E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Books

Best Business Book 2014: My Picks

Memasuki tahun 2015, ada baiknya jika kita menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2014 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah buku-buku pilihan saya di tahun 2014, semoga bisa menjadi inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. Zero to One: Notes on Startups or How to Build the Future, by Peter Thiel, Blake Master (September, 2014)

See the Book: Zero to One, Peter Thiel

“The next Bill Gates will not build an operating system. The next Larry Page and Sergey Brin won’t make a search engine. The next Mark Zuckerber won’t create a social network.” ujar Peter Tiel, pendiri Paypal dan sang penulis, mengawali buku ini. Lanjutnya, jika Anda meniru Gates atau Zuckerberg, maka Anda tak akan belajar dari mereka. Anda tak akan mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa jika hanya menyempurnakan sesuatu yang sudah ada. Anda akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa hanya jika menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, aneh, dan fresh. Yang pertama membawa dunia “dari 1 ke n”, sementara yang kedua “dari 0 ke 1”. Sari pati wisdom dari legendary venture capitalist yang ikut membidani PayPal, Facebook, LinkedIn, dan Airbnb. A great book on inventing the next big things.

2. The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies, by Erik Brynjolfsson, Andrew McAfee (Januari, 2014)

The Second Machine Age - Cover 2

Kalau “first machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan fisik/manual manusia (mesin uap, mobil, pabrik), maka “second machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan pengetahuan (knowledge works) dengan memanfaatkan big data, algoritma, predictive analytic, machine learning, atau internet of things. Tak pelak lagi teknologi digital menjadi dusruptive technology yang akan memorak-porandakan lanskap bisnis baru yang menghasilkan produk, layanan, pekerjaan, dan ekonomi baru yang tak terbayangkan saat ini. Era “second machine age” itu kini sedang berjalan. Dan, dua profesor dari Center for Digital Business MIT ini mencoba mengidentifikasi strategi terbaik untuk bisa survive di era baru tersebut.

3. Hooked: How to Build Habit-Forming Products, by Nir Eyal (November, 2014)

Hooked - Cover

Lupakan ATL (above the line). Lupakan BTL (below the line). Lupakan kampanye media sosial. Yang sesungguhnya kita butuhkan bukanlah promosi, tapi produk yang menjadikan konsumen keranjingan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi. Lihat bagaimana Facebook menjadikan kita keranjingan meng-update status. Lihat bagaimana Instagram menjadikan kita begitu ketagihan meng-upload foto. Atau 7-Eleven menjadikan para ABG demen nongkrong dan kopdar di akhir pekan. Buku ini memberikan insight luar biasa bagi entrepreneur, product manager, designer, marketer, start-up founder, atau siapapun yang ingin menciptkan produk yang membentuk kebiasaan konsumen (habit-forming product). Dengan The Hook Model yang dikembangkan penulis, kita bisa memahami dengan lebih baik bagaiamana kebiasaan konsumen itu terbentuk dan bagaiamana marketer harus menyikapinya.

4. Thrive: The Third Metric to Redefining Success and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder, by Arianna Huffington (Maret, 2014)

Thrive - Cover

Sebuah refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran setelah sang penulis, Arianna Huffington, pendiri koran online paling berpengaruh di Amerika saat ini, bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan palsu. Berkaca dari pegaalaman personal tersebut, ia merumuskan ukuran kesuksesan baru (the third metric) yaitu: kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini sukses haruslah berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive).

5. The Promise of a Pencil: How an Ordinary Person Can Create Extraordinary Change, by Adam Braun (Maret 2014)

The Promise of a Pencil - Cover

Sebuah kisah heroik dari anak muda hebat, Adam Braun si penulis, dalam menemukan panggilan hidup membangun ratusan sekolah untuk kaum papa di seluruh dunia dengan hanya bermodal awal $25. Semuanya berawal saat ia berlibur ke India dan mendapati seorang anak jalanan miskin. Ketika ditanya apa keinginan terbesarnya, jawaban si anak singkat: sebatang pensil untuk menulis. Jawaban si anak membawa kegundahan dalam hati Adam. Kegundahan ini mendorongnya keluar dari pekerjaan mapan di sebuah consulting firm di New York dan kemudian mendirikan Pencil of Promise, sebuah LSM yang bermimpi besar memerangi kebodohan melalui pendidikan untuk kaum papa. Sebuah cerita inspiratif mengenai kewirausahaan sosial yang mengubah dunia.

6. Creativity, Inc: Overcoming the Unseen Forces that Stand in the Way of True Inspiration, by Ed Catmull, Amy Wallace (April, 2014)

Creativity Inc - Cover

Selama hampir dua dekade Pixar telah mendominasi jagat film animasi dengan menelorkan blockbusters seperti: Toy Story, Finding Nemo, hingga The Incredibles. Tak hanya sukses komersial, Pixar juga piawai mencipta karya-karya artistik hingga diganjar 27 piala Oscar. Di balik kerja besar Pixar tersimpan harta karun berupa pembelajaran-pembelajaran luar biasa mengenai bagaimana seharusnya organisasi mengelola proses, budaya perusahaan, talenta, dan iklim yang kondusif untuk memompa kreativitas. Di tulis langsung oleh sang pendiri, buku ini mencoba menguak harta karun tak ternilai tersebut.

7. How Google Works, by Eric Schmidt, Jonathan Rosenberg (September, 2014)

How Google Works - Cover

Buku ini menelusuri perjalanan bisnis Google, perusahaan paling sukses abad ini, di masa-masa keemasannya (2001-2011) di bawah sang Nakhoda, Eric Schmidt. Kunci sukses Google menurut penulis ditentukan oleh kepiawaian menghasilkan inovasi-inovasi produk yang luar biasa dan kemampuan menarik talenta-talenta mumpuni, yang di Google di sebut: Smart Creatives. Buku ini menjadi istimewa karena ditulis sendiri oleh sang Nakhoda, Eric Schmidt bersama Senior Vice President (SVP) Produk (sekarang advisor Google). Di tangan mereka Google menghasilkan produk-produk luar biasa seperti: AdSense, AdWords, Gmail, Drive, Docs, Maps, Google+, Chrome, hingga Android dan akuisisi YouTube.

8. The Gen Z Effect: The Six Forces Shaping the Future Business, by Tom Koulopoulos, Dan Keldsen (November, 2014)

The Gen Z Effect - Cover

Salah satu perubahan besar (disruption) dalam bisnis dan sosial-ekonomi adalah munculnya generasi pasca Millenial (Gen Y) yang kini sering disebut sebagai: Gen Z. Generasi yang lahir antara 1995 hingga 2015 ini adalah generasi yang paling socially-connected dalam sejarah umat manusia. Buku ini mengidentifikasi enam kekuatan yang akan memicu disruptive changes yang akan membentuk masa depan bisnis Anda. Pemahaman terhadap keenam kekuatan itu akan menentukan apakah Anda menjadi pemenang atau pecundang di era Gen Z.

9. Show Your Work: 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered, by Austin Kleon (Maret, 2014)

Show Your Work - Cover

“Crafting something is a long, uncertain process. A maker should show her work,” demikian Austin Kleon, penulis buku ini, mengawali buku ini dengan kalimat yang sekaligus merangkum ide dasar buku. Buku ini mendobrak mitos bahwa karya hebat haruslah diciptakan oleh seorang jenius yang bekerja sendirian (lone genius). Di era connected world, karya-karya kreatif yang mengubah dunia haruslah diciptakan secara berjamaah. Kita harus bergabung dalam apa yang disebut Kleon, “new ecology of talent”. Kata Kleon: “It is about getting found by being findable. It is about being a connector, a teacher, and an open node. You have to be an artist that other artists will steal from.”

10. The Art of Thinking Clearly, by Rolf Dobelli (Mei, 2014)

The Art of Thinking Clearly - Cover

Buku ini secara menarik mengumpulkan 99 jenis bias pikiran (cognitive bias) yang menjadikan kita blunder dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Ambil contoh Anda berlibur ke luar kota dan Anda tak tahu mana restoran yang enak. Maka yang Anda lakukan adalah mencari restoran yang terlihat pengunjungnya ramai. Apakah restoran itu benar enak? Belum tentu. Itulah salah satu cognitive bias yang disebut “social proof” (Bab 4). Selesai membaca 99 bab buku ini kita akan menyadari bahwa manusia adalah mahluk lemah yang tak berdaya melawan blunder pikiran.

11. Think Like a Freak: The Authors of Freakonomics Offer to Retrain Your Brain, by Steven Levitt, Stephen Dubner (Mei, 2014)

Think Like  Ffreak - Cover

Sekuel dari Freakonomics dan Superfreakonomics, buku ini mengeksplorasi lebih jauh dua buku bestseller sebelumnya dengan memberikan resep-resep memecahkan masalah dengan pendekatan yang tak biasa. Levitt-Dubner mengajak kita melihat dan memecahkan masalah dengan pendekatan yang seringkali menyimpang dari conventional wisdom. Dengan analisis ekonomi yang kreatif Levitt-Dubner melihat dunia dari kaca mata yang berbeda dari kebanyakan kita. Melalui buku ini mereka berbagi resep bagaimana kita bisa berpikir beda: think like a freak.

Selamat Tahun Baru 2015.

 

See: Best Business Book 2013

See: Best Business Book 2012

January 1, 2015   1 Comment

Meredefinisi Ukuran Sukses

Beberapa bulan lalu, aktor hebat peraih Oscar, Robin Williams, dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Seluruh dunia terenyak, tak habis pikir bagaimana seseorang yang begitu sukses, bergelimang harta, dan bertabur ketenaran justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu hina dan konyol. Mengenai sebab kematian, sang istri mengatakan, beberapa waktu terakhir sebelum meninggal, sang aktor menghadapi masalah depresi, kecemasan akut, kesulitan tidur, hingga keluhan penyakit parkinson.

Kematian Williams adalah tragedi kemanusiaan di dalam dunia, ketika materialisme menjadi panglima, ketika kekayaan, jabatan, dan ketenaran menjadi dewa yang diagung-agungkan. Dalam dunia picik macam ini, kekuasaan dan uang harus dikejar hingga ke ujung dunia secara membabibuta, at all cost. Untuk menggapai semua itu, dimensi-dimensi lain kemanusiaan kita cenderung terabaikan. Akibatnya, keletihan karena kerja berlebih, stres, dan depresi menjadi penyakit sosial yang kian meradang. Celakanya lagi, kondisi menghimpit itu menjadi sumber bagi beragam penyakit dari diabetes, kanker, hingga parkinson.

Karena kenyataan mengenaskan itu, kini kesuksesan harus diredefinisi secara fundamental agar tidak melenceng lebih jauh. Sukses tak melulu menyangkut gelimang kekayaan, tak sebatas jabatan atau gemerlap ketenaran. Sukses adalah penghargaan terhadap kemanusiaan kita secara utuh, tanpa disunat sana-sini. Di sinilah diperlukan “ukuran ketiga” (third metric) untuk mendefinisikan ulang hakiki kesuksesan. Diperlukan kriteria ketiga karena dua kriteria sebelumnya, yaitu kekayaan (money) dan kekuasaan (power) sudah tidak memadai lagi.

Ukuran ketiga

Dalam Thrive, Arianna Huffington, pendiri koran daring (online) paling berpengaruh di Amerika saat ini, merumuskan ukuran kesuksesan ketiga tersebut mencakup empat elemen, yaitu kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini, sukses harus berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive). “How we measure success is changing,” ujarnya.

Bagi Arianna, buku ini sangat emosional karena merupakan refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran. Buku ini tercipta setelah ia bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan material, yaitu kekayaan dan kekuasaan. Untuk mewujudkan Huffington Post, ia superstres dan supersibuk bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Hasilnya, awal April 2007, ia kolaps jatuh tak sadarkan diri, bersimbah darah, nyaris menyongsong ajal karena terlalu lelah bekerja.

Menurut ukuran konvensional, Arianna telah mencapai puncak sukses. Berkat sukses Huffington Post, ia masuk jajaran orang terkaya di Amerika. Namanya masuk dalam World’s 100 Most Influential People-nya majalah Time. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah terkemuka dunia. Kurang apa? Namun, di tengah puncak kesuksesan tersebut, justru muncul pertanyaan eksistensial dari lubuk hatinya yang terdalam, “Seperti inikah kesuksesan yang saya cari, seperti inikah hidup yang saya dambakan?

Ukuran ketiga mendesak dimasukkan dalam kriteria sukses agar kita tak terperosok lebih jauh menjadi “robot pengumpul uang” atau “mesin penimbun kekuasaan”, atau bahkan “monster pemburu ketenaran”. Sukses bukanlah to take you at the top of the world, melainkan to change the world. Sukses haruslah sarat dengan kerendahan hati, kontribusi kepada umat manusia, kekayaan nurani, kearifan budi, dan hidup yang penuh makna.

“How Will You Measure Your Life”

Dalam ungkapan yang berbeda, Prof Clayton Christensen, pencipta teori inovasi (disruptive innovation) dan penulis buku fenomenal The Innovator’s Dilemma, menempatkan ukuran sukses dalam posisi penting sebagai titik simpul dari keseluruhan perjalanan hidup untuk mencapai kebahagiaan. Dalam buku barunya, How Will You Measure Your Life?, profesor di sekolah bisnis Harvard ini menekankan, ukuran sukses merupakan kompas yang akan menuntun arah kehidupan kita. How will you measure your life, ujarnya, adalah pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum kita menentukan arah kemudi kehidupan dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip scientific management yang menjadi bidang keahliannya, Clayton berargumen bahwa ukuran sukses dalam meniti karier, membina keluarga, dan membangun relasi dengan orang lain merupakan batu pijakan dalam mengalokasikan waktu, tenaga, talenta, dan uang yang kita punya untuk mewujudkan kebahagiaan hidup. Selama tak mampu merumuskan ukuran sukses hidup, maka selama itu pula kita tak akan mampu mengisi hidup dengan hal-hal bermakna yang memperkaya jiwa dan nurani.

Buku ini memiliki perspektif unik, berbeda sama sekali dengan kebanyakan buku mengenai inspirasi sukses lain, karena menggunakan teori-teori manajemen perusahaan sebagai tools dalam memandu kita melakukan pilihan-pilihan hidup yang tepat guna mencapai kehidupan yang bermakna. “Good theory help people steer to good decisions, not just in business, but in life, too,” ujar Clayton. Dengan bekal teori tersebut, buku ini memberikan arahan how to mengenai bagaimana kita menyusun visi dan tujuan hidup, menemukan passiondalamkarier,melakukan alokasi sumber daya (waktu, tenaga, pikiran, kekayaan, talenta), menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan, hingga membesarkan anak. Yang menarik, dalam menjelaskan teorinya, Prof Clayton menggunakan contoh-contoh kasus perusahaan seperti Honda, Dell, dan IKEA.

Wong urip iku mung mampir ngombe (orang hidup itu sekadar istirahat sejenak untuk mampir minum), begitu kata ungkapan bijak orang Jawa. Hidup itu hanya sebentar, maka kita harus mengisinya dengan hal-hal penuh makna. Kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki jika bisa menemukan makna di setiap detik hidup. Persis seperti kata Prof Clayton, untuk mewujudkannya, kita harus bisa menjawab pertanyaan how will you measure your life.

***

Titik Balik

Dua buku ini memiliki kemiripan substansi dan latar belakang penciptaan walaupun penulisnya tidak pernah janjian. Dua buku ini lahir sebagai refleksi personal penulisnya setelah mereka mengalami titik balik kehidupan. Arianna menulis Thrive setelah kolaps hampir menjemput ajal akibat kelelahan bekerja, sementara Prof Clayton menulis How Will You Measure Your Life setelah teridentifikasi mengidap follicular lymphoma (penyakit kanker yang telah menewaskan ayahnya) dan terkena stroke pada 2010.

Ketika berada di puncak sukses, Arianna sebagai pengusaha/jurnalis dan Clayton sebagai ilmuwan, mereka justru mengalami cobaan hidup begitu berat hingga terpuruk di titik terbawah. Di tengah kegalauan di titik nol, mereka melakukan perenungan mengenai hakikat sukses kehidupan dan menemukan bahwa sukses yang diraup selama ini semu belaka. Becermin pada pengalaman personal itu, mereka mencoba merumuskan jalan sukses yang lebih arif dan manusiawi.

Ide besar yang ingin disampaikan kedua penulis ini sama, yaitu bagaimana menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dengan mengisinya dengan hal-hal bermakna. Becermin pada pengalaman personalnya, Arianna akhirnya menyadari bahwa uang dan jabatan ternyata bukanlah jawaban paripurna. Ada hal lain yang juga mendesak untuk digapai di tengah ajal yang selalu sigap mengintai, seperti kesehatan raga tak terjangkit beragam penyakit, ketenangan jiwa tak tertawan oleh stres karena bekerja, atau kearifan hidup yang diperoleh dari segudang pengalaman masa lalu.

Sementara itu, Prof Clayton, dengan kerangka teori manajemennya yang disiplin, menganjurkan kita menjalani hidup secara “strategis” dengan menetapkan arah, prioritas, strategi, dan alokasi sumber daya yang dimiliki. Menjalani hidup, dalam kacamata Prof Clayton, sesungguhnya tak banyak berbeda dengan mengoperasikan sebuah perusahaan, prinsip-prinsipnya sama. Ketika kita terlalu sibuk bekerja dan mengesampingkan keluarga misalnya, itu tak lain merupakan bentuk dari alokasi sumber daya yang tak benar (misallocation of resources). Ketika alokasi waktu, tenaga, pikiran, dan talenta kita terlalu banyak ditumpahkan kepada karier dan pekerjaan, “kepentingan” keluarga akan terkorbankan, dan dari sini akan timbul bibit-bibit masalah.

Karena menulis di tengah duka mendalam akibat titik balik hidup yang sangat tragis, tak heran jika energi, emosi, dan keterlibatan penulis dalam melahirkan buku ini begitu total. Barangkali karena totalitas ini, dua buku ini menjadi bestseller dunia. Dengan peristiwa tragis yang menimpanya, barangkali mereka merasa menjadi “orang terpilih” untuk mengingatkan kita semua untuk tidak terperosok dalam kesuksesan hidup yang semu.

Mengenai sukses yang sesungguhnya, ada satu benang merah yang menyatukan buah pikiran mereka (yang sekaligus menjadi happy-ending dari kedua buku ini), yaitu memberi (giving). Sukses yang sesungguhnya bukanlah menyangkut diri kita, melainkan orang lain. Sukses adalah kontribusi kepada orang lain. Sukses adalah memberi untuk orang lain. Persis seperti dibilang Albert Einstein, “only a life lived for others is the life worthwhile.”

***

Judul: Thrive: The Third Metric to Redefining Success  and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder. Penulis: Arianna Huffington Penerbit: HarmonyBooks, 2014 Halaman: 352 Cover Thrive, Arianna Huffington

 

Judul: How Will You Measure Your Life? Penulis: Clayton Christensen, James Allworth, Karen Dillon Penerbit: HarperBusiness, 2012 Halaman: 240

 

Cover How Will You Measure - Clayton Christensesn

 

*Artikel ini telah dimuat di KompasKlass, Jumat 12 Desember 2014

December 12, 2014   3 Comments

#Kultwit Revolusi Hijab

Tmn2, sy akan kultwit mgnai REVOLUSI HIJAB di Ind, mengacu buku anyar sy: “Marketing to the Middle Class Muslim

1. #MiddleClassMuslimah beda dg muslimah jmn dulu, kini mrk MODERN, BERWAWASAN GLOBAL, KNOWLEDGEABLE n TECHY

2. #MiddleClassMuslimah jg SOCIALLY-CONNECTED. Mrk aktif bermedia sosial spt ngeblog, Facebook n Twitter

3. #MiddleClassMuslimah jg aktif berkomunitas, itu sebabnya KOMUNITAS HIJABERS tumbuh subur sprti jamur di musim hujan

4.Semakin makmur n berpengetahuan, maka #MiddleClassMuslimah kita mjd semakin RELIGIUS

5.Di tgh gempuran globalisasi, mrk kini makin peduli utk berbusana yg sesuai dg nilai2 Islam, dg mnggunakan hijab penutup aurat

6.Seiring tumbuhnya #MiddleClassMuslimah kini muncul fenomena REVOLUSI HIJAB di Indonesia. Apa itu?

7.Yaitu fenomena dmn menggunakan hijab mjd sebuah tren gaya hidup yang meluas di kalangan #MiddleClassMuslimah Ind.

8.REVOLUSI HIJAB trjadi krn hijab sdh mjd bagian dr gaya hidup, tak hy sekedar mematuhi ketentuan2 agama

9.Klo dl mnggunakan hijab msh dianggap jadul n kampungan, mk kini mjd ssuatu yg FASHIONABLE, COOL n KEREN

10.Dulu #MiddleClassMuslimah ke ktr pakai hijab msh dianggap aneh, mk kini justru membuat mrk bangga n makin pede

11.Memakai hijab merupk bagian dr EKSPRESI DIRI sbg muslimah yg solehah, modern, open mind, knowledgeable, n techy

12.Slh satu driver tren hijab adl byknya SELEBRITI kita yg ramai2 berhijab. Mrk mendorong VIRUS revolusi hijab

13.Contoh HIJABERS CELEBRITY itu adl: Ineke Koesherawati, Zaskia, Marshanda, Dewi Sandra, dll

14.Di samping itu muncul sosok hijabers ROLE MODEL bg #MiddleClassMuslimah sprti Dian Pelangi or Fathin X Factor

15.Mrk mjd PANUTAN sbg sosok hijabers yg CANTIK, SUKSES, KREATIF, KARIR GEMILANG, n tentu SOLEHAH

16.Mrk adl POSTER CHILD bagi pr hijaber di Ind khususnya kalangan muda. Mrk mjd sosok ideal n sosok panutan

17. Revolusi hijab jg didorong oleh munculnya brand2 hijab yg cool sprti: Shafira, Zoya, Rabbani, Dian Pelangi, Irna La Perle dll.

18.Klo dulu muslimah beli hijab tak brmerek berharga murah, kini mrk mulai menyukai hijab brmerek brharga sp jutaan rupiah

19.Kini jg brmunculan HIJAB DESIGERS spt Ida Royani, Dian Pelangi, Irna Mutiara, dll yg kian mnggeliatkan psr hijab

20.Gaya fesyen hijab kini jg beragam dg mengadopsi fesyen modern sprti Threeva Style, Sarangheo Style, n Bergo Eropa Zoya Style

21.Toko Online hijab jg marak. Wajar, krn #MiddleClassMuslimah sdh biasa berselanjar di dunia maya

22.Survei Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS): 27% #MiddleClassMuslimah beli hijab scr online

23.Hijabers mnggunakan KOMUNITAS HIJABERS utk brsosialisasi, brbagi informasi, n brbagi pngalaman brhijab

24.Majalah hijab jg tumbuh subur sprti Hijabella, Paras, Noor, Aquila, Laiqa, Khasanah, Muslimah, Mosaicht, dll

25.Di samping TUTORIAL HIJAB di Youtube jg mjd favorit bg #MiddleClassMuslimah utk mengikuti tren gaya hijab

26.Dulu, hijab tak pernah masuk dunia catwalk, kini HIJAB FASHION SHOW massif berlagsung di brbagai kota

27.Kini hampir tiap bln ada HIJAB FASHION SHOW sprti IIFF, IFW, JIFW, dll

28.Ramainya industri, disainer, n event hijab merupk modal bg Ind utk mjd World’s Center of Islamic Fashion

29.Ind berpotensi mjd pusat fesyen muslim dunia krn fesyen muslim kita inklusif n dinamis menyerap pengaruh fesyen global

30.Mari wujudkan Indonesia sbg World’s Center of Islamic Fashion, Bersama kita bisa!!!

July 22, 2014   2 Comments

Pre-Order Buku “Marketing to the Middle Class Muslim”

Buku Marketing to the Middle Class Muslim baru ada di TB Gramedia pada bulan Agustus (sehabis Lebaran) mendatang. Namun bagi yang nggak sabar, temen-temen sekarang bisa mendapatkannya dengan memesan langsung via Lia (0857 8078 9897) or email: nurkamalia.makinuddin@gmail.com. Yang spesial, buku akan ada tanda tangan penulis. Cool euy!!!

July 12, 2014   6 Comments

Martha & Ratna

Hari Sabtu (28/6) kemarin saya meluncurkan buku saya terbaru yang ditulis bersama Samuel Pranata, Direktur Martha Tilaar Group (MTG), dan dua rekan lama saya dari Majalah SWA, Dyah Hasto Palupi dan Teguh S. Pambudi. Buku ini berjudul Martha dan Ratna: Dua Perempuan di Balik Sukses Martha Tilaar Group. Buku ini menarik karena membahas kepemimpinan bisnis perusahaan keluarga dari dua kakak-beradik pendiri MTG yaitu Martha Tilaar sang kakak dan Ratna Pranata.

Kami menyebut kepemimpinan mereka berdua sebagai “Kepemimpinan Yin-Yang”. Ya, karena dua sosok pemimpin hebat ini memiliki karakter yang bertolak belakang, namun mampu saling mengisi dan melengkapi sehingga menghasilkan kesuksesan MTG yang luar biasa selama lebih dari 40 tahun. Sepang terjang mereka yang saling memberi, saling menopang, dan saling menyayangi merupakan role model bagi setiap pemimpin perusahaan keluarga. Harap tahu saja, 70% perusahaan keluarga di seluruh dunia hanya bertahan di generasi pertama. Dan keruntuhan perusahaan keluarga tersebut umumnya disebabkan oleh friksi dan konflik antar anggota keluarga. [Read more →]

June 28, 2014   1 Comment

Global Talent

Selama enam bulan terakhir ini saya konsentrasi melakukan riset untuk penulisan buku terbaru Crafting Global Talents mengenai upaya Telkom melakukan go global. Upaya ini ditandai oleh dua mega program yaitu Internasional Expansion (disingkat InEx) dan Global Talent Program (disingkat GTP). Yang terakhir ini adalah sebuah program mencetak SDM berkualifikasi kelas dunia (global talent) melalui job assignment selama 3 bulan di luar negeri untuk mendapatkan global exposure dan global experience.

Insya Allah buku ini terbit akhir bulan Februari ini. Seperti biasa, setiap kali buku mau “keluar dari kandungan”, saya selalu memberikan bocoran untuk dibagikan ke teman-teman pembaca. [Read more →]

February 15, 2014   3 Comments

Best Business Book 2013: My Picks

Kita sudah berada di penghujung tahun 2013, menjemput tahun 2014. Untuk refleksi memasuki tahun yang baru, ada baiknya kita melihat kembali buku-buku bagus di tahun 2013 yang harus kita baca dan ambil manfaatnya. Berikut ini adalah buku-buku pilihan saya di tahun 2013, semoga bisa menjadi inspirasi Anda di tahun yang baru. [Read more →]

December 31, 2013   5 Comments

PPM Book Talk: Great Spirit, Grand Strategy

Arief Yahya adalah business leader yang percaya 1000% bahwa karakter mulia adalah sumber hakiki kesuksesan jangka panjang perusahaan. “Character building adalah pekerjaan pertama dan paling utama bagi setiap pemimpin, apakah itu pemimpin perusahaan ataupun negara,” ujarnya.

Itu sebabnya, begitu menjabat direktur utama Telkom satu setengah tahun yang lalu, Pak AY, begitu ia biasa di panggil, langsung melakukan gebrakan-gebrakan yang fokusnya adalah membangun SDM berkarakter. Ia berupaya mentransformasi Telkom menjadi sebuah spiritual organization; membentuk Telkom Corporate University (Corpu); hingga menginisiasi global talent program (GTP) untuk mengembangkan talent pool berkelas dunia.

[Read more →]

December 17, 2013   No Comments

Beat the Giant: Signature Edition

Temen-temen,

Pas Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei lalu di ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2013 saya meluncurkan buku Beat te Giant: Strategi Merek Indonesia Menandingi Merek Global dan Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri. Rencananya buku tersebut hadir di toko buku Gramedia akhir pada bulan Juni 2013, namun karena edisi launching dicetak terbatas (collector’s item) dan kini telah habis, maka terpaksa buku tersebut baru tersedia di toko buku pada bulan Agustus 2013.

Namun pemesanan buku tersebut bisa dilakukan sekarang disertai dengan tanda tangan dari penulis (signature edition). Pemesanan melalui Lia no. HP: 0857 8078 9897 atau email: Nurkamalia.makinuddin@gmail.com.

May 21, 2013   6 Comments

2012′s Best Book and CD

Dua hal menjadi passion saya: membaca buku dan mendengarkan jazz. Hampir tiap minggu saya mencek buku-buku terbaru di Periplus atau Kinokuniya dan berburu CD di Musik Plus, Duta Suara Sabang atau Aquarius Kebayoran. Buku dan musik membuat hidup saya begitu indah. Untuk menutup tahun 2012 akan awasome jika saya berbagi cerita mengenai buku-buku dan album-album hebat yang saya baca dan dengar di tahun 2012. Berikut ini list-nya: lima untuk buku dan lima untuk album jazz.

Yuswohady’s 2012 Biz Book Picks

1. Thinking, Fast and Slow, by Daniel Kahneman
Mengarungi pemikiran Daniel Kahneman, penerima Nobel bidang ekonomi tahun 2002, dalam buku ini kita diajak menelanjangi kegagalan manusia sebagai pelaku ekonomi dalam berpikir rasional dan obyektif. Begitu banyak bias dan kekeliruan yang kita buat sehingga penilaian (judgement), pilihan (choice) atau keputusan (decision) yang kita ambil menjadi melenceng dari koridor rasionalitas dan obyektivitas. Buku ini adalah sebuah  karya masterpiece yang merangkum (dengan sangat padat-presisi, kaya detil, komprehensif, tapi tetap entertaining) keseluruhan pemikiran Kahneman yang membentang selama 40 tahun terakhir. [Read more →]

January 1, 2013   2 Comments