E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Pendaftaran Kelas #UKMGoGlobal

Teman-teman para UKMers, Komunitas Memberi membuka pendaftaran untuk mengikuti kelas #UKMGoGLobal angkatan 2. Program reguler Komunitas Memberi ini bertujuan untuk memberikan fondasi bagi para pebisnis kecil/menengah (UKM) untuk menjadi UKM kelas dunia. Program menggunakan pendekatan peserta aktif (participant-centered learning) dengan pengajar para profesional berpengalaman di bidang masing-masing selama belasan tahun. Program berlangsung selama sekitar 4 bulan (dilaksanakan 2 minggu sekali di Jakarta) untuk menyelesaikan 8 modul pelatihan.

Modul 1: Professional Operation Management
Modul 2: Effective Human Resource Management
Modul 3: Simple Finance & Accounting
Modul 4: Product & Pricing
Modul 5: Basic Branding & Communications
Modul 6: Effective Sales & Distribution Management
Modul 7: Simple Marketing Plan
Modul 8: Leadership for SME Business Owner

Peserta program ini tidak dipungut biaya tapi disaring melalui seleksi yang ketat oleh sebuah panel seleksi untuk memilih sekitar 20 orang yang memenuhi syarat. Calon peserta wajib mempresentasikan usahanya di depan panel seleksi. Persyaratan umum untuk mengikuti program ini adalah sebagai berikut:

1. Memiliki usaha yang telah beroperasi minimal 3 tahun.
2. Memiliki usaha dengan omset Rp. 300 juta – 2,5 miliar setahun.
3. Diprioritaskan bagi peserta yang usahanya telah memiliki badan hukum.

Teman-teman UKMers yang memenuhi syarat di atas silahkan mendaftar. Caranya, kirimkan CV dan dokumen profil usaha Anda ke: kelas@memberi.org. Cepetan ya, karena pendaftaran ditutup pada tanggal 30 Mei 2015. Informasi lengkap mengenai program ini bisa dilihat di www.memberi.org.

 

May 24, 2015   1 Comment

Deklarasi Kebangkitan Merek

Yang istimewa dari gelaran Indonesia Brand Forum, Rabu (20/5) lalu adalah Deklarasi Kebangkitan Merek Indonesia. Dalam deklarasi tersebut seluruh peserta IBF ikutan menandatangani komitmen untuk mendorong merek Indonesia agar memiliki daya saing kokoh dan perkasa di pentas dunia. Maunya, dengan deklarasi ini bangsa ini diingatkan mengenai pentingnya kita semua membangun merek sebagai alat perjuangan bangsa untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Dalam konferensi pers yang dihadiri puluhan wartawan, saya mengajak para “pendekar merek” Indonesia untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana membangun merek nasional. Mereka adalah Pak Irwan Hidayat dari Sido Muncul, Pak Mohammad Nadjikh dari Kelola Mina Laut, Pak Bryan Tilaar dari Martha Tilaar, dan Pak Amat Pria Dharma dari Semen Indonesia. Dalam kesempatan kolom kali ini saya ingin berbagi dengan para pembaca mengenai isi deklarasi Kebangkitan Merek Indonesia yang saya sampaikan dalam press conference tersebut. Kenapa? Karena butir-butir deklarasi tersebut berisi keresahaan kami para insan merek Indonesia mengenai perkembangan merek di negeri ini. Berikut ini lima butir deklarasi tersebut.

Deklarasi IBF 2

#1. Negara Hadir
Negara harus hadir mengembangkan merek-merek nasional di tengah dominasi merek-merek asing yang menguasai urat nadi perekonomian bangsa Indonesia. Merek-merek global memiliki sumber daya (resources) berupa modal, teknologi, manajemen, dan SDM yang tak bakal tertandingi oleh merek lokal manapun di negeri ini. Persaingan antara merek global dengan merek lokal di arena pasar MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) dan pasar global adalah pertandingan petinju kelas berat melawan petinju kelas bulu. Pertandingan yang tidak berimbang di tengah jargon MEA dan pasar global ini menuntut campur tangan dan peran aktif negara untuk membangun merek nasional seperti yang dilakukan Jepang, Korea, Singapura, dan Malaysia. Sekali lagi negara harus hadir.

#2. Nasionalisme Konsumen
Sudah saatnya kita bangsa Indonesia membangun dan mengembangkan nasionalisme konsumen dengan kepercayaan diri tinggi untuk membeli, menggunakan, dan mengonsumsi merek-merek Indonesia. Apabila 250 juta rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke menggunakan merek-merek lokal maka kita semua memberikan “kesempatan emas” kepada perusahaan-perusahaan dan merek-merek ciptaan anak negeri untuk mengembangkan diri menjadi merek yang kokoh tak hanya di pasar dalam negeri tapi juga di kancah global. Kita harus mencontoh rakyat Korea Selatan yang rakyatnya memberikan “kesempatan emas” bagi merek-merek hebat seperti Samsung atau Hyundai untuk mengembangkan diri menjadi merek global dengan cara membeli dan memakainya. Mental inlander harus kita enyahkan dari bumi Indonesia dengan menciptakan kebanggaan memakai merek Indonesia.

#3. Bukan “Bangsa Komoditas”
Bangsa Indonesia khususnya pelaku bisnis dan wirausahawan (entrepreneur) harus berjuang keras dalam menciptakan nilai tambah (value-added) kepada komoditas-komoditas yang menjadi andalan Indonesia sejak beratus tahun lalu seperti kopi, teh, kelapa sawit, coklat, karet, kekayaan laut, kekayaan kuliner Nusantara, buah-buahan, dan sayur-sayuran melaluia proses membangun merek (brand building) sehingga memiliki nilai tinggi di pasar internasional. Kita bangsa Indonesia tak boleh puas hanya menjadi “bangsa komoditas” yang cuma bisa menjual bahan mentah bernilai tambah rendah seperti karet, kelapa sawit, dan minyak mentah, tapi menjadi “bangsa merek” yang piawai menciptakan merek-merek berdaya saing global sekelas Apple atau Toyota.

#4. Indonesia Inc.
Indonesia harus mengembangkan pendekatan Indonesia Inc. dalam membangun merek-merek kokoh di pentas dunia dengan menyatukan dan mengkolaborasikan seluruh potensi kekuatan nasional baik pemerintah, swasta, dan masyarakat. Di tahun 1960-an Jepang memiliki Sogo Sosha yang membangun sinergi dan kolaborasi antar pemerintah dan swasta dalam menembus pasar internasional. Di Korea kita mengenal konsep Chaebol dengan konsep yang hampir sama. Kini dalam format yang lain Singapura dan Malaysia mengembangkan Temasek dan Khazanah yang memiliki otot perkasa di pasar internasional karena adanya sinergi dan penyatuan sumber daya pemerintah dan swasta. Kini saatnya bangsa Indonesia menghimpun kekuatan BUMN dan swasta nasional yang di dukung oleh pemerintah untuk masuk ke pasar-pasar di luar negeri. Kedutaan dan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri harus menjadi marketer yang siap mendukung ekspansi merek-merek Indonesia di pentas dunia.

#5. Kemerdekaan Merek
Bangsa Indonesia harus berjuang mewujudkan kemerdakaan merek Indonesia dengan menempatkan merek-merek lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Dominasi merek-merek global harus dilawan dengan membangun daya saing merek-merek lokal sehingga sejajar bahkan melebihi kekuatan merek global. Membangun daya saing merek lokal bukanlah berarti memusuhi perusahaan dan merek global, tapi secara cerdas bersinergi dan berkolaborasi dengan mereka karena merekalah yang memiliki modal, teknologi, manajemen, dan SDM berkelas dunia. Dengan memanfaatkan kekuatan pasar dalam negeri yang sangat besar, merek-merek lokal harus berkolaborasi dan bersinergi secara sejajar dengan perusahaan-perusahaan global yang beroperasi di Indonesia sehingga merek-merek lokal bisa mengambil manfaat terbaik demi kejayaan bangsa dan merah putih.

Melalui deklarasi tersebut, kami para insan merek ingin mengingatkan bangsa ini untuk berjuang mengambil peluang emas untuk menjadi negara besar di dunia dengan cara membangun merek yang kokoh di pentas dunia. Melalui deklarasi tersebut kami ingin mengngatkan bahwa Hari Kebangkitan Nasional adalah juga Hari Kebangkitan Merek Indonesia.

*Foto: Sidomuncul.com

May 23, 2015   No Comments

Empat Strategi Global Chaser

Kolom saya minggu lalu membahas empat posisi strategis yang bisa dipilih oleh Global Chaser. Yang belum tahu, Global Chaser adalah perusahaan/merek Indonesia yang mampu menembus dan membangun daya saing di pasar global. Seperti diuraikan di kolom-kolom sebelumnya, saya akan menggelar event besar tahunan Indonesia Brand Forum 2015, tepat di Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei nanti di Balai Kartini. IBF tahun ini mengusung tema: “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Di situ akan tampil sekitar 25 merek Indonesia yang sukses di pasar global.

 

Cover Global Chaser - Front

 

Di kolom sebelumnya saya membagi empat posisi strategis Global Chaser yaitu: Export Co, OEM Co, Global Co, dan Glocal Co. Empat posisi tersebut diperoleh dengan mengacu pada dua parameter. Pertama, tingkat kemampuan perusahaan dalam mengembangkan rantai aktivitas global (global activity-chain). Kedua, tingkat kemampuan perusahaan dalam melakukan penyesuaian produk dan layanan mengikuti kondisi dan karakteristik pasar di negara yang ditarget (global customization). Untuk lengkapnya keempat posisi tersebut bisa dilihat pada matriks di bawah.

Empat Strategi
Kalau dalam kolom sebelumnya saya sudah menjelaskan ciri-ciri dari keempat posisi tersebut, maka kini saya akan menguraikan pilihan strategi yang bisa diambil oleh Global Chaser di masing-masing posisi tersebut.

Matrks Global Chaser

Export Co: “Chase Global Best-Practices”
Strategi yang harus dijalankan Global Chaser jenis ini adalah mengejar kemampuan terbaik di dunia (global best-practices) dengan membangun kompetensi di bidang riset dan pengembangan produk, produksi, dan pemasaran berkelas dunia di pasar domestik. Export Co. harus go beyond national best-practice alias tak cukup puas menjadi pemain kandang. Dengan demikian mereka harus intens melakukan benchmarking ke perusahaan-perusahaan global yang beroperasi di dalam negeri dan kemudian berupaya keras untuk mencapainya (catching-up).

Bio Farma adalah salah satu contoh Export Co. yang mampu kompetitif di pasar global dengan cara membangun kemampuan berkelas dunia. Agar vaksinnya bisa dipasarkan di ratusan negara di lima benua Bio Farma harus bisa lolos sertifikasi dari lembaga-lembaga kesehatan dunia seperti WHO (World Health Organization). Kita tahu untuk lolos sertifikasi mereka tentu tidak mudah, banyak standar kualitas produk dan sistem produksi yang harus dipenuhi. Sejak 1997, Bio Farma adalah satu dari hanya 23 produsen vaksin di dunia yang telah mendapatkan prakualifikasi WHO.

OEM Co: “Join Global Value-Chain”
OEM Co. bekerja sebagai bagian dari value-chain perusahaan global lain, karena itu strategi yang harus ia kembangkan adalah menggabungkan diri ke dalam value-chain tersebut untuk menghasilkan proses bisnis keseluruhan yang paling efisien dan efektif di dunia. Di sini dua entitas perusahaan tersebut harus berintegrasi secara terpadu untuk menghasilkan rantai proses yang mulus (seamless) sehingga tercapai penciptaan nilai terbaik. Hasil dari integrasi terpadu ini adalah terwujudnya kualitas terbaik (world’s best quality), harga terendah (world’s lowest cost), dan waktu penyampaian tercepat (world’s fastest delivery).

Gambaran gamblang mengenai integrasi value-chain dan “hubungan intim” antara OEM Co. dengan perusahaan partnernya ini gamblang terlihat antara Polygon dengan perusahaan-perusahaan global yang menjadi partnernya seperti Scott atau Marin. Seperti digambarkan oleh Ronny Liyanto, Direktur PT. Insera Serna, produsen Polygon, hubungan Polygon sebagai OEM Co. dari merek-merek top dunia itu begitu dekat layaknya suami-istri. “Kami mendisain sepeda secara bersama, secara periodik mereka langsung datang ke pabrik kita di Sidoarjo untuk melakukan inspeksi dan kontrol kualitas, dan kami saling memberikan advis agar tercipta produk terbaik,” ujarnya. Perlu diketahui dalam kerjasama OEM ini Polygon mengerjakan disain dan produksi secara utuh bagi merek-merek hebt dunia tersebut.

Global Co: “Seize Californization”
Global Co. mengandalkan daya saingnya pada pembentukan citra global dan capaian kinerja global dengan memanfaatkan keberadaan operasinya di berbagai negara. Perlu diingat, citra global merupakan faktor penting bagi sebuah merek untuk bisa masuk di berbagai negara. Strategi yang bisa mereka pilih adalah memanfaatkan tren konvergensi citarasa dan gaya hidup global (global taste and global lifestyle). Kenichi Ohmae, seorang pakar globalisasi, menyebutnya dengan istilah seksi: “Californization”.

Salah satu merek lokal yang menggunakan strategi Global Co. adalah J.Co Sejak awal (bahkan sebelum masuk ke pasar luar negeri), J.Co membangun persepsi sebagai produk global dengan citra global yang sangat kental. Dari namanya, tampilan produk, bahasa dan gaya promosi, desain kemasan, hingga desain interior/eksterior gerai, terlihat J.Co memosisikan diri sebagai produk global dengan citra Barat/Amerika yang sangat kental. Dengan positioning sebagai produk global, maka J.Co menjadi begitu mudah diterima oleh berbagai pasar di seluruh dunia. Dengan kata lain, secara cerdas J.Co memanfaatkan tren Californization untuk masuk ke pasar luar negeri.

Glocal Co: “Go Local”
Capaian paripurna dari strategi pemasaran global adalah jika perusahaan mampu melakukan glocalization, yaitu sudah melokal di negara-negara yang ditargetnya. Glocal Co. adalah perusahaan-perusahaan yang sudah mampu melokalisasi (localize) produk dan layanannya sehingga sesuai dengan kondisi spesifik di pasar tujuan. Melalui aktivitas riset pasar, pengembangan produk, produksi, distribusi/pemasaran, hingga layanan purna jual di host country, perusahaan-perusahaan ini mencoba memahami karakteristik pasar negara tujuan, kemudian mengadaptasi produk dan layanan mereka hingga pas dengan kondisi lokal tersebut.

Salah satu Glocal Co. karya anak negeri adalah Indomie. Di beberapa negara Indomie sudah menjadi household brand yang dikenal luas oleh konsumen. Prestasi Indomie di percaturan dunia memang outstanding dibanding merek-merek lokal lain. Kini, lndomie bukan hanya dikenal di negara tetangga dekat seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan, tapi sudah menjangkau lebih dari 80 negara di Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga Amerika. Di Sudan dan Libanon, Indomie hampir ada di setiap toko retail dan supermarket. Untuk melayani pasar yang sedemikian luas, Indofood membangun pabrik di sejumlah negara, seperti Malaysia, Saudi Arabia, Suriah, Mesir, di samping Nigeria.

Selamat datang di Indonesia Brand Forum 2015, Balai Kartini, 20 Mei 2015.

Info:  www.indonesiabrandforum.com

 

poster for media

May 16, 2015   1 Comment

4 Posisi Global Chaser

Tanggal 20 Mei nanti bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, saya akan menggelar event besar Indonesia Brand Forum 2015 bertema “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Di situ saya akan menampilkan sekitar 25 merek-merek Indonesia yang membanggakan karena sukses menembus pasar global. Untuk mempersiapkan event tersebut saya melakukan riset hampir setahun untuk mengumpulkan merek-merek hebat tersebut, sekaligus menemukan rahasia sukses mereka menembus pasar mancanegara.

Selama melakukan riset, pertanyaan yang terus mengiang di kepala saya adalah: bagaimana strategi yang harus dijalankan perusahaan Indonesia untuk going global? Nah, untuk memetakannya, saya mencoba mengembangkan sebuah model berupa matriks 2×2 seperti tampak pada gambar di bawah. Dengan menggunakan matriks ini kita akan bisa mengetahui posisi strategis dari pemain Global Chasers. Dan mengacu pada posisi strategis tersebut kita bisa merumuskan pilihan-pilihan strategi yang harus diambil.

Matriks Global Chaser
Matriks tersebut memiliki dua parameter yang diwakili oleh sumbu vertikal dan horizontal. Parameter pertama (sumbu vertikal) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengembangkan rantai aktivitas global (global activity-chain). Rantai aktivitas ini mencakup rangkaian aktivitas perusahaan mulai dari riset pasar, pengembangan produk, pengadaan bahan baku, produksi, pemasaran, distribusi, penjualan, hingga layanan purna jual. Perusahaan dikatakan memiliki global activity-chain tinggi, jika banyak dari aktivitas tersebut dilakukan di negara-negara yang menjadi target pasar (host countries).

Parameter kedua (sumbu horizontal) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam melakukan penyesuaian produk dan layanan mengikuti kondisi dan karakteristik pasar di negara yang ditarget (global customization). Perusahaan dikatakan memiliki global customization tinggi jika perusahaan tersebut mampu menyesuaikan produk dan layanannya mengikuti kebutuhan, perilaku, karakteristik pasar di negara yang ditarget. Artinya, produk dan layanan tersebut semakin melokal di pasar tujuan.

Dengan menggunakan dua parameter tersebut, maka kita akan mendapatkan sebuah matriks dengan empat sel yang mencerminkan posisi strategis dari para global chaser. Empat posisi tersebut adalah: Export Co., OEM Co., Global Co.,dan Glocal Co. Mari kita cermati satu-persatu.

Matrks Global Chaser
Export Co. adalah global chaser yang memiliki global activity-chain maupun global customization yang rendah. Itu artinya, aktivitas perusahaan sebagian besar masih dilakukan di dalam negeri (home country), sementara produk dan layanan yang mereka pasarkan cenderung standard alias tidak disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara yang dituju. Dengan kata lain, aktivitas perusahaan jenis ini adalah memproduksi produk di dalam negeri kemudian mengekspornya ke berbagai negara. Karena kemampuan beroperasi di luar negeri yang masih terbatas, mereka hanya mengandalkan importir atau partner distribusi dari luar negeri untuk memasarkan produknya.

OEM Co. atau Original Equipment Manufacturing Co. adalah global chaser yang memiliki global activity-chain masih terbatas namun berkemampuan global customization yang cukup baik. Secara umum OEM adalah perusahaan yang memproduksi produk lengkap atau produk kompenen yang kemudian dibeli dan dipasarkan perusahaan lain dengan menggunakan merek perusahaan lain tersebut. Polygon misalnya, memproduksi sepeda tanpa merek kemudian dibeli dan dipasarkan dengan merek perusahaan lain seperti Scott atau Marin. OEM Co. Tak selalu menghasilkan produk tanpa merek. Kalau mobil Toyota menggunakan aki GS, busi NGK, atau pemutar CD/DVD Kenwood misalnya, maka merek-merek komponen itu merupakan merek OEM bagi Toyota.

Global Co. adalah global chaser yang memiliki global activity-chain yang suah cukup baik namun produk dan layanannya cenderung standar atau memiliki global customization yang masih terbatas. Perusahaan jenis ini umumnya memiliki aktivitas di operasi luar negeri yang sudah cukup bagus, baik aktivitas produksi, pemasaran, dan distribusi, bahkan riset pasar dan pengembangan produk (R&D). Global Co. memanfaatkan adanya global taste dan global preference dengan menawarkan produk yang sama (standardized product) di seluruh negara yang dimasukinya. Tujuannya adalah mendapatkan keuanggulan harga (global cost advantage) melalui tercapainya skala ekonomi (global economies of scale) yang efisien.

Glocal Co. adalah global chaser yang memiliki global activity-chain maupun global customization yang cukup baik. Singkatnya adalah perusahaan atau merek global yang melokal. Perusahaan ini umumnya memiliki operasi di berbagai negara (multi-country operation) dan di masing-masing negara tersebut produknya cukup melokal (localized). Aktivitas perusahaan ini di negara tujuan tak hanya sebatas distribusi dan pemasaran, tapi lebih jauh lagi sudah mencakup produksi, bahkan pengembangan produk dan riset pasar. Contoh paling pas dari Glocal Co. adalah Indomie. Produk mie instan kebanggaan Indonesia ini melakukan aktivitas produksi dan pemasaran di banyak negara. Di beberapa negara yang menjadi pasar utama, Indomie telah melakukan aktivitas above the line (ATL) dan below the line (BTL) yang melokal mengikuti kondisi pasar di negara tersebut.

Lalu bagaimana pilihan strategi yang bisa diambil oleh empat jenis pemain di empat posisi strategis tersebut? Sabar ya, tunggu kolom saya minggu depan.

poster for media

May 9, 2015   2 Comments

Indonesia Brand Forum 2015

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2015 nanti kami akan menggelar Indonesia Brand Forum 2015 di Rafflesia Balroom, Balai Kartini, pukul 08.00 – 17.30, yang mengangkat tema: “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia“. Konferensi yang sarat nasionalisme ini akan menampilkan sekitar 25 merek-merek membanggakan Indonesia yang sukses bersaing di pasar global. Mereka akan berbagi pengalaman bagaimana menaklukkan pasar global dan menjadi “duta bangsa” di kancah internasional. Yuk datang, berikut ini susunan acaranya:

poster for media

 

Informasi lengkap: www.indonesiabrandforum.com

May 3, 2015   No Comments

IBF 2015: Talkshow Radio SmartFM 95.9

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 4 Mei 2015, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: “Indonesia Brand Forum 2015: Global Chaser”
Guest: Rosie Dewi, BusDev. Mgr, Kelola Mina Laut

Tanggal 20 Mei nanti di Rafflesia Ballroom, gedung Balai Kartini Jakarta, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional saya akan menggelar event konferensi besar dua tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) 2015. Tagline yang selalu saya usung di event tersebut adalah “Kebangkitan Nasional Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia”. Melalui tagline tersebut saya ingin mengingatkan bangsa ini bahwa 20 Mei tak hanya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tapi juga hari kebangkitan brand nasional untuk bersaing dengan brand-brand global di pasar Indonesia maupun dunia.

IBF 2015 mengambil tema “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Intinya, konferensi ini menampilkan perusahaan-perusahaan lokal karya anak bangsa yang mampu membangun brand di pasar global. Setidaknya ada sekitar 25 brand Indonesia yang akan sharing mengenai bagaimana mereka membangun strategi untuk masuk, menciptakan daya saing, dan membangun brand di pasar global. Beberapa diantaranya adalah:

- Kelola Mina Laut (KML) mengolah kekayaan ikan menjadi produk bernilai tinggi di pasar lobal.
- Biofarma memasarkan produk vaksinnya ke 120 negara di lima benua.
- Produk nata de coco Inaco menguasai sekitar 60% pasar Jepang.
- Polygon asal Sidoarjo Jawa Timur produk sepedanya merambah pasar Eropa dan Amerika ketat bersaing dengan merek-merek kelas satu dunia.
- Kopiko produksi Mayora Group mendominasi pasar Filipina, Tiongkok, dan Polandia.
- Produsen ranjang rumah sakit canggih asal Kalasan Yogyakarta, MAK (Mega Andalas Kalasan), masuk 10 besar dunia.
- ABN (AbadiNusa), produsen alat tensi jantung dan stetoskop asal Padalarang Bandung, sukses merambah pasar di lima benua.
- Kalbe berambisi merajai pasar MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dengan merek-merek hebat seperti Deabetasol, Prenagen, dan Extra Joss.

Jangan lupa hadir di IBF 2015, 20 Mei, di Gedung Balai Kartini Jakarta.

Info: www.indonesiabrandforum.com

poster for media

May 3, 2015   No Comments

Merek, Alat Perjuangan Bangsa

Tanggal 20 Mei nanti saya memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan menggelar sebuah konferensi yang sarat dengan nilai-nilai kebangkitan nasional 1908. Acara tersebut saya sebut Indonesia Brand Forum (IBF). Di forum konferensi yang mengambil tema: “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia” itu saya akan mengundang sekitar 25 merek Indonesia hebat dan membanggakan (seperti Mayora, Kalbe, Indofood, Pertamina Pelumas, Polygon, Martha Tilaar, Sido Muncul, atau Garuda Indonesia) yang sukses bersaing di pasar internasional.

Dengan menghadirkan mereka berbagi kesuksesan, saya ingin menunjukkan bahwa bangsa ini perkasa di kancah dunia, bahwa Indonesia punya nyali dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa hebat lain di dunia. Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia bukan cuma bangsa yang bisanya gaduh (“Drama Cicak-Buaya”, “Kisruh Ahok”, “Pencidukan Novel Baswedan”, dan entah nanti apa lagi), tapi juga bangsa kerja, bangsa berkarya melalui merek-merek hebat membanggakan di atas. Melalui merek-merek lokal hebat itu sekaligus saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi bangsa besar dan dihormati di dunia.

Logo IBF

Merek = Nilai Tambah
Mungkin Anda menganggap saya edan, apa hubungannya merek dengan kebangkitan nasional? Wajar saja, karena selama ini merek (brand) identik dengan citra miring. Merek identik dengan bisnis dan marketing yang tak kenal negara dan nasionalisme… “pokoknya yang penting cuan”. Merek juga identik dengan citra kapitalis. Ya, karena merek dianggap alat bagi negara maju kapitalis untuk merongrong dan menghisap pasar-pasar di negara berkembang seperti Indonesia. Celakanya lagi, merek juga identik dengan iklan tipu-tipu produsen di TV atau koran untuk membujuk dan mengelabuhi konsumen.

Nah, persepsi miring ini harus diluruskan. Kalau diperas-peras, makna dasar dari merek (brand atau branding) adalah nilai (value atau value-added). Jadi seluruh upaya kita untuk menciptakan dan menambahkan nilai ke suatu komoditas atau produk, itulah merek (sering disebut juga: “branding” atau “brand building”). Secangkir kopi tanpa merek yang disajikan di warung-warung gang senggol dijual 3000 perak. Tapi begitu disajikan di gerai Starbucks bisa laku 30.000 perak. Kenapa? Karena Starbucks telah menambahkan nilai (value added) ke dalamnya. Apakah konsumen marah atau kecewa dengan kenaikan harga fantastis 10 kali lipat itu? Sama sekali tidak. Kenapa? Karena konsumen mendapatkan manfaat 10 kali lipat atau bahkan lebih dengan adanya suntikan nilai tersebut. Jadi merek itu mulia sekali, bukan hal miring.

Kebangkitan
Sekarang balik lagi, apa hubungan kebangkitan nasional dan merek? Kemarin malam saya kebetulan nonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto (film menyentuh kayak gini, Jokowi, seluruh menteri, dan seluruh politikus DPR harusnya wajib nonton). Menonton lebih dua jam saya serasa dibawa pada situasi tahun 1910-an dimana pemuda-pemuda intelektual kita: Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukarno, atau Semaun berjuang memeras otak untuk menjadikan Indonesia lebih sejahtera dengan cara lepas dari penjajah. Hati mereka tercabik-cabik melihat kopi, cengkeh, dan beragam hasil bumi kita diangkut ke negeri penjajah hingga menyisakan kemelaratan dan kesengsaraan rakyat. Mereka marah dicap penjajah sebagai “seperempat manusia” yang boleh seenaknya diinjak-injak. Mereka tak rela bangsanya dianggap “bangsa seperempat”.

Cokroaminoto Movie

Terus-terang sembari menghayati film tersebut di dalam gedung bioskop, otak saya terombang-ambing antara tahun 1910-an dan 2015. Ya, karena walaupun jamannya berbeda, spirit dan substansi perjuangan mereka masih sama dan relevan hingga detik ini. Setelah 70 tahun merdeka, kebangkitan untuk menjadikan rakyat sejahtera, adil, dan makmur masih tetap relevan hingga detik ini. Kebangkitan untuk menjadikan bangsa ini bangsa besar dan dihormati di dunia, bukan “bangsa seperempat” juga tetap relevan. Pertanyaan besarnya tetap sama apakah itu di tahun 1910-an atau 2015, yaitu bagaimana kita mewujudkan itu semua.

Nah, bagi saya merek merupakan “alat perjuangan” ampuh untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur jauh dari kemelaratan dan kesengsaraan. Merek juga merupkan “alat perjuangan” strategis untuk menjadikan Indonesia adidaya ekonomi dunia, bukan “bangsa seperempat”.

Alat Perjuangan
Bagaimana ceritanya merek bisa menjadi alat perjuangan bangsa? Mari kita renungkan. Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbanyak dan terenak di dunia. Coba bayangkan, apa jadinya kalau komoditas kopi di seluruh penjuru tanah air diberi nilai (di-branding) seperti yang dilakukan Starbucks, sehingga memiliki harga amat tinggi di pasar dunia? Kalau itu bisa dilakukan, maka tak hanya petani kopi yang makmur-sejahtera, Indonesia juga akan dianggap sebagai “bangsa kopi” yang disegani dunia (sejajar dengan Swiss misalnya yang dianggap sebagai “bangsa arloji” atau Jepang sebagai “bangsa elektronik”).

Itu baru kopi. Bagaimana kalau kelapa sawit, cokelat, gula, teh, palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, ikan, kuliner Nusantara dari Sabang sampai Merauke, destinasi wisata alam maupun budaya, minyak, batu bara, emas, nikel, hingga batu akik yang tersedia berlimpah di bumi pertiwi juga diberi nilai tambah melalui brand building? Pasti komoditas-komoditas tersebut akan tersulap menjadi merek yang hebat, berdaya saing kuat, dan memiliki nilai tinggi di pasar dunia. Dengan ekuitas merek yang tinggi maka kita bisa mempertahankan harga yang tinggi, tidak terombang-ambing di pasar seperti terjadi sekarang. Apakah harga Starbucks, McDonalds, atau Coca Cola terombang-ambing di pasar? Tak pernah!

Kalau kita bisa menjadikan komoditas kopi menjadi merek Kapal Api; pisang menjadi Sunpride; cokelat menjadi Silver Queen; teh menjadi Sosro; gula menjadi Gulaku; jamu menjadi Sido Muncul; maka bangsa ini akan menjadi bangsa besar. Kalau itu terwujud, maka Indonesia akan menjadi bangsa makmur dan berpengaruh di dunia dengan penciptaan nilai tambah melalui proses branding. Ingat, salah satu ciri bangsa besar adalah bangsa yang menghasilkan merek-merek tangguh di kancah global: Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, dan terakhir Korea. Itulah sebabnya saya berani mengatakan bahwa merek bisa menjadi alat perjuangan bangsa ini untuk mencapai kemakmuran.

Di IBF 20 Mei nanti, tepatnya di Gedung Balai Kartini Jakarta, saya ingin menunjukkan bahwa para brand builder kita telah berjuang, memutar otak, memeras tenaga, sampai titik darah penghabisan untuk menghasilkan merek-merek Indonesia yang disegani dunia. Bagi saya, putera-putera terbaik bangsa yang berjuang menghasilkan merek-merek hebat itu adalah juga pahlawan bangsa. Mereka adalah orang-orang hebat, yang sama berjasanya dengan Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukarno, atau Semaun. Bedanya, yang pertama untuk jaman tahun 1910-an. Yang kedua untuk tahun 2015 dan tahun-tahun berikutnya. Hidup merek Indonesia!!! check: www.indonesiabrandforum.com

May 2, 2015   2 Comments

Glocal

Glocal brand adalah istilah yang saya berikan untuk merek-merek global yang melokal di pasar yang ditujunya. Contoh paling gampang adalah merek-merek keluaran Unilever di sini seperti Rinso, Sunsilk, atau Lux. Merek-merek itu adalah merek global tapi kita di Indonesia sudah menganggapnya sebagai merek lokal karena keberadaannya di pasar Indonesia yang sudah sedemikian lama dan kita gunakan tiap hari selama belasan bahkan puluhan tahun. Karena sudah hadir demikian lama, maka merek-merek tersebut sudah layaknya merek lokal.

Bicara glocal brand di pasar Indonesia tentu saja hal biasa, karena begitu banyaknya merek global yang telah melokal di negeri ini. Di samping tiga merek di atas, sebut saja Toyota (mobil), Honda (motor), Levi’s (jean), Marlboro (rokok), Blue Band (margarin), atau Coca Cola (minuman), kini telah menjadi household brand yang begitu lekat dengan konsumen Indonesia. Tapi berbincang merek Indonesia yang melokal di pasar luar negeri tentu tak biasa. Ya, karena tak banyak merek Indonesia yang mampu mencapainya.

Setahun ini saya “berburu” merek-merek lokal yang punya cengkeraman kuat di pasar global. Ya, saya sedang riset untuk buku terbaru berjudul Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia. Dari perburuan itu saya mendapati sekitar 30 merek-merek lokal hebat yang patut dibanggakan karena capaiannya membangun merek di pasar dunia. Salah satunya adalah Indomie.

Logo IBF

Melokal
Sekitar sebulan lalu saya ketemu dengan salah seorang eksekutif perusahaan FMCG nasional yang punya operasi di Nigeria. Menarik sekali mendengar cerita si eksekutif tentang Indomie. Ada seorang warga Nigeria yang datang ke Jakarta, cerita si eksekutif. Suatu saat warga Nigeria tersebut berbelanja di sebuah supermarket dan menemui Indomie bertengger di rak gondola. Serta-merta warga Nigeria tersebut berucap, “Wow, Indomie ada juga di sini ya?”

Warga Nigeria tersebut bilang begitu karena memang Indomie sudah menjadi merek yang dikenal luas di Nigeria. Ia sudah menjadi household brand yang melokal di negeri Afrika Barat itu. Pabrik Indomie sudah hadir di Nigeria sejak 20 tahun lalu dan merupakan produsen mie instan terbesar di Afrika Barat. Dari pabrik di Nigeria ini Indomie diekspor ke berbagai penjuru dunia. Karena melakukan aktivitas pemasaran dan building brand sejak lama, Indomie sangat populer di Nigeria.

Prestasi Indomie di percaturan dunia memang outstanding dibanding merek-merek lokal lain. Kini, lndomie bukan hanya dikenal di negara tetangga dekat seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan, tapi sudah menjangkau lebih dari 80 negara di Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga Amerika. Di Sudan dan Libanon, Indomie hampir ada di setiap toko retail dan supermarket. Untuk melayani pasar yang sedemikian luas, Indofood membangun pabrik di sejumlah negara, seperti Malaysia, Saudi Arabia, Suriah, Mesir, di samping Nigeria.

Di samping Indomie, beberapa merek karya anak negeri juga telah sukses menjadi glocal brand di pasar luar negeri. Sebut saja Kopiko bikinan Mayora yang leading di Filipina, Tiongkok, dan Polandia. Ada juga Deabetasol dan Extra Joss bikinan Kalbe yang merajai pasar Filipina. Begitu juga Mixagrip dan Procold bikinan Kalbe dan Boska bikinan Dexa Medica yang sangat terkenal di Nigeria.

Tak Mudah
Membangun merek hingga melokal di pasar luar negeri tidaklah mudah. Pertama, kondisi dan karakteristik pasar luar negeri itu tidak banyak kita ketahui, butuh jam terbang dan pengalaman panjang untuk memahaminya. Kedua, pemerintah di negara yang kita target cenderung protektif dan menghalangi setiap pemain asing yang masuk. Cina misalnya, dikenal ketat melindungi industri dalam negeri dengan beragam bentuk proteksi dan regulasi. Celakanya, di kalangan merek-merek lokal, dorongan untuk melakukan ekspansi ke pasar luar negeri tak cukup tinggi mengingat pasar dalam negeri sendiri begitu besar dan jauh lebih gampang diakses.

Untuk menjadi glocal brand, aktivitas promosi above the line maupun below the line harus dilakukan secara konsisten dalam kurun waktu panjang. Indomie (Indofood) dan Boska (Dexa Medica) misalnya, sudah melakukan aktivitas pemasaran sejak awal dan pertengahan tahun 1990-an. Artinya mereka sudah sekitar 20 tahun hadir di pasar Nigeria dan konsisten berpromosi membangun merek. Tak hanya itu, dalam memasarkan merek-merek tersebut perusahaan kita juga harus melakukan promosi secara customized antara satu negara dengan negara lain. “Iklan kita di berbagai negara bisa beda-beda,” ujar Ricky Afrianto, Direktur Global Mayora yang memiliki merek-merek hebat di pasar luar negeri seperti Kopiko, Torabika, Astor, Danisa, dan Beng-Beng.

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras merek-merek lokal yang berhasil menembus pasar global, tanggal 20 Mei nanti saya akan menggelar sebuah konferensi besar Indonesia Brand Forum (IBF) di Balai Kartini Jakarta, bertajuk: “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia.” Dalam forum tersebut sekitar 25 merek Indonesia yang sukses menggarap pasar luar negeri akan berbagi cerita mengenai perjuangan mereka menggapai sukses. Sengaja event itu digelar tanggal 20 Mei, untuk mengingatkan bangsa ini bahwa tanggal 20 Mei juga bisa diperingati sebagai Hari Kebangkitan Merek Indonesia. Semoga kian banyak brand lokal yang menyusul capaian Indomie dan Kopiko.

 

April 26, 2015   2 Comments

Nobar + Ngobrolin “Filosofi Kopi” Yuk…

“Filosofi Kopi tak sekedar film, ia adalah sebuah movement” begitu kata Handoko Hendroyono, penggagas dan produser film Filosofi Kopi yang saat ini sedang tayang di bioskop tanah air. Filosofi Kopi adalah sebuah gerakan untuk mengingatkan setiap anak negeri bahawa bangsa ini adalah kampiun kopi dunia. Kita negara kaya akan kopi mulai dari kopi Luwak, Toraja, Gayo, Wamena, hingga kopi Kintamani, yang harus dilestarikan dan dikembangkan menjadi tuan rumah di negeri sendiri bahkan melanglang buana ke seluruh dunia. Indonesia harus menjadi “super power” kopi dunia.

Filosofi Kopi adalah sebuah “platform” bagi setiap upaya memajukan kopi lokal Indonesia agar tampil melambung di kancah dunia. Sebagai sebuah platform di dalamnya ada film, buku, dan games sebagai media sosialisasi, ada kedai “Filosofi Kopi” sebagai community hub, ada seminar dan workshop sebagai ajang pendidikan, ada pemberdayaan petani kopi, dan segudang kegiatan lain yang idenya bakal diperoleh melalui crowdsourcing.

Filosofi Kopi

Nah, Komunitas Memberi (memberi.org) ngajak temen-temen untuk nobar sekaligus ngobrolin ide besar ini langsung dengan sang penggagas mas Handoko. Melalui obrolan ini diharapkan akan muncul ide dan inisiatif besar untuk melambungkan kopi lokal Indonesia. Namanya juga ngobrol, kita santai-santai aja tapi tetap berisi. Acaranya digelar pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 21 April 2015
Waktu: Nobar pk 17.00 WIB; ngobrol 19.00 WIB
Tempat: Nobar di Bioskop XXI Blok M Square; ngobrol di Kedai “Filosofi Kopi”, Jl. Melawai V

Narasumber:
Handoko Hendroyono, Penggaas dan produser “Filosofi Kopi”
Ricky Afrianto, Direktur Mayora
Yuswohady (Moderator)

Yuk ikutan!!! Anyway, nobarnya bayar sendiri-sendiri ya… hehehe…

April 20, 2015   No Comments

Duta Bangsa

Tanggal 20 Mei nanti, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, untuk kedua kalinya saya akan menggelar event akbar Indonesia Brand Forum (IBF) 2015. Kalau IBF pertama tahun 2013 lalu mengambil tema “Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri”, maka IBF 2015 akan mengusung tema “Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Sementara tagline yang diambil IBF selalu sama dari tahun ke tahun yaitu: “Kebangkitan Nasional Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia”.

Di IBF yang pertama saya berupaya mengingatkan bangsa ini bahwa pasar domestik memiliki potensi yang luar biasa dengan 250 juta konsumen. Karena itu brand lokal Indonesia harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan cara menaklukkan brand-brand global yang kini menguasai bumi pertiwi. Kini, di IBF kedua saya ingin mengingatkan bahwa untuk mencapai world’s best practice, brand lokal harus menggembleng diri menjadi Global Chaser. Global Chaser adalah istilah saya untuk menyebut brand-brand lokal yang sukses menembus pasar internasional dan pawai membangun daya saing global.

Logo IBF

Selama setahun ini saya melakukan riset intensif untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan Global Chasers yang memiliki prestasi membanggakan. Saya mewawancarai para CEO dan jajaran eksekutif perusahaan-perusahaan ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana sepak-terjang mereka menembus pasar global. Hasilnya, cerita-cerita menarik dan strategi ampuh mereka untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang kemudian saya rangkum dalam buku baru Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia yang akan saya luncurkan di situ. Dan sekitar 30 Global Chaser brands hasil riset saya tersebut akan tampil sharing di IBF 2015.

Sebelum bukunya terbit, saya ingin memberikan bocoran beberapa global chaser merah putih yang memiliki prestasi membanggakan dan bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan nasional lain. Berikut ini beberapa diantaranya.

Mayora memiliki brand-brand ampuh seperti Kopiko, Torabika, Astor, Danisa, atau Beng Beng yang menjamah banyak negara. Kopiko misalnya, tak hanya menguasai pasar permen kopi nasional tapi juga menjadi pemimpin pasar di Filipina, Tiongkok, dan Polandia. Mayora pantas disebut perusahaan global mengingat porsi pendapatan dari pasar luar negeri hampir mencapai 40% dari total omset.

Kalbe adalah pemain lain yang berpotensi menjadi “juara MEA” alias memimpin pasar Asean (Masyarakat Ekonomi Asean) dengan brand-brand hebat kebanggaan bangsa seperti, Deabetasol yang menjadi pemain utama di Filipina dan Myanmar, Extra Joss yang menguasai pasar Filipina, Mixagrip yang perkasa di Nigeria, atau Woods, Milna, Prenagen, dan Morinaga. Seperti halnya Mayora, Kalbe layak menyandang pemain global/regional. “Karena setiap kali mengeluarkan brand baru, dari awal kami selalu berpikir bahwa brand tersebut dipasarkan di tingkat global terutama Asean, jadi bukan hanya untuk pasar Indonesia,” ujar Diny Elvirani, salah satu manajer yang menangani pasar luar negeri.

MAK (Mega Andalan Kalasan), produsen ranjang rumah sakit dan medical equipment asal Kalasan Yogyakarta adalah “the truly global champion”. Kualitas produk, teknologi, dan peralatan produksi yang digunakan merupakan salah-satu yang terbaik di dunia. Saat berkunjung ke failitas workshop-nya tahun lalu saya terpukau luar biasa, di tengah keheningan desa Kalasan terdapat sebuah science park yang modern, berteknologi tinggi, dan berkualifikasi kelas dunia. “Kini kami sedang melakukan joint R&D dengan Jepang untuk menghasilkan produk yang kami pesarkan bersama ke seluruh dunia,” ujar Buntoro sang perintis. Yang membanggakan, kini MAK merupakan pemain sepuluh besar dunia.

Indofood memiliki flagship product Indomie, yang tak hanya dominan di dalam negeri tapi juga perkasa di pasar mancanegara. Rasa Indomie memang ngangenin, itu sebabnya warga kita yang bermukim di luar negeri mrindukan makan Indomie. Ini merupakan promosi word of mouth luar biasa yang menjadikan brand Indomie kuat di bertbagai negara. Tapi Indomie tak hanya populer di kalangan konsumen Indonesia di luar negeri. Di Nigeria misalnya, brand ini juga begitu kokoh dan sangat populer di kalangan warganegaranya. Seorang teman eksekutif pemasaran yang rutin mengunjungi Nigeria mengungkapkan cerita lucu. Ujar si teman, ada seorang warga Nigeria berkunjung ke Jakarta dan mendapati Indomie di sebuah supermarket. “Lho Indomie kan bikinan asli Nigeria, kok ada di sini,” seloroh si warga Nigeria spontan.

Inaco, produsen nata de coco kebanggaan Indonesia, menembus pasar Jepang secara berkelok-kelok dengan cara merintis pasar Taiwan terlebih dahulu. Diawali dengan memenuhi permintaan mitra kerja di Taiwan, Inaco menempa diri membangun kualitas. Begitu yakin telah mencapai global quality excellence dengan sigap ia pun masuk pasar Jepang yang dikenal memiliki standar kualitas amat tinggi untuk produk-produk impor yang masuk ke pasar Jepang. Melalui kerja keras belasan tahun akhirnya kini Inaco mampu mencapai sukses membangakan. “Kami bisa menguasai sekitar 60% pangsa pasar nata de coco di Jepang,” ujar Erijanto, salah satu pendiri Inaco.

Polygon tak mau kalah. Setelah sebelumnya menjadi “aktor utama” di balik merek-merek top dunia seperti Scott, Kuwahara, Mustang, Avanti, Kona, atau Marine melalui skema OEM (original equipment manufacturing), kini Polygon mulai membangun mereknya sendiri. Tak hanya menarget pasar dalam negeri, Polygon langsung ekspansif menggarap pasar-pasar di negara-negara maju Eropa dan Amerika dengan berpromosi dan membangun jaringan distribusi. Kini misalnya, Polygon sedang agresif menggarap pasar-pasar tersulit seperti Jerman, Perancis, dan Amerika.

Pertamina Pelumas agresif melakukan ekspansi global sejak lima tahun terakhir dengan masuk di pasar-pasar Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Inisiatif terakhir Pertamina Pelumas cukup membanggakan dengan menggandeng brand top dunia Lamborgini. Melalui kemitraan tersebut Fastron menjadi pelumas resmi mobil balap Lamborghini selama lima tahun ke depan. Hingga tahun 2019 mobil-mobil Lamborghini akan menggunakan Fastron dalam balapan Super Trafeo (18 seri per tahun) dan balapan GT 3 (5 seri).

Saya angkat topi kepada brand-brand nasional hebat di atas yang berkontribusi luar biasa dalam mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Dulu sebelum ada Sony, bangsa Jepang dilecehkan negara Barat karena dianggap sebagai bangsa yang hanya mampu membikin produk dan brand kelas kambing. Tapi berkat perjuangan Akio Morita, sang perintis, persepsi negatif itu dijungkir-balikkan. Begitu pula sebelum ada Samsung-Hyundai, Korea Selatan dianggap sebagai bangsa kelas teri. Tapi kehadiran kedua brand hebat tersebut menjadikan Korea sebagai bangsa kelas satu dengan produk dan brand kelas satu.

Saya terus berdoa agar brand-brand anak negeri di atas menjadi “the next Sony” atau “the next Samsung” bagi bangsa Indonesia. Brand-brand tersebut adalah duta bangsa. Duta yang telah mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Viva brand Indonesia!!!

April 18, 2015   3 Comments