E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Merayakan Viral Pokemon Go

Minggu-minggu ini kita menyaksikan dua kejadian viral dahsyat yang terjadi bersamaan yaitu Pokemon Go dan kasus virus palsu. Setiap terjadi gelombang viral, baik itu produk (iPhone), layanan (Klinik Tong Fang), iklan (Mastin si kulit manggis), meme (Bekasi dan AADC), video (Gangnam Style), game (Pokemon Go), atau kasus (virus palsu dan sidang kasus Jessica) selalu saja terjadi aksi massa untuk “menggoreng” viral tersebut hingga menjadi bola liar yang kian menggila.

Seperti dalam kasus viral Pokemon Go yang sedang hot saat ini, seperti dikomando, kita berpartisipasi aktif menanggapi, mengembangkan pernik-pernik cerita, atau menciptakan kontroversi agar magnitute isunya menjadi kian membesar. Kita berkreasi habis-habisan dengan membuat diskusi terbuka, melempar isu, menciptakan hastag, atau menyebarkan meme untuk memanaskan suasana. Hasil akhirnya bisa kita tebak, bola salju viral kian membesar dan menggulung-gulung liar.

Dalam kondisi seperti ini massa, kita semua, seperti sedang hiruk-pikuk merayakan viral Pokemon Go. Kita seperti berpesta pora dan bergotong-royong untuk melipatgandakan viralnya.

Pokemon Go 2

Go Viral
Coba kita tengok bagaimana viral Pokemon Go menjalar dalam seminggu terakhir. Begitu game fenomenal ini meluncur di pasar (terbatas di beberapa negara), dalam ukuran hari viralnya langsung menyebar ke seluruh pelosok dunia dari New York hingga Gunung Kidul. Awalnya isu viral menyangkut kehebatan game tersebut seperti: pengalaman mencari Pokemon yang mengasyikkan, penggunaan teknologi augmented reality (AR) yang canggih, atau dampak positifnya bagi kesehatan karena intensnya aktivitas fisik.

Tapi kemudian isu viral berkembang ke berbagai kejadian yang terkait dengan game ini. Dimulai dari para selebritas global maupun lokal yang berlomba-lomba narsis memproklamirkan diri sebagai pengguna fanatik Pokemon Go. Lalu isu meluas ke dampak samping Pokemon Go seperti banyaknya orang yang kecanduan atau banyaknya kasus kecelakaan lalu-lintas karena asyik memainkan Pokemon Go.

Berikutnya isu viral menjorok kian dalam dan rumit. Tiba-tiba muncul hoax Dekan Fakultas Psikologi UGM yang memperingatkan bahaya serius dari permainan ini. “Go to hell Pokemon,” seru hoax tersebut. Hoax ini sukses menghasilkan perdebatan seru di media sosial, walaupun akhirnya kita tahu bahwa hoax ini tak jelas sumbernya.

Tak hanya itu, isu viral kemudian berkembang semakin menakutkan. Tiba-tiba muncul isu seolah-olah game ini merupakan alat CIA untuk memata-matai seluruh dunia. Di salah satu blog, saya menemukan seorang pendeta secara lugas menyebut Pokemon Go sebagai permainan iblis dan bagian dari penyebaran ajaran setan di dunia maya. Di sini kontroversi di seputar viral Pokemon Go mulai terbentuk dan menjalar liar.

Viral Pokemon Go menjadi kian panas ketika satu-persatu menteri, gubernur, bupati hingga kepolisian mulai berlomba-lomba melarang personilnya bermain Pokemon Go saat bekerja. “Kapolres Depok Razia Anggotanya yang Bermain Pokemon Go,” begitu salah satu judul headline sebuah surat kabar. Para petinggi negeri ini seperti tidak mau ketinggalan untuk numpang beken di tengah heboh Pokemon Go.

Api Unggun
Saya menggambarkan fenomena viral layaknya sebuah api unggun di ujung gang yang ramai. Api unggun ini begitu eksotis dengan lidah api yang menjilat-jilat udara. Oleh karena itu, setiap orang yang lalu-lalang selalu menyempatkan diri untuk melihatnya. Nah, sambil melihat dan menikmati kehangatan api, mereka melemparkan apapun yang dibawanya. Mereka yang punya kulit kacang, koran habis baca, kardus bekas kemasan, atau ranting kayu dilemparkan ke pusat bara api. Itu sebabnya api terus menyala.

Nah, api unggun itu akan membesar nyala apinya jika banyak orang datang dan melemparkan apapun yang ia punya. Sebaliknya, api unggun itu akan meredup dan berhenti menyala ketika sudah tak ada lagi orang lewat yang melempar barang. Ketika api tak lagi menyala, maka api unggun itu tak lagi menarik dan kemudian tak lagi ada orang yang mau mendatanginya.

Saya menggambarkan isu yang sedang hot dari sebuah viral sebagai api yang sedang hebat menyala-nyala. Setiap orang yang datang ke api unggun untuk sekedar melihat atau mencari kehangatan merepresentasikan kita semua para penggembira (baca: cheerleaders) viral. Dan kulit kacang, kertas koran, kardus, ranting kayu, dan barang apapun yang dimasukan ke bara api menggambarkan tanggapan, isu, ataupun beragam cerita yang mereka lemparkan untuk meramaikan viral.

Dengan penggambaran itu menjadi jelas bahwa, sebuah viral akan hot dan terus menjalar ke mana-mana jika banyak penggembira yang berpartisipasi dan kemudian melemparkan beragam isu dan cerita untuk membesarkan viral. Sebaliknya viral itu meredup dan berhenti menjalar jika sudah tak ada lagi orang yang tertarik memperbincangkannya karena memang isu dan ceritanya sudah tak ada lagi yang tersisa.

Minggu-minggu ini kita sedang hot-hot-nya merayakan api unggun Pokemon Go. Semua orang begitu bersemangat nimbrung dan melempar isu untuk membesarkan apinya.

Namun setiap perayaan tentu ada usainya. Let’s see, kapan api unggun Pokemon Go bakal meredup dan akhirnya mati ditelan bumi. Mungkin minggu depan, bulan depan, atau mungkin juga tahun depan.

 

Sumber Gambar: pbs.twimg.com

 

 

July 23, 2016   No Comments

Time to Give

Time to Give

Selama 20 tahun yang lampau saya diberi kesempatan oleh Yang Di Atas untuk mengasah kemampuam di bidang Branding, Marketing, Sales, dan Servis.

Pengalaman membantu ratusan perusahaan besar nasional maupun global telah menghasilkan akumulasi ilmu yang luar biasa. Kini saatnya ilmu itu dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan, yaitu para pelaku UKM. It’s time to give.

Karena itu saya ingin menyedekahkan #sedekahilmu waktu saya 2,5 jam tiap minggu untuk memberikan coaching session gratis kepada teman-teman pelaku UKM, satu minggu satu UKM #1minggu1UKM untuk bidang Branding, Marketing, Sales, dan Servis.

Syaratnya, teman-teman UKM harus sudah menjalankan usàhanya minimal 2 tahun dengan omset Rp 300 juta – Rp 2,5 miliar pertahun. Teman-teman UKM silahkan menghubungi:

Lia: HP 0857 8078 9897
Email: nurkamalia.makinuddin@gmail.com.

Semoga manfaat.

The more you give, the more you get.

Yuswohady

July 20, 2016   No Comments

Candu Pokemon

Pokemon Go menjadi hits di seluruh dunia hanya beberapa hari sejak diluncurkan. Viralnya begitu hebat menyebar sehingga siapapun dari anak-anak hingga kakek-kakek mengenalnya dan sontak berburu mencobanya. Dalam beberapa minggu ke depan kita akan menyaksikan fenomena kecanduan Pokemon Go di berbagai pelosok dunia. Seluruh dunia akan berpacu mengoleksi sebanyak mungkin Pokemon seperti bunyi slogannya: “Gotta Catch ‘Em All.”

Pokemon Go memiliki pengalaman unik dan baru. Tak seperti game-game sebelumnya, si pengguna bisa tamat berlevel-level hanya dengan berdiam diri selama berjam-jam. Di Pokemon Go si pengguna diharuskan bertualang dan berjalan-jalan di dunia nyata untuk mencari Pokemon. Lokasi keberadaan pokemon pun bergantung pada bentuk asli lingkungan pengguna. Ada Pokemon jenis air, api, angin, pohon, hantu, dan sebagainya. Inilah sensasi yang menjadi daya tarik utama Pokemon Go.

Kenapa Pokemon Go demikisn hype dan memicu kecanduan seluruh penduduk bumi? Berikut ini analisis saya.

Pokemon Go

Brand New AR Experience
Elemen utama kehebohan Pokemon Go adalah penggunaan augmented reality (AR) untuk menghasilkan pengalaman bermain yang tak ada tandingannya. AR memungkinkan realitas virtual (dalam hal ini karakter digital Pokemon) disisipkan (superimpose) ke dalam realitas sesungguhnya di sekitar kita. Dengan imbuhan teknologi geolokasi kita bisa menikmati sensasi berburu dan mengoleksi karakter digital yang bisa kita dapat di tempat-tempat nyata di sekitar kita seperti kuburan, masjid, atau taman kota (Pokestops).

Kehebohan berburu dan mengoleksi Pokemon ini akan menghasilkan pengalaman yang kian dalam (deeper experience) ketika kita bisa membagi pengalaman tersebut ke teman dan komunitas melalui Twitter, Facebook, Instagram, atau blog. Studi yang dilakukan oleh gabungan psikolog dan pakar komputer tahun 2013 lalu menghasilkan kesimpulan menarik bahwa ke depan AR akan menjadi highly addictive alias menimbulkan efek kecanduan bagi penggunanya. “This effect can cause a high degree of surprise and curiosity in users,” simpul studi itu.

The Power of Gamification
Seperti umumnya game lain Pokemon Go diciptakan untuk mengeksploitasi bagian otak kita yang sensitif dengan kenikmatan. Membunuh monster, mendapatkan poin, menaiki level capaian, mengoleksi barang langka, memenangkan pertarungan, atau menyalip lawan dalam balapan menghasilkan kepuasan yang tak ada habisnya. Inilah esensi dari gamification yang seringkali mengarahkan penggunanya terperosok pada kondisi kecanduan.

Dalam kasus Pokemon Go, keberhasilan berburu, mengoleksi, melatih Pokemaon dan kemampuan naik level, misalnya, bisa menciptakan sensasi pencapaian (sense of accomplishment), kebanggaan (sense of pride), kemajuan (progression), dan aktualisasi diri (self actualization) yang menjadikan si pengguna ingin melakukannya berulang-ulang.

New Sosial Cool
Seluruh atribut Pokemon Go mulai dari permainannya, karakter monsternya, istilah-istilahnya, kini telah menjadi symbol of coolness baru. “Berburu Pakemon di jalan, mal, atau taman tengah kota itu keren,” begitu ungkapan yang tepat menggambarkan fenomena ini. Karena itu siapapun berlomba-lomba mengadopsinya. Dan sudah bisa diduga para selebritas (Ellen DeGeneres, Jo Jonas, Chrissy Teigen, Jimmy Fallon, dll.) menjadi role model yang menjadikan wabah Pokemon kian menghebat.

Karena menjadi symbol of coolness maka ia menjadi ajang narsis untuk menunjukkan siapa kita. Berburu Pokemon pun kini menjadi ajang untuk mendapatkan “social acceptance” dan “social reward” dari teman dan peers. Kalau sudah begini, maka sensasi bermain Pokemon Go tak hanya sebatas saat kita berburu dan mengoleksi Pokemon, tapi juga saat kita bisa menunjukkan kepada teman-teman dan kolega di kantor bahwa kita sedang berburu dan mengoleksi Pokemon. Di era media sosial dimana apapun bisa menyebar demikian hebat dan cepat, kehebohan Pokemon Go mendapatkan medium yang luar biasa melalui jalur peer-to-peer.

Kecanduan video game umumnya membuat orang tua resah karena dampak negatif yang ditimbulkannya seperti kemalasan, kesehatan, pemborosan waktu, dan sebagainya. Namun Pokemon Go agak lain. Kalangan profesional medis di Amerika justru mengapresiasi Pokemon Go karena bagus untuk kesehatan. “It potentially improving the mental and physical health of players,” ujar mereka.

Ya, karena dengan banyak berburu Pokemon di taman-taman atau jalan-jalan, badan menjadi lebih sehat, lemak banyak terbakar, dan kolesterol turun tajam. Saya hanya berharap mudah-mudahan kecanduan ini betul-betul membawa berkah.

 

Sumber gambar: techtimes.com

July 16, 2016   No Comments

Pesona Lebaran

Kemarin saya mendapat mention Twitter dari teman yang mudik ke Pati, Jawa Tengah. Mention itu berisi link yang membawa saya meluncur ke akun Facebook Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan hastag #PesonaLebaranPati. Saya pun sampai ke tulisan berjudul “Mudik ke Pati? Ini dia 10 destinasi paling keren” di akun tersebut.

Di dalam tulisan itu tersemat ajakan Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata. “Kami punya 10 daftar lokasi wisata yang perlu dikunjungi, semampang punya waktu longgar di Pati. Ada wisata alam, wisata religi, dan wisata sejarah di sana,” demikian ajakan Pak Menteri.

Sejurus kemudian 10 destinasi unggulan kota Pati yang layak dikunjungi pemudik diuraikan satu-satu berikut gambar-gambarnya. Di samping itu, tulisan tersebut juga memberikan informasi menarik mengenai 10 tujuan kuliner Pati dan 10 atraksi khas Pati yang layak disambangi semasa lebaran. Tulisan ditutup dengan sederetan hastag: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Tweet teman saya tersebut adalah bagian dari kampanye viral #PesonaLebaran dari Kemenpar yang dikomando langsung oleh Pak AY (demikian Pak Menteri biasa dipanggil) untuk memberikan informasi destinasi, kuliner, dan atraksi wisata di seluruh kota/kabupaten setanah air, terutama di kantong-kantong mudik dalam beberapa minggu ke depan.

Sedikit menyinggung Pak AY, sejak menjabat tahun lalu, menteri satu ini menggebrak dengan jurus-jurus marketing ampuh sehingga brand “Wonderful Indonesia” kian mencorong di dunia mengalahkan kampanye branding Malaysia, Thailand, Singapura. Bisa dikatakan inilah manteri paling marketer di antara menteri-menteri di dalam Kabinet Jokowi.

Malioboro

Wisata Mudik
Ide program #PesonaLebaran Kemenpar simple, kita punya liburan mudik lebaran selama dua bahkan ada yang sampai tiga minggu. Dari liburan sepanjang itu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya adalah untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan.

Nah, peluang inilah yang ingin ditangkap Kemenpar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan khususnya ke destinasi wisata di sekitar kantong-kantong mudik. Karena itu kemudian Pak AY memobilisasi semua kepala dinas pariwisata (Kadispar) provinsi, kota, maupun kabupaten untuk mempromosikan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing.

Ia meminta semua Kadispar untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. Agar branding-nya kuat menancap dan mudah terbaca oleh Mbah Google, hastag-nya pun diseragamkan. Misalnya kalau merekomendasikan wisata Pati maka hastag-nya: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pemasaran Horisontal

Kampanye viral #PesonaLebaran menarik, menurut saya, setidaknya dari dua aspek. Pertama, kampanye tersebut jeli memanfaatkan momentum setahun sekali Puasa-Lebaran untuk mendorong kunjungan wisata domestik. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 18 juta orang. Nah, secara jeli Kemenpar mencoba memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat.

Kedua, dengan men-share informasi 10 destinasi, 10 kuliner, 10 atraksi kabupaten/kota dan mendorong para netizen (seperti teman saya di atas) sebagai buzzer/influencer, maka kampanye tersebut mengandalkan pemasaran horisontal (word of mouth) yang powerful. Alih-alih menggunakan iklan yang mahal di koran atau TV, Kemenpar justru memanfaatkan netizen sebagai influencer sehingga murah tapi impactful (low budget high impact).

Pertanyaannya, siapa buzzer/influencer kampanye ini? Yang terutama tentu adalah para pemudik yang memiliki “nasionalisme” terhadap kampung halaman mereka. Seperti teman saya yang asal Pati, dengan senang hati ia menjadi advocator bagi Pati. Dengan semangat empat-lima ia berjibaku mempromosikan destinasi, kuliner, dan atraksi Pati kepada para pemudik lain melalui tweet dan status update di Facebook.

Saya sering mengatakan kampanye pemasaran horisontal atau word of mouth marketing adalah metode pemasaran paling ampuh dan tak tertandingi oleh metode pemasaran apapun yang lain.

Tapi untuk menyukseskan kampanye satu ini tidaklah gampang. Kuncinya terletak pada kemauan para pemudik sebagai advocator dalam menyebarkan viral. Menggerakkan mereka bukanlah pekerjaan gampang. Ya, karena mereka tidak dibayar.

 

Sumber foto: spotunik.com

 

July 3, 2016   No Comments

Transformasi Branding BRI

Satelit BRIsat milik BRI minggu dini hari lalu (19/6) sukses meluncur dari stasiun peluncuran di Kourou, Guyana Perancis. Kesuksesan ini merupakan momentum bersejarah tak hanya bagi BRI tapi juga dunia perbankan di Tanah Air.

Peluncuran itu punya arti penting bagi BRI karena dalam waktu singkat mampu meroketkan ekuitas merek (brand equity) BRI sebagai bank di jajaran terdepan dalam hal kecanggihan teknologi. Begitu mendengar BRI asosiasi yang muncul tak lagi “bank ndeso” seperti sebelumnya, tapi berubah lebih fresh dan canggih yaitu “bank satelit” atau “bank hitech”.

Peluncuran tersebut juga punya makna besar karena telah mengantarkan BRI pada capaian kelas dunia. Ya, karena satelit senilai Rp 3,375 triliun itu merupakan satelit pertama dan satu-satunya di dunia yang dipunyai institusi perbankan. “Jika Satelit Palapa merupakan satelit pertama yang dimiliki oleh rakyat Indonesia, maka BRIsat merupakan satelit pertama dan satu-satunya yang dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh bank,” ujar Hari Amijarso, Sekretaris Perusahaan BRI.

Transformasi Branding
Saya melihat peluncuran BRIsat merupakan tonggak penting yang menandai transformasi branding ketiga BRI atau saya sebut BRI 3.0. Nah, kalau ada BRI 3.0, maka tentu saja ada BRI 1.0 dan BRI 2.0.

Transformasi pertama BRI (saya sebut BRI 1.0) ditandai dengan keberhasilan bank ini dalam melayani masyarakat pedesaan melalui produk-produk legendarisnya seperti Simpedes dan Kupedes. Transformasi BRI 1.0 juga kesuksesan membangun jaringan layanan yang menyebar luas hingga ke pelosok desa (antara lain melalui BRI Unit). Melalui perjuangan puluhan tahun BRI mampu mengukuhkan diri sebagai “the biggest micro branking in the world”. Berkat keberhasilan inilah BRI kemudian identik dengan sebutan “bank ndeso” atau “bank rakyat”.

Transformasi branding kedua (BRI 2.0) dirintis sejak awal tahun 2000-an ketika BRI banyak berinvestasi di bidang teknologi informasi (TI). Kala itu BRI mulai mengimplementasi aplikasi BRINETS yang menjadi batu loncatan baginya memasuki era “tech banking”. Hasilnya, sejak akhir tahun 2000-an BRI begitu agresif meluncurkan produk-produk baru berbasis TI seperti: Tabungan BRItama, layanan ATM, kartu kredit/debit, internet banking, mobile banking, hingga private banking. Istilah yang populer waktu adalah: “BRI masuk kota”.

Nah, transformasi branding ketiga (BRI 3.0) ditandai dengan peluncuran satelit BRIsat yang sekaligus menandai era baru perbankan satelit. Kalau BRI 1.0 berwajah “ndeso”, BRI 2.0 berwajah “kota”, maka BRI 3.0 memiliki nuansa wajah “global” dan ”techy”. Kenapa “global”? Karena capaian BRI kali ini merupakan capaian berkelas dunia, bahkan seperti dikatakan Pak Hari, belum ada satu pun bank di dunia yang memiliki satelit. Kenapa “techy”? Ya karena satelit sudah terlanjur identik dengan teknologi canggih.

Menuju BRI 3.0
Tapi apakah dengan meluncurkan satelit kemudian semuanya beres? Apakah kesuksesan meluncurkan BRIsat secara otomatis mengantarkan BRI menjadi BRI 3.0? Tentu saja tidak. Jalan masih panjang untuk mewujudkan BRI 3.0.

Branding is about value. Branding bukan sebatas pencitraan. Kesuksesan branding ditentukan oleh kemampuan brand memberikan value ke konsumen. Ketika branding BRI 1.0 mengukuhkan posisinya sebagai bank pedesaan, itu karena BRI memang mampu menciptakan value kepada masyarakat pedesaan melalui solusi micro branking-nya. Bukan sebatas pencitraan.

Apakah sukses peluncuran BRIsat secara otomatis menghasilkan value ke nasabah BRI? Belum tentu. Di sinilah justru PR terbesar BRI, bagaimana ia bisa mengkonversi investasi pembelian satelit tersebut menjadi customer value yang betul-betul dirasakan oleh nasabahnya. Ingat, branding bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Bisa bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

So, Sukses transformasi BRI 3.0 ditentukan kemampuannya mendiversifikasi produk perbankan dengan kualitas kelas dunia, khususnya produk perbankan digital yang memerlukan teknologi mutakhir secanggih satelit.

Sukses transformasi branding BRI 3.0 juga ditentukan oleh kemampuannya mewujudkan konsep integrated payment system dengan memanfaatkan berbagai channel seperti EDC Wifi, POS Wifi, Web BRIlink. Juga kemampuan melayani nasabah

Sukses transformasi BRI 3.0 juga ditentukan oleh kemampuannya mewujudkan visi menjadi agent of development yang melayani masyarakat pedesaan di seluruh pelosok tanah air yang selama ini tak tersentuh layanan perbankan (unbank). Dengan satelitnya, BRI 3.0 harus bisa menjangkau yang tak terjangkau, dan melayani yang tak terlayani.

Wah, PR-nya masih banyak.

July 3, 2016   No Comments

#KelasInspirasi & Bukber Memberi: “Gen M”

Kalau selama ini kita mengenal Gen X, Gen Y, atau Gen Z, maka saya memperkenalkan generasi baru konsumen muslim yang hanya ada di Indonesia yang saya beri nama Gen M atau #GenerationMuslim.

Inilah generasi baru konsumen muslim yang bakal mendominasi jagad pemasaran di Indonesia. Mereka knowledgeable-modern, digital savvy, socially-connected, universalist-global minded, dan jangan lupa mereka juga konsumtif. Dengan daya beli yang tinggi dan pola konsumsi yang advanced, mereka akan menjadi segmen yang lukratif dan profitable.

#KelasInspirasi Gen M

Mereka lahir di akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an dan mengalami perubahan sosial-politik yang sangat kritikal dalam sejarah perkembangan umat Islam di negeri ini. Perubahan-perubahan itu antara lain masa bulan madu Orde Baru dan Islam, kemunculan Islam intelektual (ICMI), kejatuhan Soeharto/krisis moneter, kebebasan berekspresi keagamaan di era Gus Dur, peristiwa 9/11 dan fenomena Al Qaeda/ISIS, kebebasan pers, hingga revolusi digital dan media sosial.

Berbagai formative experience itulah yang membentuk nilai-nilai dan perilaku Gen M. Mereka menjadi muslim yang inklusif dan adaptif. Mereka adalah kaum universalist yang menempatkan kebaikan Islam sebagai universal goodness (rahmatan lil alamin). Dan mereka sangat aktif mengikuti kemajuan dunia Barat yang positif seperti teknologi, demokrasi, hingga budaya pop yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.

Sebagai konsumen mereka memiliki high buying power, high consumption, dan high demanding. Mereka adalah universal-benefit seeker yang memadukan ketaatan pada ajaran Islam dan kemanfaatan universal. Dengan kekuatan pasar yang dimilikinya, setiap marketer tak mungkin mengabaikan mereka.

Pastinya nggak sabar ingin mengetahui “mahluk” apa gerangan konsumen generasi baru bernama Gen M ini. Yuswohady akan berbagi bocoran isi buku terbarunya berjudul Gen M: The Indonesia’s Hottest Consumers (Bentang, 2016) yang baru meluncur di pasar Agustus 2016. Ikuti kupasan ringannya di acara Bukber Komunitas Memberi pada:

Hari/tanggal : Kamis, 23 Juni 2016, Pukul 16.00 – 19.00 WIB
Tempat : Graha Memberi, Jl. Waru 24, Rawamangun, Jakarta Timur
Tema : Gen M: “Insights and Strategies”
Narasumber : Yuswohady

Sambil belajar dan berbagi ilmu, nanti para Memberians bisa berakrab-akraban dan kangen-kangenan di buan yang penuh rahmat ini. Yuk hadir Gratis.. tis..tis.

Untuk hadir temen-temen Memberians daftar dulu ya ke: Lia 0857 8087 9897

June 21, 2016   No Comments

Bukber

Bukber alias buka bersama kini menjadi begitu istimewa, begitu cool, begitu fun, dan begitu penuh warna. Di mal-mal, di kantor-kantor, di restoran-restoran, bukber menjadi acara selebrasi yang paling menghebohkan selama bulan puasa ini.

Di bulan suci, acara dan accassion apapun kalau bisa dijadikan bukber. Kumpul-kumpul seluruh kerabat keluarga dijadikan bukber. Reuni SMA dijadikan bukber. Kumpul teman-teman kantor dijadikan bukber. Kopdar komunitas dijadikan bukber. Acara bedah buku dijadikan bukber. Press conference sebuah event dijadikan bukber. Seminar dan workshop dijadikan bukber. Launching produk dijadikan bukber. Pokoknya apapun.

Tak heran jika sedari pukul 3 sore jalanan di Jakarta sudah pada macet. Mobil-mobil menyemut menuju ke mal-mal atau restoran-restoran di pusat kota karena si empunya bergegas hendak berbukber-ria. Begitu adzan magrib berkumandang, gantian jalanan menjadi sepi karena mereka sudah berjubel di mal-mal dan restoran-restoran siap “merayakan” bukber.

Bukber

Koneksi Sosial
Itulah fenomena kaum muslim kekinian. Bukber yang dulu pada masa kecil saya penuh diwarnai kekhitmatan, kesederhanaan, dan kesahajaan, kini telah tersulap menjadi sebuah momen selebrasi dan sosialisasi yang penuh gebyar.

Coba saja datang ke mal-mal di Jakarta saat waktu buka tiba, kita akan mendapati begitu banyak kerumunan orang makan bersama, bercerita-cerita, tertawa-tertawa, tak ketinggalan ber-selfie dan ber-wefie ria. Seru luar biasa, tak beda dengan pesta ulang tahun atau pesta naik jabatan.

Di kalangan kaum muslim urban, bukber menjadi ajang untuk berkoneksi sosial dengan kerabat, teman sejawat, partner bisnis, hingga teman lama satu SMA. Tidak buruk juga, karena bukber bisa menjadi media silaturahmi dan “perekat sosial” yang meneduhkan. Bukber bisa menjadi “alasan” untuk menyambungkan lagi tali silaturahmi yang putus atau tak baik selama setahun sebelumnya.

Yang menarik, bukber bisa diterjemahkan ke dalam konteks kekinian sehingga menjadi lebih modern, lebih hidup, dan bisa menjadi bagian dari gaya hidup urban saat ini. Dengan begitu gaya hidup muslim akan terus relevan dan tak bakal ketinggalan jaman. Inilah barangkali uniknya Islam Indonesia yang inklusif, modern-universal, dan adaptif.

Balas Dendam
Berbicara bukber saya jadi ingat pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman minggu lalu. Pasalnya sang menteri terheran-heran kenapa harga pangan selalu melonjak di bulan puasa-lebaran. Di bulan Ramadhan, di kala konsumsi seharusnya turun, kenyataannya justru melonjak gila-gilaan. Harga komoditas pangan di pasar meningkat tajam seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

“Padahal kita puasa kan, pagi sampai sore menahan makan-minum, kemudian nafsu semua ditahan. Tapi ini nafsu membelinya meningkat, kok ada anomali,” ujar pak menteri. Menurut menteri konsumsi selama bulan puasa bisa mencapai dua kali lipat lebih besar dari bulan-bulan biasa.

Mendengar pernyataan tersebut saya jadi berpikir, “Jangan-jangan fenomena bukber gaya baru di atas merupakan biang keheranan pak menteri?” Bisa jadi massifnya acara bukber di mal-mal atau restoran-restoran menjadi pengungkit membengkaknya konsumsi kaum muslim kita.

Aneh memang, dari pagi hingga magrib kita puasa, tidak makan dan minum. Itu artinya kesempatan waktu konsumsi kita menjadi lebih sedikit, yaitu dari setelah magrib hingga malam dan waktu sahur. Nah, kalau benar pernyataan pak menteri bahwa konsumsi di bulan puasa naik hingga dua kali lipat, itu berarti konsumsi berlebih kita lakukan terpusat di saat-saat bukber.

Sambil terheran-heran seperti halnya pak menteri, saya pun kemudian bergumam: “Bisa jadi kini bukber telah menjadi alat balas dendam kita?

Seharian berpuasa kita berlapar-ria, begitu saat bukber tiba kita lampiaskan balas dendam kita dengan makan sebanyak-banyaknya, seenak-enaknya, dan semahal-mahalnya. Upsss!!!

 

June 18, 2016   No Comments

Disrupt Yourself or Someone Else Will

Saya baru menyelesaikan riset dan penulisan buku DISRUPT! “Gonjang Industri Komunikasi dan Strategi Memenangkannya” (Gramedia, 2016). Buku yang ditulis bersama Maya Watono dan Adji Watono, pemilk Dwi Sapta agensi komunikasi lokal terbesar di tanaha air, itu membahas disrupsi yang terjadi di industri agensi komunikasi (periklanan) kita selama 10 tahun terakhir.

Seperti kita tahu, selama 10 tahun terakhir banyak agensi periklanan di tanah air terkena gelombang empat disrupsi: disrupsi model bisnis, disrupsi media, disrupsi digital, disrupsi konsumen. Biayanya sangat besar karena begitu banyak pemain yang kolaps bahkan mati berguguran terdsrupsi oleh pemain-pemain lama maupun baru yang lebih relevan dengan kondisi “new normal” pasca disrupsi. Harap diketahui, berkat disrupsi tersebut industri periklanan kita saat ini telah didominasi oleh raksasa-raksasa asing seperti WPP, Havas, atau Dentsu.

Disrupt Book Cover

Dari kasus disrupsi yang tejadi di industri periklanan tersebut saya jadi berpikir pentingnya kita mendisrupsi perusahaan atau organisasi kita sebelum orang lain melakukannya. “Disrupt yourself or someone else will”

Dari buku tersebut saya kepikiran, kita harus selalu paranoid dan gelisah untuk mendisrupsi diri sendiri. Itu lebih baik daripada orang lain yang melakukannya.

So, bagaimana untuk melakukannya? Inilah bebeapa pelajaran berharga yang saya dapat selama melakukan riset dan menulis buku tersebut.

#1. Don’t Ignore the Signals
Ketika mendapati sinyal-sinyal disrupsi muncul, maka Anda tak boleh mengabaikannya. Anda harus super serius memikirkannya dimanapun dan kapanpun. Sinyal disrupsi adalah pucuk gunung es kecil di tengah laut luas, sementara sumber disrupsi adalah bongkahan es raksasa yang jutru ada di laut dalam. Nah, ketika sinyal disrupsi datang Anda harus menelusur jauh untuk mengurai dan mencari sumber musababnya.

Dengan mengurai sumber disrupsi maka Anda akan lebih tajam mengenali bagaimana disrupsi terjadi, dan kemudian menemukan model bisnis baru untuk menjinakkannya.

Sinyal-sinyal disrupsi di industri agensi komunikasi antara lain terlihat dari adanya perang harga antar agensi yang kemudian menggerus profit. Sinyal disrupsi juga terlihat dari munculnya latent competitors seperti Google atau Facebook yang cerdik mencuri pasar. Begitu juga munculnya platform baru seperti programatic buying yang menggunakan robot (algoritma) dalam proses belanja media. Ingat, radar harus Anda pasang untuk menangkap sinyal-sinyal halus tersebut.

#2. Break with the Past
Anda harus pintar-pintar “mengambil jarak” dengan segudang kesuksesan Anda di masa lalu. Kesuksesan di masa lalu membuat kita mabuk kepayang dan terlena. Kesuksesan masa lalu membuat kita merasa menjadi paling hebat dan paling benar. Kesuksesan masa lalu membuat kita gampang tersinggung ketika diingatkan dan dikritik.

Dan yang paling parah, kesuksesan masa lalu membuat kita susah mengadopsi paradigma baru. Kita begitu sulit meninggalkan paradigma lama atau model bisnis lama karena itulah yang membikin kita sukses di masa-masa sebelumnya. Begitu sinyal-sinyal disrupsi muncul, Anda harus berani “memutus hubungan” dengan masa lalu Anda yang gilang-gemilang.

#3. Yes We Can!!!
Disrupsi selalu menghasilkan paradigma dan model bisnis baru yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Karena itu jangan sampai Anda mem-blok pikiran Anda dengan mengatakan “Kami tidak bisa karena itu di luar bidang kemampuan kami” atau “Kami tak mungkin bisa karena itu tak ada hubungan dengan bisnis yang selama ini kami tekuni”.

Ambil contoh operator taksi yang didisrupsi perusahaan teknologi seperti Uber atau Grab. Tidak bisa mereka menyangkal dengan mengatakan, “kami tidak bisa karena kompetensi kami adalah mengelola armada taksi, bukan membuat aplikasi”. Disrupsi tak bisa dijinakkan dengan jawaban “kami tidak bisa”. Disrupsi hanya bisa dimenangkan dengan jawaban “Kami harus bisa!!!”

#4. Destroy the Core
Ini yang paling menyakitkan. Ketika sinyal-sinyal disrupsi muncul, maka Anda harus berani menghancurkan core model bisnis Anda yang bakal tak relevan lagi, dan kemudian menggantikannya dengan yang sama sekali baru. Inilah pilihan tersulit karena di masa lampau model bisnis tersebut sangat berjasa membesarkan Anda, dan kini dengan begitu kejam harus Anda bunuh.

Berbicara membunuh model bisnis lama, pernyataan Sir Martin Sorrel (CEO WPP, agensi periklanan terbesar di dunia) beberapa waktu lalu menjadi sangat pas. Bulan Mei lalu Sorrell mengatakan: “We’re not in the advertising business anymore.” Pernyataan itu seperti sambaran petir karena diucapkan oleh CEO agensi periklanan terbesar di dunia saat ini.

Melalui pernyataannya yang kontroversial Sorrel mengajak seluruh insan WPP untuk meninggalkan model bisnis lama yang telah usang dan masuk ke yang baru. Sorrel merusak model bisnis lama yang tak relevan lagi dan menciptakan model bisnis baru yang bakal menjadi pilar kesuksesan di masa depan.

#5. Reborn! Don’t be Affraid to Reinvent Yourself
Terakhir, jangan pernah takut untuk terlahir kembali. Temukan bisnis Anda kembali di atas fondasi model bisnis yang baru, yang mungkin sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Jadilah seperti ular yang bisa terus mlungsungi untuk memperbarui diri.

Disrupsi kini telah menjadi keseharian kita. Kita tak mungkin lagi lari menghindarinya. Maka pilihannya cuma ada satu: “Disrupt yourself or someone else will.”

June 11, 2016   No Comments

Dengan Digital, Mengubah Dunia

When we change the way we communicate, we change society

Ketika kita mampu mengubah bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan sesama masyarakat maupun dengan pemimpinnya, maka transformasi luar biasa bakal tak terhindarkan.

Ungkapan Clay Shirky, pakar internet, dalam Here Comes Everybody (2008) itu begitu mengena begitu kita kaitkan dengan sepak terjang lima orang hebat penerima Anugerah Telkomsel 2016. Mereka adalah Kertamalip, Rama Raditya, Ainun Najib, Nadiem Makarim,dan Ahmad Zacky.

Ketika masyarakat terkoneksi satu sama lain dan berkomunikasi intens melalui platform digital seperti blog atau Facebook, maka energi positif meluap-luap pun begitu mudah terbebaskan. Mereka menjadi masyarakat yang terlibat, peduli, partisipatif, bertanggung jawab, dan selalu tergerak untuk berkontribusi dan mengubah dunia.

Itulah yang dilakukan Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo di kaki gunung Rinjani Nusa Tenggara Timur. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) gampang dan murah seperti blog dan media sosial Kertamalip mampu menggerakkan warganya untuk berpatisipasi aktif membangun desa.

Ia menjadikan warganya melek internet, dan kemudian menggunakan internet untuk mendorong partisipasi masyarakat, menciptakan transparansi, menghilangkan sumbat-sumbat birokrasi, memperbaiki layanan publik, dan membangun good governance.

Namun di atas itu semua, sumbangsih paripurna sang kepala desa adalah mengedukasi masyarakat untuk berdaya. Mendorong warganya untuk peduli, terlibat, bertanggung jawab dan aktif berkontribusi bagi kemajuan desanya. Singkatnya, Kertamalip telah melakukan Revolusi Mental yang diimpikan Jokowi, bukan dengan penataran P4, tapi dengan blog dan Facebook.

Anugerah Telkomsel 2016

Connecting Citizens
Kertamalip tidak sendiri. Sekumpulan anak muda milenial tergerak hatinya mengabdi di ranah publik memberikan yang terbaik untuk bangsanya dengan memanfaatkan platform digital sebagai enabler. Dua di antaranya adalah Rama Raditya dan Ainun Najib.

Rama Raditya menciptakan aplikasi digital Qlue untuk menghubungkan aspirasi masyarakat sipil dengan pejabat publik. Dengan aplikasi tersebut masyarakat dapat melaporkan keluhannya mengenai tumpukan sampah, kemacetan, atau pungutan liar secara langsung. Dengan aplikasi ini, para pejabat publik berlomba-lomba bekerja lebih baik dengan cara menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat yang disalurkan lewat aplikasi ini.

Sementara Ainun Najib menciptkan situs kawalpemilu.org untuk mengawal rekapitulasi suara pemilihan umum di Tanah Air. Dengan pendekatan crowdsourcing Najib menggalang para relawan melalui jejaring media sosial. Melalui situsnya, Najib menggerakkan para relawan ini untuk membantu proses pemasukan data rekapitulasi pemilu. Hasil input data inilah yang menjadi sumber informasi yang bisa dipantau masyaakat melalui situs kawalpemilu.org.

Seperti dipraktekan Rama dan Najib, platform digital seperti blog dan aplikasi mobile telah menjadi alat transformasi sosial yang mampu menciptakan perubahan berarti dalam tata kelola pemerintahan. Dengan platform digital mereka telah membuka saluran-saluran komunikasi antara warganegara dengan aparat pemerintah yang selama ini mampet sekaligus mendorong transparansi.

Apa yang dilakukan Kertamalip, Rama, dan Najib merupakan inspirasi luar biasa bagi setiap pemimpin publik dari kepala desa hingga presiden, bahwa platform digital bisa menjadi disruptive tools yang berpotensi merevolusi efektivitas dan produktivitas pengelolaan sektor publik.

Tanpa banyak pidato dan himbauan, secara kongkrit mereka telah memberi alternatif solusi bagi persoalan masyarakat di depan mata. Mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa teknologi digital merupakan alat revolusi sosial yang impactful.

Business Enabler
Kalau Kertamalip, Rama, dan Najib berkiprah di sektor publik, maka Nadiem Makarim dan Ahmad Zacky memberikan sumbangsih tak kecil di ranah bisnis. Peran teknologi digital sebagai business enabler begitu substansial dalam memotong biaya transaksi (transaction costs), mendorong efisiensi dan produktivitas, menjangkau pasar, menciptakan engagement dengan konsumen, hingga berbagi sumber daya.

Nadiem dan Zacky memanfaatkan keunggulan digital secara cantik tak hanya untuk kemanfaatan bisnis mereka semata, tapi juga untuk masyarakat dan bangsa. Platform digital yang mereka tawarkan tak hanya menjawab persoalan bisnis yang mereka hadapi, tapi sekaligus menjadi solusi sosial berupa pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah dan pelaku usaha kecil-menengah.

Apa yang dilakukan Nadiem sangat revolusioner, menciptakan sebuah aplikasi digital Gojek yang menghubungkan masyarakat dengan layanan ojek yang super efisien dan bebas repot. Layanannya tak cuma transportasi orang tapi melebar pengiriman makanan, dokumen, belanja, bahkan jasa pijat.

Dengan platform berbagi (sharing platform) maka kedua belah pihak baik konsumen maupun tukang ojek diuntungkan. Konsumen mendapatkan kepastian harga dan kemudahan pemesanan. Sementara di sisi lain pendapatan tukang ojek terdongkrak hingga lebih dari 50%. Tak bisa disangkal, platform yang dirintis Nadiem sekaligus merupakan solusi sosial bagi problem pengangguran yang demikian akut di negeri ini.

Kontribusi Ahmad Zacky tak kalah bernilai. Ia membuka bukalapak.com, sebuah platform jual beli online yang menampung para pelaku usaha kecil-menengah (UKM). Yang menarik, apa yang dilakukan Zacky adalah beyond business, tak melulu bermotif bisnis. Ia menggunakan bukalapak.com sebagai platform untuk mengedukasi, memberdayakan, dan menaikkan kelas UKM sehingga cukup powerful untuk menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Apa yang dilakukan Nadiem dan Zacky sangat bermakna karena dengan platform berbagi mereka menciptakan inovasi bisnis untuk menghasilkan extraordinary value ke konsumen. Tapi tak hanya itu, mereka juga menciptakan inovasi sosial dengan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di lingkungannya.

Dengan platform berbagi yang diciptakan, mereka membuka seluas-luasnya kesempatan berusaha di kalangan individu (individual entrepreneur) dan wirausaha kecil-menengah (micro entrepreneur) yang berpotensi mengurangi pengangguran dan mewujudkan pemerataan kemakmuran. Lebih luas lagi, mereka juga berkontribusi membangkitkan social capital dengan mengembangkan lapis masyarakat wirausaha yang berpikiran positif, produktif, dan selalu mencipta nilai.

Apapun cara dan hasilnya, ada yang sama dari apa yang dilakukan Kertamalip, Rama Raditya, Najib, Nadiem, dan Zacky. Mereka semua menggunakan keajaiban digital untuk mengubah dunia. Bangsa ini membutuhkan ribuan bahkan jutaan orang seperti mereka.

 

*Dimuat di KompasKlass edisi 1 Juni 2016

June 5, 2016   No Comments

DISRUPT!

The age of disruption. Itu barangkali ungkapan paling pas untuk menggambarkan masa yang kita alami saat ini.

Kodak yang perkasa ratusan tahun luluh-lantak oleh “mainan anak-anak” bernama Instagram. Operator telko yang menggurita begitu mudah “ditelikung” oleh layanan startup OTT (over the top) seperti WA atau Skype. Legenda-legenda hotel seperti Hyatt atau Hilton begitu mudah ditaklukkan oleh platform berbagi seperti AirBnB.

Korporasi-korporasi incumbent di seluruh dunia kini sedang berdebar-debar menghadapi kenyataan pahit didisrupsi oleh startup serumur jagung yang bergentayangan layaknya malaikat pencabut nyawa.

Nah, saya punya kasus menarik mengenai kasus dirupsi di industri agensi komunikasi (sering juga disebut biro iklan atau agensi periklanan) yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir di tanah air. Kasus itu saya tuliskan dalam buku saya terbaru berjudul DISRUPT! “Gonjang Industri Komunikasi dan Strategi Memenangkannya” (Gramedia, 2016).

Buku itu ditulis bersama Pak Adji Watono dan Maya Watono, pemilik Dwi Sapta Group, salah satu agensi komunikasi yang sukses melewati disrupsi di atas.

Disrupt Book Cover

Pesta Telah Usai
Kita tahu bersama, selama 10 tahun terakhir banyak agensi periklanan di tanah air rontok oleh adanya disrupsi. Selalu saja, disrupsi menciptakan struktur industri yang baru. Disrupsi membentuk peta persaingan baru. Dan jangan lupa, disrupsi juga menghasilkan pemain-pemain baru: baik the winners maupun the losers.

Masa jaya agensi komunikasi dengan fee mencapai 17% telah lewat. Komoditisasi dan fragmentasi yang menerpa industri ini memicu perang harga yang memangkas agency fee ke titik terendah mendekati nol. Pesta telah usai.

Disrupsi itu menghasilkan new normal dimana agensi-agensi multinasional mendominasi pasar dengan otot finansial praktis tanpa batas. Sebaliknya agensi lokal megap-megap, menjadi agensi liliput, bahkan banyak yang musnah ditelan bumi. Di industri ini pemain lokal sudah tak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Revolusi digital memperparah lanskap media dengan terciptanya kanal-kanal baru berbasis digital baik paid, owned, ataupun earned media. Pola interaksinya pun bergeser dari komunikasi satu arah (one-way) ke dua arah (two-way); dari broadcasting ke engagement; dan dari “one to many” ke “many to many”.

Teknologi digital juga memicu demokratisasi media dimana pemilik merek bisa memiliki medianya sendiri. “Now Every company is a media company,” ujar Tom Foremski seorang guru media. Setiap perusahaan kini bisa memiliki media, mencipta (create), dan mengurasi (curate) konten sendiri untuk para audiensnya.

Tak heran jika kini kanal-kanal digital mulai meramaikan kancah persaingan dan mulai mengambil kue pasar media. Tapi sekali lagi, dominasi pemain global terutama Google dan Facebook tak mungkin bisa dibendung.

Memang TV masih tetap perkasa dengan penetrasi lebih dari 90%, namun dengan tren pertumbuhannya yang luar biasa semua pemain mengakui bahwa masa depan komunikasi pemasaran di tangan media digital. It’s a matter of time.

Wake-up Call
Celakanya, disrupsi 10 tahun terakhir itu rupanya baru pemanasan. Karena kini pakar dan pemain sudah samar-samar melihat datangnya disrupsi jilid dua. Yang paling menohok adalah peringatan Sir Martin Sorrell, CEO WPP, yang mengatakan: “We’re not in the advertising business anymore.”

Pernyataan itu seperti sambaran petir karena diucapkan oleh CEO agensi periklanan terbesar di dunia saat ini. Ungkapan itu adalah cermin bahwa industri periklanan kebingungan menjawab pertanyaan dasar: “What the business are we in?”

Ucapan Sorrell adalah wake-up call bagi setiap insan periklanan. Komoditisasi/fragmentasi yang memicu price war, otomasi (melalui programatic buying) yang menggusur peran agensi sebagai middleman, dan lahirnya platform “many-to-many” yang menciptakan horisontality, mengubah wajah industri ini ke depan.

Nyawa agensi komunikasi bukan lagi kreativitas seperti yang kita temukan pada agensi periklanan tradisional. Nyawa agensi komunikasi ditentukan oleh data dan teknologi. Itu sebabnya pemain di industri ini lebih takut bersaing dengan Google atau Facebook ketimbang bersaing dengan sesama mereka.

Dunia komunikasi pemasaran akan bergeser dari “creative-driven communications” menuju “data-driven communications”. Dan agensi komunikasi akan bergeser dari “creative-driven agency” menjadi “data-driven agency” atau “technology-driven agency”. Wow!!!

Kepada siapapun yang berkiprah di industri ini, saya hanya bisa mengucapkan: welcome to the journey of disruption.

June 4, 2016   No Comments