E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Tantangan Revolusi Industri 4.0

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu.

Angka-angka yang dijanjikan oleh Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto begitu fantastis: “Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1%-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik, dari baseline sebesar 5% menjadi 6%-7% pada periode tahun 2018-2030,” ujarnya.

Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Mudah-mudahan angka-angka super optimis tersebut bukan sekedar slogan politik menjelang Pemilu 2019 dan inisiatif luar biasa ini bukan sekedar pencitraan nir-substansi. Tapi betul-betul bisa membangkitkan semangat kita untuk bersama-sama menyukseskan era Revolusi Industri 4.0 dan meraih kejayaan.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi di tingkat negara untuk menghadapinya.

Agar kita tidak silau oleh janji-janji Revolusi Industri 4.0 dan angka-angka yang super optimis di atas, tulisan ini mecoba menyajikan “sisi gelap” dan beberapa tantangan yang harus kita hadapi. Bukan bermaksud buruk, tapi justru sebaliknya, untuk mengingatkan kita semua dengan memberikan rambu-rambu agar kita tak gegabah memasukinya.

Revolusi Industri 4.0 New

#1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”
Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus secara bijak dan hati-hati menyikapi transformasi industri terutama “masa peralihan” dari industri lama tradisional ke industri baru berbasis digital. Strategi tersebut harus bisa meminimalisir dampak sosial-ekonomi dari peralihan ini agar industri-industri lama bisa melakukan transformasi digital secara smooth, bukannya dibiarkan mati oleh kerasnya persaingan pasar (“Digital Darwinism”).

#2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”
Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Di tingkat mikro, platform effect akan memperlebar jurang yang kaya dan miskin: para pemilik modal (innovators, entrepreneurs, shareholders, investors) akan semakin kaya dan semakin menguasai kekayaan; sementara para pekerja semakin miskin. Celakanya, di Indonesia 99% penduduk masuk di kelompok yang kedua.

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 harus merespons secara baik isu konsentrasi aset oleh global digital giant dengan skema regulasi baru yang kreatif. Cina melakukan hal ini dengan snagat cantik. Sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa semua unicon kita kini telah dimiliki oleh global digital giants seperti Google, Alibaba, atau Tencent, sehingga Indonesia hanya dijadikan pasar bukan pemain aktif dan mandiri.

#3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”
Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.
* Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
* Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
* Driverless car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
* Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
* Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Pertanyaannya, apakah nantinya Industri 4.0 akan mampu menampung jutaan angkatan kerja kita (para petani, pedagang pasar Impres, guru, teller, kasir, sopir, satpam, hingga tukang batu proyek) yang tenaganya tidak dibutuhkan lagi karena tergantikan oleh robot?

Strategic Actions: Strategi Industri 4.0 haruslah tetap pro pada pemerataan lapangan pekerjaan. Skenarionya ada dua. Pertama, industri-industri yang dipilih tetap menggunakan skill set yang sekarang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kedua, melakukan “skill transformation” menuju skill set baru yang dibutuhkan Revolusi Industri 4.0.

Prerequisite: “Agile Government”
Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “agile government”.

Agile governement menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

Konsep strategi Industri 4.0 sehebat apapun hanya akan menjadi dokumen yang tak berarti apa-apa jika pemerintah tak mampu mengeksekusinya. So, sebelum pemerintah mentransformasi Indonesia memasuki Revolusi Industri 4.0, terlebih dahulu mereka harus melakukan transformasi diri untuk menjadi agile government.

Tanpa itu, Making Indonesia 4.0 hanya sekedar slogan overpromise untuk menyongsong Pemilu 2019.

 

Sumber foto: rctom.hbs.org

April 29, 2018   3 Comments

Surveillance Economy

If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itu adalah mantra yang melandasi bekerjanya ekonomi baru yang kini populer dikenal sebagai “Surveillance Economy”. Yup, terminologi ini kian populer menyusul terkuaknya skandal Facebook-Cambridge Analytica bulan lalu.

Intinya, kalau Anda mendapatkan layanan hebat seperti layanan jejaring sosial Facebook atau mesin pencarian Google secara gratis, maka Anda harus was-was. Karena Anda tidak membayar sepeserpun maka Anda bukanlah konsumen. Dan karena Anda bukan konsumen, besar kemungkinan Anda adalah “produk” yang dijual oleh Facebook maupun Google.

Dan memang demikianlah adanya, data mengenai perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) adalah “tambang emas” paling berharga di jaman now.

Surveillance Economy New

“Barang Dagangan”
The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) kini memiliki nilai pasar luar biasa besar yaitu sekitar $2700 miliar atau tiga kali GDP Indonesia. Dan nilai pasar fantastis itu didapat bukan dari mengebor minyak atau mendulang emas, tapi dari menjual data pribadi kita.

Caranya gimana? Gampang. Kita diberi layanan gratis yang memudahkan hidup kita: layanan berjejaring sosial dengan Facebook, mencari lokasi dengan Google Map, menghindari titik-titik kemacetan dengan Waze, mendapatkan layanan ojek ekselen tapi murah dengan Gojek. Tapi jangan salah, layanan-layanan gratis ini layaknya “jebakan Batman” karena sekaligus menjadi mesin efektif untuk mengumpulkan data-data pribadi kita.

Setelah data-data tersebut terkumpul (karena datanya super besar disebut: “big data”), maka perusahaan seperti Google atau Facebook menganalisis dan mengolahnya menjadi “emas baru” dan dijual ke pemilik brand dan pemasang iklan.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Untuk gampangnya, kita-kita para pemakai Facebook, Google, atau Waze telah menjadi “barang dagangan” yang diperjualbelikan ke pihak lain untuk menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar. Ingat sekali lagi bunyi mantranya: “If you’re not the customer; you’re the product being sold.”

Itulah nasib kita yang mendapatkan layanan gratisan. Persis seperti ungkapan pahit yang dikemukakan Prof. Von Shoshana Zuboff pengritik Surveillance Economy: “We exist to be harvested, harvested for behavioral data.” Kita eksis di Surveillance Economy layaknya “budak” yang diperah dan dipanen data-data perilaku kita.

“Kelinci Percobaan”
Secara sederhana Surveillance Economy didefinisikan sebagai sebuah bentuk ekonomi baru dimana para pelaku ekonomi (entrepreneurs) mencipta nilai dengan cara mengekstraksi, menganalisis, dan memonetisasi data konsumen.

Perusahaan seperti Google atau Facebook mengekstraksi dan menganalisis data pribadi kita dengan tujuan untuk membentuk dan mengarahkan perilaku sesuai tujuan komersial yang mereka kehendaki. Ujar Zuboff, “They are actually intervening us to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next”.

Hal Varian, chief of economist Google mengidentifikasi Surveillance Economy memiliki empat ciri.

#1. Data extraction & analysis, yaitu melibatkan ekstraksi dan analisis terhadap data pribadi yang terkumpul secara real-time dan terus-menerus selama konsumen menggunakan layanan. Setiap kali kita melakukan update status di Facebook, maka saat itu juga kita memberikan data pribadi kita untuk diekstraksi dan dianalisis Facebook.

#2. New contractual forms, yaitu adanya bentuk kontrak baru yang menggunakan pemantauan dan otomasi komputer. Dengan teknologi digital, perjanjian penggunaan data antara pemberi layanan dan konsumen dilakukan secara seamless menggunakan komputer.

#3. Personalization & customization, yaitu memanfaatkan layanan-layanan yang memberikan manfaat personalization dan customization. Layanan Google misalnya sangat personalized, itu sebabnya jika kita mengetikkan kata kunci yang sama di mesin pencari Google, maka hasil yang diperoleh akan berbeda antara satu orang dibanding orang lain. Karena hasil pencarian di Google ditentukan oleh historical searches masing-masing kita sebelumnya.

#4. Continual experiments, yaitu konsumen menjadi obyek percobaan yang dilakukan secara terus-menerus. Tujuannya adalah tadi, untuk mempengaruhi, membentuk, dan mengarahkan perilaku mereka sesuai dengan tujuan komersial yang dikehendaki pemilik layanan. Jadi, sepanjang hidup kita bakal menjadi “kelinci percobaan” bagi Google atau Facebook.

Welcome to the Brand New World
Sekilas surveillance economy baik-baik saja dan tak begitu menjadi masalah bagi kita. Namun kita seperti tersambar petir bulan lalu saat skandal Facebook-Cambridge Analytica terkuak.

Skandal tersebut menyadarkan kita bahwa data pribadi kita bisa begitu mudah disalahgunakan berbagai pihak (baik pemilik layanan maupun pihak ketiga) untuk tujuan-tujuan yang tidak kita kehendaki. Dalam kasus Cambridge Analytica, mereka mengekstraksi dan menganalisis data pengguna Facebook untuk melakukan microtargeting yang berujung pada kemenangan Donald Trump atau keluarnya Inggris dari EU (Brexit).

Dengan algoritma tertentu, machine learning, atau artificial intelligence mereka bisa mengolah data pribadi kita untuk membentuk dan mengarahkan suatu perilaku tertentu bagi kepentingan bisnis dan politik mereka, yang mungkin tidak kita kehendaki. Ini tentu saja akan menjadi ancaman bagi kemanusiaan: privasi, kebebasan, dan demokrasi.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya. Karena model bisnis mereka bekerja berdasarkan “surveillance platform”.

Welcome to the jungle.
Welcome to the end of privacy.
Welcome to the Surveillance Economy.

 

 

Sumber foto: employernews.co.uk

April 21, 2018   No Comments

Memberi eTalk: Surveillance Economy

Skandal Facebook-Cambridge Analytica menyadarkan kita semua bahwa kini kita telah memasuki era Surveillance Economy yang ditandai dengan fenomena “the end of privacy”.

Dengan memanfaatkan layanan, apps atau website yang diberikan oleh Google, Facebook, Twitter, atau Youtube data-data pribadi kita diambil, diolah, dan kemudian dijual kepada brand dan pengiklan sehingga menghasilkan bisnis bernilai triliunan dolar.

Surveillance economy adalah sebuah bentuk ekonomi baru dimana value diciptakan melalui big data dari seluruh perilaku kita (pencarian kata di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, foto keseharian kita layar CCTV, atau kebiasaan kita yang direkam oleh weareable device Apple-Nike) yang diekstraksi diolah, dan kemudian dimonetisasi menjadi bisnis menggiurkan.

Surveillance Economy

The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Apple) menggurita begitu cepat (kapitalisasi pasar keempatnya $2700 miliar, tiga kali GDP Indonesia) karena mereka smart bermain di era Surveillance Economy.

Tipikal perusahaan yang sukses di Surveillance Economy adalah perusahaan semacam Facebook dan Cambridge Analytica yang membentuk, memodifikasi, dan mengarahkan perilaku kita untuk tujuan monetisasi bisnis atau kepentingan politik tertentu.

Baca juga: Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Seperti kata Shoshana Zuboff, profesor Harvard pengritik Surveillance Economy, “They are intervening to modify our behaviour, to shape our behaviour, in order to determine what we will do next.” Data 87 juta warganet dikumpulkan, dibaca perilakunya, dan kemudian diarahkan sedemikian rupa untuk memilih Donald Trump sebagai presiden.

Skandal Facebook-Cambridge Analytica adalah “pucuk gunung es”, artinya akan diikuti kasus-kasus berikutnya secara massal. Kenapa? Karena semua big data giants seperti Google, Apple, Amazon, Uber, hingga AirBnB melakukannya, karena model bisnis mereka beroperasi berdasarkan “surveillance platform”.

Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi Surveillance Economy? Baik sebagai konsumen/masyarakat maupun sebagai pebisnis?

Yuk kita bahas di Memberi eTalk Komunitas Memberi:

Tema: Skandal Facebook! Welcome Surveillance Economy
Waktu: Sabtu, 21 April 2018, 09.00-12.00 WIB
Tempat: Kolla Space | Co-working @ Sabang, Jl. Agus Salim 32B, Jakarta

Narasumber:
Ahmad Sugiarto, penulis Synergy Way of Disruption (2018)
Nukman Lutfie, pakar media sosial
Yuswohady, pakar marketing

Moderator:
Kris Moerwanto, redaktur Jawa Pos

Yuk ikutan, WAJIB daftar ke Ajib: WA 0812 2760 7219

April 20, 2018   No Comments

Resto Diaspora

Akhir bulan Maret lalu saya mendapatkan kesempatan emas bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman pemilik restoran Indonesia di luar negeri di Nusa Dua Bali.

Beberapa restoran tersebut antara lain adalah Ron Gastrobar Indonesia di Amsterdam; Djakarta Bali di Paris; The Yono’s Indonesian Fine Dinning di Albany, USA; Kasih Restoran di LA, Fluffy lamb di Perth; Sendok Garpu di Brisbane, Ubud Resto di Sydney, Sari Ratu di Singpore, juga Bumbu Desa di Kuala Lumpur Malaysia.

Dari pagi hingga sore kami berdiskusi merancang program untuk mempromosikan resto-resto Indonesia di luar negeri. Memang Kemenpar melalui cobranding task force sedang merintis sebuah program untuk mengajak resto diaspora (resto masakan Indonesia di luar negeri) mempromosikan kuliner Nusantara dan pariwisata Indonesia ke seluruh dunia.

Indonesia punya segudang makanan-makanan hebat dari Sabang sampai Merauke. Rendang Sumatera Barat, Gudeg Yogya, Ayam Taliwang Lombok, Konro Makassar, Bubur Menado, hingga Papeda Papua. Wow… pokoknya enak-enak semua. Sayang jika aset luar biasa itu tidak dipromosikan sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi nation branding Indonesia.

Resto Diaspora

Thailand adalah contoh negara yang dengan cerdas menjadikan kekayaan kulinernya sebagai bagian dari nation branding mereka. Di masa pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada pertengahan tahun 2000an negeri GajahPutih ini meluncurkan program “The Kitchen of the World” yang bertujuan ambisius mendongkrak jumlah resto Thailand di luar negeri dari sekitar 6.900 pada tahun 2003 menjadi 20.000 pada tahun 2008 atau naik sekitar empat kali lipat.

Berikut adalah insights berharga yang saya peroleh dari diskusi dengan teman-teman pemilik resto terkait strategi promosi pariwisata melalui resto-resto Indonesia di seluruh dunia.

#1. Resto as a Tourism Etalage
Ide dasar memanfaatkan resto Indonesia di luar negeri adalah menjadikan resto-resto tersebut sebagai “etalase” pariwisata Indonesia di luar negeri. Kenapa resto demikian strategis sebagai “marketing channel”? Ya, karena resto-resto tersebut tentu sudah memiliki basis pelanggan yang kokoh, apalagi jika resto tersebut sudah beroperasi bertahun-tahun.

Di samping itu audiens global yang ada di restoran Indonesia tentu sudah memiliki interest terhadap Indonesia sehingga mereka lebih mudah diyakinkan untuk datang berwisata ke Indonesia. Jadi mereka sudah merupakan unique targeted prospects.

Dengan menjadi “window of Indonesia” maka di resto-resto tersebut kita bisa menyajikan konten-konten yang Indonesia banget seperti kekayaan budaya Indonesia (tari, musik, kerajinan, dll), destinasi wisata eksotik Indonesia, di samping tentu saja beragam kuliner khas Nusantaar. Ketika konten-konten itu disampaikan menyatu dengan resto experience yang hendak disampaikan maka ia akan memiliki influence power yang luar biasa untuk menarik wisman ke Indonesia.

#2. Integrating 3A
Menampilkan kuliner Indonesia dan beragam atraksi budaya Indonesia di resto-resto diaspora baru mencakup dua elemen dari konsep 3A (Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas), yaitu elemen pertama dan kedua.

Agar efektif, maka elemen ketiga yaitu aksesibilitas juga harus diintegrasikan. Aksesibilitas yang dimaksud di sini adalah bagaimana wisman menjangkau Indonesia terutama melalui perjalanan udara. Di sini maskapai penerbangan harus mempromosikan resto-resto diaspora ke para wisman dari kota-kota di mana resto itu berada. Dengan promosi tersebut diharapkan mereka akan mengunjungi resto diaspora dan mengenal lebih dekat pariwisata Indonesia.

Dengan mekanisme ini, maka resto diaspora menjadi semacam “saluran” yang akan “menggiring” wisman untuk semakin mengenal, dekat, dan kemudian mencintai pariwisata Indonesia. Dalam konsep marketing, peran resto diaspora semacam ini disebut sebagai “marketing funnel”. Melalui marketing funnel inilah wisman akan digiring dari non-consumer menjadi first-time buyer, dan akhirnya loyal customers.

#3. Seasonal Brand Activations
Agar peran resto diaspora sebagai promotion channel kuliner dan pariwisata Indonesia berjalan efektif, maka kita harus menggelar brand activation secara berkala (seasonal) dan berkelanjutan. Bahkan kalau perlu dirancang calendar of event (CoE) yang tetap tiap tahunnya.

Karena pertimbangan ini, akhir tahun ini rencananya Kemenpar akan menginisiasi semacam festival gastronomi di berbagai resto diaspora selama sebulan penuh. Targetnya akan serentak dilakukan oleh sekitar 100 resto diaspora di berbagai kota-kota utama dunia. Kalau event ini bisa direalisasikan, apalagi rutin dilakukan tiap tahun, maka awareness kuliner dan pariwisata Indonesia perlahan akan terangkat.

Agar seluruh cita-cita ini bisa diwujudkan, tentu saja resto-resto diaspora tidak bisa bergerak sendiri. Semua stakeholders harus dilibatkan untuk mendukung gerakan ini mulai dari Kementerian (Kemenpar, Bekraf, Kemendag, dll.), KBRI, diaspora Indonesia, hingga perusahaan-perusahaan kita yang beroperasi di luar negeri.

Kalau kita, seluruh elemen bangsa, bersatu-padu mewujudkannya, maka kita optimis akan bisa mewujudkan Indonesia Inc. dengan menjadikan resto diaspora sebagai senjata ampuh nation branding Indonesia.

 

Foto: Rekan-rekan pemilik Resto Diaspora di Nusa Dua Bali

April 14, 2018   No Comments

Skandal Facebook dan Imperialisme 3.0

Wikipedia mendefinisikan imperialisme sebagai berikut: “an action that involves a nation extending its power by the acquisition of inhabited territory.” Imperium berasal dari bahasa Latin yang berarti “kuasa yang tak ada tandingannya” (“supreme power”).

Melihat konteks kekinian, terutama era digital, saya mencoba memperluas makna imperialisme, tak hanya menyangkut negara menguasai negara; tapi juga korporasi menguasai korporasi; atau korporasi menguasai individu. Esensinya tetap sama yaitu hegemoni, superioritas, dominasi, dan pemaksaan pengaruh satu pihak ke pihak lain.

Makna hakiki imperialisme adalah eksploitasi aset berharga milik pihak yang dikuasai baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Lenin menyebut: “imperialism was the highest form of capitalism”.

Mengacu pada pengertian baru ini saya membagi imperialisme modern ke dalam tiga gelombang besar.

Imperialisme 1.0 adalah penguasaan oleh negara-negara penjajah (imperial nations) terhadap tanah-tanah baru di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.

Imperialisme 2.0 adalah penguasaan oleh korporasi-korporasi digital raksasa terhadap internet yang kemudian diikuti pencaplokkan terhadap perusahaan lain di seluruh dunia.

Imperialisme 3.0 adalah penguasaan oleh negara (dijalankan oleh lembaga seperti CIA atau NSA), korporasi (seperti Cambridge Analytica dan Facebook), atau individu terhadap seluruh umat manusia melalui penguasaan data privat yang sangat besar yang kini kita kenal dengan big data.

Imperialism 3.0 - New

Imperialism 1.0: “Pirates of the Land”
Imperialisme 1.0 ditandai dengan pendudukan oleh negara-negara besar seperti Inggris, Portugis, Belanda, atau Jepang terhadap “tanah-tanah baru” di Asia, Afrika hingga Amerika Latin. Pendudukan dan penjajahan yang berlangsung sejak abad 16 hingga penghujung abad 20 ini dilakukan untuk menguasai perdagangan komoditas global dan mendapatkan bahan mentah untuk menggerakkan industri.

Aksi ini dimulai dari pendudukan dan pembentukan koloni terhadap Kepulauan Mauritius oleh Belanda pada tahun 1598 yang kemudian disusul gelombang pendudukan koloni-koloni baru selama tiga abad berikutnya.

Gelombang imperialisme pertama ini mencapai masa kejayaannya pada abad 18 (disebut “The Age of Imperialism”) seiring terjadinya Revolusi Industri di Eropa yang membutuhkan bahan baku dan bahan mentah untuk industri.

Imperialisme 1.0 menghasilkan perusahaan multinasional pertama di dunia yaitu EIC (East India Company, 1600-1874) yang di masa kejayaan menguasai sekitar setengah perdagangan dunia. Mereka merampas kekayaan alam seperti cengkeh, kapas, pala dari negara jajahan untuk dibawa ke Eropa. Di Indonesia kita mengalami masa kelam Imperialisme 1.0 dengan kehadiran VOC selama lebih dari tiga abad.

Imperialism 2.0: “Pirates of the Internet”
Melompat ke abad 21, Imperialisme 2.0 ditandai oleh adanya penguasaan oleh korporasi-korporasi digital (dikenal dengan sebutan “The Big Four”: Google, Facebook, Amazon, Apple plus perusahaan platform seperti Uber, AirBnB, hingga Alibaba) terhadap perusahaan lain secara massif.

Kalau imperialisme 1.0 menguasai “tanah-tanah baru” di dunia ketiga, maka Imperialisme 2.0 menguasai “tanah-tanah digital baru” yaitu: internet. Ambisi The Big Four adalah memonopoli internet untuk dimonetisasi menjadi bisnis triliunan dolar.

Penguasaan ini dilakukan dengan cara menciptakan model bisnis baru berbasis digital untuk menghasilkan disrupsi (“digital disruption”) yang memporakporandakan model bisnis konvensional di berbagai industri.

Setelah perusahaan luluh-lantak terdisrupsi, maka para disruptor itu serta-merta “menghisap”-nya layaknya vacuum cleaner. Amazon menghisap industri ritel; Google dan Facebook menghisap industri media; Uber menghisap industri transportasi. Begitulah cara mereka menggurita dan menghegemoni bisnis dunia.

Imperialisme 2.0 digerakkan oleh para libertarian entrepreneur/investor yang tak percaya pada kekuatan negara. Mereka adalah sosok-sosok seperti: Peter Thiel, Jeff Bezos, Larry Page, Sean Parker, Elon Musk, dll.

Ideologi mereka adalah neoliberalisme (mengacu pada pemikiran sosok seperti: Ayn Rand, Milton Friedman, atau Alan Greenspan) dengan ambisi megalomania menguasai sumber daya global dan mengendalikan ekonomi/politik dunia.

Kemampuan keuangan mereka praktis tanpa batas, karena begitu mereka berhasil mendisrupsi industri demi industri, maka harga sahamnya langsung meroket setinggi langit. Dan dengan kapitalisasi pasar mencapai ratusan miliar dolar, dengan mudah mereka membeli satu-persatu pesaingnya. Dan memang salah satu hobi mereka adalah “menyantap” perusahaan lain.

Kalau di era Imperialisme 1.0 senjata yang digunakan adalah senapan dan kapal perang, maka senjata ampuh Imperialisme 2.0 adalah: pertama, teknologi (disruptive technologies); kedua, modal (limitless capital) yang diperoleh dari kapitalisasi pasar.

Imperialism 3.0: “Pirates of the Big Data”
Imperialisme 3.0 adalah penguasaan oleh negara (corporaticracy), korporasi (data analytic companies), atau bahkan individu terhadap seluruh umat manusia melalui penguasaan dan manipulasi data privat kita yang sangat besar (big data). Manifestasinya adalah terbentuknya apa yang disebut: “Surveillance Economy”.

Penguasaannya dilakukan dengan cara mengekstraksi dan menganalisis data privat kita: data pencarian kita di Google, percakapan kita di Facebook, transaksi kita di situs ecommerce, lokasi kita di Waze, atau foto keseharian kita layar CCTV, juga aktivitas kita yang terekam oleh wearable devices atau piranti internet of things (IoT).

Data tersebut kemudian dimanipulasi untuk memengaruhi dan membentuk perilaku kita. Dan pada akhirnya (dengan algoritma tertentu) digunakan untuk mengontrol dan mengarahkan tindakan kita sesuai kepentingan si pengolah data. Bisa kepentingan ekonomi, politik, atau budaya.

Untuk gampangnya lihatlah skandal Facebook-Cambridge Analytica. Sekitar 50 juta data privat warga Amerika di Facebook diekstraksi dan dianalisis oleh Cambridge Analytica untuk mengetahui karakteristik psikografis pemilih dan kemudian Cambridge Analytica memanfaatkannya untuk merancang sebuah kampanye digital untuk memengaruhi dan membentuk preferensi pemilih ke satu kandidat tertentu.

Barangkali kita tidak sadar bahwa hasil pencarian di Google atau YouTube dalam jangka panjang bisa membentuk pola pikir dan perilaku kita. Kita juga tidak sadar bahwa “Likes” Facebook telah mengembangbiakkan budaya narsis (narcissistic epidemic).

Dalam bukunya Hooked: How to Build Habit-Forming Products (2014), Nir Eyal mengatakan bahwa beragam apps yang kita pakai setiap hari (dari Facebook hingga Snapchat) memang dirancang untuk membentuk perilaku dan kebiasaan kita.

Shoshana Zuboff, profesor Harvard pengkritik surveillance business, menggambarkan bahwa di dalam surveillance economy setiap penduduk dunia tanpa kecuali adalah “tikus percobaan”.

Setiap kali kita men-scroll newsfeed di Facebook, ngeklik tombol “hati” di Instagram, atau menonton video di YouTube, maka saat itu juga kita menjadi obyek eksperimen. Apps tersebut mengumpulkan data mengenai perilaku kita dan menganalisisnya. Berdasarkan analisa tersebut mereka mendisain algoritma untuk membentuk perilaku dan kebiasaan kita di masa depan sesuai kemauan mereka. Tentu saja tujuan akhirnya adalah monetisasi dan marketisasi.

Kalau imperialisme 1.0 menguasai tanah, Imperialisme 2.0 menguasai internet; maka sasaran Imperialisme 3.0 adalah big data. Kalau senjata Imperialisme 1.0 adalah senapan, senjata Imperialisme 2.0 adalah model bisnis disruptif, maka senjata utama Imperialisme 3.0 adalah algoritma dan piranti data analytics.

Kasus Facebook-Cambridge Analytica menyentak kesadaran kita akan munculnya sebuah dunia baru yang menyeramkan dalam sejarah umat manusia yaitu kelahiran surveillance economy.

Kelahiran ekonomi baru ini mengingatkan kita pada novel klasik George Orwell berjudul 1984 mengenai sebuah negara yang warganegaranya terus-menerus diawasi oleh sebuah kekuasaan tiran. Barangkali dunia kelam yang secara dramatik digambarkan Orwell bakal kita alami sebentar lagi.

Welcome surveillance economy.
Welcome Imperialism 3.0.

 

March 31, 2018   No Comments

Ketika Leisure Menjadi Candu

Secara sederhana leisure didefinisikan sebagai waktu luang (free time atau spare time). Jadi aktivitas leisure adalah segala aktivitas yang bertujuan memanfaatkan waktu luang. Yang dimaksud waktu luang di sini adalah waktu-waktu di luar waktu untuk bekerja, bisnis, atau berbagai urusan rumah tangga.

Definisi klasik leisure menurut Veblen (1899) adalah: “nonproductive consumption of time”, seluruh aktivitas tidak produktif untuk menghabiskan waktu luang.

Karena sebatas memanfaatkan waktu luang, maka seharusnya leisure dilakukan sesekali waktu. Liburan misalnya, dilakukan sekali atau dua kali setahun. Makan bersama keluarga di mal/restoran dilakukan sekali sebulan.

Habitual Leisure
Namun di era leisure economy kita menyaksikan fundamental shift dalam perilaku konsumen. Leisure yang awalnya dilakukan sesekali waktu (occasional) kini menjadi sering dan telah menjadi kebiasaan (habitual).

Ambil contoh, aktivitas nge-gym. Dulunya aktivitas ini dilakukan secara occasional. Namun dengan munculnya skema langganan (subscription) di pusat-pusat kebugaran, nge-gym kemudian dilakukan secara rutin tiap minggunya.

Dahulu orang makan di luar rumah (dine-out) dilakukan jarang-jarang, namun seiring dengan munculnya budaya nge-mal, kegiatan dine-out mulai dilakukan secara rutin seminggu atau dua minggu sekali.

Membeli makanan malam melalui layanan takeaway awalnya dilakukan hanya sesekali, namun dengan adanya layanan seperti Go-Food yang begitu mudah dan convenience, maka kini pesanan takeaway dilakukan 3-4 kali seminggu.

Begitu juga dengan bermunculannya banyak coffee shop, orang mulai memanfaatkannya untuk bertemu baik kumpul-kumpul dengan teman (sosial) maupun meeting dengan mitra bisnis (profesional). Akibatnya, mengunjungi coffee shop yang awalnya dilakukan sesekali, kini dilakukan secara rutin: sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali seminggu.

Ketika konsumsi leisure bergeser dari occasional ke habitual, maka dampaknya bagi perekonomian secara luas bisa ditebak. Konsumsi leisure meningkat pesat dan industri ini tumbuh pesat. Inilah yang men-trigger terbentuknya leisure economy.

Menariknya, ketika konsumsi leisure sudah menjadi habit dan kemudian dilakukan secara terus-menerus, maka pada akhirnya akan mencapai fase kecanduan. Kini mulai banyak orang “kecanduan” main games, liburan, dine-out, atau nonton TV/film.

Kecanduan
Pertanyaannya, bagaimana bisa aktivitas leisure menciptakan habit bahkan kecanduan?
Menjawab pertanyaan ini saya jadi ingat buku hebat berjudul: Hooked: How to Build Habit-Forming Product (2014) ditulis oleh Nir Eyal dari Universitas Stanford.

Menurut Eyal, sebuah aktivitas konsumsi akan membentuk habit dan kecanduan jika prosesnya mengikuti empat fase yaitu: Trigger, Action, Reward, Investment. Nah, banyak aktivitas leisure seperti nge-games, liburan, dine-out, atau nonton TV/film persis mengikuti empat fase ini. Coba kita cermati fase-fase ini.

The Hook Model

Trigger adalah pemicu bangkitnya sebuah kebiasaan. Trigger biasanya terwujud karena adanya “sakit” (pain) atau masalah mendalam yang dihadapi oleh konsumen. Dalam kasus liburan, sakit ini berupa stress karena himpitan pekerjaan kantor. Dalam kasus gaming, sakit ini berupa kebosanan atau kesepian.

Action adalah respon konsumen atas Trigger yang telah tercipta di fase pertama. Action di sini dilakukan untuk “mengobati” sakit di fase Trigger. Jadi di sini liburan dilakukan untuk “mengobati” stres karena himpitan pekerjaan. Main games dilakukan untuk “mengobati” kebosanan atau kesepian.

Reward adalah solusi atau “obat penyembuh” yang didapatkan konsumen dari aktivitas leisure yang dilakukan konsumen. Apa reward yang diperoleh jika kita liburan? Reward-nya adalah hilangnya stres atau hati yang bahagia selama dan setelah liburan. Apa reward yang diperoleh jika kita main games? Reward-nya berupa kemenangan-kemenangan yang kita peroleh dalam bentuk poin.

Investment adalah “investasi” (dalam bentuk uang, waktu, dan tenaga) yang kita lakukan untuk mendapatkan reward di atas. Investasi konsumen inilah yang berfungsi “mengunci” sehingga kebiasaan dan kecanduan terbentuk. Dalam kasus liburan dan main games, kita sudah terlanjur mengalokasikan uang, waktu, dan tenaga yang cukup besar tiap bulannya untuk melakukannya. Semakin besar investasi yang dilakukan konsumen, maka semakin besar pula kemungkinan terbentuknya kebiasaan dan kecanduan.

Kalau saat ini Anda mulai sadar bahwa aktifitas leisure (liburan, dine-out, main games, nonton) menjadi habit bahkan kecanduan, Anda tak usah heran. Gampangnya, leisure itu memang enak dan bikin kita happy, karena itu tak heran jika kita ingin melakukannya terus-menerus dan berulang-ulang.

 

March 17, 2018   1 Comment

Setiap Orang Berbohong di Facebook

Kalau selama ini kita punya ungkapan nakal: “Hidup tak semudah kata-kata motivator,” maka saya punya ungkapan lain: “Hidup tak seindah postingan di Facebook.”

Dunia Facebook adalah “dunia kinclong”: dunia penuh keindahan, penuh kesuksesan, penuh kebaikan… ya karena semua orang di Facebook bohong.

Kondisi sesungguhnya buruk, namun keburukan itu dipermak sana-sini sehingga terlihat indah dan kinclong di Facebook.

Everybody Lies in Facebook

Mbak-mbak dan mas-mas yang wajahnya biasa-biasa saja membohongi orang banyak di Facebook dengan memasang profile photo yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng (“thanks to Photoshop”).

Mahmud-mahmud (mamah muda) yang kesehariaanya struggling mengurus anak balita dan suami membohongi orang banyak di Facebook dengan menampilkan diri sebagai sosok ibu muda yang bahagia dan ceria (dengan postingan foto-foto: liburan ke Singapura, arisan dengan sesama mahmud, atau shopping di mal).

First jobber milenial yang karir dan prestasi kerjanya pas-pasan membohongi orang banyak di Facebook dengan menampilkan diri sebagai sosok yang aktif, positif, dan sukses (dengan postingan foto-foto: keaktifan menghadiri beragam seminar, meeting dengan kolega di Starbucks, atau nge-gym di akhir pekan)

Entrepreneur tanggung yang bisnisnya masih struggling membohongi orang banyak di Facebook dengan menampilkan diri sebagai sosok pebisnis yang sukses (dengan postingan foto-foto: menjadi pembicara beragam seminar publik, meeting dengan vendor di lobi hotel berbintang, atau peresmian pembukaan gerai baru).

Akibat dunia Facebook yang “wow”, kini makin banyak orang ngiri karena merasa bahwa orang lain di Facebook begitu positif, begitu sukses, begitu bahagia, dan begitu hebat, sementara mereka sendiri tidak.

Banyak orang kini juga makin stres karena merasa sudah jungkir-balik berjuang, namun tidak kunjung menuai sukses seperti teman-teman mereka di Facebook yang sepertinya begitu mudah menuai kesuksesan.

“Setiap orang berbohong di Internet,” kata Seth-Stephens Davidovitz dalam buku terbarunya: Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us about Who We Really Are (2017).

Ujarnya: “In the internet, people lie to friends. They lie to colleagues. They lie to husbands and wives. They lie to boyfriends and girlfriends. They lie to government… even they lie to themselves.”

Baca juga: Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us about Who We Really Are

Dan tak hanya di Facebok, kebohongan itu tumbuh begitu subur di medium jejaring sosial lain seperti Instagram, Twitter, atau WA. Di situ orang cenderung berbohong agar dirinya terlihat lebih cantik-ganteng, lebih baik, lebih positif, lebih sukses, lebih peduli, lebih pengertian, lebih harmonis… singkatnya, lebih hebat.

Kita berbohong di Facebook agar kita diterima dan diinginkan oleh lingkungan sosial kita. Ini yang disebut: “social desirability bias”.

Sesungguhnya sejak awal menggunakan, kita “dididik” oleh Facebook untuk berbohong kepada orang lain. Melalui social desirability bias, berbohong menjadi sebuah kebiasaan tiap kali kita meng-update status, memposting foto, atau mengunggah video di Facebook.

Bentuk kebohongan kita bermacam-macam ada bohong besar (big lies), ada bohong kecil (small lies), ada bohong putih (white lies) yaitu bohong untuk kebaikan, atau ada juga bohong untuk promosi diri (self-promotion lies).

Menariknya, sebagian besar kebohongan kita di Facebook adalah small lies yaitu kebohongan remeh-temeh, kebohongan yang sepele, yang praktis tak begitu merugikan orang lain, tak berisiko apapun, dan bukanlah kejahatan yang serius (barangkali juga nggak banyak menimbulkan dosa… kwkwkwkw), sehingga begitu enteng kita melakukannya… setiap saat.

Karena setiap saat melakukannya, maka berbohong pun menjadi naluri kita yang sangat natural. Tak heran jika kemudian kebohongan demi kebohongan terjadi secara bawah sadar (subsconscious). Di Facebook seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah berbohong.

Nah, setelah membaca tulisan ini, kini Anda tak perlu lagi risau dan berkecil hati. Kalau dalam hati Anda berfikir bahwa Anda tidak hebat dibandingkan teman-teman Anda di Facebook, maka Anda tidak sendirian. Sesungguhnya mereka juga tidak hebat-hebat amat. Mereka berbohong agar terlihat hebat.

Ingat dua hal ini:
Pertama: “Setiap orang berbohong di Facebook”.
Kedua: “Percayalah, dunia tidaklah seindah postingan teman-teman Anda di Facebook.”

 

March 10, 2018   No Comments

Leisure Marketing

Akhir tahun lalu saya menulis bahwa kini kita memasuki era leisure economy dimana konsumen mulai bergeser perilakunya dari konsumsi barang (goods-based consumption) ke konsumsi pengalaman (experience-based consumption). Konsumen pun bermetamorfose menjadi apa yang sebut leisumer (leisure consumers).

Experience-based consumption seperti liburan, dine-out, nongkrong di kafe, nonton konser, nge-gym, yoga, hingga online games meningkat pesat menjadikan sektor leisure tumbuh begitu cepat melampaui sektor-sektor yang lain.

Pertanyaannya, bagaimana strategi yang harus kita terapkan untuk menangkap experience-based consumption yang beberapa tahun ke depan bakal menggeliat?

Saya punya enam strategi yang bisa kita ambil untuk sukses di era leisure economy. Enam strategi ini akan menjadi intisari dari buku baru saya yang berjudul Welcome Leisure Economy (2018) yang akan terbit bulan depan.

Leisure Marketing

#1. Every Business is Leisure Business
Apapun bisnis Anda, Anda harus memperlakukannya sebagai bisnis leisure. Caranya dengan menyuntikkan elemen experience ke dalam value proposition yang kita tawarkan ke para leisumers. Offer experience or you will die!!!

Matahari dan Ramayana struggling beberapa tahun terakhir. Begitu juga Pasar Glodog dan Roxi kian hari kian sepi. Kenapa? Karena mereka tidak menyuntikan elemen experience ke dalam value proposition yang mereka tawarkan ke para leisumers.

Mal Kasablanka, Mal Gandaria City, Mal Central Park atau Citos yang memposisikan diri sebagai pusat kuliner kelas menengah justru tumbuh pesat dan makin bergairah karena mereka menempatkan experience sebagai “menu utama” tawaran mereka ke pengunjung.

Orang ke mal bukan semata untuk berbelanja barang. Mereka ke mal untuk “berliburan” mendapatkan pengalaman mengesankan di tengah kepenatan kerja yang kian menghimpit.

Baca Juga: Milenial Jaman Now Penggerak Leisure Economy

#2. Create Moment. Inspire Customers to Recommend
Di era laisure economy, marketing is about creating moment. Mencipta pengalaman yang menjadikan leisumers bilang: “Wow!!!” Dan kemudian menceritakan “Wow!!! Experience” itu ke konsumen lain melalui posting di Facebok, twit di Twitter, atau rating dan review di situs-situs online. Ingat, di era media sosial: “Your leisumers are your best salesmen”.

“Wow!!! Experience” bisa berupa pengalaman yang menyentuh sisi kognitif, emosi, maupun aksi dimana konsumen larut (immerse) dalam setiap pengalaman yang kita ciptakan. “Wow!!! Experience juga bisa tercipta dengan dengan mengoneksikan leisumers dengan leisumers lain sehingga mereka menemukan jati diri dan eksistensinya.

#3. Leisumers Search for Happiness, Esteem, and Meaning. Leisurize Your Offering
Di era leisure ekonomi konsumen sangat haus untuk mendapatkan kebahagiaan (happiness), penghargaan (esteem) dari orang lain, dan makna hidup (meaning). Karena apaun produk dan layanan yang Anda berikan harus menciptakan HEP (happiness, esteem, meaning) ke konsumen.

Gerai-gerai kopi artisan seperti Tanamera atau Filosofi Kopi misalnya, memberikan “meaning” bagi para leisumers dengan menunjukkan kepedulian kepada kopi dan petani kopi Indonesia. Mereka melestarikan kopi Indonesia, membantu pengolahan kopi petani, dan menerapkan konsep fair trade. Kepedulian ini memberikan “meaningful life” ke leisumers.

#4. Build Authenticity. It’s the Ultimate Cutomization
Orisinalitas dan otentisitas memiliki value yang amat tinggi bagi para leisumers. Karena itu diferensiasi akan tercipta jika produk dan layanan kita memiliki unsur orisinalitas dan otentisitas. Dengan orisinalitas-otentisitas, Anda akan mendapatkan kemewahan mendapatkan premium pricing.

Pada saat diluncurkan, Goods Dept mengusung konsep yang orisinil-otentik dengan mengurasi brand-brand lokal yang unik. Karena keunikannya, maka gerai ritel ini kemudian menjadi hub bagi fesyen alternatif dan produk-produk lifestyle.

#5. Give Them Stage. Facilitate Your Customer to Express
Leisumers menginginkan momen-momen berkesan dari setiap pengalamannya diabadikan dan di-share ke teman-teman lain. Dengan men-share pengalaman (bukan barang), mereka menemukan eksistensi dan jati dirinya. Karena itu, berikanlah “panggung” kepada mereka untuk berekspresi dan menampilkan jati dirinya.

Kesuksesan Warung Upnormal, tak hanya ditentukan oleh menu Indomie yang dikemas dengan topping aneka menu dan rasa, tapi juga oleh tampilan interior/eksterior gerainya yang kekinian dan Instagramable. Warung Upnormal memberikan “panggung” dan memfasilitasi para leisumers untuk pamer jati dirinya.

#6. Entice Customer’s Curiosity through Story
Story creates FOMO (“Fear of Missing Out”). Cerita-cerita otentik (bukan cerita jualan) selalu membuat leisumer menjadi penasaran alias kepo. Cerita memungkinkan pesan-pesan brand menjadi viral dari satu leisumers ke leisumers yang lain.

Di depan saya katakan bahwa, “marketing is about creating moment thru wow!!! experience”. Nah, momen-momen tak terlupakan itu haruslah bisa dikemas dalam sebuah cerita yang mengesankan.

Falcon adalah rumah produksi yang piawai mengemas sebuah cerita, dan kemudian mengonversi cerita tersebut menjadi sebuah “gerakan viral” oleh para penonton film-filmnya. Contoh terakhir adalah film Dilan 1990 yang mampu menggerakan para penontonnya untuk memviralkan meme-meme di media sosial, di arisan-arisan kampung, di obrolan di ruang makan, dan di manapun.

Doakan buku saya bisa cepat terbit, tanpa aral-melintang. Welcome the leisure economy…

 

March 3, 2018   1 Comment

Pirates of the Internet

Misi Tim Berners-Lee saat merintis dan menciptakan World-Wide Web di tahun 1988 sangatlah mulia, yaitu untuk menciptakan sebuah platform jejaring elektronik berskala global yang memungkinkan setiap penduduk bumi untuk berkomunikasi data dan informasi secara mudah, terbuka, dan gratis. “This is for everyone,” ujarnya.

Berners-Lee bermimpi suatu saat seluruh umat manusia akan memiliki universal access kepada informasi dan pengetahuan melalui medium yang sekarang dikenal luas sebagai internet. Dengan universal access ini diharapkan pemerataan pendidikan, kemajuan peradaban, demokrasi politik, kemakmuran ekonomi dan segudang kebaikan lain akan bisa diwujudkan.

Namun celaka, misi mulia tersebut urung terwujud karena tak lama setelah itu muncul segelintir pebisnis oportunis yang dengan kemampuannya di bidang teknologi “membajak” internet, menjadikannya ladang bisnis bernilai triliunan dolar, dan kemudian menguasainya untuk kepentingan memupuk kekayaan secara berlebihan.

Pirates of the Internet

Para “pembajak internet” ini tak lain adalah para libertarian entrepreneurs/investors yang memiliki obsesi megalomania untuk mengendalikan dan menguasai ekonomi dunia. Mereka adalah sosok-sosok pebisnis yang mengendalikan korporasi digital raksasa macam Google, Facebook, Amazon, Uber, dan lain-lain.

Berbekal ideologi libertarianisme (mengacu kepada ajaran ekonom Milton Friedman dan filosof Ayn Rand) secara agresif mereka mengubah internet yang harusnya merupakan “universal utilities” (open, nonproprietary, free) bagi seluruh umat manusia menjadi imperium bisnis yang secara monopolistik mereka kuasai.

Caranya adalah dengan menciptakan apa yang disebut “surveillance marketing business”, yaitu bisnis menjual informasi pribadi kita kepada para pengiklan dengan mengadopsi model bisnis yang awalnya terkesan indah tapi sesungguhnya sangat membahayakan privasi dan kebebasan kita.

Prinsip model bisnis ini berbunyi: “if you’re not paying for something, you’re not the customer; you’re the product being sold”. Kalau Anda menggunakan layanan seperti Google atau Facebook secara gratis, maka Anda bukanlah konsumen. Anda adalah “produk” yang akan mereka jual.

Dengan menjual data pribadi kita perusahaan seperti Google, Facebook, Twitter, atau Amazon mengeruk uang miliaran dolar dari internet. Internet menjadi ladang emas bagi para libertarian entrepreneurs/investors.

Ironis, karena Berners-Lee sebagai pencipta internet justru tidak mendapatkan apa-apa dari hasil ciptaannya. Ia tidak kaya seperti halnya Zuckerberg atau Bezos (Bezos kini adalah orang terkaya sejagad dengan kekayaan sekitar Rp.1500 triliun atau sekitar 70% APBN Indonesia). Ya karena dari awal Berners-Lee mempersembahkan ciptaannya bagi umat manusia secara ikhlas, bukan untuk mengeruk kekayaan.

Ketika ditel-ditel informasi pribadi kita (tulisan surat kita di Gmail, search querry kita di Google, twit-twit kita di Twitter, atau postingan kita di Facebook) ada di tangan mereka, maka sesungguhnya nasib kita ada di tangan mereka. Nasib kita ditentukan oleh rumus algoritma mereka yang sama sekali tidak kita ketahui.

Selama ini kita hanya sibuk ber-Facebook ria, ngetwit, atau berselancar di mesin pencari Google tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya kita diawasi dan preferensi, perilaku, aspirasi, maupun pola pikir kita dibentuk oleh rumus algoritma mereka. Inilah surveillance business.

Pertanyaannya, ketika mereka mendapatkan previlege memegang data pribadi kita, apakah mereka bakal bisa memegang amanah untuk tidak menyalahgunakannya?

Siapa yang bisa jamin? Bisa ditebak, mereka akan memperlakukan data pribadi kita semau mereka mengikuti kepentingan bisnis mereka untuk menuai profit sebanyak mungkin. Inilah ideologi dasar dari paham libertarianisme yang mereka yakini.

Awalnya memang kita tidak resah. Namun kini, ketika penguasaan mereka terhadap internet mengarah ke hegemoni monopolistik, kita mulai berpikir, prihatin, dan was-was.

Ingat, kini Google sudah menguasai 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Tinggal tunggu waktu, satu-persatu industri demi industri berbasis digital/internet bakal mereka kuasai secara monopolistik dengan cara menciptakan platform yang mendisrupsi industri-industri lama yang telah usang bisnis modelnya.

Kemampuan keuangan mereka praktis tanpa batas, karena begitu mereka berhasil mendisrupsi industri demi industri, maka harga sahamnya langsung meroket setinggi langit. Dan dengan kapitalisasi pasar mencapai ratusan miliar dolar, dengan mudah mereka membeli satu-persatu pesaingnya. Memang salah satu hobi mereka adalah “menyantap” para pesaing dan startup yang berprospek mendisrupsi industri.

By-default, memang persaingan di jagat digital/internet mengarah ke persaingan monopolistik: “winner-takes-all”. Persis seperti dikatakan oleh Peter Thiel (pendiri PayPal dan eksponen libertarianisme) dalam bukunya Zero to One, pasar monopolistik ini terwujud karena empat faktor kunci: proprietary technology, economies of scale, network effect, dan the power of branding.

Di tangan para pembajak (ala Jack Sparrow dalam film Pirates of the Carribean), internet kini berubah fungsi dari “univesal information platform” seperti diidamkan oleh Berners-Lee menjadi “citizen surveillance platform”.

Kalau sudah begini, kita menjadi teringat novel legendaris George Orwell berjudul 1984. Dalam novel ini digambarkan sebuah negara penuh tirani dimana sang penguasa mengawasi setiap gerak-gerik warganegaranya.

Apa yang digambarkan novel tersebut mirip dengan kondisi yang terjadi saat ini. Bedanya, yang mengawasi kini bukanlah pemerintah dan para diktator sekejam Hitler atau Mussolini, tapi korporasi-korporasi digital yang kian menggurita.

Kalau tren ini terus berlangsung, nantinya yang berkuasa bukan lagi negara atau PBB, tapi raksasa-raksasa korporasi digital berikut para pemimpinnya, yaitu para libertarian entrepreneurs/investors.

Melihat sepak terjang raksasa-raksasa digital di atas, kita jadi ingat sejarah East India Company, EIC (di Indonesia kita mengenal VOC) yaitu imperium swasta abad-17 yang mengelana ke seluruh dunia untuk mencari daerah-daerah jajahan baru agar bisa dirampok lada, pala, atau cengkehnya.

Raksasa-raksasa digital abad-21 sesungguhnya mirip dengan EIC/VOC di abad-17. Bedanya, kini daerah jajahan barunya adalah internet; dan kini lada, pala, dan cengkehnya adalah data kita yang dimonetasi menjadi kekayaan triliunan dolar.

Bedanya lagi: kalau imperium swasta abad-17 merampas lada, pala, dan cengkeh daerah jajahan dengan mengangkat senjata, membunuh, dan menyiksa; korporasi digital abad-21 sebaliknya, menjajah internet dengan memberi kenikmatan yang luar biasa.

February 24, 2018   4 Comments

The End of Brand

Sudah 20 tahun saya menenkuni dunia branding. Sudah 20 tahun pula saya membaca buku, meriset, menulis artikel tiap minggu, dan mengajar mengenai branding. Hampir tiap minggu saya diwawancarai wartawan, karena mereka menganggap saya adalah pakar branding.

Namun celaka, inilah untuk pertama kalinya dalam 20 tahun perjalanan karir saya, dengan berat hati saya katakan, kinilah saat berakhirnya brand: the end of brand.

Teknologi digital tak hanya mendisrupsi layanan taksi, ojek, atau bank, tapi juga mendisrupsi brand, dan menjadikannya semakin tidak relevan lagi.

Kok bisa?

The End of Brand

Search, Rating, Review
Agar gampang menjelaskannya saya ingin memberikan contoh bagaimana proses pengambilan keputusan konsumen saat memilih dan membeli produk.

Suatu ketika saya ingin ke Bali dan mencari hotel untuk menginap. Apa yang saya lakukan? Pertama-tama saya menentukan berapa duit yang akan saya alokasikan untuk hotel tersebut. Katakan anggarannya Rp.400-500 ribu.

Lalu saya ke situs pemesanan hotel seperti Traveloka. Saya ketik range harga tersebut di isian situs dan kemudian keluar 10 hotel dengan range harga Rp.400-500 ribu. Maka saya pun fokus pada short list tersebut sesuai budget yang saya punya.

Setelah itu apa yang saya lakukan? Berikutnya saya melihat customer rating. Dari sepuluh hotel tersebut pilihan saya jatuh pada tiga hotel. Hotel A dengan harga Rp.425 ribu memiliki rating 7. Hotel B harga Rp.450 ribu memiliki rating 7,5. Hotel C dengan harga Rp.475 memiliki rating 9.

Mana dari tiga alternatif hotel itu yang saya pilih? Tunggu dulu. Sebelum memilih, saya memastikan pilihan saya dengan melihat customer review, yaitu ulasan dari konsumen yang pernah menginap di tiga hotel tersebut.

Hotel A memang paling murah, namun setelah saya cermati banyak konsumen yang mengemukakan keluhannya: nasi gorengnya yang nggak panas, omeletnya yang terlalu asin, atau layanannya yang kurang sigap. Hotel B makanannya lumayan oke namun kolam renangnya nggak begitu bersih. Karena itu walaupun paling mahal saya memilih hotel C karena rating-nya paling tinggi dan customer review-nya paling mengesankan.

Proses pengambilan keputusan melalui search, rating, review tersebut tak hanya terjadi di situs pemesanan hotel seperti Traveloka, tapi juga terjadi di situs e-commerce apapun mulai dari Tokopedia, Amazon, hingga AirBnB,

Apa yang menarik dari proses pemilihan dan pemesanan hotel tersebut?

Saya tak melibatkan brand dalam proses memutuskan pembelian. Tentu saja saya tahu brand hotel yang saya pilih, namun nama brand tak lagi menjadi faktor penentu keputusan pembelian.

Dari Asymetric ke Symetric
Brand lahir dari kondisi pasar yang tidak sempurna dimana terjadi asymetric information antara produsen dan konsumen. Produsen tahu betul detail-detail produknya, sementara konsumen tak banyak tahu. Akibatnya, konsumen menggunakan brand sebagai “acuan” dalam memilih produk yang akan dibeli.

Dulu brand menjadi “proxy of quality” yang membuat konsumen konfiden memilih produk yang diinginkan. Brand menjadi “shortcut” yang membantu konsumen dalam mengambil keputusan. Hakikinya fungsi brand adalah membantu konsumen membangun konfiden dalam mengambil keputusan pembelian. Fungsi brand adalah mengurangi risiko saat konsumen menetapkan keputusan pembelian.

Namun jaman sudah berubah. Perkembangan teknologi digital menjadikan kondisi asymetric information itu lenyap. Dan akibatnya, peran brand kemudian menjadi tak relevan lagi.

Mesin pencari (search engine) berbasis algoritma di situs-situs Traveloka, Amazon, atau AirBnB menjadikan konsumen begitu mudah mencari informasi dan melakukan riset mengenai produk yang akan dibeli. Dan mereka menjadi sangat knowledgeable mengenai produk yang dipilihnya.

Dengan customer rating, konsumen bisa begitu mudah membandingkan value proposition antara satu produk dengan ratusan bahkan ribuan produk lain. Ini akan membantu konsumen membangun konfiden dalam memutuskan pembelian, menggantikan fungsi brand.

Tak hanya itu, customer review menjadikan konsumen begitu mudah mengetahui pengalaman konsumen yang sebelumnya mengosumsi produk yang akan kita beli. Sekali lagi, customer review mengambil alih peran brand dalam membangun konfiden konsumen saat memutuskan pembelian.

Dengan kata lain, kehadiran search, rating, review, dan berbagai digital tools lain mendorong pasar bergeser dari asymetric information ke symetric information. “Now customers get near-perfect information about the product”. Ketika symetric information ini terjadi, maka dengan sendirinya brand menjadi tak relevan lagi.

Makin tidak relevannya brand tentu merupakan mimpi buruk bagi brand-brand mapan yang puluhan tahun sebelumnya menikmati marjin tak wajar karena memiliki brand equity yang kuat.

Teknologi digital rupanya tak hanya mendisrupsi layanan taksi, ojek atau perbankan. Tapi juga mendisrupsi brand.

Welcome to the world without brand!

February 3, 2018   10 Comments