Fenomena “Say No To…” dan Sisi Gelap PR 2.0
Menjelang pemungutan suara Pemilu lalu, secara beruntun keluar akun bernada “Say No To…” di FB. Diawali dengan “Say No To Megawati” yang heboh banget, lalu disusul untuk SBY, Kalla, dan capres-capres lain. Yang ketiban pulung rupanya mbak kita, mbak Mega.
Siapa yang membikin akun itu tak begitu jelas identitasnya, tapi suatu aksi yang mungkin bermotif keisengan (atau mungkin sangat serius dan sarat muatan politik) itu serta-merta direspons begitu antusias oleh begitu banyak warga FB. Dalam kasus Megawati misalnya, hanya sekitar 3 hari saja, “simpatisan” nya sudah mencapai hampir 100 ribu orang.
“It’s the power of HORIZONTAL (new wave) energy!!!”
“It’s the power of [E = wMC2]!!!”
“It’s the power of MANY TO MANY marketing!!!”
Lepas dari dampak politis yang diakibatkan, fenomena itu memberikan indikasi bahwa ada semacam “COMMON DESIRE”, “KEBIMBANGAN BERSAMA”, atau “ASPIRASI BERSAMA” yang kita semua rasakan untuk menolak Megawati menjadi presiden 2009. Common desire ini kemudian diwadahi oleh akun “Say No To…” di atas, dan hasilnya… BUZZZZZZZZZZ… reputasi seorang capres melayang.
Jujur lho, saya tidak sedang dibayar SBY, atau Kalla, atau Prabowo, untuk menulis artikel ini. Saya 100% non partisan. Tapi saya nyoblos lho, walaupun nyoblos apa nggak jelas… habis bingung sih kebanyakan foto, apalagi fotonya cantik-cantik & ganteng-ganteng.
Celakanya, beberapa hari kemudian saya mendapati akun “Say No To…” memakan korban berikutnya. Kali ini korbannya adalah pakar telematika kita, Roy Suryo. Kasusnya sama persis, ada semacam “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama” untuk menolak kepakaran dari sang pakar. Common desire itu diwadahi oleh sebuah media sosial (social media), dan kemudian muncul TENAGA HORIZONTAL untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap kepakaran sang pakar.
Hasil akhirnya sama persis… BUZZZZZZZZZZZZ…reputasi sang pakar pun berada di ujung tanduk.
Kalau akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” demikian gampang melenggang dan memakan korban, keresahan saya kemudian adalah: niiscaya fenomena yang sama akan gampang terjadi pula untuk kasus perusahaan (korporasi).
Ambil contoh sederhana untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki operasi yang sensitif terhadap isu-isu sosial. Misalnya: perusahaan rokok yang sensitif dengan isu kesehatan; perusahaan penambangan atau HPH yang sensitif dengan pencemaran lingkungan; perusahaan obat dan makanan yang sensitif dengan isu keracunan atau penyakit; perusahaan padat karya yang sensitif terhadap isu eksploitasi tenaga kerja; dsb-dsb). Bisa dong kasus akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” dengan gampang menimpa mereka?
Dengan bungkus “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama”, maka monster akun “Say No To…” akan BERGENTAYANGAN memakan satu demi satu korbannya. Kalau ini benar terjadi, maka tentu saja temen-temen yang berkecimpung di dunia ke-PR-an akan makin sibuk, dan tak nyenyak tidur.
Inilah sisi gelap web 2.0
Inilah sisi gelap PR 2.0
Inilah sisi gelap dunia baru yang kita belum jelas betul, apa JUNTRUNGANNYA.
Apakah ujung-ujungnya SPIRITUALISME menjadi oasis penyejuk di padang yang gersang?
April 18, 2009 No Comments
Are You Workaholic? How to Quit…?
Kalau Anda adalah Facebookers, dan telah terjangkiti penyakit FACEBOOKAHOLIC, maka Anda harus mulai memikirkan dua langkah berikut: pertama, me-manage waktu memakai FB. Atau kedua, memutuskan keluar dari belenggu FB. Berikut ini adalah tips-tips untuk keluar dari ketergantungan FB yang coba disarikan dari berbagai sumber:
Tips #1: Admit you have a problem with what you do on FB.
Langkah penting pertama adalah AKUI dengan sejujurnya bahwa Anda punya masalah dengan waktu yang Anda buang untuk Facebooking. Selama Anda merasa bahwa everything is OK, Anda tak mengakui punya masalah dengan waktu penggunaan FB, maka dipastikan Anda tak akan bisa keluar dari FB. Itu artinya memang Anda senang dan puas dengan “kehidupan” FB Anda.
Tips #2 Keep track of what you do on FB
Tiap kali Anda selesai Facebooking, evaluasi sejenak apa saja yang telah Anda lakukan selama, katakan dua jam, ber-FB ria? Apakah aktivitas itu cukup bermanfaat bagi Anda? Atau sesungguhnya Anda buang-buang waktu saja? Biasanya Anda masuk ke FB pertama-tama untuk meng-confirm temen yang minta di-add; lalu Anda mencek temen-temen yang merubah foto profil, menulis note, atau menambahkan lagu atau video baru. Coba renungkan, apakah itu KEBERMANFAATAN atau KEMUBAZIRAN. Mereview apa-apa yang sudah Anda lakukan setiap kali akan log out dari FB membuat Anda menjadi peka terhadap pemborosan waktu yang telah Anda lakukan.
Tips # 3 Define your goals on Facebook.
Sebelum Anda memutuskan bergabung di FB, rumuskan terlebih dahulu, apa sesungguhnya TUJUAN Anda. Apakah untuk mencari teman; berbagi ide sesama teman seminat; memaintain teman atau menjalin relasi dengan klien Anda; dsb-dsb. Apapun tujuannya, Anda harus menyediakan waktu Anda untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ketika Anda tak memiliki tujuan apapun di FB, maka Anda harus siap menanggung resiko melakukan kesia-siaan. Itu akan menjadikan FB merupakan liabilities bukanlah aset bagi Anda.
Tips #4 Think of other things you could be doing with your time spent on Facebook.
Hitung berapa lama rata-rata dalam seminggu Anda menghabiskaan waktu untuk Facebooking: 5, 7, atau mungkin 10 jam? Lalu pikirkanlah aktivitas lain yang bisa Anda lakukan dengan waktu sebanyak itu. Membaca buku misalnya, atau mengambil part time job, atau mungkin mungkin main futsal. Lalu coba timbang-timbang mana yang lebih bermanfaat. FB atau kegiatan lain itu?
Tips #5 Leave Facebook.
Ketika berbagai upaya di atas sudan coba Anda lakukan, tapi tetap saja Anda tak kuasa MELEPASKAN DIRI dari belenggu FB, maka itu berarti Anda harus mengambil keputuan besar: meninggalkan FB, say good bye to FB!!!.
(( Caranya…
o Kirim imel ke seluruh jringan teman Anda untuk menjelaskan keputusan Anda ini. ![]()
o Tanggalkan seluruh jaringan teman dan grup.
(
o Delete semua informasi di Profile, termsuk foto. ![]()
o Delete semua pesan di wall. ![]()
o Delete semua komen/note yang Anda pernah buat.
(
o Delete semua pesan apakah yang “sent” maupun “received”. ![]()
o Deaktifasikan akun Anda.
(( hikhikhikhkkhkhkhikkkkhk
o Cari pengganti FB untuk mengisi waktu-waktu berharga Anda: bisa main futzal, makan, ndengerin musik, etc.
Sambil nyanyikan lagunya John Lennon:
Imagine there’s no Facebook,
It’s so hard to try….
No people adding us, above us only sky
Imagine all the people, living on lonely….
Semoga bermanfaat….
April 2, 2009 9 Comments
“Facebookaholic”
Facebook sudah seperti layaknya narkoba. Awalnya penasaran, karena selalu menjadi bahan pergunjingan teman di kantin, sela-sela meeting, atau saat SMSan. Lalu Anda iseng mencobanya dengan membikin account. Lalu Anda sambil lalu senang menulis status, mengubah-ubah profile foto, mencek status temen, atau melakukan chatting dan menulis wall.
Begitu keasyikan, Anda pun mulai merasa banyak waktu Anda terambil untuk Facebooking. Facebook pun menjadi peringkat satu dalam list teman dekat Anda mengalahkan pacar, bahkan istri/suami (juga selingkuhan…hehehe). Dan pada akhirnya sampai pada suatu titik dimana Anda tak berdaya lagi untuk keluar dari pengaruh “medan magnet” Facebook.
Begitu banyak waktu Anda habiskan untuk “fly” (tripping juga kalee…) di dunia Facebook. Kemanapun dan dimanapun otak Anda terus memikirkannya. Anda seperti berada dalam pengaruh “guna-guna” Facebook. Sejam saja tak login, rasanya mau kiamat, Anda menjadi begitu resah, tidak konsen saat meeting dengan rekan kerja di kantor.
Anda juga dihantui “kangen luar biasa” ketika sesaat saja tidak bertemu, bercengkrama, dan berdiskusi dengan teman-teman virtual Anda di Facebook. Hidup Anda menjadi hampa ketika Anda tidak berada di titik fokus sorotan teman-teman Facebook Anda (well… “celebrity syndrome” or “narcissistic disease”).
Inilah suatu titik dimana Anda terjangkit penyakit yang cool abis: Facebookaholic.
Mau tahu Anda terjangkit Facebookaholic? Ikuti link ini: Are You Facebook Addicted?
Penyakit ini ganas minta ampun. Menular dan menyebar 1000 kali lebih ganas dari HIV dan DB. Penyebarannya merata di seluruh jengkal bumi ini, tak kenal negara miskin-kaya, berkembang-maju, berkulit hitam-putih, bermata sipit-belok.
Kalau untuk melawan HIV dan DB para pakar kedokteran bekerja siang malam untuk menciptakan obat anti-virus HIV dan obat anti-DB, maka kini belum sekalipun terdengar obat anti-virus Facebookaholic.
Kalau selama ini dikenal banyak rumah sakit dan klinik dibangun untuk pemuihan penderita dari ketergantungan narkoba, maka sekalipun saya belum pernah mendengar klinik untuk membantu penderita keluar dari jerat ketergantungan Facebookaholic ini.
Wah… gawaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!!!!!!!!!!
March 29, 2009 4 Comments
Belajar dari Apple
Apple hebat karena selalu menjadi industry pace-setter dengan ide-ide yang fresh dan out of the box. Apple bukanlah yang terbesar (market leader) tapi yang paling banyak diperbincangkan dan menimbulkan decak kagum di kalangan pesaingnya (thought leader). Bagi saya Apple juga adalah ”charismatic hero” karena hampir habis ditelan perubahan di tahun 1990-an namun cerdas melakukan turnaround dan akhirnya kembali bangkit merajai industrinya.
Siapapun Anda, eksekutif dari perusahaan multinasional, direktur sebuah BUMN, atau entrepreuner yang sedang merintis bisnis, seharusnyalah belajar dari sepak terjang perusahaan yang kini meroket menempati posisi 5 dalam peringkat America’s Most Admired Company versi majalah Fortune ini. Berikut ini adalah sedikit pelajaran yang mungkin bisa menginspirasi Anda.
Lesson-learned #1: Sure, 3i: “innovate, innovate, innovate!!!”
Pelajaran pertama yang makfum kita tahu semua adalah kemampuan Apple dalam berkreasi dan terus mencari die-ide baru yang fresh dan membikin kagum pesaingnya. Kita tahu sukses perusahaan ini dari jaman ke jaman terletak pada 3 kata kunci 3i: innovate, innovate, innovate. Barangkali karena itu, produk-produk larisnya dimulai dengan huruf “i”: iMac, iPod, iPhone, iStore. Di bawah komando 2 Steve (Steve Jobs dan Steve Wosniak), Apple lah yang menemukan PC pertama kali, yang kita tahu belakangan memicu revolusi industri komputer dunia. Melalui Mac ciptaannyanya, Apple pula yang melakukan inovasi menjadikan komputer sebagai alat yang user-friendly, fun, human, cool, nggak serem layaknya produk teknologi tinggi. Apple-lah yang sekali lagi memicu revolusi di industri elektronik dan hiburan sekaligus melalui produk legendarisnya iPod. Terakhir, Apple berinovasi merubah diri menjadi retailer paling profitable di Amerika melalui gerai iStore-nya. Tak ada hari tanpa inovasi di Apple.
Lesson-learned #2: Corporate turnaround.
Kita juga perlu belajar dari Apple dari kemampuan perusahaan ini melakukan corporate turnaround. Di bisnis komputer Apple pernah melakukan kesalahan fatal karena nyentrik dan berani tampil beda dengan menggunakan operating system sendiri untuk komputer produksinya. Itu terjadi ketika Windows merajai pasar operating system di seluruh dunia. Al hasil, Apple menjadi pemain minoritas, menjadi bonsai di tengah dominasi perusahaan-perusahaan komputer raksasa waktu itu macam IBM atau Compaq. Tapi Apple tak patah arang, di bawah arahan visi tajam dari CEO veterannya Steve Jobs, ia mampu win back dan dalam waktu cepat bangkit kembali melakukan turnaround. Ini terjadi karena Steve Jobs secara cerdas mampu merevitalisasi produk-produk Machintos-nya yang sudah terlanjur menua menjadi hot product dengan label baru: iMac.
Lesson-learned #3: People-focused: “Design is everything”.
Apple- lah yang pertama kali memperkenalkan konsep komputer user-friendly. Apple-lah yang menjadikan komputer tak lagi kotak sombong dan menyeramkan. Saya salut pada perusahaan yang menggunakan tag line “Think Different” ini karena memang selalu berpikir berbeda dari pemain lain di industrinya. Ketika produsen komputer di seluruh dunia mengedepankan kecanggihan teknologi, ia justru menonjolkan keunggulannya dalam hal disain dan user-friendly. Apple juga getol mengkampanyekan kekuatan identitas merek (brand identity): young, fun, cool, stylist, be different alias nyleneh, creative, friendly. Tak ada perusahaan komputer kala itu melakukan strategi branding macam ini. Karena selalu nyleneh macam ini, tak heran jika Apple kemudian terpinggir, sepi, menyendiri menjadi niche player. Tapi berkahnya: Apple begitu diloyali, dicintai, difanatiki pelanggannya. Apple sudah seperti sekte.
Lesson-learned #4: We are not “Apple Computer” anymore. We are “Apple”, period.
Apple juga pantas diacungi jempol karena kepiawaiannya menembus batas-batas industri untuk memasuki wilayah-wilayah blue ocean baru. Awal tahun 2007 ini Apple mantap menanggalkan “Computer” dari nama perusahaannya. Itu artinya, Apple kini tak hanya perusahaan komputer melulu. Merespons industri komputer yang sudah menua, Apple pun memetamorfose dirinya dari “computer company” menjadi “gadget company” dan “entertainment company”. Kini Apple tak hanya jago bikin Mac saja tapi juga piawai membikin produk-produk elektronik yang fun & cool macam iPod dan iPhone. Seperti sudah saya bilang di depan, barusan Apple membacak eksektuf top dari GAP dan Target (dua retailer top dunia) untuk merancang dan menata ulang iStore-nya. Hasilnya, kini Apple menjadi retailer nomor wahid di dunia. Apple tak hanya “computer company” tapi juga “retail company”.
Lesson-learned #5: Using buzz, products advertise themselves.
Soal marketing, Anda harus banyak belajar dari Apple karena pendekatan marketingnya yang unik. Apple bisa dikatakan jarang beriklan. Kekuatan utama strategi marketingnya terletak pada kombinasi antara kehebatan produk, kehebatan PR, kehebatan community marketing, yang diramu dengan buzz marketing yang canggih. Salesman utama di Apple adalah produknya sendiri—“great products advertise themselves!!!” Kehabatan produk inilah yang kemudian menimbulkan efek word-of-mouth alias promosi dari mulut ke mulut yang menjalar cepat melalui internet ke seluruh dunia. Tak hanya itu, karena salesmannya adalah produknya sendiri, maka wartawan pun dengan suka cita menulis iMac, iPod, atau iPhone di cover story atau lember-lembar gadget majalah mereka. Di samping itu kekuatan strategi marketing Apple juga terletak pada peran para “Apple fans” dan ”Apple advocators” yang secara sukarela menyebarkan virus “fanatisme Apple” ke seluruh dunia.
Lesson-learned #6: It’s a truly blue ocean player.
Apple adalah blue ocean player sejati. Apa cirinya? Ia suka sepi menyendiri. Kalau bisa ia tak masuk ke mainstream market yang hiruk-pikuk. Ia lebih suka niche market, walaupun kecil market-nya tapi di situ ia menjadi raja besar. Singkatnya, ia lebih suka menjadi ikan besar di kolam yang kecil, ketimbang ikan yang sedang-sedang saja di kolam yang besar. Akhir tahn 1970, ketika pasar mainframe mendominasi pasar, Apple menjadi blue ocean player dengan menciptakan kategori baru, PC. Setelah itu pasar PC demikian marak dan kemudian menjadi red ocean market dengan munculnya pemain-pemain baru seperti Compaq, Dell, Toshiba, HP. Di tengah pasar yang hiruk-pikuk dipenuhi pesaing, Apple justru mengambil jalan sepi dengan masuk ke niche market yaitu pasar komputer untuk desain. Seiring dengan turunnya industri komputer, Apple pun berusaha keras mencari blue ocean market yang lain dengan masuk ke industri musik digital dengan mengusung iPod dan iStore. Kita masih menunggu, blue ocean market mana lagi yang hendak diambil Apple.
March 27, 2009 4 Comments
Horizontal Marketing = “Bola Liar”
Beberapa hari lalu (16/3), seorang rekan FB Cahyadi Tan menulis note berjudul: “Kelemahan iPhone 3G – Baca Dulu Sebelum Anda Memutuskan Untuk Membeli!“, berikut link-nya: Jeleknya iPhone 3G
Note itu dia tulis berdasarkan tulisan yang diposting temannya di FB juga, isinya mengenai kelemahan-kelemahan dasar iPhone 3G yang dilaunch di tanah air 20 Maret lalu (Diusung Telkomsel melalui bundling, kini billboard-nya ada di mana-mana, di seluruh penjuru Jakarta). Mas Cahyadi mengidentifikasi ada 15 item kelemahan iPhone 3G yang menurut saya sangat rinci berdasarkan survei kecil ke berbagai sumber. Saking banyaknya, komen saya terhadap note itu singkat saja: “waduh… banyak buanget bolong-bolongnya iPhone 3G”
Saya tak akan membahas 15 kelemahan iPhone di atas, yang ingin saya cermati adalah kenyataan bahwa word of mouth (WOM) melalui media sosial (yes… “CROWD“) menjalar bak wabah kolera tanpa bisa dikontrol oleh siapapun. Kalau WOM itu bagus tentu saja ok, tapi kalau WOM itu berdampak jelek ke brand, maka dampak kerugiannya bakal berlipat-lipat dan sulit dipadamkan.
Saya yakin mas Cahyadi (dan temannya), tidak dibayar oleh siapapun, dan dia menulis dengan ketajaman dan kejelian analisis, dengan dukungan riset yang mumpuni. Sayajuga yakin mas Cahyadi menullis tanpa pretensi apapun, itu tercermin di dalam tulisan. Sehingga tulisan itu menjadi sumber informasi yang kredibel, netral (nggak kayak iklan), dan jujur. INGAT: sekali omongan konsumen memiliki daya mempengaruhi seribu kali lebih hebat dari omongan salesman atau iklan.
Ada dua pelajaran yang saya dapat dari sini. Pertama, bahwa WOM (dalam hal ini “bad mouth”) sifatnya seperti “bola liar” yang sulit dikontrol oleh pemilik brand. Saya tidak tahu apakah pihak Telkomsel atau Apple tahu tulisan mas Cahyadi. Dan kalau tahu pun, mereka akan sulit mengontrol dampak negatifnya ke brand.
Kedua, brand tidak bisa bersembunyi di balik keindahan iklan atau kepiawaian komunikasi pemasaran. Karena konsumen expert seperti mas Cahyadi akan tahu “jeroan” isi brand tersebut. Artinya apa, TRANSPARANSI dan TRUST menjadi alat terpenting membangun brand, bukan keindahan iklan dan kepintaran salesman menghipnotis konsumen.
Horizontal marketing ternyata nggak gampang ya???….
March 22, 2009 5 Comments
Iklan Bersama” Sido Muncul-Sosro-Dua Kelinci: A Smart Momentum Marketing in Time of Crisis
Kamis malam lalu, bertempat di hotel Sultan, tiga produsen yang merupakan top local champions: Sido Muncul, Sosro, kacang Dua Kelinci sepakat “mendeklarasikan” kampanye branding bersama2 (co-branding) dengan tema nasionlistik/patriotik: “cinta produk lokal”. Iklan TV nya sudah muncul, saya denger Rabu ini akan mulai iklan print-nya di Kompas satu halaman, dan akan terus berlanjut iklan TV, Radio, dan print.
Kampanye semacam bukanlah barang baru malah sudah terkesan klise, karena dulu di jaman pak Harto kampanye “Aku Cinta Produk Dalam Negeri” bahkan sudah dijadikan gerakan nasional, walaupun kita tahu program ini berujung pada jargon dan slogan sebatas di mulut. Pertamina juga menggunakan pendekatan yang sama dgn tagline “Kita untung Bangsa Untung”. Program ini serupa, banyak dicibir orang, maka kemudian keluar tagline orang-orang iseng seperti: “Pertamina Untung Bangsa Buntung” atau “Kita Untung, Bangsa Untung, Koruptor Untung”.
Lalu bagaimana dengan yang ini? Saya melihatnya ini agak beda. Kenapa? Krn pertama, tiga local champions ini tentu menjadi semacam “jaminan mutu”. Merek bukanlah penerima proteksi pemerintah yang malas, mereka besar karena tetesan keringat, brand yang mereka ciptakan juga brand-brand hebat yang ampuh melawan pesaing global. Saya kira menyedihkan sekali kalau kita “dipaksa” memakai produk dalam negeri tapi produk tersebut menyedihkan kualitasnya. Jadi co-branding ini menjadi semacam ajakan moral bagi anak bangsa untuk bangkit membangun brand-brand hebat, bukan sebaliknya mengajak malas karena buaian proteksi dan KKN.
Kedua, kampanye tersebut diluncurkan di tengah krisis yang sedang meradang dimana kini muncul tren adanya proteksionisme negara maju. kalau Obama mengampanyekan produk dalam negeri dan menafikkan produk impor termasuk dari Indonesia, mosok kita tinggal diam. Mosok Amerika hanya ngomong liberalisasi dan perdagangan bebas ketika kondisinya menguntuingkan mereka, dan kini ngomong proteksionisme ketika dia sedang terhimpit. Bangsa kayak apa kita ini kalau diam menerima perlakuan tidak adil (dan tidak senonoh… hehehe
macam itu.
Co-branding tiga local champions itu menjadi relevan ketika kita dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang tidak menguntungkan semacam ini dan diperlakukan tidak adil oleh negara2 raksasa yang sombong dan hegemonis.
Karena itu saya menyebut aksi tiga produsen itu sebagai “smart momentum marketing in time of crisis”, kenapa? karena mereka cerdas memanfaatkan momentum krisis dan menggugah nurani nasionalisme kita sebagai anak bangsa. Asal nggak ditunggangi Parpol ya… Gerindra or Hanura… kalau ditunggangi, payaaaaaaaaaah deh!!!
Itu menurut saya lho, nggak mesti bener… sekarang kan jaman horizontal….
March 17, 2009 2 Comments
Materi Presentasi CROWD di Milad TDA 3
Berikut ini saya upload materi presentasi CROWD: “Marketing Becomes Horizontal” di Milad komunitas Tangan Di Atas (TDA) 3, 27 Februari 2009 lalu di Jakarta. Silahkan temen-temen TDA yang mau mendownload.
March 12, 2009 5 Comments
The Power of Conversations. The Power of Sharing.
Berikut ini adalah verbatim chat saya di Facebook Chat dengan mas Hadityo seorang mahasiswa UGM Yogya. Pada saat chatting ini kebetulan saya lagi suntuk menunggu pesawat ke Jakarta di Bandara Hasanudin Makasar. Saya perlukan mem-posting chat ini bukan untuk mempromote TDA (walaupun mempromote pun sesungguhnya nggak papa krn mmg bagus) tapi lebih karena saya yakin banyak pelajaran yang bisa kita petik dari situ.
4:5pm Hadityo
sore mas, sayang sekali saya tidak dapat hadir di Milad TDA kemaren, pasti kehadiran mas Yuswo bisa menjadi inspirasi bagi rekan2 TDA yg dasyat
4:10pm Yuswo
Wah sayang lho, seru banget…
4:12pm Hadityo
iya mas sayang lagi ada meeting di kantor, saya kenal TDA agustus 2007 dan banyak meng-inspirasi saya
4:13pm Yuswo
inspirasi yang Anda dapat apa mas?
4:14pm Hadityo
ehmmm…saya jadi mempunyai jiwa dan pandangan wirausaha so akhirnya saya bikin usaha sembari kuliah di yogya bikin usaha laundry kiloan bersama bibi dan ponakan yg sedang kuliah di yogya juga dari situ bikin komunitas wirausaha muda dari situ jadi kenal dengan sesama anak muda yg merintis usaha
[Read more →]
March 7, 2009 23 Comments
Seminar Marketing Politik IMA Makasar
Hari ini 7 maret 2009, saya, Dr Firmansyah dari UI, dan Dr Muhhamad Akbar dari Unhas menjadi pembicara seminar bertopik “Marketing Politik” yang diselenggarakan IMA Chapter Makasar. Berikut ini saya upload materi presentasi saya, temen-temen yang mau mendownload silahkan, gratis…tis…tis
March 7, 2009 No Comments
WE Are Smarter Than ME
Encyclopedia Britannica ditulis selama lebih dari 250 tahun, sementara Wikipedia baru berusia kurang dari 10 tahun (dirilis tahun 2001). Tapi coba kita lihat statistik berikut:
Wikipedia berisi 1,74 miliar kata dalam 9,25 juta artikel, mencakup 250 versi bahasa termasuk bahasa Indonesia. Sementara Encyclopedia Britannica jumlah katanya cuma SEPERDUALIMA (yes…1/25) dari jumlah kata yang dimiliki Wikipedia edisi bahasa Inggris (Britannica hanya memiliki satu versi yaitu versi Bahasa Inggris).
Bagaimana keajaiban ini bisa terjadi?
Britannica ditulis oleh sekitar 100 orang full-time editors dan sekitar 4000 kontributor.
Wikipedia sebaliknya, ditulis dengan pendekatan open source (tepatnya “crowdsource”) oleh puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan mungkin jutaan volunter dari seluruh dunia, karena siapapun memang diundang untuk berkontribusi di Wikipedia dengan bantuan web 2.0 tools yang disebut: wiki.
Berbeda dengan Britannica, tulisan di Wikipedia “dijaga” kualitas dan kebenarannya oleh komunitas Wikipedia yang saling berkerja sama dalam format kolaborasi terbuka (open collaboration). Komunitas ini pula yang terus memperbaiki tulisan-tulisan tersebut sehingga semakin baik dan sempurna. Kata para Wikipedians: “open collaboration improves articles over time”. Komunitas ini layaknya komunitas Mac atau komunitas Harley-Davidson, sangat fanatik (“cult-like”) terhadap Wikipedia.
Satu hal perlu diingat,
terwujudnya Wikipedia meyakinkan kita semua bahwa:
WE are smarter than ME!!!
WE are faster than ME!!!
WE are more powerful than ME!!!
Atau dalam kasus Wikipedia: “MILLIONS people are more powerful than HUNDREDS.”
It’s the power COLLECTIVE INTELLIGENCE!!!
Menunjuk kasus Wikipedia, saya semakin optimis bahwa pada akhirnya…
Linux will BEAT Windows!
Mozilla Firefox will BEAT Internet Explorer!
Flickr will BEAT Getty Images!
Citizen Journalism will BEAT mainstream media!
Apakah Anda SEOPTIMIS saya?
March 6, 2009 5 Comments






