E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — My Articles

Best Business Book 2016 – My Picks

Saya suka membaca. Hampir setiap minggu saya membeli buku, baik di toko buku atau saat perjalanan di bandara. Selama seminggu ini saya menginventarisir buku-buku yang telah saya baca selama tahun 2016. Dan akhirnya saya mendapatkan 10 buku yang saya nilai paling bagus. Saya yakin buku-buku ini akan menjadi bekal berharga bagi Anda dalam memasuki tahun 2017. Berikut ini ringkasannya.

#1. Thank You for Being Late: “An Optimist’s Guide to Thriving in the Age of Acceleration,” Thomas Friedman

thank-you-for-being-late-book

Tom Friedman memang maestro ketika menjelaskan fenomena perubahan perdaban manusia. Awalnya ia berpikir bahwa The World Is Flat (2005) adalah “akhir” dari sejarah. Namun rupanya ia keliru. Ia menengarai tahun 2007 justru sedang dimulai sebuah pergeseran raksasa, inflection point, yang memicu percepatan kemajuan peradaban manusia. Tahun 2007 (merupakan tahun ditemukannya: iPhone, Android, Kindle, Hadoop, AirBnB, dan komputer super cerdas Watson milik IBM), merupakan titik mula umat manusia memasuki apa yang disebutnya The Age of Acceleration. Ada tiga kekuatan yang membentuknya, yaitu: Moore’s Law (Technology), globalisasi (Market), dan pemanasan global (Mother Nature). Kombinasi percepatan ketiganya membawa dua skenario: kemajuan luar biasa peradaban manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya; atau kerusakan dahsyat yang memusnakan keberadaan manusia di muka bumi. Merupakan buku paling ambisius Tom Friedman yang harus dipahami setiap pemimpin bisnis.

#2. Pre-Suasion: A Revolutionary Way to Influence and Persuade,” Robert Cialdini

pre-suasion-book

Dalam buku klasik sales/pemasaran Influence (1984), Cialdini memberikan 6 panduan ampuh untuk mempersuasi konsumen. Buku ini telah menjadi referensi tak tertandingi bagi para pemasar di lima benua. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, Cialdini hadir kembali dengan proposisi baru: bahwa saat-saat sebelum melakukan penjualan adalah momen sangat penting dalam mempersuasi konsumen. Ia menyebutnya pre-suasion. Melalui buku ini Cialdini menekankan pentingnya pemasar mengidentifikasi hal-hal kunci yang harus dilakukan sebelum mengirim pesan-pesan penjualan ke konsumen. Persis seperti kata Sun Tzu: “every battle is won before it is fought.”

#3. Original: “How Non-Conformists Move the World,” Adam Grant

original-book

Ini adalah buku mengenai orisinalitas. Bagaimana menciptakan sebuah ide, konsep, produk, atau layanan yang sama sekali baru, fresh, keluar dari kerumunan, nyleneh, mungkin menentang arus, tapi menciptakan nilai yang jauh lebih baik. Melalui risetnya yang mendalam Adam Grant menelusuri proses bagaimana melahirkan sesuatu yang orisinil seperti yang dihasilkan sosok-sosok hebat seperti Jobs-Wosniak, Page-Bryn, Einstein, Michelangelo, Leonardo da Vinci, hingga Coppernicus.

#4. The Inevitable: “Understanding the 12 Technological Forces that Will Shape Our Future,” Kevin Kelly

the-inevitable-book

Sebagai technology futurist dan pendiri majalah bergengsi Wired, Kevin Kelly memprediksi ada 12 kekuatan teknologi yang akan mewarnai kehidupan umat manusia selama 30 tahun ke depan. Bagi Kelly perubahan teknologi bukanlah bersifat statis, tapi merupakan sebuah proses yang terus-menerus (continuous actions). Karena itu ia menyebut perubahan teknologi di dalam buku ini bukan sebagai “kata benda”, tapi “kata kerja” seperti: accessing, tracking, atau sharing.

#5. Small Data: The Tiny Clues That Uncover Huge Trends,” Martin Lindstrom

small-data-book

Saat ini kita silau oleh jargon baru big data, revolusi teknologi informasi yang diramalkan akan mengubah 180 derajat seluruh bidang kehidupan kita, termasuk bidang pemasaran. Namun melalui buku ini Martin Lindstrom punya perspektif lain. “Big data doesn’t spark insight,” ujarnya. Sebuah detail kecil data (yes, small data) mengenai perilaku konsumen, seperti gesture konsumen, mungkin bisa menjadi insight berharga untuk mengungkap aspirasi dan latent needs mereka. Insight kecil ini merupakan clue yang mampu melahirkan breakthrough product seperti iPhone atau AirBnB. Dan ini tak mampu dilakukan oleh big data.

#6. Sprint: “How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days,” Jake Knapp, John Zeratsky, Braden Kowitz

sprint-book

Metode super cepat, hanya 5 hari, untuk menghasilkan inovasi (mulai dari menemukan ide, testing, prototyping, hingga keputusan) yang telah sukses dijalankan di Google diceritakan begitu renyah oleh buku ini. Dengan metode Sprint, Google berhasil meluncurkan produk-produk hebat seperti: Chrome, Google Search, Gmail, Google Hangout, hingga Google X. Wajib dibaca oleh para entrepreneur di perusahaan start-up maupun profesional pengembangan produk di perusahaan besar.

 
#7. Platform Revolution: “How Networked Markets Are Transforming the Economy and How to Make Them Work for You,” Geoffrey Parker, Marshall Van Alstyne, Sangeet Paul Choudary

platform-revolution-book

Perusahaan seperti Gojeg, Uber, Airbnb, eBay, Google, Apple, atau PayPal muncul mendisrupsi industri dan kemudian merajai pasar dalam dalam waktu yang sangat singkat. Mereka lahir melalui sebuah platform (two-sided markets) yang merevolusi model bisnis konvensional. Buku ini memberikan panduan bagaimana menyukseskan bisnis berbasis platform. Inilah buku yang paling autoritatif dan paling komprehensif menjelaskan fenomena revolusi bisnis berbasis platform.

#8. Grit: “The Power of Passion and Perseverence,” Angela Duckworth

 grit-book

Sukses, menurut buku ini tidak ditentukan oleh bakat atau kejeniusan, tapi terutama oleh paduan unik antara passion (semangat membara) dan perseverence (daya tahan yang luar biasa). Paduan itu oleh Angela Duckworth disebut Grit yang menjadi judul buku ini. Melalui 8 bab buku ini secara khusus Angela berbagi strategi mengenai bagaimana membangun Grit dalam diri kita.

#9. Deep Work: “Rules for Focused Success in a Distracted World,” Cal Newport

deep-work-book

Di era distracted world saat ini dimana kiriman email, status media sosial, atau pesan WA begitu intens membuyarkan konsentrasi kita, fokus menjadi barang berharga yang sangat menentukan kesuksesan kita. Buku ini memberikan 4 hukum sebagai panduan untuk menjalankan setiap pekerjaan kita dengan konsentrasi penuh (deep work) dan menghasilkan kinerja yang luar biasa.

#10. How to Have a Good Day: “Harness the Power of Behavioral Science to Transform Your Working Life,” Caroline Webb

how-to-have-a-good-day

Caroline Web, mantan partner di McKinsey, menunjukkan kepada kita beberapa temuan terbaru di bidang ekonomi perilaku, psikologi, dan neurosains, dan menggunakan prinsip-prinsipnya untuk memperbaiki kehidupan profesional dan karir kita. Buku ini mencoba mengaplikasikan behavioral sciences untuk menetapkan prioritas, meningkatkan produktivitas, membangun hubungan, mempertahankan daya tahan, hingga menciptakan energi untuk kesuksesan karir kita.

Selamat Tahun Baru 2017.

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

Best Business Book 2013

Best Business Book 2012

December 24, 2016   No Comments

Pahlawan Pajak

Hari Kamis (1/9) lalu saya membaca sebuah headline di koran nasional terkemuka, “Pengusaha Janjikan Rp 1000 triliun.” Rupanya imbauan Jokowi agar wajib pajak besar segera mengikuti program pengampunan pajak mulai menuai hasil. Sedikitnya 100 pengusaha nasional berkomitmen mendeklarasi dan merepatriasi dana senilai Rp 1.000 triliun dengan nilai tebusan sekitar Rp 60 triliun.

Dalam berita utama itu tertulis, pengusaha pemilik kelompok bisnis raksasa nasional siap menginvestasikan dananya di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian nasional. Kata Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di berita tersebut, “selama ini anggaran pembangunan dalam APBN sekitar Rp 250 triliun per tahun. Masuknya dana sekitar Rp 1.000 triliun dengan pengampunan pajak tentu luar biasa untuk menggerakkan ekonomi nasional sekaligus memperbesar basis pajak.”

Berita itu sungguh menggembirakan tapi sekaligus menyedihkan. Gembira karena dengan duit Rp 1000 triliun muncul harapan besar ekonomi kita bakal menggeliat setelah dua tahun terakhir loyo. Sedih karena rupanya begitu banyak pengusaha kita, gajah-gajah lagi, yang selfish menghindari pajak dengan alasan apapun.

Mereka sudah mendapatkan rezeki melimpah dari negeri ini, tapi begitu datang kewajiban untuk mengembalikan sebagian dari rezeki itu untuk kebaikan saudara-saudara mereka yang lebih tidak beruntung, mereka abai.

Deng Xiaoping - To Get Rich Is Glorious

To Get Rich Is Glorious
Bicara kewajiban pengusaha membayar pajak saya jadi ingat Pak Buntoro, pendiri dan CEO Mega Andalan Kalasan (MAK). MAK yang berlokasi di Kalasan Sleman adalah produsen perlengkapan rumah sakit kelas dunia yang produknya telah digunakan di banyak negara. Pak Buntoro adalah sosok yang eksentrik dan memiliki pemikiran yang selalu out of the box, termasuk dalam hal membayar pajak.

Ada satu perkataan Pak Buntoro beberapa tahun lalu yang tak mungkin saya lupa. Dia bilang, berbeda dengan perusahaan lain, visi dan misi MAK adalah menjadi pembayar pajak terbesar di daerah dimana ia beroperasi. Ketika perusahaan lain selfish ingin meraup keuntungan (get) sebanyak mungkin, Pak Buntoro justru sebaliknya berpikir out of the box berkeinginan memberi (give) sebanyak mungkin. Tak banyak pengusaha yang berpikir nyleneh, tapi meneduhkan seperti Pak Buntoro.

Karena MAK berdomisili di Sleman, maka Pak Buntoro ingin menjadi pembayar pajak terbesar di Sleman. Tak lama setelah ia mengatakan, rupanya visi itu terwujud. MAK menjadi pembayar pajak terbesar di Sleman.

Pak Bun punya filosopi yang meneduhkan, “to get rich is glorious”. Kata pria asal Wonosobo ini, membayar pajak adalah jalan menuju kemuliaan. Hal ini didasari oleh pidato pemimpin Cina, Deng Xiaoping, yang menyerukan kepada rakyatnya agar berusaha keras sehingga bisa menjadi kaya. Kekayaan akan menjadi jalan kemuliaan. “Dengan menjadi kaya maka kita bisa menjadi pembayar pajak,” ujarnya. Pidato itu amat terkenal dan menginspirasi banyak orang termasuk Pak Buntoro.

Spirit of giving sosok satu ini luar biasa. Dia berprinsip jika kita berbuat baik, maka pada akhirnya kebaikan itu akan kembali kepada kita. Semakin banyak kita memberikan kebaikan kepada orang lain, maka semakin banyak pula kebaikan yang kita dapatkan dari orang lain. Jadi, menurut sosok yang bercita-cita menjadi presiden alias RI-1 ini, bisnis itu hanyalah ekses, bukan tujuan. “Maka berbuat baiklah dengan alam agar alam berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkan apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Pahlawan
Sejak dari sono-nya bangsa kita adalah bangsa gotong-royong, bukan individualis. Bangsa kita juga adalah bangsa yang rakyatnya bahu-membahu saling membantu, bukan saling selfish. Yang mampu membantu yang tidak mampu, yang berlebihan membantu yang berkekurangan. Dalam spirit seperti inilah Indonesia ada.

Dalam spirit saling memberi ini saya melihat profesi pengusaha adalah profesi yang sangat mulia. Melalui talenta yang dimiliki ditambah kerja keras dan ketekunan mereka bisa menghimpun aset dan kekayaan. Seperti kata Pak Buntoro, kekayaan itu merupakan jalan menuju kemuliaan dengan menyisihkannya sebagian untuk kebaikan masyarakat dan bangsanya melalui mekanisme pajak. Di tangan merekalah sesungguhnya kemakmuran negeri ini bakal bisa terwujud. Dengan spirit of giving dari mereka, setiap anak bangsa dari Sabang sampai Merauke akan mendapatkan kemanfaatan yang luar biasa.

Saya bermimpi semua pengusaha di negeri ini punya prinsip dan keyakinan seperti Pak Buntoro yang begitu bangga ketika bisa menjadi pembayar pajak terbesar. Saya bermimpi semua pengusaha di negeri ini berlomba-lomba untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat dan bangsanya, dengan keyakinan dasar bahwa ketika kita banyak memberi maka kita akan mendapatkan kebaikan yang jauh melimpah ruah.

Kalau prinsip dan keyakinan ini bersemayam di setiap dada pengusaha kita, maka mereka layak mendapatkan julukan pahlawan: pahlawan kemakmuran bangsa ini.

 

Sumber Gambar: quotehd.com

September 3, 2016   2 Comments

Sharing Economy dan Koperasi

Salah satu manfaat sosial terpenting dari sharing economy adalah penciptaan wirausahawan individu (“individual entrepreneurs” atau sering juga disebut “micro-entrepreneurs”) melalui sebuah platform kolaborasi untuk mengubah aset menganggur (idle assets) menjadi layanan bernilai tinggi. Dalam kasus Gojek, wirausahawan individu itu adalah para pengojek yang bergabung dengan Gojek. Dalam kasus AirBnB, mereka adalah para pemilik rumah kosong atau kos-kosan yang memanfaatkan situs Airbnb.com.

Banyak dari mereka awalnya menganggur, namun berkat platform berbasis aplikasi itu mereka kemudian bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan layak. Mereka mejadi self-employeed tanpa harus ribet mengurus ijin PT atau menyewa kios di Tanah Abang yang harganya selangit. Cukup menjadi anggota Gojek atau mendaftar di situs Airbnb.com, mereka bisa langsung “buka lapak” menawarkan jasanya melalui aplikasi.

Karena itu tak bisa dipungkiri, di tengah membludaknya pengangguran di negeri ini, plaform sharing economy menjadi “dewa penyelamat” bagi rakyat kebanyakan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

CC_Shareable_Cities_LandingPage_V2

Perusahaan Rakyat
Saya menyebut perusahaan berbasis platform sharing economy sebagai “perusahaan rakyat” (people’s company). Kenapa? Karena perusahaan seperti Gojek, Uber, atau AirBnB mempekerjakan “rakyat kebanyakan” dengan pola kemitraan bagi hasil yang saling menguntungkan dengan pemilik platform. Pemilik platform memberikan tools yang memudahkan wirausahawan individu (pemilik motor, mobil, atau rumah kosong) menemukan konsumen, dan ketika terjadi transaksi, hasilnya dibagi berdua secara adil.

Dengan kemitraan semacam itu, potensi kewirausahaan rakyat mendadak menggeliat dan berpotensi menghasilkan kemakmuran yang lebih merata. Di dalam platform berbagi ini terjadi hubungan kemitraan bapak-anak angkat antara usaha besar (pemilik platform) dengan usaha kecil (wirausahawan individu). Menggunakan istilah pak David Marsudi pendiri D’Cost, pemilik platform di sini memainkan peran strategis sebagai “distributor rejeki”. Ketika Gojek atau Grab maju, maka dengan sendirinya para wirausahawan individu yang dinaunginya akan ikutan maju dan makmur. Pertumbuhan dengan sendirinya diikuti dengan pemerataan kemakmuran.

Dengan model bisnis semacam ini, maka platform sharing economy berpotensi menjadi model ekonomi alternatif yang lebih manusiawi dan beradab dibanding sistem kapitalisme yang selama ini kita adopsi. Kita tahu bersama bahwa sistem kapitalisme telah gagal total karena telah menghasilkan kerusakan akhlak (materialisme, egoisme, ketamakan), ekonomi (krisis 1929, 1998, 2008), sosial (ketimpangan kaya-miskin) dan lingkungan (pemanasan global). Sistem kapitalisme harus dirusak secara kreatif (creative destruction) untuk menghasilkan sistem yang lebih baik.

Public Good
Pertanyaannya, dengan sistem yang selama ini ada, apakah mekanisme solutif seperti yang saya gambarkan di atas bisa berlangsung? Saya ragu sejauh Gojek, Grab, atau AirBnB masih dimiliki oleh kaum kapitalis. Ketika platform sharing economy masih dimiliki dan dioperasikan oleh organisasi kapitalis, maka platform tersebut akan diposisikan sebagai mesin keuntungan (profit machine), bukan sebagai alat distributor rezeki (wealth distribution).

Dengan posisi semacam itu maka keuntungan ekonomi dari ekosistem ini akan disedot oleh pemilik modal (investor) bukan untuk kemanfaatan rakyat banyak (wirausahawan individu dan konsumen pemakai layanan). Kita ketahui bersama, kehadiran Gojek, Uber, Grab, AirBnB di tanah air tak ada urusan dengan penciptaan lapangan kerja atau pemerataan kemakmuran. Perusahaan-perusahaan itu hadir di sini untuk memanfaatkan pasar Indonesia yang lukratif dengan memanfaatkan tukang-tukang ojek kita, pemilik-pemilik mobil nganggur, pemilik-pemilik rumah kosong, dan tentu jutaan konsumen kita. Tujuannya sangat jelas untuk mendapatkan massa konsumen sebanyak mungkin dan ujung-ujungnya menghasilkan valuasi saham setinggi langit di bursa dunia.

Di tingkat dunia kini masih muncul perdebatan apakah platform sharing economy ini dimasukkan dalam kategori public good. Public good seperti jalan, jembatan, internet, World Wide Web, GPS (juga mungkin nantinya Google) seharusnya dikelola atau setidaknya diatur penggunaannya oleh negara agar tidak dimanfaatkan oleh free rider pencari keuntungan. Dengan menjadi domain publik maka bisa dipastikan operasi platform sharing economy seperti Gojek atau Grab akan diakomodasikan untuk kepentingan rakyat kebanyakan, bukan untuk segelintir pemilik modal.

Koperasi
Melihat potensi platform sharing economy sebagai alat strategis untuk mendistribusi kemakmuran, kita teringat pesan Bung Hatta mengenai koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Seharusnya model bisnis sharing economy bisa menjadi eksperimen mutakhir untuk mewujudkan cita-cita bung Hatta. Platform sharing economy seharusnya bisa menjadi miniatur dari ekonomi kerakyatan seperti divisikan Bung Hatta.

Untuk mewujudkannya platform sharing economy harus dimiliki dan dioperasikan oleh para wirausahwan individu (tukang ojek, pemilik mobil, pemilik rumah) dalam sebuah wadah koperasi. Dengan format koperasi maka platform ini betul-betul dikelola oleh dan untuk wirausahawan individu yang tergabung di dalamnya, di samping tentu untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat sebagai konsumen. Di sini negara harus hadir untuk bernegosiasi dengan perusahaan global pemilik platform untuk secara bertahap mengakuisisi kepemilikan dan kemudian dalam jangka panjang mengalihkannya ke koperasi.

Menyusul demo pekan ini, pemerintah kini sedang sibuk menyusun payung regulasi untuk mengatur keberadaan platform sharing economy di sektor transportasi. Saya berharap pemerintah dan DPR tak hanya melihat regulasi tersebut sebatas aspirin yang meredam sesaat teriakan masyarakat. Pemerintah harus mengkaji arus besar sharing economy ini secara menyeluruh dan menjadikannya momentum untuk menghidupkan kembali spirit kerakyatan Bung Hatta dengan mencangkokkan sistem koperasi ke dalamnya.

Sebagai sebuah bangsa, kita sudah bosan dijajah pihak asing. Ratusan tahun kita dijajah Belanda untuk diambil rempah-rempah dan hasil buminya. Tak lama merdeka, di bawah kepemimpinan Suharto kita kemudian “dijajah” perusahaan multinasional yang perlahan tapi pasti menguasai beragam sektor industri (dari bank, telekomunikasi, pertambangan, otomotif, hingga konsumer). Ketika internet hadir, gelombang kapitalis global pun berebut masuk ke Indonesia untuk memodali start-up yang kelak bakal mendominasi jagat e-commerce Indonesia. Kita tak mau gelombang besar sharing economy sekarang ini (sekali lagi) menjadi ajang perburuan kapitalis global untuk mengekploitasi negeri ini. Kita tak mau negeri ini kian tergerus kemandirian ekonominya. Negara harus hadir melawannya.

Sumber gambar: collaborativeconsumption.com

March 26, 2016   9 Comments

Millennial Trends 2016

Generasi milenial (Millennial Generation) adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980-an hingga tahun 2000. Generasi ini sering disebut juga sebagai Gen-Y, Net Generation, Generation WE, Boomerang Generation, Peter Pan Generation, dan lain-lain. Mereka disebut generasi milenial karena merekalah generasi yang hidup di pergantian milenium. Secara bersamaan di era ini teknologi digital mulai merasuk ke segala sendi kehidupan.

Milenial memiliki nilai-nilai, dan perilaku yang berbeda dengan generasi pendahulunya yaitu Gen-X (lahir tahun 1964 hingga 1980). Beberapa literatur menyebut karakteristik mereka ditandai oleh berbagai nilai-nilai dan perilaku berikut: connected, multitasker, tech-savvy, collaborator/cocreator, social, adventurer, transparent, work-life balance, dan sebagainya. Itu secara umum. Di Indonesia, dengan latar belakang sosial, sejarah, budaya, politik, dan ekonomi yang berbeda tentu menghasilkan generasi milenial yang berbeda pula dan unik.

Inventure dan Middle Class Institute (MCI) melakukan kajian untuk melihat tren nilai-nilai dan perilaku generasi milenial di Indonesia, khususnya di kalangan kelas menengahnya. Berikut ini 13 tren yang berhasil kami temukan.

Selfie 4

 

1. Millennial Wannabe
Millennial is NOT cohort. It is a lifestyle. Milenial bukanlah sebatas penanda kapan kita lahir, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mengapa bisa begitu? Ya, karena entah kenapa milenial itu kini menjadi sebuah simbol kekerenan. Siapapun, tak peduli Gen-X bahkan Baby Boomers, merasa bangga kalau punya gaya hidup seperti milenial. Milenial bukan masalah umur; bukan masalah muda-tua. Milenial adalah ekspresi dan identitas diri. Karena itu kami perkirakan akan muncul banyak “milenial gadungan” di Indonesia. Secara umur mereka bukanlah masuk golongan milenial, namun tingkahnya, penampilannya, atau konsumsi digitalnya seperti milenial, bahkan (amit-amit jabang bayi hehehe..) melebihi milenial.

2. “Sharing is Cool”
2015 adalah steping stone dimana sharing economy mulai diadopsi konsumen Indonesia, khususnya kaum milenial, secara meluas. Tren ini dipicu oleh sukses Gojek dengan layanan ojek online-nya. Sukses layanan baru ini sekaligus membuka mata dan mengedukasi konsumen milenial Indonesia yang memungkinkan mereka melompat parit (crossing the chasm) menuju pasar mainstream. Di tahun 2016 sharing economy akan diadopsi lebih dalam dan lebih luas di sektor-sektor industri yang lain. Sektor traveling dan leisure (melalui layanan seperti: AirBnB) misalnya, bakal menjadi the next big things di tahun 2016 ini. Budaya konsumsi “share, not own” juga akan kian massif tanah air. Di dunia hiburan misalnya, kini milenial tak lagi perlu punya CD atau DVD untuk mendengarkan musik atau menonton film. Layanan-layanan berbasis cloud seperti iTunes, Netflix, Spotify, SoundCloud, dan JOOX akan kian populer.

3. “How We Consume” Is a New Lifestyle. Tools Matter!!!
Mendengar alunan musik di Spotify atau iTunes lebih keren ketimbang di radio. Nonton film di Netflix lebih keren ketimbang di bioskop atau RCTI. Lari dengan aplikasi Nike+ Running (dengan fitur: GPS, Pace Tracker, Timer, Calories, Pedometer, Music Player dan Jejaring Sosial) lebih keren untuk dipamerkan ketimbang olahraga larinya sendiri. Lagu, film, atau lari tidak penting, yang penting adalah digital tools apa yang mereka gunakan. Bagi milenial digital is awasome, karena itu gaya hidup “the digital of things” haruslah dipamerkan di media sosial. Milenial selalu punya passion luar biasa untuk menjadi yang terdepan (early adopter) dalam arus deras “the digital of things”. Ketika mereka sudah menjadi yang terdepan, maka wajib hukumnya capaian itu dipamerkan di media sosial.

4. The Rise of Instagrampreneur
Kehadiran media sosial terutama Instagram dan menjamurnya lapak-lapak online seperti OLX, Tokopedia, atau Bukalapak telah memberi peluang luar biasa bagi milenial yang cekak modal untuk berbisnis secara online. Yasa Paramita misalnya memulai brand sepatu Men’s Republic sejak ia kelas 2 SMA hingga kini sekitar 4 tahun telah menuai omset ratusan juta sebulan. Dia cukup mendesain sepatu-sepatunya kemudian menyerahkan produksinya kepada vendor-vendor di Bandung. Tak hanya entreprneur, sekarang juga terdapat tren munculnya apa yang kami sebut amfibi, yaitu para pekerja kantoran yang menjalankan bisnis sampingan berbasis online. Iklan-iklan massif Bukalapak, Tokopedia, atau OLX secara positif mengajak para milenial menjadi digital entrepreneur.

5. Holiday Effect
Masih pekat di ingatan kita, bulan Agustus-November 2015 Indonesia dihantui krisis ekonomi yang ditandai dolar melambung dan PHK di mana-mana. Namun kita kaget luar biasa ketika di akhir tahun jalur pantura macet total selama beberapa hari oleh masyarakat yang liburan akhir tahun ke kampung. Korbannya tidak tanggung-tanggung, seorang Dirjen mengundurkan diri karena tak sanggup memprediksi dan mengatasi kemacetan yang super parah tersebut. Inilah fenomena menarik generasi milenial, bagi mereka liburan dan hiburan adalah kebutuhan super penting. Karena itu liburan tak kenal mas krisis. Dan ketika tiket pesawat dan hotel bisa diperoleh demikian mudah dan murah melalui beragam platform online (Traveloka, Trivago, Agoda, dsb), maka kebutuhan itu pun kian getol mereka manjakan. Millenials are experiencer.

6. Multi-Tribes Netizen
Komunitas online yang dibentuk di media sosial seperti grup di WhatsApp, BBM, Telegram, atau Facebook kian sophisticated. Menariknya, kini seorang milenial bisa ikut dalam belasan bahkan puluhan grup WA atau BBM sekaligus. Sebut saja grup alumni, grup teman-teman kantor, grup pengajian, grup hobi kuliner, grup nebengers, grup project team di kantor, dan lain-lain. Itu sebabnya kami menyebut mereka sebagai: “Multi-Tribes Netizen”. Netizen yang hidup di beragam suku, namun suku-suku ini tak berada di hutan, tapi ada di grup-grup media sosial. Dengan banyak grup yang dimasuki, maka mereka harus memiliki multi-split personality. Mereka harus bisa “bersandiwara” memainkan peran dan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan grup yang dimasuki.

7. Brand Story Matters
Millennials love story. Mereka menyukai cerita yang mengemas sebuah produk atau layanan. Dan ketika sebuah produk dan layanan memiliki cerita yang keren, maka kaum milenial begitu passionate membincangkan dan menyebarkannya ke friends, fans, followers (3Fs). Fenomena ini paling kentara terjadi di bisnis kuliner. Sejak tahun lalu, tiba-tiba kedai kopi artisan seperti Filosofi Kopi, Tanamera, ABCD, atau One Fifteenth Coffee menjadi booming di berbagai kota di tanah air. Konsep food truck seperti Amerigo atau konsep food street seperti OTW di Kelapa Gading tahun lalu begitu happening. Bahkan mal pun kini dikemas dengan brand story yang kuat seperti Aeon di BSD yang sukses mengusung tema Jepang dan memicu word of mouth luar biasa. Kami meyakini inovasi dalam menyuntikkan brand story ke dalam produk dan layanan ini bakal marak di tahun ini.

8. The Birth of Visual Generation (Gen V)
Fenomena lain yang sedang ngetren di kalangan generasi milennial adalah semakin canggihnya tools yang dipakai untuk selfie, seperti penggunaan drone, lensa kamera GoPro, dan sebagainya yang membuat hasil tampilan visual dari foto-foto selfie semakin dramatis, atau penggunaan aplikasi Periscope atau Snapchat untuk video selfie. Jika dulu gaya anak muda yang selfie hanya menampilkan foto muka saja, maka sekarang mereka mulai senang berfoto dengan latar belakang obyek yang keren. Atau supaya lebih terkesan update dan live maka video selfie pun mulai digandrungi. Tiap orang ingin menampilkan authentic self untuk meningkatkan personal branding-nya masing-masing. Dia merasa dirinya keren dan pantas untuk memiliki audience-nya masing-masing.

9. Instant Online Buying
Riset perilaku belanja online selalu menempatkan produk gadget, produk elektronik, fesyen, atau buku/majalah sebagai produk yang paling banyak dibeli secara online. Item produk tersebut umumnya dibeli di internet kemudian dikirim melalui jasa kuriri beberapa hari kemudian. Namun kini hal itu mulai berubah, milenial Indonesia mulai menikmati “instant online buying” dimana beli di internet sekarang, lalu beberapa menit atau jam kemudian barang telah diterima. Biangnya tak lain adalah Gojek yang berbekal armada pengojeknya di seluruh pelosok kota mampu mengantarkan pesanan konsumen dengan cepat (lihat layanan seperti Go-Food, Go-Mart, Go-Clean, Go-Glam, Go-Massage). Dengan munculnya layanan baru ini perilaku konsumen milenial bakal berubah, mereka akan mulai membeli barang-barang cepat konsumsi atau cepat pakai seperti makanan-minuman, sayur, buah, bumbu, obat, tukang pijat, dan sebagainya. Alfamart merespons tren ini begitu cepat dengan layanan Alfaonline.

10. “Comment Seeker” Generation
Generasi milenial adalah attention-seeker. Mereka merasa dirinya sebagai sosok bintang yang disorot kamera di jagat media sosial. Karena itu mereka gila dikomentari. Apapun minta dikomentari. Posting status di Facebook minta dikomentari. Foto selfie di Instagram minta dikomentari. Menulis di blog minta dikomentari. Semakin banyak “like” atau komentar yang didapat, maka mereka akan merasa semakin eksis. Komentar positif membuat mereka berbunga-bunga. Sebaliknya, komentar negatif membuat mereka stres, frustasi, bahkan depresi.

11. “Social Media Pressure”
Media sosial adalah media terbuka, siapapun bisa ngomong baik maupun buruk, pujian maupun cercaan. Itu sebabnya bully di media sosial sudah layaknya wabah yang menjalar cepat. Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang tekena bully? Kaum milenial adalah generasi yang sangat peduli dan menganggap serius setiap perkataan dan opini dari friends, fans, dan followers (3F) mereka. Banyak terjadi ABG milenial lebih mendengarkan 3F ketimbang orang tua dan keluarga mereka. Oleh karena itu komentar negatif, kritik, atau bully di media sosial merupakan sumber tekanan psikologis yang berat bagi milenial. Bahkan ada kasus-kasus ekstrim dimana korban bully memilih untuk bunuh diri karena tidak tahan dipermalukan di media sosial. Kesempurnaan diri yang dicitrakan di media sosial seakan menjadi harga mati yang tak boleh dicoreng oleh para haters dan bullyiers. Tuntutan ini membuat mereka selalu resah di jagat media sosial.

12. Circular Economy
Kaum milenial adalah trend-setter. Mereka selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam hal gaya hidup, gadget, atau fesyen. Celakanya, mereka juga cepat bosan dengan gaya hidup dan produk baru yang mereka pakai. Begitu gadget versi baru keluar, maka gadget lama ditinggalkan. Padahal gadget lama tersebut baru dibeli beberapa bulan sebelumnya. Karena mereka smart, maka barang baru yang sudah tidak mereka minati dijual di situs-situs seperti OLX atau eBay. Inilah yang memicu apa yang kami sebut circular economy. Dengan adanya tren circular economy, maka situs-situs marketplace yang mempertemukan pemilik barang bekas (yang masih baru) ini bakal menggeliat di tahun 2016.

13. Two Faces of Click Activism
Secara sekilas kepedulian kaum milenial Indonesia begitu tinggi dengan begitu banyaknya masalah-masalah penting nasional yang mereka respons melalui situs seperti change.org. Heboh kasus “Papa Minta Saham” atau pelarangan layanan ojek online misalnya, direspons cepat oleh para millenial activists dengan melakukan petisi online. Namun apakah betul partisipasi, kepedulian sosial, dan nasionalisme mereka melambung dengan adanya platform petisi seperti itu? Belum tentu. Seperti menonton gelaran sepak bola di GBK, mereka hanya menjadi semacam pemandu sorak yang ingin hanyut dalam euforia dan kehebohan gonjang-ganjing masalah sosial tersebut. Ingat, “becoming a click activist is cool!” (Diriset dan ditulis bersama Suryati Veronika, Business Analyst, Inventure)

 

Sumber foto: detik.com

January 17, 2016   3 Comments

Brand in Crisis

Minggu lalu untuk kesekian kali kita dikejutkan oleh berita tak mengenakkan mengenai Lion Air. Kepolisian Resort Bandara Soekarno Hatta membongkar sindikat porter Lion Air yang kerap mencuri barang berharga di bagasi penumpang. Tak tahu kenapa, berita buruk silih berganti menimpa maskapai terbesar hingga brand reputation-nya kian terpuruk.

Akhir Desember lalu maskapai ini terkena skandal memalukan ketika pilot dan pramugarinya kedapatan mengonsumsi narkoba. Masih menyangkut pilot dan pramugari, sebulan sebelumnya pilot Lion Air menawarkan pramugari janda kepada penumpang sebagai kompensasi delay. Sontak, tawaran itu membuat para penumpang terkejut. Sebab, tawaran itu disampaikannya melalui pengeras suara pesawat.

Masih di bulan November, Lion Air juga dirundung kemalangan karena diprotes penumpangnya yang emosi karena pesawat delay berjam-jam. Fatalnya, penumpang yang marah kemudian mencegat pesawat Lion lain dengan rute yang sama yang hendak lepas landas. Seperti kita tahu semua kejadian penumpang Lion Air marah karena pesawat delay merupakan kejadian rutin yang menimpa maskapai ini.

Dan yang paling parah tentu adalah kecelakaan pesawat. Seperti juga kita ketahui bersama, Lion Air adalah juga merupakan langganan kecelakaan. Sejak beroperasi Juni 2000 hingga 2012, maskapai ini setidaknya telah 19 kali mengalami kecelakaan. Saking seringnya mengalami kecelakaan, Lion Air masuk daftar maskapai yang dilarang di Uni Eropa bahkan masuk satu dari lima maskapai paling berbahaya di dunia.

brand hater

Brand Haters
Dengan jumlah armada pesawat yang sangat besar, bahkan yang terbesar di antara maskapai lain, memang Lion Air bisa mengatakan seburuk apapun layanannya konsumen akan tetap menggunakannya. Namun perlu diingat, seperti halnya kanker ganas, masalah demi masalah yang menderanya bisa menggerogoti ekuitas merek (brand equity) nya.

Elemen paling penting dari ekuitas merek adalah apa yang disebut brand evangelism. Brand evangelism adalah ekuitas merek yang terwujud karena adanya konsumen yang merekomendasikan dan membela merek. Itu kalau mereknya bagus dan membanggakan. Kalau sebaliknya, mereknya buruk dan menjengkelkan, maka konsumen justru menjadi brand haters atau bahkan brand terrorists.

Nah, yang saya cemaskan, begitu banyaknya masalah yang menimpa Lion Air di atas bisa menciptakan brand haters, dan itulah yang kini sedang massif terjadi. Don’t underestimate brand haters. Karena seperti kata Pete Blackshaw, seorang pakar branding, “satisfied customers tell three friends, angry customers Tell 3,000”. Wajar saja, karena sesuatu kabar yang buruk memang lebih menarik digosipkan dan lebih gampang menyebar ketimbang kabar yang baik. Kalau Anda dibenci seorang konsumen yang telah Anda telantarkan barangkali tak begitu masalah. Tapi jika si konsumen mengajak 3000 temannya untuk ikut-ikutan membenci merek Anda, itu yang berbahaya.

Gunung Es
Mengamati begitu peliknya masalah yang dihadapai Lion Air, saya melihat maskapai ini sudah sampai pada tahapan krisis secara merek. Lion Air is brand in crisis. Dan celakanya, krisis merek ini tak bisa hanya diobati dengan branding gimmick seperti: kampanye PR, mengubah logo, atau membesut IMC (integrated marketing communications). Ya, karena obat tersebut tak menyembuhkan sumber penyakitnya.

Masalah bertubi-tubi Lion Air selama ini hanyalah tip of the iceberg, masalah yang hanya tampak di permukaan. Masalah sesungguhnya dan jauh lebih besar justru ada di bawah permukaan yaitu masalah manusia. Dan kalau kita bicara manusia, maka sumbernya ada di budaya perusahaan (corporate culture) dan kepemimpinan (brand leadership). Porter yang membobol bagasi penumpang, pilot dan pramugari yang nyabu, karyawan tidak disiplin yang memicu delay berjam-jam, atau crew yang ceroboh hingga mengancam keselamatan pesawat adalah masalah karakter, budaya, dan kepemimpinan yang lemah.

Seperti kebanyakan brand in crisis, yang dibutuhkan Lion Air adalah sebuah creative destruction: pembumihangusan kemapanan budaya dan pola kepemimpinan lama yang sudah terlanjur mengeras. Seluruh jajaran Lion Air harus membangun sense of crisis untuk menggelindingkan perubahan besar-besaran. Bahkan kalau diperlukan Lion Air bisa membawa masuk outside leader untuk memecah kebekuan dan menjadi katalis perubahan. Krisis di IBM tahun 1990-an misalnya, diselesaikan dengan sangat baik berkat kehadiran outside leader seperti Lou Gestner.

Harus diakui, Lion Air adalah salah satu merek loka hebat yang pernah dimiliki negeri ini. Karena itu saya tidak rela jika krisis merek ini terus berlarut hingga menjadikannya terpuruk. Karena itu maskapai ini harus diselamatkan dari krisis. Siapa yang bisa menyelamatkan? Lion Air sendiri terutama para pemimpinnya di seluruh level organisasi.

 

Sumber foto: sodahead.com

January 9, 2016   1 Comment

Resolusi

Menjelang datang pergantian tahun, banyak teman-teman saya membuat resolusi Tahun Baru. Bunyi resolusinya hebat-hebat. Ada yang pengin berhenti menjadi karyawan dan beralih kuadran menjadi entrepreneur. Ada yang ingin mencapai kebebasan finansial. Yang ambisius pengin mendirikan 5 startups sekaligus. Ada yang ingin menulis buku. Yang jomblo pengin mendapatkan pacar. Yang sudah punya pacar pengin menikah. Yang gendut pengin mengurangi drastis berat badan. Dan masih banyak lagi.

Kebanyakan resolusi tersebut bombastis dan seringkali berlebihan. Tak heran jika riset yang dilakukan Richard Wiseman pada tahun 2007 menemukan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi Tahun Baru gagal mewujudkannya. Ya, karena umumnya semangat membara saat di penghujung tahun, namun begitu sampai saat untuk action mewujudkannya, tenaga menjadi loyo. Besar pasak daripada tiang.

Bicara resolusi dulu saya juga sama, memiliki resolusi hebat-hebat begitu datang malam pergantian tahun. Pengin punya mobil. Pengin punya rumah. Pengin karir melejit. Pengin mengambil doktor. Pengin punya perusahaan sendiri. Resolusi-resolusi itu hebat-hebat sehingga menjadi penyemangat yang luar biasa bagi saya untuk terus maju di tahun yang baru. Namun belakangan resolusi saya berubah. Selama lima tahun terakhir isi resolusi saya tak pernah beranjak dari dua hal: simple life dan giving.

New Year 2016 Resolution

Simple Life

Resolusi pertama adalah hidup sesimpel mungkin. Hidup gaya orang tua saya dulu di kampung: hidup super sederhana, tidak neko-neko, tidak berlebihan, bersahaja, apa adanya. Yang paling gampang simple life adalah consume less: makan-minum tak berlebihan (minum air putih, makan slow food yang murah tapi sehat), berbelanja tak berlebihan, kepemilikan tak berlebihan. Betul kata Azim Jamal dalam The Power of Giving, “When you reduce your consumption, you can reduce your stress, the pressure in your life, and even your fears.”

Simple life adalah fokus menjalani yang betul-betul penting, dan mengenyahkan beragam hal yang nggak penting. Kini saya mencoba fokus pada kegiatan yang betul-betul saya sukai dan cintai (terutama bekerja, membaca-menulis, dan mendengarkan jazz). Mengurangi multi-tasking. Mengurangi chit-chat nggak perlu di grup WA, Twitter, atau Facebook. Mengurangi perhatian pada kegaduhan sosial/politik yang datang bertubi-tubi (dari kasus Nikita Mirzani hingga “Papa Minta Saham”). Mengurangi hura-hura (seperti membakar kembang api di malam Tahun Baru). Dan yang paling sulit, mengurangi marah dan suntuk. Be mindful.

Simple life adalah juga mengerem keinginan. Dulu saya punya 1001 keinginan dan ambisi, sehingga bingung dan penuh stress untuk mewujudkannya. Kini, saya hanya punya satu-dua ambisi sehingga fokus dan sepenuh hati mewujudkannya. Kita harus jujur dan berdamai dengan diri sendiri. Sumeleh, kata orang Jawa. Dengan sedikit ambisi, saya makin banyak waktu berkontemplasi, berkoneksi (fully-connected) dengan apa yang sedang saya lakukan, dan ujung-ujungnya fokus berkreasi. Stop cluttering your life, get contemplating… and creating!!!

Giving

Resolusi kedua adalah giving, yaitu sebuah mindset untuk tidak lagi fokus pada diri sendiri (self-focused), tapi pada orang-orang di luar kita (other-focused). Dulu resolusi saya hebat-hebat (pengin sekolah tinggi, pengin menjadi penulis hebat, pengin menjadi konsultan hebat, pengin kaya raya, dst-dst), tapi itu semua untuk diri saya. Setelah usia saya menginjak 40 sekitar lima tahun lalu semuanya berubah. Apa-apa yang untuk diri saya menjadi tak berarti lagi. Saat itu saya mengatakan: “I’m finished. It’s the time to give.”

Benar kata Mark Twain, “The two most important days in your life are the day you are BORN and the day you find out WHY”. Ada dua hari terpenting dalam hidup kita. Pertama saat kita lahir, itu sebabnya kita merayakannya tiap tahun. Lalu apa yang kedua? Hari pernikahan? Hari kematian? Bukan. Yang kedua adalah hari dimana kita menemukan jawab kenapa kita hidup. Di usia 40 saya menemukan jawab, kenapa saya hidup: untuk berarti bagi orang lain. Itulah turning point hidup saya. Life begins at 40.

Itu sebabnya sejak lima tahun lalu giving menjadi resolusi hidup saya tiap tahun. Jangan bayangkan saya pengin menjadi giver hebat macam Mark Zuckerberg yang menyedekahkan Rp 600 triliun kekayaannya; atau Mother Teresa yang begitu heroik membantu kaum papa di Kalkuta. Saya hanyalah simple giver yang membantu dengan sederhana, sejauh yang saya mampu. Tidak ambisius, yang penting ikhlas.

Percaya saya, ketika kita menjalani simple life, maka pasti kita akan merasa berlebih. Dan ketika kita merasa berlebih, maka banyak bagian yang bisa kita berikan kepada orang lain. Simple life leads to abundance.

Memberi yang sederhana bisa macam-macam bentuknya. Memberi duit pasti terbatas, karena saya tidak kaya-kaya amat. Memberi pengetahuan mungkin lumayan karena saya punya sedikit pengetahuan dan pengalaman di bidang manajemen, marketing, dan branding. Memberi pengetahuan bisa diwujudkan dalam bentuk ceramah/seminar dan tulisan kolom/buku. Sejak lima tahun lalu saya mencoba menulis dengan lebih jujur. Artinya, saya menulis demi kebaikan orang lain, bukan semata untuk diri saya.

Memberi juga bisa berwujud waktu, tenaga, dan pikiran. Itu sebabnya saya dan teman-teman yang peduli mendirikan Komunitas Memberi tiga tahun lalu untuk membantu UKM naik kelas. Bersama-sama kami mengajari para pelaku UKM branding, servis, manajemen keuangan sederhana, manajemen SDM, dsb agar mereka bisa menjalankan usahanya dengan lebih baik. Bersama teman-teman, saya juga merintis Indonesia Brand Forum untuk membangun kesadaran membangun brand lokal Indonesia.

Never-Ending

Di depan saya katakan bahwa resolusi saya tiap tahun tak beranjak dari dua hal: simple life dan giving. Ya, karena untuk mewujudkan keduanya sulitnya minta ampun. Butuh refleksi diri, butuh kebesaran hati, butuh keikhlasan, butuh latihan. Semakin dijalani, semakin banyak PR yang harus dikerjakan.

Tiap kali datang detik-detik menjelang pergantian tahun, di tengah gemuruh orang-orang membakar kembang api, saya selalu bertanya: apa yang sudah saya berikan untuk orang lain? Dan tiap kali menjawab pertanyaan itu, saya jadi malu. Karena selama setahun ke belakang saya hitung-hitung, rupanya tak banyak yang bisa saya berikan. Giving is a never-ending journey. Memberi adalah perjalanan tanpa akhir di sepanjang sisa hidup kita.

 

Sumber foto: www.happynewyears2016.net

January 2, 2016   2 Comments

Great M-S Team

Teamwork is the fuel that allows common people to attain uncommon results” Andrew Carnegie

Sebuah tim marketing-sales (M-S) yang solid adalah impian setiap organisasi. Persis seperti dibilang Andrew Carnegie, dengan tim M-S yang solid potensi masing-masing marketer-sales di dalam tim saling mengisi, berkolaborasi, dan bersinergi membentuk kekuatan maha dahsyat, bergulung-gulung layaknya luncuran bola salju yang mendongkrak kinerja dan produktivitas organisasi. Melalui tim yang solid perusahaan mampu mencapai extraordinary growth, merek yang sudah lapuk dibangkitkan lagi layaknya mummi, atau produk dengan extraordinary value melenggang mulus di pasar.

Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya tim M-S yang solid bisa diciptakan dan dibangun. Berikut ini adalah “rule of thumb” yang memberikan gambaran umum bagaimana seharusnya sebuah tim M-S yang solid. Meminjam judul film koboi klasik yang dibintangi Clint Eastwood, saya membaginya ke dalam tiga bagian: THE GOOD (“bagus”); THE BAD (“jelek”); dan THE UGLY (“sangat buruk”).

Marketing-Sales Team

THE GOOD
Clear Mission. Tim M-S yang solid selalu ditandai oleh adanya kesamaan misi, nilai-nilai, dan tujuan (shared mission, values, purpose) dari setiap marketer yang terlibat di dalam tim. Kesamaan misi, nilai, dan tujuan itu menjadi semacam “lem” yang demikian kokoh merekatkan setiap marketer-sales yang terlibat di dalamnya. Tak hanya itu, kesamaan misi, nilai, dan tujuan juga menjadi “kompas” yang mengarahkan seluruh anggota tim untuk berbaris dalam satu formasi untuk mencapai tujuan tim. Karena peran strategis ini, saya melihat kesamaan misi, nilai, dan tujuan merupakan elemen paling fundamental bagi kesuksesan sebuah tim.

Strong Leadership. Kredibilitas, determinasi, dan kapabilitas eksekusi dari si pemimpin tim merupakan faktor krusial lain dari keberhasilan sebuah tim. Si pemimpin tim lah yang mengalokasi sumber daya tim agar mencapai strategic focus; melakukan fungsi empowerment ke seluruh anggota tim; menciptakan energi dan nyali di tengah beragam onak-duri yang dihadapi tim; dan dia pulalah yang mengelola perubahan dan dinamika di alam tim agar tujuan tim terwujud secara sempurna.

Work in Start-Up Mode. Sebuah tim M-S yang solid haruslah memiliki empat hal yang menjadi “nyawanya”: creativity, innovativeness, flexibility, adaptability. Untuk itulah, secara pola pikir (mindset), sebuah tim harus memposisikan diri sebagai sebuah “start-up”. Namanya start-up, ia harus memiliki imaginasi liar; penciuman tajam terhadap dinamika pasar; berani mengambil resiko, berani lepas dari belenggu birakrasi, dan tak gampang hanyut oleh kesuksesan (legacy) masa lampau. Tom Kelley, pendiri IDEO, konsultan disain produk terkemuka dunia, menyebut proses ini sebagai: menciptakan “greenhouse” tempat tumbuh suburnya kreativitas dan inovasi.

THE BAD
Team Fatigue. Ini terjadi jika sebuah tim menjadi mandul tak bisa berbuat apa? Energi dari masing-masing anggota tim terkuras habis, energi tim melempem, semua orang under-motivated, dan akhirnya performa tim jeblok. Kenapa begitu? Dalam banyak kasus, proses “vicious circle” ini terjadi karena tak kunjung datangnya kesuksesan-kesuksesan awal (early wins). Kesuksesan-kesuksesan awal merupakan sesuatu yang krusial bagi sebuah tim karena dengan kesuksesan awal ini energi, konfiden, dan mental keberhasilan setiap anggota tim akan mampu dibangun. Kesuksesan awal inilah yang menjadi “modal” berharga bagi tim untuk menggulirkan langkah-langkah berikutnya dan menuai sukses-sukses kecil berikutnya, sebelum kesuksesan paripurna mampu dituntaskan.

THE UGLY
Apollo Syndrom. Sindrom ini terjadi jika ”the sum of parts is less than the whole”, 1 + 1 bukannya 3, tapi justru 1,5. Dengan kata lain, tim tersebut kehilangan “daya sinergis”-nya. Bagaimana ini terjadi? Pertama jika masing-masing anggota tim sibuk berdebat dengan membawa aspirasi dan kepentingan masing-masing sehingga tak kunjung mengerucut menjadi keputusan yang solid. Kedua, jika tim tersebut mengalami “pelapukan” dimana aktivitas menjadi rutin, birokrasi dan prosedur begitu ketat mencengkeram, dan semua anggota tim mulai kehilangan passion-nya. Ketiga, ketika aktivitas tim didominasi oleh aktivitas planning, tapi sangat lemah dalam execution. Dengan kata lain, tim tersebut “over promise”, tapi “under deliver”. Ini yang membuat anggota tim jadi frustasi.

 

Sumber foto: instantedgemarketing.com

 

December 26, 2015   No Comments

Marketing vs Sales

Orang marketing dan sales yang sama-sama bertanggung jawab di garda depan perusahaan memang dua ”mahluk” yang beda 180 derajat. Itu sebabnya mereka tak pernah akur. Orang sales sering menuding orang marketing itu kerjaannya menghabiskan duit (alasannya macam-macam: untuk promosi lah, untuk building brand lah, untuk customer research lah. Padahal orang sales sudah habis-habisan banting tulang mencari dan mengumpulkan duit. Jadi, yang satu mati-matian mengumpulkan duit, yang satunya lagi menghabiskan duit. Makanya nggak ketemu-ketemu.

Sementara orang marketing balik menuding orang sales itu nggak pernah berpikir panjang, nggak visioner, nggak pernah merancang strategi. Isi otaknya cuma 3D: duit, duit, duit. Orang marketing akan bilang ke orang sales: jualan harus pakai konsep, harus di-backup dengan STP (segmentation-targeting-positioning) yang solid, harus pakai rumus 4P (product-price-place-promotion) yang setajam laser, tak boleh ngawur. Celakanya, si orang sales dengan sinis menimpali: “go to hell with STP!!!” “bullshit with 4P!!!” Yang satu kebanyakan mikir, yang satunya lagi pokoknya action, action, action. Makanya nggak ketemu-ketemu.

Tipikal orang marketing adalah: parlente, berdasi, klimis, smart, lulusan universitas terbaik, konseptor, banyak mikir, kerjanya di depan meja dan ruang-ruang rapat di kantor pusat, dan celakanya suka memerintah. Sementara orang sales sebaliknya, kerjanya terjun dan bergulat langsung di pasar menghadapi ganasnya pesaing. Tiap hari bermandi peluh keringat berkunjung dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dicaci maki pelanggan kalau kebetulan kerjanya nggak benar. Orang sales cenderung nggak suka banyak berpikir, pokoknya yang penting action dan menghasilkan duit. Dan mereka cenderung benci dengan yang namanya teori dan konsep yang dinilainya mengawang-awang.

Yang sering saya dapati di berbagai perusahaan, perbedaan karakter ini seringkali sedemikian meruncing, dan tak jarang memicu terjadinya “perang Bubat” antara orang marketing dan sales. Seringkali muncul “nasionalisme” orang sales di satu sisi dan orang marketing di sisi lain. Kondisi kian runyam kalau orang finance ikut-ikut (ini adalah “mahluk” jenis lain lagi). Kalau sudah demikian halnya, apa yang terjadi? Mereka ribut gontok-gontokkan di dalam, sehingga pelanggan keleleran nggak terurus. Kalau sudah seperti ini, wah gawat!!!

Philip Kotler yang dikenal sebagai guru marketing dan Neil Rackam yang dikenal sebagai guru sales pernah menulis sebuah artikel di Harvard Business Review sekitar 10 tahun lalu dengan judul yang menantang: “Ending the War between Sales and Marketing.” “Akhiri perang bubat antara orang marketing dan orang sales,” begitu saran mereka. Alasannya, karena pekerjaan orang marketing dan sales kait-mengait sangat erat.

Untuk jelasnya bagaimana kaitan kerja mereka, berikut ini adalah bagan yang digunakan dua guru di atas untuk menjelaskannya. Seperti terlihat pada bagan, pekerjaan orang marketing dan orang sales merupakan satu mata rantai. Dalam mata rantai tersebut orang marketing berperan di sisi hulu, sementara orang sales di sisi hilir. Karena merupakan satu mata rantai, maka memang keduanya mutlak harus bekerjasama. Pekerjaan di hilir tak mungkin sempurna jika tidak di-support di hulu. Sebaliknya pekerjaan di hulu tak ada gunanya kalau tak dituntaskan dengan baik di hilir.

Marketing vs Sales

Seperti terlihat pada bagan, orang marketing berperan krusial dalam membangun kesadaran konsumen (awareness), mempertimbangkan untuk membeli (consideration), dan memilih produk yang dijual (preference). Sementara orang sales harus melanjutkannya hingga muncul keinginan membeli (intention), betul-betul membeli (purchase), membeli secara terus-menerus (loyalty), bahkan merekomendasikan produk ke konsumen yang lain (advocacy). Singkatnya, orang marketing bertugas menarik (pull) konsumen untuk membeli. Sementara orang sales harus mendorong (push).

Melihat bagan tersebut menjadi gamblang bahwa orang marketing dan sales memang harus berdamai. Karena itu melalui kolom ini saya hanya bisa menghimbau: Wahai orang marketing dan sales, akhirilah perang Bubat kalian. Masuki bahtera kehidupan baru yang penuh cinta dan perdamaian. Seraya saya mengutip salam grup musik legendaris Slank: “Piss…”

November 21, 2015   2 Comments

Grup WA

Hidup saya praktis sudah tertawan oleh grup WA (WhatsApp). Bagaimana tidak, waktu Subuh saat ayam berkokok, lima notifikasi WA sudah kedip-kedip minta dihampiri. Pagi saat di kantor di sela-sela meeting, tangan selalu menggerayangi HP sibuk pencet sana-sini untuk melayani obrolan teman grup. Siang dan sore hari saat ketemu klien tetap saja tangan sesekali curi-curi geser-geser layar sentuh HP untuk melihat update celotehan teman-teman grup. Malam apalagi… it’s WA time, saatnya berbagi cerita dengan seluruh teman grup hingga tengah malam bahkan menjelang pagi.

Whatsapp

Aktivitas keseharian tetap berjalan lancar, walaupun “WA time” terus hadir di sela-sela aktivitas tersebut. Saat ngobrol dengan seluruh anggota keluarga di ruang tamu, jari-jemari tetap bergerilya memenceti HP. Saat meeting dengan klien, pada waktu meeting lagi seru-serunya tentu tidak, namun begitu suasana mulai cair (biasanya menjelang berakhir) maka kembali tangan gerayangan ke layar sentuh HP. Praktis semua aktivitas bisa diselingi WA time. Itu sebabnya saya memprediksi manusia bakal menjadi “the most multi-tasking creature”.

Saya punya 13 grup WA, hampir semuanya aktif. Ada grup WA temen-temen reuni SMA. Ada grup WA teman-teman aktivis mahasiswa. Ada grup WA teman-teman komunitas dan pehobi sama. Ada grup WA untuk komunikasi tim kerja klien. “Pak Siwo, agar komunikasi antar team member lancar, kita bikin grup WA ya,” begitu ujar klien saya. Tak ketinggalan grup WA anggota keluarga besar. Pokoknya dikit-dikit dibikin grup WA-nya biar seru.

Dengan 13 grup sesungguhnya saya masih normal-normal saja. Banyak teman saya yang koleksi grup WA-nya jauh lebih fantastis. Ada yang di atas 20 bahkan di atas 30. Konon banyaknya koleksi grup WA yang kita miliki memberikan prestise tersendiri. Ya karena makin banyak koleksi, maka ia dianggap lebih gaul, lebih banyak teman, lebih luas koneksinya, lebih socially-connected. Apa saja grup WA yang kita ikuti juga bisa menjadi indikator siapa kita. Makanya saya sering mendengar celotehan teman-teman yang pamer, “Eh saya satu grup WA dengan artis A dan selebriti B lho.”

Masuknya saya ke grup-grup WA hampir semuanya bukan atas kemauan saya. Awalnya seorang teman yang sudah punya nomor HP saya bilang, “Mas Siwo nomornya aku masukin di grup WA bla bla bla ya?” Karena teman, tak kuasa saya menolak. Begitu masuk, maka serta-merta saya merasa bak selebritis. Semua anggota grup menyapa dengan renyah. Beragam sapaan ramahpun menghujam: “Selamat datang Mas Siwo”; “Senang sekali Mas Siwo hadir di grup ini”, atau “Ditunggu inspirasi-inspirasinya.”

Awalnya beban juga masuk grup, karena mesti siap-sedia melayani ocehan-ocehan teman grup. Namun sekali respon oke, dua kali respon enak, tiga kali respon nikmat, ujung-ujungnya nggak bisa berhenti… bahkan ketagihan. Dengan koleksi grup WA yang cukup banyak, maka kini rasanya tiada menit tanpa menunggu notifikasi grup WA. Ketika notifiksi tak kunjung datang, bumi serasa berputar begitu lambat, hari serasa sunyi-sepi.

Barangkali Anda penasaran, apa saja yang diomongkan di grup-grup WA tersebut, sehingga demikian menyita waktu. Obrolannya macam-macam. Untuk grup reuni SMA past nggak jauh-jauh dari urusan kangen-kangenan. Untuk grup komunitas dan hobi pasti mengenai minat dan passion kita. Atau untuk grup klien tentu urusan pekerjaan.

Tapi di luar itu semua, anggota grup paling demen ngobrolin apa-apa yang sedang menjadi trending topic. Sekarang misalnya, paling seru ngobrolin masalah asap. Saya paling suka mengamati anggota-anggota grup WA yang mendadak menjadi pahlawan. Saya sebut pahlawan, karena sosok ini biasanya bertingkah layaknya pahlawan: menyuarakan fakta-fakta, melakukan analisis layaknya ia seorang pakar jempolan, lalu mengemukakan solusi-solusi cespleng yang umumnya dicomot dari mana-mana.

Sosok ini bisanya paling suka menghujat berbagai pihak yang bisa disalahkan. Dalam kasus asap misalnya, ia menyalahkan presiden, menteri lingkungan hidup, atau anggota DPR. Berbekal kambing hitam tersebut ia kemudian menyerukan sebuah gerakan dan aksi. Sudah bisa diduga, gerakan dan aksi itu hanyalah isapan jempol belaka. Karena begitu minggu depan muncul trendic topic lain, serta-merta aksi itu menguap, ia beralih ke topik baru yang sedang happening. Sebenarnya ia lebih pas disebut cheer leader ketimbang seorang pahlawan.

Selain pahlawan/cheer leader, banyak karakter lain di grup WA. Ada “passive listener”, yang nggak pernah nongol namun sangat intens mendengarkan percakapan peers. Ada juga “copas sharer” yang hobinya mengcopy-paste tulisan dari grup sebelah. Ada “meme lover” yang paling suka mem-posting meme lucu, artikel humor, atau tebak-tebakan ngakak sebagai obat boring di siang bolong. Ada “HBD celebrater” dan “RIP sympathizer”, yang hobinya mengucapkan hari ulang tahun atau rasa belasungkawa. Begitu ada satu yang bilang “HBD, semoga panjang umur…” maka viralpun bergulung, dan hari itu grup WA penuh terisi ucapan ulang tahun. Dan masih banyak lagi karakter di grup WA.

Barangkali ada yang bergumam, apa saya nggak rugi menghambur-hamburkan waktu begitu banyak untuk suatu hal yang sekilas tak ada gunanya: ngobrol kesana-kemari. Bagi kebanyakan orang mungkin ya, tapi tidak bagi saya. Bagi marketer, obrolan di grup-grup WA adalah sumber insight yang tak ada tandingannya. Dari situ bisa lahir produk-produk maupun bisnis-bisnis hebat.

Singkatnya, di balik obrolan di grup-grup WA terselip bongkahan-bongkahaan emas. Kalau Anda seorang marketer sejati, Anda harus jeli mengulik bongkahan-bongkahan emas tersebut.

 

Sumber foto: www.mindtheproduct.com

November 2, 2015   2 Comments

Sukses Adalah Kesabaran

Bagi saya kesabaran adalah esensi kesuksesan. Sukses membutuhkan kerja keras, fokus, ketekunan, dan persistensi dalam kurun waktu panjang. Karena itu sukses butuh ekstra kesabaran. Ungkapan ini bagi sebagian besar orang mungkin dianggap jadul, puritan, bahkan menjadi bahan tertawaan. Sama dengan ungkapan Jawa: “alon-alon waton klakon” yang dianggap usang dan mengalami pemiskinan makna.

Wajar, karena di tengah dunia yang serba cepat, semua-semua haruslah cepat, termasuk kesuksesan. “Sukses yang lambat mah nggak cool, kuno, jadul!!!” begitu kira-kira kata para young digital entrepreneurs yang selalu terobsesi menjadi overnight billionaire saat startup yang baru didirikannya mendapatkan suntikan dolar dari kapitalis global.

Slow Success - Turtle

Tak Ada yang Instan
Dulu seminar-seminar motivasi begitu happening di negeri ini. Judul-judul seminar seperti: “Cara Cepat Menjadi Kaya” atau “Menjadi Kaya Raya di Usia Muda” atau “Kaya Mendadak Lewat Properti” begitu laris-manis dipadati peserta. Begitu banyak orang di negeri ini melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang instan dan gampang diwujudkan. Mereka terbuai oleh tips-tips indah para motivator/inspirator yang menunjukkan seolah-olah jalan menuju sukses itu lempeng, mudah, dan bisa diraih dengan cepat.

Di ruang seminar motivasi kita berteriak keras “saya bisa!!!”, namun seringkali kita menggampangkan kenyataan bahwa “bisa” itu membutuhkan kemampuan, perjuangan, ketekunan, disiplin, dan persistensi selama setahun, lima tahun, bahkan puluhan tahun. Kita maunya perjuangan dan kerja keras setahun, lima tahun, atau puluhan tahun itu “dimampatkan” menjadi hanya beberapa detik saat kita bersemangat meneriakkan “saya bisa!!!” di ruang seminar.

Itu sebabnya seminar motivasi kebanyakan tak mampu menjadikan orang lebih hebat dalam mencapai sukses. Semangat doang, kerja kagak. Dengan semangat membara seolah kerjaan lima atau sepuluh tahun bisa diselesaikan dalam sekejab. Sukses itu butuh perjuangan tak kenal lelah dalam waktu lama. Sukses butuh kesabaran melakukan hal-hal kecil dalam jumlah besar, dalam kurun waktu lama. Sukses butuh proses, bukan sesuatu yang instan. Sukses tak semudah dan secepat seperti diomongkan para motivator/inspirator.

Marathon, Not Sprint
By default sukses itu lambat dan perlu waktu. Gampang saja argumentasinya, karena sukses membutuhkan kemampuan, ekspertis, pengalaman, kearifan, kerja keras, fokus, disiplin, dan ketekunan, yang semua itu membutuhkan waktu untuk memupuknya (Ingat, kita tidak sedang ngomongin sukses karena menang lotere atau dapat warisan lho!!!). Semakin panjang waktu untuk memupuk kemampuan dan pengalaman, maka semakin matang pula kemampuan dan pengalaman itu, sehingga semakin kokoh pula pondasi kesuksesan yang akan kita tuai.

Karena itu saya berani mengatakan bahwa success is more about a marahon game than a sprint game. Sosok sukses lebih menyerupai pelari maraton ketimbang pelari cepat. Sukses adalah proses panjang untuk menggali kemampuan, menimbun pengalaman, dan mengendapkan kearifan. Sukses adalah buah kerja keras, ketekunan, persistensi, dan tahan banting dalam jangka panjang. Karena semua itu membutuhkan waktu lama maka kuncinya adalah kesabaran. Semua itu membutuhkan proses tahap demi tahap, lapis demi lapis, sampai pada akhirnya tujuan yang kita harapkan bisa terwujud.

Marathon game berarti bekerja secara fokus, disiplin tahap demi tahap, tekun, telaten, konsisten, persisten dalam kurun waktu lama. Sementara sprint game adalah kerja yang all out, semua sumberdaya dikerahkan, kalau perlu dipaksakan, kalau bisa di-shortcut, dan semua dilakukan dengan serba cepat dan instan. Saya kok lebih pas dengan model kesuksesan yang pertama ketimbang yang kedua. Seperti halnya di dunia kuliner, slow food pasti akan lebih enak dari fast food. Maka dalam hal kesukesan, slow-cooked success pasti lebih kokoh pondasinya ketimbang fast-cooked success.

Apakah dengan demikian kita tidak boleh sukses secara cepat? Bukan begitu juga. Poin saya, bahkan ketika kita mencapai sukses dalam waktu supercepat, maka itu belumlah sukses yang final. Masih banyak ujian yang harus kita lewati untuk mencapai kesuksesan yang sesungguhnya. Jadi jangan sampai sukses yang cepat membuat kita berpuas diri, malas, gampang menyerah, bahkan takabur sehingga kita tidak bisa mewujudkan sukses-sukses berikutnya.

Ambil contoh Steve Jobs. Steve mencapai kesuksesan dalam semalam di usia 22 tahun saat meluncurkan Apple II. Tapi itu bukanlah sukses Steve yang sesungguhnya, karena kemudian ia tergelincir dan jatuh berkeping-keping saat didepak dari Apple. Sukses sesungguhnya adalah saat ia mengembalikan Apple dari ambang kehancuran menjadi perusahaan paling bernilai di dunia hingga saat ini.

Pengalaman, kearifan, kerja keras, ketekunan, persistensi, dan (jangan lupa) kesabaran, menempa Steve menjadi seorang yang matang untuk mencapai sukses yang sesungguhnya. Ia meraih kesuksesan yang sesungguhnya di usia kepala empat, sebuah kurun waktu yang panjang.

October 24, 2015   2 Comments