E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Pariwisata: Mesin Pertumbuhan Baru

Hari Sabtu (30/7) lalu saya ada di tengah-tengah para villageprenur (wirausahawan desa) di desa wisata Geopark Ciletuh, Sukabumi. Bersama teman-teman Bio Farma kami melakukan workshop bersama mereka untuk mengembangkan branding strategy bagi empat produk dan layanan yang tumbuh seiring mulai maraknya Geopark Ciletuh sebagai destinasi wisata utama Sukabumi.

Empat produk dan layanan tersebut adalah: PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang menyediakan homestay dan paket wisata petualangan menggunakan kendaraan offroad, Batik Pakidulan, pengembangan ikan Koi Mizumi, dan budidaya Sidat (unagi). Produk dan layanan baru yang dirintis para wirausahawan desa ini tumbuh menjamur dua tahu terakhir seiring banyaknya wisatawan yang datang ke obyek wisata Geopark Ciletuh.

Menarik pengakuan Kang Ali, kreator Batik Pakidulan mengenai powerful-nya dampak ekonomi dari industri pariwisata. “Sejak banyak wisatawan datang ke sini, banyak bermunculan komunitas-komunitas masyarakat yang mengembangkan beragam produk seperti batik, kerajinan, beras hitam, hingga sidat,” ujarnya.

Workshop Ciletuh

Multiplier Effect
Apa yang diceritakan Kang Ali tersebut dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah: multiplier effect. Multiplier effect adalah sebuah kegiatan ekonomi yang menggerakkan kegiatan ekonomi lain. Datangnya wisatawan ke Geopark Ciletuh menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, produk makanan-minuman lokal, dsb-dsb.

Ketika wisatawan tersebut membelanjakan uangnya di suatu desa wisata, maka uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan oleh wisatawan, maka uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif ke desa wisata tersebut, ia menggerakan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan.

Tak heran kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran. Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD Inpres.

Pernah suatu kali saya naik taksi di Bali. Dengan bangganya si sopir taksi bilang ke saya, “Di Bali ini pekerjaan gampang, praktis nggak ada pengangguran, hanya orang yang malas keterlaluan saja yang jadi pengangguran.”

Intinya si sopir ingin mengatakan bahwa di daerah yang ekonominya didukung sektor pariwisata seperti Bali, lapangan kerja terbuka luas untuk semua lapisan masyarakat. Orang yang nggak lulus SD saja dengan modal cas-cis-cus berbahasa Inggris (tanpa ikutan kursus) bisa menjadi pemandu wisata (tour guide) dengan penghasilan lumayan. Potensi industri ini sebagai penyedia lapangan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tak tertandingi oleh industri lain apapun.

New Growth Engine
Menariknya, industri pariwisata tak hanya powerful sebagai alat pemerataan kemakmuran, tapi juga berpotensi menjadi mesin baru perekonomian Indonesia pasca bonanza minyak. Kita tahu komoditi migas sudah tidak bisa diharapkan lagi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita di tengah harga minyak dunia yang terus terjun bebas.

Kalau komoditi migas tak mampu lagi, lalu sektor apa lagi yang bisa menggerakkan mesin perekonomian kita? Batubara sama-sama jatuh. Komoditi pertanian/perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, atau karet setali tiga uang karena harganya yang terus anjlog di tengah pasok dunia yang berlebih. Begitupun tekstil dan pakaian jadi yang kian tak kompetitif karena ongkos buruh yang tak lagi murah.

Urgensi mengenai perlunya mesin pertumbuhan baru ini tersirat dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah Sidang Kabinet Paripurna Rabu lalu (3/8) saat mengumumkan pemangkasan anggaran. Menurut Menteri penerimaan pajak kita bakal mengalami tekanan yang sangat berat karena jatuhnya harga komoditas minyak dan gas, batubara, kelapa sawit, dan pertambangan lainnya. Sementara sektor yang selama ini bisa menjadi andalan seperti konstruksi, perdagangan, dan manufaktur juga tak menggembirakan, pertumbuhannya hanya separuh dari tahun sebelumnya.

Lalu apa calon terbaik mesin pertumbuhan baru itu? Jawabnya adalah sektor pariwisata. Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% pertahun selama 5 tahun terakhir). Sementara itu perolehan devisa migas tahun 2015 sebesar USD18,9 miliar, merosot tajam hampir 40% dari tahun sebelumnya. Tren yang saling berseberangan antar dua sektor ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, maka bisa jadi 3 tahun ke depan sektor migas akan tersalib oleh pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. Dengan jejak kinerja yang mengesankan seperti ini tak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor ini sebagai sektor unggulan perekonomian kita yang menjalankan dua fungsi sekaligus: mesin pertumbuhan dan mesin pemerataan.

Fokus Pariwisata
Anda yang berkecimpung di dunia manajemen pasti mengenal BCG Matrix. Secara sederhana matriks ini digunakan untuk merumuskan strategi portofolio (portfolio strategy) bagi organisasi yang memiliki banyak lini bisnis. BCG Matrix memberikan panduan mengenai mana-mana portofolio bisnis yang harus dikembangkan dan mana yang tidak. Ada empat posisi di dalam BCG Matrix yaitu: Cash Cow, Star, Question Mark, dan Dog.

Cash Cow artinya portofolio bisnisnya telah menghasilkan sehingga harus terus diperah (milking). Star artinya harus di-invest dan dikembangkan karena akan menjadi tulang punggung di masa depan. Question Mark artinya masih tanda tanya mau di-invest atau justru di-divest. Dan terakhir Dog, artinya portofolio bisnis tersebut tak bisa diharapkan lagi sehingga harus di-divest alias ditanggalkan.

Nah, dengan menggunakan analogi matriks tersebut, seharusnya secara strategis pemerintah Jokowi menempatkan sektor pariwisata pada posisi Star mengingat potensi luar biasa yang dimilikinya. Konsekuensinya, pemerintah harus mendorong habis-habisan sektor ini melalui alokasi sumberdaya yang tepat agar sektor ini bisa berkembang sesuai potensinya. Sebaliknya, sektor migas adalah Dog yang memang tak bisa diharapkan lagi, karena itu tak layak diprioritaskan dan mendapatkan alokasi sumberdaya secara semestinya.

Dengan portfolio strategy yang tepat maka pemerintah akan bisa mengalokasikan sumberdayanya secara tepat dan efektif. Jangan sampai terjadi sektor yang sunset diprioritaskan, sementara sektor yang sunrise justru dihambat. Kalau itu yang terjadi, maka itu namanya misallocation of resources, mismanagement, alias salah urus.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment