harus diubah. Memasuki tahun 2018, apapun bisnisnya, Anda harus mengubah pola pikir bisnis dari “goods-mindset” ke “leisure-mindset”. Anda harus menyuntikkan experience ke dalam produk dan layanan Anda

November 18, 2017   No Comments

Menangkap Peluang Bisnis Keto

Itulah entrepreneur. Begitu muncul peluang bisnis, maka dengan cepat ia menyambarnya.

Itulah yang terjadi dengan demam diet ketogenik (LCHF: “low carb, high fat) yang kini sedang melanda tanah air. Begitu diet gaya baru ini populer, maka para entrepreneurs pun langsung gerak cepat untuk mengambil peluang bisnis yang terkait dengan diet ini.

Macam-macam peluang bisnis yang bisa mereka tangkap: mulai dari katering menu keto, resto kuliner keto, konten resep keto, chef keto, konsultasi diet keto, apps program keto, produk virgin coconut oil (VCO), produk teh hijau, brownies keto, hingga kopi keto.

Peluang Bisnis Keto - Komunitas Memberi

Seorang teman pelaku bisnis keto berujar, di bisnis ini konsumen tak begitu sensitif harga. “Bahkan makin mahal harganya, makin laris,” ujarnya. Tak heran, karena para konsumen di bisnis ini umumnya knowledgeable dan berdaya belinya tinggi, alias dari kalangan berduit. Tak heran jika bisnis ini umumnya bermarjin tinggi… sangat menggiurkan!!!

Nah, Anda para entrepreneurs tentu mulai tergoda untuk terjun ke bisnis ini. Jangan banyak mikir, ikuti diskusi seru ini dan gali informasi sebanyak mungkin dari para pelaku bisnis keto yang telah sukses.

Dan cepat ambil keputusan untuk memasuki bisnis yang sedang hits ini!!!

Ikuti diskusinya di #KelasPengetahuan Komunitas Memberi pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 20 November 2017
Tempat: Dapur Solo, Jl. Matraman Raya No.18, Jakarta Timur.

Pembicara:
Chintia Tenggara, BarryKitchen
Annas Ahmad, FoodKeto
Yos Rizal, KopiKeto
Andy Fajar Handika, Kulina.id

Moderator: Yuswohady

Entrepreneur WAJIB hadir!!!

Peserta wajib daftar di: bit.ly/keto18nop
Atau hubungi: 081 227 607 219

November 14, 2017   No Comments

Bonus Demografi, Neo-Milenial, dan #GenerasiPencipta

Indonesia akan mendapat anugerah Bonus Demografi selama rentang waktu 2020-2035, yang mencapai puncaknya tahun 2030. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (usia 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia di bawah 15 tahun dan orang tua berusia 65 ke atas). Jadi kelompok usia muda kian sedikit, begitu pula dengan kelompok usia tua.

Bonus Demografi ini tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dengan yang produktif. Pada tahun 2030 nanti, angka rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka terendah yaitu 44%, artinya di tahun tersebut rasio kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif mencapai lebih dari 2 kali (100 orang usia produktif menanggung 44 orang usia tak produktif).

Baca Juga: “Bonus Demografi”

Singkatnya, selama terjadi Bonus Demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi kita. Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, atau negara-negara Skandinavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktifnya terus menyusut.

Bonus Demografi

Tidak Siap!

Pertanyaannya, siapa kelompok usia produktif yang bakal paling berperan mengendalikan negeri ini pada saat puncak bonus demografi terjadi di tahun 2030-2035?

Jawabnya adalah anak-anak kita yang saat ini berusia belasan tahun (teens), generasi milenial muda (neo-milenial). Kalau saat ini berusia 15 tahun, maka pada saat puncak Bonus Demografi terjadi usia mereka sekitar 30 tahun, sedang hot-hotnya untuk bekerja dan berkarya untuk bangsa.

Anak-anak neo-milenial itu harus kita persiapkan sebaik mungkin agar saat waktunya tiba harus mengendalikan negeri ini di tahun 2030-2035, mereka telah menjadi manusia-manusia hebat yang betul-betul mampu membawa Indonesia mencapai masa kejayaan. Manusia-manusia hebat semacam: Zuckerberg, Jobs, atau Musk.

Jadi, kemampuan kita SEKARANG mempersiapkan neo-milenial selama 15 tahun ke depan akan menentukan keberhasilan kita dalam memanfaatkan “celah kesempatan” (window of opportunity) dari Bonus Demografi.

Kalau tahun-tahun puncak Bonus Demografi kita isi dengan manusia-manusia bodoh, lemah, lebay, pengeluh, pembebek, benalu, dan kecanduan narkoba, maka sudah pasti kita menyia-nyiakan kesempatan yang hadir sekali dalam sejarah setiap bangsa ini.

Pertanyaannya lagi, apakah kita sudah mempersiapkan mereka? Belum! Hingga detik ini tak ada sedikitpun urgensi nasional untuk mempersiapkan manusia-manusia hebat guna menghadapi tantangan “tahun-tahun emas” Bonus Demografi.

Skills of the 21 Century
Misalnya dalam hal skill dan kompetensi. Tony Wagner (2008) mengidentifikasi ada 7 skills yang menjadi penentu kesuksesan anak di abad 21. Ketujuh skills tersebut adalah:

1. Critical thinking & problem solving
2. Collaboration across networks & leading by influence
3. Agility & adaptability
4. Initiative & entrepreneuralism
5. Effective oral & written communication
6. Accessing & analyzing information
7. Curiosity & imagination

Pertanyaannya, apakah 7 skills itu sudah diajarkan di sekolah-sekolah kita? Barangkali beberapa sekolah khusus sudah mengajarkannya. Namun 99,9% lebih sekolah-sekolah kita tidak mengenalnya.

Umumnya sekolah-sekolah kita sibuk mengajarkan anak didik untuk menghapal dan menyelesaikan soal-soal ujian. Dengan sistem pendidikan berbasis industrial, sekolah-sekolah kita justru secara sistematis membonsai kekritisan berpikir, kreativitas, dan daya cipta.

Akhirnya sistem ini menciptakan sosok-sosok neo-milenial pembebek yang defisit daya imaginasi, daya kreasi, dan passion untuk mengubah dunia. Sebut saja mereka: Generasi Penghapal.

#GenerasiPencipta
Untuk bisa memanfaatkan peluang Bonus Demografi anak-anak kita neo-milenial harus menempa dirinya menjadi sosok generasi masa depan yang saya sebut: #GenerasiPencipta. Merekalah yang nantinya menjadi penentu nasib bangsa, apakah akan menjadi bangsa besar atau sebaliknya, tetap menjadi negara miskin dan terbelakang.

Generasi Pencipta memiliki 4 kualitas personal yang saya sebut 4C: Curiousity, Critical Thinking, Collaboration, Creating. Beginilah anak Indonesia masa depan yang bisa mengeksplorasi dan memanfaatkan Bonus Demografi menjadi sumber keunggulan bersaing bangsa.

Pertama, curiousity, Anak Indonesia harus memiliki daya imajinasi tanpa batas, rasa keingintahuan tak terhingga, dan kemauan luar biasa untuk mengeksplorasi ide-ide perubahan karena ini adalah awal dari sebuah penciptaan.

Kedua, critical thinking, anak Indonesia harus berfikir kritis dalam merespon setiap masalah yang ada di sekitarnya dan selalu berupaya untuk menemukan solusi-solusi untuk menyelesaikannya.

Ketiga, collaboration, anak Indonesia harus menghargai keberagaman, melihat setiap masalah dengan pendekatan multidisplin, dan menyelesaikan masalah dengan kolaborasi dan kerja tim sehingga terwujud solusi komprehensif.

Keempat, creating, anak Indonesia harus memiliki daya cipta, semangat membara untuk berinovasi, dan bernyali besar untuk mengubah dunia.

Bonus Demografi adalah kesempatan yang terjadi HANYA SEKALI dalan sejarah sebuah bangsa. Untuk menyongsongnya Indonesia harus membangun sebuah model pendidikan yang mampu mengubah generasi neo-milenial menjadi #GenerasiPencipta.

Anak-anak kita, orangtua, guru, pengambil kebijakan, dan seluruh stakeholder pendidikan harus sadar hal ini SEKARANG. Kalau tidak, Bonus Demografi hanya sekedar lewat tanpa menghasilkan perubahan apapun.

November 4, 2017   No Comments

Welcome Leisure Economy

The Phenomenon
Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City.

Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%.

Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar.

Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita.

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana?

The Consumers
Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country).

Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi.

The Shifting
Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015 (Faisal Basri, 2017, lihat bagan).

Leisure vs Non-Leisure

Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.

Baca juga: “Core Economy-nya Jokowi”

The drivers
Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#1. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#2. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#3. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#4. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.

“Welcome to the leisure economy.”

October 28, 2017   24 Comments

Scaling-Up Warunk Upnormal

Scaling-up atau membesarkan bisnis setelah sebuah startup mencapai “product-market fit” adalah tantangan terbesar setiap startup dan entrepreneur yang membangunnya.

Asal tahu saja sekitar 74% startup di Silicon Valley gagal karena tak mampu membesarkan diri (premature scaling) alias layu sebelum berkembang. Walaupun tak ada angkanya, saya yakin di Indonesia angkanya lebih memprihatinkan di atas 90%.

Di Indonesia, sebagian besar UKM adalah “perusahan bonsai” karena sepanjang hayatnya kecil melulu nggak pernah kunjung membesar karean tak tahu dan tak mampu melakukan scaling-up.

Celakanya, ada sebuah anggapan umum yang kini mulai muncul, bahwa menjadi startup dan UKM itu cool, keren. Perusahaan besar itu nggak keren.

kelas Inspirasi Upnormal 28 Okt

Saya sendiri bilang, menjadi startup atau UKM itu memang cool, tapi kalau kelamaan menjadi UKM, terbonsai terus-terusan nggak kunjung membesar, itu mah namanya malu-maluin!!!

Kebanggaan terbesar seorang entrepreneur UKM ya, kalau UKM yang dibangunnya ter-scaling-up menjadi perusahaan besar.

Raksasa digital seperti Facebook, Google, Amazon Uber, Go-Jek atau WhatsApp awalnya adalah UKM. Dengan kemampuan scaling-up yang luar biasa cepat (rapid scaling-up) mereka bertumbuh menjadi raksasa dalam waktu yang singkat.

Seperti halnya raksasa-raksa digital tersebut, Anda harus mulai bisa bilang: “goodby UKM”.
Caranya: lakukan scaling-up.

Baca juga: Scaling-Up

Nah, #KelasInspirasi Komunitas Memberi kali ini akan berkunjung ke Markas Warunk Upnormal dan membedah bagaimana warung yang sedang happening ini melakukan scaling-up langsung dari founder-nya, pada:

Hari, Sabtu, 28 Oktober 2017, pukul 09.00 – 12.00 WIB.
Tempat: Upnormal Coffee Roaster, Jl. Wahid Hasyim 79-81, Jakarta Pusat
Narasumer: Rex Marindo, Founder Warunk Upnormal
Moderator: Yuswohady

Let’s join!!!

October 22, 2017   No Comments

New Marketing = “Eksperimen Tiada Henti”

Marketing adalah STP (segmentation, targeting, positioning). Ada juga yang mengatakan marketing adalah 4P (product, price, place, promotion). Itu dulu. Sekarang tidak lagi.

Untuk meluncurkan produk seorang marketer harus terlebih dahulu melakukan market research selama minimal tiga bulan, ditambah mengolah ide dan mengembankan produk, hingga merancang marketing plan, dengan total jendral 6 bulan sampai setahun, bahkan lebih. Itu dulu. Kini tidak.

Saat “digital vampire” menakutkan bernama disrupsi menghantui setiap perusahaan, maka tools dan konsep-konsep marketing di atas perlu direvisi. Ketika perubahan berlangsung super cepat mengikuti deret ukur dan marketer dihadapkan pada kondisi extreme uncertainties, maka prinsip-prinsip dasar marketing perlu diredefinisi sesuai perkembangan jaman kekinian.

Proses marketing yang dulunya bisa di-planning mengikuti alur yang baku, manageable, dan terukur, kini tak bisa dilakukan lagi. Ketika gerak pasar kian chaotic dan unpredictable, maka perencanaan dan forecasting pasar menjadi kian sulit dilakukan.

Sukses produk di pasar pun kini menjadi sebuah keacakan (randomness), tak diketahui arah dan juntrungan-nya.

Dalam kondisi seperti itu, maka tak terelakkan lagi proses marketing harus disikapi sebagai sebuah proses “trial and error”. Marketing adalah proses “coba-coba”. Saya menamakannya: marketing sebagai sebuah “eksperimen tiada henti”.

Marketing as Experimentation

Dibalik
Seperti saya katakan di depan, dulu untuk meluncurkan sebuah produk seorang marketer harus merencanakan dan mempersiapkannya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tujuannya, agar pada saat diluncurkan produk sudah betul-betul sempurna dan dengan begitu bisa dipastikan produk akan mencapai kesuksesan di pasar.

Namun di tengah lingkungan yang disruptif, kepastian sukses di pasar itu menjadi sebuah kemewahan yang kini tidak kita dapatkan lagi. Ingat, kini sukses pasar adalah sebuah keacakan.

Oleh karena itu, alih-alih merencanakannya secara sempurna dan berlangsung bertahun-tahun, kini prosesnya dibalik. Kuncinya adalah kecepatan. Produknya tak perlu sempurna betul (sering disebut: “minimum viable product” atau MVP, yaitu produk dengan fitur yang minimum), yang penting cepat meluncur di pasar dan “berinteraksi” dengan konsumen riil di pasar.

Dengan secepat mungkin meluncurkan MVP di pasar, maka marketer akan cepat mendapatkan feedback dan “konfirmasi” dari konsumen mengenai apa yang betul-betul mereka butuhkan. Dengan begitu marketing bisa diartikan juga sebagai “pengetesan” value proposition produk secara terus-menerus ke konsumen riil di pasar.

Baca juga: Beta Mentality

Bagaimana kalau konsumen tidak menerima MVP tersebut? Ya terpaksa prosesnya diulang terus-menerus secara iteratif (belasan, puluhan, bahkan ratusan kali) sampai akhirnya konsumen mau menerimanya. Jadi, customer feedback itulah yang dijadikan dasar untuk memperbaki MVP secara terus-menerus.

Namun celakanya, dengan konsumen yang semakin demanding, kebutuhan dan harapan mereka layaknya moving target yang berubah terus-menerus. Akibatnya, eksperimen juga harus dilakukan tiada henti. Marketer harus melakukan continuous engagements dengan konsumen sehingga tahu perubahan needs/wants mereka dan kemudian melakukan adjustment terhadap produk.

Singkatnya, continuous experimentation menjadi senjata ampuh bagi setiap marketer untuk bisa lolos dari lubang jarum disrupsi.

Product Is Beta
Ketika marketer menyikapi marketing sebagai “eksperimen tiada henti”, maka dengan sendirinya ia menempatkan produk selalu dalam “versi beta”. Artinya, ia harus punya mindset bahwa produk yang telah diluncurkan di pasar tak akan pernah sempurna.

Karena tak pernah sempurna, maka continuous improvement menjadi sebuah disiplin yang menjadi penentu kesuksesan marketer di pasar.

Setiap marketer harus punya manifesto: “Produk kami masih jauh dari sempurna… dan karena itu kami akan terus berjuang habis-habisan untuk memperbaikinya.” Dengan kata lain, “every marketer must always in beta mode”.

Dengan menyikapi setiap produk yang diluncurkannya sebagai “versi beta”, maka setiap marketer harus terus belajar mengikuti perubahan needs/wants konsumen dan kemudian mengambil pelajaran tersebut untuk memperbaiki produk secara terus-menerus.

Itu artinya ia harus terus berada dalam posisi “learning mode”. “Every marketer must always in learning mode.”

Dengan argumentasi di atas, menjadi jelas bahwa kini marketer punya tiga senjata rahasia untuk menghadapi ganasnya disrupsi digital, yaitu: Continuous experimentation. Continuous improvement. Continuous learning.

 

Sumber foto: minutehack.com

October 14, 2017   No Comments

“Dua Dunia” Otak Kita

Judul: Thinking, Fast and Slow

Penulis: Daniel Kahneman
Hal: 512 hal
Penerbit: Farrar, Staus and Giroux, 2011

Mengarungi pemikiran Daniel Kahneman selama empat dasawarsa kita diajak menelanjangi kegagalan mahluk lemah bernama manusia dalam berpikir rasional dan obyektif. Begitu banyak bias dan kekeliruan yang kita buat sehingga penilaian (judgement), pilihan (choice) atau keputusan (decision) yang kita ambil menjadi melenceng dari koridor rasionalitas dan obyektivitas.

Tesis sentral inilah yang mendorong Kahneman bersama mitra intelektualnya, Amos Tversky, mengembangkan teori mengenai bias kognitif (cognitive biases) dan pengaruhnya terhadap proses pengambilan keputusan. Mereka kemudian mengelaborasi teori tersebut ke lapangan ekonomi dan menghasilkan Teori Prospek (Prospect Theory) yang kemudian mengantarkan Kahneman meraih Nobel bidang ekonomi pada tahun 2002.

Thinking, Fast and Slow - Kahneman book cover

Buah pikiran Kahneman-Tversky (keduanya adalah psikolog, bukan ekonom) tersebut sekaligus menjadi fondasi bagi cabang ilmu ekonomi yang kini kian populer, yaitu ekonomi perilaku (behavioral economics). Beberapa buku best seller di bidang ini seperti Freakonomics (Levit-Dubner, 2005), Predictably Irrational (Ariely, 2008), Black Swan (Taleb, 2007), bahkan karya pop Blink (Gladwell, 2005) setidaknya bersumber dari teori yang mereka bangun berdua.

Intellectual Journey
Thinking, Fast and Slow adalah karya masterpiece Kahneman yang merangkum (dengan sangat padat-presisi, kaya detil, komprehensif, tapi tetap entertaining) keseluruhan pemikirannya yang membentang selama 40 tahun terakhir (karya pertamanya bersama Tversky muncul tahun 1971). Saking komprehensifnya buku ini merangkum intellectual journey sang maestro, saya berani bertaruh, ini adalah karya terakhir Kahneman dalam bentuk buku.

Secara umum pemikiran Kahneman tersebut terbagi ke dalam tiga fase. Fase pertama adalah studi mengenai bias kognitif yang mendistorsi pikiran kita dalam melakukan judgement terhadap sebuah realitas. Melalui studi rintisan “Judgement Under Uncertainty: Heuristics and Biases” (1974) yang juga terlampir dalam bagian apendiks buku, Kahneman menemukan adanya kesalahan sistematis (systematic errors) dalam proses penilaian dan pengambilan keputusan akibat adanya bias kognitif.

Fase kedua adalah studi mengenai teori prospek yang merombak asumsi dasar teori ekonomi tradisional mengenai utilitas (expected utility theory). Melalui karya klasik berbuah Nobel, Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk (1979), Kahneman-Tversky melakukan modifikasi terhadap expected utility theory yang mendominasi pemikiran para ekonom sebelumnya. Mereka membuktikan bahwa dalam melakukan pengambilan keputusan ekonomi manusia tidaklah melulu berpikir rasional, tapi tak luput dari pengaruh berbagai bias dan kekeliruan. Mereka menggugurkan teori lama yang berasumsi bahwa manusia adalah rational agent (homo economicus)

Sementara fase pemikiran Kahneman ketiga adalah studi mengenai psikologi hedonis (hedonic psychology) dan kebahagiaan (science of hapiness). Melalui risetnya, Kahneman berhasil membedakan apa yang disebutnya “experienced well-being” dan “remembered well-being” sebagai ukuran kebahagiaan. Ia menemukan bahwa dalam melihat kebahagiaan hidup, penilaian kita bukannya ditentukan oleh durasi waktu (duration-neglected), tapi banyak dipengaruhi oleh puncak kebahagiaan/kesengsaraan yang kita alami (peak-end rule).

Baca Juga: Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru

Dua Sistem
Kalau dirunut lebih jauh, keseluruhan buah pikiran Kahneman di atas berakar pada dua mekanisme kerja otak kita yang menjadi ide sentral buku ini. Kahneman menyebut dua mekanisme yang berbeda satu sama lain tapi saling berkait-erat tersebut dengan nama “Sistem 1” (fast thinking) dan “Sistem 2” (slow thinking). Sistem 1 bekerja secara cepat-seketika, otomatis, bersifat emosional-intuitif, asosiatif, dan seringkali tak disadari (subconscious). Sementara Sistem 2, sebaliknya, bekerja secara lambat, penuh perhitungan, logis, analitikal, dan butuh perhatian tinggi.

Karena Sistem 2 bekerja dengan penuh perhitungan dan rasional, maka seharusnya ia berperan besar dalam menentukan pilihan dan pengambilan keputusan. Namun celaka, Sistem 2 ini cenderung “malas” dan gampang lelah (disebut “ego-depletion”). Karena itu seringkali Sistem 2 ini menerima begitu saja feeding dari Sistem 1 yang memang lebih cepat dan mudah, namun mengandung banyak bias dan kekeliruan.

Inilah, menurut Kahneman, yang menjadi sumber terjadinya begitu banyak bias yang menjangkiti pikiran kita. Konsekuensi dari temuan Kahneman ini sangatlah jelas, bahwa sesungguhnya kita adalah mahluk lemah yang “tidak banyak tahu” tentang alasan-alasan yang melandasi pilihan atau keputusan yang kita ambil.

Terus terang, membaca sampai akhir buku ini saya menjadi ragu atas kebenaran dari keputusan-keputusan besar yang telah saya ambil dalam hidup saya. Misalnya, “apakah sudah benar ketika saya memutuskan konsultan dan penulis sebagai pilihan profesi saya?” Atau, “apakah sudah tepat ketika 15 tahun lalu saya memutuskan untuk menetap di Jakarta?” Atau juga, “apakah sudah tepat saat 7 tahun yang lalu saya memutuskan untuk menikah?”

Barangkali saja semua keputusan besar saya itu keliru. Ya, karena seperti dikatakan Kahneman, proses terbentuknya keputusan-keputusan itu pekat diwarnai bias, ilusi, dan serba ketidaktahuan yang fatal. Wallahu a’lam. ***
Chemistry Dua Jenius

Thinking, Fast and Slow tak hanya scientifically-robust, intellectually-profoking, dan begitu kaya dengan analisis cerdas, tapi juga “menyentuh”. Bukannya kebetulan, karena buku hebat ini secara khusus didedikasikan Kahneman untuk menghormati Amos Tversky. Tversky adalah mitra intelektualnya yang selama belasan tahun bahu-membahu membantunya membangun Teori Prospek yang kemudian menghasilkan Nobel.

Sayang sekali Tversky tak bisa berbagi Nobel karena ia keburu meninggal pada tahun 1996, enam tahun sebelum Kahneman menerimanya. Kahneman mengatakan kepada The New York Times dalam sebuah wawancara sesaat setelah ia menerima hadiah, “I feel it is a joint prize. We were twinned for more than a decade.” Keduanya adalah duo intelektual yang selalu saling berbagi, saling mengisi, dan saling memengaruhi.

Dalam menjelaskan konsep dan argumentasinya, di banyak halaman buku ini Kahneman menggunakan kata-kata “I and Amos”. Itu barangkali karena secara intelektual mereka memang seperti pinang dibelah dua, tak bisa dipisahkan. Dalam menjelaskan teorinya Kahneman juga seringkali terlebih dahulu memberikan background proses dialog intelektualnya bersama Tversky. Tak heran jika membaca buku ini, secara tak sadar kita merasakan detak-detak “hubungan intelektual” sekaligus “hubungan emosional” antar keduanya.

Kahneman pertama kali bertemu dengan Tversky pada tahun 1969 dalam sebuah seminar di Universitas Hebrew, Yerusalem tempat Tversky mengajar. Dalam seminar tersebut mereka terlibat debat intelektual seru yang kemudian berujung pada keinginan mereka berdua untuk berkolaborasi. Sejak awal bertemu, keduanya langsung menemukan chemistry. Mengenai chemistry ini Kahneman berujar, “The pleasure we found in working together made us exceptionally patient, it is much easier to strive for perfection when you are never bored.”

Kerja kolaborasi Kahneman-Tversky akhirnya berlangsung selama 14 tahun, yang begitu produktif menghasilkan dua buku dan 9 tulisan jurnal yang sangat berpengaruh baik di bidang psikologi maupun ilmu ekonomi. Melalui karya bersama ini, keduanya dianggap sebagai pionir psikologi kognitif (cognitive psychology) dan ekonomi perilaku (behavioral economics).***

October 13, 2017   1 Comment