E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Sport Marketing

Ambush Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 di Rusia tak hanya menjadi peluang luar biasa bagi para official sponsors yang telah mengeluarkan bujet miliaran bahkan triliunan rupiah untuk membangun brand dan meraup omset, tapi juga dimanfaatkan dengan cerdas oleh brand-brand yang bukan sponsor resmi.

Caranya gimana? Caranya dengan ambush marketing, yaitu melakukan kampanye pemasaran yang memanfaatkan asosiasi dan impresi yang terkait dengan event Piala Dunia. Tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan-ketentuan hukum FIFA yang menjadi “pemilik” event empat tahun sekali itu.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

European Sponsorship Association (ESA) mendefinisikan ambush marketing sebagai berikut:

A strategy where brands have developed and run creative marketing campaigns using the opportunity to push the boundaries and sometimes give the impression that they are an event sponsor, when they are not.”

Kata kunci dari definisi tersebut adalah “creative marketing campaign”, artinya strategi ambush marketing mengandalkan kreativitas dari marketer dalam “menunggangi” event Piala Dunia walaupun mereka bukanlah sponsor resmi.

Download the ebook: bit.ly/brandingworldcup2018

Powerful-nya ambush marketing tercermin dari hasil survei yang dilakukan terhadap Piala Dunia 2014 lalu di Brasil. Enam dari duabelas brand yang memuncaki volume “buzzing” di media sosial ternyata bukanlah brand yang menjadi sponsor resmi.

Brand tersebut termasuk Nike yang mampu menghasilkan 232.000 social mentions, dibandingkan Adidas (yang merupakan sponsor resmi) yang hanya mampu menghasilkan 129.000.

Do & Don’t
Pertanyaannya, bagaimana agar ambush marketing yang dilakukan marketers tidak melanggar ketentuan-ketentuan sponsorship FIFA? Berikut ini adalah apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menjalankan ambush marketing.

Perlu diingat, kalau sebuah brand bukan sponsor resmi, maka ia tidak boleh menggunakan logo, trademark, dan kata-kata “Piala Dunia”, “Piala Dunia 2018”, “Piala Dunia Rusia 2018” dan berbagai kombinasinya.

Tapi tentu saja boleh dong kalau marketers menggunakan kata “sepakbola” atau “Rusia” di dalam kampanye iklannya. Jadi untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia selama sebulan ini, marketers bisa membuat iklan versi sepakbola tanpa sedikitpun menggunakan logo, trademark, atau kombinasi kata “Piala Dunia Rusia 2018”.

Baca juga: Piala Dunia Zaman Now

Menurut ketentuan FIFA, memang brand tidak boleh melakukan sales promotion dengan hadiah memberikan tiket kepada konsumen untuk menonton Piala Dunia di Rusia. Tapi tentu boleh dong melakukan sales promotion dengan memberikan hadiah berlibur selama seminggu ke kota Moscow atau St. Petersburg selama penyelenggaraan Piala Dunia.

Itulah “guerrilla strategies” yang bisa dilakukan tanpa sedikitpun melanggar ketentuan FIFA. Kuncinya adalah menciptakan asosiasi atau impresi yang nge-link dengan event Piala Dunia.

Contoh-contoh berikut memberikan gambaran bagaimana ambush marketing dijalankan.

The Winner
Ambush marketing dijalankan dengan sangat kreatif di ajang Piala Dunia 2014 Brasil oleh Beats by Dre. Produsen headphone anak perusahaan Apple ini mencuri momen Piala Dunia 2014 dengan mengunggah video 5 menit di YouTube yang menampilkan Neymar dan Suarez tanpa sedikitpun menggunakan atribut dan trademark Piala Dunia. (lihat videonya di sini: “The Game before the Game”)

Video human interest yang menampilkan Neymar sedang menelpon interlokal ayahnya di kampung tersebut menciptakan engagement yang luar biasa dari para pecinta bola sejagad. Iklan ini menghasilkan 26 juta views di YouTube, peningkatan penjualan online 130% dan PR value sekitar US$ 50 juta.

The Loser
Kalau Beats menuai sukses, maka sebaliknya Paddy Power, perusahaan taruhan asal Irlandia justru melakukan blunder. Di gelaran Piala Eropa 2012, Paddy Power mengontrak Nicklas Bendtner pemain Denmark, untuk memperlihatkan logo Paddy Power di celana dalamnya saat melakukan selebrasi selepas mencetak gol. (lihat videonya di sini: “Paddy Power Lucky Pants”)

Tentu saja ambush marketing ini melanggar ketentuan FIFA dan karena itu Bendtner dan Paddy Power akhirnya terkena denda 80 ribu poundsterling oleh UEFA. Namun berkahnya, kejadian ini memicu kontroversi yang meroketkan brand awareness Paddy Power.

The Smart
UberEats dan McDelivery menyentil kegagalan Italia masuk di laga Piala Dunia 2018 dengan meluncurkan iklan yang menampilkan legenda Italia Andrea Pirlo. Ini adalah iklan ambush yang sangat cerdas.

Dalam iklan bertema #TeamForPirlo itu Pirlo membutuhkan bantuan dari bintang-bintang lain seperti Cafu dan Luiz Hernandes untuk menentukan tim mana yang layak menjadi juara, ketika Italia tak ikut berlaga. (lihat videonya di sini: #teamforpirlo).

Bagi para suporter Italia tentu saja iklan ini merupakan sentilan menyakitkan sekaligus menggelitik. Dengan gaya iklan yang kocak, UberEats mampu “menunggangi” momen Piala Dunia tanpa sedikitpun menggunakan atribut Piala Dunia.

The Coolest
Yang paling cool adalah ambush marketing yang tanpa sengaja “dilakukan” oleh AirPod milik Apple. Saat gelaran Piala Dunia Rusia kali ini secara kebetulan banyak pemain top dunia seperti Neymar dan Jesse Lingard, yang tertangkap kamera media sedang mengenakan AirPod untuk mendengarkan musik saat mereka mendarat di bandara Moscow dan saat mereka pulang karena timnya kalah. Padahal sepeser pun mereka tidak dibayar Apple.

Barangkali inilah ambush marketing paling natural dan paling otentik di sepanjang gelaran Piala Dunia 2018. Semua serba kebetulan, tidak dirancang, dan tidak direkayasa (lihat artikel lengkapnya di sini: “AirPod is the Real Winner of World Cup 2018“).

Dan dalam marketing berlaku, promosi yang otentik selalu menghasilkan dampak branding beribu-ribu lipat lebih powerful. Ini namanya rezeki nomplok bagi Apple.

July 13, 2018   No Comments

Branding Piala Dunia 2018

Kenapa HOT? Karena Piala Dunia adalah momen paling HOT untuk membangun merek dan mendongkrak penjualan. Bayangkan, event akbar berbiaya lebih dari Rp 160 triliun ini bakal ditonton tak kurang dari separuh penduduk bumi. Selama sebulan penyelenggaraannya, praktis semua orang ngomongin Piala Dunia. Dan so pasti, semua hal akan dikaitkan dengan Piala Dunia.

Saya mengistilahkannya: “World Cup of Things”

Tak heran jika brand berlomba-lomba mengeluarkan 1001 jurus untuk meluncurkan produk baru, mendekatkan diri dengan konsumen, mereposisi brand, mengaktivasi komunitas, hingga tentu melejitkan sales dari gelaran empat tahun sekali ini.

Download ebook: The Art of Branding World Cup 2018

Berikut adalah tujuh branding moves yang dilakukan oleh brand untuk memenangkan persaingan.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

#1. It’s the HOT Time to Engage Community
Cara paling umum memanfaatkan gelaran Piala Dunia adalah dengan mengaktivasi komunitas konsumen dengan mengusung acara nonton bareng (nobar). Namun tak seperti sebelumnya, kini menggelar nobar tidak bisa sembarangan. FIFA mengawasi pelaksanaannya dengan melakukan sertifikasi tempat-tempat yang berhak menyelenggarakan nobar. Jadi brand harus hati-hati agar tidak kena semprit FIFA.

#2. Launch HOT Product
Vivo habis-habisan memanfaatkan Piala Dunia 2018 untuk membongkar dominasi Samsung dan Apple di pasar telepon cerdas. Salah satu HOT moves yang dilakukannya adalah memperkenalkan ponsel terbarunya yakni X21 UD yang dirancang khusus versi Piala Dunia 2018. Diluncurkan tiga minggu sebelum gelaran Piala Dunia produk tematik ini hadir dengan dua warna spesial piala dunia yakni Tibetian Blue dan Victory Red yang menjadi warna bendera Rusia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia 2018.

#3. Riding the Wave thru HOT Repositioning
Puluhan tahun brand Pegadaian identik dengan konsumen kelas bawah (bottom of the pyramid) di pedesaan yang tua dan gagap teknologi. Persepsi ini tentu tak menguntungkan di tengah lahirnya generasi zaman now alias milenial dan munculnya fintech disruption.

Karena itu dengan cerdas Pegadaian memanfaatkan momentum akbar Piala Dunia untuk mengubah persepsi ini. Melalui TVC-nya sebelum dan setelah siaran langsung Piala Dunia, Pegadaian memproklamarkan “Pegadaian digital” dengan meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS) gadai tanpa bunga yang disasarkan untuk kaum milenial. A smart moves!

#4. Deepening Engagement with HOT Channel Partners
Brand juga bisa memanfaatkan Piala Dunia 2018 untuk mendekatkan diri dan memperdalam hubungan dengan para channel partners-nya. Itulah yang dilakukan Traveloka. Didukung oleh lebih dari 1,400 channel partner hotel, Traveloka menghadirkan acara nonton bareng Layar Bola Traveloka di lebih dari 100 kota di Indonesia.

#5. Stealing HOT Moment to Create Massive Exposure
Selama gelaran Piala Dunia praktis tak ada brand-brand lokal Indonesia yang melakukan kampanye branding di kota-kota penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia. Ya, karena biayanya memang mahal sekali.

Kelangkaan ini dimanfaatkan secara cerdas oleh Kemenpar dengan melakukan branding Wonderful Indonesia di dua kota utama Rusia: Moscow dan St Petersberg. Media promosi yang digunakan cukup low budget high impact, yaitu digital billboard dan bus-bus yang dibalut foto destinasi-destinasi unggulan. Bus ini ngider di jalan-jalan utama kota Moscow disaksikan fans bola dari seluruh dunia.

#6. Acquire HOT First Customers
Selaku pemegang lisensi ekslusif internet broadcaster Piala Dunia 2018 Klix meluncurkan web portal Klixtv.com dan aplikasi mobile Klix TV untuk menonton pertandingan tersebut melalui live streaming. Klix memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk menggaet first dan early customers. Kita tahu, utk layanan baru, menggaet kosumen awal adalah challenge terberat sebuah brand. Strategi yang sama dilakukan oleh MAXstream layanan video on demand besutan Telkomsel.

#7. And of Course… HOT Ambush Marketing
Event seheboh Piala Dunia selalu menjadi langganan brand untuk melakukan ambush marketing, yaitu memanfaatkan momen Piala Dunia ini untuk melakukan promosi walaupun brand tersebut bukanlah official sponsor dari Piala Dunia.

Ambush marketing memang berisiko: kalau taat aturan tak menjadi masalah; namun kalau melanggar, dampaknya bagi reputasi brand bisa fatal. Di Piala Dunia 2018 kali ini brand-brand seperti: Three, Ikea, Carlsberg, atau Domino Pizza sukses membesut ambush marketing. Sebaliknya, Burger King, Lufthansa, dan Mastercard blunder melakukannya.

Di Indonesia sendiri gimana? Coba lihat di perempatan Kuningan Jakarta, Sosro melakukan ambush marketing secara cantik dengan memasang billboard bertema sepak bola tanpa menggunakan atribut dan logo Piala Dunia.

Ebook bisa didownload di link: bit.ly/brandingworldcup2018

 

July 7, 2018   No Comments

Piala Dunia Zaman Now

Kenapa Piala Dunai Rusia 2018 saya sebut: Piala Dunia zaman now? Karena Piala Dunia kali ini beda dengan Piala Dunia sebelumnya. Ya, karena Piala Dunia kali ini lebih milenial, lebih digital, dan lebih kekinian.

Download ebook-nya: The Art of Branding World Cup 2018

Ambil contoh, nonton bola kini tak hanya di depan TV di rumah, tapi melalui streaming dan mobile. Nobar sebelumnya harus kumpul di kafe atau mal, kini nobar bisa dilakukan secara “online” dimana nontonnya di HP dan perang supporter dilakukan via chit-chat-nya di Twitter. Begitupun, dulu taruhan bola dilakukan di warung-warung kopi atau kafe-kafe, kini mulai seru dilakukan di situs-situs taruhan (online betting).

Berikut adalah 10 tren perilaku fans sepakbola zaman now yang saya amati dari gelaran Piala Dunia 2018.

Screen Shot 2018-07-07 at 11.59.08 PM

#1. World Cup of Things
Perhelatan piala dunia selalu menjadi demam dimana-mana di seluruh dunia. Di berbagai tempat seperti mal, kafe, kantor hingga tempat pencoblosan pilkada berlomba-lomba menampilkan ornamen bertema piala dunia. Begitu pula brand-brand melakukan promosi dengan menunggangi momen turnamen akbar empat tahunan ini. Semua serba Piala Dunia!!!

#2 Streaming Viewership: The New Normal
Di era serba digital sekarang, nonton bola pun semakin personal dan mulai beralih ke online streaming. Dengan mobilitas konsumen yang semakin tinggi, nonton tak lagi harus ramai-ramai di depan TV. Berbagai layanan streaming menawarkan tontonan akbar ini seperti Telkomsel Maxstream atau Klix. Nonton dimanapun, kapanpun!!!

#3. Online Betting: “Adrenaline Pleasure”
Ada adagium mengatakan, tak lengkap nonton bola tanpa taruhan. Pun piala dunia, menjadi ladang yang menggiurkan bagi para petaruh dan bandar judi. Mengadaptasi era digital, bandar judi berevolusi menjadi online betting seperti SBO Bet atau M88 Bet, sehingga semakin memudahkan para petaruh. Tak melulu soal uang, motivasi taruhan biasanya lebih ke “seru-seruan” atau momen “deg-degan” melihat tim jagoan menang atau kalah.

#4. Online Gaming: The New Hype
Senada dengan judi bola, pola gamifikasi bola kini juga semakin digemari. Online gamification seperti Fantasy Football memungkinkan kita seolah-olah menjadi manajer sebuah tim. Kita bisa memilih pemain-pemain favorit yang nantinya akan mendapat poin berdasarkan pertandingan nyata. Demam permainan ini mulai ramai beberapa tahun lalu di pertandingan liga-liga Eropa, dan mencapai puncaknya saat Piala Dunia.

#5. World Cup Meme
Tiada bola tanpa drama, pun piala dunia. Momen-momen dramatik nan unik sepakbola kini hadir dalam bentuk meme-meme khas di social media. Momen gagal penaltinya Messi, atau “kenakalan” Sergio Ramos di lapangan menjadi santapan empuk netizen untuk dijadikan bahan “bully” dengan meme-meme yang lucu dan menghibur.

#6. Comment War: Social Media Battle
Sepakbola tak hanya soal pertandingan bola di lapangan, namun kini juga beralih ke social media. Para supporter di dunia maya ikut bertarung saling komen dan “mem-bully” tim lawannya di media sosial. Setiap pertandingan bola apalagi ketika big match, linimasa twitter (dan socmed lainnya) selalu riuh dengan perang komentar dan meme antar supporter. Social media is the real battle!!!

#7. Online Nobar
Tak hanya satu layar, nonton bola pun kini menjadi multi layar. Nonton bareng di kafe, sambil terus memantau komen-komen di social media. Mata tertuju di layar TV, namun jempol terus begerak memantau linimasa. Komen-komen dan “bully” di medsos terkadang lebih seru disimak daripada pertandingan asli di TV.

#8. World Cup Fashion Fever: Beyond Jersey
Sepakbola dan fesyen adalah dua hal yang selalu berdampingan. Tak lengkap rasanya nonton bola tanpa memakai jersey tim idola. Fashion sepakbola terus berkembang dari sekedar jersey, ke berbagai jenis fashion lainnya sesuai tren yang sedang happening. Kini muncul sarung bertema bola, batik bermotif bola hingga baju koko bola.

#9. Sport Backpackers
Bagi sebagian orang, bisa menonton tim jagoan di perhelatan Piala Dunia ibarat menunaikan ibadah haji. Momen yang terjadi 4 tahun sekali akan sayang jika terlewatkan. Banyak yang menabung dan mengambil cuti kerja (bahkan ada yang resign) demi bisa menyaksikan tim jagoan berlaga di piala dunia. Beberapa brand pun banyak melakukan promo baik menjual paket tur murah maupun kuis berhadiah nonton langsung piala dunia.

#10. Instant Fans… Wannabe Fans
Momen-momen turnamen bola seperti piala dunia atau piala eropa selalu menghadirkan fans-fans bola dadakan, utamanya kaum hawa. Yang biasanya tak paham bola, tiba-tiba hapal nama-nama pemain bintang atau mendadak punya baju bola tim jagoan. Belum eksis kalau tidak ikut ngetwit tentang piala dunia, bakal dianggap “kudet” kalau tidak posting foto memakai jersey bola.

Uraian lengkap mengenai tren perilaku fans dan strategi branding Piala Dunia 2018 bisa diunduh di ebook saya dengan link: bit.ly/brandingworldcup2018

July 7, 2018   2 Comments

Bola Mania

Bola mania”, sebutan saya untuk para penikmat dan penggila sepak bola (“soccer consumer”), adalah pasar yang sangat menggiurkan tak hanya bagi tim dan klub sepak bola, tapi juga bagi merek Anda. Merek apapun, mulai dari yang terkait dengan sepak bola (baju, sepatu, dan perlengkapan sepak bola); yang terkait secara tidak langsung (snack, kacang, minuman dalam kemasan, kamera, TV); hingga yang sama sekali tidak terkait (ponsel, mobil, laptop, bank, maskapai penerbangan). [Read more →]

June 9, 2012   1 Comment

Brand Building Sepak Bola

Kinilah saatnya membangun brand sepak bola Indonesia. Kenapa saya bilang begitu? Karena lingkaran setan (vicious circle) keterpurukan sepak bola yang tak karuan ujung-pangkalnya kini terlihat mulai bisa diputus. Benang kusut persoalan sepak bola kita pun samar-samar mulai bisa diurai. Menariknya, yang mengurai problem akut sepak bola tanah air ini bukanlah PSSI, bukan LPI, bukan pula SBY apalagi DPR. Yang menyembuhkan sepak bola dari penyakit akut adalah kekuatan besar bernama: pasar. Saya percaya kekuatan pasar akan menjadi kekuatan pendobrak yang menjadikan sepak bola kita makin dewasa, berkualitas, konfiden, dan membanggakan.

Dari sudut pemasaran saya mengidentifikasi, ada tiga elemen pasar yang akan menjadikan sepak bola kita berjaya. Pertama adalah konsumen (customer) yaitu para penonton, para fans, para suporter fanatik, para holigan di satu sisi, dan perusahan sponsor dan pemasang iklan di sisi lain. Kedua adalah brand yaitu bisa pemain, klub sepak bola, liga/turnamen seperti LPI (Liga Premier Indonesia) dan ISL (Indonesia Super League), atau bisa juga organisasi pembina sepak bola seperti PSSI. Dan elemen ketiga adalah persaingan (competition) baik antar pemain, antar klub, antar liga/turnamen, atau bahkan antar organisasi pembinanya. Ingat, dalam mekanisme pasar, persaingan akan selalu membawa kebaikan, kedewasaan, dan kemajuan.

Ketiga elemen — customer, brand, competition — di atas akan menciptakan keajaiban jika ketiganya membentuk “lingkaran malaikat” (virtuous circle) bukan “lingkaran setan” (vicious circle), saling mendukung dan ber-chemistry satu sama lain. Penonton yang banyak dan perusahaan sponsor yang cukup akan mendukung eksistensi klub dan liga. Pemain, klub, dan liga yang berkompetisi secara sehat dan profesional akan mendongkrak kualitas dan kinerja mereka. Kualitas dan kinerja unggul pada gilirannya akan menarik penonton dan perusahaan sponsor lebih banyak lagi yang kemudian akan menjadikan sepak bola kita lebih maju lagi. Demikian, siklus itu terus berputar seperti luncuran bola salju; dan jika luncuran bola salju ini bergulir makin kencang maka kemajuan sepak bola nasional tak akan bisa terbendung lagi. [Read more →]

January 16, 2011   4 Comments

Ambush Marketing dan Piala Dunia

Ambush marketing adalah istilah yang diberikan kepada sebuah perusahaan atau merek yang mencoba mengaitkan diri dengan sebuah event akbar tertentu (biasanya event olah raga) tanpa perusahaan tersebut membayar dan mendapatkan hak sponsorship dari event tersebut. Gampangnya, perusahaan atau merek tersebut aji mumpung melakukan aksi “curi-curi” memanfaatkan event tersebut untuk mendongkrak awareness dan ujung-ujungnya meroketkan penjualan.

Karena event itu bukan haknya, mestinya ambush marketing ini secara etis tidak dibenarkan. Namun dalam banyak kasus, aturan yang ditetapkan penyelenggara menyangkut sponsorship kurang komplit dan mendetail. Dan sejauh tak melanggar aturan yang ditetapkan penyelenggara, maka sah-sah saja si perusahaan melakukan ambush marketing tersebut. Di situlah kemudian muncul kreativitas perusahaan-perusahaan yang kebetulan tidak bisa mendapatkan hak sponsorship untuk melakukan ambush marketing. Pada ajang Piala Dunia 2004 misalnya, sekitar 20 merek yang mendapatkan hak eksklusif sponsorship harus ”menghadapi” sekitar 400 merek top dunia yang melakukan ambush marketing memanfaatkan event akbar tersebut. [Read more →]

June 25, 2010   7 Comments