E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Halal Marketing

Hari Rabu (1/7) lalu saya diundang mas Lutfiel Hakim dari Indonesia Halal Center untuk menjadi nara sumber focus group discussion (FGD) bertema: Marketing Produk Halal di Hotel Sofyan Menteng. Hadir di situ nara sumber yang lain: pak Riyanto Sofyan, CEO Hotel Sofyan; pak Anton Apriyantono, mantan Menteri Pertanian yang juga pakar produk halal; dan ibu Elvina Rahayu, auditor Halal. Dengan perspektif yang berbeda, kami membahas bagaimana membangun awareness masyarakat terhadap produk halal di tanah air.

Bahkan dengan semangat empat lima kami membahas bagaimana menjadikan Indonesia sebagai the world’s halal center. Degan penduduk muslim dan potensi pasar halal terbesar di dunia, harusnya Indonesia bisa mewujudkannya. Dari negara-negara yang berambisi menjadi world’s halal center seperti Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, atau Turki, potensi pasar halalnya tak ada apa-apanya dibanding Indonesia. Malaysia cuma berpenduduk 27 juta jiwa, sementara Arab Saudi cuma 28 juta. Jadi, Indonesia jangan sampai kalah dengan Malaysia dan Arab Saudi.

 

Logo Halal

 

Revolusi Sertifikasi Halal
Namun sayang, potensi pasar halal Indonesia yang demikian besar, tak diikuti dengan jumlah produk halal yang beredar di pasaran. Hingga tahun lalu, hanya ada sekitar 13 ribu produk yang bersertifikat halal, dari total jumlah produk sekitar 156 ribu produk yang didistribusikan di Indonesia. Itu artinya belum sampai 10%. Padahal di Malaysia misalnya, sekitar 90% produk makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan yang beredar di negeri Jiran tersebut sudah berlabel halal.

Untungnya, pemerintah telah melakukan terobosan dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Menurut undang-undang ini, pada tahun 2019 seluruh produk (makanan, minuman, kosmetik, farmasi, biologi, kimia, hingga produk modifikasi genetik) yang didistribusikan di Indonesia haruslah memiliki sertifikasi halal. Bahkan pemerintah juga mewajibkan produk-produk yang tidak halal untuk menyatakan ketidakhalalan secara jelas pada kemasannya.

So, dengan adanya undang-undang ini saya berharap akan terjadi “revolusi sertifikasi halal”. Dalam sisa waktu 3,5 tahun ini para produsen akan berbondong-bondong mensertifikasi halal produknya. Dan dengan demikian awareness masyarakat terhadap halal dengan sendirinya akan terdongkrak naik.

Vertikal: Belajar dari Batik
Menyongsong tahun halal 2019, menjadi kewajiban kita semua untuk mengkampanyekan sadar produk halal di tanah air. Tujuan ada dua. Pertama menjadikan 100% produk makanan-minuman, kosmetik, obat-obatan, dsb. yang beredar di Indonesia bersertifikasi halal. Ini gampang karena sudah menjadi amanat undang-undang. Kedua, menjadikan Indonesia sebagai the world’s halal center mengalahkan Malaysia, Arab Saudi, dan negara pesaing lain. Nah, yang ini butuh perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Saya mengusulkan dua pendekatan pemasaran yang bisa kita jalankan untuk mengkampanyekan halal di Indonesia, yaitu: vertikal dan horizontal. Yang saya maksud dengan pendekatan vertikal adalah sebuah kampanye halal yang dilakukan pemerintah dalam bentuk kampanye publik/sosial (public/social campaign). Kampanye jenis ini sudah banyak dilakukan oleh berbagai kementerian, departemen atau badan pemerintah. Ambil contoh Departemen Perdagangan yang melakukan kampanye label “100% Cinta Indonesia” untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri. Dulu jaman pak Harto, BKKB membuat kampanye “Dua Anak Cukup”. Atau KPU yang membuat kampanye “Ayo Memilih” dalam memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pemilu.

Di sini, kita harus banyak belajar dari kampanye batik yang menurut saya merupakan public campaign tersukses yang pernah ada di Indonesia. Sukses ini dimulai dari ditetapkannya batik sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Pengakuan yang memicu kebanggaan (national proudness) segenap lapisan masyarakat tersebut direspons cepat oleh pemerintah dengan menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Tak hanya itu, pemerintah juga menghimbau seluruh instansi dan perusahaan agar karyawannya mengenakan batik pada hari Jumat. Dari situ gelombang uforia batik menyebar bak virus ke seluruh penjuru negeri. Kampanye halal tak mesti sama persis dengan kampanye batik, tapi pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya bisa diambil.

Horisontal: Belajar dari Hijab
Pendekatan kedua adalah pendekatan horizontal dengan memanfaatkan kekuatan komunitas dan pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth). Pendekatan kedua ini mengandalkan edukasi halal oleh komunitas yang dilakukan secara peer to peer (P2P) melalui beragam media sosial seperti blog, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Berbeda dengan pendekatan vertikal yang mengandalkan kebijakan dan himbauan pemerintah, pendekatan ini lebih menekankan peran komunitas-komunitas halal (seperti Komunitas Halal Corner, Halal Center, Halal Baik Enak, dll.) dalam mengedukasi masyarakat mengenai sadar halal.

Untuk menjelaskan bagaimana edukasi peer to peer ini terjadi, ada baiknya jika saya menggunakan contoh yang terjadi di dunia hijab. Saya melihat, kesadaran kaum muslimah untuk berlomba-lomba mengenakan hijab sesungguhnya dipicu oleh “edukasi” massif yang terjadi di dalam medium komunitas hijabers. Edukasi ini begitu efektif karena dilakukan secara peer to peer antar para hijabers yang berkumpul di dalam komunitas dengan memanfaatkan blog, Facebook, atau Twitter. Interaksi antar sesama hijabers di dalam komunitas inilah yang kemudian memicu uforia hijab di kalangan kaum muslimah kita untuk ramai-ramai mengenakan hijab. Tentu saja edukasi halal tak akan sama persis dengan kasus yang terjadi di hijab, tapi setidaknya pelajaran-pelajaran penting bisa diambil.

Dalam pendekatan ini peran komunitas-komunitas halal memegang peran kunci, karena itu saya berharap komunitas-komunitas ini bakal tumbuh pesat bak jamur di musim hujan. Namanya saja horizontal, komunitas-komunitas ini haruslah menyebarkan kesadaran halal dengan pendekatan yang teduh, simpatik, inklusif, dan tidak menggurui. Program yang mereka besut haruslah kolaboratif dan kokreatif melalui pelibatan dan partisipasi stakeholders. Dan belajar dari sukses hijab, mereka harus mampu menjadikan sadar halal sebagai bagian dari gaya hidup yang keren dan cool. Ingat, cool factor merupakan faktor kunci dalam setiap kampanye pemasaran.

July 4, 2015   4 Comments

Masjidpreneurship

Ide “masjidpreneurship” muncul dari percakapan saya dengan mas Yuli Pujihardi, Direktur Ekekutif Dompet Duafa suatu sore saat kami ngobrol di sebuah mal di bilangan Pejaten, Jakarta. Awalnya ngobrol ngalor-ngidul, tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya kami sampai pada ngomongin seru mengenai potensi masjid sebagai hub untuk pengembangan ekonomi umat. Saya surprise luar biasa, karena apa yang saya pikirkan selama ini mengenai peran strategis masjid ini rupanya nyambung dengan apa yang dipikirkan mas Yuli.

Seperti diketahui, seiring dengan munculnya kelas menengah muslim yang begitu pesat di Indonesia, kini kehidupan masjid kian modern, terbuka, dan inklusif. Seperti saya tulis dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim, masjid kini tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah tapi juga untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat luas. Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, gaya hidup muslim modern, juga pusat kegiatan ekonomi umat.

Cover Econd Edition - Front

Agen Kemakmuran
Pertanyaannya, kok bisa masjid menjadi hub untuk pemberdayaan ekonomi umat? By nature masjid di desa-desa, di kampung-kampung, di komplek-komplek, di kampus-kampus, bahkan masjid-masjid mentereng di kawasan elit ibukota, sesungguhnya adalah sebuah komunitas. Kenapa? Ya, karena masjid memiliki jamaah yang berkumpul secara reguler dan mereka memiliki satu kepentingan yang sama (common interest) untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan Allah. Sebagai sebuah komunitas produktif, seharusnya masjid, takmir, dan jamaahnya bisa menjadi driver bagi pemberdayaan ekonomi di tingkat grass root. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran.

Masjid bisa menjadi hub untuk menjalankan beragam aktivitas ekonomi (value-creating activities) yang memberikan kemanfaatan umat, termasuk di dalamnya aktivitas bisnis dan perdagangan. Dengan menjadi unit ekonomi yang mandiri, maka komunitas masjid akan memiliki segudang kegiatan bermanfaat mulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan, seni-budaya, sosial, atau bisnis yang bermanfaat bagi umat.

Dan alangkah indahnya jika seluruh kegiatan itu dibiayai secara mandiri karena adanya pengeloaan bisnis dan keuangan yang profesional. Harus diingat, dana zakat, infaq, sedekah, wakaf (ZISWAF) dari jamaah merupakan sumber pendanaan mandiri bagi masjid yang potensinya luar biasa. Kalau sumber dana ini bisa digalang dan dikelola secara profesional, maka fungsi masjid sebagai agen kemakmuran bukanlah sekedar mimpi di siang bolong.

Format organisasinya tentu saja bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-making), tapi social enterprise dimana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusikan untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut saya sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Duafa atau Rumah Zakat. Lembaga-lembaga ini dengan sangat baik melakukan penghimpunan dana (fund raising) dan kemudian menggunakannya untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi umat. Menariknya, keseluruhan aktivitas tersebut dilakukan dengan sangat profesional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok tanah air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan oleh LAZ modern tersebut.

Kewirausahaan
Lalu apa syaratnya agar semua skenario di atas bisa terwujud? Salah satu faktor kuncinya menurut saya adalah bahwa pengurus (takmir) masjid harus memiliki jiwa kewirausahaan yang mumpuni. Mereka harus bisa menggalang potensi dana ZISWAF dari jamaah, mengelolanya secara profesional, dan kemudian menggunakannya untuk membesut beragam program kegiatan untuk memecahkan persoalan-persoalan riil yang dihadapi jamaah dan masyarakat luas di sekitar masjid. Dengan begitu masjid bukannya tercerabut dari persoalan-persoalan aktual masyarakat sekitarnya, tapi menjadi solusi manjur bagi mereka.

Saya optimis dengan konsep masjidpreneurship karena role model-nya sudah ada. Beberapa masjid hebat (nggak mesti besar) dikelola dengan jiwa kewirausahaan yang luar biasa oleh takmirnya. Contohnya adalah Masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Masjid ini dikelola dengan sangat profesional terutama dalam pengelolaan bisnis dan keuangan. Menariknya, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jum’at tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid; melainkan dikelola untuk berbisnis. Bisnis itulah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan untuk masyarakat sekitar masjid. Melalui bisnis tersebut, disusunlah program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan.

Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh lain komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas ekonominya masih tetap terasa dan menjadi role model kewirausahaan masjid yang solid.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, pernah mengungkapkan bahwa jumlah masjid dan mushola di Indonesia saat ini sudah mencapai sekitar satu juta. Saya membayangkan, apabila satu juta masjid tersebut, baik besar-kecil, di kota-desa, dari Sabang sampai Merauke, bisa dikelola dengan spirit dan kemampuan kewirausahaan ampuh seperti halnya di masjid Jogokariyan atau Daarut Tauhid, maka dampaknya bagi perekonomian kita akan luar biasa. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran yang pengaruhnya demikian massif bagi bangsa ini. Pertanyaannya: kapan kita akan mewujudkannya?

 

June 27, 2015   No Comments

Masjid Inklusif

Dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim (kini terbit dalam edisi revisi 2015 dengan tambahan handbook) saya menuliskan bahwa menggeliatnya pasar kelas menengah muslim di Indonesia merupakan bagian dari sebuah perubahan besar dalam kehidupan keislaman di Indonesia. Bahkan saya menyebutnya sebagai kegairahan baru dalam peradaban Islam di Indonesia. Kenapa disebut demikian? Karena perkembangan positif kehidupan keislaman ini terjadi di berbagai bidang kehidupan mulai dari ekonomi dan bisnis, seni dan kebudayaan, pendidikan dan keilmuan, kegiatan dakwah, hingga gaya hidup.

Cover Econd Edition - Front

Salah satu fenomena menarik yang saya amati adalah kehidupan masjid yang kian modern, techy, dan inklusif. Artinya, masjid tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah tapi juga tempat untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat luas. Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, pusat kegiatan ekonomi, bahkan gaya hidup muslim yang kian keren.

Coba saja lihat fenomena-fenomena masjid yang menarik berikut ini. Masjid Salman di jantung kampus ITB Bandung menjadi pusat kegiatan mahasiswa berbagai bidang mulai dari keilmuan, pendidikan, hingga kegiatan sosial. Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru Jakarta memosisikan diri sebagai “mosque for educational and cultural movement” dengan segudang kegiatan sepanjang tahun tak hanya semasa Ramadhan. Masjid Sunda Kelapa menjadi tempat favorit untuk pernikahan dan perdagangan. Masjid Cut Mutia bahkan tiap tahun rutin menyelenggarakan Ramadhan Jazz Festival.

Memang fenomena makin modern dan inklusifnya masjid ini banyak terjadi di kota-kota besar, namun saya melihat kecenderungan ini akan meluas hingga ke berbagai kota di seluruh Tanah Air. Masjid kian dikelola dengan manajemen modern dan kegiatannya meluas mencakup berbagai bidang yang dibutuhkan masyarakat luas. Dengan begitu masjid menjadi kian open-minded, relevan, dan down-to-earth menjawab persoalan-persoalan aktual masyarakat. Masjid kian menawarkan kemanfaatan universal kepada “stakeholders”-nya.

Keilmuan
Di zaman Nabi, masjid bukan hanya digunakan untuk melakukan ibadah mahdhah, tapi juga untuk menyelesaikan masalah keumatan lainnya, terutama pendidikan. Terkait dengan tren revolusi kelas menengah muslim saat ini, peran kajian dan pendidikan ini tak hanya sebatas baca-tulis Al Qur’an, tapi juga kajian dan pendidikan ilmu terkini yang relevan dengan tuntutan kelas menengah muslim yang kian open-mind, modern, dan techy. Kini misalnya, sudah tak aneh lagi masjid dipakai untuk seminar mengenai entrepreneurship dan pemberdayaan ekonomi umat. Atau kursus mengenai pembuatan blog atau strategi online shop… wow!!!

Masjid Salman di Bandung misalnya mengelola pendidikan keislaman dengan pendekatan-pendekatan yang modern. Masjid di jantung kampus ITB ini menggunakan metode yang terstruktur dan fokus agar kegiatan pendidikan dan keilmuan yang dibesutnya tepat menyasar ke target audiens yang dituju. Di masjid ini misalnya, terdapat program PAS (Pembinaan Anak Salman) khusus untuk segmen balita. Untuk kelompok usia sekolah SMP-SMA, ada KARISMA (Keluarga Remaja Islam Masjid) Salman. Sedangkan untuk pemuda/pemudi mahasiswa ada program Asrama Salman yang selain memberikan beasiswa tempat tinggal juga secara rutin memberikan bimbingan kepada para pesertanya. Untuk pemuda/pemudi yang lebih dewasa, ada program SPN (Sekolah Pra-Nikah) sebagai media persiapan untuk mereka yang akan menikah.

Di kebanyakan masjid, kurikulum utamanya adalah pelajaran membaca Qur’an, bahasa Arab dan materi-materi lain seperti fikih agama Islam, sejarah Islam, dan lain-lain. Namun di Masjid Salman tak hanya cukup di situ. Seringkali masjid kebanggaan kampus ITB ini mengadakan kajian-kajian terkini yang relevan dengan kehidupan umat Islam, semisal kajian mengenai internet, parenting di era modern, hingga pengaruh media terhadap keluarga.

Kewirausahaan
Di samping pusat edukasi dan pembentukan karakter, masjid juga menjadi pusat kegiatan ekonomi umat. Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah salah satu contohnya. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kawasan ini ramai dikunjungi para santri yang ingin menimba ilmu dan mendapatkan pencerahan dari si dai kondang. Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umroh, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, namun geliat kewirausahaan dan aktivitas ekonominya masih tetap menggeliat hingga saat ini.

Beberapa waktu lalu saya diundang ustadz Valentino Dinsi untuk sharing mengenai Marketing to the Middle Class Muslim bertempat di Masjid Raya Al Azhar, Cakung di depan anggota Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW). Ustadz Valentino adalah pendiri komunitas MTW yang bermisi mulia mendorong kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi umat. Ia menggelar beragam program keren seperti: Program Santri Preneur, Teacher Preneur, Student Preneur, Hijab Preneur, Konsultasi Bisnis, Kampanye Gerakan Satu Keluarga Satu Pengusaha, dan lain-lain. Menariknya, sebagian besar program tersebut dibesut di masjid, seperti masjid Al Azhar dan masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

Dengan mengusung konsep kemandirian dan kewirausahaan, DT dan MTW menjadi model baru kegiatan masjid yang inklusif dan mengusung prinsip-prinsip kemanfaatan universal. Pola pengelolaan masjid yang inklusif ini kemudian menjadi model yang diikuti oleh masjid di seluruh Indonesia.

Keren di Mal
Masjid kian inklusif ketika ia kini makin banyak hadir di mal-mal mentereng. Kita tahu, kini mal sudah menjadi pusat kegiatan seluruh lapisan masyarakat. Praktis semua aktivitas kini dilakukan di mal, mulai dari belanja, jalan-jalan dan rekreasi keluarga, menonton bioskop, meeting dengan rekan kerja, arisan ibu-ibu, konser musik, reuni dengan teman lama, seminar, hingga pameran seni. Dan yang menarik, masjid-masjid di mal ini tak cuma hadir seadanya (misalnya nyempil di basement atau areal parkir nan panas dan pengap), tapi berdiri megah nan kinclong.

Coba saja Anda ke mal Pasaraya Grande di bilangan Melawai. Di lantai 5 mal tersebut terdapat Masjid ALatief yang keren abis. Interiornya impresif, karpetnya mewah, tempat wudlunya bersih-bersinar, dan yang istimewa adalah ornamen langit-langitnya yang artistik. Masjid ALatief tak cuma bermodal gedung mentereng, tapi juga segudang kegiatan pendidikan agama maupun umum yang terprogram rapi. Pasaraya tak sendiri, mal-mal kelas satu di Jakarta Pacific Place, Plaza Indonesia, Mal Kelapa Gading, atau Senayan City memiliki masjid yang keren abis.

Ketika mal menjadi keseharian kalangan kelas menengah muslim, wajar saja ketika mereka menghendaki masjid yang nyaman di mal. Jeda sejenak demi shalat lima waktu untuk kemudian melanjutkan aktivitas menghabiskan waktu di mal. Pengunjung mal yang dimanjakan dengan masjid yang nyaman berarti memperbesar kesempatan bagi mereka untuk betah berlama-lama di mal. Dengan adanya tuntutan ini, tak heran jika kini mulai banyak mal yang ramah Islam.

 

June 20, 2015   2 Comments

#C3000 dan Value Innovation

Kamis, 11 Juni lalu Middle Class Institute (MCI) sebuah lembaga think tank yang dibentuk oleh Inventure bersama majalah SWA menggelar Indonesia Middle Class Forum (MCF) untuk keempat kalinya. Temanya tahun ini adalah: “Value Innovator: How Smart Brands Win the Middle Class Consumers”. Kajian MCI menyimpulkan bahwa fenomena revolusi konsumen kelas menengah (saya sering menyebutnya “Consumer 3000”) di Indonesia telah memaksa pemain melakukan inovasi nilai (value innovation). Value innovation adalah terminologi yang diperkenalkan Prof. Chan Kim dari INSEAD dimana pemain mampu mendongkrak manfaat (benefit), namun secara bersamaan ia juga mampu menurunkan biaya (customer’s cost).

Seperti sering saya ungkapkan, konsumen kelas menengah Indonesia memiliki tiga karakteristik penting. Pertama, mereka memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, mereka pintar (more knowledgeable) dan berwawasan luas karena begitu mudahnya mengakses informasi. Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (socially-connected). Dari tiga ciri tersebut, aspek knowledgeability memiliki pengaruh paling istimewa dan secara mendasar mengubah perilaku belanja dan konsumsi mereka.

Seiring meningkatnya pendidikan, pengetahuan, dan wawasan, mereka menjadi semakin value-demanding alias kian menuntut value setinggi langit. Artinya mereka semakin meminta manfaat (benefit) setinggi mungkin, dan harga (customer’s cost) serendah mungkin. Gampangnya, mereka minta barang dengan kualitas setinggi mungkin, dengan harga semurah mungkin. Itu sebabnya saya sebut konsumen kelas menengah sebagai hyper-smart customer.

Logo MCI

Value Demanding
Pertanyaannya, kenapa mereka demikian value demanding? Ya, ketika mereka kian knowledgeable, maka kebutuhan mereka merangkak semakin canggih (sophisticated) dari kebutuhan dasar (sandang-pangan-papan) ke kebutuhan yang lebih tinggi seperti hiburan, kepemilikan gadget, kesehatan/kebugaran, kenyamanan (convenience), hingga aktualisasi diri. Ekspektasi mereka pun terkerek naik dengan terjadinya sofitifikasi kebutuhan tersebut. Dan kebutuhan akan barang berkualitas (high-quality product) dan merek-merek global (global brand) semakin tinggi. Ini terjadi seiring dengan semakin terdongkraknya daya beli terhadap produk-produk advance tersebut.

Di sisi lain mereka semakin gampang dan terbuka dalam mengakses informasi mengenai produk dari manapun di seluruh dunia. Melalui internet misalnya, mereka begitu gampang mengetahui produk-produk dengan kualitas terbaik di dunia (world’s best). Melalui grup WA, media sosial, forum online, blogger review, atau customer rating mereka begitu mudah memperbandingkan fitur satu produk dengan yang lainnya. Berdasarkan perbandingan itu, dengan mudah mereka menetapkan dan memilih produk dengan value tertinggi. Mereka sangat kritis ketika mengevaluasi produk.

Dalam kondisi konsumen yang semakin value-demanding, tak bisa tidak produsen harus mampu menghasilkan produk dengan nilai tinggi (hyper-value product). Tak heran jika seiring dengan terjadinya revolusi konsumen kelas menengah Indonesia 5 tahun terakhir, produsen berlomba-lomba menciptakan inovasi nilai. Dalam konteks konsumen kelas menengah di Indonesia, inovasi nilai ini memungkinkan produk dan layanan mahal yang sebelumnya tidak terjangkau, kini menjadi lebih terjangkau. Saya menyebutnya fenomena “mass luxury”.

Inovasi Nilai
Beberapa produk berhasil melakukan terobosan value proposition, perubahan model bisnis, bahkan perombakan aturan main industri yang telah mapan bertahun-tahun sebelumnya melalui konsep inovasi nilai ini. Sebut saja IKEA. IKEA demikian populer dan langsung masuk ke hati konsumen kelas menengah Jakarta karena hadir dengan terobosan nilai. Model bisnis IKEA yang sudah teruji di seluruh dunia menghasilkan manfaat sangat tinggi (product quality, convenience, simplicity, lifestyle), sekaligus customer’s cost seminim mungkin. Bagaimana IKEA bisa menekan customer’s cost? Ini letak inovasi nilainya. Caranya, IKEA menerapkan konsep gerai sebagai gudang sehingga murah dan praktis. IKEA juga merancang produknya bisa dirakit sendiri oleh konsumen sehingga memangkas biaya pemasangan. Inovasi nilai IKEA memunculkan fenomena mass luxury di industri furnitur kualitas tinggi.

Hotel Amaris menjadi demikian sukses masuk di hati konsumen kelas menengah dengan melakukan inovasi nilai yang menghasilkan value package yang pas. Seiring maraknya kebutuhan kelas menengah akan leisure penghilang stres, Amaris menghasilkan nilai yang sangat tinggi dengan cara memangkas fasilitas-fasilitas yang tak menjadi prioritas bagi segmen yang dibidiknya seperti: fasilitas kolam renang, gym, restoran, kamar yang besar dan mewah, atau breakfast yang mahal. Hasilnya, Amaris bisa mewujudkan nilai yang sangat tinggi bagi konsumennya berupa convenience, kepraktisan, dan tentu harga yang terjangkau. Konsep inovasi nilai seperti Amaris ini juga diakukan pemain seperti AirAsia di bisnis penerbangan. Dengan inovasi nilainya Amaris dan AirAsia memicu fenomena mass luxury di industri hotel dan penerbangan.

7-Eleven merevolusi industri ritel dengan konsep inovasi nilai di segmen remaja ABG (anak baru gedhe). Saya sering mengatakan bahwa 7-Eleven itu kelas menengah banget. Kenapa? Karena knowledgable consumer seperti kelas menengah selalu mencari value tertinggi dari produk-produk yang mereka beli dan secara pas 7-Eleven memenuhinya. Keju cair gratis, minuman branded Rp 9.000 (wow… Starbuck Rp 30.000-an), Hot Dog Rp 18.000, nongkrong bisa seharian, yang lagi kerja colokan listrik dan WiFi tak terbatas, dan yang tak kalah penting identitas anak gaul dan imej global dapat. “Mana ada tempat lain yang kasih keju cair gratis,” begitu kata seorang konsumen mahasiswa yang saya ajak ngobrol. Dengan konsep inovasi nilai ini 7-Eleven menjadi mass luxury dan menghindari persaingan head-to-head dengan Indomaret atau Alfamart karena memberikan value proposition yang berbeda.

Banyak contoh lain inovasi nilai dilakukan pemain untuk merespon konsumen kelas menengah yang value demanding. D’Cost mengusung konsep “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima di bisnis makanan. Google mengeluarkan Android One, ponsel handal dengan harga terjangkau. Pemain seperti Advan memasarkan tablet bagus dengan harga terjangkau. Dan jangan lupa, fenomena Pasar Santa dan street food di Jakarta, maraknya gerai online (OXL, Lazada, Bukalapak, dll), atau menjamurnya agen perjalanan online (Traveloka, Ticket.com, Pegi Pegi, dll), tak lain adalah terobosan-terobosan inovasi nilai yang menghasilkan nilai tinggi bagi konsumen. Semua fenomena inovasi nilai ini massif terjadi lima tahun terakhir seiring terjadinya revolusi konsumen kelas menengah di Indonesia.

June 13, 2015   1 Comment

#KelasInspirasi @ Dapur Inaco

Salah satu core strategy Inaco sebagai market leader produk nata de coco adala mengedukasi konsumen Indonesia untuk mengonsumsi makanan sehat berserat, khususnya nata de coco. Karena itu Inaco meluncurkan program Dapur Inaco sebagai sebuah hub bagi para UKMers yang ingin berbisnis kuliner berbahan dasar nata de coco. Inaco mencoba berkolaborasi dan memfasilitasi UKMers yang ingin mengembangkan produk-produk berbasis nata de coco. Siapa UKMers yang berminat berkolaborasi dengan Inaco? Yuuuk manfaatkan kesempatan emas ini.

Inaco

Yuk datang di #KelasInspirasi Komunitas Memberi (www.memberi.org) ke Dapur Inaco pada:

Waktu: Senin, 15 Juni 2015, pukul 14.00 – selesai
Tempat: Dapur Inaco, Jl. Raya Bekasi Tambun, KM 39,5, Bekasi.
Tema: Berbisnis Kuliner dengan Nata De Coco”
Pembicara: Erijanto, owner Inaco Food

Ayuk temen-temen UKMers khususnya yang bergerak di bidang makanan/minuman, manfaatkan sesi sharing+networking ini. Siapa tahu mendatangkan peluang SEGUDANG!!!

Gratis!!! Terbatas untuk 50 peserta. Daftar via WA: 0856 3415 649

June 12, 2015   No Comments

A Kasoem: Wirausahawan Pejoang

Sabtu (6/6) lalu saya diundang di peluncuran Kasoem Vision Care oleh pak Hatta Kasoem generasi kedua keluarga optik Kasoem. Yang belum tahu, vision care adalah layanan baru pemeliharaan dan perawatan penglihatan yang berbasis solusi komprehensif dan end-to-end mulai dari masa kanank-kanak hingga tua. Terus terang dari acara itu saya baru tahu bahwa perawatan mata haruslah dimulai sedini mungkin sejak balita agar saat dewasa kelak gangguan penglihatan seperti mata minus, plus, juling dan sebagainya bisa diminimalisir. Ini yang tak banyak disadari oleh ibu-ibu bagi putra-putri tercinta.

Dalam sambutannya pak Hatta mengatakan bahwa, kalau dulu generasi pertama Kasoem merupakan perintis optik di Indonesia, maka kini A Kasoem dibawah kepemimpinannya ingin menjadi perintis solusi vision care di Indonesia. “Kalau dulu hanya jualan kaca mata, maka kini kami memberikan sebuah solusi komprehensif perawatan mata, tak hanya kuratif tapi juga prefentif,” ujarnya.

Saya tertarik pada konsep layanan baru yang diusung A Kasoem karena masih blue ocean di Indonesia dan potensi pasarnya sangat besar, namun yang justru mengusik benak saya adalah sosok A. Kasoem sendiri. Beberapa kali ngobrol dengan pak Hatta secara sekilas saya mendengar cerita mengenai sosok nasionalis sang ayah. Namun beberpa waktu lalu saya menemukan sebuah buku tua berjudul “Jiwa Joang Bangsa Indonesia” terbit tahun 1975, yang menguak perjalanan hidup A. Kasoem. Selesai membaca buku itu, saya pun langsung jatuh cinta dan mengagumi sosok ini.

Foto A Kasoem

Anak Singkong Bercita-Cita Besar
Atjoem Kasoem adalah anak singkong lahir di desa Kadungora di Priangan Timur tahun 1918. Ia adalah sosok yang keras hati. Kemauannya besar dan berkeinginan baja untuk menjadi orang besar yang terukir dalam sejarah bangsanya. Ia adalah pelopor yang terjun berjuang di bidang pabrik kaca mata (optik) di Tanah Air. Ia manusia Indonesia pertama yang ahli kaca mata dan mendirikan pabrik optik pertama di Indonesia pada tahun 1974. Cita-citanya besar, menjadikan pabrik optiknya kelak di kemudian hari memproduksi lensa potret, mikroskop, dan lain-lain demi untuk kebesaran nama nusa dan bangsa.

Wakil Presiden kala itu, Mohammad Hatta memanggilnya dan memerlukan keahliannya untuk membantu perjuangan Indonesia. Ia memercayakan kepada Kasoem untuk memelihara, memeriksa dan membikin kaca mata untuk Presiden Soekarno, Hatta, para menteri, jenderal, pembesar, para pemimpin republik, dan rakyat jelata. Di pundak Kasoem lah dibebankan tanggung jawab agar mata para pemimpin Indonesia dan rakyatnya tetap terang benderang di kancah peperangan dengan Belanda itu.

Ada sebuah kejadian yang membuat rasa nasionalisme Kasoem membara dan kemudian mengubah haluan hidupnya. Suatu saat ia berbicara dengan seorang ahli kaca mata Jerman bernama Kurt Schlosser yang menjadi gurunya membuat kaca mata. Tahun 1940 Jerman menyerang negeri Belanda yang kemudian memicu Perang Dunia II. Kebanyakan orang waktu itu berkeyakinan Jerman akan mengalahkan Belanda. Maka Kasoem muda bertanya ke Schlosser, kalau Jerman mengalahkan Belanda bisakah bangsa Jerman membantu perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan.

Di luar dugaan Kasoem, Schlosser menjawab: “Apa gunanya bagi kalian kemerdekaan tanah air itu. Kenyataannya kini perekonomian di seluruh Indonesia dikuasai oleh bangsa asing, baik orang kulit putih, Cina, India, Arab dan lain-lain. Percuma saja kalian merdeka, kalau perekonomiannya tidak dikuasai oleh pribumi. Termenung dan lemas sekujur tubuh Kasoem, karena apa yang diungkapkan sang guru itu benarlah adanya.

Lanjut Schlosser, “jika kamu mau merdeka juga, tuntutlah ilmu kaca mata ini. Perusahaan kaca mata dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Dengan ilmu ini, kamu akan dapat membesarkan nama bangsamu. Kamulah kelak yang akan menjadi raja kaca mata satu-satunya di Indonesia. Tetapi, dengan hanya menguasai ilmu kaca mata saja belum cukup untuk menjadi orang terhormat. Kamu harus melatih dirimu ahli dan cakap pula menjualnya ke masyarakat luas. Ilmu dagang tidak ada di sekolah. Kecakapan ini akan tumbuh berkat pengalaman, dan didorong oleh kemauan yang keras untuk mengubah nasib. Ilmu dan pengalaman ini akan dapat kamu turunkan kelak kepada anak cucumu”.

Pejoang
Ocehan Schlosser membuat dada Kasoem membara. Sisa hidupnya kemudian dihabiskan untuk menekuni kaca mata dan bertekad membangun toko dan pabrik kaca mata agar bangsanya memiliki kemandirian di bidang industri kaca mata tidak tergantung kepada bangsa lain. Berkat ketekunan, keuletan, kesungguhan dan kerajinannya, dalam waktu singkat ia menguasai ilmu membikin kaca mata. Ia melatih dirinya berjualan kaca mata dengan berjalan kaki, menjinjing tas berisi kaca mata keluar masuk rumah orang. Dengan tekun dan ulet ia memperluas daerah operasi berjualan dengan berkeliling naik sepeda. Uang keuntungannya selalu disimpannya untuk membesarkan usaha. Dan akhirnya ia berhasil membuka toko di Jl. Pungkur 97, Bandung.

Kasoem mengenal dekat Ki Hadjar Dewantara saat ia sekolah di Perguruan Taman Siswa. Maka pergilah ia mengunjunginya di Jakarta dan diungkapkan keinginannya membuka toko di jalan prestisius kota Bandung, Jl. Braga. Harap diketahui, pada masa itu, hanya orang asing yang mampu membuka toko di Jl. Braga. Melalui perjuangan tak kenal lelah, akhirnya pada bulan Mei 1943 ia berhasil membuka toko kaca mata di Jalan Braga. Kasoem lah salah satu pelopor bangsa Indonesia dari suku Sunda yang bertoko di kawasan pertokoan Braga.

Ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, ia ikut berjuang menurut keahlian dan kecakapannya. Ia ikut dalam Palang Merah Indonesia, mencari dan mengumpulkan senjata, lalu diberikannya kepada para pemuda pejuang. Kasoem kemudian mengungsi ke daerah Tasikmalaya. Dasar wirausaha, dalam kecamuk perang di daerah Tasik ini, ia membuka toko kaca mata. Awal tahun 1946 ia diminta oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta membuka praktek di Yogya yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Di situ ia membuka toko kaca mata dan mendirikan pabrik penggosok lenca di daerah Klaten.

Kemandirian Ekonomi
Setelah Indonesia merdeka, usaha Kasoem berkembang pesat. Ia membuka toko kaca mata di berbagai kota seperti Jakarta, Tasikmalaya, Yogyakarta, Cirebon. Selama ini bahan-bahan kaca mata seperti frame dan lensa dipesan dari luar negeri. Tetapi Kasoem bercita-cita membuat seluruhnya di dalam negeri. Untuk itulah kemudian ia berangkat menuntut ilmu ke Jerman tahun 1960. Ia magang di pabrik optik milik Dr. Hermann Gebest bekerja nonstop 14 jam sehari. Pulang ke Indonesia, Kasoem pun mewujudkan cita-citanya membangun pabrik optik di desanya Kadungora Leles pada tahun 1969. Para ahli pabriknya didatangkan dari Jerman, dan gurunya sendiri Dr. Hermann dijadikannya sebagai penasehat. Tahun 1974, pabrik Kasoem diresmikan oleh wakil presiden kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Setahun kemudian Kasoem diterima menjadi anggota ilmu pengetahuan optik Jerman Barat dengan nomor anggota 176. Dialah orang Asia pertama yang menjadi anggota asosiasi profesi bergengsi tersebut.

Setelah pabriknya beroperasi, mengalir tawaran dari luar negeri untuk bekerjasama di bidang produksi optik. Namun Kasoem menolak mentah-mentah. Cita-citanya untuk menjadikan Indonesia mandiri secara ekonomi dan industri masih sekeras baja. Kasoem berkeinginan, bahwa pabriknya ia pimpin sendiri dengan modalnya sendiri pula. Bagi Kasoem, biarlah pabriknya kecil saja, tetapi milik sendiri. Apalah gunanya pabrik besar dan pangkat mentereng sebagai direktur kalau pabrik itu dikendalikan oleh bangsa asing, ia sebatas menjadi boneka.

Sosok A. Kasoem hebat karena ia berjuang demi kejayaan Merah Putih bukan dengan senjata bedil dan meriam, tapi senjata kewirausahaan. Karena ia meyakini bahwa kewirausahaan lah yang akan membawa Indonesia menjadi negara besar dan mandiri secara ekonomi kelak. Visionernya tokoh ini, hal itu sudah disadarinya saat bangsa ini masih jabang bayi. Tak heran jika sepang-terjangnya tetap fresh dan relevan saat ini, 70 tahun kemudian.

Selama menulis kolom ini dada saya membara. Merah Putih serasa melambai-lambai perkasa di relung hati saya. Dan sekonyong-konyong nurani saya bergumam: “Setiap wirausahawan kita haruslah memiliki hati dan jiwa pejuang Kasoem.”

 

Sumber tulisan: Buku Jiwa Joang Bangsa Indonesia oleh Thalib Ibrahim (Mahabudi, 1975) dan “Kisah A. Kasoem” oleh Santi J.N. (2014).

June 6, 2015   2 Comments

My Brand New Book: “8 Wajah Kelas Menengah”

Alhamdulillah, buku baru saya terbit lagi. Buku berjudul: 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia Pustaka Utama, 2015) ditulis bersama Kemal E. Gani (Pemimpin Umum Majalah SWA) dan tim riset dari majalah SWA dan Inventure. Buku ini rencananya diluncurkan pada gelaran Indonesia Middle Class Forum (MCF) 2015 bertema “Value Innovator” pada tanggal 11 Juni 2015, di Hotel Intercontinental, Jakarta.

Cover 8 Wajah Kelas Menengah - Final

Sesuai judulnya, buku ini membahas 8 sosok konsumen kelas menengah Indonesia yaitu: Expert, Climber, Aspirator, Performer, Trendsetter, Follower, Settler, dan Flow-er. Buku dengan 11 bab ini membahas nilai-nilai dan perilaku dari 8 sosok konsumen kelas menengah berdasarkan survei yang dilakukan Middle Class Institute (MCI) di 9 kota utama Indonesia. Buku ini merupakan buku wajib bagi setiap pemasar dan pebisnis yang ingin menarget pasar paling besar dan paling profitable di Indonesia saat ini yaitu pasar kelas menengah.

Bukunya baru tersedia di toko buku Gramedia sekitar awal bulan Juli, namun sudah bisa dipesan sejak 11 Juni ke: Nurkamalia (@Liamakinuddin): 0857 8078 9897

June 2, 2015   1 Comment

Value Innovator

Saya melihat konsumen kelas menengah Indonesia (saya sebut “Consumer 3000”) memiliki tiga karakteristik penting. Pertama, mereka memiliki daya beli lumayan tinggi (high resources). Kedua, mereka pintar (more knowledgeable) dan berwawasan luas karena begitu mudahnya mengakses informasi. Dan ketiga, secara sosial mereka terhubung satu sama lain (socially-connected). Dari tiga ciri tersebut, aspek knowledgeability memiliki pengaruh paling istimewa dan secara mendasar mengubah perilaku belanja dan konsumsi mereka.

Seiring meningkatnya pendidikan, pengetahuan, dan wawasan, mereka menjadi semakin value-demanding alias kian menuntut value setinggi langit. Artinya mereka semakin meminta manfaat (benefit) setinggi mungkin, dan harga (customer’s cost) serendah mungkin. Gampangnya, mereka minta barang dengan kualitas setinggi mungkin, dengan harga semurah mungkin. Itu sebabnya saya sebut konsumen kelas menengah sebagai hyper-smart customer.

Value Demanding
Pertanyaannya, kenapa mereka demikian value demanding? Ya, ketika mereka kian knowledgeable, maka kebutuhan mereka merangkak semakin canggih (sophisticated) dari kebutuhan dasar (sandang-pangan-papan) ke kebutuhan yang lebih tinggi seperti hiburan, kepemilikan gadget, kesehatan/kebugaran, kenyamanan (convenience), hingga aktualisasi diri. Ekspektasi mereka pun terkerek naik dengan terjadinya sofitifikasi kebutuhan tersebut. Dan kebutuhan akan barang berkualitas (high-quality product) dan merek-merek global (global brand) semakin tinggi.

Di sisi lain mereka semakin gampang dan terbuka dalam mengakses informasi mengenai produk dari manapun di seluruh dunia. Melalui internet misalnya, mereka begitu gampang mengetahui produk-produk dengan kualitas terbaik di dunia (world’s best). Melalui grup WA, media sosial, forum online, blogger review, atau customer rating mereka begitu mudah memperbandingkan fitur satu produk dengan yang lainnya. Berdasarkan perbandingan itu, dengan mudah mereka menetapkan dan memilih produk dengan value tertinggi. Mereka sangat kritis ketika mengevaluasi produk.

Dalam kondisi konsumen yang semakin value-demanding, tak bisa tidak produsen harus mampu menghasilkan produk dengan nilai tinggi (hyper-value product). Tak heran jika seiring dengan terjadinya revolusi konsumen kelas menengah Indonesia 5 tahun terakhir, produsen berlomba-lomba menciptakan inovasi nilai (value innovation). Inovasi nilai terjadi jika produsen mampu menciptakan manfaat produk setinggi mungkin dan secara bersamaan memangkas biaya konsumen serendah mungkin. Dalam konteks konsumen kelas menengah di Indonesia, inovasi nilai ini memungkinkan produk dan layanan mahal yang sebelumnya tidak terjangkau, kini menjadi lebih terjangkau. Saya menyebutnya fenomena “mass luxury”.

Value Innovators
IKEA demikian populer dan langsung masuk ke hati konsumen kelas menengah Jakarta karena hadir dengan terobosan nilai. Model bisnis IKEA yang sudah teruji di seluruh dunia menghasilkan manfaat sangat tinggi (product quality, convenience, simplicity, lifestyle), sekaligus customer’s cost seminim mungkin. Bagaimana IKEA bisa menekan customer’s cost? Ini letak inovasi nilainya. Caranya, IKEA menerapkan konsep gerai sebagai gudang sehingga murah dan praktis. IKEA juga merancang produknya bisa dirakit sendiri oleh konsumen sehingga memangkas biaya pemasangan.

Amaris menjadi demikian sukses masuk di hati konsumen kelas menengah dengan melakukan inovasi nilai dengan cara memangkas fasilitas-fasilitas yang tak menjadi prioritas bagi segmen yang dibidiknya seperti: fasilitas kolam renang, gym, restoran, kamar yang besar dan mewah, atau breakfast yang mahal. Hal yang sama dilakukan AirAsia di bisnis penerbangan. 7-Eleven merevolusi industri ritel dengan konsep inovasi nilai di segmen remaja ABG (anak baru gedhe). Nilai tinggi 7-Eleven terwujud melalui makanan-minuman branded dengan harga terjangkau, colokan listrik dan Wifi tak terbatas, dan tentu tempat nongkrong yang cool. Dengan inovasi nilainya IKEA (furnitur), Amaris (hotel), AirAsia (penerbangan), 7-Eleven (ritel), D’Cost (restoran), Android One (ponsel), Advan (tablet) memicu fenomena mass luxury di industri mereka masing-masing.

Dan jangan lupa, fenomena Pasar Santa dan street food di Jakarta, maraknya gerai online (OXL, Lazada, Bukalapak, dll), atau menjamurnya agen perjalanan online (Traveloka, Ticket.com, Pegi Pegi, dll), tak lain adalah terobosan-terobosan inovasi nilai yang menghasilkan nilai tinggi bagi konsumen. Semua fenomena inovasi nilai ini massif terjadi lima tahun terakhir seiring terjadinya revolusi konsumen kelas menengah di Indonesia.

Karena hebatnya tren inovasi nilai di tengah revolusi konsumen kelas menengah ini, kantor saya Inventure bersama majalah SWA berencana mengusung tema ini dalam sebuah conference besar Middle Class Forum (MCF) 2015, 11 Juni nanti di Jakarta. Ada sekitar 15 value innovators hadir untuk sharing strategi dan pengalaman mereka berolah inovasi nilai untuk memenangkan pasar kelas menengah Indonesia. Mari belajar dari mereka.

May 31, 2015   No Comments

Pendaftaran Kelas #UKMGoGlobal

Teman-teman para UKMers, Komunitas Memberi membuka pendaftaran untuk mengikuti kelas #UKMGoGLobal angkatan 2. Program reguler Komunitas Memberi ini bertujuan untuk memberikan fondasi bagi para pebisnis kecil/menengah (UKM) untuk menjadi UKM kelas dunia. Program menggunakan pendekatan peserta aktif (participant-centered learning) dengan pengajar para profesional berpengalaman di bidang masing-masing selama belasan tahun. Program berlangsung selama sekitar 4 bulan (dilaksanakan 2 minggu sekali di Jakarta) untuk menyelesaikan 8 modul pelatihan.

Modul 1: Professional Operation Management
Modul 2: Effective Human Resource Management
Modul 3: Simple Finance & Accounting
Modul 4: Product & Pricing
Modul 5: Basic Branding & Communications
Modul 6: Effective Sales & Distribution Management
Modul 7: Simple Marketing Plan
Modul 8: Leadership for SME Business Owner

Peserta program ini tidak dipungut biaya tapi disaring melalui seleksi yang ketat oleh sebuah panel seleksi untuk memilih sekitar 20 orang yang memenuhi syarat. Calon peserta wajib mempresentasikan usahanya di depan panel seleksi. Persyaratan umum untuk mengikuti program ini adalah sebagai berikut:

1. Memiliki usaha yang telah beroperasi minimal 3 tahun.
2. Memiliki usaha dengan omset Rp. 300 juta – 2,5 miliar setahun.
3. Diprioritaskan bagi peserta yang usahanya telah memiliki badan hukum.

Teman-teman UKMers yang memenuhi syarat di atas silahkan mendaftar. Caranya, kirimkan CV dan dokumen profil usaha Anda ke: kelas@memberi.org. Cepetan ya, karena pendaftaran ditutup pada tanggal 13 Juni 2015. Informasi lengkap mengenai program ini bisa dilihat di www.memberi.org.

 

May 24, 2015   1 Comment

Deklarasi Kebangkitan Merek

Yang istimewa dari gelaran Indonesia Brand Forum, Rabu (20/5) lalu adalah Deklarasi Kebangkitan Merek Indonesia. Dalam deklarasi tersebut seluruh peserta IBF ikutan menandatangani komitmen untuk mendorong merek Indonesia agar memiliki daya saing kokoh dan perkasa di pentas dunia. Maunya, dengan deklarasi ini bangsa ini diingatkan mengenai pentingnya kita semua membangun merek sebagai alat perjuangan bangsa untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Dalam konferensi pers yang dihadiri puluhan wartawan, saya mengajak para “pendekar merek” Indonesia untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana membangun merek nasional. Mereka adalah Pak Irwan Hidayat dari Sido Muncul, Pak Mohammad Nadjikh dari Kelola Mina Laut, Pak Bryan Tilaar dari Martha Tilaar, dan Pak Amat Pria Dharma dari Semen Indonesia. Dalam kesempatan kolom kali ini saya ingin berbagi dengan para pembaca mengenai isi deklarasi Kebangkitan Merek Indonesia yang saya sampaikan dalam press conference tersebut. Kenapa? Karena butir-butir deklarasi tersebut berisi keresahaan kami para insan merek Indonesia mengenai perkembangan merek di negeri ini. Berikut ini lima butir deklarasi tersebut.

Deklarasi IBF 2

#1. Negara Hadir
Negara harus hadir mengembangkan merek-merek nasional di tengah dominasi merek-merek asing yang menguasai urat nadi perekonomian bangsa Indonesia. Merek-merek global memiliki sumber daya (resources) berupa modal, teknologi, manajemen, dan SDM yang tak bakal tertandingi oleh merek lokal manapun di negeri ini. Persaingan antara merek global dengan merek lokal di arena pasar MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) dan pasar global adalah pertandingan petinju kelas berat melawan petinju kelas bulu. Pertandingan yang tidak berimbang di tengah jargon MEA dan pasar global ini menuntut campur tangan dan peran aktif negara untuk membangun merek nasional seperti yang dilakukan Jepang, Korea, Singapura, dan Malaysia. Sekali lagi negara harus hadir.

#2. Nasionalisme Konsumen
Sudah saatnya kita bangsa Indonesia membangun dan mengembangkan nasionalisme konsumen dengan kepercayaan diri tinggi untuk membeli, menggunakan, dan mengonsumsi merek-merek Indonesia. Apabila 250 juta rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke menggunakan merek-merek lokal maka kita semua memberikan “kesempatan emas” kepada perusahaan-perusahaan dan merek-merek ciptaan anak negeri untuk mengembangkan diri menjadi merek yang kokoh tak hanya di pasar dalam negeri tapi juga di kancah global. Kita harus mencontoh rakyat Korea Selatan yang rakyatnya memberikan “kesempatan emas” bagi merek-merek hebat seperti Samsung atau Hyundai untuk mengembangkan diri menjadi merek global dengan cara membeli dan memakainya. Mental inlander harus kita enyahkan dari bumi Indonesia dengan menciptakan kebanggaan memakai merek Indonesia.

#3. Bukan “Bangsa Komoditas”
Bangsa Indonesia khususnya pelaku bisnis dan wirausahawan (entrepreneur) harus berjuang keras dalam menciptakan nilai tambah (value-added) kepada komoditas-komoditas yang menjadi andalan Indonesia sejak beratus tahun lalu seperti kopi, teh, kelapa sawit, coklat, karet, kekayaan laut, kekayaan kuliner Nusantara, buah-buahan, dan sayur-sayuran melaluia proses membangun merek (brand building) sehingga memiliki nilai tinggi di pasar internasional. Kita bangsa Indonesia tak boleh puas hanya menjadi “bangsa komoditas” yang cuma bisa menjual bahan mentah bernilai tambah rendah seperti karet, kelapa sawit, dan minyak mentah, tapi menjadi “bangsa merek” yang piawai menciptakan merek-merek berdaya saing global sekelas Apple atau Toyota.

#4. Indonesia Inc.
Indonesia harus mengembangkan pendekatan Indonesia Inc. dalam membangun merek-merek kokoh di pentas dunia dengan menyatukan dan mengkolaborasikan seluruh potensi kekuatan nasional baik pemerintah, swasta, dan masyarakat. Di tahun 1960-an Jepang memiliki Sogo Sosha yang membangun sinergi dan kolaborasi antar pemerintah dan swasta dalam menembus pasar internasional. Di Korea kita mengenal konsep Chaebol dengan konsep yang hampir sama. Kini dalam format yang lain Singapura dan Malaysia mengembangkan Temasek dan Khazanah yang memiliki otot perkasa di pasar internasional karena adanya sinergi dan penyatuan sumber daya pemerintah dan swasta. Kini saatnya bangsa Indonesia menghimpun kekuatan BUMN dan swasta nasional yang di dukung oleh pemerintah untuk masuk ke pasar-pasar di luar negeri. Kedutaan dan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri harus menjadi marketer yang siap mendukung ekspansi merek-merek Indonesia di pentas dunia.

#5. Kemerdekaan Merek
Bangsa Indonesia harus berjuang mewujudkan kemerdakaan merek Indonesia dengan menempatkan merek-merek lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Dominasi merek-merek global harus dilawan dengan membangun daya saing merek-merek lokal sehingga sejajar bahkan melebihi kekuatan merek global. Membangun daya saing merek lokal bukanlah berarti memusuhi perusahaan dan merek global, tapi secara cerdas bersinergi dan berkolaborasi dengan mereka karena merekalah yang memiliki modal, teknologi, manajemen, dan SDM berkelas dunia. Dengan memanfaatkan kekuatan pasar dalam negeri yang sangat besar, merek-merek lokal harus berkolaborasi dan bersinergi secara sejajar dengan perusahaan-perusahaan global yang beroperasi di Indonesia sehingga merek-merek lokal bisa mengambil manfaat terbaik demi kejayaan bangsa dan merah putih.

Melalui deklarasi tersebut, kami para insan merek ingin mengingatkan bangsa ini untuk berjuang mengambil peluang emas untuk menjadi negara besar di dunia dengan cara membangun merek yang kokoh di pentas dunia. Melalui deklarasi tersebut kami ingin mengngatkan bahwa Hari Kebangkitan Nasional adalah juga Hari Kebangkitan Merek Indonesia.

*Foto: Sidomuncul.com

May 23, 2015   No Comments