E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

CROWD “Marketing Becomes Horizontal” – Manifesto #8: Your Brand Is a CULT. Create Ideology around It and Spread to Your Believers.

Cult brand adalah capaian tertinggi sebuah merek.
Merek Anda boleh dikenal di setiap jengkal jagat ini.
Merek Anda boleh mengandung asosiasi dan image yang demikian harum
Merek Anda boleh memiliki persepsi kualitas kokoh tak tertandingi.
Atau, merek Anda diloyali begitu rupa.

Tapi semuanya itu belum komplit kalau merek Anda belum menjadi sebuah cult.
Cult brand adalah “ultimate destination of a brand”
Cult brand adalah UJUNG pengembarangan sebuah merek menuju kesempurnaan.

Apple is a CULT

Apple is a CULT

Cult brand adalah sebuah capaian di mana merek Anda menjadi sebuah KEPERCAYAAN. Sebuah KEYAKINAN… sebuah BELIEF.
Di mana di atas kepercayaan tersebut terbangun sebuah IKATAN SPIRITUAL antara merek dengan pelanggan.
Sebuah ikatan halus yang tak akan bakal memisahkan keduanya… SELAMANYA.

Jesper Kunde, seorang pakar merek, menyebutnya: “Brand Religion” – sebuah istilah yang menurut saya berlebihan.
Ya, karena menurutnya merek yang mencapai strata ini mampu mengikat “penganut”-nya dengan BELIEF yang sama.
Sekali lagi, sebuah ikatan spiritual yang begitu kokoh, tak lapuk ditelan jaman.

Ikatan spiritual inilah yang menjadikan pelanggan bisa lantang bilang:
”The brand is me!!!”
”It’s my way of life!!!”
“It’s my reason for being”
Gila, sampai-sampainya pelanggan bilang BRAND merupakan alasan keberadaanya.
Alasan kenapa ia hidup.

Seperti lagunya Bon Jovi: ”It’s my LIFE”

Harley-Davidson is customer’s LIFE.
Facebook is customer’s LIFE
Whole Food is customer’s LIFE.
Mac is customer’s LIFE.
A Mild is customer’s LIFE.
Slank is fan’s LIFE

Ini adalah definisi sederhana saya mengenai cult brand:
“Sebuah KOMUNITAS, biasanya ekseklusif, di mana para anggotanya mengikatkan diri — sebuah ikatan “spiritual” — dengan kepercayaan, keyakinan, dan ideologi yang sama”

Wow… cult brand adalah komunitas?
Ya!!! Komunitas, dimana setiap anggota memiliki SENESE OF DIFFERENCE dari dunia “mainstream” di sekitarnya. Karena merasa berbeda, mereka pun merasakan sebagai mahluk paling spesial di muka buni ini.

Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF SECURITY. Mereka merasa aman, tenteram, dan FEEL AT HOME ketika berbaur dengan anggota lain.

Komunitas di mana merek memiliki SENSE OF BELONGING yang tinggi, karena itu mau dan berani berkorban (Jihad?… Mungkin!) demi tegaknya ideologi yang mereka pegang bersama.

Komunitas dimana mereka memiliki SENSE OF RESPONSIBILITY untuk menjaga nilai-nilai (“common values”) yang menjadi pegangan dan tatanan keluarga besar yang mereka bangun. Secara natural mereka merasakan tanggung-jawab sebagai penjaga tegaknya nilai-nilai bersama tersebut.

Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF MEANING. Bergabung di dalam komunitas berarti memaknai hidup, hidup mereka lebih bermakna dengan bergabung di dalam komunitas, mereka mampu mengekspresikan diri sehingga LEBIH menjadi dirinya sendiri.

Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF DEVOTION. Bergabung di dalam komunitas berarti MEMPERSEMBAHKAN hidup mereka bagi kebaikan dan kebesaran komunitas. Bagi mereka, bergabung di dalam komunitas adalah, Their GREAT DEVOTION.

Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF ACTUALIZATION. Momen-momen bergabung dengan anggota komunitas lain menjadi begitu berharga karena karena di situlah mereka bisa mengaktualisasikan diri. Karena itu cult brand adalah juga media untuk aktualisasi diri, it’s a self-actualization MACHINE.

Ingat, ”6S” di atas adalah “harta karun” terpenting bagi merek Anda.
Saya menyebut ke-6S tersebut: ”Your PASSPORT to Brand Nirvana”.
Kenapa?
Kalau Anda mampu membawa pelanggan Anda merengkuh kelima-limanya, maka jalan merek Anda menuju cult brand bakal terwujud.
Dan ketika itu terjadi, maka sebuah anugerah tak ternilai akan Anda dapatkan …your brand nirvana.

Saat itu juga, barangkali Anda sudah tidak cocok lagi menyebut mereka sebagai PELANGGAN, mereka lebih pas disebut sebagai PENGANUT. They are not CUSTOMERS. They are BELIEVERS.

6 comments

1 Widi { 10.31.08 at 2:40 am }

Mantabs mas uraiannya. banyak brand yg gagal untuk mencapai tingkatan sebagai cult brand. Jalan panjang dan mendaki harus dilalui untuk mencapai tingkatan itu.
Apa saja yg menyebabkan sebuah brand gagal mencapai puncak tingkatan tertingginya. Faktor-faktor apa saja yg pantang dilanggar agar sebuah brand melaju menuju puncak kejayaanya dalam waktu cepat? Apakh mungkin sebuah brand mencapai tingkatan tsbt dalam waktu cepat?

2 yuswohady { 10.31.08 at 8:30 am }

Normalnya memang lama, tapi ada beberapa extraordinary brand yang melakukannya dalam waktu relatif singkat. Contohnya Facebook yang baru berusia 3-4 tahun. Linux juga relatively baru, sekitar 5-10-an tahun. Celakanya, sebuah cult brand dalam banyak kasus tak bisa “didisain”, terbentuknya seringkali melalui sebuah “momentum” yang muncul sebagai interaksi antara brand dengan customer, lingkungan, dan faktor-faktor penunjang lain. Kalau momentumnya pas, proses pembentukan cult brand bisa berlangsung lebih cepat bahkan sangat cepat.

3 Dr Lanny Juniarti { 11.01.08 at 9:50 am }

Apakah “momentum”nya bisa sengaja diciptakan?
Karena menunggu momentum kan tidak pasti datangnya.
Dan bagaimana menciptakan momentum?

4 Jumadi Subur { 11.03.08 at 12:36 pm }

Yuswohady is a brand. New bran for marketing knowledge in Indonesia.
Senang mas Siwo menuangkan uneg-uneg yang intelek disini, sebagai referensi kita dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip pemasaran.
Sukses mas Siwo!

Oh iya, saya mau bertanya, bagaimana urgensi Brand bagi UKM (toko batik, dll) sehingga ia mampu mengangkat namanya sehingga bersaing dengan ratusan toko sejenis yang ada di Pekalongan?

5 yuswohady { 11.04.08 at 11:49 pm }

Orang selalu menganggap bahwa membangun brand itu mahal dan cuma bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Saya kira nggak begitu. Dagadu adalah salah satu contoh kasus bagus bagaimana sebuah UKM mampu membangun brand nya secara baik dengan resource yang terbatas (nggak perlu pakai iklan TV, jarang beriklan dikoran, tapi lebih memanfaatkan word of mouth). Saya melihat untuk kasus UKM membangun brand adalah sebuah opportunity yang bukan main besarnya. Kenapa? Karena kebanyakan UKM tidak memiliki kesadaran membangun merek. Mereka selalu menyikapi produknya adalah komoditas, sehingga semua pemain adalah pemain komoditas. Di tengah red ocean seperti itu, sebuah UKM bisa menjadi blue ocean player dengan cara membangun brand. Dengan branding UKM tersebut bisa mendiferensiasi diri di tengah kerumunan kompetitor lain yang merupakan pemain komoditas.

6 bagus { 03.17.09 at 9:10 pm }

pagi

jalan panjang dan berliku untuk sebuah menjadi cult brand dan tergantung bagaimana menyikapinya,seperti nirvana atau apple, pendiri mereka semua sebelum terkenal menyerahkan hidupnya demi kesuksesan tersebut,tanpa mengenal waktu,biaya
yang penting kerja dan berinovasi.mohon maaf kalu komentarnya salah….

Leave a Comment