E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Spiritual Marketing

Bisnis yang Berkarakter

Beberapa minggu terakhir ini saya ketemu tiga CEO hebat. Pertama adalah Arief Yahya, CEO Telkom; kedua Johari Zein, CEO JNE, perusahaan jasa pengiriman terkemuka di Tanah Air; dan ketiga David Marsudi, CEO restoran D’Cost. Mereka-mereka ini hebat bukan sekedar karena mereka pencetak laba yang besar bagi perusahaan masing-masing. Mereka hebat juga bukan hanya karena mereka sukses melakukan transformasi di perusahaan masing-masing. Mereka hebat karena memiliki prinsip dan filosofi bisnis yang menurut saya teduh dan mulia. Mari kita lihat sosok mereka satu-satu. [Read more →]

August 4, 2013   4 Comments

Confession of a Salesman

Sudah hampir 15 tahun terakhir ini saya berprofesi sebagai salesman. Setiap hari pekerjaan saya mengukur jalanan dan berkubang dengan kemacetan Jakarta untuk menemui satu-persatu klien. Setiap kali ketemu mereka, saya menjadi tempat curhat dan menumpahkan seluruh persoalan. Persoalannya macam-macam: mulai dari market share yang tergerus; distribusi yang amburadul; brand yang mlempem; atau program pemasaran yang tumpul.

Namanya saja menjadi “curhat center”, tentu saja banyak nggak enaknya, ketimbang enaknya. Ya, karena setiap persoalan yang ditumpahkan itu minta dicarikan pemecahannya. Tak jarang kalau solusi tak tersedia, mereka ngambek. Awalnya memang bikin stress. Tapi lama-kelamaan nikmat juga, karena dari situ biasanya kedekatan emosional di antara kami terjalin.

Karena setiap ketemu klien, saya selalu menjadi “tempat sampah” untuk berkeluh-kesah, maka selama menjadi salesman saya tak pernah merasakan “menjual” layanan yang saya buat. Yang banyak saya rasakan justru adalah “membantu” mereka memecahkan persoalan. Saya bukannya ngepush-ngepush mereka seperti gambaran salesman pada umumnya, tapi justru mereka yang ngejar-ngejar saya minta dibantu.

Terus terang, hal inilah yang membuat saya betah menjadi salesman. Bertahan belasan tahun tanpa pernah bosan, tanpa pernah merasa capek, tanpa pernah mengeluh. “Membantu” bukan “menjual” membuat hidup saya lebih bermakna sebagai salesman. Ya, karena saya merasa berkontribusi memecahkan persoalan orang lain, walaupun mungkin kontribusi itu kecil. Inilah yang membuat pekerjaan sebagai salesman begitu penuh berkah. Hati menjadi ikhlas, hati menjadi ringan, hati menjadi plong.

Everyday Learn
Dunia sales memaksa saya untuk terus belajar. Hampir setiap hari saya bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari CEO hingga pegawai rendahan; dari birokrat hingga pemilik bisnis UKM. Dari bankir hingga petugas layanan di kantor cabang. Pertemuan itu merupakan sebuah “moment of truth” yang mendorong saya untuk mengambil pelajaran-pelajaran terbaik dari mereka. Di dunia sales, tak ada waktu tersisa sedetikpun untuk tidak belajar.

Dari CEO saya mendapatkan wawasan praktis luar biasa mengenai bagaimana membangun strategi. Dari pemilik bisnis UKM saya belajar bagaimana menangkap peluang dan mengelola usaha. Dari petugas layanan saya juga belajar keikhlasan melayani konsumen. Bagi saya, belajar dari para praktisi lapangan dengan ilmu yang down-to-earth tersebut tak kalah bernilainya dibanding kuliah bisnis di Harvard satu semester.

Tak heran jika 15 tahun menekuni profesi sebagai salesman saya merasa tumbuh dan makin pintar. Dalam urusan ilmu dan pengalaman, dengan setiap klien saya selalu giving & receiving. Saya banyak memberikan ilmu dan pengalaman ke mereka; dan sebaliknya saya banyak menerima ilmu dan pengalaman dari mereka. Dan indahnya: semakin banyak saya memberikan ilmu dan pengalaman kepada mereka; semakin banyak pula ilmu dan pengalaman saya terima dari mereka. “The more I give; the more I receive”.

Mencari Teman
Sales sesungguhnya adalah profesi mencari teman. “Selling is about friending”. Setiap hari muterin Jakarta untuk menemui satu-persatu klien, sesungguhnya saya sedang mengoleksi teman-teman baru dan memupuk hubungan pertemanan dengan mereka. Saya tak pernah pilih-pilih kalau urusan mencari teman. Mau CEO yang powerful, mau business owner yang banyak duit; mau manajer; mau karyawan rendahan, mau OB, saya perlakukan sama. Tak ada pilih-kasih, tak ada diskriminasi, perlakuannya sami mawon.

Hubungan pertemanan ini terjalin tak hanya menyangkut hubungan kerja dan hubungan profesional, tapi juga hubungan personal dan kekeluargaan. Karena setiap saat selalu menambah koleksi teman, sebagai salesman saya merasakan sebuah kekayaan jiwa yang jauh melebihi kekayaan harta dan kekayaan kuasa.

Belasan tahun menjadi salesman, saya menganggap setiap klien adalah teman, bukan melulu konsumen. Bagi saya mereka adalah teman yang selalu ikhlas memberi dan berbagi. Berkat menjadi salesman, teman-teman saya melimpah-ruah dan ini merupakan berkah luar biasa. Kenapa? Karena kehidupan terindah dan ternikmat adalah ketika kita dikelilingi teman-teman yang selalu ikhlas memberi dan berbagi.

Hidup menjadi begitu bermakna ketika kita dikelilingi oleh tema-teman yang peduli dan berbagi. Ini menjadi asupan energi luar biasa, yang membuat saya selalu positif, selalu berlimpah semangat, selalu menghayati pekerjaan ini dengan sepenuh hati.

Pelajaran Hidup
Pekerjaan salesman juga memberi saya pelajaran hidup. Ya, karena meyakinkan konsumen untuk membeli produk kita itu tidak gampang. Dulu awal-awal berprofesi sebagai salesman, saya lebih banyak ditolak ketimbang diterima konsumen. Jujur saja, sampai sekarang pun, setelah melanglang-buana di dunia sales, saya pun masih sering ditolak. Terjun di dunia sales tanpa penolakan, itu namanya hil yang mustahal. Terjun di dunia sales tanpa kegagalan, itu namanya hal yang mustahil.

Tapi justru di sinilah sisi indah dunia sales. Ditolak konsumen dan gagal melakukan penjualan menyadarkan saya bahwa kesuksesan itu tidak gampang; kesuksesan itu perlu kegigihan; kesuksesan itu bukan cuma hasil dari kerja instan. Saya jadi ingat ungkapan inspiring dari Soichiro Honda, pendiri Honda Motor. Dia bilang: “Sucess is 99% failure”, sukses itu buah dari segudang kegagalan.

Inilah pelajaran hidup paling besar yang saya peroleh dari dunia sales. Bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya. Kegagalan tak seharusnya membuat kita loyo. Kegagalan seharusnya memberi kita pelajaran-pelajaran. Dari dari pelajaran-pelajaran itu kita bangkit untuk menjadi lebih baik.

Salah Siapa?
Membaca paragraf demi paragrafi tulisan ini pasti pembaca punya kesimpulan yang sama dengan saya: “WOW… betapa indahnya menjadi seorang salesman; WOW… betapa mulianya menjadi seorang salesman; dan WOW… betapa cool-nya menjadi seorang salesman.”

Tapi rupanya potret di atas tak seindah gambar aslinya. Ya, karena dari dulu hingga sekarang salesman menjadi “anak tiri” di antara profesi-profesi lain. Jaman saya kecil, tak ada satupun anak-anak yang punya cita-cita menjadi salesman; yang ada menjadi dokter, insinyur atau astronout. Ketika lulus kuliah, nggak ada fresh graduate yang memilih berprofesi menjadi salesman. Mereka cenderung menempatkan profesi salesman di posisi paling buncit setelah sebelumnya ditolak di profesi-profesi lain. “Upsss… kacihan deh luuuu…!!!”

Kalau kontras seperti ini, pertanyaannya: “Ini salah siapa?”

March 23, 2013   4 Comments

Triple Bottom Line

Nggak tahu kenapa, beberapa tahun terakhir arus besar kesadaran perusahaan untuk semakin “spiritual”—dengan peduli kepada masyarakat tertindas, peduli ke lingkungan, atau peka terhadap persoalan sosial-kemasyarakatan—kian besar. GE getol melipatgandakan penggunaan clean technology; Toyota fokus mengembangkan Prius sebagai the world’s cleanest car untuk mengurangi global warming; Grameen Bank mengembangkan micro finance untuk kaum papa hingga berbuah Hadiah Nobel; Hindustan Lever, anak perusahaan Unilever di India, mengembangkan segmen pasar orang miskin (bottom of the pyramid market) sekaligus memberdayakannya.

Mungkin karena bumi kita sudah terlanjur kerempeng dan bopeng-bopeng. Atau karena kalangan bisnis sudah terlalu lama mengesampingkan kaum papa. Atau bisa jadi karena kaum pebisnis ini sudah bertobat karena keterlaluan mengeksploitasi isi perut bumi atas nama kapitalisme membabi-buta. Dupont misalnya, kini mulai “bertobat” karena sudah puluhan tahun mengotori bumi dengan bahan-bahan kimia ciptaannya. Sejak tahun 1991, Dupont sangat serius mengurangi emisi gas buang sebesar 55% dan menghemat hingga 2 miliar dolar.

Karena kenyataan itu, bukan kebetulan kalau kini mulai banyak perusahaan yang mengadopsi konsep “triple bottom line”. Apa itu? Konsep pengukuran kinerja perusahaan secara “holistik” dengan memasukan tak hanya ukuran kinerja ekonomis berupa perolehan profit, tapi juga ukuran kepedulian sosial dan pelestarian lingkungan. Kenapa “triple”? Karena konsep ini memasukkan tiga ukuran kinerja sekaligus: economic, environmental, social (EES) atau istilah keren-nya 3P: “People-Planet-Profit”. Maunya jelas, perusahaan tak hanya menjadi “economic animal”, tapi juga entitas yang “socially and environmetally responsible.” [Read more →]

October 24, 2008   8 Comments

Marketing adalah “Al Amin”

Puasa hari kedua lalu saya diundang berbicara di Allianz Syariah Motivational Seminar di Jakarta. Saya membawakan topik yang nyambung dengan tema bulan Ramadhan yaitu Spiritualizing Marketing. Di situ saya bilang bahwa “roh” dari marketing adalah Al Amin. Seperti halnya Nabi Muhammad, seorang marketer haruslah dapat dipercaya oleh pelanggan saat memasarkan produknya. Harus sesuai apa yang diomongkan dengan apa yang diberikan ke pelanggan, tidak boleh over promise under deliver. Marketer harus jujur sejujur Nabi, tak boleh sekalipun membohongi pelanggan dengan kata-kata yang manis nan indah. [Read more →]

September 15, 2008   9 Comments