E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Marketing Outlook 2012: The Rise of Indonesia’s Middle-Class Consumer

Temen-temen berikut ini analisa saya mengenai Marketing Outlook 2012 yang saya fokuskan analisanya pada prospek dan tren perilaku konsumen kelas menengah Indonesia di tahun 2012.

Secara umum saya membahas dampak krisis ekonomi di Eropa yang kini mengancam perekonomian dunia termasuk Asia. Dengan background kondisi ekonomi makro tersebut saya kemudian membahas karakteristik konsumen kelas menengah (saya sering menyebutnya Consumer 3000 atau di Twitter saya beri hastag #c3000) dan tren perilakunya di Indonesia.

Dokumen dalam bentuk pdf, silahkan kalau temen-temen mau download.

November 28, 2011   3 Comments

“Pingsan BB”

Untuk kesekian kali gadget bikin heboh. Nggak hanya Crocs saja yang membikin para pemburu diskon kalap. Sudah menjadi kebiasaan di Jakarta sekarang, begitu ada cool gadget diluncurkan di mal, para gadget lover pun kalap. Kita masih ingat heboh launching Galaxi Tabs, iPhone, atau Nexian beberapa bulan lalu yang menimbulkan buzz effect luar biasa.

Itulah yang terjadi pada launching BB Bold 9790 di Pacific Place Jumat kemarin. Beberapa hari sebelumnya memang kita dibikin penasaran dengan iklan satu halaman di koran-koran mengenai kehadiran BB terbaru yang peluncuran perdananya (world launch) dilakukan di Jakarta. Namanya yang pertama, tentu saja para BB mania penasaran ngerasain menjadi pengguna pertama di dunia.

Kira-kira sama dengan sensasi yang dirasakan saat para Apple mania mengular di Apple Store, Fift Avenue New York untuk menjadi pemilik iPad pertama di dunia. Sensasi ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para BB mania, apalagi dengan embel-embel diskon 50%. Dengan background semacam ini, tak heran jika antrian para pemburu diskon gadget menjadi begitu luar biasa seperti kita saksikan dua hari lalu. [Read more →]

November 26, 2011   5 Comments

K-Pop: Good, Bad, Ugly

K-pop, alias Korean pop, alias Korean wave, alias Hallyu memang hebat. Demamnya melanda ke seberang, ke seluruh pelosok dunia: dari Amerika hingga Eropa; dari Rusia hingga Timur Tengah.

Sekretaris saya fanatik 2PM. Avatar BBM-nya berganti-ganti foto Tae Cyeon salah satu dedengkot 2PM yang di tiap lagunya selalu kebagian ngerap. “Dia cakep, jago ngerap, dan humoris,” ujarnya tentang sang idola. Pengetahuannya A sampai Z tentang Tae Cyeon dan 2PM extraordinary. Dan tiap kali diajak ngomong 2PM matanya selalu berbinar-binar nyaris keluar dari kantungnya dan mulutnya nerocos sulit dihentikan, bicara supersemangat dan penuh passion. Itu sebabnya saya malas ngobrol dengan dia soal 2PM.

Hampir tiap saat ia meng-update informasi mengenai setiap personil 2PM melalui Twitter @Hottest, Facebook fanpage Hottest Indonesia, dan YouTube sehingga tak sedikitpun informasi mengenai boy band kebanggaannya itu terlewatkan. Yang belum tahu, Hottest adalah sebutan untuk para fans fanatik 2PM. Bahkan setiap Rabu lepas Magrib dia tekun belajar bahasa Korea melalui akun @Hottest yang secara khusus memberikan “kursus” bahasa Korea melalui Twitter.

Sekretaris saya adalah potret fanatisme K-pop. Fanatisme yang sama dialami jutaan ABG di seluruh pelosok Tanah Air. “It’s the power of K-pop!!!

Bicara tentang K-pop saya punya tiga opsi: the good, the bad, dan the ugly. The good adalah kebaikan-kebaikan yang harus kita tiru dari K-pop. The bad adalah keburukan-keburukan yang harus kita hindari. Dan the ugly adalah kejelekan-kejelakan, yang kalau bisa jangan sampai terjadi di Tanah Air. [Read more →]

November 19, 2011   2 Comments

Titik Nol

Kegagalan, apalagi jika kegagalan itu adalah keterpurukan hingga di titik terbawah, seringkali kita sikapi sebagai malapetaka, sebagai akhir segalanya. Keterpurukan di titik nol seringkali menjadikan kita ciut hati, undermotivated, dan berat memulai lagi dari bawah. Akibatnya, keterpurukan menjadikan kita makin terpuruk. Kita kian terjebak dalam pusaran keterpurukan.

Tapi kenapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kenapa kita tidak menjadikan posisi terpuruk di titik nol sebagai sebuah energi luar biasa untuk bangkit. Kenapa kita tidak menjadikan keterpurukan di titik nol sebagai sinyal bahwa kita harus membangun sense of crisis, sinyal untuk mengetatkan ikat pinggang. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak menjadikan kita ringan melenggang menggapai capapian-capaian luar biasa di depan. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak kita jadikan momentum untuk change the world.

Saya melihat keterpurukan di titik nol adalah “harta karun” bagi kesuksesan kita karena ia menyimpan begitu banyak pelajaran, keutamaan, dan wisdom luar biasa. Karena itu, bahkan ketika kita tidak sedang terpuruk, kita harus menciptakan mindset keterpurukan di titik nol agar kita tidak ponggah, tidak sombong, tidak sok tahu, tidak malas, tidak terjebak di zona nyaman.

Bicara mengenai keterpurukan di titik nol, role model saya adalah Steve Jobs. Banyak orang mengagumi Steve karena kepiawaiannya mencipta inovasi hebat: Mac, iPod, iPhone, iPad. Saya justru mengagumi dia karena kemampuannya bangkit dari keterpurukan di titik nol. [Read more →]

November 12, 2011   5 Comments

Buzzing Komodo

Saya tak akan mengurus apakah yayasan New 7 Wonders bodong atau beneran. Saya tak akan mengurus apakah langkah Kementrian Pariwisata keluar dari ajang kontes Tujuh Keajaiban Dunia blunder atau justru menguntungkan. Saya juga tak akan mengurus apakah langkah pak Jusuf Kalla lebih benar atau justru kontraproduktif. Itu semua urusan mereka dengan pernak-pernik kepentingan di baliknya.

Yang jelas saya berbunga-bunga karena di balik buzz yang melingkupi voting pulau Komodo menjadi Tujuh Keajaiban Dunia, pulau ini telah menuai popularitas, ownership dari segenap anak bangsa, dan memicu rasa nasionalisme yang luar biasa. Itu membikin satu-satunya pulau yang menampung biawak super langka ini semakin moncer tak hanya di dalam negeri, tapi juga seantero jagat.

Jika Kementrian Pariwisata tidak mencabut keikutsertaan Indonesia di ajang ini; jika pak Jusuf Kalla tak “turun gunung” menggalang dukungan, atau jika tak ada kasus SMS premium, saya yakin voting pulau Komodo akan sepi-senyap tenggelam oleh gosip Ayu Ting Ting vs Rafie Ahmad.

Saya melihat buzz komodo hari-hari ini menggulir sempurna karena memiliki tiga kunci kesuksesan sebuah word of mouth marketing yaitu: story, controversy, dan genuinity [Read more →]

November 5, 2011   11 Comments

UKM Kreatif

UKM kreatif? Cool! Kenapa cool? Untuk menjadi pengusaha kelapa sawit Anda butuh lahan ribuan hektar. Untuk menjadi konglomerat otomotif Anda butuh pabrik raksasa lengkap dengan assembly line yang super canggih. Untuk menjadi UKM kreatif Anda cuma butuh dua hal: laptop dan colokan (yes, plus Wifi) di gerai Starbucks. Ya karena pabrik UKM kreatif ada di otak: “Your brain is your factory!!!

Istilah UKM kreatif saya gunakan mengacu kepada istilah industri kratif (creative industry) yang begitu ngetren lima tahun terakhir. Banyak definisi yang diberikan pakar mengenai industri kreatif, tapi saya menyukai definisi yang satu ini: “creative industry is industry which have their origin in individual creativity, skill and talent. It concerned with the generation or exploitation of knowledge and information”. Jadi modal utama UKM kreatif adalah ide yang diolah di dalam otak kita.

Alat produksi utama dari sebuah UKM kreatif adalah ide/pengetahuan dan proses utamanya adalah menciptakan dan mengolah ide/pengetahuan tersebut menjadi produk dan layanan bernilai tinggi bagi konsumen. Jika Anda seorang arsitek, maka Anda mencipta dan mengolah ide mengenai konsep rumah atau gedung. Jika Anda seorang disainer kaos, maka Anda mencipta dan mengolah ide mengenai konsep desain kaos. Jika Anda seorang pengembang game online, maka Anda mencipta dan mengolah konsep games yang exciting bagi para gamers.

Sektor industri berbasis ide ini mencakup 15-an bidang yang kini sedang hot di banyak negara. Bidang-bidang tersebut adalah: periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, disain, fashion, penerbitan, film/video, TV/radio, musik, fotografi, perangkat lunak dan layanan komputer. [Read more →]

October 22, 2011   5 Comments

Energi Positif

Kolom ini saya tulis di atas pesawat Garuda Indonesia GA305 20 Oktober lalu dalam perjalanan Surabaya-Jakarta. Ada dua kejadian kontras yang begitu mengesankan saya persis sebelum saya naik tangga pesawat yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menulis kolom ini.

Kejadian 1: saat sehari sebelumnya di Surabaya saya bertemu beberapa kepala cabang dan kepala wilayah Adira Finance se-Jawa Timur. Kejadian 2: saat di bandara Juanda sambil menunggu keberangkatan pesawat ke Jakarta saya membaca headline koran mengenai resuffle kabinet SBY. Andrenalin saya begitu menggelora hingga saya seperti kesurupan dan tak terasa menit-menit sebelum pesawat menclok di Bandara Soekarno-Hatta, kolom pun tuntas ditulis.

Kejadian 1
Di Surabaya sehari sebelumnya saya melakukan brainstorm session dengan para kepala cabang dan kepala wilayah Adira dalam rangka riset untuk mengungkap leadership style Stanley Atmaja yang selama 20 tahun lebih merintis dan membawa perusahaan mencapai sukses luar biasa. Teka-teki terbesar yang terus mengganggu otak saya adalah menjawab pertanyaan: kenapa demikian banyak inisiatif yang dijalankan perusahaan (implementasi IT, budaya perusahaan, Balanced Scorecard, beragam program pengembangan produk baru, dsb-dsb) selalu bisa dituntaskan dengan hasil-hasil luar biasa. [Read more →]

October 21, 2011   2 Comments

:)

: ) Adalah dua karakter huruf, yang paling sering saya tulis di Twitter. Setiap kali saya ucapkan terima kasih kepada follower, saya selalu tulis tx:). “tx” adalah bahasa Twitter saya untuk “thanks”. Setiap kali hari Jumat ada teman yang merekomendasikan saya untuk di-follow,  yup “folllow Friday” (#FF), saya selalu balas dengan tx:) atau cukup : ). Setiap kali ada teman yang me-mention saya dan memberikan konten yang menarik (quotes dari tokoh-tokoh hebat, tips, kultwit, dll.) saya selalu membalasnya dengan : ). Bahkan di setiap twit yang saya tulis sejauh mungkin saya menyematkan : ) di akhir twit.

Barangkali kebanyakan tweeps menganggap remeh : ). Gampang saja, tinggal pencet : dan ), maka follower tahunya Anda sedang berbunga-bunga bertabur senyum. Bahkan ketika sesungguhnya Anda sedang bermuram durja, marah, benci, nggak rela, iri-dengki, dengan gampang Anda bisa bersembunyi di balik dua karakter huruf itu. Dengan : ) Anda bisa obral senyum di Twitter, walaupun sesungguhnya senyum itu palsu dan kosmetik. Nggak masalah, toh siapapun di Twitter tak ada yang tahu.

LPH: Love, Peace, Happiness
Saya tidak!!! Saya sangat serius dengan : ). Bagi saya : ) punya makna yang teramat dalam. Bagi saya : ) adalah simbol dari: love, peace, dan hapiness; sebut saja LPH. Ia merupakan ungkapan keikhlasan menyebarkan rasa cinta-kasih, spirit kedamaian dan ketulusan, dan aura kebahagiaan yang rahmat. Ketika saya menyematkan : ) dalam twit-twit saya, maka saya percaya twit tersebut punya “roh” karena dilandasi oleh spirit LPH. [Read more →]

October 15, 2011   1 Comment

Steve

Steve Jobs meninggalkan kita hari Rabu lalu. Seperti umumnya great leader — Gandhi, Soekarno, Mother Teresa, — ia pergi meninggalkan legacy yang menginspirasi jutaan anak manusia; inspirasi yang kekal sampai ke ujung jaman. Sepak terjang Steve selama 36 tahun membangun bisnis Apple dan mencipta produk-produk hebat (dari Mac hingga iPad) menyisakan pelajaran-pelajaran bisnis dan marketing sangat berharga. Saya mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan pelajaran yang saya dapat dari seorang Steve. Berikut ini beberapa di antaranya.

Market-Driving
“Market-focused”, “market-driven”, “market-orientation” adalah jargon yang menjadi pakem pemikiran dunia pemasaran yang selalu dikumandangkan ribuan pakar bisnis di seluruh dunia. Konsepnya indah sekali: Anda harus mengetahui dulu apa kebutuhan dan keinginan konsumen. Lalu dari situ Anda merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Steve punya prinsip yang berlawanan dengan pakem itu. Ini ucapan dia yang sangat saya suka: “It’s really hard to design products by focus groups. A lot of times, people don’t know what they want until you show it to them.” [Read more →]

October 8, 2011   4 Comments

Entrepreneur Boom

Akhir tahun lalu saya mengintroduksi fenomena Consumer 3000, yaitu munculnya konsumen kelas menengah di Indonesia dalam jumlah yang cukup siknifikan (saat ini jumlahnya sudah mencapai 100 juta orang) yang terjadi seiring dengan tembusnya GDP/kapita Indonesia ke level $3000 pertahun. Ini merupakan potensi pasar luar biasa yang akan menjadi driver pertumbuhan industri dan perekonomian kita. Ini sekaligus menandai posisi Indonesia yang sudah ancang-ancang masuk dalam jajaran negara maju baru (emerging countries) bersama negara-negara seperti Cina, India, Brasil atau Rusia.

Kalau pada saat itu saya mengatakan bahwa Consumer 3000 merupakan konsumen potensial yang mampu menggeliatkan perekonomian, maka sesungguhnya kemunculan kelas menengah juga menjadi kekuatan potensial terbentuknya kalangan wirausaha (entrepreneur) yang sangat powerful.

Kenapa? Karena kelas menengah memiliki potensi dari sisi mindset dan karakter sebagai seorang entrepreneur; mereka memiliki aset dan modal yang memadai; mereka knowledgable, berwawasan, berpendidikan; dan yang menarik mereka adalah generasi yang melek teknologi (technology savvy) dan terkoneksi (connected) satu sama lain. Itu semua merupakan elemen penting terbentuknya lapis wirausahawan baru yang belum ada sebelumnya. [Read more →]

October 3, 2011   5 Comments