E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

First-Time User Sensations

Akhirnya hari yang ditunggu itu datang juga. Kamis 15 April lalu untuk pertama kalinya Google Glass dijual ke publik. Setelah penasaran menunggu selama dua tahun, kaca mata canggih berkemampuan smartphone tersebut minggu ini bisa didapatkan konsumen Amerika walaupun harganya masih selangit sekitar 17 juta perak. Celakanya, penjualan secara online itu hanya berlangsung sehari. So, rasa penasaran konsumen masih terus diulur-ulur layaknya layang-layang terbang jauh di awan.

Inilah hebatnya para marketers di Google. Sengaja extraordinary product ini “digoreng-goreng” sampai matang betul layaknya harga saham, agar word of mouth dan viralnya terus menjalar di kalangan konsumen di seluruh penjuru dunia. Sengaja konsumen “disiksa” (di dunia marketing sering disebut: “tormenting the customer”) dengan rasa penasaran yang panjang, sehingga pada saatnya nanti di hari H peluncuran, produk tersebut betul-betul meledak: Boom!!!”

Beginilah jurus jitu marketer untuk meledakkan sebuah produk luar biasa yang sebelumnya tak pernah ada di pasar. Caranya menggunakan word of mouth marketing dengan memanfaatkan viral dari satu konsumen ke konsumen lain secara massif. Kita tahu, ketika social/sharing tools seperti Twitter, Facebook, atau YouTube tersedia secara massif, maka viral yang dihasilkan pun menjadi sangat luar biasa. Cara yang persis sama dilakukan oleh Apple dengan dua blockbuster products-nya iPod dan iPad beberapa tahun lalu. Inilah cara pemasaran paling efektif sepanjang sejarah umat manusia hingga detik ini.

Bagaimana cara Google menyebarkan viral Google Glass ke seluruh penjuru bumi dalam hitungan detik? Elemen dasarnya adalah apa yang saya sebut first-time user sensations. Apa itu?

Sensational Experience
First-time user sensations adalah sensasi menggunakan produk untuk pertama kali. Untuk produk yang sudah ada sebelumnya, maka sensasi itu tentu biasa saja. Namun untuk produk yang lahir untuk pertama kali dan memang sebelumnya belum pernah ada seperti iPad atau Google Glass, maka sensasinya tentu akan luar biasa. Sensasi inilah yang memiliki nilai sangat tinggi di mata si pengguna.

Saya masih ingat dulu pada saat iPhone pertama kali muncul, pada waktu itu penggunaan layar sentuh dan virtual keyboard merupakan sesuatu yang cool dan menghasilkan sensasi yang luar biasa. Begitu pula pada saat Instagram pertama kali keluar, pengalaman menjadi pengguna pertama Instagram untuk mengolah foto hasil jepretan, lalu men-share foto tersebut di Twitter atau Facebook merupakan sesuatu yang memiliki gengsi sosial di kalangan teman-teman kita.

Lalu apa first-time user sensations untuk Google Glass? Tak kalah sensasional dibanding iPod, iPad, atau Instagram. Misalnya sensasi memotret dengan hanya menggunakan perintah suara. Cukup bilang “Ok Glass, take a picture,” maka sekejap kemudian si kaca mata pintar menjepret objek yang kita lihat. Atau sensasi mengakses email, mengambil informasi dari web, dan mencari jalan/alamat dengan bantuan navigasi Google Glass. Semua aktivitas itu dilakukan dengan perintah suara menggunakan interface berupa layar prisma kecil yang diletakkan sedikit di atas mata kanan kita. Very cool!

Menyebarkan Sensasi
Kembali ke pertanyaan semula, bagaimana Google menyebarkan viral Google Glass ke seluruh penjuru dunia? Inilah kekuatan sensasi. Yang dilakukan oleh Google adalah mendorong para evangelist untuk menyebarkan sensasi yang mereka alami saat menggunakan Google Glass untuk pertama kali. Mereka menyebarkan pengalaman tersebut melalui tweets di Twitter, status update di Facebook, posting di blog, atau video di YouTube. Melalui medium-medium social sharing itulah viral Google Glass menyebar layaknya wabah flu burung yang ganas merajalela.

Tahun lalu misalnya, Google mengirimkan Glass Explorer Edition versi awal ke 8.000 individu terpilih untuk mengikuti program Glass Xplorer. Mereka diberi kesempatan emas menjajal kehebatan Google Glass versi beta sekaligus menjadikan mereka sebagai para evangelists pertama untuk menyebarkan viral positif mengenai Google Glass. Tentu saja para evangelists ini tidak dilepaskan begitu saja dalam menyebarkan viral. Agar tercapai positive word of mouth, maka Google menskenariokannya.

Caranya gimana? Pertama tentu memastikan bahwa produk versi beta tersebut betul-betul menghasilkan sensasi positif di kalangan para evangelists pertama. Artinya, produk versi beta tersebut harus sudah dalam kondisi nyaris sempurna. Kedua, Google terlebih dulu mensosialisasikan sensasi positif yang diinginkannya melalui berbagai media yang ia rencanakan. Kepastian terwujudkan sensasi positif ini penting, karena kalau sampai yang terjadi adalah sebaliknya, maka yang diraup bukannya good mouth, tapi bad mouth. Kalau terakhir ini yang terjadi, maka bisa dipastikan produk gagal total.

Saya sering mengatakan bahwa pendekatan pemasaran paling cespleng hingga saat ini adalah word of mouth, alias menjadikan konsumen sebagai marketer utama (“Your best marketers are your customers”). Tapi harus diingat, Jangan kira pendekatan ini gampang. Seperti kita lihat pada kasus Google Glass di atas, rupanya word of marketing tak sesederhana menyebarkan pesan positif lewat jejaring sosial. Yang justru paling sulit adalah bagaimana menghasilkan extraordinary product yang mempu menghasilkan extraordinary sensations di kalangan para evangelist.

Hai para marketer di Tanah Air, silahkan mencoba resep Google Glass di atas bagi produk Anda. Rule of tumb-nya gampang: pertama, ciptakan extraordinary product; kedua, ciptakan first-time user sensations di kalangan evangelist pertama; dan ketiga, sebarkan sensasi tersebut layaknya virus yang menjalar ganas.

April 19, 2014   2 Comments

Indonesia Pusat Fesyen Islam Dunia? Why Not!

Minggu lalu saya diundang mbak Irna Mutiara @irnaMutiara, salah satu desainer hijab kondang Tanah Air berdiskusi dengan teman-teman di markas Hijabers Community di Jakarta. Forumnya tidak begitu besar, hanya sekitar duapuluhan orang dari berbagai kalangan yang peduli pada perkembangan fesyen Islam di Tanah Air. Di situ juga hadir bu Euis Saedah, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Departemen Perindustrian; ada juga mbak Dian Pelangi yang brand pakaian muslimnya sudah ternama; juga ada juga mas Salman Subakat pemilik brand kosmetik Wardah.

Walaupun forum itu kecil, namun saya melihat sebuah cita-cita besar dari anak-anak muda hebat di forum tersebut yaitu membentuk Islamic Fashion Council dengan misi mulia menjadikan Indonesia sebagai pusat fesyen Islam dunia. Saya surprise luar biasa karena ide yang sama sudah bergentayangan di otak saya sejak tahun lalu. Kebetulan pada saat itu saya diminta sharing pada salah satu sesi seminar di ajang Islamic Fashion Week 2013, dan di situ saya mengambil judul presentasi saya: “Indonesia: Center of the World Islamic Fashion”.

Indonesia menjadi pusat fesyen Islam dunia? Why not! Apa nggak berlebihan? Absolutely not!

Kegairahan Peradaban Islam
Saya berani mengatakan bahwa Indonesia sangat layak menjadi pusat fesyen Islam dunia karena berbagai pertimbangan yang fundamental dan sangat substansial. Setahun terakhir ini kebetulan saya intens mengamati dan meneliti dinamika perkembangan pasar muslim di Indonesia. Sekian lama mengamati, saya menemukan sebuah gelombang perubahan besar yang sangat menarik. Apa itu?

Saya melihat munculnya benih-benih kegairahan baru peradaban Islam terjadi di Tanah air selama 5 tahun terakhir. Kenapa saya sebut peradaban karena kegairahan baru tersebut terjadi di berbagai aspek lapangan kehidupan kaum muslim di Indonesia mulai dari seni-budaya, gaya hidup, ilmu pengetahuan, ekonomi, kewirausahaan, dinamika komunitas, dunia dakwah, bahkan perilaku bersedekah. Coba saja lihat fenomena-fenomena menggembirakan berikut ini.

Saya kira belum sampai lima tahun “revolusi hijab” terjadi begitu massif di negeri ini. Mendadak berbusana hijab menjadi tren gaya hidup (fesyen, kosmetik, asesoris) yang menjalar bak virus ganas ke seluruh penjuru Tanah Air. Menariknya, tiba-tiba berhijab menjadi sesuatu yang cool, modern, trendy, techy, dan begitu diminati wanita muslim. Kosmetik untuk pasar hijabers juga pun tumbuh luar biasa ditandai dengan adanya apa yang saya sebut “The Wardah Effect”.

Di bidang budaya seperti karya buku, novel, musik, atau film yang bernuansa Islam, kita juga menyaksikan fenomena yang tak kalah menggairahkan. Novel dan film “Ayat-Ayat Cinta” misalnya, mencapai sukses yang luar biasa bahkan mengalahkan film-film umum dalam menggaet penonton. Lagu dan musik bernuansa Islam (seperti lagu Bimbo, Opick, dsb) kini telah menjadi “musik pop” yang menjadi milik semua kalangan masyarakat tak hanya terbatas kaum muslim.

Di bidang ekonomi kita melihat tumbuh pesatnya bank syariah di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir mencapai sekitar 40% setiap tahunnya. Wirausahawan muslim juga merebak di hampir seluruh daerah di Indonesia. Komunitas wirausaha musilim seperti Tangan Di Atas (TDA) misalnya, menjamur di berbagai kota Tanah Air.

Modal
Saya melihat kegairahan baru peradaban Islam di Tanah Air merupakan modal dasar yang paling berharga bagi Indonesia untuk bisa menjadi pusat kebudayaan Islam dunia, termasuk dalam hal dunia fesyen. Kegairahan baru ini harus dimanfaatkan momentumnya untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen Islam dunia.

Kegairahan baru ini membawa implikasi yang sangat positif bagi perkembangan fesyen Islam di Tanah Air. Pertama, pasar fesyen Islam di Indonesia tumbuh pesat luar biasa dalam lima tahun terakhir. Memakai hijab kini tak hanya sekedar kewajiban tapi sudah menjadi gaya hidup yang fashionable. Tren baru iniah yang membuat pasar hijab bergairah luar biasa.

Pasar hijab yang sangat besar inilah (ingat, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia) yang bisa dijadikan “senjata” bagi Indonesia untuk menjadi pusat fesyen Islam dunia. Besarnya pasar bisa menjadi “posisi tawar” yang ampuh untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen Islam dunia.

Kedua, dengan pasar yang besar dan tumbuh begitu cepat, maka dengan sendirinya industri fesyen Islam di Tanah Air juga menggeliat demikian dahsyat. Para hijab entrepreneurs kini tumbuh bak jamur di musim hujan, tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, tapi merata hampir di seluruh kota di Tanah Air. Merebaknya industri fesyen Islam ini sekali lagi akan mendjadi landasan kokoh bagi Indonesia untuk mengukuhkan diri sebagai pusat fesyen Islam dunia.

Dalam diskusi dengan temen-temen Hijabers Community beberapa minggu lalu, ada pemikiran menarik yang diungkapkan bu Euis Saedah. Kata beliau, Indonesia harus mengembangkan pusat-pusat industri kreatif (cluster) fesyen Islam di berbagai kota. Munculnya cluster-cluster industri fesyen Islam inilah yang akan menjadi lokomotif bertumbuh industri ini.

Sekarang ini kita mengenal di Solo terdapat kampung Laweyan yang dikenal sebagai cluster industri batik. Di Yogya ada Kasongan yang menjadi cluster industri kerajinan gerabah/keramik. Atau di Jepara kita punya cluster untuk industri ukiran kayu. “Maka kini saatnya kita juga harus mengembangkan cluster-cluster industri fesyen Islam yang tersebar di berbagai kota di seluruh Tanah Air,” ujar bu Dirjen

Ketiga, dari sisi SDM atau para desianernya sendiri. Dalam hal SDM ini saya konfiden 1000% Indonesia akan bisa menjadi center of excellence bagi industri fesyen dunia. Kenapa? Karena untuk urusan seni dan kreativitas, kemampuan orang Indonesia sangat menonjol, tak kalah dibandingkan orang-orang asing.

Kalau pasar dan industrinya tumbuh pesat, maka dengan cepat pula kita akan menghasilkan desainer-desainer handal seperti mbak Irna Mutiara atau mbak Dian Pelangi dalam jumlah besar dan merata teresebar di berbagai kota di seluruh Tanah Air. Dan hanya dengan desainer-desainer handal kelas dunia dalam jumlah banyak, maka Indonesia  layak menyebut dirinya sebagai pusat fesyen Islam dunia.

So kembali ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: “Bisakah Indonesia menjadi pusat fesyen Islam dunia?” Jawaban saya singkat: “Why Not!

April 13, 2014   1 Comment

#UKMgoGlobal: Dialog dengan Pak Wamendag

Berawal dari cuap-cuap di Twitter antara @arettaCoffee, pak Bi @subiakto, saya @yuswohady, dan  pak Bayu Krisnamurthi @bayukr Wakil Menteri Perdagangan RI. Dari ngobrol biasa, tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya kita berhasil nodong pak Wamendag untuk memberikan sharing. Secepat kilat tema pun dicari, dan tak salah lagi, “UKM Go Global” merupakan tema paling seksi untuk diperbincangkan, apalagi AEC (Asean Economic Community) sudah di depan mata.

Setelah atur-atur waktu maka acara dialog dengan pak Wamendag diwujudkan dalam #KelasInspirasi pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 11 April 2014, pk.14.00-17.00 WIB
Tempat:   Auditorium, Kementerian Perdagangan, Jl. Ridwan Rais 5, Jakarta Pusat
Tema: “UKM Go Global”: Peran Pemerintah Mendongkrak Daya Saing UKM Menghadapi AEC
Pembicara: Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan RI
Moderator: Yuswohady

Teman-teman UKMers, ini merupakan kesempatan luar biasa karena kita bisa mendapatkan update terbaru langsung dari pak Wamendag mengenai pelaksanaan AEC. Di samping itu pak Wamendag dan tim akan menguraikan prosedur ekspor, komoditi ekspor potensial bagi UKM, info peluang bisnis terbaru untuk UKM, berbagai bentuk program dan dukungan yang diberikan oleh Memendag dalam mempersiapkan UKM menyongsong AEC.

Harap diketahui selama ini Kemendag telah mempersiapkan berbagai fasilitas layanan UPP Terpadu Perdagangan, yang disediakan dan dapat diakses secara terbuka oleh para UKM se-Indonesia, seperti: Layanan INATRADE, INATRIMS, Customer Service Center (CSC) Ekspor, dll. Semua layanan ini dibangun untuk memfasilitasi para UKM dalam memperkuat bisnisnya di pasar domestik maupun ekspor. Di akhir acara, kita bakal diajak tour ke unit-unit layanan UPP Terpadu Perdagangan tersebut.

So, yuk kita manfaatkan kesempatan emas ini, temen-temen UKMers bisa curhat apapun masalah yang dihadapi ke pak Wamendag. Temen-temen UKMers yang mau hadir daftar dulu ke www.memberi.org ya. Gratissss!!!

Ingat, UKMers yang mau nembus pasar ekspor wajib ikut!!!

April 7, 2014   1 Comment

Partai Peduli Brand

Saya tak peduli apakah di hari pencoblosan nanti yang menang Partai Demokrat, PDI Perjuangan, atau Golkar. Saya juga tak ambil pusing apakah yang menang nanti Jokowi, Prabowo, atau ARB. Yang saya peduli hanya satu: siapapun presiden yang menang, siapapun partai yang berkuasa, mereka harus peduli pada brand lokal Indonesia.

Terus terang saya kecewa berat, sepanjang hampir 70 tahun perjalanan bangsa ini sejak merdeka, tak satupun presiden dan partai berkuasa yang punya kesadaran dan peduli pada pentingnya membangun brand lokal Indonesia. Tidak Soekarno, tidak Soeharto, tidak Mega, tidak juga SBY. Mana ada brand-brand lokal hebat seperti Sosro, Blue Bird, Santika-Amaris, J.Co, Tolak Angin, D’Cost, Sunpride, atau Mayora lahir dan besar karena support dari presiden atau partai berkuasa. No way!

Kedaulatan Brand
Kenapa saya kok ngotot calon presiden dan calon partai berkuasa harus peduli brand lokal? Karena kedaulatan brand kita kini sedang di ujung tanduk. Dulu kita begitu kenyang 350 tahun dijajah bangsa asing. Maka kini, kita juga bakal kenyang dijajah brand-brand asing.

Coba saja lihat di kamar mandi kita, mulai dari sabun, shampo, pasta gigi, sabun cuci, hampir semuanya sudah dikuasai brand asing. Coba lihat dapur kita, mulai dari sambel, kecap, margarin, bumbu-bumbu, air minum dalam kemasan, hampir semua dikuasai brand asing.

Gadget yang kita pakai; layanan telekomunikasi yang kita langgani, motor-mobil yang kita kendarai; TV, radio, DVD player, kulkas, AC yang menghiasi ruang-ruang rumah kita; obat-obat yang kita konsumsi kalau sedang sakit; bahkan benih-benih yang ditebar petani kita; praktis kini sudah dikuasai oleh brand-brand asing.

Yang paling membuat saya resah adalah hadirnya brand waralaba restoran siap saji asing yang penetrasinya ke berbagai kota di seluruh penjuru Tanah Air begitu massif. Saya hanya khawatir kalau nantinya penetrasi brand-brand waralaba hebat dunia tersebut sudah sedemikian jauh hingga ke kecamatan dan kelurahan. Kita tahu proses ke arah itu kini berlangsung begitu massif.

Kalau itu terjadi, yang paling saya takutkan adalah kalau kuliner hebat Tanah Air seperti rawon, pecel, gudeg, kerak telor, gado-gado, pempek, batagor, perlahan tergusur dan hanya ada di museum kuliner Nusantara. Saya takut kalau nantinya anak-cucu kita sudah tak mengenal kuliner hebat Nusantara tersebut karena kalah bergengsi, kalah cool, kalah keren dibanding brand-brand waralaba global yang memang hebat dan becitra global-barat.

Terkait dengan kedaulatan brand, saya sering mengatakan: kalau bangsa ini terkena kanker, maka kanker itu kini sudah berada di stadium empat. Artinya belitan dominasi dan cengkeraman brand-brand asing tersebut sudah begitu merasuk hingga ke tulang-sumsum sehingga sulit dilepaskan.

Brand Kuat, Negara Kuat
Kenapa brand-brand asing di atas begitu menggebu menyerbu Indonesia dalam 10 tahun terakhir? Ya, karena Indonesia adalah gadis molek dengan potensi pasar yang luar biasa. Dengan 240 juta penduduk dimana hampir 60% di antaranya adalah kelompok kelas menengah dengan daya beli tinggi, Indonesia adalah pasar empuk untuk produk dan layanan apapun: dari gadget hingga mobil, dari shampo hingga margarin, dari karaoke hingga tontonan konser artis asing.

Nah, pasar yang begitu besar-menjanjikan tersebut haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengembangkan brand-brand lokal yang tangguh. Itu sebabnya, presiden dan partai berkuasa nanti harus punya rencana strategis untuk mengembangkan brand-brand lokal dalam jumlah besar, jangan sampai hanya menjadi pemerintah otopilot (seperti halnya selama ini) yang tak berbuat apa-apa. Dengan bekal brand-brand lokal hebat dalam jumlah besar, diharapkan kita akan menjadi tuang rumah di negeri sendiri.

Akan lebih indah lagi jika peran presiden dan partai berkuasa tersebut dalam membangun brand lokal difokuskan ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang agro dan industri kreatif yang padat karya. Harus diingat pelaku UMKM di negeri ini memiliki kontribusi dominan dalam perekonomian kita: dari sisi jumlah pelaku bisnis menguasai 99% dari total pelaku bisnis, dari sisi penyerapan tenaga kerja menguasai 86% dari total angkatan kerja, dan dari sisi nilai rupiah menguasai 57% dari total PDB kita.

Alangkah indahnya jika presiden terpilih dan partai berkuasa nantinya memberdayakan pelaku UMKM kita sehingga mampu mengembangkan pecel atau rawon dengan brand setangguh McD atau Starbucks. Alangkah indahnya jika presiden terpilih dan partai berkuasa nanti menciptakan inisiatif besar-besaran untuk memberdayakan UMKM kita dalam mengembangkan brand-brand hebat berbasis pertanian, peternakan, dan kelautan dimana Indonesia punya resource luar biasa.

Saya sih nggak muluk-muluk menuntut presiden terpilih dan partai berkuasa mengembangkan brand-brand global seperti Jepang mengembangkan brand hebat Sony dan Toyota; atau Korea mengembangkan brand hebat Samsung dan Hyundai. Di sini kita cukup mengembangkan brand UMKM seperti Maicih di Bandung; atau Joger di Bali; atau Gudeg Yu Djum di Yogya; tapi dalam jumlah besar, ribuan bahkan jutaan.

Saya yakin dengan membangun brand UMKM yang tangguh dan dalam jumlah besar, kita akan mampu mengembalikan kedaulatan brand dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kalau sampai ada partai yang punya program seperti barusan saya ceritakan di atas, maka tanggal 9 April nanti dengan semangat empat-lima, saya pasti akan nyoblos nomor partai tersebut. Ikhlas! Tanpa pakai serangan fajar, tanpa diamplopin… kwkwkwkkk!!!

April 5, 2014   4 Comments

Auto Consumer Big Shifts

Hari Kamis (27/3) lalu saya diminta berbicara di ajang Otomotif Award 2014, sebuah ajang penghargaan kepada para pelaku industri otomotif yang diselenggarakan oleh Majalah Otomotif, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Hadir juga di situ Wagub Basuki Tjahaja Purnama karena beroleh penghargaan News Maker of the Year sekaligus memberikan sambutan.

Saya diminta memaparkan revolusi kelas menengah di Indonesia dan dampaknya di industri otomotif nasional. Topik yang saya ambil: “The 5 Big Consumer Trends in Auto Industry”. Seperti diketahui sejak tahun 2010 untuk pertama kalinya Indonesia menembus ambang batas GDP perkapita USD 3000, yang sekaligus diikuti munculnya fenomena revolusi konsumen kelas menengah. Konsumen kelas menengah Indonesia (pengeluaran sehari sebesar USD 2-20) tumbuh dengan pesat mencapai jumlah 140 juta penduduk dengan pertumbuhan 8-9 juta orang pertahunnya.

Mass Luxurization
Lalu apa dampaknya di industri otomotif. Pengaruh yang paling mencolok adalah munculnya apa yang saya sebut “mass luxurization”, dimana seiring dengan meningkatknya kemakmuran, mobil kini sudah tidak merupakan barang mewah lagi. Mungkin masih dianggap barang mewah, namun semua kalangan sudah memilikinya, tak terbatas kalangan kaya tertentu.

Dulu waktu SD dan SMP, saya sering menonton film-film seri di TVRI (my favorites: Mannix, Starsky and Hutch, The A Team, Hawai Five-O). Dari tayangan film-film tersebut saya gumun (terheran-heran), kok bisa ya hampir semua keluarga di Amerika punya mobil. Waktu itu memang di Tanah Air masih segelintir keluarga yang memiliki mobil, bahkan di kampung saya tak satupun yang punya mobil.

Fenomena “semua keluarga punya mobil” seperti saya herankan sekitar 30 tahun lalu itu kini kejadian di Tanah Air. Keluarga-keluarga baru kelas menangah kini mulai punya mobil keluarga karena daya beli mereka yang kian memadai. Fenomena ini direspons sangat baik oleh pelaku industri otomotif dengan meluncurkan secara besar-besaran model mobil dengan harga terjangkau.

Pionirnya tentu saja Avanza-Xenia yang dikenal sebagai “mobil sejuta umat”, kemudian Nissan Levina dan Suzuki Ertiga, dan terakhir yang bakal menjadi kuda hitam Honda Mobilio (menang di ajang Otomotif Award 2014 sebagai “Car of the Year”). Bahkan sejak setahun lalu para produsen mobil secara ambisius mulai muncul model mobil murah (LCGC: low cost, green car) dengan harga di bawah 100 juta perak.

Tak hanya itu, membeli mobil sekarang juga gampang karena beragam produk kredit pembiayaan mobil dari bank maupun perusahaan pembiayaan ngantri siap membantu. Tak heran jika banyak keluarga seumur-umur nggak pernah pegang BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) karena harus “disekolahin” dulu ke perusahaan pembiayaan.

Shorter Lifecycle
Fenomena menarik lain yang saya tangkap adalah makin pendeknya siklus konsumen kelas menengah membeli mobil dan kemudian menjualnya kembali. Dulu orang membeli mobil dengan tujuan untuk memiliki dalam jangka lama, sekitar 5 tahun atau lebih. Kini waktunya menjadi lebih pendek sekitar 3 tahun bahkan lebih pendek lagi tergantung sering tidaknya merek-merek mobil baru yang keluar di pasaran.

Pada sebagian konsumen bahkan membeli mobil kini sudah seperti membeli gadget, terus berganti-ganti mengikuti mobil model baru yang keluar di pasar. Semakin sering model baru yang keluar, maka semakin sering dan pendek juga mereka ganti mobil.

Ambil contoh sekarang ini. Saya melihat di bulan-bulan terakhir ini banyak keluarga yang kebelet untuk membeli mobil gress Honda Mobilio, padahal mereka baru membeli Suzuki Ertiga tahun lalu. Seperti kita tahu, tahun lalu Ertiga merupakan “kuda hitam” yang berhasil mencuri hati keluarga-keluarga Indonesia, dan begitu ambisius mematahkan dominasi Avanza-Xenia. Hasrat berganti mobil hanya dalam beberapa bulan ini tentu tak lepas dari iklan gencar dan word of mouth mengenai mobil keluaran terbaru yang ampuh menggoda nafsu membeli.

Kalau lifecycle berganti mobil menjadi kian pendek, lalu apa dampak ikutannya? Yang jelas pasar mobil bekas (used car) menjadi lebih marak dari sebelum-sebelumnya. Pasar ini dimanfaatkan dengan cerdas oleh konsumen kelas menengah yang memiliki daya beli yang lebih rendah. Kata mereka: “Mobil boleh bekas, tapi model tetap keluaran terbaru”. Itu sebabnya saya berani mengatakan bahwa, pasar mobil bekas adalah “the next big thing” dalam industri otomotif di Indonesia.

Go Online
By default konsumen kelas menengah kita cerdas. Itu sebabnya untuk pembelian produk-produk yang high investment dan high involvement seperti mobil mereka berpikir seribu kali sebelum membeli. Sebelum membeli mereka akan mengumpulkan informasi mengenai fitur-fitur mobil, meminta pendapat ke teman atau expert mengenai kehebatan mobil, atau mengumpulkan pendapat orang-orang yang memiliki pengalaman menggunakan mobil yang akan mereka beli.

Nah, cara paling cepat dan gampang untuk mendapatkan semua informasi itu dari mana? Tanya “Mbah Google” alias “go online”. Karena itu saya memprediksi, mesin pencari Google, blog-blog pakar otomotif, komunitas-komunitas online pecinta otomotif, atau obrolan-obrolan di Facebook, Twitter, hingga BBM akan menjadi sumber informasi terfavorit bagi konsumen kelas menengah dalam memutuskan pembelian mobil.

Akibatnya, setiap kali ke dealer membeli mobil, mereka datang dengan isi kepala penuh. Informasi A sampai Z mengenai mobil yang akan mereka beli sudah di kepala, keputusan mobil apa yang akan mereka beli pun sudah ada di tangan. Bujuk-rayu salesman yang nerocos meyakinkan konsumen menjadi tidak mempan lagi. Salesman hanya diam manis menunggu instruksi si konsumen.

Kalau demikian adanya lalu bagaimana dengan fungsi salesman di dealer? Perjuangan salesman meyakinkan konsumen untuk memilih mobil yang akan dibeli bukan lagi dilakukan di dealer. Kenapa? Karena sudah terlambat, begitu sampai di dealer si konsumen sudah mengantongi keputusan. So, perjuangan meyakinkan konsumen harus dilakukan oleh salesman di ranah online (di Google, di Detik.com, di blog-blog, di Facebook, di Twitter, di BBM, di milis-milis otomotif, dll).

Karena alasan itulah saya kemudian menganjurkan kepada para salesman mobil untuk ngeblog dan rajin menyambangi komunitas-komunitas otomotif di ranah online. Istilah kerennya: selling through blogging atau selling through community. Di situlah Anda berjuang sampai titik darah penghabisan untuk meyakinkan konsumen memilih dealer Anda.

Kalau sudah begini, bisa jadi nantinya blogging akan menjadi faktor paling kunci kesuksesan seorang salesman mobil. Semboyannya: “Blogging or die!!!

March 29, 2014   No Comments

#KelasInspirasi Brand Identity, Bandung

Temen-temen UKMers Bandung, #KelasInspirasi Komunitas Memberi kembali hadir di kota Bandung. Setelah di #KelasInspirasi pertama (Februari 2014) lalu temen-temen mendapatkan materi “Branding for UKM” yang menjadi dasar penyusunan strategi branding, maka kini temen-temen akan mendapat materi lanjutan yang lebih praktis dan aplikatif bertema: “Building Strong Brand Identity“, mengenai bagaimana membangun brand identity yang kokoh.

Pembicaranya juga ruarrr biasa!!! Saya sendiri, Yuswohady akan memberikan introduksi mengenai apa itu brand equity. Kemudian pak Subiakto akan berbagi pengalaman membangun brand identity hasil pengalamannya selama lebih dari 40 tahun. Dan terakhir Irvan Permana, konsultan branding dan penulis buku “Brand is Like a Donut” akan memberikan pengetahuan praktis bagaimana membangun brand identity yang kokoh.

Tanggal/Hari: Sabtu, 29 Maret 2013
Tempat: Gedung Infomedia, Jl. Jl. Malabar No. 37, Bandung
Waktu: pk.09.00 – 17.00 WIB
Tema: Building Strong Brand Identity
Fasilitator:
Yuswohady, Pengamat Marketing/Branding
Subiakto, Legenda Branding Indonesia
Irvan Permana, Konsultan, Penulis Buku: “Branding Is Like a Donat”

Materi pak Subiakto:
- Finding Branding Ideas & Insight
- Formulating Core Message
- Communicating Message
- Real-Life Case from 40-year Experience

Materi Irvan Permana:
- Visual Brand Identity: An Introduction
- Strong Brand Identity through Logotype
- Strong Brand Identity through Colour
- Strong Brand Identity through Packaging
- Strong Brand Identity through Retail Interior & Exterior
- Brand Identity Guidelines and Applications

Ini materi penting banget untuk para UKMers, untuk menuju UKM kelas dunia…
Yuuuuuk ikutan!!!
Yuuuuuk UKMers belajar!!!

March 26, 2014   1 Comment

“Her”, Big Data, Algoritma

Minggu lalu saya nonton midnight film hebat bertitel “Her”, pemenang sekaligus Golden Globe dan Oscar untuk skenario film terbaik. Film ini bercerita mengenai seorang pria kesepian yang jatuh cinta berat pada operating system (OS) komputer super cerdas yang mewujud dalam bentuk suara wanita bernama Samantha. Melalui sosok Samantha dengan suara yang seksi nan mendesah, program komputer ini berhasil menyihir si pria hingga ia kepincut setengah mati pada si sosok wanita yang diisi suaranya oleh artis seksi Scarlett Johansson.

Kenapa bisa begitu? Rupanya program komputer ini dilengkapi dengan teknologi artificial intelligence yang memungkinkannya bisa membaca sifat, kepribadian, kebiasaan, bahkan suasana hati si pria kesepian. Samantha demikian hidup sehingga bisa menjadi teman ngobrol yang intim dan penuh pengertian. Setiap curhat si pria selalu didengar dengan sabar dan telaten, dan setiap keluh-kesahnya diberikan solusi cespleng. Interaksi intim inilah yang kemudian menumbuhkan bibit cinta antar keduanya.

Film ini menjadi komedi satir, karena kisah asmara yang mengharu-biru itu bukannya terjadi antar dua insan manusia, tetapi antar si pria kesepian dengan mesin alias program komputer. Karena lucu menggelikan, tak heran jika film ini masuk dalam nominasi film terbaik komedi/musikal baik di ajang Golden Globe maupun Oscar.

Revolusi Big Data
Saya tergelitik oleh film ini bukan karena film besutan sutradara Spike Jonze ini hebat hingga memborong 5 nominasi Oscar. Saya tertarik justru karena penasaran bagaimana si Samantha bisa “membaca” watak dan isi hati si pria kesepian. Karena film ini menggunakan setting waktu tahun 2025, maka saya pun berandai-andai, teknologi apa gerangan yang digunakan OS super canggih tersebut.

Kebetulan setahun terakhir ini saya sedang getol-getolnya membaca buku ataupun artikel mengenai “Big Data”, sebuah terminologi yang kini sedang menjadi buzz di dunia riset dan analitik data. Secara awam, Big Data adalah fenomena melimpah-ruahnya jumlah data (dalam bentuk digital) yang kini bisa diambil (storing) dan diolah menjadi informasi yang sangat berharga untuk berbagai tujuan.

Data melimpah di world wide web (www) dalam bentuk teks di Facebook, gambar di Flickr, video di Youtube, data lokasi kita di Foursquare atau Google Map, data suhu di thermostat lemari es atau AC, hingga data hasil sensor kamera CCTV, semuanya kini bisa ditangkap dan diolah menjadi informasi yang sangat bermanfaat untuk kehidupan umat manusia. Karena data yang diambil dari berbagai tools tersebut berasal dari miliaran orang, maka bisa dibayangkan berapa besar jumlah data yang terkumpul. Itulah Big Data.

Ambil contoh simpel, twit di Twitter atau “likes” di Facebook. Tahun 2012 lalu para tweeps telah ngetwit sebanyak lebih dari 400 juta sehari dengan pertumbuhan mencapai 800% setahun. Di tahun yang sama, setidaknya kita “nge-Likes” di Facebook sebanyak lebih dari tiga miliar kali sehari. Itu baru sehari, bayangkan jumlahnya kalau data-data itu dikumpulkan sebulan, setahun, atau bahkan bertahun-tahun.

Google saat ini mengolah sebanyak sekitar 24 petabytes (Petabytes = 1 juta gigabytes) data setiap harinya. Salah satunya adalah search query kita yang jumlahnya ratusan juta seharinya. Jumlah data ini mencengangkan karena kira-kira setara dengan ribuan kali jumlah seluruh dokumen cetak yang dimiliki Library of Congress hingga saat ini.

Nah, semua data di atas kini bisa diambil dan diolah menjadi “emas” bernilai bisnis miliaran dolar. Inilah bisnis masa depan: bisnis Big Data. Ambil contoh seluruh twit-twit kita di Twitter, status update kita di Facebook, atau search query kita di mesin pencari Google. Data-data yang “diinput” ratusan juta pengguna Twitter, Facebook, dan Google secara real time selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu tersebut kini bisa diambil dan diolah untuk memotret perilaku, hobi, kebiasaan kita kita sehari-hari. Bahkan dalam kurun waktu lama data-data tersebut bisa memetakan sifat dan karakter kita.

Memetakan Sifat dan Perilaku
Kembali ke film “Her”. Walaupun tidak diceritakan di film, saya berandai-andai, sifat-sifat si pria kesepian dalam film tersebut bisa dipetakan oleh OS (“si seksi Samantha”) karena OS tersebut mengumpulkan seluruh isi email-email si pria kesepian,  twit-twitnya di Twitter, status updates di Facebook, search query di Google, data kamera di laptop dan CCTV di sudut-sudut rumahnya, dan data apapun mengenai si pria kesepian. Ingat di tahun 2025 nanti setiap gerak-gerik kita akan bisa “ditangkap” datanya, dan seluruh data itu sudah dalam bentuk digital.

Karena sudah tersedia dalam bentuk digital, maka tentu saja data personal yang sangat kaya tersebut (yesss… Big Data!!!) bisa diolah dalam waktu super singkat dalam ukuran detik bahkan mikro-detik (ingat kemampuan komputer di tahun 2025 juga akan ratusan bahkan ribuan kali lipat dari kemampuan komputer saat ini). Itu sebabnya, Samantha bisa “membaca” setiap perubahan suasana hati, perilaku dan sifat si pria kesepian setiap jam, menit, bahkan detik.

Bagaimana pengolahan dan analisa data individu itu dilakukan? Yang melakukan itu semua bukanlah manusia, tapi mesin. Bagaimana mesin melakukan? Mesin melakukannya secara otomatis menggunakan apa yang disebut algoritma. Seluruh data dari seluruh aktivitas si pria kesepian dikumpulkan kemudian dipetakan polanya dengan algoritma tertentu. Dengan teknik komputasi canggih (seperti “machine learning” atau “neural networking”) maka komputer bisa memberikan respons yang tepat dan presisi kepada si pria kesepian mengacu pada data-data tadi.

Itulah powerful-nya algoritma. Nantinya seluruh aktivitas dan kehidupan kita akan “diotomasi” oleh sebuah teknik yang bernama algoritma. Seperti ditunjukkan film “Her”, algoritma bisa menghasilkan “mahluk hidup baru”, sosok seperti Samantha yang sangat hidup, sangat natural, cerdas, sekaligus sangat manusiawi.

Tak mengherankan jika Chirstopher Steiner, penulis buku Automate This: How Algorithms Came to Rule Our World mengatakan bahwa nantinya algoritma akan mengatur seluruh hidup kita: “Algorithms are taking over everuthing… it is the tools we use to shape our planet, our lives, and even our culture.”

Habis nonton film “Her” terus terang saya menjadi resah luar biasa dan berharap-harap cemas. Saya berharap di tahun 2025 saya sudah pensiun dari profesi sebagai konsultan pemasaran. Apa sih sesungguhnya pekerjaan konsultan pemasaran? Pekerjaannya mengolah data konsumen dan kemudian menganalisisnya hingga menjadi strategi pemasaran yang cespleng. Saya resah karena di tahun 2025 profesi saya raib dibumihanguskan oleh algoritma. Sebagai konsultan pemasaran saya pasti kalah bersaing melawan “mbak Samantha”. Kwkwkwkkkk…

March 21, 2014   6 Comments

Selfless Leader

Saat ini saya sedang melakukan riset untuk baku baru saya yang mudah-mudahan bisa terbit pertengahan tahun ini, berjudul Giving-Focused Enterprise (GFE). Pilar dari organisasi jenis baru ini adalah para pemimpin yang selalu fokus untuk memberi (giving-focused), yaitu pemimpin yang memiliki kerendahan hati untuk menghilangkan keakuan (selfless) dan menempatkan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya pada posisi terpenting. Saya sebut pemimpin jenis ini sebagai selfless leader.

Tulisan ini barangkali muncul pada momentum yang tepat karena hari ini 16 Maret adalah hari dimulainya kampanye terbuka Pemilu 2014, dimana para calon pemimpin kita mengobral janji-janji bagi orang-orang yang bakal mereka pimpin dan wakili. Mudah-mudahan percikan kearifan yan tertuang dalam tulisan ini bisa menjadi oase menyejukkan bagi mereka.

Tulus-Ikhlas
Sebaik-baiknya pemimpin adalah jika ia ikhlas dan tidak mementingkan diri sendiri. Pemimpin hebat pasti tidak egois dan tidak mengarahkan tindak-tanduknya melulu untuk kepentingan pribadi (self-centered). Misi terpenting seorang pemimpin bukanlah untuk menuai pujian pribadi, memperoleh promosi pribadi, mendapatkan kekayaan pribadi, meraih kehormatan pribadi, memuluskan kesuksesan karir pribadi.

Semuanya itu mungkin penting, namun di atas itu semua misi hakiki seorang pemimpin adalah melayani orang-orang yang dipimpinnya dan menjadikan mereka lebih baik. Great leader are servants who facilitate the success of others. Fokus perhatian utama seorang pemimpin adalah mencapai kebaikan bagi organisasi dan orang-orang yang dipimpinnya.

Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Abraham Lincoln, atau Marthin Luther King adalah selfless leaders yang tanpa pamrih mengabdi dan melayani konstituennya. Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun demi mempertahankan prinsip-prinsip kepemipinan yang ia pegang teguh. Marthin Luther King bahkan terenggut nyawanya dalam memperjuangkan prinsip kebenaran yang ia yakini. Kata King, “Every man must decide whether he will walk in the light of creative altruism or in the darkness of destructive selfishness”.

Sukses seorang pemimpin ditentukan oleh kemampuannya dalam menarik followers dan mendapatkan kepercayaan (trust) dari mereka. Untuk mendapatkan kepercayaan itu si pemimpin harus mampu membawa perubahan dan kemanfaatan bagi followers: kehidupan yang lebih baik, kemampuan dan ketrampilan yang meningkat, atau mungkin jiwa yang lebih bermakna. “The greatest achievement of a leader is the triumph of those they serve”. Ini semua diperoleh jika si pemimpin memiliki ketulusan dan keikhlasan untuk mengontribusikan kepemimpinannya murni untuk kepentingan para followers dan organisasi yang dipimpinnya.

Saya jadi teringat iklan Biskuat yang beberapa hari terakhir muncul hampir tiap malam di layar TV. Dalam iklan tersebut digambarkan seorang ibu yang melatih anaknya berlari untuk memiliki semangat juang dan mental juara. Begitu gigih si ibu menggembleng dan memompa semangat si anak agar si anak bisa mengalahkannya. Kata-kata yang membuat saya tersentuh adalah ucapan si ibu yang mengatakan.  “Saat ia berhasil mengalahkanku, maka saat itulah saya menang.” Sikap tulus-ikhlas seperti inilah yang khas dimiliki oleh seorang selfless leader.

Pemimpin yang tulus-ikhlas akan menghasilkan pemimpin lain yang tulus-ikhlas pula. Kalau pemimpin tulus-ikhlas ini teraplikasi ke para pemimpin di seluruh level organisasi maka ia akan membentuk sebuah budaya kepemimpinan yang kokoh. Pemimpin yang profesional, jujur, dan bener-bener bersih akan mengimbas ke bawahan, mereka terbawa menjadi orang yang tak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tapi mementingkan kepentingan karyawan.

Spirit of Giving
Dengan mindset seperti ini maka motivasi paling dasar seorang pemimpin adalah spirit of giving; spirit untuk selalu memberi kepada orang-orang yang dipimpinnya tanpa pernah memikirkan imbal-balik. Setiap pemimpin harus selalu berkorban tanpa pernah berharap mendapat imbalan dari pengorbanan itu. Inilah substansi keikhlasan seorang pemimpin.

Spirit of giving mengandung keyakinan bahwa “giving is receiving”. Maksudnya, semakin banyak si pemimpin memberi pada followers-nya, maka semakin banyak pula ia mendapat (mendapat kepercayaan, kesetiaan, kecintaan, dedikasi, dan sebagainya) dari mereka. The more you give, the more you receive. Memang secara matematik, ungkapan tersebut mungkin tidak make-sense bahkan tak masuk akal. Tapi itulah indahnya memberi. It’s the beauty of giving.

Itu sebabnya, untuk bisa memiliki spirit of giving, seorang pemimpin harus memiliki mental kelimpahan (abundance mentality), bukan mental kikir. “Every Leader should hold an abundant mind, act abundantly, and  think abundantly. He will feel rich… and will start to give to others.” Ketika seorang pemimpin selalu merasa berkekurangan, mana mau ia memberi kepada followers-nya?

Pemimpin yang selfish dan sarat diwarnai agenda dan pamrih pribadi akan membawa dampak destruktif bagi organisasi. Ketika seorang pemimpin sudah punya pamrih pribadi atau kelompok, maka kepemimpinan yang dijalankannya terkotori oleh ego dan kepentingan-kepentingan si pemimpin. Karena digayuti kepentingan pribadi, maka kepemimpinan itu tidak lagi murni dikontribusikan untuk kemanfaatan dan kebaikan organisasi.

Begitu kepemimpinan sudah beraroma kepentingan pribadi dan kelompok maka biasanya akan muncul kecurigaan, ketidakpercayaan, tantangan, bahkan perlawanan. Itu semua akan memicu terjadinya politik-politik yang kontraproduktif di dalam organisasi. Di dalam organisasi akan muncul kelompok-kelompok kepentingan dan antar kelompok itu terjadi friksi dan perebutan kepentingan. Celakanya, si pemimpin sendiri ikut bermain di arena perebutan kepentingan tersebut mewakili diri dan kelompoknya. Kalau ini terjadi, maka inilah awal dari kehancuran organisasi.

Menjadi selfless leader itu tidak gampang. Dibutuhkan keikhlasan, kebesaran hati, kerelaan berkorban, sikap keberlimpahan, dan yang terpenting, kecintaan yang tulus kepada followers. Karena itu tak bisa disangkal ungkapan bahwa: “Being selfless is one of the hardest things you’ll ever do as a leader.”

March 16, 2014   1 Comment

Middle-Class Moslem

Bulan-bulan ini saya bareng tim di Inventure sedang sibuk-sibuknya menyiapkan sebuah research project mengenai perilaku konsumen kelas menengah muslim (middle-class moslem) di Indonesia. Very challenging! Kenapa? Karena, tak cuma potensinya yang luar biasa besar, tapi juga dinamika perubahannya beberapa tahun terakhir mencengangkan.

Bahkan saya berani mengatakan selama 5 tahu terakhir pasar middle-class moslem di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar. Tak heran jika kemudian pasarnya menggeliat dan marketer langsung pasang kuda-kuda untuk meraupnya. Berikut ini adalah catatan saya mengenai fenomena menggeliatnya pasar middle-class moslem  di Indonesia.

Boom Bank Syariah
Sejak pertama kali dirintis Bank Muamalat pada tahun 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40% tiap tahunnya, jauh melebihi pertumbuhan bank konvensional yang tak sampai 20%. Memang penetrasinya belum mencapai 5% (total aset) dari total pasar perbankan, namun geliat perkembangannya sungguh menjanjikan. Hingga akhir 2013 setidaknya kita telah memiliki 11 bank umum syariah (BUS), 23 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah (UUS), dan 160 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Kantor cabangnya mencapai 2.925 dan telah menggaet sekitar 12 juta lebih akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diraup mencapai lebih dari Rp 175 triliiun. Luar biasa!!!

Revolusi Hijabers
Saya kira belum sampai lima tahun “revolusi hijab” terjadi di Tanah Air. Mendadak berbusana hijab menjadi tren gaya hidup (fesyen, kosmetik, asesoris) yang menjalar bak virus ganas ke seluruh penjuru tanah air. Menariknya, tiba-tiba berhijab menjadi sesuatu yang cool, modern, trendy, techy, dan begitu diminati. Saya jadi ingat pagelaran puisi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) berjudul “Lautan Jilbab” di kampus UGM sekitar 30 tahun lalu (kala itu masih SMA). Waktu itu saya hanya bisa membayangkan, karena memang belum kejadian. Tapi kini “lautan jilbab” itu telah hadir di mana-mana: di jalan-jalan, di mal-mal, di seminar-seminar, di acara-acara TV. Betul-betul revolusi.

Kosmetik Muslim Kian Kinclong
Wardah adalah fenomena. Seiring dengan maraknya middle-class moslem dan revolusi hijabers, Wardah muncul sebagai pemain yang tiba-tiba menyeruak mencapai puncak sukses. Para pesaing “konvensional”-nya kebit-kebit karena takut kue pasarnya terpangkas. Iklannya di TV muncul hampir tiap hari. Brand ambassador-nya gonta-ganti (dari Inneke Koesherawati hingga Dewi Sandra). Varian produk dan subbrand-nya berkembang pesat. Sukses Wardah tak sepenuhnya karena kehebatan strategi. Sukses Wardah tak lepas dari rejeki nomplok yang muncul karena menggeliatnya pasar muslimah. Dalam waktu cepat pasar kosmetik muslimah ini bergeser dari niche (ceruk) menjadi mainstream (massal), dan Wardah beruntung bisa “menunggangi” pergeseran tersebut.

Rutin Berumroh, Why Not?
Meningkatnya daya beli middle-class moslem yang diikuti dengan murahnya biaya bepergian ke luar negeri (…thanks to budget airlines) membuat bepergian ke Tanah Suci menjadi demikian mudah dan terjangkau. Hasilnya gampang ditebak: industri travel religi (umroh, haji, wisata keagamaan) menggeliat menjadi bisnis menggiurkan. Saya kadang nggak habis pikir, di beberapa daerah kantong muslim seperti Jawa Timur, antrian haji bisa mencapai belasan tahun. Ya, karena yang mau berhaji meluap, sementara jatah dari pemerintah Arab Saudi tetap jalan di tempat. Rutin berumroh (tiga tahun sekali, bahkan setiap tahun) kini juga mulai banyak kita temui di kalangan keluarga muslim di Tanah Air.

Hotel Syariah Menjamur
Label syariah kini kian seksi. Apa-apa yang berlabel syariah kini kian diminati. Contohnya hotel. Dulu saya nggak kebayang, hotel kok syariah. Namun sejak beberapa tahun terakhir hotel model baru ini tumbuh pesat. Itu artinya, pasarnya ada dan bertumbuh. Diawali oleh Hotel Sofyan sebagai pionir yang beralih dari hotel konvensional menjadi hotel syariah sejak tahun 1994, hotel syariah kini menjamur mencapai populasi 50-100 hotel. Dulu konsep ini aneh, tapi kini sudah mulai diterima konsumen muslim. Mereka mengaku citra hotel syariah yang “bersih” dan bernuansa religius membuat konsumen mendapatkan kenyamanan sekaligus keimanan sebagai seorang muslim. Dan yang pasti hotel syariah diminati ibu-ibu yang kita tahu menguasai 80% pengeluaran rumah tangga.

Kegairahan Budaya Islam
Menggeliatnya pasar middle-class moslem juga tercermin dari tumbuh pesatnya apa yang saya sebut “produk-produk budaya bernuansa Islam” seperti buku atau novel bernuansa Islam, apps bernuansa Islam, film bernuansa Islam, musik bernuansa Islam, termasuk dakwah Islam. Novel dan film “Ayat-Ayat Cinta” menjadi trigger dari menggeliatnya pasar novel Islam di Indonesia. Di dunia dakwah kita juga menyaksikan kegairahan baru dimana para ustad bermunculan sebagai sosok yang down to earth, merakyat, modern, techy, bahkan gaul. Dimulai dari Aa Gym, kemudian beranak-pinak dari ustad Jefri hingga ustad Solmed.

Kewirausahaan Muslim
Kewirausahaan muslim adalah tren yang hot di tanah air beberapa tahun terakhir.  Driver-nya adalah komunitas-komunitas wirausahawan muslim yang menjamur di seluruh tanah air, salah satunya adalah Tangan Di Atas (TDA). Komunitas yang berdiri tahun 2006 ini kini telah hadir di hampir 50 kota dengan anggota milis mencapai puluhan ribu anggota. Tahun lalu saya diminta menjadi pembicara Wanita Wirausaha (Wanwir) Majalah Femina di berbagai kota. Saya surprise luar biasa, karena di setiap kota yang saya kunjungi sebagian besar peserta berjilbab, alias wirausahawan muslimah.

Kian Kaya, Kian Bersedekah
Hot-nya pasar middle-class moslem tak hanya tercermin dari urusan beli produk dan layanan. Menggeliatnya pasar middle-class moslem juga tercermin dari makin getolnya mereka bersedekah dan membayar zakat. Survei Inventure tahun 2013 menunjukkan bahwa pengeluaran kelas menengah untuk zakat dan sumbangan mencapai 5,4% dari total pengeluaran bulanan, sebuah angka yang cukup besar. Teman saya, mas Thoriq Helmi, salah satu direktur di Dompet Duafa, pernah bilang ke saya, bahwa sedekah dan zakat yang ditampung Dompet Duafa selama ini sebagian besar diperoleh dari middle-class moslem, dan potensinya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Dan menariknya, “90% lebih mereka membayar zakat via electronic channel seperti transfer ATM, debit, dll,” ujar mas Thoriq. Upzzz, techy amat!!!

Label Halal Jadi Rebutan
Dulu label halal tidak begitu diperhatikan konsumen kita. Namun kini, label halal mulai dilirik dan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan pembelian konsumen. Tak heran jika kemudian perusahaan berlomba-lomba melabeli produknya dengan stiker halal. Ujung-ujungnya bisnis label halal pun ikutan menggeliat. Barangkali karena hal ini dua instansi kita berebut untuk mendapatkan hak mensertifikasi produk halal. Upzzzz…  Nggak ikut-ikut ahhh.

March 8, 2014   10 Comments

Service Is about Detail

Hari Senin (25/2) lalu saya bersama hampir 200 teman-teman entrepreneur di Komunitas Memberi (@memberiID) mendapat kesempatan emas berkunjung di Garuda Indonesia. Kesempatan emas, karena kami disambut khusus oleh pak Faik Fahmi, Direktur Layanan, yang menjadi master mind di balik inisiatif servis kelas dunia yang diusung flagship carrier kebanggaan Indonesia ini.

Teman-teman entrepreneur begitu takjub mendengar paparan Pak Faik mengenai New Service Concept Garuda Indonesia. Maka saya pun kemudian mendapatkan cerita-cerita inspiring dari tangan pertama mengenai bagaimana Garuda mengusung servisnya. Yang paling menarik tentu adalah konsep “Garuda Indonesia Experience” dan layanan First Class yang relaunch tahun lalu setelah sempat absen selama 18 tahun.

Menyimak paparan pak Faik mengenai servis kelas dunia ala Garuda, entah kenapa dada ini terasa meledak-ledak. Sekonyong-konyong menyeruak kebanggaan atas karya anak negeRI. Saya bangga bahwa bangsa ini rupanya bukan hanya bisa membikin tahu-tempe, tapi juga meracik sebuan mahakarya layanan berkelas dunia yang laku keras di pasar mancanegara. Ya, karena layanan Garuda saat ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Branded Service
Ada dua pelajaran servis yang saya dapat dari Pak Faik dan Garuda Indonesia. Pertama adalah bahwa servis, sepeti juga halnya produk, bisa di-branding menghasilkan unbeatable differentiation ketika diramu dengan cerdas. Bagaimana Garuda mem-branding servisnya? Ini yang menarik. Agar berbeda dari pesaing di seluruh dunia, Garuda menggunakan keunikan local wisdom dan budaya Indonesia yang eksotik.

Kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke dijadikan sebagai penanda identitas merek (brand identity) Garuda sehingga sulit ditiru oleh pesaing manapun. Dengan begitu Garuda sekaligus menjalankan misi mulia melakukan branding terhadap Indonesia alias country branding. Kemanapun Garuda terbang di seluruh penjuru dunia, ia serta-merta menjalankan misi maha mulia mengharumkan nama Indonesia. Sebuah “two-in-one” strategy yang saya kira sangat cerdas.

Branded service yang dinamai “Garuda Indonesia Experience” itu oleh pak Faik disebut sebagai “a concept of service designed to allow passengers to experience Indonesia at its best”. Bagaimana bentuknya? Bentuknya dengan menyentuh lima panca indera penumpang (5 senses: sight, sound, scent, taste, touch) di 28 titik sentuh penumpang (customer touch points) selama mereka menikmati perjalanan bersama Garuda mulai dari pre-journey, pre-flight, post flight, hingga post-journey.

Gampangnya, ketika terbang bersama Garuda maka Anda akan disuguhi pengalaman khas Indonesia seperti sapa dan senyum ikhlas khas Indonesia (touch), kuliner khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke (taste), lagu daerah khas Indonesia dengan aransemen mutakhir Addie MS (sound), juga tentu para pramugari cantik berbalut kebaya batik (sight).

Detail
Pelajaran kedua yang saya dapat adalah bahwa kunci dari sebuah service excellence, apapun bentuknya, adalah detail. Service excellence mustahil diwujudkan tanpa adanya attention to detail. Bahkan saya berani mengatakan bahwa “roh”-nya servis adalah attention to detail, ketelitian yang luar biasa. Dan karenanya orang servis mutlak harus memiliki budaya attention to detail.

Mengenai attention to detail, Pak Faik memberikan contoh yang sangat simpel tapi mengena ke ulu hati. “Di kabin First Class Garuda, bunyi sendok saja bisa menjadi masalah besar,” ujarnya. Lho kok bisa? Saat perjalanan pesawat tengah malam, ketika penumpang sedang terlelap tidur, penumpang First Class Garuda bisa complaint ketika si pramugari menimbulkan suara-suara yang bisa membangunkan tidur lelap mereka. Karena itu pramugari First Class memang dilatih memiliki kepekaan luar biasa agar tak sekecilpun mengeluarkan suara saat si penumpang super istimewa ini sedang terlelap tidur.

Mendadak sontak saya jadi teringat pengalaman kontras seminggu sebelumnya, saat saya makan di salah satu restoran waralaba lokal kondang yang menurut saya serampangan menjalankan servis. Selama setengah jam makan di restoran tersebut saya mendapatkan bad experience mulai dari wastafel yang jorok minta ampun, respons pesanan makanan yang lama, tampilan pelayan yang seadanya, hingga muka petugas kasir yang masam dan pelit senyum akibat beban kesibukan yang menghimpit.

Why not restoran tersebut tak bisa memberikan standar servis kelas dunia seperti halnya Garuda. Masalahnya sesungguhnya simpel. Pertama karena si pemilik restoran tak sungguh-sungguh dan tak memiliki sense of urgency untuk menciptakan service excellence. Ia berpikir, begitu makanan yang disajikan enak, semuanya akan beres. Kedua, ia tidak memiliki attention to detail dalam men-deliver servis. Ia masih punya mindset bahwa servis bisa dijalankan secara sembarangan. Mindset inilah yang harus diubah.

Dari ngobrol dengan teman-teman entrepreneurs yang umumnya pelaku usaha kecil/menengah, (UKM) saya menangkap keresahan di wajah mereka setelah mendengar paparan Pak Faik. Kenapa mereka resah? Karena mereka terkena shock therapy. Di dalam hati mereka malu bukan main sambil bergumam, “Garuda yang segedhe gajah aja begitu serius dan detail menjalankan servis, kami yang masih liliput serampangan melakukannya.”

Harap tahu saja, salah satu tujuan saya mendirikan Komunitas Memberi adalah memberikan shock therapy macam ini kepada UKMers di seluruh Tanah Air. Agar apa? Agar mereka bangun dari tidur panjang untuk menjadi perusahaan kelas dunia, seperti halnya Garuda.

March 1, 2014   4 Comments