E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

The End of Brand

Sudah 20 tahun saya menenkuni dunia branding. Sudah 20 tahun pula saya membaca buku, meriset, menulis artikel tiap minggu, dan mengajar mengenai branding. Hampir tiap minggu saya diwawancarai wartawan, karena mereka menganggap saya adalah pakar branding.

Namun celaka, inilah untuk pertama kalinya dalam 20 tahun perjalanan karir saya, dengan berat hati saya katakan, kinilah saat berakhirnya brand: the end of brand.

Teknologi digital tak hanya mendisrupsi layanan taksi, ojek, atau bank, tapi juga mendisrupsi brand, dan menjadikannya semakin tidak relevan lagi.

Kok bisa?

The End of Brand

Search, Rating, Review
Agar gampang menjelaskannya saya ingin memberikan contoh bagaimana proses pengambilan keputusan konsumen saat memilih dan membeli produk.

Suatu ketika saya ingin ke Bali dan mencari hotel untuk menginap. Apa yang saya lakukan? Pertama-tama saya menentukan berapa duit yang akan saya alokasikan untuk hotel tersebut. Katakan anggarannya Rp.400-500 ribu.

Lalu saya ke situs pemesanan hotel seperti Traveloka. Saya ketik range harga tersebut di isian situs dan kemudian keluar 10 hotel dengan range harga Rp.400-500 ribu. Maka saya pun fokus pada short list tersebut sesuai budget yang saya punya.

Setelah itu apa yang saya lakukan? Berikutnya saya melihat customer rating. Dari sepuluh hotel tersebut pilihan saya jatuh pada tiga hotel. Hotel A dengan harga Rp.425 ribu memiliki rating 7. Hotel B harga Rp.450 ribu memiliki rating 7,5. Hotel C dengan harga Rp.475 memiliki rating 9.

Mana dari tiga alternatif hotel itu yang saya pilih? Tunggu dulu. Sebelum memilih, saya memastikan pilihan saya dengan melihat customer review, yaitu ulasan dari konsumen yang pernah menginap di tiga hotel tersebut.

Hotel A memang paling murah, namun setelah saya cermati banyak konsumen yang mengemukakan keluhannya: nasi gorengnya yang nggak panas, omeletnya yang terlalu asin, atau layanannya yang kurang sigap. Hotel B makanannya lumayan oke namun kolam renangnya nggak begitu bersih. Karena itu walaupun paling mahal saya memilih hotel C karena rating-nya paling tinggi dan customer review-nya paling mengesankan.

Proses pengambilan keputusan melalui search, rating, review tersebut tak hanya terjadi di situs pemesanan hotel seperti Traveloka, tapi juga terjadi di situs e-commerce apapun mulai dari Tokopedia, Amazon, hingga AirBnB,

Apa yang menarik dari proses pemilihan dan pemesanan hotel tersebut?

Saya tak melibatkan brand dalam proses memutuskan pembelian. Tentu saja saya tahu brand hotel yang saya pilih, namun nama brand tak lagi menjadi faktor penentu keputusan pembelian.

Dari Asymetric ke Symetric
Brand lahir dari kondisi pasar yang tidak sempurna dimana terjadi asymetric information antara produsen dan konsumen. Produsen tahu betul detail-detail produknya, sementara konsumen tak banyak tahu. Akibatnya, konsumen menggunakan brand sebagai “acuan” dalam memilih produk yang akan dibeli.

Dulu brand menjadi “proxy of quality” yang membuat konsumen konfiden memilih produk yang diinginkan. Brand menjadi “shortcut” yang membantu konsumen dalam mengambil keputusan. Hakikinya fungsi brand adalah membantu konsumen membangun konfiden dalam mengambil keputusan pembelian. Fungsi brand adalah mengurangi risiko saat konsumen menetapkan keputusan pembelian.

Namun jaman sudah berubah. Perkembangan teknologi digital menjadikan kondisi asymetric information itu lenyap. Dan akibatnya, peran brand kemudian menjadi tak relevan lagi.

Mesin pencari (search engine) berbasis algoritma di situs-situs Traveloka, Amazon, atau AirBnB menjadikan konsumen begitu mudah mencari informasi dan melakukan riset mengenai produk yang akan dibeli. Dan mereka menjadi sangat knowledgeable mengenai produk yang dipilihnya.

Dengan customer rating, konsumen bisa begitu mudah membandingkan value proposition antara satu produk dengan ratusan bahkan ribuan produk lain. Ini akan membantu konsumen membangun konfiden dalam memutuskan pembelian, menggantikan fungsi brand.

Tak hanya itu, customer review menjadikan konsumen begitu mudah mengetahui pengalaman konsumen yang sebelumnya mengosumsi produk yang akan kita beli. Sekali lagi, customer review mengambil alih peran brand dalam membangun konfiden konsumen saat memutuskan pembelian.

Dengan kata lain, kehadiran search, rating, review, dan berbagai digital tools lain mendorong pasar bergeser dari asymetric information ke symetric information. “Now customers get near-perfect information about the product”. Ketika symetric information ini terjadi, maka dengan sendirinya brand menjadi tak relevan lagi.

Makin tidak relevannya brand tentu merupakan mimpi buruk bagi brand-brand mapan yang puluhan tahun sebelumnya menikmati marjin tak wajar karena memiliki brand equity yang kuat.

Teknologi digital rupanya tak hanya mendisrupsi layanan taksi, ojek atau perbankan. Tapi juga mendisrupsi brand.

Welcome to the world without brand!

February 3, 2018   6 Comments

Salesmen Are Selling Character, Not Product

Setiap kali sharing ke temen-temen salesman di berbagai perusahaan saya sering bilang: “Salesmen are diamond”. Ya, karena aset paling berharga seorang salesman adalah kejujuran dan integritas. Dan intan adalah perlambang kejujuran dan integritas. “Diamond is enduring symbol of purity and integrity”.

Kenapa intan menjadi cerminan integritas seorang salesman?

Karena intan adalah salah satu bahan terkeras di muka bumi ini. Selama ratusan bahkan ribuan tahun konon kondisi permukaan sebuah intan tak berubah. Jadi ia tak lekang dimakan usia, tak bergeming menghadapai berbagai perubahan yang menghinggapinya.

Kejujuran dan integritas punya sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat intan. Kenapa begitu? Karena kejujuran dan integritas butuh kesolidan dan kekerasan pendirian, tak gampang terpengaruh oleh perubahan apapun; tidak gampang terpengaruh godaan dan iming-iming menggiurkan.

Seorang salesman haruslah fleksibel dan responsif terhadap setiap permintaan konsumen. Tapi begitu menyangkut kejujuran dan integritas ia harus seteguh dan sekeras intan, dan tidak mengenal yang namanya kompromi.

Ketika sebagai salesman Anda mampu mempertahankan kejujuran dan integritas dalam waktu lama, maka Anda akan memancarkan aura cahaya yang berkilau-kilau seperti kilauan cahaya intan.

Selling Character

Harta Karun
Harta karun paling berharga bagi seorang salesman bukanlah selling skill. Bukanlah kemampuan meyakinkan pembeli; bukan pula kepiawaiannya membangun relationship dengan konsumen; tapi integritas yang terbangun karena si salesman tak pernah bohong, ingkar janji, atau niat jahat menjerumuskan si konsumen.

Integritas adalah landasan moral yang menentukan kualitas keseluruhan seorang salesman.

Celakanya, integritas itu tidak dibangun dalam semalam. Integritas terbangun karena track record yang dibuktikan bertahun-tahun. Track record putih bersih yang dibuktikan dan ditunjukkan kepada konsumen akan menjadi kekuatan brand yang luar biasa bagi seorang salesman.

Celakanya lagi, integritas itu rapuh. Artinya, sesolid dan selama apapun integritas yang Anda bangun (belasan bahkan mungkin puluhan tahun) bisa hancur berkeping-keping dalam semalam jika Anda menodainya.

Karena itu saya berani mengatakan, kematangan seorang salesman bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak klien yang ia tangani atau seberapa banyak closing yang telah dia hasilkan, tapi ditentukan oleh seberapa lama ia mampu mempertahankan kejujuran dan integritas tanpa cacat, tanpa noda, dan tanpa kompromi.

Ketika itu terjadi maka brand si salesman akan menyerupai permukaan intan yang kinclong kinyis-kinyis.

Sell Character, Not Product!!!
Karena kejujuran dan integritas dibangun dalam kurun waktu lama maka ujung-ujungnya ia akan mengkristal membentuk karakter Anda sebagai salesman. Kalau sudah mengkristal menjadi karakter, maka ia akan betul-betul menjadi sumber keuanggulan bersaing Anda di banding salesman lain.

Ia akan menjadi faktor penentu Anda dalam memenangkan hati konsumen. Character is your ultimate competitive advatages. It’s your enduring differentiator.

Karena itu saya melihat, sesungguhnya tugas terbesar dan tersulit Anda sebagai salesman bukanlah menjual produk, tapi “menjual” karakter Anda ke konsumen.

Ketika Anda sukses melakukan closing penjualan produk saat ini, maka tak ada jaminan Anda akan mampu melakukannya lagi di kemudian hari. Tapi jika Anda sukses “menjual” karakter Anda ke konsumen, maka itu akan menjamin suksesnya penjualan Anda untuk seterusnya.
.
Ketika aura karakter Anda di mata konsumen berkilau-kilau seperti kilau intan, maka kilau karakter itu akan menjadi pengunci loyalitas konsumen kepada Anda.

Mereka tak akan mikir untuk pindah ke lain hati alias beralih ke produk pesaing. Mereka bahkan sudah tidak lagi rewel mempersoalkan fitur produk atau harga yang Anda tawarkan.

Bicara mengenai intan saya jadi ingat film James Bond 007: Diamonds Are Forever. Kalau intan merupakan perlambang kejujuran dan integrity, maka saya bisa membuat sebuah ungkapan indah: “Honesty is foreverIntegrity is foreverCharacter is forever.”

Dengan kejujuran, integritas dan karakter dipastikan Anda akan menuai kesuksesan kekal hingga ke ujung jaman, hingga kiamat. Ini barangkali ungkapan paling dalam maknanya bagi setiap salesman.

 

January 27, 2018   No Comments

The Benjamin Button Economy

Istilah The Benjamin Button Economy saya peroleh dari Scott Galloway dari buku gress-nya The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google (2017).

Sebagian dari Anda mungkin pernah nonton film pemenang Oscar, The Curious Case of Benjamin Button yang secara cemerlang diperankan oleh Brad Pitt berdasarkan cerita pendek karya sastrawan besar Amerika F. Scott Fitzgerald.

Film ini berkisah perjalanan hidup Benjamin Button yang melawan kodrat. Kalau umumnya kita lahir , menjadi balita, remaja, menua, dan akhirnya mati; maka Benjamin Button sebaliknya: dari tua renta, menjadi muda, dan kemudian menjadi balita seiring dengan berjalannya waktu.

Ujar Benyamin Button di awal film: “My name is Benjamin Button, and I was born under unusual circumstances. While everyone else was agin’, I was gettin’ younger… all alone.”

The Curious Case of Benjamin Button

Makin Lama Makin Muda… dan Perkasa
Perjalanan hidup sebuah perusahaan sesungguhnya tak beda jauh dengan perjalanan hidup manusia: didirikan, berumur muda dan tumbuh begitu cepat, mendapatkan konsumen, menguasai pasar dan menjadi market leader, seiring berjalannya waktu kemudian menua, dan tak sedikit di antara mereka mati karena tak relevan lagi. Ambil contoh Kodak.

Namun sejak dua dekade terakhir muncul organisasi baru (semacam “mutant”) yang justru melawan kodrat, persis seperti yang dialami Benjamin Button. Makin lama, makin bertambah tahun, bukannya menjadi tua, justru sebaliknya menjadi semakin muda.

Itulah The Big Four: Amazon, Google, Apple, Facebook.

It’s the organization of 21st century and beyond. Nantinya seluruh organisasi abad 21 (dan abad-abad setelahnya) akan seperti ini.

Tentu saja The Big Four hanyalah tips of the iceberg, generasi baru perusahaan-perusahaan hebat akan menyusul mereka: Uber, AirBnB, Netflix, Ali Baba, Waze, WhatsApp, dan tentu Bitcoin. Semakin lama mereka bukannya renta tapi makin muda dan perkasa.

Kenapa bisa begitu?

From Network Effect to Machine Learning
Untuk gampangnya ambil contoh Facebook. Jejaring sosial seperti Facebook tak akan ada apa-apanya jika cuma berisi 10 orang. Facebook hanya akan hebat jika dihuni oleh banyak orang hingga 2 miliar penduduk bumi. Semakin banyak penghuninya, maka semakin berlipat-lipat pula nilainya. Inilah yang disebut “network effect”.

Tak hanya itu, dengan bertambahnya penghuni, maka kualitas layanan dan experience yang dihasilkan pun akan makin luar biasa.

Ambil contoh Waze, dengan semakin banyak orang yang mengunduh aplikasi Waze, semakin banyak pengguna yang berkontribusi, maka informasi geolokasi yang diberikannya akan semakin bagus dan presisi.

Fenomena yang sama terjadi untuk berbagai platform digital seperti: sharing (AirBnB), marketplace (iOS App Store), atau commerce (Netflix).

Cara Google menjadi Benjamin Button lain lagi. Ketika yang memakai mesin pencari Google hanya segelintir orang, maka mesin Google tak ada apa-apanya. Namun ketika miliaran penduduk bumi menggunakannya, maka mesin algoritma Google menjadi semakin pintar. Inilah prinsip machine learning.

Luar biasa, kini Google menangani tak kurang dari 3,5 miliar pencarian seharinya. Dan semakin banyak dan sering digunakan, maka algoritma Google akan semakin sempurna. Ini berbeda dengan sepatu Nike yang semakin digunakan akan semakin lusuh dan rusak.

Singkatnya, dari tahun ke tahun Facebook, Google, atau Waze bukannya semakin renta, tapi justru semakin muda dan perkasa seperti Benjamin Button.

The Curious Case of Benjamin Button 2

The Dark Side
Sekilas The Benjamin Button Economy terlihat impresif dan menyejukkan. Namun di balik itu ia punya sisi gelap yang membuat kita cemas.

Di balik kehebatan perusahaan-perusahaan yang semakin lama semakin muda dan perkasa ini terdapat tabiat yang tidak terpuji, karena mereka punya insting memakan sesamanya.

Inilah esensi kapitalisme (baca: keserakahan) yang sudah menjadi “agama” manusia modern.

The Benjamin Button Economy menghasilkan apa yang oleh ekonom di sebut “law of increasing return” yang menciptakan pasar dunia yang semakin monopolistik. Dipimpin oleh The Big Four, segelintir corporate elite nantinya akan memonopoli bisnis apapun yang ada di muka bumi.

Tabiat buruk ini kini kian tampak ketika kita melihat The Big Four menjadi kekuatan korporasi luar biasa, menjadi “vacuum cleaner” yang menghisap dan menguasai seluruh industri yang ada di bumi ini.

Ambil contoh Amazon. Dimulai dari menjual buku, Amazon begitu serakah menguasai dan memonopoli berbagai industri: video dan audio downloads/streaming, software, video games, elektronik, pakaian, furnitur, makanan, mainan anak-anak, perhiasan, transportasi/logistik, cloud, gadget, hingga liburan ke ruang angkasa.

Dengan duit cash yang praktis tanpa batas (melaui kapitalisasi pasar yang terus meroket) mereka memakan satu persatu pesaingnya: Amazon (Whole Foods, Zapoos), Google (DoubleClicks, Motorola, YouTube, Waze), Facebook (Instagram, WhatsApp).

Nantinya yang menguasai Bumi dengan segenap isinya bukanlah negara superpower seperti Amerika Serikat atau Cina, bukan pula lembaga multinasional seperti PBB atau World Bank, tapi corporate elites yang dipimpin oleh The Big Four: Amazon, Google, Apple, dan Facebook.

Welcome The Benjamin Button Economy.

January 13, 2018   No Comments

Best Business Story 2017

Tahun 2017 telah menghasilkan kisah-kisah bisnis yang inspiratif: Kisah sukses dan gagalnya perusahaan, tren pasar dan konsumen, atau disrupsi yang menggoncang lanskap bisnis.

Karena itu di hari pertama 2018 ini ada baiknya kita menengok sejenak ke berbagai kisah tersebut agar kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga darinya. Tentu agar bisa menjadi bekal di tahun yang baru.

Best Business Story 2017 - New

Berikut ini 7 Best Business Stories tahun ini:

#1. The End of Department Store Era: The Retail Story
Tahun ini peritel tradisional mulai berguguran: Glodok dan Roxi sepi, beberapa gerai Matahari dan Ramayana tutup, begitupun peritel global Dabenhams, Lotus, H&M menghentikan operasinya.

Dua kekuatan disruptif menyapu sektor ritel sekaligus:

Pertama, disrupsi digital yang memicu munculnya e-commerce yang kini bergerak menuju mainstream. Tiga value (convenience, cost, time-efficient) e-commerce mampu mengubah perilaku belanja konsumen ke ranah online.

Kedua, pergeseran konsumen dari good-based consumption ke experience-based consumption menjadikan milenial pelan-pelan mengurangi belanja barang-barang yang dijual di departmen store seperti: baju, sepatu, atau tas.

Tragedi ritel ini menyadarkan kita bahwa tsunami disrupsi telah di depan mata dan tak bisa dihindari lagi. Peritel tradisional harus mentransformasi diri dengan mengusung mengusung konsep “leisuretail” dengan mencangkokkan leisure ke dalam model bisnis mereka.

Peritel juga harus go digital dengan mengembangkan omnichannel baik offline, online, mobile.

Baca Juga -> eBook: Marketing Outlook 2018: Welcome Leisure Economy

#2. Consumer Disruption: The Millennials Story
Populasi milenial kini hampir mencapai 35% dari penduduk Indonesia dan dalam 5 tahun ke depan akan menjadi kekuatan pasar dominan di tanah air. Milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku yang berbeda dengan generasi sebelumnya (saya sebut: “generational cut-off”) yang berpotensi mendisrupsi berbagai industri.

Consumer Goods: Konsumsi milenial akan barang-barang konsumsi akan semakin menurun. Data Nielsen mengonfirmasi hal ini, dimana sejak tahun 2014 pertumbuhan penjualan produk-produk konsumer (FMCG, fast-moving consumer goods seperti: makanan-minuman kemasan, personal care, dan home care) pertumbuhannya mulai terlihat flat cenderung turun.

Properti: Milenial cenderung mencari rumah berukuran kecil dan fungsional-minimalis dengan perabot dan perlengkapan rumah tangga yang minimal pula. Karena rumah di tengah kota harganya tak terjangkau, rumah di pinggir kota dengan aksebilitas baik (transit-oriented development, TOD) menjadi solusi.

Bank: Milenial merasa kewajiban cicilan KPR, KKB, atau tagihan kartu kredit kian mengungkung kebebasan hidup mereka. Pertanyaannya: ditambah dengan kehadiran fintech yang mendisrupsi sektor ini, akankah memang bank semakin tak relevan lagi di era generasi milenial?

Transportasi: Keinginan milenial membeli mobil/motor semakin menyurut. Alasannya ada dua. Pertama, memiliki mobil sendiri merepotkan dan tidak ramah lingkungan. Kedua, mereka lebih memilih sharing lifestyle dengan menggunakan jasa seperti Grab atau Gojek.

Consumer Electronic/Gadget: Era bulan madu membeli/memiliki gadget telah lewat. Puncaknya terjadi pada saat Nokia, disusul Blackberry, dan terakhir Apple/Samsung mencapai masa jaya. Kala itu konsumen mengular antri untuk mendapatkan gadget terbaru. Kini milenial membeli/memiliki perangkat elektronik/gadget seperlunya, tidak berlebihan seperti generasi sebelumnya.

Retail: Dampaknya kini sudah terasa, pusat-pusat perbelanjaan yang sebatas menawarkan barang dan tidak menawarkan experience/leisure makin ditinggalkan konsumen milenial. Sebaliknya, mal-mal modern yang menyediakan coffee shop, dine-out resto, atau hiburan justru mengalami pertumbuhan luar biasa.

#3. Innovation Fallacies: The Sevel Story
Tepat 30 Juni 2017 Sevel menghentikan operasinya. Banyak analisis mengupas kegagalan Sevel. Ada yang melihatnya secara taktikal dari sisi operasional yang terus berdarah-darah. Ada yang melihat secara strategis karena model bisnisnya yang keliru dan tak sustainable. Ada juga yang menyalahkan regulasi pemerintah sebagai biang kejatuhan Sevel.

Kejatuhan Sevel

Namun saya melihat kejatuhan Sevel dari sisi disiplin inovasi. Saya menyebutnya “innovation fallacies” atau pemahaman umum yang keliru mengenai inovasi, yang hingga kini banyak diyakini oleh para inovator.

Seperti halnya Go-Jek, awalnya Sevel adalah “innovation hero” karena telah melakukan inovasi terobosan di tengah industri ritel nasional paceklik ide-ide bisnis segar sejak duo Indomaret-Alfamart menghegemoni pasar ritel.

Namun kesuksesan awal membuat Sevel gegabah dan kendor disiplin inovasinya. Yang paling parah adalah melakukan kesalahan yang saya sebut “smash-hit fallacy”. Begitu konsep bisnis inovatif Sevel meluncur 2009 dan menuai sukses luar biasa, ia silau oleh kesuksesan itu. Ia tak melakukan inovasi-inovasi lanjutan untuk menyempurnakan konsep bisnisnya.

Sevel juga melakukan kesalahan yang saya sebut “sprinter game fallacy”. Ia menganggap inovasi sebagai “sprinter game” bukannya “marathon game”.

Inovasi bukanlah lomba lari cepat 100 meter, tapi lomba lari maraton. Maksudnya, setelah “inovasi besar” terwujud, maka diperlukan “inovasi-inovasi kecil” dalam kurun waktu yang panjang. Itulah yang dengan sangat baik dilakukan oleh Go-Jek.

#4. Focus on Ecosystem: The Go-Pay Story
Metamorfose Go-Jek dari “transportation company” menjadi “financial services company” merupakan model kesuksesan digital champion di Indonesia yang patut dicatat sejarah.

Awalnya Go-Jek memecah kebuntuan platform berbagi (sharing platform) yang kemudian menjadikannya pionir industri. Setelah sukses, ia kemudian melebarkan portofolia layanannya ke pasar-pasar lain (adjacent markets). Maka meluncurlah layanan seperti Go-Food, Go-Send, Go-Box, Go-Massage, Go-Glam, hingga Go-Tix yang juga menuai sukses.

Go-Pay

Mengembangkan portofolio begitu banyak dan begitu cepat, Go-Jek mampu mengumpulkan crowd pelanggan yang cukup besar. Maka Go-Jek mulai mengembangkan ekosistem bisnisnya dengan menyediakan alat pembayaran untuk “gotizen”, istilah saya untuk “para warga” di ekosistem bisnis Go-Jek. Maka lahirlah Go-Pay.

Pola sama yang terjadi di bisnis transportasi diulang untuk bisnis layanan keuangan, yaitu Go-Pay melebarkan sayapnya ke berbagai lini layanan lain seperti Go-Bill, G-Point, hingga Go-Pulsa. Lebih agresif lagi, tahun 2018 nanti Go-Pay akan mandiri keluar dari ekosistem Go-Jek dan bakal menjamah portofolio bisnis yang lebih luas termasuk mungkin bank.

Dalam istilah Peter Thiele (Zero to One, 2014), Go-Jek sukses mengeksekusi inovasi “0 ke 1” yang betul-betul baru dan fresh. Dan kemudian melanjutkannya menjadi inovasi “1 ke n” dengan penyempurnaan terus-menerus untuk melengkapi kesuksesan.

Inovasi tiada henti; fokus ke ekosistem tak hanya produk/layanan; dan ekspansi portofolio bisnis dari core market ke adjacent market adalah pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita petik dari business journey Go-Jek.

#5. Empire Strikes Back: The Blue Bird Story
Blue Bird bisa menjadi model sukses perusahaan inkumben yang terdampak tsunami digital: Awalnya gusar oleh gelombang uberization, belajar cepat, beradaptasi cepat, dan kemudian menemukan track-nya kembali.

Platform berbagi (sharing platform) telah merevolusi layanan taksi di tanah air. Ia menawarkan segudang keunggulan: harga yang super murah, cara pemesanan yang super convenient, sopir yang piawai karena dibekali teknologi GPS canggih.

Taksi online juga asset-light dan overhead-nya bisa dipangkas serendah mungkin. Ya, karena mereka tak perlu memiliki sopir atau kendaraan. Itu sebabnya mereka bisa memangkas harga semurah mungkin yang membuat taksi konvensional tak mampu bersaing lagi.

My Blue Bird

Akibatnya gampang ditebak, migrasi konsumen pun terjadi dari taksi tradisional ke taksi online. Blue Bird pun lesu karena kehilangan darah karena ditingglkan pelanggannya.

Namun taksi online seperti Grab atau Uber punya kelemahan mendasar karena tak mampu membentuk budaya perusahaan kokoh seperti halnya perusahaan taksi konvensional (cultureless organization).

Membangun budaya di dalam organisasi membutuhkan interaksi personal antar karyawan, pendekatan emosional, pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi mereka, sikap saling pengertian, spirit kebersamaan dan sense of family, sikap saling percaya, dan sentuhan hati dan cinta. Hni rupanya kekuatan inti Blue Bird selama bertahun-tahun.

Setelah berjuang 3 tahun terakhir, Blue Bird akhirnya menemukan diferensiasi layanannya dibanding taksi online. Blue Bird identik dengan: “sopirnya hapal jalan”, “mobilnya standar dan bersih”, atau “tak pernah membatalkan order”.

Sementara taksi online kuat dipersepsi sebagai taksi yang “pilih-pilih penumpang”, “merepotkan penumpang karena kebingungan memilih jalan”, atau “sering tertangkap di jalur ganjil-genap”.

Hasilnya: Blue Bird tetap menjad pilihan pelanggan.

Pelajarannya: culture still matters. Di era digital disruption saat ini, manusia dan budaya perusahaan yang kokoh masih merupakan faktor kunci kesuksesan. “Technology isn’t everything, people are”.

#6. Selling the Future Now: The Meikarta Story
Strategi yang dijalankan Meikarta dengan megaproyek Rp 278 triliunnya sesungguhnya tak beda jauh dengan yang dijalankan oleh Facebook, Tesla, atau Go-Jek, yaitu menjual masa depan. Persis seperti bunyi tagline-nya: “The Future Is Here Today”. Sebuah strategi yang khas Lippo.

Meikarta New

Mulai dibangun awal 2016, Meikarta menjual unit apartemennya dengan segudang iming-iming: harga miring, dukungan infrastruktur kelas dunia (bandara, pelabuhan, kereta cepat, LRT, monorail), tentu dengan anggaran promosi gila-gilaan lebih dari Rp 1 trilun.

Anggaran triliunan rupiah itu digelontorkan untuk satu tujuan: menjual masa depan, ke konsumen maupun ke investor.

Tujuannya adalah mengumpulkan crowd pelanggan baik individu maupun perusahaan. Lippo berambisi mendatangkan 1 juta orang ke Meikarta dan 4000 perusahaan ke Cikarang. Mereka adalah kelas menengah dan korporasi top nasional/global yang ke depan memberikan recurring income ke Lippo.

Sama dengan Facebook atau Go-Jek, crowd pelanggan inilah sesungguhnya harta karun tak ternilai bagi Lippo yang nantinya akan di jual ke investor di pasar modal (kita tunggu saja tanggal main IPO-nya).

Jadi Lippo bermain dan meraup untung besar melalui dua pasar sekaligus: pasar komersial (jualan apartemen) dan pasar modal (mendapatkan nilai kapitalisasi pasar tinggi).

Sampai di sini Anda pasti sudah bisa menebak dari mana Lippo bakal mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Seperti startup di Silicon Valley keuntungan berlipat-lipat itu justru diperoleh dari pasar modal, bukan dari jualan apartemen.

#7. Shifting of the Year: The Leisure Story
Sejak tahun 2015 telah terjadi pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure”. Pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser dari “goods-based consumption” menuju ke “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” meningkat pesat.

Menurut data BPS, untuk kuartal II-2017, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%.

Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana berikut ini semakin meyakinkan maraknya sektor leisure di Indonesia. Bandara ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung.

Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia. Welcome leisure economy.

Happy New Year 2018

December 31, 2017   2 Comments

Best Business Books 2017 – My Picks

Dua topik seksi masih menjadi favorit saya untuk Best Business Book tahun ini. Pertama adalah behavioral economics (Adaptive Markets). Kedua adalah internet/digital (Move Fast and Break Things, The Four, The Upstarts).

Dan pilihan buku terbaik tahun ini adalah gabungan keduanya, bias perilaku di era internet/digital yaitu: Everybody Lies.

Berikut adalah daftar 10 Best Business Book 2017 pilihan saya:

#1. Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us About Who We Really Are, Seth Stephens-Davidowitz

Everybody Lies - Book Cover New

Problem mendasar sebuah survei adalah responden yang mengatakan hal tak sebenarnya. Mereka mengatakan apa yang “seharusnya” dikatakan kepada peneliti atau apa yang mereka “pilih” untuk dikatakan kepada peneliti (dalam behavioral economics sering disebut: “social desirability bias”). Karena itu, persis seperti dibilang buku ini: “We are all lying”.

Namun di dalam lautan big data mesin pencari Google kita tak bisa lagi berbohong. Apa yang kita tuliskan di text box mesin pencarian Google adalah potret dari pikiran, hasrat, kecemasan, dan kelakuan kita yang sesungguhnya tanpa kita mampu berbohong.

Buku ini membuka cakrawala baru dimana sekitar 8 triliun gigabyte data di mesin pencari Google (dan akan terus bertambah secara eksponensial) akan memberikan jawaban presisi mengenai siapa sesungguhnya kita. Mesin pencari Google bakal menjadi “lab raksasa” dengan responden lebih dari 7 miliar umat manusia.

Apa yang telah kita tuliskan di Google akan menelanjangi seluruh aspek kehidupan kita mulai dari: perilaku investor dan konsumen, relasi sosial, orientasi politik, sentimen rasisme, etika, tendensi LGBT, hingga seluk-beluk kehidupan seks kita.

#2. Principles: Life and Work, Ray Dalio

Principles - Book Cover New

Business wisdom dari salah satu investor/entrepreneur tersukses di dunia, Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associate, hedge fund terbesar di dunia. Melalui buku ini tokoh yang mendapat julukan “Steve Jobs of Investing” ini mengkristalkan butir-butir pemikiran bisnis selama 40 tahun selama ia memimpin Bridgewater.

Prinsip yang disebutnya, “an idea meritocracy that strives to achieve meaningful work and meaningful relationships through radical tranparency,” menjadi fondasi budaya kerja Bridgewater hingga menjadi perusahaan terhebat di dunia.

#3. Move Fast and Break Things: How Facebook, Google, and Amazon Cornered Culture and Undermined Democracy, Jonathan Taplin

Move Fast and Break Things - Book Cover New

Jonathan Taplin mengungkap dengan gamblang sepak terjang segelintir “radical libertarian entrepreneurs” di tahun 1990-an (al: Thiele, Bezos, Page, Zuckerberg) yang “membajak” jagat internet menjadi bagian dari bisnis global yang mereka dominasi.

Gerak agresif mereka telah merampas dan memonopoli bisnis musik, film, televisi, penerbitan, dan berita di seantero jagat. Kerakusan mereka telah membelokkan internet dari visi dan idealisme awalnya yang begitu mulia.

#4. Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy, Sheryl Sandberg dan Adam Grant

Option B - Book Cover New

Dua penulis rising star Sheryl Sandberg (Lean In) dan Adam Grant (Originals & Give and Take) berkolaborasi menghasilkan buku fenomenal ini. Buku ini istimewa terutama bagi Sandberg yang juga COO Facebook karena merupakan refleksi personalnya menyusul kematian secara tiba-tiba sang suami.

Kombinasi pengalaman personal-emosional Sanberg dan keakuratan riset psikologi Grant menghasilkan kajian yang insightful mengenai bagaimana kita tabah (resilient), menemukan kekuatan, dan bertumbuh kembali saat menghadapi cobaan hidup yang pelik.

#5. Adaptive Markets: Financial Evolution at the Speed of Thought, Andrew W. Lo

Adaptive Markets - Book Cover New 2

 

Selama hampir 200 tahun para ekonom meyakini bahwa investor adalah rasional dan pasar adalah efisien. Keyakinan itu dikoreksi oleh para behavioral economist yang secara meyakinkan membuktikan bahwa pasar jauh dari efisien dan para pelakunya tak rasional dalam mengambil keputusan.

Melalui karya terobosan ini Andrew Lo mengusulkan framewok baru “Adaptive Markets Hypothesis” yang mengatakan bahwa teori mengenai pasar yang efisien tidaklah salah, hanya belum komplit. Lo menunjukkan bahwa rasionalitas dan irrasionalitas pelaku pasar berjalan berdampingan.

#6. Hit Makers: The Science of Popularity in an Age of Distraction, Derek Thompson

Hit Makers - Book Cover New

Melalui telusuran investigatif selama seabad terakhir, Derek Thompson editor senior majalah Atlantic, mengungkap bagaimana artis, lagu, film, atau apps menjadi tipping point dan mencapai puncak kepopuleran.

Hit Makers menelusuri dinamika psikologis di balik fenomena blockbuster (dari lukisan Monalisa, Star Wars, iPhone, hingga Donald Trump) yang mendominasi budaya pop dan bisnis. Seperti bunyi subjudulnya, buku ini adalah: a science of popularity.

#7. The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google, Scott Galloway

The Four - Book Cover New

Dunia saat ini dikuasai dan dikendalikan oleh empat perusahaan (“The Four”): Google, Apple, Amazon, dan Facebook. Dengan cerdas The Four memanipulasi kebutuhan purbawi kita dan mensolusikannya dengan kecepatan dan skala yang tak bisa disamai oleh perusahaan lain manapun.

Dengan kritis Galloway mempertanyakan bagaimana mereka menginfiltrasi kehidupan kita hingga kita tak sanggup menolak atau memboikotnya. Ia juga mempertanyakan bagaimana pasar modal dan media bisa begitu “pemaaf” terhadap “dosa-dosa besar” yang mereka perbuat saat membumihanguskan pesaingnya di seluruh muka bumi.

Ketika The Four mengobrak-abrik tatanan ekonomi, industri, dan tatanan sosial dunia, kita hanya menjadi penonton di pinggir lapangan, takjub sekaligus cemas dan pesimis. Itulah kehebatan The Four.

#8. The Captain Class: The Hidden Force That Creates the World’s Greatest Teams, Sam Walker

The Captain Class - Book Cover New

Rahasia sukses sebuah tim olehraga bukan terletak pada pelatih, pemain bintang, atau strateginya, tapi ada di tangan kepemimpinan kapten tim yang hebat dan mumpuni.

Buku ini mencari tahu “the DNA of greatness” dari puluhan tim olahraga terhebat sejagat, beberapa di antaranya adalah: klub baseball New York Yankees (1949–1953), klub hoki Montreal Canadiens (1955–1960), hingga klub sepak bola Barcelona (2008–2013).

Hasilnya, Sam Walker penulisnya, menemukan tujuh kesamaan kualitas dan atribut kepemimpinan dari si kapten. Walaupun mengupas tim olahraga, buku ini memberikan insight tak ternilai bagi pengembangan a great team di berbagai bidang lain termasuk bisnis.

Baca juga:

Best Business Book 2016

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

#9. The Power of Moments: Why Certain Experiences Have Extraordinary Impact, Chip Heath dan Dan Heath

The Power of Moment - Book Cover

Kita semua memiliki apa yang oleh buku ini disebut “defining moment”, sebuah momen hidup yang amat menentukan dan secara mendasar mengubah arah hidup kita sehingga bisa berkontribusi mengubah dunia.

Defining moment itu bisa berupa petuah kecil guru saat kita SD, perjumpaan dengan teman (Steve Jobs ketemu Steve Wosniak), atau datangnya musibah (seperti Sheryl Sandberg yang di tinggal suami tercinta – lihat buku Option B di atas).

Umumnya defining moment muncul karena takdir dan faktor kebetulan. Namun buku ini berpendapat sebaliknya, defining moment bisa kita ciptakan. Chip bersaudara penulis buku ini mencoba merumuskan dan menciptakan momen-momen berharga kehidupan kita. Mereka menunjukkan bahwa kita bisa menjadi “author of our defining moment”.

#10. The Upstarts: How Uber, Airbnb, and the Killer Companies of the New Silicon Valley Are Changing the World, Brad Stone

The Upstarts - Book Cover

Sepuluh tahun lalu sharing lifestyle sama sekali tak terbayangkan di benak kita. Namun kini budaya konsumsi baru itu menjadi sebuah tren global yang akan menentukan nasib peradaban umat manusia ke depan.

Pemicunya tak lain adalah sosok-sosok pendobrak seperti Travis Kalanick (Uber), Brian Chesky (AirBnB), dan entrepreneurs generasi baru yang menggunakan teknologi untuk memporakporandakan industri lama yang telah mapan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya. Brad Stone penulis buku ini menyebut mereka: “The Upstarts”

***

Butuh perjuangan luar biasa untuk mengerucutkan buku-buku terbaik tahun ini menjadi hanya 10 buku. Saya menyadari ke-10 buku tersebut terpilih tak lepas dari faktor subyektivitas dan area yang menjadi minat baca saya. Karena itu ada baiknya saya tampilkan juga long list buku terbaik tahun ini.

Berikut ini daftarnya:

11. Hit Refresh, Satya Nadella
12. Black Edge, Sheelah Kolhatkar
13. Insight, Tara Eurich
14. Pause, Rachael O’Meara
15. Extreme Ownership, Jocko Willink
16. Blue Ocean Shift, Chan Kim, Renee Mauborgne
17. High Performance Habit, Brendon Buchard
18. Unshakeable, Tony Robbin
19. The Wisdom of Finance, Mihir Desai
20. Scale, Geoffrey West
21. Tribe of Mentors, Tim Ferriss
22. Finish, Jon Acuff
23. The Startup Way, Eric Ries
24. One Mission, Chris Fussell
25. The Road to Recognition, Seth Price & Barry Fieldman

December 25, 2017   No Comments

Millennials & The Fall of Materialism

Milenial adalah experience-seekers, mereka lebih memilih mengonsumsi pengalaman (experience) ketimbang barang (goods). Mereka lebih suka membelanjakan uangnya untuk liburan, dine-out, atau nonton konser ketimbang baju, sepatu, atau mobil. Data BPS mengonfirmasi hal ini.

Milenial adalah juga happiness-seeker, bagi mereka waktu adalah aset yang paling berharga. Karena itu mereka berupaya mengisi setiap jengkal waktunya untuk menghasilkan emosi positif (positive emotion) dan sesuatu yang fun agar bahagia. Kalau Gen X bekerja untuk mencari uang dan status, maka Gen Milenial bekerja untuk mencari kebahagiaan, mereka memilih pekerjaan dan profesi yang disenanginya.

Milenial sekaligus juga adalah meaning-seeker. Agar bahagia, mereka menginginkan hidupnya bermakna bagi mereka sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Mereka mendambakan a meaningful life.

Tiga nilai-nilai unik milenial ini menghasilkan shifting perilaku konsumen yang sangat mendasar dan berpotensi mendisrupsi berbagai bisnis yang telah mapan bertahun-tahun sebelumnya.

Minimalist Lifestyle
Resultan dari tiga shifting perilaku milenial di atas adalah tren ke arah gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle). Bisa disebut era milenial adalah era kejatuhan materialisme (the fall of materialism).

Gaya hidup minimalis adalah tren perilaku generasi milenial yang semakin mengurangi konsumsi barang (goods-based consumption) dan mengalihkannya ke konsumsi pengalaman (experience-based consumption). Mereka mengonsumsi baju, sepatu, gadget, mobil, bahkan rumah secara minimal, kemudian mengalihkan uangnya untuk liburan, nongkrong, nonton konser, kesenian, atau olahraga.

Milenial mulai sadar bahwa memiliki beragam barang menjadikan hidup repot dan kompleks. Karena itu mereka menguranginya dan lebih fokus pada aspek-aspek terpenting dalam hidup seperti: kesehatan, kesenangan, relationships, personal growth, atau kontribusi ke sesama.

Ada tiga alasan mengapa tren gaya hidup minimalis ini bakal kian menguat di kalangan milenial jaman now.

Pertama karena memang milenial adalah “generasi susah”. Masa-masa remaja mereka pekat diwarnai krisis ekonomi (krisis 1998 dan 2008) dan berbagai kerusuhan politik (bom Bali dan kerusuhan berbau SARA) akibat transisi dari pemerintahan Orde Baru ke orde reformasi. Karena susah maka mereka sangat value-oriented, setiap pengeluaran mereka perhitungkan dengan masak-masak. Mereka menuntut layanan yang “more for less”, dapat banyak dengan harga semurah mungkin.

Di usia rata-rata 25 tahun (usia tertua 35 tahun), milenial juga belum memiliki posisi mapan di dalam pekerjaan dan karir mereka. Sehingga pendapatan dan daya beli mereka saat ini juga masih belum begitu tinggi. Karena keterbatasan ini pengeluaran mereka prioritaskan ke konsumsi yang menghasilkan experience, happiness, dan meaning.

Kedua karena goods dan materialism membuat mereka tidak bahagia. Ketika punya mobil maka rentetan kebutuhan lanjutan akan susul-menyusul: butuh garasi, ngurus STNK dan SIM, beli bensin tiap minggu, bayar parkir, servis tiap tiga bulan, butuh sopir, berurusan dengan polisi kalau kena tilang di jalan, dan seterusnya. Itu semua menguras tenaga, pikiran, dan uang.

Memiliki mobil ujung-ujungnya menciptakan “spiral of complicated life” yang menjadikan hidup para milenial pekat dipenuhi stres, kecemasan, dan ujng-ujungnya tak bahagia. Goods consumption leads to stress, anxiety, and unhappiness.”

Ketiga karena milenial menginginkan kebebasan. Minimalist lifestyle means a life with more freedom. Tidak memiliki barang-barang (terutama durable goods) seperti rumah atau mobil menjadikan mereka lebih memiliki kebebasan dalam hidup.

Dalam hal rumah misalnya, kini milenial cenderung menunda memiliki rumah (kalau masih bisa ngontrak atau ngekos) atau memiliki rumah berukuran kecil dengan kewajiban cicilan KPR yang kecil pula. Mereka tak mau kewajiban kepada bank menyandera kebebasan hidup mereka.

*Silahkan donlot ebook:Welcome Leisure Economy” -> E- Book Leisure

Cover eBook Leisure Economy

Potential Disruptions
Ketika minimalist lifestyle betul-betul telah menjadi mainstream (ingat, tahun 2020 milenial sudah mendominasi komposisi demografis penduduk Indonesia) lalu apa yang bakal terjadi?

Tren tersebut menghasilkan “new mode of consumptions” yang berpotensi menghasilkan dampak disruptif jangka panjang ke berbagai bisnis dan sektor industri.

Consumer Goods: Konsumsi milenial akan barang-barang konsumsi akan semakin menurun. Data Nielsen mengonfirmasi hal ini, dimana sejak tahun 2014 pertumbuhan penjualan produk-produk konsumer (FMCG, fast-moving consumer goods seperti: makanan-minuman kemasan, personal care, home care, dll.) pertumbuhannya mulai terlihat flat cenderung turun.

Properti: Milenial cenderung mencari rumah berukuran kecil dan fungsional-minimalis dengan perabot dan perlengkapan rumah tangga yang minimal pula. Karena rumah di tengah kota harganya tak terjangkau, rumah di pinggir kota dengan aksebilitas baik (transit-oriented development, TOD) menjadi solusi.

Bank: Milenial merasa kewajiban cicilan KPR, KKB, atau tagihan kartu kredit kian mengungkung kebebasan hidup mereka. Pertanyaannya: ditambah dengan kehadiran fintech yang mendisrupsi sektor ini, akankah memang bank semakin tak relevan lagi di era generasi milenial?

Transportasi: Keinginan milenial membeli mobil/motor semakin menyurut. Alasannya ada dua. Pertama, memiliki mobil sendiri merepotkan dan tidak ramah lingkungan. Kedua, mereka lebih memilih sharing lifestyle dengan menggunakan jasa seperti Grab atau Gojek.

Fashion: milenial kian mengurangi beli baju, sepatu, tas, dan barang-barang fesyen. Mereka membeli seperlunya tak lagi bertubi-tubi untuk mengikuti tren. Sosok seperti Steve Jobs atau Mark Zuckerberg yang hanya memilki satu jenis baju, celana, dan sepatu kian menjadi role model.

Consumer Electronic/Gadget: Era bulan madu membeli/memiliki gadget telah lewat. Puncaknya terjadi pada saat Nokia, disusul Blackberry, dan terakhir Apple/Samsung mencapai masa jaya. Kala itu konsumen mengular antri untuk mendapatkan gadget terbaru. Kini milenial membeli/memiliki perangkat elektronik/gadget seperlunya, tidak berlebihan seperti generasi sebelumnya.

Retail: Dampaknya kini sudah terasa, pusat-pusat perbelanjaan yang sebatas menawarkan barang dan tidak menawarkan experience/leisure makin ditinggalkan konsumen milenial. Sebaliknya, mal-mal modern yang menyediakan coffee shop, dine-out resto, atau hiburan justru mengalami pertumbuhan luar biasa.

Dengan perubahan-perubahan perilaku di atas, milenial kini telah menjadi disruptor yang membuat lanskap bisnis berubah secara eksponensial.

 

December 16, 2017   1 Comment

Free eBook – Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy”

Berikut ini adalah slide presentasi saya di eTalk di Menara BCA hari ini: Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy” dalam bentuk ebook.

Mudah-mudahan menjadi bekal berharga untuk menghadapi The Challenging Year 2018.

Monggo didonlot: E- Book Leisure

Cover eBook Leisure Economy

December 9, 2017   4 Comments

Fear of Disruption

Jaman saya kecil di kampung, cara petani menakut-nakuti dan mengusir burung yang hendak memakan padi di sawah adalah dengan memasang “memedi sawah”, semacam boneka dari jerami dengan kepala dari batok kelapa. Memedi sawah itu biasanya diberi baju dan caping agar menyerupai sosok manusia.

Kini, di jaman semua serba digital cara paling ampuh untuk menakut-nakuti pelaku ekonomi dan pebisnis adalah dengan cukup membisikkan satu kata: “disruption”.

Itulah setidaknya yang kita alami selama 1-2 tahun terakhir. Satu kata ini menjadi momok menakutkan yang beredar di berita media, di postingan blog, tweets, update status di Facebook, atau foto-foto di Instagram yang menghasilkan viral yang merambat cepat, bergentayangan layaknya malaikat pencabut nyawa.

“Taksi konvensional bakal bangkrut terkena disruption”
“Glodok dan Roxi bakal tutup terkena dampak disruption”
“Matahari dan Ramayana sepi pengunjung karena disruption”
“Karyawan bank siap terkena PHK massal karena disruption”

Begitu kira-kira bunyi pesan viral yang membuat pelaku ekonomi ketakutan setengah mati. Semua pesan berseliweran ini menghasilkan fenomena yang saya sebut: “Fear of Disruption(FoD).

FoD muncul karena: kita takut bisnis kita terkanibalisasi oleh startup seumur jagung; kita gamang kehilangan pekerjaan; atau cemas karena tidak tahu harus berbuat apa. Kian hari ketakutan ini kian dramatis dan mencekam.

Keep Calm and Start Thinking Clearly

Fear Is Contagious
Celakanya, di era media sosial, FoD itu menular dan menyebar begitu cepat dan massif menghasilkan ketakutan dalam besaran dan intensitas yang luar biasa. Tipping point matters!

Diawali dengan postingan seseorang di blog atau Facebook mengenai dampak buruk disruption. Misalnya, berita mengenai Glodog dan Roxi yang kian sepi karena konsumen sudah pindah berbelanja ke Tokopedia dan Bukalapak beberapa bulan yang lalu. Maka dalam ukuran menit postingan itu menciptakan FoD yang menyebar begitu cepat menjangkau ribuan bahkan jutaan netizen.

Karena berita mengenai FoD selalu seksi, menarik (shareable), dan selalu memicu viral (viralable), maka di hari dan minggu berikutnya netizen mulai berlomba-lomba mengungkap fakta, analisis, atau sekedar obrolan mengenai sisi buruk disruption.

Perlu diingat netizen memang haus “like” dan “share”. Karena itu berita apapun yang menarik dan memicu “like” dan “share” akan mereka sebar atau dibikin meme-nya. Yang terjadi kemudian gampang ditebak, mereka berjamaah menebar virus ketakutan, tanpa sedikitpun mereka sadari. Unconsciously,we spread fear of disruption.

Negativity Bias
Kenapa hanya dampak buruk disruption yang viral? Padahal kita semua tahu bahwa di samping berdampak negatif, digital disruption juga menghasilkan dampak positif berupa layanan yang lebih baik, pemanfaatan sumberdaya yang lebih efisien, atau munculnya inovasi-inovasi yang menggerakkan perekonomian secara luas.

Inilah yang disebut “negativity bias”. Karena kita lebih suka menyebarkan berita buruk ketimbang berita baik. “Bad news travel faster than good news”. Pesan buruk menyebar berlipat-lipat lebih cepat dibanding pesan baik.

Itu sebabnya tak banyak pesan atau berita yang melihat disruption dari sisi positif. Kalaupun ada tak pernah mampu mencuri perhatian kita. Dampaknya di kalangan pelaku ekonomi sangat impactful: sangat sedikit pebisnis (incumbent) yang melihat disruption dari sisi opportunity, hampir semua melihatnya sebagai threat yang mengancam keberadaan mereka.

Dengan begitu negativity bias membentuk stigma di kalangan pelaku ekonomi bahwa disruption adalah bencana korporasi yang luar biasa dan dari sinilah virus FoD mulai terbentuk dan menyebar hebat.

Confirmation Bias
Tak cukup di situ, ketika di kalangan pelaku ekonomi sudah terbentuk stigma negatif mengenai disruption, maka keyakinan negatif ini memicu apa yang disebut “confirmation bias”.

Confirmation bias adalah tendensi dimana kita cenderung membenarkan dan mengonfirmasi sesuatu yang sebelumnya kita yakini. Ketika kita mendapati berita mengenai dampak buruk disruption, maka kita cenderung menjadikannya sebagai pembenaran bahwa disruption bakal betul-betul menciptakan bencana ketimbang kemanfaatan.

Confirmation bias makin memperdalam proses penciptaan ketakutan. Dan pada satu titik tertentu mendorong terjadinya “vicious circle of fears” dimana satu pesan ketakutan teramplifikasi secara eksponensial sehingga menghasilkan rentetan ketakutan dalam jumlah dan intensitas yang berlipat-lipat.

Hasilnya, di tengah rundungan ketakutan, para pelaku ekonomi menjadi gamang, kehilangan konfiden, kehilangan pegangan, pesimis, bahkan merasa hopeless menghadapi ekonomi yang tidak menentu. Kejadian inilah yang saya sebut: “FoD Effect

“FoD Effect” kita alami dalam 1-2 tahun terakhir dimana hampir setiap hari kita diterpa berita-berita mengenai bencana disruption yang meluruhkan optimisme dan harapan kita. Ini baru permulaan. Semakin hari “FoD Effect” ini akan makin intensif menggerus nyali dan optimisme kita.

Barangkali karena “FoD Effect” inilah ekonomi kita seperti “mati suri” selama tiga tahun terakhir: ekonomi terasa lesu; banyak perusahaan tak mampu mencapai target; banyak pelaku bisnis cemas dan pesimis; produsen dan konsumen “wait and see”; muncul dugaan daya beli masyarakat menurun; muncul dugaan terjadinya consumer shifting; masyarakat menyalahkan pemerintah; pemerintah mencari pembenaran dan kambing hitam, dan sterusnya, dan seterusnya.

Baca juga: “Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru”

Fear Is Bad for Us
Apa yang terjadi jika para pebisnis dan pelaku ekonomi dirundung ketakutan di tengah ketidakmenentuan akibat disruption? Bukti-bukti terakhir yang diperoleh dari studi behavioral economics dan neuroscience (antara lain: Park, et.al., 2016 dan Hartley-Phelps, 2012) menghasilkan kesimpulan yang menarik.

Ketika pelaku ekonomi diliputi ketakutan akut, maka keputusan-keputusan yang mereka ambil cenderung blunder. Mereka cenderung mengambil jalan teraman dengan terus-menerus “wait and see” alias tak melakukan apa-apa. Mereka enggan mengeksplorasi peluang-peluang dari adanya disruption dan tak mau mengambil risiko untuk menangkap peluang yang muncul (risk aversion). Kalau sikap risk aversion ini terjadi secara massal dan seketika, maka tak heran jika ekonomi seperti mandek.

“Anxiety increases the attention to negative choice options, the likelihood that ambiguous options will be interpreted negatively, and the tendency to avoid potential negative outcomes, even at the cost of missing potential gains,” tulis Hartley-Phelps.

Artinya, di tengah ketakutan dan kecemasan, mereka cenderung melihat gelas sebagai “setengah kosong”, bukannya “setengah penuh”. Mereka menyikapi disruption sebagai threat, bukan opportunity. Mereka merespons disruption secara reaktif, bukan proaktif.

Kondisi ketakutan di tengah disruption juga menciptakan apa yang di kalangan behavioral economist disebut “endowment effect”, yaitu tendensi dimana orang secara irrational menilai terlalu tinggi apa-apa yang telah dimilikinya, karena itu mati-matian ia tak akan melepaskannya (loss aversion).

Para pebisnis mapan (incumbent) tak rela jika perusahaannya “digembosi” oleh startup digital milik kids jaman now. Loss aversion yang berlebihan ini menjadikan mereka semakin kalut dan kalap ketika memang mereka sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghadapi dan mengelola disruption.

Begitulah kira-kira gambaran situasi perekonomian kita selama 1-2 tahun ini: ekonomi melesu layaknya “mati suri”, banyak pelaku ekonomi/pebisnis “wait and see” sambil takut dan berharap-harap cemas (banyak berdoa tentu), pesimis bahkan hopeless, gamang dan kehilangan pegangan, dan reaktif karena tak tahu harus berbuat apa.

Ketika ketakutan berdampak begitu buruk bagi pelaku ekonomi dan perekonomian secara keseluruhan, pertanyaannya kemudian, apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi spiral ketakutan akibat disruption?

Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mendengar nasihat kecil dari para behavioral economists dan neuroscientists.

Nasihat itu mirip bunyi poster yang dibuat Pemerintah Inggris tahun 1939 untuk memotivasi rakyatnya yang dirundung ketakutan ketika harus mengemban tugas negara berangkat ke Perang Dunia II:

Keep calm and start thinking clearly… manage disruption smartly

 

Catatan:

Catherine A. Hartley and Elizabeth A. Phelps, “Anxiety and Decision-Making,” Biological PsychiatryVolume 72, Issue 2, 2012, p.113–118.

Park, et.al., “Anxiety Evokes Hypofrontality and Disrupts Rule-Relevant Encoding by Dorsomedial Prefrontal Cortex Neurons,” Journal of Neuroscience

December 2, 2017   1 Comment

Cultureless Organization

Searching di medsos, beberapa bulan terakhir saya makin sering mendapati konsumen yang mengeluhkan layanan taksi online.

Keluhannya macam-macam: mulai dari sopir yang tak hapal rute jalan sehingga harus terus-menerus tanya ke penumpang; mobil yang tidak standar; sopir yang pilih-pilih dan seenaknya membatalkan order; kondisi dalam mobil yang jorok; tertangkap polisi karena larangan ganjil-genap; sopir yang tidak ramah, hingga yang paling parah yaitu percobaan perkosaan”.

Karena semakin banyaknya kasus kegagalan layanan oleh taksi online, kini mulai banyak konsumen yang kembali ke taksi konvensional khususnya Blue Bird. Dan kini mulai terjadi segregasi positioning antara dua pemain ini.

Taksi konvensional seperti Blue Bird atau Express makin kuat memiliki positioning seperti: “sopirnya hapal jalan”, “mobilnya standar dan bersih”, atau “tak pernah membatalkan order”. Sementara taksi online kuat dipersepsi sebagai taksi yang “pilih-pilih penumpang”, “merepotkan penumpang karena kebingungan memilih jalan”, atau “sering tertangkap di jalur ganjil-genap”.

Kalau mau diurut, sumber dari seluruh kegagalan layanan taksi online tersebut ujung-ujungnya akan mengerucut ke satu faktor yaitu orang (sopir). Ya, karena untuk sebuah jasa seperti taksi, memang orang merupakan faktor yang amat krusial. Dan bicara orang, maka faktor penentu kesuksesan organisasi terletak pada budaya kerjanya (corporate culture).

Cultureless Organization

Culture Is (Still) the Key
Pada saat taksi online sedang euforia sekitar dua-tiga tahun lalu, kita semua terkesima oleh keajaiban teknologi digital bernama: platform berbagi (sharing platform). Teknologi yang identik dengan jargon “disruptive” ini diyakini akan merevolusi layanan taksi di tanah air. Platform ini juga diyakini akan menjadi “malaikat pencabut nyawa” bagi perusahaan tradisional yang ogah berubah.

Segudang keunggulan platform ini menjadi buzzword yang begitu massif menghiasi media. Mulai dari harga yang super murah, cara pemesanan yang super convenient cukup dengan beberapa pencetan jari, atau sopir yang piawai karena dibekali teknologi GPS yang super canggih.

Buzzword ini bekerja sangat efektif sehingga migrasi massal konsumen terjadi dari taksi konvensional ke taksi online. Dan ramalan pun bermunculan, layanan taksi konvensional akan bangkrut dalam 3 tahun ke depan karena ditinggalkan oleh konsumen.

Kala itu saya terheran-heran, bagaimana bisa corporate culture yang begitu kokoh dimiliki para sopir Blue Bird dan dibangun puluhan tahun bisa begitu mudah ditumbangkan oleh sebuah keajaiban teknologi.

Dalam diskursus teori manajemen, teknologi (secanggih apapun itu) memiliki peran periferal (baca: pinggiran) karena fungsinya hanyalah sebagai “enabler”. Faktor kesuksesan sesungguhnya sebuah organisasi terletak pada orang dan budaya kerjanya.

Ribuan studi selama puluhan tahun telah mengonfirmasi hal ini: mulai dari Schein (1980an), Kotter (1992), hingga Collins-Porras (1994). GE dengan Jack Welch sebagai legendary CEO-nya dianggap sebagai ikon kesuksesan perusahaan karena kekuatan budaya korporasinya yaitu: GE Values.

Lalu, apakah dengan munculnya kecanggihan teknologi seperti sharing platform, budaya perusahaan kini tidak mempan lagi sebagai elemen inti kesuksesan organisasi? Apakah di era disrupsi digital budaya perusahaan tak relevan lagi? Inilah yang saya ragukan.

Baca juga: Sharing Economy dan Koperasi

Cultureless
Sharing platform seperti yang dimiliki Grab, Gojeg, atau AirBnB menciptakan sebuah entitas organisasi baru yang saya sebut: cultureless organization. Organisasi tanpa budaya kerja. Sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena setiap organisasi pasti punya budaya perusahaan, seburuk apapun budaya tersebut.

Istilah itu saya pilih untuk menunjukkan betapa sulitnya pembentukan budaya perusahaan dilakukan melalui sebuah platform teknologi yang menempatkan karyawan sebagai “alat produksi”, bukan sebagai “manusia seutuhnya”.

Perusahaan seperti Uber atau Grab memiliki keunggulan tak tertandingi dibanding taksi konvensional karena asset-light, overhead-nya bisa dipangkas serendah mungkin. Ya, karena mereka tak perlu memiliki sopir atau kendaraan. Itu sebabnya mereka bisa memangkas harga semurah mungkin yang membuat taksi konvensional tak mampu bersaing lagi.

Namun platform tersebut memiliki kelemahan mendasar karena tak mampu membentuk budaya perusahaan kokoh seperti halnya perusahaan konvensional. Kenapa? Karena esensinya membangun budaya perusahaan membutuhkan “human interaction” yang menempatkan karyawan sebagai manusia seutuhnya. Bukan semata “technology interaction” yang menempatkan karyawan sebagai “robot” dan economic animal.

Membangun budaya di dalam organisasi membutuhkan interaksi personal antar karyawan, pendekatan emosional, pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi mereka, sikap saling pengertian, spirit kebersamaan dan sense of family, sikap saling percaya, dan sentuhan hati dan cinta. Budaya organisasi dibangun dengan pendekatan “heart” (emosional), bukan sebatas “head” (rasional): bukan semata bermotif uang (economic), tapi nilai-nilai luhur (values).

Di dalam organisasi yang memiliki strong culture karyawan membentuk sebuah “keluarga besar” dimana antar mereka tercipta nilai-nilai bersama (shared values) dan perilaku sama (common behavior) yang menyatukan mereka. Shared values dan common behavior inilah yang menjadi pondasi kesuksesan organisasi dalam bentuk layanan yang lebih baik, inovasi tiada henti, atau organisasi yang adaptif merespons perubahan.

Nah, inilah sesungguhnya yang membedakan taksi konvensional seperti Blue Bird dengan taksi online? Blue Bird memiliki shared values dan common behavior kokoh yang dibangun selama puluhan tahun. Sementara taksi online tidak.

Kenapa? Karena para sopir taksi online bekerja sendiri-sendiri tanpa ikatan sebagai sebuah “keluarga besar” yang penuh keteduahan. Hubungan manajemen pemilik aplikasi dengan para sopir bersifat transaksional, dimana kepentingan satu-satunya adalah uang. Tak heran jika setiap kali ada persoalan, penyelesaiannya adalah dengan berdemo.

Antar karyawan tak ada sense of family, tak ada hubungan kekeluargaan, tak ada koneksi personal, tak ada kebersamaan, tak ada trust dan saling pengertian, dan tak ada cinta di antara mereka seperti halnya organisasi konvensional. Dengan kontrol sebuah aplikasi mereka bekerja secara individualistik, layaknya robot. Para sopir itu layaknya “free rider” yang bekerja dengan satu motif: uang.

Singkatnya, mereka tak memiliki shared values dan common behavior. Mereka cultureless.

Di era digital disruption saat ini, saya masih percaya 1000% bahwa manusia adalah faktor kunci kesuksesan. “Technology isn’t everything, people are”.

November 25, 2017   3 Comments

Milenial Jaman Now: Penggerak Leisure Economy

Tulisan saya “Welcome Leisure Economy” sekitar dua minggu lalu viral luar biasa di medsos. Kenapa tulisan itu viral, menurut saya, karena banyak pembaca yang mengamini fenomena tersebut seraya bergumam: “ini gue banget”.

Artinya, tanpa disadari (unconsciously) mereka de facto telah merasakan bahwa leisure dan experience sudah menjadi bagian dari “kebutuhan pokok” mereka sehari-hari. Tak beda jauh dengan kebutuhan akan wifi atau Facebook.

Pertanyaan kemudian muncul, siapa sesungguhnya yang menjadi driver dari fenomena menggeliatnya leisure economy tersebut di Indonesia. Mesin penggerak bertumbuhnya leisure economy tak lain adalah para milenial jaman now (MJN).

Milenial Jaman Now Selfi 2

Experience Consumers
By-default, konsumen milenial adalah konsumen yang paling haus akan pengalaman (experience) dibanding generasi-generasi sebelumnya. Survei di seluruh dunia (Everbrite-Harris Poll, 2014) membuktikan bahwa milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman (experience) ketimbang barang (material goods).

Tulis Everbrite-Harris Poll: “For millennials, happiness isn’t as focused on possessions or career status. Living a meaningful, happy life is about creating, sharing and capturing memories earned through experiences.”

Karena itu saya menyebut generasi milenial sebagai e-generation atau experience generation.

Ada pergeseran arti kebahagiaan antara MJN dengan generasi-generasi sebelumnya (sebut saja: “Generasi Jaman Old”, GJO). Bagi MJN, kebahagiaan bukan ditentukan oleh kepemilikan akan rumah besar, mobil mewah, atau karir yang mentereng, tapi mendapatkan pengalaman dan membaginya (baca: “memamerkan”) ke teman-teman dan orang lain.

Jadi, kalau GJO pamer baju, sepatu, mobil, atau iPhone yang dimilikinya, maka kini MJN pamernya adalah: liburan di mana, nonton film apa, dine-out di mana, ndengerin musik apa, nongkrong di mana, atau jalan-jalan weekend di mal apa. Dan itu begitu mudah di-share melalui akun seperti Instagram atau Facebook.

Go Minimal: From Owning to Sharing
Walaupun masih di fase dini, kini mulai muncul pergeseran gaya hidup di kalangan MJN dari memiliki barang (owning) ke berbagi (sharing). Mereka berhemat dengan cara mengurangi konsumsi yang sifatnya memiliki barang dan mengalokasikan hasil penghematan tersebut untuk konsumsi yang berbasis pengalaman.

Contoh yang kini sudah terlihat adalah mengoleksi CD/DVD sudah tergantikan oleh koleksi musik/film melalui layanan digital seperti iTunes, Spotify, atau Netflix. MJN juga mulai memilih layanan Grab atau Gojek ketimbang mempunyai mobil atau motor sendiri. Ketimbang memiliki ruko sendiri untuk kantor, mereka mulai memanfaatkan kantor bersama (co-working space) yang tiga tahun terakhir menjamur di kota-kota utama tanah air.

Alasan mengadopsi sharing lifestyle di Indonesia agak berbeda dengan di negara-negara maju. Kalau di negara-negara maju pertimbangan utamanya adalah faktor-faktor seperti simplisitas atau kepedulian kepada lingkungan, di Indonesia alasan utamanya adalah keren. Karena sharing lifestyle itu memang keren dan bisa menjadi alat ekspresi diri.

Baca juga: Brand Disruption

Travelling More
Studi di berbagai negara mengonfirmasi bahwa MJN mengonsumsi liburan (travelling) lebih sedikit dibanding GJO (terutama Gen-X). Sebabnya tak lain, karena MJN saat ini (usia mereka 18-35 tahun) masih berada di masa awal-awal karir (first jobber).

Sehingga dari sisi kemampuan daya beli mereka untuk liburan masih rendah. Di sisi lain, mereka relatif tak punya cukup waktu untuk berlibur karena sebagian besar waktunya ditumpahkan untuk bekerja menggapai karir.

Tapi seperti dikatakan di depan, by-default MJN adalah experience customer yang haus liburan. Nielsen Millennial Travellers Study (2017) menyimpulkan: “In fact, they travel more than any other generation, and they’ll likely travel more as their incomes and financial standings grow.”

Sesungguhnya MJN adalah generasi yang paling besar berkeinginan untuk liburan. Karena itu, di tengah kendala daya beli dan keterbatasan waktu di atas, MJN semaksimal mungkin menyisihkan pendapatannya untuk liburan.

Nah, sekitar 5 tahun lagi saat mereka menduduki posisi penting di organisasi dan cukup punya pendapatan menganggur (discretional income) maka di situlah MJN akan massif berlibur dan betul-betul menjadi mesin penggerak leisure economy.

Dine-Out Revolution
Studi yang dilakukan oleh Nielsen di 11 kota di Indonesia menunjukkan bahwa MJN memiliki pengeluaran paling tinggi untuk makan di luar (dine-out) dibanding GJO.

Masih menurut survei Nielsen di 60 negara termasuk Indonesia (Global Generational Lifestyles Report 2016), antara tahun 2013-2016 porsi milenial yang dine-out setidaknya sekali seminggu mencapai dua kali lipat (58% vs 29%) jika dibandingkan dengan Generasi Baby Boomers.

Itu sebabnya di era leisure economy warung gaya hidup (seperti OTW atau Warung Upnormal), kedai kopi “third wave” (Tanamera atau One-Fifteenth), atau kafe tempat nongkrong berkonsep “third place” (resto di Citos) menjamur tak hanya di Jakarta atau Surabaya, tapi juga mulai merambah ke second cities, bahkan third cities.

MJN makan di luar rumah tak sekedar untuk menghilangkan lapar dan dahaga, tapi lebih karena alasan social dan experience. Yaitu untuk bercengkrama dengan anggota keluarga, bersosialisasi dengan teman, mendapatkan pengalaman dan membaginya melalui medsos.

Instagram Effect
MJN hidup di “dua alam” yaitu alam offline dan online. Celakanya, dengan adanya mobile (gadget) revolution, kini makin banyak mereka terperangkap di ranah online. Kalau di offline saya sebut pengalaman realitas; kalau di online pengalaman hiper-realitas. Kalau di offline apa adanya (authentic); kalau online penuh dengan pencitraan yang sarat kepalsuan (fake).

Melalui media seperti Instagram dan sejenisnya MJN menunjukkan sosok ideal yang mereka inginkan kepada para audiensnya. Mereka menunjukkan sosok ideal tersebut dengan cara memperlihatkan di mana mereka liburan, dengan siapa mereka bergaul, atau di mana mereka nongkrong dan dine-out.

Tak heran jika kita selintas mencermati foto-foto mereka di Instagram kita menemukan sosok-sosok yang selalu bahagia, penuh senyum-ceria, inspiratif, positif, sarat prestasi, seolah dunia ini tak punya masalah. Itulah dunia hiper-realitas. Apakah dunia realitasnya semengkilap itu? Sudah bisa ditebak, jauh lebih muram.

Inilah yang saya sebut Instagram Effect. Dengan adanya Instagram atau Facebook kini semua orang menjadi selebritas, mereka punya audiens yang siap dipameri (self-promotion) pengalaman dan gaya hidup mereka. Di tengah kerumunan audiens online itulah mereka eksis dan menemukan kebahagiaan palsu. Tak heran jika di era leisure economy salah satu “komoditi” yang paling bernilai adalah “Like”, “Comment” atau “Share”.

FOMO
Di era leisure economy kini mewabah fenomena yang disebut “fear of missing out” (FOMO), sebuah ketakutan di kalangan MJK jika mereka tidak ikut menikmati sebuah pengalaman. Takut jika tidak ikutan heboh nonton konser Ed Sheeran di Jakarta. Takut jika tidak bisa merasakan pengalaman berlibur di Raja Ampat. Atau bagi kids jaman now takut tidak bisa menikmati pengalaman nongkrong di Warung Upnormal.

Fenomena FOMO inilah yang menjadi sebab kenapa resto-resto kekinian yang experiential seperti OTW atau Warung Upnormal ramai minta ampun di awal-awal launching. Karena para MJN dihinggapi ketakutan jika teman-teman mereka sudah pernah makan dan nongkrong di resto-resto tersebut, sementara dia sendiri belum pernah. Mereka takut dibilang kurang gaul.

FOMO inilah yang menjadi katalisator menggeliatnya beragam industri yang berbasis experience mulai dari liburan, kafe-resto, hiburan, gadget, musik, film, perawatan kecantikan, hingga wellness.

Memasuki tahun 2018 tren kearah leisure economy semakin menemukan critical mass-nya, dimana apapun bentuk konsumsi oleh konsumen Indonesia selalu dikaitkan dengan experience dan leisure.

Ketika milenial jaman now sudah berubah sedemikian rupa menjadi experience consumers, secara mendasar pula strategi Anda harus diubah. Memasuki tahun 2018, apapun bisnisnya, Anda harus mengubah pola pikir bisnis dari “goods-mindset” ke “leisure-mindset”. Anda harus menyuntikkan experience ke dalam produk dan layanan Anda

November 18, 2017   No Comments