Beat the Giant: Signature Edition
Temen-temen,
Pas Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei di ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2013 saya meluncurkan buku Beat te Giant: Strategi Merek Indonesia Menandingi Merek Global dan Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri. Buku tersebut baru hadir di toko buku Gramedia pada awal bulan Juni 2013, namun pre-order sudah bisa dilakukan sekarang. Bonusnya adalah tanda tangan dari penulis.

Silahkan temen-temen yang mau pre-order bisa memesan ke Lia no. HP: 0857 8078 9897 atau email: Nurkamalia.makinuddin@gmail.com
May 21, 2013 No Comments
Beat the Giant
Akhirnya buku saya rampung juga. Senin, 20 Mei nanti, pas Hari Kebangkitan Nasional, buku itu bakal diluncurkan. Buku berjudul Beat the Giant tersebut akan diluncurkan di ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2013, di Jakarta Convention Center, sebuah gelaran seminar yang menghimpun merek-merek asli Indonesia yang mampu berkiprah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tahun ini IBF mengambil tema “Kebangkitan Nasiona Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia“.
Ide buku ini muncul selama saya menulis buku Consumer 3000 sejak akhir tahun 2010. Selama meriset buku tersebut saya mendapati bahwa Indonesia akan bergerak cepat menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi dunia. Di Tahun 2030 nanti misalnya, Indonesia akan menjadi ekonomi ke-7 terbesar di dunia. Perkembangan ekonomi yang cepat ini terutama didorong oleh momentum pertumbuhan kelas menengah yang cepat sejak 3 tahun trekhir. Dengan 240 juta penduduk (dimana 60% diantaranya kelas menengah) Indonesia akan menjadi salah satu pasar terbesar di dunia.
Resah
Keresahan terbesar saya adalah adanya kenyataan bahwa, yang piawai memanfaatkan potensi pasar besar tersebut justru bukanlah anak negeri, tapi pemain-pemain global asing yang memiliki kemampuan sumber daya nyaris tak terbatas. Yang paling saya takutkan adalah jika kita hanya menjadi “bangsa konsumen” dan “bangsa penikmat”, bukan “bangsa value creator” dan “bangsa brand-builder”. Kita hanya menjadi pasar belaka, yang menjadi “ajang bancaan” (tempat kenduri) bagi pemain-pemain global asing. Pemain-pemain lokal tergilas karena loyo dan tidak punya daya saing melawan pemain raksasa.
Singkatnya, saya resah pemain lokal tak bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Keresahan itu bukannya tanpa alasan. Coba saja lihat gambaran gamblang di depan mata berikut ini. Di industri telekomunikasi, kini semua merek adalah milik asing kecuali Telkom. Telkom seperti dikepung dari segala penjuru oleh raksasa telekomunikasi global/regional dengan kekuatan modal, SDM, manajemen dan teknologi yang begitu perkasa.
Menyusul ontran-ontran industri perbankan karena krismon 1998, kita melihat gelombang pembelian bank-bank lokal oleh bank-bank asing berlangsung begitu massif. Kini, praktis bank-bank papan atas swasta dimiliki oleh asing. Untung saja bank-bank BUMN papan atas seperti BNI, BRI, dan Bank Mandiri tidak ikutan dilego.
Coba saja Anda ke kamar mandi atau ke dapur. Anda akan temui mulai dari sabun mandi, pasta gigi, shampo, sabun cuci, margarin, keju, susu, kecap, hingga sambel, semuanya dikuasai oleh merek-merek asing.
Kalau mau, deretan fakta itu bisa dibentang lebih panjang lagi. Coba kita telusur lebih jauh lagi: di industri otomotif, farmasi, toiletris, kosmetik, ritel, elektronik rumah tangga, gadget, makanan/minuman, pertambangan, alat berat, periklanan, riset pasar, bahkan dotcom, dominasi pemain global asing sudah sampai ke tulang sumsum.
Kalau demikian keadaannya, apakah perusahaan global itu salah? Absolutely not! Saya bukanlah nasionalis puritan yang membabi-buta. Saya bukanlah anti modal asing atau perusahaan asing. Mereka justru kita butuhkan sebagai sparing partner yang terus memompa andrenalin kita untuk menjadi pemain tangguh. Global competitions are the best vitamines for us to be a real global players.
Menandingi Global
Dengan background seperti itu, melalui buku ini saya menawarkan sebuah model strategi yang bisa dipakai oleh para pemain lokal dalam menandingi raksasa-raksasa global di pasar Indonesia. Saya membagi merek lokal tersebut ke dalam empat posisi, berikut empat implikasi strategisnya sebagai berikut.
Smart Flanker adalah merek lokal yang tidak memiliki local advantage maupun kemampuan mencapai global best practices yang kokoh. Merek lokal di posisi ini umumnya berskala kecil dan produknya tidak memiliki keunikan lokal. Karena itu mereka dihadapkan pada pilihan pelik untuk menyingkir (flank) dalam menghadapi merek global dan mencari niche market di mana ia masih bisa menguasainya.
Pemain seperti D’Cost, Ranch Market, Bank Pembangunan Daerah (BPD), perusahaan dotcom seperti Bhinneka.com atau Bukalapak.com, juga kebanyakan perusahaan kecil/menengah ada di posisi ini. Jadi, merek lokal di posisi ini harus membangun keunggulan di pasar-pasar yang diabaikan oleh merek-merek global. Strategi generik pemain di posisi ini adalah: FLANK and Create Your Own Pond.
Local Challenger adalah merek lokal yang memiliki keunikan lokal tapi masih belum mampu menyamai kemampuan merek global dalam hal kemampuan modal, manajemen, SDM, teknologi, dan lain-lain. Pemain lokal seperti Sido Muncul, Martha Tilaar Group, Hotel Santika, Mustika Ratu, Batik Keris, Viva, Pegadaian, Khong Guan, Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, dan lain-lain ada di posisi ini.
Pilihan strategi yang bisa mereka ambil adalah membangun keunggulan bersaing melalui keunggulan lokal yang dimilikinya. Hotel Santika misalnya, membangun keunggulan lokal melawan hotel-chain asing dengan mengembangkan konsep layanan Indonesia hospitality yang berbasis pada kearifan lokal (local wisdom) Indonesia. Strategi generik pemain di posisi ini adalah: FOCUS on Your Local Uniqueness.
National Champion adalah pemain yang memiliki keunikan lokal, sekaligus memiliki kapasitas setara dengan global best practices. Pemain-pemain lokal seperti Garuda Indonesia, BRI, Sosro, JNE, Prodia, Indomaret, Alfamart, Kompas, dan Femina ada di posisi ini. Merek-merek lokal di posisi ini paling siap dalam menghadapi merek global secara head-to-head dengan cara membangun local differentiation.
Garuda Indonesia misalnya, membangun local differentiation dengan menggunakan identitas Indonesia dalam strategi branding-nya. Garuda Indonesia juga mengembangkan konsep layanan “Garuda Indonesia experience” dalam inflight services-nya melalui sight, sound, scent, taste, touch yang bernuansa kekayaan budaya Indonesia. Strategi generik pemain di posisi ini adalah: DOMINATE Domestic Market through Local Differentiation.
Global Chaser adalah pemain lokal yang by-default tidak memiliki keunikan lokal, tapi memiliki kapasitas modal, SDM, manajemen, dan teknologi yang sejajar dengan merek-merek global. Pemain-pemain lokal seperti Polygon, Polytron, Telkom, Pertamina Pelumas, Biofarma, Mayora, GarudaFood, Indofood, Semen Gresik, Bank Mandiri ada di posisi ini.
Pilihan strategi yang bisa mereka ambil adalah terus mengejar kapasitas global best practices dan kalau perlu membangun daya saing dengan masuk ke pasar-pasar regional/global. Global chaser seperti Biofarma, Polygon, atau Pertamina Pelumas misalnya, mulai agresif membangun daya saing dengan memasuki pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Strategi generik pemain di posisi ini adalah: EXPAND to Global Market.
Kalau mau diringkas, maka empat strategi di atas menjadi:
2FDE = FLANK-FOCUS-DOMINATE-EXPAND
May 10, 2013 4 Comments
Property Boom
Akhir tahun 2012 lalu iseng-iseng saya cari ruko untuk keperluan investasi seorang kerabat. Saya temukan lokasi pas di Mal of Indonesia (MOI). Si empunya ruko mematok harga pas Rp.3,5M. Saya coba tanya-tanya ke bank yang mendanai pembelian ruko tersebut berapa sesungguhnya harga pasar dari ruko tersebut. Kaget juga dengan informasi yang diberikan pihak bank, karena persis setahun, Desember 2011 ruko tersebut dilepas dengan harga Rp.1,7M. Itu berarti harga naik sekitar dua kali lipat dalam setahun.
Jengkel dengan harga yang melambung tak keruan, saya coba istirahat berburu. Tapi karena penasaran, iseng-iseng beberapa hari lalu iseng-iseng saya tanya-tanya ke teman-teman agen properti. Saya tambah kaget karena rupanya telah meroket lebih jauh lagi. Kata si teman, mencari ruko di kawasan Kelapa Gading dengan harga di bawah Rp.5M kini kian sulit. Padahal rentang waktu dari saya mengecek harga sebelumnya belum genap enam bulan.
Saya pun mencoba mencari tahu, apakah naiknya harga properti yang melesat cepat ini karena permainan para spekulan. Setelah selidik sana, selidik sini, saya pun berkesimpulan: bukan. Kesimpulan saya adalah, karena permintaan orang terhadap rumah atau ruko di Jakarta memang sedang tinggi-tingginya. Ketika pembeli yakin bahwa harga properti akan terus naik, maka berapapun harga ditawarkan, ia akan tetap membeli. Inilah biang dari meroketnya harga. Saya pun kemudian termagu-magu, dalam hati saya bilang: “Hebat! Banyak betul ya orang kaya di Jakarta!?!?”
Optimis
Harga properti di Jakarta yang melambung demikian fantastis itu adalah cerminan dari ekonomi Indonesia yang sedang ranum-ranumnya, sedang di era keemasan. Inilah dampak revolusi kelas menengah (“Consumer 3000”) yang ditandai dengan meningkatnya daya beli masyarakat seiring meningkatnya pendapatan. Saya sering menyebut bahwa aset-aset properti seperti rumah (landed house), ruko, atau apartemen kini sudah menjadi mass luxury. Maksudnya aset-aset yang dulunya hanya mampu dibeli oleh kalangan masyarakat atas (super kaya), kini sudah terbeli oleh kalangan kelas menengah, apalagi fasilitas kredit juga semakin bersahabat.
Studi kualitatif yang saya lakukan terhadap mindset dan perilaku kelas menengah di Indonesia menunjukkan bahwa mereka adalah kaum optimis yang melihat masa depan mereka begitu terang-benderang. Pandangan optimis ini saya kira tak bisa lepas dari kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Apa akibatnya kalau mereka adalah kaum optimis? Yang paling jelas adalah nafsu untuk menaikkan kehidupan ekonomi demikian membara. Tak heran jika segmen kelas menengah yang paling besar ukurannya adalah segmen yang saya beri nama “climber”, yaitu mereka yang sedang berjuang untuk menaikan status ekonomi-sosial menjadi kelompok kaya dan mapan.
Saya menduga, naiknya harga properti yang gila-gilaan di atas terjadi karena pasar dipenuhi oleh kelompok konsumen optimis ini. Dalam ilmu ekonomi properti, mereka ini sering disebut sebagai “the fools” yang berani membeli aset yang kemahalan (overvalued). Harapannya, ia akan bisa menjualnya kepada “the greater fools” pada harga yang lebih tinggi. Mereka melihat kondisi Indonesia yang sedang di masa keemasan ini sebagai peluang “once in a lifetime” yang tidak boleh disia-siakan. Meminjam lagu Elvis Presley, “Now or Never”: nggak beli sekarang, tak akan dapat selama-lamanya. Kalau menggunakan istilah Jawa, kira-kira guyonannya berbunyi seperti ini: “Ayo podo ngedan, yen ora ngedan ora keduman” (ayo pada ikutan gila, kalau nggak nanti nggak kebagian).
Kaya Raya
Maraknya bisnis properti di Indonesia menjadi semacam magnet yang menggaet banyak climbers yang ingin cepat kaya-raya untuk nyemplung di sektor yang sedang merekah ini. Makanya tak heran jika hampir setiap hari di koran saya menemukan iklan seminar dan workshop di Jakarta yang memberikan trik-trik jitu untuk menjadi kaya-raya melalui jual-beli properti. Saya kira salah satu buku yang lagi hot dan laris saat ini adalah buku-buku yang memberikan kiat-kiat cespleng untuk cepat kaya melalui bisnis properti.
Salah satu seminar misalnya, memasang iklan di koran nasional dengan kata-kata yang sangat menggiurkan: “Ikuti strategi membeli properti TANPA UTANG, tanpa takut harga mahal”. Sementara di seminar yang lain bunyinya tak kalah menantang: “Pintu gerbang Anda untuk menjadi KAYA-RAYA melalui bisnis properti.” Fenomena ini kini mulai menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, karena boom properti rupanya tidak hanya monopoli Jakarta.
Memang, bagi kaum climber ini mimpi terbesar dalam hidup adalah menjadi kaya-raya, pensiun dini dengan duit segudang, dan tiap bulan liburan ke seantero jagat. Jadi kalau di Amerika sejak lama kita mengenal istilah “The American Dream” yaitu mimpi orang jelata Amerika untuk menjadi kaya raya seperti Donald Trump atau Warren Buffet; maka kini di Indonesia pun kita mulai mengenal: “The Indonesian Dream”.
Melihat boom properti yang hot luar biasa ini, yang saya takutkan hanya satu hal: jangan sampai semua ini mengarah pada “property bubble”. Mudah-mudahan pasar properti di Indonesia memang ditopang oleh daya beli masyarakat yang sedang hot karena banyaknya orang kaya baru di negeri ini. Jangan sampai mortgage crash di Amerika atau semacamnya melumat negeri ini. Saya sudah bosen euy kena krisis lagi kayak tahun 1998…
April 20, 2013 3 Comments
Twitter SBY
Seharian, hari Sabtu kemarin (13/4) saya menthengin akun Twitter @SBYudhoyono, pagi hingga detik-detik menjelang rampungnya tulisan ini malam hari. Tentu saja ini akun spesial, karena resmi milik pak presiden. Di akun tersebut tertulis: “Akun Resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dikelola oleh Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Twit dari Presiden ditandai *SBY*”.
Ada satu hal yang saya tunggu dari akun ini, yaitu sepatah twit dari si empunya akun. Namun celaka tiga belas, sampai kata-kata terakhir kolom ini ditulis, tak sepatah twit pun saya temukan. Yang saya dapati justru jumlah follower yang melesat bak meteor hingga mencapai ratusan ribu orang dalam ukuran jam. Ya, memang buzz mengenai bakal “go twitter”-nya pak SBY beberapa hari ini membahana di setiap sudut jagad Twitterland.
Sambil berdebar menunggu twit pertama pak presiden, saya ingin memberikan catatan-catatan iseng mengenai langkah yang super simpatik sang presiden ini. Catatan iseng ini sekaligus merupakan harapan seorang jelata kepada pemimpinnya.
Let’s Listen
Kesalahan terbesar banyak tokoh figur publik adalah bahwa mereka menggunakan Twitter hanya sebagai status. Alasannya: ya, kalau punya akun Twitter kan cool+awesome; dianggap gaul; dianggap tech savvy, dianggap social networker; dan segudang anggapan keren lain. Padahal esensi ber-Twitter ria bukanlah di situ. Perilaku paling mulia di ranah Twitter adalah jika kita selalu mendengar (listening) para followers. “The GREATEST gifts and loving acts you can give to your followers is to LISTEN to them”. Gimana caranya? Caranya adalah blusukan di Twitter: mendengarkan cit-cit-cuit para followers. Karena itu, saya berharap agar pak SBY nantinya banyak blusukan di Twitter mendengarkan jeritan hati rakyatnya.
Pak SBY perlu tahu bahwa blusukan itu tak melulu di kampung-kampung kumuh seperti yang dilakukan pak Jokowi. Blusukan juga ampuh dilakukan di Twitter. Blusukan di Twitter adalah alat cespleng untuk mendengarkan curhatan-curhatan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Memang pak SBY kalah dari pak Jokowi kalau untuk urusan blusukan di kampung-kampung. Tapi siapa tahu, begitu akun Twitter hidup, pak presiden menang dari pak gubernur untuk urusan blusukan di Twitter (hehehe.. biar skornya 1:1 kayak laga Barca vs. Paris St. Germain tiga hari lalu).
Let’s Talk
Saya juga berharap, kalau betul nanti Twitter-nya hidup, pak SBY juga ngobrol dengan para followers-nya. Ngobrol tak hanya diwakili oleh staf, tapi juga obrolan pak SBY menyapa para followers-nya. Kenapa? Karena memang Twitter adalah platform untuk ngobrol (conversations). Namanya juga ngobrol, maka arah komunikasinya harus dua arah. Ketika memutuskan nyemplung di Twitterland, maka inilah mindset yang harus dipegang: “Conversations yang dulunya merupakan liabilities karena “membahayakan” ketentraman si presiden kini justru harus menjadi asset dan peluang luar biasa untuk menjalin koneksi sosial (social connections) dengan seluruh stakeholders.”
Ngobrol memiliki dua elemen: bicara (talk) dan mendengar (listen). Dua elemen itu haruslah dilakukan secara proporsional dalam melakukan relationship dengan followers. Kita tak boleh terlalu banyak bicara tapi kurang mendengar. Sebaliknya, terlalu banyak mendengar kurang bicara juga nggak bagus. Ya, karena kita akan dinilai tidak responsif dan tidak empatik. Saya sering menggambarkan tweeps yang tak pernah mau ngobrol di Twitter sebagai “menekin yang hadir di sebuah resepsi pernikahan”. Ketika tamu undangan lain sibuk ngobrol dan bercengkrama, si menekin diam tanpa perasaan, tanpa ekspresi, layaknya robot yang nir-empati. Pak SBY tidak boleh menjadi menekin di Twitterland.
Dengan tidak melakukan conversation dengan para followers di Twitter, sesungguhnya pak SBY kehilangan sebuah kesempatan emas. Kesempatan emas untuk membuka diri kepada audiens (followers). Kesempatan emas untuk mengetahui lebih banyak dunia mereka. Kesempatan emas untuk membuka saling pengertian (understanding), saling percaya (trust), bahkan saling cinta (love). Kita semua memahami bahwa pak presiden sibuk luar biasa. Jadi tentu saja dimaklumi kalau sesekali saja ngetwit, selebihnya dilakukan oleh staf. Justru kalau pak SBY kebanyakan ngetwit, kita jadi curiga: “Pak presiden kita ini kerja atau kagak!” Nah, justru twit yang sedikit itulah yang ampuh luar biasa. “So, don’t worry… less is more.”
Be Open, Be Authentic
Wahai pak presiden, jangan jadikan Twitter sebagai alat pencitraan, apalagi alat untuk politiking. Janganlah jaim di Twitterland dengan menutupi yang bopeng-bopeng dengan bedak dan lipstik hingga kinclong. Percayalah bahwa Twitter adalah platform buka-bukaan. Semakin banyak bopeng-bopeng ditutupi, bukan wajah kinclong yang didapat, tapi justru pembusukan yang dituai. Dan kalau sudah begitu, maka reputasi personal (personal brand reputation) menjadi taruhan. Ingat, fondasi kesuksesan di Twitterland adalah keterbukaan. “OPENESS is a prerequisite for an HONEST and GENUINE conversation”
Untuk menciptakan authentic conversation di Twitter kita tak perlu menjadi siapa-siapa. Kita cukup menjadi diri sendiri. Be Yourself. Never be someone you are not. Kita tak perlu menjadi Superman. Kita tak perlu menjadi malaikat. Kita tak perlu menjadi Michael Jackson. Kita tak perlu mempermak diri dengan beribu kepalsuan
Pak SBY cukup menjadi diri Anda sendiri dengan kesederhanaan dan kesahajaan; dengan kelebihan dan kekurangan; dengan kebaikan dan kejelekan; dengan kebanggaan-kebanggaan dan hal-hal memalukan; dengan kekhasan gaya bertutur dan bersikap; dengan kepribadian yang unik. Tampilkanlah diri apa adanya. Semua itu akan membentuk karakter siapa SBY. Dengan tampil apa adanya, dengan sendirinya pak SBY membangun authentic character-nya. Ingat, your authentic character is your UNIQUENESS. It’s your TRULLY differentiation.
Saya Girang
Kalau betul SBY bercit-cit-cuit di Twitter barangkali saya adalah salah satu orang yang paling girang. Kenapa? Saya membayangkan akan terjadi gelombang eksodus besar-besaran para menteri, dirjen, gubernur, bupati, camat, lurah, carik, pak duta besar, dirut BUMN, kepala sekolah SD Inpres, kepala Lapas, sampai sopir busway, berbondong-bondong “go twitter”. Kok bisa? Bagaimana tidak, lha wong bos besar saja pakai Twitter, kok ini bos-bos kecil tidak! Nanti bisa kualat… upsss.
Lalu, kalau pemimpin-pemimpin kita (dari presiden hingga lurah di pelosok Papua) semua pakai Twitter, apa yang bakal terjadi? Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa Twitter akan bisa membawa “revolusi kebaikan” bagi kita umat manusia. Ketika hubungan kita Twitterland dilandasi prinsip-prinsip saling memberi (giving) tidak selfish; mau saling mendengarkan (listening); intensif ngobrol dan bercurhat-curhatan (conversation); berperilaku jujur tanpa sedikitpun kepalsuan; dan selalu peduli dan empati kepada orang lain; maka kita akan menemukan dunia baru yang luar biasa. A whole new world. A world with peace and happiness.
Saya sangat berharap SBY bisa menjadi duta ber-Twitter yang sejuk, penuh empati, dan bernurani. Welcome to the Twitterland Mr. President.
April 13, 2013 2 Comments
Apps Marketing
Membaca artikel di majalah Harvard Business Review (HBR) edisi bulan Maret 2013 bertema “Advertising that Works” saya jadi galau. Kenapa, karena membaca artikel itu saya jadi tersadar bahwa dunia marketing sudah berkembang sedemikian rupa sehingga seorang marketer saat ini haruslah seorang techy, tak boleh gaptek seperti dulu-dulu lagi. Ya, karena promosi dan channel untuk menjangkau konsumen kini sudah menggunakan medium yang tak bisa lepas dari teknologi. Salah satunya adalah platform mobile melalui medium smartphone.
Menurut survei Nielsen tahun lalu, pengguna smartpone kita saat ini sudah mencapai 20% dari total pengguna telepon, dengan pertumbuhan yang amat pesat dari tahun ke tahun. Indonesia merupakan pasar Blackberry terbesar di dunia di luar Kanada. Dan harus diingat, populasi pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Apa artinya ini? Artinya, pemasaran dengan platform mobile melalui smartphone sudah terhampar di depan mata. Kalau memakai istilah Krisdayanti, “tinggal menghitung hari”.
Seiring dengan kian merosotnya efektifitas iklan melalui media konvensional seperti TV, Radio, atau koran, pemasaran melalui “the fourth screen” (“first screen”: movies; “second screen”: TV; “third screen”: PC) ini akan kian populer sekaligus menjadi killer apps bagi media-media pendahulunya. Sehingga marketer juga harus mengikuti arus besar ini, kalau tidak maka bisa dipastikan si marketer tak akan relevan lagi: “relevant or die!!!”.
New Media, New Tools
Ketika media berubah, maka tools yang harus dimanfaatkan marketer harus berubah. Kalau dulu marketer menggunakan iklan untuk berkomunikasi dan meyakinkan konsumen untuk membeli produk, maka kini di platform mobile, mereka harus menggunakan mobile applications (apps) yang cool plus engaging. Ya, karena di medium personal seperti smartphone, privasi merupakan hal paling sensitif. Itu sebabnya promosi dengan mobile ads (iklan di smartphone) tak akan bisa survive karena konsumen emoh melahapnya.
“The best way for marketers to communicate through mobile will be with apps,” ujar Sunil Gupta, seorang pakar marketing, di artikel HBR di atas. Ketika Anda menggunakan smartphone sebagai saluran promosi, maka apps menjadi pilihan paling pas dan paling efektif. Tak heran jika dalam waktu yang tidak lama apps marketing akan menjadi “the next big thing” di dunia marketing, tak hanya di tingkat global, tapi juga di Tanah Air.
Yang dimaksud dengan apps di sini adalah berbagai bentuk aplikasi yang bermanfaat bagi kita saat kita mobile. Bentuknya bisa games dari Angry Birds hingga Solitaire; bisa social network seperti Facebook atau Twitter; bisa utilities seperti peta (Google Maps), layanan pengiriman pesan (WhatsApp), jam, kalendar, email, atau kamera yang ada di smartphone kita; bisa juga aplikasi-aplikasi yang khusus diciptakan pemilik merek untuk melakukan engagement dengan konsumennya.
Promosi dengan menggunakan apps ini memiliki keunggulan dibanding iklan konvensional, karena promosi dengan memanfaatkan apps cenderung tidak dilihat interuptif dan tidak mengganggu seperti halnya iklan konvensional. Seperti kita tahu, saat-saat paling menjengkelkan bagi kita adalah saat nonton Chelsea vs Liverpool, eeh tiba-tiba dipotong iklan rokok. Dampak interuptif seperti ini adalah kelemahan paling fatal dari iklan konvensional.
Di samping itu apps marketing juga memiliki keunggulan lain karena biayanya lebih murah. Sebuah apps yang kita bikin bisa dimanfaatkan secara terus-menerus untuk berpromosi tanpa ada biaya variabel yang siknifikan. Ini berbeda dengan iklan TV atau radio yang membutuhkan biaya variabel (media buying) yang besar ketika harus ditayangkan berulang-ulang. Tak hanya itu, apps yang unik dan disukai konsumen juga bisa menjadi medium untuk terciptanya komunitas konsumen. Di dalam komunitas ini merek dan konsumen bisa melakukan conversation secara berkelanjutan.
Don’t Interupt, Give Benefits
Mindset mendasar dari promosi dengan menggunakan apps adalah bahwa pendekatan ini tidak menginterupsi audiens dengan pesan-pesan menjengkelkan (selfish, brand-centric), tapi justru sebaliknya, memberikan exciting user experience dan manfaat bagi mereka (empathic, customer-centric). Karakteristik inilah yang membuat pemasaran dengan menggunakan apps lebih horizontal, lebih permission-based, dan lebih tidak menjengkelkan bagi konsumen.
Manfaat yang diberikan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Maskapai penerbangan misalnya, bisa menciptakan mobile apps yang memudahkan penumpangnya melakukan city check-in atau mengetahui jadwal penerbangan. Sebuah bank bisa menciptakan mobile apps yang memudahkan nasabahnya mencek saldo atau memberikan kemudahan pembayaran. Atau perusahaan sepatu bola bisa menciptakan apps yang memberikan informasi update mengenai skor pertandingan tim-tim yang berlaga di liga Inggris misalnya.
Dalam apps marketing, pemilik merek tak melulu menebarkan pesan-pesan jualan yang membosankan, tapi juga memberikan user experience kepada target audiensnya, misalnya dengan memberikan games. Perusahan energy drink, Red Bull misanya, menciptakan beragam games (Red Bull Kart Fighter, Red Bull X-Fighter, atau Red Bull Air Force) untuk membangun emotional connection dengan konsumennya.
Menciptakan beragam games seperti ini memang tidak semudah membuat iklan dan kemudian menayangkannya berulang-ulang di TV-TV nasional. Butuh effort yang jauh lebih sulit dan merepotkan. Tapi apps marketing seperti ini membawa dampak yang jauh lebih powerful dan bersifat jangka panjang. Harap diketahui, mobile games apps Red Bull ini telah diunduh oleh lebih dari 2 juta konsumen. Dan setiap kali konsumen memainkan games tersebut, berarti mereka melakukan engagement dengan Red Bull. Inilah hebatnya apps!
So… kapan anda menerapkan apps marketing untuk memperampuh strategi pemasaran Anda? Mumpung yang lain belum kepikiran.
April 6, 2013 1 Comment
Long Weekend
Long weekend adalah momen yang super istimewa bagi warga kelas menengah Jakarta (dan tentu juga kota-kota besar lain di seantero Nusantara). Tak heran jika mulai Kamis siang (28/3) kemarin kehebohan mulai terasa. Di mana-mana jalanan Jakarta macet minta ampun. Macet parah mencapai puncak memasuki waktu Magrib dan kian menjadi-jadi hingga tengah malam. Penyebabnya dua hal. Pertama, rombongan keluarga-keluarga yang bersiap liburan ke luar kota baik melalui jalur darat, laut, maupun udara. Kedua, kaum profesional yang berburu tempat hiburan mulai dari mal, kafe, hingga kawasan wisata seperti Ancol atau Kemang.
Yup, akhir minggu ini adalah long weekend karena hari Jumat ada libur Paskah. So, warga kelas menengah Jakarta punya waktu libur tiga hari Jumat, Sabtu, Minggu. Masih kurang puas, banyak dari mereka yang nambah cuti di hari Kamis atau hari Senin minggu depannya: “Yes, it’s a perfect holiday time!”
Intens mengamati tren kelas menengah Jakarta tiga tahun terakhir, saya menangkap pergeseran perilaku bagaimana mereka menyikapi momen istimewa bernama: long weekend. Berikut ini tiga di antaranya.
Balas Dendam
Bagi kelas menengah Jakarta, long weekend merupakan ajang untuk melakukan “balas dendam”. Lho, kok balas dendam? Ya, karena sehari-hari penat bekerja dari pagi hingga larut malam, badan terasa capek luar biasa, otak terasa stres luar biasa. Karena itu mereka memerlukan pelepasan agar badan kembali enteng; agar otak kembali encer. Sehari-hari menjadi “budak pekerjaan”, mereka membutuhkan pelampiasan agar tetap menjadi manusia seimbang; manusia yang penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian. Nah, tenaga dan pikiran yang terkuras selama hari-hari bekerja tersebut harus “dikompensasi” dengan kesenangan di momen-momen yang pas seperti long weekend ini.
Bagaimana cara mereka melakukan balas dendam? Caranya macam-macam. Ada yang melepaskan stress dengan cara berbelanja di mal yang lagi getol sale. Itu sebabnya sepanjang long weekend mal-mal krodit oleh para passionate shoppers. Ada yang melepaskan kesuntukan dengan ngerumpi dan narsis di kafe atau tempat-tempat nongkrong. Itu sebabnya sepanjang long weekend kawasan seperti Kemang selalu penuh oleh mereka-mereka yang haus hiburan. Atau, ada juga yang melepaskan kepenatan dengan makan. Itu sebabnya sepanjang long weekend pusat-pusat kuliner seperti Kelapa Gading atau Kebayoran Baru penuh oleh para food lovers.
Siapa “korban” langsung dari aksi balas dendam ini? Yang jelas adalah isi dompet. Namanya saja balas dendam, biasanya mereka takabur alias kalap dalam urusan berbelanja, berburu hiburan, dan makan: semua dibeli, semua dinikmati, semua dimakan. Urusan tagihan kartu kredit? “Emang gue pikirin… itu mah urusan bulan depan!” Upsss!!!
Temu kangen
Long weekend juga digunakan oleh warga kelas menengah Jakarta untuk acara “temu kangen” dengan suami/istri dan anak-anak. Lho, dengan suami/istri dan anak-anak kok temu kangen? Iya, soalnya pekerjaan-pekerjaan yang menghimpit tiada henti menjadikan si suami jarang ketemu istri; si istri jarang ketemu suami; dan si suami/istri jarang ketemu anak-anak.
Lho, bagaimana mereka bisa jarang ketemu, kan satu rumah? Coba saja lihat, katakanlah si istri bekerja di kawasan Sudirman atau Kuningan. Untuk bisa ngantor pukul 8 pagi, dari rumah ia harus berangkat pukul 6. Lalu pulang kantor sekitar pukul 6 sore, tapi karena jalanan Jakarta macet minta ampun, paling cepat sampai di rumah baru sekitar pukul 8 atau 9 malam. Si suami setali tiga uang, berangkat pukul 6 pagi dan pulang pukul 9 malam. Begitu mereka berdua sampai di rumah, tenaga dan pikiran terkuras habis, ujung-ujungnya mereka langsung tepar di tempat tidur dan rutinitas yang sama berlanjut di hari-hari berikutnya.
Lalu bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak tak kalah sibuk dibanding orang tua. Masuk sekolah jam 7 pagi, jam 5.30 atau 6 harus sudah bergegas dari rumah. Sepulang sekolah sekitar jam 1 siang mereka harus mengikuti segudang les, mulai dari les matematika, les piano, les balet, hingga les cas cis cus bahasa Inggris. Ujung-ujungnya mereka baru bisa pulang ke rumah menjelang Mangrib. Sama persis dengan orang tua, si anak sampai di rumah dalam kondisi tenaga dan pikiran terkuras habis, dan langsung lelap tidur kecapekan.
Banyak ragam cara dilakukan untuk acara temu kangen keluarga. Ada yang jalan-jalan dan makan-makan di mal. Ada yang liburan ke Puncak atau ke Bandung. Atau yang rejekinya lumayan, mereka pergi ke Universal Studio di Singapura atau Disneyland di Hong Kong.
Ekspor Kemacetan
Kelas menengah Jakarta kini umumnya sudah punya mobil. Kehadiran mobil sejuta umat Avanza/Xenia sejak sepuluh tahun lalu menjadikan mobil kini sudah menjadi mass luxury di Jakarta. Membengkaknya jumlah mobil milik kelas menengah inilah yang menjadikan jalanan Jakarta makin hari makin macet.. cet.. cet. Nah, saat long weekend tiba, sekonyong-konyong jalanan-jalanan di Jakarta menjadi lengang penuh kedamaian. Ada apa rupanya?
Tunggu dulu. Ini bukan sulap, bukan sihir. Ini karena warga kelas menengah Jakarta sudah penat dengan hiruk-pikuk Jakarta. Karena itu dengan Avanza kesayangan, mereka mencari tempat-tempat liburan yang membikin pikiran terang-benderang. Kemana tujuan mereka? Tak jauh dari Puncak, Bogor, Bandung; atau kalau mau lebih jauh lagi Yogya, Solo, atau Semarang. Itu sebabnya, seiring dengan lengangnya jalanan Jakarta di saat long weekend, jalanan di kota-kota tersebut sekonyong-konyong macet.. cet..cet.
Itu sababnya, di saat long weekend, kini Jakarta mendapat julukan baru. Apa julukan baru itu? Julukannya: “kota pengekspor kemacetan”… kwkkwwkkwkkk!!!
Happy long weekend
March 30, 2013 1 Comment
Confession of a Salesman
Sudah hampir 15 tahun terakhir ini saya berprofesi sebagai salesman. Setiap hari pekerjaan saya mengukur jalanan dan berkubang dengan kemacetan Jakarta untuk menemui satu-persatu klien. Setiap kali ketemu mereka, saya menjadi tempat curhat dan menumpahkan seluruh persoalan. Persoalannya macam-macam: mulai dari market share yang tergerus; distribusi yang amburadul; brand yang mlempem; atau program pemasaran yang tumpul.
Namanya saja menjadi “curhat center”, tentu saja banyak nggak enaknya, ketimbang enaknya. Ya, karena setiap persoalan yang ditumpahkan itu minta dicarikan pemecahannya. Tak jarang kalau solusi tak tersedia, mereka ngambek. Awalnya memang bikin stress. Tapi lama-kelamaan nikmat juga, karena dari situ biasanya kedekatan emosional di antara kami terjalin.
Karena setiap ketemu klien, saya selalu menjadi “tempat sampah” untuk berkeluh-kesah, maka selama menjadi salesman saya tak pernah merasakan “menjual” layanan yang saya buat. Yang banyak saya rasakan justru adalah “membantu” mereka memecahkan persoalan. Saya bukannya ngepush-ngepush mereka seperti gambaran salesman pada umumnya, tapi justru mereka yang ngejar-ngejar saya minta dibantu.
Terus terang, hal inilah yang membuat saya betah menjadi salesman. Bertahan belasan tahun tanpa pernah bosan, tanpa pernah merasa capek, tanpa pernah mengeluh. “Membantu” bukan “menjual” membuat hidup saya lebih bermakna sebagai salesman. Ya, karena saya merasa berkontribusi memecahkan persoalan orang lain, walaupun mungkin kontribusi itu kecil. Inilah yang membuat pekerjaan sebagai salesman begitu penuh berkah. Hati menjadi ikhlas, hati menjadi ringan, hati menjadi plong.
Everyday Learn
Dunia sales memaksa saya untuk terus belajar. Hampir setiap hari saya bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari CEO hingga pegawai rendahan; dari birokrat hingga pemilik bisnis UKM. Dari bankir hingga petugas layanan di kantor cabang. Pertemuan itu merupakan sebuah “moment of truth” yang mendorong saya untuk mengambil pelajaran-pelajaran terbaik dari mereka. Di dunia sales, tak ada waktu tersisa sedetikpun untuk tidak belajar.
Dari CEO saya mendapatkan wawasan praktis luar biasa mengenai bagaimana membangun strategi. Dari pemilik bisnis UKM saya belajar bagaimana menangkap peluang dan mengelola usaha. Dari petugas layanan saya juga belajar keikhlasan melayani konsumen. Bagi saya, belajar dari para praktisi lapangan dengan ilmu yang down-to-earth tersebut tak kalah bernilainya dibanding kuliah bisnis di Harvard satu semester.
Tak heran jika 15 tahun menekuni profesi sebagai salesman saya merasa tumbuh dan makin pintar. Dalam urusan ilmu dan pengalaman, dengan setiap klien saya selalu giving & receiving. Saya banyak memberikan ilmu dan pengalaman ke mereka; dan sebaliknya saya banyak menerima ilmu dan pengalaman dari mereka. Dan indahnya: semakin banyak saya memberikan ilmu dan pengalaman kepada mereka; semakin banyak pula ilmu dan pengalaman saya terima dari mereka. “The more I give; the more I receive”.
Mencari Teman
Sales sesungguhnya adalah profesi mencari teman. “Selling is about friending”. Setiap hari muterin Jakarta untuk menemui satu-persatu klien, sesungguhnya saya sedang mengoleksi teman-teman baru dan memupuk hubungan pertemanan dengan mereka. Saya tak pernah pilih-pilih kalau urusan mencari teman. Mau CEO yang powerful, mau business owner yang banyak duit; mau manajer; mau karyawan rendahan, mau OB, saya perlakukan sama. Tak ada pilih-kasih, tak ada diskriminasi, perlakuannya sami mawon.
Hubungan pertemanan ini terjalin tak hanya menyangkut hubungan kerja dan hubungan profesional, tapi juga hubungan personal dan kekeluargaan. Karena setiap saat selalu menambah koleksi teman, sebagai salesman saya merasakan sebuah kekayaan jiwa yang jauh melebihi kekayaan harta dan kekayaan kuasa.
Belasan tahun menjadi salesman, saya menganggap setiap klien adalah teman, bukan melulu konsumen. Bagi saya mereka adalah teman yang selalu ikhlas memberi dan berbagi. Berkat menjadi salesman, teman-teman saya melimpah-ruah dan ini merupakan berkah luar biasa. Kenapa? Karena kehidupan terindah dan ternikmat adalah ketika kita dikelilingi teman-teman yang selalu ikhlas memberi dan berbagi.
Hidup menjadi begitu bermakna ketika kita dikelilingi oleh tema-teman yang peduli dan berbagi. Ini menjadi asupan energi luar biasa, yang membuat saya selalu positif, selalu berlimpah semangat, selalu menghayati pekerjaan ini dengan sepenuh hati.
Pelajaran Hidup
Pekerjaan salesman juga memberi saya pelajaran hidup. Ya, karena meyakinkan konsumen untuk membeli produk kita itu tidak gampang. Dulu awal-awal berprofesi sebagai salesman, saya lebih banyak ditolak ketimbang diterima konsumen. Jujur saja, sampai sekarang pun, setelah melanglang-buana di dunia sales, saya pun masih sering ditolak. Terjun di dunia sales tanpa penolakan, itu namanya hil yang mustahal. Terjun di dunia sales tanpa kegagalan, itu namanya hal yang mustahil.
Tapi justru di sinilah sisi indah dunia sales. Ditolak konsumen dan gagal melakukan penjualan menyadarkan saya bahwa kesuksesan itu tidak gampang; kesuksesan itu perlu kegigihan; kesuksesan itu bukan cuma hasil dari kerja instan. Saya jadi ingat ungkapan inspiring dari Soichiro Honda, pendiri Honda Motor. Dia bilang: “Sucess is 99% failure”, sukses itu buah dari segudang kegagalan.
Inilah pelajaran hidup paling besar yang saya peroleh dari dunia sales. Bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya. Kegagalan tak seharusnya membuat kita loyo. Kegagalan seharusnya memberi kita pelajaran-pelajaran. Dari dari pelajaran-pelajaran itu kita bangkit untuk menjadi lebih baik.
Salah Siapa?
Membaca paragraf demi paragrafi tulisan ini pasti pembaca punya kesimpulan yang sama dengan saya: “WOW… betapa indahnya menjadi seorang salesman; WOW… betapa mulianya menjadi seorang salesman; dan WOW… betapa cool-nya menjadi seorang salesman.”
Tapi rupanya potret di atas tak seindah gambar aslinya. Ya, karena dari dulu hingga sekarang salesman menjadi “anak tiri” di antara profesi-profesi lain. Jaman saya kecil, tak ada satupun anak-anak yang punya cita-cita menjadi salesman; yang ada menjadi dokter, insinyur atau astronout. Ketika lulus kuliah, nggak ada fresh graduate yang memilih berprofesi menjadi salesman. Mereka cenderung menempatkan profesi salesman di posisi paling buncit setelah sebelumnya ditolak di profesi-profesi lain. “Upsss… kacihan deh luuuu…!!!”
Kalau kontras seperti ini, pertanyaannya: “Ini salah siapa?”
March 23, 2013 4 Comments
#IOEO
Introvertly Offline, Extrovertly Online, disingkat #IOEO adalah istilah yang saya berikan untuk menyebut “mahluk baru” yang kini begitu marak bermunculan di tengah revolusi media sosial. Saya meramalkan #IOEO ini akan menjadi semacam wabah yang menular begitu ganas di ranah dunia yang kian narsis ini.
Sesuai namanya, #IOEO adalah sosok seseorang yang introvert (pendiam, tertutup, pemalu, low profile, penyendiri, kurang pede berada di depan orang banyak) ketika berada di dunia nyata (offline); tapi ternyata kemudian memiliki sifat ekstrovert (banyak cakap, ramah, periang, terbuka, high profile, over confident, gokil, suka usil, dsb.) di ranah dunia maya (online). [Read more →]
March 16, 2013 3 Comments
Social Business Transformation
Temen-temen,
Saya dapat sebuah model mengenai: “The 6 Stages of Social Business Transformation” dari Altimeter, ditulis pakar media sosial Charlene Li danBrian Solis. Menarik sekali untuk temen-temen yang menekuni dunia media sosial. Silahkan unggah di link ini: 6 Steps of Social Business Transformation
Keep learning, keep sharing
March 13, 2013 1 Comment
Orang Beken Baru
Selama ini kita mengenal istilah “orang kaya baru” disingkat OKB. Kini, saya punya “mahluk baru” lain di era Consumer 3000. Mahluk baru tersebut saya beri nama “orang beken baru”, disingkat: OBB.
OKB adalah orang yang sebetulnya belum kaya-kaya amat, tapi sudah merasa kaya. Akibatnya lagak-gayanya sudah kayak orang kaya, bahkan melebihi orang kaya yang beneran.
Misalnya, punya kartu kredit nggak cukup satu, tapi lima atau bahkan sepuluh. Ditaruh berjejal-jejal di dompet agar waktu membayar di mal kartu kreditnya kelihatan semua. Misalnya lagi, punya smartphone nggak cukup satu. Bisa dua, bisa tiga: satu untuk nelpon, satu untuk BBM-an, satu lagi untuk berburu apps.
OBB setali tiga uang. Mereka sebetulnya belum beken-beken amat. Tapi lagak-gayanya sudah kayak orang beken, bahkan melebihi artis dan selebriti kondang. Jaim (“jaga image”) abis. Pokoknya sok beken abiiiissss!!!
Di era “revolusi media sosial”, dimana Twitter, Facebook, atau Youtube memungkinkan seseorang begitu gampang menjadi beken, wabah OBB menjalar begitu cepat layaknya wabah kolera. Di era “revolusi narsis”, dimana siapapun kini punya kesempatan untuk menjadi pusat perhatian dan sorotan khalayak, wabah OBB meluas begitu cepat layaknya wabah flu burung. Ingat, “connected customers create a narcissistic world”.
Dulu, untuk menjadi orang beken jalan yang ditempuh begitu panjang-berliku. SBY misalya, untuk bisa beken seperti sekarang harus berpuluh tahun merintis karir di kemiliteran, mendirikan Partai Demokrat, berjuang memenangkan pemilu, hingga kemudian menjadi presiden. Agnes Monica untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis sejak dini menjadi penyanyi anak-anak, bertransformasi menjadi penyanyi remaja, hingga akhirnya menyandang sebutan sebagai diva pop. Atau, Anas Urbaningrum untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis karir politik sejak mahasiswa di HMI, nyemplung di partai Demokrat hingga menduduki posisi puncak, dan akhirnya tersandung kasus Hambalang dan keluar pameo: “Gantung Anas di Monas” yang meroketkan popularitas.
Kini, untuk menjadi beken gampangnya minta ampun. Cukup punya 1000 follower di Twitter, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup punya teman 1000 orang di Facebook, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup pasang video di Youtube dilihat 1000 orang, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken.
Makanya di ranah Twitter, Facebok, atau Youtube kini penuh berjejal orang-orang yang menganggap dirinya beken. Dan mereka memutar otak melakukan personal branding, social media marketing, Twitter marketing, atau apapun namanya, untuk menjadi kian beken dan menjadi yang terbeken di antara orang-orang beken lain. Di tengah perlombaan orang beken tersebut narsis menjadi panglima: “narsis becomes way of life”
Seperti layaknya artis dan seleb kondang, para OBB ini jaim minta ampun. Pas ia sarapan di warteg kolong gang, twit tiarap, diam seribu basa. Tapi giliran ia nongkrong di Starbucks atau Sevel, twit seperti mitraliur memuntahkan peluru memberondong musuh. Ditel-ditel ia ceritakan: mulai dari Iced Caramel Macchiato yang dipesan, cewek yang jadi teman ngobrol, gadget yang dibawa, di samping tentu, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.
Pas nonton plus joget dangdut di hajatan sunatan tetangga twit berhenti berkoar. Tapi giliran nonton Java Jazz di JIExpo Kemayoran twit tak hentinya berkoar-koar. Panggung yang dikunjungi, artis yang ditonton, lagu-lagu yang dimainkan, merchandise yang dibeli, semuanya diobral ke followers. Tentu saja tak ketinggalan, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.
Tiap kali ada OBB yang obral narsis seperti ini, dalam hati saya selalu bergumam: “Terus gue harus bilang WOW gitu!?!”
Di Twitter dan Facebook, OBB adalah sosok yang baik hati dan tidak sombong. Pokonya mirip sosok “Boy” dalam film “Catatan Si Boy” jaman saya muda dulu. Di Twitter atau Facebook mereka harus tampil all-out sehingga pantas dipuja dan dikagumi oleh followers. Tipenya ada dua. Pertama, ada yang selalu bertutur halus, bijak, suka menasehati, banyak ilmu, menginspirasi, suka mengutip puisi-puisi cinta Khalil Gibran atau Taufik Ismail. Kedua, ada yang slengekan, nyentrik, jahil, usil, sok akrab. Walaupun selintas berbeda, sesungguhnya tujuan mereka sama: membangun citra berkilau yang pantas dikagumi dan digilai followers.
Sosok OBB paling gampang terlihat dari foto profil di Twitter atau Facebook. OBB paling suka gonta-ganti foto profil dan setiap foto tersebut selalu tampil prima. Tak peduli wajah berantakan, dipermak kanan-kiri pakai Photoshop, tampilan wajah pun berubah menjadi kinclong. Jerawat dihilangkan, hidung sedikit dimancungkan, jidat diratakan. Atau kalau wajah sudah terlalu berantakan dan tak tertolong lagi, berbagai efek Photoshop atau Instagram siap memanipulasi: dikaburkan, efek siluet, efek black & white, efek glow, dsb.
OBB juga paling gila sapaan, retweet, atau mention dari para followers atau teman. Sejam saja nggak mendapat sapaan atau mention dari followers atau teman, rasanya dunia mau kiamat. Ya karena itu berarti dia tidak menjadi sorotan, dia tidak sedang menjadi pusat perhatian, ia tidak sedang menjadi bintang.
Anda OBB? Tak usah malu, tak usah takut, tak usah sungkan-sungkan. Anda punya teman. Ya, karena perasaan saya juga mulai kejangkitan wabah OBB, uppss! Ssssst… jangan bilang-bilang!!!
March 9, 2013 7 Comments








