<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 05:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Model Bisnis Horisontal Ala Google</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 05:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blue Ocean Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Google business model]]></category>
		<category><![CDATA[Google marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.</p>
<p>Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para <strong>Googlers</strong> (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.</p>
<p><strong>#1. Be a Platform; Not Only Product</strong><br />
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads.</p>
<p>Ambil contoh Blogger yang diperoleh Google melalui akuisisi. Blogger merupakan sebuah platform karena memberikan “wadah” bagi para bloggers untuk memproduksi dan mempublikasikan konten yang mereka miliki. Dari blog yang dibangun di Blogger.com para blogger meng-create value melalui konten-konten menarik yang mereka publikasikan; yang kemudian bisa mendatangkan massa pembaca dan pengiklan. Menariknya, ketika para blogger tersebut create value, maka dengan sendirinya mereka akan add value ke platform Blogger.com. Jadi, semakin besar value diciptakan oleh si konsumen, maka semakin besar pula value yang ditambahkan oleh si konsumen tersebut kepada platformnya. Inilah hebatnya platform, Anda akan bekerja bersama-sama dengan si konsumen untuk membesarkan platform tersebut.</p>
<p><strong>#2. It’s Not Destination&#8230; It’s a Mean</strong><br />
Banyak perusahaan berpikir bahwa konsumen harus datang ke website mereka. Kalau mereka datang, maka traffic website tersebut akan tinggi, dan dari situ pemasang iklan akan mau membayar mahal untuk iklan-iklan yang dipajang di situ. Google berpikir sebaliknya. Ia menjadikan home page-nya bukan sebagai “tujuan akhir”, tapi “alat” yang akan membawa Anda ke tempat yang Anda inginkan. Alih-alih minta didatangi, Google justru “menyambangi” konsumennya. Akibatnya, jutaan jalan bisa Anda tempuh untuk mengakses Google. “<strong>Google democratize its channels</strong>”. Search box-nya Google bisa Anda pakai dan hadir di situs manapun di internet. Anda juga bisa menggunakan Google AdSense atau YouTube di blog dan website Anda. Ketika Anda begitu gampang diakses, bisa dipastikan jutaan peluang akan menghampiri Anda. Ini pelajaran penting dari Google!!!</p>
<p><strong>#3. Democratize Resources; Don’t Control!!!</strong><br />
Teori bisnis sebelumnya mengatakan: “Kuasailah sumber daya terbatas dan krusial (di bidang produksi, distribusi, marketing, paten, dsb.), maka Anda akan menuai keuntungan premium sesuai dengan hukum supply &amp; demand. Google justru berpikir sebaliknya. Alih-alih menguasai dan mengontrol produksi, distribusi, pemasaran, atau paten; Google justru sejauh mungkin menyerahkan ke pihak lain untuk kemudian diajak berkolaborasi. Umumnya perusahaan menggunakan logika “<strong>scarcity economy</strong>”; Google menggunakan logika “<strong>abundance economy</strong>”. Ambil contoh Google AdSense. AdSense merupakan platform untuk “mendistribusikan” bisnis iklan Google ke para pemilik blog atau website di manapun di internet. Jadi Google tidak rakus memakan bisnis iklannya sendiri, tapi mengajak “distributor’-nya yaitu para pemiliki blog dan website untuk berkolaborasi menciptakan dan membagun bisnis secara bersama-sama. Tak heran jika pemilik blog dan website tersebut kemudian menjadi evangelist fanatik bagi Google.</p>
<p><strong>#4. Never STOP Improving&#8230; Involve Customers</strong><br />
Hampir semua produk yang dibikin Google meluncur dengan label “Beta”. Versi Beta berarti produk tersebut masih dalam proses testing dan eksperimen; masih dalam proses perbaikan; atau masih dalam proses penyempurnaan. Cara seperti ini bertentangan denga conventional wisdom yang berlaku sebelumnya, bahwa produk harus sempurna begitu meluncur di pasar. Inilah cara Google untuk mengatakan kepada konsumennya: “Kami memang masih jauh dari sempurna; marilah kita sempurnakan bersama-sama.” Itulah cara Google untuk melibatkan konsumen menyempurnakan produk. Harus diingat, konsumen lah yang paling tahu apa kebutuhannya; karena itu konsumen lah yang paling layak menyempurnakan produk yang dibutuhkannya.</p>
<p><strong>#5. &#8220;Don&#8217;t Be Evil&#8221;</strong><br />
“Don’t be evil” adalah motto yang diungkapkan oleh Paul Buchheit dan Amit Patel pencipta Gmail. Melalui motto yang sangat spiritual tersebut mereka ingin mengatakan bahwa ketika informasi konsumen sudah ada di Google maka data itu bisa dieksploitasi dan rekayasa sedemikian rupa untuk kepentingan apapun, termasuk untuk kepentingan yang jahat. Karena itu, motto tersebut menjadi semacam “pagar-pagar etika” bagi setiap Googlers agar tidak berperilaku dan berbisnis jahat. Poin ke-6 dari corporate philosophy mengatakan: “<strong>You can make money without doing evil</strong>”. Sehebat apapun strategi dan model bisnis Anda; semua itu tak ada artinya tanpa adanya landasan moral dan etik yang kokoh.</p>
<p>Berbeda dari kebanyakan perusahaan konvensional yang bersifat vertikal; Google unik dan revolusioner karena menggunakan pendekatan dan logika bisnis yang <strong>horisontal</strong>.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Great Leader Is A Teacher</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 04:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[leader is teacher]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[Ya, pemimpin yang hebat adalah guru yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “mewariskan” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (knowledge), keahlian dan pengalaman (skill), dan sikap, perilaku, budi pekerti (attitude). Berbekal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, pemimpin yang hebat adalah <strong>guru</strong> yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “<strong>mewariskan</strong>” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (<strong>knowledge</strong>), keahlian dan pengalaman (<strong>skill</strong>), dan sikap, perilaku, budi pekerti (<strong>attitude</strong>). Berbekal knowledge-skill-attitude (untuk singkatnya sebut saja: KSA) itu si guru berupaya membentuk si murid untuk menjadi seperti dirinya. Jadi by-default seorang guru haruslah menjalankan fungsi role-modeling. Nggak bisa si guru mengajarkan kepada si murid tapi cuma omong doang tanpa dia mempraktekkannya.</p>
<p>“Karya terbesar” seorang guru adalah “warisannya” yaitu, si murid yang sudah tertempa KSA-nya hingga menjadi seperti dia, bahkan melebihinya. Guru yang baik adalah mereka yang total menumpahkan KSA yang dimilikinya kepada si murid<strong> tanpa tersisa sedikitpun</strong>. Karena itu kalau kita nonton film Star Wars, saat-saat Yoda memberikan ilmu terakhir yang dimilikinya kepada si murid Luke Skywalker adalah momen-momen berharga yang digambarkan secara dramatik dan sarat makna.</p>
<p>Guru juga selalu melayani (<strong>serve</strong>) dan berkorban (<strong>sacrifice</strong>) untuk kebaikan dan keutamaan si murid. Itu sebabnya oleh pemerintah jaman Orde Baru mereka mendapatkan julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang hebat adalah mereka yang secara tulus-ikhlas berkorban demi untuk kebaikan, kesuksesan, dan kejayaan murid-muridnya. Guru bukanlah pekerjaan yang<strong> selfish</strong>. Guru yang hebat peduli pada muridnya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang guru adalah pelayanan, pengabdian, dan dedikasi diri kepada orang lain. <strong>Guru adalah sebuah compassion</strong>.<span id="more-661"></span></p>
<p>Itu guru. Lalu bagaimana dengan pemimpin? Katanya pemimpin yang hebat pasti guru yang hebat pula? Saya 100% setuju dengan James Kouzes dan Barry Posner (baca buku terakhirnya: <strong>A Leader’s Legacy</strong>) bahwa: “<strong>leadership is about leaving a lasting legacy</strong>”. Pekerjaan utama seorang pemimpin adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman. Gandhi meninggalkan prinsip perlawanan penjajah dengan tanpa kekerasan; Bill Gates meninggalkan Microsoft dan Gates &amp; Melinda Foundation; Mohammad Yunus meninggalkan Grameen Bank berikut aktivitasnya memberdayakan kaum papa; Soekarna meningalkan Kemedekaan Indonesia.</p>
<p>Tapi warisan para pemimpin besar itu tak hanya sebatas itu. Ada warisan lain yang justru lebih substansial. Soekarno adalah pemimpin hebat karena seluruh hidupnya diabdikan dan didedikasikan untuk menghasilkan dan (setelah mati) meninggalkan warisan tak ternilai, kemerdekaan Indonesia. Namun bagi saya warisan sesungguhnya yang ditinggalkan oleh Soekarno adalah para pemimpin penerusnya yang mengisi dan “merawat” kemerdekaan itu.</p>
<p>Warisan terbesar Soekarno sebagai pemimpin adalah “<strong>murid-murid</strong>”-nya, yaitu para pemimpin penerus bangsa yang selalu terinspirasi untuk mewujudkan impian-impiannya mengenai kemerdekaan Indonesia yang sesungguh-sungguhnya. Jadi warisan Soekarno masih cacat dan belum paripurna kalau para pemimpin yang meneruskannya berperangai bukan pemimpin: suka korupsi, selfish, rakus kekuasaan, greedy, munafik. <strong>Leader must create other leaders</strong>, pemimpin harus menghasilkan pemimpin lain yang lebih hebat darinya. Sama dengan guru harus menghasilkan murid-murid yang lebih hebat darinya.</p>
<p>Lalu, seperti juga guru, seorang pemimpin juga harus mentransfer dan mengopi KSA yang dimilikinya kepada orang-orang yang dipimpinnya (followers). Itu atinya, ia harus memainkan peran role modeling bagi para follower-nya. Untuk memainkan peran ini maka seorang pemimpin harus beres KSA-nya. Bagaimana kalau KSA-nya belepotan? Ya, tentu saja si pemimpin akan kehilangan kredibilitasnya, karena: <strong>he doesn’t practice what he preach</strong>. Dan kita tahu kredibiltas adalah ”nyawanya” kepemimpinan. Anda nggak kredibel di mata anak buah, maka habislah Anda.</p>
<p>Dan akhirnya, seperti halnya guru, seorang pemimpin haruslah <strong>serve &amp; sacrifice</strong>. Pemimpin yang ikhlas selalu melayani dan berkorban agar orang-orang yang dipimpinnya berkembang. Tugas berat seorang pemimpin adalah mentransformasi para follower-nya dari good menjadi great, dari orang biasa-biasa saja menjadi orang luar biasa. Seorang pemimpin harus memfasilitasi dan menjadi enabler bagi para follower-nya untuk sukses, untuk make a difference, untuk make a legacy.</p>
<p>Sama dengan guru, pemimpin yang jujur dan ikhlas peduli pada follower-nya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang pemimping adalah<strong> pelayanan</strong>,<strong> pengabdian</strong>, dan<strong> dedikasi</strong> diri kepada orang lain. Pekerjaan memimpin adalah sebuah <strong>compassion</strong>. Kalau sudah begini kita menjadi sadar bahwa pekerjaan seorang pemimpin demikian mulianya. Karena itu pemimpin yang jujur dan ikhlas seharusnya pantas mendapatkan penghargaan <strong>Pahlawan Tanpa Tanda Jasa</strong>—seperti halnya guru.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ambush Marketing dan Piala Dunia</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 00:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sport Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ambush marketing]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia]]></category>
		<category><![CDATA[world cup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Ambush marketing adalah istilah yang diberikan kepada sebuah perusahaan atau merek yang mencoba mengaitkan diri dengan sebuah event akbar tertentu (biasanya event olah raga) tanpa perusahaan tersebut membayar dan mendapatkan hak sponsorship dari event tersebut. Gampangnya, perusahaan atau merek tersebut aji mumpung melakukan aksi “curi-curi” memanfaatkan event tersebut untuk mendongkrak awareness dan ujung-ujungnya meroketkan penjualan.
Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ambush marketing</strong> adalah istilah yang diberikan kepada sebuah perusahaan atau merek yang mencoba mengaitkan diri dengan sebuah event akbar tertentu (biasanya event olah raga) tanpa perusahaan tersebut membayar dan mendapatkan hak sponsorship dari event tersebut. Gampangnya, perusahaan atau merek tersebut aji mumpung melakukan aksi “curi-curi” memanfaatkan event tersebut untuk mendongkrak awareness dan ujung-ujungnya meroketkan penjualan.</p>
<p>Karena event itu bukan haknya, mestinya ambush marketing ini secara etis tidak dibenarkan. Namun dalam banyak kasus, aturan yang ditetapkan penyelenggara menyangkut sponsorship kurang komplit dan mendetail. Dan sejauh tak melanggar aturan yang ditetapkan penyelenggara, maka sah-sah saja si perusahaan melakukan ambush marketing tersebut. Di situlah kemudian muncul kreativitas perusahaan-perusahaan yang kebetulan tidak bisa mendapatkan hak sponsorship untuk melakukan ambush marketing. Pada ajang Piala Dunia 2004 misalnya, sekitar 20 merek yang mendapatkan hak eksklusif sponsorship harus ”menghadapi” sekitar 400 merek top dunia yang melakukan ambush marketing memanfaatkan event akbar tersebut.<span id="more-656"></span></p>
<p>Aksi ambush marketing menjadi strategi rutin yang dilakukan merek-merek baik global maupun lokal terhadap event-event olah raga akbar seperti Olimpiade, Piala Dunia, atau Piala Dunia. Yang getol melakukan biasanya adalah dua merek yang saling berseteru. Contoh klasik adalah yang dilakukan antara tiga serangkai produsen sepatu top dunia <strong>Nike</strong>, <strong>Adidas</strong>, dan <strong>Reebok</strong>, atau antara dua musuh bebuyutan <strong>Coca-Cola</strong> dan <strong>Pepsi</strong>.</p>
<p>Menjadi rutinitas setiap kali ada event-event akbar olah raga dunia Nike, Reebok, dan Adidas melakukan ambush marketing ini secara bergantian. Kalau Nike yang mendapat hak ekseklusif sponsorship Adidas dan Reebok yang curi-curi melakukan ambush marketing. Begitu juga sebaliknya. Kasus menarik terjadi pada Olimpiade Atlanta 1996. Pada saat itu Reebok merupakan sponsor resminya, namun yang terjadi justru banyak pecinta olah raga di Amerika yang mengira Nike lah yang memegang hak sponsor resmi. Sebabnya, karena Nike agresif sekali melakukan ambush marketing, baik melalui media above the line maupun below the line.</p>
<p>Sebagai event akbar terbesar di seluruh jagat raya, Piala Dunia tentu saja tak luput dari aksi ”kreatif” para ambusher. Merek-merek top global saat ini melakukan ambush marketing ini baik secara terang-terangan maupun dengan cara yang amat halus agar tidak dituntut FIFA sebagai penyuelenggara Piala Dunia. Menariknya, nggak hanya merek-merek top yang melakukan aksi ambush marketing, tapi juga perusahaan atau merek-merek kecil mulai dari restoran, hotel, stasiun TV, hingga produsen beragam produk dari permen hingga gadget.</p>
<p>Sebuah hotel misalnya, secara khusus mendekorasi ruangan-ruangannya mengikuti kostum tim-tim yang berlaga di Piala Dunia. Ada juga kasus lain di mana toko cake membuat koleksi khusus Piala Dunia yang kemudian begitu laris-manis. Atau sebuah jaringan supermarket yang melakukan kampanye sales promo selama berlangsungnya Piala Dunia. Mereka semua bukanlah sponsor resmi Piala Dunia, namun menuai manisnya fulus dari aksi ambush marketing yang dilakukannya. Semakin jauh dari endusan FIFA, maka para ambusher itu akan makin merajalela.</p>
<p>Kasus terakhir adalah <strong>Kulula</strong>, sebuah perusahaan budget airline di Afrika Selatan yang menyebut diri dalam kampanye iklannya sebagai, &#8220;<strong>Unofficial National Carrier of the You-Know-What</strong>&#8220;. Airline ini juga menampilkan gambar stadion dan bendera nasional Afrika Selatan. Dalam komplainnya, FIFA mengecam bahwa itu semua adalah Ambush marketing yang melanggar ketentuan FIFA. Menurut FIFA, setiap perusahaan yang bukan sponsor resmi tidak boleh menggunakan simbol Piala Dunia, bahkan gambar stadion dan kata “Afrika Selatan” pun tidak diperbolehkan dipakai.</p>
<p>Begitu juga merek bir <strong>Bavaria</strong>, yang mengerahkan 36 cewek-cewek seksi berkostum oranye mencolok bikinan perusahaan bir asal Belanda tersebut saat Belanda berlaga melawan Denmark. Melalui aksi curi-curi itu Bavaria berupaya mendapatkan publisitas media yang luas di seluruh dunia selama pengyelenggaraan Piala Dunia, padahal sponsor resmi untuk bir adalah Budweiser. 36 cewek tersebut akhirnya diusir keluar stadion dan dua diantaranya yang menjadi penggerak ditahan polisi untuk dimintai keterangan.</p>
<p>Kalau di Indonesia gimana? Sama saja, bahkan lebih parah. Banyak sekali produk yang memanfaatkan demam Piala Dunia ini walaupun mereka bukan sponsor resmi Piala Dunia 2010. Satu perusahaan misalnya, membikin event futsal selama berlangsungnya Piala Dunia. Ada operator seluler yang nggak kebagian jatah sponsorship Piala Dunia beriklan di televisi dengan mengambil tema sepak bola, memang tanpa embel-embel Piala Dunia. Ada juga merek yang menyeponsori talk show dan nonton bareng Piala Dunia. Banyak sekali variasinya.</p>
<p>Saya kira kreativitas mereka malakukan ambush marketing oke-oke saja, sejauh aksi mereka itu tidak menyalahi aturan dan etika. Tapi kalau sampai aksi tersebut melanggar aturan, bukan untung yang mereka dapat, tapi justru buntung. Kenapa begitu? Karena reputasi dan kredibilitas merek akan menjadi taruhan.</p>
<p>Kalau sudah menyangkut etika, maka ukuran apakah iklan kampanye Piala Dunia kita proper atau nggak, ada pada diri kita. Anda sendiri yang bisa menimbang-nimbangnya&#8230; mengacu pada nurani.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Community Is the World&#8217;s HOTTEST Business!!!</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 03:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;
#3. Lalu jadikan mereka duit.
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.
“There is a lot of money to be made if [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:<br />
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;<br />
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;<br />
#3. Lalu jadikan mereka duit.<br />
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.</p>
<p><strong>“There is a lot of money to be made if you could gather a lot of customers talking and then sell the conversations to brands or companies.”</strong></p>
<p>Kalau Anda bisa mengumpulkan banyak konsumen, dan konsumen tersebut ngomongin, mereview, memberikan rating/ranking (tentang kepuasan terhadap produk misalnya), memberikan rekomendasi kepada konsumen lain, atau mereview suatu kategori produk tertentu; maka bisa saya pastikan Anda akan dikejar-kejar merek di kategori produk tersebut. Anda bisa pura-pura jual mahal&#8230; Mereka pasti mau membayar untuk informasi berharga yang ada di komunitas yang Anda bangun.</p>
<p>Revenue model-nya bisa macam-macam:<br />
<strong>Ads</strong>. Yang paling sederhana dan paling purbakala adalah pemilik merek pasang banner iklan di blog atau portal komunitas yang Anda bangun. Eit.. jangan salah, bahkan Twitter masih menggunakan model ini.<span id="more-652"></span></p>
<p><strong>Sponsorship&#8230; “Powered By”</strong>. Karena massa konsumen sudah ada di tangan Anda, maka Anda bisa melakukan kegiatan apapun yang melibatkan pelanggan dan pemilik merek. Event Anda biasanya diberi embel-embel “Powered by&#8230;” TDA melakukannya dengan event Pesta Wirausaha yang cukup sukses beberapa bulan lalu. Check out: http://www.rodeochick.com dan http://www.iboats.com</p>
<p><strong>Subscriptions</strong>. Kata Chris Anderson (penulis <em>The Long Tail</em> dan <em>Free</em>) di dunia online “everything becomes FREE!” Namun tidak semuanya begitu. Di beberapa industri tertentu konsumen mau bayar langganan untuk informasi berharga yang ingin mereka dapat. Contohnya adalah sermo.com yang mengumpulkan dokter-dokter dan menangkap conversation di antara mereka untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Check out: http://www.sermo.com</p>
<p><strong>Recomender</strong>. Komunitas Oprah Winfrey sangat powerful dalam memberikan rekomendasi buku-buku bagus yang wajib dibaca. Karena itu komunitas ini mampu menghimpun para penerbit untuk berbagai bentuk kerjasama yang menghasilkan fulus. Check out: http://www.patientslikeme.com</p>
<p><strong>Be a Research Company</strong>. Anda bisa menjual report yang berisi omongan konsumen mengenai suatu merek&#8230; Yes, <strong>netnography</strong>. Omongan-omongan spontan konsumen di Kaskus mengenai suatu merek merupakan ungkapan paling jujur mengenai suatu merek. Pemilik merek sangat berkepentingan untuk secara periodik mengambil informasi ini. Check out: http://www.consumerist.com dan http://www.bazaarvoice.com</p>
<p><strong>Be a Rating Company</strong>. Anda bisa meminta anggota komunitas untuk me-ranking, me-rating, atau me-reveiew suatu kategori produk tertentu. Hasilnya bisa dipublikasikan atau menjadi event tahunan penghargaan seperti halnya ICSA atau IBBA. Dari situ berbagai bentuk bisnis akan bisa diciptakan. Check out: http://www.creditefficiencies.com</p>
<p>Daftar revenue model di atas tentu saja hanya sebagian kecil saja dari revenue model yang bisa Anda ciptakan; itu semua tergantung dari kreativitas Anda sebagai “community entrepreneur” dalam menghasilkan fulus dari situ.</p>
<p>Di atas semua revenue model yang Anda ciptakan, tentu saja yang paling WOW adalah yang dilakukan Koprol; yaitu meng<strong>KONTANKAN</strong> komunitas Anda alias melegonya ke investor.</p>
<p>Kalau Anda sudah bisa mengumpulkan banyak massa konsumen dan massa itu solid, maka siap-siaplah Anda ditelpon Yahoo, Google, atau Telkom untuk minta berunding menentukan harga komunitas Anda. Maka jadilah Anda Triliuner seperti pemilik koprol</p>
<p>Sampai di sini rasanya semua indah dan gampang.<br />
Namun perlu diingat, berbisnis komunitas tidaklah gampang.<br />
<strong>TRUST</strong> dan <strong>AUTHENTICITY </strong>merupakan nyawa dari sebuah komunitas. Secara ke dalam, trust di antara member merupakan “fondasi” utama sebuah komunitas (Kaskus pernah mengalami friksi ini). Sementara ke luar, otentisitas komunitas Anda di mata pemilik merek merupakan “jantung” keberhasilan Anda berbisnis komunitas.</p>
<p>Apa itu Otentisitas? Ketika anggota komunitas ngomong, merekomendasikan, atau me-rating sebuah produk bukan atas pengaruh, tekanan, atau bayaran pemilik komunitas, tapi atas aspirasi murni mereka; itulah yang disebut sebagai “otentitas” sebuah komunitas.</p>
<p>Jadi dua pekerjaan besar harus Anda lakukan sebagai community entrepreneur agar bisnis komunitas Anda sukses: ke dalam bangun TRUST di antara member; Ke luar ciptakan persepsi AUTHENTICITY di mata pemilik merek.</p>
<p>Siip!!! Selamat mencoba bisnis yang masih <strong>BLUE OCEAN</strong> ini&#8230;<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radar Map of Influence on Twitter &#8211; 140 Orang Paling Berpengaruh di Twitter</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/25/twitter-map-of-influence-140-orang-paling-berpengaruh-di-twitter/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/25/twitter-map-of-influence-140-orang-paling-berpengaruh-di-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 19:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Link berikut ini berisi Diagram Radar dari 140 orang paling berpengaruh di Twitter. Variabelnya: #1. Jumlah follower dan jumlah rata-rata tweets per hari (digambarkan sebagai luasan lingkaran di dalam peta). #2. Jumlah Twitter yang dihandle. #3. Kapan mereka pertama kali nge-tweet (semakin awal semakin dekat ke pusat radar &#8211; itu sebabnya 3 pendiri Twitter ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Link berikut ini berisi <strong>Diagram Radar</strong> dari 140 orang paling berpengaruh di Twitter. Variabelnya: #1. Jumlah follower dan jumlah rata-rata tweets per hari (digambarkan sebagai luasan lingkaran di dalam peta). #2. Jumlah Twitter yang dihandle. #3. Kapan mereka pertama kali nge-tweet (semakin awal semakin dekat ke pusat radar &#8211; itu sebabnya 3 pendiri Twitter ada di pusat radar); berikut bunyi tweet pertama mereka. <strong>EXCITING DIAGRAM!!!</strong> source: Information Architects</p>
<p>See the Diagram: <a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2010/05/Twitter-Map-of-Influence-Radar-Diagram.pdf">Twitter Map of Influence &#8211; Radar Diagram</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/25/twitter-map-of-influence-140-orang-paling-berpengaruh-di-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YOU are a MEDIA COMPANY</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 08:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[every company media company]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Yup!!!
Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero;
Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero;
maka tak terelakkan lagi, Anda menjadi MEDIA COMPANY!!!
Seperti umumnya perusahaan media, Anda bisa memproduksi konten untuk disebarkan kepada audiens Anda.
Kemunculan media sosial menjadikan media demikian murah. Mendekati zero.
Kalau Anda nggak Luna Maya, Gayus, atau konglomerat yang kelebihan duit, Anda akan sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yup!!!<br />
Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero;<br />
Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero;<br />
maka tak terelakkan lagi, Anda menjadi <strong>MEDIA COMPANY</strong>!!!<br />
Seperti umumnya perusahaan media, Anda bisa memproduksi konten untuk disebarkan kepada audiens Anda.</p>
<p>Kemunculan media sosial menjadikan media demikian murah. Mendekati zero.<br />
Kalau Anda nggak Luna Maya, Gayus, atau konglomerat yang kelebihan duit, Anda akan sangat sulit untuk bisa nongol di RCTI. Namun kini, dengan YouTube setiap saat Anda bisa narsis nongol di TV. Dengan bekal Handycam yang Anda beli cukup murah di Glodok, Anda akan bisa nampang, disaksikan orang dari seluruh pelosok Bumi.</p>
<p>Untuk bisa menulis artikel di Kompas, Anda harus bersaing dengan ratusan artikel yang masuk tiap hari; sebagian besar ditulis penulis top dan figur publik. Kalau artikel Anda tidak sehebat Artikel mereka, kecil sekali kemungkinan artikel tersebut diterima redaksi Kompas. Namun kini, dengan Twitter atau Facebook Anda bisa menulis puluhan bahkan ratusan artikel kalau Anda mau, yang dibaca follower dan teman setia Anda di seluruh dunia. Untuk bisa menerbitkan artikel di Facebook atau Twitter Anda cukup menyediakan modal dengkul.</p>
<p><strong>YOU are a media company because YOU can publish content to YOUR followers, communities, audiences.</strong></p>
<p>Inilah dunia datar; dunia egaliter; dunia ekor panjang!!!<br />
Dalam dunia baru macam ini, SAYA sejajar dengan CNN atau New York Times. Kenapa? Karena saya, seperti mereka, mampu memproduksi KONTEN dan menyebarkannya ke seluruh pelosok Bumi. Seperti mereka, saya bisa membikin artikel, tweets, blog posts, quotes, joke, foto, video, status updates, konten apapun, yang mampu menjangkau jutaan audiens di seluruh dunia.</p>
<p>Kata Chris Anderson, dalam dunia ekor panjang, tweets, blog post, atau artikel Anda <strong>PASTI</strong> punya audiens dan massa, sekecil apapun audiens tersebut. Kalau Anda bukan penulis hebat yang dikenal di seantero negeri, maka Google dengan murah hati akan mencarikan Anda audiens. <strong>That’s the whole NEW world!!!</strong></p>
<p>Lalu apa konsekwensinya kalau Anda adalah MEDIA COMPANY?</p>
<p><strong>#1 Personal branding becomes very important!!!</strong><br />
Ketika Anda adalah MEDIA COMPANY maka kemudian brand Anda menjadi sedemikian penting. Kalau Anda menjadi brand, maka Anda harus punya positioning; Anda harus punya point of differentiation; Anda harus punya identitas dan karakter; Anda harus punya warna yang membedakan dengan brand lain. Sebagai brand Anda harus punya unique selling point (USP). Di jagat Twitter misalnya, @SafirSenduk punya USP tips perencanaan keuangan; @Budionodarsono dan @Ndorokakung punya USP obrolan-obrolan yang renyah; @Radityadika punya USP sentilan keseharian yang ringan dan fun; @fahiraidris punya USP qoutes yang menggugah nurani; @yoris menawarkan kreativitas; saya sendiri @yuswohady mencoba memberikan tips marketing dan social media.</p>
<p><strong>#2 The future of marketing is COMMUNITY marketing!!!</strong><br />
Kenapa? Karena, ketika Anda adalah MEDIA, maka Anda bisa memproduksi konten yang relevan dengan <strong>COMMON INTEREST</strong> dari audiens dan followers yang mau Anda layani. Kalau ini bisa Anda lakukan, maka sesungguhnya anda adalah COMMUNITY BUILDER. Sesungguhnya Anda sedang membangun sebuah komunitas yang “berkerumun” mengelilingi konten yang Anda produksi. Ketika kerumunan itu sudah terbentuk maka tugas Anda untuk merekatkan mereka melalui CONVERSATION dan ENGAGEMENT sampai mereka tak mungkin lagi keluar dari komunitas tersebut.</p>
<p><strong>#3 It’s a BIG BUSINESS, period</strong><br />
Anda tahu, bisnis apa yang sedang moncer di Silicon Valley? Bisnis komunitas! Facebook, Twitter, Google, YouTube, semuanya adalah bisnis komunitas. Model bisnisnya gampang: “kumpulkan massa sebanyak mungkin; ciptakan duit dari situ”. Mark Zuckerberg (Facebook), Evan William (Twitter), Steve Chen (YouTube), Andrew Darwis (Kaskus) adalah community entrepreneur yang telah (dan akan) meraup miliaran dolar dengan menciptakan konten yang membuat ratusan juta orang mengerumuninya.</p>
<p>Anda mau menjadi seperti mereka? Gampang! Rumusnya sama: Ciptakan konten hebat; tarik massa sebanyak mungkin untuk mengerumuni konten tersebut; kemudian jadikanlah duit .</p>
<p>Itu bisa karena, “<strong>YOU are a MEDIA COMPANY</strong>!!!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yoris, Creative Junkies, &amp; Brand Building</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/27/yoris-creative-junkies-brand-building/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/27/yoris-creative-junkies-brand-building/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Yuswohady Book Club]]></category>
		<category><![CDATA[creative junkies]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=627</guid>
		<description><![CDATA[Positioning sebagai sebuah “tools” pemasaran secara ampuh diterapkan oleh para tokoh-tokoh figur publik kita untuk membangun dan mengembangkan personal brand-nya. Mereka cerdas sekali menciptakan kategori, kemudian menghegemoni kategori tersebut untuk kemudian dijadikan elemen utama positioning mereka. Dengan cerdas mereka menjadi “the first in the customer’s mind” dan dari situlah reputasi merek dibangun.

Dengan cerdas Hermawan Kartajaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Positioning sebagai sebuah “tools” pemasaran secara ampuh diterapkan oleh para tokoh-tokoh figur publik kita untuk membangun dan mengembangkan personal brand-nya. Mereka cerdas sekali menciptakan kategori, kemudian menghegemoni kategori tersebut untuk kemudian dijadikan elemen utama positioning mereka. Dengan cerdas mereka menjadi “the first in the customer’s mind” dan dari situlah reputasi merek dibangun.</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2010/04/Cover-buku-Creative-Junkies.jpg"><img class="size-full wp-image-630 aligncenter" style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; border: 5px solid  black;" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2010/04/Cover-buku-Creative-Junkies.jpg" alt="" width="175" height="236" /></a></p>
<p>Dengan cerdas Hermawan Kartajaya menjadi the first in the customer’s mind untuk “marketing”; Andri Wongso untuk “motivator no.1 di Indonesia”; Safir Senduk untuk “financial planning”; Aa Gym untuk “manajemen qolbu”; Ary Ginanjar dengan “ESQ”, dan seterusnya. Dan saya kira, <strong>Yoris Sebastian</strong> dengan cantik melakukan hal yang sama untuk “creativity”<span id="more-627"></span></p>
<p>Jalan Yoris membangun positioning ini bukannya dari kemarin sore. Saya masih ingat waktu menggelar ajang Young Marketers Award tahun 2003 (MarkPlus, Indonesia Marketing Association, dan majalah SWA) di mana Yoris waktu itu menjadi the 2nd winner, sesungguhnya ia sudah menancapkan tonggak-tonggak positioning-nya ke publik. Sebelumnya, selama di Hard Rock Cafe, Yoris juga sudah menanam benih-benih itu dengan event-event kreatif waktu itu seperti “I Like Monday” atau “Destination Nowhere”.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu apa makna peluncuran buku Yoris, <strong>Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies</strong>, dalam skenario kelahiran brand bernama “Yoris Sebastian”? Saya berani mengatakan, buku dan tulisan adalah alat terampuh untuk mendongkrak ekuitas merek. Buku punya “hype effect” yang memungkinkan sebuah merek yang awalnya tidak dikenal tiba-tiba meroket. Kiat inilah yang digunakan tokoh-tokoh yang saya sebut di atas.</p>
<p>Mengani buku ini sendiri, secara konten, sebagai sebuah introduksi memasuki “dunia creativity” tentu nilai tersendiri. Inilah langkah taktis Yoris masuk di “blue ocean area” di mana belum banyak orang menekuninya. Apalagi Yoris meramu konsep-konsep yang diusungnya dengan pengalaman-pengelamannya sebagai creative enthusiat selama ia di MRA Group atau setelah menjadi konsultan. Hal inilah yang memungkinkan nasehat-nasehat Yoris dalam buku ini punya muatan.</p>
<p>Kontribusi Yoris dalam buku ini saya kira upayanya “mengumpulkan” wisdom-wisdom mengenai kreativitas, yang sesungguhnya kita telah banyak melakukan dan mengalaminya, tapi tidak mensistematisasikan dalam bentuk sebuah konsep dan pemikiran yang runtut. Prinsip “<strong>Avoid Metooism</strong>” misalnya, merupakan sebuah prinsip yang sudah biasa dilakukan di kalangan entrepreneur kita. Tapi karena tidak dirumuskan secara secara sistematis, ia hanya menjadi wisdom yang ada di kepala mereka. Di sinilah peran Yoris menggali dan mengumpulkan serpih-serpih wisdom mengenai creativity yang selama ini “berceceran”.</p>
<p>Contoh lain, “<strong>Creativity is habit not genetic</strong>” adalah nasehat Yoris, yang saya merasakan sangat simple, tapi powerful. Kenapa? Karena pemikiran bawah sadar kita selalu mengatakan bahwa kreativitas itu bawaan dari lahir. Selama ini pemikiran bawah sadar kita mengatakan bahwa kreativitas adalah “kemewahan” yang hanya dimiliki oleh sosok semacam Yoris Sebastian, Jhonny Andrean, Steve Jobs, Seth Godin, Mark Zukenberg, atau Sergey Brin. Kita diingatkan bahwa (meminjam pak Andri Wongso) “<strong>creativity is my right</strong>”. Melalui buku ini Yoris mengingatkan bahwa kita “punya hak” menjadi orang kreatif. Dan karena itu kita harus merengkuhnya.</p>
<p>Saya berharap buku ini merupakan awal dari “perjalanan eksplorasi” Yoris untuk menggali pemikiran dan konsep “dunia kreativitas” untuk kemanfaatan negeri ini, untuk kemanfaatan kita semua. Sama dengan bagaimana Hermawan Kartajaya menggali konsep dan pemikiran “dunia marketing” atau Ary Ginanjar menggali konsep dan pemikiran “dunia ESQ” untuk kemanfaatan bangsa ini. “<strong>Inspire us with your thinkings</strong>”</p>
<p>Resensi ini kurang afdol kalau isinya baik melulu. Makanya ini jeleknya. Secara konteks (tampilan dan gaya penulisan), saya sedikit kecewa dengan buku ini. Pada saat buku ini mau diluncurkan saya membaca di Twitter, buzz terhadap buku ini hebat bukan main. Makanya kemudian yang saya bayangkan adalah Tom Peters. Saya membayangkan tampilan dan gaya penulisan “gila” ala <strong>Re-emagine</strong> nya Tom Peters. Tapi it’s ok karena ini buku pertama, buku kedua harusnya bisa melebihi kegilaan Tom Peters dari sisi gaya penulisan.</p>
<p>Terakhir, “it is easy to build a brand, will be harder to maintain it” Saya berharap brand bernama “Yoris Sebastian” tidak seperti band-band populer kita. Hari ini meroket, besok habis tak berbekas. Harus seperti Slank atau Iwan Fals, awalnya merangkak dari bawah, tapi kemudian menjadi sustainable brand yang berusia 20 tahun; 50 tahun; bahkan 100 tahun. Sekali lagi jangan seperti sajak Chairil Anwar: “Sekali berarti, setelah itu mati”. Yoris, your brand must be sustainable!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/27/yoris-creative-junkies-brand-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Passion &#8211; &#8220;The Ultimate Ingredient of Success&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 08:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[success]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level.&#8221;
John Hagel III, “The Power of Pull”
Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level</em>.&#8221;<br />
<strong>John Hagel III, “The Power of Pull”</strong></p>
<p>Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi tak menjamin sukses seseorang.</p>
<p>Saya berani bertaruh: kunci paripurna kesuksesan seseorang adalah PASSION, titik.</p>
<p>Sekitar 15 tahun lalu saya kuliah di jurusan teknik mesin UGM Yogya. Saya memilih jurusan itu karena waktu di SMA jurusan itulah yang paling keren, paling bergengsi, dan paling cepat diterima kerja. Tapi celaka, di bangku kuliah saya nggak betah belajar teknik mesin. Pelariannya, seringkali saya berbulan-bulan nggak kuliah sibuk menjadi aktivis: lontang-lantung menjadi wartawan kampus dan demonstran.</p>
<p>Bukannya sibuk dengan diktat kuliah perteknikmesinan, saya justru menekuni dunia manajemen dan marketing secara otodidak. Saya ingat betul, saat itu waktu lebih banyak saya pakai mengunjungi perpustakaan fakultas ekonomi ketimbang teknik. Waktu lulus pun (hehe&#8230; dengan IP pas-pasan) saya pun merasa lebih kompetitif bersaing dengan lulusan manajemen/marketing ketimbang teknik.</p>
<p>Ka<span id="more-618"></span>rena alasan itu pula kemudian saya memutuskan bekerja di dunia manajemen/marketing, menjadi penulis dan konsultan manajemen/marketing. Amazing&#8230; karena saya mencintai dunia ini, karir, capaian, karya yang saya hasilkan maju pesat tak terbendung. Layaknya dam Situ Gintung jebol saja. Karena menemukan dunianya, saya bekerja amat keras, namun di balik kerja keras itu saya justru merasakan layaknya sedang bermain: asyik bukan main!</p>
<p>Sebelum saya menikah, bahkan sampai seminggu bahkan dua minggu saya nggak pulang ke rumah, sibuk menulis dan mengerjakan laporan. Musuh saya satu waktu itu: satpam. Ya, karena untuk bisa tidur terus-terusan di kantor selama 1-2 minggu harus adu mulut dengan satpam tiap malam. Orang dari kantor sebelah mengira saya menjadi pekerja rodi. 100% keliru! Tak ada seorang pun yang meminta saya lembur! Saya menikmati pekerjaan itu, saya melakukan dengan exiting, dan karena itu hasil-hasil yang saya capai juga extraordinary.</p>
<p>Saya mengalami kondisi “kesurupan” yang oleh Mihaly Csikszentmihalyi, pakar psikologi, disebut sebagai “<strong>FLOW</strong>”, yaitu kondisi dimana saya hanyut dan terhisap (immersed &amp; absorbed), menikmati kesenangan (joy) dan mencapai totalitas (total concentration) dalam melakukan pekerjaan itu. Buahnya: produktivitas kerja yang berlipat-lipat.</p>
<p>Ya, itu terjadi karena saya melakukan pekerjaan itu dengan PASSION!!!</p>
<p>Passion memberi kita optimisme luar biasa yang memungkinkan kita menuai capaian-capaian yang extraordinary. Passion memunculkan produktivitas luar biasa, produktivitas di luar batas kemampuan kita. Passion membalik beban dan stress menjadi energi kerja yang luar biasa. Passion memberikan kita keyakinan dalam mencapai apa-apa yang kita inginkan. Passion memicu kita untuk memiliki daya kreasi yang tak mengenal batas.</p>
<p>Berkat Twitter saya mendapatkan sebuah blog post berjudul, “<strong>Pursuing Passion</strong>” ditulis oleh John Hagel yang secara khusus melakukan studi mengenai seluk-beluk passion. Dari studi tersebut, ia menemukan beberapa tesis menarik. Berikut saya ambil beberapa diantaranya.</p>
<p><strong>Passion is about performance</strong>.  Orang yang memiliki passion akan memiliki sense of achievement dan selalu tergoda untuk menciptakan karya dan capaian luar biasa. Ia selalu mencari tantangan dan peluang untuk mewujudkan capaian-capaian di luar zona kenyamanan yang melingkupinya. Dalam mewujudkan capaian yang luar biasa mereka tidak memerlukan insentif atau penghargaan dari luar, karena energi untuk mencapai yang terbaik selalu datang dari dalam dirinya sendiri: “Passion is ultimately driven by intrinsic motivation rather than extrinsic rewards”.</p>
<p><strong>Passion is about risk-taking</strong>. Bagi orang yang memiliki passion, gelas yang terisi air setengahnya, akan dikatakan gelas itu “setengah penuh”, bukannya “setengah kosong”. Segala bentuk tantangan dan risiko akan mereka lihat sebagai “jembatan” untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ada. Karena itu orang yang memiliki passion selalu bisa lepas dari segala bentuk krisis dan ketidakmenentuan. “For passionate person, risk becomes reward. They see that risk is the only way to discover new things and explore new territories.”</p>
<p><strong>Passion is about connecting</strong>. Orang yang memiliki passion selalu mencari orang lain yang memiliki passion yang sama untuk berbagi dan bersama-sama mewujudkan apa yang ingin mereka capai. Ia selalu menyadari bahwa cara terbaik untuk mewujudkan tujuan dan misi adalah dengan berhimpun, berbagi, dan belajar dengan orang lain. “Passion lead us to seek out and connect with others sharing our passion. A passionate person is not a lone hero.”</p>
<p><strong>Passion is about authenticity</strong>. Passion datang dari lubuk hati yang paling dalam, tanpa dibuat-buat, tanpa direkayasa. Ia merupakan “suara hati” memberi energi dan tenaga hidup luar biasa. Ketika seseorang memiliki passion terhadap sesuatu hal, maka sesuatu hal itu memberinya makna hidup dan identitas hakiki, dan dengan itu ia mengabdikan dan mengontribusikan seluruh hidupnya untuk orang banyak. Dalan <strong>The 8th Habit</strong>, Stephen Covey menyebutnya sebagai “<strong>VOICE</strong>”. Kata Covey: “<strong>Find your Voice, and inspire others to find theirs</strong>”</p>
<p>Bill Gates is a passionate person!<br />
Steve Jobs is a passionate person!<br />
Mohammad Yunus is passionate person!<br />
Einstein is a passionate person!<br />
Gandi is a passionate person!<br />
Soekarno is a passionate person!<br />
Mbah Surip is a passionate person!</p>
<p>Saya berani bertaruh: “Orang hebat pasti memiliki PASSION luar biasa!!!”</p>
<p>follow me at: @yuswohady</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Milad TDA 4: &#8220;Cocreation for Value Creation&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 02:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, Pesta Wirausaha 2010. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “Fight-Grow-Win” sebuah slogan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, <strong>Pesta Wirausaha 2010</strong>. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “<strong>Fight-Grow-Win</strong>” sebuah slogan yang sangat lekat dengan daya juang temen-teman wirausahawan.</p>
<p>Sejak saya “meneliti” komunitas ini dua tahun terakhir, komunitas ini membuat saya takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “<strong>value-creating community</strong>” berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia 4 tahun ini. Dan komunitas yang kini beranggotakan 12.000 orang ini tumbuh secara eksponensial karena kekuatan horizontal dengan platform <strong>C2C </strong>(“<strong>customers to customers</strong>”).</p>
<p>Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat seperti komunitas Linux, komunitas Mozila Firefox, komunitas programer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Tapi rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.</p>
<p><span id="more-615"></span>TDA adalah komunitas (offline-online) yang menghimpun orang-orang yang mau dan sudah menjadi entrepreneur. Aktivitas online dilakukan melalui conversation di media sosial seperti blog, Facebook, atau Twitter; sementara aktivitas offline dilakukan melalui seminar, workshop, Mastermind, atau ajang kumpul seperti Pesta Wirausaha ini. Dalam visi-misinya, komunitas ini memiliki tujuan mulia mencetak 10.000 pengusaha miliarder sampai dengan tahun 2018. Komunitas ini meyakini bahwa dengan berbagi, saling mendukung, memecahkan persoalan bersama, dan bersinergi satu sama lain dianatar wirausahawan atau calon wirausahawan, mereka mampu “memproduksi wirausahan hebat dalam jumlah massal.</p>
<p>TDA saya sebut value-creating community karena sekelompok orang yang punya minat, keinginan, dan visi yang sama bergabung, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berdiskusi, saling belajar, saling bertukar informasi, saling memberi ide, dan saling memberi solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Melalui media sosial seperti blog, Facebook, twitter, juga aktivitas Mastermind, cocreation dilakukan di dalam komunitas ini. Spiritnya adalah pelibatan anggota untuk memecahkan persoalan atau visi bersama komunitas.</p>
<p>Mereka membentuk komunitas untuk mengambil manfaat dari apa yang oleh James Surowiecki disebut ”<strong>wisdom of crowd</strong>”. Mereka meyakini prinsip dasar bahwa ”WE are smarter than ME”: bahwa sesuatu yang dikerjakan secara berjamaah pasti hasilnya jauh lebih bagus, lebih sempurna, lebih hebat, lebih solid, lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. Seperti saya tulis dalam buku saya: “<strong>CROWD: Marketing Becomes Horizontal</strong>”, komunitas seperti TDA adalah contoh dari kekuatan <strong>HORIZONTAL</strong> yang merevolusi seluruh aspek kehidupan kita!!!</p>
<p>“It’s the power of CROWD!!!”<br />
“It’s the power of CONVERSATION!!!”<br />
”It’s the power of MASS COLLABORATION!!!”<br />
“It’s the power of COCREATION!!!”<br />
“COCREATION for VALUE-CREATON”</p>
<p>Happy Anniversary TDA.</p>
<p>Twitter: @yuswohady</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukseskah Plasa.com?</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 05:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[e-commerce indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[plasa.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment). Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju <strong>TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment)</strong>. Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak lagi angot-angotan seperti sebelumnya.</p>
<p>Tak hanya itu, saya melihat proyek Plasa.com merupakan test case pertama dari keseluruhan transformasi Telkom menuju TIME. Saat ini banyak proyek rintisan sudah dijalankan di tubuh Telkom untuk mewujudkan TIME, namun Plasa.com inilah quick win yang tidak boleh tidak harus menuai kesuksesan. Begitu ini gagal, maka inisiatif-inisiatif bisnis lain akan berada di ujung tanduk, inilah peliknya transformasi bisnis. Artinya, manajemen Telkom at all cost akan menyukseskan Plasa.com,</p>
<p>Dengan koki baru, Mbak Shinta Bubu di bawah bendera Mojopia, perombakan yang dilakukan cukup substansial. Yang paling jelas adalah “<strong>refocusing</strong>” Plasa.com untuk lebih berkonsentrasi ke e-commerce (online shopping), walaupun layanan agregasi konten masih disediakan. Refocusing juga diarahkan pada target tenant yang dibidiknya yaitu UKM. Captive market-nya, Telkom menyebut punya 30.000 mitra binaan UKM yang siap digadang ke Plasa.com.</p>
<p><span id="more-612"></span>Kembali ke judul tulisan ini: “<strong>Sukseskah Plasa.com</strong>?” Saya tak akan menjawab pertanyaan tersebut, saya hanya memberi catatan dua hal yang barangkali akan menjadi “<strong>chasm</strong>” alias “parit menganga” yang tak memungkinkan layanan ini mencapai critical mass-nya menuju pasar massal (mainstream market).</p>
<p><strong>Isu #1</strong>. Terkait dengan keyakinan konsumen akan keamanan transaksi online. Tantangan yang bakal dihadapai Plasa.com persis seperti yang dihadapi BCA saat memasalkan layanan ATM sekitar 15 tahun lalu. Mengenai ini Telkom sudah merespons nya dengan beragam model alat pembayaran. “Ke depannya, kami sedang mengembangkan online payment lainnya melalui T-Cash dan Flexi Cash,” kata mbak Shinta. “Untuk skala internasional, kita juga menjajaki kerjasama dengan PayPal.” Cukupkah itu meyakinkan konsumen kita?</p>
<p><strong>Isu #2</strong>. Setelah isu keamanan lolos, tantangan yang lebih mendasar adalah, apakah perilaku konsumen Indonesia sudah siap dibawa ke online shoping? Saya sulit menemukan survei perilaku online shopping di Indonesia. Saya hanya punya gambarannya untuk Asia, seperti ditunjukkan oleh hasil survei Visa eCommerce Consumer Monitor (2009). Menurut survei tersebut, hampir sembilan dari sepuluh orang atau 89 persen responden mengaku telah berbelanja online dalam 12 bulan terakhir. Jadi orang Asia siap dengan online shopping. Cuma celakanya, respondennya diambil di “negara-negara maju” Asia, yaitu Jepang, Hong Kong, Cina, India, Korea, Singapura, dan Australia, Indonesia tak terjamah.</p>
<p>Feeling saya, temuan tersebut jauh mencerminkan kondisi yang ada di Indonesia. Seperti halnya saya, kalau mau beli laptop atau HP, kenceng banget surving di internet. Tapi begitu sampai ke urusan beli&#8230; langsung ngacir deh ke Ambasador atau Cempaka mas. Kalau nggak ketemu mbak-mbak SPG yang cantik-cantik atau berjibaku tawar-menawar rasanya kok nggak plong gitu!!! Saya yakin, yang saya alami ini terjadi di sebagian besar konsumen kita.</p>
<p>So&#8230; balik ke pertanyaan semula: “<strong>Sukseskah Plasa.com?</strong>”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
