E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

2013: The Creative Year

Tahun 2013 berbagai kondisi ekonomi, bisnis, dan politik di dalam negari maupun global tidak begitu bersahabat. Di tingkat global krisis di Eropa dan krisis fiskal Amerika Serikat berujung pada bayang-bayang resesi ekonomi dunia yang masih terus mengintai. Sementara di dalam negeri, beberapa perkembangan negatif dari demo buruh hingga acang-ancang pemilu merupakan mendung yang menggayuti dunia usaha kita.

Namun di tengah perkembangan yang suram tersebut, jangan lupa Indonesia kini sedang di masa-masa awal transformasi struktural jangka panjang yang menjadi driver positif bagi menggeliatnya perekonomian nasional di tahun 2013 dan tahun-tahun berikutnya. Salah satunya adalah pertumbuhan konsumen kelas menengah yang menjadi pilar kekuatan pasar domestik.

Kombinasi dari “the bad” (tren negatif: situasional-jangka pendek) dan “the good” (tren positif: struktural-jangka panjang) ini akan menghasilkan sebuah dinamika lingkungan bisnis menantang.

The Bad: Crisis
Mendung pekat masih mewarnai perekonomian dunia karena penanganan krisis Eropa masih sarat dengan ketidakmenentuan. Hal ini diperparah dengan masih belum jelasnya tarik-menarik kebijakan fiskal Amerika Serikat. Pemerintah AS sekarang menghadapi risiko besar kebijakan peningkatan pajak dan pemangkasan anggaran belanja Amerika Serikat secara otomatis yang menimbulkan jurang fiskal (fiscal cliff). Risiko paling besar dari kebijakan untuk memangkas secara tajam defisit anggaran ini adalah terjadinya resesi di sepanjang tahun 2013.

Indikasi menurunya perekonomian dunia khususnya di negara maju ini sudah terbaca. Dalam laporannya akhir Novenber lalu, OECD yang membawahi 34 negara-negara maju memperkirakan AS hanya tumbuh 2,0 persen tahun 2013. Sementara ekonomi zona Euro berkontraksi sebesar 0,1 persen. Pertumbuhan dunia masih tertolong oleh negara-negara maju baru (emerging countries) seperti Cina tumbuh 8,5 persen, India (6,5 persen), dan Brasil (4 persen). Kalau pertumbuhan negara-negara maju mengecewakan maka permintaan terhadap komoditi unggulan Indonesia (batubara, kelapa sawit, karet, dll.) juga akan melemah.

Itu di tingkat global. Di dalam negeri, kondisi kurang bersahabat juga bakal terjadi di tahun depan. Demo buruh menuntut kenaikan upah tahun ini menemukan critical mass-nya, dan akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya: “It’s point of no return”. Ini sekaligus menandai berakhirnya bonanza upah buruh murah di Indonesia. Meningkatnya upah buruh menjadi tekanan bagi pengusaha kita karena naiknya biaya produksi.

Di sisi lain, subsidi BBM yang membengkak hingga mendekati Rp.200 triliun tahun depan juga akan mendorong pemerintah untuk menaikkan harga BBM di awal tahun depan. Kalau skenario ini terjadi maka dampak ikutannya akan ke mana-mana: tarif listrik naik, ongkos produksi naik, dan ujung-ujungnya inflasi pun akan terkerek naik.

Ranjau lain yang dampaknya akan sangat luas adalah pemilu. Kita tahu tahun depan adalah “tahun pemanasan” menuju pesta demokrasi lima tahunan yang akan digelar 2014. Hal ini tentu saja akan meningkatkan political risk di kalangan pelaku usaha kita. Memanasnya iklim politik menyebabkan mereka mengambil posisi berhati-hati dan menahan diri (wait and see) dalam melakukan ekspansi bisnis. Belajar dari pengalaman pemilu sebelumnya, mudah-mudahan memanasnya iklim politik ini tak terlalu berdampak pada aktivitas bisnis dan ekonomi nasional.

The Good: Megatrends
Di tengah banyak ranjau di atas, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kokoh sebagai buah dari transformasi struktural-jangka panjang yang dampaknya akan dirasakan sejak tiga tahun terakhir. Transformasi ini ditandai oleh “twin megatrends”. Pertama, revolusi pertumbuhan konsumen kelas menengah (“consumer 3000”). Kedua, berkah bonus demografi (demographic bonus) yang ditandai melonjaknya angkatan kerja produktif (usia 15-64 tahun). Dua megatrends ini impact positifnya akan kian nyata kita rasakan di tahun depan.

Mengacu kepada definisi Bank Dunia, pengeluaran perkapita perhari sebesar $2-20, jumlahnya kelas menengah kita saat ini sudah mencapai sekitar 140 juta atau hampir 60 persen dari total jumlah penduduk. Jumlah kelas menengah yang besar ini merupakan sumber kekuatan pasar domestik yang luar biasa (tahun ini besarnya mencapai Rp.4 ribu triliun). Dalam laporan terakhirnya dua bulan lalu, McKinsey Global Institute menggunakan terminologi “consuming class” (penduduk dengan pendapatan perkapita pertahun sebesar $3600 ke atas) sebagai pilar dari sektor konsumsi yang tumbuh luar biasa di Indonesia.

Basis kelas menengah yang besar merupakan driver bertumbuhnya berbagai sektor industri di tanah air mengingat mereka memiliki daya beli tinggi dan mengkonsumsi produk-produk advance seperti gadget, mobil, produk pebankan, hingga entertainment. Tak hanya itu, konsumsi domestik yang ditopang konsumen kelas menengah juga menjadikan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi dalam menghadapi krisis di Eropa maupun Amerika. Kondisi inilah yang menjadikan kita optimis mampu melampaui krisis ekonomi dunia di tahun depan.

Revolusi kelas menengah (di sisi konsumtif) yang diikuti dengan berkah bonus demografi (di sisi produktif) merupakan momentum penting yang diyakini akan membawa ekonomi Indonesia mencapai era keemasan di tahun-tahun ke depan (bonus demografi diperkirakan mencapai puncak di tahun 2020-2030). Optimisme inilah yang menjadikan kepercayaan investor kepada ekonomi Indonesia melonjak. Lembaga pemeringkat asing (Moody’s, S&P, Fitch) serempak menaikkan peringkat investasi Indonesia dan investasi asing langsung (FDI) deras mengalir ke Tanah Air.

Dengan fundamantal ekonomi yang kokoh ini, tak heran jika Bank Indonesia mengeluarkan proyeksi ekonomi yang sangat optimis di tengah bayang-bayang krisis global yang masih terus mengintai. BI memproyeksikan ekonomi kita tetap tumbuh mantap di tahun 2013 sebesar 6,3-6,7 persen; investasi naik 11,6-12 persen; pertumbuhan konsumsi rumah tangga naik 5-5,4 persen; sementara inflasi dipertahankan di tingkat 3,5 – 5,5 persen.

The Great: Creative
Krisis global dan dinamika ekonomi-politik dalam negeri kurang menguntungkan yang berpaut dengan fundamental ekonomi kokoh karena adanya megatrends di atas menghasilkan wajah perekonomian 2013 yang cukup berat tapi tetap menantang (tough, yet challenging) bagi para pelaku bisnis. Tough karena banyak “ranjau” yang harus kita lalui di tahun depan. Tapi challenging karena kalau kita tepat melakukan inovasi strategi kita akan bisa menemukan peluang yang luar biasa untuk mengunci persaingan. Karena itu saya sebut tahun 2013 sebagai: “The Creative Year”, tahun berat yang sarat kreativitas.

Kondisi terberat tentu adalah kenaikan ongkos produksi akibat meningkatnya upah karyawan. Apabila hal ini juga diikuti dengan kenaikan BBM dan kenaikan tarif listrik, maka efeknya pada kenaikan biaya produksi akan berlipat-ganda. Kalau sudah begini maka skenario yang bisa ditempuh para pelaku bisnis hanya dua. Pertama strategi cost leadership dengan melakukan efisiensi (operational excellence) dan pemangkasan biaya-biaya agar tetap kompetitif. Kedua strategi pertumbuhan dengan menggenjot penjualan melalui inovasi produk (menghasilkan value proposition baru), reposisi model bisnis, atau menemukan dan menggarap pasar-pasar baru (blue ocean market) yang belum terpikirkan sebelumnya.

Dalam konteks tahun 2013, seharusnya strategi pertumbuhan lebih challenging karena perubahan kita tahu tumbuhnya kelas menengah dan perubahan perilaku mereka berpotensi menghasilkan peluang-peluang pasar baru yang menggiurkan. Tren-tren konsumen kelas menengah seperti: pergeseran konsumsi ke produk-produk yang lebih advance (gadget, mobil, hiburan, produk keuangan, dll.); munculnya gaya hidup dan kebiasaan baru (lihat misalnya sukses 7-Eleven); pergeseran preferensi konsumen ke arah produk-produk sehat dan ramah lingkungan; atau tren maraknya produk-produk tersier seperti perawatan tubuh dan hiburan; semuanya bisa menjadi insight luar biasa untuk berinovasi dan mendongkrak omset.

Melempemnya pasar Eropa dan Amerika di tahun 2013 bisa diperkirakan bakal mendorong China mengalihkan produk-produk murahnya ke pasar-pasar lukratif seperti Indonesia. Ini tentu saja akan menjadi tekanan persaingan luar biasa kepada pelaku usaha di Tanah Air. Namun sekali lagi, hal ini akan mendorong pemain lokal untuk berinovasi menghasilkan produk-produk value for money yang tetap memiliki daya saing dalam menghadapi serangan “the China price”. Gempuran produk China akan semakin menyadarkan pelaku usaha bahwa daya saing tak melulu terbangun oleh harga murah, tapi lebih pada excellent value yang ditawarkan ke konsumen.

Dinamika pasar yang tough, yet challenging ini akan membawa pelaku usaha untuk tak larut pada kondisi comfort zone seperti ketika kondisi ekonomi sedang bagus-bagusnya. Jadi blessing in disguise, kondisi tak nyaman ini membawa mereka untuk terus alert dan kepepet, yang mudah-mudahan akan menghasilkan energi inovasi dan kreativitas yang luar biasa.

Welcome 2013. Welcome the tough year… the challenging year… the creative year.

2 comments

1 Wahyu Awaludin { 12.06.12 at 1:22 am }

the creative..keren :D

2 BioJanna { 12.07.12 at 6:02 pm }

Semoga kami bisa terus menghasilkan produk2 yg kreatif

Leave a Comment