E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — social media

Twitter SBY

Seharian, hari Sabtu kemarin (13/4) saya menthengin akun Twitter @SBYudhoyono, pagi hingga detik-detik menjelang rampungnya tulisan ini malam hari. Tentu saja ini akun spesial, karena resmi milik pak presiden. Di akun tersebut tertulis: “Akun Resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dikelola oleh Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Twit dari Presiden ditandai *SBY*”.

Ada satu hal yang saya tunggu dari akun ini, yaitu sepatah twit dari si empunya akun. Namun celaka tiga belas, sampai kata-kata terakhir kolom ini ditulis, tak sepatah twit pun saya temukan. Yang saya dapati justru jumlah follower yang melesat bak meteor hingga mencapai ratusan ribu orang dalam ukuran jam. Ya, memang buzz mengenai bakal “go twitter”-nya pak SBY beberapa hari ini membahana di setiap sudut jagad Twitterland.

Sambil berdebar menunggu twit pertama pak presiden, saya ingin memberikan catatan-catatan iseng mengenai langkah yang super simpatik sang presiden ini. Catatan iseng ini sekaligus merupakan harapan seorang jelata kepada pemimpinnya.

Let’s Listen
Kesalahan terbesar banyak tokoh figur publik adalah bahwa mereka menggunakan Twitter hanya sebagai status. Alasannya: ya, kalau punya akun Twitter kan cool+awesome; dianggap gaul; dianggap tech savvy, dianggap social networker; dan segudang anggapan keren lain. Padahal esensi ber-Twitter ria bukanlah di situ. Perilaku paling mulia di ranah Twitter adalah jika kita selalu mendengar (listening) para followers. “The GREATEST gifts and loving acts you can give to your followers is to LISTEN to them”. Gimana caranya? Caranya adalah blusukan di Twitter: mendengarkan cit-cit-cuit para followers. Karena itu, saya berharap agar pak SBY nantinya banyak blusukan di Twitter mendengarkan jeritan hati rakyatnya.

Pak SBY perlu tahu bahwa blusukan itu tak melulu di kampung-kampung kumuh seperti yang dilakukan pak Jokowi. Blusukan juga ampuh dilakukan di Twitter. Blusukan di Twitter adalah alat cespleng untuk mendengarkan curhatan-curhatan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Memang pak SBY kalah dari pak Jokowi kalau untuk urusan blusukan di kampung-kampung. Tapi siapa tahu, begitu akun Twitter hidup, pak presiden menang dari pak gubernur untuk urusan blusukan di Twitter (hehehe.. biar skornya 1:1 kayak laga Barca vs. Paris St. Germain tiga hari lalu).

Let’s Talk
Saya juga berharap, kalau betul nanti Twitter-nya hidup, pak SBY juga ngobrol dengan para followers-nya. Ngobrol tak hanya diwakili oleh staf, tapi juga obrolan pak SBY menyapa para followers-nya. Kenapa? Karena memang Twitter adalah platform untuk ngobrol (conversations). Namanya juga ngobrol, maka arah komunikasinya harus dua arah. Ketika memutuskan nyemplung di Twitterland, maka inilah mindset yang harus dipegang: “Conversations yang dulunya merupakan liabilities karena “membahayakan” ketentraman si presiden kini justru harus menjadi asset dan peluang luar biasa untuk menjalin koneksi sosial (social connections) dengan seluruh stakeholders.”

Ngobrol memiliki dua elemen: bicara (talk) dan mendengar (listen). Dua elemen itu haruslah dilakukan secara proporsional dalam melakukan relationship dengan followers. Kita tak boleh terlalu banyak bicara tapi kurang mendengar. Sebaliknya, terlalu banyak mendengar kurang bicara juga nggak bagus. Ya, karena kita akan dinilai tidak responsif dan tidak empatik. Saya sering menggambarkan tweeps yang tak pernah mau ngobrol di Twitter sebagai “menekin yang hadir di sebuah resepsi pernikahan”. Ketika tamu undangan lain sibuk ngobrol dan bercengkrama, si menekin diam tanpa perasaan, tanpa ekspresi, layaknya robot yang nir-empati. Pak SBY tidak boleh menjadi menekin di Twitterland.

Dengan tidak melakukan conversation dengan para followers di Twitter, sesungguhnya pak SBY kehilangan sebuah kesempatan emas. Kesempatan emas untuk membuka diri kepada audiens (followers). Kesempatan emas untuk mengetahui lebih banyak dunia mereka. Kesempatan emas untuk membuka saling pengertian (understanding), saling percaya (trust), bahkan saling cinta (love). Kita semua memahami bahwa pak presiden sibuk luar biasa. Jadi tentu saja dimaklumi kalau sesekali saja ngetwit, selebihnya dilakukan oleh staf. Justru kalau pak SBY kebanyakan ngetwit, kita jadi curiga: “Pak presiden kita ini kerja atau kagak!” Nah, justru twit yang sedikit itulah yang ampuh luar biasa. “So, don’t worry… less is more.”

Be Open, Be Authentic
Wahai pak presiden, jangan jadikan Twitter sebagai alat pencitraan, apalagi alat untuk politiking. Janganlah jaim di Twitterland dengan menutupi yang bopeng-bopeng dengan bedak dan lipstik hingga kinclong. Percayalah bahwa Twitter adalah platform buka-bukaan. Semakin banyak bopeng-bopeng ditutupi, bukan wajah kinclong yang didapat, tapi justru pembusukan yang dituai. Dan kalau sudah begitu, maka reputasi personal (personal brand reputation) menjadi taruhan. Ingat, fondasi kesuksesan di Twitterland adalah keterbukaan. “OPENESS is a prerequisite for an HONEST and GENUINE conversation

Untuk menciptakan authentic conversation di Twitter kita tak perlu menjadi siapa-siapa. Kita cukup menjadi diri sendiri. Be Yourself. Never be someone you are not. Kita tak perlu menjadi Superman. Kita tak perlu menjadi malaikat. Kita tak perlu menjadi Michael Jackson. Kita tak perlu mempermak diri dengan beribu kepalsuan

Pak SBY cukup menjadi diri Anda sendiri dengan kesederhanaan dan kesahajaan; dengan kelebihan dan kekurangan; dengan kebaikan dan kejelekan; dengan kebanggaan-kebanggaan dan hal-hal memalukan; dengan kekhasan gaya bertutur dan bersikap; dengan kepribadian yang unik. Tampilkanlah diri apa adanya. Semua itu akan membentuk karakter siapa SBY. Dengan tampil apa adanya, dengan sendirinya pak SBY membangun authentic character-nya. Ingat, your authentic character is your UNIQUENESS. It’s your TRULLY differentiation.

Saya Girang
Kalau betul SBY bercit-cit-cuit di Twitter barangkali saya adalah salah satu orang yang paling girang. Kenapa? Saya membayangkan akan terjadi gelombang eksodus besar-besaran para menteri, dirjen, gubernur, bupati, camat, lurah, carik, pak duta besar, dirut BUMN, kepala sekolah SD Inpres, kepala Lapas, sampai sopir busway, berbondong-bondong “go twitter”. Kok bisa? Bagaimana tidak, lha wong bos besar saja pakai Twitter, kok ini bos-bos kecil tidak! Nanti bisa kualat… upsss.

Lalu, kalau pemimpin-pemimpin kita (dari presiden hingga lurah di pelosok Papua) semua pakai Twitter, apa yang bakal terjadi? Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa Twitter akan bisa membawa “revolusi kebaikan” bagi kita umat manusia. Ketika hubungan kita Twitterland dilandasi prinsip-prinsip saling memberi (giving) tidak selfish; mau saling mendengarkan (listening); intensif ngobrol dan bercurhat-curhatan (conversation); berperilaku jujur tanpa sedikitpun kepalsuan; dan selalu peduli dan empati kepada orang lain; maka kita akan menemukan dunia baru yang luar biasa. A whole new world. A world with peace and happiness.

Saya sangat berharap SBY bisa menjadi duta ber-Twitter yang sejuk, penuh empati, dan bernurani. Welcome to the Twitterland Mr. President.

April 13, 2013   2 Comments

#IOEO

Introvertly Offline, Extrovertly Online, disingkat #IOEO adalah istilah yang saya berikan untuk menyebut “mahluk baru” yang kini begitu marak bermunculan di tengah revolusi media sosial. Saya meramalkan #IOEO ini akan menjadi semacam wabah yang menular begitu ganas di ranah dunia yang kian narsis ini.

Sesuai namanya, #IOEO adalah sosok seseorang yang introvert (pendiam, tertutup, pemalu, low profile, penyendiri, kurang pede berada di depan orang banyak) ketika berada di dunia nyata (offline); tapi ternyata kemudian memiliki sifat ekstrovert (banyak cakap, ramah, periang, terbuka, high profile, over confident, gokil, suka usil, dsb.) di ranah dunia maya (online). [Read more →]

March 16, 2013   3 Comments

Social Business Transformation

Temen-temen,

Saya dapat sebuah model mengenai: “The 6 Stages of Social Business Transformation” dari Altimeter, ditulis pakar media sosial Charlene Li danBrian Solis. Menarik sekali untuk temen-temen yang menekuni dunia media sosial. Silahkan unggah di link ini: 6 Steps of Social Business Transformation

Keep learning, keep sharing :)

March 13, 2013   1 Comment

Orang Beken Baru

Selama ini kita mengenal istilah “orang kaya baru” disingkat OKB. Kini, saya punya “mahluk baru” lain di era Consumer 3000. Mahluk baru tersebut saya beri nama “orang beken baru”, disingkat: OBB.

OKB adalah orang yang sebetulnya belum kaya-kaya amat, tapi sudah merasa kaya. Akibatnya lagak-gayanya sudah kayak orang kaya, bahkan melebihi orang kaya yang beneran.

Misalnya, punya kartu kredit nggak cukup satu, tapi lima atau bahkan sepuluh. Ditaruh berjejal-jejal di dompet agar waktu membayar di mal kartu kreditnya kelihatan semua. Misalnya lagi, punya smartphone nggak cukup satu. Bisa dua, bisa tiga: satu untuk nelpon, satu untuk BBM-an, satu lagi untuk berburu apps.

OBB setali tiga uang. Mereka sebetulnya belum beken-beken amat. Tapi lagak-gayanya sudah kayak orang beken, bahkan melebihi artis dan selebriti kondang. Jaim (“jaga image”) abis. Pokoknya sok beken abiiiissss!!!

Di era “revolusi media sosial”, dimana Twitter, Facebook, atau Youtube memungkinkan seseorang begitu gampang menjadi beken, wabah OBB menjalar begitu cepat layaknya wabah kolera. Di era “revolusi narsis”, dimana siapapun kini punya kesempatan untuk menjadi pusat perhatian dan sorotan khalayak, wabah OBB meluas begitu cepat layaknya wabah flu burung. Ingat, “connected customers create a narcissistic world”.

Dulu, untuk menjadi orang beken jalan yang ditempuh begitu panjang-berliku. SBY misalya, untuk bisa beken seperti sekarang harus berpuluh tahun merintis karir di kemiliteran, mendirikan Partai Demokrat, berjuang memenangkan pemilu, hingga kemudian menjadi presiden. Agnes Monica untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis sejak dini menjadi penyanyi anak-anak, bertransformasi menjadi penyanyi remaja, hingga akhirnya menyandang sebutan sebagai diva pop. Atau, Anas Urbaningrum untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis karir politik sejak mahasiswa di HMI, nyemplung di partai Demokrat hingga menduduki posisi puncak, dan akhirnya tersandung kasus Hambalang dan keluar pameo: “Gantung Anas di Monas” yang meroketkan popularitas.

Kini, untuk menjadi beken gampangnya minta ampun. Cukup punya 1000 follower di Twitter, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup punya teman 1000 orang di Facebook, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup pasang video di Youtube dilihat 1000 orang, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken.

Makanya di ranah Twitter, Facebok, atau Youtube kini penuh berjejal orang-orang yang menganggap dirinya beken. Dan mereka memutar otak melakukan personal branding, social media marketing, Twitter marketing, atau apapun namanya, untuk menjadi kian beken dan menjadi yang terbeken di antara orang-orang beken lain. Di tengah perlombaan orang beken tersebut narsis menjadi panglima: “narsis becomes way of life

Seperti layaknya artis dan seleb kondang, para OBB ini jaim minta ampun. Pas ia sarapan di warteg kolong gang, twit tiarap, diam seribu basa. Tapi giliran ia nongkrong di Starbucks atau Sevel, twit seperti mitraliur memuntahkan peluru memberondong musuh. Ditel-ditel ia ceritakan: mulai dari Iced Caramel Macchiato yang dipesan, cewek yang jadi teman ngobrol, gadget yang dibawa, di samping tentu, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.

Pas nonton plus joget dangdut di hajatan sunatan tetangga twit berhenti berkoar. Tapi giliran nonton Java Jazz di JIExpo Kemayoran twit tak hentinya berkoar-koar. Panggung yang dikunjungi, artis yang ditonton, lagu-lagu yang dimainkan, merchandise yang dibeli, semuanya diobral ke followers. Tentu saja tak ketinggalan, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.

Tiap kali ada OBB yang obral narsis seperti ini, dalam hati saya selalu bergumam: “Terus gue harus bilang WOW gitu!?!”

Di Twitter dan Facebook, OBB adalah sosok yang baik hati dan tidak sombong. Pokonya mirip sosok “Boy” dalam film “Catatan Si Boy” jaman saya muda dulu. Di Twitter atau Facebook mereka harus tampil all-out sehingga pantas dipuja dan dikagumi oleh followers. Tipenya ada dua. Pertama, ada yang selalu bertutur halus, bijak, suka menasehati, banyak ilmu, menginspirasi, suka mengutip puisi-puisi cinta Khalil Gibran atau Taufik Ismail. Kedua, ada yang slengekan, nyentrik, jahil, usil, sok akrab. Walaupun selintas berbeda, sesungguhnya tujuan mereka sama: membangun citra berkilau yang pantas dikagumi dan digilai followers.

Sosok OBB paling gampang terlihat dari foto profil di Twitter atau Facebook. OBB paling suka gonta-ganti foto profil dan setiap foto tersebut selalu tampil prima. Tak peduli wajah berantakan, dipermak kanan-kiri pakai Photoshop, tampilan wajah pun berubah menjadi kinclong. Jerawat dihilangkan, hidung sedikit dimancungkan, jidat diratakan. Atau kalau wajah sudah terlalu berantakan dan tak tertolong lagi, berbagai efek Photoshop atau Instagram siap memanipulasi: dikaburkan, efek siluet, efek black & white, efek glow, dsb.

OBB juga paling gila sapaan, retweet, atau mention dari para followers atau teman. Sejam saja nggak mendapat sapaan atau mention dari followers atau teman, rasanya dunia mau kiamat. Ya karena itu berarti dia tidak menjadi sorotan, dia tidak sedang menjadi pusat perhatian, ia tidak sedang menjadi bintang.

Anda OBB? Tak usah malu, tak usah takut, tak usah sungkan-sungkan. Anda punya teman. Ya, karena perasaan saya juga mulai kejangkitan wabah OBB, uppss! Ssssst… jangan bilang-bilang!!! :D :D :D

March 9, 2013   7 Comments

Kultwit #Obsat: “Digital Tsunami”

Temen-temen, untuk “pemanasan” Obrolan Langsat #Obsat nanti malam (18/2) mengenai “Digital Tsunami: The Media Company Challenges“, ada baiknya saya kultwit materi yang mau kita obrolkan, agar kita punya gambaran mengenai apa yang mau kita obrolkan dan nggak nglantur ke sana kemari. Berikut kultwitnya, monggo disarap:

1.Revolusi teknologi digital (saya sebut #tsunamiDigital) telah menggerogoti pilar2 industri media khsususnya cetak

2.Korban terakhir adl Newsweek yg Jan 2013 lalu mghentikan edisi cetak n scr penuh mjd online stlh 80th beroperasi.

3. #TsunamiDigital menuntut media cetak melakukan “creative destruction” utk tetap survive. Change or Die!

4.Media cetak hrs mengubah model bisnis dr “single platform” ke “multi platform” utk bs survive

5. Mindset media cetak hrs berubah dr “menjual berita” mjd “pengelola komunitas konsumen”

6. Mrk hrs bertransformasi dr “media company” mjd “community company”.

6. Slma ini media cetak memiliki advantage krn memiliki basis konsumen/pembaca yang sgt besar

7.Basis pembaca ini yang hrs dikonversi mjd komunitas konsumen yg bs dimonetisasi

8.Media cetak bisa memiliki banyak komunitas (tak cukup hanya 1) mengacu pd common interest yg ada pd pembaca mrk

9.Komunitas pembaca ini hrs difasilitasi agar berkembang sesuai common interest anggota komunitas tsb

10.Jd midset media cetak hrs berubah dr “news producer” mjd “community facilitator”

11.Karena itu “Chief Editor” di media cetak sdh waktunya diubah mjd “Chief Community Officer” (CCO)

12.Seorang CCO tak cukup hy piawai meramu berita tp jg mjd “facilitator” bagi setiap member komunitas

13. CCO hrs seorang connector bagi member, networker bagi partner, listener yg empatik, dan conversation-builder

14. Perubahan ini menuntut media cetak tak sekedar “menjual space iklan” kpd advertiser, tp mjd “konsultan komunikasi”

15.Maksudnya, stlah py komunitas solid, maka mrk hrs bs menemukan ide2 program komunikasi utk ditwrkan ke para advertiser

16.Ide2 program itu ditawarkan kpd advertiser sbg “solusi komunikasi terintegrasi” yg memiliki nilai monetisasi tinggi

17.Jadi pendekatan jualannya berubah dr pasif “menunggu warung” mjd proaktif “jemput bola” ke pr advertiser

18.Klo sdh bgini, maka CRM dan database komunitas mjd “nyawa” bagi media krn menentukan kualitas solusi yg diberikan

19.Transformasi dr “media company” mjd “community company” menuntut prubahan mindset dan paradima

20.Krn itu perubahan terbesar n paling sulit adl perubahan budaya: “culture transformation” dr awak media.

21.Bgmn pengalaman Femina, SWA, Jawa Pos, dan Kompas bertransformasi dari “media company” mjd “community company”?

22.Mari simak Obsat mlm ini brsma Petz09 (Femina), @kemalGani (SWA), @krismoerwanto (Jawa Pos), @etaslim (Kompas), @handoko_h

23.Mlm ini Obrolan Langsat #Obsat akan dimulai pk.19 di Jl.Langsat 3A, ayok dtg

February 18, 2013   1 Comment

Obsat – Digital Tsunami: “The Media Company Challenges”

Berawal dari tulisan “Local Challenger” dan “Chief Community Officer” mengenai strategi multi-platform Femina terpicu diskusi gayeng di ranah Twitter mengenai nasib media (khususnya cetak) di tengah ontran-ontran “tsunami digital”. Kebetulan masih fresh kejadian memilukan awal Januari 2013 lalu ketika Newsweek, raksasa media yang begitu perkasa selama 80 tahun, terpaksa harus menghentikan edisi cetak untuk secara full hanya terbit dalam edisi online. Orang-orang hebat dan otoritas di industri media terlibat dalam diskusi itu seperti @petz09 (Femina), @KemalGani (SWA), @krismoewanto (Jawa Pos), @etaslim (Kompas.com), @bangwinissimo (dulu Yahoo.com), @handoko.h (penulis buku “Brand Gardener”) Diskusi gayeng itu akhirnya berujung pada keinginan kopdar untuk membahas topik ini secara lebih intens.

Keinginan kopdar pun diwujudkan, saya mengontak mereka satu persatu, dan melalui diskusi di Twitter akhirnya disepakati kopdar “Obrolan Langsat” (Obsat), Indonesia Brand Forum (@IDbrandforum),  sekaligus kumpul-kumpul komunitas “Lifetime Learner” (@LTlearnerID) dilaksanakan pada: Senin 18 Februari 2013, di Rumah Langsat, Jl. Langsat 1 No 3A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pk 19.00 WIB. Topiknya adalah: “Digital Tsunami: The Media Company Challenges”.

Karena obrolan ini merupakan forum horizontal, maka siapapun nanti diundang untuk berkontribusi membagikan perspektifnya. Namun untuk pancingan para “guru media” akan berbagi pengalaman mengenai strategi  yang telah mereka jalankan untuk survive dan sukses di tengah revolusi digital, mereka adalah: Petty Fatimah (Femina), Krismoerwanto (Jawa Pos), Edy Taslim (Kompas.com), Kemal Gani (SWA), Handoko Hendroyono (penulis buku Brand Gardener). Saya Yuswohady, akan memandu obrolan santai tapi bernas ini.

Host dari obrolan ini adalah Rumah Langsat dengan “induk semang”-nya mas @didinu dan @Ndorokakung. Sambil ngobrol ngalor-ngidul kita akan “cakrukan” sambil menikmati sego kucing khas Mbayat, Klaten.

Indonesia Brand Forum blog -> http://www.indonesiabrandforum.com

February 10, 2013   1 Comment

The Six Social Media Skills for Leader

Surving, surving… Searching, searching… Googling, Googling… eeh ketemu artikel jempolan. Terbit di McKinsey Quarterly paling gresss (edisi February, 2013), artikel ini menawarkan sebuah model mengenai enam skills yang harus dimiliki oleh setiap leader berkaitan dengan bagaimana si leader menyikapi “mainan baru” bernama: social media.

Melek media sosial (“Social media literacy”) bagi seorang leader, menurut artikel ini, nantinya akan menjadi sumber competitive advantages yang luar biasa. Penasaran? Silahkan klik link berikut, formatnya pdf sehingga enak dibaca dan disimpan. Selamat melumat ilmu yang berguna tiada tara ini… sharing is amazing!!!

The Six Social Media Skills Every Leader Needs

February 4, 2013   No Comments

Every Business Is a Blogging Business

Setiap minggu secara rutin saya membuat 2-3 kolom untuk berbagai media cetak maupun online. Rutinitas ini sudah saya jalani selama 15 tahun terakhir. Dulu, saat saya belum punya blog, aktivitas menulis di media cetak terasa “hambar”. Kenapa? Karena setiap kali selesai menulis dan diserahkan ke redaksi, saya tidak tahu tulisan itu juntrungannya ke mana. [Read more →]

February 2, 2013   14 Comments

Chief Community Officer

Ide tulisan ini datang dari obrolan saya dengan mbak Petty Fatimah dari majalah Femina dan diskusi seru di Twitter mengenai nasib media konvensional (khususnya cetak) di tengah terjangan tsunami digital. Mbak Petty adalah Chief Community Officer (CCO) Femina. Saat pertama mengetahui jabatannya melalui kartu nama yang ia berikan, saya langsung kaget. Saya sudah membaca dan mendengar jabatan itu sejak lama dari majalah-majalah bisnis asing atau dari artikel-artikel di internet mengenai socmed dan community marketing. Tapi itu di Amerika, bukan di sini. Memang jabatan itu kini lagi hot-hot-nya di kalangan corporate America.

Di Indonesia, seumur-umur saya baru melihat title itu ya di kartu nama mbak Petty. Saya pun langsung curiga: “Ini title, title-title-an atau title sungguhan?” Ngobrol cukup lama dengan mbak Petty saya kian tahu bahwa itu title sungguhan. Ya, karena model bisnis Femina sudah berubah sedemikian rupa sehingga title “Pemimpin Redaksi” memang sudah tak relevan lagi disandang oleh pimpinan puncak perusahaan media satu ini. [Read more →]

January 26, 2013   6 Comments

#TwitLeader

#TwitLeader adalah sebutan yang saya berikan untuk para pemimpin di berbagai bidang dan sektor, yang menggunakan Twitter untuk berkontribusi dan membawa kebaikan bagi masyarakat. Mereka bisa CEO, manajer, atau wirausahawan di sektor bisnis. Mereka bisa politisi partai, anggota DPR, pejabat negara, atau akademisi di sektor publik. Mereka juga bisa aktivis LSM, aktivis gerakan sosial, pekerja sosial, seniman, intelektual, wartawan, mahasiswa, atau selebriti di sektor sosial-kemasyarakatan. Yang saya maksud pemimpin di sini tentu saja bukan hanya sebatas pemimpin sebagai “posisi” atau “jabatan“, tapi lebih mendasar lagi, sebagai “kualitas personal”.

Mereka ngetwit dengan semangat keikhlasan untuk membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Mereka menjaga karakter dan perilaku agar bisa menjadi role model bagi para followers-nya. Melalui twit mereka berbagi, memberi informasi, dan menginspirasi untuk menebar kebaikan bagi masyarakat yang menjadi followers-nya. Melalui twit-twit nya, mereka mendayagunakan potensi-potensi yang ada di masyarakat untuk menghasilkan inisiatif-inisiatif yang bermanfaat bagi orang banyak. Dengan pengaruhnya yang luar biasa, bahkan mereka bisa memicu gerakan sosial untuk membawa perubahan positif di masyarakat.

Dan yang terpenting dari itu semua: mereka diikuti oleh ribuan, bahkan ratusan ribu followers karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan kepada para followers tersebut. Mereka memperoleh trust dan integritas sebagai pemimpin karena pengabdian dan kontribusi ini. Yup, “leadership is about contributions for the followers’ personal growth”. Mereka adalah guru yang luar biasa karena “the best leader is a passionate teacher“. [Read more →]

January 19, 2013   4 Comments