<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; Jurnal Nasional</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/yuswohady-articles/jurnal-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 13:07:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>My BRAND NEW Book: CROWD &#8211; &#8220;Marketing Becomes Horizontal&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/12/06/my-brand-new-book-crowd-marketing-becomes-horizontal/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/12/06/my-brand-new-book-crowd-marketing-becomes-horizontal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 02:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Yuswohady Book Club]]></category>
		<category><![CDATA[community marketing]]></category>
		<category><![CDATA[word of mouth marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F12%252F06%252Fmy-brand-new-book-crowd-marketing-becomes-horizontal%252F&title=My+BRAND+NEW+Book%3A+CROWD+-+%22Marketing+Becomes+Horizontal%22&desc=Hari+Kamis+11+Desember+2008+ini+saya+meluncurkan+buku%2C+judulnya%2C+CROWD%3A+%E2%80%9CMarketing+Becomes+Horizontal%E2%80%9D.+Peluncurannya+sendiri+dilakukan+di+ajang+MarkPlus+Conference+di+Pacific+Place%2C+Ritz+Carlton%2C&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Hari Kamis 11 Desember 2008 ini saya meluncurkan buku, judulnya, CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”. Peluncurannya sendiri dilakukan di ajang MarkPlus Conference di Pacific Place, Ritz Carlton, yang saat ini 4000 tiketnya sudah ludes terjual. Itu artinya, kalau tak ada aral melintang 4000 marketer dari seluruh tanah air akan hadir.
http://books.yuswohady.com/crowd/
Dalam buku ini saya bilang, kelahiran web [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F12%252F06%252Fmy-brand-new-book-crowd-marketing-becomes-horizontal%252F&title=My+BRAND+NEW+Book%3A+CROWD+-+%22Marketing+Becomes+Horizontal%22&desc=Hari+Kamis+11+Desember+2008+ini+saya+meluncurkan+buku%2C+judulnya%2C+CROWD%3A+%E2%80%9CMarketing+Becomes+Horizontal%E2%80%9D.+Peluncurannya+sendiri+dilakukan+di+ajang+MarkPlus+Conference+di+Pacific+Place%2C+Ritz+Carlton%2C&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Hari Kamis 11 Desember 2008 ini saya meluncurkan buku, judulnya, <strong>CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”</strong>. Peluncurannya sendiri dilakukan di ajang MarkPlus Conference di Pacific Place, Ritz Carlton, yang saat ini 4000 tiketnya sudah ludes terjual. Itu artinya, kalau tak ada aral melintang 4000 marketer dari seluruh tanah air akan hadir.</p>
<div id="attachment_374" class="wp-caption alignnone" style="width: 313px"><a title="CROWD Marketing Becomes Horizontal" href="http://books.yuswohady.com/crowd/" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-374" title="CROWD" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/12/cover-buku-final-front-202x300.jpg" alt="CROWD" width="303" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">CROWD</p></div>
<p><strong><a title="CROWD Marketing Becomes Horizontal" href="http://books.yuswohady.com/crowd/" target="_blank">http://books.yuswohady.com/crowd/</a></strong></p>
<p>Dalam buku ini saya bilang, kelahiran web technologies seperti blog, vblog, tags, chat, wikis, RSS, digg, coComment, internet messenger (IM), podcast, social networking telah merubah DNA konsumen. Tools tersebut telah “membebaskan” potensi konsumen untuk berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, dan berkomunitas. Akibatnya, secara natural konsumen pun bermetamorfose menjadi mahluk yang semakin mengelompok, berinteraksi intens satu sama lain, dan berkomunitas—membentuk “crowd”. Ya…itu sebabnya kenapa buku ini diberi judul: “CROWD”</p>
<p>Ketika konsumen berubah maka pendekatan pemasaran juga harus diputar haluan. Anda harus bisa menemukan strategi baru. Anda harus bisa meramu sumber-sumber kesuksesan baru. Karena perubahan itu, saya menciptakan Formula:</p>
<p><strong> E = wMC2 </strong></p>
<p>Di mana: <strong>E</strong>: Energi marketing yang dahsyat sedahsyat bom nuklir; <strong>wM</strong>: word of mouth atau rekomendasi pelanggan; dan <strong>C2</strong>: customer community baik offline maupun online. Tesis dasarnya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabungkan dan menyintesakan kekuatan dua elemen penting pemasaran masa depan, yaitu word of mouth (sering juga disebut “evangelism” atau net promoter) dan komunitas pelanggan.</p>
<p>Untuk menerjemahkan rumus tersebut ke dataran praktis, saya menurunkannya menjadi apa yang saya sebut: <strong>The 11 Manifesto of Horizontal Marketing</strong>. Berikut ini adalah ke-11 manifesto tersebut:</p>
<p><strong>#1: Net Creates NETWORKED Customers</strong>. Internet yang sudah teragregasi menjadi menjadi ribuan bahkan jutaan komunitas umat manusia melalui situs-situs seperti Friendster, YouTube, Facebook, MySpace, Secon Life, atau Blogger memunculkan potensi luar biasa untuk membentuk komunitas konsumen yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah umat manusia.</p>
<p><strong>#2: Your Customers Are EVANGELIST</strong>. Ketika Anda memiliki komunitas pelanggan yang solid, maka Anda punya potensi besar untuk menjadikan pelanggan tersebut sebagai “evangelists” atau “advocators” yang ngomomg bagus tentang produk Anda, yang merekomendasikan produk Anda. Mereka adalah selesmen sejati Anda.</p>
<p><strong>#3: CONNECTING Your Customers</strong>. Ketika formula E = wMC2 bisa Anda wujudkan, Anda akan sadar bahwa keunggulan kompetitif akan ditentukan oleh kemampuan Anda dalam menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lain di dalam sebuah media komunitas.<span id="more-373"></span></p>
<p><strong>#4: Treat Customer as MEMBER</strong>. Apapun bisnis Anda, prinsipnya hanya satu, yaitu bahwa Anda harus menganggap pelanggan sebagai “anggota” komunitas yang Anda bangun.</p>
<p><strong>#5: EXPRESS Their Aspirations</strong>. Kemunculan Web 2.0 tools mendorong orang semakin mudah dan ingin mengekspresikan diri. Makanya kini semakin banyak pribadi-pribadi narsis yang ingin mengungkapkan aspirasi personalnya dengan menulis di blog, curhat dengan sesama teman dengan Yahoo Messenger, atau memajang foto-foto pribadi di Flickr. “Welcome to the NARCISISTIC world”.</p>
<p><strong>#6: FACILITATING Is “Reason for Being”</strong>. Kalau Anda menganggap bahwa bisnis Anda dibangun di tengah-tengah komunitas pelanggan, maka tugas pokok dan alasan keberadaan Anda adalah memasilitasi pelanggan-pelanggan Anda.</p>
<p><strong>#7: AUTHENTICITY Is Lifetime Differentiator</strong>. Di tengah persaingan yang ketat saat ini, otentisitas menjadi barang yang kian langka. Namun begitu pelanggan melihat bahwa merek Anda otentik maka otentisitas tersebut akan menjadi diferensiator yang tak bakal lekang ditelan jaman. Authenticity leads you to sustainability.</p>
<p><strong>#8: Brand Is a CULT</strong>. Kalau Anda punya komunitas pelanggan yang solid, maka besar kemungkinan Anda mampu menciptakan “cult brand”. Komunitas pelanggan tersebut menjadi semaca “sekte” di mana brand Anda menjadi “roh”-nya.</p>
<p><strong>#9: Your Products Should be CONTAGIOUS</strong>. Produk Anda haruslah punya “bakat” untuk diperbincangkan pelanggan karena sisi unik yang dimilikinya. Kalau itu Anda miliki, maka produk tersebut akan menjadi “wabah” yang menyebar secepat kecepatan cahaya.</p>
<p><strong>#10: Join the Honest CONVERSATION!!!</strong> “Market is conversation”, Anda tidak bisa menolak jika para bloggers memperbincangkan dan mengaduk-aduk isi perusahaan Anda. Yang bisa Anda lakukan hanya ikutan nimbrung dan berdialog secara jujur dan transparan.</p>
<p><strong>#11: CO-CREATE Solutions</strong>. Pelanggan yang Anda bina dalam komunitas adalah sumber ide produk yang tak ada habisnya. Karena itu beraliansilah dengan pelanggan dalam menciptakan dan mengembangkan produk-produk masa depan Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/12/06/my-brand-new-book-crowd-marketing-becomes-horizontal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama dan &#8220;Facebook Effect&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/11/09/obama-dan-facebook-effect/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/11/09/obama-dan-facebook-effect/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 07:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Political Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Obama Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F11%252F09%252Fobama-dan-facebook-effect%252F&title=Obama+dan+%22Facebook+Effect%22&desc=%E2%80%9COne+of+my+fundamental+beliefs+from+my+days+as+a+community+organizer+is+that+real+change+comes+from+the+bottom+up.+And+there%E2%80%99s+no+more+powerful+tool+for+grass-roots+organizing+than+the+Internet.%E2%80&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>“One of my fundamental beliefs from my days as a community organizer is that real change comes from the bottom up. And there’s no more powerful tool for grass-roots organizing than the Internet.” &#8212; Barack Obama
Saya punya rumus ampuh E = wMC2. E dalam rumus itu saya sebut sebagai “energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F11%252F09%252Fobama-dan-facebook-effect%252F&title=Obama+dan+%22Facebook+Effect%22&desc=%E2%80%9COne+of+my+fundamental+beliefs+from+my+days+as+a+community+organizer+is+that+real+change+comes+from+the+bottom+up.+And+there%E2%80%99s+no+more+powerful+tool+for+grass-roots+organizing+than+the+Internet.%E2%80&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p style="text-align: left;">“<em>One of my fundamental beliefs from my days as a community organizer is that real change comes from the bottom up. And there’s no more powerful tool for grass-roots organizing than the Internet</em>.”<strong> &#8212; Barack Obama</strong></p>
<p>Saya punya rumus ampuh <strong>E = wMC2</strong>. <strong>E</strong> dalam rumus itu saya sebut sebagai “energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Dan <strong>wM</strong> adalah = word of mouth, yaitu promosi mulut ke mulut berupa rekomendasi atau referal konsumen baik disampaikan secara fisik maupun berbasis online. Sementara <strong>C2 </strong>atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.</p>
<div id="attachment_349" class="wp-caption alignleft" style="width: 387px"><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/11/obama-foto.jpg"><img class="size-medium wp-image-349" title="obama-foto" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/11/obama-foto-300x224.jpg" alt="Obama at Harvard" width="377" height="279" /></a><p class="wp-caption-text">Obama at Harvard</p></div>
<p>Lalu apa artinya rumus tersebut? Artinya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan word of mouth mengenai produk dan layanan Anda, dan word of mouth itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat!</p>
<p>Kemenangan Obama pekan lalu membuat saya terheran-heran senang: ”Rupanya rumus E = wMC2 saya memang betul-betul cespleng.” Sejak awal saya memprediksi Obama bakal menang bukan karena program-program politiknya; bukan karena partai Demokratnya; bukan karena George W. Bush yang sontoloyo!!!; bukan karena McCain yang blunder memilih Palin; bukan juga karena ke-kulithitam-an Obama. Saya yakin ia menang karena strategi marketingnya ampuh menerapkan rumus E = wMC2. <span id="more-347"></span></p>
<p>Langkah cerdas pertama Obama menjalankan strategi kampanyenya adalah ketika dia menunjuk <strong>Chris Hughes</strong>—salah satu pendiri Facebook yang sering dijuluki ”online orginising guru”—untuk menjadi ”juru kampanye” di jagat maya internet khususnya melalui media jejaring sosial (social network). Diinspirasi kesuksesan situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, dan YouTube, Chris merancang <strong>My.BarackObama.com</strong> (selama kampanye dikenal dengan sebutan seksi ”<strong>MyBo</strong>”) yang dijadikan epicentrum dari keseluruhan strategi Obama menggaet massa melalui komunitas dunia maya. Melalui situs inilah ”keajaiban Obama” bermula.</p>
<p>Melalui situs ini Obama menghimpun dan memberdayakan para simpatisan dengan memberi mereka web tools dan web enablers untuk membentuk komunitas pemilih lokal; menciptakan event-event dukungan; sampai kepada menggalang dana kampanye melalui situs-situs dan blog-blog pribadi mereka. Melalui situs ini pula Obama menyebarkan video-video pidato politiknya kepada jutaan pemilih Amerika melalui YouTube atau mendistribusikannya secara mobile ke jutaan pengguna Blackberry atau iPhone.</p>
<p>Fantastis!!! Melalui situs ini Obama mampu mengumpulkan hampir semiliar dolar dari jutaan donatur ”gurem” yang bisa menyumbang hanya 5 dolar per-orangnya (wow&#8230; ini namanya ”<strong>grass-root marketing</strong>”). Yang lebih fantastis lagi, mengikuti formula E = wMC2, Obama mampu menghimpun komunitas jutaan simpatisan yang dengan sukarela menyebarkan word of mouth yang ampuh menggigit. Dengan sukarela para simpatisan ini membentuk komunitas-komunitas ssimpatisan lagi melalui blog-blog atau account mereka di Facebook, MySpace, Digg, Deli.cio.us, atau Twitter, dan dengan semangat empat-lima mereka ”menjual” Obama ke jutaan pemilih Amerika.</p>
<p>Obama juga hadir langsung di situs-situs jejaring sosial di atas untuk mengabarkan setiap detik aktivitasnya secara transparan, berdialog dengan para calon voters secara pribadi, menyebar video pidatonya, dan mendorong simpatisan mengumpulkan dana secara online. Sampai akhir Oktober sebelum detik-detik pemilihan, Obama memiliki lebih dari 1,7 juta sahabat di Facebook, 510.000 teman di MySpace, dan lebih dari 45.000 pengikut di Twitter. Sebaliknya, McCain punya 309.000 teman di Facebook dan 88.000 di MySpace.</p>
<p>Tidak seperti pesaingnya, McCain, Obama menulis email pribadinya dan menciptakan video-video eksklusif untuk para pendukung. Tujuannya jelas agar dia bisa berintim-intim ria dengan para pendukungnya. Harap Anda tahu, pidato kemenangan Obama di Chicago minggu lalu sampai tulisan ini dibikin Minggu siang 9 November 208, sudah mencapai 2.927.355 penonton. Sebuah Angka yang fantastis dan bersejarah.</p>
<p>Singkatnya saya ingin mengatakan, kemenangan Obama tidak terlepas dari dua juta simpatisan online yang bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye. Persis sesuai dengan rumus ampuh E = wMC2, kunci kemenangan Obama terletak pada, pertama, kemampuannya membangun komunitas simpatisan yang fanatik melalui media jejaring sosial. Kedua, mendorong para simpatisan fanatik tersebut untuk ”menjual” Obama kepada jutaan pemilih Amerika dengan menyebarkan word of mouth dan referal.</p>
<p>Sebut saja keajaiban Obama menerapkan rumus E = wMC2 itu dengan istilah seksi ”<strong>Facebook Effect</strong>”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/11/09/obama-dan-facebook-effect/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minsky, Krisis Keuangan Global, dan Syariah</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/10/19/minsky-krisis-keuangan-global-dan-syariah/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/10/19/minsky-krisis-keuangan-global-dan-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 17:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Yuswohady Book Club]]></category>
		<category><![CDATA[financial crisis]]></category>
		<category><![CDATA[minsky]]></category>
		<category><![CDATA[sharia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F10%252F19%252Fminsky-krisis-keuangan-global-dan-syariah%252F&title=Minsky%2C+Krisis+Keuangan+Global%2C+dan+Syariah&desc=Hyman+Minsky+%281919-1996%29+benar+adanya.+Bahwa%2C+instabilitas+finansial+%28baca%3A+krisis+finansial%29+sebenarnya+berasal+dari+dalam+dirinya+sendiri+%28endogenous%29+dan+bukan+dari+luar+%28exogenous%29.+Krisis+finansi&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Hyman Minsky (1919-1996) benar adanya. Bahwa, instabilitas finansial (baca: krisis finansial) sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogenous) dan bukan dari luar (exogenous). Krisis finansial yang dipicu kejatuhan Lehman Brothers di AS secara intrinsik bukanlah diakibatkan oleh perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena “sifat alamiahnya” yang spekulatif.
Pemikiran Prof. Minsky [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F10%252F19%252Fminsky-krisis-keuangan-global-dan-syariah%252F&title=Minsky%2C+Krisis+Keuangan+Global%2C+dan+Syariah&desc=Hyman+Minsky+%281919-1996%29+benar+adanya.+Bahwa%2C+instabilitas+finansial+%28baca%3A+krisis+finansial%29+sebenarnya+berasal+dari+dalam+dirinya+sendiri+%28endogenous%29+dan+bukan+dari+luar+%28exogenous%29.+Krisis+finansi&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p><strong>Hyman Minsky</strong> (1919-1996) benar adanya. Bahwa, instabilitas finansial (baca: krisis finansial) sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogenous) dan bukan dari luar (exogenous). Krisis finansial yang dipicu kejatuhan Lehman Brothers di AS secara intrinsik bukanlah diakibatkan oleh perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena “sifat alamiahnya” yang spekulatif.</p>
<div id="attachment_331" class="wp-caption alignleft" style="width: 251px"><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/10/minskys-book-cover1.jpg"><img class="size-medium wp-image-331" title="minskys book cover" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2008/10/minskys-book-cover1.jpg" alt="Minsky's book" width="241" height="363" /></a><p class="wp-caption-text">Minsky&#39;s book</p></div>
<p>Pemikiran Prof. Minsky yang dituangkan dalam bukunya tahun 1986, <strong>Stabilizing An Unstable Economy</strong>, itu populer kembali (tahun 2008 ini diterbitkan ulang) karena relevan menjelaskan krisis keuangan global saat ini. Pemikiran Minsky relevan karena arus pemikiran utama (mainstream) yang berlaku hingga detik ini selalu menganggap bahwa sifat instabilitas sektor finansial bersumber dari faktor-faktor di luar sektor tersebut. Padahal sesungguhnya instabilitas dan ketidakmenentuan sektor keuangan disebabkan oleh perilaku dasar para pemain di pasar yang spekulatif.</p>
<p>Terus terang, membaca pendapat ekonom Washington University itu saya jadi miris. Saya jadi teringat kasus corporate fraud 6-7 tahun lalu yang menenggelamkan perusahaan-perusahaan raksasa macam Enron dan Worldcom. Akar masalah dari kasus tersebut adalah ketamakan para eksekutif perusahaan-perusahaan tersebut untuk meraup fulus sebesar mungkin melalui insider trading yang mereka lakukan.</p>
<p>Mereka menggoreng dan mengarang cerita mengenai kehebatan perusahaan-perusahaan mereka kepada investor, investor kepincut, harga saham melambung, dan saham (dari stock option) mereka lepas ketika harga sedang gila-gilaan. Karena jeroan dan fundamental perusahaan kosong melompong, maka serta-merta harga saham pun jatuh. Karena stock option di-exercise ketika harga di puncak-puncaknya, mereka pun untung besar. Majalah Fortune mencatat, transaksi stock option yang dilakukan oleh para eksekutif tersebut mencapai angka $66 miliar. Uang segedhe itu semua masuk ke kantong pribadi.<span id="more-329"></span></p>
<p>Walaupun dengan modus operandi yang berbeda, akar masalah dari krisis keuangan global saat ini persis sama dengan kasus fraud tahun 2001, yaitu ketamakan para eksekutif perusahaan. Kalau dulu eksekutif Enron dan Worldcom, maka kini sumber petaka itu adalah para eksekutif perusahaan keuangan besar macam Lehman Brothers, Merrill Lynch, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Lehman Brothers atau Bear Stearns.</p>
<p>Tiap tahun mereka mendapatkan gaji bukan main gedhe-nya, hingga $2 miliar atau Rp 18 triliun per kepala, karena dinilai mampu melakukan leverage alias ”membiakkan” uang melalui beragam instrumen pasar modal yang beresiko tinggi. Celakanya, pembiakan uang itu tak selalu dikaitkan dengan kinerja fundamental perusahaan. Itu sebabnya nilai uang hasil pembiakan tersebut adalah semu layaknya balon yang kosong melompong. Namanya saja balon, makin ditiup, makin menggelembung, tapi ujung-ujungnya akan meletus. Aksi pembiakan uang melalui leverage itu pun setali tiga uang: semakin di-leverage, semakin menggelembung, tapi ujung-ujungnya akan meletus. Dan seperti kita lihat bubble di sektor keuangan global itu kini telah betul-betul meletus, dan berujung krisis seperti yang kita alami saat ini.</p>
<p>Diinspirasi pemikiran Minsky, saya mencoba menarik pelajaran dari dua krisis itu secara helocopter view, secara holistik, mungkin filosofis. Sesungguhnya krisis itu bermuara pada ide dasar (baca: ”roh”) ajaran kapitalisme yaitu <strong>KERAKUSAN</strong> umat manusia. Dalam sistem kapitalisme ”greedy is good”. ”Tamak dan serakahnya manusia adalah sebagus-bagusnya mahluk”. Orang dipacu berkompetisi untuk mengumpulkan kekayaan, kalau perlu dengan membenamkan dan menghancurkan sesama. Orang diumbar hawa nafsunya untuk menumpuk fulus tanpa ada batasnya: ”Sky is the limit!!!” Orang dipacu inovasi dan kreativitasnya agar mencapai value creation, istilah santun dari ”memperkaya diri dan mengembang-biakan duit”.</p>
<p>Kesimpulan akhir saya: bail-out pemerintah, pembentukan BPPN, kebijakan fiskal-moneter, pengaturan pasar modal/uang, pengaturan gaji eksekutif, semuanya tak akan menyelesaikan masalah. Kenapa? Karena semua aksi itu tidak mengobati sumber penyakitnya. Sumber penyakit bukan terletak di dalam krisis keuangan itu, tapi jauh lebih dalam, jauh lebih fundamental, dan jauh lebih struktural lagi, terletak pada sistem ekonomi kapitalisme yang kita anut. Menjadi keniscayaan bahwa krisis seperti yang kita alami sekarang ini bakal terulang 1001 kali lagi di masa depan, sejauh kita masih menganut sistem ekonomi yang memegang teguh prinsip ”greedy is good”; sejauh pelaku pasar dibentuk menjadi economic animal yang rakus tak ketulungan; sejauh orang dipacu untuk menimbun uang tanpa ada batasnya.</p>
<p>Mendapati gambaran masa depan yang muram semacam itu, saya jadi terusik oleh sebuah acara dialog ekonomi dari sebuah stasiun televisi ibu kota beberapa waktu lalu. Dialog tersebut membahas fenomena maraknya bisnis syariah di Indonesia. Kenapa marak? Terungkap dalam dialog tersebut, salah satu sebabnya karena pelaku ekonomi mulai concern bahwa praktek bisnis yang mereka lakukan benar menurut ajaran Islam. Alih-alih menjadi economic animal, secara sistematis mereka mulai menjalankan etika dan praktek bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.</p>
<p>Sampai ke titik ini saya tersadar, bahwa aturan secanggih apapun di Wall Street tak akan bakal mampu ”menjinakkan” sifat tamak dan rakus para pelaku pasar. Diperlukan aturan yang jauh lebih ”holistik” untuk menuntun para pelaku ekonomi menjadi lebih manusiawi, beradab, berempati, bernurani. Dalam konteks inilah saya berpendapat bahwa spiritualitas dan prinsip-prinsip agama bisa memainkan peran krusialnya dalam membawa pebisnis menjadi manusia seutuhnya.</p>
<p>Dalam konteks Islam misalnya, saya melihat bahwa prinsip-prinsip ajaran Islam mampu menjadi inspirasi dan guiding principles yang ampuh bagi para pelaku bisnis syariah untuk lebih bernurani, beradab, berempati kepada sesama, dan lebih manusiawi dalam berbisnis. Prinsip-prinsip ajaran Islam mampu membawa pebisnis syariah menjadi manusia seutuhnya, bukan terreduksi hanya sekedar menjadi economic animal seperti eksekutif Lehman Brothers cs. atau pelaku pasar di Wall Street.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/10/19/minsky-krisis-keuangan-global-dan-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketing Plan 2009: &#8220;Year of Living Dangerously&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/10/12/marketing-plan-2009-year-of-living-dengerously/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/10/12/marketing-plan-2009-year-of-living-dengerously/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 12:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing Plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F10%252F12%252Fmarketing-plan-2009-year-of-living-dengerously%252F&title=Marketing+Plan+2009%3A+%22Year+of+Living+Dangerously%22&desc=Minggu-minggu+terakhir+ini+pasti+Anda+para+marketer+sedang+sibuk-sibuknya+mempersiapkan+budget+dan+menyusun+marketing+plan+%28MP%29+2009.+Penyusunan+MP+kali+ini+%E2%80%9Cspesial%E2%80%9D+karena+kita+tahu+kondisi+bisn&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Minggu-minggu terakhir ini pasti Anda para marketer sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan budget dan menyusun marketing plan (MP) 2009. Penyusunan MP kali ini “spesial” karena kita tahu kondisi bisnis makro yang sedang kita hadapi kali ini tidak lazim dan tidak normal menyusul terjadinya krisis di seluruh dunia. Penyusunan MP kali ini semakin spesial dan kian challenging karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F10%252F12%252Fmarketing-plan-2009-year-of-living-dengerously%252F&title=Marketing+Plan+2009%3A+%22Year+of+Living+Dangerously%22&desc=Minggu-minggu+terakhir+ini+pasti+Anda+para+marketer+sedang+sibuk-sibuknya+mempersiapkan+budget+dan+menyusun+marketing+plan+%28MP%29+2009.+Penyusunan+MP+kali+ini+%E2%80%9Cspesial%E2%80%9D+karena+kita+tahu+kondisi+bisn&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Minggu-minggu terakhir ini pasti Anda para marketer sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan budget dan menyusun marketing plan (MP) 2009. Penyusunan MP kali ini “spesial” karena kita tahu kondisi bisnis makro yang sedang kita hadapi kali ini tidak lazim dan tidak normal menyusul terjadinya krisis di seluruh dunia. Penyusunan MP kali ini semakin spesial dan kian challenging karena tahun depan kita punya gawe besar Pemilu, di mana berbagai kemungkinan ketidakmenentuan politik bisa terjadi.</p>
<p>Karena berbagai keadaan tak menentu tersebut, maka lengkaplah kita menyebut tahun 2009 sebagai tahun penuh ranjau, tahun penuh tantangan, tahun penuh ketidakmenentuan, tahun penuh gonjang-ganjing. Karena itu tak salah kalau tulisan ini saya beri sub-judul “<strong>year of living dangerously</strong>”, karena tahun depan adalah tahun gawat, tahun di mana marketer bakal banyak nyrempet-nyerempet bahaya.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah dengan demikian para marketer kemudian pesimis, diam saja menunggu kondisi membaik, dan loyo menghadapi terpaan krisis? Absolutely not!!! Justru dalam kondisi darurat seperti ini Anda harus 150% lebih waspada, 150% lebih kreatif, 150% lebih ngotot, 150% lebih smart, dan 150% lebih tahan banting. Hanya dengan begitu Anda bisa survive melalui tahun berat 2009. Ingat, pada saat krisis 1998, kita menyasikan beberapa smart player justru melesat di tengah kebanyakan pemain lain yang rontok, hancur-berguguran. Adhira Finance misalnya, justru meroket selama dan setelah krisis, karena kejeliannya membangun strategi dengan menggeser portofolio pembiayaannya dari mobil ke motor.</p>
<p>Saya punya lima tips yang mungkin bisa membantu Anda dalam merancang MP untuk menyiasati tahun 2009 yang penuh onak dan duri. Coba kita simak satu-satu.</p>
<p><strong>Tips #1: Think Strategically</strong>. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat kondisi normal, MP Anda kali ini harus lebih strategis (tak sekedar taktikal) dan berdimensi jangka panjang tiga bahkan lima tahun ke depan. MP Anda juga harus fokus mencari sumber-sumber daya saing baru untuk bisa memenangkan kompetisi di industry’s rule of the game yang baru. Harus diingat, biasanya kondisi krisis yang begitu dalam seperti yang akan kita alamai ini menghasilkan industry’s rule of the game baru yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan rule of the game yang berlaku sebelumnya.  Kejelian Anda menemukan sumber-sumber daya saing baru akan memungkinkan Anda memenangkan bahkan mengunci persaingan di lingkungan bisnis yang baru. <span id="more-312"></span></p>
<p><strong>Tips #2: Outlook Is the Key</strong>. Saya selalu mengatakan bahwa tinjauan (outlook) terhadap lingkungan bisnis makro (mencakup tinjauan terhadapa perubahan ekonomi, politik, sosial-budaya, pasar, peta kompetisi, juga perubahan konsumen) merupakan proses penting pertama yang harus Anda lakukan dalam menyusun sebuah MP. Bahkan saya berani bilang, “haram” hukumnya, anda menyusun MP tanpa melakukan tinjauan lingkungan bisnis. Tinjauan lingkungan bisnis ini menjadi kian penting di saat-saat kondisi lingkungan bisnis sedang bergolak tidak lazim seperti sekarang ini. Karena itu Anda bersama tim harus mengalokasikan waktu cukup banyak untuk mengkaji dan mengevaluasi berbagai perkembangan lingkungan bisnis sebelum Anda merumuskan strategi, taktik, dan program. Janganlah tergesa-tergesa merumuskan strategi sebelum Anda tahu betul prahara macam apa yang bakal Anda hadapi. Anda harus yakin dan paham apa saja ancaman yang bakal Anda hadapi; apa saja peluang yang bisa diambil; dan Anda harus bisa mengukur kekuatan dan kelemahan internal.</p>
<p><strong>Tips #3: Clear Direction – Built Scenario</strong>. Begitu bail-out pemerintah Bush sebesar 700 miliar dolar gagal meyakinkan para pelaku pasar modal di seluruh dunia, kini para pelaku ekonomi dihinggapi rasa kalut dan panik dalam merespons berbagai ketidakmenentuan yang terjadi. Di tengah kondisi gonjang-ganjing seperti ini, kalau Anda kalut dan panik, pasti kondisinya akan makin buruk. Melalui rumusan MP, mestinya Anda bisa secara jernih membaca keadaan yang terjadi, dan dari situ dengan jernih pula, Anda merumuskan strategi antisipasi. Saya tahu bahwa dalam kondisi gonjang-ganjing tak menentu seperti sekarang ini tak mudah menyusun strategi yang solid. Karena itu ada baiknya Anda menyusun skenario-skenario (plan A, plan B, Plan C) dalam merespons keadaan yang bakal terjadi. Ingat, dalam kondisi seperti sekarang ini tim Anda membutuhkan direction yang jelas untuk bisa melangkah secara mantap dan konfiden.</p>
<p><strong>Tips #4: Be Creative – Focused on Strength and Opportunity</strong>. Karena kondisinya serba sulit, maka wajar saja jika Anda harus 150% lebih kreatif dalam merancang strategi pemasaran tahun 2009. Saya yakin, kombinasi antara ketajaman melakukan outlook dan kreativitas dalam merancang strategi akan menjadi paspor kesuksesan Anda melampaui tahun 2009 dengan sukses. Satu hal lagi perlu diingat, dalam berkreasi membangun strategi dan taktik sejauh mungkin Anda fokus pada peluang (opportunity) yang muncul di pasar di satu sisi, dan kekuatan (strength) yang Anda miliki di sisi lain. Ini bukan berarti kemudian Anda melupakan sama sekali ancaman (threat) dan kelemahan (weakness) yang Anda miliki.</p>
<p><strong>Tips #4: Minimize Risk – “Low Budget High Impact” Program</strong>. Kalau outlook dan creative strategy sudah mampu Anda bangun, maka kini sampai gilirannya Anda merancang dan mengeksekusi taktik dan program pemasaran. Sekali lagi karena kondisi semasa krisis ini serba tidak menentu, maka pilihan yang Anda ambil harus sejauh mungkin meminimalisir resiko (minimize risk) dengan melakukan penghematan dan pengeluaran-pengeluaran yang bijak. Setiap rupiah uang yang Anda keluarkan haruslah menghasilkan dampak yang siknifikan. Dengan kata lain, program-program yang Anda luncurkan haruslah low budget, high impact.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/10/12/marketing-plan-2009-year-of-living-dengerously/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Iklan Adalah Perbuatan!!!&#8221; Catatan Kecil Untuk Iklan Politik Soetrisno Bachir</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/28/iklan-adalah-perbuatan-catatan-kecil-untuk-iklan-politik-soetrisno-bachir/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/28/iklan-adalah-perbuatan-catatan-kecil-untuk-iklan-politik-soetrisno-bachir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 17:20:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Political Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[iklan soetrisno bachir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F28%252Fiklan-adalah-perbuatan-catatan-kecil-untuk-iklan-politik-soetrisno-bachir%252F&title=%22Iklan+Adalah+Perbuatan%21%21%21%22+Catatan+Kecil+Untuk+Iklan+Politik+Soetrisno+Bachir&desc=Saya+punya+prinsip+yang+mirip-mirip+Pak+Soetrisno+Bachir%2C+Ketua+Umum+Partai+Amanat+Nasional+%28PAN%29+yang+kini+menjadi+selebritis+karena+iklan-iklan+simpatiknya.+Kalau+Pak+Soetrisno+berprinsip+bahwa+%E2%80%9CH&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Saya punya prinsip yang mirip-mirip Pak Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi selebritis karena iklan-iklan simpatiknya. Kalau Pak Soetrisno berprinsip bahwa “Hidup Adalah Perbuatan”, saya punya prinsip “Iklan adalah Perbuatan”. Saya berprinsip, iklan bukanlah sekedar pencitraan. Dosa besar kalau iklan direduksi hanya sekedar pencitraan. Kalau sekedar pencitraan, bisa dong onggokan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F28%252Fiklan-adalah-perbuatan-catatan-kecil-untuk-iklan-politik-soetrisno-bachir%252F&title=%22Iklan+Adalah+Perbuatan%21%21%21%22+Catatan+Kecil+Untuk+Iklan+Politik+Soetrisno+Bachir&desc=Saya+punya+prinsip+yang+mirip-mirip+Pak+Soetrisno+Bachir%2C+Ketua+Umum+Partai+Amanat+Nasional+%28PAN%29+yang+kini+menjadi+selebritis+karena+iklan-iklan+simpatiknya.+Kalau+Pak+Soetrisno+berprinsip+bahwa+%E2%80%9CH&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Saya punya prinsip yang mirip-mirip Pak <strong>Soetrisno Bachir</strong>, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi selebritis karena iklan-iklan simpatiknya. Kalau Pak Soetrisno berprinsip bahwa “Hidup Adalah Perbuatan”, saya punya prinsip “Iklan adalah Perbuatan”. Saya berprinsip, iklan bukanlah sekedar pencitraan. Dosa besar kalau iklan direduksi hanya sekedar pencitraan. Kalau sekedar pencitraan, bisa dong onggokan sampah dicitrakan (baca: “disulap”) menjadi gemerlap berlian? Atau, boleh dong tikus got dicitrakan menjadi cendrawasih yang bulunya penuh kemilau.</p>
<p>Alih-alih sebagai alat pencitraan, saya menganggap iklan sebagai media untuk mengomunikasikan “perbuatan-perbuatan” si pemasang iklan: bisa produk, perusahaan, atau orang yang sedang ikut Pilkada misalnya. Kalau “perbuatan-perbuatan” si pengiklan baik, tentu iklannya boleh bilang ke khalayak hal yang baik. Tapi kalau sebaliknya, “perbuatan-perbuatan” si pengiklan penuh kenistaan dan kotor berlumur darah, apakah kemudian ia boleh bilang ke khalayak mengenai kesucian, keindahan, kecantikan? Tegas saya bilang: <strong>TIDAK!!!</strong><span id="more-255"></span></p>
<p>Iklan bukanlah pupur yang menutupi “perbuatan” bopeng-bopeng menjadi “perbuatan” mulus kinclong, layaknya muka Sandra Dewi. Iklan bagi saya adalah kejujuran. Iklan adalah ketika nurani berbicara: tanpa kosmetik, tanpa topeng, tanpa pupur.</p>
<p>Dji Sam Soe, rokok legendaris bikinan HM Sampoerna, tak pernah mengiklankan diri selama 80 tahun lebih. Rokok ini beriklan pertama kali tahun 1996 sementara ia dibikin dan beredar di pasar tahun 1913. Bagaimana Dji Sam Soe mengomunikasikan kehebatannya kepada konsumen? Melalui word of mouth: Orang merasakan dan menikmati kehebatan rasa Dji Sam Soe, lalu ngomong ke konsumen lain. Omongannya pasti 100% jujur karena tak sepeserpun ia di bayar Dji Sam Soe. Jadi, Dji Sam Soe beriklan mengomunikasikan kehebatan dirinya setelah 80 tahun “berbuat” dan mendapatkan pengakuan dari konsumennya.</p>
<p>Karena itu, bagi saya iklan begitu sarat dengan pertanyaan-pertanyaan “eksistensialis” khas Chairil Anwar. Hanya jika Anda sudah “berbuat” maka Anda boleh beriklan. Dengan begitu, “berbuat” menjadi semacam “reason for being” bagi para pengiklan. Kalau “perbuatan” Anda baik, maka isi iklan Anda akan baik. Sebaliknya, kalau ”perbuatan” Anda buruk, maka isi iklan Anda pun akan buruk. ”Perbuatan” Anda akan mewarnai iklan Anda.</p>
<p>Untuk menutup tulisan singkat ini saya punya cerita sedikit mengenai <strong>Bung Karno</strong>. Bung Karno tidak pernah mengiklankan dirinya sepanjang hidup. Wajar saja, karena sepanjang hidupnya, beliau memang tidak begitu mengenal tetek-bengek dunia periklanan. Tapi poinnya bukan di situ. Poin saya adalah, tanpa iklan beliau mampu menjadi bapak bangsa yang begitu disegani, dihormati, disanjung dan dicintai. Namanya begitu harum berkilau, namanya dikenang seluruh generasi bangsa ini sampai akhir jaman.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Karena Bung Karno ”mengiklankan” diri melalui ”perbuatan-perbuatan”-nya. ”Perbuatan” beliau yang begitu keras menentang penindasan penjajah; ”perbuatan” beliau yang begitu kukuh di meja-meja perundingan untuk memerdekakan negeri ini; ”perbuatan” beliau yang tegar memikirkan masa depan negeri ini di balik terali besi pengasingan. Bung Karno ”beriklan” melalui begitu banyak ”perbuatan” yang sudah dikontribusikannya kepada negeri ini.</p>
<p><strong>Mahatma Gandi</strong>,<strong> Aung San Suu Kyi</strong>, <strong>Nelson Mandela</strong>,<strong> Ibu Theresia</strong>, melakukan hal yang persis dilakukan Bung Karno. Mereka menjadi pemimpin besar sepanjang masa karena ”mengiklankan” diri melalui ”perbuatan besar” mereka.</p>
<p>”Iklan Adalah Perbuatan.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/28/iklan-adalah-perbuatan-catatan-kecil-untuk-iklan-politik-soetrisno-bachir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketing adalah &#8220;Al Amin&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/15/marketing-adalah-al-amin/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/15/marketing-adalah-al-amin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 07:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F15%252Fmarketing-adalah-al-amin%252F&title=Marketing+adalah+%22Al+Amin%22&desc=Puasa+hari+kedua+lalu+saya+diundang+berbicara+di+Allianz+Syariah+Motivational+Seminar+di+Jakarta.+Saya+membawakan+topik+yang+nyambung+dengan+tema+bulan+Ramadhan+yaitu+Spiritualizing+Marketing.+Di+situ&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Puasa hari kedua lalu saya diundang berbicara di Allianz Syariah Motivational Seminar di Jakarta. Saya membawakan topik yang nyambung dengan tema bulan Ramadhan yaitu Spiritualizing Marketing. Di situ saya bilang bahwa “roh” dari marketing adalah Al Amin. Seperti halnya Nabi Muhammad, seorang marketer haruslah dapat dipercaya oleh pelanggan saat memasarkan produknya. Harus sesuai apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F15%252Fmarketing-adalah-al-amin%252F&title=Marketing+adalah+%22Al+Amin%22&desc=Puasa+hari+kedua+lalu+saya+diundang+berbicara+di+Allianz+Syariah+Motivational+Seminar+di+Jakarta.+Saya+membawakan+topik+yang+nyambung+dengan+tema+bulan+Ramadhan+yaitu+Spiritualizing+Marketing.+Di+situ&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Puasa hari kedua lalu saya diundang berbicara di Allianz Syariah Motivational Seminar di Jakarta. Saya membawakan topik yang nyambung dengan tema bulan Ramadhan yaitu <strong>Spiritualizing Marketing</strong>. Di situ saya bilang bahwa “roh” dari marketing adalah <strong>Al Amin</strong>. Seperti halnya Nabi Muhammad, seorang marketer haruslah dapat dipercaya oleh pelanggan saat memasarkan produknya. Harus sesuai apa yang diomongkan dengan apa yang diberikan ke pelanggan, tidak boleh over promise under deliver. Marketer harus jujur sejujur Nabi, tak boleh sekalipun membohongi pelanggan dengan kata-kata yang manis nan indah. <span id="more-209"></span></p>
<p>Ingat, Nabi adalah pedagang yang jujur bukan main, itu sebabnya ia dicintai pelanggan dan bosnya yang kemudian menjadi istrinya. Nabi adalah sosok marketer sejati. Ketika dia mengetahui barang dagangannya ada yang busuk, maka barang busuk itu beliau taruh di depan agar pelanggan tahu, bukannya disembunyikan untuk mengelabuhi pelanggan. Karena itu saya katakan bahwa Nabi adalah role model paling sempurna bagi seorang marketer. Marketer haruslah Al Amin seperti halnya Nabi.</p>
<p>Dalam seminar tersebut juga saya katakan bahwa Al Amin bisa menjadi pondasi bisnis yang sangat ampuh. Sebesar dan sesolid apapapun bisnis yang Anda bangun, selama pondasinya dibangun atas prinsip-prinsip ketidakjujuran, kelicikan, KKN, pat gulipat, tipu daya, mark-up dan keculasan, maka cepat atau lambat bisnis tersebut akan runtuh. Runtuhnya bisnis akan dimulai dengan rontoknya kredibilitas dan reputasi bisnis. Dan ketika kredibilitas sudah habis, maka seperti layaknya orang yang sekarat kehabisan darah, bisnis itu layu dan kemudian mati ditelan jaman.</p>
<p>Berdasarkan kenyataan pahit tersebut, saya semakin yakin bahwa marketing haruslah betul-betul mendasarkan prakteknya kepada prinsip-prinsip moralitas dan nurani. Saya melihat marketing haruslah bertransformasi dari level <strong>intellectual quotient </strong>(IQ) ke <strong>emotional quotient</strong> (EQ) dan akhirnya memasuki level yang paling tinggi yaitu <strong>spiritual quotient</strong> (SQ).</p>
<p>Di level intelektual, marketer menyikapi marketing secara fungsional-teknikal menggunakan scientific marketing approach dengan tool-tool-nya yang saat ini demikian popular seperti: segmentasi-targeting, positioning, branding, dan sebagainya. Di level ini memang marketing menjadi seperti “robot” dengan mengandalkan kekuatan logika dan konsep-konsep keilmuan.</p>
<p>Di level emosional kemampuan si marketer dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting. Di sini pelanggan dilihat sebagai manusia seutuhnya lengkap dengan emosi dan perasaannya. Kalau di level intelektual otak kiri si marketer paling berperan, maka di level emosional, otak kanan lah yang lebih dominan. Kalau di level intelektual saya menggambarkan marketing layaknya sebuah “robot”, maka di level emosional marketing menjadi seperti “manusia” yang berperasaan dan empatetik.</p>
<p>Lalu bagaimana di level spiritual? Di level ini marketing sudah disikapi sebagai “bisikan nurani” dan “panggilan jiwa”. Di sini marketing dimaknai sebagai Al Amin. Praktek marketing dikembalikan kepada fungsinya yang hakiki dan dijalankan dengan landasan moralitas yang kental. Seperti telah saya uraikan di depan, prinsip-prinsip kejujuran, empati, dan kepedulian sesama, dan cinta mendominasi sikap dan tingkah laku si marketer.</p>
<p>Kalau di level intelektual bahasa yang Anda gunakan adalah “bahasa logika”, maka di level spiritual Anda harus menggunakan “bahasa hati”, “bahas nurani”. Kata hati yang paling dalam dan nurani Anda adalah “lentera penerang” yang akan menunjukkan ke arah mana Anda akan menuju dan bersikap. Nurani adalah “senjata pamungkas” Anda untuk memenangkan persaingan; kejujuran adalah core differentiation Anda; dan kasih kepada sesama adalah komponen utama daya saing perusahaan Anda. Dari sini menjadi jelas bahwa, SQ telah memberikan “roh” kepada praktek marketing.</p>
<p>Marketing bukanlah upaya mengejar keuntungan sepihak secara membabi-buta. Marketing bukanlah tipu muslihat. Marketing adalah aktivitas penciptaan nilai (value-creating activities) yang memungkinkan berbagai pihak yang menjadi pelakunya bertumbuh dan mendayagunakan kemanfaatan. Marketing haruslah dilandasi kejujuran, keadilan, keterbukaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Sekali lagi: marketing adalah Al Amin.</p>
<p>Marketing telah menjadi rahmat bagi dunia agar orang-orang mendapatkan produk-produk terbaik dan bisa memilih di antaranya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan mengkonsumsi produk terbaik dan harga yang sesuai, orang akan benar-benar memperoleh manfaat dan menjadikan hidup mereka lebih baik. Alangkah indahnya marketing jika ia disikapi sebagai sebuah gerakan hati yang peduli. Kepedulian pada kebaikan dan kemanfaatan sesama. Marketing begitu indah jika disikapi sebagai sebuah kepercayaan; sebagai gerakan Al Amin.</p>
<p>Pesan terakhir saya singkat: praktekanlah marketing yang Al Amin!***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/15/marketing-adalah-al-amin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasarkan Jazz</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/10/memasarkan-jazz/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/10/memasarkan-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 09:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F10%252Fmemasarkan-jazz%252F&title=Memasarkan+Jazz&desc=Tiga+hari+berturut-turut+Jumat%2C+Sabtu%2C+Minggu+lalu+event+akbar+Java+Jazz+untuk+keempat+kalinya+digelar.+Untuk+sebuah+festival+Jazz+yang+belum+genap+lima+tahun+%28bandingkan+dengan+North+Sea+Jazz+Festiva&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Tiga hari berturut-turut Jumat, Sabtu, Minggu lalu event akbar Java Jazz untuk keempat kalinya digelar. Untuk sebuah festival Jazz yang belum genap lima tahun (bandingkan dengan North Sea Jazz Festival yang berusia 32 tahun, atau bahkan Newport Jazz Festival yang berusia 54 tahun), Java Jazz bisa dibilang sukses luar biasa. Tahun lalu event ini mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F10%252Fmemasarkan-jazz%252F&title=Memasarkan+Jazz&desc=Tiga+hari+berturut-turut+Jumat%2C+Sabtu%2C+Minggu+lalu+event+akbar+Java+Jazz+untuk+keempat+kalinya+digelar.+Untuk+sebuah+festival+Jazz+yang+belum+genap+lima+tahun+%28bandingkan+dengan+North+Sea+Jazz+Festiva&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Tiga hari berturut-turut Jumat, Sabtu, Minggu lalu event akbar Java Jazz untuk keempat kalinya digelar. Untuk sebuah festival Jazz yang belum genap lima tahun (bandingkan dengan North Sea Jazz Festival yang berusia 32 tahun, atau bahkan Newport Jazz Festival yang berusia 54 tahun), Java Jazz bisa dibilang sukses luar biasa. Tahun lalu event ini mampu menggaet sekitar 1300 artis dalam/luar negeri dan menjadi magnet bagi tak kurang dari 65 ribu pengunjung. Tahun ini angka-angka itu bakal lebih fantastis lagi. Karena sukses tersebut, tak heran jika Tim Hauser, dedengkot kelompok vokal The Manhatan Transfer, penampil utama Java Jazz tahun ini menempatkan event ini sebagai “one of the largest jazz festivals in the world.”</p>
<p>Sebagai sebuah brand, ekuitasnya terus terkerek naik. Awarenss-nya sangat tinggi tak hanya bagi pecinta jazz tapi juga pecinta musik pop yang “snop” menggemari jazz. Basis loyalitas penggemarnya juga mulai kokoh terbentuk. Dengan loyal customers yang kuat ini pemasaran mulut ke mulut (word of mouth) ke kalangan penggemar musik yang lebih luas juga mulai gampang menyebar. Dengan kondisi semacam ini maka, “masa-masa kritis” membangun merek kini telah terlampaui, dan saya kira tahun-tahun berikutnya Java Jazz akan menikmati “masa panen” sebagai buah dari ekuitas merek yang telah kokoh terbentuk.<br />
Berikut ini adalah lessons-learned yang menurut saya bagus diambil dari upaya Java Jazz memasarkan jazz di Indonesia.</p>
<p><strong>Integrated 4P</strong>. Di pemasaran kita mengenal konsep 4P: product, price, place, promotion. Java Jazz saya kira mampu mengintegrasikan keempat komponen pokok pemasaran ini secara solid. Dari sisi product tentu saja komposisi artis yang dari tahun ke tahun mampu menampilkan artis-artis papan atas dunia. Secara pricing, Java Jazz cukup jeli menggunakan pendekatan segment pricing, yaitu menetapkan harga yang sesuai dengan core customer-nya. Dari sisi place, pemilihan lokasi JCC yang aksesibel bagi warga Jakarta dan begitu gampangnya penggemar jazz mendapatkan tiket baik secara off-line maupun on-line. Terakhir, dari sisi promotion, Java Jazz melakukan kampanye promosi praktis sepanjang tahun baik above the line maupun bellow the line, baik on-line maupun off-line promotion.</p>
<p><strong>Creative Segmentation</strong>. Saya melihat sukses Java Jazz ditentukan oleh kejeliannya menangkap aspirasi core customers-nya. Siapa core customer Java Jazz. Walaupun belum pernah melakukan survei pelanggan, saya meyakini sebagian besar penonton Java Jazz adalah orang-orang yang awam jazz, tapi ingin dipandang sebagai penggemar jazz. Kenapa begitu? Karena jazz memiliki asosiasi yang bagus di Indonesia: citra Amerika, identik dengan kalangan atas (baik ekonomi maupun tingkat pendidikan), keren, cool, kreatif, dan sebagainya. Segmen pasar yang “peduli-citra” dan berduit inilah pasar empuk yang secara fokus dibidik Java Jazz. Bagi orang-orang ini, menonton festival jazz adalah sesuatu yang keren, cool, dan mampu mendongkrak citra mereka di masyarakat, tak penting apakah mereka tahu atau tidak.</p>
<p><strong>“Loose to Win”</strong>. Terkait dengan segmentasi kreatif  di atas, strategi Java Jazz yang menurut saya cespleng dalam menggaet pengunjung adalah adalah kemampuannya meramu jazz agar sesuai dengan cita rasa core customer-nya. Caranya bagaimana? Menyajikan jazz secara ringan dan ngepop. Puncaknya saya kira tahun ini di mana panggung-panggung utama justru diisi musisi yang selama ini dikenal bukan musisi jazz seperti Bobby Caldwel, Baby Face, dan James Ingram. Bagi penggemar jazz tulen, barangkali Java Jazz tahun ini dianggap sebagai kemunduran, tapi dari sisi perolehan sponsor dan penonton justru sukses luar biasa. Dengan strategi “mengalah untuk menang” ini, Java Jazz mampu menggaet kalangan penggemar musik yang lebih luas, dan kalau penonton sudah tergaet, berikutnya sponsor pun ikut-ikutan gampang digaet. Apakah ini bagus? Bagus-bagus saja sejauh musisi-musisi hardcore jazz (swing, mainstream, cool, bebop) harus tetap dimunculkan secara proporsional. Kalau nggak bahaya, karena dalam jangka panjang ekuitas merek Java Jazz bisa hancur dan dianggap sebagai “festival jazz jazz-an” alias “festival jazz bohongan”***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/10/memasarkan-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“L-N-I” (“Lebaran-Natal-Imlek”) Marketing</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/08/%e2%80%9cl-n-i%e2%80%9d-%e2%80%9clebaran-natal-imlek%e2%80%9d-marketing/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/08/%e2%80%9cl-n-i%e2%80%9d-%e2%80%9clebaran-natal-imlek%e2%80%9d-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 05:04:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F08%252F%25E2%2580%259Cl-n-i%25E2%2580%259D-%25E2%2580%259Clebaran-natal-imlek%25E2%2580%259D-marketing%252F&title=%E2%80%9CL-N-I%E2%80%9D+%28%E2%80%9CLebaran-Natal-Imlek%E2%80%9D%29+Marketing&desc=%2A+Berikut+ini+adalah+artikel+mingguan+saya+di+harian+Jurnal+Nasional+September+2008+mengenai+pemasaran+di+masa+Lebaran%2C+Natal%2C+Imlek+%28LNI%29.%0D%0A%0D%0ASebut+saja+%E2%80%9CL-N-I%E2%80%9D+Marketing%2C+kepanjangan+dari+%E2%80%9CLeb&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>* Berikut ini adalah artikel mingguan saya di harian Jurnal Nasional September 2008 mengenai pemasaran di masa Lebaran, Natal, Imlek (LNI).
Sebut saja “L-N-I” Marketing, kepanjangan dari “Lebaran-Natal-Imlek” Marketing, untuk menandai strategi marketer dalam memanfaatkan tiga hari raya terbesar di negeri ini: Lebaran, Natal, dan Imlek. Kenapa tiga hari raya itu demikian penting bagi marketer? Ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F08%252F%25E2%2580%259Cl-n-i%25E2%2580%259D-%25E2%2580%259Clebaran-natal-imlek%25E2%2580%259D-marketing%252F&title=%E2%80%9CL-N-I%E2%80%9D+%28%E2%80%9CLebaran-Natal-Imlek%E2%80%9D%29+Marketing&desc=%2A+Berikut+ini+adalah+artikel+mingguan+saya+di+harian+Jurnal+Nasional+September+2008+mengenai+pemasaran+di+masa+Lebaran%2C+Natal%2C+Imlek+%28LNI%29.%0D%0A%0D%0ASebut+saja+%E2%80%9CL-N-I%E2%80%9D+Marketing%2C+kepanjangan+dari+%E2%80%9CLeb&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>* <em>Berikut ini adalah artikel mingguan saya di harian <strong>Jurnal Nasional </strong>September 2008 mengenai pemasaran di masa Lebaran, Natal, Imlek </em>(LNI).</p>
<p>Sebut saja <strong>“L-N-I” Marketing</strong>, kepanjangan dari “Lebaran-Natal-Imlek” Marketing, untuk menandai strategi marketer dalam memanfaatkan tiga hari raya terbesar di negeri ini: Lebaran, Natal, dan Imlek. Kenapa tiga hari raya itu demikian penting bagi marketer? Ya karena memang di tiga hari raya besar itu “atmosfernya” adalah belanja, belanja, dan belanja. Seperti kita tahu, saat Lebaran  dan Natal/Tahun Baru adalah saat jatuhnya THR dan bonus akhir tahun. Karena kantong tambah tebal, maka nafsu belanja pun tak bisa ditahan. Karena nafsu besar, maka di hari-hari istimewa ini pun mereka lebih gampang diyakinkan untuk berbelanja membeli produk Anda</p>
<p>Beragam upaya dilakukan marketer mulai dari memberi diskon gedhe-gedhean, merancang bulan promo, memberi hadiah, menggelar sayembara, mengusung pameran seperti yang terjadi di produk properti dan furnitur, sampai dengan memberi tumpangan mudik berkedok jualan. Coba saja lihat koran-koran di dua minggu masa puasa ini, hampir tiap hari didominasi oleh iklan-iklan promosi Lebaran. Pokoknya tak ada hari tanpa jualan. Inilah yang di dalam ilmu pemasaran sering disebut sebagai “seasonal marketing”</p>
<p>Tak seperti di waktu-waktu yang lalu, kini “L-N-I” Marketing menjadi kian bermakna bagi para marketer untuk mendongkrak omset. Kenapa? Karena, pertama, tiga hari besar tersebut terkumpul di ”tiga bulan emas” yaitu Oktober-Desember-Januari, sehingga program promosi bisa dilakukan sekaligus. Kedua, tiga bulan jatuhnya hari raya besar itu terjadi di akhir tahun. Itu artinya, para marketer punya ”senjata pamungkas” untuk menutup target penjualan akhir tahun. So, tak heran para marketer bakal habis-habisan mendongkrak omset di tiga bulan ke depan ini.</p>
<p>Berikut ini adalah tips-tips praktis saya agar program L-N-I Marketing Anda ampuh menghasilkan omset.<span id="more-144"></span></p>
<p><strong>Tips #1: It’s a celebration</strong>. Ingat, spirit Lebaran, Natal, dan Imlek adalah perayaan: celebration. Karena itu seringkali konsumen berbelanja bukan karena mereka butuh produk yang dibeli, tapi lebih karena ingin merayakan Lebaran, Natal, dan Imlek. Consumer want to buy because of the “celebration”. Ibu-ibu misalnya, membabi buta berbelanja di saat lebaran lebih karena ingin menyenangkan anak-anak, kakek-nenek, dan segenap handai-taulan di hari yang fitri. Sebagai marketer Anda harus jeli melihat “spirit perayaan” ini. Berdasarkan perilaku beli seperti itu coba Anda rancang program-program “L-N-I” Marketing yang pas.</p>
<p><strong>Tips #2: Not Only Discount! Be Creative!</strong> Karena kebanyakan orang membeli di hari Lebaran, Natal, dan Imlek dalam rangka memberikan hadiah dan menyenangkan orang lain, harga bukan menjadi pertimbangan utama bagi konsumen. Karena itu, sesungguhnya program diskon bisa dihindari agar profit Anda tak tergerus lebih dalam. Daripada menggelar diskon, akan lebih efektif jika Anda menciptakan program, “beli satu dapat satu lagi dengan harga separo” atau “beli satu dapat satu gratis sebagai hadiah”, atau bisa juga Anda menyisihkan sebagaian harga yang Anda tawarkan untuk kegiatan amal.</p>
<p><strong>Tips #3: Be emotional</strong>. Orang selalu menggunakan kesempatan perayaan Lebaran, Natal, Imlek untuk menyatukan dan mengakrabkan seluruh anggota keluarga. Dalam perayaan lebaran misalnya, dikenal tradisi mudik di mana anggota keluarga yang terpisah-pisah berkumpul dan saling menghapus kangen. Karena itu Lebaran menjadi sebuah momen yang sangat emosional dan punya makna dalam bagi yang merayakannya. Karena latar belakang itu, program-program L-N-I Marketing Anda haruslah dirancang seemosional mungkin hingga menyentuh lubuk hati konsumen Anda yang paling dalam.</p>
<p><strong>Tips #4: ”Timing is the key!!!”</strong> Ingat, Lebaran, Natal, dan Imlek berlangsung hanya sekali dalam setahun. Karena itu konsumen tak akan menunda keputusan untuk membeli apa-apa yang diperlukannya di hari raya. Kalau konsumen melihat momentum merupakan faktor yang penting dalam memutuskan pembelian, maka Anda sebagai marketer juga harus memiliki hal yang sama. Jadi ingat: ”Timing is the key!”</p>
<p>Empat tips di atas, adalah sebagian tips yang berguna bagi Anda para marketer dalam menghadapi “tiga bulan emas” Lebaran, Natal, Imlek tahun. Banyak tips lain yang bakal saya kupas habis-habisan dalam seminar sehari saya mengenai “L-N-I” Marketing tanggal 22 September nanti di Jakarta dan 23 September di Bandung. Karena itu, “Don’t miss those events!!!”***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/08/%e2%80%9cl-n-i%e2%80%9d-%e2%80%9clebaran-natal-imlek%e2%80%9d-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jualan di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/06/jualan-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/06/jualan-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 10:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Seasonal Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F06%252Fjualan-di-bulan-ramadhan%252F&title=Jualan+di+Bulan+Ramadhan&desc=%2A+Ini+artikel+mingguan+saya+di+harian+Jurnal+Nasional+mengenai+marketing+di+bulan+Ramadhan%2FIdhul+Fitri.%0D%0A%0D%0ADua+hari+lalu+di+sebuah+koran+besar+nasional+XL+beriklan+satu+halaman%2C+dengan+tulisan+besar-b&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>* Ini artikel mingguan saya di harian Jurnal Nasional mengenai marketing di bulan Ramadhan/Idhul Fitri.
Dua hari lalu di sebuah koran besar nasional XL beriklan satu halaman, dengan tulisan besar-besar: “Dengan luasnya jangkauan, tak pernah putus berbagi kebaikan”. Kalimat bersayap yang sengaja dipas-paskan itu adalah bunyi iklan pembuka yang menandai “perang seluler” di bulan Ramadhan ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F06%252Fjualan-di-bulan-ramadhan%252F&title=Jualan+di+Bulan+Ramadhan&desc=%2A+Ini+artikel+mingguan+saya+di+harian+Jurnal+Nasional+mengenai+marketing+di+bulan+Ramadhan%2FIdhul+Fitri.%0D%0A%0D%0ADua+hari+lalu+di+sebuah+koran+besar+nasional+XL+beriklan+satu+halaman%2C+dengan+tulisan+besar-b&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p><em>* Ini artikel mingguan saya di harian <strong>Jurnal Nasional </strong>mengenai marketing di bulan Ramadhan/Idhul Fitri.</em></p>
<p>Dua hari lalu di sebuah koran besar nasional XL beriklan satu halaman, dengan tulisan besar-besar: “Dengan luasnya jangkauan, tak pernah putus berbagi kebaikan”. Kalimat bersayap yang sengaja dipas-paskan itu adalah bunyi iklan pembuka yang menandai “perang seluler” di bulan Ramadhan ini. Sehari kemudian, saya membaca di Koran yang sama Matahari Department Store memasang iklan dengan nada yang sama, untuk mengumumkan program diskon 50% hanya satu hari, persis sehari sebelum datang hari puasa.</p>
<p>Sudah gampang ditebak, dalam beberapa hari ke depan iklan-iklan beraroma Ramadhan semacam itu akan semakin bejibun menghiasi media massa tanah air. Tak heran, karena memang bulan suci Ramadhan adalah saat yang ditunggu-tunggu pemasar untuk “berjualan”. Alasannya gampang ditebak, karena pada masa-masa puasa ini kita semua lagi demen-demen-nya berbelanja. Sudah menjadi tradisi masyarakat kita bahwa Ramadhan adalah musim belanja di mana kita rela merogoh kocek lebih dalam. <span id="more-119"></span></p>
<p>Beragam trik digunakan oleh pemasar untuk merayu konsumen mulai dari pasang diskon gedhe-gedhean, melakukan bulan promo gencar, jor-joran hadiah, hingga jualan halus “berkedok” pemberian layanan bagi pemudik. Tak jarang Ramadhan dijadikan ajang perang bubat antar merek seperti yang terjadi antar operator seluler atau antar merek mobil dalam memberikan layanan bantuan mudik. Saya punya beragam strategi jitu meraup fulus di masa Ramadhan. Ikuti yang berikut ini:</p>
<p><strong>Sales promo that matters</strong>. Sale gedhe-gedhean menjadi alat utama pemasar untuk menggaet pembeli di masa Ramadhan. Banyak trik yang mereka gunakan untuk merayu pembeli mulai dari “best price” dan diskon hingga 70%, obral, pemberian bonus dan beragam hadiah, “beli dua dapat tiga”, sampai dengan pemberian voucher belanja. Diskon memang ampuh untuk merayu pembeli, tapi ingat mainkan beragam alat-alat sales promotion secara efektif dan kreatif.</p>
<p><strong>Educate, educate, sell!!!</strong> Promag paling jago menjalankan Ramadhan promo dengan melakukan edukasi ke pelanggan agar jangan lupa minum Promag saat sahur, buka dan sebelum tidur agar ibadah puasanya lancar. Dengan icon endorser Dedy Mizwar, Promag selalu memberikan tips-tips sehat berpuasa. Tahun ini Promag bahkan menggelar program Promag Silaturahim mengelilingkan Dedy Miswar dan Ustadz Koko Liem berkunjung ke rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi tips sehat berpuasa sekaligus melakukan silaturahmi. Memang awalnya edukasi, dan silaturahmi&#8230; tapi ujung-ujungnya jualan.</p>
<p><strong>Touch their heart</strong>. Mudik adalah tradisi tahunan yang sangat emosional. Bertemu dengan seluruh anggota keluarga di kampung adalah moment of truth yang membawa kesan yang amat mendalam. Karena itu brand Anda akan ”gampang masuk” di hati pelanggan kalau Anda menyentuhnya melalui program-program promo Ramadhan yang emosional dan menyentuh. Sariwangi mengusung program Sariwangi Mobil Mudik dengan memberikan fasilitas mobil lengkap dengen bensin dan sopirnya. Mereka yang menang diminta menceritakan pengalaman-pengalaman emosional mereka selama mudik di kampung.</p>
<p><strong>Build Customer Community</strong>. Astra Honda Motor (AHM) rutin menyelenggarakan Mudik Bareng Honda untuk menghimpun komunitas pengendara Honda. AHM memfasilitasi event ini dengan memberikan pengawalan polisi, fasilitas servis kendaraan dan bantuan bahan bakar gratis. Selain itu, pemudik juga mendapat konsumsi selama perjalanan dan fasilitas berkendara, seperti helm dan sarung tangan. Ingat, masa-masa Ramadhan merupakan momentum pas bagi Anda untuk membangun komunitas pelanggan seperti yang dilakukan Honda.</p>
<p><strong>Close to the Customers</strong>. Bulan puasa tak hanya bulan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan tapi juga bulan untuk mendekatkan diri dengan pelanggan. Pada saat Geng Hijau masih ada, Sampoerna Hijau rutin setiap tahun menggelar program below the line berupa Parade Bedug Keliling Jawa, tentu dengan mengusung Geng Hijau-nya. Setiap tahunnya parade bedug ini mampu menyedot penonton ribuan penonton baik parade di atas truk tronton di sepanjang jalan yang dilewati maupun pertunjukan di puluhan kota yang disinggahi. Harus diakui program ini mampu mendekatkan Sampoerna Hijau dengan pelanggan loyalnya di samping tentu saja memperkuat imej korporat Sampoerna.</p>
<p><strong>PR through Corporate Responsibility</strong>. Perusahaan Jamu Sido Muncul setiap tahun menggelar program corporate responsibility berupa mudik gratis bagi para karyawannya dari ibukota ke kota-kota di Jawa. Harus diakui program ini sangat sukses karena mampu membangun citra korporat yang sangat bagus bagi perusahaan jamu ini terutama di kalangan para karyawannya. Tak hanya itu, karena program ini mendapatkan publisitas dan pemberitaan yang luas dari media baik cetak maupun elektronik, maka citra korporat Sido Muncul yang peduli pada karyawannya juga terbentuk di kalangan perusahaan lain dan masyarakat secara luas.</p>
<p><strong>Finally&#8230; Be innovative!</strong> Melihat begitu banyaknya program Ramadhan diluncurkan, tak bisa tidak, inovasi dan kreativitas menjadi kunci sukses Ramadhan promo Anda. Program Ramadhan promo yang me-too, yang mengikut program yang telah ada, hanya akan menghabiskan anggaran tanpa berbuah hasil memuaskan. Program Mudik Bersama Holcim tahun lalu saya lihat merupakan program Ramadhan yang cukup inovatif tahun ini. Melalui program ini Anda bisa mengusulkan tukang bangunan yang membangun rumah Anda untuk mendapatkan fasilitas mudik bersama Holcim. Dengan program ini rupanya Holcim ingin membangun loyalitas para tukang bangunan karena mereka adalah influencer dan advocator yang yang ampuh bagi Holcim.</p>
<p>Sekali lagi kuncinya: <strong>be creative, be innovative&#8230;and get out of the crowd</strong>.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/06/jualan-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

