E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

The Dark Side of the Gen Z

Beberapa hari lalu (20/9) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan akun Awkarin (Karin Novilda) dan Anya Geraldine dan beberapa akun lain di media sosial kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pasalnya akun-akun tersebut dinilai meresahkan banyak orang tua karena gambaran gaya hidup yang di-posting di akun Instagram mereka dikhawatirkan bisa menjadi contoh tak baik bagi remaja seusianya.

Dua remaja putri tersebut memicu viral di media sosial karena postingan foto-foto mereka yang seksi dan berani. Beberapa postingan mereka juga memaparkan pola berpacaran yang tidak sehat dan gaya hidup yang hedonik yang membuat banyak orang tua khawatir. Dua remaja putri tersebut kini menjadi selebgram dengan followers mencapai jutaan orang. Dan celakanya, apa yang telah mereka lakukan itu bisa jadi menjadi semacam “success story” sosok netizen yang mendapatkan kepopuleran di media sosial dalam waktu super singkat.

family-big-disconnection-2

Fully Digital Native
Cerita Awkarin-Anya adalah contoh sisi kelam dari generasi baru yang bakal kita songsong yaitu Generasi Z (sering disebut Gen Z). Generasi ini lahir setelah pertengahan tahun 1990-an dan merupakan generasi yang sejak kecil sudah sepenuhnya menggunakan internet. Istilah kerennya, fully digital native. “Generation Z has never lived in the world without the internet and on average they use five screens a day,” ungkap sebuah riset. Tak heran jika sebagian besar waktu mereka dihabiskan secara online ketimbang berinteraksi dengan sesama teman secara fisik.

Untuk pertama kali dalam sejarah, inilah generasi dimana orang tua tidak punya kendali penuh terhadap anak-anak mereka. Ya karena sejak usia dini (12, 11, bahkan di bawah 10 tahun) mereka sudah diberi smartphone oleh orang tua, dan melalui smartphone tersebut mereka bisa begitu bebas berselancar di internet untuk mendapatkan informasi, mencari teman, dan menemukan apapun yang diinginkannya.

Begitu si anak masuk ke jagad internet, maka lepaslah kendali si orang tua terhadap anak. Tak heran jika kekhawatiran terbesar orang tua Gen Z adalah ketika anak mereka menyendiri di kamar dan memainkan smartphone mereka. Karena di situlah berbagai kemungkinan mereka berinteraksi dengan “evil of the world” di jagat internet (mulai dari gaya hidup Hollywood, online bullying, gambar-gambar porno, hingga predator pedofili) bisa terjadi.

Ketika orang tua tak punya kendali sepenuhnya, maka pengasuhan anak (parenting) akan diambil alih oleh “orang tua lain” yaitu Google, Facebook, Instagram, blog, dan jutaan situs di jagat internet. “In the digital age, internet becomes their co-parent.”

Internet as a Co-Parent
Kok bisa internet menjadi orang tua lain? Bisa. Tentu kita sepakat, tugas terbesar orang tua adalah menanamkan nilai-nilai, sikap, perilaku, dan karakter mulia kepada anak. Dengan bekal karakter mulia itu si anak akan bisa selamat dan sukses menjalani hidup bahkan ketika si orang tua tak ada lagi. Nah, tugas krusial ini pun bisa dimainkan dengan sangat efektif oleh internet, apalagi kalau sebagian besar waktu Gen Z dihabiskan di internet.

Pergaulan mereka dengan teman-teman di Facebook atau Instagram, interaksi mereka dengan sang idola di bagian lain dunia (Justin Bieber, Rihana, Miley Cyrus, dsb.), atau segudang informasi gaya hidup Barat yang mereka dapatkan di internet, semuanya bisa membentuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku mereka. Bagi mereka internet menjadi medium yang sangat kaya untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan berpetualang dalam rangka menemukan jati diri mereka.

Dalam kasus Anya di atas misalnya, salah satu konten menghebohkan yang ia posting di Instagram adalah video saat ia liburan dengan sang pacar dengan pola pacaran yang tak beda jauh dengan gaya pacaran selebriti-selebriti top Hollywood. Melihat kemiripannya, bisa jadi ide video itu diinspirasi oleh acara reality show semacam Keeping Up with the Kardasians (Kim Kardasian) atau Simple Life (Paris Hilton) di Hollywood. Begitu mudahnya gaya hidup tak patut di dalam acara reality show itu dikopi dan dijadikan role model.

Ingat, salah satu karakteristik utama Gen Z adalah bahwa mereka adalah self-learner yang sangat mumpuni. Dengan cepat mereka meniru dan menginternalisasi apapun yang mereka dapatkan di internet hingga kemudian membentuk nilai-nilai dari perilaku mereka.

Big Disconnection
Dalam bukunya, The Big Disconnect: Protecting Childhood and Family Relationship in the Digital Age (2013), Catherine Steiner-Adair mewanti-wanti terjadinya “tragedi keluarga” terbesar abad ini, yaitu apa yang ia sebut “big disconnection”. Tragedi ini sudah riil kita temukan di ruang-ruang keluarga kita. Coba saja lihat suasana di ruang makan atau ruang tamu di banyak keluarga kita. Pada hari Sabtu atau Minggu di situ berkumpul seluruh anggota keluarga; ayah, ibu, dan dua anak. Sekilas suasananya begitu akrab mencerminkan sebuah keluarga yang harmonis dan ideal.

Namun kalau kita telisik lebih dalam, baru kita temukan ketidakberesan di situ. Ya, karena masing-masing bapak, ibu, dan anak itu memegang smartphone dan mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Mereka asyik dengan “screen time” mereka masing-masing dan tak peduli satu sama lain. Tak jarang mereka senyum-senyum sendiri sambil mata tak bisa lepas dari screen. Inilah potret dari keluarga-keluarga kita. Sebuah potret yang kelam.

Mereka highly-connected dengan jagat internet, tapi celakanya highly-disconnected dengan sesama anggota keluarga. Inilah yang oleh Steiner-Adair disebut big disconnection, tragedi keluarga terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Dan barangkali disconnection inilah yang memunculkan fenomena seperti kasus Awkarin-Anya di atas.

Sadarkah kita bahwa tragedi dan bencana besar big disconnection itu sudah terjadi? Kasus Awkarin-Anya harusnya menjadi wake-up call bagi kita setiap orang tua. Ia harus menjadi peringatan mengenai bencana lebih besar yang bakal terjadi di jaman digital ini. Setiap orang tua harus lebih kritis dalam menyikapi screen time dan aktivitas online putra-putrinya.

Saya adalah juga orang tua dari dua anak 10 dan 11 tahun. Terus terang kini saya takut, kasus ini hanyalah puncak kecil dari gunung es raksasa di laut kutub utara. Barangkali kasus yang sama dalam skala yang ribuan kali lebih besar bakal kita hadapi tiga tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depan.

 

Sumber foto: Getty Image

September 24, 2016   2 Comments

Remote Influence

Salah satu seni dalam memimpin adalah melalui kemampuan memotivasi pegawai. Ketika seorang pemimpin mampu memengaruhi anak buahnya untuk melakukan arahannya, maka tanpa harus diawasi terus-menerus dan tanpa harus bertemu, pegawai tersebut akan selalu bekerja sebaik-baiknya. Mereka akan selalu merasa diawasi meskipun tidak bertemu atasannya sehingga akan menghasilkan kinerja terbaik. Inilah yang disebut: remote influence.

Selama 20 tahun menekuni bidang bisnis dan marketing, guru paling hebat bagi saya adalah para CEO perusahaan yang menjadi klien saya. Banyak dari mereka yang begitu senang memberi saya “kelas MBA privat” yang barangkali tidak mungkin didapatkan di sekolah MBA manapun.

Kali ini saya mendapatkan leadership wisdom mengenai remote influence dari Pak Zulkifli Zaini, Dirut Mandiri 2010-2013. Ya, karena kini saya sedang meriset dan menulis buku mengenai kepemimpinan bisnis Pak Zul sehingga saya berkesempatan mendapatkan “kuliah-kuliah” yang luar biasa mengenai kepemimpinannya.

leadership-penguin

The Power of Influence
Pak Zul menggunakan analogi remote televisi untuk menjelaskan remote influence secara gampang. Meskipun ada jarak antara kita dan televisi namun kita tetap bisa mengontrol apa saja channel acara yang ingin ditonton. Walaupun ada jarak dan tak selalu bertemu anak buah, dengan adanya remote influence si pemimpin tetap bisa memonitor dan mengontrol mereka. Sebaliknya para anak buah juga merasa dimonitor dan dikontrol oleh si pemimpin.

Seorang pimpinan cabang di Papua atau di Pulau Timor misalnya, akan merasa bahwa CEO di kantor pusat memonitornya dan tahu bahwa ia akan muncul jika si pimpinan cabang tak melakukan pekerjaan dengan baik. Padahal si CEO tak ada di sana dan mereka terpisah jarak ribuan kilometer. Inilah hebatnya remote influence.

Dengan adanya remote influence kita tidak perlu memegang terus buntut bawahan tapi mereka tetap punya urgensi dan tanggung jawab untuk menciptakan kinerja terbaik. Inilah seharusnya keahlian terpenting dari seorang pemimpin. Ia tak bisa selalu dekat secara fisik dengan anak buahnya, namun ia harus bisa dekat secara pengaruh.

Seorang pemimpin harus bisa memengaruhi pegawai meskipun dia tidak selalu bertemu dengannya. Ketika si pemimpin tak hadir, pegawai tetap bekerja dengan semangat membara. Ia bekerja bukan karena terus-menerus ditelepon atasan. Ia tetap bekerja sangat keras walaupun atasannya sedang tidak di tempat.

Leadership is about influencing others. Pemimpin bekerja melalui orang lain lewat pengaruhnya. Dengan pengaruh itu orang lain bekerja sungguh-sungguh, walaupun ia tidak ada di situ.

“Karena itu saat memimpin, saya selalu berupaya memastikan the power of influence ini bekerja,” ujar Pak Zul. Dan bagi Pak Zul, ukuran sukses kepemimpinannya ditentukan oleh bekerja atau tidaknya the power of influence ini.

Leadership Means Motivating
Oleh sebab itu, tugas pemimpin tak lain adalah merancang sebuah sistem kepemimpinan yang mampu memotivasi karyawan. Saat karyawan termotivasi, maka mereka akan mempersembahkan kinerja terbaik walaupun si pemimpin tidak ada di sekitarnya.

Kalau seorang pemimpin tidak mampu memengaruhi dan memotivasi karyawannya, maka dia akan kelelahan karena harus terus-menerus berada di dekat mereka, mengawasi, dan memberi arahan. Apalagi saat karyawan yang harus kita pimpin sudah mencapai jumlah ribuan bahkan puluhan ribu, maka tidak mungkin kita mengawasi mereka satu-persatu selama 7 hari 24 jam.

Oleh karena itu, kemampuan memotivasi adalah bagian yang paling penting sekaligus paling sulit. Inilah kunci dari seni memimpin. Kalau seseorang masih belum sampai pada level memotivasi, maka dia masih sebatas seorang manajer yang hanya cakap dalam melakukan planning, organizing, dan controlling.

Kemampuan paling unik dari seorang pemimpin adalah memotivasi pegawai sehingga mereka berdaya (empowered) dan mandiri dalam menjalankan tugas dan misi organisasi tanpa bantuan si pemimpin. Ingat, indikator kesuksesan seorang pemimpin adalah jika orang-orang yang dipimpinnya berdaya dan mandiri. Kesuksesan paripurna seorang pemimpin adalah jika ia mampu menjadikan pegawai tak lagi tergantung kepadanya.

Ketika seorang pemimpin mampu menjalankan remote influence dengan baik maka proses kepemimpinannya akan sangat efektif karena ia bisa mengarahkan dan mengontrol anak buahnya walaupun ia tidak hadir. Pegawai akan tetap alert, karena merasa terus diawasi dan dikontrol untuk mencapai kinerja terbaik.

Ingat, seorang pemimpin bisa menghasilkan kinerja yang luar biasa berkat the power of influence yang ia kembangkan.

 

Sumber gambar: www.omniagroup.com

September 23, 2016   No Comments

Core Economy-nya Jokowi

Ada yang menarik dari pernyataan Presiden Jokowi di Sidang Kabinet Paripurna Jumat (9/9) lalu setelah mengikuti KTT G-20 di Tionkok dan Asean Summit di Laos. “Betapa kompetisi antar negara sangat sengit. Betapa nanti pertarungan antar negara dalam hal perebutan kue ekonomi, baik berupa investasi, baik berupa arus uang masuk, arus modal masuk itu, sangat sengit, sangat sengit sekali,” ujar Presiden.

Ia lalu menekankan bahwa semua pihak harus menentukan dan fokus apa yang akan menjadi core economy dan core business negara. Dengan fokus itulah, Jokowi meyakini pemerintah akan bisa membangun positioning, differentiation, dan brand negara. “Sehingga mudah kita. Lebih mudah kita menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa harus kita kejar-kejaran apalagi kalah bersaing dengan negara lain.”

borobudur-2

Competitive Strategy
Pernyataan Jokowi menarik, karena inilah untuk pertama kali presiden di republik ini secara gamblang menggunakan pendekatan strategi bersaing (competitive strategy) dalam mengembangkan ekonomi bangsa di kancah global. Dalam artikelnya di Harvard Business Review (1996) berjudul “What Is Strategy?” Prof. Porter, pencipta konsep tersebut, menyimpulkan bahwa esensinya strategi adalah positioning dan differentiaion: “Strategy is the creation of a unique and valuable position, involving a different set of activities,” ujarnya.

Seperti diungkapkan presiden, persaingan antar negara dalam memperebutkan investasi asing demikian ketat, karena itu Indonesia harus mengembangkan strategi bersaing yang solid dengan merumuskan positioning, differentiation, dan brand yang solid. Apa maksudnya ini? Kata kuncinya adalah positioning, differentiation, dan branding.

Pertama, Indonesia harus secara tepat memosisikan dirinya di pasar global dimana posisi ini harus berfokus pada sektor/industri yang menjadi keunggulannya. Positioning is about portfolio strategy. Artinya Indonesia harus fokus memilih sektor-sektor atau industri-industri unggulan mana yang harus dikembangkan dan memiliki daya saing tinggi di pasar global. Di sektor/industri itulah kita membangun daya saing negara (competitive advantage of nation). Amerika fokus mengembangkan teknologi informasi; Jepang fokus di otomotif; Singapura dan Hong Kong fokus di sektor jasa karena perannya sebagai hub of Asia. Lalu Indonesia apa?

Kedua, sektor dan industri unggulan itu harus memiliki uniqeness (diferensiasi) yang tidak dimiliki oleh negara lain. Persis seperti kata Porter, “strategy is about being different”. Hanya dengan diferensiasi tersebut kita bisa memenangkan persaingan di pasar global. Ekonomi kita saat ini rawan karena ditopang oleh sektor komoditi (migas dan non-migas) yang tak memiliki diferensiasi sehingga harganya terus merosot dan diombang-ambingkan di pasar. Ketika kita memiliki diferensiasi maka kita menjadi price maker. Starbucks yang memiliki diferensiasi kokoh misalnya, harganya tak pernah dipengaruhi oleh naik-turunnya harga komoditas kopi. Starbucks tetap menjadi price maker yang mengendalikan pasar.

Ketiga, setelah kita memilih sektor/industri unggulan (positioning) dan membangun uniqueness (differentiation) di masing-masing sektor/industri tersebut, maka kemudian kita harus mengomunikasikannya ke target market yang kita tuju. Itulah yang disebut branding. Beberapa negara sukses melakukan country branding. Contohnya Swiss. Begitu mendengar kata Swiss apa yang ada di benak kita? Jam. Ya, karena jam-jam hebat di bikin di Swiss. Perancis dikenal dengan produk wine-nya. Jerman dikenal dengan mobil kelas atas kerena memiliki Mercedes dan BMW. Atau Amerika dengan Sillicon Valley-nya dikenal dengan produk-produk berteknologi tinggi. Sekali lagi, Indonesia apa?

Pariwisata: The Rising Star
Berbicara positioning atau sektor/industri yang harus dikembangkan, apa kira-kira sektor/industri yang bisa menjadi competitive advantage of nation bagi Indonesia? Dari banyak sektor/industri yang ada, pariwisata adalah salah satu pilihan terbaik. Ya, karena negeri ini begitu indah dengan kekayaan destinasi wisata alam dan budaya yang begitu mengagumkan. Itulah diferensiasi Indonesia yang sulit dipatahkan oleh negara lain manapun.

Ada dua pertimbangan mengapa sektor pariwisata menjadi kandidat terbaik untuk menjadi sektor unggulan bangsa ini.

Pertama dari sisi pertumbuhan, sektor ini tumbuh luar biasa selama lima tahun terakhir. Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% pertahun selama 5 tahun terakhir). Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, maka bisa jadi 3 tahun ke depan sektor migas akan tersalib oleh pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. Dengan kekayaan alam dan budaya, potensi pariwisata kita bisa dibilang tak ada batasnya, tinggal bagaimana kita mampu mengolah dan mengembangkannya.

Kedua dari sisi pemerataan. Sektor ini bisa dibilang memiliki multiplier effect yang paling luas dibanding sektor-sektor lain. Datangnya wisatawan ke suatu obyek wisata akan menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, hingga produk makanan-minuman lokal.

Ketika seorang wisatawan membelanjakan uangnya di suatu obyek wisata, maka uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan oleh wisatawan, maka uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif karena mampu menggerakan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan.

Tak heran kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran. Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD Inpres.

Balik lagi ke judul tulisan ini. Jadi apa core economy yang dimaksudkan Jokowi? Jawaban saya adalah: pariwisata!

 

Sumber gambar: wallpapershome.com

 

September 10, 2016   1 Comment

Pahlawan Pajak

Hari Kamis (1/9) lalu saya membaca sebuah headline di koran nasional terkemuka, “Pengusaha Janjikan Rp 1000 triliun.” Rupanya imbauan Jokowi agar wajib pajak besar segera mengikuti program pengampunan pajak mulai menuai hasil. Sedikitnya 100 pengusaha nasional berkomitmen mendeklarasi dan merepatriasi dana senilai Rp 1.000 triliun dengan nilai tebusan sekitar Rp 60 triliun.

Dalam berita utama itu tertulis, pengusaha pemilik kelompok bisnis raksasa nasional siap menginvestasikan dananya di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian nasional. Kata Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di berita tersebut, “selama ini anggaran pembangunan dalam APBN sekitar Rp 250 triliun per tahun. Masuknya dana sekitar Rp 1.000 triliun dengan pengampunan pajak tentu luar biasa untuk menggerakkan ekonomi nasional sekaligus memperbesar basis pajak.”

Berita itu sungguh menggembirakan tapi sekaligus menyedihkan. Gembira karena dengan duit Rp 1000 triliun muncul harapan besar ekonomi kita bakal menggeliat setelah dua tahun terakhir loyo. Sedih karena rupanya begitu banyak pengusaha kita, gajah-gajah lagi, yang selfish menghindari pajak dengan alasan apapun.

Mereka sudah mendapatkan rezeki melimpah dari negeri ini, tapi begitu datang kewajiban untuk mengembalikan sebagian dari rezeki itu untuk kebaikan saudara-saudara mereka yang lebih tidak beruntung, mereka abai.

Deng Xiaoping - To Get Rich Is Glorious

To Get Rich Is Glorious
Bicara kewajiban pengusaha membayar pajak saya jadi ingat Pak Buntoro, pendiri dan CEO Mega Andalan Kalasan (MAK). MAK yang berlokasi di Kalasan Sleman adalah produsen perlengkapan rumah sakit kelas dunia yang produknya telah digunakan di banyak negara. Pak Buntoro adalah sosok yang eksentrik dan memiliki pemikiran yang selalu out of the box, termasuk dalam hal membayar pajak.

Ada satu perkataan Pak Buntoro beberapa tahun lalu yang tak mungkin saya lupa. Dia bilang, berbeda dengan perusahaan lain, visi dan misi MAK adalah menjadi pembayar pajak terbesar di daerah dimana ia beroperasi. Ketika perusahaan lain selfish ingin meraup keuntungan (get) sebanyak mungkin, Pak Buntoro justru sebaliknya berpikir out of the box berkeinginan memberi (give) sebanyak mungkin. Tak banyak pengusaha yang berpikir nyleneh, tapi meneduhkan seperti Pak Buntoro.

Karena MAK berdomisili di Sleman, maka Pak Buntoro ingin menjadi pembayar pajak terbesar di Sleman. Tak lama setelah ia mengatakan, rupanya visi itu terwujud. MAK menjadi pembayar pajak terbesar di Sleman.

Pak Bun punya filosopi yang meneduhkan, “to get rich is glorious”. Kata pria asal Wonosobo ini, membayar pajak adalah jalan menuju kemuliaan. Hal ini didasari oleh pidato pemimpin Cina, Deng Xiaoping, yang menyerukan kepada rakyatnya agar berusaha keras sehingga bisa menjadi kaya. Kekayaan akan menjadi jalan kemuliaan. “Dengan menjadi kaya maka kita bisa menjadi pembayar pajak,” ujarnya. Pidato itu amat terkenal dan menginspirasi banyak orang termasuk Pak Buntoro.

Spirit of giving sosok satu ini luar biasa. Dia berprinsip jika kita berbuat baik, maka pada akhirnya kebaikan itu akan kembali kepada kita. Semakin banyak kita memberikan kebaikan kepada orang lain, maka semakin banyak pula kebaikan yang kita dapatkan dari orang lain. Jadi, menurut sosok yang bercita-cita menjadi presiden alias RI-1 ini, bisnis itu hanyalah ekses, bukan tujuan. “Maka berbuat baiklah dengan alam agar alam berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkan apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Pahlawan
Sejak dari sono-nya bangsa kita adalah bangsa gotong-royong, bukan individualis. Bangsa kita juga adalah bangsa yang rakyatnya bahu-membahu saling membantu, bukan saling selfish. Yang mampu membantu yang tidak mampu, yang berlebihan membantu yang berkekurangan. Dalam spirit seperti inilah Indonesia ada.

Dalam spirit saling memberi ini saya melihat profesi pengusaha adalah profesi yang sangat mulia. Melalui talenta yang dimiliki ditambah kerja keras dan ketekunan mereka bisa menghimpun aset dan kekayaan. Seperti kata Pak Buntoro, kekayaan itu merupakan jalan menuju kemuliaan dengan menyisihkannya sebagian untuk kebaikan masyarakat dan bangsanya melalui mekanisme pajak. Di tangan merekalah sesungguhnya kemakmuran negeri ini bakal bisa terwujud. Dengan spirit of giving dari mereka, setiap anak bangsa dari Sabang sampai Merauke akan mendapatkan kemanfaatan yang luar biasa.

Saya bermimpi semua pengusaha di negeri ini punya prinsip dan keyakinan seperti Pak Buntoro yang begitu bangga ketika bisa menjadi pembayar pajak terbesar. Saya bermimpi semua pengusaha di negeri ini berlomba-lomba untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat dan bangsanya, dengan keyakinan dasar bahwa ketika kita banyak memberi maka kita akan mendapatkan kebaikan yang jauh melimpah ruah.

Kalau prinsip dan keyakinan ini bersemayam di setiap dada pengusaha kita, maka mereka layak mendapatkan julukan pahlawan: pahlawan kemakmuran bangsa ini.

 

Sumber Gambar: quotehd.com

September 3, 2016   2 Comments

“Mukidi Effect”

Seminggu ini jagat online dihebohkan oleh viral sosok dan cerita humor Mukidi. Berawal dari blog, lalu Facebook, menemukan critical mass di grup-grup WA, dan akhirnya “boom!!!” mencapai mass audience di media mainstream seperti koran-koran, TV, dan tentu situs berita online. Seperti halnya fenomena viral yang sudah-sudah (Gangnam Style, Mastin, dan terakhir Pokemon Go), dalam ukuran jam jutaan audiens tersedot perhatiannya.

Kehebohan viral Mukidi bisa dijelaskan dengan tiga elemen kunci pencipta word of mouth (WOM) yaitu: Story, Content, Media.

Mukidi by Broniesngakak

Story: The Power of (Down-to-Earth) Persona
Kenapa Mukidi demikian ampuh menjangkau seluruh lapisan netizen mulai dari presiden, wakil rakyat, pengusaha, pegawai kantoran, mahasiswa, ibu rumah tangga, tukang parkir, hingga tukang becak? Karena sosok fiktif Mukidi adalah potret dari kebanyakan kita. Ia adalah potret wong cilik dan siapapun yang pernah merasa menjadi wong cilik.

Mukidi adalah sosok biasa dengan keluguannya, kekonyolannya, keusilannya, ke-ndeso-annya, kebebalannya, keterlaluannya, yang sesekali bloon, tapi tiba-tiba bisa begitu cerdas sekali. Tak ada yang dibuat-buat dari sosok ini. Ia sosok yang apa adanya, natural, otentik, orisinil. Salah satu faktor kunci kesuksesan viral Mukidi adalah keotentikan tokoh ini.

Kita sudah capek dengan sosok-sosok hebat macam Jokowi, Habibie, Ridwan Kamil, Nelson Mandela, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg. Kenapa capek? Ya, karena kita hanya bisa mengagumi dan menyanjung mereka, tak lebih dari itu. Kita hanya bisa berangan-angan untuk menjadi seperti mereka tanpa pernah bisa mewujudkannya.

Itu berbeda dengan sosok Mukidi. Tanpa upaya keras dan memaksakan diri kita sudah bisa menjadi Mukidi. Ya, karena Mukidi adalah kita. Ia hadir di setiap hati dari kebanyakan kita. Tanpa sadar kita merindukan sosok “biasa-biasa saja” macam Mukidi. Mukidi jauh dari sosok sempurna. Karena itu kita bisa semena-mena memperoloknya, mem-bully-nya dan menertawakannya, persis seperti ketika kita menertawakan diri sendiri.

Saya kira banyak dari kita iri pada sosok Mukidi karena ia begitu konfiden untuk tetap menjadi dirinya sendiri walaupun dia lugu, ndeso, bloon sekaligus cerdas, nyebelin, njengkelin, banyak apes-nya, dan sarat dengan beribu kekurangan. Di tengah ketidaksempurnaannya, Mukidi tetap bersahaja, tak sudi memakai topeng dan tak merasa perlu menjadi orang lain.

Kita iri pada Mukidi, karena dengan alasan gengsi, ego, dan harga diri, seringkali kita tak mampu menjadi diri kita sendiri.

Mukidi adalah sosok yang down-to-earth. Itulah sebabnya ia bisa mencuri perhatian jutaan manusia dari semua lapisan masyarakat dalam ukuran jam bahkan menit.

Content: Humor Is (Always) Viralable
Di samping kehadiran sosok down-to-earth dan orisinil, viral Mukidi juga terwujud karena konten humor khas Indonesia yang menyegarkan urat-urat saraf. Siapa yang nggak suka humor? Siapapun kita pasti menyukai humor. Meme begitu merajalela di jagat online Indonesia karena adanya humor. Praktis 99% konten meme di Indonesia berisi konten humor.

Persoalan seserius apapun (Pilkada DKI, Jokowi salah pilih menteri, atau heboh vaksin palsu) menjadi begitu renyah, konyol, dan lucu minta ampun di tangan para meme creator. Humor is the most viralable content. Karena itu jika Anda ingin pesan-pesan Anda mencapai viral, bumbuilah pesan-pesan tersebut dengan humor.

Humor Mukidi tak sekedar humor biasa, tapi humor yang relevan. Humor yang khas Indonesia. Kenapa lawakan Srimulat demikian ampuh dan melegenda, karena format lawakannya relevan dan khas Indonesia dengan mengombinasikan dagelan Mataraman dan ludruk Suroboyoan.

Seperti halnya guyonan Srimulat, cerita humor Mukidi mengambil tema dan tokoh yang berpusar pada keseharian kita. Guyonan wong cilik. Style-nya bisa Suroboyoan, Meduroan, Banyumasan, dagelan Mataraman, atau bahkan guyonan khas Gus Dur.

Media: Grup WA, Penggoreng Viral
Di samping Story dan Content, viral Mukidi juga dipicu oleh media penggoreng viral luar biasa bernama: grup Whatsapp (WA). Cerita humor Mukidi sudah hadir sejak tahun 2012 di blog: ceritamukidi.worpress.com dan di akun Facebook milik Soetantyo Moechlas. Namun selama 4 tahun cerita-cerita itu tak kunjung memviral, sampai beberapa hari lalu ketika entah dari mana asalnya cerita-cerita lucu itu masuk ke grup WA. Melalui medium grup WA cerita Mukidi memviral begitu hebat.

Artinya, di medium grup WA lah, critical mass viral Mukidi terbentuk. Perlu diingat, dalam setiap fenomena viral, faktor paling kunci adalah pembentukan critical mass ini. Celakanya, hingga saat ini tak ada satupun teori yang bisa menerangkan bagaimana critical mass ini terbentuk. Penyebabnya adalah adanya momentum yang mempertemukan beberapa faktor yang tak kuasa kita atur dan kendalikan. Tak heran jika Pak Soesantyo sendiri tak paham, bagaimana cerita-cerita lucunya menjadi viral. Semakin critical mass ini diatur dan direncanakan, umumnya viral yang terbentuk menjadi tak seheboh yang diharapkan.

Blog umumnya memiliki audiens yang terbatas dan terbuka, artinya siapapun bisa mengunjunginya dan berkomentar. Facebook, Twitter, atau Instagram memiliki massa audiens yang jauh lebih besar, tapi sekali lagi sifatnya terbuka, sehingga hubungan, kedekatan, dan connection di antara audiens ini kurang intens. Singkatnya, hubungan audiens di dalam keempat platform komunitas terbuka (open community) ini lebih cair.

Hal ini berbeda dengan komunitas tertutup (closed community) seperti grup WA. Grup WA berisi anggota yang lebih sedikit tetapi memiliki intensitas hubungan yang sangat dekat dan kuat. Apalagi anggota di dalam grup-grup WA ini umumnya memiliki common interest yang kuat dan dipupuk setiap saat melalui chit-chat di antara mereka sehari-hari.

Intensitas hubungan yang kuat di dalam grup WA inilah yang memungkinkan sebuah konten seperti cerita lucu Mukidi bisa demikian intens diperbincangkan dan dibahas. Dan ketika cukup menghebohkan, maka konten tersebut begitu mudah di-forward dari satu grup WA ke grup WA lainnya. Kalau ini terjadi, maka tak terhidarkan lagi critical mass akan terwujud. Begitu critical mass terbentuk maka media mainstream buru-buru memberitakannya, dan boom, ledakan dahsyat viral pun akan terjadi.

Dengan kejadian viral Mukidi, saya semakin meyakini bahwa grup WA merupakan medium inkubator viral yang paling ampuh dari medium online apapun.

 

Sumber foto ilustrasi: browniesngakak @ pojoksatu.id

 

August 27, 2016   2 Comments

Family Business Inc.

Indonesia Brand Forum (IBF) is back! Tiga hari lagi, Rabu 24 Agustus 2016, bertempat di Hotel Grand Hyatt, saya bersama Koran Sindo akan menggelar #IBF2016. Tahun ini #IBF2016 mengambil tema: Branding Family Business for the Nation masih dalam suasana nasionalisme menyambut HUT RI ke-71. #IBF2016 menampilkan 15 pembicara para great family business leaders dari perusahaan keluarga terkemuka di Tanah Air. #IBF2016 juga menampilkan special session “BNI’s 7 Entreprepreneur Heroes”, para wirausahaan hebat binaan BNI yang sukses menembus pasar global.

Sejak awal saya merancang IBF bukan sekedar acara seminar semata, tapi sebuah “gerakan” (movement). Sebuah gerakan untuk mengingatkan bangsa ini mengenai pentingnya membangun brand. Itu sebabnya setiap penyelenggaraan IBF selalu pekat spirit nasionalisme dan keIndonesiaannya. Brand di sini bisa berupa produk (product brand), perusahaan (corporate brand), orang (personal brand) atau bahkan negara (country brand).

Kami di IBF meyakini bahwa brand adalah alat perjuangan yang ampuh bagi bangsa ini untuk menjadi negara besar dan disegani di dunia. Amerika besar karena punya Coca Cola, Starbuck atau GE. Jepang besar karena punya Sony, Toyota, atau Canon. Korea Selatan besar karena Samsung, Hyundai, atau Kia.

Sebagai sebuah gerakan, tiap tahun IBF memiliki tradisi mengeluarkan deklarasi untuk mengingatkan anak bangsa mengenai sebuah urgensi nasional tertentu. Sesuai tema, tahun ini IBF mengeluarkan deklarasi bertema: “Family Business Inc. Menuju Indonesia Besar”. Apa itu Family Business Inc?

IBF 2016 - Speaker Line up

Kolaborasi Perusahaan Keluarga
Bicara perusahaan keluarga kita tak bisa lepas dari peran dan kontribusinya yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014). Total kekayaan mencapai US$134 miliar, atau sekitar 25% dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Dan ingat, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

Karena posisinya yang sangat strategis, IBF mengusulkan perlunya perusahaan keluarga di Indonesia bersatu dan menyamakan langkah untuk masuk dan bersiang di pasar global, melalui apa yang saya sebut “Family Business Inc.

Antar grup-grup besar perusahaan keluarga harus terjalin kolaborasi dalam menghimpun kekuatan di tingkat global. Selama ini antar grup-grup besar perusahaan keluarga ini jalan sendiri-sendiri. Padahal mereka bisa melakukan sinergi sumber daya, jejaring bisnis, pertukaran informasi, hingga benchmarking pengalaman yang menghasilkan kekuatan gabungan yang luar biasa.

Ambil contoh beberapa kasus gampang. GarudaFood misalnya, punya pengalaman berharga masuk ke pasar Cina dan India, maka pengalaman itu seharusnya bisa dibagi ke grup-grup perusahaan keluarga lain di Tanah Air sehingga mereka tidak mulai dari nol sama sekali. Grup Kalbe cukup punya jejaring pemasaran yang kokoh Filipina karena produknya Extra Joss menjadi market leader. Maka perusahaan lain bisa menggunakan jejaring tersebut untuk mengembangkan bisnis. Atau Indofood yang memiliki jaringan operasi yang kokoh di pasar Afrika dan Timur Tengah misalnya, bisa membuka akses pasar bagi perusahaan-perusahaan nasional yang mau beroperasi di situ.

Antar grup-grup perusahaan keluarga ini boleh saja bersaing di dalam negeri, tapi harus berkolaborasi dan bersinergi di pasar luar negeri. Kenapa? Karena mereka adalah “Siapa” di dalam negeri. Tapi “Tidak Siapa-Siapa” di pasar luar negeri. Ketika kita kecil di pasar luar negeri, maka jalan paling ampuh adalah bekerjasama menghimpun kekuatan agar menjadi besar.

Ketika perusahaan nasional bersaing di pasar global, maka size does matter. Ukuran dan skala bisnis (modal, teknologi, manajemen, SDM) merupakan tuntutan dasar untuk memenangkan persaingan. Di sinilah kolaborasi grup-grup besar perusahaan keluarga untuk mengakses pasar, bernegosiasi dagang, mengembangkan kapasitas manajemn/teknologi, hingga mengintegrasikan rantai nilai sangat diperlukan. Inilah yang dilakukan Jepang dengan Zaibatsu-nya atau Korea Selatan dengan Chaebol-nya.

Indonesia Inc.
Selama beberapa tahun terakhir kementrian BUMN sangat agresif menggabungkan BUMN-BUMN yang sejenis atau terkait operasinya dalam sebuah holding. Nantinya akan terbentuk holding bank, farmasi, pertanian-perkebunan, semen, industri strategis, dsb. Tujuan pembentukan strategic holding ini tak lain adalah untuk menciptkan economies of scale yang menjadikan BUMN kita perkasa melawan raksasa-raksasa global. Modelnya kira-kira mirip dengan Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia.

Nah, pemikiran di balik pembentukan strategic holding di lingkungan perusahaan-perusahaan plat merah itu sama, yaitu untuk menghimpun kekuatan sehingga kita cukup perkasa melawan raksasa regional maupun raksasa global. Hanya dengan begini kita memiliki kemampuan modal skala dunia dan mampu mengakuisisi teknologi, manajemen, dan talenta terbaik di dunia. Proses pembentukan perusahaan-perusahaan holding ini saat ini sedang intensif berjalan.

Nah, kalau Family Business Inc. ini bisa dikolaborasikan lebih lanjut dengan holding BUMN-BUMN, sekali lagi, dalam konteks kepentingan masuk di pasar global, maka akan terwujud apa yang disebut “Indonesia Inc.” Kalau ini terjadi maka antara perusahaan swasta (perusahaan keluarga) dan perusahaan milik pemerintah akan terjalin kerjasama yang saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain.

Bangsa kita adalah bangsa yang suka berjamaah, melakukan sesuatu secara bersama-sama. Hanya dengan bergotong royong segenap anak bangsa kita akan menjadi negara besar. Mewujudkan Indonesia Inc. adalah sebuah mimpi besar. Untuk menjadi bangsa besar, kita harus bermimpi besar, berpikir besar, dan melakukan hal besar.

Melalui tulisan ini dan Deklarasi IBF 24 Agustus mendatang saya menghimbau kepada para family business leaders di seluruh Tanah Air, mari wujudkan Family Business Inc.

August 20, 2016   No Comments

Road to #IBF2016: “Family Business for the Nation”

Perusahaan keluarga merupakan aset nasional sangat berharga yang menjadi pilar kemajuan Indonesia. Lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014). Dari jumlah yang sangat siknifikan tersebut perusahaan keluarga memiliki total kekayaan US$134 miliar, luar biasa. Kalau dihitung, kontribusi mereka di dalam PDB (produk domestik bruto) sangat besar sekitar 25%. Dan ingat, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga.

Dengan peran yang demikian menonjol, perusahaan keluarga haruslah menjadi senjata pamungkas bagi kebangkitan Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tema inilah yang akan diambil dalam talkshow santai “Road to IBF” dan #KelasInspirasi Komunitas Memberi dalam rangka menyonsong event akbar tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) 2016: “Branding Family Business”, 24 Agustus, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Tema “Road to IBF” dan #KelasInspirasi kali ini adalah: “Family Business for the Nation” yang mengupas bagaimana perusahaan keluarga memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, tema yang pas di saat kita merayakan HUT Kemerdekaan. Narasumbernya adalah Junius Rahardjo, pendiri dan CEO Javaplant dan salah pemimpin generasi kedua grup Deltomed (Antangin).

Sepak terjang Junius dengan Javaplant-nya, sarat nasionaisme. Ia membuktikan diri, mampu membawa produk herbal Indonesia perkasa menembus pasar mancanegara. “Sekitar 90% produk saya menghasilkan dolar,” ujarnya. Yang dijual Pak Junius adalah ekstrak herbal yang bahan dasarnya tersedia melimpah di bumi pertiwi seperti kunyit, temulawak, kayu manis, pasak bumi, binahong, jahe, purwoceng, tapak liman, atau sarang semut. Produk-produk tanaman unik Indonesia ini punya nilai sangat tinggi di Amerika, Jepang, dan Eropa.

Road to IBF 2016

Dengan bahan baku yang tersedia melimpah di dalam negeri maka tak seperti umumnya perusahaan manufaktur di tanah air, Javaplant tidaklah “haus dolar”. Bukannya menghambur-hamburkan rupiah ke luar negeri, tapi justru sebaliknya menyedot banyak dolar ke dalam negeri. Dengan begitu perusahaan seperti Javaplant pantas disebut “Pahlawan Rupiah”, ya karena menjadikan rupiah kita kian perkasa. Nasionalisme seorang Junius bisa dibaca di link ini.

Ayo teman-teman datang di event ini, yang diselenggarakan:

Hari/Tanggal : Kamis, 18 Agustus 2016, 15.00-17.00 WIB.
Tempat              : Gedung Koran Sindo, Jl. Wahid Hasyim No. 38
Pembicara        : “Family Business for the Nation
Narasumber     : Junius Rahardjo, Pendiri & CEO Javaplant dan Samuel Pranata, penulis buku: The Second Generation Challenge: “Bagaimana Pemimpin Generasi Kedua Perusahaan Kelaurga Mencapai Sukses Berkesinambungan.”

Moderator         : Yuswohady, Indonesia Brand Forum (IBF)

Temen-temen cepetan daftar, karena peserta dibatasi 50 orang saja. Untuk daftar hubungi Lia: 085780789897 atau email: kelasmemberi@gmail.com

*Indonesia Brand Forum #IBF2016 akan diselenggarakan 24 Agustus 2016 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Mengambil tema: “Branding Family Business for the Nation“, #IBF2016 menampilkan 15 pembicara pemimpin perusahaan keluarga (owner/CEO/director) terkemuka di Indonesia, plus “BNI’s 7 Entrepreneur Heroes” wirausahawan binaan Bank BNI yang sukses menembus pasar global. Berikut ini line-up pembicaranya:

IBF 2016 - Brosur

August 10, 2016   1 Comment

Pariwisata: Mesin Pertumbuhan Baru

Hari Sabtu (30/7) lalu saya ada di tengah-tengah para villageprenur (wirausahawan desa) di desa wisata Geopark Ciletuh, Sukabumi. Bersama teman-teman Bio Farma kami melakukan workshop bersama mereka untuk mengembangkan branding strategy bagi empat produk dan layanan yang tumbuh seiring mulai maraknya Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata utama Sukabumi.

Empat produk dan layanan tersebut adalah: PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan homestay dan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad, Batik Pakidulan, pengembangan ikan Koi Mizumi, dan budidaya Sidat (unagi). Produk dan layanan baru yang dirintis para wirausahawan desa ini tumbuh menjamur dua tahu terakhir seiring banyaknya wisatawan yang datang ke obyek wisata Geopark Ciletuh.

Menarik pengakuan Kang Ali, kreator Batik Pakidulan mengenai powerful-nya dampak ekonomi dari industri pariwisata. “Sejak banyak wisatawan datang ke sini, banyak bermunculan komunitas-komunitas masyarakat yang mengembangkan beragam produk seperti batik, kerajinan, beras hitam, hingga sidat,” ujarnya.

Workshop Ciletuh

Multiplier Effect
Apa yang diceritakan Kang Ali tersebut dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah: multiplier effect. Multiplier effect adalah sebuah kegiatan ekonomi yang menggerakkan kegiatan ekonomi lain. Datangnya wisatawan ke Geopark Ciletuh menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan-minuman lokal, dsb-dsb.

Ketika wisatawan tersebut membelanjakan uangnya di suatu desa wisata, maka uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan oleh wisatawan, maka uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif ke desa wisata tersebut, ia menggerakan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan.

Tak heran kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran. Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD Inpres.

Pernah suatu kali saya naik taksi di Bali. Dengan bangganya si sopir taksi bilang ke saya, “Di Bali ini pekerjaan gampang, praktis nggak ada pengangguran, hanya orang yang malas keterlaluan saja yang jadi pengangguran.”

Intinya si sopir ingin mengatakan bahwa di daerah yang ekonominya didukung sektor pariwisata seperti Bali, lapangan kerja terbuka luas untuk semua lapisan masyarakat. Orang yang nggak lulus SD saja dengan modal cas-cis-cus berbahasa Inggris (tanpa ikutan kursus) bisa menjadi pemandu wisata (tour guide) dengan penghasilan lumayan. Potensi industri ini sebagai penyedia lapangan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tak tertandingi oleh industri lain apapun.

New Growth Engine
Menariknya, industri pariwisata tak hanya powerful sebagai alat pemerataan kemakmuran, tapi juga berpotensi menjadi mesin baru perekonomian Indonesia pasca bonanza minyak. Kita tahu komoditi migas sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita di tengah harga minyak dunia yang terus terjun bebas.

Kalau komoditi migas tak mampu lagi, lalu sektor apa lagi yang bisa menggerakkan mesin perekonomian kita? Batubara sama-sama jatuh. Komoditi pertanian/perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, atau karet setali tiga uang karena harganya yang terus anjlog di tengah pasok dunia yang berlebih. Begitupun tekstil dan pakaian jadi yang kian tak kompetitif karena ongkos buruh yang tak lagi murah.

Urgensi mengenai perlunya mesin pertumbuhan baru ini tersirat dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah Sidang Kabinet Paripurna Rabu lalu (3/8) saat mengumumkan pemangkasan anggaran. Menurut Menteri penerimaan pajak kita bakal mengalami tekanan yang sangat berat karena jatuhnya harga komoditas minyak dan gas, batubara, kelapa sawit, dan pertambangan lainnya. Sementara sektor yang selama ini bisa menjadi andalan seperti konstruksi, perdagangan, dan manufaktur juga tak menggembirakan, pertumbuhannya hanya separuh dari tahun sebelumnya.

Lalu apa calon terbaik mesin pertumbuhan baru itu? Jawabnya adalah sektor pariwisata. Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% pertahun selama 5 tahun terakhir). Sementara itu perolehan devisa migas tahun 2015 sebesar USD18,9 miliar, merosot tajam hampir 40% dari tahun sebelumnya. Tren yang saling berseberangan antar dua sektor ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, maka bisa jadi 3 tahun ke depan sektor migas akan tersalib oleh pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. Dengan jejak kinerja yang mengesankan seperti ini tak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor ini sebagai sektor unggulan perekonomian kita yang menjalankan dua fungsi sekaligus: mesin pertumbuhan dan mesin pemerataan.

Fokus Pariwisata
Anda yang berkecimpung di dunia manajemen pasti mengenal BCG Matrix. Secara sederhana matriks ini digunakan untuk merumuskan strategi portofolio (portfolio strategy) bagi organisasi yang memiliki banyak lini bisnis. BCG Matrix memberikan panduan mengenai mana-mana portofolio bisnis yang harus dikembangkan dan mana yang tidak. Ada empat posisi di dalam BCG Matrix yaitu: Cash Cow, Star, Question Mark, dan Dog.

Cash Cow artinya portofolio bisnisnya telah menghasilkan sehingga harus terus diperah (milking). Star artinya harus di-invest dan dikembangkan karena akan menjadi tulang punggung di masa depan. Question Mark artinya masih tanda tanya mau di-invest atau justru di-divest. Dan terakhir Dog, artinya portofolio bisnis tersebut tak bisa diharapkan lagi sehingga harus di-divest alias ditanggalkan.

Nah, dengan menggunakan analogi matriks tersebut, seharusnya secara strategis pemerintah Jokowi menempatkan sektor pariwisata pada posisi Star mengingat potensi luar biasa yang dimilikinya. Konsekuensinya, pemerintah harus mendorong habis-habisan sektor ini melalui alokasi sumberdaya yang tepat agar sektor ini bisa berkembang sesuai potensinya. Sebaliknya, sektor migas adalah Dog yang memang tak bisa diharapkan lagi, karena itu tak layak diprioritaskan dan mendapatkan alokasi sumberdaya secara semestinya.

Dengan portfolio strategy yang tepat maka pemerintah akan bisa mengalokasikan sumberdayanya secara tepat dan efektif. Jangan sampai terjadi sektor yang sunset diprioritaskan, sementara sektor yang sunrise justru dihambat. Kalau itu yang terjadi, maka itu namanya misallocation of resources, mismanagement, alias salah urus.

August 6, 2016   No Comments

Pendaftaran #UKMgoGlobal Angkatan 4

Teman-teman para UKMers, Komunitas Memberi membuka pendaftaran untuk mengikuti kelas #UKMGoGLobal Angkatan 4. Program reguler Komunitas Memberi ini bertujuan untuk memberikan fondasi bagi para pebisnis kecil/menengah (UKM) untuk menjadi UKM kelas dunia.

Poster Memberi 4

Program ini menggunakan pendekatan peserta aktif (participant-centered learning) dengan pengajar para profesional berpengalaman di bidang masing-masing selama belasan tahun. Program berlangsung selama sekitar 4 bulan (dilaksanakan 2 minggu sekali di Jakarta) untuk menyelesaikan 8 modul pelatihan.

Modul 1: Professional Operation Management
Modul 2: Effective Human Resource Management
Modul 3: Simple Finance & Accounting
Modul 4: Product & Pricing
Modul 5: Basic Branding & Communications
Modul 6: Effective Sales & Distribution Management
Modul 7: Simple Marketing Plan
Modul 8: Leadership for SME Business Owner

Peserta program ini tidak dipungut biaya alias GRATIS tapi disaring melalui seleksi yang ketat oleh sebuah panel seleksi untuk memilih sekitar 20 orangyang memenuhi syarat. Calon peserta wajib mempresentasikan usahanya di depan panel seleksi. Persyaratan umum untuk mengikuti program ini adalah sebagai berikut:

1. Memiliki usaha yang telah beroperasi minimal 2 tahun.
2. Memiliki usaha dengan omset Rp. 300 juta – 2,5 miliar setahun.
3. Diprioritaskan bagi peserta yang usahanya telah memiliki badan hukum.

Teman-teman UKMers yang memenuhi syarat di atas silahkan mendaftar. Caranya, kirimkan CV dan dokumen profil usaha Anda ke: kelasmemberi@gmail.com. Cepetan ya, karena pendaftaran ditutup pada tanggal 10 Agustus 2016. Informasi lengkap mengenai program ini bisa dilihat di www.memberi.id.

Yuk temen-temen UKMers buruan daftar!!!

July 28, 2016   No Comments

Merayakan Viral Pokemon Go

Minggu-minggu ini kita menyaksikan dua kejadian viral dahsyat yang terjadi bersamaan yaitu Pokemon Go dan kasus virus palsu. Setiap terjadi gelombang viral, baik itu produk (iPhone), layanan (Klinik Tong Fang), iklan (Mastin si kulit manggis), meme (Bekasi dan AADC), video (Gangnam Style), game (Pokemon Go), atau kasus (virus palsu dan sidang kasus Jessica) selalu saja terjadi aksi massa untuk “menggoreng” viral tersebut hingga menjadi bola liar yang kian menggila.

Seperti dalam kasus viral Pokemon Go yang sedang hot saat ini, seperti dikomando, kita berpartisipasi aktif menanggapi, mengembangkan pernik-pernik cerita, atau menciptakan kontroversi agar magnitute isunya menjadi kian membesar. Kita berkreasi habis-habisan dengan membuat diskusi terbuka, melempar isu, menciptakan hastag, atau menyebarkan meme untuk memanaskan suasana. Hasil akhirnya bisa kita tebak, bola salju viral kian membesar dan menggulung-gulung liar.

Dalam kondisi seperti ini massa, kita semua, seperti sedang hiruk-pikuk merayakan viral Pokemon Go. Kita seperti berpesta pora dan bergotong-royong untuk melipatgandakan viralnya.

Pokemon Go 2

Go Viral
Coba kita tengok bagaimana viral Pokemon Go menjalar dalam seminggu terakhir. Begitu game fenomenal ini meluncur di pasar (terbatas di beberapa negara), dalam ukuran hari viralnya langsung menyebar ke seluruh pelosok dunia dari New York hingga Gunung Kidul. Awalnya isu viral menyangkut kehebatan game tersebut seperti: pengalaman mencari Pokemon yang mengasyikkan, penggunaan teknologi augmented reality (AR) yang canggih, atau dampak positifnya bagi kesehatan karena intensnya aktivitas fisik.

Tapi kemudian isu viral berkembang ke berbagai kejadian yang terkait dengan game ini. Dimulai dari para selebritas global maupun lokal yang berlomba-lomba narsis memproklamirkan diri sebagai pengguna fanatik Pokemon Go. Lalu isu meluas ke dampak samping Pokemon Go seperti banyaknya orang yang kecanduan atau banyaknya kasus kecelakaan lalu-lintas karena asyik memainkan Pokemon Go.

Berikutnya isu viral menjorok kian dalam dan rumit. Tiba-tiba muncul hoax Dekan Fakultas Psikologi UGM yang memperingatkan bahaya serius dari permainan ini. “Go to hell Pokemon,” seru hoax tersebut. Hoax ini sukses menghasilkan perdebatan seru di media sosial, walaupun akhirnya kita tahu bahwa hoax ini tak jelas sumbernya.

Tak hanya itu, isu viral kemudian berkembang semakin menakutkan. Tiba-tiba muncul isu seolah-olah game ini merupakan alat CIA untuk memata-matai seluruh dunia. Di salah satu blog, saya menemukan seorang pendeta secara lugas menyebut Pokemon Go sebagai permainan iblis dan bagian dari penyebaran ajaran setan di dunia maya. Di sini kontroversi di seputar viral Pokemon Go mulai terbentuk dan menjalar liar.

Viral Pokemon Go menjadi kian panas ketika satu-persatu menteri, gubernur, bupati hingga kepolisian mulai berlomba-lomba melarang personilnya bermain Pokemon Go saat bekerja. “Kapolres Depok Razia Anggotanya yang Bermain Pokemon Go,” begitu salah satu judul headline sebuah surat kabar. Para petinggi negeri ini seperti tidak mau ketinggalan untuk numpang beken di tengah heboh Pokemon Go.

Api Unggun
Saya menggambarkan fenomena viral layaknya sebuah api unggun di ujung gang yang ramai. Api unggun ini begitu eksotis dengan lidah api yang menjilat-jilat udara. Oleh karena itu, setiap orang yang lalu-lalang selalu menyempatkan diri untuk melihatnya. Nah, sambil melihat dan menikmati kehangatan api, mereka melemparkan apapun yang dibawanya. Mereka yang punya kulit kacang, koran habis baca, kardus bekas kemasan, atau ranting kayu dilemparkan ke pusat bara api. Itu sebabnya api terus menyala.

Nah, api unggun itu akan membesar nyala apinya jika banyak orang datang dan melemparkan apapun yang ia punya. Sebaliknya, api unggun itu akan meredup dan berhenti menyala ketika sudah tak ada lagi orang lewat yang melempar barang. Ketika api tak lagi menyala, maka api unggun itu tak lagi menarik dan kemudian tak lagi ada orang yang mau mendatanginya.

Saya menggambarkan isu yang sedang hot dari sebuah viral sebagai api yang sedang hebat menyala-nyala. Setiap orang yang datang ke api unggun untuk sekedar melihat atau mencari kehangatan merepresentasikan kita semua para penggembira (baca: cheerleaders) viral. Dan kulit kacang, kertas koran, kardus, ranting kayu, dan barang apapun yang dimasukan ke bara api menggambarkan tanggapan, isu, ataupun beragam cerita yang mereka lemparkan untuk meramaikan viral.

Dengan penggambaran itu menjadi jelas bahwa, sebuah viral akan hot dan terus menjalar ke mana-mana jika banyak penggembira yang berpartisipasi dan kemudian melemparkan beragam isu dan cerita untuk membesarkan viral. Sebaliknya viral itu meredup dan berhenti menjalar jika sudah tak ada lagi orang yang tertarik memperbincangkannya karena memang isu dan ceritanya sudah tak ada lagi yang tersisa.

Minggu-minggu ini kita sedang hot-hot-nya merayakan api unggun Pokemon Go. Semua orang begitu bersemangat nimbrung dan melempar isu untuk membesarkan apinya.

Namun setiap perayaan tentu ada usainya. Let’s see, kapan api unggun Pokemon Go bakal meredup dan akhirnya mati ditelan bumi. Mungkin minggu depan, bulan depan, atau mungkin juga tahun depan.

 

Sumber Gambar: pbs.twimg.com

 

 

July 23, 2016   No Comments