E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

The Batik Lady

Sally Giovanny memulai bisnis batiknya dengan modal yang diperoleh dari amplop pemberian tamu saat pernikahan dengan suami tercinta Ibnu Riyanto tahun 2006. Waktu itu mereka nikah muda di usia 17 tahun. Dengan “modal amplop nikah” tersebut mereka memulai usaha dengan menjadi suplier kain mori, bahan baku batik. “Uang yang terkumpul sekitar 17 juta, itulah modal awal saya,” ujar Mbak Sally saat bareng saya mengisi acara Indonesia Morning Show NET TV hari Jumat (27/3) pagi lalu.

Sally Giovanny - IMS NET TV

Awalnya memang tertatih-tatih karena memang saat itu batik adalah komoditas kelas kambing belum semencorong sekarang. Dua tahun pertama adalah masa-masa yang berat bagi pasangan muda ini dalam merintis bisnis. Namun, seiring booming batik di tanah air menyusul ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia, bisnis mbak Sally pelan tapi pasti mulai mencorong. Doa tiap malam dan kerja keras membanting tulang pasangan muda ini kemudian membuahkan hasil.

Dengan mengusung identitas batik Trusmi yang menjadi warisan budaya khas Cirebon, kini bisnis batik mbak Sally melesat bak meteor. Kini ia memiliki Pusat Grosir Batik Trusmi yang merupakan ruang pamer batik terbesar di tanah air dengan luas mencapai 1,5 hektar. Di tahun 2013 mbak Sally bahkan mendapatkaan rekor MURI sebagai pusat grosir batik terbesar di seantero tanah air. Mbak Sally juga memperluas gerainya hingga ke kota-kota besar lain seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Bahkan batik mbak Sally telah menembus pasar global. “Kami sudah ekspor batik Trusmi ke New York, Australia, dan Hungaria,” ujarnya.

Konsep “3 in 1”
Dari sisi marketing dan branding, model bisnis yang dikembangkan mbak Sally luar biasa unik, sehingga menarik untuk dikritisi. Sukses model bisnis ini ditopang oleh tiga faktor yang dirangkai menjadi satu kesatuan konsep yang solid. Itu sebabnya saya namakan konsep “3 in 1”. Faktor pertama adalah pusat grosir batik yang mengusung konsep “one stop shopping experience” dengan mengandalkan kenyamanan (convenience), kelengkapan produk (veriety), dan harga yang terjangkau (value price) melalui pola grosiran.

Faktor kedua adalah apa yang saya sebut konsep “tourism destination branding”. Mbak Sally menempatkan toko grosirnya tak hanya sebagai tempat belanja, tapi juga sebagai sebuah destinasi wisata utama kota Cirebon. Tempat ini menjadi signature destination bagi kota Cirebon: “Belum afdol Anda ke kota Cirebon kalau belum mampir ke Pusat Grosir Batik Trusmi.” Berbagai atraksi wisata disiapkan di situ mulai dari: pusat oleh-oleh, beragam kuliner khas Cirebon, sport center, hingga wahana belajar membatik bagi pengunjung.

Faktor ketiga adalah pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan dengan para pembatik desa Trusmi. Di Pusat Grosir Batik Trusmi, mbak Sally menampung sekitar 400 pembatik lokal untuk menghasilkan batik-batik berkualitas di bawah bimbingannya. “Saya menyediakan kainnya, membimbing mereka, dan kemudian membelinya,” ujarnya. Mbak Sally membimbing para pengrajin batik dari sisi teknis, kualitas, dan disain untuk menghasilkan karya batik yang memenuhi standar kualitas yang ia persyaratkan. Walaupun begitu, ia tetap membebaskan pembatik yang ingin berkreasi sendiri.

Model bisnis yang dikembangkan mbak Sally cerdas karena menggabungkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan dan destinasi wisata yang berbasis kearifan lokal. Tak heran jika Pusat Grosir Batik Trusmi menjadi magnet yang ampuh menarik wisatawan dalam dan luar negeri. Model bisnis yang dibesut mbak Sally juga mulia karena memberdayakan para pembatik gurem lokal sehingga mereka mandiri dan sejahtera. Ini adalah sebuah kemitraan yang indah dan mulia, dimana si kecil dan lemah diayomi oleh yang besar.

Model Industri Kreatif
Mengamati model bisnis yang dikembangkan mbak Sally, rasa ingin tahu saya membuncah. Saya melihat, formula sukses mbak Sally bisa menjadi model bagi para wirausahawan industri kreatif di seluruh tanah air. Kenapa begitu? Karena model bisnis berkonsep “3 in 1” tersebut bisa dijalankan untuk produk-produk lain berbasis kerajinan (craftmanship) selain batik seperti: produk fesyen, ukiran, kuliner, boneka dan mainan anak-anak, asesoris, seni patung, seni kriya/gerabah, dan lain-lain. Perlu diingat Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang memliki kemampuan craftmanship terbaik di dunia.

Saya membayangkan konsep “3 in 1” mbak Sally bisa dikembangkan di kota atau kabupaten lain di seluruh tanah air. Masing-masing kota/kabupaten ini bisa mengembangkan satu produk kerajinan yang menjadi signature product bagi kota/kabupaten tersebut. Kemudian pemasaran signature product itu dilakukan di suatu kawasan tertentu (seperti konsep Pusat Grosir Batik Trusmi) yang diposisikan sebagai destinasi wisata khas kota/kabupaten tersebut.

Coba bayangkan, kalau lebih dari 400 kota/kabupaten di negeri ini memiliki satu signature product dan kemudian dikelola dengan konsep “3 in 1” ala mbak Sally, maka negeri ini akan indah sekali. Ya, karena kita akan memiliki ratusan destinasi wisata luar biasa yang menjadi magnet turis domestik maupun mancanegara. Dengan begitu target Kemenpar 20 juta wisman tahun 2019 mestinya tak sulit diwujudkan. Tak hanya itu, di dalam destinasi wisata tersebut terdapat sebuah aktivitas ekonomi produktif yang melibatkan pengrajin dengan pola kemitraan yang indah dan mulia ala mbak Sally.

Walau mungkin tanpa sadar, mbak Sally telah menciptakan sebuah model bisnis yang solid dan mulia khas Indonesia. Sebuah model bisnis yang sarat kepedulian, pemberdayaan, welas asih, jauh dari prinsip kapitalisme menghisap. Dan dengan model bisnis tersebut ia telah mengangkat dan mengembangkan batik Trusmi khas Cirebon dan batik secara keseluruhan. Karena itu tak berlebihan jika saya menyebut mbak Sally sebagai pahlawan batik: “The Batik Lady

 

* Anyway, Bisnis batik mbak Sally Giovanny juga akan dibedah tuntas di Pestawirausaha 2015 yang dibesut oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA), nanti pada tanggal 3, 4, 5 April 2015 di Taman Mini Indonesia Indah. Kesempatan emas ketemu entrepreneurs hebat dari seluruh pelosok negeri. Jangan lupa datang yaaaaa…!!!

March 26, 2015   3 Comments

Social Biz Model

Minggu lalu saya diundang Berita Satu untuk sebuah acara TV talkshow yang bagi saya sangat inspiring. Saya diminta membahas sepak-terjang seorang gadis belasan tahun membangun bisnis online. Namanya Chloe Purnama. Yang istimewa adalah model bisnis yang dibesut Chloe, yaitu social biz model. Mengembangkan bisnis online oleh teen sudah biasa di Indonesia, tapi bisnis online yang diramu dengan misi kepedulian sosial, itu yang masih tidak biasa.

Talk show Berita Satu - Chloe Purnama

Peduli
Chole hidup dalam sebuah keluarga yang hangat dan bahagia. Seperti umumnya keluarga bahagia, masa kanak-kanaknya menyenangkan. Everything is perfect. Namun titik balik terjadi saat Clida, salah satu adik kembarnya meninggal dunia akibat kanker ganas di otak. Peristiwa memilukan ini mengubah hidup dan pandangan Chloe dan keluarganya. Nuraninya terketuk. Sejak saat itu spirit memberi dan berbaginya membuncah.

Dorongan yang kuat untuk memberi manfaat kepada orang lain terutama mereka yang berkekurangan akhirnya membawa Chloe kepada bisnis online shop. Misinya mulia, berdagang di ranah online kemudian menyumbangkan hasilnya untuk orang-orang yang membutuhkan. Bagi Chloe memberi kepada orang yang berkekurangan adalah obat paling mujarab atas kedukaan luar biasa yang ia alami karena kehilangan sang adik.

Awalnya Chloe menjual produk-produknya (mulai dari produk fesyen, kosmetik, hingga beragam asesoris) melalui grup-grup BBM yang dia ikuti. Dengan tekun ia mengetuk hati teman-temannya untuk membeli produk-produk yang ia tawarkan sekaligus membantu sesama. Bisnis online Chloe mulai menggeliat setelah ia memanfaatkan Instagram (cek: @cloepurnama). Dengan modal akun Instagram dan ketekunan melayani pelanggan, dalam waktu dua tahun bisnis online Chloe sudah mencapai omset ratusan juta perak.

Chloe - Sukses Berbisnis Online

Story-Telling
Membuka toko online melalui blog atau Instagram mah gampang, semua orang bisa. Apa susahnya membuat blog atau membuka akun Instagram. Yang sulit adalah mendatangkan traffic dan merayu netizen untuk berkunjung. Nah, akun Instagram Chloe memiliki daya magnet yang luar biasa dalam menarik netizen karena memiliki “cool factor” dan elemen story-telling yang kuat. Apa story-telling tersebut? Tak lain adalah idealisme dan social biz yang melandasi model bisnisnya.

Inilah yang namanya business with principles. Bisnis yang tak melulu mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tapi dilandasi oleh prinsip-prinsip memberi dan berbagi yang meneduhkan. Bagi bisnis Chloe, spirit of giving inilah sumber magnet untuk menarik konsumen. Bisnis yang dijalani Chloe mengandung nilai-nilai mulia yang mampu membentuk emotional connection antara brand dengan konsumen. Emotional connection inilah yang menjadi dasar terbentuknya relationship, loyalty, bahkan evangelism di kalangan konsumen-konsumennya. Emotional connection ini pula yang memicu word of mouth dan positive viral di kalangan netizen yang tersentuh oleh ide mulia di balik bisnis tersebut.

Sepak terjang Chloe, mengingatkan saya pada TOMS Shoes di Amerika Serikat yang mengusung model bisnis yang kira-kira sama. TOMS yang didirikan oleh Blake Mycoskie ini menggunakan apa yang disebut model bisnis “One for One” yang sukses luar biasa. Intinya, untuk satu pasang sepatu yang terjual, TOMS mendonasikan satu pasang sepatu lain untuk anak-anak yang tidak beruntung di Argentina, Ethiopia, Rwanda, Guatemala, dan lain-lain. Dengan mengandalkan word of mouth dan para evangelists fanatik sebagai alat pemasaran ampuh, TOMS meraup sukses luar biasa hingga merambah kategori lain seperti kacamata dan baju. Seperti halnya Chloe, TOMS mengandalkan kekuatan story-telling dengan sebuah misi bisnis yang sangat mulia.

TOMS - Blake Mycoskie

The More You Give, The More You Get
Upaya mulia Chloe memberi pelajaran berharga pada kita betapa kepedulian kepada sesama bisa menjadi “roh” bagi kesuksesan sebuah bisnis. Coba saja kalau bisnis online Chloe murni mencari profit seperti umumnya bisnis-bisnis online yang lain, pasti siapapun tak akan peduli. Mungkin juga saya tak akan menulis artikel ini. Namun ketika pilar-pilar bisnisnya dibangun di atas spirit of giving yang luar biasa maka dunia pun menoleh kepadanya. Istilah kerennya: mestakung, semesta mendukung. Barangkali karena pengaruh mestakung pula saya menulis artikel ini.

Saya percaya pada hukum Tuhan bahwa, ketika Anda berbuat kebajikan dan memberi kemanfaatan luar biasa pada orang-orang di sekitar Anda, maka mereka akan membalasnya dengan kebajikan dan kemanfaatan yang jauh lebih luar biasa. “The more you give, the more you get”. Ketika Google misalnya, memberikan kemanfaatan luar biasa kepada kita semua (contonya: cari alamat gang di Jakarta begitu gampangnya dengan Google Map, gratis lagi) maka kita pun akan balik berupaya menyukseskan Google. Tak heran jika Google kini menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia. Sekali lagi… mestakung. Karena itu janganlah ragu-ragu untuk give more ke orang lain, karena pasti Anda akan get more dari mereka.

Prinsip “the more you give, the more you get” begitu gampang diucapkan tapi amat sulit dijalankan. Untuk mewujudkannya dibutuhka ketulusan, kejujuran pada diri sendiri, dan keikhlasan. Dan terus terang, selama sejam saya di acara talkshow Berita Satu, saya (Nama: Yuswohady. Umur: kepala empat. Dikenal sebagai: pakar bisnis dan pemasaran) belajar ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan yang luar biasa dari seorang gadis berusia 13 tahun. Wow!!! Dan ingat tiga hal inilah “jantung” dari social biz model.

 

* Ikuti Radio Talkshow SmartFM 95.9Social Branding” bersama saya Yuswohady dan Chloe Purnama, Senin, 23 Maret, pk 8-9 pagi, live di 8 kota, pasti seru euyyyy…

March 21, 2015   2 Comments

Akik

Heboh batu akik menyapu seluruh pelosok negeri. Di mana-mana orang ngobrolin batu akik. Ngomongin batu akik kini tak kalah seru dibanding ngomongin sepak bola, bisa seharian nggak ada habisnya. Bisnis batu akik pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Batu Bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh menjadi “selebritis” yang diburu penghobi dan kolektor batu akik. Harganya ampuuun, konon ada yang mencapi miliaran rupiah.

Menggeliatnya bisnis batu akik menarik ditinjau dari sudut pandang kalangan kelas menengah (saya menyebutnya: consumer 3000). Di buku saya Consumer 3000, saya menyebut konsumen dari kalangan kelas menengah ini memiliki tiga ciri. Pertama, memiliki daya beli tinggi (high buying power). Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas (knowledgeable) mengingat sumber-sumber informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga, antar terhubung satu sama lain (socially-connected) melalui media baru seperti blog, Twitter, atau Facebook.

Harus diingat, fenomena heboh akik adalah fenomena kelas menengah. Kenapa? Karena, tak seperti dulu-dulu, harga akik kini sudah cukup mahal dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Yang mampu mengoleksi beragam batu akik bernilai jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta hanyalah (minimal) kalangan kelas menengah. Karena jumlah kelas menengah begitu besar mendominasi penduduk kita, tak heran jika heboh akik ini meluas demikian hebatnya.

Dari sudut pandang konsumen kelas menengah, ada tiga alasan yang menjadikan bisnis ini demikian heboh.

Hobi plus Investasi… Why Not!!!
Alasan pertama dari sisi hobi dan investasi. Kelas menengah adalah konsumen yang kebutuhan-kebutuhannya mulai sophisticated, tak melulu mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan. Dengan kemampuan keuangan dan daya beli yang lumayan, mereka mulai membutuhkan hiburan, liburan, atau memanjakan hobi. Tak mengherankan jika bisnis hiburan (contohnya: karaoke), liburan (contonya: liburan ke Singapura), dan hobi (contohnya: hobi otomotif) merupakan bisnis yang pertumbuhnnya menggeliat luar biasa. Nah, contoh hobi yang kini kian mereka gemari adalah mengoleksi batu akik.

Hobi mengoleksi batu akik kini menjadi spesial bagi kelas menengah mengungguli hobi-hobi yang lain karena di dalamnya terdapat unsur investasi. Perlu diingat, salah satu ciri lain dari kelas menengah adalah mereka mulai memiliki uang menganggur (discretionary income) yang bisa diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk portofolio investasi mulai dari deposito, emas, properti, hingga saham. Batu akik berpotensi menjadi portofolio investasi yang menarik akhir-akhir ini karena nilainya yang terus naik. Kabar burung yang terdengar bahkan harganya mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Nah, ketika hobi dan investasi ini bisa “bersatu-padu” dalam entitas bisnis akik, maka tak mengherankan jika bisnis ini menjadi pilihan yang seksi bagi kalangan kelas menengah. Mereka gegap gempita memburu bisnis ini.

Instant Financial Freedom
Alasan kedua dari sisi mimpi kelas menengah untuk mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Inilah mimpi terbesar dari kalangan kelas menengah kita: kerja habis-habisan di usia muda, lalu memasuki usia 40 atau 50 tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hidup dengan bunga deposito atau gain saham. Nah, bisnis batu akik bisa menjadi medium baru bagi kalangan kelas menengah kita untuk mewujudkan kebebasan finansial tersebut dengan cara aji mumpung memanfaatkan harganya gila-gilaan.

Sesungguhnya tidak tepat mengatakan bisnis batu akik sebagai investasi, lebih tepatnya adalah spekulasi. Ya, karena tingginya nilai batu akik belum sepenuhnya teruji. Takutnya harga batu akik yang melambung akhir-akhir ini adalah anomali. Tak tertutup kemungkinan tiga bulan dari sekarang nilainya jatuh seperti yang dialami Anthorium beberapa tahun lalu. So, maraknya bisnis akik akhir-akhir ini tak lain adalah cermin dari “irrational exhuberance” (meminjam Alan Greenspan) untuk mewujudkan kebebasan finansial dengan cara-cara yang instan.

Para “pelaku dadakan” bisnis akik ini terobsesi untuk kaya mendadak karena terbius oleh simpang-siur informasi mengenai tingginya nilai batu akik. Saya misalnya, menemukan di salah satu posting di media online, bahwa harga satu batu akik bisa mencapai Rp.18 miliar… wow!!! Obsesi menjadi jutawan atau miliarder dengan mudah dan instan inilah yang menjadi penyulut maraknya bisnis ini beberapa tahun terakhir. Semua orang terbuai oleh obsesi menjadi kaya mendadak.

WOM Bak Virus
Alasan ketiga adalah hadirnya media sosial yang memainkan peran kunci dalam “menggoreng” nilai batu akik yang gila-gilaan. Seperti saya ungkapkan di depan konsumen kelas menengah adalah kalangan yang socially-connected alias terhubung satu sama lain oleh media seperti blog, Twitter, atau Facebook. Dengan adanya media sosial, informasi apapun merambat demikian cepat. Contohnya harga batu akik Rp.18 miliar tadi, bisa merambat demikian cepat menghasilkan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth, WOM) yang menjadikan bisnis ini demikian hot dan atraktif.

Komunitas-komunitas batu akik, baik offline maupun online, menjadi agen yang penting bagi terwujudnya WOM tersebut. Melalui percakapan di dalam dan antar komunitas itulah nilai bisnis batu akik “digoreng” sehingga memiliki daya tarik yang luar biasa. Kisah-kisah sukses pebisnis batu akik begitu bombastis disebarkan melalui media sosial bak virus ganas. Dari situ muncul exhuberance alias kegairahan luar biasa untuk berbisnis batu akik, tak hanya dari kalangan yang telah lama berkecimpiung di bisnis ini tapi terutama orang-orang awam dan pebisnis-pebisnis batu akik dadakan. Harap diketahui, yang justru heboh adalah yang terakhir ini.

Harus diakui heboh bisnis akik membawa manfaat ekonomi yang positif bagi kita semua. Karena itu saya selalu berdoa agar heboh bisnis ini bisa berlangsung terus dan sustainable. Jangan sampai kejadian heboh Anthorium atau ikan Louhan terulang.

March 14, 2015   2 Comments

Java Jazz… Selfie-Wefie

Java Jazz Festival datang lagi. Terus terang, saya melihat tahun ini minim bintang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi tetap saja, Java Jazz adalah suguhan hebat tak boleh terlewatkan. Setidaknya masih ada legenda-legenda jazz seperti Ramsey Lewis, Courtney Pine, Bobby McFerrin, atau Brad Mehldau dan Chris Botti. Dan seperti halnya tahun-tahun lalu, tiga hari full saya heboh betul “berburu panggung” sore hingga diri hari.

Di samping berburu panggung dan merasakan penampilan jazzer kelas dunia, hobi unik saya tiap kali nonton Java Jazz adalah mengamati penonton Java Jazz. Yup, sebagian besar mereka adalah kalangan kelas menengah (yes, Consumer 3000) yang haus hiburan berkelas dunia. Seperti sering saya tulis, kalangan ini memiliki tiga ciri utama: daya beli lumayan tinggi (high buying power), berpengetahuan dan haus informasi (knowledgeable), dan secara sosial terhubung satu sama lain (socially-connected). Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah ciri terakhir.

Selfie, Wefie
Yang paling menarik saya saat mengamati penonton Java Jazz adalah perilaku selfie-wefie mereka. Di mana-mana mereka selfie-wefie: di wall of fame tentu saja, di depan panggung, di tengah kerumunan penonton, di panggung terbuka, di stan-stan sponsor, di area food court, di manapun. Tak bisa foto selfie dengan si artis nggak papa, selfie bareng foto si artis juga tak kalah oke. Syaratnya cuma satu, di setiap foto selfie-wefie mereka harus ada logo atau atribut Java Jazz.

Inilah satu hal fenomenal yang saya temui di Java Jazz dari sisi perilaku konsumen: mereka nonton Java Jazz tak hanya untuk mendengarkan musisi jazz kelas dunia, tapi juga agar dilihat orang lain sedang nonton Java Jazz. Nggak penting pertunjukannya berkelas, nggak penting musisinya hebat, yang penting terlihat keren di Twitter, Instagram, atau Path karena sedang menonton Java Jazz. Di lihat orang lain memberi eksistensi bagi mereka.

Harus diakui setelah 11 tahun dibesut, Java Jazz (dan jazz secara umum) telah menjadi sebuah simbol kekerenan dan keprestisan. Java Jazz is a cool and prestigious brand. Nonton Java Jazz adalah “something awesome”, tak hanya karena keindahan musik dan kehebohan pertunjukannya, tapi juga karena bisa dipamerkan ke teman-teman, kolega di kantor, rekan bisnis, pacar dan calon pacar, kerabat di kampung, dan siapapun yang perlu dipameri.

Bagi mereka, menggemari, bisa menikmati, dan menjadi penonton Java Jazz adalah cermin posisi sosial tertentu yang prestisius. Mereka dianggap kelompok dengan gaya hidup, tingkat pengetahuan-wawasan, dan cita rasa seni tertentu, yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Mereka membeli tiket Java Jazz bukan semata untuk menikmati keindahan musik jazz tapi juga untuk mendapatkan prestise sosial. Sama dengan seorang kaya membeli Ferrari bukan untuk ngebut (karena jalanan Jakarta macet ampun) tapi agar bisa narsis dilihat tetangga mampu beli Ferrari. Punya Ferrari adalah prestise sosial yang tak ternilai harganya.

Social Experience
Inilah abad revolusi media sosial. Ketika konsumen terhubung satu sama lain oleh media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, atau Path, maka mereka begitu gampang berbagi citra diri (personal image) ke orang lain. Ketika media sosial memungkinkan kita menjangkau audiens yang begitu luas, maka kinilah saatnya kita mengumbar kenarsisan kita.

Sebut saja jaman ini adalah era “democartization of narcissism”. Era dimana siapapun mendapatkan hak penuh untuk narsis, nggak cuma monopoli Syahrini. Budaya “see and to be seen” pun menjadi wabah yang merajalela. Keinginan hakiki kita untuk dilihat dan diperhatikan (saya sebut: “naluri narsis”) pun menjadi terbebaskan dan terlampiaskan. Tagline YouTube “Broadcast Yourself” menjadi semacam “pekik kemerdekaan” yang menandai terbebasnya konsumen untuk memuaskan kebutuhan narsisnya.

Pengalaman berbagi foto selfie-wefie Java Jazz kita di Twitter atau Instagram menghasilkan apa yang saya sebut social experience. Ini semacam “kenikmatan sosial” yang kita peroleh saat kita disorot ribuan atau jutaan pasang mata teman-teman kita. Kenikmatan itu kita dapatkan jika kita diperhatikan orang lain. Atau kenikmatan yang kita peroleh jika kita berelasi, berbagi pengalaman, dan berinteraksi dengan orang-orang di luar kita. Sebuah relasi yang menghasilkan kebersamaan, kebanggaan, rasa percaya diri, aktualisasi diri, perasaan GR (gedhe rumongso), kebermaknaan diri, bahkan eksistensi diri.

Barangkali karena hal terakhir inilah event ini kian ramai dari tahun ke tahun. Karena kekuatan brand-nya sebagai symbol of coolness and prestige, Java Jazz memberi medium bagi eksistensi diri para penonton. Bagi mereka Java Jazz tak hanya ajang menikmati musik, tapi juga (yang lebih penting) ajang selfie-wefie.

 

March 7, 2015   1 Comment

Berani Ganjil

Seminggu ini saya nonton dua film yang begitu mendalam mengganggu dan memengaruhi otak saya. Keduanya kebetulan menyabet Oscar yang digelar awal minggu ini. Film pertama adalah The Imitation Game dan kedua Whiplash. Dua film ini setali tiga uang, keduanya bercerita hal yang sama, yaitu sosok yang ganjil; sosok yang terkucil dari masyarakat lingkungannya karena keganjilannya.

Yang pertama adalah Alan Turing (diperankan Bennedict Cumberbatch), “the father of computer science and artificial intelligence”, yang sepanjang hidupnya kesepian karena terbuang, tidak mendapatkan penerimaan dari lingkungannya (bahkan negaranya) karena kenylenehannya. Sementara yang kedua adalah Dr. Terence Fletcher (diperankan J.K. Simmon), pengajar di sekolah musik Shaffer yang sangat “sadis” dalam menggembleng talenta-talenta yang menjadi anak didiknya. Sama dengan Turing, Dr. Fletcher dihujat oleh lingkungannya karena pendekatan pengajarannya yang tak masuk akal. Nasib tragis menimpanya, karena ia kemudian dipecat dengan tidak hormat oleh almamaternya.

Melawan Arus
Ada satu hal yang membuat saya begitu mengagumi dua sosok ini, yaitu mereka berani ganjil. Mereka berani beda; mereka berani mengambil jalur sepi; mereka berani melawan arus dengan risiko yang tak main-main. Risiko terpinggirkan, dicemooh, dihujat, dikucilkan, dan dianggap gila. Yang saya salut, keganjilan mereka bukan asal ganjil. Keganjilan mereka dilandasi sebuah prinsip superkokoh; didasari sebuah keyakinan yang sangat dalam akarnya; dan ditopang oleh kepercayaan diri yang luar biasa. Demi sesuatu yang diyakininya mereka berani ganjil.

Keganjilan Dr. Fletcher misalnya, dilandasi keyakianan bahwa hanya dengan gaya mendidik superkeras bahkan brutal, seorang anak didik mampu di-stretch kemampuannya ke suatu tingkat yang tak terbayangkan bakal terwujud. Hanya dengan cara begitu si anak didik keluar dari zona nyaman dan menggapai capaian yang extraordinary. Ia adalah sosok hyperdemanding yang menuntut anak didiknya mencapai kesempurnaan. Inilah kata-kata Dr. Fletcher yang sangat saya suka: “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.” Baginya, mengatakan “kamu sudah cukup baik” kepada anak didik adalah “racun” yang membunuh potensi dan kemampuan luar biasa si anak didik.

Sementara keganjilan Turing dilandasi kepercayaan diri yang luar biasa: kepercayaan diri seorang genius. Sejak awal Turing sadar bahwa ia adalah satu-satunya “orang terpilih” yang mampu memecahkan kode rahasia Nazi. Kepercayaan diri yang bersimbiosis dengan kejeniusan otak dan kerja superkeras ini rupanya menghasilkan sebuah penemuan besar (alat yang sekarang kita kenal sebagai “komputer”) yang kemudian mengubah sejarah dan peradaban umat manusia. Turing adalah sosok yang hadir mendahului jamannya. Itu sebabnya ia dianggap “alien” yang datang dari planet antah-berantah.

Melampaui Jaman
Turing dan Dr. Fletcher tak sendirian. Sosok seperti Copernicus, Charles Darwin, Rembrandt, Amadeus Mozart, Thomas Edison, Wright bersaudara, Sigmund Freud, atau Albert Einstein adalah sosok-sosok yang berani tampil ganjil demi prinsip-prinsip kebenaran yang mereka yakini. Mereka adalah sosok yang tidak bisa dimengerti oleh jamannya karena pemikiran-pemikirannya yang melambung jauh ke depan. Dengan persistensi dan keteguhan luar biasa mereka memegang prinsip yang mereka yakini tanpa peduli apa kata masyarakat lingkungannya. Mereka adalah sosok yang berani keluar dari mainstream.

Copernicus berpikir ganjil dengan mengatakan bahwa Matahari lah pusat tata surya, bukan Bumi seperti diyakini semua orang pada masa itu. Charles Darwin berpikir ganjil dengan melahirkan teori evolusi yang bertolak belakang dengan prinsip gereja dan paradigma keilmuan yang umum diterima saat itu. Wright bersaudara berpikir ganjil dengan memecahkan mitos bahwa manusia bisa terbang layaknya burung. Pikiran ganjil ini pula yang membuka jalan terciptanya pesawat terbang yang mampu membawa kita melintas Atlantik dalam ukuran jam.

Tak gampang menjadi orang yang berani ganjil. By default kita adalah mahluk conformist yang cenderung “mencari aman” dengan patuh pada prinsip, tatanan, dan standar yang berlaku umum dan telah mapan sebelumnya. Kita cenderung menghindari kemungkinan-kemungkinan baru karena hal itu akan memicu ketidakmenentuan, chaos, dan mengancam kenyamanan. Tapi ingat, peradaban akan menggeliat hanya jika ada sosok ganjil yang berpikir berbeda. Kemajuan umat manusia akan terwujud jika ada sosok macam Darwin, Einstein, atau Turing yang selalu mencurigai dan mempertanyakan kemampanan.

Ada satu kalimat yang menginspirasi saya, diucapkan oleh Joan Clarke (tunangan Alan Turing yang akhirnya tak jadi menikah) kepada Turing, saat si genius berada di puncak keputusasaan karena merasa terasing dari lingkungannya. “No one normal could have done that… The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.” Intinya Joan bilang kepada Turing: “Semua penemuan hebat ini terwujud karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil. Dunia menjadi tempat yang lebih baik berkat terhindar dari kecamuk perang karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil.”

Saya menulis kolom ini dengan satu pesan moral: janganlah takut ganjil, karena bisa jadi keganjilan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. “Be weird… and change the world!!!

February 28, 2015   6 Comments

Talkshow SmartFM: “Branding Buah Lokal”

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 23 Februari 2015, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: “Branding Buah Lokal: The Sunpride Story”
Tamu: Luthfiany, Marcomm Manager, Sunpride
Host: Yuswohady

Indonesia memiliki keanekaragaman buah yang luar biasa banyak. Mulai dari salak Pondoh, apel Malang, pisang Ambon, durian, rambutan, manggis, duku dan sebagainya. Celakanya, masih sedikit sekali buah-buah yang merupakan kekayaan asli Indonesia ini diolah secara modern menghasilkan brand yang berdaya saing tinggi.

Yang justru menyedihkan adalah, buah-buah impor membanjiri supermarket-supermarket di negeri ini. Sementara buah lokal hanya puas di jual di pasar-pasar tradisional dengan kualitas memprihatinkan. Yang menjadi keresahan kita semua adalah kalau suatu saat buah lokal punah digilas oleh merek-merek buah asing tersebut.

Ini merupakan ironi, karena seharusnya buah-buah lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan mengandalkan kekuatan brand dan quality excellence. Kalau buah-buah lokal bisa di-branding sehingga memiliki nilai tambah tinggi maka ia tak akan kalah dari industri elektronik, otomotif, bahkan industri pesawat sekalipun.

Nah, Sunpride adalah sedikit brand buah lokal yang membanggakan karena cukup berhasil membawa misi menjadikan buah lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Jangan dikira gampang membawa buah segar ke supermarket. Dibutuhkan pembibitan, penanaman, pemanenan, pengolahan pasca panen, hingga pendistribusian super rumit agar buah tetap segar dan berkualitas prima saat sampai di supermarket. Sunpride mampu melakukannya dengan standar kualitas kelas dunia. Viva brand buah lokal!!!

 

 

February 22, 2015   2 Comments

Angry Customers

Minggu ini adalah minggu “berkabung” bagi dunia penerbangan kita. Ya, karena Lion Air, brand luar biasa yang begitu sukses merevolusi industri penerbangan kita, telah mengecewakan konsumennya. Tak heran headline koran dan linimasa media sosial tiga hari terakhir dipenuhi konsumen yang marah, geram, dan meradang.

Itulah konsumen. Bisa marah-marah luar biasa. Bisa membenci sebuah brand hingga ke ubun-ubun. Bahkan mereka bisa menyebarkan kejelekan brand Anda ke keluarga, kolega, dan seluruh teman-temannya. “Satisfied Customers Tell Three Friends, Angry Customers Tell 3,000” begitu bunyi judul sebuah buku laris. Kalau Anda dibenci seorang konsumen yang telah Anda telantarkan barangkali tak begitu masalah. Tapi jika si konsumen mengajak 3000 temannya untuk ikut-ikutan membenci brand Anda, itu yang berbahaya.

Tak hanya itu, yang paling berbahaya adalah jika mereka sampai bersekutu dan bersatu-padu untuk menggalang “kebencian nasional” kepada brand karena merasa telah dikecewakan. Ingat, di era media sosial, sepotong hastag # saja di Twitter sudah lebih dari cukup untuk men-trigger sebuah “mass movement” untuk memboikot dan memorakporandakan brand Anda dalam semalam. Karena itu saya sering mengatakan, jangan main-main dengan konsumen yang marah. Anda harus memperlakukan mereka secara super serius dan super hati-hati. Bagaimana Lion Air merespons kemarahan konsumen memberikan pembelajaran berharga untuk kita renungkan.

First, Listen!!!
Langkah pertama merespons konsumen yang marah adalah dengan mendengarkannya secara sabar dan penuh perhatian. Bahkan ketika Anda benar dan si konsumen yang salah, Anda harus tetap dengan penuh kesabaran mendengarkannya. Ingat, ketika kemarahan memuncak hingga ke ubun-ubun, hal paling pertama yang mereka butuhkan adalah didengarkan. Barangkali betul Anda punya seribu macam alasan meyakinkan bahwa Anda benar dan konsumenlah yang salah, namun janganlah argumen rasional itu yang Anda majukan. Yang pertama-tama harus Anda lakukan adalah: listen, listen, and listen carefully.

Setelah mengerti betul komplain mereka, maka selanjutnya Anda harus menunjukkan simpati mendalam terhadap persoalan yang mereka hadapi dan kerugian yang Anda timbulkan. Tak lama setelah Air Asia diberitakan hilang beberapa waktu lalu, Tony Fernandes sebagai pucuk pimpinan maskapai tersebut langsung terbang ke Surabaya dan memantau detik demi detik proses pencarian pesawat.

Melalui akun Twitter-nya dan pernyataan pers, ia menunjukkan simpati yang amat mendalam terutama kepada keluarga korban. “Kami akan segera memberikan pernyataan lain. Terima kasih atas semua pemikiran dan doa, kita harus harus tetap kuat,” demikian bunyi salah satu tweet-nya. Mendengar dan memberikan simpati mendalam seperti ini belum saya lihat dalam kasus Lion Air.

Apologize Gracefully
Setelah Anda mendengarkan, mengumpulkan seluruh informasi, dan tahu betul duduk persoalannya, maka janganlah langsung berargumentasi. Hal pertama berikutnya yang harus Anda lakukan adalah meminta maaf tanpa banyak cingcong. Minta maaf adalah “magic words” dalam menghadapi konsumen yang marah. Ingat, apology is a statement of compassion. Permintaan maaf adalah “peredam” paling ampuh dalam meredakan ledakan-ledakan konsumen yang marah. Permintaan maaf menentramkan hati konsumen yang marah dan bisa menjadi jembatan bagi sebuah dialog yang penuh pengertian.

Respons Kalbe Farma atas kasus obat anestesi Buvanest Spinal produksinya yang merenggut dua pasien di rumah sakit Siloam Tangerang patut menjadi contoh. Tak lama setelah kasusnya merebak, Irawati Setiady yang menjadi pucuk pimpinan langsung meminta maaf, menyatakan sangat prihatin, sekaligus bertanggungjawab atas meninggalnya dua pasien tersebut. Respons seperti ini yang tak telihat dalam kasus Lion Air. Yang ada justru argumentasi salah satu direkturnya bahwa dua pesawat yang menabrak burung menjadi biang keterlambatan.

Ingat, ketika konsumen marah, maka yang diperlukan bukannya rasionalitas jawaban dan segudang alasan Anda, tapi empati. They don’t care your arguments. They need your empathy.

Find Solution
Pengunci kemarahan konsumen tentu saja adalah solusi atas persoalan gawat yang mereka hadapi. Kemarahan mereka akan betul-betul terhenti hanya jika Anda mampu memberikan solusi menyeluruh atas problem yang mereka hadapi. Mendengar, bersimpati, dan meminta maaf hanyalah solusi sementara untuk meredam kemarahan yang kian memuncak. Mendengar dan meminta maaf memang ampuh mendinginkan suhu kemarahan, namun tak serta-merta menuntaskan seluruh persoalan.

Di titik inilah sesungguhnya persoalan krusial yang dihadapi Lion Air saat ini. Kita tahu keterlambatan Lion Air bukanlah persoalan kemarin sore. Persoalan klasik ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa terlihat solusi yang memuaskan. Praktis tiap hari maskapai ini mengalami keterlambatan terutama di penerbangan-penerbangan sore dan malam. Saking seringnya terlambat, Lion Air seperti “mati rasa” menghadapi keluhan-keluhan konsumennya. Ia tak lagi memiliki kepekaan terhadap kesusahan-kesusahan konsumennya. Ia menjadi brand yang “bebal” terhadap aspirasi dan penderitaan konsumennya.

Kemarahan meradang konsumen Lion Air tiga hari lalu adalah puncak gunung es dari persoalan klasik yang sama, yang menimbun begitu lama. Konsumen menjadi demikian temperamental karena tak berdaya menghadapi brand yang begitu bebal dan mati rasa.

Kita semua cinta Lion Air sebagai sebuah brand lokal yang mencapai prestasi mengagumkan 15 tahun terakhir. Selama waktu itu harus diakui maskapai hebat ini mampu mewujudkan misi dan ambisinya: “we make people fly.” Karena itu kita tentu tak ingin kehilangan dia. Semoga membaca tulisan ini Lion Air berbenah

 

February 21, 2015   1 Comment

Personal Branding Ala Milenial

Untuk kesekian kali saya diundang Indonesia Morning Show NET TV Jumat (13/2) kemarin. Seperti biasa saya diminta mengomentari sosok creativepreneur yang menggunakan media sosial untuk membangun pengaruh di ranah online. Bintang tamunya kali ini adalah Edho Zell Pratama seorang entertainer, MC, dan presenter TV. Bagi saya Edho adalah kasus personal branding gaya baru yang menarik, yaitu personal branding dengan berolah media sosial.

Edho adalah tipikal generasi milenial (sering juga disebut Gen-Y) yang konfiden abis, superkreatif, achiever-kompetitif alias suka bersaing, hyper-connected dengan teman dan komunitasnya, lumayan narsis, dan social media freak. Tak mengherankan jika personal branding yang dikembangkannya sangat khas generasi milenial. Ia secara massif memanfaatkan media sosial untuk building brand, membangun reputasi sebagai entertainer, mengelola komunitas audiensnya baik secara offline maupun online, dan so pasti untuk jualan, jualan, dan jualan. Jualannya tentu saja bukan jualan hardsell, tapi jualan softsell khas media sosial.

Saya adalah orang yang belajar dari siapa saja tak peduli siapapun dia. Saya bisa belajar dari teorinya pakar kelas dunia, streetsmart entrepreneur yang dibesarkan di lapangan, atau bahkan tukang becak yang piawai memasarkan jasanya dengan menggunakan Facebook. Dan kali ini saya belajar banyak mengenai personal branding dari Edho, seorang yang mungkin umurnya separuh umur saya… great!!! Berikut ini pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapat.

Multi-Platform
Untuk membangun personal brand-nya, Edho menggunakan banyak platform sosial media untuk menjangkau para audiensnya. Ia menggunakan website: www.edhozell .com yang berfungsi sebagai “etalase” komunikasi ke target audiens. Saya sebut etalase, karena di situlah ia menampilkan informasi mengenai siapa dia, prestasi-prestasinya, beberapa creative projects yang sedang ia kerjakan, atau jasa yang bisa ia tawarkan ke target pasarnya (misalnya MC). Web ini dirancang serius dan apik, melalui website inilah ia “menjual” ekspertisnya di jagad bisnis entertainment.

Di samping itu Edho menggunakan platform video dengan memanfaatkan kanal YouTube (www.youtube/edhozell) berisi video-video parodi ngocol yang rutin di-upload tiap minggu. Klip parodi “Sakitnya Tuh Di Sini” yang di-upload 4 bulan lalu misalnya, kini sudah ditonton 2 juta lebih pemirsa. Sampai akhir tahun lalu, video-videonya di YoutTube sudah ditonton lebih dari 14 juta pemirsa. Di samping itu ia juga menggunakan platform gambar dengan Instagram (www.instagram/edhozell) yang berisi mini klip mengenai guyonan atau tips-tips yang tak kalah ngocol dan kreatif. Di samping itu Edho juga memanfaatkan Twitter (@edhozell) walaupun tak seaktif YouTube dan Instagram.

Seperti diakuinya, Edho lebih fokus untuk menggunakan platform visual karena dampak engagement-nya yang lebih impactful. “Ya, karena YouTube dan Instagram lebih mudah diperbincangkan oleh netizen,” ujarnya. Memang, generasi milenial lebih menyukai bahasa gambar yang lebih instan, spontan, dan ekspresif dibanding tulisan. Seluruh kanal media sosial ini menghasilkan percakapan dan viral yang luar biasa baginya karena konten-konten yang ngaco, ngocol, dan superkreatif.

Owned + Earned
Edho juga piawai mengombinasikan owned dan earned media untuk menghasilkan dampak personal branding yang powerful. Owned media adalah media yang kita punyai seperti website, microsite, atau kanal media sosial yang bisa kontrol kontennya. Sementara earned media adalah interaksi atau percakapan konsumen mengenai brand kita baik offline atau online. Ingat, konsumen kini bisa mem-forward atau meng-RT pesan, sehingga mereka kini juga bisa menjadi media yang potensial untuk membangun personal brand.

Nah, rahasia sukses personal branding Edho sesungguhnya terletak pada kejeliannya mengolah konten di owned media yang dia kelola (website, YouTube, Instagram, Twitter) untuk menciptakan interaksi dan viral percakapan (earned media) di kalangan target audiensnya. Bagaimana caranya? Caranya adalah menciptakan konten-konten bermuatan humor nan ngocol yang menjadikan netizen rela mem-forward dan menyebarkannya ke netizen lain.

Jika interaksi dan percakapan itu berlangsung terus-menerus dan konsisten, maka pada gilirannya ia akan membangun awareness, image, dan reputation Edho sebagai entertainer. Perlu diingat, awareness, image, dan reputatioan merupakan aset berharga yang menjadikan proses jualan menjadi begitu mudah. Jualan bukan dengan cara hardsell, tapi jualan softsell. Inilah yang disebut inbound selling, dimana bukan Anda yang datang ke konsumen memaksa beli produk atau layanan Anda, tapi konsumenlah yang datang ke Anda.

Seperti halnya saya, Anda pun harus belajar dari Edho. Dan kalau Anda adalah musisi, pelawak, pesulap, politisi, dokter, pembicara publik, trainer, konsultan, pengacara, psikolog, aktivis LSM, atau wirausahawan UKM, bahkan saya berani mengatakan “wajib” hukumnya Anda melakukan apa-apa yang sudah dilakukan Edho. Tentu saja konten dan medianya harus Anda pilih sesuai dengan jasa yang Anda tawarkan. Selamat mencoba!!!

February 14, 2015   3 Comments

Bangsa Gaduh

Saya punya julukan baru untuk negeri tempat lahir beta, yang sangat saya cintai ini yaitu: “bangsa gaduh”. Sesuai namanya, bangsa ini menyukai kegaduhan. Apa-apa dibikin gaduh. Persoalan sepele dibikin muter-muter dan ruwet agar membikin gaduh. Urusan nggak penting dipenting-pentingkan atau seolah-olah penting agar riuh-rendah menimbulkan gaduh. Urusan yang lurus ditekak-tekuk, dibelak-belokkan agar berujung gaduh.

Kita sibuk berakrobat, melompat dari satu kegaduhan ke kegaduhan lain tanpa mengenal ujung-pangkal. Akrobat pemilu yang gaduh. Akrobat KMP vs KIH yang gaduh. Akrobat rapat paripurna DPR yang gaduh. Akrobat kenaikan dan penurunan harga BBM yang gaduh. Akrobat kecelakaan pesawat yang gaduh. Akrobat Cicak-Buaya Jilid 1-II yang gaduh. Pokoknya semua dibikin gaduh. Dan di tengah kegaduhan itu kita semua menjadi cheer leader bersuka-ria merayakannya.

Gaduh!!! Gaduh!!! Gaduh!!!
Kegaduhan menghisap pikiran dan tenaga kita. Bangsa ini begitu letih diperas tenaganya untuk mengurusi kegaduhan yang sambung-menyambung tanpa pernah henti. Kegaduhanlah yang membuat kita semua tak bisa kerja.

Presiden pusing tujuh keliling mengakomodasi kepentingan untuk meredam kegaduhan. Menteri-menteri tidak bisa kerja karena was-was menjadi korban kegaduhan. Pelaku usaha wait and see, nggak ngapa-ngapain menunggu kegaduhan usai. Karyawan dan buruh tak produktif karena sibuk menggosipkan kegaduhan yang selalu hot di TV dan koran-koran. Netizen sibuk memroduksi meme untuk meramaikan kegaduhan di dunia maya. Pokoknya tenaga bangsa ini terkuras habis mengurusi tetek-bengek kegaduhan yang datang silih-berganti.

Masih jelas di ingatan, bangsa ini begitu optimis tiga bulan lalu saat pemerintahan baru memproklamirkan diri sebagai pemerintahan kerja, kerja, kerja. Pemerintahan yang bercirikan kerja cak-cek tanpa banyak bicara. Tapi kini kita semua pesimis karena semboyan: “Kerja!!! Kerja!!! Kerja!!!” hanya pepesan kosong belaka menjelma menjadi semboyan: “Gaduh!!! Gaduh!!! Gaduh!!!”

Kini, hanya beberapa hari setelah 100 hari kepemimpinan pemerintah baru terlewati, kita semua gundah. Kita gundah jika agenda-agenda besar yang telah dicanangkan hanya menjadi mimpi besar belaka karena mentok di tingkat kegaduhan dan tak pernah sampai pada kerja dan realisasi kongkrit.

Yang saya takutkan adalah, keinginan besar untuk melakukan revolusi mental, membangun poros maritim dunia; kemandirian pangan dan energi; swasembada beras; efisiensi distribusi dan logistik nasional, memantapkan industri kreatif dan UKM semuanya hanya sampai di tahap kegaduhan tanpa ada kerja dan realisasi.

Yang saya takutkan, segudang agenda besar tersebut hanya cukup sampai direncanakan, didiskusikan di seminar-seminar, dikasak-kusukkan di DPR, dicari-cari kesalahannya oleh politisi, didiskreditkan oleh kelompok-kelompok kepentingan, didemo oleh mahasiswa, ditalk-showkan di TV-TV, dst-dst tanpa pernah sedikitpun dikerjakan dan direalisasikan. Persis seperti mobnas (mobil nasional) yang lebih 30 tahun kita gaduhkan tapi sampai detik ini tak tampak realisasinya.

Yang saya takutkan bangsa ini letih bahkan lumpuh ditawan oleh kegaduhan demi kegaduhan yang dengan suka cita kita ciptakan.

Bangsa Kerja
Lawan dari bangsa gaduh adalah apa yang saya sebut “bangsa kerja”. Berbeda dengan bangsa gaduh yang suka kegaduhan, bangsa kerja membuang jauh-jauh kegaduhan, intrik-intrik, fitnah-memfitnah, sikut-menyikut, dan lebih memilih fokus dan berkonsentrasi untuk kerja, kerja, dan kerja. Bangsa seperti ini umumnya prihatin, memiliki sense of crisis tinggi, memiliki common enemy yang menyatukan seluruh rakyatnya untuk maju, dan fokus menyatukan pikiran dan tindakan untuk mewujudkan tujuan dan visi bangsa.

Bicara mengenai bangsa kerja saya jadi ingat Jepang yang berjuang habis-habisan untuk menjadi negara industri baru setengah abad silam. Kala itu Jepang berhasil mengentaskan brand-brand seperti Sony, Panasonic, atau Toyota yang awalnya adalah brand kelas kambing menjadi brand yang dipercaya dan dikagumi konsumen dunia. Bagaimana Jepang bisa mewujudkannya? Dengan kerja, kerja, dan kerja, bukan dengan bergaduh ria. Bangsa ini mengesampingkan perbedaan, intrik-intrik di dalam, menyatu-padukan seluruh potensi bangsa agar bisa fokus bekerja untuk mewujudkan visi bangsa.

Singapura adalah contoh bangsa kerja yang lain. Singapura menjadi salah satu bangsa termakmur di dunia seperti sekarang karena kerja, kerja, kerja selama puluhan tahun sepi dari kegaduhan politik. Di bawah nakhoda Lee Kuan Yew yang visioner rakyat Singapura dibentuk menjadi manusia-manusia yang prihatin, berdisiplin, berdaya juang tinggi, dan kompeten melalui kerja, kerja, dan kerja. Saking sibuknya bekerja, sampai-sampai mereka “lupa” berintrik-intrik, bersikut-sikutan, dan bergaduh ria. Berlawanan 180 derajat dengan kondisi kita saat ini.

Saya tidak rela jika bangsa ini hanya puas menjadi bangsa gaduh: bangsa yang bisanya cuma membikin kegaduhan. Bangsa ini harus menjadi pejuang tangguh, berdisiplin, berketerampilan, dan berkarakter. Itu semua terwujud melalui kerja, kerja, kerja, bukan dengan membikin kegaduhan. Mari hentikan kegaduhan.

 

February 7, 2015   2 Comments

SmartFM Talk Show: “Branded Service”

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 2 Februari, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: Branded Experience: “Garuda Indonesia Experience”
Guest: Ikhsan Rosan, Senior Manager, Public Relation, Garuda Indonesia

Pengantar Talk Show
Branded Service adalah Konsep layanan yang dikemas sedemikian rupa dan kemudian di-branding. Ingat, branding tak hanya bisa diterapkan untuk produk tapi juga layanan. Contohnya, layanan antar Pizza Hut di-branding menjadi “PHD”. Konsep layanan Hotel Santika di-branding menjadi “Indonesia Hospitality”. JNE memiliki layanan pengantaran produk kuliner yang diproduksi UKM, yang di-branding menjadi “Pesona”.

Lalu apa branded service-nya Garuda Indonesia? Layanannya dibranding dengan sebutan “Garuda Indonesia Experience”. Apa itu? Sebuah konsep layanan yang diarahkan untuk menghasilkan identitas keIndonesiaan yang sangat kental terasa di tiap tahapan layanan mulai dari pre-journey, pre-flight, in-flight, post-flight hingga post journey. Caranya dengan menyentuh lima panca indera penumpang (5 senses: sight, sound, scent, taste, touch) agar tercipta memorable experience khas Indonesia.

Di dalam kabin (in-flight) misalnya, penumpang dimanjakan oleh pramugari dengan kebaya dan batik yang khas Indonesia (sight), musik khas Nusantara yang diaransir dalam format orkestra oleh Addie MS (sound), aromaterapi yang khas bunga dan rempah-rempah asli Indonesia (scent). Tak lupa ragam cita rasa kuliner khas Nusantara (taste) dan sentuhan keramah-tamahan khas Nusantara (touch).

Branded service inilah yang menjadi resep ampuh Garuda untuk keluar dari jebakan perang harga di tengah maraknya penerbangan murah di industri penerbangan Tanah Air. Kita tahu, Garuda dikenal luas memiliki harga tiket pesawat paling mahal di antara pemain nasional lain. Tapi menariknya, konsumen “memakluminya”. Kenapa? Karena di balik harga premium tersebut terdapat great value yang sepadan.

Yuk denger dan pantengin di Radio SmartFM 95.9FM live di 8 kota… Let’s listen and learn!!!

 

February 1, 2015   No Comments