<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; Warta Ekonomi</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/yuswohady-articles/warta-ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 05:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Model Bisnis Horisontal Ala Google</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 05:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blue Ocean Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Google business model]]></category>
		<category><![CDATA[Google marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.</p>
<p>Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para <strong>Googlers</strong> (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.</p>
<p><strong>#1. Be a Platform; Not Only Product</strong><br />
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads.</p>
<p>Ambil contoh Blogger yang diperoleh Google melalui akuisisi. Blogger merupakan sebuah platform karena memberikan “wadah” bagi para bloggers untuk memproduksi dan mempublikasikan konten yang mereka miliki. Dari blog yang dibangun di Blogger.com para blogger meng-create value melalui konten-konten menarik yang mereka publikasikan; yang kemudian bisa mendatangkan massa pembaca dan pengiklan. Menariknya, ketika para blogger tersebut create value, maka dengan sendirinya mereka akan add value ke platform Blogger.com. Jadi, semakin besar value diciptakan oleh si konsumen, maka semakin besar pula value yang ditambahkan oleh si konsumen tersebut kepada platformnya. Inilah hebatnya platform, Anda akan bekerja bersama-sama dengan si konsumen untuk membesarkan platform tersebut.</p>
<p><strong>#2. It’s Not Destination&#8230; It’s a Mean</strong><br />
Banyak perusahaan berpikir bahwa konsumen harus datang ke website mereka. Kalau mereka datang, maka traffic website tersebut akan tinggi, dan dari situ pemasang iklan akan mau membayar mahal untuk iklan-iklan yang dipajang di situ. Google berpikir sebaliknya. Ia menjadikan home page-nya bukan sebagai “tujuan akhir”, tapi “alat” yang akan membawa Anda ke tempat yang Anda inginkan. Alih-alih minta didatangi, Google justru “menyambangi” konsumennya. Akibatnya, jutaan jalan bisa Anda tempuh untuk mengakses Google. “<strong>Google democratize its channels</strong>”. Search box-nya Google bisa Anda pakai dan hadir di situs manapun di internet. Anda juga bisa menggunakan Google AdSense atau YouTube di blog dan website Anda. Ketika Anda begitu gampang diakses, bisa dipastikan jutaan peluang akan menghampiri Anda. Ini pelajaran penting dari Google!!!</p>
<p><strong>#3. Democratize Resources; Don’t Control!!!</strong><br />
Teori bisnis sebelumnya mengatakan: “Kuasailah sumber daya terbatas dan krusial (di bidang produksi, distribusi, marketing, paten, dsb.), maka Anda akan menuai keuntungan premium sesuai dengan hukum supply &amp; demand. Google justru berpikir sebaliknya. Alih-alih menguasai dan mengontrol produksi, distribusi, pemasaran, atau paten; Google justru sejauh mungkin menyerahkan ke pihak lain untuk kemudian diajak berkolaborasi. Umumnya perusahaan menggunakan logika “<strong>scarcity economy</strong>”; Google menggunakan logika “<strong>abundance economy</strong>”. Ambil contoh Google AdSense. AdSense merupakan platform untuk “mendistribusikan” bisnis iklan Google ke para pemilik blog atau website di manapun di internet. Jadi Google tidak rakus memakan bisnis iklannya sendiri, tapi mengajak “distributor’-nya yaitu para pemiliki blog dan website untuk berkolaborasi menciptakan dan membagun bisnis secara bersama-sama. Tak heran jika pemilik blog dan website tersebut kemudian menjadi evangelist fanatik bagi Google.</p>
<p><strong>#4. Never STOP Improving&#8230; Involve Customers</strong><br />
Hampir semua produk yang dibikin Google meluncur dengan label “Beta”. Versi Beta berarti produk tersebut masih dalam proses testing dan eksperimen; masih dalam proses perbaikan; atau masih dalam proses penyempurnaan. Cara seperti ini bertentangan denga conventional wisdom yang berlaku sebelumnya, bahwa produk harus sempurna begitu meluncur di pasar. Inilah cara Google untuk mengatakan kepada konsumennya: “Kami memang masih jauh dari sempurna; marilah kita sempurnakan bersama-sama.” Itulah cara Google untuk melibatkan konsumen menyempurnakan produk. Harus diingat, konsumen lah yang paling tahu apa kebutuhannya; karena itu konsumen lah yang paling layak menyempurnakan produk yang dibutuhkannya.</p>
<p><strong>#5. &#8220;Don&#8217;t Be Evil&#8221;</strong><br />
“Don’t be evil” adalah motto yang diungkapkan oleh Paul Buchheit dan Amit Patel pencipta Gmail. Melalui motto yang sangat spiritual tersebut mereka ingin mengatakan bahwa ketika informasi konsumen sudah ada di Google maka data itu bisa dieksploitasi dan rekayasa sedemikian rupa untuk kepentingan apapun, termasuk untuk kepentingan yang jahat. Karena itu, motto tersebut menjadi semacam “pagar-pagar etika” bagi setiap Googlers agar tidak berperilaku dan berbisnis jahat. Poin ke-6 dari corporate philosophy mengatakan: “<strong>You can make money without doing evil</strong>”. Sehebat apapun strategi dan model bisnis Anda; semua itu tak ada artinya tanpa adanya landasan moral dan etik yang kokoh.</p>
<p>Berbeda dari kebanyakan perusahaan konvensional yang bersifat vertikal; Google unik dan revolusioner karena menggunakan pendekatan dan logika bisnis yang <strong>horisontal</strong>.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ambush Marketing dan Piala Dunia</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 00:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sport Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ambush marketing]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia]]></category>
		<category><![CDATA[world cup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Ambush marketing adalah istilah yang diberikan kepada sebuah perusahaan atau merek yang mencoba mengaitkan diri dengan sebuah event akbar tertentu (biasanya event olah raga) tanpa perusahaan tersebut membayar dan mendapatkan hak sponsorship dari event tersebut. Gampangnya, perusahaan atau merek tersebut aji mumpung melakukan aksi “curi-curi” memanfaatkan event tersebut untuk mendongkrak awareness dan ujung-ujungnya meroketkan penjualan.
Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ambush marketing</strong> adalah istilah yang diberikan kepada sebuah perusahaan atau merek yang mencoba mengaitkan diri dengan sebuah event akbar tertentu (biasanya event olah raga) tanpa perusahaan tersebut membayar dan mendapatkan hak sponsorship dari event tersebut. Gampangnya, perusahaan atau merek tersebut aji mumpung melakukan aksi “curi-curi” memanfaatkan event tersebut untuk mendongkrak awareness dan ujung-ujungnya meroketkan penjualan.</p>
<p>Karena event itu bukan haknya, mestinya ambush marketing ini secara etis tidak dibenarkan. Namun dalam banyak kasus, aturan yang ditetapkan penyelenggara menyangkut sponsorship kurang komplit dan mendetail. Dan sejauh tak melanggar aturan yang ditetapkan penyelenggara, maka sah-sah saja si perusahaan melakukan ambush marketing tersebut. Di situlah kemudian muncul kreativitas perusahaan-perusahaan yang kebetulan tidak bisa mendapatkan hak sponsorship untuk melakukan ambush marketing. Pada ajang Piala Dunia 2004 misalnya, sekitar 20 merek yang mendapatkan hak eksklusif sponsorship harus ”menghadapi” sekitar 400 merek top dunia yang melakukan ambush marketing memanfaatkan event akbar tersebut.<span id="more-656"></span></p>
<p>Aksi ambush marketing menjadi strategi rutin yang dilakukan merek-merek baik global maupun lokal terhadap event-event olah raga akbar seperti Olimpiade, Piala Dunia, atau Piala Dunia. Yang getol melakukan biasanya adalah dua merek yang saling berseteru. Contoh klasik adalah yang dilakukan antara tiga serangkai produsen sepatu top dunia <strong>Nike</strong>, <strong>Adidas</strong>, dan <strong>Reebok</strong>, atau antara dua musuh bebuyutan <strong>Coca-Cola</strong> dan <strong>Pepsi</strong>.</p>
<p>Menjadi rutinitas setiap kali ada event-event akbar olah raga dunia Nike, Reebok, dan Adidas melakukan ambush marketing ini secara bergantian. Kalau Nike yang mendapat hak ekseklusif sponsorship Adidas dan Reebok yang curi-curi melakukan ambush marketing. Begitu juga sebaliknya. Kasus menarik terjadi pada Olimpiade Atlanta 1996. Pada saat itu Reebok merupakan sponsor resminya, namun yang terjadi justru banyak pecinta olah raga di Amerika yang mengira Nike lah yang memegang hak sponsor resmi. Sebabnya, karena Nike agresif sekali melakukan ambush marketing, baik melalui media above the line maupun below the line.</p>
<p>Sebagai event akbar terbesar di seluruh jagat raya, Piala Dunia tentu saja tak luput dari aksi ”kreatif” para ambusher. Merek-merek top global saat ini melakukan ambush marketing ini baik secara terang-terangan maupun dengan cara yang amat halus agar tidak dituntut FIFA sebagai penyuelenggara Piala Dunia. Menariknya, nggak hanya merek-merek top yang melakukan aksi ambush marketing, tapi juga perusahaan atau merek-merek kecil mulai dari restoran, hotel, stasiun TV, hingga produsen beragam produk dari permen hingga gadget.</p>
<p>Sebuah hotel misalnya, secara khusus mendekorasi ruangan-ruangannya mengikuti kostum tim-tim yang berlaga di Piala Dunia. Ada juga kasus lain di mana toko cake membuat koleksi khusus Piala Dunia yang kemudian begitu laris-manis. Atau sebuah jaringan supermarket yang melakukan kampanye sales promo selama berlangsungnya Piala Dunia. Mereka semua bukanlah sponsor resmi Piala Dunia, namun menuai manisnya fulus dari aksi ambush marketing yang dilakukannya. Semakin jauh dari endusan FIFA, maka para ambusher itu akan makin merajalela.</p>
<p>Kasus terakhir adalah <strong>Kulula</strong>, sebuah perusahaan budget airline di Afrika Selatan yang menyebut diri dalam kampanye iklannya sebagai, &#8220;<strong>Unofficial National Carrier of the You-Know-What</strong>&#8220;. Airline ini juga menampilkan gambar stadion dan bendera nasional Afrika Selatan. Dalam komplainnya, FIFA mengecam bahwa itu semua adalah Ambush marketing yang melanggar ketentuan FIFA. Menurut FIFA, setiap perusahaan yang bukan sponsor resmi tidak boleh menggunakan simbol Piala Dunia, bahkan gambar stadion dan kata “Afrika Selatan” pun tidak diperbolehkan dipakai.</p>
<p>Begitu juga merek bir <strong>Bavaria</strong>, yang mengerahkan 36 cewek-cewek seksi berkostum oranye mencolok bikinan perusahaan bir asal Belanda tersebut saat Belanda berlaga melawan Denmark. Melalui aksi curi-curi itu Bavaria berupaya mendapatkan publisitas media yang luas di seluruh dunia selama pengyelenggaraan Piala Dunia, padahal sponsor resmi untuk bir adalah Budweiser. 36 cewek tersebut akhirnya diusir keluar stadion dan dua diantaranya yang menjadi penggerak ditahan polisi untuk dimintai keterangan.</p>
<p>Kalau di Indonesia gimana? Sama saja, bahkan lebih parah. Banyak sekali produk yang memanfaatkan demam Piala Dunia ini walaupun mereka bukan sponsor resmi Piala Dunia 2010. Satu perusahaan misalnya, membikin event futsal selama berlangsungnya Piala Dunia. Ada operator seluler yang nggak kebagian jatah sponsorship Piala Dunia beriklan di televisi dengan mengambil tema sepak bola, memang tanpa embel-embel Piala Dunia. Ada juga merek yang menyeponsori talk show dan nonton bareng Piala Dunia. Banyak sekali variasinya.</p>
<p>Saya kira kreativitas mereka malakukan ambush marketing oke-oke saja, sejauh aksi mereka itu tidak menyalahi aturan dan etika. Tapi kalau sampai aksi tersebut melanggar aturan, bukan untung yang mereka dapat, tapi justru buntung. Kenapa begitu? Karena reputasi dan kredibilitas merek akan menjadi taruhan.</p>
<p>Kalau sudah menyangkut etika, maka ukuran apakah iklan kampanye Piala Dunia kita proper atau nggak, ada pada diri kita. Anda sendiri yang bisa menimbang-nimbangnya&#8230; mengacu pada nurani.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/06/25/ambush-marketing-dan-piala-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Community Is the World&#8217;s HOTTEST Business!!!</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 03:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;
#3. Lalu jadikan mereka duit.
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.
“There is a lot of money to be made if [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:<br />
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;<br />
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;<br />
#3. Lalu jadikan mereka duit.<br />
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.</p>
<p><strong>“There is a lot of money to be made if you could gather a lot of customers talking and then sell the conversations to brands or companies.”</strong></p>
<p>Kalau Anda bisa mengumpulkan banyak konsumen, dan konsumen tersebut ngomongin, mereview, memberikan rating/ranking (tentang kepuasan terhadap produk misalnya), memberikan rekomendasi kepada konsumen lain, atau mereview suatu kategori produk tertentu; maka bisa saya pastikan Anda akan dikejar-kejar merek di kategori produk tersebut. Anda bisa pura-pura jual mahal&#8230; Mereka pasti mau membayar untuk informasi berharga yang ada di komunitas yang Anda bangun.</p>
<p>Revenue model-nya bisa macam-macam:<br />
<strong>Ads</strong>. Yang paling sederhana dan paling purbakala adalah pemilik merek pasang banner iklan di blog atau portal komunitas yang Anda bangun. Eit.. jangan salah, bahkan Twitter masih menggunakan model ini.<span id="more-652"></span></p>
<p><strong>Sponsorship&#8230; “Powered By”</strong>. Karena massa konsumen sudah ada di tangan Anda, maka Anda bisa melakukan kegiatan apapun yang melibatkan pelanggan dan pemilik merek. Event Anda biasanya diberi embel-embel “Powered by&#8230;” TDA melakukannya dengan event Pesta Wirausaha yang cukup sukses beberapa bulan lalu. Check out: http://www.rodeochick.com dan http://www.iboats.com</p>
<p><strong>Subscriptions</strong>. Kata Chris Anderson (penulis <em>The Long Tail</em> dan <em>Free</em>) di dunia online “everything becomes FREE!” Namun tidak semuanya begitu. Di beberapa industri tertentu konsumen mau bayar langganan untuk informasi berharga yang ingin mereka dapat. Contohnya adalah sermo.com yang mengumpulkan dokter-dokter dan menangkap conversation di antara mereka untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Check out: http://www.sermo.com</p>
<p><strong>Recomender</strong>. Komunitas Oprah Winfrey sangat powerful dalam memberikan rekomendasi buku-buku bagus yang wajib dibaca. Karena itu komunitas ini mampu menghimpun para penerbit untuk berbagai bentuk kerjasama yang menghasilkan fulus. Check out: http://www.patientslikeme.com</p>
<p><strong>Be a Research Company</strong>. Anda bisa menjual report yang berisi omongan konsumen mengenai suatu merek&#8230; Yes, <strong>netnography</strong>. Omongan-omongan spontan konsumen di Kaskus mengenai suatu merek merupakan ungkapan paling jujur mengenai suatu merek. Pemilik merek sangat berkepentingan untuk secara periodik mengambil informasi ini. Check out: http://www.consumerist.com dan http://www.bazaarvoice.com</p>
<p><strong>Be a Rating Company</strong>. Anda bisa meminta anggota komunitas untuk me-ranking, me-rating, atau me-reveiew suatu kategori produk tertentu. Hasilnya bisa dipublikasikan atau menjadi event tahunan penghargaan seperti halnya ICSA atau IBBA. Dari situ berbagai bentuk bisnis akan bisa diciptakan. Check out: http://www.creditefficiencies.com</p>
<p>Daftar revenue model di atas tentu saja hanya sebagian kecil saja dari revenue model yang bisa Anda ciptakan; itu semua tergantung dari kreativitas Anda sebagai “community entrepreneur” dalam menghasilkan fulus dari situ.</p>
<p>Di atas semua revenue model yang Anda ciptakan, tentu saja yang paling WOW adalah yang dilakukan Koprol; yaitu meng<strong>KONTANKAN</strong> komunitas Anda alias melegonya ke investor.</p>
<p>Kalau Anda sudah bisa mengumpulkan banyak massa konsumen dan massa itu solid, maka siap-siaplah Anda ditelpon Yahoo, Google, atau Telkom untuk minta berunding menentukan harga komunitas Anda. Maka jadilah Anda Triliuner seperti pemilik koprol</p>
<p>Sampai di sini rasanya semua indah dan gampang.<br />
Namun perlu diingat, berbisnis komunitas tidaklah gampang.<br />
<strong>TRUST</strong> dan <strong>AUTHENTICITY </strong>merupakan nyawa dari sebuah komunitas. Secara ke dalam, trust di antara member merupakan “fondasi” utama sebuah komunitas (Kaskus pernah mengalami friksi ini). Sementara ke luar, otentisitas komunitas Anda di mata pemilik merek merupakan “jantung” keberhasilan Anda berbisnis komunitas.</p>
<p>Apa itu Otentisitas? Ketika anggota komunitas ngomong, merekomendasikan, atau me-rating sebuah produk bukan atas pengaruh, tekanan, atau bayaran pemilik komunitas, tapi atas aspirasi murni mereka; itulah yang disebut sebagai “otentitas” sebuah komunitas.</p>
<p>Jadi dua pekerjaan besar harus Anda lakukan sebagai community entrepreneur agar bisnis komunitas Anda sukses: ke dalam bangun TRUST di antara member; Ke luar ciptakan persepsi AUTHENTICITY di mata pemilik merek.</p>
<p>Siip!!! Selamat mencoba bisnis yang masih <strong>BLUE OCEAN</strong> ini&#8230;<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YOU are a MEDIA COMPANY</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 08:07:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[every company media company]]></category>
		<category><![CDATA[personal branding]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Yup!!!
Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero;
Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero;
maka tak terelakkan lagi, Anda menjadi MEDIA COMPANY!!!
Seperti umumnya perusahaan media, Anda bisa memproduksi konten untuk disebarkan kepada audiens Anda.
Kemunculan media sosial menjadikan media demikian murah. Mendekati zero.
Kalau Anda nggak Luna Maya, Gayus, atau konglomerat yang kelebihan duit, Anda akan sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yup!!!<br />
Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero;<br />
Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero;<br />
maka tak terelakkan lagi, Anda menjadi <strong>MEDIA COMPANY</strong>!!!<br />
Seperti umumnya perusahaan media, Anda bisa memproduksi konten untuk disebarkan kepada audiens Anda.</p>
<p>Kemunculan media sosial menjadikan media demikian murah. Mendekati zero.<br />
Kalau Anda nggak Luna Maya, Gayus, atau konglomerat yang kelebihan duit, Anda akan sangat sulit untuk bisa nongol di RCTI. Namun kini, dengan YouTube setiap saat Anda bisa narsis nongol di TV. Dengan bekal Handycam yang Anda beli cukup murah di Glodok, Anda akan bisa nampang, disaksikan orang dari seluruh pelosok Bumi.</p>
<p>Untuk bisa menulis artikel di Kompas, Anda harus bersaing dengan ratusan artikel yang masuk tiap hari; sebagian besar ditulis penulis top dan figur publik. Kalau artikel Anda tidak sehebat Artikel mereka, kecil sekali kemungkinan artikel tersebut diterima redaksi Kompas. Namun kini, dengan Twitter atau Facebook Anda bisa menulis puluhan bahkan ratusan artikel kalau Anda mau, yang dibaca follower dan teman setia Anda di seluruh dunia. Untuk bisa menerbitkan artikel di Facebook atau Twitter Anda cukup menyediakan modal dengkul.</p>
<p><strong>YOU are a media company because YOU can publish content to YOUR followers, communities, audiences.</strong></p>
<p>Inilah dunia datar; dunia egaliter; dunia ekor panjang!!!<br />
Dalam dunia baru macam ini, SAYA sejajar dengan CNN atau New York Times. Kenapa? Karena saya, seperti mereka, mampu memproduksi KONTEN dan menyebarkannya ke seluruh pelosok Bumi. Seperti mereka, saya bisa membikin artikel, tweets, blog posts, quotes, joke, foto, video, status updates, konten apapun, yang mampu menjangkau jutaan audiens di seluruh dunia.</p>
<p>Kata Chris Anderson, dalam dunia ekor panjang, tweets, blog post, atau artikel Anda <strong>PASTI</strong> punya audiens dan massa, sekecil apapun audiens tersebut. Kalau Anda bukan penulis hebat yang dikenal di seantero negeri, maka Google dengan murah hati akan mencarikan Anda audiens. <strong>That’s the whole NEW world!!!</strong></p>
<p>Lalu apa konsekwensinya kalau Anda adalah MEDIA COMPANY?</p>
<p><strong>#1 Personal branding becomes very important!!!</strong><br />
Ketika Anda adalah MEDIA COMPANY maka kemudian brand Anda menjadi sedemikian penting. Kalau Anda menjadi brand, maka Anda harus punya positioning; Anda harus punya point of differentiation; Anda harus punya identitas dan karakter; Anda harus punya warna yang membedakan dengan brand lain. Sebagai brand Anda harus punya unique selling point (USP). Di jagat Twitter misalnya, @SafirSenduk punya USP tips perencanaan keuangan; @Budionodarsono dan @Ndorokakung punya USP obrolan-obrolan yang renyah; @Radityadika punya USP sentilan keseharian yang ringan dan fun; @fahiraidris punya USP qoutes yang menggugah nurani; @yoris menawarkan kreativitas; saya sendiri @yuswohady mencoba memberikan tips marketing dan social media.</p>
<p><strong>#2 The future of marketing is COMMUNITY marketing!!!</strong><br />
Kenapa? Karena, ketika Anda adalah MEDIA, maka Anda bisa memproduksi konten yang relevan dengan <strong>COMMON INTEREST</strong> dari audiens dan followers yang mau Anda layani. Kalau ini bisa Anda lakukan, maka sesungguhnya anda adalah COMMUNITY BUILDER. Sesungguhnya Anda sedang membangun sebuah komunitas yang “berkerumun” mengelilingi konten yang Anda produksi. Ketika kerumunan itu sudah terbentuk maka tugas Anda untuk merekatkan mereka melalui CONVERSATION dan ENGAGEMENT sampai mereka tak mungkin lagi keluar dari komunitas tersebut.</p>
<p><strong>#3 It’s a BIG BUSINESS, period</strong><br />
Anda tahu, bisnis apa yang sedang moncer di Silicon Valley? Bisnis komunitas! Facebook, Twitter, Google, YouTube, semuanya adalah bisnis komunitas. Model bisnisnya gampang: “kumpulkan massa sebanyak mungkin; ciptakan duit dari situ”. Mark Zuckerberg (Facebook), Evan William (Twitter), Steve Chen (YouTube), Andrew Darwis (Kaskus) adalah community entrepreneur yang telah (dan akan) meraup miliaran dolar dengan menciptakan konten yang membuat ratusan juta orang mengerumuninya.</p>
<p>Anda mau menjadi seperti mereka? Gampang! Rumusnya sama: Ciptakan konten hebat; tarik massa sebanyak mungkin untuk mengerumuni konten tersebut; kemudian jadikanlah duit .</p>
<p>Itu bisa karena, “<strong>YOU are a MEDIA COMPANY</strong>!!!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/23/you-are-a-media-company/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari &#8220;Toyota Recall&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/belajar-dari-toyota-recall/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/belajar-dari-toyota-recall/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 05:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[corporate reputation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa minggu terakhir ini adalah cobaan paling berat bagi Toyota selama perjalanan bisnisnya hingga saat ini. Pemanggilan (recall) produk-produk Toyota karena cacat pedal gas di pasar paling kritikal yaitu pasar Amerika, menjadikan reputasi (brand reputation) produsen mobil terbesar di dunia ini di ujung tanduk.  Betapa tidak, selama puluhan tahun, dengan berpegangan pada filosofi The Toyota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa minggu terakhir ini adalah cobaan paling berat bagi Toyota selama perjalanan bisnisnya hingga saat ini. Pemanggilan (recall) produk-produk Toyota karena cacat pedal gas di pasar paling kritikal yaitu pasar Amerika, menjadikan reputasi (brand reputation) produsen mobil terbesar di dunia ini di ujung tanduk.  Betapa tidak, selama puluhan tahun, dengan berpegangan pada filosofi <strong>The Toyota Way</strong>, Toyota berhasil membangun reputasi “kualitas paripurna” di kalangan konsumennya. Dan reputasi itulah yang kemudian mampu menjungkalkan GM dari posisi pemimpin pasar tahun 2008.</p>
<p>Namun noda setitik rusak susu sebelanga. Toyota tersandung masalah yang sangat krusial karena langsung menohok ke “jantung” keunggulan bersaing yang merupakan sumber utama reputasi mereknya: <strong>quality excellence, kaizen, lean manufacturing, just in time production, zero defect</strong>. Resep-resep bisnis ampuh khas Toyota yang dibawa oleh The Toyota Way pun kemudian diragukan. Merek Toyota sebagai “symbol of quality” kemudian nyaris pupus. Maka pertanyaan eksistensial pun kemudian mengemuka: &#8220;If the Toyota brand no longer stands for quality, what does it stand for?&#8221;<span id="more-582"></span></p>
<p>Biangnya, menurut Majalah Economist karena Toyota melalaikan “tradisi kualitas” dalam memproduksi mobil-mobilnya guna mengejar ambisi untuk menjadi market leader. Pertumbuhan Toyota satu dekade terakhir memang mencengangkan. Tahun 2008 Toyota memproduksi mobil 60% lebih banyak dari posisi di tahun 2000. Upaya Toyota mengejar market share global dari 11% ke 15% mengharuskannya memompa penjualan di berbagai pasar lukratif di lima benua secara membabi-buta tanpa memperhitungkan risiko problem kualitas. Saya melihat di sini Toyota mulai terlena; mulai kehilangan sense of urgency; mulai kehilangan sense of crisis; dalam menjalankan prinsip-prinsip quality excellence di dalam sistem produksinya demi mengejar pertumbuhan global.</p>
<p>Saya sendiri melihat, akibat godaan pertumbuhan Toyota mulai meninggalkan “<strong>tradisi Ketimuran</strong>” yang khas Toyota dalam mengelola bisnis. Tradisi yang saya maksud adalah pola pengelolaan yang pelan tapi konsisten menuju perbaikan dari waktu ke waktu; kesuksesan setahap demi setahap dimana setiap tahap tercapai kesempurnaan (no room for instant success!!!); mengendap penuh kesabaran, tapi penuh percaya diri tidak takabur; attention to detail; harmoni dan keseimbangan antara tujuan jangka panjang dan pendek. Toyota mulai mengadopsi “tradisi Barat” yang memuja “pertumbuhan di atas segala-galanya”.</p>
<p>Saya mengambil beberapa pelajaran penting dari kasus Toyota:<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>#1 Abandone its own basic philosophy: “The Toyota Way”</strong>. Semoga Mr. Toyoda, sang CEO, menyadari (kelihatannya begitu!) bahwa langkah Toyota beberapa tahun terakhir ini sudah mulai bergeser dari rel prinsip-prinsip bisnis yang diamanatkan The Toyota Way. Dalam The Toyota Way, Jeffrey Liker mengidentifikasi 4 elemen dasar dari filosofi bisnis Toyota: Long-term thinking; problem-solving; developing people; dan organizational learning yang kemudian diterjemahkan ke dalam 14 prinsip bisnis. Tuntutan pertumbuhan global yang demikian cepat menjadikan Toyota sulit menginternalisasikan prinsip-prinsip yang ada di dalam The Toyota Way tersebut ke seluruh wilayah operasinya di lima benua. Harus diingat, internalisasi nilai-nilai budaya perusahaan tak bisa dilakukan secara potong kompas, tidak bisa dikarbit, tidak bisa diwujudkan dalam semalam. Di sinilah “tradisi Ketimuran” berbicara: Kesabaran!!!  “Alon-alon waton kelakon,” kata filosofi Jawa.</p>
<p><strong>#2 The Toyota Way is the only way out of it</strong>. Seperti saya ungkapkan di depan, akar masalah Toyota sesungguhnya terletak pada pengingkaran terhadap The Toyota Way. Karena itu obat mujarab bagi Toyota hanya satu: “kembali ke kitah”. Secara konsisten, disiplin, dan sepenuh hati, setiap insan Toyota di seluruh operasi Toyota di lima benua harus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diamanatkan oleh The Toyota Way. Karena itu bagi saya solusi mendasar dan jangka panjang bagi Toyota menyusul kasus ini adalah “culture overhaul”, di atas seluruh strategi dan taktik operasional yang bakal dijalankannya.</p>
<p><strong>#3 Humble PR, yet powerful</strong>. Saya salut dengan Mr Toyoda yang demikian rendah hati berkeliling dari Jepang, Amerika, dan Cina untuk menjelaskan kekeliruan yang dilakukan Toyota dan tulus meminta maaf. Public relation (PR) yang rendah hati ini menimbulkan simpati dunia, bahwa Toyota super sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Ketika menyampaikan permintaan maafnya di depan anggota kongres Amerika, dia menyampaikan penghormatannya pada nilai-nilai luhur budaya perusahaan yang dirintis kakeknya seraya berjanji untuk mendengarkan suara pelanggannya secara sungguh-sungguh. &#8220;This is my own way of kaizen,&#8221; kata Toyoda. Saya kira ini merupakan upaya “pemadaman kebakaran” yang cerdas khas Ketimuran dari Toyoda yang ampuh.</p>
<p><strong>#4 Brand reputation is the most fragile thing</strong>. Pelajaran paling berharga dari kasus Toyota adalah bahwa reputasi merek merupakan sesuatu yang sangat rapuh. Setelah kasus Enron, sekali lagi kita diingatkan, betapa sebuah reputasi merek yang terbangun puluhan bahkan ratusan tahun bisa hancur dalam sesaat oleh karena sebuah kesalahan fatal. Mengenai hal ini saya teringat dakwah Collins-Porras dalam buku legendarisnya Built to Last. Mereka bilang, “<strong>preserve the core, stimulate progress</strong>”. Intinya, Anda boleh berubah sedramatis dan se-out of the box apapun untuk maju, tapi satu hal harus diingat: lestarikan prinsip-prinsip dasar bisnis yang sejak awal Anda yakini. Percayalah, reputasi merek akan bisa kekal selamanya sejauh Anda selalu berada di dalam rel core philosophy bisnis Anda.</p>
<p>Terakhir saya ingin mengatakan, dengan modal kesungguhan untuk kembali ke The Toyota Way saya yakin Toyota akan mampu keluar dari krisis dan memperoleh kembali reputasinya. Bravo Toyota!!! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/belajar-dari-toyota-recall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Giant-Leap Organization</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/02/09/giant-leap-organization/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/02/09/giant-leap-organization/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 00:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Giant Leap Organization (GLO) adalah sebuah terminologi yang diintroduksi oleh Stanley Atmadja, CEO Adira Finance, untuk menggambarkan organisasi yang mampu mencapai kinerja luar biasa, tak hanya dalam jangka pendek, tapi juga sustainable dalam jangka panjang. Organisasi yang mampu make difference dengan mencapai “lompatan kinerja” secara konsisten dalam kurun waktu lama. Stanley mengungkapkan “teori”-nya itu dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Giant Leap Organization (GLO) </strong>adalah sebuah terminologi yang diintroduksi oleh Stanley Atmadja, CEO Adira Finance, untuk menggambarkan organisasi yang mampu mencapai kinerja luar biasa, tak hanya dalam jangka pendek, tapi juga sustainable dalam jangka panjang. Organisasi yang mampu make difference dengan mencapai “lompatan kinerja” secara konsisten dalam kurun waktu lama. Stanley mengungkapkan “teori”-nya itu dalam buku barunya: “Making the Giant Leap: Unleashing the Extraordinary Human Potential” yang terbit beberapa waktu lalu. Saya kebetulan mendapat kesempatan emas untuk meriset fenomena GLO bersama Stanley, sehingga saya bisa bagikan ke para pembaca sekalian.</p>
<p>Lompatan kinerja GLO bukanlah terjadi karena faktor-faktor eksternal yang menguntungkan (windfall karena kenaikan harga minyak atau batubara misalnya), tapi di-drive dari dalam organisasi berupa fundamental kinerja organisasi yang excellence. Kenyataan inilah yang memungkinkan kinerja tersebut tidak bersifat instan, tapi konsisten dan sustainable karena tak bergeming oleh adanya terpaan perubahan lingkungan bisnis seberat apapun. Menariknya, dalam banyak kasus GLO justru mampu riding the wave, memanfaatkan perubahan yang terjadi di pasar untuk mendongkrak kinerja.</p>
<p>Untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik organisasi ini, contoh yang pas adalah Adira Finance, organisasi yang dirintis dan dibesarkan oleh Stanley. Adira adalah sedikit perusahaan di Indonesia yang mampu mencapai kinerja fenomenal selama hampir 20 tahun perjalanan bisnisnya. Selama kurun waktu 12 tahun terakhir (1996-2008) Adira mampu tumbuh luar biasa. Penjualan (besar kredit yang dikelola) mampu tumbuh sekitar 100 kali lipat mencapai hampir Rp 17 triliun, sementara profitnya meningkat sekitar 500 kali lipat mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Kinerja meyakinkan ini bukanlah hasil dari kerja instan satu-dua tahun tapi merupakan hasil akumulasi dari upaya sistematis pembentukan pondasi organisasi yang kokoh yang menjadi sumber pertumbuhan meyakinkan (robust growth) tersebut.</p>
<p>Menarik mengetahui kenapa GLO mampu mewujudkan kinerja fenomenal di atas.  Rahasianya rupanya terletak pada orang (people). Strategi bisnis, struktur organisasi, sistem-sistem yang dibangun, tool-tool manajemen memang memegang peran cukup penting, namun di atas itu semua, oranglah sumber utama yang menerjemahkan berbagai perangkat tersebut menjadi kinerja fenomenal organisasi. Persis seperti dibilang Jim Collins (2001): “first who… then what”. Yang terpenting bagi seorang CEO adalah memilih orang-orang yang tepat, lalu kemudian orang-orang tepat itulah yang membangun strategi, sistem, tools, dan sebagainya.</p>
<p><strong>#1. Leader-Driven Enterprise</strong>.  Collective leaders adalah “jantung” terwujudnya GLO. Collective leaders ini tak hanya terkonsentrasi di jajaran puncak organisasi, tapi tersebar merata di seluruh tingkatan organisasi. Karena itu tugas hakiki dari organisasi semacam ini adalah menjadi “pabrik pemimpin”: memproduksi sebanyak mungkin pemimpin di seluruh bagian organisasi. Dan tugas terbesar seorang pemimpin di dalam GLO adalah menciptakan sebanyak mungkin pemimpin lain di berbagai bagian organisasi, dimana para pemimpin tersebut bekerja secara bersama-sama membentuk semacam orkestra yang begitu rapi dan harmonis.<span id="more-570"></span></p>
<p><strong>#2. Managing by Values</strong>. Di dalam GLO, nilai-nilai budaya perusahaan yang kokoh, yang dipegang teguh dan diyakini oleh semua karyawan dan teraplikasi dalam perilaku kolektif mereka merupakan ”nyawa”. Nilai-nilai itu teraplikasi tak hanya di level intelectual quotient (IQ), tapi juga emotional quotient (EQ), bahkan sampai ke spiritual quotient (SQ).  Perusahaan yang sustainable memang membutuhkan strategi yang mumpuni, sistem yang rapi, serta orang-orang yang terampil dalam menjalankan bisnis. Namun semua hal tersebut harus dibangun di atas landasan nilai-nilai budaya perusahaan yang kuat.</p>
<p><strong>#3. The Power of Team Synergy</strong>. GLO bukanlah organisasi yang cakap menciptakan “super man”, tapi piawai membangun “super team”. Dan kalau kita bicara super team, maka esensinya adalah bagaimana mewujudkan sinergi tim (team synergy). Sebuah tim bisa dikatakan betul-betul sebagai tim hanya jika ia mampu menghasilkan sinergi, artinya anggota-anggota yang membentuk tim tersebut mampu menghasilkan output yang lebih besar dari penjumlahan hasil yang mereka capai secara individual. Efektifitas sebuah tim ditentukan oleh kemampuan tim tersebut dalam menghasilkan sinergi di antara anggota-anggota yang membentuknya.</p>
<p><strong>#4. People-Focused Execution</strong>. Di dalam GLO tak hanya strategi yang penting, eksekusi pun harus ditempatkan pada posisi sentral di dalam praktek dan operasi perusahaan. Karena penting, maka fokus kepada eksekusi haruslah melekat (embedded) di dalam budaya perusahaan. Ini berarti bahwa, fokus kepada eksekusi haruslah menjadi nilai-nilai dasar, kebiasaan, dan disiplin yang harus terus dikembangkan secara konsisten dari waktu ke waktu. Tak hanya itu, di dalam GLO, eksekusi haruslah menjadi pekerjaan langsung pemimpin di semua level organisasi, bukan hanya pekerjaan anak buah.</p>
<p><strong>#5. Winning Spirit</strong>. GLO selalu peduli dan piawai menghembuskan spirit kemenangan bagi setiap orang di dalam organisasi. GLO piawai menanamkan dan menumbuhkan mindset “play to win” melalui empat sikap: “Dream Big, Think Big”; “Good Is Not Enough”; “Sky Is the Limit”; dan  “Healthy Environment”. Spirit menjadi pemenang merupakan “bahan dasar” bagi GLO untuk membawa organisasinya tumbuh dan terus berkembang secara sustainable.</p>
<p><strong>#6. Human Emphaty</strong>. GLO sangat concern membangun human emphaty dengan cara memfasilitasi terwujudnya kehidupan yang seimbang dari setiap karyawannya (facilitating balance of life). Keseimbangan hidup merupakan tuntutan yang muncul sebagai konsekuensi dari beragam peran dan fungsi yang dijalankan seseorang. Ada tiga aktifitas kehidupan yang melingkupi setiap karyawan, yaitu personal life, social life dan spiritual life. Di sini peran perusahaan adalah menjembatani agar karyawan tetap bisa beraktualisasi secara proporsional di tiga kehidupan tersebut sehingga karyawan menemukan makna hidup (meaning of life) yang bernilai. Dengan memainkan peran ini maka perusahaan perusahaan membentuk diri menjadi “a holistic company”. Ingat, “a sustainable company is a holistic company”.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/02/09/giant-leap-organization/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CROWD &#8220;Marketing Becomes Horizontal&#8221; &#8211; Manifesto #9: Your Product and Services Should be CONTAGIOUS</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/12/02/manifesto-9-your-product-and-services-should-be-contagious%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/12/02/manifesto-9-your-product-and-services-should-be-contagious%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 09:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[CROWD Book]]></category>
		<category><![CDATA[Chapters]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[WOM Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Buzz]]></category>
		<category><![CDATA[word of mouth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Produk Anda harus kayak flu burung atau kolera.
Begitu meluncur di pasar (atau bahkan jauh sebelumnya) langsung: “Buzzzzzzzz”. Langsung meledak!!!&#8230; Langsung mewabah!!!&#8230; Langsung menjalar ke mana-mana!!!
Sebuah produk atau layanan haruslah memiliki ”efek wabah” yang memicu viral atau ”worth of mouth” alias promosi dari mulut ke mulut yang menyebabkan orang yang menerimanya ”klepek-klepek” nggak tahan.
Saya berani katakan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Produk Anda harus kayak flu burung atau kolera.</p>
<p>Begitu meluncur di pasar (atau bahkan jauh sebelumnya) langsung: “Buzzzzzzzz”. Langsung meledak!!!&#8230; Langsung mewabah!!!&#8230; Langsung menjalar ke mana-mana!!!</p>
<p>Sebuah produk atau layanan haruslah memiliki ”efek wabah” yang memicu viral atau ”worth of mouth” alias promosi dari mulut ke mulut yang menyebabkan orang yang menerimanya ”klepek-klepek” nggak tahan.</p>
<p>Saya berani katakan, worth of mouth dari seorang konsumen memiliki daya mempengaruhi SERIBU KALI lipat lebih ampuh dari serangan seorang salesman. ”Your product and services should be CONTAGIOUS”</p>
<p>Steve Jobs tak hanya jago membuat produk yang cool. Ia juga jago membikin produk hebatnya kayak kolera. Buktinya adalah sukses iPhone yang gila-gilaan.</p>
<p>Awalnya, di ajang MacWorld 9 Januari 2007 dia mengumumkan bakal produk tercanggih dan ter-cool dalam sejarah Apple. Dengan gaya flamboyan khas Steve, di situ dia demokan bagaimana teknologi touch screen bekerja. Di situ pula dia tunjukkan tampilan iPone yang cool abis: hitam elegan, tipis, sleek, dan bersih tanpa ada semrawut keyboard, Steve menyebutnya “virtual keyboard.” Gadget lovers di seluruh dunia pun terperangah.</p>
<p>Keesokan harinya video sambutan dan demo iPhone berduarasi 47 menit 29 detik itu beredar di internet. Saya sendiri mendapatkannya kira-kira sebulan setelahnya dari forward-an email seorang teman. Di email tersebut si teman memberikan pesan singkat: “It’s trully revolutionary product!”</p>
<p>Saya jadi penasaran bukan main. Dan betul, begitu saya lihat bagaimana Steve mendemokan teknologi touch screen, saya langsung terkesima dan jatuh cinta dengan gadget ini. Tak berselang lama, 10 email forward-an saya pun meluncur ke 10 teman kantor saya. Pagi saya forward, siangnya pas kongko-kongko di kantin iPhone pun menjadi polemik seru di antara 10 teman. Dalam waktu semalam seluruh dunia pun terjangkit wabah bernama: “kolera iPhone”.</p>
<p>Pertanyaanya, bagaimana produk dan layanan Anda bisa menciptakan wabah buzz? <span id="more-359"></span></p>
<p><strong>Product that Evokes an Emotional Response</strong>. Anda merancang produk atau program pemasaran yang dapat mengaduk-aduk suasana emosional audiens. Tolak Iklan pernah meluncurkan iklan “aji mumpung” untuk merespons aksi sewenang-wenang Malaysia yang “mencuri” warisan kekayaan budaya kita seperti Reog ponorogo, batik, dan angklung. Melalui iklan tersebut, audiens diajak hanyut di dalam suasana emosional kebangsaan dan nasionalisme. Audiens disentuh nurani kebangsaannya sehingga tersadar dan tergerak untuk peduli dan mengambil aksi. Sambil, tentu saja, di penghujung iklan Agnes Monica dengan kemayu bilang: “Orang pintar minum Tolak Angin”.</p>
<p><strong>Product with Extraordinary Performance</strong>. Wabah buzz juga bisa dimunculkan dengan meluncurkan fitur-fitur atau benefit produk yang extraordinary, bahkan kalau bisa belum pernah ada sebelunya. Kekaguman terhadap sebuah fitur atau benefit produk akan menggugah audiens untuk menceritakannya kepada orang lain atau memberikan rekomendasi kepada kolega atau teman. Cara Steve Jobs menyukseskan iPhone di atas menggunakan kiat ini.</p>
<p><strong>Products with Continued Version</strong>. Sebuah produk bisa menimbulkan penasaran jika dibikin secara versioning. Dengan cara semacam ini produk versi berikutnya akan ditunggu-tunggu dan didambakan oleh pelanggan yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan versi sebelumnya. Di dunia film dan perbukuan versioning ini sudah menjadi menu baku: Star Wars, Indiana Jones, James Bond 007, Spiderman, Harry Potter. Di dunia perangkat lunak dan komputer juga sama: Windows, Machintos, Blackberry, dan Nokia Communicator dibikin versioning.</p>
<p><strong>Products that Advertise Themselves</strong>. Ada produk-produk yang punya kemampuan spesial mengiklankan dirinya sendiri. Kebanyakan karena by default produk itu mengandung kontroversi dan ketidaklaziman. Karena kontroversial maka orang akan tersulut untuk memperbincangkan. Dan semakin banyak diperbincangkan, maka “self-advertising power” si produk pun dengan cepat menemukan momentumnya. Contohnya: Anthurium, Tukul, film Ayat-Ayat Cinta.</p>
<p><strong>Product that involve users</strong>. Linux, Wikipedia,Firefox menimbulkan buzz di seluruh dunia karena pengembangannya memiliki modus operandi yang sama, yaitu dilakukan secara “horisontal” dengan melibatkan para pemakainya melalui pendekatan free software dan open source. Buzz itu menjadi semakin menggelembung karena langkah mereka dilihat sebagai tindakan seorang “hero”. Siapa musuhnya? Raksasa tambun yang hegemoninya merasuk sampai ke tulang-sungsum: Windows, Ensiklopedia Britanica, Internet Explorer. Mereka adalah pahlawan yang memerdekakan kita semua dalam memanfaatkan keajaiban teknologi: perangkat lunak sistem operasi, mesin pencari dunia maya, dan ensiklopedia.</p>
<p>INGAT!!!<br />
“Your product and services should be CONTAGIOUS”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/12/02/manifesto-9-your-product-and-services-should-be-contagious%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CROWD &#8220;Marketing Becomes Horizontal&#8221; &#8211; Manifesto #10 Trust Is the Real Currency. Join the Honest Conversations</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/11/15/e-wmc2-manifesto-9-trust-is-the-real-currency-join-the-honest-conversations/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/11/15/e-wmc2-manifesto-9-trust-is-the-real-currency-join-the-honest-conversations/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 16:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapters]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[WOM Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[market is conversation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[“I want to campaign the same way I govern, which is to respond directly and forcefully with the truth.”  
Barack Obama 
Kenapa Barak Obama menang dari John McCain?  Pakar politik tentu saja begitu piawai memberikan berbagai argumentasinya: Karena mesin politiknya, Partai Demokrat demikian solid; karena George W. Bush yang sontoloyo!!!; karena McCain yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">“<em>I want to campaign the same way I govern, which is to respond directly and forcefully with the truth</em>.”  <strong></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>Barack Obama </strong></p>
<p>Kenapa Barak Obama menang dari John McCain?  Pakar politik tentu saja begitu piawai memberikan berbagai argumentasinya: Karena mesin politiknya, Partai Demokrat demikian solid; karena George W. Bush yang sontoloyo!!!; karena McCain yang blunder memilih Palin; atau mungkin karena ke-kulithitam-an Obama. Tapi saya punya argumentasi sendiri: Obama menang karena dia begitu cantik menerapkan formula E = wMC2.</p>
<p>Para pembaca masih ingat dengan rumusan E = wMC2 dari kolom-kolom saya sebelumnya? E dalam rumus itu saya sebut sebagai “energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Dan wM adalah = word of mouth, yaitu promosi mulut ke mulut berupa rekomendasi atau referal konsumen baik disampaikan secara fisik maupun berbasis online. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.</p>
<p>Intinya, rumus tersebut mau bilang bahwa energi marketing sedahsyat bom nuklir akan didapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan word of mouth mengenai produk dan layanan Anda, dan word of mouth itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat!<span id="more-352"></span></p>
<p>Langkah cerdas pertama Obama menjalankan strategi kampanye adalah ketika dia menunjuk Chris Hughes—salah satu pendiri Facebook yang sering dijuluki ”online orginising guru”—untuk menjadi ”juru kampanye” di jagat maya internet khususnya melalui media jejaring sosial (social network). Diinspirasi kesuksesan situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, dan YouTube, Chris merancang My.BarackObama.com (selama kampanye dikenal dengan sebutan seksi ”MyBo”) yang dijadikan epicentrum dari keseluruhan strategi Obama menggaet massa melalui komunitas dunia maya. Melalui situs inilah ”keajaiban Obama” bermula.</p>
<p>Melalui situs ini Obama menghimpun dan memberdayakan para simpatisan dengan memberi mereka web tools dan web enablers untuk membentuk komunitas pemilih lokal; menciptakan event-event dukungan; sampai kepada menggalang dana kampanye melalui situs-situs dan blog-blog pribadi mereka. Melalui situs ini pula Obama menyebarkan video-video pidato politiknya kepada jutaan pemilih Amerika melalui YouTube atau mendistribusikannya secara mobile ke jutaan pengguna Blackberry atau iPhone.</p>
<p>Fantastis!!! Melalui situs ini Obama mampu mengumpulkan hampir semiliar dolar dari jutaan donatur ”gurem” yang bisa menyumbang hanya 5 dolar per-orangnya (wow&#8230; ini namanya ”grass-root marketing”). Yang lebih fantastis lagi, mengikuti formula E = wMC2, Obama mampu menghimpun komunitas jutaan simpatisan yang dengan sukarela menyebarkan word of mouth yang ampuh menggigit. Dengan sukarela para simpatisan ini membentuk komunitas-komunitas ssimpatisan lagi melalui blog-blog atau account mereka di Facebook, MySpace, Digg, Deli.cio.us, atau Twitter, dan dengan semangat empat-lima mereka ”menjual” Obama ke jutaan pemilih Amerika.</p>
<p>Obama juga hadir langsung di situs-situs jejaring sosial di atas untuk mengabarkan setiap detik aktivitasnya secara transparan, berdialog dengan para calon voters secara pribadi, menyebar video pidatonya, dan mendorong simpatisan mengumpulkan dana secara online. Sampai akhir Oktober sebelum detik-detik pemilihan, Obama memiliki lebih dari 1,7 juta sahabat di Facebook, 510.000 teman di MySpace, dan lebih dari 45.000 pengikut di Twitter. Sebaliknya, McCain punya 309.000 teman di Facebook dan 88.000 di MySpace. Harap Anda tahu, pidato kemenangan Obama di Chicago minggu lalu sampai tulisan ini dibikin Minggu siang 9 November 208, yaitu kurang dari satu minggu, sudah mencapai 2.927.355 penonton. Sebuah Angka yang fantastis dan bersejarah.</p>
<p>Tidak seperti pesaingnya McCain, melalui MyBarackObama.com dan situs-situs jejaring sosial Obama menulis email, memberikan tanggapan, dan menympaikan pesan-pesan politiknya secara ”pribadi” dan ekseklusif. Tujuannya jelas, agar dia bisa berdialog, melakukan conversation secara jujur dan transparan. Menggunakan medium blog dan situs jejaring sosial seorang kandidat tak akan mungkin bisa berbohong dan menutupi diri. Ia terpaksa harus telanjang, jujur, terbuka, tak ada satupun yang bisa ditutup-tutupi.</p>
<p>Inilah titik perbedaan kampanye Obama dibanding McCain: Obama menggunakan komunikasi ”horisontal”, McCain ”vertikal”. Obama menggunakan pendekatan komunikasi dua arah, McCain satu arah. Obama berdialog dan melakukan conversation secara terbuka, McCain tertutup.  Singkatnya, Obama menang karena dia berkampanye dengan trust, dengan kejujuran, dengan ketelanjangan. Obama juga menang karena dia ”menyentuh” langsung setiap simpatisannya dengan melakukan dialog dan conversation.</p>
<p>Singkatnya saya ingin mengatakan, kemenangan Obama tidak terlepas dari dua juta simpatisan online yang bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye. Persis sesuai dengan rumus ampuh E = wMC2, kunci kemenangan Obama terletak pada, pertama, kemampuannya membangun komunitas simpatisan yang fanatik melalui media jejaring sosial. Kedua, mendorong para simpatisan fanatik tersebut untuk ”menjual” Obama kepada jutaan pemilih Amerika dengan menyebarkan word of mouth dan referal.</p>
<p>Sebut saja keajaiban Obama menerapkan rumus E = wMC2 itu dengan istilah seksi ”Facebook Effect”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/11/15/e-wmc2-manifesto-9-trust-is-the-real-currency-join-the-honest-conversations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CROWD &#8220;Marketing Becomes Horizontal&#8221; &#8211; Manifesto #8: Your Brand Is a CULT. Create Ideology around It and Spread to Your Believers.</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/10/29/manifesto-7-your-brand-is-a-cult-create-ideology-around-it-and-spread-to-your-believers/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/10/29/manifesto-7-your-brand-is-a-cult-create-ideology-around-it-and-spread-to-your-believers/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 03:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Branding Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Chapters]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[cult brand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Cult brand adalah capaian tertinggi sebuah merek.
Merek Anda boleh dikenal di setiap jengkal jagat ini.
Merek Anda boleh mengandung asosiasi dan image yang demikian harum
Merek Anda boleh memiliki persepsi kualitas kokoh tak tertandingi.
Atau, merek Anda diloyali begitu rupa.
Tapi semuanya itu belum komplit kalau merek Anda belum menjadi sebuah cult.
Cult brand adalah “ultimate destination of a brand”
Cult [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cult brand</strong> adalah capaian tertinggi sebuah merek.<br />
Merek Anda boleh dikenal di setiap jengkal jagat ini.<br />
Merek Anda boleh mengandung asosiasi dan image yang demikian harum<br />
Merek Anda boleh memiliki persepsi kualitas kokoh tak tertandingi.<br />
Atau, merek Anda diloyali begitu rupa.</p>
<p>Tapi semuanya itu belum komplit kalau merek Anda belum menjadi sebuah cult.<br />
Cult brand adalah “ultimate destination of a brand”<br />
Cult brand adalah <strong>UJUNG</strong> pengembarangan sebuah merek menuju kesempurnaan.</p>
<div id="attachment_339" class="wp-caption alignleft" style="width: 274px"><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/10/apple-cult.jpg"><img class="size-medium wp-image-339" title="apple cult" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/10/apple-cult-222x300.jpg" alt="Apple is a CULT" width="264" height="356" /></a><p class="wp-caption-text">Apple is a CULT</p></div>
<p>Cult brand adalah sebuah capaian di mana merek Anda menjadi sebuah <strong>KEPERCAYAAN</strong>. Sebuah <strong>KEYAKINAN</strong>… sebuah <strong>BELIEF</strong>.<br />
Di mana di atas kepercayaan tersebut terbangun sebuah <strong>IKATAN SPIRITUAL</strong> antara merek dengan pelanggan.<br />
Sebuah ikatan halus yang tak akan bakal memisahkan keduanya… <strong>SELAMANYA</strong>.</p>
<p>Jesper Kunde, seorang pakar merek, menyebutnya: “Brand Religion” – sebuah istilah yang menurut saya berlebihan.<br />
Ya, karena menurutnya merek yang mencapai strata ini mampu mengikat “penganut”-nya dengan BELIEF yang sama.<br />
Sekali lagi, sebuah ikatan spiritual yang begitu kokoh, tak lapuk ditelan jaman.</p>
<p>Ikatan spiritual inilah yang menjadikan pelanggan bisa lantang bilang:<br />
”The brand is me!!!”<br />
”It’s my way of life!!!”<br />
“It’s my reason for being”<br />
Gila, sampai-sampainya pelanggan bilang BRAND merupakan alasan keberadaanya.<br />
Alasan kenapa ia hidup.</p>
<p>Seperti lagunya Bon Jovi: ”It’s my LIFE” <span id="more-338"></span></p>
<p>Harley-Davidson is customer’s LIFE.<br />
Facebook is customer’s LIFE<br />
Whole Food is customer’s LIFE.<br />
Mac is customer’s LIFE.<br />
A Mild is customer’s LIFE.<br />
Slank is fan’s LIFE</p>
<p>Ini adalah definisi sederhana saya mengenai cult brand:<br />
“Sebuah KOMUNITAS, biasanya ekseklusif, di mana para anggotanya mengikatkan diri — sebuah ikatan “spiritual” — dengan kepercayaan, keyakinan, dan ideologi yang sama”</p>
<p>Wow&#8230; cult brand adalah komunitas?<br />
Ya!!! Komunitas, dimana setiap anggota memiliki SENESE OF DIFFERENCE dari dunia “mainstream” di sekitarnya. Karena merasa berbeda, mereka pun merasakan sebagai mahluk paling spesial di muka buni ini.</p>
<p>Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF SECURITY. Mereka merasa aman, tenteram, dan FEEL AT HOME ketika berbaur dengan anggota lain.</p>
<p>Komunitas di mana merek memiliki SENSE OF BELONGING yang tinggi, karena itu mau dan berani berkorban (Jihad?&#8230; Mungkin!) demi tegaknya ideologi yang mereka pegang bersama.</p>
<p>Komunitas dimana mereka memiliki SENSE OF RESPONSIBILITY untuk menjaga nilai-nilai (“common values”) yang menjadi pegangan dan tatanan keluarga besar yang mereka bangun. Secara natural mereka merasakan tanggung-jawab sebagai penjaga tegaknya nilai-nilai bersama tersebut.</p>
<p>Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF MEANING. Bergabung di dalam komunitas berarti memaknai hidup, hidup mereka lebih bermakna dengan bergabung di dalam komunitas, mereka mampu mengekspresikan diri sehingga LEBIH menjadi dirinya sendiri.</p>
<p>Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF DEVOTION. Bergabung di dalam komunitas berarti MEMPERSEMBAHKAN hidup mereka bagi kebaikan dan kebesaran komunitas. Bagi mereka, bergabung di dalam komunitas adalah, Their GREAT DEVOTION.</p>
<p>Komunitas dimana setiap anggota memiliki SENSE OF ACTUALIZATION. Momen-momen bergabung dengan anggota komunitas lain menjadi begitu berharga karena karena di situlah mereka bisa mengaktualisasikan diri. Karena itu cult brand adalah juga media untuk aktualisasi diri, it’s a self-actualization MACHINE.</p>
<p>Ingat, ”6S” di atas adalah “harta karun” terpenting bagi merek Anda.<br />
Saya menyebut ke-6S tersebut: ”Your PASSPORT to Brand Nirvana”.<br />
Kenapa?<br />
Kalau Anda mampu membawa pelanggan Anda merengkuh kelima-limanya, maka jalan merek Anda menuju cult brand bakal terwujud.<br />
Dan ketika itu terjadi, maka sebuah anugerah tak ternilai akan Anda dapatkan …your brand nirvana.</p>
<p>Saat itu juga, barangkali Anda sudah tidak cocok lagi menyebut mereka sebagai PELANGGAN, mereka lebih pas disebut sebagai PENGANUT. They are not CUSTOMERS. They are BELIEVERS.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/10/29/manifesto-7-your-brand-is-a-cult-create-ideology-around-it-and-spread-to-your-believers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Triple Bottom Line</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/10/24/triple-bottom-line/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/10/24/triple-bottom-line/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 17:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate social responsibility]]></category>
		<category><![CDATA[triple bottom line]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Nggak tahu kenapa, beberapa tahun terakhir arus besar kesadaran perusahaan untuk semakin “spiritual”—dengan peduli kepada masyarakat tertindas, peduli ke lingkungan, atau peka terhadap persoalan sosial-kemasyarakatan—kian besar. GE getol melipatgandakan penggunaan clean technology; Toyota fokus mengembangkan Prius sebagai the world’s cleanest car untuk mengurangi global warming; Grameen Bank mengembangkan micro finance untuk kaum papa hingga berbuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nggak tahu kenapa, beberapa tahun terakhir arus besar kesadaran perusahaan untuk semakin “spiritual”—dengan peduli kepada masyarakat tertindas, peduli ke lingkungan, atau peka terhadap persoalan sosial-kemasyarakatan—kian besar. <strong>GE</strong> getol melipatgandakan penggunaan clean technology; <strong>Toyota </strong>fokus mengembangkan Prius sebagai the world’s cleanest car untuk mengurangi global warming; <strong>Grameen Bank</strong> mengembangkan micro finance untuk kaum papa hingga berbuah Hadiah Nobel; <strong>Hindustan Lever</strong>, anak perusahaan Unilever di India, mengembangkan segmen pasar orang miskin (bottom of the pyramid market) sekaligus memberdayakannya.</p>
<p>Mungkin karena bumi kita sudah terlanjur kerempeng dan bopeng-bopeng. Atau karena kalangan bisnis sudah terlalu lama mengesampingkan kaum papa. Atau bisa jadi karena kaum pebisnis ini sudah bertobat karena keterlaluan mengeksploitasi isi perut bumi atas nama kapitalisme membabi-buta. <strong>Dupont</strong> misalnya, kini mulai “bertobat” karena sudah puluhan tahun mengotori bumi dengan bahan-bahan kimia ciptaannya. Sejak tahun 1991, Dupont sangat serius mengurangi emisi gas buang sebesar 55% dan menghemat hingga 2 miliar dolar.</p>
<p>Karena kenyataan itu, bukan kebetulan kalau kini mulai banyak perusahaan yang mengadopsi konsep “<strong>triple bottom line</strong>”. Apa itu? Konsep pengukuran kinerja perusahaan secara “holistik” dengan memasukan tak hanya ukuran kinerja ekonomis berupa perolehan profit, tapi juga ukuran kepedulian sosial dan pelestarian lingkungan. Kenapa “triple”? Karena konsep ini memasukkan tiga ukuran kinerja sekaligus: <strong>economic, environmental, social</strong> (EES) atau istilah keren-nya 3P: “<strong>People-Planet-Profit</strong>”. Maunya jelas, perusahaan tak hanya menjadi “economic animal”, tapi juga entitas yang “socially and environmetally responsible.” <span id="more-336"></span></p>
<p>Ide di balik TBL ini tak lain adalah adanya pergeseran paradigma pengelolaan bisnis dari “sharholders-focused” ke “stakeholders-focused”. Dari fokus kepada perolehan laba secara membabi-buta menjadi perhatian pada kepentingan pihak-pihak yang terkait (stakeholder interest) baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Konsekuensinya, peran dunia bisnis semakin siknifikan sebagai alat pemberdaya masyarakat dan pelestari lingkungan. “<strong>The business entity should be used as a vehicle for coordinating stakeholder interests, instead of maximising shareholder profit</strong>.”</p>
<p>Ide triple bottom line sekaligus mencoba menempatkan upaya pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan pada titik sentral dari keseluruhan strategi perusahaan—bukan periferal, bukan tempelan, bukan kosmetik. Conventional wisdom yang selama ini ada mengatakan: tumpuk profit sebanyak-banyaknya, lalu dari profit yang menggunung itu sisihkan sedikit saja untuk kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan. Dengan triple bottom line, maka pendekatannya menjadi berbeda. Dari awal perusahaan sudah menetapkan bahwa tiga tujuan holistik—economic, environmental, social—tersebut hendak dicapai secara seimbang, serasi, tanpa sedikitpun pilih kasih.</p>
<p>Bicara triple bottom line, kita harus banyak belajar dari <strong>The Body Shop</strong> (TBS). Setiap tahun The Body Shop mengeluarkan dokumen yang dinamai <strong>The Body Shop Values Report</strong>. Dokumen ini berisi laporan “pertanggung-jawaban” kepada publik mengenai pencapaian-pencapaian social dan environmental. Menariknya, TBS bikin laporan ini tidak main-main untuk mewujudkan misinya untuk menjadi socially and environmentally responsible company. Salut patut kita berikan kepada sang pionir dan inspirator, Anita Roddick, yang beberapa minggu lalu lebih dulu meninggalkan kita.</p>
<p>Saya kebetulan punya satu dokumen The Body Shop Values Report 2005. (kalau pembaca berminat bisa saya kirimkan softcopy-nya dengan menghubungi saya di siwo@rocketmail.com). Menariknya, dalam report 87 halaman tersebut TBS sangat serius mengumumkan KPI (key performance indicators), target dan capaian untuk social-environmetal initiatives seserius report untuk pencapaian sales/profit.</p>
<p>Kita tahu TBS punya lima inisiatif: <strong>Against Animal Testing; “Support Community Trade”, “Activate Self Esteem”; “Defend Human Rights”; “Protect Our Planet”</strong>. Memang TBS ngomong di mana-mana mengenai inisiatif tersebut, tapi itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Ia lakukan betul inisiatif tersebut, ia tetapkan KPI-nya, ia tetapkan target tahunan, kemudian di-tracking terus pencapaian target tersebut.</p>
<p>Dalam Values Report 2005 yang saya punya misalnya, dicantumkan salah satu target untuk inisiatif “Protect Our Planet” untuk tahun 2006 adalah, mengurangi hingga 5% emisi CO2 dari listrik yang digunakan di toko-toko TBS. Kemudian untuk “Activate Self Esteem”, di tahun 2005 TBS mampu melakukan kampanye program “Stop Violence in the Home” di 25 negara. Sementara untuk tahun 2006 ia menetapkan target melakukan kampanye di 30 negara. Harap Anda tahu target-target itu tak hanya sekedar target, tapi target yang terus di-tracking dan ngotot dicapai, sengotot mencapai target profit.</p>
<p>Kalau di seluruh belahan dunia, global champions seperti GE, Toyota, The Body Shop, Dupont berlomba-lomba mulai mengadopsi konsep triple bottom line, lalu bagaimana dengan di negeri kita tercinta? Nah, ini yang membuat kita semua sedih. Kita sedih ketika melihat para pebisnis kita seperti kebakaran jenggot, keberatan, dan marah begitu pasal 74 UU Perseroan Terbatas yang mengatur prinsip tanggung jawab sosial korporasi atau corporate social responsbility (CSR) diberlakukan. Menyikapi kemarahan itu saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan keberatan itu bukan datang dari lubuk hati yang paling dalam. *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/10/24/triple-bottom-line/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
