E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

#KelasInspirasi & Bukber Memberi: “Gen M”

Kalau selama ini kita mengenal Gen X, Gen Y, atau Gen Z, maka saya memperkenalkan generasi baru konsumen muslim yang hanya ada di Indonesia yang saya beri nama Gen M atau #GenerationMuslim.

Inilah generasi baru konsumen muslim yang bakal mendominasi jagad pemasaran di Indonesia. Mereka knowledgeable-modern, digital savvy, socially-connected, universalist-global minded, dan jangan lupa mereka juga konsumtif. Dengan daya beli yang tinggi dan pola konsumsi yang advanced, mereka akan menjadi segmen yang lukratif dan profitable.

#KelasInspirasi Gen M

Mereka lahir di akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an dan mengalami perubahan sosial-politik yang sangat kritikal dalam sejarah perkembangan umat Islam di negeri ini. Perubahan-perubahan itu antara lain masa bulan madu Orde Baru dan Islam, kemunculan Islam intelektual (ICMI), kejatuhan Soeharto/krisis moneter, kebebasan berekspresi keagamaan di era Gus Dur, peristiwa 9/11 dan fenomena Al Qaeda/ISIS, kebebasan pers, hingga revolusi digital dan media sosial.

Berbagai formative experience itulah yang membentuk nilai-nilai dan perilaku Gen M. Mereka menjadi muslim yang inklusif dan adaptif. Mereka adalah kaum universalist yang menempatkan kebaikan Islam sebagai universal goodness (rahmatan lil alamin). Dan mereka sangat aktif mengikuti kemajuan dunia Barat yang positif seperti teknologi, demokrasi, hingga budaya pop yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.

Sebagai konsumen mereka memiliki high buying power, high consumption, dan high demanding. Mereka adalah universal-benefit seeker yang memadukan ketaatan pada ajaran Islam dan kemanfaatan universal. Dengan kekuatan pasar yang dimilikinya, setiap marketer tak mungkin mengabaikan mereka.

Pastinya nggak sabar ingin mengetahui “mahluk” apa gerangan konsumen generasi baru bernama Gen M ini. Yuswohady akan berbagi bocoran isi buku terbarunya berjudul Gen M: The Indonesia’s Hottest Consumers (Bentang, 2016) yang baru meluncur di pasar Agustus 2016. Ikuti kupasan ringannya di acara Bukber Komunitas Memberi pada:

Hari/tanggal : Kamis, 23 Juni 2016, Pukul 16.00 – 19.00 WIB
Tempat : Graha Memberi, Jl. Waru 24, Rawamangun, Jakarta Timur
Tema : Gen M: “Insights and Strategies”
Narasumber : Yuswohady

Sambil belajar dan berbagi ilmu, nanti para Memberians bisa berakrab-akraban dan kangen-kangenan di buan yang penuh rahmat ini. Yuk hadir Gratis.. tis..tis.

Untuk hadir temen-temen Memberians daftar dulu ya ke: Lia 0857 8087 9897

June 21, 2016   No Comments

Bukber

Bukber alias buka bersama kini menjadi begitu istimewa, begitu cool, begitu fun, dan begitu penuh warna. Di mal-mal, di kantor-kantor, di restoran-restoran, bukber menjadi acara selebrasi yang paling menghebohkan selama bulan puasa ini.

Di bulan suci, acara dan accassion apapun kalau bisa dijadikan bukber. Kumpul-kumpul seluruh kerabat keluarga dijadikan bukber. Reuni SMA dijadikan bukber. Kumpul teman-teman kantor dijadikan bukber. Kopdar komunitas dijadikan bukber. Acara bedah buku dijadikan bukber. Press conference sebuah event dijadikan bukber. Seminar dan workshop dijadikan bukber. Launching produk dijadikan bukber. Pokoknya apapun.

Tak heran jika sedari pukul 3 sore jalanan di Jakarta sudah pada macet. Mobil-mobil menyemut menuju ke mal-mal atau restoran-restoran di pusat kota karena si empunya bergegas hendak berbukber-ria. Begitu adzan magrib berkumandang, gantian jalanan menjadi sepi karena mereka sudah berjubel di mal-mal dan restoran-restoran siap “merayakan” bukber.

Bukber

Koneksi Sosial
Itulah fenomena kaum muslim kekinian. Bukber yang dulu pada masa kecil saya penuh diwarnai kekhitmatan, kesederhanaan, dan kesahajaan, kini telah tersulap menjadi sebuah momen selebrasi dan sosialisasi yang penuh gebyar.

Coba saja datang ke mal-mal di Jakarta saat waktu buka tiba, kita akan mendapati begitu banyak kerumunan orang makan bersama, bercerita-cerita, tertawa-tertawa, tak ketinggalan ber-selfie dan ber-wefie ria. Seru luar biasa, tak beda dengan pesta ulang tahun atau pesta naik jabatan.

Di kalangan kaum muslim urban, bukber menjadi ajang untuk berkoneksi sosial dengan kerabat, teman sejawat, partner bisnis, hingga teman lama satu SMA. Tidak buruk juga, karena bukber bisa menjadi media silaturahmi dan “perekat sosial” yang meneduhkan. Bukber bisa menjadi “alasan” untuk menyambungkan lagi tali silaturahmi yang putus atau tak baik selama setahun sebelumnya.

Yang menarik, bukber bisa diterjemahkan ke dalam konteks kekinian sehingga menjadi lebih modern, lebih hidup, dan bisa menjadi bagian dari gaya hidup urban saat ini. Dengan begitu gaya hidup muslim akan terus relevan dan tak bakal ketinggalan jaman. Inilah barangkali uniknya Islam Indonesia yang inklusif, modern-universal, dan adaptif.

Balas Dendam
Berbicara bukber saya jadi ingat pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman minggu lalu. Pasalnya sang menteri terheran-heran kenapa harga pangan selalu melonjak di bulan puasa-lebaran. Di bulan Ramadhan, di kala konsumsi seharusnya turun, kenyataannya justru melonjak gila-gilaan. Harga komoditas pangan di pasar meningkat tajam seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

“Padahal kita puasa kan, pagi sampai sore menahan makan-minum, kemudian nafsu semua ditahan. Tapi ini nafsu membelinya meningkat, kok ada anomali,” ujar pak menteri. Menurut menteri konsumsi selama bulan puasa bisa mencapai dua kali lipat lebih besar dari bulan-bulan biasa.

Mendengar pernyataan tersebut saya jadi berpikir, “Jangan-jangan fenomena bukber gaya baru di atas merupakan biang keheranan pak menteri?” Bisa jadi massifnya acara bukber di mal-mal atau restoran-restoran menjadi pengungkit membengkaknya konsumsi kaum muslim kita.

Aneh memang, dari pagi hingga magrib kita puasa, tidak makan dan minum. Itu artinya kesempatan waktu konsumsi kita menjadi lebih sedikit, yaitu dari setelah magrib hingga malam dan waktu sahur. Nah, kalau benar pernyataan pak menteri bahwa konsumsi di bulan puasa naik hingga dua kali lipat, itu berarti konsumsi berlebih kita lakukan terpusat di saat-saat bukber.

Sambil terheran-heran seperti halnya pak menteri, saya pun kemudian bergumam: “Bisa jadi kini bukber telah menjadi alat balas dendam kita?

Seharian berpuasa kita berlapar-ria, begitu saat bukber tiba kita lampiaskan balas dendam kita dengan makan sebanyak-banyaknya, seenak-enaknya, dan semahal-mahalnya. Upsss!!!

 

June 18, 2016   No Comments

Disrupt Yourself or Someone Else Will

Saya baru menyelesaikan riset dan penulisan buku DISRUPT! “Gonjang Industri Komunikasi dan Strategi Memenangkannya” (Gramedia, 2016). Buku yang ditulis bersama Maya Watono dan Adji Watono, pemilk Dwi Sapta agensi komunikasi lokal terbesar di tanaha air, itu membahas disrupsi yang terjadi di industri agensi komunikasi (periklanan) kita selama 10 tahun terakhir.

Seperti kita tahu, selama 10 tahun terakhir banyak agensi periklanan di tanah air terkena gelombang empat disrupsi: disrupsi model bisnis, disrupsi media, disrupsi digital, disrupsi konsumen. Biayanya sangat besar karena begitu banyak pemain yang kolaps bahkan mati berguguran terdsrupsi oleh pemain-pemain lama maupun baru yang lebih relevan dengan kondisi “new normal” pasca disrupsi. Harap diketahui, berkat disrupsi tersebut industri periklanan kita saat ini telah didominasi oleh raksasa-raksasa asing seperti WPP, Havas, atau Dentsu.

Disrupt Book Cover

Dari kasus disrupsi yang tejadi di industri periklanan tersebut saya jadi berpikir pentingnya kita mendisrupsi perusahaan atau organisasi kita sebelum orang lain melakukannya. “Disrupt yourself or someone else will”

Dari buku tersebut saya kepikiran, kita harus selalu paranoid dan gelisah untuk mendisrupsi diri sendiri. Itu lebih baik daripada orang lain yang melakukannya.

So, bagaimana untuk melakukannya? Inilah bebeapa pelajaran berharga yang saya dapat selama melakukan riset dan menulis buku tersebut.

#1. Don’t Ignore the Signals
Ketika mendapati sinyal-sinyal disrupsi muncul, maka Anda tak boleh mengabaikannya. Anda harus super serius memikirkannya dimanapun dan kapanpun. Sinyal disrupsi adalah pucuk gunung es kecil di tengah laut luas, sementara sumber disrupsi adalah bongkahan es raksasa yang jutru ada di laut dalam. Nah, ketika sinyal disrupsi datang Anda harus menelusur jauh untuk mengurai dan mencari sumber musababnya.

Dengan mengurai sumber disrupsi maka Anda akan lebih tajam mengenali bagaimana disrupsi terjadi, dan kemudian menemukan model bisnis baru untuk menjinakkannya.

Sinyal-sinyal disrupsi di industri agensi komunikasi antara lain terlihat dari adanya perang harga antar agensi yang kemudian menggerus profit. Sinyal disrupsi juga terlihat dari munculnya latent competitors seperti Google atau Facebook yang cerdik mencuri pasar. Begitu juga munculnya platform baru seperti programatic buying yang menggunakan robot (algoritma) dalam proses belanja media. Ingat, radar harus Anda pasang untuk menangkap sinyal-sinyal halus tersebut.

#2. Break with the Past
Anda harus pintar-pintar “mengambil jarak” dengan segudang kesuksesan Anda di masa lalu. Kesuksesan di masa lalu membuat kita mabuk kepayang dan terlena. Kesuksesan masa lalu membuat kita merasa menjadi paling hebat dan paling benar. Kesuksesan masa lalu membuat kita gampang tersinggung ketika diingatkan dan dikritik.

Dan yang paling parah, kesuksesan masa lalu membuat kita susah mengadopsi paradigma baru. Kita begitu sulit meninggalkan paradigma lama atau model bisnis lama karena itulah yang membikin kita sukses di masa-masa sebelumnya. Begitu sinyal-sinyal disrupsi muncul, Anda harus berani “memutus hubungan” dengan masa lalu Anda yang gilang-gemilang.

#3. Yes We Can!!!
Disrupsi selalu menghasilkan paradigma dan model bisnis baru yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Karena itu jangan sampai Anda mem-blok pikiran Anda dengan mengatakan “Kami tidak bisa karena itu di luar bidang kemampuan kami” atau “Kami tak mungkin bisa karena itu tak ada hubungan dengan bisnis yang selama ini kami tekuni”.

Ambil contoh operator taksi yang didisrupsi perusahaan teknologi seperti Uber atau Grab. Tidak bisa mereka menyangkal dengan mengatakan, “kami tidak bisa karena kompetensi kami adalah mengelola armada taksi, bukan membuat aplikasi”. Disrupsi tak bisa dijinakkan dengan jawaban “kami tidak bisa”. Disrupsi hanya bisa dimenangkan dengan jawaban “Kami harus bisa!!!”

#4. Destroy the Core
Ini yang paling menyakitkan. Ketika sinyal-sinyal disrupsi muncul, maka Anda harus berani menghancurkan core model bisnis Anda yang bakal tak relevan lagi, dan kemudian menggantikannya dengan yang sama sekali baru. Inilah pilihan tersulit karena di masa lampau model bisnis tersebut sangat berjasa membesarkan Anda, dan kini dengan begitu kejam harus Anda bunuh.

Berbicara membunuh model bisnis lama, pernyataan Sir Martin Sorrel (CEO WPP, agensi periklanan terbesar di dunia) beberapa waktu lalu menjadi sangat pas. Bulan Mei lalu Sorrell mengatakan: “We’re not in the advertising business anymore.” Pernyataan itu seperti sambaran petir karena diucapkan oleh CEO agensi periklanan terbesar di dunia saat ini.

Melalui pernyataannya yang kontroversial Sorrel mengajak seluruh insan WPP untuk meninggalkan model bisnis lama yang telah usang dan masuk ke yang baru. Sorrel merusak model bisnis lama yang tak relevan lagi dan menciptakan model bisnis baru yang bakal menjadi pilar kesuksesan di masa depan.

#5. Reborn! Don’t be Affraid to Reinvent Yourself
Terakhir, jangan pernah takut untuk terlahir kembali. Temukan bisnis Anda kembali di atas fondasi model bisnis yang baru, yang mungkin sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Jadilah seperti ular yang bisa terus mlungsungi untuk memperbarui diri.

Disrupsi kini telah menjadi keseharian kita. Kita tak mungkin lagi lari menghindarinya. Maka pilihannya cuma ada satu: “Disrupt yourself or someone else will.”

June 11, 2016   No Comments

Dengan Digital, Mengubah Dunia

When we change the way we communicate, we change society

Ketika kita mampu mengubah bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan sesama masyarakat maupun dengan pemimpinnya, maka transformasi luar biasa bakal tak terhindarkan.

Ungkapan Clay Shirky, pakar internet, dalam Here Comes Everybody (2008) itu begitu mengena begitu kita kaitkan dengan sepak terjang lima orang hebat penerima Anugerah Telkomsel 2016. Mereka adalah Kertamalip, Rama Raditya, Ainun Najib, Nadiem Makarim,dan Ahmad Zacky.

Ketika masyarakat terkoneksi satu sama lain dan berkomunikasi intens melalui platform digital seperti blog atau Facebook, maka energi positif meluap-luap pun begitu mudah terbebaskan. Mereka menjadi masyarakat yang terlibat, peduli, partisipatif, bertanggung jawab, dan selalu tergerak untuk berkontribusi dan mengubah dunia.

Itulah yang dilakukan Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo di kaki gunung Rinjani Nusa Tenggara Timur. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) gampang dan murah seperti blog dan media sosial Kertamalip mampu menggerakkan warganya untuk berpatisipasi aktif membangun desa.

Ia menjadikan warganya melek internet, dan kemudian menggunakan internet untuk mendorong partisipasi masyarakat, menciptakan transparansi, menghilangkan sumbat-sumbat birokrasi, memperbaiki layanan publik, dan membangun good governance.

Namun di atas itu semua, sumbangsih paripurna sang kepala desa adalah mengedukasi masyarakat untuk berdaya. Mendorong warganya untuk peduli, terlibat, bertanggung jawab dan aktif berkontribusi bagi kemajuan desanya. Singkatnya, Kertamalip telah melakukan Revolusi Mental yang diimpikan Jokowi, bukan dengan penataran P4, tapi dengan blog dan Facebook.

Anugerah Telkomsel 2016

Connecting Citizens
Kertamalip tidak sendiri. Sekumpulan anak muda milenial tergerak hatinya mengabdi di ranah publik memberikan yang terbaik untuk bangsanya dengan memanfaatkan platform digital sebagai enabler. Dua di antaranya adalah Rama Raditya dan Ainun Najib.

Rama Raditya menciptakan aplikasi digital Qlue untuk menghubungkan aspirasi masyarakat sipil dengan pejabat publik. Dengan aplikasi tersebut masyarakat dapat melaporkan keluhannya mengenai tumpukan sampah, kemacetan, atau pungutan liar secara langsung. Dengan aplikasi ini, para pejabat publik berlomba-lomba bekerja lebih baik dengan cara menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat yang disalurkan lewat aplikasi ini.

Sementara Ainun Najib menciptkan situs kawalpemilu.org untuk mengawal rekapitulasi suara pemilihan umum di Tanah Air. Dengan pendekatan crowdsourcing Najib menggalang para relawan melalui jejaring media sosial. Melalui situsnya, Najib menggerakkan para relawan ini untuk membantu proses pemasukan data rekapitulasi pemilu. Hasil input data inilah yang menjadi sumber informasi yang bisa dipantau masyaakat melalui situs kawalpemilu.org.

Seperti dipraktekan Rama dan Najib, platform digital seperti blog dan aplikasi mobile telah menjadi alat transformasi sosial yang mampu menciptakan perubahan berarti dalam tata kelola pemerintahan. Dengan platform digital mereka telah membuka saluran-saluran komunikasi antara warganegara dengan aparat pemerintah yang selama ini mampet sekaligus mendorong transparansi.

Apa yang dilakukan Kertamalip, Rama, dan Najib merupakan inspirasi luar biasa bagi setiap pemimpin publik dari kepala desa hingga presiden, bahwa platform digital bisa menjadi disruptive tools yang berpotensi merevolusi efektivitas dan produktivitas pengelolaan sektor publik.

Tanpa banyak pidato dan himbauan, secara kongkrit mereka telah memberi alternatif solusi bagi persoalan masyarakat di depan mata. Mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa teknologi digital merupakan alat revolusi sosial yang impactful.

Business Enabler
Kalau Kertamalip, Rama, dan Najib berkiprah di sektor publik, maka Nadiem Makarim dan Ahmad Zacky memberikan sumbangsih tak kecil di ranah bisnis. Peran teknologi digital sebagai business enabler begitu substansial dalam memotong biaya transaksi (transaction costs), mendorong efisiensi dan produktivitas, menjangkau pasar, menciptakan engagement dengan konsumen, hingga berbagi sumber daya.

Nadiem dan Zacky memanfaatkan keunggulan digital secara cantik tak hanya untuk kemanfaatan bisnis mereka semata, tapi juga untuk masyarakat dan bangsa. Platform digital yang mereka tawarkan tak hanya menjawab persoalan bisnis yang mereka hadapi, tapi sekaligus menjadi solusi sosial berupa pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah dan pelaku usaha kecil-menengah.

Apa yang dilakukan Nadiem sangat revolusioner, menciptakan sebuah aplikasi digital Gojek yang menghubungkan masyarakat dengan layanan ojek yang super efisien dan bebas repot. Layanannya tak cuma transportasi orang tapi melebar pengiriman makanan, dokumen, belanja, bahkan jasa pijat.

Dengan platform berbagi (sharing platform) maka kedua belah pihak baik konsumen maupun tukang ojek diuntungkan. Konsumen mendapatkan kepastian harga dan kemudahan pemesanan. Sementara di sisi lain pendapatan tukang ojek terdongkrak hingga lebih dari 50%. Tak bisa disangkal, platform yang dirintis Nadiem sekaligus merupakan solusi sosial bagi problem pengangguran yang demikian akut di negeri ini.

Kontribusi Ahmad Zacky tak kalah bernilai. Ia membuka bukalapak.com, sebuah platform jual beli online yang menampung para pelaku usaha kecil-menengah (UKM). Yang menarik, apa yang dilakukan Zacky adalah beyond business, tak melulu bermotif bisnis. Ia menggunakan bukalapak.com sebagai platform untuk mengedukasi, memberdayakan, dan menaikkan kelas UKM sehingga cukup powerful untuk menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Apa yang dilakukan Nadiem dan Zacky sangat bermakna karena dengan platform berbagi mereka menciptakan inovasi bisnis untuk menghasilkan extraordinary value ke konsumen. Tapi tak hanya itu, mereka juga menciptakan inovasi sosial dengan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di lingkungannya.

Dengan platform berbagi yang diciptakan, mereka membuka seluas-luasnya kesempatan berusaha di kalangan individu (individual entrepreneur) dan wirausaha kecil-menengah (micro entrepreneur) yang berpotensi mengurangi pengangguran dan mewujudkan pemerataan kemakmuran. Lebih luas lagi, mereka juga berkontribusi membangkitkan social capital dengan mengembangkan lapis masyarakat wirausaha yang berpikiran positif, produktif, dan selalu mencipta nilai.

Apapun cara dan hasilnya, ada yang sama dari apa yang dilakukan Kertamalip, Rama Raditya, Najib, Nadiem, dan Zacky. Mereka semua menggunakan keajaiban digital untuk mengubah dunia. Bangsa ini membutuhkan ribuan bahkan jutaan orang seperti mereka.

 

*Dimuat di KompasKlass edisi 1 Juni 2016

June 5, 2016   No Comments

DISRUPT!

The age of disruption. Itu barangkali ungkapan paling pas untuk menggambarkan masa yang kita alami saat ini.

Kodak yang perkasa ratusan tahun luluh-lantak oleh “mainan anak-anak” bernama Instagram. Operator telko yang menggurita begitu mudah “ditelikung” oleh layanan startup OTT (over the top) seperti WA atau Skype. Legenda-legenda hotel seperti Hyatt atau Hilton begitu mudah ditaklukkan oleh platform berbagi seperti AirBnB.

Korporasi-korporasi incumbent di seluruh dunia kini sedang berdebar-debar menghadapi kenyataan pahit didisrupsi oleh startup serumur jagung yang bergentayangan layaknya malaikat pencabut nyawa.

Nah, saya punya kasus menarik mengenai kasus dirupsi di industri agensi komunikasi (sering juga disebut biro iklan atau agensi periklanan) yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir di tanah air. Kasus itu saya tuliskan dalam buku saya terbaru berjudul DISRUPT! “Gonjang Industri Komunikasi dan Strategi Memenangkannya” (Gramedia, 2016).

Buku itu ditulis bersama Pak Adji Watono dan Maya Watono, pemilik Dwi Sapta Group, salah satu agensi komunikasi yang sukses melewati disrupsi di atas.

Disrupt Book Cover

Pesta Telah Usai
Kita tahu bersama, selama 10 tahun terakhir banyak agensi periklanan di tanah air rontok oleh adanya disrupsi. Selalu saja, disrupsi menciptakan struktur industri yang baru. Disrupsi membentuk peta persaingan baru. Dan jangan lupa, disrupsi juga menghasilkan pemain-pemain baru: baik the winners maupun the losers.

Masa jaya agensi komunikasi dengan fee mencapai 17% telah lewat. Komoditisasi dan fragmentasi yang menerpa industri ini memicu perang harga yang memangkas agency fee ke titik terendah mendekati nol. Pesta telah usai.

Disrupsi itu menghasilkan new normal dimana agensi-agensi multinasional mendominasi pasar dengan otot finansial praktis tanpa batas. Sebaliknya agensi lokal megap-megap, menjadi agensi liliput, bahkan banyak yang musnah ditelan bumi. Di industri ini pemain lokal sudah tak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Revolusi digital memperparah lanskap media dengan terciptanya kanal-kanal baru berbasis digital baik paid, owned, ataupun earned media. Pola interaksinya pun bergeser dari komunikasi satu arah (one-way) ke dua arah (two-way); dari broadcasting ke engagement; dan dari “one to many” ke “many to many”.

Teknologi digital juga memicu demokratisasi media dimana pemilik merek bisa memiliki medianya sendiri. “Now Every company is a media company,” ujar Tom Foremski seorang guru media. Setiap perusahaan kini bisa memiliki media, mencipta (create), dan mengurasi (curate) konten sendiri untuk para audiensnya.

Tak heran jika kini kanal-kanal digital mulai meramaikan kancah persaingan dan mulai mengambil kue pasar media. Tapi sekali lagi, dominasi pemain global terutama Google dan Facebook tak mungkin bisa dibendung.

Memang TV masih tetap perkasa dengan penetrasi lebih dari 90%, namun dengan tren pertumbuhannya yang luar biasa semua pemain mengakui bahwa masa depan komunikasi pemasaran di tangan media digital. It’s a matter of time.

Wake-up Call
Celakanya, disrupsi 10 tahun terakhir itu rupanya baru pemanasan. Karena kini pakar dan pemain sudah samar-samar melihat datangnya disrupsi jilid dua. Yang paling menohok adalah peringatan Sir Martin Sorrell, CEO WPP, yang mengatakan: “We’re not in the advertising business anymore.”

Pernyataan itu seperti sambaran petir karena diucapkan oleh CEO agensi periklanan terbesar di dunia saat ini. Ungkapan itu adalah cermin bahwa industri periklanan kebingungan menjawab pertanyaan dasar: “What the business are we in?”

Ucapan Sorrell adalah wake-up call bagi setiap insan periklanan. Komoditisasi/fragmentasi yang memicu price war, otomasi (melalui programatic buying) yang menggusur peran agensi sebagai middleman, dan lahirnya platform “many-to-many” yang menciptakan horisontality, mengubah wajah industri ini ke depan.

Nyawa agensi komunikasi bukan lagi kreativitas seperti yang kita temukan pada agensi periklanan tradisional. Nyawa agensi komunikasi ditentukan oleh data dan teknologi. Itu sebabnya pemain di industri ini lebih takut bersaing dengan Google atau Facebook ketimbang bersaing dengan sesama mereka.

Dunia komunikasi pemasaran akan bergeser dari “creative-driven communications” menuju “data-driven communications”. Dan agensi komunikasi akan bergeser dari “creative-driven agency” menjadi “data-driven agency” atau “technology-driven agency”. Wow!!!

Kepada siapapun yang berkiprah di industri ini, saya hanya bisa mengucapkan: welcome to the journey of disruption.

June 4, 2016   No Comments

BRI dan Branding Satelit

Saya sebut “branding satelit”, maksudnya memperkokoh brand equity melalui satelit. Ya, itulah yang dilakukan BRI habis-habisan selama dua tahun terakhir. Di manapun dan kapanpun BRI mengampanyekannya, apalagi beberapa minggu terakhir ini menjelang peluncuran BRIsat 8 Juni 2016 nanti.

Pertanyaannya, seberapa penting branding satelit bagi BRI?

Esensi branding adalah diferensiasi, yaitu unique value yang sulit ditiru pesaing. Semakin Anda memiliki unique value, semakin kuat pula brand Anda. Dan, semakin sulit unique value tersebut ditiru pesaing, maka semakin sustainable pula sukses brand Anda. So, bagaimana satelit menciptakan unique value bagi BRI?

Satelit BRI

Techy
Satelit menjadikan BRI memiliki unbeatable differentiation di antara pesaing-pesaingnya. Ya, karena memiliki dan mengoperasikan satelit sendiri bagi sebuah bank tidaklah gampang. Pertama karena biayanya super mahal. Kedua teknologinya super canggih. Dan ketiga, satelit fit dengan model bisnis BRI yang memosisikan diri sebagai “bank rakyat” yang melayani seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok tanah air.

Saya pernah membantu BRI merumuskan corporate plan di awal tahun 2000-an. Kalau itu image kuat yang melekat pada bank ini adalah “bank ndeso” dengan produk legendaris untuk nasabah pedesaan (seperti Simpedes dan Kupedes) dan jaringan kantor cabang menyebar luas ke desa-desa. Tak sedikitpun image teknologi melekat pada BRI.

Kemudian sejak awal 2000-an itu BRI mulai mengimplementasi aplikasi BRINETS yang menjadi batu loncatan baginya memasuki era “tech banking”. Memang setelah itu produk dan layanan berbasis teknologi seperti ATM, internet banking atau mobile banking mengalir deras, namun saya kira masih sulit mengubah image BRI dari “bank ndeso” menjadi “bank techy”.

Nah, satelit menjadi alat branding yang ampuh untuk mengubah image bank plat merah ini menjadi salah satu bank dengan kemampuan IT terbaik di negeri ini.

Nasionalisme
Satelit juga memperkokoh peran dan image BRI sebagai agen pembangunan (agent of development) khususnya bagi masyarakat di pedesaan di seluruh pelosok tanah air. Melalui kekuatan jaringan layanannya (baik fisik maupun elektronik) BRI memiliki kemampuan luar biasa dalam menjangkau masyarakat pedesaan di seluruh pelosok tanah air untuk mewujudkan financial inclusion dan mengembangkan kewirausahaan desa.

Satelit akan menjadikan BRI lebih powerful untuk menjadi agen distribusi kemakmuran dan pemerataan. Kenapa? Karena masyarakat pedesaan di seluruh pelosok tanah air yang selama ini tak tersentuh layanan perbankan (unbank) kini bisa menikmatinya dengan tingkat layanan yang sama dengan masyarakat perkotaan. Singkatnya, dengan satelit kini BRI bisa menjangkau yang tak terjangkau, dan melayani yang tak terlayani.

Agent of development ini adalah point of differentiation lain bagi BRI yang sulit ditiru oleh pesaing. Ya, karena menjangkau nasabah di negara dengan lebih dari 13.000 pulau seperti Indonesia tidaklah mudah. Tingkat kesulitan yang luar biasa ini membuat BRI praktis menjadi blue ocean player, alias minim pesaing.

Jadi, satelit justru mengarahkan BRI untuk kembali ke khitah menjadi “bank rakyat” yang melayani seluruh lapisan masyarakat mulai dari petani, nelayan, hingga pedagang kecil di daerah yang selama ini belum tersentuh perbankan

Inovasi
Unique value terbesar bagi BRI dengan keberadaan satelit tentu saja adalah manfaat riil yang dinikmati nasabahnya, terutama nasabah pedesaan. Dengan konsep integrated payment system misalnya, BRI bisa lebih baik melayani pelaku UMKM di pedesaan dengan menggunakan berbagai bentuk channel layanan seperti EDC Wifi, POS Wifi, Web BRIlink. BRI juga bisa melakukan edukasi kewirausahaan UMKM dengan menggunakan BRI Vision (televisi siaran terbatas).

Saya meramalkan keberadaan teknologi satelit untuk menjangkau masyarakat pelosok pedesaan akan memicu munculnya inovasi-inovasi baik di level produk, layanan, channel, bahkan model bisnis. Inilah yang oleh Prof. Prahalad, disebut “innovation at the bottom of the pyramid”.

Berbagai keterbatasan yang dimiliki masyarakat unbank akan men-trigger beragam inovasi untuk mensolusikan masalah dan kebutuhan mereka yang sangat spesifik. Seperti halnya di Grameen Bank, proses learning relationship yang intens antara bank dan nasabah mikro telah menghasilkan inovasi-inovasi luar biasa yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Be the First
Saya surprise mendengar informasi bahwa ternyata BRI merupakan bank pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelit. Ini tentu merupakan “harta karun” yang tak ternilai harganya bagi BRI dalam membangun brand reputation, tak hanya di scope nasional tapi juga global.

Ingat, di dalam branding, menjadi yang pertama di benak konsumen adalah krusial. “Be the first in the mind of consumer” adalah pengunci kemenangan bersaing.

Anda pasti ingat siapa orang pertama yang mendarat di bulan. Seratus! Neil Armstrong dan Edwin Aldrin. Tapi pasti Anda tidak tahu siapa orang ke lima yang mendarat di bulan.

 

Sumber gambar: www.kaskus.com

June 2, 2016   No Comments

Digital Vision

Saya beruntung beberapa bulan lalu ketemu Mas Wishnutama, pendiri Net Mediatama, atau kita lebih mengenalnya dengan NET TV atau NET. Pasalnya, saya sedang melakukan riset untuk buku baru saya mengenai gonjang-ganjing (baca: disruption) agensi periklanan di Indonesia selama 10 tahun terakhir.

Minggu ini buku tersebut selesai ditulis dengan judul: DISRUPT! “Gonjang Industri Komunikasi dan Strategi Memenangkannya” (Gramedia, 2016) dan akan diluncurkna beberapa minggu ke depan. Buku itu ditulis bersama Pak Adji Watono dan Maya Watono, pemilik Dwi Sapta Group, salah satu agensi komunikasi yang sukses melewati disrupsi di atas.

Kita tahu bersama, selama 10 tahun terakhir banyak agensi periklanan di tanah air rontok oleh adanya disrupsi. Menariknya, di balik bergugurannya agensi lokal tersebut agensi-agensi global justru makin perkasa dan mendominasi pasar. Karena itu dengan sedih saya mengatakan bahwa di industri ini kita sudah tidak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri, karena praktis sudah dikuasai pemain asing.

Nah, riset saya untuk buku ini very exciting, karena tujuannya clear, untuk mencari tahu kenapa agensi-agensi lokal itu rontok sementara agensi global justru makin perkasa. Namun saya masih belum mau bercerita mengenai rontoknya agensi lokal tersebut. Saya masih menyimpannya untuk kolom minggu depan. Untuk kolom minggu ini saya lebih ingin bercerita mengenai pertemuan saya dengan Mas Tama.

Disrupt Book Cover

“Content Company”, Not “Broadcasting Company”
Berbicara dengan Mas Tama membawa segudang insight yang wajib diketahui oleh setiap pelaku industri media dan komunikasi. Yang paling menarik adalah visinya mengenai harus dibawa ke mana NET. untuk sukses mengarungi disrupsi digital yang meluluh-lantakkan industri media saat ini.

Kita tahu NET. adalah stasiun TV baru yang paling agresif dan visioner dalam mengadopsi platform digital. Kenapa begitu? Menurut Mas Tama, karena teknologi digital telah mengubah drastis jagat media. “Semua industri yang berhubungan dengan media akan berubah. Revolusi digital telah mengubah bukan hanya distribusi, tapi juga konten, termasuk kultur penonton atau pengguna media itu sendiri,” paparnya.

Mas Tama melihat digital bukan sebagai threat tapi opportunity. Sebagai pemain baru NET. masuk dengan memanfaatkan peluang digital ini. Caranya adalah dengan memfokuskan diri pada konten digital. “Content is king!” ujarnya.

Menariknya, Mas Tama menyebut NET. yang diluncurkan tahun 2013 ini sebagai “content company” bukan “broadcasting company” seperti kebanyakan stasiun TV lain. Apa bedanya? Wow, keduanya berbeda sama sekali.

Kalau broadcasting company hanya sekedar menayangkan program-program yang dibuat oleh pihak lain (production house). Sementara NET. membuat konten, membangun infrastruktur konten, dan mengembangkan infrastruktur distribusinya. “TV itu hanyalah salah satu pipa distribusi, nanti kita akan mengembangkan banyak pipa distribusi lain berbasis digital. Tapi ruhnya tetap konten,” katanya.

Nah, karena konten-konten yang dibuat tersebut dalam format digital, maka ia bisa didistribusikan ulang ke sebanyak mungkin pipa digital yang dimiliki. Singkatnya, NET. bukanlah perusahaan penyiaran tapi perusahaan digital yang memiliki digital assets baik konten (content) maupun pipa (channel) yang diintegrasikan untuk menjangkau audiens secara efektif.

Branded Content
Berbeda dengan stasiun TV pada umumnya, NET. memproduksi sendiri konten-kontennya kemudian mendistribusikannya ke berbagai pipa distribusi yang ia miliki. Menurut Mas Tama, TV hanyalah salah satu saja dari pipa distribusi tersebut, nantinya NET. akan mengembangkan pipa-pipa distribusi lain terutama yang berbasis digital.

NET. kini memiliki divisi unggulan yang di sebut Branded Entertainment Creative Marketing (BECM) yang fokus memproduksi branded content yang ditawarkan ke pemilik merek. Divisi sudah berjalan baik dan banyak revenue dihasilkan dari divisi ini. Jadi konsepnya bukan commercial break, tapi brand placement yaitu menyisipkan brand ke dalam konten sehinga sifat promosinya soft selling.

“Kalau kami menawarkan commercial break tidak laku. Kenapa? Karena begitu kontennya didistribusi ulang commercial break itu akan hilang. Tapi kalau pesan iklan masuk di dalam cerita maka mau didistribusikan ke manapun pesan iklan itu akan tetap ngikut,” katanya. Dengan alat seperti DVR (digital video recorder) commercial break bisa dihilangkan, namun dengan brand placement pesan produk akan tetap nempel di cerita.

Ketika branded content itu bisa didistribusikan berulang-ulang ke berbagai pipa distribusi, maka tentu saja eksposur iklannya juga akan tinggi sekali. Ini tentu menjadi value yang luar biasa bagi para pemilik merek.

Cerita Mas Tama membuat saya sadar bahwa di tengah disrupsi digital yang gentayangan dari satu industri ke industri berikutnya setiap pemimpin bisnis harus punya digital vision. Tanpa ini saya khawatir Anda menjadi korban disrupsi berikutnya.

Tanpa digital vision, saya khawatir Anda akan menjadi the next Kodak, atau the next Blue Bird.

May 21, 2016   2 Comments

Business First, Bukan Family First

Cerita ini saya dapat dari Christian Ariano Rachmat, pemimpin generasi kedua Grup Triputra yang didirikan oleh ikon CEO Indonesia TP Rachmat. Beberapa waktu lalu saya ketemu dan ngobrol dengan Ario, begitu ia biasa dipanggil, dalam rangka riset untuk penulisan buku saya terbaru The Second Generation Challenges (Gramedia, 2016) mengenai kiprah pemimpin generasi kedua perusahaan-perusahaan keluarga di Indonesia.

Buku ini rencananya diluncurkan tanggal 19 Mei 2016 dalam event tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) di Hotel Indonesia Kempinski. Kebetulan IBF tahun ini mengambil tema Branding Family Business: “Lestari dari Generasi ke Generasi”. Event untuk menyongsong Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei ini berupaya mengingatkan kepada kita semua bahwa perusahaan keluarga merupakan aset bangsa yang strategis untuk menopang competitive advantage of nation Indonesia.

Family Business Three

Business First
Ceritanya berawal dari pertanyaan seorang konsultan manajemen kepada pak Teddy (begitu TP Rachmat sering dipanggil) menyangkut profesionalisme di dalam sebuah perusahaan keluarga. Pertanyaannya: “family first or business first?” Maksudnya, Pak Teddy disuruh memilih mana yang lebih penting keluarga atau bisnis?

Pak Teddy kontan menjawab, “business first.” Dalam hal mengelola perusahaan keluarga, menurut Pak Teddy, bisnis lebih penting, dari keluarga. Mendengar jawaban itu Ario dan adiknya, Arif Patrick Rachmat, terkesiap. Merekapun kemudian mempertanyakan maknanya. Jangan-jangan ayah mereka lebih menyayangi bisnis daripada anak-anak.

Usut punya usut, ternyata terjemahannya berbeda 180°. Dalam pandangan Teddy, bisnis layaknya sebatang pohon. Buahnya akan dinikmati keluarga sehingga keluarga boleh memetik, namun dilarang keras menebas pohon ataupun memotong akarnya.

Karena perusahaan keluarga merupakan harta karun tak ternilai harganya, maka ia harus dijaga sebaik mungkin agar tumbuh dan terus berbuah. Bahkan kalau perlu mengesampingkan ego dan kepentingan sesaat segenap anggota keluarga. Seperti itulah makna jawaban business first dari Pak Teddy.

IBF Brosur - 7 Mei 2016

Terhenyak
Seperti halnya Ario dan Arif, terus-terang saya terhenyak mendengar jawaban Pak Teddy tersebut. Ya, karena selama ini saya berpikir bahwa di dalam sebuah perusahaan keluarga kepentingan keluarga adalah nomor satu di atas kepentingan apapun.

Bagi Pak Teddy perusahaan keluarga adalah aset bangsa, tak hanya sebatas aset keluarga, yang harus dijaga pertumbuhan dan kesinambungannya agar bisa membawa kemanfaatan kepada keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karena itu make sense kalau ia harus dijaga dan dilestarikan dengan mengutamakan kepentingan-kepentingan yang lebih luas dari sekedar kepentingan keluarga.

Pendapat Pak Teddy ini demikian relevan ketika kita melihat kenyataan banyak perusahaan keluarga yang layu sebelum berkembang karena perseteruan di antara anggota keluarga yang memperebutkannya. Mereka berpikir bahwa perusahaan keluarga adalah ladang “bancaan” yang bisa mereka eksploitasi seenaknya, tanpa pernah berpikir untuk mengembangkan dan melestarikannya.

Kalau sudah demikian, maka fokus perhatian mereka adalah bagaimana sebesar mungkin “memanen”, bukannya bagaimana “menumbuhkan”. Dan slogan yang menggema adalah “keluarga sebagai panglima”, bukannya “bisnis sebagai panglima”. Artinya, perusahaan keluarga menjadi ajang adu kuat kepentingan antara kubu-kubu anggota keluarga untuk bisa mengambil manfaatnya.

Front Cover

Bahu-Membahu
Pernyataan Pak Teddy mengingatkan kepada kita bahwa perusahaan keluarga adalah aset yang tak ternilai harganya, karena itu harus dirawat dan menghasilkan “buah” untuk seluruh keluarga. Setiap anggota keluarga, baik yang duduk di manajemen maupun tidak, harus mengesampingkan ego dan kepentingannya demi kesinambungannya.

Ibarat pohon, seluruh anggota keluarga harus bahu-membahu menumbuhkannya: menyiram, memberi pupuk, merawat, dan membesarkannya. Mereka boleh mengambil buahnya, namun tak boleh berlebihan. Mereka boleh memanen, tapi jangan sampai mencabut akarnya. Karena kalau itu terjadi pohon akan pupus dan aset tak ternilai itu akan punah selamanya.

Ingat, business first, bukan family first!!!

 

Sumber foto: www.europeanfinancialreview.com

 

May 7, 2016   No Comments

Family Values

Minggu ini saya masih menulis mengenai perusahaan keluarga. Tulisannya saya ambil dari salah satu bab buku saya berjudul Second Generation Challenges yang 19 Mei nanti diluncurkan di gelaran tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) 2016 di Hotel Indonesia Kempinski. IBF tahun ini mengambil tema “Branding Family Business” mengenai bagaimana membangun corporate branding perusahaan keluarga.

Buku Second Generation Challenges sendiri membahas sepak-terjang pemimpin perusahaan keluarga dari generasi kedua. Kenapa saya ambil angle ini, karena menurut saya generasi kedua punya peran kritikal dalam keberlangsungan perusahaan keluarga, yaitu menjadi jembatan antara generasi pertama sebagai pendiri dan peletak dasar perusahaan dengan generasi-generasi berikutnya.

Dalam kolom kali ini saya ingin membahas aspek terpenting dari sebuah perusahaan keluarga yaitu nilai-nilai keluarga (family values) dan bagaimana peran pemimpin generasi kedua dalam mengembangkan dan melestarikannya. Kenapa family values menjadi begitu penting bagi perusahaan keluarga? Karena umumnya ia dijadikan sebagai elemen dasar dari budaya perusahaan (corporate values) sehingga menjadi sumber kekuatan keberlangsungan perusahaan.

Family Values

Taken for Granted
Untuk penulisan buku tersebut saya mewawancarai belasan pemimpin generasi kedua dan hampir semua mereka mengakui betapa family values yang mereka temui kebanyakan bersifat taken for granted, yang diwariskan para pendiri.

Di Blue Bird, sejak awal terlibat di perusahaan, Noni Purnomo presiden direktur, menyaksikan family values sudah melekat dalam laku gerak perusahaan sebagai nilai-nilai perusahaan. Family values tersebut adalah: kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab pada stakeholder, terutama seluruh karyawan dan para pengemudi. Nilai-nilai itu bahkan sudah ditanamkan saat dia masih belia.

Sementara di Triputra Group, Christian Ariano Rachmat direktur, sudah mendapati family values yang ditanamkan sang ayah, TP Rachmat sudah menjadi DNA bagi Triputra. Keempat nilai ini meliputi integritas dan etika (integrity and ethics), keunggulan (excellence), welas asih (compassion), dan kerendahan hati (humility). Keempatnya dinaungi satu misi: contributing to the nation’s competitive edge. T.P. Rachmat sudah menetapkan nilai-nilai itu untuk menjadi guidance bagi manajemen, terutama generasi penerusnya.

Atau di Combiphar. Selain nilai-nilai consumer-focused solution, passionate, leadership, integrity dan innovative, sang pendiri Biantoro Wanandi sangat menekankan nilai-nilai nasionalisme pada anak-anaknya, termasuk Michael Wanandi yang kini menjadi CEO Combiphar. “Ayah saya itu nationalistic person. Dia selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Itulah yang saya terima dari ayah: transcendent business,” ujar Michael.

Kebanyakan generasi penerus tidak lagi perlu melakukan identifikasi seputar apa yang menjadi core values dalam bisnis keluarganya. Ini terjadi karena para pendiri sudah berposisi sebagai builder yang membangun nilai-nilai tersebut. Di samping itu ia juga sudah berperan sebagai binder yang mengikatkan nilai-nilai tersebut dalam perusahaan.

IBF 2016

Sejak Dini
Family values yang dipegang para pendiri cenderung ditransfer ke anak-anak mereka. Kenapa? Karena family values sangat berpengaruh bagi kesuksesan perusahaan. Para pemimpin generasi kedua meyakini bahwa family values harus tetap dinyalakan dalam keseharian perusahaan dan menjadi tuntunan kerja karyawan. Tak hanya itu, mereka juga meyakini bahwa family values adalah pengikat keluarga sekaligus jembatan untuk keberlanjutan bisnis (longevity).

Umumnya pemimpin generasi pertama mentransfer family values dengan memperkenalkannya sejak dini. Misalnya diajak ke kantor untuk menyaksikan orang tua bekerja, dilatih melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana, diperkenalkan dengan fasilitas produksi. Lalu ngobrol tentang bisnis di sela-sela acara kumpul keluarga, bahkan saat di meja makan, merupakan pola penanaman family values kepada generasi penerusnya.

Di Sintesa Group, Shinta Kamdani presiden direktur, sejak kecil sudah diajarkan kemandirian oleh ayahnya Johnny Widjaja. Shinta mulai berwirausaha pada usia 13 tahun dengan berjualan buku dari rumah ke rumah. “Saya setiap liburan sekolah itu juga sambil kerja,” kenang Shinta bangga. Lalu saat bersekolah di Amerika, Shinta juga bekerja untuk mengumpulkan uang saku.

Di Blue Bird, sang pendiri, Ny. Mutiara Djokosoetono, bahkan terbiasa mengajak para generasi penerus untuk makan bersama supir-supir guna menanamkan nilai-nilai kebersamaan serta kekeluargaan.

Intinya, proses pentrasferan ini dilakukan baik secara verbal maupun non-verbal, dan seringkali dalam bentuk diajarkan, sementara sang sang penerus harus mampu menangkapnya dengan cerdas.

Melestarikan
Lantas, bagaimana para generasi penerus itu sendiri mengakomodasi serta melestarikan family values dan praktik-praktik bisnis sukses yang sudah diwariskan oleh generasi pendahulunya itu?

Di Grup Hotel Tugu & Restaurants, Annette Anhar melanjutkan nilai-nilai yang diwariskan ayah dan ibunya. Anhar Setjadibrata dan Wedya Juliati mendidik anaknya dengan kerja keras, kedisiplinan dan kerendahan hati. Karena itu, Annette tak pernah merasa gengsi jika dirinya harus mengantarkan makanan ke meja tamu. Dia bersedia untuk turun tangan. Kecekatan serta kemauan untuk “bekerja kotor” demi kemajuan usahanya ini sudah dipelajarinya sejak kecil. Di usia 5 tahun, misalnya, dia sudah membantu kasir di Hotel Tugu Malang

Sementara itu, di kantor Grup Kawan Lama, nilai-nilai kerja keras, kerendahan hati, serta keterbukaan terus dilestarikan. Salah satunya lewat tatanan open office. Di sana tak ada ruang khusus buat direksi. Teresa Wibowo mengungkap semangat kerja keras yang digembleng sang ayah, Kuncoro Wibowo kini terus dipraktikkannya. Dia bahkan tetap bekerja seperti biasa hingga dua hari menjelang pernikahannya.

Di Femina Group, Svida Alisjahbana melakukan hal yang sama. Dia melihat nilai-nilai pendiri yang menekankan integritas selalu dipegangnya dan menjadi pemandu semua keputusan yang diambil.

Pendek kata, cara generasi melanjutkan dan menghidupkan nilai-nilai inti keluarga yang juga menjadi nilai-nilai korporasi adalah dengan memraktikkannya secara konsisten dalam keseharian, baik lewat professional traits maupun personal attitudes.

 

Sumber foto: amart0319.wordpress.com

May 1, 2016   No Comments

“Nothing to Lose”

Gara-gara Indonesia Brand Forum (IBF) saya beruntung bisa ketemu dan ngobrol panjang dengan Bu Irawati Setiady, Presiden Direktur Kalbe. Terus terang, ia adalah salah satu pemimpin bisnis yang saya kagumi karena sukses mentransformasi Kalbe. Ceritanya, untuk gelaran seminar branding tahunan tersebut saya harus melakukan riset untuk penulisan buku berjudul The Second Generation Challenges (Gramedia, 2016) mengenai sepak terjang para pemimpin perusahaan keluarga dari generasi kedua.

Selama sekitar setahun saya telah berhasil mewawancarai 14 pemimpin generasi kedua untuk penulisan buku tersebut. Rencananya buku itu akan diluncurkan di Indonesia Brand Forum 2016 tanggal 19 Mei, yang tahun ini mengambil tema: “Branding Family Business.” Seperti tahun sebelumnya, motto IBF tetap sama yaitu: “Kebangkitan Nasional Kedua, Adalah Kebangkitan brand Indonesia.” Ya, karena melalui event tersebut, di setiap Hari Kebangkitan Nasional, kami ingin mengingatkan bangsa ini mengenai pentingnya membangun merek (brand building) untuk menopang kemajuan ekonomi negara.

Kolom minggu ini saya ingin berbagi insight dan wisdom yang saya dapat dari obrolan panjang dengan Bu Ira. Pasti di dalamnya mengandung banyak pelajaran-pelajaran berharga mengenai kepemimpinan bisnis keluarga.

Irawati Setiady

Tak Ambil Pusing
Sejak masih jadi Product Manager untuk divisi Research and Development PT Bukit Manikam Sakti, anak perusahaan Kalbe, Bu Ira tak pernah ambil pusing soal jabatan apa yang bakal diwariskan para pendiri Kalbe kepadanya. Padahal, ia adalah keponakan dari pendiri Kalbe, Boenjamin Setiawan dan Fransiscus Bing Aryantodi. Bagi Bu Ira, bekerja sebagai apapun tidak masalah. “Saya prinsipnya belajar. Ngikut saja,” ujarnya tentang kariernya hingga posisi puncak seperti sekarang.

Ira mengakui, penunjukannya sebagai Presiden Direktur Kalbe pada 2008 berlangsung mengalir saja. Tak ada road map tersendiri, tidak di-grooming dulu. Ketika itu atas berbagai pertimbangan, keluarga sepakat menunjuk dirinya. Tanpa banyak bertanya apa alasan pilihan jatuh kepadanya, Ira memilih tancap mengendalikan perusahaan.

Sekembalinya ke Indonesia tahun 1987, Bu Ira langsung direkrut anak usaha Kalbe. Di situ, aneka aspek operasi perusahaan bergiliran dipelajarinya. Mulai dari produksi, pemasaran, pengembangan organisasi. Bahkan perusahaan perbankan juga pernah dicicipinya melalui PT Artha Pusara, kini PT Artha Prima Finance alias Bank Artha Prima, pada tahun 1990-an.

Bertahun-tahun bekerja di bawah payung Kalbe tak ubahnya seorang tenaga profesional kebanyakan, akhirnya Bu Ira terbentuk menjadi pemimpin yang tegas-tegas memisahkan kepentingan perusahaan dengan kepentingan keluarga.

Indonesia Brand Forum

Menjawab Tantangan
Bu Ira menerima tanggung jawab dan tantangan besar sebagai pucuk pimpinan saat Kalbe tengah bergulat mengatasi krisis tahun 2008. Secara makro, kondisi bursa Indonesia memburuk, harga saham anjlok.

Menjadi pimpinan teratas sangat jauh dari keinginan Bu Ira. “Waktu itu, bukan keinginan, tapi challenge. Saat itu, mungkin sedang dibutuhkan leader yang baru. Oke deh, saya bantuin,” kenangnya tentang masa menjelang penunjukan dirinya oleh pemegang saham yang tak lain adalah keluarga besarnya sendiri.

Tak disangkal, kesediaannya menerima penunjukan itu juga diwarnai sifat nekad menjalani tanggung jawab apapun yang ditumpahkan. “Saya bantuin deh, semampu saya,” ujarnya mengulangi niatnya kala itu. Saat ditunjuk, tak pecah penolakan dari seorang pun keluarga dan kerabat karena naiknya Bu Ira merupakan hasil kesepakatan bersama, termasuk antara 6 saudara dan 15 sepupu.

Meski diserahi beban baru di atas pundaknya, Bu Ira tak sedikit pun merasa tertekan. “Kalau performa saya jelek, diturunin juga nggak apa-apa. Nothing to lose dari awal,” ucapnya santai. Ini yang membuat saya salut.

Sukses Transformasi
Ia pun menjawab tantangan dari keluarga dengan mengambil cara unik, yakni menggeser identitas Kalbe dari produsen obat dan makanan menjadi solusi hidup sehat. Tidak hanya untuk orang sakit yang ingin sehat kembali, tetapi juga untuk orang yang ingin bertahan sehat sebelum jatuh sakit. Tengoklah produk-produk mutakhir dari Kalbe macam Fitbar, Nutrive Benecol, dan Entrasol Quick Start yang lekat dengan gaya hidup sehat. Produk tersebut makin diminati saja di pasar, khususnya oleh kaum muda dan penganut hidup sehat.

Tak ketinggalan, Bu Ira melancarkan revitalisasi brand Kalbe. “It’s a journey. Logo baru tahun 2006 atau 2007,” imbuhnya. Kini, logo baru Kalbe dengan mudah digaungkan melalui iklan-iklan di stasiun televisi. Sesungguhnya, langkah ini tak mengherankan karena Bu Ira pernah menangani pemasaran produk Good Time Cookies di Bukit Manikam sebelumnya, bahkan menjabat Marketing Director of Ethical and OTC Businesses di holding Kalbe selama 8 tahun (1997-2005).

Nothing to lose membuat Bu Ira menjalankan kepemimpinan di Kalbe dengan plong, tanpa beban. Hasilnya nggak main-main, sukses mentransformasi Kalbe.

 

Sumber foto: kalbe.co.id

 

 

 

April 27, 2016   No Comments