E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Personal Branding Keblinger

Beberapa bulan terakhir saya sering mual-mual menyaksikan polah-tingkah para caleg dan capres kita yang neko-neko untuk memenangkan kursi kekuasaan baik di DPR maupun pemerintahan. Di koran-koran, di TV-TV, di jalan-jalan, di gang-gang kampung kumuh, para caleg/capres ini berebut kavling untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat pemilih.

Di spanduk-spanduk dan baliho-baliho senyum mereka menyeringai. Mengepalkan tangan menyuarakan panji-panji kebajikan: “Berantas korupsi!!! Enyahkan kemiskinan!!! Galang persatuan!!!” Di TV-TV mereka layaknya malaikat: meyambangi kaum papa, berorasi mengenai kejujuran dan kemuliaan, menyuarakan hati bening dan keikhlasan. Di tengah banjir Jakarta mereka mengulurkan tangan dan menyumbang. Sungguh segepok kebajikan yang membikin perut awak mual.

Itulah polah-tingkah caleg/capres kita yang sedang show of force melakukan personal branding. Personal branding ketika dilakukan secara elegan, rendah hati, dan otentik akan membikin hati ini klepek-klepek. Tapi sebaliknya, jika dilakukan secara selfish, vulgar, congkak, tak tahu diri, nir-empatik, ahistoris, penuh kepalsuan, merusak pandangan, dst-dst.. bukannya membikin hati awak trenyuh, justru sebaliknya bersimbah muntah.

Saya menyebutnya personal branding keblinger. Kenapa keblinger? Yuk kita cek satu-persatu.

Keblinger #1: Aji Mumpung
Mumpung terkenal, mumpung artis, mumpung pengusaha banyak duit, mumpung anak gubernur, mumpung keponakan bupati, sekaranglah saatnya untuk menimbun kekuasaan. Mereka berpikir, amanah menjadi pemimpin dan mewakili masyarakat bisa dituntaskan dengan secuil ketenaran, keartisan, kekayaan, dan kedekatan dengan pejabat.

Saya sedih luar biasa saat menyaksikan sebuah acara talk show di TV yang menampilkan wawancara dengan seorang caleg penyanyi dangdut yang molek nan tenar. Saya sedih karena si penyanyi belepotan menjawab pertanyaan si host karena memang sama sekali tak menguasai persoalan. Ditanya serius malah kayak kethek ketulup, nggak mengerti apa-apa. Kalau si caleg nggak ngerti macam begini, bagaimana bisa dia mengemban amanah mewakili dan memperjuangkan kepentingan konstituennya.

Inilah sumber dari semua keblingeran personal branding caleg/capres. Ingat, personal branding bukanlah masalah tebar pesona, bukan sekedar masalah kepiawaian komunikasi dan bersilat-lidah, bukan sekedar kemampuan memasang sejuta spanduk dan iklan di TV-TV. Justru yang paling esensi adalah kualitas personal dan kapabilitas si caleg/capres. Itulah “jualan” utama caleg/capres.

Jeruk busuk akan tetap mencelakakan perut walaupun dikemas dan dijual di supermarket super mewah. “Content” (kualitas personal dan kapabilitas) tetap yang utama dibanding “context” (tampilan, komunikasi, pencitraan).

Keblinger #2: Pencitraan
Membangun personal branding bukanlah menciptakan pencitraan. Pencitraan boleh-boleh saja sejauh citra yang dibangun tersebut sesuai dengan aslinya. Pencitraan menjadi pamali ketika ia menjadi alat untuk menutupi bopeng-bopeng agar terlihat kinclong. Ketika si caleg/capres bodoh minta ampun tapi kemudian dicitrakan secerdas Einstein, itu pamali. Ketika si caleg/capres maling kelas kakap tapi kemudian dicitrakan malaikat, itu pamali.

Memang personal branding memberi janji, tapi janji bukan asal janji, janji yang harus dipenuhi. Begitu janji tak terpenuhi, maka dengan sendirinya personal brand Anda akan busuk, yang baunya menyengat ke mana-mana. Esensi personal branding adalah integrity, yaitu satunya kata dan perbuatan. Rohnya personal branding adalah authenticity, yaitu setali tiga uang antara permukaan dengan lubuk hati yang paling dalam.

Nah, dalam amatan saya, mohon ampun kalau saya salah, potret personal branding dari sebagian besar caleg/capres kita masih amat jauh memenuhi prinsip integrity dan authenticity tersebut. Itu sebabnya saya sebut personal branding mereka keblinger.

Keblinger #3: Kerja Instan
Lebih celaka lagi, kebanyakan caleg/capres kita melihat personal branding sebagai hasil kerja 3-6 bulan menjelang pencoblosan. Tak penting itu track record dan reputasi yang harus dibangun bertahun-tahun sebelumnya; tak penting itu kompetensi yang harus dikembangkan bertahun-tahun sebelumnya; tak penting itu kepekaan nurani yang harus dipupuk bertahun-tahun sebelumnya. Mereka berpikir bahwa personal branding adalah kerja all out selama 3-6 bulan untuk menggeber spanduk, baliho, atau menempel stiker di bajaj-bajaj Tanah Abang.

Mereka lupa bahwa sosok pemimpin dan wakil rakyat memerlukan kapabilitas, kematangan, dan kearifan yang terbangun melalui olah rasio dan rasa selama bertahun-tahun sebelumnya. Sama halnya dengan bagaimana dokter atau insinyur membangun ekspertis selama bertahun-tahun sebelumnya. Harus diingat, meluluskan KUHP baru di DPR atau menyelesaikan masalah banjir Jakarta bukanlah pekerjaan sepele, dibutuhakan kualitas personal mumpuni, yang terbangun melalui kerja keras belasan-pluhan tahun. Personal branding caleg/capres bukanlah sekedar pekerjaan membalik telapak tangan.

****
Kalau saya membeli mobil atau televisi, tapi setelah saya pakai beberapa waktu mobil dan televisi itu ternyata rongsokan tak sesuai janjinya, maka dengan mudah saya bisa mengembalikannya. Atau kalaupun tak boleh kembali, saya bisa menjualnya ke orang lain, syukur-syukur harganya masih tinggi. Tapi kalau kita sudah “membeli” pemimpin atau wakil kita di DPR saat Pemilu, ternyata si pemimpin dan wakil rakyat itu “rongsokan” alias tak serupa antara apa yang mereka omongkan dan janjikan dengan kenyataan, maka tentu saja kita tak bisa dengan mudah “mengembalikannya”.

Kerugian yang ditumbulkan dari “salah beli” pemimpin dan wakil rakyat tersebut demikian besar. Kalau sampai mereka blunder mengeluarkan kebijakan, atau mereka melakukan kejahatan besar mengorupsi uang rakyat, maka dampak sistemiknya bisa sampai ke tujuh turunan. Dalam hal korupsi, bahkan dampaknya tak hanya sebatas rugi materiil, tapi juga rusaknya akhlak dan moral hingga ke anak-cucu.

Karena itu personal branding caleg/capres bukanlah pekerjaan gampang. Tak hanya butuh kecemerlangan pikiran dan kerja keras bertahun-tahun, tapi juga kebeningan nurani.

9 comments

1 Cahya { 02.22.14 at 9:12 pm }

Mantab Pak Yuswo…

2 Paket Wisata Bromo { 02.23.14 at 1:55 am }

Artikel yang sangat ngena pak :) banyak poster bertebaran, senyum diumbar-umbar. padahal yang diperlukan rakyat adalah kerja nyata. gak usah pake poster aja klo memang mereka peduli dengan rakyatnya, pasti akan dikenal kok :)

3 Supplier Baju Branded Terbesar di Indonesia { 02.23.14 at 4:46 am }

mantebss mas…

izin sebarkan….”Hanya karena 5 Menit, Sengsara 5 Tahun” Hati2 jgn Beli Brang Rongsokan >> Personal Branding Keblinger http://p.ost.im/RE2Rau cc @yuswohady

4 Konveksi Kaos Polo Shirt { 02.23.14 at 9:34 am }

Tulisan yang cukup memberikan wawasan bagi kita untuk tanggal 9 April nanti.. Mohon ijin untuk share:)

5 jejaring sosial { 02.23.14 at 11:22 pm }

pencitraan caleg sama capres memang udah kelewat batas, menggunakan berbagai macam cara menarik perhatian masyarakat

6 santi djiwandono { 02.24.14 at 4:40 am }

Lha ini lagi-lagi ulasan tajam yang educating, karena model branding mereka ini karena mengikuti ‘demand’ ya Pak? Yaitu pemilih yang hanya paham kalo lihat foto dan disumbang sembako atau duit? Berarti ‘supply’ begini bisa berhenti jika ‘demand’ tidak ada kan Pak? Apa betul begitu?

7 Wanto { 02.26.14 at 9:36 pm }

Lha kalau sudah jelas keblingernya tapi tetap dipilih juga gimana Mas Siwo? Yang model seperti itu kan banyak juga yang sekarang jadi.

8 Agfian Muntaha { 02.28.14 at 4:27 am }

Hahaha, saya suka sekali dengan yang terakhir. Usaha instan 3-6 bulan dianggap lebih penting dibanding track record bertahun-tahun sebelumnya.
:D

9 dispensing valves { 03.25.14 at 11:48 pm }

terima kasih gan atas infonya
sangat bermanfaat untuk ntar tanggal 9 april dengan memilih pemimpin yang benar-benar nyata dengan omongannya

Leave a Comment