Category — Political Marketing
Authentic vs Gincu
Saya sebut “authentic branding” karena senjatanya adalah authenticity. Saya sebut “gincu branding” karena senjatanya gincu. Authenticity adalah sesuatu yang orisinil, tak dibikin-bikin, penuh kepolosan, penuh kejujuran, penuh keikhlasan, nir-rekayasa. Sementara gincu adalah lambang kepalsuan. Ya, karena dengan gincu wanita yang jelek bisa disulap menjadi cantik. Dengan gincu, yang polos menjadi menor. Dengan gincu keindahan bisa dipalsukan.
Di ranah branding politisi, saya berani berteriak: “Wahai para calon bupati, para calon walikota, para calon gubernur, para calon anggota DPR, juga tentu calon presiden, gunakanlah authentic branding”. Saya juga lantang berkoar: “Wahai para bupati, para gubernur, para anggota DPR, juga presiden, enyahkan jauh-jauh gincu branding. Enyahkan jauh-jauh kepalsuan, kemunafikan, politiking, dan perekayasaan dalam melakukan komunikasi politik dan membangun personal brand.”
Untuk menjelaskan apa itu authentic branding dan gincu branding ada baiknya saya menggunakan contoh-contoh yang gampang dan mudah dicerna. [Read more →]
December 22, 2012 9 Comments
Pilkada Jakarta: Suara Kelas Menengah
Penulis: Hasanuddin dan Yuswohady
Penentuan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta tinggal menunggu waktu beberapa saat saja. Genderang perang kampanye dari dua kandidat yang lolos putaran dua, pasangan Fauzi Bowo/Nachrowi Ramli dan Joko Widodo/Basuki Tjahja Purnama, telah ditabuh. Berbagai upaya dilakukan oleh dua kandidat tersebut untuk meraih simpati dan suara sebanyak-sebanyaknya dari pemilih Jakarta.
Banyak pihak melihat bahwa Pilkada Jakarta penting dalam konteks kehidupan demokrasi di Indonesia, bukan saja posisi Jakarta sebagai ibukota negara, tapi juga karena Jakarta dianggap sebagai miniatur Indonesia. Selain itu karakter pemilih Jakarta juga penting dianalisis karena memiliki keunikan dibanding daerah lain, baik dari sisi demografis, ekonomi, maupun sosial budaya.
Didominasi Kelas Menengah
Berdasarkan Sensus Penduduk BPS 2010, penduduk Jakarta diperkirakan mencapai 9,6 juta jiwa. Berbeda dengan struktur demografi daerah lain, 73% penduduk Jakarta berusia di bawah 40 tahun. Katakanlah yang memiliki hak pilih adalah yang berusia 17 tahun ke atas, maka pemilih Pilkada DKI sangat didominasi kalangan muda, yaitu 65,6% untuk penduduk yang berusia 17-40 tahun.
Dari sisi sosial ekonomi, penduduk Jakarta juga berbeda dengan karakteristik penduduk Indonesia secara umum. Bila GDP (gross domestic product) perkapita penduduk Indonesia tahun 2011 sebesar US$ 3,542, maka GDP perkapita Jakarta sebesar kurang lebih US$ 10,000. Dengan GDP perkapita sedemikian besar, maka penduduk Jakarta secara strata sosial ekonomi didominasi oleh kelas menengah. Pemilih ini rasional, tidak ideologis, dan cenderung apatis terhadap politik.
Begitu halnya dengan etnis, penduduk Jakarta juga multi-etnik. Menurut hasil sensus penduduk BPS tahun 2000, etnis Jawa di Jakarta mencapai 35,16%, Betawi 27,65%, Sunda 15,27%, dan sisanya etnik lain-lain. Dengan komposisi etnis tersebut, Jakarta merupakan rumah bagi seluruh etnis di Indonesia. Mau mencari etnis apapun di Jakarta pasti kita akan bisa mendapatkannya.
Awareness, Image, Engagement
Menghadapi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta ini, Alfara/Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS) melakukan studi terkait dengan aspirasi pemilih muda dan kelas menengah di Jakarta. Studi ini bersifat independen dan tidak dibiayai oleh pihak manapun. Studi ini dimaksudkan untuk menyuburkan tumbuh kembangnya keilmuan politik berbasis riset di Indonesia.
Survei ini tidak sekedar mengukur popularitas dan elektabilitas kandidat semata, tapi juga ingin menemukan alat ukur baru yang mampu memotret performa kandidat lebih mendalam. Lebih jauh lagi survei ini juga berupaya memotret aspirasi politik kelas menengah Jakarta, karena kita tahu bahwa pemegang suara mayoritas pemilih di Jakarta adalah kelas menengah.
Survei dilakukan terhadap 250 responden dengan margin of error 6,1%. Responden berusia 17-49 tahun dengan tingkat pengeluaran rutin bulanan di luar kredit di atas Rp 1,75 juta. Wawancara terhadap responden dilakukan pada tanggal 6-12 September 2012 atau sekitar satu setengah minggu sebelum pelaksanaan pemungutan suara.
Dalam survei ini kami mengukur seberapa besar tingkat elektabilitas seorang kandidat, yang di wakili variabel Candidate Electability (CEl), dipengerahui oleh variabel-variabel Candidate Awareness (CA), seberapa kuat para pemilih mengenal kandidat. Candidate Image (CI), seberapa baik persepsi pemilih terhadap kandidat. CI diukur berdasar persepsi terhadap kualitas dan kapabilitas setiap kandidat. Candidate Engagement (CEng), mengukur seberapa kuat kedekatan hubungan antara pemilih dan kandidat.
Jokowi Unggul
Berdasarkan empat variabel tersebut terlihat jelas JOKOWI unggul di pemilih kelas menengah Jakarta. Dengan menggunakan skala 1-6, terlihat bahwa FOKE hanya bisa mendekati JOKOWI di variabel Candidate Awareness. Sementara di variabel yang lain, rentang nilai antara FOKE dan JOKOWI semakin tinggi.
Faktor kedekatan kandidat dengan pemilih menjadi faktor kunci kemenangan seorang kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta. Dari grafik di samping terlihat bahwa variabel Candidate Engagement memiliki pengaruh tertinggi (74,1%) terhadap tingkat elektabilitas (CEl) kandidat gubernur dibanding dua indikator lainnya. Bandingkan dengan variabel Candidate Awareness yang hanya berpengaruh 10,3% dan Candidate Image yang memberi pengaruh 15,6% terhadap tingkat elektabilitas seorang kandidat.
Artinya seorang kandidat tidak cukup memiliki popularitas dan citra yang baik, tapi untuk memenangkan Pilkada Jakarta, seorang kandidat harus mampu membangun hubungan kedekatan dengan pemilih. Dari data ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa kunci keunggulan JOKOWI adalah dia lebih berhasil membangun simpati, kedekatan, dan hubungan yang hangat dengan pemilih dibandingkan dengan FOKE.
Semakin mendekati hari H pencoblosan ternyata kelas menengah Jakarta sudah memutuskan siapa yang akan dipilih nantinya, hanya 7,77% pemilih yang belum menentukan siapa yang akan dipilih pada pencoblosan nanti. Dan dari yang sudah menentukan pilihannya, 51,81% akan memilih pasangan Joko Widodo/Basuki Tjahja Purnama dan 40,41% akan memilih Fauzi Bowo/Nachrowi Ramli.
Secara umum, persaingan antara FOKE dan JOKOWI di putaran kedua ini semakin ketat, terutama dalam memperebutkan suara kelas menengah. Masing-masing kandidat masih memiliki peluang untuk menang, perbedaan perolehan suara diprediksi akan tipis, pemenang Pilkada Jakarta ini ditentukan oleh seberapa besar kandidat mampu “membujuk” kelas menengah untuk datang ke TPS dan memilih mereka. Karena itu segala kemungkinan masih bisa terjadi sebelum pemilih memasuki TPS pada saat pemilihan berlangsung.
Hasanuddin, Chief Research Officer, Alfara
Yuswohady, Senior Researcher, Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS)
September 18, 2012 2 Comments
Marketing Al Amin vs. Marketing Pencitraan
Pilkada DKI putaran pertama telah lewat. Bagi saya yang menekuni bidang marketing, kemenangan Jokowi-Ahok menyimpan sebuah pelajaran berharga yang bisa kita pakai untuk berkaca. Sejak ajang pemilihan kepala negara, legislatif, dan daerah tersulap menjadi sebuah industri yang bergelimang rupiah, marketing capres/caleg/cagub-bup kepada para stakeholders-nya dimaknai secara sempit sebagai proses pencitraan (image building).
Celakanya, proses pencitraan sendiri di dunia politik telah mengalami pemerkosaan dan pembusukan. Begitu mendengar “pencitraan” maka yang keluar di benak adalah pemolesan, pembedakan, atau penggincuan. Dari caleg koruptor di mata publik dipoles menjadi malaikat. Dari capres yang aktivitas bisnisnya menyengsarakan rakyat dibedaki tebal dengan aktivitas social responsibility yang meneduhkan. Dari cagub pemarah dan suka tersingung diberi gincu merah-merona menjadi sosok murah senyum dan penyabar. Dengan pencitraan, semua bisa diperoleh secara instan asal ada duit. Kalau sudah begitu lalu marketing disalahartikan sebagai pembohongan publik. [Read more →]
July 21, 2012 5 Comments
Brand Politisi
Beberapa bulan terakhir ini banyak brand para politisi yang gonjang-ganjing, flop. Sebabnya kita semua tahu, nggak jauh-jauh dari urusan korupsi, sogok-menyogok, penyalahgunaan wewenang, hingga politik uang. Yang sedang hot tentu saja kasus korupsi dan sogok-menyogok Wisma Atlet Sea Games. Politisi-politisi ternama tersangkut: Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, I Wayan Koster, dan lain-lain.
Di antara para politisi selebritas itu ada yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, ada yang belum, tapi oleh publik sudah dihakimi menjadi “tersangka”, “terdakwa”, bahkan sudah divonis “bersalah”. Dan celakanya, wisdom of crowd itu sudah dianggap sebagai kebenaran umum, tanpa si politisi mampu menangkalnya. Siapa bisa mengalahkan hegemoni opini publik? [Read more →]
February 18, 2012 2 Comments
Seminar Marketing Politik IMA Makasar
Hari ini 7 maret 2009, saya, Dr Firmansyah dari UI, dan Dr Muhhamad Akbar dari Unhas menjadi pembicara seminar bertopik “Marketing Politik” yang diselenggarakan IMA Chapter Makasar. Berikut ini saya upload materi presentasi saya, temen-temen yang mau mendownload silahkan, gratis…tis…tis
March 7, 2009 4 Comments
Blackberry Obama
Akhirnya muncul keputusan Gedung Putih Obama tetap boleh menggunakan gadget kesayangannya, Blackberry. Memang masih belum begitu jelas sejauh mana dan kepada siapa dia boleh menulis email atau posting di blog-nya. Yang jelas Gedung Putih dan Pentagon telah menyisipi perangkat lunak khusus untuk menyensor lalu lintas pesan dari dan ke Blackberry Obama.
Seperti kita tahu, sebelumnya Obama terancam tidak bisa lagi menggunakan Blackberry-nya karena adanya Presidential Records Act yang mengharuskan seorang presiden tidak boleh sembarangan mengirim dan menerima email karena alasan keamanan negara.
Bagi kita yang “merasa memiliki” Obama, tentu saja ini kabar bagus. Itu berarti Obama adalah “presiden horizontal pertama” dalam sejarah umat manusia. Dia akan bisa ”stay in touch” dengan stakeholder-nya. Dia bisa terus mendengarkan keluh-kesah rakyatnya (istilah kerennya: ”listen to the voice of customers”). Dia juga bisa melakukan conversations, berdiskusi, dan meminta pertimbangan dari teman-temannya untuk suatu permasalahan yang pelik (ingat:” WE are smarter than ME”).
Inilah jaman horisontal, presiden pun harus menjadi horisontal. Dulu pak Harto jatuh salah satunya karena arus informasi dari dan ke pak Harto banyak mengalami distorsi. Distorsi oleh orang-orang dekatnya (Harmoko and friends). Sehingga pak Harto buta terhadap aspirasi rakyat yang berkembang. Karena buta, keputusan yang dia ambil pun blunder melulu.
Hal ini diulang lagi di jaman Gus Dur. Karena memang penglihatannya kurang begitu bagus Gus Dur banyak mengandalkan informasi dari para pembisik. Celakanya para pembisik ini beraneka ragam interest politiknya. Sehingga informasi yang sampai ke Gus Dur terdistorsi: dipluntir kanan-kiri. Maka sekali lagi banyak kebijakannya blunder dan bolong di sana-sini.
Dengan menggunakan Blackberry, blog, YouTube, dan mungkin FB untuk mendengarkan aspirasi dan melakukan conversation dengan stakeholder-nya maka Obama memasuki era baru komunikasi politik seorang presiden. Dengan mengambil manfaat dari adanya collective wisdom dari para stakeholder-nya dalam proses pengambilan keputusan maka Obama telah melakukan “creative destruction” dalam praktek pengelolaan negara.
Kalau dalam CROWD saya mengatakan bahwa dengan adanya web 2.0 tools bisnis dan marketing mengalami “horisontalisasi” dan “demokratisasi”. Pertanyaannya: Apakah hal yang sama akan terjadi pada proses komunikasi politik presiden dan praktek pengelolaan negara?
Di sini, Obama akan menjadi ”laboratorium” yang menarik untuk diamati…
January 28, 2009 4 Comments
Oh… Kasihan Kau Obama
Wow…Amazing!!!
Inaugurasi Obama demikian megah, penuh gebyar, bersejarah, melegenda.
Dua juta hadirin di National Mall; dua miliar penonton TV di seluruh dunia.
$40 juta total biaya untuk prosesi inaugurasi.
Bible pelantikan yang pernah dipakai Abraham Lincoln
Biyonce, Bono, Stevie Wonder, Aretha Franklin, John Williams, Yo-Yo Ma.
Pidato karismatis dan emosional, “Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America,” Ucapnya.
Obama begitu dielu-elukan, disanjung, dipuja, dikagumi.
Ikon karismatis telah lahir.
Tapi…
Sanjungan, pujaan, kekaguman hanyalah satu sisi saja dari mata uang.
Sisi yang lain adalah beban maha berat yang harus ia emban.
Begitu besar harapan ditumpahkan kepadanya untuk merubah Amerika dan dunia.
Ia sudah terlanjur kita nobatkan sebagai “malaikat penyelamat” bagi Amerika… dan Dunia. Ia sudah terlanjur kita nobatkan sebagai ”superman” yang akan menyelesaikan semua persoalan kita.
Sebagai sebuah brand, Obama sudah terlanjur over promise…
Dan ketika promise terlanjur diobral-obral — dari saat pertama kali dia berkampanye hingga detik-detik terakhir pidato inaugurasinya — maka ekspektasi masyarakat Amerika dan dunia pun terdongkrak setinggi langit.
Inilah problem terbesar Obama.
Bisakah dia ”deliver what he promise”?
Begitu tidak (Cek 100 hari pertamanya!!!), maka habislah brand yang awalnya demikian gemerlap.
Pesta Obama telah usai.
Kini saatnya cuci piring… (George W. Bush memang sontoloyo!!!)
Beban berat menggelantung: Krisis dunia, Gaza, Lobi Zionis, Afganistan, Nuklir Korea Utara, Krisis pangan, global warming dsb-dsb… bejibun.
Oh… Kasihan kau Obama.
January 22, 2009 3 Comments
Selamat… Obama TIME’s Person of the Year 2008
*) Adapted from CROWD: “Marketing Becomes Horizontal” by Yuswohady
Ya… selamat buat Obama menjadi TIME’s “Person of the Year 2008″. Lihat TIME edisi minggu ini.
Bagi kita para marketer, Obama hebat karena ia adalah “GREAT HORIZONTAL MARKETER” (dan disebutkan ini salah satu alasan kenapa TIME memilihnya). Saya menyebut dia sebagai “GRASS ROOT MARKETER“.
Langkah cerdas pertama Obama menjalankan strategi kampanyenya yang “HORIZONTAL” adalah ketika dia menunjuk Chris Hughes—salah satu pendiri Facebook yang sering dijuluki “online orginising guru”—untuk menjadi “juru kampanye” di jagat maya internet khususnya melalui media jejaring sosial (social network).
Diinspirasi kesuksesan situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, dan YouTube, Chris merancang My.BarackObama.com (selama kampanye dikenal dengan sebutan seksi “MyBo”) yang dijadikan epicentrum dari keseluruhan strategi Obama menggaet massa melalui komunitas dunia maya.
Melalui situs MyBarackObama.com inilah “keajaiban Obama” bermula.
December 30, 2008 3 Comments
Obama dan “Facebook Effect”
“One of my fundamental beliefs from my days as a community organizer is that real change comes from the bottom up. And there’s no more powerful tool for grass-roots organizing than the Internet.” — Barack Obama
Saya punya rumus ampuh E = wMC2. E dalam rumus itu saya sebut sebagai “energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Dan wM adalah = word of mouth, yaitu promosi mulut ke mulut berupa rekomendasi atau referal konsumen baik disampaikan secara fisik maupun berbasis online. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.
Lalu apa artinya rumus tersebut? Artinya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan word of mouth mengenai produk dan layanan Anda, dan word of mouth itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat!
Kemenangan Obama pekan lalu membuat saya terheran-heran senang: ”Rupanya rumus E = wMC2 saya memang betul-betul cespleng.” Sejak awal saya memprediksi Obama bakal menang bukan karena program-program politiknya; bukan karena partai Demokratnya; bukan karena George W. Bush yang sontoloyo!!!; bukan karena McCain yang blunder memilih Palin; bukan juga karena ke-kulithitam-an Obama. Saya yakin ia menang karena strategi marketingnya ampuh menerapkan rumus E = wMC2. [Read more →]
November 9, 2008 1 Comment
“Iklan Adalah Perbuatan!!!” Catatan Kecil Untuk Iklan Politik Soetrisno Bachir
Saya punya prinsip yang mirip-mirip Pak Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi selebritis karena iklan-iklan simpatiknya. Kalau Pak Soetrisno berprinsip bahwa “Hidup Adalah Perbuatan”, saya punya prinsip “Iklan adalah Perbuatan”. Saya berprinsip, iklan bukanlah sekedar pencitraan. Dosa besar kalau iklan direduksi hanya sekedar pencitraan. Kalau sekedar pencitraan, bisa dong onggokan sampah dicitrakan (baca: “disulap”) menjadi gemerlap berlian? Atau, boleh dong tikus got dicitrakan menjadi cendrawasih yang bulunya penuh kemilau.
Alih-alih sebagai alat pencitraan, saya menganggap iklan sebagai media untuk mengomunikasikan “perbuatan-perbuatan” si pemasang iklan: bisa produk, perusahaan, atau orang yang sedang ikut Pilkada misalnya. Kalau “perbuatan-perbuatan” si pengiklan baik, tentu iklannya boleh bilang ke khalayak hal yang baik. Tapi kalau sebaliknya, “perbuatan-perbuatan” si pengiklan penuh kenistaan dan kotor berlumur darah, apakah kemudian ia boleh bilang ke khalayak mengenai kesucian, keindahan, kecantikan? Tegas saya bilang: TIDAK!!! [Read more →]
September 28, 2008 2 Comments














