E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — WOM Marketing

2AM @ 7-Eleven

Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi lebih lima menit. Suasana lantai dua 7-Eleven Kelapa Gading hangat. Saya cari tempat duduk di bawah, tak satupun kursi kosong tersisa. Naik ke lantai dua, nyaris semua meja terisi. Untung masih ada satu-dua kursi yang menghadap jendela kosong. Suasana agak gaduh, sebagian besar ABG. Ada yang lagi chit-chat, mengerjakan tugas kuliah, ada yang serius meeting, ada yang baca novel Harry Potter seri terbaru, tak ketinggalan, ada juga yang bengong.

Saya sudah nggak muda lagi, tapi boleh dong berlagak ABG. Karena itu saya pesan Chitato plus mengambil keju cair yang disediakan gratis. Kelakuan kampung saya keluar, itu keju diambil sebanyak mungkin untuk melumuri keping-keping Chitato renyah. Untuk pilihan minum, favorit saya adalah soda beku khas 7-Eleven, Slurpee aneka rasa yang diaduk warna-warni. Cool. Di tengah lautan ABG saya serasa 15 tahun lebih muda.

Itulah potongan laporan pandangan mata saya tiga hari lalu di tempat nongkrong ABG paling keren di Jakarta saat ini. Dari sekian banyak nongkrong di 7-Eleven dan bergumul dengan konsumen on the spot, saya menemukan banyak insight menarik mengenai gerai pendatang baru ini. Terus-terang saya penasaran kenapa 7-Eleven menjadi magnet yang luar biasa bagi konsumen. [Read more →]

December 10, 2011   15 Comments

Dunia Narsis Briptu Norman

Sebelum klip Chaiya-Chaiya itu nongkrong di YouTube, Briptu Norman adalah polisi biasa yang tidak kita kenal. Tapi begitu klip diunggah, dan kemudian ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, maka sejak itu “BOOOOM!!!”… sang Briptu menjadi idola kita semua.

Mendadak sontak koran-koran, tabloid-tabloid gosip, infotainment-infotainment, kepolisian tempat sang Briptu bekerja, acara-acara talk show telivisi, perusahaan-perusahaan rekaman, seperti kesurupan ikutan “numpang beken” sang Briptu. Semua berlomba agar kebagian rezeki “tenar semalam” sang Briptu. Maka cerita selanjutnya bisa ditebak: eksploitasi membabi-buta pun tak terelakkan lagi.

Kini, dengan adanya media baru HORISONTAL macam YouTube siapapun orang (dari murid SMP, ibu rumah tangga, guru SD inpres, hingga jendral bintang lima) bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, rasa sedih, senang, atau takjub dengan begitu gampangnya.

Tinggal tulis lalu taruh di blog; tinggal potret lalu taruh di situs Flickr; tinggal rekam suaranya lalu taruh pakai podcast; tinggal rekam gambarnya pakai smartphone lalu taruh di YouTube… seperti Briptu Norman. Begitu ditaruh… “BOOOOM!!!” serta-merta jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia melihatnya.

Selamat datang di era yang kian memanjakan kebebasan berekspresi individu!!! Selamat datang di jaman di mana siapapun kita bisa dan boleh tampil!!! Selamat datang di dunia yang kian narsis!!! Welcome to the NARCISSISTIC world!!! [Read more →]

April 21, 2011   2 Comments

“Andai Aku Jadi Gayus”

Semua pembaca tentu tahu judul tulisan ini adalah lagu yang paling top saat ini di Tanah Air. Sejak di-upload di YouTube seminggu lalu, lagu ini melejit bak meteor. Ditulis dan dinyanyikan seorang mantan napi, Bona Paputungan, lagu ini meroket karena mengusung lirik lagu yang sarat kritik sosial dan penuh kehebohan. Wajar saja karena saat lagu itu di-upload di YouTube Gayus “sang superstar” Tambunan yang menjadi obyek lagu sedang menuai puncak kehebohan. Ya, karena seiring dengan “demam unduh” klip lagu itu di YouTube, hakim menjatuhkan putusan super kontroversial.

Saya bukan anggota satgas pemberantasan mafia hukum yang suka nabrak-nabrak pagar. Saya bukan pengamat politik yang suka nglantur dan sok pintar. Saya juga bukan politikus Senayan yang hobinya bikin pansus dan nampang di talkshow TV-TV nasional. Saya nggak ngerti politik, saya hanya ngerti marketing. Karena itu tulisan ini tak bermaksud memperuncing seteru antar kelompok kepentingan yang ramai-ramai menunggangi kasus Gayus. Tulisan ini hanya mencoba menarik secuil pelajaran dari heboh klip “Andai Aku Jadi Gayus”. Ya, karena begitu banyak pelajaran marketing yang bisa kita tuai dari heboh klip tersebut. Berikut ini pelajaran-pelajarannya.

#1. World-Famous in 15 Minutes
Tahun 1968, Andy Warhol, pelukis pop culture paling kesohor, pernah membuat ungkapan yang legendaris, “In the future, everyone will be world-famous in 15 minutes,” ujarnya. Ketika Warhol mengucapkan itu, tak sebersitpun terpikir di kepalanya sebuah situs bernama YouTube. Tapi seperti kita saksikan bersama, ramalan Warhol itu kini terwujud. Siapapun Anda bisa menjadi terkenal hanya dengan modal kamera genggam dan sedikit kreativitas. Perangkat media sosial seperti YouTube memungkinkan siapapun — tua-muda, kaya-miskin, bahkan seorang mantan napi — untuk menjadi maha bintang. Bagi marketer, ini adalah peluang branding yang luar biasa. Dan seorang Bona Maputungan mampu memainkannya dengan sangat cantik. [Read more →]

January 23, 2011   2 Comments

Evangelist

Harry Potter main lagi. Kali ini sekuel yang ke-7: Harry Potter and the Deathly Hallows. Karena merupakan penutup, film pamungkas ini dibikin dalam dua bagian. Hasilnya, kita semua penasaran, heboh pun terjadi di mana-mana. Inilah tradisi Harry Potter, buzz “digoreng-goreng” — di blog-blog, di milis-milis, di forum-forum, di Twitter, di Facebook — dan layaknya virus, kehebohan ditebar di mana-mana. Dan yang terpenting, kehebohan itu menghasilkan triliunan perak bagi si empunya film.

Percakapan di bawah ini saya kutip dari forum milis www.harrypotterindonesia.com tertanggal 28 Agustus 2009. Atau lebih dari setahun yang lalu:
Adegan apa yang paling seru di film ke 7 nanti?
Pengen liat adegan The Trio sama Griphook membobol Gringotts
Lalu terbang naek naga… Dan tentu saja, The Battle of Hogwarts
Trus karena rumornya William Arthur Weasley sudah ada pemerannya, maka kita mungkin akan melihat acara pernikahan. Cuman, karena di Pangeran Berdarah Gado-gado  :)   the Burrow sudah jadi abu, gimana ya visualisasinya?

Bahkan sejak lebih dari setahun lalu para fans Harry Potter sudah mempergunjingkan film ini. Kehadiran media sosial (social media) seperti milis, blog, Twitter, Facebook menjadikan viral Harry Potter merambat demikian cepat, sehingga dalam waktu singkat promosi murah dari mulut ke mulut (word of mouth) menyebar begitu cepat bak wabah kolera. Tak heran jika pas film ini premiere, barisan fans pun mengular di gedung-gedung bioskop seperti kita saksikan 2 minggu lalu.

Itu artinya, tanpa sadar Harry Potter telah menciptakan dan menggerakkan para ”EVANGELIST” untuk mempromosikannya. Customer evangelist tak lain adalah pelanggan yang dengan sukarela ”memberitakan kabar baik” dan mempromosikan produk ke pelanggan yang lain. Mereka memberikan referal dan rekomendasi produk ke pelanggan yang lain. Satu hal perlu Anda ingat: referal dan rekomendasi memiliki kekuatan menjual SERIBU bahkan SEJUTA KALI lebih hebat dibanding ocehan salesman. [Read more →]

November 22, 2010   3 Comments

Great Model to Measure Word of Mouth Marketing

Temen-temen, saya menemukan sebuah survei dari McKinsey&Co yang dimuat di McKinsey Quarterly yang membahas pendekatan baru untuk mengukur word of mouth marketing (WOMM) yang dijalankan oleh marketer. Berdasarkan model tersebut diperkenalkan sebuah metric yang disebut Word of Mouth Equity (WOME) yang merefleksikan kemampuan sebuah brand atau program pemasaran dalam menghasilkan efek WOM. Nilai WOME ditentukan oleh berbagai variable yaitu: Message Volume, Network, Sender, Message Content, dan Message Source.

Saya kira sebuah model yang simpel dan bisa menjadi inspirasi temen-temen marketer dalam merancang sebuah program WOM untuk merek Anda. Berikut ini link-nya, silahkan kalau mau didownload. Measuring WOM Marketing – McKinsey Quarterly

November 17, 2010   1 Comment

“Republik Facebook”

Ide posting ini datang dari postingan mas Enda Nasution. Dalam posting-nya Mas Enda menampilkan data bahwa pengguna FB sudah mau menerobos angka 1 juta (total pengguna FB saat ini sekitar 160 juta). Dalam posting Mas Enda, per 27 Januari member FB sudah mencapai 968.481 mengungguli jumlah member dari Malaysia dan Singapura. (lihat grafik). Mungkin per hari ini sudah lewat tuh, karena saya cek di www.allfacebook.com data terakhir per 28 Januari sudah mencapai 980.307.

FB users: Indonesia-Singapura-Malaysia

FB users: Indonesia-Singapura-Malaysia

Dari postingan itu saya langsung nyambung aja. Saya mengamati bahwa bagaimana member FB berkembang itu mengikuti hukum [E = wMC2] dimana: E = energi marketing yang dahsyat; wM = word of mouth (mouse); C2 = Customer community: offline x online).

Sesuai hukum [E = wMC2], pertumbuhan member FB terjadi karena proses tipping point (baca: “wabah”) melalui promosi dari mulut ke mulut atau word of mouth. Word of mouth itu terjadi karena proses penyebaran FB dari member satu ke member berikutnya terjadi secara massif melalui medium komunitas. Di mana “salesman” utama dari proses situ adalah para “FB evangelist”.

Saya adalah salah satu “FB evangelist”, karena di manapun dan di kesempatan apapun saya selalu katakan: “Hai teman-temanku, bikinlah account FB!!!”. Minggu lalu misalnya, saya bicara di depan 600 orang peserta seminar buku “New Wave Marketing/CROWD” di Makassar. Di situ FB saya bedah habis-habisan; saya juga cerita bagaimana Obama bisa menang karena FB; atau bagaimana Ayat-Ayat Cinta bisa box office karena FB.

Saya yakin setidaknya setengah dari peserta itu mikir-mikir untuk bikin account FB. Karena menurut survei AC Nielsen, rekomendasi pelanggan kini menempati posisi pertama sebagai alat pemasaran yang paling ampuh mengalahkan TV, Radio, dan surat kabar. Kenapa? Karena menurut riset tersebut: “91% customers likely to buy on customer recommendation”.

Saya percaya proses penyebaran word of mouth di dalam komunitas memiliki kekuatan “network effect” mengikuti teori Group-Forming Network, dikenal sebagai “Reed’s Law” (ditemukan oleh Prof. David Reed dari MIT ). Mengacu ke teori ini saya memperkirakan pertumbuhan member FB ini akan melesat secara EKSPONENSIAL, mengikuti DERET UKUR seiring dengan bertambahnya member yang masuk. Uraian ditel mengenai Reed’s Law ini bisa dilihat di buku CROWD p. 104-118.

Artinya apa? Kalau jumlah member FB mampu menerobos angka 1 juta bulan ini, maka tidak sampai tahun depan mungkin jumlah member FB akan mencapai 10 juta; dan mungkin tak sampai dua tahun lagi jumlah member FB akan mencapai 100 juta. Tidak percaya? Kita tunggu aja…

Saya bayangkan dua tahun lagi member FB sudah mencapai 100 juta. Maka saya kira FB sudah layak dijadikan Republik, sebut saja: “REPUBLIK FACEBOOK”. Namanya Republik, tentu ada presidennya, ada menterinya, ada DPR-nya. Saya mau tuh ikutan maju jadi Capres.

Kalau jadi Capres “Republik Indonesia” mah saya nggak berani, takut sama Capres Wiranto, sama Capres Prabowo” soalnya tentara… hiiii seraaaam!!!!. Takut juga dikritik Mbak Mega main Yo-Yo!!!. Tapi kalau jadi Capres FB, siapa takuuuuut!!!

Di samping itu jadi “President Republik Facebook” pasti enak, nggak pusing, soalnya pasti nggak ada KORUPSI, nggak ada MUTILASI, nggak ada BANJIR, nggak ada MACET…

Adanya cuma satu: C  I  N  T  A

January 31, 2009   23 Comments

CROWD “Marketing Becomes Horizontal” – Manifesto #9: Your Product and Services Should be CONTAGIOUS

Produk Anda harus kayak flu burung atau kolera.

Begitu meluncur di pasar (atau bahkan jauh sebelumnya) langsung: “Buzzzzzzzz”. Langsung meledak!!!… Langsung mewabah!!!… Langsung menjalar ke mana-mana!!!

Sebuah produk atau layanan haruslah memiliki ”efek wabah” yang memicu viral atau ”worth of mouth” alias promosi dari mulut ke mulut yang menyebabkan orang yang menerimanya ”klepek-klepek” nggak tahan.

Saya berani katakan, worth of mouth dari seorang konsumen memiliki daya mempengaruhi SERIBU KALI lipat lebih ampuh dari serangan seorang salesman. ”Your product and services should be CONTAGIOUS”

Steve Jobs tak hanya jago membuat produk yang cool. Ia juga jago membikin produk hebatnya kayak kolera. Buktinya adalah sukses iPhone yang gila-gilaan.

Awalnya, di ajang MacWorld 9 Januari 2007 dia mengumumkan bakal produk tercanggih dan ter-cool dalam sejarah Apple. Dengan gaya flamboyan khas Steve, di situ dia demokan bagaimana teknologi touch screen bekerja. Di situ pula dia tunjukkan tampilan iPone yang cool abis: hitam elegan, tipis, sleek, dan bersih tanpa ada semrawut keyboard, Steve menyebutnya “virtual keyboard.” Gadget lovers di seluruh dunia pun terperangah.

Keesokan harinya video sambutan dan demo iPhone berduarasi 47 menit 29 detik itu beredar di internet. Saya sendiri mendapatkannya kira-kira sebulan setelahnya dari forward-an email seorang teman. Di email tersebut si teman memberikan pesan singkat: “It’s trully revolutionary product!”

Saya jadi penasaran bukan main. Dan betul, begitu saya lihat bagaimana Steve mendemokan teknologi touch screen, saya langsung terkesima dan jatuh cinta dengan gadget ini. Tak berselang lama, 10 email forward-an saya pun meluncur ke 10 teman kantor saya. Pagi saya forward, siangnya pas kongko-kongko di kantin iPhone pun menjadi polemik seru di antara 10 teman. Dalam waktu semalam seluruh dunia pun terjangkit wabah bernama: “kolera iPhone”.

Pertanyaanya, bagaimana produk dan layanan Anda bisa menciptakan wabah buzz? [Read more →]

December 2, 2008   No Comments

CROWD “Marketing Becomes Horizontal” – Manifesto #10 Trust Is the Real Currency. Join the Honest Conversations

I want to campaign the same way I govern, which is to respond directly and forcefully with the truth.”

Barack Obama

Kenapa Barak Obama menang dari John McCain? Pakar politik tentu saja begitu piawai memberikan berbagai argumentasinya: Karena mesin politiknya, Partai Demokrat demikian solid; karena George W. Bush yang sontoloyo!!!; karena McCain yang blunder memilih Palin; atau mungkin karena ke-kulithitam-an Obama. Tapi saya punya argumentasi sendiri: Obama menang karena dia begitu cantik menerapkan formula E = wMC2.

Para pembaca masih ingat dengan rumusan E = wMC2 dari kolom-kolom saya sebelumnya? E dalam rumus itu saya sebut sebagai “energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Dan wM adalah = word of mouth, yaitu promosi mulut ke mulut berupa rekomendasi atau referal konsumen baik disampaikan secara fisik maupun berbasis online. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.

Intinya, rumus tersebut mau bilang bahwa energi marketing sedahsyat bom nuklir akan didapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan word of mouth mengenai produk dan layanan Anda, dan word of mouth itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyaaaat! [Read more →]

November 15, 2008   1 Comment