E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Seasonal Marketing

Pesona Lebaran

Kemarin saya mendapat mention Twitter dari teman yang mudik ke Pati, Jawa Tengah. Mention itu berisi link yang membawa saya meluncur ke akun Facebook Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan hastag #PesonaLebaranPati. Saya pun sampai ke tulisan berjudul “Mudik ke Pati? Ini dia 10 destinasi paling keren” di akun tersebut.

Di dalam tulisan itu tersemat ajakan Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata. “Kami punya 10 daftar lokasi wisata yang perlu dikunjungi, semampang punya waktu longgar di Pati. Ada wisata alam, wisata religi, dan wisata sejarah di sana,” demikian ajakan Pak Menteri.

Sejurus kemudian 10 destinasi unggulan kota Pati yang layak dikunjungi pemudik diuraikan satu-satu berikut gambar-gambarnya. Di samping itu, tulisan tersebut juga memberikan informasi menarik mengenai 10 tujuan kuliner Pati dan 10 atraksi khas Pati yang layak disambangi semasa lebaran. Tulisan ditutup dengan sederetan hastag: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Tweet teman saya tersebut adalah bagian dari kampanye viral #PesonaLebaran dari Kemenpar yang dikomando langsung oleh Pak AY (demikian Pak Menteri biasa dipanggil) untuk memberikan informasi destinasi, kuliner, dan atraksi wisata di seluruh kota/kabupaten setanah air, terutama di kantong-kantong mudik dalam beberapa minggu ke depan.

Sedikit menyinggung Pak AY, sejak menjabat tahun lalu, menteri satu ini menggebrak dengan jurus-jurus marketing ampuh sehingga brand “Wonderful Indonesia” kian mencorong di dunia mengalahkan kampanye branding Malaysia, Thailand, Singapura. Bisa dikatakan inilah manteri paling marketer di antara menteri-menteri di dalam Kabinet Jokowi.

Malioboro

Wisata Mudik
Ide program #PesonaLebaran Kemenpar simple, kita punya liburan mudik lebaran selama dua bahkan ada yang sampai tiga minggu. Dari liburan sepanjang itu, berapa hari untuk ibadah Sholat Ied dan Halal Bihalal? Praktis cuma sehari atau paling lama dua hari. Sisanya adalah untuk liburan. Apalagi THR sudah di tangan.

Nah, peluang inilah yang ingin ditangkap Kemenpar untuk mendongkrak kunjungan wisatawan khususnya ke destinasi wisata di sekitar kantong-kantong mudik. Karena itu kemudian Pak AY memobilisasi semua kepala dinas pariwisata (Kadispar) provinsi, kota, maupun kabupaten untuk mempromosikan 10 destinasi yang direkomendasikan, 10 tempat kuliner yang layak dikunjungi, dan 10 event yang wajib ditonton selama mudik lebaran di daerahnya masing-masing.

Ia meminta semua Kadispar untuk men-share informasi tersebut di media cetak maupun online, di Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain agar tercipta viral di dunia maya. Agar branding-nya kuat menancap dan mudah terbaca oleh Mbah Google, hastag-nya pun diseragamkan. Misalnya kalau merekomendasikan wisata Pati maka hastag-nya: #PesonaLebaranPati #PesonaKulinerPati #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Pemasaran Horisontal

Kampanye viral #PesonaLebaran menarik, menurut saya, setidaknya dari dua aspek. Pertama, kampanye tersebut jeli memanfaatkan momentum setahun sekali Puasa-Lebaran untuk mendorong kunjungan wisata domestik. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 18 juta orang. Nah, secara jeli Kemenpar mencoba memfasilitasi dan menggerakkan jutaan pemudik di berbagai daerah untuk mengunjungi destinasi wisata di saat, tempat, dan waktu yang tepat.

Kedua, dengan men-share informasi 10 destinasi, 10 kuliner, 10 atraksi kabupaten/kota dan mendorong para netizen (seperti teman saya di atas) sebagai buzzer/influencer, maka kampanye tersebut mengandalkan pemasaran horisontal (word of mouth) yang powerful. Alih-alih menggunakan iklan yang mahal di koran atau TV, Kemenpar justru memanfaatkan netizen sebagai influencer sehingga murah tapi impactful (low budget high impact).

Pertanyaannya, siapa buzzer/influencer kampanye ini? Yang terutama tentu adalah para pemudik yang memiliki “nasionalisme” terhadap kampung halaman mereka. Seperti teman saya yang asal Pati, dengan senang hati ia menjadi advocator bagi Pati. Dengan semangat empat-lima ia berjibaku mempromosikan destinasi, kuliner, dan atraksi Pati kepada para pemudik lain melalui tweet dan status update di Facebook.

Saya sering mengatakan kampanye pemasaran horisontal atau word of mouth marketing adalah metode pemasaran paling ampuh dan tak tertandingi oleh metode pemasaran apapun yang lain.

Tapi untuk menyukseskan kampanye satu ini tidaklah gampang. Kuncinya terletak pada kemauan para pemudik sebagai advocator dalam menyebarkan viral. Menggerakkan mereka bukanlah pekerjaan gampang. Ya, karena mereka tidak dibayar.

 

Sumber foto: spotunik.com

 

July 3, 2016   No Comments

Imlek

Imlek seperti halnya Lebaran dan Natal adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh para marketer. Ya karena ketika datang Imlek “hawanya” adalah belanja, belanja, dan belanja. Belanja apa saja, dari baju, komputer, hingga mobil, tak hanya terbatas barang-barang yang terkait dengan pernik-pernik Imlek. Karena nafsu besar, maka di hari istimewa itu pun konsumen lebih gampang diyakinkan untuk berbelanja membeli produk Anda

Imlek tahun ini lebih seru karena ber-shio naga air. Naga dipercayai sebagai makhluk tertinggi yang menjadi raja semua hewan di alam semesta. Shio naga air melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian teguh. Yes! Makin seru Imleknya, makin seru belanjanya. [Read more →]

January 22, 2012   4 Comments

Mudik = Pamer

Tak seperti kebanyakan pemudik, selama lebih dari 20 tahun menjalankan ritual mudik di setiap hari lebaran, saya punya dua misi. Pertama, tentu untuk bersilaturahmi dengan seluruh anggota keluarga di kampung. Kedua, yang justru mengasyikan, adalah mengamati orang-orang mudik.

Tahun ini ritual mengamati orang mudik pun saya lakukan dengan khusu’ mulai dari saat hanyut dalam perjalanan mudik penuh perjuangan di jalur Pantura, saat penuh keharuan bersilaturahmi dengan seluruh sanak-kerabat di kampung, hingga kembali terbantai kemacetan selama perjalanan balik ke Jakarta.

Mengamati perilaku para pemudik di kampung, saya sampai kepada kesimpulan bahwa tradisi mudik adalah medium yang pas dan efektif untuk pamer ke anggota keluarga, kerabat, dan seluruh tetangga di kampung.

Kenapa pamer? Karena merantau ke Jakarta telah menjadi simbol kehidupan yang lebih baik: lebih sukses, lebih kaya, lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih modern, lebih urban (“tidak udik” alias “tidak katrok”), lebih keren. Karena itu ketika mereka kembali ke kampung, simbol-simbol dan atribut-atribut kesuksesan itu harus dipertunjukkan. Syukur alhamdulillah, tradisi mudik memfasilitasi mereka untuk bisa memamerkan kesuksesan.

Tentu saja tak semua perantau menuai kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik di Jakarta. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang justru terpuruk begitu mengadu nasib di Jakarta. Tapi itu tak menjadi masalah. Citra bahwa mereka lebih sukses di Jakarta haruslah habis-habisan ditegakkan. Demi membangun citra sukses ini, kalau perlu mereka ngutang atau “menyekolahkan” sepeda motornya ke Pegadaian.

Ada tiga jenis pamer yang dilakukan para pemudik selama mereka di kampung. Coba kita lihat satu-persatu.

Pamer Kesuksesan
Ukuran kesuksesan di Jakarta biasanya tak jauh dari dua hal, yaitu: pekerjaan yang lebih baik-terhormat-elit dan penghasilan yang lebih tinggi. Menjadi buruh pabrik sepatu di Tengerang tentu saja lebih mending ketimbang berkubang mengerjakan sawah di kampung. Karena itu mereka yang menjadi buruh pabrik bisa memamerkan kehebatan pekerjaan mereka ke kerabat dan tetangga di kampung, walaupun gaji sedikit di atas UMR. Di kalangan pekerja migran, pamer kesuksesan juga bisa diwujudkan dalam bentuk besarnya uang kiriman ke keluarga di kampung. Kirimannya makin besar, maka tentu saja itu indikasi kita makin sukses.

Mereka yang lebih beruntung menjadi pekerja kantoran di Jakarta lebih mudah lagi memamerkan kesuksesannya. Mereka tinggal menyebutkan dirinya bekerja di Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang berkantor di kawasan Segitiga Emas Jakarta, bahkan ketika kerabat dan tetangga di kampung tidak menanyakan. Namanya orang kampung, mendengar Perusahaan X, Bank Y, atau Departemen Z yang memang terkenal karena sering muncul di TV dan koran, mereka langsung mengira siapapun yang bekerja di situ pasti orang sukses: kerjanya enak dan gajinya selangit.

Pamer Gaya Hidup
Hidup di Jakarta memang sebuah impian karena kita mendapatkan segala kemewahan hidup yang tidak ada di kampung. Kita bisa merasakan nikmatnya fast food McD atau KFC; belanja supernyaman, supermudah, dan supersejuk di Carrefour; window shopping akhir pekan di mal-mal yang bertabur merek-merek hebat; berlibur ke Dufan, Taman Mini, atau melancong ke Trans Studio di Bandung. Ini semua menjadi sebuah gaya hidup yang kita impikan.

Hidup di Jakarta juga ditandai dengan kehidupan yang selalu sibuk, serba penting, serba terjadwal, serba cepat, serba praktis, serba efisien. Ini berbeda dengan di kampung yang serba lambat dan serba tidak penting. Ini semua, sekali lagi, menjadi gaya hidup  Jakarta yang sudah terlanjur dianggap sebagai model gaya hidup “impian” yang selalu kita dambakan.

Sadar maupun tidak sadar gaya hidup impian ini kita pamerkan kepada kerabat dan tetangga di kampung selama kita mudik. Karena itu tak mengherankan jika tiap tahun pak Fauzie Bowo pusing karena arus orang kampung yang pergi mengadu nasib ke Jakarta kian bertambah dari tahun ke tahun bersamaan dengan kembalinya para pemudik ini ke Jakarta.

Pamer Hedonisme
Jakarta adalah tempat yang ideal bagi tumbuh suburnya hedonisme: berbelanja membabi-buta, berbusana yang selalu mengikuti tren, konsumsi yang berlebihan, unjuk kemewahan, dan sebagainya. Celakanya, hedonisme Jakarta ini dengan sangat pas digambarkan oleh adegan-adegan dalam sinetron kita. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam waktu satu-dua tahun tinggal di Jakarta, penyakit hedonisme Jakarta ini sudah mulai merasuki sanubari tanpa kita bisa menghentikannya.

Selama mudik, hedonisme Jakarta ini kita pamerkan ke kerabat dan tetangga di kampung dalam beragam bentuk. Saat kita mengajak keluarga atau kerabat berbelanja baju di toko  atau pasar. Saat kita membelikan berbagai perlengkapan elektronik untuk bapak-ibu di kampung mulai dari TV flat, lemari es, hingga rice cooker. Saat kita mentraktir mereka makan di warung terbaik di kampung. Hedonisme juga bisa dipamerkan melalui perhiasan yang kita pakai, gadget termutakhir yang kita beli, atau baju glamour yang kita kenakan selama di kampung.

Saya sering mengatakan tugas marketer adalah 80% mengamati perilaku konsumen dan 20% menyusun/mengeksekusi strategi berdasarkan pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut. Apa yang saya uraikan di atas adalah cermin dari anxiety-desire para konsumen mudik kita. Keberhasilan menangkap anxiety-desire ini akan menentukan keberhasilan program lebaran marketing Anda.

Ini adalah oleh-oleh saya selama seminggu mengamati mudik tahun ini. Semoga program lebaran marketing Anda lebih sukses di tahun depan dengan modal pemahaman lebih baik terhadap anxiety-desire ini.

September 3, 2011   5 Comments

Laskar Pemudik

Laskar pemudik sebagian besar adalah orang kampung (Klaten, Tegal, Wonogiri, Gresik, Pasuruan) atau dari kota besar (Surabaya, Yogya, Solo, Semarang) yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka bisa dari kalangan super-atas (presiden, menteri, anggota DPR dan partai, pengusaha konglomerat) tapi juga bisa dari kalangan super-bawah (buruh pabrik garmen di Cikampek, tukang batu musiman, penjual bakso di pasar Jatinegara, buruh panggul stasiun Gambir, atau tukang ojek di perempatan Cempaka Mas).

Mereka begitu powerful. Bayangkan jika mereka sepakat mogok tak kembali lagi ke Jakarta nanti setelah lebaran, bisa dipastikan Jakarta akan lemas-lunglai kehabisan darah. Kehidupan ekonomi, sosial-budaya, politik Jakarta (dan Indonesia) praktis ditopang dan dikendalikan oleh kelompok ini. Sayang mereka tidak bersatu-padu membentuk partai. Kalau ya, pasti Golkar atau Demokrat akan keok.

Laskar pemudik punya hajatan besar tahunan, yaitu mudik ke kampung halaman. Inilah ritual keramat yang mereka tunggu-tunggu. Bagi mereka, berkumpul dengan segenap keluarga yang tercerai-berai demi sesuap nasi, sholat Ied bareng dan bermaaf-maafan, atau nyekar makam leluhur, adalah momen-momen indah yang tak terbeli oleh duit se-triliun sekalipun.

Saya adalah anggota laskar pemudik sejak tahun 1997, karena itu saya bisa banyak cerita mengenai kelompok ini. Artikel ini ditulis di tengah kemacetan mudik selepas lolos dari jalur Nagrek dalam perjalanan mobil pribadi menuju Yogya dua hari yang lalu. Berikut ini adalah pengamatan saya terhadap laskar pemudik berikut ritual tahunan mereka.

Heroik
Mudik adalah kesempatan langka yang terjadi setahun sekali, karena itu segala upaya dilakukan oleh laskar pemudik untuk mewujudkannya. Mereka heroik berdesak-desakaan di bandara, stasiun KA, atau terminal bis untuk bisa terangkut ke kampung. Bagi yang menggunakan bis atau mobil pribadi, mereka heroik rela berjam-jam terpuruk dalam kemacetan. Lebih heroik lagi adalah mereka yang naik sepeda motor komplit sekeluarga. Formasinya: si sulung paling depan nangkring di tanki bensin, si bapak sigap mengendalikan motor, si bungsu terselip di antara bapak dan ibu. Sementara di belakang si ibu masih ada kardus bawaan yang nangkring di ekor sepeda motor. Menempuh perjalanan 10-15 jam mereka biasanya mengeluh kaki terasa kram dan kesemutan. Seluruh penderitaan itu sekonyonh-konyong sirna wes ewess.. ewess… begitu mereka sampai di kampung

Mudik Itu Mahal
Ya, karena di saat-saat lebaran semua serba mahal. Harga ayam dan cabe untuk bikin opor mahal nggak keruan walaupun sudah dioperasi pasar. Untuk pulang mahal minta ampun karena harga tiket bus, KA, kapal laut, dan pesawat naik berlipat-lipat. Mau mudik murah pakai sepeda motor dari Jakarta ke Jawa Tengah cukup 30 ribu perak; tapi ya itu, setiap saat maut selalu mengintip. Begitu sampai di kampung, tak ada cerita mudik pakai “jurus tangan kosong“. Ritual bagi-bagi rezeki dan hadiah adalah kewajiban tanpa hitam di atas putih yang harus dipatuhi setiap laskar pemudik. Untuk kedua orang tua harus kasih duit cukup; untuk saudara dan handai tulan harus kasih baju, sarung, mukenah oleh-oleh dari pasar Tanah Abang; untuk keponakan-keponakan harus kasih angpao; Ditotal-jendral cukup lumayan untuk membikin bangkrut keuangan keluarga pasca lebaran.

Euforia Belanja
Setelah sebulan menahan hawa nafsu, maka hari kemenangan menjadi ajang bagi laskar pemudik untuk “balas dendam”. Caranya dengan belanja banyak dan makan banyak. Kalau sebelum lebaran mal-mal di Jakarta penuh, maka selama dan setelah lebaran gantian pasar-pasar dan toko-toko di kampung dijejali pengunjung. Biasanya setelah sholat Ied dan sungkem-sungkeman mereka tanpa sungkan-sungkan langsung mengeluarkan jurus balas dendamnya memadati toko dan pasar untuk belanja sebanyak-banyaknya dan makan sekenyang-kenyangnya. Kalau diadakan survei hubungan masa lebaran dengan meningkatnya kegemukan, kadar kelosterol, dan asam urat, saya yakin pasti ditemukan korelasi positif.

Kalap
Di saat lebaran laskar pemudik selalu takabur dan kalap kalau sudah menyangkut urusan mengeluarkan duit. Demi orang tua dan handai taulan semua barang kalau bisa dibeli, termasuk membeli hal-hal yang tak penting. Sekian lama orang tua menderita karena pakai kompor minyak, kini waktunya dibelikan kompor gas. Sekian lama orang tua kepanasan kalau tidur siang, kini saatnya dibelikan AC. Sekian lama orang tua repot cari es batu, kini saatnya dibelikan lemari es. Laskar pemudik biasanya tipe orang yang jaim (“jaga image”), karena itu tak peduli THR kurang yang penting barang terbeli. Kalau perlu sepeda motor “disekolahkan” di Pegadaian agar jaim tetap bisa dilestarikan. Tak heran jika setelah waktu lebaran, antri di konter Pegadaian mengular panjang.

Pamer Kesuksesan
Laskar pemudik suka pamer kalau sudah di kampung. Salah satunya adalah pamer kesuksesan. Cara untuk memamerkan kesuksesan ini macam-macam bentuknya. Mereka tahu iPad masih langka di kampung, karena itu mereka bawa iPad untuk ditunjuk-tujukkan ke tetangga. Setelah bertahun-tahun bekerja di Jakarta baru tahun ini bisa mengkredit mobil Xenia, maka dibawalah si mobil ke kampung untuk ditujuk-tunjukkan. Simbol kesuksesan juga bisa dicerminkan dari duit dan hadiah yang diberikan ke orang tua dan handai taulan di kampung. Tahun lalu kasih duit 1 juta perak ke orang tua, sekarang kasih 2 juta. Itu pertanda kesuksesan naik dua kali lipat.

Untuk sesama anggota laskar pemudik saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

August 27, 2011   6 Comments

Lebaran Marketing

Bip! Bip! Bip! Blackberry saya menyalak! Sekonyong-konyong kalimat-kalimat ini nongol di grup BBM saya.

Menghadapi Ramadhan:
10 hari pertama: MESJID PENUH
10 hari kedua: MALL PENUH
10 hari ketiga: TERMINAL PENUH
10 hari setelah Ramadhan: PEGADAIAN PENUH

Kata-kata menyentil itu memang dimaksudkan teman grup BBM saya hanya untuk guyonan, tapi diamat-amati dan dirasa-rasakan saya kira kok betul adanya. Kalau sudah menyangkut urusan puasa-lebaran, memang masyarakat kita selalu all-out termasuk dalam urusan belanja dan menghabiskan uang. Saking all-out nya, sampai lupa berapa THR diterima dan berapa duit yang dibelanjakan: besar pasak daripada tiang. Walhasil, betul, 10 hari setelah lebaran orang-orang sibuk ngantri di Pegadaian.

Percaya saya, di bulan puasa kita kuat menahan lapar-dahaga, nafsu amarah, dan nafsu syahwat. Tapi kalau sudah urusan menahan nafsu belanja… ampuuuun, mana kuat!!!

Setelah lewat malam Lailatul Qadar, maka grafik nafsu belanja akan menanjak. Dengan bekal THR di kantong, aksi berbelanja pun kian mengganas. Saat-saat inilah kita sedang demen-demen-nya berboros ria dan menghabiskan uang. Di Jakarta, puncaknya adalah tadi malam dan malam ini saat hampir semua mal menggelar midnight sale, karena minggu depan penduduk Jakarta mulai mudik.

Tak heran, inilah masa-masa indah yang ditunggu-tunggu setiap marketer. Beragam jurus dan trik digunakan para marketer untuk merayu konsumen mulai dari pasang diskon gedhe-gedhean, melakukan bulan promo gencar, jor-joran hadiah, hingga jualan halus “berkedok” pemberian layanan bagi pemudik. Tak jarang Ramadhan dijadikan ajang perang bubat antar merek. Coba Anda buka halaman-halaman iklan surat kabar atau tonton iklan-iklan TV. Di situ Anda dapati perang sengit antar operator seluler, layanan kartu kredit, ponsel murah, hingga mal-mal yang bersaing menggelar sale.

Saya punya beberapa tips jitu bagi para marketer dalam memanfaatkan bulan bertabur nafsu belanja ini, let’s see:

Sale! Sale! Sale! Jurus sale gedhe-gedhean menjadi alat utama marketer untuk menggaet pembeli di masa Lebaran. Banyak trik yang mereka gunakan untuk merayu pembeli mulai dari “best price” dan diskon hingga 70% (diskon 10-15% sudah katrok!!!), obral, pemberian bonus dan beragam hadiah, bundling produk, “beli dua dapat tiga”, pemberian cash-back, trade-in untuk produk-produk elektronik rumah tangga, sampai dengan pemberian voucher belanja. Diskon memang ampuh untuk merayu pembeli, tapi ingat mainkan beragam alat-alat sales promotion secara efektif dan kreatif.

Serve! Serve! Serve! Program promosi yang juga rutin dilakukan oleh produsen tiap tahun semasa puasa-lebaran adalah program layanan yang dikhususkan untuk para pemudik. Di kalangan ATPM (agen tunggal pemegang merek) untuk berbagai merek mulai dari Toyota, Honda maupun Suzuki, sudah menjadi ritual tahunan mereka menyelenggarakan pos-pos servis gratis kepada para pemudik saat menjelang mauun paska lebaran. Hal yang sama dilakukan oleh para operator seluler dengan memberikan layanan informasi mudik. Begitu juga, Sido Muncul memberikan pelayanan kepada para penjual jamu dan karyawannya (internel customer) menggelar program mudik gratis dari ibukota ke kota-kota di Jawa.

Help Customers. Saya suka gaya BRI berpromosi menyongsong mudik Lebaran, karena tone-nya membantu konsumen, bukan melulu jualan. Melalui iklan 1 halaman full color di media cetak, BRI “mendampingi” konsumennya selama mudik dengan layanan-layanannya yang end-to-end. Selama si konsumen masih di Jakarta BRI memberikan diskon beragam produk melalui layanan kartu kreditnya dan pasar murah. Selama dalam perjalanan mudik, BRI memberikan bantuan transportasi mudik bareng untuk nasabah Simpedes/Kupedes, memberikan cash back di SPBU, atau diskon servis bengkel. Dan setelah di sampai di kampung, BRI memberikan layanan remittence, jaraingan kantor dan ATM untuk penarikan dana. Semua bank besar bisa melakukan seperti yang dilakukan BRI, namun bedanya BRI mengemas pendekatan komunikasinya secara terintegrasi dan softsell.

Touch Customer Heart. Mudik adalah tradisi tahunan yang sangat emosional. Bertemu dengan seluruh anggota keluarga di kampung adalah moment of truth yang membawa kesan yang amat mendalam. Karena itu brand Anda akan ”gampang masuk” di hati pelanggan kalau Anda menyentuhnya melalui program-program promo Lebaran yang emosional dan menyentuh. Sariwangi mengusung program Sariwangi Mobil Mudik dengan memberikan fasilitas mobil lengkap dengen bensin dan sopirnya. Mereka yang menang diminta menceritakan pengalaman-pengalaman emosional mereka selama mudik di kampung. Holcim memberikan fasilitas transportasi mudik bareng para tukang batu yang mejadi influencer ampuh bagi produsen semen terkemuka ini. Menariknya, mereka harus diusulkan oleh konsumen pemilik rumah yang mereka bangun.

Community Activation. Astra Honda Motor (AHM) rutin menyelenggarakan Mudik Bareng Honda untuk menghimpun komunitas pengendara Honda. AHM memfasilitasi event ini dengan memberikan pengawalan polisi, fasilitas servis kendaraan dan bantuan bahan bakar gratis. Selain itu, pemudik juga mendapat konsumsi selama perjalanan dan fasilitas berkendara, seperti helm dan sarung tangan. Ingat, masa-masa Ramadhan merupakan momentum pas bagi Anda untuk membangun komunitas pelanggan seperti yang dilakukan Honda.

August 20, 2011   1 Comment

Lebaran Marketing that Sells

* Berikut ini adalah bahan presentasi saya mengenai pemasaran di masa Lebaran. Anda bisa mendownload file-nya melalui slideshare.com
View SlideShare presentation or Upload your own. (tags: marketing seasonal)

September 15, 2008   1 Comment