<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; Leadership in Marketing</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/leadership-in-marketing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 05:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>A Great Leader Is A Teacher</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 04:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[leader is teacher]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[Ya, pemimpin yang hebat adalah guru yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “mewariskan” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (knowledge), keahlian dan pengalaman (skill), dan sikap, perilaku, budi pekerti (attitude). Berbekal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, pemimpin yang hebat adalah <strong>guru</strong> yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “<strong>mewariskan</strong>” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (<strong>knowledge</strong>), keahlian dan pengalaman (<strong>skill</strong>), dan sikap, perilaku, budi pekerti (<strong>attitude</strong>). Berbekal knowledge-skill-attitude (untuk singkatnya sebut saja: KSA) itu si guru berupaya membentuk si murid untuk menjadi seperti dirinya. Jadi by-default seorang guru haruslah menjalankan fungsi role-modeling. Nggak bisa si guru mengajarkan kepada si murid tapi cuma omong doang tanpa dia mempraktekkannya.</p>
<p>“Karya terbesar” seorang guru adalah “warisannya” yaitu, si murid yang sudah tertempa KSA-nya hingga menjadi seperti dia, bahkan melebihinya. Guru yang baik adalah mereka yang total menumpahkan KSA yang dimilikinya kepada si murid<strong> tanpa tersisa sedikitpun</strong>. Karena itu kalau kita nonton film Star Wars, saat-saat Yoda memberikan ilmu terakhir yang dimilikinya kepada si murid Luke Skywalker adalah momen-momen berharga yang digambarkan secara dramatik dan sarat makna.</p>
<p>Guru juga selalu melayani (<strong>serve</strong>) dan berkorban (<strong>sacrifice</strong>) untuk kebaikan dan keutamaan si murid. Itu sebabnya oleh pemerintah jaman Orde Baru mereka mendapatkan julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang hebat adalah mereka yang secara tulus-ikhlas berkorban demi untuk kebaikan, kesuksesan, dan kejayaan murid-muridnya. Guru bukanlah pekerjaan yang<strong> selfish</strong>. Guru yang hebat peduli pada muridnya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang guru adalah pelayanan, pengabdian, dan dedikasi diri kepada orang lain. <strong>Guru adalah sebuah compassion</strong>.<span id="more-661"></span></p>
<p>Itu guru. Lalu bagaimana dengan pemimpin? Katanya pemimpin yang hebat pasti guru yang hebat pula? Saya 100% setuju dengan James Kouzes dan Barry Posner (baca buku terakhirnya: <strong>A Leader’s Legacy</strong>) bahwa: “<strong>leadership is about leaving a lasting legacy</strong>”. Pekerjaan utama seorang pemimpin adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman. Gandhi meninggalkan prinsip perlawanan penjajah dengan tanpa kekerasan; Bill Gates meninggalkan Microsoft dan Gates &amp; Melinda Foundation; Mohammad Yunus meninggalkan Grameen Bank berikut aktivitasnya memberdayakan kaum papa; Soekarna meningalkan Kemedekaan Indonesia.</p>
<p>Tapi warisan para pemimpin besar itu tak hanya sebatas itu. Ada warisan lain yang justru lebih substansial. Soekarno adalah pemimpin hebat karena seluruh hidupnya diabdikan dan didedikasikan untuk menghasilkan dan (setelah mati) meninggalkan warisan tak ternilai, kemerdekaan Indonesia. Namun bagi saya warisan sesungguhnya yang ditinggalkan oleh Soekarno adalah para pemimpin penerusnya yang mengisi dan “merawat” kemerdekaan itu.</p>
<p>Warisan terbesar Soekarno sebagai pemimpin adalah “<strong>murid-murid</strong>”-nya, yaitu para pemimpin penerus bangsa yang selalu terinspirasi untuk mewujudkan impian-impiannya mengenai kemerdekaan Indonesia yang sesungguh-sungguhnya. Jadi warisan Soekarno masih cacat dan belum paripurna kalau para pemimpin yang meneruskannya berperangai bukan pemimpin: suka korupsi, selfish, rakus kekuasaan, greedy, munafik. <strong>Leader must create other leaders</strong>, pemimpin harus menghasilkan pemimpin lain yang lebih hebat darinya. Sama dengan guru harus menghasilkan murid-murid yang lebih hebat darinya.</p>
<p>Lalu, seperti juga guru, seorang pemimpin juga harus mentransfer dan mengopi KSA yang dimilikinya kepada orang-orang yang dipimpinnya (followers). Itu atinya, ia harus memainkan peran role modeling bagi para follower-nya. Untuk memainkan peran ini maka seorang pemimpin harus beres KSA-nya. Bagaimana kalau KSA-nya belepotan? Ya, tentu saja si pemimpin akan kehilangan kredibilitasnya, karena: <strong>he doesn’t practice what he preach</strong>. Dan kita tahu kredibiltas adalah ”nyawanya” kepemimpinan. Anda nggak kredibel di mata anak buah, maka habislah Anda.</p>
<p>Dan akhirnya, seperti halnya guru, seorang pemimpin haruslah <strong>serve &amp; sacrifice</strong>. Pemimpin yang ikhlas selalu melayani dan berkorban agar orang-orang yang dipimpinnya berkembang. Tugas berat seorang pemimpin adalah mentransformasi para follower-nya dari good menjadi great, dari orang biasa-biasa saja menjadi orang luar biasa. Seorang pemimpin harus memfasilitasi dan menjadi enabler bagi para follower-nya untuk sukses, untuk make a difference, untuk make a legacy.</p>
<p>Sama dengan guru, pemimpin yang jujur dan ikhlas peduli pada follower-nya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang pemimping adalah<strong> pelayanan</strong>,<strong> pengabdian</strong>, dan<strong> dedikasi</strong> diri kepada orang lain. Pekerjaan memimpin adalah sebuah <strong>compassion</strong>. Kalau sudah begini kita menjadi sadar bahwa pekerjaan seorang pemimpin demikian mulianya. Karena itu pemimpin yang jujur dan ikhlas seharusnya pantas mendapatkan penghargaan <strong>Pahlawan Tanpa Tanda Jasa</strong>—seperti halnya guru.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Passion &#8211; &#8220;The Ultimate Ingredient of Success&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 08:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[success]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level.&#8221;
John Hagel III, “The Power of Pull”
Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level</em>.&#8221;<br />
<strong>John Hagel III, “The Power of Pull”</strong></p>
<p>Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi tak menjamin sukses seseorang.</p>
<p>Saya berani bertaruh: kunci paripurna kesuksesan seseorang adalah PASSION, titik.</p>
<p>Sekitar 15 tahun lalu saya kuliah di jurusan teknik mesin UGM Yogya. Saya memilih jurusan itu karena waktu di SMA jurusan itulah yang paling keren, paling bergengsi, dan paling cepat diterima kerja. Tapi celaka, di bangku kuliah saya nggak betah belajar teknik mesin. Pelariannya, seringkali saya berbulan-bulan nggak kuliah sibuk menjadi aktivis: lontang-lantung menjadi wartawan kampus dan demonstran.</p>
<p>Bukannya sibuk dengan diktat kuliah perteknikmesinan, saya justru menekuni dunia manajemen dan marketing secara otodidak. Saya ingat betul, saat itu waktu lebih banyak saya pakai mengunjungi perpustakaan fakultas ekonomi ketimbang teknik. Waktu lulus pun (hehe&#8230; dengan IP pas-pasan) saya pun merasa lebih kompetitif bersaing dengan lulusan manajemen/marketing ketimbang teknik.</p>
<p>Ka<span id="more-618"></span>rena alasan itu pula kemudian saya memutuskan bekerja di dunia manajemen/marketing, menjadi penulis dan konsultan manajemen/marketing. Amazing&#8230; karena saya mencintai dunia ini, karir, capaian, karya yang saya hasilkan maju pesat tak terbendung. Layaknya dam Situ Gintung jebol saja. Karena menemukan dunianya, saya bekerja amat keras, namun di balik kerja keras itu saya justru merasakan layaknya sedang bermain: asyik bukan main!</p>
<p>Sebelum saya menikah, bahkan sampai seminggu bahkan dua minggu saya nggak pulang ke rumah, sibuk menulis dan mengerjakan laporan. Musuh saya satu waktu itu: satpam. Ya, karena untuk bisa tidur terus-terusan di kantor selama 1-2 minggu harus adu mulut dengan satpam tiap malam. Orang dari kantor sebelah mengira saya menjadi pekerja rodi. 100% keliru! Tak ada seorang pun yang meminta saya lembur! Saya menikmati pekerjaan itu, saya melakukan dengan exiting, dan karena itu hasil-hasil yang saya capai juga extraordinary.</p>
<p>Saya mengalami kondisi “kesurupan” yang oleh Mihaly Csikszentmihalyi, pakar psikologi, disebut sebagai “<strong>FLOW</strong>”, yaitu kondisi dimana saya hanyut dan terhisap (immersed &amp; absorbed), menikmati kesenangan (joy) dan mencapai totalitas (total concentration) dalam melakukan pekerjaan itu. Buahnya: produktivitas kerja yang berlipat-lipat.</p>
<p>Ya, itu terjadi karena saya melakukan pekerjaan itu dengan PASSION!!!</p>
<p>Passion memberi kita optimisme luar biasa yang memungkinkan kita menuai capaian-capaian yang extraordinary. Passion memunculkan produktivitas luar biasa, produktivitas di luar batas kemampuan kita. Passion membalik beban dan stress menjadi energi kerja yang luar biasa. Passion memberikan kita keyakinan dalam mencapai apa-apa yang kita inginkan. Passion memicu kita untuk memiliki daya kreasi yang tak mengenal batas.</p>
<p>Berkat Twitter saya mendapatkan sebuah blog post berjudul, “<strong>Pursuing Passion</strong>” ditulis oleh John Hagel yang secara khusus melakukan studi mengenai seluk-beluk passion. Dari studi tersebut, ia menemukan beberapa tesis menarik. Berikut saya ambil beberapa diantaranya.</p>
<p><strong>Passion is about performance</strong>.  Orang yang memiliki passion akan memiliki sense of achievement dan selalu tergoda untuk menciptakan karya dan capaian luar biasa. Ia selalu mencari tantangan dan peluang untuk mewujudkan capaian-capaian di luar zona kenyamanan yang melingkupinya. Dalam mewujudkan capaian yang luar biasa mereka tidak memerlukan insentif atau penghargaan dari luar, karena energi untuk mencapai yang terbaik selalu datang dari dalam dirinya sendiri: “Passion is ultimately driven by intrinsic motivation rather than extrinsic rewards”.</p>
<p><strong>Passion is about risk-taking</strong>. Bagi orang yang memiliki passion, gelas yang terisi air setengahnya, akan dikatakan gelas itu “setengah penuh”, bukannya “setengah kosong”. Segala bentuk tantangan dan risiko akan mereka lihat sebagai “jembatan” untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ada. Karena itu orang yang memiliki passion selalu bisa lepas dari segala bentuk krisis dan ketidakmenentuan. “For passionate person, risk becomes reward. They see that risk is the only way to discover new things and explore new territories.”</p>
<p><strong>Passion is about connecting</strong>. Orang yang memiliki passion selalu mencari orang lain yang memiliki passion yang sama untuk berbagi dan bersama-sama mewujudkan apa yang ingin mereka capai. Ia selalu menyadari bahwa cara terbaik untuk mewujudkan tujuan dan misi adalah dengan berhimpun, berbagi, dan belajar dengan orang lain. “Passion lead us to seek out and connect with others sharing our passion. A passionate person is not a lone hero.”</p>
<p><strong>Passion is about authenticity</strong>. Passion datang dari lubuk hati yang paling dalam, tanpa dibuat-buat, tanpa direkayasa. Ia merupakan “suara hati” memberi energi dan tenaga hidup luar biasa. Ketika seseorang memiliki passion terhadap sesuatu hal, maka sesuatu hal itu memberinya makna hidup dan identitas hakiki, dan dengan itu ia mengabdikan dan mengontribusikan seluruh hidupnya untuk orang banyak. Dalan <strong>The 8th Habit</strong>, Stephen Covey menyebutnya sebagai “<strong>VOICE</strong>”. Kata Covey: “<strong>Find your Voice, and inspire others to find theirs</strong>”</p>
<p>Bill Gates is a passionate person!<br />
Steve Jobs is a passionate person!<br />
Mohammad Yunus is passionate person!<br />
Einstein is a passionate person!<br />
Gandi is a passionate person!<br />
Soekarno is a passionate person!<br />
Mbah Surip is a passionate person!</p>
<p>Saya berani bertaruh: “Orang hebat pasti memiliki PASSION luar biasa!!!”</p>
<p>follow me at: @yuswohady</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Honda&#8217;s Strike Back! Ampuhkah?</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 04:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[honda vs yamaha]]></category>
		<category><![CDATA[marketing war]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama ditunggu akhirnya Honda bereaksi. Minggu ini saya kaget melihat iklan Honda di surat kabar yang kini tampil lebih pede dan sedikit high profile dengan mengatakan bahwa Honda adalah: “Pemimpin pasar motor Indonesia tahun 2009 dan selama 36 tahun”. Honda juga mengatakan “Populasi motor paling banyak”; “Jaringan purna jual terbesar dan terpadu”; “500 kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah lama ditunggu akhirnya Honda bereaksi. Minggu ini saya kaget melihat iklan Honda di surat kabar yang kini tampil lebih pede dan sedikit high profile dengan mengatakan bahwa Honda adalah: “Pemimpin pasar motor Indonesia tahun 2009 dan selama 36 tahun”. Honda juga mengatakan “Populasi motor paling banyak”; “Jaringan purna jual terbesar dan terpadu”; “500 kali menjuarai MotoGP”; “Rajanya motor irit”. Rupanya Honda mulai “keluar dari sarang” untuk menghadapi gempuran klaim pemimpin pasar yang terus dibangun dan digaungkan Yamaha.</p>
<p>“Serangan balik” Honda semacam ini memang ditunggu-tunggu, karena dengan demikian perang di benak konsumen (consumer&#8217;s mind) mengenai klaim pemimpin pasar menjadi lebih berimbang. Tanpa adanya &#8220;jawaban&#8221; dari Honda semacam ini, maka persepsi yang terbentuk di benak konsumen adalah bahwa memang Yamaha lah si pemimpin pasar. Harus diakui memang Yamaha beberapa tahun terakhir sangat cerdik mengklain diri sebagai pemimpin pasar baru. Setiap prestasi yang ia raih selalu ia kampanyekan ke khalayak untuk memperkokoh persepsi sebagai pemimpin pasar. Dan aksi ini memang efektif.<span id="more-599"></span></p>
<p>Respons Honda yang cenderung diam bisa dipahami, karena sebagai pemimpin pasar yang sesungguhnya, Honda tak mau terlihat gegabah. Sebagai pemimpin pasar selama 36 tahun Honda harus terlihat tenang dan bijak merespons gerak Yamaha. Namun dalam amatan saya Honda terlalu tenang dan terlalu low profile sehingga muncul kesan lamban dan sulit melakukan perubahan: “market leader syndrome”. Muncul juga kesan Honda tak tahu apa yang harus diperbuat untuk membedung serangan bertubi Yamaha. Inilah yang berbahaya.</p>
<p>Saya berharap aksi terakhir Honda di atas, merupakan babakan baru serangan balik Honda. Sebuah serangan yang lebih high profile, sistematis, dan penuh ketenangan seperti layaknya serangan pemimpin pasar. Dari sisi “konten” saya melihat pesan yang disampaikan cukup baik, yaitu mengembalikan persepsi publik bahwa Honda lah si pemimpin pasar yang sesungguhnya: “the real leader”. Caranya, dengan mengungkapkan fakta-fakta kepemimpinan pasarnya seperti: menjadi pemimpin pasar berturut-turut selama 36 tahun; kinerja dan inovasi produk yang tak terkalahkan; kemampuan 3S (sales, service, spare part) termassif dan terintegrasi; dan sebagainya.</p>
<p>Strategi ini mengingatkan saya pada kampanye “<strong>The Real Thing</strong>” yang dilakukan Coca Cola untuk meredam gempuran Pepsi yang mencoba mengacaukan persepsi pemimpin pasar yang disandang Coca Cola. Seperti kita tahu, Coca Cola menetralisirnya dengan sangat cantik dengan mengatakan bahwa Coca Cola lah “kola yang sesunguh-sungguhnya”. Dengan kampanye ini kita tahu Coca Cola mampu membangun persepsi di pasar bahwa Coca Cola lah pemimpin pasar yang sesungguh-sungguhnya, sekaligus mencitrakan bahwa Pepsi bukanlah “the real cola”. Strategi mengunci perspsi kepemimpinan pasar ini juga dilakukan AMild dengan sangat jitu dengan mengatakan bahwa: “Others Only Can Follow”.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Yamaha dengan adanya serangan balik Honda ini? Kalau kampanye “<strong>the real leader</strong>” Honda ini dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup panjang, pasti Yamaha akan kerepotan. Ketakutan saya adalah jika kampanye tersebut dilaksanakan secara sporadis, dan sifatnya “menggarami air laut” seperti sajak Chairil Anwar: “sekali habis itu mati”. Namun saya yakin, walaupun kerepotan Yamaha tetap akan punya 1001 cara untuk merecoki Honda mengingat posisinya yang menguntungkan karena  second-leader advantages yang dimilikinya.</p>
<p>Apapun episode lanjutan perseteruan Honda-Yamaha ini, saya meyakini hasilnya akan positif, karena persaingan selalu saja membawa dampak positif, baik bagi pendewasaan pemain maupun tentu saja bagi konsumen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketer Harus Belajar dari Einstein</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 13:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurial leadership]]></category>
		<category><![CDATA[marketing leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Bip&#8230; bip&#8230; bip&#8230;
Twitter di BB-ku meraung-raung.
Lalu pop-up, muncul tweet dari seorang teman nggak tahu dari belahan bumi mana:  “jhagel: 10 Amazing Life Lessons You Can Learn From Albert Einstein http://j.mp/b4SEtM”. Saya coba telusur link-nya, lalu sejenak kemudian mata saya membelalak: “hebat betul pelajaran-pelajaran hidup yang diwariskan Albert Einstein untuk kita semua”. Saya harus sharing-kan ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bip&#8230; bip&#8230; bip&#8230;<br />
Twitter di BB-ku meraung-raung.<br />
Lalu pop-up, muncul tweet dari seorang teman nggak tahu dari belahan bumi mana:  “jhagel: 10 Amazing Life Lessons You Can Learn From Albert Einstein http://j.mp/b4SEtM”. Saya coba telusur link-nya, lalu sejenak kemudian mata saya membelalak: “hebat betul pelajaran-pelajaran hidup yang diwariskan Albert Einstein untuk kita semua”. Saya harus sharing-kan ke banyak orang!</p>
<p>Saya tak menelan mentah-mentah 10 pelajaran itu tapi saya ambil cuma lima, biar gampang dicerna para pembaca (Ingat! Kalau Anda punya 100 item prioritas, maka sesungguhnya Anda TAK punya prioritas!!!). Penginnya tahu semua eh&#8230; malah lupa semua, karena kebanyakan. Tak hanya itu, saya coba interpretasi 5 pelajaran berharga dari `Einstein itu secara khusus dalam konteks pemasaran, khusus saya peruntukkan bagi para marketers. Berikut ke-lima pelajaran berharga tersebut.</p>
<p><strong>#1 Be Passionatelly Curious</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “I have no special talent. I am only passionately curious.”</p>
<p>KEINGINTAHUAN adalah sumber kekuatan paling dasar seorang marketer. Dari sebuah keingintahuan, seorang marketer akan bisa menciptakan breakthrough product sehebat iPad atau kopi Starbuck (hehehe&#8230; soalnya artikel ini ditulis pas di warungnya Starbuck). Dari rasa keingintahuan yang menggelora, seorang marketer akan tahu persis apa yang diperlukan oleh konsumennya. Dari rasa keingintahuan, seorang marketer akan tahu betul bagaimana harus melakukan enggagement dan menjadi “curhat center” bagi konsumennya.<span id="more-596"></span></p>
<p>Dyonius Beti, merevolusi industri motor di Tanah Air salah satunya karena ia sukses meluncurkan breakthrough product sehebat Yamaha Mio. Sumbernya adalah rasa keingintahuan pak Dion mengenai apakah perempuan butuh motor yang pas dan khusus dirancang untuk mereka. Steve Jobs mampu meluncurkan produk-produk hebat sepanjang sejarah—The three “iP”: iPod, iPhone, iPad—karena Steve selalu “merasa bodoh”; nggak “keminter” kata orang Jawa; “Stay foolish,” kata Steve. Semua produk hebat itu lahir karena rasa keingintahuan Steve yang terus menggelora, tak ada matinya. Ingat satu hal ini: “The pursuit of your curiosity is the secret to your success.”</p>
<p><strong>#2 Perseverance is Priceless</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “It&#8217;s not that I&#8217;m so smart; it&#8217;s just that I stay with problems longer.”</p>
<p>Bahasa gampangnya adalah TAHAN BANTING!!! PANTANG MENYERAH!!! Untuk menjadi marketer sukses Anda harus tahan banting, tak gampang menyerah, gagal satu tumbuh seribu, gagal seribu tumbuh semilyar. Kata Einstein: jadilah perangko, karena perangko itu selalu setia nempel di surat, nggak pernah lepas, sampai tujuan surat dituntaskan, yaitu sampai ke tempat tujuan. “The entire value of the postage stamp consist in its ability to stick to something until it gets there. Be like the postage stamp; finish the race that you’ve started!” ujarnya bijak.</p>
<p>Coba kita lihat bagaimana Putera Sampoerna melahirkan A Mild. Pak Putera memang visioner, ia tahu betul bahwa masa depan rokok di Indonesia adalah rokok mild, bukan rokok kretek yang waktu itu mendominasi. Tapi jangan salah, langkah pak Putera menyukseskan A Mild bukanlah gampang, penuh dengan onak dan duri. Hampir lima tahun gagal, merugi, setelah akhirnya meledak menyusul suksesnya kampanye “How Low Can You Go” pada tahun 1994. Pak Putera yakin betul pada intuisinya, karena itu begitu A Mild gagal, dia mencoba bangkit; begitu gagal lagi, dia bangkit lagi; sampai akhirnya dari kegagalan beruntun itu lahirlah kesuksesan. A Mild menjadi rokok mild pertama di Indonesia dan memimpin pasar. Ingat kata-kata bijak Einstein lagi: “A person who never made a mistake never tried anything new.”</p>
<p><strong>#3 Imagining Is Your “Reason for Being”</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “Imagination is everything. It is the preview of life&#8217;s coming attractions. Imagination is more important than knowledge.”</p>
<p>Ya, pelajaran terpentingnya adalah: IMAJINASI lebih powerful ketimbang pengetahuan. Anda punya pengetahuan hebat mengenai pasar, produk, pesaing, teknologi, tapi imajinasinya tumpul, maka Anda akan menjadi marketer medioker, marketer setengah-setengah, marketer kelas teri. Imaginasi adalah KACA PEMBESAR Anda untuk melihat masa depan.</p>
<p>Jimmy Wells, perintis Wikipedia, mampu mewujudkan ensiklopedia paling lengkap di seluruh jagat karena daya imajinasinya yang kepalang gila yaitu dengan cara mengajak setiap orang di seluruh dunia untuk berkontribusi menuliskan ensiklopedia tersebut. Sebelumnya tak terbayangkan oleh akal sehat bagaimana mengajak jutaan orang di seluruh untuk ikutan “berjamaah” menulis isi Wikpedia. Namun berkat wiki, buah imajinasinya, akhirnya sesuatu yang tidak mungkin itu mampu diwujudkan.</p>
<p>Ingat! Imajinasi adalah seperti layaknya otot. Semakin sering imajinasi Anda dilatih, maka semakin tajam setajam mata pedang pula imajinasi Anda. Teruslah berimajinasi, walaupun orang menganggap Anda gila. John Lennon terus berimajinasi hingga detik-detik menjelang kematiannya, walaupun sampai detik ini imajinasinya belum kunjung terwujud: “dunia tanpa perang”.</p>
<p><strong>#4 Different Actions, Different Results</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.”</p>
<p>Anda tak bisa terus saja melakukan sesuatu hal yang sama, tapi mengharapkan hasil yang beda. Anda harus terus berubah, tak boleh terbius oleh kemapanan. Anda tidak boleh silau oleh kesuksesan masa lalu. Karena kesuksesan selalu ada kadaluwarsanya. Anda harus berani “merusak” resep kesuksesan lama untuk diganti dengan yang baru. Kesuksesan yang berkelanjutan sesungguhnya tergantung dari keberanian Anda “merusak” kesuksesan di masa lalu untuk diganti dengan kesuksesan baru. Ingat: timeless successes are about destructing your past success.</p>
<p>Nokia dulu adalah unbeatable leader, kini gerah oleh serbuan Blackberry. Honda motor di Indonesia dulu unbeatable leader, kini gerah disodok Yamaha. Metro TV dulu the only leader, kini direbut TVOne. Petuah Einstein, obat bagi ketiga merek top itu cuma satu: “Do the same things differently”.</p>
<p><strong>#5 Take Action. NOW!!!</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “I never think of the future &#8211; it comes soon enough.”</p>
<p><strong>Kata Einstein lagi</strong>: “The only way to properly address your future is to be as present as possible “in the present.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DESTRUCTION Is Your Job #1</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[marketing leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Destruction is cool! 
Easier to KILL an organization than change it substansially.
Learn to swallow it: DESTRUCTION IS JOB #1 
(before the competition does it to you).
Ini adalah kata-kata nyentrik dan profokatif dari Tom Peters. Pakar satu ini memang “gendheng” tapi oke. Pemikiran-pemikiran manajemennya selalu revolusioner, breakthrough, menjangkau jauh ke depan. Ia punya mata elang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Destruction is cool! </strong><br />
Easier to KILL an organization than change it substansially.<br />
Learn to swallow it: <strong>DESTRUCTION IS JOB #</strong><strong>1 </strong><br />
(before the competition does it to you).</p>
<p>Ini adalah kata-kata nyentrik dan profokatif dari Tom Peters. Pakar satu ini memang “gendheng” tapi oke. Pemikiran-pemikiran manajemennya selalu revolusioner, breakthrough, menjangkau jauh ke depan. Ia punya mata elang yang mampu secara tajam melihat masa depan, melihat fenomena yang secuil pun kita belum pernah memikirkannya. Karena tak paham, yang bisa kita lakukan kemudian cuma satu: “mengumpat” dengan mengatakan “dia memang gendheng”. Itulah Tom Peters.</p>
<p>Yang sering kita dengar tentu adalah Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, Chief Operating Officer, atau Chief Marketing Officer. Eh… kini ada binatang baru lagi namanya “<strong>Chief Destruction Officer</strong>”. Dari arti harafiahnya saja sangat aneh dan “nggak nyambung”. Destruction artinya “perusakan” atau “penghancuran”. Jadi, kalau CEO bertugas mengelola seluruh strategi dan operasi perusahaan; CFO mengelola keuangan perusahaan; CMO merancang dan mengeksekusi strategi pemasaran; lha si CDO ini tugasnya “menghancurkan” perusahaan. Memang GENDHENG!!!<span id="more-573"></span></p>
<p>Sekilas memang gendheng. Tapi jangan salah! Komentar nakal dan profokatif di atas bukanlah celotehan main-main. Bukan pula gurauan siang bolong para kernet angkot yang sedang menunggu penumpang. Kata demi  kata itu keluar dari mulut seorang maha guru manajemen (“guru of gurus”) yang memiliki arti yang amat dalam, yang kalau kita “mampu mencernanya” akan menyentak kesadaran kita. Kata demi kata itu akan membangunkan “sense of crisis” kita.</p>
<p>Mari pelan-pelan kita coba mencernanya. Lanskap bisnis sekarang ini bergerak dengan kecepatan tinggi secepat kecepatan cahaya—“chaotic”, “radical”, “turbulent”, volatile”, “uncertain”, “unpredictable”, dan masih banyak lagi istilah yang digunakan untuk menggambarkannya. Lanskap bisnis yang bergerak dengan kecepatan cahaya ini bukannya tanpa resiko dan bahaya. Bahayanya sangat-sangat besar.</p>
<p>Mau contoh?<br />
Layanan pos “mati suri” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM! Dunia penerbitan buku kebit-kebit oleh “predator” bernama Amazon Kindle atau Apple iPad! Nokia limbung oleh serbuan Blackberry! Bisnis rekaman melumer oleh kehadiran RBT dan iPod + iTunes! Majalah dan koran cetak babak-belur oleh blog dan citizen journalism.</p>
<p>Itu adalah sisi gelapnya. Di samping membawa racun, menggilanya perubahan lanskap bisnis juga selalu membawa madu semanis angpao Imlek. Di samping menghasilkan the loser, setiap perubahan radikal selalu menyisakan the winner. Di tengah kontes “survival of the fittest” selalu akan muncul para survivors yang tetap mampu bertahan, bahkan kemudian sukses.</p>
<p>Untuk menjadi the survivors dan the winner, persis seperti yang dikatakan Tom Peters, kuncinya terletak pada satu kata: “<strong>penghancuran</strong>”. Untuk sukses di era light-speed changes Anda tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu Anda—“break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang. Kalau perlu, Anda harus tega “membunuh” organisasi Anda, dan kemudian merubahnya menjadi organisasi yang sama sekali baru. <strong>REBORN</strong>!!!</p>
<p>Kalau krisis bisa kapan pun datang dan terus “mengintai”, tanpa sinyal, tanpa pemberitahuan, maka perusakan atau bahasa kerennya “creative destruction” haruslah menjadi “keseharian” operasi perusahaan Anda. Organisasi Anda, orang Anda, sistem yang Anda bangun, budaya perusahaan Anda, haruslah memiliki kapasitas dan kepiawaian untuk melakukan creative destruction dari waktu ke waktu. Organisasi Anda haruslah memiliki “alert system” untuk mengendus munculnya krisis, dan kemudian dengan agilitas yang tinggi mampu mereseponsnya dengan creative destruction yang terkelola secara baik.</p>
<p>Kalau sudah demikian, menjadi jelas bahwa, “winning in the light-speed change era is about survival”. Dan daya survival organisasi Anda akan ditentukan oleh kapasitasnya melakukan creative destruction secara kontinyu. Dan kalau kita sepakat bahwa sustainability adalah tujuan akhir dari sukses perusahaan, maka saya berani katakan bahwa sesungguhnya: <strong>sustainability is a </strong> <strong>“journey of destruction”; it is “a destruction safari”</strong> for long-term survival. Sebuah perjalanan panjang di mana kita melompat dari satu creative destruction ke creative destruction yang lain.</p>
<p>Telkom bingung menghadapi revolusi TI; Honda limbung menghadapi gempuran Yamaha; Nokia gusar oleh serangan mematikan Blackberry.</p>
<p>Mau tahu apa obatnya?<br />
Obatnya cuma satu: operasi sesar!!!<br />
Obatnya cuma satu: <strong>creative DESTRUCTION</strong>!!!</p>
<p>Percayalah saya: “Your success ia a <strong>LONG JOURNEY OF DESTRUCTION</strong>!!!”<br />
Dan 125% saya percaya Tom Peters bahwa: “<strong>DESTRUCTION IS YOUR JOB #1</strong>”.<br />
(before the competition does it to you).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Entrepreneurial Leader Model</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 12:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[My Presentation]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurial marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: “<strong>Opportunity-Seeker</strong>”, &#8220;<strong>Risk-Taker</strong>”, “<strong>Resource-Allocator</strong>”, dan “<strong>Innovator</strong>”. Berikut ini model ringkasnya.</p>
<div id="__ss_612917" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="Entrepreneurial Leader Model" href="http://www.slideshare.net/yuswohady/entrepreneurial-leader-model-presentation?type=powerpoint">Entrepreneurial Leader Model</a><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=entrepreneurial-leader-model-1222154278040963-8&amp;stripped_title=entrepreneurial-leader-model-presentation" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=entrepreneurial-leader-model-1222154278040963-8&amp;stripped_title=entrepreneurial-leader-model-presentation" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View SlideShare <a style="text-decoration:underline;" title="View Entrepreneurial Leader Model on SlideShare" href="http://www.slideshare.net/yuswohady/entrepreneurial-leader-model-presentation?type=powerpoint">presentation</a> or <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/upload?type=powerpoint">Upload</a> your own. (tags: <a style="text-decoration:underline;" href="http://slideshare.net/tag/entrepreneurial">entrepreneurial</a> <a style="text-decoration:underline;" href="http://slideshare.net/tag/leader">leader</a>)</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leader Machine</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/leader-machine/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/leader-machine/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 16:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[* Ini artikel saya di Harian Jurnal Nasional bulan Oktober 007 mengenai peran strategis perusahaan sebagai &#8220;produsen pemimpin&#8221;.
“Your competition can copy every advantage you’ve got—except one. That’s why the world’s best companies are realizing that no matter what the business they’re in, their real business is building leader.”
Kata-kata di atas adalah kalimat pembuka cover story [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>* <em>Ini artikel saya di Harian Jurnal Nasional bulan Oktober 007 mengenai peran strategis perusahaan sebagai &#8220;produsen pemimpin&#8221;</em>.</p>
<p>“Your competition can copy every advantage you’ve got—except one. That’s why the world’s best companies are realizing that no matter what the business they’re in, their real business is building leader.”</p>
<p>Kata-kata di atas adalah kalimat pembuka cover story majalah Fortune minggu ini. Intinya pernyataan itu mau bilang, apapun keunggulan yang dimiliki perusahaan akan bisa ditiru oleh pesaing kecuali satu hal, yaitu kemampuan “memproduksi pemimpin”. Karena itu pekerjaan krusial sebuah perusahaan hebat, tak peduli bisnis apapun yang dimasukinya, adalah memproduksi pemimpin. Perusahaan harus menjadi mesin tangguh penghasil pemimpin, <strong>leader machine</strong>.<span id="more-253"></span></p>
<p>Memproduksi pemimpin? Kok aneh! Bukannya pekerjaan utama perusahaan adalah menghasilkan produk-produk unggul, berkualitas, dan berdaya saing untuk bisa menghasilkan profit. 100% betul, tapi untuk menghasilkan great product Anda perlu sentuhan tangan dingin seorang great leader. Dan ingat, di tengah-tengah persaingan yang hypercompetitive sekarang ini, great product gampang ditiru, sementara kemampuan perusahaan menghasilkan great leader tak gampang ditiru.</p>
<p>Itulah fokus kupasan Fortune minggu ini bertajuk: “Top Companies for Leaders”. Fortune melakukan survei terhadap 563 perusahaan top di seluruh dunia untuk menyusun ranking perusahaan yang paling piawai dalam menghasilkan great leader. Hasilnya gampang ditebak, GE menjadi jawara, diikuti perusahaan-perusahaan top seperti P&amp;G, Nokia, Unilever India, hingga McKinsey dan IBM.</p>
<p>GE dikenal jago memproduksi great leader karena sejak 50 tahun lalu GE telah mengembangkan leadership development program-nya di pusat pelatihan Crotonville yang telah sukses menghasilkan great leader macam Jack Welch, Jeff Imelt, Gery Wendt, atau Larry Bossidy. Kunci sukses GE menjadi top performer selama lebih seratus tahun bukan ditentukan oleh kehebatan produk dan servisnya tapi lebih ditentukan kehebatannya menghasilkan great leader. Persis seperti dikatakan Charles Coffin (CEO GE 1892-1912): ”GE real priorities weren’t light bulb or electric motors but business leaders.”</p>
<p>Bicara mengenai perusahaan sebagai ”produsen pemimpin”, saya jadi ingat buku berjudul <strong>Leadership Engine</strong> yang ditulis oleh Noel Tichy yang pernah menjadi direktur pusat pelatihan Crotonville-nya GE. Isi buku ini menarik: Untuk sukses, kata Tichy, sebuah organisasi harus menjadi “pabrik” leader. Namanya saja “pabrik”, ia harus mampu memproduksi sebanyak mungkin leader di seluruh level dan lini organisasi. Caranya? Melalui teaching/mentoring, bahwa pemimpin puncak harus menjadi teacher/mentor bagi pemimpin-pemimpin yang ada di level di bawahnya.</p>
<p>Untuk bisa merespon setiap perubahan yang turbulen dan uncertain, kata Tichy lagi, perusahaan harus mampu menciptakan CEO-CEO kecil di setiap level organisasi. Dengan CEO-CEO yang merata di berbagai level organisasi, perubahan sedahsyat dan seturbulen apapun akan bisa dikelola dengan baik. Dengan pasukan CEO-CEO kecil dalam jumlah besar ini pula, sustainability perusahaan juga akan bisa terus dijamin dari waktu ke waktu seperti yang terjadi di GE.</p>
<p>Pada saat memimpin Telkom, almarhum <strong>Cacuk Sudarijanto</strong> dikenal sebagai pemimpin yang sangat concern dalam menghasilkan CEO-CEO kecil di setiap level organisasi. Karena itu ia merintis STT Telkom dan beragam leadership development program bagi calon-calon pemimpin Telkom. Hasilnya menurut saya luar biasa. Pemimpin-pemimpin Telkom yang ada hingga detik ini adalah hasil gemblengan Pak Cacuk melalui beragam leadership development program yang dirintisnya.</p>
<p>Sekitar tiga bulan sebelum meninggal saya punya kesempatan emas mewancarai Pak Cacuk untuk penulisan buku saya mengenai transformasi PT Telkom, <strong>On Becoming a Customer-Centric Company </strong>(Gramedia Pustaka Utama, 2004). Kata Pak Cacuk, sukses perusahaan pada akhirnya ditentukan oleh kemampuannya mencipta dan mengembambangbiakkan pemimpin di dalam organisasi.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/leader-machine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
