E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Book Launch: “Millennials Kill Everything”

Milenial adalah “pembunuh berdarah dingin”.

Mereka membunuh apapun:

- Golf
- Agen perjalanan
- Kamera digital
- Long-time employement
- Tata cara baju formal di kantor
- Musik rock
- Sepatu high heels
- Harley Davidson
- Eye contact
- Film porno

…everything!!!

“Pembunuhan” ini terjadi karena nilai-nilai, perilaku, dan preferensi milenial telah berubah drastis dan perubahan itu menjadikan produk, layanan, atau industri menjadi tidak relevan lagi dan kemudian ditinggalkan konsumen milenial.

Millennials Kill Everything - Flyer - Launch

Buku ini memuat 50 produk, layanan, industri, teknologi, musik, olahraga, bahkan tingkah laku yang “dibunuh” milenial karena tidak relevan lagi di mata mereka.

Kalau selama ini kita hanya mengenal DIGITAL DISRUPTION, sesungguhnya ada disrupsi bentuk lain yang tak kalah mengerikan yaitu: MILLENNIAL DISRUPTION.

Keduanya sama-sama punya dampak MEMATIKAN.

Digital Disruption mematikan pemain lama dengan cara menciptakan model bisnis baru yang menyebabkan model bisnis lama menjadi tidak relevan lagi.

Sementara Millennial Disruption mematikan pemain lama melalui terbentuknya nilai-nilai, perilaku, dan preferensi milenial yang baru, yang menyebabkan value proposition lama menjadi tidak relevan lagi.

Seperti halnya Digital Disruption, Millennial Disruption pun layaknya malaikat pencabut nyawa yang setiap saat mengintai dan mencari mangsa.

Anda harus membaca buku ini karena siapa tahu produk, layanan, atau industri Anda adalah salah satu korban kekejaman milenial.

Welcome to the millennial killing field!!!

 

Note: Temen-temen datang ya: Kamis, 21 Maret 2019, pukul 14-16 di BRI Innovation Center, Gedung BRI I, Jl. Sudirman, Jakarta.

March 15, 2019   No Comments

Tourism-Centered Economy 4.0

Dua minggu ini ada dua kejadian yang memunculkan ide dari tulisan ini. Pertama saat menghadiri Rakornas Kementerian Pariwisata (28/2) dimana Menpar berkomitmen untuk mengimplementasi Tourism 4.0

Kedua saat minggu ini (8/3) diundang Bupati Banyuwangi menghadiri penandatanganan MOU antara Kabupaten Banyuwangi dengan PT Inka yang menggandeng salah satu perusahaan KA terbesar di dunia asal Swiss, Stadler Rail Group.

Dua kejadian tersebut memicu ide mengenai format ekonomi Indonesia yang seharusnya berpusat pada pariwisata (tourism-centered economy).

Mengacu ide ini, seharusnya ekonomi negeri ini bertopang pada comparative advantages (kekayaan aset pariwisata dari Sabang sampai Merauke) dan competitive advantages (teknologi 4.0) di sektor pariwisata dan industri kreatif (termasuk digital).

Bupati Banyuwangi

Semua Dinas adalah “Dinas Pariwisata”
Idenya datang saat ngobrol santai dengan Bupati Banyuwangi Mas Azwar Anas di RM Sego Tempong Mbak Nah Banyuwangi. Pak Bupati bilang, “Di Banyuwangi itu semua dinas adalah dinas pariwisata.”

Maksudnya, setiap program yang dijalankan oleh semua dinas di Banyuwangi harus bisa menciptakan “destinasi” dan “atraksi” yang menarik wisatawan untuk datang ke Banyuwangi.

Contoh aktualnya adalah pembangunan pabrik KA terbesar Indonesia di Banyuwangi, dimana PT Inka menggandeng Stadler dari Swiss dengan investasi mencapai Rp.1,6 triliun. Pembangunan pabrik KA ini sedikit tertunda karena Pak Bupati ngotot minta dibangun museum di komplek pabrik.

“Museum adalah syarat mutlak, kalau tidak dipenuhi, pabrik nggak jadi dibangun,” ujar Pak Bupati.

Investor setuju dan museum ini akan menjadi destinasi andalan baru yang bakal makin kencang mendatangkan wisatawan ke Banyuwangi. Artinya, program di Dinas Perindustrian itu harus di-link-kan ke pariwisata.

Contoh lain adalah program layanan publik dari seluruh dinas yang dikonsentrasikan di dalam satu atap yang disebut Mal Pelayanan Publik (MPP) yang berlokasi di seberang Taman Sritanjung Banyuwangi.

MPP kini menjadi “atraksi” wisata studi banding yang laris-manis yang dikunjungi puluhan delegasi tiap bulannya. Tahun 2016 misalnya, setidaknya ada 25.000 “turis studi banding” datang ke Banyuwangi sehingga hotel-hotel di Banyuwangi tetap penuh walaupun bukan weekend.

Intinya saya ingin mengatakan bahwa pariwisata menjadi “episentrum” dari keseluruhan upaya pembangunan Banyuwangi, sehingga program di sektor dan dinas apapun harus didedikasikan untuk mendatangkan wisatawan.

Tourism 4.0
Sebelum ke Banyuwangi saya menghadiri Rakornas Kemenpar tentang Tourism 4.0, yaitu pengembangan pariwisata yang mulai mendayagunakan teknologi 4.0 seperti artificial intelligence, big data analytics, internet of things, virtual reality hingga blockchain.

Dalam Rakornas tersebut Pak Menpar Arief Yahya menyatakan komitmennya bahwa Indonesia harus masuk ke era Tourism 4.0. “Kita harus mampu menjadikan teknologi 4.0 sebagai sumber competitive advantages baru sektor pariwisata kita di pasar global,” ujarnya.

Aplikasi teknologi 4.0 diperlukan untuk memperkaya traveller’s experience di sepanjang consumer journey mereka (pre-trip, at destination, post-trip). Kita tak boleh ketinggalan karena kini negara di seluruh dunia berlomba-lomba menerapkannya.

Jadi kalau Pak Bupati memanfaatkan comparative advantages berupa kekayaan aset pariwisata (budaya, alam, buatan) anugerah Tuhan YME; maka aplikasi teknologi 4.0 memanfaatkan competitive advantages untuk memperkaya pengalaman wisatawan.

Kombinasi keduanya akan menjadi senjata ampuh yang membawa Indonesia menjadi destinasi wisata terbaik di dunia.

Tourism-Centered Economy
Tourism-centered economy adalah ekonomi yang berpusat atau memiliki episentrum sektor pariwisata. Karena menjadi episentrum, maka seluruh sumberdaya dikonsentrasikan ke sektor pariwisata dan berbagai aktivitas sektor lain diakomodasikan untuk menunjang dan memajukan sektor ini.

Banyuwangi adalah contoh daerah yang telah sukses menerapkan sistem tourism-centered economy.

Kenapa ekonomi Indonesia harus berpusat ke sektor pariwisata? Sudah banyak argumentasi dikemukakan mengenai strategisnya sektor ini bagi Indonesia. Namun argumentasi yang paling sahih didapat dari teori resource-based view, yaitu karena Indonesia memiliki modal berupa aset pariwisata yang tak ada tandingannya di dunia.

Bisa dikatakan Indonesia adalah “the world’s richest country” untuk urusan konten dan destinasi wisata. Tak hanya itu, kita juga kaya SDM kreatif karena sesungguhnya Indonesia adalah “bangsa seni” (bukan “bangsa teknologi”) dengan kekayaan kreativitas yang luar biasa.

Indonesia tak akan bisa menjadi ekonomi terkemuka di dunia dengan mengandalkan teknologi informasi karena sudah terlanjur tertinggal jauh dari AS, Eropa, dan Jepang. Indonesia juga tak bisa menjadi negara terkemuka dengan mengandalkan industri manufaktur karena jauh tertinggal dari Cina. Mau dipaksakan seperti apapun Indonesia akan tetap medioker.

Sejarah sudah membuktikan, upaya all out yang dilakukan Pak Habibie di tahun 1980an dengan industri strategisnya akhirnya pupus di tengah jalan. Ide industrialisasi sektor manufaktur dengan program mobil nasional di tahun 1990an gagal total. Kini muncul lagi ide Kementerian Perindustrian mengenai Making Indonesia 4.0 di sektor manufaktur, tapi gemanya hanya terdengar pada saat launching.

Alih-alih nggak kompetitif di sektor teknologi informasi dan industri manufaktur, Indonesia punya potensi yang amat besar di sektor pariwisata dan industri kreatif. Potensinya menyebar di semua provinsi baik yang anugerah Tuhan YME maupun yang man-made. Kalau pemerintah serius dan fokus, praktis semua provinsi bisa menjadi destinasi kelas dunia. Celakanya, sepanjang sejarah negeri ini tak satupun pemimpin yang ambil risiko dan berani fokus di sektor pariwisata.

Keyakinan mengenai strategisnya sektor ini semakin terbukti ketika insya Allah tahun ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia sektor pariwisata akan menyumbang devisa terbesar bagi perekonomian kita.

Agenda Pemerintahan Baru
Kembali ke Banyuwangi. Tourism-centered economy seperti sudah begitu baik diimplementasikan di Banyuwangi harusnya menjadi model pembangunan ekonomi Indonesia di tingkat nasional.

Bagi saya Banyuwangi adalah “Indonesia kecil” yang orientasi dan pola pembangunannya bisa di-scaling up ke tingkat nasional.

Dengan prinsip tourism-centered economy, seharusnya semua departemen, semua sektor, dan semua provinsi diarahkan untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya sektor pariwisata dan industri kreatif.

Semua sektor dan departmen seharusnya dikembangkan berorientasi pariwisata seperti prinsip “Semua Dinas Adalah Dinas Pariwisata” di Banyuwangi: sektor pertanian berorientasi pariwisata (agrowisata); sektor perikanan dan kelautan berorientasi pariwisata (wisata bahari); sektor pemuda dan olahraga berorientasi pariwisata (sport tourism); sektor lingkungan berorientasi pariwisata (eco tourism); sektor pendidikan berorientasi pariwisata (wisata edukasi); sektor kesehatan berorientasi pariwisata (medical tourism); sektor keagamaan berorientasi pariwisata (untuk Islam: halal tourism); penataan kota berorientasi pariwisata (city tourism); pembangunan desa berorientasi pariwisata (desa wisata); dan sebagainya.

Begitu pula semua provinsi, kabupaten, dan desa seharusnya dikembangkan berorientasi pariwisata. Potensi pariwisata kita praktis menyebar di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota baik alam, budaya, maupun buatan. Contoh ekstrimnya Bekasi atau Tangerang. Apakah bisa dua kota industri ini menjadi destinasi wisata? Why not, Banyuwangi membuktikan untuk industri kereta api.

Pokoknya semua diarahkan pada penciptaan aset pariwisata untuk mendatangkan wisman dan menghasilkan devisa. Jadi strateginya sama dengan di Jepang dan Korea Selatan di masa lampau yaitu export-led growth. Cuma yang diekspor bukannya produk-produk industri seperti elektronik atau otomotif, tapi produk dan konten pariwisata.

Tourism-centered economy adalah pendekatan pembangunan yang fokus dan berbeda dari conventional wisdom yang ada selama ini. Dibutuhkan pemimpin yang percaya diri, fokus-konsisten, dan tahan banting untuk mengeksekusinya. Saya yakin tak banyak pemimpin yang punya nyali untuk menjalankannya karena pasti banyak pihak yang menentangnya.

Diam-diam saya berharap dua kandidat yang akan memimpin pemerintahan baru mendatang membaca tulisan ini. Dan setelah membaca punya nyali untuk menjalankannya di pemerintahan baru beberapa bulan ke depan kalau mereka terpilih.

Momentum “pariwisata sebagai penyumbang devisa terbesar” yang mudah-mudahan terwujud tahun ini seharusnya dijadikan pijakan bagi pemerintahan mendatang (siapapun: apakah Jokowi ataupun Prabowo) untuk mulai membangun Indonesia sebagai tourism-centered economy dan membawa negeri ini menjadi ekonomi terkemuka di dunia berlandaskan pariwisata.

March 9, 2019   No Comments

Bagaimana Milenial Mendisrupsi Musik Rock?

Tahun 2017 adalah tahun bersejarah dalam sejarah musik di Amerika Serikat.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, popularitas hip-hop mengungguli musik rock.

Menurut Nielsen Music, di tahun tersebut hip-hop dan R&B menguasai 25% konsumsi musik di AS (penjualan album, single, digital download, streaming digabung) sementara rock hanya menguasai 23%.

Karena AS merupakan pusat industri musik dunia, maka otomatis ini adalah cermin dari perkembangan musik dunia.

Apakah ini pertanda kematian musik rock?

Cover Millennials Kill Everything

Waktu yang akan bicara, tapi yang jelas popularitas dan penjualan album musik rock dari waktu ke waktu terus merosot. Dan pihak yang paling “bertanggung jawab” atas kematian musik rock adalah: milenial.

Pertama sederhana saja, karena milenial lebih suka hip hop dan R&B ketimbang rock. Rock adalah musiknya kaum tua. Rock mereka anggap sebagai musik milik generasi pendahulu mereka yaitu Gen-X dan orangtua mereka yaitu Baby Boomers.

Kedua, merosotnya musik rock tak lepas dari pergeseran pola konsumsi musik oleh kaum milenial. Musik rock banyak didengarkan olah kaum tua dan penjualan musiknya umumnya melalui album fisik dan digital download. Sementara hip-hop dan R&B semakin populer karena didengarkan melalui layanan audio streaming seperti Spotify dan Apple Music.

Rock masih memimpin dalam penjualan album fisik yang mencapai 40% pangsa pasar. Namun kita tahu penjualan album fisik terus merosot dari tahun ke tahun ketika kaum milenial kini semakin banyak mendengarkan musik via online streaming.

Sebaliknya hip-hop dan R&B menguasai 29,1% penjualan streaming yang tumbuh eksponensial beberapa tahun terakhir. Penjualan streaming hip-hop ini hampir sama dengan penjualan streaming musik rock dan pop digabung (16% + 13,7%).

Makin tidak populernya musik rock juga tercermin dari album-album rock yang kini tidak lagi bertengger di urutan teratas penjualan album. Di tahun 2017 misalnya, album-album terlaris didominasi oleh penyanyi-penyanyi hip-hop dan R&B seperti Kendrick Lamar, Drake, Jay-Z, Bruno Mars, dan Beyonce.

Namun sesungguhnya kemerosotan popularitas musik rock tak sepenuhnya kesalahan kaum milenial. Kesalahan juga datang dari musik rock itu sendiri yang tidak mau berubah dan menghasilkan inovasi-inovasi mutakhir sehingga lebih diterima oleh kaum milenial alias millennial-friendly.

Ini kira-kira identitas musik rock yang dari dulu tidak berubah:
Instrumen musiknya didominasi oleh gitar elektrik yang pekat mewarnai lagu; musiknya mengandalkan kekuatan melodi dan lirik baik musik cadas maupun slow; sosok pemusiknya macho dan sangar dengan rambut panjang dan tato di sekujur tubuh; kostum didominasi warna hitam, sepatu booth, dan asesoris yang khas musik rock.

Identitas ini begitu kuat melekat di dalam musik rock dan praktis tak berubah. Celakanya, identitas yang kuat itu kini sudah tidak match lagi dengan preferensi musik generasi milenial.

Sejak tahun 1950an musik rock n roll terus berevolusi dan melakukan inovasi: mulai dari Chuck Berry, The Beatles, The Rolling Stones, Jimmy Hendrick, The Who, Led Zepellin, Pink Floyd, Genesis, Queen, Bruce Springsteen, Bon Jovi, Metalica, U2, hingga terakhir mungkin Nirvana, Green Day, dan Linking Park. Namun sejak itu inovasi besar musik rock serasa terhenti.

Ketika konsumen musik kian didominasi kaum milenial, dan kaum milenial tak begitu menyukai musik rock karena dianggap tua, maka konsekuensinya gampang ditebak: pelan tapi pasti musik rock akan punah.

Tak lagi menjadi musik mainstream, tapi niche alias musik klangenan.

March 3, 2019   No Comments

How Millennials Kill Eye Contact

Istilah populernya adalah: “Generasi Menunduk”.

Milenial adalah generasi yang setiap saat selalu menunduk, asyik memandangi layar smartphone mereka.

Saat ngobrol di meja makan atau ruang tamu keluarga, masing-masing anggota keluarga menunduk sibuk dengan smartphonenya.

Saat bertemu dengan teman-teman di kampus atau di kafe, masing-masing menunduk sambil senyum-senyum di depan layar smartphone.

Apalagi saat menunggu pesawat di bandara, bisa dipastikan semua orang membawa smartphone dan masing-masing mereka menunduk sibuk dengan smartphonenya.

Bahkan saat mau tidur, milenial menutup harinya dengan bersibuk ria memandangi layar smartphonenya.

Yang berbahaya, bahkan saat menyetir pun mereka masih curi-curi melihat layar smartphone.

Asal tahu saja hasil survei di dunia menunjukkan, rata-rata milenial mengecek smartphone mereka sekitar 150 kali sehari. Ini dilakukan rata-rata setiap 6,5 menit. Bahkan di Inggris, orang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar smartphone dibanding dengan partnernya. Perbandingannya: 119 vs 97 menit.

Musabab milenial tak bisa lepas mengecek smartphone adalah karena “penyakit” sosial yang disebut FOMO atau “fear of missing out”. Yaitu kecenderungan milenial terus-menerus mengecek smartphone karena takut ketinggalan kabar atau kejadian di antara peers mereka di berbagai media sosial.

Bagi milenial yang terkena sindrom FOMO, koneksi setiap saat dengan peers adalah segalanya: “social connection is more important than their own lives.”

Nah, ketika setiap saat mata milenial selalu mengarah ke smartphone, maka pertemuan mata (eye contact) antar orang menjadi kian langka.

Now’s the time, millennials kill eye contact!!!

Ketika “screen time” (waktu yang kita habiskan untuk memandangi layar smartphone) semakin mendominasi 24 jam waktu milenial dalam sehari, maka semakin sedikit pula waktu mereka yang tersisa untuk memandang mata orang lain, termasuk memandang mata orang-orang tercinta: anak, kerabat, dan istri-suami.

Baca juga: “Bagaimana Milenial Mendisrupsi Tempat Kerja

Yang menyedihkan, kini berbicara tanpa melakukan eye contact sudah dianggap sebuah kewajaran dan keseharian. Padahal dulu perilaku seperti ini dianggap kasar dan tak sopan. Smartphone menciptakan budaya multitasking di kalangan milenial sehingga menjadi hal lumrah bagi mereka berbicara dengan orang lain tanpa perlu melakukan eye contact. Tangan lincah mengetik, mata serius menatap layar, dan di saat bersamaan mulut nerocos berbicara.

Idealnya, kita melakukan eye contact sebanyak 60-70% dari total waktu saat kita melakukan percakapan dengan lawan bicara kita. Sementara rata-rata orang hanya melakukan eye contact sebanyak 30-60% dari total waktu percakapan. Dengan adanya smartphone, waktu eye contact ini terus terpangkas dan barangkali suatu saat kita tak pernah melakukan eye contact lagi saat bicara… wow!!!

Cover Millennials Kill Everything

Pertanyaannya, apa masalahnya jika kita mengalami defisit eye contact?

Daniel Goleman penulis buku Emotional Intelligence mengatakan bahwa, menurunnya eye contact adalah cermin semakin kecilnya perhatian kita kepada orang yang kita ajak berkomunikasi. Menjadi celaka jika defisit perhatian ini menimpa orang-orang terkasih kita seperti anak atau istri/suami.

Menurut Psychology Today, eye contact merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang paling kuat dan dalam. Menurut studi University of Miami, sekitar 43% perhatian yang kita fokuskan ke orang lain dicurahkan melalui eye contact yang kita berikan.

Kesimpulannya, ketika intensitas eye contact milenial semakin berkurang maka kemampuan mereka dalam melakukan emotional connection yang menjadi dasar relasi dengan orang lain pun berkurang.

Milenial bakal menjadi mahluk yang selfish, cuek-bebek, dingin, tidak care, minim perhatian, minim empati, dan ujung-ujungnya minim cinta.

Kalau demikian adanya… apa bedanya manusia dengan robot?

February 23, 2019   No Comments

How Millennials Kill Kitchen

Pertengahan tahun 2018 UBS, bank investasi asal Swiss, mengeluarkan studi yang sangat mencengangkan dengan judul menyengat: “Is the Kitchen Dead?

Dari studi tersebut UBS memunculkan skenario bahwa di tahun 2030 hampir seluruh makanan yang kini dimasak di rumah akan dipesan secara online oleh perusahaan semacam UberEats (Go Food kalau di sini) dan dikirimkan melalui restoran atau dapur terpusat (central kitchen) terdekat.

Kalau demikian adanya, simpul UBS, ini adalah pertanda “kematian” dapur dan aktivitas memasak di rumah.

Dan biang dari itu semua, simpul UBS lagi, adalah: milenial.

Cover Millennials Kill Everything

Milenial adalah lazy generation alias generasi termalas dalam sejarah umat manusia karena dimanjakan oleh beragam apps yang memudahkan kehidupan mereka, termasuk dalam hal memesan makanan melalui online delivery. Mereka adalah generasi yang convenience-seeker.

Mereka paling hobi nonton HBO atau sepak bola Premiere Leaque di rumah via Netflix sambil memesan makanan via GoFood. Dan faktanya milenial tiga kali lebih sering dalam memesan makanan via online delivery ketimbang orangtuanya. Tak hanya itu, food delivery apps adalah 40 besar apps yang paling banyak diunduh oleh milenial saat ini.

Baca juga: Bagaimana Milenial Mendisrupsi Tempat Kerja?

Ramalan UBS penjualan online food delivery akan naik pesat dengan pertumbuhan lebih dari 20% setiap tahunnya sehingga menjadi $365 miliar (lebih dari Rp 5000 triliun) di tahun 2030 dari sekitar $35 milar tahun lalu.

Ada empat faktor yang mendorong terjadinya online food delivery boom ini di masa-masa mendatang. Pertama adalah murahnya upah koki sebagai akibat munculnya tren gig economy atau freelancer economy.

Kedua, bermunculannya apa yang disebut “dark kitchen” yaitu restoran yang beralih fungsi hanya sebagai dapur untuk layanan online food delivery seperti gerai Pizza Hut Delivery (PHD). Operasi dark kitchen ini jauh lebih efisien dari full service restaurant.

Ketiga, kemajuan teknologi artificial intelligence (AI) dan robotic memungkinkan burger atau salad diolah secara otomasi oleh robot. Penggunaan robot untuk memasak tak hanya menekan biaya serendah mungkin tapi juga memangkas tajam waktu memasak dan penyajian makanan.

Keempat, food delivery dengan menggunakan drone bakal mencapai critical mass digunakan oleh perusahaan online food delivery. Dampaknya, biaya dan waktu pengiriman akan kian terpangkas lagi.

Kalau keempat hal itu terjadi, maka hitung-hitungan keekonomiannya sederhana: ketika memasak di rumah menjadi lebih mahal, lebih lama, dan lebih ribet dibanding memesannya via online, maka bisa ditebak bahwa dapur dan aktivitas memasak di rumah pada akhirnya akan punah “dibunuh” oleh milenial.

Tren ini menarik kalau ditambah hasil survei dari porch.com yang menemukan bahwa milenial adalah generasi yang paling tidak konfiden di dapur. Menurut survei tersebut, kemampuan memasak milenial adalah yang terendah dibandingkan Gen-X dan Baby Boomers.

Hanya 5% milenial yang memiliki kualifikasi kemampuan memasak “sangat bagus” dibandingkan Baby Boomers yang mencapai 12,5%.

Mereka adalah generasi yang paling rendah dalam hal kemampuan memasak sederhana seperti memasak ayam, brokoli, atau telur. Tak sampai separuh dari mereka yang bisa memasak sayur dan daging.

Dalam survei tersebut porch.com melakukan “tes IQ memasak” untuk mengukur “kecerdasan memasak” seseorang. Hasilnya, Baby Boomers memiliki skor IQ memasak 10% lebih tinggi dari milenial.

Apa yang terjadi kalau dapur sudah tidak dibutuhkan lagi?

Yang jelas nantinya akan banyak rumah didesain tanpa dapur atau rumah dengan dapur minimalis. Tak hanya itu, produsen peralatan dapur seperti Maspion dan home appliances seperti lemari es Sharp akan terkena dampaknya. Produsen makanan dan bumbu seperti Royco, Kecap ABC, margarin Blue Band, atau minyak goreng Bimoli juga akan terimbas.

Apakah betul dapur dan memasak di rumah akan punah dibunuh milenial seperti prediksi UBS, mari kita tunggu datangnya tahun 2030.

February 16, 2019   No Comments

Leading Millennials: “Creating Leaders”

Menjadi LEADER bagi milenial tidaklah mudah.

Ya karena sebagai karyawan, milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku kerja yang sama sekali berbeda dan sulit di-manage, terutama oleh bos dari latar belakang Gen-X apalagi Baby Boomers.

Mereka adalah generasi yang HYPER-CONNECTED oleh adanya internet, minta diperhatikan dan didahulukan (ENTITLED), multi-tasker namun tidak mudah fokus dan gampang terdistraksi. Dan yang menjadi keluhan banyak bos: mereka TIDAK LOYAL pada perusahaan.

Survei menunjukkan 2-3 TAHUN adalah lama waktu ideal bagi milenial untuk bekerja di satu perusahaan. Artinya, setelah itu mereka resah untuk minta resign dan meloncat ke perusahaan berikutnya.

Leader Creates Leader

Karena itu setiap leader di tempat kerja harus mengubah cara memimpin dan mengelola karyawan milenial.

Milenial tak mau dipimpin oleh pimpinan yang BOSSY. Ia menuntut pemimpinnya berperan sebagai COACH. Dan dengan begitu pendekatannya bergeser dari “command & control” ke “conversations & coaching”.

Ini artinya, dalam setiap assignment yang diberikan, si pemimpin harus melakukan ENGAGEMENT secara personal dan mendalam. Pimpinan harus membimbing dengan intens dan memberikan masukan-masukan setiap saat (instant, continuous feedback).

Milenial tak hanya menuntut kepuasan kerja (job satisfaction), lebih dari itu mereka menginginkan peluang pembelajaran dan pengembangan diri (PERSONAL GROWTH).

Mereka menuntut tak hanya berbagai paket benefit mulai dari gaji, bonus, kantin gratis, atau lingkungan kerja yang fun. Itu hanya jangka pendek. Yang lebih substantif, mereka menuntut tempat kerja sebagai medium untuk mengembangkan diri mereka dengan terus memperbarui knowledge, skill, dan attitude.

Karena itu untuk memimpin milenial di tempat kerja Anda harus membentuk mereka menjadi pribadi yang kian bertumbuh KOMPETENSI dan KARAKTER nya.

Tentu saja milenial bekerja untuk mencari uang, tapi di atas itu, mereka bekerja untuk mengekspresikan PASSION dan mengaktualisasikan LIFE PURPOSE. Itu sebabnya bekerja bagi mereka harus bisa menciptakan makna yang bernilai bagi hidup mereka.

Bekerja tak hanya untuk mendapatkan gaji bulanan atau mengejar karir, tapi juga untuk menghasilkan KONTRIBUSI yang bermakna bagi masyarakat dan umat manusia.

Singkatnya, leader di tempat kerja Anda harus menjadi COACH; menjadi TALENT SCOUT yang mempuni, dan mengarahkan mereka menemukan LIFE PURPOSE.

Dengan kata lain, memimpin milenial Anda harus betul-betul menjadikan mereka true leaders: “Leader MUST create other leaders.”

Berita pahitnya, Anda harus LEGOWO jika si leaders tersebut mungkin tak lagi ada di perusahaan Anda.

Inilah bentuk lain MILLENNIAL DISRUPTION di tempat kerja.

February 4, 2019   No Comments

2019: Menjinakkan Dua Disrupsi

Tahun 2019 dua disrupsi – disrupsi teknologi (tech disruption) dan disrupsi milenial (millennial disruption) – akan menemukan critical mass. Disrupsi teknologi memengaruhi pasar dari sisi penawaran (supply side); sementara disrupsi milenial dari sisi permintaan (demand side).

Dua disrupsi itu merupakan ancaman terbesar (di samping “trade war” AS vs Cina di tingkat global dan “Pemilu effect” di tingkat lokal) bagi setiap bisnis di tahun 2019. Tapi ingat, marketer/entrepreneur hebat selalu bisa membalik setiap ancaman (threat) menjadi peluang (opportunity) .

Karena itu tak bisa ditunda lagi, 2019 adalah tahun dimana marketers/entrepreneurs harus bisa menjinakkan disrupsi kembar tersebut. Mampu tidaknya Anda menjinakkan disrupsi kembar akan menentukan apakah Anda bisa mewujudkan pertumbuhan tinggi (bahkan eksponensial 10X) atau sebaliknya stagnan karena tak mampu menciptakan ruang pertumbuhan.

Download Ebooknya di sini: Marketing Outlook 2019

Saya akan memberikan berapa clue mengenai disrupsi kembar ini. Untuk minggu ini khusus mengenai disrupsi teknologi; sementara tulisan minggu depan mengulas disrupsi milenial.

Cover Riding the New Normal

Machine Learning in Retail Store
Perkembangan teknologi digital yang disruptif telah merevolusi sektor retail, khususnya e-commerce. Tak cukup hadir secara online, beberapa e-commerce kini juga membangun offline store dengan sentuhan teknologi artificial intelligence dan machine learning.

Amazon sebagai raja e-commerce global, melalui Amazon Go tahun lalu memperkenalkan konsep retail offline-nya yang sangat revolusioner dengan meniadakan kasir. Bahkan, mereka memberikan pelayanan pengiriman barang melalui drone.

Tak mau ketinggalan, JD.ID menawarkan experience yang sama dengan membuka JD.ID Xmart di PIK Avenue Mal Jakarta. Konsumen cukup melakukan transaksi melalui aplikasi yang tersedia.

Convenience Revolution
Selain e-commerce, tren offline store yang cashier-less kini diikuti oleh peritel konvensional lainnya. McD misalnya, beberapa gerainya kini dilengkapi dengan teknologi self-ordering kiosk yang memudahkan konsumen dalam melakukan pemesanan dan pembayaran produk di McD.

Teknologi layar sentuh akan mempercepat proses pemesanan serta mengurangi kesalahan pesanan. Dengan cashless payment, konsumen tak harus mengantri di konter order seperti restoran cepat saji pada umumnya.

Self Ordering Kiosk dengan layar sentuh ini dibuat user-friendly untuk memudahkan konsumen saat menggunakannya. Welcome convenience revolution!

Digital Payment Is Going Mainstream
Disrupsi digital juga melahirkan revolusi dalam hal pembayaran transaksi. Konsumen kini kian massif mengadopsi cashless lifestyle dengan melakukan pembayaran secara digital.

Hadirnya berbagai startup digital yang mengusung fintech, khususnya payment semakin massif. Sebut saja Go-Pay, Ovo, T-Cash hingga Dana berlomba-lomba mengakuisisi konsumen dengan beraneka promo diskon maupun cashback. Mereka saling berlomba untuk mengembangkan ekosistem sendiri dengan semboyan: move fast, dominate the market!!!

Go-Pay misalnya, kini tak hanya bisa digunakan untuk transaksi di dalam ekosistem layanan Gojek. Mereka sangat ekspansif dengan merambah UMKM khususnya kuliner dan pedagang-pedagang kecil, bahkan semua pembayaran. Ambisi mereka: “mengGoPaykan semua pembayaran”.

P2P Lending Euphoria
Selain payment, revolusi fintech juga menyentuh sektor lending dengan hadirnya berbagai layanan peer-to-peer (P2P) lending. Sebut saja Amartha, Investree, atau Koinworks.

Dengan fungsi yang hampir mirip dengan bank, fintech P2P lending memberikan layanan yang lebih mudah bagi konsumen untuk melakukan pinjaman secara online.

Baca juga: Welcome the New Normal

Namun sayangnya, banyak pemain “abal-abal” bermunculan yang menimbulkan ekses negatif dari isu pelanggaran privasi sampai bunga yang mencekik sehingga dianggap sebagai “rentenir online”.

Euforia P2P lending ini akan berlanjut dengan rasionalisasi industri dimana mereka yang tangguh akan tersisa, sementara yang abal-abal akan mati ditelan jaman.

The Birth of Lazy Economy
Hadirnya Gojek telah membuat konsumen semakin mendapat kemudahan dan kenyamanan lewat berbagai layanan yang ditawarkan.

Setelah sukses dengan layanan transportasinya, Gojek mengembangkan berbagai layanan on-demand yang semakin memudahkan konsumen. Go-Food, Go-Life, hingga Go-Daily menghadirkan layanan yang sangat memanjakan konsumen untuk pesan makanan, perawatan tubuh, membersihkan rumah, hingga pesan air galon.

Berbagai layanan ini menimbulkan fenomena yang disebut lazy economy dimana konsumen tidak perlu repot, cukup order ini-itu melalui apps.

O2O Revolution
Online to Offline (O2O) akan berkembang menjadi layanan omni-channel retailing dan dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam memecahkan masalah logistik layanan e-commerce di Indonesia.

Saat ini adopsi O2O memang masih sangat terbatas di Indonesia, namun terus berkembang. Misalnya Tokopedia yang menggandeng Indomaret sebagai channel pembayaran cukup menjadi solusi bagi konsumen yang unbankable.

Demikian juga Bukalapak dengan program Mitra Bukalapak yang menggandeng warung-warung untuk layanan berbagai pembayaran tagihan.

IoT Attack!
Internet of Things (IoT) merupakan sebuah teknologi yang mampu mengubah perangkat menjadi sesuatu yang berharga, di antaranya untuk monitoring dan analisis. Beberapa tahun terakhir perkembangannya semakin massif, khususnya di Indonesia.

Xiaomi yang sebelumnya sangat perkasa dengan produk smartphone, kini mulai menggempur pasar Indonesia dengan produk-produk berbasis IoT. Produk-produk solusi untuk smarthome tersebut diantaranya adalah lampu, rice cooker, air purifier hingga vacuum cleaner yang bisa dikendalikan melalui smartphone.

Masuknya pemain-pemain Cina di ranah IoT ini akan berpengaruh terhadap kencangnya adopsi IoT di Indonesia baik dari sisi demand maupun supply. Dari sisi demand, konsumen akan kian teredukasi dan terbiasa. Dari sisi supply, pemain lain akan makin keras berkompetisi memperebutkan kue pasar produk barbasis IoT yang bakal menggeliat di Indonesia.

December 31, 2018   1 Comment

2018: Tanpa Resolusi Akhir Tahun

Tahun ini saya tidak lagi melakukan resolusi akhir tahun. Ya, karena bertahun-tahun sebelumnya selalu melakukan resolusi akhir tahun, tapi hal rutin selalu terjadi: gagal, gagal, dan gagal lagi.

Karena setiap kali gagal, maka akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa resolusi akhir tahun adalah omong kosong belaka.

Tapi kita kan perlu menutup tahun dengan melakukan refleksi apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun, dan kemudian menjadikannya pelajaran untuk melangkah di tahun depan?

Tentu. Tapi tidak saya lakukan hanya sekali setahun di akhir tahun.

No New Year Resolution

Kenapa resolusi akhir tahun selalu gagal?

Ketika kita mendeklarasikan resolusi di malam tahun baru dengan menetapkan target-target di tahun depan (berhenti merokok, membaca 50 buku seperti Bill Gates, atau turun berat badan 10 Kg), maka seharusnya kita berkomitmen melakukan kerja “MARATHON” untuk mewujudkan target tersebut.

Namun kenyataannya kita selalu menyikapi “lari MARATHON” itu sebagai “lari SPRINT”. Musababnya gampang ditebak: karena sprint lebih seksi dan lebih inspiratif dari marathon. Sesuatu yang instan dan radikal selalu lebih seksi ketimbang yang lambat, tahap demi tahap, dan sangat lama.

Tahun ini saya bisa menyelesaikan membaca 10 buku. Kalau tahun depan saya menargetkan 12 buku maka itu tidak seksi. Kalau 50 buku itu baru seksi.

Download ebook Marketing Outlook 2019 di sini: RIDING THE NEW NORMAL

Dalam setiap resolusi kita selalu menetapkan target yang hebat dan challenging (bahkan kita tahu tak mungkin dicapai), dan kita ingin mewujudkannya seinstan mungkin.

Itu sebabnya saya menyebut resolusi semacam ini omong kosong belaka. Karena hanya indah dideklarasikan di malam tahun baru… dan bukan untuk diwujudkan.

Sukses sebuah resolusi akhir tahun tak lepas dari menciptakan kebiasaan kecil baru (New Tiny Habit, NTH) untuk mewujudkan resolusi tersebut. NTH adalah kebiasaan kecil yang telaten kita jalankan sepanjang tahun depan.

Resolution: “berhenti merokok”. NTH: tidak menghisap sebatang rokok setiap selesai makan pagi, setiap hari.

Resolution: “turun berat badan 10 kg”. NTH: 30 menit jalan di komplek pagi hari, setiap hari.

Menjalankan NTH dengan telaten adalah maraton, bukan sprint. Dan ingat, marathon is BORING; sprint is COOL and INSPIRING.

So, tahun ini saya tak melakukan resolusi akhir tahun. Yang saya lakukan adalah menyusun target setiap akhir bulan (atau bahkan tiap minggu). Lalu simpel saja, saya terjemahkan target-target itu ke dalam NTH yang telaten saya kerjakan setiap hari, setiap hari… dan setiap hari.

Memang tidak radikal.
Memang tidak inspiratif.
Memang tidak cool.
…Memang boring.

Selamat Tahun Baru 2019.

December 31, 2018   No Comments

Ebook Marketing Outlook 2019

Temen-temen, berikut ini adalah ebook MARKETING OUTLOOK 2019: RIDING THE NEW NORMAL silahkan didownload, semoga bisa menjadi bekal berharga untuk menghadapi TAHUN POLITIK 2019.

Download di sini: Riding The New Normal

Cover Riding the New Normal

Baca Juga: Marketing Outlook 2019: Menyalip di Kenormalan Baru

December 25, 2018   8 Comments

Best Business Book 2018: My Picks

Akhir Desember menjadi kebiasaan saya mengelurkan buku-buku bisnis yang menggelitik keingintahuan dan menginspirasi saya. Karena itu saya telusur kembali buku-buku yang diterbitkan di sepanjang tahun 2018, saya takar-takar isi dan insights yang diberikannya, dan keluarlah short-list The Best Business Book 2018 sebagai berikut:

#1. Factfulness: Ten Reasons We’re Wrong About the World — and Why Things Are Better Than You Think, Hans Rosling, Ola & Anna Rosling Rönnlund.

Factfulness

Ketika ditanya tren global (misalnya: berapa jumlah penduduk yang ada di bawah garis kemiskinan atau kenapa jumlah penduduk dunia bertambah) secara sistematis kita selalu keliru. Buku ini memberikan penjelasan baru yang insightful dan radikal mengenai kenapa itu terjadi. Buku ini menawarkan 10 insting yang mendistorsi pikiran jernih kita. “The problem is that we don’t know what we don’t know, and even our guesses are informed by unconscious and predictable biases,” tulis buku ini.

#2. New Power: How Power Works in Our Hyperconnected World — and How to Make It Work for You, Jeremy Heimans, Henry Timms.

New Power

Kekuatan Lama (Old Power) dimonopoli oleh segelintir orang, sulit diakses, dan dikendalikan oleh elit tertentu (leader-driven). Kekuatan Baru (New Power) sebaliknya bersifat terbuka, partisipatori, dan peer-driven. Kekuatan Lama berbicara pertumbuhan 10% (inkremental); Kekuatan Baru 10X (eksponensial). Jika berhasil menciptakan dan mendayagunakan Kekuatan Baru maka Anda akan mencapai kegemilangan, sebaliknya jika masih terbelenggu Kekuatan Lama Anda akan punah ditelan jaman.

Baca juga: Best Business Book 2017

#3. Measure What Matters: How Google, Bono, and the Gates Foundation Rock the World with OKRs, John Doerr

Measure What Matters

Venture capitalist legendaris John Doerr menumpahkan pengalamannya selama 4 dekade mendampingi dan membesarkan raksasa teknologi Silicon Valley. Kuncinya adalah sistem penetapan tujuan (goal-setting sustem) yang disebutnya Objectives and Key Results (OKRs) yang telah terbukti membawa raksasa seperti Intel, Google, hingga Gates Foundation mencapai ledakan pertumbuhan. Buku legendaris dari tangan dingin venture capitalist legendaris.

#4. Rebel Talent: Why It Pays to Break the Rules at Work and in Life, Francesca Gino

Rebel Talent

Pemberontak (rebel) selalu memiliki reputasi buruk. Mereka sering dicap sebagai troublemakers, waton beda, complicated, tidak konvensional, dobrak sana dobrak sini, tak pernah mau kompromi, dan seringkali pencipta keonaran. Namun di tengah beragam kenyentrikan tersebut, merekalah pengubah dunia. They are masters of innovation and reinvention. Tulis buku ini: “In the era of turbulence, the future belongs to the rebel.”

#5. Leap: How to Thrive in a World Where Everything Can Be Copied, Howard Yu

Leap

Kini tak ada lagi kemewahan perusahaan bisa mendominasi industri dalam waktu lama karena copycat bertebaran di mana-mana menetralisir competitive edge setiap pemimpin pasar. Untuk bisa lolos dari jebakan komoditisasi dan copycat, perusahaan harus melakukan lompatan melewati beragam disiplin pengetahuan (knowledge discipline).

Baca juga: Best Business Book 2017

#6. Subscribed: Why the Subscription Model Will Be Your Company’s Future – and What to Do About It, Tien Tzuo, Gabe Weisert

Subscribed

Perusahaan seperti Amazon, Netflix, Spotify, atau Salesforce mencapai pertumbuhan eksponensial karena menggunakan model bisnis berlangganan (subscribtion model). Buku ini mengajak Anda menggapai sukses di era ekonomi baru yang disebut: “Subscription Economy”.

#7. The Culture Code: The Secrets of Highly Successful Groups, Daniel Coyle

Culture Code

Kunci sukses membangun budaya perusahaan menurut buku ini terletak pada grup. Buku ini mengidentifikasi tiga kemampuan yang menimbulkan kohesi dan kooperasi di dalam grup: Build Safety, Share Vulnerability, Establish Purpose.
#8. The Motivation Myth: How High Achievers Really Set Themselves Up to Win, Jeff Haden

Motivation Myth

Buku ini menyangkal asumsi bahwa sukses adalah buah dari mukjizat motivasi seperti diyakini Tony Robbins atau buku The Secret. Motivasi seperti digaungkan para motivator adalah mitos belaka. Motivasi bukanlah apa yang kita butuhkan di awal setiap perubahan besar yang ingin kita lakukan. Simpul buku ini: “Motivation is a result of process, not a cause.”

#9. 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari

21 Lessons of 21st Century

Dalam Sapien Yuval Harari mengeksplorasi masa lalu. Dalam Homo Deus ia menelusuri masa depan. Dan melalui buku ini ia mengungkap persoalan-persoalan kekinian peradaban manusia, tentu dari perspektif sejarah yang menjadi domain keahliannya. Mencerahkan.

Baca juga: Best Business Book 2015

#10. The CEO Next Door: The 4 Behaviors that Transform Ordinary People into World-Class Leaders, Elena Botelho, Kim Powell, Tahl Raz

CEO Next Door

Berdasarkan riset yang amat massif, buku ini menemukan empat karakteristik dari seorang pemimpin hebat yaitu: Cepat memutuskan (“decide: speed over precision”), mengorkestrasi stakeholders (“engage for impact”), memberikan hasil (“relentless reliability”), dan adaptif (“adapt boldly”).

Butuh perjuangan luar biasa untuk mengerucutkan buku-buku terbaik tahun ini menjadi hanya 10 buku. Saya menyadari ke-10 buku tersebut terpilih tak lepas dari faktor subyektivitas dan area yang menjadi minat baca saya. Karena itu ada baiknya saya tampilkan juga long-list buku terbaik tahun ini.

Berikut ini daftarnya:
#11. When, Daniel Pink
#12. Bad Blood, John Carreyrou
#13. Gigged, Sarah Kessler
#14. Enlightenment, Steven Pinker
#15. Reinventing Capitalism in the Age of Big Data, Viktor Mayer-Schönberger, Thomas Ramge
#16. Skin in the Game, Nassim Nicholas Taleb
#17. Thinking in Bets, Annie Duke
#18. Fusion, Denise Lee Yohn
#19. Great at Work, Morten Hansen
#20. Lost and Founder, Rand Fishkin
#21. Powerful, Patty McCord
#22. Crushing It!, Gary Vaynerchuk

December 22, 2018   No Comments