E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Ambush Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 di Rusia tak hanya menjadi peluang luar biasa bagi para official sponsors yang telah mengeluarkan bujet miliaran bahkan triliunan rupiah untuk membangun brand dan meraup omset, tapi juga dimanfaatkan dengan cerdas oleh brand-brand yang bukan sponsor resmi.

Caranya gimana? Caranya dengan ambush marketing, yaitu melakukan kampanye pemasaran yang memanfaatkan asosiasi dan impresi yang terkait dengan event Piala Dunia. Tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan-ketentuan hukum FIFA yang menjadi “pemilik” event empat tahun sekali itu.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

European Sponsorship Association (ESA) mendefinisikan ambush marketing sebagai berikut:

A strategy where brands have developed and run creative marketing campaigns using the opportunity to push the boundaries and sometimes give the impression that they are an event sponsor, when they are not.”

Kata kunci dari definisi tersebut adalah “creative marketing campaign”, artinya strategi ambush marketing mengandalkan kreativitas dari marketer dalam “menunggangi” event Piala Dunia walaupun mereka bukanlah sponsor resmi.

Download the ebook: bit.ly/brandingworldcup2018

Powerful-nya ambush marketing tercermin dari hasil survei yang dilakukan terhadap Piala Dunia 2014 lalu di Brasil. Enam dari duabelas brand yang memuncaki volume “buzzing” di media sosial ternyata bukanlah brand yang menjadi sponsor resmi.

Brand tersebut termasuk Nike yang mampu menghasilkan 232.000 social mentions, dibandingkan Adidas (yang merupakan sponsor resmi) yang hanya mampu menghasilkan 129.000.

Do & Don’t
Pertanyaannya, bagaimana agar ambush marketing yang dilakukan marketers tidak melanggar ketentuan-ketentuan sponsorship FIFA? Berikut ini adalah apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menjalankan ambush marketing.

Perlu diingat, kalau sebuah brand bukan sponsor resmi, maka ia tidak boleh menggunakan logo, trademark, dan kata-kata “Piala Dunia”, “Piala Dunia 2018”, “Piala Dunia Rusia 2018” dan berbagai kombinasinya.

Tapi tentu saja boleh dong kalau marketers menggunakan kata “sepakbola” atau “Rusia” di dalam kampanye iklannya. Jadi untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia selama sebulan ini, marketers bisa membuat iklan versi sepakbola tanpa sedikitpun menggunakan logo, trademark, atau kombinasi kata “Piala Dunia Rusia 2018”.

Baca juga: Piala Dunia Zaman Now

Menurut ketentuan FIFA, memang brand tidak boleh melakukan sales promotion dengan hadiah memberikan tiket kepada konsumen untuk menonton Piala Dunia di Rusia. Tapi tentu boleh dong melakukan sales promotion dengan memberikan hadiah berlibur selama seminggu ke kota Moscow atau St. Petersburg selama penyelenggaraan Piala Dunia.

Itulah “guerrilla strategies” yang bisa dilakukan tanpa sedikitpun melanggar ketentuan FIFA. Kuncinya adalah menciptakan asosiasi atau impresi yang nge-link dengan event Piala Dunia.

Contoh-contoh berikut memberikan gambaran bagaimana ambush marketing dijalankan.

The Winner
Ambush marketing dijalankan dengan sangat kreatif di ajang Piala Dunia 2014 Brasil oleh Beats by Dre. Produsen headphone anak perusahaan Apple ini mencuri momen Piala Dunia 2014 dengan mengunggah video 5 menit di YouTube yang menampilkan Neymar dan Suarez tanpa sedikitpun menggunakan atribut dan trademark Piala Dunia. (lihat videonya di sini: “The Game before the Game”)

Video human interest yang menampilkan Neymar sedang menelpon interlokal ayahnya di kampung tersebut menciptakan engagement yang luar biasa dari para pecinta bola sejagad. Iklan ini menghasilkan 26 juta views di YouTube, peningkatan penjualan online 130% dan PR value sekitar US$ 50 juta.

The Loser
Kalau Beats menuai sukses, maka sebaliknya Paddy Power, perusahaan taruhan asal Irlandia justru melakukan blunder. Di gelaran Piala Eropa 2012, Paddy Power mengontrak Nicklas Bendtner pemain Denmark, untuk memperlihatkan logo Paddy Power di celana dalamnya saat melakukan selebrasi selepas mencetak gol. (lihat videonya di sini: “Paddy Power Lucky Pants”)

Tentu saja ambush marketing ini melanggar ketentuan FIFA dan karena itu Bendtner dan Paddy Power akhirnya terkena denda 80 ribu poundsterling oleh UEFA. Namun berkahnya, kejadian ini memicu kontroversi yang meroketkan brand awareness Paddy Power.

The Smart
UberEats dan McDelivery menyentil kegagalan Italia masuk di laga Piala Dunia 2018 dengan meluncurkan iklan yang menampilkan legenda Italia Andrea Pirlo. Ini adalah iklan ambush yang sangat cerdas.

Dalam iklan bertema #TeamForPirlo itu Pirlo membutuhkan bantuan dari bintang-bintang lain seperti Cafu dan Luiz Hernandes untuk menentukan tim mana yang layak menjadi juara, ketika Italia tak ikut berlaga. (lihat videonya di sini: #teamforpirlo).

Bagi para suporter Italia tentu saja iklan ini merupakan sentilan menyakitkan sekaligus menggelitik. Dengan gaya iklan yang kocak, UberEats mampu “menunggangi” momen Piala Dunia tanpa sedikitpun menggunakan atribut Piala Dunia.

The Coolest
Yang paling cool adalah ambush marketing yang tanpa sengaja “dilakukan” oleh AirPod milik Apple. Saat gelaran Piala Dunia Rusia kali ini secara kebetulan banyak pemain top dunia seperti Neymar dan Jesse Lingard, yang tertangkap kamera media sedang mengenakan AirPod untuk mendengarkan musik saat mereka mendarat di bandara Moscow dan saat mereka pulang karena timnya kalah. Padahal sepeser pun mereka tidak dibayar Apple.

Barangkali inilah ambush marketing paling natural dan paling otentik di sepanjang gelaran Piala Dunia 2018. Semua serba kebetulan, tidak dirancang, dan tidak direkayasa (lihat artikel lengkapnya di sini: “AirPod is the Real Winner of World Cup 2018“).

Dan dalam marketing berlaku, promosi yang otentik selalu menghasilkan dampak branding beribu-ribu lipat lebih powerful. Ini namanya rezeki nomplok bagi Apple.

July 13, 2018   No Comments

Branding Piala Dunia 2018

Kenapa HOT? Karena Piala Dunia adalah momen paling HOT untuk membangun merek dan mendongkrak penjualan. Bayangkan, event akbar berbiaya lebih dari Rp 160 triliun ini bakal ditonton tak kurang dari separuh penduduk bumi. Selama sebulan penyelenggaraannya, praktis semua orang ngomongin Piala Dunia. Dan so pasti, semua hal akan dikaitkan dengan Piala Dunia.

Saya mengistilahkannya: “World Cup of Things”

Tak heran jika brand berlomba-lomba mengeluarkan 1001 jurus untuk meluncurkan produk baru, mendekatkan diri dengan konsumen, mereposisi brand, mengaktivasi komunitas, hingga tentu melejitkan sales dari gelaran empat tahun sekali ini.

Download ebook: The Art of Branding World Cup 2018

Berikut adalah tujuh branding moves yang dilakukan oleh brand untuk memenangkan persaingan.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

#1. It’s the HOT Time to Engage Community
Cara paling umum memanfaatkan gelaran Piala Dunia adalah dengan mengaktivasi komunitas konsumen dengan mengusung acara nonton bareng (nobar). Namun tak seperti sebelumnya, kini menggelar nobar tidak bisa sembarangan. FIFA mengawasi pelaksanaannya dengan melakukan sertifikasi tempat-tempat yang berhak menyelenggarakan nobar. Jadi brand harus hati-hati agar tidak kena semprit FIFA.

#2. Launch HOT Product
Vivo habis-habisan memanfaatkan Piala Dunia 2018 untuk membongkar dominasi Samsung dan Apple di pasar telepon cerdas. Salah satu HOT moves yang dilakukannya adalah memperkenalkan ponsel terbarunya yakni X21 UD yang dirancang khusus versi Piala Dunia 2018. Diluncurkan tiga minggu sebelum gelaran Piala Dunia produk tematik ini hadir dengan dua warna spesial piala dunia yakni Tibetian Blue dan Victory Red yang menjadi warna bendera Rusia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia 2018.

#3. Riding the Wave thru HOT Repositioning
Puluhan tahun brand Pegadaian identik dengan konsumen kelas bawah (bottom of the pyramid) di pedesaan yang tua dan gagap teknologi. Persepsi ini tentu tak menguntungkan di tengah lahirnya generasi zaman now alias milenial dan munculnya fintech disruption.

Karena itu dengan cerdas Pegadaian memanfaatkan momentum akbar Piala Dunia untuk mengubah persepsi ini. Melalui TVC-nya sebelum dan setelah siaran langsung Piala Dunia, Pegadaian memproklamarkan “Pegadaian digital” dengan meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS) gadai tanpa bunga yang disasarkan untuk kaum milenial. A smart moves!

#4. Deepening Engagement with HOT Channel Partners
Brand juga bisa memanfaatkan Piala Dunia 2018 untuk mendekatkan diri dan memperdalam hubungan dengan para channel partners-nya. Itulah yang dilakukan Traveloka. Didukung oleh lebih dari 1,400 channel partner hotel, Traveloka menghadirkan acara nonton bareng Layar Bola Traveloka di lebih dari 100 kota di Indonesia.

#5. Stealing HOT Moment to Create Massive Exposure
Selama gelaran Piala Dunia praktis tak ada brand-brand lokal Indonesia yang melakukan kampanye branding di kota-kota penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia. Ya, karena biayanya memang mahal sekali.

Kelangkaan ini dimanfaatkan secara cerdas oleh Kemenpar dengan melakukan branding Wonderful Indonesia di dua kota utama Rusia: Moscow dan St Petersberg. Media promosi yang digunakan cukup low budget high impact, yaitu digital billboard dan bus-bus yang dibalut foto destinasi-destinasi unggulan. Bus ini ngider di jalan-jalan utama kota Moscow disaksikan fans bola dari seluruh dunia.

#6. Acquire HOT First Customers
Selaku pemegang lisensi ekslusif internet broadcaster Piala Dunia 2018 Klix meluncurkan web portal Klixtv.com dan aplikasi mobile Klix TV untuk menonton pertandingan tersebut melalui live streaming. Klix memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk menggaet first dan early customers. Kita tahu, utk layanan baru, menggaet kosumen awal adalah challenge terberat sebuah brand. Strategi yang sama dilakukan oleh MAXstream layanan video on demand besutan Telkomsel.

#7. And of Course… HOT Ambush Marketing
Event seheboh Piala Dunia selalu menjadi langganan brand untuk melakukan ambush marketing, yaitu memanfaatkan momen Piala Dunia ini untuk melakukan promosi walaupun brand tersebut bukanlah official sponsor dari Piala Dunia.

Ambush marketing memang berisiko: kalau taat aturan tak menjadi masalah; namun kalau melanggar, dampaknya bagi reputasi brand bisa fatal. Di Piala Dunia 2018 kali ini brand-brand seperti: Three, Ikea, Carlsberg, atau Domino Pizza sukses membesut ambush marketing. Sebaliknya, Burger King, Lufthansa, dan Mastercard blunder melakukannya.

Di Indonesia sendiri gimana? Coba lihat di perempatan Kuningan Jakarta, Sosro melakukan ambush marketing secara cantik dengan memasang billboard bertema sepak bola tanpa menggunakan atribut dan logo Piala Dunia.

Ebook bisa didownload di link: bit.ly/brandingworldcup2018

 

July 7, 2018   No Comments

Piala Dunia Zaman Now

Kenapa Piala Dunai Rusia 2018 saya sebut: Piala Dunia zaman now? Karena Piala Dunia kali ini beda dengan Piala Dunia sebelumnya. Ya, karena Piala Dunia kali ini lebih milenial, lebih digital, dan lebih kekinian.

Download ebook-nya: The Art of Branding World Cup 2018

Ambil contoh, nonton bola kini tak hanya di depan TV di rumah, tapi melalui streaming dan mobile. Nobar sebelumnya harus kumpul di kafe atau mal, kini nobar bisa dilakukan secara “online” dimana nontonnya di HP dan perang supporter dilakukan via chit-chat-nya di Twitter. Begitupun, dulu taruhan bola dilakukan di warung-warung kopi atau kafe-kafe, kini mulai seru dilakukan di situs-situs taruhan (online betting).

Berikut adalah 10 tren perilaku fans sepakbola zaman now yang saya amati dari gelaran Piala Dunia 2018.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

#1. World Cup of Things
Perhelatan piala dunia selalu menjadi demam dimana-mana di seluruh dunia. Di berbagai tempat seperti mal, kafe, kantor hingga tempat pencoblosan pilkada berlomba-lomba menampilkan ornamen bertema piala dunia. Begitu pula brand-brand melakukan promosi dengan menunggangi momen turnamen akbar empat tahunan ini. Semua serba Piala Dunia!!!

#2 Streaming Viewership: The New Normal
Di era serba digital sekarang, nonton bola pun semakin personal dan mulai beralih ke online streaming. Dengan mobilitas konsumen yang semakin tinggi, nonton tak lagi harus ramai-ramai di depan TV. Berbagai layanan streaming menawarkan tontonan akbar ini seperti Telkomsel Maxstream atau Klix. Nonton dimanapun, kapanpun!!!

#3. Online Betting: “Adrenaline Pleasure”
Ada adagium mengatakan, tak lengkap nonton bola tanpa taruhan. Pun piala dunia, menjadi ladang yang menggiurkan bagi para petaruh dan bandar judi. Mengadaptasi era digital, bandar judi berevolusi menjadi online betting seperti SBO Bet atau M88 Bet, sehingga semakin memudahkan para petaruh. Tak melulu soal uang, motivasi taruhan biasanya lebih ke “seru-seruan” atau momen “deg-degan” melihat tim jagoan menang atau kalah.

#4. Online Gaming: The New Hype
Senada dengan judi bola, pola gamifikasi bola kini juga semakin digemari. Online gamification seperti Fantasy Football memungkinkan kita seolah-olah menjadi manajer sebuah tim. Kita bisa memilih pemain-pemain favorit yang nantinya akan mendapat poin berdasarkan pertandingan nyata. Demam permainan ini mulai ramai beberapa tahun lalu di pertandingan liga-liga Eropa, dan mencapai puncaknya saat Piala Dunia.

#5. World Cup Meme
Tiada bola tanpa drama, pun piala dunia. Momen-momen dramatik nan unik sepakbola kini hadir dalam bentuk meme-meme khas di social media. Momen gagal penaltinya Messi, atau “kenakalan” Sergio Ramos di lapangan menjadi santapan empuk netizen untuk dijadikan bahan “bully” dengan meme-meme yang lucu dan menghibur.

#6. Comment War: Social Media Battle
Sepakbola tak hanya soal pertandingan bola di lapangan, namun kini juga beralih ke social media. Para supporter di dunia maya ikut bertarung saling komen dan “mem-bully” tim lawannya di media sosial. Setiap pertandingan bola apalagi ketika big match, linimasa twitter (dan socmed lainnya) selalu riuh dengan perang komentar dan meme antar supporter. Social media is the real battle!!!

#7. Online Nobar
Tak hanya satu layar, nonton bola pun kini menjadi multi layar. Nonton bareng di kafe, sambil terus memantau komen-komen di social media. Mata tertuju di layar TV, namun jempol terus begerak memantau linimasa. Komen-komen dan “bully” di medsos terkadang lebih seru disimak daripada pertandingan asli di TV.

#8. World Cup Fashion Fever: Beyond Jersey
Sepakbola dan fesyen adalah dua hal yang selalu berdampingan. Tak lengkap rasanya nonton bola tanpa memakai jersey tim idola. Fashion sepakbola terus berkembang dari sekedar jersey, ke berbagai jenis fashion lainnya sesuai tren yang sedang happening. Kini muncul sarung bertema bola, batik bermotif bola hingga baju koko bola.

#9. Sport Backpackers
Bagi sebagian orang, bisa menonton tim jagoan di perhelatan Piala Dunia ibarat menunaikan ibadah haji. Momen yang terjadi 4 tahun sekali akan sayang jika terlewatkan. Banyak yang menabung dan mengambil cuti kerja (bahkan ada yang resign) demi bisa menyaksikan tim jagoan berlaga di piala dunia. Beberapa brand pun banyak melakukan promo baik menjual paket tur murah maupun kuis berhadiah nonton langsung piala dunia.

#10. Instant Fans… Wannabe Fans
Momen-momen turnamen bola seperti piala dunia atau piala eropa selalu menghadirkan fans-fans bola dadakan, utamanya kaum hawa. Yang biasanya tak paham bola, tiba-tiba hapal nama-nama pemain bintang atau mendadak punya baju bola tim jagoan. Belum eksis kalau tidak ikut ngetwit tentang piala dunia, bakal dianggap “kudet” kalau tidak posting foto memakai jersey bola.

Uraian lengkap mengenai tren perilaku fans dan strategi branding Piala Dunia 2018 bisa diunduh di ebook saya dengan link: bit.ly/brandingworldcup2018

July 7, 2018   1 Comment

Lebaran Zaman Now (1)

Lebaran tahun ini istimewa karena tiga hal: libur lebaran lebih panjang; cairnya THR bagi PNS dan pensiunan; dan beberapa ruas jalan tol sudah diselesaikan sehingga tahun ini mudik menjadi lebih lancar.

Download ebook-nya di: bit.ly/lebaranzamannow2018

Tak heran jika mudik tahun ini lebih bergairah. Kemenhub memprediksi total jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 25 juta orang atau naik sekitar 10-12% dibandingkan tahun lalu. Tak pelak aktivitas ekonomi selama mudik pun menggeliat. Pasokan uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia selama lebaran mencapai Rp 188 triliun, seentara sirkulasi uang melalui remittance menurut Pos Indonesia mencapai Rp 3-4 triliun. Fantastis!!!

Menyambut lebaran 2018 ini saya menyusun sebuah kajian singkat Lebaran Zaman Now yang mengungkap tren terkini terkait lebaran 2018. Tren tersebut mengungkap perilaku konsumen muslim zaman now dalam berlebaran dan menjalani ritual mudik 2018. Untuk urian lengkapnya, silahkan unduh ebook-nya di link: bit.ly/lebaranzamannow.

Untuk minggu ini saya akan menguraikan 10 tren dan insight berharga mengenai lebaran zaman now. Sementara 10 tren sisanya akan dituntaskan di kolom minggu depan.

Lebaran Zaman Now 2018

#1 Lebaran Adalah Liburan
Momen lebaran dan mudik kini sekaligus menjadi momen liburan. Sholat Ied dan halal-bihalal di kampung hanya makan setengah hari. Sisanya diisi apa? Liburan dan kulineran. Waktu libur yang cukup panjang dimanfaatkan para pemudik beserta keluarga untuk mengeskplorasi destinasi-destinasi wisata di daerahnya. Hal ini dimanfaatkan pula oleh airlines atau hotel dengan membuat paket-paket wisata lebaran.

#2 Lailatul Obral: The Paradox of Consumption
Setiap menjelang lebaran atau sepuluh hari terakhir ramadhan, mal-mal di kota besar selalu menggelar late nite sale yang dipenuhi para pemburu diskon atau obral. Di bulan suci ramadhan yang harusnya menahan godaan hawa nafsu namun terjadi paradoks, justru nafsu berbelanja menggila demi tampil sebaik mungkin di saat lebaran. Saat harus i’tikaf mengejar lailatul qadar namun tergoda mengejar “lailatul obral”.

#3 Online Late Nite Sale
Selain mal-mal yang menggelar late nite sale, tak ketinggalan para pemain online marketplace atau e-commerce menggelar hal serupa. Antrian panjang di mal-mal mulai bergeser ke hot deals atau flash sale yang diadakan Tokopedia atau Bukalapak. Tokopedia misalnya menggelar program Shake-Shake yang menggabungkan pengalaman belanja offline dan online. Tujuannya tak lain untuk membangkitkan nafsu belanja…belanja…belanja!!!

#4 Perang Hawa Nafsu = Perang Pemasaran
Bulan ramadhan dan momen mudik lebaran selain menjadi perang melawan hawa nafsu juga menjadi arena pertempuran pemasaran antar brand. Daya beli masyarakat yang cukup tinggi setelah mendapat THR begitu menggiurkan bagi brand. Sepanjang jalur mudik selalu dipenuhi iklan maupun posko-posko yang dibuat oleh brand untuk promosi, termasuk bertempur di ranah digital.

#5 Mudik = Pamer Kesuksesan
Momen lebaran juga menjadi ajang pamer kesuksesan terutama bagi pemudik dari kota-kota besar. Rasanya tidak lengkap lebaran kalau belum pamer mobil baru, gadget baru, bahkan pasangan baru. Riset yang dilakukan Nielsen selama bulan Ramadan menemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7%. Rencana mereka untuk membeli smartphone di saat lebaran juga mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21% dan rencana untuk membeli mobil meningkat 3,5 kali lipat. Mobil baru dan gadget baru adalah simbol kesuksesan mereka.

#6 Mudik is Expensive… but It’s a Must
Mudik membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit: dana untuk transporatasi, oleh-oleh kerabat di kampung, angpau untuk keluarga, hingga ongkos untuk liburan dan kulineran selama mudik. Celakanya, harga-harga saat lebaran membumbung selangit. Tak heran jika gaji + THR pun seketika ludes… cuma “numpang lewat”. Tapi semua itu tak menjadi masalah, karena mudik adalah “kewajiban sosial” yang harus dijalankan. Begitu anggaran defisit, kalau perlu ngutang atau menggadaikan perhiasan.

#7 Mudik: Moving the Traffic Jam to Kampongs
Mudik telah memindahkan aktivitas masyarakat dari kota ke kantong-kantong mudik di kampung. Maka kota yang identik dengan kemacetan, selama lebaran akan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Diprediksi lebaran tahun ini akan ada sekitar 1,4 juta mobil keluar dari Jakarta menuju kantong-kantong mudik di berbagai daerah. Di samping itu sekitar 6,3 juta pemudik menggunakan sepeda motor. Tak heran jika selama mudik kemacetan “diekspor” dari Jakarta ke kampung.

#8 Syawalan Digital
Keriuhan bermaafan saat lebaran juga merambah ranah digital. Kini bermaaf-maafan tak harus ketemu langsung, cukup melalui Whatsapp atau media sosial, terutama buat teman atau kerabat yang jauh. H-1 lebaran ponsel tak hentinya berdering dipenuhi ucapan lebaran di WA, Facebook atau Twitter.

#9 Zakat Zaman Now: “Fintech Attack”
Membayar zakat kini semakin techy. Baznas misalnya, tahun ini meluncurkan M-cash untuk memudahkan muslim zaman now membayar zakat. Basnaz juga menggandeng Go-Pay meluncurkan layanan pembayaran zakat non tunai dengan QR Code, TCash bersama Rumah Zakat menghadirkan fitur donasi digital. Sementara, OVO berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa memberikan layanan aplikasi pembayaran zakat yang mudah, cepat, dan aman.

#10 Lebaran = Fashion War
Selain sebagai ajang pamer kesuksesan, lebaran adalah ajang pamer baju baru. Lebaran tanpa baju baru bagaikan sayur tanpa garam. Brand-brand fesyen besar seperti Uniqlo atau Zara selalu merilis pakaian edisi khusus lebaran. Tak hanya brand besar, yang level menengah bawah juga menunggangi tren baju lebaran memanfaatkan tren baju artis yang sedang populer seperti kaftan Raisa, abaya Syahrini, bahkan baju koko versi Black Panther.

 

June 18, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (3)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: bit.ly/muslimzamannow).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Muslim Zaman Now

Untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut adalah tren 11-15, menyambung tren-tren yang sudah dibahas di kolom minggu lalu.

#11. Ngaji-gital: The Rise of Socmed Ustadz
Dakwah yang selama ini dilakukan dengan metode pendekatan ceramah, tabligh, dan komunikasi satu arah (one-way comm) kini menjadi tidak cool lagi di mata muslim zaman now.

Bagi mereka, dakwah yang keren adalah melalui grup WA atau YouTube. Ustadz yang mereka gemari adalah ustadz gaul (Ustadz Abdul Somad, Adi Hidayat, atau Salim Fillah) yang ceramahnya renyah melalui Snapchat atau Facebook Live. Mereka menginginkan experience dakwah yang lebih dari sekedar nonton Mamah Dedeh di TV. Digital memungkinkan dakwah menjadi komunikasi dua arah dan fun.

#12. Muz-match: The New Way of Ta’aruf
Mencari jodoh memang susah-susah gampang. Diperlukan kesabaran dan sikap pantang menyerah karena jodoh memang sudah diatur oleh Allah SWT dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Jalan yang dianjurkan agama islam dalam mencari pasangan adalah melalui proses ta’aruf bukan pacaran.

Di era digital, konsep ta’aruf pun berkembang dari offline ke online. Kini bermunculan beragam apps yang menawarkan solusi dating untuk muslim-muslimah yang syar’i, alias sesuai dengan ajaran islam. Misalnya Minder yang mengadaptasi konsep Tinder, Muzmatch, Crescent, dan Salaam Swipe.

Minder

#13. The New Muslimpreneur: The New Cool
Menjadi entrepreneur kini semakin menjadi pilihan bagi generasi kekinian, termasuk muslim zaman now. Mulai banyak muslim zaman now yang memilih menjadi entrepreneur, terutama di sektor kreatif seperti kuliner, fesyen, travel hingga bisnis digital. Bisnis yang digeluti pun tak hanya menawarkan produk islami, tapi juga dikelola dengan cara yang islami.

Ria Ricis misalnya, adalah sosok muslimpreneur muda kreatif yang sukses sebagai Youtuber dan mengembangkan produk kue kekinian. Jannah Corp yang diinisiasi oleh Irwansyah dan Zaskia Sungkar cukup sukses mengembangkan bisnis kue kekinian dan kini berekspansi ke bisnis travel. Menjadi muslimpreneur adalah sesuatu yang keren (“the new cool”).

Muslimpreneur

#14. Be Part of Pop Culture
Muslim zaman now adalah konsumen yang modern, tech-savvy, dan memiliki mindset global. Mereka tumbuh dengan budaya pop sebagai identitas mereka. Walaupun Islam dan budaya pop (yang identik dengan dunia Barat) sering digambarkan saling bertentangan, namun fenomena muslim zaman now membalikkan anggapan itu. Islam dan budaya pop bisa berjalan beriringan.

Contohnya Yuna Zarai adalah seorang penyanyi berhijab yang mampu menembus pasar musik global, berkolaborasi dengan bintang Amerika Usher. Hijab tak membatasi dirinya untuk berkarya, malah sebaliknya menjadi unique selling point yang membedakannya dengan penyanyi lainnya.

Yura - Muslim Pop Culture

#15. Beyond Halal… Towards Halal Value Chain
Bagaimana cara brand mengomunikasikan kehalalan kepada muslim zaman now? Hingga hari ini, banyak brand yang masih melakukannya melalui logo sertifikasi halal. Tentu saja, hal ini tidak salah, tetapi kalau semua brand menonjolkan logo halal, maka hasil branding-nya kurang unik.

Karena itu saya meramalkan dalam beberapa tahun ke depan brand tak sekedar menonjolkan logo halalnya, tapi juga masuk ke ranah halal supply-chain, yaitu menelusur kehalalan produk ke seluruh rantai pasoknya (dari peritel, distributor, pabrik, bahkan hingga ke pemasok ahan bakunya. .

Umpamanya, brand dapat melakukan komunikasi pemasaran dengan menunjukkan proses bisnisnya secara transparan atau menerapkan nilai-nilai bisnis yang islami. Contohnya adalah yang dilakukan TipTop Swalayan. Peritel islami ini tidak begitu menonjolkan logo halal atau simbol-simbol islam. Mereka cenderung mengomunikasikan nilai-nilai perusahaan yang sangat islami, misalnya mengambil keuntungan 2-3% sesuai kaidah islam, seluruh karyawan berhijab, dan selalu mengingatkan jika waktu shalat tiba.

June 9, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (2)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: bit.ly/muslimzamannow ).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

Muslim Zaman Now

Untuk menangkap perkembangan pesat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut adalah tren 6-10, menyambung tren-tren yang sudah dibahas di kolom minggu lalu.

#6. Soleh-Smart Kids: The New Paradigm of Parenting
Di kalangan mamah-mamah muda muslim zaman now kini muncul pergeseran mindset dan perilaku dimana mereka lebih memilih dan menyukai pendidikan berbasis Islam. Mereka tak hanya menginginkan anak-anak mereka pintar di bidang matematika, fisika, atau mahir berbahasa Inggris, tapi juga ingin anaknya memiliki nilai-nilai dan karakter Islam yang mulia.

Fenomena yang lagi happening saat ini adalah kemunculan SD Islam Terpadu (SD-IT) yang justru lebih diminati dibanding SD-SD biasa. Di berbagai kota besar/menengah di Tanah Air kini banyak bermunculan sekolah-sekolah (TK-SD-SMP-SMA) berkelas global yang menggabungkan sains dengan pendidikan karakter Islam. Sekolah-sekolah ini sangat diminati oleh orang tua muslim walaupun biayanya selangit.

#7. Lei-Sharia: Muslim-Friendly Leisure
Muslim zaman now adalah juga experience-seeker yang hobi banget melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang saya sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip sharia-friendly. Banyuwangi misalnya mulai memperkenalkan wisata pantai syariah. Kolam renang hotel syariah kini mulai tidak lagi mencampur antara tamu pria dan wanita.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal trip. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, hingga panduan doa.

Lei-Sharia

#8. Mipster: The New Role Model
Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan bahkan terkenal. Sosok muslim kekinian ini sering disebut “Mipster” atau Muslim Hipster. Mereka adalah sosok muslim zaman now yang memiliki mindset global, toleran, inklusif, digital-savvy, tapi juga tetap soleh dan religius. So, seimbang antara “faith” dan “fun” (2F).

Di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran dengan penampilan yang sangat stylish. Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di media sosial seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana.

Muzamil Hasballah

#9. Sportyjab: The New Hype
Gaya hidup sehat kini semakin menjadi pilihan bagi muslim zaman now. Berolah raga sambil narsis telah menjadi “kewajiban”. Bagi muslimah zaman now, menjalankan syariat Islam seperti memakai hijab tak serta-merta membatasi aktivitas berolah raga dan aktivitas produktif lainnya. Mereka tetap jogging, nge-gym, zumba, atau berenang mengenakan hijab yang sporty. Yup, sehat dapat, syar’i pun dapat.

Melihat tren ini, Nike sampai mengembangkan lini brand baru untuk hijabers: Pro Hijab. Produk tersebut diperuntukkan bagi hijabers yang aktif berolahraga tapi tetap ingin stylish dengan hijabnya. Tak hanya Nike, brand lokal seperti Specs dan Sporte justru sudah lebih dulu mengeluarkan lini produk yang sama. Sportyjab… the new hype!

SportyJab

#10. Muslizen: the New Digital Lifestyle
Perkembangan dunia digital telah mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak bisa lepas dari gaya hidup digital. Hidup mereka sudah tergantung kepada media sosial, apps, wearable device, dan sejenisnya.

Aktivitas kehidupan sehari-hari mereka pun mulai beralih ke digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintech, travelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial seperti: HalalTrip (berlibur), Muslimarket (belanja), IndVes (berinvestasi), Kitabisa.com (sodaqoh), Minder (ta’aruf), dan sebagainya.

Tunggu 5 tren berikutnya di kolom minggu depan. Dan ebook “15 Tren Muslim Zaman Now” bisa diunduh di: bit.ly/muslimzamannow.

June 3, 2018   No Comments

15 Tren Muslim Zaman Now (1)

Menyambut Ramadhan tahun ini saya dan tim riset Inventure melakukan riset dan menuangkannya di dalam sebuah ebook yang kami beri judul: Muslim Zaman Now: The 15 Trends for Ramadhan (ebook tersedia di: www.bit.ly/muslimzamannow ).

Pasar muslim di Indonesia berkembang begitu pesat seperti sudah saya tuangkan dalam dua buku saya Marketing to the Middle-Class Muslim (2014) dan #GenM (2017). Persis seperti diprediksi dua buku tersebut, pasar muslim kini kian menjadi mainstream market di Indonesia karena 88 persen penduduk kita adalah muslim dan perilaku kaum muslim zaman now (muslim milenial) berkembang begitu cepat dan dinamis.

M2M dan Gen M

Untuk menangkap perkembangan esat perilaku muslim zaman now saya menuangkannya dalam 15 tren perilaku konsumen muslim yang begitu hot tersebut. Berikut tren-trennya.

#1. Halal of Things: The Hot Label
Di dunia digital selama ini kita mengenal istilah “Internet of Things” (IoT). Artinya, semua peralatan apapun (TV, lemari es, mobil, hingga wearable devices) nantinya akan membentuk jejaring internet yang terkoneksi satu sama lain. Dengan menggunakan analogi yang sama saya punya istilah baru “Halal of Things (HoT) yaitu fenomena dimana seluruh produk (terutama yang terkait makanan) akan diberi label halal.

Lemari Es Halal Pertama

Labelisasi halal ini akan berlangsung begitu massif menjelang dan setelah tahun 2019 karena memang UU Jaminan Produk Halal (UU JPH) akan diterapkan di tahun tersebut. Label halal akan menjadi “magic word” yang bisa “menghipnotis” konsumen muslim zaman now. Pemilik merek pun berlomba-lomba menggunakan label halal.

#2. Riding the Conversations
Dengan munculnya fenomena Halal of Things, pemilik brand non-makanan/minuman seperti lemari es, panci, hijab, tisue, lingerie, hingga pembalut wanita, berlomba-lomba mengomunikasikan logo halal yang telah dikantonginya. Tujuannya untuk menciptakan percakapan: word of mouth dan viral di media sosial yang ujung-ujungnya melesatkan awareness produk. Mereka mencuri perhatian muslim zaman now. Tapi ingat, langkah berani ini bukannya tak membawa risiko, karena bisa menimbulkan kontroversi yang membahayakan brand: “high return, high risk… even high loss!”

#3. Hijrah: The New Way of Life
Hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi mereka, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan kerudung. Mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam dan lebih murni. Mereka, misalnya, rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya mereka yang bekerja di bank konvensional, rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba). Fenomena hijrah ini banyak didorong oleh para celebritas dari bintang film, pemain sinetron, hingga penyanyi rock.

Hijarah - Tidak Bekerja di Bank Konvensional

#4. The Rise of Riba Awareness
Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan muslim zaman now, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech. Go-Pay yang sempat dianggap riba, kini mulai ancang-ancang meluncurkan produk Go-Pay syariah.

Kick RIba

#5. Umat-nomic: The New Movements
Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety & desire muslim zaman now. Mereka muncul dengan mengedepankan konsep syariah. Yang saya maksud Umat-nomic adalah gerakan ekonomi umat yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Muslim zaman now menyukai geliat gerakan ini karena konsep ekonomi yang dikembangkannya mengacu kepada ajaran Islam dan dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern dan profesional.

212 Mart

Umat-nomic hadir sebagai alternatif bagi sistem ekonomi kapitalistik yang bersifat menghisap dan menghasilkan ketimpangan kaya-miskin. Contohnya adalah 212 Mart, perusahaan jaringan gerai ritel, yang dikelola dengan sistem baru yang sangat Islami yaitu: amanah (dapat dipercaya), jamaah (bersam-sama/koperasi), dan izzah (kemuliaan). Contoh lain, Bank Wakaf mikro dirancang untuk membantu kelompok segmen bawah-menengah dengan akad yang menguntungkan nasabah. Kita tunggu tren 6-10 pada tulisan minggu depan.

Silahkan unduh ebook-nya di link: www.bit.ly/muslimzamannow

May 26, 2018   No Comments

Tantangan Revolusi Industri 4.0

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu.

Angka-angka yang dijanjikan oleh Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto begitu fantastis: “Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1%-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik, dari baseline sebesar 5% menjadi 6%-7% pada periode tahun 2018-2030,” ujarnya.

Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Mudah-mudahan angka-angka super optimis tersebut bukan sekedar slogan politik menjelang Pemilu 2019 dan inisiatif luar biasa ini bukan sekedar pencitraan nir-substansi. Tapi betul-betul bisa membangkitkan semangat kita untuk bersama-sama menyukseskan era Revolusi Industri 4.0 dan meraih kejayaan.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi di tingkat negara untuk menghadapinya.

Agar kita tidak silau oleh janji-janji Revolusi Industri 4.0 dan angka-angka yang super optimis di atas, tulisan ini mecoba menyajikan “sisi gelap” dan beberapa tantangan yang harus kita hadapi. Bukan bermaksud buruk, tapi justru sebaliknya, untuk mengingatkan kita semua dengan memberikan rambu-rambu agar kita tak gegabah memasukinya.

Revolusi Industri 4.0 New

#1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus secara bijak dan hati-hati menyikapi transformasi industri terutama “masa peralihan” dari industri lama tradisional ke industri baru berbasis digital. Strategi tersebut harus bisa meminimalisir dampak sosial-ekonomi dari peralihan ini agar industri-industri lama bisa melakukan transformasi digital secara smooth, bukannya dibiarkan mati oleh kerasnya persaingan pasar (“Digital Darwinism”).

#2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Di tingkat mikro, platform effect akan memperlebar jurang yang kaya dan miskin: para pemilik modal (innovators, entrepreneurs, shareholders, investors) akan semakin kaya dan semakin menguasai kekayaan; sementara para pekerja semakin miskin. Celakanya, di Indonesia 99% penduduk masuk di kelompok yang kedua.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus merespons secara baik isu konsentrasi aset oleh global digital giant dengan skema regulasi baru yang kreatif. Cina melakukan hal ini dengan snagat cantik. Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa semua unicon kita kini telah dimiliki oleh global digital giants seperti Google, Alibaba, atau Tencent, sehingga Indonesia hanya dijadikan pasar bukan pemain aktif dan mandiri.

#3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.
* Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
* Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
* Driverless car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
* Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
* Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Pertanyaannya, apakah nantinya Industri 4.0 akan mampu menampung jutaan angkatan kerja kita (para petani, pedagang pasar Impres, guru, teller, kasir, sopir, satpam, hingga tukang batu proyek) yang tenaganya tidak dibutuhkan lagi karena tergantikan oleh robot?

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 haruslah tetap pro pada pemerataan lapangan pekerjaan. Skenarionya ada dua. Pertama, industri-industri yang dipilih tetap menggunakan skill set yang sekarang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kedua, melakukan “skill transformation” menuju skill set baru yang dibutuhkan Revolusi Industri 4.0.

Prerequisite: “Agile Government”
Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “agile government”.

Agile governement menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

Konsep strategi Industri 4.0 sehebat apapun hanya akan menjadi dokumen yang tak berarti apa-apa jika pemerintah tak mampu mengeksekusinya. So, sebelum pemerintah mentransformasi Indonesia memasuki Revolusi Industri 4.0, terlebih dahulu mereka harus melakukan transformasi diri untuk menjadi agile government.

Tanpa itu, Making Indonesia 4.0 hanya sekedar slogan overpromise untuk menyongsong Pemilu 2019.

 

Sumber foto: rctom.hbs.org

April 29, 2018   3 Comments

Surveillance Economy

If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itu adalah mantra yang melandasi bekerjanya ekonomi baru yang kini populer dikenal sebagai “Surveillance Economy”. Yup, terminologi ini kian populer menyusul terkuaknya skandal Facebook-Cambridge Analytica bulan lalu.

Intinya, kalau Anda mendapatkan layanan hebat seperti layanan jejaring sosial Facebook atau mesin pencarian Google secara gratis, maka Anda harus was-was. Karena Anda tidak membayar sepeserpun maka Anda bukanlah konsumen. Dan karena Anda bukan konsumen, besar kemungkinan Anda adalah “produk” yang dijual oleh Facebook maupun Google.

Dan memang demikianlah adanya, data mengenai perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) adalah “tambang emas” paling berharga di jaman now.

Surveillance Economy New

“Barang Dagangan”
The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) kini memiliki nilai pasar luar biasa besar yaitu sekitar $2700 miliar atau tiga kali GDP Indonesia. Dan nilai pasar fantastis itu didapat bukan dari mengebor minyak atau mendulang emas, tapi dari menjual data pribadi kita.

Caranya gimana? Gampang. Kita diberi layanan gratis yang memudahkan hidup kita: layanan berjejaring sosial dengan Facebook, mencari lokasi dengan Google Map, menghindari titik-titik kemacetan dengan Waze, mendapatkan layanan ojek ekselen tapi murah dengan Gojek. Tapi jangan salah, layanan-layanan gratis ini layaknya “jebakan Batman” karena sekaligus menjadi mesin efektif untuk mengumpulkan data-data pribadi kita.

Setelah data-data tersebut terkumpul (karena datanya super besar disebut: “big data”), maka perusahaan seperti Google atau Facebook menganalisis dan mengolahnya menjadi “emas baru” dan dijual ke pemilik brand dan pemasang iklan.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Untuk gampangnya, kita-kita para pemakai Facebook, Google, atau Waze telah menjadi “barang dagangan” yang diperjualbelikan ke pihak lain untuk menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar. Ingat sekali lagi bunyi mantranya: “If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itulah nasib kita yang mendapatkan layanan gratisan. Persis seperti ungkapan pahit yang dikemukakan Prof. Von Shoshana Zuboff pengritik Surveillance Economy: “We exist to be harvested, harvested for behavioral data.” Kita eksis di Surveillance Economy layaknya “budak” yang diperah dan dipanen data-data perilaku kita.

“Kelinci Percobaan”
Secara sederhana Surveillance Economy didefinisikan sebagai sebuah bentuk ekonomi baru dimana para pelaku ekonomi (entrepreneurs) mencipta nilai dengan cara mengekstraksi, menganalisis, dan memonetisasi data konsumen.

Perusahaan seperti Google atau Facebook mengekstraksi dan menganalisis data pribadi kita dengan tujuan untuk membentuk dan mengarahkan perilaku sesuai tujuan komersial yang mereka kehendaki. Ujar Zuboff, “They are actually intervening us to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next”.

Hal Varian, chief of economist Google mengidentifikasi Surveillance Economy memiliki empat ciri.

#1. Data extraction & analysis, yaitu melibatkan ekstraksi dan analisis terhadap data pribadi yang terkumpul secara real-time dan terus-menerus selama konsumen menggunakan layanan. Setiap kali kita melakukan update status di Facebook, maka saat itu juga kita memberikan data pribadi kita untuk diekstraksi dan dianalisis Facebook.

#2. New contractual forms, yaitu adanya bentuk kontrak baru yang menggunakan pemantauan dan otomasi komputer. Dengan teknologi digital, perjanjian penggunaan data antara pemberi layanan dan konsumen dilakukan secara seamless menggunakan komputer.

#3. Personalization & customization, yaitu memanfaatkan layanan-layanan yang memberikan manfaat personalization dan customization. Layanan Google misalnya sangat personalized, itu sebabnya jika kita mengetikkan kata kunci yang sama di mesin pencari Google, maka hasil yang diperoleh akan berbeda antara satu orang dibanding orang lain. Karena hasil pencarian di Google ditentukan oleh historical searches masing-masing kita sebelumnya.

#4. Continual experiments, yaitu konsumen menjadi obyek percobaan yang dilakukan secara terus-menerus. Tujuannya adalah tadi, untuk mempengaruhi, membentuk, dan mengarahkan perilaku mereka sesuai dengan tujuan komersial yang dikehendaki pemilik layanan. Jadi, sepanjang hidup kita bakal menjadi “kelinci percobaan” bagi Google atau Facebook.

Welcome to the Brand New World
Sekilas surveillance economy baik-baik saja dan tak begitu menjadi masalah bagi kita. Namun kita seperti tersambar petir bulan lalu saat skandal Facebook-Cambridge Analytica terkuak.

Skandal tersebut menyadarkan kita bahwa data pribadi kita bisa begitu mudah disalahgunakan berbagai pihak (baik pemilik layanan maupun pihak ketiga) untuk tujuan-tujuan yang tidak kita kehendaki. Dalam kasus Cambridge Analytica, mereka mengekstraksi dan menganalisis data pengguna Facebook untuk melakukan microtargeting yang berujung pada kemenangan Donald Trump atau keluarnya Inggris dari EU (Brexit).

Dengan algoritma tertentu, machine learning, atau artificial intelligence mereka bisa mengolah data pribadi kita untuk membentuk dan mengarahkan suatu perilaku tertentu bagi kepentingan bisnis dan politik mereka, yang mungkin tidak kita kehendaki. Ini tentu saja akan menjadi ancaman bagi kemanusiaan: privasi, kebebasan, dan demokrasi.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya. Karena model bisnis mereka bekerja berdasarkan “surveillance platform”.

Welcome to the jungle.
Welcome to the end of privacy.
Welcome to the Surveillance Economy.

 

 

Sumber foto: employernews.co.uk

April 21, 2018   No Comments

Memberi eTalk: Surveillance Economy

Skandal Facebook-Cambridge Analytica menyadarkan kita semua bahwa kini kita telah memasuki era Surveillance Economy yang ditandai dengan fenomena “the end of privacy”.

Dengan memanfaatkan layanan, apps atau website yang diberikan oleh Google, Facebook, Twitter, atau Youtube data-data pribadi kita diambil, diolah, dan kemudian dijual kepada brand dan pengiklan sehingga menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar.

Surveillance economy adalah sebuah bentuk ekonomi baru dimana value diciptakan melalui big data dari seluruh perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) yang diekstraksi diolah, dan kemudian dimonetisasi menjadi bisnis menggiurkan.

Surveillance Economy

The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) menggurita begitu cepat (kapitalisasi pasar keempatnya $2700 miliar, tiga kali GDP Indonesia) karena mereka smart bermain di era Surveillance Economy.

Tipikal perusahaan yang sukses di Surveillance Economy adalah perusahaan semacam Facebook dan Cambridge Analytica yang membentuk, memodifikasi, dan mengarahkan perilaku kita untuk tujuan monetisasi bisnis atau kepentingan politik tertentu.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Seperti kata Shoshana Zuboff, profesor Harvard pengritik Surveillance Economy, “They are intervening to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next.” Data 87 juta warganet dikumpulkan, dibaca perilakunya, dan kemudian diarahkan sedemikian rupa untuk memilih Donald Trump sebagai presiden.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya, karena model bisnis mereka beroperasi berdasarkan “surveillance platform”.

Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi Surveillance Economy? Baik sebagai konsumen/masyarakat maupun sebagai pebisnis?

Yuk kita bahas di Memberi eTalk Komunitas Memberi:

Tema: Skandal Facebook! Welcome Surveillance Economy
Waktu: Sabtu, 21 April 2018, 09.00-12.00 WIB
Tempat: Kolla Space | Co-working @ Sabang, Jl. Agus Salim 32B, Jakarta

Narasumber:
Ahmad Sugiarto, penulis Synergy Way of Disruption (2018)
Nukman Lutfie, pakar media sosial
Yuswohady, pakar marketing

Moderator:
Kris Moerwanto, redaktur Jawa Pos

Yuk ikutan, WAJIB daftar ke Ajib: WA 0812 2760 7219

April 20, 2018   No Comments