E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Resto Indonesia Mendunia

Hari Kamis-Jumat (22-23 November) lalu adalah hari bersejarah bagi Indonesia karena hari itu untuk pertama kalinya kita mengumpulkan sekitar 100 pemilik resto Indonesia di luar negeri (“resto diaspora”) di ajang “Wonderful Indonesia Gastronomy Forum (WIGF): Diaspora Restaurant” yang dibesut Kementerian Pariwisata.

Mereka datang ke Jakarta untuk meneguhkan tekad melakukan diplomasi kuliner agar masakan-masakan hebat Indonesia bisa mendunia dan diterima oleh konsumen global. Seperti halnya pizza (Italia), Tom Yam (Thailand), atau Sushi (Jepang), kita ingin masakan-masakan hebat kita seperti soto, rendang, sate, nasi goreng, dan gado-gado bisa diterima masyarakat dunia.

Foto bareng resto diaspora owners 2

Emosional
Bertemu dengan para pemilik resto diaspora sungguh emosional. Bayangkan, selama ini mereka berjuang sendiri di negeri orang, negara lalai. Dan begitu negara hadir mengulurkan tangan, mereka begitu trenyuh, dan tak henti-hentinya berterima-kasih.

Jangan dikira mengelola resto di negeri orang itu gampang. Mereka betul-betul menjadi CEO alias “Chief of Everything Officer”. Karena semua urusan mulai dari manajemen resto, keuangan, jualan, masak, bahkan cuci piring, mereka lakukan sendiri. Semua dilakukan secara “one-man show”, karena memang biaya tenaga kerja di negera-negera Eropa atau di Amerika mahal minta ampun.

Tak sedikit resto-resto Indonesia di luar negeri yang tutup karena pemiliknya tak kuat lagi mengelolanya. Tak jarang pula resto-resto Indonesia itu berpindah pemilik dan beralih-fungsi menjadi resto Thailand atau resto Jepang karena mendirikan dan mengelola resto Thailand dan Jepang jauh lebih mudah.

Kenapa? Karena negara mereka hadir sebagai “dewa penolong” membantu pengadaan bumbu dan bahan baku, memberikan soft loan pendirian resto, dan aktif membantu promosi.

Lalu bagaimana membantu resto diaspora untuk mengembangkan diri sekaligus menyebarkan masakan Indonesia ke seluruh dunia? Caranya bisa melalui dua jalur yaitu “business to government” (B2G) dan “business to business” (B2B).

Foto bareng resto diaspora owners

B2G
Jalur B2G dilakukan melalui campur tangan pemerintah secara aktif dalam melancarkan bisnis resto diaspora. Domain peran pemerintah di sini mencakup: kebijakan dan regulasi, orkestrasi Indonesia Inc. (kolaborasi unsur pentahelix: government, business, academician, media, community), lobi ke negara/pemerintah lokal, hingga aktivasi promosi secara langsung.

Di salah satu sesi WIGF ada cerita menarik yang disampaikan pemilik resto di Shanghai. Awalnya ia menggunakan santan Kara asal Indonesia untuk masakannya, namun sejak setahun terakhir ia menggunakan produk santan Thailand. Pasalnya harga santan Kara di Shanghai dua kali lipat harga santan Thailand. Kenapa begitu? Karena produk santan Thailand menikmati bea masuk impor yang rendah berkat lobi-lobi dan kebijakan strategis pemerintah Thailand.

Terkait peran negara dalam membantu resto diaspora, kita wajib belajar dari Thailand. Melalui program “Kitchen of the World” sejak tahun 1990-an, Thailand aktif mendorong resto diaspora Thailand sehingga kini mampu “menjajah” dunia dengan jumlah puluhan ribu Thai resto di seluruh dunia.

Pemerintah Thailand agresif mendorong resto diasporanya dengan beragam strategi seperti: Memberikan soft loan hingga 100 ribu dolar untuk pendirian Thai resto di laur negeri; strategi sistematik untuk menyebarkan national food ke seluruh dunia; hingga mengembangkan infrastruktur global cold-chain food logistic untuk menopang operasi Thai resto di seluruh dunia.

Foto Bareng Menpar & Menlu

B2B
Sementara jalur B2B bisa dilakukan dengan mengerahkan partisipasi perusahaan-perusahaan Indonesia, khususnya yang memasarkan produk dan memiliki operasi di luar negeri, untuk membantu operasi resto diaspora.

Satu inisiatif yang sama sekali baru di WIGF ini adalah menyambungkan kepentingan perusahaan-perusahaan nasional kita dengan resto diaspora. Di sini Kemenpar melalui Cobranding Team-nya menjadi “mak comblang” mempertemukan kepentingan perusahaan-perusahaan nasional dengan para pemilik resto diaspora.

Sesi Business Matching

Sesi Business Matching (B2B)

Ambil contoh BRI memiliki nasabah prioritas (wealth management) yaitu orang-orang kaya yang berpotensi menjadi partner/investor bagi pemilik resto diaspora. Maka BRI bisa menggelar business matching, mempertemukan nasabahnya dengan para pemilik resto diaspora. Perlu diketahui, partner/investor merupakan kendala paling krusial bagi pemilik resto diaspora dalam mengembangkan jaringan restonya.

Contoh lain, Suwe Ora Jamu (kedai jamu dan produsen jamu kemasan) dan Javara (produsen pangan lokal khas Indonesia seperti beras, rempah-rempah, kacang hijau, minyak, hingga rumput laut) yang hadir di WIGF kemarin misalnya, bisa melakukan kerjasama B2B dengan resto diaspora untuk menyebarkan jamu ke seluruh dunia atau memasok kebutuhan bumbu dan rempah-rempah.

Ada banyak format kerjasama B2B yang bisa dilakukan. Kebetulan Cobranding Team Kemenpar sudah mengurasi sekitar 130 perusahaan/brand nasional yang siap untuk bekerjasama mendukung resto diaspora di seluruh dunia.

Bersama Chef Yono

Bareng Chef Yono, Chef kelas dunia kebanggaan Indonesia

Mari kita mainkan. Inilah indahnya kolaborasi, yaitu ketika seluruh elemen bangsa (Pentahelix) bergandengan tangan dan bersatu-padu untuk membantu resto diaspora.Visinya jelas, yaitu membawa soto, rendang, atau nasi goreng “menjajah” dunia dengan memanfaatkan resto diaspora sebagai channel pemasaran.

Viva resto diaspora… viva kuliner Indonesia.

November 24, 2018   No Comments

Ketika Hijrah menjadi Lifestyle

Festival biasanya digelar seiring dengan munculnya tren atau gaya hidup baru yang sedang happening.

Dulu di akhir tahun 60-an ketika musik rock menjadi demam di seluruh dunia, muncul festival legendaris Woodstock.

Sekitar 10 tahun lalu saat dance music sedang heboh-hebohnya di Jakarta, muncul festival DWP (Djakarta Warehouse Project).

Atau kini saat kopi artisan digilai kaum milenial maka muncul begitu banyak festival kopi di seluruh pelosok negeri.

Nah, minggu lalu kita menyaksikan fenomena yang menarik di JCC Jakarta, dimana “hijrah” dijadikan ajang festival dan sukses luar biasa sehingga menimbulkan viral di mana-mana. Namanya, Hijrah Fest 2018.

Logikanya, (mengacu pada tiga festival yang saya sebutkan di atas), “hijrah” kini menjadi sesuatu yang happening, heboh, dan keren, sehingga perlu difestivalkan.

Hijrah Fest 2018

Pertanyaannya… Fenomena apakah ini?

Hijrah Fest sesungguhnya bukanlah fenomena yang datang tiba-tiba. Sejak 10 tahun lalu, melalui tulisan-tulisan dan dua buku saya Marketing to the Middle Class Muslim (2014) dan Generation Muslim #GenM (2016), saya sudah melihat akar dan gejalanya.

Bahkan di buku yang kedua, saya sudah memberi subjudul: “Islam itu Keren” untuk menggambarkan tren gaya hidup muslim yang kian keren dan diminati kalangan muda perkotaan. Artinya, sejak itu kalangan milenial muslim mulai mendapatkan identitas baru yang keren.

Sejak hampir sepuluh tahun yang lalu saya sudah mulai melihat gejala bahwa gaya hidup muslim bakal menjadi gaya hidup yang keren, bahkan menjadi unsur inheren budaya pop di Indonesia.

Contohnya, dulu di pertengahan tahun 2000-an muncul tren musik, sinetron, dan film Islam yang begitu heboh. Di film misalnya, dipicu sukses Ayat-Ayat Cinta (2008), film-film bertema Islam menjadi boom dan menjadi identitas budaya pop baru yang universal. Artinya tidak hanya disukai oleh kaum muslim saja, tapi oleh semua kalangan masyarakat.

Kemudian menjelang tahun 2010-an, tiba-tiba hijab fashion menjadi tren kaum muslimah urban yang cool (sering disebut “hijabers lifestyle”). Tren ini memicu gelombang revolusi industri hijab di tanah air.

Ke depan saya masih menunggu tren-tren gaya hidup muslim berikutnya yang bakal happening seperti: “halal lifestyle”, “sportyjab lifestyle”, “non-riba lifestyle”, atau “wakaf lifestyle” hingga “mipster (muslim hipster) lifestyle”.

Saya perkirakan gaya hidup baru muslim yang keren itu bakal menyeruak menjadi mainstream budaya massa yang mewabah di seluruh tanah air.

Terkait Hijrah Fest, saya ingin memberikan catatan khusus karena terdapat fenomena amat menarik di dalamnya. Kenapa? Karena tren ini digerakkan oleh kaum muda milenial perkotaan (dengan “booster” para artis hijrah) yang passionate memperdalam agama.

Fenomena hijrah sudah sejak lama ada, namun kini di tangan milenial, hijrah menjadi sesuatu yang cool, kekinian, dan punya daya magnet ampuh dalam memengaruhi para peers (sesama milenial muslim) untuk ikutan berhijarah.

Lalu apa kaitan semua fenomena kekinian ini dengan syiar Islam?

Ini yang menarik. Dalam konteks marketing, saya sering mengatakan bahwa cara paling ampuh untuk memasarkan sesuatu adalah dengan menjadikannya sebagai sebuah lifestyle yang cool.

Kenapa Upnormal bisa begitu sukses misalnya, bukan dikarenakan Indomie-nya yang disulap dengan beranekaragam topping, tapi lebih karena nongkrong di Upnormal kini sudah menjadi sebuah lifestyle yang cool.

Nah, ketika hijrah disulap menjadi sebuah lifestyle baru yang cool, maka ia akan menjadi “alat pemasaran” yang ampuh untuk mengajak kaum milenial lain berhijrah. Caranya bukan dengan ceramah menggurui, tapi melalui “peer to peer influence” antar sesama milenial.

Inilah gaya baru syiar Islam ala milenial, dimana menyebarkan kebaikan Islam bukan lagi dengan penanaman nilai secara indoktrinatif, tapi dengan menjadikan kebaikan Islam sebagai sebuah lifestyle yang keren.

November 17, 2018   No Comments

Why Millennials Love Fintech?

Milenial adalah “pembunuh berdarah dingin”. Apapun “dibunuhnya”. Mulai dari department store, CD/DVD, golf, berlian, bir, Harley Davidson, bahkan jam kerja kantoran dari pukul 9 pagi hingga 5 sore (“9 to 5”) dibunuhnya. “Millennials kill everything

Ketika perusahaan, produk, atau layanan yang sudah established puluhan tahun kini tidak relevan lagi bagi milenial, maka dengan sendirinya mereka akan tergusur dan akhirnya punah ditelan jaman.

Ketika “sharing lifestyle” menjadi mainstream kehidupan para milenial, maka CD/DVD misalnya, akan punah karena tak ada yang menggunakan lagi. Ya, karena milenial lebih suka menggunakan layanan streaming seperti Netflix atau Spotify. Bagi milenial “access” lebih penting ketimbang “own”.

Satu lagi korban “pembantaian” milenial adalah bank. Persis seperti dibilang Bill Gates 25 tahun yang lalu bahwa, “Banking is necessary, bank are not.” Bukan “banking” yang dibunuh milenial tapi “bank as we know it”, yaitu bank yang tak adapatif dan tak bisa agile mengikuti pergeseran preferensi dan perilaku milenial.

Pelan tapi pasti milenial mulai melakukan eksodus dari bank konvensional ke layanan fintech. Banyak ragam layanan fintech ini mulai dari layanan pembayaran (Go-pay atau TCash), P2P lending (Amartha atau UangTeman), reksadana (Bareksa), hingga layanan perencanaan keuangan (Finansialku).

Millennials Love Fintech

Anyway, kenapa milenial begitu cocok dan jatuh cinta kepada layanan fintech ketimbang bank tradisional? Berikut ini tiga alasannya.

#1. It’s Digital: “More for Less”
Saya menyebut milenial sebagai “generasi susah”. Kenapa? Karena perjalanan hidup mereka sarat dipenuhi krisis yang bertubi-tubi. Pertama di usia SMP-SMA orang tua mereka struggle menghadapi krismon 1998 yang membuat ekonomi keluarga begitu sulit. Kedua, di masa lulus kuliah dan mulai mencari kerja, sekali lagi mereka terhempas krisis 2008. Hidup susah ini mengendap dalam mindset, pola pikir, dan perilaku mereka.

Tak hanya itu, setidaknya hingga saat ini, mereka belum banyak punya duit untuk menghidupi diri karena umumnya mereka adalah early jobbers dengan gaji yang masih cekak. Karena itu setiap pengeluaran yang dia lakukan ditimbang masak-masak untung-ruginya. Mereka “hypervalue-oriented consumers”.

Dengan background kondisi ekonomi yang tak menguntungkan tersebut, mereka cenderung mencari layanan apapun dengan value maksimal. Mereka mencari produk dan layanan banking yang “more benefit, with less cost” (atau singkatnya: “more for less”).

Mereka mencari layanan banking yang cepat, nggak ribet dengan beragam persyaratan, dan solutif menyelesaikan persoalan keuangan mereka; tapi dengan fee yang jauh lebih murah dari bank tradisional.

Nah, platform digital yang diberikan fintech mampu memberikan solusi “more for less” itu. Kenapa bank tradisional nggak bisa? Pertama, karena mereka terbeban overhead yang begitu berat sehingga nggak efisien. Kedua, karena operasi mereka terbelenggu regulasi dan birokrasi yang melilit.

2. It’s Sharing: “Peer to Peer Matters”
Milenial nyaman dengan gaya hidup berbagi (sharing lifestyle) karena itu mereka lebih menyukai layanan perbankan yang berbasis “peer to peer” dan kolaboratif (kokreatif). Itu sebabnya “peer to peer lending” yang diberikan oleh fintech misalnya, lebih mereka sukai ketimbang conventional lending services yang diberikan bank tradisional.

Platform “marketplace” yang mempertemukan pencari pinjaman dan pemberi pinjaman dalam lingkungan pasar yang transparan dan efisien lebih diminati milenial ketimbang pasar yang dikendalikan oleh “rejim” bank tradisional yang regulated-birokratis, tertutup, dan tak memberikan kebebasan penuh kepada nasabah.

Lingkungan pasar semacam ini memungkinkan pencari pinjaman dan pemberi pinjaman menemukan “harga terbaik” secara fair, informatif, dan transparan. Platform marketplace yang berbasis “peer to peer” adalah solusi cespleng yang diberikan fintech dan belum bisa diberikan oleh bank tradisional. Itu sebabnya saya menyebut model layanan bank tradisional yang ada selama ini tidak “millennial-friendly”.

UKM adalah salah satu segmen yang selama ini kurang terlayani dengan baik oleh bank tradisional karena adanya persyaratan yang ribet dan prosedur yang berbelit. Dengan adanya platform “peer to peer lending” yang diberikan oleh fintech, maka UKM akan mendapatkan solusi keuangan yang cespleng. Dan dampak positifnya, potensi segmen kini terbuka lebar dan pasarnya menggeliat begitu cepat.

#3. It’s Mobile: “My World Is My Handphone”
Kenapa Go-pay begitu sukses menarik minat milenial, sementara layanan yang sama oleh bank tradisional tidak? Kuncinya adalah kemudahan dan kesimpelan. Kenapa mudah dan simpel? Karena semuanya ada di gengaman tangan milenial, yaitu di handphone. “The world is in my hand,” tukas mereka.

Hidup milenial adalah di handphone, bukan di kartu atau di kantor cabang. Itu sebabnya ketika saya mengatakan: “Millennials kill everything”, maka dua hal yang akan “dibunuh” milenial adalah: pertama kartu kredit, kartu debit, dan kartu-kartu yang lain. Kedua adalah kantor cabang bank. “Card will die… branch will die”.

Bagi kalangan generasi-generasi sebelumnya (yup, Baby Boomers dan Gen-X), ketika di dompet mereka ada sepuluh kartu kredit dari berbagai bank, mereka begitu bangga dan merasa prestige. Namun kini milenial tidak demikian. Milenial menginginkan simplicity ketimbang prestige dimana semua transaksi bisa dilakukan di handphone mereka dengan mudah, murah, dan nggak ribet.

November 10, 2018   No Comments

How Millennials Kill Everything

Judul tulisan ini adalah bakal judul buku yang kini idenya terus bergentanyangan di otak saya, yang membikin tiap malam saya kesulitan tidur. Mudah-mudah buku ini bisa keluar dalam 2-3 bulan ke depan. Kalau tidak, saya akan terus tersiksa insomnia hebat.

Coba googling dengan kata kunci “millennials kill”, maka Anda akan mendapati betapa milenial adalah “pembunuh berdarah dingin” yang membunuh apapun.

Di halaman pertama hasil pencarian Google saya menemui judul-judul menyeramkan seperti ini:
RIP: Here Are 70 Things Millennials Have Killed
Things Millennials Are Killing in 2018
Millennials Kill Again. The Latest Victim? American Cheese
Millennials Are Killing the Beer Industry
How Millennials Will Kill 9 to 5 Job?

Bahkan ada situs yang menulis:
The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed.

Di dalamnya peringkat produk dan layanan yang paling cepat “dibunuh” oleh milenial. Ada dalam urutan peringkat itu produk-produk seperti: berlian di urutan 29; golf di urutan 23; department store di urutan 20; sabun batang di urutan 15; kartu kredit di urutan 10; dan bir di urutan 5.

Millennials Kill Everything New

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%.

Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan puhah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tapi pasti mulai berguguran.

Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya, saya curiga ini adalah kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Mungkin biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Program KB yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. So, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? So pasti kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Millennials will kill everything!!! So, hati-hati jangan sampai Anda sasarannya.

November 3, 2018   4 Comments

Transformasi Mindset UKM

Pemerintah, korporasi besar, atau partai yang sedang berkampanye selalu mengatakan bahwa UKM harus ditransformasi dari skala kecil menjadi usaha menengah dan akhirnya menjadi besar.

Karena mereka tak tahu betul persoalan di lapangan, maka bisa ditebak solusinya sembarangan. Layaknya Sinterklas mereka datang memberi bantuan modal, memberikan pelatihan agar skill-nya ter-upgrade, atau memberikan hibah peralatan produksi.

Pendekatan Sinterklas” semacam itu biasanya gagal total. Kenapa? Karena si UKM bukannya menjadi semakin mandiri dan empowered, tapi justru dididik manja dan tergantung. Begitu bantuan dihentikan mereka kembali tak berdaya dan mengiba-iba minta bantuan berikutnya.

Memang betul UKM perlu discaling-up dari usaha kecil menjadi menengah, dan akhirnya besar. Namun sebelum itu semua dijalankan, ada PR awal besar yang harus dituntaskan yaitu melakukan apa yang saya sebut: transformasi mindset.

Subsistence vs Growth
Secara mudah saya membagi UKM ke dalam dua kelompok besar yaitu: UKM yang memiliki pola pikir subsisten (subsistence mindset) dan UKM yang memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Apa itu pola pikir subsisten? Maksudnya, mereka menjalankan bisnis sebatas hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-sehari keluarga (self-sufficiency). Begitu mendapat omset langsung habis dikonsumsi, sehingga usaha tak pernah bertumbuh.

Mereka tak pernah berpikir dan bermimpi besar untuk mengembangbiakkan usaha. Berkembang syukur, tak berkembang ya nggak masalah. Mimpi dan ambisi mereka minimalis.

Kalau sudah begitu, maka hukum self-fulfiling prophecy pun bekerja. Karena mindset-nya serba minimalis, maka bisnis mereka pun terus-terusan minimalis, terus-terusan liliput tak pernah bisa berkembang. Ini membentuk “mental block” yang menghalangi UKM untuk tumbuh dan berkembang.

Dalam menjalankan usaha, wirausahawan UKM subsisten cenderung mengalir saja, layaknya menjalankan rutinitas, dengan selalu menjaga kenyamanan dan status quo. Tak pernah berpikir reinvestasi untuk melipatgandakan usaha. Singkatnya, mereka tak memiliki growth mindset.

Saya menyebut pola pikir subsisten layaknya “penyakit kanker” yang harus diperangi oleh setiap UKM kita. Ketika penyakit kanker ini masih ganas menggerogoti pola pikir mereka, maka sampai kapanpun mereka tak akan bisa maju.

Nah, yang saya maksud dengan transformasi mindset UKM adalah transformasi dari subsistence mindset ke growth mindset. Inilah langkah pertama dan terutama yang harus dilakukan oleh siapapun yang akan memberdayakan UKM.

Bu Karyani - HM Sampoerna

Karyani dan HM Sampoerna
Berbicara mengenai transformasi dari subsitence mindset ke growth mindset, minggu lalu saya ketemu seorang sosok wanita UKM owners hebat bu Karyani dalam sebuah seminar kewirausahaan minggu lalu.

Usaha bu Karyani adalah minuman herbal mulai dari jahe, temulawak, hingga kunyit. Ia memulai usahanya 18 tahun yang lalu dengan modal hanya Rp 50.000. Usahanya kini maju pesat dengan karyawan hampir 40 orang dan omset ratusan juta rupiah, dan laba Rp 50 juta sebulannya.

Satu hal yang saya lihat menarik dari perkembangan usaha bu Karyani adalah pola pikir wanita asal Pringen Pasuruan ini dalam mengelola usahanya, yaitu transformasi mindset dari subsistence ke growth.

Berbicara sekitar setengah jam, saya melihat getaran-getaran ambisinya dalam mengembangkan bisnis UKM-nya menjadi besar dan semakin besar. Dengan growth mindset semacam ini bu Karyani telah mampu mengekspor minuman herbalnya ke pasar Korea Selatan. Dan kini bu Karyani sudah menyiapkan beragam senjata untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut.

Yang menarik juga, rupanya transformasi mindset ini tak muncul begitu saja, tapi melalui dorongan korporasi besar yaitu Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) HM Sampoerna. “Kalau bukan karena dorongan pihak luar, mungkin saya tak akan bisa berubah seperti sekarang,” ujar bu Karyani.

Alih-alih dengan pendekatan top-down, HM Sampoerna menggunakan pendekatan bottom-up dimana kebutuhan pengembangan bisnis bukan datang dari HM Sampoerna tapi dari si UKM. Artinya, pendekatannya one-on-one mengacu persoalan spesifik dari masing-masing UKM. Jadi bukan nggebyah-uyah menyamaratakan seluruh persoalan dengan program bantuan modal atau pelatihan seperti kebanyakan program CSR perusahaan.

Bu Henny Susanto dari HM Sampoerna yang juga saya temui mendampingi bu Karyani mengatakan HM Sampoerna menggunakan pendekatan capacity building dan community development, jadi bukan “pendekatan Sinterklas” yang membuat UKM kian manja dan tak berdaya.

Dari bu Karyani dan HM Sampoerna kita belajar bahwa untuk mengubah pola pikir UKM kita dari subsistence ke growth, maka pendekatannya harus diubah dari “top-down” ke “bottom-up”; dari “Sinterklas” ke “fasilitasi”; dan dari “menggurui” ke “inspirasi”.

Sumber Foto: Tribun News

 

October 28, 2018   No Comments

Bagaimana Milenial Mendisrupsi Tempat Kerja?

Sebagai angkatan kerja, milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku kerja yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Beberapa survei menyebutkan bahwa milenial adalah generasi yang hyper-connected oleh adanya internet, minta diperhatikan dan didahulukan (entitled), malas (“lazy generation”) karena dengan digital semuanya menjadi mudah, tidak fokus karena gampang terdistraksi, dan yang menjadi keluhann banyak bos: mereka tidak loyal pada perusahaan.

Tak heran jika milenial berpotensi mendisrupsi tempat kerja. Maksudnya, ketika budaya, sistem, dan lingkungan kerja di perusahaan tidak bisa mengakomodasi nilai-nilai dan perilaku kerja baru mereka maka perusahaan menjadi tak relevan lagi.

Digital Nomad

Berikut ini adalah lima tren yang membuat milenial menjadi ancaman serius bagi perusahaan sebagai tempat kerja.

From “Paycheck” to “Passion”
Tentu saja milenial bekerja untuk mencari uang, tapi di atas itu, mereka bekerja untuk mengekspresikan passion dan mengaktualisasikan life purpose. Itu sebabnya bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam hari bagi mereka harus bisa menciptakan makna yang bernilai bagi hidup mereka.

Bekerja tak hanya untuk mendapatkan gaji bulanan atau mengejar karir, tapi juga untuk menghasilkan kontribusi yang bermakna bagi keluarga, masyarakat, negara, bahkan umat manusia.

Karena itu berbeda dengan generasi sebelumnya, bagi milenial bekerja di perusahaan startup yang masih baru dan fresh seperti Traveloka atau Gojek lebih bernilai dibandingkan bekerja di perusahaan besar dan mapan seperti Astra atau Citibank.

Kenapa? Karena bekerja di Traveloka atau Gojek, mereka merasa ikut ambil bagian dan berkontribusi dalam merevolusi industri pariwisata dan transportasi. Bagi mereka bekerja di Traveloka atau Gojek lebih cool.

“For millennials, compensation is important and must be fair, but it’s no longer the driver.”

From “Job” to “Life”
Angkatan kerja milenial mulai menyadari bahwa sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja. Karena porsi terbesar waktu mereka untuk bekerja, maka konsekuensi logisnya tak ada lagi batas demarkasi antara kerja dan hidup. Bekerja adalah bagian inheren dari hidup mereka.

Karena itu perusahaan harus bisa menciptakan tak hanya “work environment” tapi juga “playing environment” dan “living environment” di kantor. Kenapa? Karena milenial menuntuk work-life balance yang lebih manusiawi. Tak heran jika tempat kerja banyak starup kini memiliki format bersuasana rumah (homy) dimana “work, play, live” berjalan seiring.

Kini muncul tren di dunia apa yang disebut “digital nomad lifestyle” atau “workcation” yaitu gaya hidup baru yang menggabungkan bekerja, hidup berpindah-pindah, sekaligus liburan. Bali kini dikenal sebagai salah satu “workcation hub” dunia.

For millennials, a job is no longer just a job…
it’s their life as well.

From “Satisfaction” to “Growth”
Berbeda dengan generasi sebelumnya, kini angkatan kerja milenial tak hanya menuntut kepuasan kerja (job satisfaction), lebih dari itu mereka mengingkan pengembangan diri (personal growth).

Mereka menuntut tak hanya berbagai paket benefit mulai dari gaji, bonus, kantin gratis, atau lingkungan kerja yang fun. Itu hanya jangka pendek. Yang lebih sustainable, mereka menuntut perusahaan mampu mengembangkan diri mereka dengan terus mendongkrak knowledge, skill, dan attitude.

From “8 to 5” to “Flexibility”
Rumah di Depok, kantor di Sudirman-Thamrin. Karena Lenteng Agung dan Pasar Minggu macet minta ampun, maka untuk sampai di kantor jam 8 maka terpaksa berangkat dari rumah lepas subuh. Bolak-balik rumah-kantor bisa 5-6 jam dihabiskan di jalan.

Ini adalah kondisi yang tidak manusiawi sekaligus tidak produktif. Karena itu milenial menolaknya. Milenial menginginkan fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mulai muncul tren “remote workers”, “flexible worker”, “flexi job”, dan “gig economy”.

Deloitte memperkirakan, saat ini “remote worker” (pekerja yang tak lagi bekerja secara penuh di kantor) sudah mencapai 39% dari total pekerja penuh-waktu, dimana 15% dari angka tersebut bekerja di rumah (home full-timer). Angka ini akan terus bertambah seiring banyaknya milenial yang memasuki angkatan kerja.

Karena itu kini perusahaan mulai menerapkan flexitime (flexible working schedule) atau menginisiasi konsep “satelite office”, konsep kantor di pinggiran kota, sehingga milenial tak perlu ngantor di pusat-pusat kota dan waktu mereka efisien.

92% of Millennial workers say flexibility is a top priority.” Deloitte study

From “Boss” to “Coach”
Angkatan kerja milenial tak mau dipimpin oleh pimpinan yang bossy. Ia menuntut pimpinannya berperan sebagai coach. Pola kepemimpinan bergeser dari “command & control” ke “conversations & coaching”.

Ini artinya, si pemimpin harus melakukan engagement yang intens dan terus menerus. Pimpinan harus membimbing dengan intens dan memberikan masukan-masukan saat itu juga (instant feedback).

Bagaimana kalau para bos tak mampu menempatkan dirinya sebagai coach? Dengan enteng para pekerja milenial akan resign. Ingat, mereka adalah tipe pekerja yang tidak loyal, yang begitu mudah menjadi kutu loncat dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya.

Millennials don’t want annual reviews…
they want ongoing conversations

Satu dekade ke depan, sekitar 75% angkatan kerja di dunia akan diisi oleh milenial. Dengan porsi yang besar tersebut, maka mau tak mau setiap perusahaan harus bisa mengakomodasi pergeseran-pergeseran besar di atas.

Kalau tidak maka perusahaan menjadi tidak relevan lagi. Dan akan menjadi korban disrupsi milenial.

October 21, 2018   8 Comments

Millennial Voters 2019

Millennial voters bakal menjadi titik pertaruhan di pemilu 2019. Mereka menjadi faktor penentu kemenangan dalam persaingan partai/kandidat di tahun sulit 2019.

Minggu lalu saya diundang oleh Polemik TrijayaFM membahas tema menarik “Berebut Pemilih Milenial” dalam pemilu 2019. Di situ banyak hadir para tokoh partai mulai dari Golkar, PKS, PAN, juga peneliti dari LSI.

Dalam diskusi tersebut saya katakan bahwa pemilih milenial bakal menjadi ajang pertarungan menentukan dan menjadi pertaruhan kemenangan partai/kandidat di Pemilu 2019. Kenapa? Ya, karena sebagian besar pemilih pemilu 2019 adalah milenial. Dari total pemilih 195 juta pemilih, sekitar 85 juta di antaranya adalah pemilih milenial atau lebih dari 40 persen.

Karena itu kejelian partai/kandidat dalam menangkap isu-isu millennial voters dan bagaimana mereka merumuskan program dan mengelola isu terkait isu-isu yang “milenial banget” tersebut akan menentukan menang-tidaknya mereka di Pemilu 2019.

Singkatnya partai/kandidat harus melontarkan isu/program yang: “millennial-friendly

Millennial Voters

Dua Segmen Milenial
Saya membagi ada dua segmen besar millennial voters di pemilu 2019 yaitu early millennials (usia 18-25 tahun) dan late millennials (26-40 tahun).

Di usia 18-25 tahun, early millennial saya sebut sebagai “generasi hepi-hepi” karena laisure amat penting bagi mereka. Tapi di balik hedonisme itu milenial adalah juga generasi kreatif, entrepreneurial, dan paling terkoneksi (socially-connected). Sebagian besar mereka masih ada di SMA atau kuliah sehingga beban hidup dan persoalan hidup belum menghimpit mereka.

Sementara late millennial umumnya first jobber yang mulai merintis karir, mulai berumah tangga dan punya anak, dan mulai merasakan beratnya beban ekonomi yang berat. Dalam siklus hidup di rentang usia inilah perjuangan hidup dirasakan paling berat.

Pesan saya, dua segmen ini memiliki karakteristik, perilaku, dan preferensi yang sama sekali berbeda sehingga butuh perlakuan berbeda untuk menarik simpati mereka. Partai/kandidat harus jeli melihat ini.

2019 Tahun Sulit
Saat ini beberapa pakar ekonomi global sudah memberikan prediksinya bahwa krisis ekonomi global bakal barulang di tahun 2019 atau 2020. Memang perkembangan ekonomi dunia mengikuti sebuah siklus booming-crisis sebagai bagian dari business cycle perekonomin dunia.

Setelah sebelumnya krisis Asia terjadi tahun 1998, kemudian krisis finansial 2008 (subprime mortgage), maka para pakar meramalkan krisis berikutnya akan terjadi tahun depan.

Diramalkan krisis ini terutama melanda negara-negara maju baru (emerging economies) seperti Turki, Malaysia, Thailand, Meksiko, Argentina, Brasil, termasuk Indonesia. Sinyalnya sudah kita dapat beberapa minggu terakhir saat mata uang negara-negara tersebut rontok. Di Indonesia rupiah mulai melintasi ambang batas 15 ribu per dolar.

Lalu apa implikasinya bagi pemilu 2019? Isu ekonomi menjadi sangat krusial bagi milenial, apalagi kalangan late millennials yang akan menerima beban paling siknifikan dari krisis ekonomi. Kalau partai/kandidat bisa mengemas isu ekonomi dalam kampanye mereka, maka ini akan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan persaingan.

Tidak Loyal
Milenial adalah pemilih yang galau (baca: ikut-ikutan) dan cenderung tidak loyal kepada partai/kandidat tertentu. Berbagai hasil survei menunjukkan bahwa milenial cenderung apolitis, tak mau tahu tetek-bengek urusan politik karena dalam persepsi mereka politik itu kotor dan dipenuhi berbagai intrik dan pat-gulipat.

Mereka memilih partai/kandidat secara pragmatis karena pertimbangan konten/substansi dari program yang ditawarkan. Sejauh program yang ditawarkan partai/kandidat menguntungkan dan mengakomodasi kepentingan mereka, maka mereka akan memilihnya. Karena itu Pemilu 2019 bakal betul-betul menjadi “perang isu” dan “perang program” di antara partai/kandidat.

Emotional Voters
Walaupun millennial voters peduli pada subtansi program yang ditawarkan partai/kandidat, namun jangan lupa bahwa millennial voters adalah juga emotional voters. Artinya, pilihan mereka banyak pula dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional seperti kefiguran, kesamaan identitas dan latar belakang, atau personal branding si kandidat yang mereka nilai lebih millennial-friendly.

Karena itu jangan remehkan aksi Jokowi naik moge di gelaran Asian Games beberapa waktu lalu. Banyak kalangan yang mencibir aksi itu sebagai lebay dan alay. Kenyataannya, aksi itu punya emotional impact yang sangat powerful dan bisa meluluhkan hati milenial.

Dalam psikologi dikenal istilah “emotional hijacking”. Artinya, sentuhan emosional bisa “menyandera” pikiran serasional apapun. Jadi, dalam Pemilu 2019 nanti di hari-hari menjelang pencoblosan sentuhan-sentuhan emosional kepada kaum milenial bisa jadi justru menjadi senjata pamungkas untuk memenangkan persaingan.

September 22, 2018   No Comments

Asian Games & Nation Branding: eBook

Asian Games 2018 adalah momentum eras untuk membangun Nation Branding Indonesia… Bagaimana strateginya? Berikut ini eBooknya, silahkan download di sini:

eBook: Asian Games 2018 & Nation Branding 

Screen Shot 2018-09-09 at 5.04.59 PM

September 9, 2018   1 Comment

YOLO

Milenial adalah YOLO generation.

YOLO singkatan “You Only Live Once”: Manusia hanya hidup sekali, karena itu nikmatilah hidup saat ini juga. Terus, hidup yang besok-besok gimana? “Emang gua pikirin,” begitu jawab kaum milenial.

YOLO menjadi populer sejak istilah tersebut muncul dalam salah satu lagu milik rapper kondang Drake “The Motto” pada tahun 2011. Sejak itu hastag #YOLO menjadi trending topic dan menjadi bahasa gaul kaum muda milenial di seluruh dunia.

Dapatkan ebook: Marketing Outlook 2018: “Welcome Leisure Economy

Istilah itu menjadi begitu “gue banget” bagi milenial, sehingga setiap kali mereka mem-posting foto-foto (saat naik gunung, liburan di pantai, berolahraga ekstrim, atau hura-hura bersama teman di kafe) di Instagram, mereka selalu menyematkan hastag #YOLO.

YOLO juga sering diasosiasikan dengan gaya hidup yang mewabah di kalangan kaum muda milenial Korea yang mementingkan momen kesenangan dan kepuasaan saat ini, tanpa peduli hari esok.

Kenapa milenial punya gaya hidup YOLO?

Karena pada dasarnya milenial adalah “generasi susah”. Masa kecil dan remaja mereka pekat diliputi krisis ekonomi, perang di mana-mana, terorisme dan merebaknya kasus SARA, pengangguran masal dan kesulitan hidup, dan ketidakpastian akibat disrupsi teknologi.

YOLO

Kita tahu milenial lahir di awal tahun 1980an. Saat mereka remaja krismon 1998 menghantam membuat orang tua mereka jatuh miskin. Kemudian diikuti pemboman WTC dan bom Bali yang memicu krisis politik berbasis SARA berkepanjangan di awal tahun 2000an. Lalu di susul krisis ekonomi dunia (subprime mortgage crisis) tahun 2008. Dan kini rupiah mulai menembus angka 15.000.

Karena hidup begitu tidak menentu dan masa depan penuh dengan ketidakpastian, maka tak heran jika mereka menjadi berorientasi saat ini (present-oriented atau NOW-oriented). Mereka semakin tak mau pusing memikirkan masa depan.

“Kalau tidak ada jaminan hidup ke depan menjadi lebih baik, maka akan lebih baik dipuas-puaskan hidup hari ini,” begitu argumentasi mereka. Mereka cenderung mengorbankan masa depan untuk mendapatkan kesenangan hari ini.

Itu sebabnya YOLO menjadi biang utama munculnya “leisure economy” dimana masyarakat makin banyak menghabiskan uangnya untuk berlibur, dine-out, main games, nonton konser, olahraga, hingga ber-selfie ria.

Apa akibatnya jika milenial memiliki YOLO lifestyle?

Yang paling jelas terlihat adalah, mereka lebih senang menghabiskan uangnya untuk kesenangan sesaat seperti hura-hura dan nongkrong di kafe, menjadi backpacker keliling dunia, atau nonton konser Ed Sheeran di Singapura; ketimbang menabung atau menyicil KPR.

Tren menunda menikah bisa juga ditelusur dari YOLO lifestyle di kalangan milenial. Ya, karena menikah bisa mereka artikan sebagai kerepotan mengurus anak, mengelola rumah tangga, membeli rumah, atau menyekolahkan anak. “Hidup cuma sekali, kenapa harus dibikin repot,” ujar mereka.

Dengan begitu dampaknya ke bisnis pun bisa ditengarai: bisnis leisure/experience seperti liburan atau kafe bakal boom; tapi sebaliknya bisnis seperti reksadana atau KPR bakal mengerut.

Di atas itu semua, milenial akan menjadi “instant generation” atau “Now generation”, generasi serba instan, serba sekarang, nggak peduli masa lampau dan masa depan.

Petuah Master Oogway kepada Po di film Kung Fu Panda (2008) ini barangkali menjadi begitu “gue banget” bagi kalangan muda milenial:

“Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift.”
“That is why it is called the present.”

September 8, 2018   No Comments

Nation Branding: Agenda Bangsa setelah Asian Games Usai

Hari ini adalah penutupan Asian Games. Sebagai bangsa kita bangga karena telah sukses menyelenggarakan event akbar empat tahunan ini. Kita juga bungah karena prestasi atlet kita mencuat mengharumkan nama bangsa.

Tak hanya itu, Asian Games 2018 betul-betul menjadi pemersatu bangsa ketika kita sejenak melupakan perbedaan kubu politik, suku, agama, golongan, demi kemenangan dan kejayaan Indonesia tercinta.

Baca juga ebook 43 halaman dan donlot: Asian Games 2018 & Nation Branding

Namun, setelah menutup “pesta kemenangan” hari ini apakah kemudian semuanya berakhir begitu saja?

Tidak! Justru di sinilah pekerjaan besar harus dimulai. Asian Games haruslah kita jadikan momentum, bahkan batu loncatan, untuk membangun nation brand Indonesia.

Apa itu nation brand? Intinya adalah adalah citra dan reputasi (national image & reputation) yang ditangkap oleh masyarakat internasional terhadap suatu negara.

Citra dan reputasi negara ini bisa dilihat dari enam kualitas yaitu: Export (citra produk nasional yang kompetitif), Governance (citra pemerintahan yang bersih dan kompeten), Tourism (ketertarikan wisman berkunjung), Investment (ketertarikan investor untuk menanam modal), Culture (kekayaan budaya), dan People (SDM yang unggul dan ramah).

Singkatnya, nation branding bertujuan untuk menarik TTI (trader, tourist, investor) dengan menciptakan citra dan reputasi di enam kualitas di atas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak nation brand Indonesia setelah Asian Games berakhir?

Super Junior di Asian Games 2018

#1. Kampanye Nation Branding
Dalam waktu yang tidak lama setelah Asian Games berakhir, Indonesia harus meluncurkan kampanye nation brand sebagai upaya me-leverage kesuksesan dalam mendapatkan eksposur global yang luar biasa.

INASGOC mengonfirmasi bahwa ada sekitar 11 ribu media lokal maupun global meliput Asian Games 2018. Ini merupakan eksposur luar biasa yang hanya bisa kita perolah melalui event akbar (sport mega-event) seperti Asian Games, Olimpiade, atau Piala Dunia. Momentum inilah yang harus kita perpanjang dengan meluncurkan kampanye nation branding untuk menarik TTI datang ke Tanah Air.

Kita harus banyak belajar dari negara tetangga Australia. Australia me-leverage habis-habisan posisinya sebagai tuan rumah Olimpiade Sidney tahun 2000. Event akbar ini kemudian diikuti dengan berbagai kampanye nation branding: “Life a Different Light” (2004-2006); lanjut “A Uniquely Australian Invitation” (2006-2008); kemudian “Come Walkabout” (2008-2009); dan terakhir “There’s Nothing Like Australia” (2010-sekarang).

#2. Diplomasi Global
Afrika Selatan memanfaatkan event Piala Dunia 2012 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia dan negara termaju di benua Afrika (Africa’s most developed economy).

Cina memanfaatkan Olimpiade Beijing 2008 untuk menunjukkan bahwa dengan laju pembangunannya yang supercepat, Cina bakal menyalip Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Inilah yang disebut diplomasi global melalui event olah raga.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Melalui Asian Games Indonesia juga bisa memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi baru (emerging nation) yang sedang berjuang keras menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan populasi terbesar keempat, Indonesia juga sedang bertransformasi menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

#3. Visi Olahraga 2032
Dengan bekal kesuksesan menyelenggarakan Asian Games Indonesia harus berani think big dengan menetapkan visi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Olimpiade 2020 bakal diadakan di Tokyo, 2024 di Paris, dan 2028 di Los Angeles. Untuk Olimpiade 2032, kini sudah ada beberapa negara yang tertarik untuk bidding yaitu Jerman, Australia, dan India. IOC bakal menetapkan pemenangnya pada tahun 2025, jadi masih ada waktu tujuh tahun untuk berbenah diri.

Perlu diingat sejak tahun 2000an, negara-negara maju baru BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah sport mega-event seperti Olimpiade dan Piala Dunia sebagai bentuk diplomasi global untuk mengangkat nation brand mereka masuk dalam “club of elite” negara-negara maju.

Kalau betul Indonesia bisa mewujudkan visi ini, maka nation brand Indonesia akan naik kelas sejajar dengan negara-negara maju dunia. Karena perlu diingat, negara yang mampu menyelenggarakan event-event olahraga besar tersebut hanyalah negara-negara maju.

 

Sumber foto: Okezone.com

Artikel ini dimuat di Jawa Pos edisi Senin, 3 September 2018, hal. 1.

 

September 3, 2018   No Comments