E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Homestay

Homestay adalah real solution bagi sektor pariwisata Indonesia. Sebuah solusi yang “cantik” bagi Indonesia.

Konsep homestay yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal di sekitar destinasi wisata akan menciptakan distribusi kemakmuran, men-trigger tumbuhnya entrepreneur lokal, memperluas jangkauan akomodasi ke seluruh pelosok Tanah Air, dan menciptakan layanan “more for less” tourism bagi wisatawan.

Wow… sungguh sebuah solusi ideal.

Homestay 2

Wirausahawan Lokal
Pengembangan homestay yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat di sekitar destinasi wisata merupakan solusi pemerataan kemakmuran yang sustainable. Dengan konsep ini maka masyarakat lokal akan ikut menikmati tetesan rezeki dari wisatawan yang datang dengan menyewa homestay milik mereka.

Alih-alih membangun hotel-hotel besar bertaraf internasional yang dimiliki investor kakap, konsep homestay memungkinkan masyarakat lokal ikut menikmati rezeki yang dibawa oleh wisatawan. Sehingga majunya sebuah destinasi wisata akan berkait langsung dengan kemakmuran masyarakat lokal secara merata. Inilah yang disebut konsep pariwisata inklusif (inclusive tourism). Kalau sudah begini maka sektor pariwisata menjadi kandidat paling sempurna untuk menjadi “mesin pemerataan” pembangunan.

Dengan memberikan kesempatan masyarakat lokal memiliki dan mengelola homestay maka akan tumbuh para wirausahawan lokal (local entrepreneur) di sekitar destinasi wisata. Dan dengan adanya wirausahawan ini, maka potensi sebuah destinasi wisata akan bisa dieksplorasi dan dikembangkan lebih lanjut. Mereka akan menjadi apa yang oleh Richard Florida disebut creative class yang menjadi faktor kunci pengembangan destinasi wisata.

Ingat, majunya kota-kota destinasi wisata seperti Bali, Yogya, atau Bandung tak lepas dari peran kunci dari wirausahawan di berbagai bidang industri kreatif mulai dari kerajinan, fesyen, resto, kafe, dan lain-lain.

Ekstensifikasi
Konsep homestay juga memungkinkan perluasan (ekstensifikasi) akomodasi ke berbagai destinasi wisata di seluruh pelosok Tanah Air. Kementerian Pariwisata sudah menghitung, untuk mewujudkan 20 juta kunjungan wisman di tahun 2019, setidaknya dibutuhkan 100 ribu kamar hotel baru di berbagai destinasi wisata utama kita. Asumsikan setiap hotel memiliki 100 kamar, maka untuk mewujudkan target di atas dibutuhkan sekitar 1000 hotel. Wow, membangun 1000 hotel dalam waktu 3 tahun? Mana bisa!

Itu satu isu. Isu yang lain, hotel chain tentu saja tak mau membangun hotel di sembarang lokasi. Ia akan membangun hotel di kota-kota wisata yang sudah jadi seperti Bali, Yogya, atau Bandung yang potensi pasarnya sudah jelas. Sementara itu kita justru ingin membangun akomodasi di desa-desa wisata yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air dari Sabang sampai Merauke.

Untuk mensolusikan dua isu tersebut kita perlu terobosan inovatif dalam penyediaan akomodasi dengan konsep homestay ini. Sebagai negara kepulauan, konsep homestay sangat cocok bagi Indonesia yang memiliki ribuan destinasi wisata yang tersebar begitu luas di berbagai kepulauan Nusantara.

Karena skalanya kecil, membangun homestay akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel. Pembangunan homestay juga bisa tersebar di berbagai destinasi wisata di seluruh pelosok Tanah Air karena homestay tersebut dimiliki oleh masyarakat di sekitar destinasi wisata.

More for Less
Dari sisi kepentingan konsumen/wisatawan, konsep homestay juga merupakan solusi luar biasa karena akan menyediakan pilihan akomodasi yang murah dan mudah. Murah (sekitar Rp.200-300 ribu per malam), karena harga penyewaan homestay sangat terjangkau karena dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Mudah, karena wisatawan bisa mengakses informasinya melalui situs-situs berbagi (sharing platform) seperti AirBnB.

Kalau homestay dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal, pertanyaanya, bisakah mereka men-deliver layanan berkelas dunia, khususnya untuk para wisman? Memang homestay yang ada selama ini di berbagai desa wisata belum mampu memberikan service excellence. Kenapa begitu? Karena mereka mengelolanya secara sendiri-sendiri. Jika mereka berhimpun di dalam satu payung (misalnya berbentuk koperasi atau Badan Usaha Milik Desa, BUMDes) dan kemudian mengelolanya secara bersama-sama dengan menerapkan manajemen modern, maka tentu service excellence bisa diwujudkan.

Ambil contoh setiap 100 homestay di suatu kawasan destinasi wisata tertentu dikelola oleh satu koperasi atau BUMDes dengan tim manajemen yang solid dan modern. Di dalam koperasi/BUMDes homestay ini seluruh aspek manajemen (operasi, keuangan, pemasaran, customer service, dsb.) distandarisasi dengan mengacu kepada konsep manajemen modern (global best practices). Ketika bersatu-padu maka mereka tak hanya mampu menyediakan layanan homestay murah-meriah, tapi juga mampu memberikan service excellence berkelas dunia. Ini yang disebut: more for less tourism. Murah tapi berkelas.

Beberapa waktu lalu Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan ambisinya untuk memosisikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah homestay terbanyak di dunia. Ini kabar menggembirakan. Artinya, sektor pariwisata kita sudah on the right track, dibangun untuk mewujudkan tak hanya pertumbuhan, tapi juga pemerataan kemakmuran.

 

Sumber foto: www.harianterbit.com

January 14, 2017   No Comments

#GenM = Muslim Modern

Tanggal 6 Desember lalu saya akan meluncurkan buku baru berjudul #GenM (Generation Muslim) bertempat di kantor pusat Bank Mandiri Syariah Jakarta. Buku ini merupakan kulminasi dari studi kami di Middle Class Institute, MCI (sebuah tink tank yang dibentuk Inventure dan majalah SWA) mengenai perilaku muslim kelas menengah di Indonesia.

#GenM adalah kalangan muslim kita yang lahir sekitar akhir tahun 1980an. Berbeda dengan generasi-generasi muslim sebelumnya, mereka adalah generasi yang modern: berpengetahuan, memiliki global-mindset, dan melek digital. Seperti saya tulis di kolom saya minggu lalu, ketika Islam berpadu dengan pengetahuan, globalisasi, dan digitalisasi, maka yang muncul adalah sesuatu yang keren.

Saya menyebutnya: the new cool.

cover-gen-m-15-x-18

Knowledgeable
Tak seperti generasi muslim sebelumnya, #GenM adalah generasi yang berpengetahuan dan berwawasan (knowledgeable). Mereka lahir di akhir tahun 1980an dimana pendidikan sudah demikian mudah dan murah. Beberapa daerah provinsi mulai menggratiskan pendidikan SD hingga SMA. Kesempatan untuk masuk ke perguruan tinggi begitu luas, tak heran jika banyak dari mereka mengenyam pendidikan universitas baik strata satu, dua, bahkan tiga.

Sekitar satu dekade sejak #GenM lahir Google telah beroperasi dimana sejak itu pencarian informasi dan pengetahuan apapun menjadi demikian mudah dengan beberapa klik saja. Tak lama setelah itu media sosial muncul, mulai dari blog, Facebook, dan Twitter, yang memungkinkan sharing informasi dan pengetahuan berlangsung demikian mudah dan masif.

Intinya, lahirnya Google dan social media platform menyebabkan informasi dan pengetahuan bisa diakses secara super-mudah, super-murah, dan super-cepat. Google memicu terjadinya revolusinya pengetahuan dan menciptakan apa yang kita kenal sebagai knowledge economy.

Di kalangan masyarakat berpengetahuan (knowledge society), kebutuhan untuk bertahan hidup sudah dianggap terpenuhi. Karena itu nilai-nilai mereka mulai bergeser dengan menekankan pentingnya kesejahteraan subyektif (subjective well-being), ekspresi diri (self-expression), dan kualitas hidup (quality of life).

Mereka mulai menekankan pentingnya perlindungan terhadap lingkungan, persamaan hak pria-wanita (gender equality), partisipasi dalam pengambilan keputusan ekonomi/politik, juga kebebasan individu, toleransi dan kepercayaan (trust).

Tingginya tingkat pengetahuan dan wawasan #GenM mendorong keterbukaan intelektual (intelectual openess), fleksibilitas, dan keluasan pandangan yang pada pada gilirannya membentuk nilai-nilai kemandirian (self-direction values). Pengetahuan dan wawasan yang luas juga akan membuka munculnya ide-ide yang tidak rutin dan inovasi.

Digital Savvy
#GenM adalah 5 screens heavy users. Mereka adalah generasi yang tergantung pada teknologi dan masif menggunakan lima jenis layar (five screens: TV, desktop, laptop, iPad, smartphone) tiap harinya.

Dengan beragam gadget dan apps mereka tersambung 24/7 dengan internet dan menjadikan media sosial sebagai bagian sangat penting dalam koneksi sosial mereka. Mereka lebih nyaman berkomunikasi melalui email atau text messaging daripada dengan bertemu langsung face-to-face. Online presence mereka tinggi sekali melalui aktivitas di blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain.

Mereka juga adalah “periset” yang luar biasa. Mereka hobi meng-googling apapun mulai dari tempat makan favorit, produk di online shop yang hendak dibeli, hingga lowongan pekerjaan yang hendak dimasuki. Mereka juga aktif me-review produk atau nge-likes aktivitas peers-nya di media sosial.

#GenM adalah juga gadget freak! Mereka adalah generasi yang lebih banyak menghabiskan waktunya dalam sehari bersama dengan perangkat teknologi digital (smartphone, komputer, iPod, kamera) dan beragam apps (media sosial, online games, Pokemon Go, Gojeg, Traveloka) ketimbang dengan teman atau anggota keluarga.

Karena lebih banyak aktivitas online ketimbang offline, maka kemampuan relationship dan social skill secara offline mereka cenderung defisit. Oleh karena itu mereka mengalami big disconnection. Mereka highly-connected dengan teman-teman mereka secara online, namun ironisnya justru highly-disconnected dengan teman-teman mereka secara offline.

Itu sebabnya, mereka bisa sangat sibuk dengan smartphone ber-text messaging ria dengan teman-temannya di Facebook atau grup WA, namun justru cuek bebek dengan teman-teman di sekitarnya. Karena itu mereka sering mendapat sebutan “generasi menunduk”.

Kami juga menyebut #GenM adalah “multi-tribes netizen”. Mereka hidup di begitu banyak “suku” sebagai habitat komunitasnya. Namun berbeda dengan suku yang kita kenal selama ini, suku-suku ini tak berada di hutan atau gunung, tapi di komunitas-komunitas online atau grup-grup media sosial seperti Facebook, Twitter, grup WhatsApp, atau grup Telegram.

Global-Mindset
By-default mereka lahir sebagai warga dari “global village”. #GenM juga lahir di era dimana informasi, nilai-nilai, gaya hidup, teknologi, dan produk global bisa mereka akses demikian mudah. Musik yang mereka dengarkan, film yang mereka tonton, produk yang mereka beli, dan informasi yang mereka akses semuanya serba global melintas batas-batas negara.

Ketika Captain of America main di New York maka di hari yang sama juga premiere di Jakarta atau Yogya. Dengan Netflix mereka bisa menikmati film-film box office dunia. Melalui TV Kabel yang ongkos berlangganannya kian murah, mereka menonton CNN, HBO, atau E! sama banyaknya dengan menonton Dangdut Indosiar atau Tetangga Masak Gitu-nya NET TV. Role models mereka adalah Mark Zuckerberg, Elon Mask, Malala Yousafzai, Justin Bieber, atau Ariana Grande, di samping tokoh-tokoh lokal.

Karena itu kami menyebut #GenM adalah juga “Global Generation”. Dengan adanya global exposure yang begitu masif, terutama karena adanya internet, faktor-faktor yang membentuk budaya mereka tak lagi berlangsung di tingkat lokal seperti kota atau negara. Nilai-nilai, perilaku, dan harapan mereka dibentuk oleh faktor-faktor yang terjadi di tingkat global. Di era dimana segala sesuatu terkoneksi oleh internet, #GenM kian memiliki global mindset dan global point of view dibanding generasi muslim sebelumnya.

Di samping itu, mereka juga memiliki global solidarity dengan sesama kaum muslim di belahan lain dunia. Ketika kaum muslim di Eropa dan Amerika dimusuhi dan diintimidasi sebagai dampak maraknya terorisme di negara Barat mereka berempati baik dengan memberikan dukungan langsung atau sekedar membangun opini di media sosial. Begitu pula ketika majalah Charlie Hebdo di Perancis menghina Nabi Muhammad SAW, spontan mereka melakukan pembelaan.

December 26, 2016   No Comments

Best Business Book 2016 – My Picks

Saya suka membaca. Hampir setiap minggu saya membeli buku, baik di toko buku atau saat perjalanan di bandara. Selama seminggu ini saya menginventarisir buku-buku yang telah saya baca selama tahun 2016. Dan akhirnya saya mendapatkan 10 buku yang saya nilai paling bagus. Saya yakin buku-buku ini akan menjadi bekal berharga bagi Anda dalam memasuki tahun 2017. Berikut ini ringkasannya.

#1. Thank You for Being Late: “An Optimist’s Guide to Thriving in the Age of Acceleration,” Thomas Friedman

thank-you-for-being-late-book

Tom Friedman memang maestro ketika menjelaskan fenomena perubahan perdaban manusia. Awalnya ia berpikir bahwa The World Is Flat (2005) adalah “akhir” dari sejarah. Namun rupanya ia keliru. Ia menengarai tahun 2007 justru sedang dimulai sebuah pergeseran raksasa, inflection point, yang memicu percepatan kemajuan peradaban manusia. Tahun 2007 (merupakan tahun ditemukannya: iPhone, Android, Kindle, Hadoop, AirBnB, dan komputer super cerdas Watson milik IBM), merupakan titik mula umat manusia memasuki apa yang disebutnya The Age of Acceleration. Ada tiga kekuatan yang membentuknya, yaitu: Moore’s Law (Technology), globalisasi (Market), dan pemanasan global (Mother Nature). Kombinasi percepatan ketiganya membawa dua skenario: kemajuan luar biasa peradaban manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya; atau kerusakan dahsyat yang memusnakan keberadaan manusia di muka bumi. Merupakan buku paling ambisius Tom Friedman yang harus dipahami setiap pemimpin bisnis.

#2. Pre-Suasion: A Revolutionary Way to Influence and Persuade,” Robert Cialdini

pre-suasion-book

Dalam buku klasik sales/pemasaran Influence (1984), Cialdini memberikan 6 panduan ampuh untuk mempersuasi konsumen. Buku ini telah menjadi referensi tak tertandingi bagi para pemasar di lima benua. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, Cialdini hadir kembali dengan proposisi baru: bahwa saat-saat sebelum melakukan penjualan adalah momen sangat penting dalam mempersuasi konsumen. Ia menyebutnya pre-suasion. Melalui buku ini Cialdini menekankan pentingnya pemasar mengidentifikasi hal-hal kunci yang harus dilakukan sebelum mengirim pesan-pesan penjualan ke konsumen. Persis seperti kata Sun Tzu: “every battle is won before it is fought.”

#3. Original: “How Non-Conformists Move the World,” Adam Grant

original-book

Ini adalah buku mengenai orisinalitas. Bagaimana menciptakan sebuah ide, konsep, produk, atau layanan yang sama sekali baru, fresh, keluar dari kerumunan, nyleneh, mungkin menentang arus, tapi menciptakan nilai yang jauh lebih baik. Melalui risetnya yang mendalam Adam Grant menelusuri proses bagaimana melahirkan sesuatu yang orisinil seperti yang dihasilkan sosok-sosok hebat seperti Jobs-Wosniak, Page-Bryn, Einstein, Michelangelo, Leonardo da Vinci, hingga Coppernicus.

#4. The Inevitable: “Understanding the 12 Technological Forces that Will Shape Our Future,” Kevin Kelly

the-inevitable-book

Sebagai technology futurist dan pendiri majalah bergengsi Wired, Kevin Kelly memprediksi ada 12 kekuatan teknologi yang akan mewarnai kehidupan umat manusia selama 30 tahun ke depan. Bagi Kelly perubahan teknologi bukanlah bersifat statis, tapi merupakan sebuah proses yang terus-menerus (continuous actions). Karena itu ia menyebut perubahan teknologi di dalam buku ini bukan sebagai “kata benda”, tapi “kata kerja” seperti: accessing, tracking, atau sharing.

#5. Small Data: The Tiny Clues That Uncover Huge Trends,” Martin Lindstrom

small-data-book

Saat ini kita silau oleh jargon baru big data, revolusi teknologi informasi yang diramalkan akan mengubah 180 derajat seluruh bidang kehidupan kita, termasuk bidang pemasaran. Namun melalui buku ini Martin Lindstrom punya perspektif lain. “Big data doesn’t spark insight,” ujarnya. Sebuah detail kecil data (yes, small data) mengenai perilaku konsumen, seperti gesture konsumen, mungkin bisa menjadi insight berharga untuk mengungkap aspirasi dan latent needs mereka. Insight kecil ini merupakan clue yang mampu melahirkan breakthrough product seperti iPhone atau AirBnB. Dan ini tak mampu dilakukan oleh big data.

#6. Sprint: “How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days,” Jake Knapp, John Zeratsky, Braden Kowitz

sprint-book

Metode super cepat, hanya 5 hari, untuk menghasilkan inovasi (mulai dari menemukan ide, testing, prototyping, hingga keputusan) yang telah sukses dijalankan di Google diceritakan begitu renyah oleh buku ini. Dengan metode Sprint, Google berhasil meluncurkan produk-produk hebat seperti: Chrome, Google Search, Gmail, Google Hangout, hingga Google X. Wajib dibaca oleh para entrepreneur di perusahaan start-up maupun profesional pengembangan produk di perusahaan besar.

 
#7. Platform Revolution: “How Networked Markets Are Transforming the Economy and How to Make Them Work for You,” Geoffrey Parker, Marshall Van Alstyne, Sangeet Paul Choudary

platform-revolution-book

Perusahaan seperti Gojeg, Uber, Airbnb, eBay, Google, Apple, atau PayPal muncul mendisrupsi industri dan kemudian merajai pasar dalam dalam waktu yang sangat singkat. Mereka lahir melalui sebuah platform (two-sided markets) yang merevolusi model bisnis konvensional. Buku ini memberikan panduan bagaimana menyukseskan bisnis berbasis platform. Inilah buku yang paling autoritatif dan paling komprehensif menjelaskan fenomena revolusi bisnis berbasis platform.

#8. Grit: “The Power of Passion and Perseverence,” Angela Duckworth

 grit-book

Sukses, menurut buku ini tidak ditentukan oleh bakat atau kejeniusan, tapi terutama oleh paduan unik antara passion (semangat membara) dan perseverence (daya tahan yang luar biasa). Paduan itu oleh Angela Duckworth disebut Grit yang menjadi judul buku ini. Melalui 8 bab buku ini secara khusus Angela berbagi strategi mengenai bagaimana membangun Grit dalam diri kita.

#9. Deep Work: “Rules for Focused Success in a Distracted World,” Cal Newport

deep-work-book

Di era distracted world saat ini dimana kiriman email, status media sosial, atau pesan WA begitu intens membuyarkan konsentrasi kita, fokus menjadi barang berharga yang sangat menentukan kesuksesan kita. Buku ini memberikan 4 hukum sebagai panduan untuk menjalankan setiap pekerjaan kita dengan konsentrasi penuh (deep work) dan menghasilkan kinerja yang luar biasa.

#10. How to Have a Good Day: “Harness the Power of Behavioral Science to Transform Your Working Life,” Caroline Webb

how-to-have-a-good-day

Caroline Web, mantan partner di McKinsey, menunjukkan kepada kita beberapa temuan terbaru di bidang ekonomi perilaku, psikologi, dan neurosains, dan menggunakan prinsip-prinsipnya untuk memperbaiki kehidupan profesional dan karir kita. Buku ini mencoba mengaplikasikan behavioral sciences untuk menetapkan prioritas, meningkatkan produktivitas, membangun hubungan, mempertahankan daya tahan, hingga menciptakan energi untuk kesuksesan karir kita.

Selamat Tahun Baru 2017.

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

Best Business Book 2013

Best Business Book 2012

December 24, 2016   No Comments

Peluncuran Buku #GenM

Finally, kemarin (Selasa, 6/12) buku baruku Generation Muslim #GenM sukses diluncurkan di kantor pusat Bank Syariah Mandiri, Jl. Thamrin dihadiri sekitar 200 tmn2.

Buku ini harusnya terbit bulan Ramadhan Juni 2016 lalu, tp krn msh adanya pergulatan pemikiran dan temuan2 riset terbaru di lapangan yg begitu menarik, terpaksa proses penulisan terus berjalan begitu dinamis.

cover-gen-m-15-x-18

Kami penulis berharap buku ini bisa begitu akurat memotret dinamika perkembangan pasar muslim di Indonesia yg telah mengalami REVOLUSI selama 5 tahun terakhir.

Terima kasih utk teman2 yg telah mengapresiasi buku ini. Matur nuwun.

*) Mohon maaf pd saat launch msh cetak terbatas. Buku baru tersedia di toko buku pada akhir Desember 2016.

December 6, 2016   No Comments

#GenM: Islam Universal

Aksi 212 yang teduh dan damai Jumat lalu adalah sebuah kemenangan besar. Kemenangan besar tak hanya untuk umat Islam, tapi juga untuk NKRI. Saya sebut kemenangan, karena jutaan orang yang berkumpul di seputaran Monas tersebut mampu menunjukkan kearifan dan kematangan sebagai umat Islam. Mereka mampu mengalahkan nafsu amarah, mampu menahan diri untuk tidak bertindak beringas atau berkata kasar penuh hujatan. Yang ada justru doa, kesejukan, dan cinta.

cover-gen-m-15-x-18

Fenomena aksi damai 212 semakin membangun optimisme kita bahwa Islam merupakan aset terbesar NKRI. Dengan jumlah umat terbesar di negeri ini, mencapai hampir 90% dari total penduduk kita, memang seharusnyalah Islam memimpin negeri ini. Memimpin bukan dengan arogansi atau menebarkan kebencian dan rasa curiga. Bukan pula dengan tirani mayoritas dimana yang besar menindas yang kecil. Tapi memimpin dengan kearifan, keteduhan, dan cinta. Memimpin melalui kebaikan-kebaikan yang dibawa oleh nilai-nilai Islam.

Inilah esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam yang membawa kebaikan tak hanya bagi umat Islam semata, tapi juga seluruh umat manusia dari agama, suku, ataupun etnik apapun.

aksi-damai-212

Universal Goodness
Kebetulan sekali, lusa Selasa (6/12) saya akan meluncurkan sebuah buku berjudul: Generation Muslim #GenM (Bentang Pustaka, 2016) di Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri, Jakarta. Buku ini mengupas mengenai generasi baru muslim Indonesia yang religius, modern, universal, dan makmur.

Generasi ini lahir di penghujung tahun 1980an. Karena lahir, tumbuh, dan dewasa di periode waktu yang sama, maka mereka mengalami kejadian dan pengalaman sosio-historis yang sama (common formative experiences). Kejadian dan pengalaman membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi mereka.

Karena pengaruh pengalaman sosio-historis bersama tersebut, #GenM memiliki empat karakteristik yang unik. Pertama, mereka religius dan taat pada kaidah-kaidah Islam. Kedua, mereka modern, berpengetahuan, melek teknologi, dan berwawasan global. Ketiga, mereka melihat Islam sebagai rahmatan lil alamin yang memberikan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh umat manusia. Keempat, mereka makmur dengan daya beli memadai, kemampuan berinvestasi lumayan, dan jiwa memberi (zakat dan sedekah) yang cukup tinggi.

Nah, mengamati aksi teduh 212 Jumat lalu, spontan saya jadi teringat dengan sosok #GenM yang diwakili oleh salah satu dari empat karakteristik di atas, yaitu karakteristik ketiga: universal goodness. Sosok #GenM yang mengedepankan universal goodness memiliki tiga ciri berikut.

#1. Rahmatan Lil Alamin
Mereka melihat Islam sebagai berkah bagi seluruh alam dengan segala isinya. Islam tak hanya baik dan bermanfaat bagi kaum muslim semata, tapi bagi seluruh umat manusia. Karena itu mereka melihat kaidah-kaidah Islam membawa kebaikan dan kemanfaatan bahkan tak hanya untuk umat Islam semata tapi juga untuk seluruh umat manusia terlepas dari suku, ras, agama, ataupun keyakinan yang dimiliki.

Mereka melihat konsep makanan halal dan thoyyiban misalnya, membawa kebaikan dari sisi kebersihan, kesehatan, ketiadaan penyakit, dan keutamaan lain, yang bermanfaat tak hanya untuk kaum muslim tapi juga berbagai kalangan di luar muslim.

Begitu juga konsep ekonomi yang tak memperkenankan riba, baik tak hanya untuk kaum muslim tapi juga untuk seluruh penduduk bumi dari manapun mereka berasal. Telah kita lihat bersama, ekonomi kapitalis telah membawa kerusakan akhlak berupa ketamakan dan keserakahan, krisis ekonomi yang bertubi-tubi datang, ketimpangan kemakmuran antara yang kaya dan miskin, hingga kerusakan lingkungan. Di tengah berbagai kerusakan seharusnya ekonomi non riba bisa menjadi obat penawar.

#2. Humanis
Masa kecil dan awal remaja #GenM diwarnai dengan tragedi pahit berupa maraknya terorisme seperti pemboman menara kembar World Trade Center, peristiwa bom Bali 1 dan 2, kerusuhan di Poso, Ambon, dan daerah-daerah lain. Berbagai peristiwa tersebut bukannya menjadikan mereka radikal dan penuh amarah, tapi justru tersentuh hatinya untuk membalik citra bahwa wajah Islam bukanlah seperti itu. Islam adalah agama yang humanis dan cinta damai.

Islam yang damai dan penuh kasih sayang menuntut mereka untuk saling kenal-mengenal, saling berbuat baik, saling bersikap adil, saling mencintai, saling mengasihi, menjaga kebersamaan, dan hidup berdampingan secara damai tak hanya dengan sesama umat Islam tapi juga seluruh umat manusia apapun background agama, suku, ras, dan alirannya.

Dalam pandangan #GenM, humanisme dalam Islam tentu saja berbeda dengan humanisme Barat yang mengagungkan manusia secara berlebihan, bahkan mendewakannya. Dalam Islam humanisme ditempatkan dalam konteks ketundukan, kepatuhan, dan pengabdian pada kekuasaan tertinggi yaitu Allah. Humanisme yang tak hanya mengedepankan rasionalitas manusia semata, tapi menyatukan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

#3. Inklusif
Islam di Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai agama yang inklusif dan toleran dengan mengakomodasi pengaruh-pengaruh dari budaya atau tradisi setempat. Walaupun mengakomodasi pengaruh setempat tentu saja inklusifitas ini bukan menjadikannya tercerabut dari nilai-nilai dasar Islam dan hanya mementingkan identitas kebudayaannya.

Islam kekinian juga tak lepas dari tradisi inklusifitas tersebut. Kini makin banyak #GenM yang menggunakan kemajuan di bidang teknologi informasi dan digital seperti apps, blog, atau media sosial sebagai medium untuk melakukan dakwah. Walaupun kemajuan berbagai perangkat digital tersebut diciptakan oleh orang-orang Barat yang bukan muslim, namun mereka tak mempermasalahkannya karena perangkat-perangkat tersebut bisa mempermudah dan mengefektifkan kerja dakwah mereka.

Hijab mendapatkan penerimaan yang luar biasa di kalangan #GenM karena memasukkan unsur-unsur fesyen seperti model rancangan, warna, tema, cerita (brand story), bahkan gaya hidup yang mengikuti tren terkini di dunia. Tentu saja penyerapan unsur-unsur kekinian tersebut tetap tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dasar Islam yang memang tidak bisa dikompromikan.

Aksi 212 yang penuh bertabur doa, kesejukan, dan cinta merupakan sebuah momentum penting bagi perkembangan Islam di Indonesia. Sejak menggagas ide mengenai #GenM dua tahun lalu, saya sudah meyakini bahwa kaum muslim Indonesia adalah kaum muslim yang hebat, yang bisa menjadi teladan bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Dengan landasan rahmatan lil alamin, humanisme, dan inklusifitas, saya semakin yakin kaum muslim Indonesia akan mampu memimpin tak hanya NKRI, tapi juga dunia. Amin.

 

Sumber foto: www.riauone.com

December 3, 2016   2 Comments

Peluncuran dan Talkshow Buku #GenM

Lima tahun terakhir pasar muslim menggeliat dan bertumbuh demikian pesat ditandai maraknya industri hijab, kosmetik halal, bank dan keuangan syariah, makanan halal, hotel syariah, turisme halal, dan lain-lain.

Driving force di balik geliat pasar muslim tersebut adalah generasi muslim baru yang religius, modern, universal, dan makmur, yang disebut Generation Muslim atau disingkat #GenM.

#GenM lahir di sekitar akhir tahun 1980-an dan merupakan generasi muslim yang mendapatkan kebebasan berekspresi keagamaan dan menikmati kemakmuran ekonomi. Mereka adalah muslim yang menjadi warga global village. Mereka adalah muslim yang digital savvy, karena itu saya menggunakan logo yang menyerupai simbol “@”.

#GenM adalah “creme de la creme” pasar muslim di Indonesia. Inilah segmen pasar yang akan menentukan kesuksesan Anda para marketers di masa depan.

Are you ready for #GenM?

Untuk tahu apa itu #GenM dan bagaimana menggarap pasarnya, ayo temen-temen ikutan peluncuran dan talkshow buku baru #GenM pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 6 Desember 2016
Pukul: 15.30 – 18.00 WIB
Tempat: Auditorium Kantor Pusat Bank Mandiri, Jl. Thamrin Kav. 5, Jakarta

Narasumber:
Yuswohady, penulis
Gangsar Sukrisno, CEO Mizan Production
Aisha Maharani, Halal Corner
Irna Mutiara, desainer hijab

Yuk gabung, gratis tapi harus daftar karena tempatnya terbaas. Lia: 857 8078 9897.

brosur-book-launch-genm

December 2, 2016   1 Comment

The New Cool

*) Bahasan lebih detil mengenai topik ini ada di buku baru saya #GenM: Generation Muslim (Bentang, 2016).

Minggu lalu saya menulis topik mengenai cool. Saya bilang di situ bahwa marketers harus sadar bahwa coolness (sesuatu yang keren) menjadi kian penting sebagai pendiferensiasi produk. Kenapa? Karena coolness kian menjadi penentu keputusan membeli (decision to buy) konsumen. Cool adalah hal esensial yang dicari konsumen.

cover-gen-m-15-x-18

Dalam tulisan tersebut juga saya bilang bahwa apapun yang berbau global selalu dianggap sebagai cool. Globalisasi, global market, global corporation, global brand, global culture, global lifestyle, global citizen, global fashion, Hollywood, hip-hop, boy band adalah cool.

Begitu pula apapun yang berbau digital selalu dianggap cool. Google, Facebook, digital lifestyle, digital entrepreneur, digital start-up, Go-jek, hingga wearable device adalah cool.

gen-m-2

Coolness Baru
Awal bulan depan saya akan meluncurkan buku baru berjudul #GenM (Generation Muslim). Dalam buku tersebut saya melihat adanya sebuah tren menarik mengenai kegairahan kebudayaan Islam di Indonesia. Fesyen bernuansa muslim (hijab), buku-buku inspirasi Islam, novel bernuansa Islam (“Ayat-Ayat Cinta”), apps bernuansa Islam, film dan sinetron bernuansa Islam, musik bernuansa Islam, termasuk dunia dakwah Islam masuk dalam ranah budaya mainstream yang diterima secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Saya menyebutnya fenomena geliat peradaban Islam di Indonesia.

Nah, di tengah geliat peradaban Islam tersebut, saya melihat bahwa kebaikan, kesalehan, dan kearifan yang dibawa oleh Islam menemukan identitas baru yang cool. Inilah yang saya sebut sebagai the new cool. Maka, gaya hidup Islam pun menemukan identitas baru yang keren. Muslim lifestyle is the new cool.

Hijabers Lifestyle Is the New Cool
Sejak lima tahun terakhir hijab mendapatkan penerimaan yang luar biasa dari #GenM. Saya sering menyebutnya sebagai fenomena revolusi hijab. Populasi hijabers tumbuh sangat pesat, bisnis hijab maju begitu cepat, dan terkait dengan itu, industri kosmetik halal menggeliat.

Bagaimana revolusi hijab bisa terjadi? Salah satu hipotesis saya adalah karena adanya “daya magnet” gaya hidup hijabers. Gaya hidup hijabers memiliki nilai-nilai dan citra yang positif sehingga mampu menarik kaum muslimah #GenM untuk mengenakan hijab.

Mereka tercitrakan sebagai sosok yang salehah, memiliki banyak teman (yang terhimpun dalam komunitas-komunitas hijabers), dan memiliki kegiatan positif (mengaji, seminar, wirausaha, filantropi, dsb.). Mereka juga fashionable (selalu mengikuti mode hijab terbaru) dan digital savvy (ngeblog, bermedsos ria, antusias mengenakan wearable devices). Mereka memiliki identitas baru yang saya sebut new cool. Hijabers lifestyle is the new cool.

Halal Lifestyle Is the New Cool
Dengan semakin teredukasi dan open minded-nya #GenM, kesadaran akan kemanfaatan halal akan semakin tinggi tak hanya di tingkat normatif tapi juga substantif. Mereka memahaminya tak hanya melulu normatif yaitu sebatas menjalankan perintah agama, tapi lebih jauh lagi dalam rangka betul-betul mencari kemanfaatan yang bersifat universal.

Harus diingat, konsep halal-haram secara hakiki memang diarahkan agar kaum muslim mengonsumsi makanan-minuman yang sehat dan tak merusak tubuh. Jadi prinsip halal-haram sesungguhnya membawa kemanfaatan yang positif tak hanya bagi kaum muslim semata, tapi juga umat manusia secara umum.

Dengan pemaknaan yang lebih universal dan positif semacam ini konsep halal pada gilirannya akan menyandang identitas baru yang cool. Halal becoming a new cool. Dengan begitu konsep ini akan diterima lebih luas tak hanya di kalangan kaum muslim, tapi juga di luar muslim.

Non-Riba Is the New Cool
Riba adalah sebuah skema yang diciptakan oleh sistem kapitalisme yang menggiring umat manusia untuk berlaku tamak dan serakah, mau menang sendiri, memangsa sesama, dan segudang penyakit selfish yang lain. Riba membentuk manusia menjadi economic animal.

Sistem ini terbukti telah menumbuh-suburkan ketamakan dan keserakahan. Hasilnya, sistem itu telah membikin kerusakan di muka bumi: ketimpangan kaya-miskin, persaingan yang mematikan antar sesama, krisis ekonomi dunia yang silih berganti, kerusakan lingkungan seperti penggundulan hutan dan pemanasan global. Sebuah kerusakan peradaban yang kini sudah nyata kita alami.

Nah, di tengah kerusakan peradaban inilah konsep non-riba muncul, sebagai koreksi atas konsep kapitalisme. Dengan wawasan dan pengetahuan yang baik, #GenM mampu menangkap nilai-nilai keadilan, kemitraan, kesetaraan, kepedulian, dan gotong-royong dari konsep ini, sehingga konsep ini akan menemukan identitas baru yang cool. Ekonomi non-riba akan menjadi the new cool.

Dian, Fatin, Nadiem, Alfatih Are the New Cool
Konsepsi the new cool juga bisa terbentuk jika elemen-elemen keislaman berpadu dengan apa yang selama dianggap cool seperti: global, digital, green, atau giving.

Contoh paling gampangnya adalah dengan melihat empat sosok yang menjadi role model #GenM yaitu: Dian Pelangi, Fathin Shidqia, Nadiem Makarim, dan Alfatih Timur.

Dian Pelangi adalah desainer muda berpengaruh Tanah Air yang membawa spirit fesyen modern dalam busana muslim. Dian adalah sosok digital savvy karena aktif di media sosial dan merupakan salah satu hijab blogger terkemuka di Instagram dengan pengikut jutaan orang. Dian aktif mengikuti event-event fesyen global seperti New York Fashion Week atau London Fashion Week. Nilai-nilai keislaman yang berpadu dengan identitas global dan digital menjadikan Dian Pelangi sebagai sosok role model #GenM. Dian Pelangi is the new cool.

Fatin Shidqia adalah muslimah yang solehah. Namun tidak itu saja yang membuat ia istimewa bagi kalangan muda (teen) #GenM. Fatin juga memiliki bakat istimewa dengan memenangkan ajang X Factor yang merupakan event global (global TV competition franchise) yang digelar oleh puluhan negara di lima benua. Identitas kesolehan Fatin yang berpadu dengan bakatnya yang berkelas dunia menghasilkan sosok yang cool di mata anak muda #GenM. Fatin is the new cool.

Nadiem Makarim adalah sosok idola baru #GenM. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital, ia berhasil merevolusi industri transportasi dengan Go-Jek. Tak hanya itu lulusan Harvard Business School ini juga menjadi sosok giving leader karena Go-Jek berkontribusi mengurangi pengangguran dengan menampung ratusan ribu pengojek menjadi “karyawan”-nya.

Alfatih Timur melakukan hal yang sama dengan mendirikan Kitabisa.com, sebuah platform berbagi untuk penggalangan dana. Sosok muslim Nadiem dan Alfatih yang berpadu dengan citra digital dan giving menghasilkan sesuatu yang cool. Nadiem & Alfatih are the new cool.

Welcome to the era of the new cool.

November 19, 2016   3 Comments

Cool

*) Bahasan lebih detil mengenai Cool dan New Cool ada di buku #GenM: Generation Muslim (Bentang, 2016).

Belum lama berselang saya membaca sebuah buku yang membuat saya terus berpikir. Buku itu berjudul, Cool: How the Brain’s Hidden Quest for Cool Drives Our Economy and Shapes our World (2015) karya Steven Quartz dan Anette Asp. Sebelum membaca buku tersebut beberapa tahun terakhir saya meyakini bahwa coolness (sesuatu yang keren) merupakan faktor yang sangat penting sebagai penentu keputusan membeli (decision to buy) konsumen. Rupanya buku ini mengonfirmasinya.

cover-gen-m-15-x-18

Ambil contoh gampang, orang membeli produk Apple, apakah iPhone, iPod, atau Mac, bukanlah karena kecanggihan teknologi atau keawetannya semata, tapi karena coolness-nya. Karena Apple adalah sebuah merek yang cool. Orang membeli Toyota Prius bukanlah semata karena bensinnya yang irit atau rancangannya yang ramah lingkungan, tapi karena Prius itu cool. Apa itu cool?

cool-dean-jobs

Sinyal
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan sedikit menguraikan sebuah teori yang disebut teori sinyal atau lengkapnya Costly Signalling Theory.

Ide dasar dari teori ini mengatakan bahwa, secara tak sadar (unconsciously) seseorang akan memperlihatkan sebuah sinyal kepada orang lain sebagai cara untuk mengomunikasikan siapa dia sesungguhnya (status, kekayaan, karakter, nilai-nilai, identitas, aspirasi, gaya hidup, dll.). Dengan sinyal tersebut orang lain akan tahu bagaimana seharusnya bersikap dan menjalin hubungan dengan orang tersebut.

Contoh gampangnya Toyota Prius tadi. Seseorang membeli mobil Toyota Prius bukan melulu untuk keperluan alat transportasi. Orang tersebut menggunakan Toyota Prius sebagai sinyal untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia adalah sosok yang memiliki kepedulian lingkungan.

Ketika di survei, 57% pembeli Prius di Amerika Serikat mengatakan alasan utama mereka membeli adalah “make a statement about me”. Sementara, hanya 37% pembeli yang mengatakan “fuel economy” sebagai pertimbangan mereka memilih mobil hibrid massal pertama di dunia ini. Singkatnya, ia menggunakan Toyota Prius sebagai alat untuk mengomunikasikan kepada orang lain siapa dia sesungguhnya.

Dalam kasus Apple, kita membeli dan memakai produk Apple sebagai sebuah sinyal untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita adalah sosok yang kreatif, berani beda, dan fun selaras dengan brand identity Apple.

Seorang konglomerat nasional banyak memberi sumbangan dan melakukan kegiatan filantropi. Itu ia lakukan sebagai sebuah sinyal untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia adalah sosok yang peduli kepada masyarakat dan lingkungannya.

Cool Signal
Nah, dalam buku tersebut Steven-Asp menyimpulkan bahwa sesuatu yang dianggap cool oleh suatu masyarakat tertentu bisa menjadi sinyal yang ampuh untuk mengomunikasikan kepada orang lain siapa kita.

Quartz-Asp melihat di tahun 1950-an misalnya, muncul apa yang mereka sebut Rebel Cool dimana sesuatu yang bersifat memberontak (rebellious) merupakan sesuatu yang dianggap keren sehingga mereka yang mengadopsi rebellious lifestyle misalnya, dianggap sebagai orang-orang yang keren.

Menariknya, konsep cool ini bersifat dinamis dan bisa berubah dari masa ke masa. Rebellious lifestyle yang di tahun 1950-an merupakan sesuatu yang keren, begitu memasuki tahun 1990-an menjadi tidak lagi, digantikan oleh apa yang mereka sebut DotCool.

Kalau dalam Rebel Cool pemberontakan merupakan sesuatu yang keren, maka di era DotCool, kreativitas, inovasi, sesuatu yang tak biasa (unconventionality), dan pembelajaran (learning) dianggap sebagai bentuk kekerenan baru (new cool).

Kalau di tahun 1950-an, sosok seperti James Dean atau Elvis Presley dianggap sebagai sosok ideal yang mewakili era Rebel Cool, maka di tahun 1990-an sosok seperti Steve Jobs atau Bill Gates (dan belakangan Mark Zuckerberg) dianggap sebagai sosok yang menjadi role model bagi era DotCool.

Cool Factor
Apa sedikit pelajaran yang bisa kita petik dari buku tersebut? Bahwa coolness atau saya lebih senang menyebutnya cool factor bisa menjadi faktor kunci untuk menaklukkan konsumen. Begitu Anda bisa menyuntikkan cool factor ke dalam produk dan layanan Anda, maka pastilah si konsumen akan klepek-klepek tak berdaya untuk menolaknya.

Kalau begitu, maka Anda harus bisa dengan jeli menemukan cool factor tersebut. Agar sedikit punya gambaran, berikut beberapa contoh cool factor yang patut Anda cermati.

Kenapa memesan makan siang di kantor lewat Go-Food atau memesan taksi lewat GrabTaxi itu cool? Kenapa juga menjadi backpacker yang mencari tempat-tempat penginapan murah di AirBnB itu cool? Karena sesuatu yang berbau digital itu cool, digital lifestyle itu cool. Pesannya, digital adalah cool factor yang ampuh.

Kenapa tokoh superhero komik DC atau Marvel seperti Superman, Batman, The Avengers, dan Captain America, lebih cool dibandingkan dengan tokoh superhero lokal seperti Gatotkaca, Godam, Gundala, dan Si Buta dari Gua Hantu. Karena sesuatu yang berbau global itu lebih cool ketimbang lokal. So, citra global bisa menjadi kandidat cool factor produk Anda.

Kenapa TOMS, merek sepatu paling hot di Amerika saat ini, yang mendonasikan sepasang sepatu kepada masyarakat papa untuk setiap sepasang sepatu yang terjual begitu cool? Juga, kenapa Blake Mycoski sang pendiri yang menyebut posisinya Chief of Shoe Giver adalah sosok yang cool dan menginspirasi? Karena giving itu cool. So, suntikan unsur giving sebagai cool factor produk Anda.

Satu lagi, kenapa Prius menjadi merek mobil paling cool saat ini? Karena Prius adalah mobil yang paling peduli dengan nasib bumi kita. Green is always cool. So, gunakan kepedulian lingkungan sebagai elemen cool factor Anda.

Anda boleh berimaginasi, berkreasi, dan mengeksplorasi apapun yang hendak Anda jadikan cool factor. So, pertanyaan terakhir saya: apa cool factor produk Anda?

November 12, 2016   1 Comment

2017: Tahun Curi Start

Pada bulan September-Oktober 2016 ini para marketer sedang sibuk menyusun marketing plan 2017. Karena itu tulisan ini mencoba memberikan raw guidance mengenai bagaimana arah marketing plan tahun depan.

Saya menyebut tahun 2017 adalah tahun curi start. Kenapa? Karena tahun depan ekonomi kita mulai menemukan kembali momentum pertumbuhannya dan di tengah ekonomi yang mulai bertumbuh, siapa cepat ia akan dapat dan menjadi pemenang.

Selama kurun waktu 2010- 2015 secara konsisten pertumbuhan ekonomi kita terus melambat pertumbuhannya, berturut-turut dari 6,8%, 6,4%, 6,2%, 5,8%, 5%, dan 4,8%. Tahun ini diperkirakan akan naik sedikit menjadi 5,1% dan tahun depan kita akan menemukan momentum pertumbuhan kembali di posisi 5,5%. Dengan dorongan suntikan dana tax amnesti dan APBN 2017 yang ekspansif (pemerintah baru saja menarik utang Rp 729 triliun) bukan hal mustahil target pertumbuhan sebesar ini terwujud.

FIX Marketing Plan final Terakhir.cdr

2017: Tahun Come Back
Setidaknya ada tiga indikator utama yang membuat kita optimis tahun depan perekonomian kita menemukan momentum pertumbuhannya kembali.

#1. Ready for Growth: Bottoming-Up.
Indikator ekonomi tahun ini dan proyeksi tahun depan memperlihatkan kondisi membaik (pertumbuhan, inflasi, ekspor-impor, rupiah, konsumsi, dll.) sehingga menjadi landasan bagus bagi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya. Membandingkan indikator tersebut dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya terlihat adanya tren bottoming-up. Di samping itu, secara politik, posisi pemerintahan Jokowi makin kokoh dan kian mendapatkan kepercayaan pasar di ujung tahun kedua pemerintahannya. Ini merupakan modal bagus untuk mendorong perkembangan ekonomi di sisa masa jabatannya.

#1. Economic Packages: Get Momentum. Paket kebijakan ekonomi 1-13 (akan disusul paket ke-14 tentang e-commerce beberapa minggu ke depan) selama ini memang belum dirasakan secara signifikan. Wajar saja karena masih relatif baru. Namun di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, ekonomi kita akan mulai menuai dampak positif dari berbagai paket tersebut. Di tahun 2017 paket ekonomi akan menunjukkan taringnya dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat permintaan, meningkatkan daya saing industri, mengefisienkan distribusi dan rantai pasokan, dan mendorong pertumbuhan sektor UKM.

#2. Tax Amnesty: Prime Mover. Indonesia menjadi negara tersukses dalam menyelenggarakan program pengampunan pajak. Di tahap 1 yang berakhir akhir September 2016 lalu, total deklarasi (dalam negeri dan luar negeri) dan repatriasi saja telah mencapai Rp 3.600 triliun dengan dana tebusan mencapai Rp 97 triliun. Di samping menguatkan rupiah karena aliran dana masuk (sekarang sedang siap-siap menembus level psikologis Rp 12.000), program ini juga akan mendorong investasi di dalam negeri terutama investasi di bidang infrastruktur. Program pengampunan pajak akan menjadi prime mover pertumbuhan 2017.

Speed Is Everything
Di tengah ekonomi yang bakal menggeliat, maka kecepatan untuk menjadi pemain pertama yang meramaikan pasar merupakan faktor kunci penentu kesuksesan. Saya teringat ketika sekitar 15 tahun lalu bertemu dengan Pak Mochtar Riady di kantornya di Karawaci, Tangerang. Pak Mochtar bercerita mengenai bagaimana Lippo masuk ke pasar Cina di kala negeri Tirai Bambu itu dirundung krisis politik.

Kala itu hanya beberapa tahun setelah terjadi tragedi Tiananmen tahun 1989, perusahaan-perusahaan asing di Cina beramai-ramai hengkang karena situasi politik yang gawat tak menentu. Dalam kondisi semacam itu praktis semua marketers mengambil langkah wait and see, tak satupun yang berani take dangerous risk untuk masuk pasar Cina

Tapi Pak Mochtar berpikiran lain. “Kalau perusahaan lain tak berani masuk Cina dan saya satu-satunya yang masuk, maka tentu saja saya akan mendapatkan advantages,” ujar Pak Mochtar kala itu. Itulah yang disebut first entrant advantages seperti pengetahuan, pengalaman, dan eksposur sebagai pemain pertama. Tapi di balik keunggulan-keuanggulan itu, tentu saja risiko yang arus ditanggung juga luar biasa besar karena memang kondisi politik Cina kalau itu serba tidak menentu.

Kondisi yang dihadapi Pak Mochtar tersebut mirip dengan apa yang dihadapi para marketers di Indonesia saat ini. Sudah 3-4 tahun ini ekonomi kita mandek: konsumen adem-ayem, permintaan lesu, penjualan melemah, banyak target perusahaan tak tercapai. Dan seperti terurai di depan, tahun depan ekonomi kita bakal menggeliat. Nah, siapa yang bergerak cepat memanfaatkannya bakal mendapatkan first entrant advantages dan merekalah yang bakal meraup sukses besar. Itulah sebabnya saya menyebut tahun depan adalah tahun curi start.

5 Strategi Curi Start
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana strategi untuk curi start di tahun 2017? Dalam beberapa minggu terakhir kami di Inventure melakukan kajian dan menemukan 5 strategi curi start dalam rangka mendapatkan first entrant advantages di tahun 2017.

#1. Be a Trailblazer, Take the Dangerous Risk. Anda harus menjadi pionir di pasar yang telah cukup lama “mati suri”. Kalau bukan Anda lalu siapa lagi? Tanpa ada yang memulai mustahil pasar bisa menggeliat. Strategi market-driven (menunggu maunya pasar) tak bakal mempan lagi. Anda harus mengeluarkan jurus market-driver (menggerakkan pasar) agar pasar bangkit dari kelesuan dan bergairah kembali. Karena itu Anda harus menjadi industry hero dan nasib geliat industri ada di tangan Anda. Karena menjadi yang pertama tentu Anda harus siap dengan segala risiko seberbahaya apapun risiko tersebut. Tapi ingat, “high risk, high return”, begitu bisa menerobos risiko, maka Anda akan berpotensi memimpin pasar, pesaing hanya menjadi followers Anda.

#2. Spark-up the Demand. Pekerjaan tersulit bermain di pasar yang sudah terlanjur lama melemah adalah meletikkan (spark-up) permintaan. Untuk bisa melakukannya, Anda tak boleh memberikan yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Anda harus menciptakan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin ditolak oleh konsumen. Opsinya ada tiga. Pertama, Anda harus menciptakan produk tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary product with extraordinary value. Kedua, Anda harus menciptakan layanan dan pengalaman tak biasa bernilai tinggi (fresh & extraordinary service & experiences with extraordinary value). Dan ketiga, Anda harus menciptakan produk biasa tapi dengan harga supemurah (ordinary product with super low customer cost = hyper-value product).

#3. Speed-up Value Innovation. Ketika para pesaing masih wait and see, menunggu situasi kondusif dan banyak berhitung, kecepatan memanfaatkan pasar yang akan menggeliat menjadi senjata paling ampuh bagi Anda. Lakukan inovasi nilai (value innovation) dengan cepat, sebelum pesaing sadar untuk melakukannya. Inovasi nilai berujung pada penciptaan produk dan layanan yang more for less: benefit luar biasa tinggi, harga luar biasa murah. Gojek, IKEA, AirBnB, adalah contoh great value innovator. Untuk menjadi great value innovator, maka digitalisasi bisnis sudah menjadi keniscayaan dan keharusan. Tanpa digitalisasi Anda stuck menjadi pemain medioker.

#4. Create Niche, Twist Industry Rules of the Game. Untuk sukses menghasilkan fresh & extraordinary offering pasti Anda tak bisa langsung menguasai mainstream market. Anda harus memulai dari pasar ceruk (niche) yang unik dan kecil, dan kemudian membesarkannya dan Anda menjadi penguasa tunggal. Jadi pendekatan yang Anda gunakan adalah: menjadi ikan besar di kolam yang kecil, bukannya sebaliknya, menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena itu strategi curi start memang cocok untuk para challenger untuk mencuri pasar dari si market leader. Si challenger harus smart memanfaatkan transisi pasar yang sedang menggeliat untuk mencuri pasar dari si market leader.

#5. Be Stand-Out in the Mind of Customers. Ketika Anda bisa mendayagunakan first entrant advantages dan mampu menghasilkan fresh & extraordinary offering yang tak mungkin bisa ditolak oleh konsumen, maka secara otomatis posisi brand Anda di benak konsumen akan kokoh. Brand Anda yang stand-out di benak konsumen itu harus “dipatri” sehingga membalik peta persaingan dimana Anda di posisi terdepan. Kalaupun Anda tak menjadi market leader, setidaknya Anda adalah thought leader yang dikagumi konsumen.

Selamat menyongsong tahun cerah 2017.

October 29, 2016   6 Comments

#GenM

Selama ini kita mengenal Gen X, Gen Y (Milenial), dan Gen Z. Namun di Indonesia ada generasi lain yang mewakili sebuah kohort (cohort) tertentu yang sangat khas Indonesia. Saya menyebutnya, Gen M (biar seksi saya tulis #GenM), yang merupakan kependekan dari “Generation Muslim”. Apa itu #GenM? Apa bedanya dengan gen-gen yang lain?

cover-gen-m-15-x-18

Common Formative Experience
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita memahami apa itu kohort. Dalam pemasaran, segmentasi berdasarkan kohort adalah pengelompokkan orang (konsumen) berdasarkan suatu periode waktu tertentu dimana di dalam periode waktu tersebut mereka mengalami kejadian dan pengalaman yang sama (common formative experiences). Kejadian dan pengalaman ini penting karena akan membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi mereka.

Gen Y misalnya, lahir di awal tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an. Di Amerika Serikat generasi yang lahir di rentang waktu tersebut akan mengalami berbagai peristiwa penting seperti: mulai maraknya era digital dan penggunaan media sosial, invansi AS atas Irak, tren acara reality TV, hingga trauma peristiwa 9-11. Sementara generasi sebelumnya, Gen X, didominasi oleh peristiwa berakhirnya perang dingin dan jatuhnya Tembok Berlin, rivalitas Reagen vs Gorbacev, maraknya penggunaan PC, hingga melonjaknya tingkat perceraian.

Pengalaman yang sama di masa kecil, remaja, dan dewasa, pada gilirannya akan membentuk nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi yang sama. Gen Y misalnya, banyak dikatakan sebagai generasi yang optimis, suka berbagi info (social media savvy), menghargai perbedaan, suka narsis, budaya berkomunikasi dengan teks (texting culture) menggunakan BBM atau WA, dsb. Dalam konteks pemasaran, nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi ini akan menentukan pola pengambilan keputusan pembelian dan pola konsumsi mereka.

Perlu diingat, kita tak bisa menggunakan kohort Gen X atau Y di AS secara begitu saja di Indonesia karena latar belakang common formative experiences yang dialami berbeda. Celakanya, referensi Generasi Baby Boomers, X, Y, dan Z yang kita pakai selama ini berasal dari Barat, terutama AS. Peristiwa 9-11 misalnya, memang merupakan sebuah kejadian yang sangat traumatis bagi Gen Y di AS, namun tidak demikian halnya dengan Gen Y di Indonesia. Digitalisasi memang sama-sama berpengaruh terhadap Gen Y di AS maupun di Indonesia, namun tingkat kedalaman tentu berbeda, sehingga nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi yang terbentuk pun akan berbeda.

Geliat Keislaman
Konsumen Indonesia memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan AS maupun negara lain manapun. Memang betul globalisasi, teknologi (Google, media sosial, mobile, cloud), dan gaya hidup Barat (Hollywood, Hip-Hop, Justin Bieber) begitu pekat memengaruhi nilai-nilai, perilaku, dan aspirasi konsumen Indonesia. Namun kelokalan dan nilai-nilai Islam tetap dominan memengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak mereka. Ini wajar karena 88% penduduk Indonesia adalah muslim.

Bahkan menurut pengamatan saya, dalam 10 tahun terakhir kehidupan keislaman di Indonesia bergerak begitu dinamis dan mengejutkan. Pasar muslim menggeliat dan bertumbuh demikian pesat ditandai maraknya industri hijab, kosmetik halal, bank dan keuangan syariah, makanan halal, dsb. Kini kita menyongsong promising industries yang menarget pasar muslim yang kian lukratif seperti: hotel syariah, properti syariah, ZISKAF (zakat, infaq, sedekah, wakaf), hingga industri budaya berbasis Islam seperti buku inspirasi Islam, musik, sinetron atau film.

Yang menarik dari fenomena menggeliatnya pasar muslim dan industri berbasis Islam tersebut adalah bahwa nilai-nilai Islam dan ajaran Nabi mulai menjadi driving factors bagi konsumen muslim Indonesia dalam memutuskan pembelian dan memengaruhi perilaku membeli dan mengonsumsi mereka. Artinya, ketaatan kepada ajaran Islam menjadi faktor yang kian penting bagi mereka dalam memutusakn produk dan jasa yang akan mereka beli dan konsumsi. Jadi, pertimbangan halal atau tidak, mengandung riba atau tidak, syar’i atau tidak menjadi faktor penentu penting dalam keputusan pembelian.

komunitas-hijabers

Siapa #GenM?
Kembali ke pertanyaan semula, siapa itu #GenM. Dengan menggunakan pendekatan kohort, saya mencoba menelusur akar di balik geliat pasar muslim di Indonesia. Hasil telusuran itu mengerucut pada sebuah generasi yang saya beri nama Generation Muslim atau #GenM. Generasi ini lahir antara tahun 1989/1990 hingga sekitar tahun 2010. Peristiwa-peristiwa sosial-politik di akhir-akhir kekuasaan Orde Baru, globalisasi gaya hidup, inovasi teknologi digital, kemajuan ekonomi yang pesat yang kemudian diikuti krisis yang dalam, juga ancaman terorisme global, pekat mewarnai generasi tersebut.

Saya mengambil penghujung dekade 1980-an sebagai awal kemunculan generasi muslim ini, saat itulah ekspresi kehidupan keislaman di Indonesia mendapatkan angin segar, siring semakin kondisifnya pemerintahan Orde Baru terhadap kaum muslim. Pada kurun-kururn waktu sebelumnya ekspresi keagamaan, kesukuan, dan ras cenderung ditekan dengan pendekatan keamanan untuk menghindari perpecahan dan menjamin keutuhan bangsa.

Secara ringkas pembentukan dan perkembangan #GenM saya ringkaskan pada bagan di bawah (Pembentukan dan Perkembangan #GenM). Seperti tampak di bagan, beberapa common formative experiences penting yang dialami generasi ini adalah: iklim sosial-politik yang kondusif bagi umat Islam sejak awal 1990-an; kejatuhan Soeharto 1998; Pemilu demokratis 1999 dimana partai Islam beroleh hawa segar; peristiwa bom Bali 1 dan 2, dan maraknya konflik sosial bermotif SARA; revolusi digital dan media sosial; hingga menggeliatnya budaya pop Islam.

formative-experience-gen-m

Karena pengaruh common formative experiences tersebut, #GenM memiliki empat karakteristik yang unik dan hanya ada di Indonesia. Pertama, mereka religius (religious) dan taat pada kaidah-kaidah Islam. Kedua, mereka melihat Islam sebagai rahmatan lil alamin yang memberikan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh umat manusia. Ketiga, mereka berpengetahuan, melek teknologi, dan berwawasan global (modern). Keempat, mereka makmur dengan daya beli tinggi (high buying power), kemampuan berinvestasi luwayan, dan jiwa memberi (zakat dan sedekah) yang cukup tinggi.

gen-m-values

Mari kita lihat satu-satu.

Religious

Dalam buku saya Marketing to the Middle Class Muslim (2014), saya mengungkapkan sebuah fenomena menarik mengenai konsumen muslim di Indonesia. Di negara-negara Barat, semakin kaya dan semakin pintar penduduknya, maka semakin luntur pula kehidupan keagamaannya. Di Indonesia sebaliknya, semakin kaya dan semakin pintar kaum muslimnya, mereka justru semakin religius.

Hal ini terlihat jelas dalam 5 tahun terakhir fenomena revolusi hijab, kepedulian akan makanan, minuman, dan kosmetik halal, juga gerakan anti riba. Konsumsi mereka mulai diletakkan dalam kerangka ketaatan pada ajaran Islam. Dengan kata lain, ketakwaan mereka kepada rukun Islam, rukun Iman, dan prinsip Ihsan kian meningkat, tak hanya dalam hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, tapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Modern
Knowledgeable. Tak seperti generasi muslim sebelumnya, #GenM adalah generasi yang berpengetahuan dan berwawasan (knowledgeable). Mereka lahir di akhir tahun 1980-an dimana pendidikan sudah demikian mudah dan murah. Beberapa daerah provinsi mulai menggratiskan pendidikan SD hingga SMA. Sejak masa kanak-kanak, mereka sudah familiar dengan Google untuk mencari informasi dan pengetahuan apapun. Mereka adalah juga social media freak yang intens menggunakan blog, Facebook, dan Twitter, yang memungkinkan sharing informasi dan pengetahuan berlangsung demikian mudah dan massif.

Digital Savvy. #GenM adalah 5 screens heavy users. Mereka adalah generasi yang tergantung pada teknologi dan massif menggunakan lima jenis layar (five screens: TV, desktop, laptop, iPad, smartphone) tiap harinya. Dengan beragam gadget dan apps mereka tersambung 24/7 dengan internet. Mereka lebih nyaman berkomunikasi melalui email atau text messaging daripada dengan bertemu langsung face-to-face. Online presence mereka tinggi sekali melalui aktivitas di blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain.

Global Mindset. By-default mereka lahir sebagai warga dari “global village”. #GenM juga lahir di era dimana informasi, nilai-nilai, gaya hidup, teknologi, dan produk global bisa mereka akses demikian mudah. Musik yang mereka dengarkan, film yang mereka tonton, produk yang mereka beli, dan informasi yang mereka akses semuanya serba global melintas batas-batas negara.

gen-m-role-models

Dian Pelangi (pengusaha), Rio Hariyanto (pembalap), Fathin  (Penyanyi), dan Alfatih Timur (pendiri kitabisa.com) adalah beberapa role model #GenM.

Universal Goodness
Rahmatan Lil Alamin. #GenM melihat Islam sebagai berkah bagi seluruh alam dengan segala isinya. Islam tak hanya baik dan bermanfaat bagi kaum muslim semata, tapi bagi seluruh umat manusia. Karena itu mereka melihat kaidah-kaidah Islam membawa kebaikan dan kemanfaatan bahkan tak hanya untuk umat Islam semata tapi juga untuk seluruh umat manusia terlepas dari suku, ras, agama, ataupun keyakinan yang dimiliki.

Humanistic. Masa kecil dan awal remaja #GenM diwarnai dengan tragedi pahit berupa maraknya terorisme seperti pemboman menara kembar World Trade Center, peristiwa bom Bali 1 dan 2, kerusuhan di Poso, Ambon, dan daerah-daerah lain. Namun hal itu tak serta-merta menjadikan mereka radikal. #GenM melihat Islam sebagai agama yang teduh, damai, dan penuh kasih sayang. Islam yang damai dan penuh kasih sayang menuntuk mereka untuk saling kenal-mengenal, saling berbuat baik, saling bersikap adil, saling mengasihi, menjaga kebersamaan, dan hidup berdampingan secara damai tak hanya dengan sesama umat Islam tapi juga seluruh umat manusia apapun background agama, suku, ras, dan alirannya.

Inclusive. #GenM juga berpandangan bahwa Islam adalah agama yang inklusif dan membuka diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Tentu saja sejuh pengaruh tersebut tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dasar Islam yang memang tidak bisa dikompromikan. Mereka melihat bahwa keterbukaan dan keinklusifan itulah yang menyebabkan Islam menjadi terus relevan di tengah perubahan dan kemajuan jaman.

High Buying Power
High Consumption. #GenM tak hanya pintar dan berpengetahuan, tapi juga kaya dan memiliki daya beli yang cukup tinggi. Mereka adalah kelompok masyarakat kelas menengah yang sudah memiliki standar hidup (standard of living) lumayan karena memiliki aset finansial yang cukup memadai seperti penghasilan tiap bulan, rumah, mobil, barang-barang rumah tangga (TV, lemari es, AC, mesin cuci, dan sebagainya), tabungan, atau instrumen investasi seperti emas, deposito mudharabah, reksadana syariah, dan sebagainya.

High Investment. Tak hanya itu, #GenM adalah kelompok kelas menengah yang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Sehingga mereka memiliki pendapatan menganggur (discretionary income) yang bisa mereka tanamkan dalam beragam bentuk instrumen investasi. Dana menganggur inilah yang mereka investasikan dalam berbagai bentuk, baik di sektor riil (mereka terjun menjadi entrepreneur) atau di sektor keuangan syariah seperti deposito mudharabah, reksadana syariah, obligasi syariah, asuransi syariah, dan lain-lain.

High Giving. “Makin kaya, makin pintar, makin banyak memberi.” Begitu kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan #GenM. Seperti kami katakan di depan, #GenM sudah memiliki discretionary income yang besar. Pendapatan “menganggur” itu tak hanya diinvestasikan untuk mengembangbiakan kekayaan, tapi juga disisihkan kepada orang lain yang membutuhkan dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, wakaf (ziskaf), dan bermacam kegiatan filantropis.

#GenM akan mewarnai dan mendominasi pasar dan jagat pemasaran di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan karena Indonesia adalah negara dengan hampir 90% penduduknya muslim. Karena itu mulai sekarang kencangkan ikat pinggang: amati perilakunya, luluhkan hatinya, dan menangkan pasarnya.

Welcome to the #GenM world

 

Sumber foto: dream.co.id dan 4.bp.blogspot.com

October 22, 2016   3 Comments