Category — My Articles
Love Is Empathy
Twitter: @yuswohady
Ini adalah minggu ketujuh saya menulis seri tulisan Twitter Marketing Is LOVE Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui Twitter. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di Twitter akan sukses kalau Anda terus MENEBAR CINTA kepada konsumen di Twitter. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang keenam yaitu: “Love Is Empathy”.
Definisi paling gampang dari empati (dari kata jerman: “Einfühlungsvermögen”) adalah kemampuan kita dalam berbagi dan merasakan perasaan (sedih, gembira, atau bimbang) yang dialami oleh orang lain. Ketika Anda mencintai orang lain maka pasti Anda akan empati kepadanya. Ketika orang yang Anda cintai merasakan kesedihan Anda akan ikutan sedih; ketika ia riang-gembira maka Anda serta-merta ikutan senang-gembira; begitupun kalau orang yang Anda cintai itu galau, maka Andapun akan kesetrum ikut-ikutan gundah gulana. [Read more →]
May 14, 2011 1 Comment
Love Is Caring
Ini adalah minggu keenam saya menulis seri tulisan Twitter Marketing Is LOVE Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui Twitter. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di Twitter akan sukses kalau Anda terus MENEBAR CINTA kepada konsumen di Twitter. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang kelima yaitu: “Love Is Caring”.
Hakikat cinta adalah peduli, caring. Ketika Anda tidak care kepada istri-suami, pacar, anak, kerabat, atau siapapun yang Anda cintai, maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka. Begitupun jika Anda tidak care dengan followers dan konsumen Anda di Twitter maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka.
Banyak kalangan yang mengatakan Twitter marketing dikatakan sukses jika kita punya puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan followers. Saya bilang salah besar. Tak ada gunanya kita punya ratusan ribu followers jika kita tak tahu siapa mereka, kita tak pernah curhat-curhatan dengan mereka, dan kita tak pernah mendengarkan mereka. Tak ada gunanya kita punya jutaan followers jika tak pernah sedikitpun kita care kepada mereka, dan tak pernah kita melayani mereka. [Read more →]
May 7, 2011 5 Comments
Love Is Sharing
Twitter: @yuswohady
Ini adalah minggu kelima saya menulis seri tulisan Twitter Marketing Is LOVE Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui Twitter. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di Twitter akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada konsumen di Twitter. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang keempat yaitu: “Love Is Sharing”.
Ketika kita punya sesuatu, dan sesuatu itu kita kangkangi, kita monopoli, dan tak sudi berbagi, maka itu sesungguhnya adalah puncak dari keegoisan kita. Cinta tak pernah egois. Cinta tak pernah mementingkan diri sendiri. Cinta yang tulus selalu fokus pada siapapun yang kita cintai: apakah pacar, istri/suami, anak-anak kita, juga tentu Tuhan. Cinta adalah memberi. Cinta adalah berbagi. Mother Teresa menjadi ikon cinta-kasih, karena ia mendedikasikan dirinya untuk orang lain. Mother Teresa menebar cinta dengan “membagikan” hidupnya untuk kaum papa. [Read more →]
April 30, 2011 1 Comment
Love Is Listening
Twitter: @yuswohady
Ini adalah minggu keempat saya menulis seri tulisan Twitter Marketing Is LOVE Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui Twitter. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di Twitter akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada konsumen Anda di Twitter. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang kedua yaitu: “Love Is Listening”.
Perbedaan utama media horisontal seperti Twitter dengan media vertikal seperti TV, radio, atau majalah adalah bahwa media baru ini dapat mendengar (listening). Televisi dan radio adalah “kotak bebal” yang tidak bisa mendengar. Televisi, radio, koran, bahkan billboard di pinggir-pinggir jalan adalah media yang piawai dalam ngomong, tapi tak memiliki kemampuan sedikitpun untuk mendengar.
Apa jadinya Anda jika bisanya cuma ngomong doang tanpa bisa dan tanpa pernah mau mendengarkan? Anda akan menjadi “vampire” yang tak punya emosi, tak pernah bisa mengerti, dan tak mampu berempati. Kalau sudah begitu maka kita menjadi mahluk yang tak punya “hati”. Kita akan kehilangan harta karun paling berharga: sisi kemanusiaan kita. [Read more →]
April 26, 2011 1 Comment
Dunia Narsis Briptu Norman
Sebelum klip Chaiya-Chaiya itu nongkrong di YouTube, Briptu Norman adalah polisi biasa yang tidak kita kenal. Tapi begitu klip diunggah, dan kemudian ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, maka sejak itu “BOOOOM!!!”… sang Briptu menjadi idola kita semua.
Mendadak sontak koran-koran, tabloid-tabloid gosip, infotainment-infotainment, kepolisian tempat sang Briptu bekerja, acara-acara talk show telivisi, perusahaan-perusahaan rekaman, seperti kesurupan ikutan “numpang beken” sang Briptu. Semua berlomba agar kebagian rezeki “tenar semalam” sang Briptu. Maka cerita selanjutnya bisa ditebak: eksploitasi membabi-buta pun tak terelakkan lagi.
Kini, dengan adanya media baru HORISONTAL macam YouTube siapapun orang (dari murid SMP, ibu rumah tangga, guru SD inpres, hingga jendral bintang lima) bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, rasa sedih, senang, atau takjub dengan begitu gampangnya.
Tinggal tulis lalu taruh di blog; tinggal potret lalu taruh di situs Flickr; tinggal rekam suaranya lalu taruh pakai podcast; tinggal rekam gambarnya pakai smartphone lalu taruh di YouTube… seperti Briptu Norman. Begitu ditaruh… “BOOOOM!!!” serta-merta jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia melihatnya.
Selamat datang di era yang kian memanjakan kebebasan berekspresi individu!!! Selamat datang di jaman di mana siapapun kita bisa dan boleh tampil!!! Selamat datang di dunia yang kian narsis!!! Welcome to the NARCISSISTIC world!!! [Read more →]
April 21, 2011 2 Comments
Twitter Marketing Is Love Marketing
Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini saya ngetwit. Yup… tweeting with deep passion. Kapanpun, dimanapun saya ngetwit. Pas lagi baca ngetwit, pas lagi nulis ngetwit, pas lagi nonton Glee ngetwit, pas lagi meeting ngetwit (huzzz.. kebiasaan buruk baru saya, karena tak menghargai rekan meeting), pas nglembur kerjaan sampai Subuh masih juga ngetwit, nyetir curi-curi ngetwit. Bahkan seringkali saya mimpi pun lagi ngetwit. Nggak takut “Twitter addict”? Emang gua pikirin!!!
Menikmati, menyelami, menghayati twit demi twit saya selama tiga tahun terakhir, akhirnya saya menemukan “roh” dan “hakikat” kenapa saya begitu passionate untuk ngetwit. Saya mulai menemukan “reason for being” kenapa saya ngetwit. Saya mulai menemukan “fundamental purpose” kenapa saya ngetwit. Saya menemukan “ultimate answer” kenapa saya ngetwit. Apa itu? Satu kata: CINTA.
Selama tiga tahun terakhir juga saya serius mempelajari dan menekuni Twitter untuk bisa diterapkan dan dimanfaatkan di dunia marketing. Saya bereksplorasi dan bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu marketer membangun relationship dan keintiman dengan konsumen. Saya bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu brand curhat dan dicurhati oleh konsumennya “around the clock” 24-7. Apa jawaban paripurna yang saya peroleh? Sama. Satu kata: CINTA.
Karena itu saya sampai pada kesimpulan final bahwa: “Twitter Marketing Is Love Marketing”. Bagaimana Anda bisa meyakinkan komunitas konsumen di Twitter untuk membeli produk Anda. Bagaimana Anda bisa menjadikan komunitas konsumen di Twitter sebagai passionate evangelist Anda? Bagaimana brand Anda bisa punya hubungan emosional (bahkan spiritual) dengan dengan komunitas konsumen di Twitter? Jawabnya cuma satu: yaitu jika Anda selalu (24-7) menebar CINTA di jagad Twitter.
Bagaimana Anda bisa menebar CINTA di Twitterland? Saya punya 8 prinsip bagaimana menjalankan love marketing di Twiterland. Mari kita simak satu persatu. [Read more →]
March 26, 2011 9 Comments
Horizontal Mobile Marketing
Hampir tiga tahun lalu saat saya menulis “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”, (yes… buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “Blackberry revolution” (“smartphone revolution”) terjadi. Ini kemudian disusul tahun lalu dengan gelombang revolusi baru yang tak kalah hebat yaitu: “iPad revolution” (yup… “tablet revolution”)
Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet seperti “dipindahkan” ke smartpone dan tablet di genggaman kita. Ketika social media content seperti Facebook, Twitter, YouTube, atau Groupon bisa dipindahkan ke smartphone/tablet maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Saya menyebutnya horizontal mobile marketing atau untuk pendeknya sebut saja: H-mm. Karena itu tak salah kalau Telkom begitu berani mereposisi dirinya untuk “go mobile” dengan tagline-nya yang challenging: “The World in Your Hand”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”. [Read more →]
March 13, 2011 2 Comments
Menjual Jazz
Tiga hari 4, 5, 6 Maret ini adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu di tahun 2011 ini, karena gelaran Java Jazz datang lagi. Tahun ini sangat istemewa karena maestro gitar dunia Carlos Santana akhirnya berhasil didatangkan di Java Jazz. Hari jumat lalu, jam 3 sore saya sudah di lokasi (padahal pertunjukkan pertama dimulai jam 5) untuk “berburu panggung” maestro jazz kelas dunia. Di hari pertama Java jazz saya dapat Ron King Big Band, Roy Hargrove Quintet, Fourplay, Corinne Bailey Rae, dan tentu saja Santana… puassss. Tulisan inipun saya bikin di sela-sela saya “berburu panggung” di area Java Jazz Kemayoran.
Setelah tujuh kali digelar, kini Java Jazz telah menunjukkan taringnya. Brand-nya kian kokoh dan Java Jazz kini sudah punya customer base yang kokoh tak hanya dari dalam negeri tapi juga mancanegara. Saya kaget mendengar paparan bos besar Java Jazz Festival 2011, Peter Gontha, tiga hari lalu. Dengan optimis sang impresario jazz handal ini mematok target 120 ribu penonton untuk gelaran Java Jazz tahun ini. “Sampai hari ini (Rabu, 2/3), tiket yang terjual sudah hampir 100 ribu lembar,” ujarnya.
Kalau target ini tercapai, maka bisa jadi tak lama lagi Java jazz akan menjadi salah satu event jazz terbesar di dunia. Harap tahu saja, tiga hari penyelenggaraan North Sea Jazz Festival (Belanda) “hanya” dikunjungi oleh 70-an ribu penonton. Monterey Jazz Festival (AS) yang sudah berusia 53 tahun “cuma” dikunjungi 40 ribu penonton untuk 3 hari event. Memang Java Jazz masih kalah dari Montreux Jazz Festival (Swiss) yang mampu menggaet 200 ribu penonton untuk 3 hari event. Montreal International Jazz Festival yang merupakan event jazz terbesar di dunia saat ini mampu mengumpulkan 2,5 juta penonton tapi untuk 10 hari event. [Read more →]
March 6, 2011 1 Comment
Social Media Marketing for SME
Twitter: @yuswohady
Tulisan ini dibikin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung kemarin siang (26 Februari 2011). Kebetulan sorenya saya sharing dengan teman-teman pelaku usaha kecil-menengah (UKM) dalam sebuah seminar bertajuk, “Social Media Marketing for Small Medium Enterprise (SME)” yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas Akademi Berbagi (Akber) bareng Detik.com dan Telkom Indonesia. Untuk mempersiapkan presentasi saya melakukan survai kecil mengenai topik ini, maka sekalian saja saya sharing hasil-hasil pikiran saya tersebut dengan para pembaca Sindo.
Terus terang saya bernafsu mengkaji topik ini karena memang media sosial (social media: “socmed”) memiliki kekuatan super ampuh dalam “memerdekakan” UKM. Media sosial telah memicu terjadinya apa yang saya sebut “democratization of resources” bagi UKM. Kenapa begitu? Karena kehadiran social media tools seperti blog, Facebook, Twitter, YouTube yang murah (praktis gratis..tis..tis) menjadikan UKM mampu melakukan kegiatan promosi, customer service, riset dan pengembangan produk, atau penjualan dengan sangat murah, tapi dengan hasil yang sangat efektif (“low budget high impact”). [Read more →]
February 26, 2011 10 Comments
Model Bisnis Horisontal Ala Google
Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.
Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para Googlers (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.
#1. Be a Platform; Not Only Product
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads. [Read more →]
August 17, 2010 12 Comments







