E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

#KelasPengetahuan Developing Logo, Tagline, Packaging

Logotagline, dan packaging adalah layaknya “wajah” dari sebuah brand. Karena itu desain dan tampilan ketiganya harus merefleksikan karakter dan identitas brand.

Menerjemahkan karakter dan identitas brand ke dalam konsep desain logo, tagline, dan packaging yang relevan merupakan challenge tersendiri bagi setiap brand owner. Karena itu setiap brand owner harus memahami konsep desain sebuah logo, tagline, dan packaging.

Kelas Pengetahuan Developing Logo, Feb 2016

Berkaitan hal ini, Komunitas Memberi akan mengadakan #KelasPengetahuan untuk mengupas hal ini. Materi dibawakan oleh Norman Rumahorbo, brand/design consultant yang sudah berpengalaman belasan tahun merancang brand-brand top nasional seperti Summarecon, Adhi Karya, Mobil 88, dsb. Acaranya akan digelar pada pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 12 Februari 2016, pkl. 15-17 WIB
Tempat: SMESCO Center, Jl. Gatot Subroto, Lt. 14, Jakarta Pusat
Tema: Designing Logo, Tagline, & Packaging: A Design Perspective
Narasumber: Norman Rumahorbo, brand/design consultant

Yuk ikutan… GRATISSSS!!!

February 11, 2016   1 Comment

#KelasInspirasi Logistic/Delivery Management

Operasi sebuah toko online (online shop) tentu tak akan bisa lepas dari aspek logistik dan pengiriman barang ke konsumen (biasa disebut: supply-chain management). Ketika konsumen telah memesan produk melalui toko online Anda, maka pesanan tersebut akan dieksekusi melalui serangkaian proses (supply-chain process) yg kemudian berujung pada pengiriman barang (delivery) ke alamat konsumen.

Kelas Inspirasi JNE, Feb 2016

Challenge-nya adalah bagaimana rangkaian proses dari order hingga delivery tersebut bisa dilaksanakan secara efektif, efisien, dan menghasilkan kepuasan tertinggi bagi konsumen. Nah, di sinilah para UKMers pemilik toko online WAJIB belajar supply chain management untuk meningkatkan kinerja tokonya.

Untuk memperdalam ilmu tersebut, Komunitas Memberi mengajak teman-teman UKMers berkunjung ke JNE Logistics, sekaligus menggelar #kelasInspirasi pada:

Hari/Tanggal: Kamis, 18 Februari 2016, pkl. 09.00 -12.00 WIB
Tempat: JNE Logistics, Jl. Pulobuaran Raya Kav JJ No. 7-8, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur
Tema: “Understanding Logistic/Delivery Management for Online Shop Owner
Narasumber: Ridhatullah, Senior Manager, Business Strategic & Development, JNE

Temen-temen UKMers yang mau ikutan daftar ya via email: kelasmemberi@gmail.com GRATIS. Tapi cepetan karena tempatnya terbatas untuk 50 orang.

February 7, 2016   No Comments

Millennial Trends 2016

Generasi milenial (Millennial Generation) adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y, Net Generation, Generation WE, Boomerang Generation, Peter Pan Generation, dan lain-lain. Mereka disebut generasi milenial karena merekalah generasi yang hidup di pergantian milenium. Secara bersamaan di era ini teknologi digital mulai merasuk ke segala sendi kehidupan.

Milenial memiliki nilai-nilai, dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya yaitu Gen-X (lahir tahun 1964 hingga 1980). Beberapa literatur menyebut karakteristik mereka ditandai oleh berbagai nilai-nilai dan perilaku berikut: connected, multitasker, tech-savvy, collaborator/cocreator, social, adventurer, transparent, work-life balance, dan sebagainya. Itu secara umum. Di Indonesia, dengan latar belakang sosial, sejarah, budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda tentu menghasilkan generasi milenial yang berbeda pula dan unik.

Inventure dan Middle Class Institute (MCI) melakukan kajian untuk melihat tren nilai-nilai dan perilaku generasi milenial di Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengahnya. Berikut ini 13 tren yang berhasil kami temukan.

Selfie 4

 

1. Millennial Wannabe
Millennial is NOT cohort. It is a lifestyle. Milenial bukanlah sebatas penanda kapan kita lahir, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mengapa bisa begitu? Ya, karena entah kenapa milenial itu kini menjadi sebuah simbol kekerenan. Siapapun, tak peduli Gen-X bahkan Baby Boomers, merasa bangga kalau punya gaya hidup seperti milenial. Milenial bukan masalah umur; bukan masalah muda-tua. Milenial adalah ekspresi dan identitas diri. Karena itu kami perkirakan akan muncul banyak “milenial gadungan” di Indonesia. Secara umur mereka bukanlah masuk golongan milenial, namun tingkahnya, penampilannya, atau konsumsi digitalnya seperti milenial, bahkan (amit-amit jabang bayi hehehe..) melebihi milenial.

2. “Sharing is Cool”
2015 adalah steping stone dimana sharing economy mulai diadopsi konsumen Indonesia, khususnya kaum milenial, secara meluas. Tren ini dipicu oleh sukses Gojek dengan layanan ojek online-nya. Sukses layanan baru ini sekaligus membuka mata dan mengedukasi konsumen milenial Indonesia yang memungkinkan mereka melompat parit (crossing the chasm) menuju pasar mainstream. Di tahun 2016 sharing economy akan diadopsi lebih dalam dan lebih luas di sektor-sektor industri yang lain. Sektor traveling dan leisure (melalui layanan seperti: AirBnB) misalnya, bakal menjadi the next big things di tahun 2016 ini. Budaya konsumsi “share, not own” juga akan kian massif tanah air. Di dunia hiburan misalnya, kini milenial tak lagi perlu punya CD atau DVD untuk mendengarkan musik atau menonton film. Layanan-layanan berbasis cloud seperti iTunes, Netflix, Spotify, SoundCloud, dan JOOX akan kian populer.

3. “How We Consume” Is a New Lifestyle. Tools Matter!!!
Mendengar alunan musik di Spotify atau iTunes lebih keren ketimbang di radio. Nonton film di Netflix lebih keren ketimbang di bioskop atau RCTI. Lari dengan aplikasi Nike+ Running (dengan fitur: GPS, Pace Tracker, Timer, Calories, Pedometer, Music Player dan Jejaring Sosial) lebih keren untuk dipamerkan ketimbang olahraga larinya sendiri. Lagu, film, atau lari tidak penting, yang penting adalah digital tools apa yang mereka gunakan. Bagi milenial digital is awasome, karena itu gaya hidup “the digital of things” haruslah dipamerkan di media sosial. Milenial selalu punya passion luar biasa untuk menjadi yang terdepan (early adopter) dalam arus deras “the digital of things”. Ketika mereka sudah menjadi yang terdepan, maka wajib hukumnya capaian itu dipamerkan di media sosial.

4. The Rise of Instagrampreneur
Kehadiran media sosial terutama Instagram dan menjamurnya lapak-lapak online seperti OLX, Tokopedia, atau Bukalapak telah memberi peluang luar biasa bagi milenial yang cekak modal untuk berbisnis secara online. Yasa Paramita misalnya memulai brand sepatu Men’s Republic sejak ia kelas 2 SMA hingga kini sekitar 4 tahun telah menuai omset ratusan juta sebulan. Dia cukup mendesain sepatu-sepatunya kemudian menyerahkan produksinya kepada vendor-vendor di Bandung. Tak hanya entreprneur, sekarang juga terdapat tren munculnya apa yang kami sebut amfibi, yaitu para pekerja kantoran yang menjalankan bisnis sampingan berbasis online. Iklan-iklan massif Bukalapak, Tokopedia, atau OLX secara positif mengajak para milenial menjadi digital entrepreneur.

5. Holiday Effect
Masih pekat di ingatan kita, bulan Agustus-November 2015 Indonesia dihantui krisis ekonomi yang ditandai dolar melambung dan PHK di mana-mana. Namun kita kaget luar biasa ketika di akhir tahun jalur pantura macet total selama beberapa hari oleh masyarakat yang liburan akhir tahun ke kampung. Korbannya tidak tanggung-tanggung, seorang Dirjen mengundurkan diri karena tak sanggup memprediksi dan mengatasi kemacetan yang super parah tersebut. Inilah fenomena menarik generasi milenial, bagi mereka liburan dan hiburan adalah kebutuhan super penting. Karena itu liburan tak kenal mas krisis. Dan ketika tiket pesawat dan hotel bisa diperoleh demikian mudah dan murah melalui beragam platform online (Traveloka, Trivago, Agoda, dsb), maka kebutuhan itu pun kian getol mereka manjakan. Millenials are experiencer.

6. Multi-Tribes Netizen
Komunitas online yang dibentuk di media sosial seperti grup di WhatsApp, BBM, Telegram, atau Facebook kian sophisticated. Menariknya, kini seorang milenial bisa ikut dalam belasan bahkan puluhan grup WA atau BBM sekaligus. Sebut saja grup alumni, grup teman-teman kantor, grup pengajian, grup hobi kuliner, grup nebengers, grup project team di kantor, dan lain-lain. Itu sebabnya kami menyebut mereka sebagai: “Multi-Tribes Netizen”. Netizen yang hidup di beragam suku, namun suku-suku ini tak berada di hutan, tapi ada di grup-grup media sosial. Dengan banyak grup yang dimasuki, maka mereka harus memiliki multi-split personality. Mereka harus bisa “bersandiwara” memainkan peran dan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan grup yang dimasuki.

7. Brand Story Matters
Millennials love story. Mereka menyukai cerita yang mengemas sebuah produk atau layanan. Dan ketika sebuah produk dan layanan memiliki cerita yang keren, maka kaum milenial begitu passionate membincangkan dan menyebarkannya ke friends, fans, followers (3Fs). Fenomena ini paling kentara terjadi di bisnis kuliner. Sejak tahun lalu, tiba-tiba kedai kopi artisan seperti Filosofi Kopi, Tanamera, ABCD, atau One Fifteenth Coffee menjadi booming di berbagai kota di tanah air. Konsep food truck seperti Amerigo atau konsep food street seperti OTW di Kelapa Gading tahun lalu begitu happening. Bahkan mal pun kini dikemas dengan brand story yang kuat seperti Aeon di BSD yang sukses mengusung tema Jepang dan memicu word of mouth luar biasa. Kami meyakini inovasi dalam menyuntikkan brand story ke dalam produk dan layanan ini bakal marak di tahun ini.

8. The Birth of Visual Generation (Gen V)
Fenomena lain yang sedang ngetren di kalangan generasi milennial adalah semakin canggihnya tools yang dipakai untuk selfie, seperti penggunaan drone, lensa kamera GoPro, dan sebagainya yang membuat hasil tampilan visual dari foto-foto selfie semakin dramatis, atau penggunaan aplikasi Periscope atau Snapchat untuk video selfie. Jika dulu gaya anak muda yang selfie hanya menampilkan foto muka saja, maka sekarang mereka mulai senang berfoto dengan latar belakang obyek yang keren. Atau supaya lebih terkesan update dan live maka video selfie pun mulai digandrungi. Tiap orang ingin menampilkan authentic self untuk meningkatkan personal branding-nya masing-masing. Dia merasa dirinya keren dan pantas untuk memiliki audience-nya masing-masing.

9. Instant Online Buying
Riset perilaku belanja online selalu menempatkan produk gadget, produk elektronik, fesyen, atau buku/majalah sebagai produk yang paling banyak dibeli secara online. Item produk tersebut umumnya dibeli di internet kemudian dikirim melalui jasa kuriri beberapa hari kemudian. Namun kini hal itu mulai berubah, milenial Indonesia mulai menikmati “instant online buying” dimana beli di internet sekarang, lalu beberapa menit atau jam kemudian barang telah diterima. Biangnya tak lain adalah Gojek yang berbekal armada pengojeknya di seluruh pelosok kota mampu mengantarkan pesanan konsumen dengan cepat (lihat layanan seperti Go-Food, Go-Mart, Go-Clean, Go-Glam, Go-Massage). Dengan munculnya layanan baru ini perilaku konsumen milenial bakal berubah, mereka akan mulai membeli barang-barang cepat konsumsi atau cepat pakai seperti makanan-minuman, sayur, buah, bumbu, obat, tukang pijat, dan sebagainya. Alfamart merespons tren ini begitu cepat dengan layanan Alfaonline.

10. “Comment Seeker” Generation
Generasi milenial adalah attention-seeker. Mereka merasa dirinya sebagai sosok bintang yang disorot kamera di jagat media sosial. Karena itu mereka gila dikomentari. Apapun minta dikomentari. Posting status di Facebook minta dikomentari. Foto selfie di Instagram minta dikomentari. Menulis di blog minta dikomentari. Semakin banyak “like” atau komentar yang didapat, maka mereka akan merasa semakin eksis. Komentar positif membuat mereka berbunga-bunga. Sebaliknya, komentar negatif membuat mereka stres, frustasi, bahkan depresi.

11. “Social Media Pressure”
Media sosial adalah media terbuka, siapapun bisa ngomong baik maupun buruk, pujian maupun cercaan. Itu sebabnya bully di media sosial sudah layaknya wabah yang menjalar cepat. Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang tekena bully? Kaum milenial adalah generasi yang sangat peduli dan menganggap serius setiap perkataan dan opini dari friends, fans, dan followers (3F) mereka. Banyak terjadi ABG milenial lebih mendengarkan 3F ketimbang orang tua dan keluarga mereka. Oleh karena itu komentar negatif, kritik, atau bully di media sosial merupakan sumber tekanan psikologis yang berat bagi milenial. Bahkan ada kasus-kasus ekstrim dimana korban bully memilih untuk bunuh diri karena tidak tahan dipermalukan di media sosial. Kesempurnaan diri yang dicitrakan di media sosial seakan menjadi harga mati yang tak boleh dicoreng oleh para haters dan bullyiers. Tuntutan ini membuat mereka selalu resah di jagat media sosial.

12. Circular Economy
Kaum milenial adalah trend-setter. Mereka selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam hal gaya hidup, gadget, atau fesyen. Celakanya, mereka juga cepat bosan dengan gaya hidup dan produk baru yang mereka pakai. Begitu gadget versi baru keluar, maka gadget lama ditinggalkan. Padahal gadget lama tersebut baru dibeli beberapa bulan sebelumnya. Karena mereka smart, maka barang baru yang sudah tidak mereka minati dijual di situs-situs seperti OLX atau eBay. Inilah yang memicu apa yang kami sebut circular economy. Dengan adanya tren circular economy, maka situs-situs marketplace yang mempertemukan pemilik barang bekas (yang masih baru) ini bakal menggeliat di tahun 2016.

13. Two Faces of Click Activism
Secara sekilas kepedulian kaum milenial Indonesia begitu tinggi dengan begitu banyaknya masalah-masalah penting nasional yang mereka respons melalui situs seperti change.org. Heboh kasus “Papa Minta Saham” atau pelarangan layanan ojek online misalnya, direspons cepat oleh para millenial activists dengan melakukan petisi online. Namun apakah betul partisipasi, kepedulian sosial, dan nasionalisme mereka melambung dengan adanya platform petisi seperti itu? Belum tentu. Seperti menonton gelaran sepak bola di GBK, mereka hanya menjadi semacam pemandu sorak yang ingin hanyut dalam euforia dan kehebohan gonjang-ganjing masalah sosial tersebut. Ingat, “becoming a click activist is cool!” (Diriset dan ditulis bersama Suryati Veronika, Business Analyst, Inventure)

 

Sumber foto: detik.com

January 17, 2016   1 Comment

Menggugat “Pendidikan Bonsai”

Inilah tragedi terbesar pendidikan. Ketika hakikat pendidikan dikerdilkan hanya sebatas sekerup bagi mesin besar kapitalisme. Ketika pendidikan dikooptasi oleh kepentingan sempit industrialisasi. Dan ketika pendidikan hanya sekedar menjadi alat untuk mencari makan, mengejar kekuasaan, menggapai ketenaran. Maka yang muncul kemudian adalah wajah pendidikan yang bopeng-bopeng dan muram. Pendidikan terampas esensi kemanusiawiannya. Pendidikan kehilangan keholistikannya. Pendidikan dirampok keagungannya.

Maka yang terjadi kemudian adalah, pendidikan mandeg terjebak dalam pragmatisme membabi-buta. Menyedihkan ketika kita melihat di akhir program, pendidikan terbonsai hanya sekedar menjadi sebuah bimbingan tes untuk menggapai sekolah-sekolah favorit di seantero negeri. Memilukan ketika pendidikan ujung-ujungnya dikebiri hanya untuk mencapai IPK, GRE, GMAT, atau TOEFL tinggi untuk tujuan menembus universitas-universitas terbaik di dunia. Mengenaskan ketika kita melihat pendidikan ujung-ujungnya bermuara pada tujuan mengisi lowongan buruh di pabrik-pabrik, dokter di rumah-rumah sakit, insinyur di proyek-proyek pembangunan, atau manajer di perusahaan-perusahaan.

Dalam pragmatisme ini pendidikan sekedar memproduksi “robot-robot” dan “zombie-zombie” yang beku akal, kreasi, dan nurani. Tak mengherankan jika dalam banyak kasus pendidikan jenis ini menghasilkan “produk” yang begitu memprihatinkan: Kalau menjadi karyawan mereka adalah sosok karyawan pembebek dan ABS (asal bapak senang); Kalau dokter mereka sosok distributor obat; Kalau pengusaha mereka sosok penyuap; Kalau politisi mereka sosok pencatut nama pejabat; kalau pejabat mereka sosok pengutil uang rakyat. Berkat pendekatan pendidikan keblinger ini pula Pemerintahan Jokowi direpotkan dengan kampanye “Revolusi Mental” di TV dan koran yang menguras duit miliaran.

Menilik pengalaman pribadi, terus-terang saya adalah “korban” dari pendekatan pendidikan kerdil ini. Selama 25 tahun menjalani pendidikan dari TK hingga kuliah, saya terpenjara oleh logika sistem pendidikan yang picik ini. Selama kurun waktu yang panjang itu saya menjadi anak manis-penurut (mendengarkan guru, menulis, menghapal, dites multiple choice, dan kemudian lulus) yang terbonsai potensi dan daya kreasinya. Karena itu saya punya istilah favorit untuk pendidikan macam ini: “pendidikan bonsai”. Sesuai namanya, sistem pendidikan ini membonsai imajinasi, kekritisan, dan keliaran daya cipta anak didik. Sistem ini membonsai olah rasa menuju kedewasaan dan kearifan.

Celakanya, saya baru sadar akan kekerdilan sistem ini di akhir-akhir masa kuliah. Karena tak tahan, saya kemudian memberontak, menjadi alien, lonely, dan akhirnya tersingkir dari sistem itu. Sejak itu saya tak percaya lagi pendidikan bonsai dan memutuskan menjadi self lifetime learner merdeka yang begitu passionate mengembara mengeksplorasi indahnya pengetahuan, daya imajinasi, dan daya kreasi.

Menggugat Pendidikan Bonsai - Quote

Edisi print, Kompas, Senin 11 Januari 2016, hal 29

Back to Basic
Dua buku yang mencerahkan, Creative Schools (Allen Lane, 2015) danCreating Innovators (Scribner, 2015), mencoba menggugat model pendidikan bonsai yang sudah terlanjur menjadi mainstream di seluruh dunia. Keduaya sepakat bahwa pendidikan haruslah membebaskan, persis seperti divisikan Paulo Freire setengah abad lampau. Keduanya mengedepankan pendidikan yang memanusiakan seperti digagas Prof. Driyarkarya. Dan keduanya menolak kapitalisasi pendidikan, politisasi pendidikan, dan pendidikan ala restoran fast food dimana anak didik dipersiapkan secara potong kompas dan instan.

Tak sekedar mengkritik, kedua buku ini mengajukan model pendidikan alternatif yang lebih holistik, humanis, dan kreatif. Dalam Creative Schools misalnya, Ken Robinson si penulis, menyarankan kita semua untuk back to basic dengan membawa pendidikan pada tujuan hakikinya. Hakikat pendidikan mengandung empat dimensi: ekonomis, sosial, kultural, dan personal yang harus mampu mentransformasi anak didik menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan.

Pertama, pendidikan harus membentuk anak didik menjadi manusia yang bertanggung jawab dan independen secara ekonomi melalui pengembangan bakat, penguasaan kompetensi, dan pengasahan keterampilan. Kedua, pendidikan haruslah membentuk anak didik menjadi manusia yang memahami nilai-nilai dan budayanya, dan menghargai nilai-nilai dan budaya orang/bangsa lain. Intinya, pendidikan harus menghasilkan sosok yang toleran terhadap keberagaman. Ketiga, pendidikan harus membentuk anak didik menjadi warganegara yang aktif dan peduli pada nasib masyarakat dan negaranya. Terakhir, pendidikan harus membawa anak didik semakin mumpuni dalam berolah pikir, berolah rasa, dan berolah spiritual sebagai bekal untuk berefleksi dengan dirinya dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

Sementara itu secara lebih praktis, Creating Innovators menekankan pentingnya rasa ingin tahu (curiousity), daya khayal (imagination), dan daya kreasi (creativity) sebagai elemen substansial pendidikan dalam membebaskan (unleash) potensi anak didik. Menurut TonyWagner si penulis, proses belajar haruslah mengedepankan eksplorasi bakat anak, kolaborasi antar disiplin ilmu, eksperimentasi dan pencarian solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat lingkungannya. Berbeda 180 derajat dengan pendidikan bonsai yang menempatkan anak didik sebagai obyek pasif, pendekatan ini menempatkannya sebagai aktor sentral dari proses belajar.

Metafor
Logika kapitalisme dan industrialisasi membonsai pendidikan kita melalui tiga mekanisme: standarisasikompetisi, dankorporatisasi. Pertama, sekolah disamakan (kurikulum, pengajaran, dan evaluasinya) agar bisa diperbandingkan dan diukur kinerjanya secara standar. Kedua, setelah bisa diperbandingkan lalu dikompetisikan layaknya kontes kecantikan. Maka kemudian muncul istilah SMA favorit, universitas terbaik, Ive League, dan semacamnya. Ketiga, pemodal masuk ke jantung industri pendidikan dimana fokus utama mereka adalah profit bukanlah pembelajaran. Inilah biang dari instanisasi, dehumanisasi, dan dekadensi pendidikan kita.

Robinson yang ceramahnya “How Schools Kill Creativity” ditonton jutaan pemirsa dan merupakan yang tertinggi dalam sejarah TED, mengambil metafor pertanian industrial (industrial farming) untuk menggambarkan logika pendidikan bonsai. Tujuan utama pertanian industrial adalah memproduksi sebanyak mungkin panen, at all cost. Caranya, menanam bibit monokultur (kalau perlu bibit transgenik), menggunakan pupuk kimia tak peduli tanahnya terdegradasi, menggunakan pestisida untuk memberangus hama tak peduli kerusakan lingkungan. Buah dari pendekatan industrial adalah hasil panen yang maksimal, tapi dengan ongkos yang sangat mahal berupa bencana kesehatan (seperti meluasnya penyakit kanker) dan kerusakan lingkungan. Beginilah kira-kira pendidikan kita saat ini dikelola.

Lawannya adalah pertanian organik (organic farming) yang menempatkan bertanam sebagai bagian dari jejaring kehidupan (web of life) yang lebih luas. Berbeda dengan pertanian industrial, pertanian organik melihat vitalitas kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari proses produksi tanaman. Nah, beginilah seharusnya pendidikan kita dikelola dan dikembangkan. Alih-alih melulu mengejar target menghasilkan lulusan terbanyak dan terbaik (melalui tes multiple choice), sekolah harusnya mampu membentuk pribadi-pribadi dewasa yang mumpuni dan bernurani melalui inovasi dan kreatifitas metode pembelajaran.

Seperti halnya pertanian organik, pendidikan organik mensyaratkan empat hal. Pertama, harus mengembangkan dan mendewasakan anak didik secara multidimensi dan holistik (fisikal, intelektual, sosial, dan spiritual). Kedua, harus terkait-erat dengan lingkungan komunitas dan masyarakatnya, tak boleh tercerabut dan ada di menara gading. Ketiga, harus mengembangkan potensi anak didik melalui sinergi antar si anak, pengajar, orang tua, dan masyarakat lingkungannya. Terakhir, pendidikan harus dilakukan secara personal/customized untuk tiap individu karena masing-masing mereka memiliki bakat, minat, dan keunikan sendiri-sendiri.

Celakanya pendekatan baru ini tak bisa dilakukan secara instan dan mudah semudah menyelenggarakan ujian multiple choice. Karena itu yang kini dibutuhkan dalam dunia pendidikan bukanlah program percepatan, crash program, atau semacamnya, tapi justru “slow movement” dan “slow education”. Yang kita butuhkan adalah creative destruction, alias memusnahan dan membumi-hanguskan sistem pendidikan bonsai untuk menggantinya dengan sistem yang sama sekali baru. Dua buku ini mengusulkan sebuah revolusi dan pendekatan out of the box dalam pengelolaan pendidikan kita. Tanpa revolusi, maka SD, SMP, SMA, dan universitas hanya menjadi pabrik zombie.

 

*Melahirkan Pengubah Dunia

Sosok pengubah dunia tak mungkin bisa dihasilkan dari anak didik yang piawai menghapal. Sosok pengubah dunia juga tak bisa lahir dari tes multiple choice. Sosok pengubah dunia, menurut Robinson dan Wagner, hanya bisa lahir dari sistem pendidikan yang mengedepankan kolaborasi dan kerja tim (bukan mengagungkan capaian individual melalui tes multiple choice); menekankan pembelajaran multidisiplin (bukan terjebak dalam sekat-sekat disiplin ilmu); merangsang proses penciptaan (bukan pasif mengonsumsi pengetahuan dari guru); dan harus datang dari kemauan kuat si anak didik (intrinsic motivation) untuk mengubah dunia, bukan dalam rangka sekedar mendapatkan nilai bagus.

Walaupun belum menjadi mainstream, benih-benih koreksi terhadap pendidikan bonsai telah muncul dengan berbagai model dan pendekatan.Finlandia yang kini dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia misalnya, menerapkan model pendidikan organik yang menuai sukses. Berbeda dengan sistem pendidikan di negara manapun, sekolah-sekolah di Finlandia sangat mengedepankan kreativitas anak didik dan menempatkan guru sebagai profesi paling bergengsi dan paling mulia. Alih-alih berkompetisi, Finlandia mendorong sekolah dan gurunya berkolaborasi dengan berbagi sumber daya, ide, dan ekspertis. Tak hanya itu, sekolah harus memiliki keintiman dengan orang tua murid dan masyarakat sekitar.

Model lain adalah Innova School di Peru yang sistemnya dirancang oleh IDEO, perusahaan disain produk terkemuka di dunia. Sekolah tingkat menengah ini unik karena pembelajarannya customized untuk tiap murid, memacu kolaborasi dan eksperimentasi, serta melibatkan partisipasi aktif orang tua dan masyarakat sekitar. Dan yang menarik, semua itu dijalankan dengan menggabungkan praktek lapangan (hands-on experience) dengan pembelajaran berbasis digital (digital learning) melalui komputer dan telepon pintar.

Yang lebih revolusioner adalah The Demoratic School of Hadera diIsrael. Sesuai namanya, kurikulum sekolah tingkat menengah ini memang beda karena dirumuskan melalui voting yang melibatkan murid, guru, dan orang tua. Di sini murid dibebaskan untuk memilih mata pelajaran yang hendak dipelajarinya, begitu pula metodenya. Evaluasi sekolah ini inovatif karena berfokus ke individu tanpa mengenal kompetisi antar siswa, ujian, dan nilai. Model sekolah demokratis kini berkembang pesat. Sejak dirintis tahun 1987 di Israel kini telah mencapai jumlah ratusan di seluruh dunia.

Itu di tingkat pendidikan dasar dan menegah, lalu bagaimana untuk pendidikan tinggi? Di tingkat universitas barangkali d.school(Universitas Stanford bersama Hasso Plattner), Olin College, dan MIT(Massachusetts Institute of Technology) Media Lab bisa menjadi contoh terbaik. Di sini mahasiswa diwajibkan membuat sebuah proyek inovasi riil dengan mendirikan start-up yang prosesnya bisa berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun dari mulai identifikasi masalah, pemetaan potensi pasar, inovasi produk, hingga komersialisasi.

Menariknya, setiap hands-on project tersebut harus mampu menyolusikan masalah-masalah riil di lapangan dan tak jarang diimplementasikan di negara-negara berkembang. Salah satu mahasiswa MIT Media Lab misalnya, menciptakan start-up Global Cycle Solutionyang memproduksi massal semacam sepeda canggih untuk mesin panen jagung masyarakat pedesaan di Tanzania.

Di sekolah-sekolah pengubah dunia itu kita menemukan beberapa kesamaan. Pertama, para murid di situ bersekolah dengan satu passion yang kuat untuk change the world. Kedua, mereka bersekolah untuk mengasah rasa ingin tahu, merangsang imajinasi, dan berolah kreativitas dan daya cipta. Dan yang paling penting, sekolah-sekolah itu tak tercabut dari lingkungan masyarakatnya, mereka bukanlah enclave, mereka hadir untuk menjadi solusi bagi persoalan riil masyarakatnya. Pertanyaannya: kapan sekolah-sekolah di Indonesia menjadi seperti ini?

 

Judul: Creative Schools: Revolutionizing Education from the Ground Up
Penulis: Ken Robinson (bersama Lou Aronica)
Penerbit: Allen Lane, 2015
Halaman: xx + 292

Creative Schools - Book Cover

 

Judul: Creating Innovators:
The Making of Young People Who Will Change the World
Penulis Tony Wagner
Penerbit: Scribner; 2015 (paperback edition)
Halaman: xiv + 304

Creating Innovators - Book Cover

January 11, 2016   2 Comments

Brand in Crisis

Minggu lalu untuk kesekian kali kita dikejutkan oleh berita tak mengenakkan mengenai Lion Air. Kepolisian Resort Bandara Soekarno Hatta membongkar sindikat porter Lion Air yang kerap mencuri barang berharga di bagasi penumpang. Tak tahu kenapa, berita buruk silih berganti menimpa maskapai terbesar hingga brand reputation-nya kian terpuruk.

Akhir Desember lalu maskapai ini terkena skandal memalukan ketika pilot dan pramugarinya kedapatan mengonsumsi narkoba. Masih menyangkut pilot dan pramugari, sebulan sebelumnya pilot Lion Air menawarkan pramugari janda kepada penumpang sebagai kompensasi delay. Sontak, tawaran itu membuat para penumpang terkejut. Sebab, tawaran itu disampaikannya melalui pengeras suara pesawat.

Masih di bulan November, Lion Air juga dirundung kemalangan karena diprotes penumpangnya yang emosi karena pesawat delay berjam-jam. Fatalnya, penumpang yang marah kemudian mencegat pesawat Lion lain dengan rute yang sama yang hendak lepas landas. Seperti kita tahu semua kejadian penumpang Lion Air marah karena pesawat delay merupakan kejadian rutin yang menimpa maskapai ini.

Dan yang paling parah tentu adalah kecelakaan pesawat. Seperti juga kita ketahui bersama, Lion Air adalah juga merupakan langganan kecelakaan. Sejak beroperasi Juni 2000 hingga 2012, maskapai ini setidaknya telah 19 kali mengalami kecelakaan. Saking seringnya mengalami kecelakaan, Lion Air masuk daftar maskapai yang dilarang di Uni Eropa bahkan masuk satu dari lima maskapai paling berbahaya di dunia.

brand hater

Brand Haters
Dengan jumlah armada pesawat yang sangat besar, bahkan yang terbesar di antara maskapai lain, memang Lion Air bisa mengatakan seburuk apapun layanannya konsumen akan tetap menggunakannya. Namun perlu diingat, seperti halnya kanker ganas, masalah demi masalah yang menderanya bisa menggerogoti ekuitas merek (brand equity) nya.

Elemen paling penting dari ekuitas merek adalah apa yang disebut brand evangelism. Brand evangelism adalah ekuitas merek yang terwujud karena adanya konsumen yang merekomendasikan dan membela merek. Itu kalau mereknya bagus dan membanggakan. Kalau sebaliknya, mereknya buruk dan menjengkelkan, maka konsumen justru menjadi brand haters atau bahkan brand terrorists.

Nah, yang saya cemaskan, begitu banyaknya masalah yang menimpa Lion Air di atas bisa menciptakan brand haters, dan itulah yang kini sedang massif terjadi. Don’t underestimate brand haters. Karena seperti kata Pete Blackshaw, seorang pakar branding, “satisfied customers tell three friends, angry customers Tell 3,000”. Wajar saja, karena sesuatu kabar yang buruk memang lebih menarik digosipkan dan lebih gampang menyebar ketimbang kabar yang baik. Kalau Anda dibenci seorang konsumen yang telah Anda telantarkan barangkali tak begitu masalah. Tapi jika si konsumen mengajak 3000 temannya untuk ikut-ikutan membenci merek Anda, itu yang berbahaya.

Gunung Es
Mengamati begitu peliknya masalah yang dihadapai Lion Air, saya melihat maskapai ini sudah sampai pada tahapan krisis secara merek. Lion Air is brand in crisis. Dan celakanya, krisis merek ini tak bisa hanya diobati dengan branding gimmick seperti: kampanye PR, mengubah logo, atau membesut IMC (integrated marketing communications). Ya, karena obat tersebut tak menyembuhkan sumber penyakitnya.

Masalah bertubi-tubi Lion Air selama ini hanyalah tip of the iceberg, masalah yang hanya tampak di permukaan. Masalah sesungguhnya dan jauh lebih besar justru ada di bawah permukaan yaitu masalah manusia. Dan kalau kita bicara manusia, maka sumbernya ada di budaya perusahaan (corporate culture) dan kepemimpinan (brand leadership). Porter yang membobol bagasi penumpang, pilot dan pramugari yang nyabu, karyawan tidak disiplin yang memicu delay berjam-jam, atau crew yang ceroboh hingga mengancam keselamatan pesawat adalah masalah karakter, budaya, dan kepemimpinan yang lemah.

Seperti kebanyakan brand in crisis, yang dibutuhkan Lion Air adalah sebuah creative destruction: pembumihangusan kemapanan budaya dan pola kepemimpinan lama yang sudah terlanjur mengeras. Seluruh jajaran Lion Air harus membangun sense of crisis untuk menggelindingkan perubahan besar-besaran. Bahkan kalau diperlukan Lion Air bisa membawa masuk outside leader untuk memecah kebekuan dan menjadi katalis perubahan. Krisis di IBM tahun 1990-an misalnya, diselesaikan dengan sangat baik berkat kehadiran outside leader seperti Lou Gestner.

Harus diakui, Lion Air adalah salah satu merek loka hebat yang pernah dimiliki negeri ini. Karena itu saya tidak rela jika krisis merek ini terus berlarut hingga menjadikannya terpuruk. Karena itu maskapai ini harus diselamatkan dari krisis. Siapa yang bisa menyelamatkan? Lion Air sendiri terutama para pemimpinnya di seluruh level organisasi.

 

Sumber foto: sodahead.com

January 9, 2016   1 Comment

Resolusi

Menjelang datang pergantian tahun, banyak teman-teman saya membuat resolusi Tahun Baru. Bunyi resolusinya hebat-hebat. Ada yang pengin berhenti menjadi karyawan dan beralih kuadran menjadi entrepreneur. Ada yang ingin mencapai kebebasan finansial. Yang ambisius pengin mendirikan 5 startups sekaligus. Ada yang ingin menulis buku. Yang jomblo pengin mendapatkan pacar. Yang sudah punya pacar pengin menikah. Yang gendut pengin mengurangi drastis berat badan. Dan masih banyak lagi.

Kebanyakan resolusi tersebut bombastis dan seringkali berlebihan. Tak heran jika riset yang dilakukan Richard Wiseman pada tahun 2007 menemukan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi Tahun Baru gagal mewujudkannya. Ya, karena umumnya semangat membara saat di penghujung tahun, namun begitu sampai saat untuk action mewujudkannya, tenaga menjadi loyo. Besar pasak daripada tiang.

Bicara resolusi dulu saya juga sama, memiliki resolusi hebat-hebat begitu datang malam pergantian tahun. Pengin punya mobil. Pengin punya rumah. Pengin karir melejit. Pengin mengambil doktor. Pengin punya perusahaan sendiri. Resolusi-resolusi itu hebat-hebat sehingga menjadi penyemangat yang luar biasa bagi saya untuk terus maju di tahun yang baru. Namun belakangan resolusi saya berubah. Selama lima tahun terakhir isi resolusi saya tak pernah beranjak dari dua hal: simple life dan giving.

New Year 2016 Resolution

Simple Life

Resolusi pertama adalah hidup sesimpel mungkin. Hidup gaya orang tua saya dulu di kampung: hidup super sederhana, tidak neko-neko, tidak berlebihan, bersahaja, apa adanya. Yang paling gampang simple life adalah consume less: makan-minum tak berlebihan (minum air putih, makan slow food yang murah tapi sehat), berbelanja tak berlebihan, kepemilikan tak berlebihan. Betul kata Azim Jamal dalam The Power of Giving, “When you reduce your consumption, you can reduce your stress, the pressure in your life, and even your fears.”

Simple life adalah fokus menjalani yang betul-betul penting, dan mengenyahkan beragam hal yang nggak penting. Kini saya mencoba fokus pada kegiatan yang betul-betul saya sukai dan cintai (terutama bekerja, membaca-menulis, dan mendengarkan jazz). Mengurangi multi-tasking. Mengurangi chit-chat nggak perlu di grup WA, Twitter, atau Facebook. Mengurangi perhatian pada kegaduhan sosial/politik yang datang bertubi-tubi (dari kasus Nikita Mirzani hingga “Papa Minta Saham”). Mengurangi hura-hura (seperti membakar kembang api di malam Tahun Baru). Dan yang paling sulit, mengurangi marah dan suntuk. Be mindful.

Simple life adalah juga mengerem keinginan. Dulu saya punya 1001 keinginan dan ambisi, sehingga bingung dan penuh stress untuk mewujudkannya. Kini, saya hanya punya satu-dua ambisi sehingga fokus dan sepenuh hati mewujudkannya. Kita harus jujur dan berdamai dengan diri sendiri. Sumeleh, kata orang Jawa. Dengan sedikit ambisi, saya makin banyak waktu berkontemplasi, berkoneksi (fully-connected) dengan apa yang sedang saya lakukan, dan ujung-ujungnya fokus berkreasi. Stop cluttering your life, get contemplating… and creating!!!

Giving

Resolusi kedua adalah giving, yaitu sebuah mindset untuk tidak lagi fokus pada diri sendiri (self-focused), tapi pada orang-orang di luar kita (other-focused). Dulu resolusi saya hebat-hebat (pengin sekolah tinggi, pengin menjadi penulis hebat, pengin menjadi konsultan hebat, pengin kaya raya, dst-dst), tapi itu semua untuk diri saya. Setelah usia saya menginjak 40 sekitar lima tahun lalu semuanya berubah. Apa-apa yang untuk diri saya menjadi tak berarti lagi. Saat itu saya mengatakan: “I’m finished. It’s the time to give.”

Benar kata Mark Twain, “The two most important days in your life are the day you are BORN and the day you find out WHY”. Ada dua hari terpenting dalam hidup kita. Pertama saat kita lahir, itu sebabnya kita merayakannya tiap tahun. Lalu apa yang kedua? Hari pernikahan? Hari kematian? Bukan. Yang kedua adalah hari dimana kita menemukan jawab kenapa kita hidup. Di usia 40 saya menemukan jawab, kenapa saya hidup: untuk berarti bagi orang lain. Itulah turning point hidup saya. Life begins at 40.

Itu sebabnya sejak lima tahun lalu giving menjadi resolusi hidup saya tiap tahun. Jangan bayangkan saya pengin menjadi giver hebat macam Mark Zuckerberg yang menyedekahkan Rp 600 triliun kekayaannya; atau Mother Teresa yang begitu heroik membantu kaum papa di Kalkuta. Saya hanyalah simple giver yang membantu dengan sederhana, sejauh yang saya mampu. Tidak ambisius, yang penting ikhlas.

Percaya saya, ketika kita menjalani simple life, maka pasti kita akan merasa berlebih. Dan ketika kita merasa berlebih, maka banyak bagian yang bisa kita berikan kepada orang lain. Simple life leads to abundance.

Memberi yang sederhana bisa macam-macam bentuknya. Memberi duit pasti terbatas, karena saya tidak kaya-kaya amat. Memberi pengetahuan mungkin lumayan karena saya punya sedikit pengetahuan dan pengalaman di bidang manajemen, marketing, dan branding. Memberi pengetahuan bisa diwujudkan dalam bentuk ceramah/seminar dan tulisan kolom/buku. Sejak lima tahun lalu saya mencoba menulis dengan lebih jujur. Artinya, saya menulis demi kebaikan orang lain, bukan semata untuk diri saya.

Memberi juga bisa berwujud waktu, tenaga, dan pikiran. Itu sebabnya saya dan teman-teman yang peduli mendirikan Komunitas Memberi tiga tahun lalu untuk membantu UKM naik kelas. Bersama-sama kami mengajari para pelaku UKM branding, servis, manajemen keuangan sederhana, manajemen SDM, dsb agar mereka bisa menjalankan usahanya dengan lebih baik. Bersama teman-teman, saya juga merintis Indonesia Brand Forum untuk membangun kesadaran membangun brand lokal Indonesia.

Never-Ending

Di depan saya katakan bahwa resolusi saya tiap tahun tak beranjak dari dua hal: simple life dan giving. Ya, karena untuk mewujudkan keduanya sulitnya minta ampun. Butuh refleksi diri, butuh kebesaran hati, butuh keikhlasan, butuh latihan. Semakin dijalani, semakin banyak PR yang harus dikerjakan.

Tiap kali datang detik-detik menjelang pergantian tahun, di tengah gemuruh orang-orang membakar kembang api, saya selalu bertanya: apa yang sudah saya berikan untuk orang lain? Dan tiap kali menjawab pertanyaan itu, saya jadi malu. Karena selama setahun ke belakang saya hitung-hitung, rupanya tak banyak yang bisa saya berikan. Giving is a never-ending journey. Memberi adalah perjalanan tanpa akhir di sepanjang sisa hidup kita.

 

Sumber foto: www.happynewyears2016.net

January 2, 2016   2 Comments

Best Business Book 2015 – My Picks

Memasuki pergantian tahun, menjadi rutinitas saya untuk menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2015 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah sepuluh buku terbitan 2015 pilihan saya, semoga bisa menjadi referensi dan inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. The Rise of Robots: “Technology and the Threat of a Jobless Future”, Martin Ford

The Rise of Robot

Di era big data dan algoritma, artificial intelligence menjadi kian cerdas. Memang teknologi paling cool ini membuat hidup kita kian mudah, namun ia juga membawa bencana karena membuat begitu banyak pekerjaan menjadi obsolet karena telah diotomasi. Pertanyaannya, bagaimana nasib kita-kita yang tak cukup cerdas untuk bisa survive di tengah pergeseran dari ekonomi berbasis tenaga kerja manusia ke algoritma dan komputasi? Buku ini memberikan tinjauan kritis mengenai bagaimana jika sopir, pekerja pabrik, lawyer, dokter, guru, bahkan programer tergantikan oleh mesin dan robot cerdas.

2. Misbehaving: “The Making of Behavioral Economics”, Richard Thaler

Misbehaving

Sebuah buku yang begitu renyah menelusuri perjalanan teori baru ekonomi yang kini populer disebut behavioral economics. Teori ini menumbangkan teori ekonomi lama yang telah berusia 200 tahun lebih. Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human).

3. Creative Schools: “Revolutionizing Education from the Ground Up”, Ken Robinson

Creative Schools - Book Cover

Sebuah kritik menohok terhadap sistem pendidikan kita yang sudah terlanjur dikooptasi mesin besar industrialisasi. Tak sekedar mengkritik, buku ini mengajukan model pendidikan alternatif yang lebih holistik, humanis, dan kreatif. Ken Robinson si penulis, menyarankan kita semua untuk back to basic dengan membawa pendidikan pada tujuan hakikinya dalam mentransformasi anak didik menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan.

4. Rising Strong: “The Reckoning, the Rumble, the Revolution”, Brene Brown

Rising Strong

Buku ini tentang keberanian, kegalauan, dan keteguhan menghadapi berbagai tantangan bisnis dan hidup. Penulis mengingatkan bahwa menemukan kembali pijakan di tengah keterpurukan adalah saat dimana keberanian kita diuji dan nilai-nilai kita ditempa. Menjadi semakin kuat di tengah cobaan yang pelik adalah sebuah proses yang menunjukkan kepada kita, siapa kita sesungguhnya. Bacaan wajib bagi entrepreneur yang ingin tetap tabah dan kuat di belantara cobaan kegagalan bisnis.

5. The Achievement Habit: “Stop Wishing, Start Doing, and Take Command of Your Life”, Bernard Roth

Achievement Habit

Pendiri d.School, Universitas Stanford ini berbagi strategi bagaimana menggunakan design thinking untuk mencapai tujuan-tujuan yang secara konvensional tak bisa diwujudkan. Menurutnya, capaian fenomenal bisa dipelajari dan seperti layaknya bisep, bisa dilatih guna mencapai tujuan-tujuan luar biasa. Dengan menggabungkan design thinking, problem solving, dan kreativitas yang selama beberapa dekade diajarkan di Stanford, buku ini membantu kita membangun perilaku pencapaian yang menjadi modal kita mewujudkan mimpi-mimpi besar.

6. Big Magic: “Creative Living Beyond Fear”, Elizabeth Gilbert

Bi Magic

Penulis novel laris “Eat, Pray, and Love”, di sini tidak sedang mengumbar imaginasi fiksinya, tapi runtut bercerita mengenai proses kreatif di balik penulisan novel-novel indahnya. Melalui buku ini ia mengajak kita mengambil apa-apa yang paling kita cintai, dan mengenyahkan apa-apa yang paling menakutkan dalam hidup kita. Ia membahas sikap, pendekatan, dan kebiasaan yang harus kita tempa untuk mengembangkan kehidupan paling kreatif kita. Bagi kalangan bisnis ini menawarkan perspektif unik mengenai bagaimana menjadi sosok kreatif.

7. Altruism: “The Power of Compassion to Change Yourself and the World”, Matthieu Ricard

Altruism

Buku ini bisa menjadi semacam ensiklopedia mengenai altruisme (perhatian terhadap kesejahteraan dan kebaikan orang lain) yang menyajikan pengalaman personal penulis, insights, dan telusuran literatur ilmiah mengenai topik yang kini naik daun ini. Penulis berargumen bahwa altruisme merupakan jawaban bagi tantangan utama dunia saat ini mulai dari kesenjangan ekonomi, kepuasan hidup, dan kesinambungan lingkungan.

8. Mindful Work: “How Meditation Is Changing Business from the Inside Out”, David Gelles

Mindful Work

Tak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia kejeniusan Steve Jobs adalah mindfulness. Ya, karena Steve adalah pemimpin bisnis menjalani laku meditasi yang menjadikannya efektif dan fokus dalam mengolah ide, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas kepemimpinannya. Mindful Work adalah buku pertama yang secara sistematis menjelaskan peran krusial praktek mindfulness seperti meditasi atau yoga dalam mendongkrak kinerja perusahaan. Beberapa alasannya, karena praktek mindfulness mengurangi stress, meningkatkan fokus mental, dan mengurangi depresi di kalangan karyawan.

9. Cool: “How the Brain’s Hidden Quest for Cool Drives Our Economy and Shapes Our World”, Steven Quartz & Anette Asp

Cool

Saat ini kita hidup di era konsumsi berlebihan (conspicuous consumption) dimana baju yang kita pakai, makanan yang kita santap, atau mobil yang kita kendarai tak melulu untuk memenuhi kebutuhan kita, namun juga sumber identitas, aspirasi, dan nilai-nilai yang kita pegang. Penulis menyajikan temuan ilmiah terbaru di bidang neuroscience, ekonomi, dan evolusi biologi untuk menguak apa dan bagaimana kita mengonsumsi brand.

10. Elon Musk: “Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future”, Ashlee Vance

Elon Musk

Kisah entrepreneur di balik sukses PayPal, Tesla, SpaceX, dan SolarCity ini selalu menarik dan inspiratif. Penulis memotret sisi-sisi menarik dari entrepreneur paling brilian, paling visioner, dan paling ambisius di Sillicon Valley saat ini. Ia melihat kepribadian unik, drive-nya yang luar biasa, hingga ketajaman dalam menerawang arah bisnis masa depan. Sebagai entrepreneur Anda harus belajar dari Musk mengenai satu hal ini: ketika entrepreneur pada umumnya menempuh cara gampang mencari uang dengan memasuki bisnis-bisnis konvensional, Musk justru mencari cara sulit dengan masuk ke bisnis-bisnis yang belum dirambah entrepreneur manapun seperti mobil listrik, energi surya, hingga penjelajahan ruang angkasa.

December 28, 2015   No Comments

Great M-S Team

Teamwork is the fuel that allows common people to attain uncommon results” Andrew Carnegie

Sebuah tim marketing-sales (M-S) yang solid adalah impian setiap organisasi. Persis seperti dibilang Andrew Carnegie, dengan tim M-S yang solid potensi masing-masing marketer-sales di dalam tim saling mengisi, berkolaborasi, dan bersinergi membentuk kekuatan maha dahsyat, bergulung-gulung layaknya luncuran bola salju yang mendongkrak kinerja dan produktivitas organisasi. Melalui tim yang solid perusahaan mampu mencapai extraordinary growth, merek yang sudah lapuk dibangkitkan lagi layaknya mummi, atau produk dengan extraordinary value melenggang mulus di pasar.

Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya tim M-S yang solid bisa diciptakan dan dibangun. Berikut ini adalah “rule of thumb” yang memberikan gambaran umum bagaimana seharusnya sebuah tim M-S yang solid. Meminjam judul film koboi klasik yang dibintangi Clint Eastwood, saya membaginya ke dalam tiga bagian: THE GOOD (“bagus”); THE BAD (“jelek”); dan THE UGLY (“sangat buruk”).

Marketing-Sales Team

THE GOOD
Clear Mission. Tim M-S yang solid selalu ditandai oleh adanya kesamaan misi, nilai-nilai, dan tujuan (shared mission, values, purpose) dari setiap marketer yang terlibat di dalam tim. Kesamaan misi, nilai, dan tujuan itu menjadi semacam “lem” yang demikian kokoh merekatkan setiap marketer-sales yang terlibat di dalamnya. Tak hanya itu, kesamaan misi, nilai, dan tujuan juga menjadi “kompas” yang mengarahkan seluruh anggota tim untuk berbaris dalam satu formasi untuk mencapai tujuan tim. Karena peran strategis ini, saya melihat kesamaan misi, nilai, dan tujuan merupakan elemen paling fundamental bagi kesuksesan sebuah tim.

Strong Leadership. Kredibilitas, determinasi, dan kapabilitas eksekusi dari si pemimpin tim merupakan faktor krusial lain dari keberhasilan sebuah tim. Si pemimpin tim lah yang mengalokasi sumber daya tim agar mencapai strategic focus; melakukan fungsi empowerment ke seluruh anggota tim; menciptakan energi dan nyali di tengah beragam onak-duri yang dihadapi tim; dan dia pulalah yang mengelola perubahan dan dinamika di alam tim agar tujuan tim terwujud secara sempurna.

Work in Start-Up Mode. Sebuah tim M-S yang solid haruslah memiliki empat hal yang menjadi “nyawanya”: creativity, innovativeness, flexibility, adaptability. Untuk itulah, secara pola pikir (mindset), sebuah tim harus memposisikan diri sebagai sebuah “start-up”. Namanya start-up, ia harus memiliki imaginasi liar; penciuman tajam terhadap dinamika pasar; berani mengambil resiko, berani lepas dari belenggu birakrasi, dan tak gampang hanyut oleh kesuksesan (legacy) masa lampau. Tom Kelley, pendiri IDEO, konsultan disain produk terkemuka dunia, menyebut proses ini sebagai: menciptakan “greenhouse” tempat tumbuh suburnya kreativitas dan inovasi.

THE BAD
Team Fatigue. Ini terjadi jika sebuah tim menjadi mandul tak bisa berbuat apa? Energi dari masing-masing anggota tim terkuras habis, energi tim melempem, semua orang under-motivated, dan akhirnya performa tim jeblok. Kenapa begitu? Dalam banyak kasus, proses “vicious circle” ini terjadi karena tak kunjung datangnya kesuksesan-kesuksesan awal (early wins). Kesuksesan-kesuksesan awal merupakan sesuatu yang krusial bagi sebuah tim karena dengan kesuksesan awal ini energi, konfiden, dan mental keberhasilan setiap anggota tim akan mampu dibangun. Kesuksesan awal inilah yang menjadi “modal” berharga bagi tim untuk menggulirkan langkah-langkah berikutnya dan menuai sukses-sukses kecil berikutnya, sebelum kesuksesan paripurna mampu dituntaskan.

THE UGLY
Apollo Syndrom. Sindrom ini terjadi jika ”the sum of parts is less than the whole”, 1 + 1 bukannya 3, tapi justru 1,5. Dengan kata lain, tim tersebut kehilangan “daya sinergis”-nya. Bagaimana ini terjadi? Pertama jika masing-masing anggota tim sibuk berdebat dengan membawa aspirasi dan kepentingan masing-masing sehingga tak kunjung mengerucut menjadi keputusan yang solid. Kedua, jika tim tersebut mengalami “pelapukan” dimana aktivitas menjadi rutin, birokrasi dan prosedur begitu ketat mencengkeram, dan semua anggota tim mulai kehilangan passion-nya. Ketiga, ketika aktivitas tim didominasi oleh aktivitas planning, tapi sangat lemah dalam execution. Dengan kata lain, tim tersebut “over promise”, tapi “under deliver”. Ini yang membuat anggota tim jadi frustasi.

 

Sumber foto: instantedgemarketing.com

 

December 26, 2015   No Comments

“Brand Rakyat”

Go-jek dilarang! Kabar mengenai pelarangan layanan ojek online oleh Menteri Perhubungan itu mengagetkan kita semua pekan ini. Dalam sekejab para tukang ojek pun bereaksi keras. “Pemerintah tega banget. Kalau melarang, ini sama saja memutus rezeki banyak orang… Sebulan saya dapat minimal Rp 3 juta dari hasil nge-gojek. Kan lumayan besar untuk menyambung hidup,” kata Anang seperti dilaporkan Republika.

Tak hanya tukang ojek yang kebakaran jenggot, praktis semua pihak menolak dan marah dengan keputusan Menteri Perhubungan tersebut. Mulai dari operator ojek online, netizen di Facebook dan Twitter, petisi di change.org, anggota DPR, bahkan Presiden. “Nanti siang saya akan panggil Menteri Perhubungan,” ujar Jokowi di Istana Bogor, Jumat (18/12). Menyusul pertemuan Jokowi dengan Menteri Perhubungan, akhirnya diputuskan kebijakan tersebut dicabut.

Gojek

“Brand Rakyat”
Fenomena “kemarahan rakyat” terhadap keputusan pemerintah melarang layanan ojek online menarik dilihat dari sisi pemasaran dan branding. Mana ada masyarakat luas berbagai lapisan dari tukang ojek hingga presiden menjadi advocator bagi brand hebat seperti Go-jek? Belasan tahun mengamati dunia pemasaran di Indonesia, belum pernah saya mendapati sebuah brand dibela habis-habisan oleh konsumen dan stakeholders-nya seperti terjadi pada Go-jek.

Inilah yang dalam dunia pemasaran disebut sebagai brand advocacy atau brand evangelism. Dalam berbagai kesempatan seminar, saya sering mengatakan bahwa brand evangelism adalah capaian tertinggi dari sebuah brand. Inilah puncak kehebatan sebuah brand. Di sini brand tak hanya sebatas dikenal, memiliki image yang kuat, atau diloyali konsumen, tapi lebih jauh lagi juga dibela habis-habisan hingga ke titik darah penghabisan oleh si konsumen.

Contoh klasik brand evangelism terjadi pada Harley Davidson dan Apple. Dua brand hebat ini dikenal memiliki konsumen (lebih tepat disebut pengikut) yang fanatik. Konsumen Harley Davidson misalnya, bangga luar biasa saat menggunakan baju kebesaran Harley (kepala diikat, baju hitam lengan buntung, sepatu boot) atau mentato lengan dan jidatnya dengan logo Harley. Tak hanya itu, saking fanatiknya, si konsumen bisa marah besar jika orang lain misalnya, menjelek-jelekkan atau mem-bully brand.

Nah, Seperti halnya Harley Davidson dan Apple, Go-jek dibela habis-habisan oleh konsumennya baik si tukang ojek maupun pengguna ojek. Bedanya, kalau konsumen Harley Davidson dan Apple berasal dari kalangan atas, konsumen Go-jek adalah rakyat kebanyakan. Karena itu saya lebih senang menyebut brand semacam Go-jek sebagai: “brand rakyat”.

Sharing Economy
Di era sharing economy yang kini kian massif proses pembentukannya, saya memprediksi bakal semakin banyak brand rakyat lahir di negeri ini. Kenapa bisa begitu? Argumentasnya gampang saja. Ya, karena by default model bisnis berbagi (sharing business model) melibatkan masyarakat kebanyakan dalam proses delivery layanan mereka. Dalam kasus Go-jek, perusahaan melibatkan para tukang ojek. Dalam kasus Uber, perusahaan melibatkan sopir taxi. Dalam kasus AirBnB, perusahaan melibatkan para pemilik penginapan. Dalam kasus crowfunding, proyek melibatkan para penyandang dana.

Nah, karena nasib dan kehidupan dari masyarakat kebanyakan itu bergantung pada perusahaan, maka tak heran jika mereka berkepetingan untuk menyukseskan perusahaan. Mereka akan berjuang dan membela habis-habisan agar perusahaan sukses. Ketika perusahaan sukses, maka dengan sendirinya mereka juga akan menuai kesuksesan. By default mereka akan menjadi advocator dan evangelist bagi perusahaan. Hubungan unik inilah yang menjadi pilar pembentukan brand dari sebuhah sharing company seperti Go-jek.

Karena memiliki masa evangelists yang sangat besar, tak mengherankan jika proses brand-building dari kebanyakan sharing company berlangsung demikian cepat. Dalam kurun waktu hanya sekitar 3 tahun, Go-jek misalnya, kini telah menjadi household brand yang diketahui dan dikagumi masyarakat berbagain lapisan dari Sabang sampai Merauke. Sementara merek hebat seperti Sosro, Indomie, atau Pepsodent butuh puluhan tahun.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah betul brand seperti Go-jek adalah brand sempurna tanpa cela? Tidak juga. Kalau para evangelists bisa ngomong baik tentang Go-jek, maka tentu saja mereka juga bisa ngomong jelek. Dan kalau mereka sudah ngomong jelek, maka mereka akan menjadi “musuh dalam selimut” yang sangat berbahaya. Omongan jelek mereka bisa menjadi bola liar yang sulit ditahan dan dikendalikan.

Karena itu saya selalu wanti-wanti kepada brand rakyat seperti Go-jek: rawat baik-baik kepercayaan para evangelists Anda. Jaga mereka agar selalu menjadi pembela, jangan sampai justru menjadi teroris bagi brand Anda.

December 19, 2015   1 Comment

Iklan Revolusi Mental

Beberapa hari ini praktis tiap malam saya melihat iklan “Gerakan Nasional Revolusi Mental”, yang nongol hampir di semua stasiun TV nasional. Lagi seru-serunya nonton acara talk show kasus “Papa Minta Saham”, sekonyong-sekonyong iklannya nylonong.

Revolusi mental adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang-rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala…” Begitu bunyi iklan sloganistik tersebut. Serta-merta slogan puitik ini kemudian diikuti dengan tulisan hasthag, yang sekaligus menutup iklan: #ayoberubah.

Iklan himbauan berubah ini demikian menyentuh karena disajikan dengan kata-kata puitik nan indah, gambar-gambar menawan, himbauan yang inspiratif, dengan tone yang patriotik dan bernuansa Merah Putih. Pokoknya serba menawan. Saya iseng-iseng googling, rupanya anggaran kampanye” ini begitu fantastis, mencapai lebih dari Rp. 140 miliar.

Iklan Revolusi Mental

“Papa Minta Saham”
Namun ironis, di tengah sajian iklan yang menawan itu saya disuguhi tontonan sidang MKD kasus “Papa Minta Saham” yang membikin dada sesak. Dada saya sesak mendengar rekaman percakapan pejabat negara wakil rakyat yang melakukan tindakan tercela dengan melakukan deal-deal bisnis demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Dada saya makin sesak ketika menyaksikan Yang Mulia para anggota MKD yang mati-matian melindungi si pejabat, sekali lagi, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Karena ulah para anggota MKD inilah, teman grup WA saya membikin meme satir: “Di Korea Utara orang salah di hukum MATI. Di Tiongkok Koruptor dihukum MATI. Di Indonesia orang salah dibela sampai MATI.” Demi kepentingan pribadi dan kelompok, para wakil rakyat itu seolah tertutup hati dan nuraninya.

Kembali ke iklan “Revolusi Mental”. Iklan itu dengan elegan meminta saya, rakyat kecil, untuk menjadi manusia baru berhati putih, berkemauan baja, dan beremangat elang-rajawali. Namun di sisi lain para pejabat tinggi justru berhati hitam, berjiwa miskin, dan bermental korup. Mana bisa? Bagaimana kita rakyat kecil diminta berubah sementara para pejabat dan pemimpinnya justru pancet tidak mau berubah. Bagaimana bisa mengharapkan rakyat kecil berkarakter mulia, kalau para pemimpinnya berakhlak tercela.

Dengan karakter pejabat yang compang-camping semacam itu, maka iklan itu dengan sendirinya habis, kehilangan kredibilitasnya. Kata-kata puitik nan indah, gambar-gambar menawan, dan himbauan yang inspiratif pada iklan itu menjadi tak ada artinya tatkala para pemimpin dan pejabatnya memberi teladan yang sebaliknya.

Product Advertise Itself
Dalam dunia pemasaran, kampanye yang paling ampuh adalah kampanye dimana produk memasarkan dirinya sendiri: “product advertise itself”. Ambil contoh Google. Apakah Anda pernah melihat mesin pencari Google diiklankan di TV, radio, atau koran? Mana ada! Mesin pencari Google kita pakai hampir tiap hari karena memang kemampuan mesin pencari ini luar biasa. Kita baru mengetik dua huruf saja Mbah Google langsung tahu kata kunci yang akan kita cari. Sekali lagi, product advertise itself. Produk yang bagus adalah alat pemasaran yang paling ampuh, bukan iklan.

Nah, yang kita butuhkan sekarang bukanlah kampanye iklan “Revolusi Mental” beranggaran ratusan miliar, tapi tindakan kongkrit yang merupakan wujud dari revolusi mental itu. Mengikuti prinsip piramida, tindakan kongkrit itu harus datang dari pemimpin di pucuk piramida, yaitu: presiden dan menteri; ketua MPR, DPR, DPD berikut anggotanya; gubernur, bupati, camat lurah; dst-dst. Begitu mereka memberi contoh baik, maka dengan sendirinya rakyat mengikuti.

Jadi, agar kampanyenya ampuh, seharusnya mental para pemimpin dan pejabat itu yang diperbagus terlebih dahulu. Setelah bagus baru kemudian dipromosikan ke rakyat kecil di bawah. Apakah mempromosikannya via TV, radio, atau koran? Bukan! Mempromosikannya melalui keteladanan. Keteladanan inilah yang saya sebut sebagai “produk”. Jadi kalau keteladanannya buruk, maka mau diiklankan kayak apapun pasti tak akan berhasil. Sebaliknya, jika keteladanannya bagus, maka tidak diiklankan pun akan tetap laku alias “dibeli” rakyat. Product advertise itself.

Oleh karena itu saya percaya, jika pejabat yang ada di dalam rekaman sidang MKD itu mau mengaku salah, kemudian meminta maaf kepada seluruh rakyat, dan kemudian secara legowo mengundurkan diri, maka itulah keteladanan yang dicari rakyat. Keteladanan semacam itulah yang akan mampu membentuk rakyat menjadi berakhlak dan berkarakter mulia. So, keteladanlah yang akan menciptakan revolusi mental, bukan iklan puitik beranggaran ratusan miliar rupiah.

 

Foto: www.youtube.com/watch?v=rgAQdrShz4Q

December 12, 2015   2 Comments