E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Bioekonomi

Di tengah rupiah yang kian tak berdaya dibantai Yuan dan Dolar saat ini, kesalahan semua ditumpukan pada impor kita. Semua-semua diimpor. iPhone terbaru diimpor. Mesin-mesin untuk PLTU Batang yang baru diresmikan diimpor. Bahan baku untuk pabrik obat diimpor. Itu barangkali masih dimaklumi. Namun rupanya daging sapi, beras, cabe, susu, kedelai, terasi, hingga garam pun ikutan diimpor. Tak masuk akal memang, negara dengan laut begitu luas dan memiliki garis pantai salah satu yang terpanjang di dunia kok bisa-bisanya garamnya impor.

 

Design Cover Buku Alternatif 4

 

Tak Berdaulat
Terus terang, gara-gara sedang mengerjakan riset dan menulis buku mengenai life science dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, saya menjadi sensitif dengan persoalan ini. Bukunya berjudul “Life Science for Life” yang rencananya diluncurkan minggu depan di Bandung bersamaan dengan peringatan ulang tahun Bio Farma ke 125 tahun. Gara-gara buku ini saya mendalami potensi keanekaragaman hayati dan kekayaan plasma nutfah Indonesia yang luar biasa. Potensi ini seharusnya menjadi hartu karun yang bakal mengantarkan bangsa ini menjadi negara besar nan mandiri.

Kalau kita konfiden, nggak usah noleh kemana-mana, fokus menekuni apa yang kita punya tersebut, maka seharusnya kita tak akan risau rupiah babak-belur dibantai dolar seperti sekarang. Sedih memang, di tengah melimpahnya sumber daya hayati kita justru abai. Kita mengesampingkannya dan cenderung menoleh ke Barat dengan mengembangkan industri otomotif, elektronik, kimia, pesawat terbang, bahkan teknologi nuklir. Sesungguhnya kita malu menjadi bangsa petani; kita malu menjadi bangsa nelayan; kita malu menjadi bangsa peternak. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah-ruah, seharusnya industri yang kita kembangkan adalah industri yang berbasis hayati (bioindustry) seperti pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, pengobatan, atau energi terbarukan.

Sebagai negara yang telah terjajah begitu lama, kita silau dengan negara-negara Barat. Kita ikut-ikutan mengembangkan teknologi dan industri yang mereka kembangkan. Kita menjadi pengekor, karena kita berpikir dengan cara begitulah kita akan bisa menjadi semaju mereka. Apakah benar demikian? Menurut konsep keunggulan komparatif negara (comparative advantage of nation) setiap negara seharusnya mengambil bidang-bidang industri dan produk yang menjadi spesialisasinya. Dan melalui mekanisme perdagangan internasional (international trade) mempertukarkannya dengan negara lain.

Jadi, sebenarnya tidak masalah kita mengimpor mobil, mesin-mesin, gadget elektronik, atau pesawat terbang dari negara maju. Asalkan mereka juga mengimpor beras, daging sapi, ikan, cabe, atau susu dari kita. Sekarang yang terjadi mengenaskan, semua-semua kita impor. Kita menjadi negara yang tak mandiri, tak berdaulat. Rupiah tak berdaulat di negerinya sendiri karena kini di Mangga Dua pedagang elektronik lebih pede menggunakan dolar ketimbang rupiah yang terus terjun bebas.

Bioeconomy
Menangisi bangsanya yang kian tak berdaulat, nggak tahu kenapa akhirnya saya sampai kepada sebuah dokumen yang saya googling di internet. Dokumen itu bernama National Bioeconomy Blueprint yang dikeluarkan pemerintahan Obama pada tahun 2012. Dokumen tersebut tak lain berisi strategi Amerika Serikat untuk mengembangkan ekonomi yang berbasis pada life science dan bioteknologi. Dalam dokumen tersebut menjadi jelas bahwa masa depan ekonomi AS bukan ditopang oleh mesin, kimia, atau IT, tapi oleh life science dan bioteknologi. Mereka menyebutnya bioekonomi (bioeconomy), ekonomi yang pertumbuhannya didorong oleh pemanfaatan riset dan pengembangan life science dan bioteknologi.

Pemerintah Obama memilihnya karena dua alasan strategis. Pertama, industri dan produk hayati menjanjikan potensi luar biasa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi karena industrinya sedang emerging. Dan kedua, relatif tidak merusak lingkungan sehingga menghasilkan pertumbuhan berkesinambungan (sustainable growth). Beberapa sektor unggulan dipilih sebagai spesialisasi seperti: kesehatan, pertanian/pangan, energi terbarukan, dan lingkungan.

Yang saya kaget, rupanya AS tak sendiri. Cina yang selama ini kita kenal sebagai “pabriknya dunia” dan paling boros mengonsumsi minyak dan batubara yang mencemari pun mulai gandrung dengan industri hayati. Hal ini dilakukan setelah sektor manufaktur mulai dirasakan menimbulkan dampak pencemaran lingkungan yang mengkhawatirkan. Kini Cina agresif mengembangkan bidang-bidang hayati seperti makanan dan pertanian, kesehatan dan kedokteran, dan energi terbarukan untuk menopang pertumbuhan ekonominya.

Adem Ayem
Yang saya sedih, kenapa yang kepikiran mengembangkan industri dan produk berbasis hayati kok justru mereka bukan kita. Kita yang begitu kaya sumber daya genetik (SDG), spesies dan plasma nutfah baik flora maupun fauna, dan beragam ekosistem justru adem-ayem. Kapal besar ekonomi Indonesia haruslah diputar haluannya untuk fokus memanfaatkan kekuatan kita, yaitu industri dan produk biologi/hayati. Sebagai bangsa besar kita harus bangga menjadi petani kopi. Kita harus konfiden menjadi peternak sapi. Kita harus pede menjadi penambak udang. Kalau kopi, daging sapi, atau udang kita memiliki kualitas kelas dunia so pasti produk tersebut tak kalah dari Android, iPhone, atau sedan Toyota. Starbuck jualan kopi tapi tak kalah keren dibanding Apple. Nilai tambah yang dihasilkan juga tak kalah tinggi dibanding Toyota atau Boeing.

Pemerintah melalui BAPPENAS bersama Kementrian Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi dan terkait seperti Kementerian Pertanian, Kemenko Maritim, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah waktunya duduk bersama untuk merancang konsep pembangunan berbasis ilmu hayati, sejenis dengan National Bioeconomy Blueprint-nya Pemerintah Obama. Di dalam konsep tersebut kita harus menetapkan arah dan kebijakan pembangunan bioekonomi Indonesia.

Itu kalau kita tak mau rupiah terus terjun bebas hingga ke titik 30.000. Itu kalau kita tak mau rupiah tak berdaulat di negerinya sendiri karena kita terlalu bergantung pada impor. Ingat, kemandirian dan kedaulatan menjadi sesuatu yang kian mahal di negeri ini.

August 29, 2015   No Comments

Life Science for Indonesia

Akhir pekan ini selama beberapa hari saya “masuk gua” di sebuah hotel di tepian kota Bogor. “Masuk gua” adalah istilah yang sering saya gunakan untuk menyebut “laku nyepi” dalam rangka menulis buku yang sudah masuk deadline untuk diterbitkan dalam waktu dekat. Biasanya kalau sudah masuk gua: HP mati, urusan macam-macam di Jakarta di-kill off, dan otak di-delete untuk urusan lain selain konten buku. Layaknya dikarantina, saya betul-betul lenyap dari hiruk-pikuk Jakarta.

Sebelum masuk gua, biasanya seluruh bahan dan referensi telah disiapkan dan sudah dibaca. Sehingga di dalam gua tidak ada lagi ritual membaca referensi, otak betul-betul dipakai untuk berolah ide dan data. Inilah ritual unik yang saya lakukan setiap kali ada di dalam gua: posisi duduk bersila layaknya sedang bersemedi, tangan nempel di tuts-tuts laptop, buku dan dokumen referensi tercecer di sekeliling siap dilahap, sesekali seperti orang gendheng pandangan menerawang ke langit-langit ruangan, ya itu tanda-tanda saya sedang mengeluarkan jurus “menangkap ide tulisan”.

Ilmu Hayati
Buku yang saya tulis kali ini istimewa karena menggabungkan topik spiritualitas, aplikasi teknologi tercangih di dunia yaitu ilmu hayati (life science), dan nasionalisme. Rencana judulnya adalah: “Life Science for Life”. Saya katakan rencana judul, karena last minute judul yang direncanakan di awal, tiba-tiba bisa berubah jika dalam perjalanan penulisan saya ketemu ide judul lain yang lebih sexy. Buku ini mengenai Biofarma, sebuah perusahaan life science yang moncer di kancah dunia (produknya kini dipasarkan di sekitar 130 negara), namun justru di negaranya sendiri tidak begitu dikenal.

Pak Iskandar, Dirut Biofarma dan narasumber utama buku ini, punya visi luar biasa yang langka dimiliki oleh anak negeri. Pendapat Pak Is membuat saya terhenyak. Kata beliau, Indonesia akan menjadi negara besar bukan karena kekuatan teknologi otomotif (upss, mobnas nggak pernah kejadian), bukan karena teknologi informatika secanggih Android, bukan pula karena teknologi ruang angkasa seperti yang dikembangkan NASA. “Negeri ini bakal besar karena life science,” paparnya.

Kenapa bisa begitu? Ya, karena Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (berupa spesies tumbuhan/hewan, gen, maupun ekosistem) terbesar dan terhebat di dunia. Keanekaragaman hayati yang demikian kaya dan tak ada duanya di dunia ini bisa disulap menjadi faktor kunci keunggulan bersaing (competitive advantages) luar biasa bagi Indonesia. Senjata pamungkasnya cuma satu, yaitu ilmu hayati.

Mega Biodiversity
Terus-terang saya tercenung menelusuri data-data mengenai betapa kayanya keanekaragaman hayati kita. Coba saja simak beberapa angka berikut. Dengan sekitar 17.000 jumlah pulau dan 2/3 dari seluruh wilayah merupakan perairan, negeri ini memiliki sekitar 10% dari total spesies tanaman di dunia. Kita memiliki 12% spesies mamalia dunia, termasuk mamalia langka seperti orangutan, harimau Sumatera, hingga komodo. Bahkan Indonesia memiliki 17% dari segala macam spesies burung yang ada di dunia. Tak hanya itu, Indonesia juga berada di peringkat pertama sebagai the world’s center of agroindustry yang memiliki tanaman budidaya (plant cultivar) dan unggas (domesticated livestock) terbesar di dunia.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta km persegi wilayah laut dengan spesies ikannya mencapai 37% dari total spesies ikan dunia. Kita juga memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, merupakan peringkat kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dari garis pantai sepanjang itu, 2/3 di antaranya dilindungi oleh batu karang yang mencapai 15% dari total batu karang yang dimiliki dunia. Praktis semua jenis batu karang di dunia ada di Indonesia. Tak heran jika Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies karang terbesar di dunia. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa tak heran jika negeri ini disebut: “the mega biodiversity country

Kelompok Tani Mizumi
Nah, kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa tersebut akan betul-betul menjadi kekuatan daya saing bangsa hanya jika mampu diolah menjadi produk kompetitif dunia dengan memanfaatkan ilmu hayati. Dalam perspektif Pak Is, produk yang diolah dengan pendekatan ilmu hayati akan menjamin sustainability karena ramah lingkungan (tak merusak lingkungan), ramah sosial (mendukung pemberdayaan ekonomi lokal), dan ramah budaya (melestarikan budaya dan kearifan lokal). Jadi tidak seperti produksi mobil yang menimbulkan polusi/degradasi lingkungan atau produksi obat farmasi yang justru menciptakan penyakit baru seperti kanker.

Awalnya saya silau dan pesimis, karena begitu mendengar life science atau biotechnology bayangan saya ilmu ini begitu canggih di menara gading dan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan super besar. Namun begitu saya ditunjukkan hasil ilmu hayati tepat guna yang dikembangkan Bio Farma bersama Kelompok Tani Mizumi Koi Farm di desa Sukamulya Sukabumi wawasan saya terkuak lebar. Rupanya ilmu hayati tepat guna juga bisa diterapkan oleh para petani lulusan SD untuk menghasilkan produk-produk yang diminati konsumen global.

Kebetulan beberapa bulan lalu saya datang ke desa Sukamulya, menyaksikan secara langsung bagaimana penerapan ilmu hayati untuk budidaya ikan koi yang dilakukan kelompok tani Mizumi. Dengan semangat kewirausahaan yang luar biasa, Pak Asep Munanwar sang ketua kelompak, memimpin puluhan rekan sedesanya menerapkan ilmu hayati yang praktis dengan bimbingan dari Bio Farma. Caranya dengan menggunakan teknik pemurnian (purification) dan pemuliaan (breeding) benih untuk menghasilkan komoditas koi unggul. Dengan kolaborasi ini kini desa Sukamulya tersulap menjadi sentra budidaya ikan koi unggul yang memiliki jangkauan pasar tak hanya nasional tapi juga global.

Kemandirian Indonesia
Dengan success story kelompok tani Mizumi mengaplikasikan ilmu hayati tepat guna, saya kemudian berpikir, harusnya kelompok-kelompok tani di ribuan desa di tanah air juga bisa melakukannya. Kalau desa Sukamulya berspesialisasi pada budidaya ikan koi, maka desa-desa lain bisa berspesialisasi di produk-produk unggulan lain sesuai potensi keanekaragaman hayati yang mereka miliki. Desa-desa di Kepulauan Halmahera misalnya, bisa berspesialisasi di produk perikanan. Desa-desa di Aceh berspesialisasi di kopi Gayo yang tenar di seantero dunia. Desa-desa di Sulawesi Utara fokus di kelapa. Desa-desa di NTT fokus di peternakan sapi. Demikian seterusnya. Kalau hal ini terwujud, maka ide “one village, one product” bisa digulirkan di seluruh penjuru tanah air.

Eksperimen Bio Farma dengan Kelompok Tani Mizumi adalah kasus sederhana yang seharusnya bisa menjadi model bagi terwujudkan kemandirian ekonomi nasional yang kini didengung-dengungkan pemerintahan Jokowi. Di dalam model tersebut terdapat sebuah kombinasi yang sangat cantik dari tiga elemen kunci. Pertama key asset, berupa modal kekayaan keanekaragaman hayati yang begitu besar. Kedua key enabler, berupa aplikasi ilmu hayati tepat guna untuk mengubah keanekaragaman hayati menjadi produk kompetitif di pasar global. Ketiga key player, berupa wirausahawan desa yang mampu mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Kalau saya singkat menjadi sebuah rumus, maka bunyinya kira-kira begini: [Keanekaragaman Hayati] + [Ilmu Hayati Tepat Guna] + [Kewirausahaan Desa] = [Kemandirian Indonesia].

Di tengah kian terpuruknya rupiah saat ini, rumus ini mendesak untuk kita realisasikan.

August 22, 2015   No Comments

Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru

13-15 Oktober 1985, bertempat di auditorium Sekolah Bisnis Universitas Chicago. Di situ berkumpul sosok-sosok paling disegani dalam ilmu ekonomi. Para ekonom di ruangan itu terbelah ke dalam dua kubu: rationalist dan behavioralist. Di kubu rationalist terdapat “dewa-dewa” ekonom yang telah menentukan arah teori ekonomi dekade-dekade sebelumnya. Mereka antara lain: Robert Lucas (pemenang Nobel 1995), Merton Miller (pemenang Nobel 1990), Eugene Fama (pemenang Nobel 2013), dan Sherwin Rosen (belakangan menjadi presiden American Economic Association, 2001). Sebagian besar mereka adalah ekonom eksponen Chicago School, suatu mazhab yang percaya pada kekuatan pasar bebas.

Sementara kubu behavioralist terdiri dari para ekonom progresif seperti Herbert Simon (pemenang Nobel 1978), Kenneth Arrow (pemenang Nobel 1972), Amos Tversky, Daniel Kahneman (pemenang Nobel 2002), Richard Thaler, dan Robert Shiller (pemenang Nobel 2013). Dirintis oleh Tversky dan Kahneman, gerakan teori ekonomi baru yang kini dikenal luas sebagai teori ekonomi perilaku (behavioral economics), kala itu sedang mencari bentuk dan menghimpun kekuatan untuk bisa diterima sebagai mazhab teori ekonomi baru.

Ekonom dari dua kubu ini berkumpul melakukan debat terbuka untuk menentukan arah teori ekonomi ke depan. Di forum bergengsi tersebut nasib teori ekonomi modern yang sudah berusia lebih dari 200 tahun bakal ditentukan. Risiko terbesarnya terpampang di depan mata: pilar teori ekonomi lama yang dirintis Adam Smith dan kemudian disempurnakan oleh Ricardo, Marshall, Keynes, hingga Samuelson, akan ambruk berkeping. Ya, karena asumsi-asumsi dasar yang melandasi teori lama itu terpatahkan sehingga tak layak dipertahankan lagi.

Memang yang kemudian terjadi tak sefatal itu. Dalam tiga hari debat maraton, kedua kubu bersikukuh dengan argumentasi masing-masing, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun konferensi di Universitas Chicago itulah yang menjadi titik awal perdebatan panjang untuk mengoreksi teori ekonomi lama (rationalist) dengan teori baru (behavioralist) yang lebih relevan dan down-to-earth. Kini, 30 tahun kemudian, perjuangan para ekonom behavioralists mulai membuahkan hasil ketika behavioral economics mulai diterima sebagai teori ekonomi mainstream.

Econ vs Human
Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human). Econ adalah sosok fiktif dengan rasionalitas, kecerdasan, obyektivitas, dan kontrol diri yang nyaris sempurna. Econ adalah sosok berdarah dingin yang berpikir datar, super-sistematis, dan nir-emosi (kira-kira mirip dengan sosok robot T-800 yang diperankan Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator Genisys). Manusia langka macam ini tak akan kita temukan di manapun di muka bumi ini.

Yang ada adalah sosok Human yang penuh kekeliruan, kealpaan, kebingungan, kebimbangan, emosi, bias, bahkan kesesatan pikir dalam menetapkan pilihan dan mengambil keputusan untuk dirinya. Human adalah sosok irasional yang menjadi obyek beragam bias dan blunder dalam melakukan pengambilan keputusan. Human adalah kebanyakan kita. Perilaku ganjil sosok Human dalam berpikir rasional ini oleh Richard Thaler disebut “misbehaving” yang menjadi judul buku ini. Celakanya, perilaku ganjil ini berlangsung terus-menerus, konsisten, dan terprediksi. Karena itu Dan Ariely, seorang psikolog ternama, menyebutnya: irasionalitas yang terprediksi (predictably irrational).

Ketika asumsi yang digunakan keliru, maka teori yang dihasilkan pun akan keliru dan misleading. Oleh karena itu tak mengherankan jika kian banyak fenomena ekonomi mutakhir saat ini yang tak bisa dijelaskan oleh model ekonomi yang ada, termasuk yang terakhir krisis ekonomi 2008. “Hampir tak ada ekonom yang mampu memprediksi datangnya krisis ekonomi 2008. Celakanya lagi, banyak dari para ekonom tersebut justru berkeyakinan bahwa krisis tersebut seharusnya tak mungkin terjadi,” ujar Prof. Thaler. Nah, kegagalan demi kegagalan ekonom rationalist dalam membaca perubahan ekonomi inilah yang semakin meyakinkan para ekonom behavioralist untuk meluruskan teori lama yang telah usang.

Heroik dan “Subversif”
Perjuangan untuk menumbangkan paradigma keilmuan lama menjadi sesuatu yang sama sekali baru selalu saja heroik. Contoh klasiknya adalah Copernicus yang menumbangkan anggapan mapan lama bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Begitupun perjuangan para ekonom behavioralists yang begitu atraktif dan mengalir diceritakan Thaler dalam buku ini. Jalinan cerita yang dibangun Thaler dalam buku ini demikian runut dan menawan karena Thaler sendiri adalah salah satu bapak pendiri mazhab baru ini di samping Tversky dan Kahneman.

Seperti diungkap Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1962), perubahan paradigma keilmuan selalu diawali dengan adanya beberapa anomali yang diterima umum sebagai penyimpangan dari teori yang telah mapan sebelumnya. Anomali-anomali ini ditemukan oleh para ilmuwan visioner yang nyentrik dan berani tampil beda. Berdasarkan anomali inilah mereka memulai perburuan intelektual untuk mencari penjelasan dan menemukan jawab atas keganjilan anomali.

Walaupun dianggap “subversif” dan mendapat banyak serangan kritik dari ilmuwan ortodoks, mereka tak gentar bereksplorasi mencari bukti-bukti dan landasan teoritik dan menggalang pengikut untuk bersama-sama mendirikan bangunan teori baru. Menariknya, di bidang ekonomi, ilmuwan-ilmuwan subversif yang mendobrak kemapanan teori ekonomi lama itu justru bukan datang dari ekonom, tapi dari psikolog. Perintis behavioral economics Simon, Tversky, dan Kahneman, ketiganya adalah psikolog, bukan ekonom. Barangkali karena semua ekonom sudah terkungkung dalam zona nyaman dan matanya rapat tertutup oleh kaca mata kuda.

Tabir misteri di balik anomali ini pertama kali disingkap oleh Herbert Simon dengan teori “Bounded Rationality” (1957) yang menemukan bahwa manusia memiliki keterbatasan kognitif untuk memecahkan permasalahan yang kompleks. Simon adalah ilmuwan jenius yang kepakarannya merambah berbagai bidang mulai dari ilmu psikologi, politik, sosiologi, ilmu komputer dan intelegensia artifisial, di samping tentu ekonomi. Walaupun diganjar hadiah Nobel, namun temuan Simon belum cukup memiliki pengaruh kuat untuk menggeser paradigma teori ekonomi lama. Para ekonom ortodoks mengesampingkan temuan Simon dan menganggap temuannya “true, but unimportant”.

Terobosan fenomenal baru terwujud melalui karya Tversky dan Kahneman mengenai “Judgement under Uncertainty” (1973) dan “Prospect Theory” (1979). Melalui karya rintisan ini, Tversky-Kahneman berhasil merumuskan model ekonomi deskriptif yang lebih akurat memotret perilaku manusia yang sesungguhnya (yup, Human). Inilah model yang pertama kali mencangkokkan psikologi dan ilmu sosial ke jantung teori ekonomi. Sebuah model yang secara mendasar mengubah wajah teori ekonomi yang telah mapan dan mengeras selama dua abad. Untuk karya terobosan ini Kahneman memperoleh hadiah Nobel 2002. Anugerah ini sekaligus mengangkat behavioral economics ke panggung teori ekonomi mainstream.

Populer dan Relevan
Di tahun 1990-an behavioral economics kian populer dan mendapatkan eksposur yang luas baik secara teoritis maupun praktis, khususnya di sektor keuangan dan pasar modal (kemudian disebut behavioral finance). Biangnya tak lain adalah adanya serangkaian krisis ekonomi (dari Black Monday Oktober 1987, krisis ekonomi Asia 1998, internet bubble 2000, hingga terakhir krisis perumahan 2008) yang kian sulit dianalisis dengan menggunakan teori ekonomi konvensional. Dalam waktu singkat behavioral finance menjadi populer seiring luasnya publikasi media global mengenai krisis ekonomi dunia. Seiring dengan itu, Alan Greenspan, ketua The Fed waktu itu, memunculkan terminologi “irrational exuberance” di tahun 1996 yang tak pelak lagi kian meroketkan behavioral finance di kancah ilmu ekonomi keuangan di seluruh dunia.

Di tengah gegap-gempita ini Robert Shiller, salah satu eksponen behavioralist, menjadi ikon baru di kalangan ekonom. Risetnya “Do Stock Prices Move Too Much to Be Justified by Subsequent Changes in Dividends” (1981) mengenai volatilitas harga saham yang jauh melebihi nilai dividen menjadi acuan untuk menjelaskan rangkaian krisis keuangan yang terjadi kala itu. Karya monumental itu sekaligus mematahkan teori sebelumnya bahwa pasar efisien dan bahwa faktor-faktor irasional pelaku pasar dominan memengaruhi harga saham. Untuk karya terobosannya ini Shiller diganjar hadiah Nobel tahun 2013.

Dengan pisau analisis behavioralist, Shiller dianggap sebagai ekonom yang paling tahu mengenai krisis keuangan global. Bahkan melalui buku larisnya Irrational Exuberance (2000), Shiller dianggap mampu meramalkan datangnya dotcom crash di tahun 2000 dan krisis perumahan di tahun 2008. Dengan kepresisian tinggi, Shiller berhasil memprediksi bahwa harga saham teknologi (tahun 2000) dan harga rumah (tahun 2008) di Amerika sudah terlalu tinggi (overvalued) dan berada di ambang kejatuhan. Keberhasilan behevioral economics/finance menjelaskan perubahan-perubahan ekonomi mutakhir menjadi genderang kemenangan mazhab baru ini dan menempatkannya sebagai teori ekonomi mainstream yang diterima para ekonom di seluruh dunia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, behavioral economics kian terdongkrak popularitasnya seiring dengan munculnya buku-buku bestseller dunia yang menggunakan kerangka ide yang sama. Beberapa contoh di antaranya adalah: Predictably Irrational (Dan Ariely, 2008), Black Swan (Nassim Nicholas Taleb, 2007), dan Freakonomics (Stephen Levitt, 2005). Kisah 40 tahun perjalanan heroik mazhab baru ini ditutup dengan sebuah happy-ending yang melegakan.

Storytelling Matters

Misbehaving menjadi begitu menawan dan renyah dibaca karena disampaikan dalam format berkisah (storytelling). Secara isi buku ini mirip dengan karya fenomenal Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow (2011), namun berbeda secara format. Buku ini seharusnya berat dan menjemukan, karena sarat dengan kajian literatur yang njlimet dan teknis. Namun di tangan Prof. Thaler, tali-temali kajian tersebut berubah menjadi jalinan cerita yang menarik dan mengalir deras.

Seperti umumnya cerita, di dalamnya terdapat plot mengalir, dikotomi protagonis-antagonis, klimaks-antiklimaks, sentuhan-sentuhan emosional, dan tentu tak ketinggalan happy-ending di akhir kisah. Ia misalnya, menempatkan dua kubu ekonom behavioralist-rationalist layaknya protagonis-antagonis. Sementara sentuhan emosional salah satunya ditampilkan di halaman pertama buku, ketika dia mengenang kebersamaan memilukan dengan Amos Tversky, mentor dan kolega kentalnya, di 5 bulan terakhir sebelum sang jenius meninggal Juni 1996 oleh kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Karena kepiawaiannya berkisah, tak heran jika Daniel Kahneman memberi pujian kepada buku ini dengan menyebut Thaler sebagai, “the creative genius who invented the field of behavioral economics is also a master storyteller and a funny man…
Pelajaran Bagi Indonesia

Ketika pendekatan behavioral lebih ampuh memotret sosok pelaku ekonomi yang sesungguhnya (Human, bukan Econ), maka konsekuensinya kebijakan publik (public policy) yang dihasilkan dari pendekatan baru ini akan memiliki presisi, relevansi, dan efektivitas yang lebih tinggi. Karena itu tak heran jika dalam 5 tahun terakhir, berbagai negara mulai berlomba-lomba mencangkokkan pendekatan behavioral economics dan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka untuk menciptakan human-focused government.

Di Inggris misalnya, pemerintahan David Cameron membentuk Behavioral Insight Team (BIT) pada tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan efektivitas kebijakan publik melalui penerapan prinsip-prinsip behavioral economics. Di Amerika Serikat, tahun lalu pemerintah Obama telah membantuk White House Social and Behavioral Science Team (SBST) dengan misi dan fungsi yang mirip dengan BIT. Survei dari Economic and Social Research Council, tahun lalu setidaknya telah ada 134 negara yang mulai memasukkan pendekatan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka.

Di Indonesia, pemerintahan Jokowi seharusnya mulai berpikir untuk mengadopsi pendekatan yang sama untuk mendongkrak kualitas dan efektivitas kebijakan publik. Cakupan kebijakan yang digarap bisa sangat luas mulai dari kebijakan makroenonomi, kebijakan industri, dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di bidang kesehatan, pendidikan, hingga kriminalitas. Let’s see…

August 16, 2015   No Comments

Branding Tujuh Belasan

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, tak hanya Jokowi yang sibuk berpidato di hadapan wakil rakyat atau pejabat negara yang melakukan upacara bendera di Istana Negara. Brand pun sibuk meyambut hari kemerdekaan dengan melakukan kampanye branding. Tujuannya dua. Pertama membangun citra dan reputasi yang baik sebagai warganegara (corporate citizenship). Kedua, agresif jualan dengan membesut beragam program sales promotion berlatar momentum hari kemerdekaan. Inilah yang saya sebut nationalism branding.

Beberapa hari menjelang hari kemerdekaan ini saya mencoba melakukan riset kecil untuk mengumpulkan bentuk dan “modus operandi” bagaimana kampanye nationalism branding ini dilakukan oleh brand-brand hebat kita. Saya menemukan belasan bentuk dan format, namun mengingat terbatasnya halaman kolom ini saya akan membahas enam di antaranya.

Kontribusi
Beberapa brand melakukan nationalism branding dengan mengedepankan kontribusi kepada bangsa dan negara. Tujuannya tentu untuk menunjukkan bahwa brand peduli kepada bangsa tempat berpijak melalui kontribusi riil kepada masyarakat. Telkom melaksanakan nationalism branding dengan mengusung konsep ini. Ini dilakukannya dengan mendorong tumbuh-kembangnya UKM di seluruh pelosok tanah air. Telkom misalnya, mengusung program “1 Juta UKM: Indonesia Bisa”. Ia juga menginisiasi program “IndiPreneur” untuk mendorong UKM agar going digital, antara lain dengan menciptakan digital valley di berbagai kota (Jakarta, Bandung, Yogya, dll). Telkom juga merintis “1000 Kampung Nelayan Digital” dan “Kampung UKM Digital”. Yang menarik, kampanye branding Telkom ini menggunakan format movement, tak hanya sekedar pasang iklan di TV nasional.

Beli Indonesia
Format kedua mengusung tema kemandirian dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk membeli dan menggunakan produk Indonesia. Di tengah rupiah babak-belur seperti sekarang, kampanye branding jenis ini begitu relevan dan menjadi urgensi kita semua. Yang paling stand-out melakukan kampanye jenis ini tentu saja adalah Maspion yang bergaya testimonial dari sang pendiri dengan slogannya yang begitu mengena: “Gunakan ploduk-ploduk Indonesia!!!”. Astra Otoparts dengan brand-nya Aspira mengusung tema yang sama dengan slogan: “Bangga dengan Merek Asli Indonesia”. Astra Otoparts memang punya prestasi luar biasa karena merupakan merek lokal dengan cakupan produk suku cadang kendaraan paling lengkap. Prestasi ini yang coba dikedepankan.

Kearifan Lokal
Nationalism branding juga diwujudkan dengan kepedulian brand mendorong pelestarian budaya lokal, bahan lokal, atau kearifan lokal. Tolak Angin adalah champion dalam hal ini dengan mendorong pelestarian jamu dan bahan-bahan herbal asli Indonesia. Yang paling heboh adalah beberapa tahun lalu saat Tolak Angin menjadi “hero” melalui iklan TV-nya dalam membela budaya asli Indonesia (Reog Ponorogo, Angklung, lagu Rasa Sayange, dll) yang diakui oleh Malaysia. Cerdasnya Tolak Angin, melalui kampanye branding-nya ia menunggangi sentimen kemarahan publik untuk membakar nasionalisme seluruh anak bangsa. Menyambut hari Kemerdekaan, Coca Cola beberapa hari lalu mengumpulkan nama-nama asli Indonesia yang menimbulkan viral di media sosial. Di samping Tolak Angin dan Coca Cola, Indomie, JNE, dan Kecap Bango menggunakan konsep kampanye yang serupa.

Prestasi Indonesia
Bentuk lain adalah memosisikan prestasi yang diraih oleh brand sebagai prestasi Indonesia. Garuda Indonesia misalnya, selalu mengaitkan prestasi yang diraihnya sebagai prestasi anak negeri. Ambil contoh ketika Garuda Indonesia memenangi perghargaan bergengsi dari Skytrax sebagai “The World’s Best Cabin Crew”, ia mengampanyekan kemenangan tersebut sebagai prestasi bangsa yang membangkitkan kebanggan dan kepercayaan diri setiap anak negeri. Semen Indonesia meraih prestasi membanggakan ketika dua tahun lalu berhasil mengakuisisi pabrik semen Thang Long di Vietnam. Karena itu dalam kampanye iklannya perusahaan holding semen kebanggaan Indonesia ini menggunakannya untuk membangun kepercayaan diri bangsa.

Talent Scout
Brand juga bisa memainkan peran sebagai talent scout dalam kampanye branding-nya. Clear melakukan hal ini beberapa waktu lalu. Tahu bahwa prestasi sepak bola nasional amburadul karena PSSI terus diobok-obok, Clear peduli dengan mengusung ajang pencarian bakat muda sepak bola. Jauh sebelumnya program Bakti Olah Raga dari Djarum Foundation telah melakukannya untuk membentuk bibit-bibit muda berbakat di bidang bulu tangkis. Berkat komitmennya, Djarum bahkan kini memiliki reputasi sebagai kawah candradimuka tempat lahirnya atlet-atlet bulu angkis top tanah air. Sukses bulu tangkit Indonesia tak lepas dari kontribusi yang diberikan perusahaan rokok papan atas ini.

Cinta Indonesia
Nationalism branding juga diwujudkan dalam bentuk kecintaan kepada negara. Daniel Mananta merintis bisnis fashion dengan label Damn! I Love Indonesia yang sekaligus merupakan sebuah movement untuk membangkitkan kecintaan kepada tanah air khususnya di kalangan anak muda. Seperti halnya kampanye nationalism branding yang lain di atas, Damn! I Love Indonesia mendapatkan dua hal sekaligus: satu kali kayuh dua-tiga pulau terlampaui. Pertama bisnis dapat. Kedua kontribusi kepada negara juga dapat.

 

August 16, 2015   No Comments

UMKM dan Desa

Hari Rabu malam (5/8) lalu saya ketemu dan berhalal bihalal dengan para “UMKM hero”, para tokoh pemimpin komunitas yang peduli memajukan UMKM (usaha mikro kecil menengah) Indonesia. Mereka antara lain adalah pak Budi Isman (pendiri Komunitas Smartpreneur), pak Subiakto (pakar branding), mas Badroni Yuzirman (pendiri Komunitas Tangan Di Atas), mas Jaya Setiabudi (pendiri Young Entrepreneur Academy), mas Emille Jayamata (Komunitas Organik Indonesia), dan lain-lain. Kami diundang oleh temen-temen Telkom DBS, divisi yang khusus membidangi sektor bisnis UMKM. Di situ kami ngobrol ngalor-ngidul mengenai bagaimana memajukan UMKM Indonesia.

Yang menarik dari forum itu, rupanya isi otak kami sama. Kami memang punya movement masing-masing yang berbeda untuk memajukan UMKM, namun rupanya memiliki spiritdan keresahan yang sama. Keresahan terbesar yang kami rasakan adalah makin mengkhawatirkannya dominasi kapitalisme global melalui kehadiran perusahaan-perusahaan global asing yang merasuk hingga ke urat nadi perekonomian negeri ini.

Praktis semua sektor industri (mulai dari pertambangan, telekomunikasi, perbankan, otomotif, konsumer, elektronik, farmasi, ritel, hingga film dan musik) secara sistematis dan struktural dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing melalui kekuatan modal, teknologi, manajemen, dan SDM berkelas dunia. Dalam forum tersebut teman-teman khawatir dengan tren terakhir dimana jagad online shop kita secara agresif mulai dikuasai kekuatan modal asing. Para pendiri online shop lokal begitu bangga ketika start-upyang mereka rintis dibeli pemodal asing. Tentu saja, karena triliunan rupiah masuk ke pundi-pundi kekayaan mereka.

UMKM
Seperti teman-teman yang lain, dalam forum tersebut saya mengemukakan konsern mengenai keresahannasional ini. Saya bilang bahwa “pertahanan terakhir” kemandirian ekonomi Indonesia ditentukan oleh dua hal, yaitu UMKM dan desa. Saya katakan di situ, kalau perusahaan-perusahaan global asing menguasai perusahaan-perusahaan besar lokal (jumlahnya tak sampai 5000 biji), maka itu masih bisa diterima. Namun kalau sampai seluruh perusahaan UMKM kita (jumlahnya ada sekitar 50 juta biji) dikuasai oleh kekuatan asing, itu baru terjadi “kiamat” nasional. Kalau itu terjadi maka so pasti benteng kemandirian ekonomi nasional betul-betul jebol.

UMKM betul-betul menjadi senjata terakhir kemandirian ekonomi nasional karena kekuatan modal asing akan enggan mencaploknya. Ya, karena ukuran mereka kecil maka tentu saja tidak menarik untuk diakuisisi karena potensi ekonominya kecil. Namun perlu diingat, kecil kalau jumlahnya banyak hingga jutaan dan mereka bersatu-padu bersinergi, maka mereka akan menjadi sebuah kekuatan yang maha besar. “Smalls are the new big” adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan kekuatan jutaan UMKM kita.

Bicara kekuatan jutaan UMKM kita, serta-merta saya teringat dengan perang gerilya merebut kemerdekaan. Keberhasilan para pejuang gerilya kita melawan Belanda terutama ditentukan oleh “small power” ini. Kenapa pejuang gerilya kita yang hanya bersenjata bambu runcing dan senapan sulit ditundukkan tentara Belanda yang memiliki senjata lengkap seperti meriam dan tank? Tak lain karena pejuang kita “kecil-kecil”, pergerakannya tak berpola seperti amuba, sulit dideteksi keberadaannya, dan begitu lincah melakukan penyerangan.Nah, saya gambarkan jutaan UMKM kita layaknya pejuang gerilyawan yang kecil-kecil banyak, super lincah, dan sulit dikooptasi dan dikendalikan oleh kekuatan korporasi global asing

Desa
Lalu bagaimana dengan desa? Kenapa desa adalah kekuatan pamungkas kemandirian ekonomi nasional. Kalau Ibukota, provinsi, kota/kabupaten di kuasai oleh kekuatan korporasi global asing maka itu masih bisa diterima. Namun kalau sampai terjadi desa mereka kuasai, maka pada saat itu juga akan terjadi “kiamat” nasional. Negeri ini akan jatuh terpuruk oleh suatu bentuk penjajahan baru. Penjajahan bukan oleh kekuatan senjata, namun oleh kekuatan modal dan kapitalisme yang menghisap.

Untuk memberikan gambaran gampang saya memberi contoh dominasi gerai-gerai waralaba makanan asing yang sepuluh tahun terakhir begitu agresif melakukan ekspansi pasar di seluruh penjuru tanah air. Ekspansi waralaba makanan asing ini begitu massif meminggirkan kuliner-kuliner lokal yang menjadi kekayaan Indonesia. Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan seminar publik saya sering curhat mengenai kekawatiran bahwa pecel, rawon, rendang, atau gudeg makin tidak dikenal dan kian tak dikonsumsi oleh anak-cucu kita, kalah pamor oleh kuliner asing.

Nah, kalau gerai-gerai waralaba makanan branded asing itu hanya menguasai ibukota, provinsi, atau kabupaten/kota, maka itu masih bisa ditolerir. Namun kalau sampai mereka hadir hingga di tingkat desa, maka pada saat itu jebol pula tanggul kemandirian ekonomi nasional kita. Dengan tingkat laju ekspansi waralaba makanan asing seperti sekarang, tak tertutup kemungkinan jebolnya tanggul ini terjadi dalam waktu yang tak lama.

Sekarang saja ekspansi mereka sudah meluber hinggadi tingkat kabupaten/kota.Tinggal sejurus lagi mereka masuk kecamatan dan desa. Kalau dulu kita mengenal AMD singkatan “ABRI Masuk Desa” maka nanti kita bakal mengenal “Asing Masuk Desa”. Kalau itu terjadi, saya takut suatu saat akan ada “Museum Kuliner Nusantara” dimana anak-cucu kita yang berkunjung takjub menyaksikan pecel, rawon, atau gudeg yangjadul dan langka ditemui.

Kalau betul UMKM dan desa menjadi pilar kemandirian ekonomi nasional, lalu apa agenda besar yang harus kita rintis dan kembangkan? Pekerjaan besarnya cuma satu, yaitu menciptakan wirausahawan UMKM di tingkat desa (grass root) dalam jumlah besar, tak hanya ribuan tapi bahkan jutaan. Wow… sebuah mimpi dan pekerjaan besar. Namun seperti kata orang bijak, tak ada sesuatu yang tak mungkin jika kita punya niatan dan kerja keras. Yuk wujudkan!!!

August 8, 2015   3 Comments

Halal Marketing

Hari Rabu (1/7) lalu saya diundang mas Lutfiel Hakim dari Indonesia Halal Center untuk menjadi nara sumber focus group discussion (FGD) bertema: Marketing Produk Halal di Hotel Sofyan Menteng. Hadir di situ nara sumber yang lain: pak Riyanto Sofyan, CEO Hotel Sofyan; pak Anton Apriyantono, mantan Menteri Pertanian yang juga pakar produk halal; dan ibu Elvina Rahayu, auditor Halal. Dengan perspektif yang berbeda, kami membahas bagaimana membangun awareness masyarakat terhadap produk halal di tanah air.

Bahkan dengan semangat empat lima kami membahas bagaimana menjadikan Indonesia sebagai the world’s halal center. Degan penduduk muslim dan potensi pasar halal terbesar di dunia, harusnya Indonesia bisa mewujudkannya. Dari negara-negara yang berambisi menjadi world’s halal center seperti Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, atau Turki, potensi pasar halalnya tak ada apa-apanya dibanding Indonesia. Malaysia cuma berpenduduk 27 juta jiwa, sementara Arab Saudi cuma 28 juta. Jadi, Indonesia jangan sampai kalah dengan Malaysia dan Arab Saudi.

 

Logo Halal

 

Revolusi Sertifikasi Halal
Namun sayang, potensi pasar halal Indonesia yang demikian besar, tak diikuti dengan jumlah produk halal yang beredar di pasaran. Hingga tahun lalu, hanya ada sekitar 13 ribu produk yang bersertifikat halal, dari total jumlah produk sekitar 156 ribu produk yang didistribusikan di Indonesia. Itu artinya belum sampai 10%. Padahal di Malaysia misalnya, sekitar 90% produk makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan yang beredar di negeri Jiran tersebut sudah berlabel halal.

Untungnya, pemerintah telah melakukan terobosan dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Menurut undang-undang ini, pada tahun 2019 seluruh produk (makanan, minuman, kosmetik, farmasi, biologi, kimia, hingga produk modifikasi genetik) yang didistribusikan di Indonesia haruslah memiliki sertifikasi halal. Bahkan pemerintah juga mewajibkan produk-produk yang tidak halal untuk menyatakan ketidakhalalan secara jelas pada kemasannya.

So, dengan adanya undang-undang ini saya berharap akan terjadi “revolusi sertifikasi halal”. Dalam sisa waktu 3,5 tahun ini para produsen akan berbondong-bondong mensertifikasi halal produknya. Dan dengan demikian awareness masyarakat terhadap halal dengan sendirinya akan terdongkrak naik.

Vertikal: Belajar dari Batik
Menyongsong tahun halal 2019, menjadi kewajiban kita semua untuk mengkampanyekan sadar produk halal di tanah air. Tujuan ada dua. Pertama menjadikan 100% produk makanan-minuman, kosmetik, obat-obatan, dsb. yang beredar di Indonesia bersertifikasi halal. Ini gampang karena sudah menjadi amanat undang-undang. Kedua, menjadikan Indonesia sebagai the world’s halal center mengalahkan Malaysia, Arab Saudi, dan negara pesaing lain. Nah, yang ini butuh perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Saya mengusulkan dua pendekatan pemasaran yang bisa kita jalankan untuk mengkampanyekan halal di Indonesia, yaitu: vertikal dan horizontal. Yang saya maksud dengan pendekatan vertikal adalah sebuah kampanye halal yang dilakukan pemerintah dalam bentuk kampanye publik/sosial (public/social campaign). Kampanye jenis ini sudah banyak dilakukan oleh berbagai kementerian, departemen atau badan pemerintah. Ambil contoh Departemen Perdagangan yang melakukan kampanye label “100% Cinta Indonesia” untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri. Dulu jaman pak Harto, BKKB membuat kampanye “Dua Anak Cukup”. Atau KPU yang membuat kampanye “Ayo Memilih” dalam memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pemilu.

Di sini, kita harus banyak belajar dari kampanye batik yang menurut saya merupakan public campaign tersukses yang pernah ada di Indonesia. Sukses ini dimulai dari ditetapkannya batik sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Pengakuan yang memicu kebanggaan (national proudness) segenap lapisan masyarakat tersebut direspons cepat oleh pemerintah dengan menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Tak hanya itu, pemerintah juga menghimbau seluruh instansi dan perusahaan agar karyawannya mengenakan batik pada hari Jumat. Dari situ gelombang uforia batik menyebar bak virus ke seluruh penjuru negeri. Kampanye halal tak mesti sama persis dengan kampanye batik, tapi pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya bisa diambil.

Horisontal: Belajar dari Hijab
Pendekatan kedua adalah pendekatan horizontal dengan memanfaatkan kekuatan komunitas dan pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth). Pendekatan kedua ini mengandalkan edukasi halal oleh komunitas yang dilakukan secara peer to peer (P2P) melalui beragam media sosial seperti blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Berbeda dengan pendekatan vertikal yang mengandalkan kebijakan dan himbauan pemerintah, pendekatan ini lebih menekankan peran komunitas-komunitas halal (seperti Komunitas Halal Corner, Halal Center, Halal Baik Enak, dll.) dalam mengedukasi masyarakat mengenai sadar halal.

Untuk menjelaskan bagaimana edukasi peer to peer ini terjadi, ada baiknya jika saya menggunakan contoh yang terjadi di dunia hijab. Saya melihat, kesadaran kaum muslimah untuk berlomba-lomba mengenakan hijab sesungguhnya dipicu oleh “edukasi” massif yang terjadi di dalam medium komunitas hijabers. Edukasi ini begitu efektif karena dilakukan secara peer to peer antar para hijabers yang berkumpul di dalam komunitas dengan memanfaatkan blog, Facebook, atau Twitter. Interaksi antar sesama hijabers di dalam komunitas inilah yang kemudian memicu uforia hijab di kalangan kaum muslimah kita untuk ramai-ramai mengenakan hijab. Tentu saja edukasi halal tak akan sama persis dengan kasus yang terjadi di hijab, tapi setidaknya pelajaran-pelajaran penting bisa diambil.

Dalam pendekatan ini peran komunitas-komunitas halal memegang peran kunci, karena itu saya berharap komunitas-komunitas ini bakal tumbuh pesat bak jamur di musim hujan. Namanya saja horizontal, komunitas-komunitas ini haruslah menyebarkan kesadaran halal dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui. Program yang mereka besut haruslah kolaboratif dan kokreatif melalui pelibatan dan partisipasi stakeholders. Dan belajar dari sukses hijab, mereka harus mampu menjadikan sadar halal sebagai bagian dari gaya hidup yang keren dan cool. Ingat, cool factor merupakan faktor kunci dalam setiap kampanye pemasaran.

July 4, 2015   4 Comments

Masjidpreneurship

Ide “masjidpreneurship” muncul dari percakapan saya dengan mas Yuli Pujihardi, Direktur Ekekutif Dompet Duafa suatu sore saat kami ngobrol di sebuah mal di bilangan Pejaten, Jakarta. Awalnya ngobrol ngalor-ngidul, tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya kami sampai pada ngomongin seru mengenai potensi masjid sebagai hub untuk pengembangan ekonomi umat. Saya surprise luar biasa, karena apa yang saya pikirkan selama ini mengenai peran strategis masjid ini rupanya nyambung dengan apa yang dipikirkan mas Yuli.

Seperti diketahui, seiring dengan munculnya kelas menengah muslim yang begitu pesat di Indonesia, kini kehidupan masjid kian modern, terbuka, dan inklusif. Seperti saya tulis dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim, masjid kini tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah tapi juga untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat luas. Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, gaya hidup muslim modern, juga pusat kegiatan ekonomi umat.

Cover Econd Edition - Front

Agen Kemakmuran
Pertanyaannya, kok bisa masjid menjadi hub untuk pemberdayaan ekonomi umat? By nature masjid di desa-desa, di kampung-kampung, di komplek-komplek, di kampus-kampus, bahkan masjid-masjid mentereng di kawasan elit ibukota, sesungguhnya adalah sebuah komunitas. Kenapa? Ya, karena masjid memiliki jamaah yang berkumpul secara reguler dan mereka memiliki satu kepentingan yang sama (common interest) untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan Allah. Sebagai sebuah komunitas produktif, seharusnya masjid, takmir, dan jamaahnya bisa menjadi driver bagi pemberdayaan ekonomi di tingkat grass root. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran.

Masjid bisa menjadi hub untuk menjalankan beragam aktivitas ekonomi (value-creating activities) yang memberikan kemanfaatan umat, termasuk di dalamnya aktivitas bisnis dan perdagangan. Dengan menjadi unit ekonomi yang mandiri, maka komunitas masjid akan memiliki segudang kegiatan bermanfaat mulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan, seni-budaya, sosial, atau bisnis yang bermanfaat bagi umat.

Dan alangkah indahnya jika seluruh kegiatan itu dibiayai secara mandiri karena adanya pengeloaan bisnis dan keuangan yang profesional. Harus diingat, dana zakat, infaq, sedekah, wakaf (ZISWAF) dari jamaah merupakan sumber pendanaan mandiri bagi masjid yang potensinya luar biasa. Kalau sumber dana ini bisa digalang dan dikelola secara profesional, maka fungsi masjid sebagai agen kemakmuran bukanlah sekedar mimpi di siang bolong.

Format organisasinya tentu saja bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-making), tapi social enterprise dimana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut saya sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Duafa atau Rumah Zakat. Lembaga-lembaga ini dengan sangat baik melakukan penghimpunan dana (fund raising) dan kemudian menggunakannya untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi umat. Menariknya, keseluruhan aktivitas tersebut dilakukan dengan sangat profesional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh LAZ modern tersebut.

Kewirausahaan
Lalu apa syaratnya agar semua skenario di atas bisa terwujud? Salah satu faktor kuncinya menurut saya adalah bahwa pengurus (takmir) masjid harus memiliki jiwa kewirausahaan yang mumpuni. Mereka harus bisa menggalang potensi dana ZISWAF dari jamaah, mengelolanya secara profesional, dan kemudian menggunakannya untuk membesut beragam program kegiatan untuk memecahkan persoalan-persoalan riil yang dihadapi jamaah dan masyarakat luas di sekitar masjid. Dengan begitu masjid bukannya tercerabut dari persoalan-persoalan aktual masyarakat sekitarnya, tapi menjadi solusi manjur bagi mereka.

Saya optimis dengan konsep masjidpreneurship karena role model-nya sudah ada. Beberapa masjid hebat (nggak mesti besar) dikelola dengan jiwa kewirausahaan yang luar biasa oleh takmirnya. Contohnya adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat profesional terutama dalam pengelolaan bisnis dan keuangan. Menariknya, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid; melainkan dikelola untuk berbisnis. Bisnis itulah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan untuk masyarakat sekitar masjid. Melalui bisnis tersebut, disusunlah program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh lain komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas ekonominya masih tetap terasa dan menjadi role model kewirausahaan masjid yang solid.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, pernah mengungkapkan bahwa jumlah masjid dan mushola di Indonesia saat ini sudah mencapai sekitar satu juta. Saya membayangkan, apabila satu juta masjid tersebut, baik besar-kecil, di kota-desa, dari Sabang sampai Merauke, bisa dikelola dengan spirit dan kemampuan kewirausahaan ampuh seperti halnya di masjid Jogokariyan atau Daarut Tauhid, maka dampaknya bagi perekonomian kita akan luar biasa. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran yang pengaruhnya demikian massif bagi bangsa ini. Pertanyaannya: kapan kita akan mewujudkannya?

 

June 27, 2015   No Comments

Masjid Inklusif

Dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim (kini terbit dalam edisi revisi 2015 dengan tambahan handbook) saya menuliskan bahwa menggeliatnya pasar kelas menengah muslim di Indonesia merupakan bagian dari sebuah perubahan besar dalam kehidupan keislaman di Indonesia. Bahkan saya menyebutnya sebagai kegairahan baru dalam peradaban Islam di Indonesia. Kenapa disebut demikian? Karena perkembangan positif kehidupan keislaman ini terjadi di berbagai bidang kehidupan mulai dari ekonomi dan bisnis, seni dan kebudayaan, pendidikan dan keilmuan, kegiatan dakwah, hingga gaya hidup.

Cover Econd Edition - Front

Salah satu fenomena menarik yang saya amati adalah kehidupan masjid yang kian modern, techy, dan inklusif. Artinya, masjid tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah tapi juga tempat untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat luas. Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, pusat kegiatan ekonomi, bahkan gaya hidup muslim yang kian keren.

Coba saja lihat fenomena-fenomena masjid yang menarik berikut ini. Masjid Salman di jantung kampus ITB Bandung menjadi pusat kegiatan mahasiswa berbagai bidang mulai dari keilmuan, pendidikan, hingga kegiatan sosial. Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru Jakarta memosisikan diri sebagai “mosque for educational and cultural movement” dengan segudang kegiatan sepanjang tahun tak hanya semasa Ramadhan. Masjid Sunda Kelapa menjadi tempat favorit untuk pernikahan dan perdagangan. Masjid Cut Mutia bahkan tiap tahun rutin menyelenggarakan Ramadhan Jazz Festival.

Memang fenomena makin modern dan inklusifnya masjid ini banyak terjadi di kota-kota besar, namun saya melihat kecenderungan ini akan meluas hingga ke berbagai kota di seluruh Tanah Air. Masjid kian dikelola dengan manajemen modern dan kegiatannya meluas mencakup berbagai bidang yang dibutuhkan masyarakat luas. Dengan begitu masjid menjadi kian open-minded, relevan, dan down-to-earth menjawab persoalan-persoalan aktual masyarakat. Masjid kian menawarkan kemanfaatan universal kepada “stakeholders”-nya.

Keilmuan
Di zaman Nabi, masjid bukan hanya digunakan untuk melakukan ibadah mahdhah, tapi juga untuk menyelesaikan masalah keumatan lainnya, terutama pendidikan. Terkait dengan tren revolusi kelas menengah muslim saat ini, peran kajian dan pendidikan ini tak hanya sebatas baca-tulis Al Qur’an, tapi juga kajian dan pendidikan ilmu terkini yang relevan dengan tuntutan kelas menengah muslim yang kian open-mind, modern, dan techy. Kini misalnya, sudah tak aneh lagi masjid dipakai untuk seminar mengenai entrepreneurship dan pemberdayaan ekonomi umat. Atau kursus mengenai pembuatan blog atau strategi online shop… wow!!!

Masjid Salman di Bandung misalnya mengelola pendidikan keislaman dengan pendekatan-pendekatan yang modern. Masjid di jantung kampus ITB ini menggunakan metode yang terstruktur dan fokus agar kegiatan pendidikan dan keilmuan yang dibesutnya tepat menyasar ke target audiens yang dituju. Di masjid ini misalnya, terdapat program PAS (Pembinaan Anak Salman) khusus untuk segmen balita. Untuk kelompok usia sekolah SMP-SMA, ada KARISMA (Keluarga Remaja Islam Masjid) Salman. Sedangkan untuk pemuda/pemudi mahasiswa ada program Asrama Salman yang selain memberikan beasiswa tempat tinggal juga secara rutin memberikan bimbingan kepada para pesertanya. Untuk pemuda/pemudi yang lebih dewasa, ada program SPN (Sekolah Pra-Nikah) sebagai media persiapan untuk mereka yang akan menikah.

Di kebanyakan masjid, kurikulum utamanya adalah pelajaran membaca Qur’an, bahasa Arab dan materi-materi lain seperti fikih agama Islam, sejarah Islam, dan lain-lain. Namun di Masjid Salman tak hanya cukup di situ. Seringkali masjid kebanggaan kampus ITB ini mengadakan kajian-kajian terkini yang relevan dengan kehidupan umat Islam, semisal kajian mengenai internet, parenting di era modern, hingga pengaruh media terhadap keluarga.

Kewirausahaan
Di samping pusat edukasi dan pembentukan karakter, masjid juga menjadi pusat kegiatan ekonomi umat. Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah salah satu contohnya. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kawasan ini ramai dikunjungi para santri yang ingin menimba ilmu dan mendapatkan pencerahan dari si dai kondang. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas ekonominya masih tetap menggeliat hingga saat ini.

Beberapa waktu lalu saya diundang ustadz Valentino Dinsi untuk sharing mengenai Marketing to the Middle Class Muslim bertempat di Masjid Raya Al Azhar, Cakung di depan anggota Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW). Ustadz Valentino adalah pendiri komunitas MTW yang bermisi mulia mendorong kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi umat. Ia menggelar beragam program keren seperti: Program Santri Preneur, Teacher Preneur, Student Preneur, Hijab Preneur, Konsultasi Bisnis, Kampanye Gerakan Satu Keluarga Satu Pengusaha, dan lain-lain. Menariknya, sebagian besar program tersebut dibesut di masjid, seperti masjid Al Azhar dan masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

Dengan mengusung konsep kemandirian dan kewirausahaan, DT dan MTW menjadi model baru kegiatan masjid yang inklusif dan mengusung prinsip-prinsip kemanfaatan universal. Pola pengelolaan masjid yang inklusif ini kemudian menjadi model yang diikuti oleh masjid di seluruh Indonesia.

Keren di Mal
Masjid kian inklusif ketika ia kini makin banyak hadir di mal-mal mentereng. Kita tahu, kini mal sudah menjadi pusat kegiatan seluruh lapisan masyarakat. Praktis semua aktivitas kini dilakukan di mal, mulai dari belanja, jalan-jalan dan rekreasi keluarga, menonton bioskop, meeting dengan rekan kerja, arisan ibu-ibu, konser musik, reuni dengan teman lama, seminar, hingga pameran seni. Dan yang menarik, masjid-masjid di mal ini tak cuma hadir seadanya (misalnya nyempil di basement atau areal parkir nan panas dan pengap), tapi berdiri megah nan kinclong.

Coba saja Anda ke mal Pasaraya Grande di bilangan Melawai. Di lantai 5 mal tersebut terdapat Masjid ALatief yang keren abis. Interiornya impresif, karpetnya mewah, tempat wudlunya bersih-bersinar, dan yang istimewa adalah ornamen langit-langitnya yang artistik. Masjid ALatief tak cuma bermodal gedung mentereng, tapi juga segudang kegiatan pendidikan agama maupun umum yang terprogram rapi. Pasaraya tak sendiri, mal-mal kelas satu di Jakarta Pacific Place, Plaza Indonesia, Mal Kelapa Gading, atau Senayan City memiliki masjid yang keren abis.

Ketika mal menjadi keseharian kalangan kelas menengah muslim, wajar saja ketika mereka menghendaki masjid yang nyaman di mal. Jeda sejenak demi shalat lima waktu untuk kemudian melanjutkan aktivitas menghabiskan waktu di mal. Pengunjung mal yang dimanjakan dengan masjid yang nyaman berarti memperbesar kesempatan bagi mereka untuk betah berlama-lama di mal. Dengan adanya tuntutan ini, tak heran jika kini mulai banyak mal yang ramah Islam.

 

June 20, 2015   2 Comments

#C3000 dan Value Innovation

Kamis, 11 Juni lalu Middle Class Institute (MCI) sebuah lembaga think tank yang dibentuk oleh Inventure bersama majalah SWA menggelar Indonesia Middle Class Forum (MCF) untuk keempat kalinya. Temanya tahun ini adalah: “Value Innovator: How Smart Brands Win the Middle Class Consumers”. Kajian MCI menyimpulkan bahwa fenomena revolusi konsumen kelas menengah (saya sering menyebutnya “Consumer 3000”) di Indonesia telah memaksa pemain melakukan inovasi nilai (value innovation). Value innovation adalah terminologi yang diperkenalkan Prof. Chan Kim dari INSEAD dimana pemain mampu mendongkrak manfaat (benefit), namun secara bersamaan ia juga mampu menurunkan biaya (customer’s cost).

Seperti sering saya ungkapkan, konsumen kelas menengah Indonesia memiliki tiga karakteristik penting. Pertama, mereka memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, mereka pintar (more knowledgeable) dan berwawasan luas karena begitu mudahnya mengakses informasi. Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (socially-connected). Dari tiga ciri tersebut, aspek knowledgeability memiliki pengaruh paling istimewa dan secara mendasar mengubah perilaku belanja dan konsumsi mereka.

Seiring meningkatnya pendidikan, pengetahuan, dan wawasan, mereka menjadi semakin value-demanding alias kian menuntut value setinggi langit. Artinya mereka semakin meminta manfaat (benefit) setinggi mungkin, dan harga (customer’s cost) serendah mungkin. Gampangnya, mereka minta barang dengan kualitas setinggi mungkin, dengan harga semurah mungkin. Itu sebabnya saya sebut konsumen kelas menengah sebagai hyper-smart customer.

Logo MCI

Value Demanding
Pertanyaannya, kenapa mereka demikian value demanding? Ya, ketika mereka kian knowledgeable, maka kebutuhan mereka merangkak semakin canggih (sophisticated) dari kebutuhan dasar (sandang-pangan-papan) ke kebutuhan yang lebih tinggi seperti hiburan, kepemilikan gadget, kesehatan/kebugaran, kenyamanan (convenience), hingga aktualisasi diri. Ekspektasi mereka pun terkerek naik dengan terjadinya sofitifikasi kebutuhan tersebut. Dan kebutuhan akan barang berkualitas (high-quality product) dan merek-merek global (global brand) semakin tinggi. Ini terjadi seiring dengan semakin terdongkraknya daya beli terhadap produk-produk advance tersebut.

Di sisi lain mereka semakin gampang dan terbuka dalam mengakses informasi mengenai produk dari manapun di seluruh dunia. Melalui internet misalnya, mereka begitu gampang mengetahui produk-produk dengan kualitas terbaik di dunia (world’s best). Melalui grup WA, media sosial, forum online, blogger review, atau customer rating mereka begitu mudah memperbandingkan fitur satu produk dengan yang lainnya. Berdasarkan perbandingan itu, dengan mudah mereka menetapkan dan memilih produk dengan value tertinggi. Mereka sangat kritis ketika mengevaluasi produk.

Dalam kondisi konsumen yang semakin value-demanding, tak bisa tidak produsen harus mampu menghasilkan produk dengan nilai tinggi (hyper-value product). Tak heran jika seiring dengan terjadinya revolusi konsumen kelas menengah Indonesia 5 tahun terakhir, produsen berlomba-lomba menciptakan inovasi nilai. Dalam konteks konsumen kelas menengah di Indonesia, inovasi nilai ini memungkinkan produk dan layanan mahal yang sebelumnya tidak terjangkau, kini menjadi lebih terjangkau. Saya menyebutnya fenomena “mass luxury”.

Inovasi Nilai
Beberapa produk berhasil melakukan terobosan value proposition, perubahan model bisnis, bahkan perombakan aturan main industri yang telah mapan bertahun-tahun sebelumnya melalui konsep inovasi nilai ini. Sebut saja IKEA. IKEA demikian populer dan langsung masuk ke hati konsumen kelas menengah Jakarta karena hadir dengan terobosan nilai. Model bisnis IKEA yang sudah teruji di seluruh dunia menghasilkan manfaat sangat tinggi (product quality, convenience, simplicity, lifestyle), sekaligus customer’s cost seminim mungkin. Bagaimana IKEA bisa menekan customer’s cost? Ini letak inovasi nilainya. Caranya, IKEA menerapkan konsep gerai sebagai gudang sehingga murah dan praktis. IKEA juga merancang produknya bisa dirakit sendiri oleh konsumen sehingga memangkas biaya pemasangan. Inovasi nilai IKEA memunculkan fenomena mass luxury di industri furnitur kualitas tinggi.

Hotel Amaris menjadi demikian sukses masuk di hati konsumen kelas menengah dengan melakukan inovasi nilai yang menghasilkan value package yang pas. Seiring maraknya kebutuhan kelas menengah akan leisure penghilang stres, Amaris menghasilkan nilai yang sangat tinggi dengan cara memangkas fasilitas-fasilitas yang tak menjadi prioritas bagi segmen yang dibidiknya seperti: fasilitas kolam renang, gym, restoran, kamar yang besar dan mewah, atau breakfast yang mahal. Hasilnya, Amaris bisa mewujudkan nilai yang sangat tinggi bagi konsumennya berupa convenience, kepraktisan, dan tentu harga yang terjangkau. Konsep inovasi nilai seperti Amaris ini juga diakukan pemain seperti AirAsia di bisnis penerbangan. Dengan inovasi nilainya Amaris dan AirAsia memicu fenomena mass luxury di industri hotel dan penerbangan.

7-Eleven merevolusi industri ritel dengan konsep inovasi nilai di segmen remaja ABG (anak baru gedhe). Saya sering mengatakan bahwa 7-Eleven itu kelas menengah banget. Kenapa? Karena knowledgable consumer seperti kelas menengah selalu mencari value tertinggi dari produk-produk yang mereka beli dan secara pas 7-Eleven memenuhinya. Keju cair gratis, minuman branded Rp 9.000 (wow… Starbuck Rp 30.000-an), Hot Dog Rp 18.000, nongkrong bisa seharian, yang lagi kerja colokan listrik dan WiFi tak terbatas, dan yang tak kalah penting identitas anak gaul dan imej global dapat. “Mana ada tempat lain yang kasih keju cair gratis,” begitu kata seorang konsumen mahasiswa yang saya ajak ngobrol. Dengan konsep inovasi nilai ini 7-Eleven menjadi mass luxury dan menghindari persaingan head-to-head dengan Indomaret atau Alfamart karena memberikan value proposition yang berbeda.

Banyak contoh lain inovasi nilai dilakukan pemain untuk merespon konsumen kelas menengah yang value demanding. D’Cost mengusung konsep “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima di bisnis makanan. Google mengeluarkan Android One, ponsel handal dengan harga terjangkau. Pemain seperti Advan memasarkan tablet bagus dengan harga terjangkau. Dan jangan lupa, fenomena Pasar Santa dan street food di Jakarta, maraknya gerai online (OXL, Lazada, Bukalapak, dll), atau menjamurnya agen perjalanan online (Traveloka, Ticket.com, Pegi Pegi, dll), tak lain adalah terobosan-terobosan inovasi nilai yang menghasilkan nilai tinggi bagi konsumen. Semua fenomena inovasi nilai ini massif terjadi lima tahun terakhir seiring terjadinya revolusi konsumen kelas menengah di Indonesia.

June 13, 2015   1 Comment

#KelasInspirasi @ Dapur Inaco

Salah satu core strategy Inaco sebagai market leader produk nata de coco adala mengedukasi konsumen Indonesia untuk mengonsumsi makanan sehat berserat, khususnya nata de coco. Karena itu Inaco meluncurkan program Dapur Inaco sebagai sebuah hub bagi para UKMers yang ingin berbisnis kuliner berbahan dasar nata de coco. Inaco mencoba berkolaborasi dan memfasilitasi UKMers yang ingin mengembangkan produk-produk berbasis nata de coco. Siapa UKMers yang berminat berkolaborasi dengan Inaco? Yuuuk manfaatkan kesempatan emas ini.

Inaco

Yuk datang di #KelasInspirasi Komunitas Memberi (www.memberi.org) ke Dapur Inaco pada:

Waktu: Senin, 15 Juni 2015, pukul 14.00 – selesai
Tempat: Dapur Inaco, Jl. Raya Bekasi Tambun, KM 39,5, Bekasi.
Tema: Berbisnis Kuliner dengan Nata De Coco”
Pembicara: Erijanto, owner Inaco Food

Ayuk temen-temen UKMers khususnya yang bergerak di bidang makanan/minuman, manfaatkan sesi sharing+networking ini. Siapa tahu mendatangkan peluang SEGUDANG!!!

Gratis!!! Terbatas untuk 50 peserta. Daftar via WA: 0856 3415 649

June 12, 2015   No Comments