E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

How Millennials Kill Eye Contact

Istilah populernya adalah: “Generasi Menunduk”.

Milenial adalah generasi yang setiap saat selalu menunduk, asyik memandangi layar smartphone mereka.

Saat ngobrol di meja makan atau ruang tamu keluarga, masing-masing anggota keluarga menunduk sibuk dengan smartphonenya.

Saat bertemu dengan teman-teman di kampus atau di kafe, masing-masing menunduk sambil senyum-senyum di depan layar smartphone.

Apalagi saat menunggu pesawat di bandara, bisa dipastikan semua orang membawa smartphone dan masing-masing mereka menunduk sibuk dengan smartphonenya.

Bahkan saat mau tidur, milenial menutup harinya dengan bersibuk ria memandangi layar smartphonenya.

Yang berbahaya, bahkan saat menyetir pun mereka masih curi-curi melihat layar smartphone.

Asal tahu saja hasil survei di dunia menunjukkan, rata-rata milenial mengecek smartphone mereka sekitar 150 kali sehari. Ini dilakukan rata-rata setiap 6,5 menit. Bahkan di Inggris, orang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar smartphone dibanding dengan partnernya. Perbandingannya: 119 vs 97 menit.

Musabab milenial tak bisa lepas mengecek smartphone adalah karena “penyakit” sosial yang disebut FOMO atau “fear of missing out”. Yaitu kecenderungan milenial terus-menerus mengecek smartphone karena takut ketinggalan kabar atau kejadian di antara peers mereka di berbagai media sosial.

Bagi milenial yang terkena sindrom FOMO, koneksi setiap saat dengan peers adalah segalanya: “social connection is more important than their own lives.”

Nah, ketika setiap saat mata milenial selalu mengarah ke smartphone, maka pertemuan mata (eye contact) antar orang menjadi kian langka.

Now’s the time, millennials kill eye contact!!!

Ketika “screen time” (waktu yang kita habiskan untuk memandangi layar smartphone) semakin mendominasi 24 jam waktu milenial dalam sehari, maka semakin sedikit pula waktu mereka yang tersisa untuk memandang mata orang lain, termasuk memandang mata orang-orang tercinta: anak, kerabat, dan istri-suami.

Baca juga: “Bagaimana Milenial Mendisrupsi Tempat Kerja

Yang menyedihkan, kini berbicara tanpa melakukan eye contact sudah dianggap sebuah kewajaran dan keseharian. Padahal dulu perilaku seperti ini dianggap kasar dan tak sopan. Smartphone menciptakan budaya multitasking di kalangan milenial sehingga menjadi hal lumrah bagi mereka berbicara dengan orang lain tanpa perlu melakukan eye contact. Tangan lincah mengetik, mata serius menatap layar, dan di saat bersamaan mulut nerocos berbicara.

Idealnya, kita melakukan eye contact sebanyak 60-70% dari total waktu saat kita melakukan percakapan dengan lawan bicara kita. Sementara rata-rata orang hanya melakukan eye contact sebanyak 30-60% dari total waktu percakapan. Dengan adanya smartphone, waktu eye contact ini terus terpangkas dan barangkali suatu saat kita tak pernah melakukan eye contact lagi saat bicara… wow!!!

Cover Millennials Kill Everything

Pertanyaannya, apa masalahnya jika kita mengalami defisit eye contact?

Daniel Goleman penulis buku Emotional Intelligence mengatakan bahwa, menurunnya eye contact adalah cermin semakin kecilnya perhatian kita kepada orang yang kita ajak berkomunikasi. Menjadi celaka jika defisit perhatian ini menimpa orang-orang terkasih kita seperti anak atau istri/suami.

Menurut Psychology Today, eye contact merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang paling kuat dan dalam. Menurut studi University of Miami, sekitar 43% perhatian yang kita fokuskan ke orang lain dicurahkan melalui eye contact yang kita berikan.

Kesimpulannya, ketika intensitas eye contact milenial semakin berkurang maka kemampuan mereka dalam melakukan emotional connection yang menjadi dasar relasi dengan orang lain pun berkurang.

Milenial bakal menjadi mahluk yang selfish, cuek-bebek, dingin, tidak care, minim perhatian, minim empati, dan ujung-ujungnya minim cinta.

Kalau demikian adanya… apa bedanya manusia dengan robot?

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment