E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Begini Cara Milenial “Membunuh” Kebersamaan Keluarga

Milenial adalah generasi yang highly-connected.

Terutama terkoneksi secara online melalui smartphone di genggaman.

Namun jika koneksi online itu terlalu berlebihan, sehingga mengabaikan koneksi secara offline (face-to face interactions) dengan orang-orang di sekitarnya maka bahaya bakal muncul.

Salah satu bahaya itu adalah ancaman terhadap pilar-pilar kebersamaan keluaga.

Di era Baby Boomers dan Gen-X, salah satu kebersamaan keluarga itu tergambar saat seluruh anggota keluarga berkumpul bersama di meja makan. Sambil menikmati hidangan mereka ngobrol begitu akrab diselingi gurauan dan candaan. Mereka saling bertukar cerita mengenai berbagai kejadian hari itu. Sesekali si bapak memberikan petuah dan si ibu berbagi pengalaman bijak.

Millennials Kill Family Time

Gambaran seperti itu kini mulai berubah. Saat dinner time kita akan melihat setiap anggota keluarga membawa smartphone dan mereka asyik memainkan layar smartphone masing-masing.

Dinner time pun berubah menjadi screen time.

Hal ini tak hanya terjadi di meja makan, tapi juga di ruang tamu saat mereka nonton TV bareng; di restoran saat mereka makan bersama; di rumah kerabat saat mereka kumpul keluarga besar; di mobil saat perjalanan ke sekolah atau tempat kerja; di tempat wisata saat mereka liburan keluarga bareng.

Singkatnya: family time now becomes screen time.

Survei yang dilakukan Discover Ferries terhadap 2000 orangtua di Inggris menemukan bahwa rata-rata keluarga menghabiskan quality time selama 3 minggu setahunnya dan hanya 36 menit seharinya. Sementara waktu yang dihabiskan untuk screen time mencapai empat kali lipat (sekitar 1 jam 55 menit untuk orang dewasa; 2 jam 22 menit untuk anak-anak).

Seiring makin massifnya screen time “menjajah” family time, kini persoalan-persoalan di keluarga mulai muncul.

Survei di Inggris menunjukkan, lebih dari sepertiga anak usia SMP minta orangtua mereka berhenti mengecek smartphone saat makan bersama. Sekitar 82% dari mereka berkeyakinan bahwa saat makan bersama seharusnya “smartphone free”. Celakanya, sekitar 46% dari mereka merasa diabaikan orangtua saat mereka meminta menanggalkan smartphone.

Sedihnya, sekitar 62% dari mereka mengatakan bahwa orangtua mereka terdistraksi (distructed) saat mereka mencoba berbicara dengannya. Dan sumber distraksi itu adalah smartphone.

Tanpa disadari screen time yang berlebihan menjadikan orangtua makin sedikit bicara dengan anak; memiliki respons lebih lambat ke anak; dan over-reaktif saat diinterupsi oleh anak. Ujung-ujungnya anak merasakan kecemburuan, karena orangtua mereka lebih “sayang” kepada smartphonenya ketimbang si anak.

Screen time berlebihan juga bermasalah terkait hubungan antara suami dan istri. Ingat, ketika suami atau istri merasa terabaikan karena salah satu dari mereka sibuk dengan layar HP, maka hal ini bisa menjadi sumber ketidakpuasan hubungan keluarga. Apabila terus berakumulasi, maka hal ini bisa menjadi sumber percekcokan di dalam rumah tangga.

Mengabaikan lawan bicara dengan sibuk bermain HP tak hanya tidak santun, tapi juga bisa merusak kualitas hubungan antara suami-istri maupun ortu-anak. Survei yang dilakukan di AS menemukan bahwa setengah orangtua mengatakan mereka terabaikan oleh pasangan karena screen time; lebih dari sepertiga mengatakan terkena depresi akibat hal tersebut; dan hampir seperempat mengatakan hal tersebut menjadi sumber konflik di dalam keluarga.

Simpul riset tersebut: “Excessive screen time makes us feel bad and leads to unhappiness and depression.”

Sungguh ironis, smartphone membuat kita bisa terkoneksi dan bercengkerama dengan begitu banyak orang lain dari belahan bumi manapaun, tapi justru mengabaikan orang-orang terdekat kita di rumah.

Inilah barangkali paradoks terhebat abad ini… sebut saja itu “Paradoks Smartphone”.

Bunyinya: “Mendekatkan yang jauh; menjauhkan yang dekat”.

1 comment

1 Yeni Yunita { 06.30.19 at 10:35 pm }

Saya suka artikel bapak, dan saya sangat setuju kalimat terakhir. Gadget itu emang “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Its real fact

Leave a Comment