<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; Leadership in Marketing</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/leadership-in-marketing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 13:07:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Titik Nol</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/11/12/titik-nol/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/11/12/titik-nol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 13:18:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Sindo]]></category>
		<category><![CDATA[the art of success]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F11%252F12%252Ftitik-nol%252F&title=Titik+Nol&desc=Kegagalan%2C+apalagi+jika+kegagalan+itu+adalah+keterpurukan+hingga+di+titik+terbawah%2C+seringkali+kita+sikapi+sebagai+malapetaka%2C+sebagai+akhir+segalanya.+Keterpurukan+di+titik+nol+seringkali+menjadikan+&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Kegagalan, apalagi jika kegagalan itu adalah keterpurukan hingga di titik terbawah, seringkali kita sikapi sebagai malapetaka, sebagai akhir segalanya. Keterpurukan di titik nol seringkali menjadikan kita ciut hati, undermotivated, dan berat memulai lagi dari bawah. Akibatnya, keterpurukan menjadikan kita makin terpuruk. Kita kian terjebak dalam pusaran keterpurukan.
Tapi kenapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kenapa kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F11%252F12%252Ftitik-nol%252F&title=Titik+Nol&desc=Kegagalan%2C+apalagi+jika+kegagalan+itu+adalah+keterpurukan+hingga+di+titik+terbawah%2C+seringkali+kita+sikapi+sebagai+malapetaka%2C+sebagai+akhir+segalanya.+Keterpurukan+di+titik+nol+seringkali+menjadikan+&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Kegagalan, apalagi jika kegagalan itu adalah keterpurukan hingga di titik terbawah, seringkali kita sikapi sebagai malapetaka, sebagai akhir segalanya. <strong>Keterpurukan di titik nol</strong> seringkali menjadikan kita ciut hati, undermotivated, dan berat memulai lagi dari bawah. Akibatnya, keterpurukan menjadikan kita makin terpuruk. Kita kian terjebak dalam pusaran keterpurukan.</p>
<p>Tapi kenapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kenapa kita tidak menjadikan posisi terpuruk di titik nol sebagai sebuah <strong>energi luar biasa</strong> untuk bangkit. Kenapa kita tidak menjadikan keterpurukan di titik nol sebagai sinyal bahwa kita harus membangun <strong>sense of crisis</strong>, sinyal untuk mengetatkan ikat pinggang. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak menjadikan kita <strong>ringan </strong>melenggang menggapai capapian-capaian luar biasa di depan. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak kita jadikan momentum untuk change the world.</p>
<p>Saya melihat keterpurukan di titik nol adalah “<strong>harta karun</strong>” bagi kesuksesan kita karena ia menyimpan begitu banyak pelajaran, keutamaan, dan wisdom luar biasa. Karena itu, bahkan ketika kita tidak sedang terpuruk, kita harus menciptakan <strong>mindset</strong> keterpurukan di titik nol agar kita tidak ponggah, tidak sombong, tidak sok tahu, tidak malas, tidak terjebak di zona nyaman.</p>
<p>Bicara mengenai keterpurukan di titik nol, role model saya adalah <strong>Steve Jobs</strong>. Banyak orang mengagumi Steve karena kepiawaiannya mencipta inovasi hebat: Mac, iPod, iPhone, iPad. Saya justru mengagumi dia karena kemampuannya bangkit dari keterpurukan di titik nol.<span id="more-1078"></span></p>
<p><strong>Belajar dari Steve Jobs</strong><br />
Saya adalah Steve Jobs fans. Karena itu saya sangat senang ketika Jumat (11/11) lalu saya diminta hadir di teman-teman XL, berbicara mengenai, “<strong>Steve Jobs&#8230; what we can learn from him</strong>.” Di kantin kantor pusat operator seluler kedua terbesar Tanah Air ini saya gayeng berdiskusi dengan seratusan orang mengenai seluk-beluk kualitas personal seorang Steve Jobs. Dari sekian banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari dia, ada satu yang sangat mempengaruhi saya.</p>
<p>Saya katakan di situ bahwa Steve adalah <strong>the real hero</strong>. Seorang the real hero tak hanya mengecap kesuksesan semata. Ia juga pernah gagal, bahkan kegagalan di titik terbawah dan terpuruk. Namun di tengah keterpurukan di titik nol, the real hero bisa bangkit lagi dan menuai kejayaannya kembali.</p>
<p>Steve mengalami kegagalan fatal saat dia dipecat dari Apple oleh CEO nya waktu itu, <strong>John Sculley</strong>. Pemecatan ini menyakitkan karena justru Steve lah yang merekrut dan membawa masuk John Sculley untuk mengurusi pemasaran Macintosh. Seperti kita tahu, sepeninggal Steve waktu itu, nasib Apple menjadi makin runyam.</p>
<p><strong>Menjadi Pemula</strong><br />
Apa komentar Steve mengenai pemecatan yang menyakitkan tersebut? “&#8230;getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”</p>
<p>Hebatnya Steve, ia tidak menyikapi pemecatannya secara negatif dan pesimistik sebagai sebuah kekalahan dan akhir segalanya, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif  dalam perjalanan hidupnya.</p>
<p>Yang menarik, memulai kembali di titik nol justru menjadikan Steve punya energi luar biasa untuk berkreasi yang kita tahu akhirnya mengantarkannya untuk mencipta produk-produk paling kreatif dalam sejarah umat manusia: iPod, iPhone, iPad. Kondisi serba keterbatasan di titik nol ini justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan.</p>
<p>Yang paling saya suka adalah penyataan Steve bahwa kondisi di titik nol menjadikannya ringan melangkah sebagai seorang pemula. Ya, karena ketika Anda berada di puncak kesuksesan maka setiap langkah Anda akan disorot orang lain, sehingga kita merasakan beratnya langkah kita. Sebaliknya, ketika kita terpuruk di titik nol, maka kita tidak lagi dianggap, kita tidak lagi diperhitungkan orang lain. Karena tidak diperhitungkan, maka langkah kita jadi ringan, plong melakukan dan berkreasi apapun.</p>
<p>Yang juga saya suka dari pernyataan Steve adalah bahwa kondisi di titik nol menciptakan ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Ketidak pastian dan ketidakmenentuan menjadikannya berpikir 1000% lebih keras, bekerja 1000% lebih keras, berkreasi 1000% lebih keras. Ketidakpastian dan ketidakmenentuan menjadikannya keluar dari zona nyaman. Kalau meminjam kata-kata <strong>Andy Grove</strong> pendiri Intel, ketidakpastian dan ketidakmenentuan menjadikan kita paranoid. Dan kata dia, “<strong>Only the paranoid survive!!!</strong>”.</p>
<p><strong>Musuh Kesuksesan</strong><br />
<strong>Musuh kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri</strong>. Itulah pelajaran yang kita petik dari keterpurukan Nokia. Kesuksesan memang menciptakan kondisi enak, nyaman, dipuja-puji, disanjung-sanjung, ditiru-tiru, dijadikan role model, dianggap paling hebat. Kondisi serba enak dan nyaman ini seringkali menjadikan kita lupa. Kondisi paling parah adalah kalau kesuksesan menjadikan kita malas berpikir keras, malas bekerja keras, malas berkreasi keras, malas belajar keras. Ketika itu terjadi maka kiamat di depan mata.</p>
<p>Karena itu, justru ketika kita sedang merayap ke atas mendaki kesuksesan; mindset berpikir kita harus berjalan ke arah yang <strong>sebaliknya</strong>, merayap menuju ke posisi keterpurukan di titik nol. Itu artinya, saat kita sudah menggapai di titik terpuncak kesuksesan, saat itu juga mindset berpikir kita harus sudah ada di posisi keterpurukan di titik nol.</p>
<p>Mindset keterpurukan di titik nol adalah harta karun kita untuk mencapai sukses berkesinambungan. Ia memberikan pelajaran, kebajikan, dan wisdom luar biasa. Ia membantu kita keluar dari penyakit kronis kemapanan.</p>
<p>“Life begins at the end of comfort zone.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/11/12/titik-nol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Energi Positif</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/10/21/energi-positif/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/10/21/energi-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 01:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[positive thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=1067</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F10%252F21%252Fenergi-positif%252F&title=Energi+Positif&desc=Kolom+ini+saya+tulis+di+atas+pesawat+Garuda+Indonesia+GA305+20+Oktober+lalu+dalam+perjalanan+Surabaya-Jakarta.+Ada+dua+kejadian+kontras+yang+begitu+mengesankan+saya+persis+sebelum+saya+naik+tangga+pes&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Kolom ini saya tulis di atas pesawat Garuda Indonesia GA305 20 Oktober lalu dalam perjalanan Surabaya-Jakarta. Ada dua kejadian kontras yang begitu mengesankan saya persis sebelum saya naik tangga pesawat yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menulis kolom ini.
Kejadian 1: saat sehari sebelumnya di Surabaya saya bertemu beberapa kepala cabang dan kepala wilayah Adira Finance [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F10%252F21%252Fenergi-positif%252F&title=Energi+Positif&desc=Kolom+ini+saya+tulis+di+atas+pesawat+Garuda+Indonesia+GA305+20+Oktober+lalu+dalam+perjalanan+Surabaya-Jakarta.+Ada+dua+kejadian+kontras+yang+begitu+mengesankan+saya+persis+sebelum+saya+naik+tangga+pes&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Kolom ini saya tulis di atas pesawat Garuda Indonesia GA305 20 Oktober lalu dalam perjalanan Surabaya-Jakarta. Ada dua kejadian kontras yang begitu mengesankan saya persis sebelum saya naik tangga pesawat yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menulis kolom ini.</p>
<p><strong>Kejadian 1</strong>: saat sehari sebelumnya di Surabaya saya bertemu beberapa kepala cabang dan kepala wilayah <strong>Adira Finance</strong> se-Jawa Timur. <strong>Kejadian 2</strong>: saat di bandara Juanda sambil menunggu keberangkatan pesawat ke Jakarta saya membaca headline koran mengenai resuffle kabinet <strong>SBY</strong>. Andrenalin saya begitu menggelora hingga saya seperti kesurupan dan tak terasa menit-menit sebelum pesawat menclok di Bandara Soekarno-Hatta, kolom pun tuntas ditulis.</p>
<p><strong>Kejadian 1</strong><br />
Di Surabaya sehari sebelumnya saya melakukan brainstorm session dengan para kepala cabang dan kepala wilayah Adira dalam rangka riset untuk mengungkap leadership style <strong>Stanley Atmaja </strong>yang selama 20 tahun lebih merintis dan membawa perusahaan mencapai sukses luar biasa. Teka-teki terbesar yang terus mengganggu otak saya adalah menjawab pertanyaan: kenapa demikian banyak inisiatif yang dijalankan perusahaan (implementasi IT, budaya perusahaan, Balanced Scorecard, beragam program pengembangan produk baru, dsb-dsb) selalu bisa dituntaskan dengan hasil-hasil luar biasa.<span id="more-1067"></span></p>
<p>Dari brainstorm akhirnya terungkap bahwa faktor utamanya menurut mereka adalah karena adanya kepercayaan yang tulus-ikhlas (<strong>trust</strong>) karyawan kepada CEO sebagai pemimpin. Sepak terjang Stanley selama 20 tahun terakhir yang dengan totalitas merintis, membangun, dan mengembangkan Adira dari zero menjadi hero telah membentuk kepercayaan karyawan kepada sang pemimpin. Leadership practices (walk the talk, empowerment, people-focused, integrity, dsb) yang diterapkannya dan teruji selama 20 tahun telah membentuk “<strong>keimanan</strong>” karyawan kepada sang pemimpin.</p>
<p>Apa yang terjadi jika trust dan “iman” terwujud dari karyawan kepada pemimpinnya? Semuanya menjadi gampang dan enteng. Inisiatif apapun yang diamanatkan sang pemimpin dijalankan dengan sungguh-sungguh dan passionate. Pekerjaan sesulit apapun yang diembankan sang pemimpin bisa dituntaskan dengan enteng dan sempurna. Dan tantangan perusahaan seberat apapun akan bisa diselesaikan secara bersama jika semuanya trust satu sama lain.</p>
<p>Trust akan membentuk apa yang saya sebut “<strong>energi positif</strong>”. Kenapa? Karena jika trust terwujud maka segala hal positif akan mengemuka: bersih hati, kecintaan kepada si pemimpin dan perusahaan, ownership, kesungguhan, kerja tanpa pamrih, optimisme,  kepercayaan diri, rasa tanggung-jawab, sense of achievement, klik-klik politik kantor sirna, dsb-dsb. Di sisi lain, segala bentuk keburukan akan terkubur dalam-dalam: iri-dengki, prasangka buruk, resistensi, kemalasan, apriori, selfish, fitnah, saling gasak, saling hujat, saling umpat, dsb-dsb. <strong>Trust adalah sumber segala kebaikan</strong>.</p>
<p>Kalau trust hadir, maka otak kita akan dipenuhi dengan hal-hal yang positif. Hati kita akan positif, pikiran kita positif, sikap kita positif, perilaku kita positif, niat-ingsun kita positif, kerja kita positif. Dan kalau semua itu terjadi maka ujung-ujungnya kita akan mampu mencapai hasil yang luar biasa positif. Energi positif telah menghasilkan kinerja Adira yang luar biasa positif.</p>
<p><strong>Kejadian 2</strong><br />
Dari kantor wilayah Adira Surabaya saya langsung ngacir ke Bandara Juanda. Sambil menunggu pesawat berangkat, sudah menjadi kebiasaan saya selalu memborong baca seluruh koran yang ada. Membaca headline-headline koran, otak saya seperti terberangus. Semua koran itu isinya didominasi berita mengenai resuffle kabinet dan yang menyedihkan: anggota DPR, sekjen partai, pengamat politik, anak mantan presiden, aktivis LSM, dosen perguruan tinggi, mahasiswa, tokoh masyarakat, seperti dikomando semuanya menghujat komposisi kabinet hasil rombakan SBY.</p>
<p>Sehari sebelumnya begitu susunan kabinet baru keluar, timeline Twitter dan update Facebook saya dibanjiri ocehan-ocehan para tweeps, mention, link artikel, atau breaking news, yang isinya setali tiga uang menghujat hasil resuffle kabinet SBY.  Hujatannya macam-macam: “kabinet terisi politisi partai ketimbang profesional”; “wakil menteri pemborosan duit negara”; wakil menteri akan picu konflik”; “Fadel ditendang”; “Andi Malarangeng dan Cak Imin memang sakti”; dan seterusnya, dan seterusnya.</p>
<p>Celakanya, itu tak terjadi saat ini saja. Hampir seluruh polah-tingkah SBY selalu menuai kritik dan hujatan dari segala penjuru Tanah Air. Yang lamban lah; yang tidak tegas lah; yang tidak konsisten lah; yang mencla-mencle lah; yang tebang-pilih lah, yang cengeng bisanya cuma bikin lagu lah; dan seterusnya, dan seterusnya. Seoalah pemimpin kita ini tak ada baiknya sedikit pun. Terus terang saya kasihan sama SBY.</p>
<p><strong>Untrust Society</strong><br />
Saya tidak bicara soal apakah para penghujat itu benar atau salah. Saya juga tidak tertarik untuk bicara apakah SBY sesungguhnya hebat atau banyak cacat. Yang menjadi keprihatinan saya adalah adanya kenyataan betapa miskinnya kita memandang pemimpin. Saya prihatin pada tak adanya trust antara kita dengan pemimpin kita seperti yang dalam scope kecil begitu indah terjadi di Adira.</p>
<p>Akibatnya, pemikiran, usulan, kebijakan, inisiatif, program, dan langkah yang diambil sang pemimpin selalu dihujat, ditentang, dihambat, ditolak dengan satu alasan: “<strong>Pokoknya!!!</strong>” Pokoknya dihujat!!! Pokoknya dihambat!!! Pokoknya ditolak!!! Kini kita menjadi “<strong>untrust society</strong>” yang hobinya saling curiga, saling menyalahkan, saling memfitnah, saling menelikung, saling memboikot.</p>
<p>Kalau semua kita sudah tidak saling trust lagi, maka yang muncul adalah “<strong>energi negatif</strong>”. Karena energi negatif ini, kita selalu melihat pemimpin kita dari sisi gelapnya saja, tanpa tersisa sedikitpun sisi terang. Ketika otak dan hati kita disesaki dengan energi negatif, maka sesuatu yang gampang menjadi rumit; sesuatu yang enteng menjadi teramat berat.</p>
<p>Kontras dengan yang terjadi di Adira, ketika energi negatif menguasai kita, maka otak kita akan dipenuhi dengan hal-hal yang  negatif. Hati kita akan negatif, pikiran kita negatif, sikap kita negatif, perilaku kita negatif, niat-ingsun kita negatif, kerja kita  negatif. Dan ujung-ujungnya hasil yang kita capai menjadi luar biasa negatif. Dengan energi negatif, maka apapun yang upayakan bangsa ini akan selalu menuai hasil amburadul: pemberantasan korupsi jalan di tempat; kesenjangan sosial makin meradang; kompor bledug di mana-mana; Kasus Bank Century menjadi benang kusut, KPK ditekuk-tekuk, dan seterusnya, dan seterusnya.</p>
<p>Ketakutan saya, kita semua ini tidak trust bukan hanya kepada SBY, tapi kepada siapapun orang-orang di sekitar kita. Kalau betul ini yang terjadi, maka sebagai bangsa kita sedang terjangkit penyakit kanker stadium empat.</p>
<p>Sumpah!!!</p>
<p>Kini kita mengalami krisis trust!!!</p>
<p>Kita mengalami krisis energi positif!!!</p>
<p>Mari kita cari energi positif itu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/10/21/energi-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Steve</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/10/08/steve/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/10/08/steve/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 11:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creativity]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Sindo]]></category>
		<category><![CDATA[apple]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F10%252F08%252Fsteve%252F&title=Steve&desc=Steve+Jobs+meninggalkan+kita+hari+Rabu+lalu.+Seperti+umumnya+great+leader+%E2%80%94+Gandhi%2C+Soekarno%2C+Mother+Teresa%2C+%E2%80%94+ia+pergi+meninggalkan+legacy+yang+menginspirasi+jutaan+anak+manusia%3B+inspirasi+yang+k&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Steve Jobs meninggalkan kita hari Rabu lalu. Seperti umumnya great leader — Gandhi, Soekarno, Mother Teresa, — ia pergi meninggalkan legacy yang menginspirasi jutaan anak manusia; inspirasi yang kekal sampai ke ujung jaman. Sepak terjang Steve selama 36 tahun membangun bisnis Apple dan mencipta produk-produk hebat (dari Mac hingga iPad) menyisakan pelajaran-pelajaran bisnis dan marketing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F10%252F08%252Fsteve%252F&title=Steve&desc=Steve+Jobs+meninggalkan+kita+hari+Rabu+lalu.+Seperti+umumnya+great+leader+%E2%80%94+Gandhi%2C+Soekarno%2C+Mother+Teresa%2C+%E2%80%94+ia+pergi+meninggalkan+legacy+yang+menginspirasi+jutaan+anak+manusia%3B+inspirasi+yang+k&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p><strong>Steve Jobs</strong> meninggalkan kita hari Rabu lalu. Seperti umumnya great leader — <strong>Gandhi</strong>, <strong>Soekarno</strong>, <strong>Mother Teresa</strong>, — ia pergi meninggalkan legacy yang menginspirasi jutaan anak manusia; inspirasi yang kekal sampai ke ujung jaman. Sepak terjang Steve selama 36 tahun membangun bisnis Apple dan mencipta produk-produk hebat (dari Mac hingga iPad) menyisakan pelajaran-pelajaran bisnis dan marketing sangat berharga. Saya mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan pelajaran yang saya dapat dari seorang Steve. Berikut ini beberapa di antaranya.</p>
<p><strong>Market-Driving</strong><br />
“Market-focused”, “market-driven”, “market-orientation” adalah jargon yang menjadi pakem pemikiran dunia pemasaran yang selalu dikumandangkan ribuan pakar bisnis di seluruh dunia. Konsepnya indah sekali: Anda harus mengetahui dulu apa kebutuhan dan keinginan konsumen. Lalu dari situ Anda merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Steve punya prinsip yang berlawanan dengan pakem itu. Ini ucapan dia yang sangat saya suka: “<strong>It&#8217;s really hard to design products by focus groups. A lot of times, people don&#8217;t know what they want until you show it to them</strong>.”<span id="more-1056"></span></p>
<p>Seringkali konsumen tidak tahu apa yang dibutuhkannya. Ia baru sadar kebutuhan itu setelah produk disodorkan di hadapannya. Inilah yang terjadi pada iPod; inilah yang terjadi pada iPad. Jadi, alih-alih meriset kebutuhan konsumen, seorang marketer harus menjadi “peramal” kebutuhan konsumen; dari situ ia menciptakan great product; dan kemudian “memaksa” si konsumen untuk menyukai dan membutuhkannya. Jadi bukannya market-driven, tapi <strong>market-driving</strong>.</p>
<p><strong>Selling the Culture</strong><br />
Ide brilian Steve tak melulu terletak pada kecanggihan iPod atau iPad. Steve tak hanya menjual produk canggih, tapi menjual <strong>Apple culture</strong>. Inilah yang membedakan Apple dengan Microsoft, misalnya, yang sama-sama jago membuat produk canggih. Kata Steve mengenai Microsoft, “<strong>The only problem with Microsoft is they just have no taste. &#8230;I mean that in a big way, in the sense that they don’t think of original ideas, and they don’t bring much culture into their products</strong>.”</p>
<p>Filosofi “<strong>Think Different</strong>” merupakan roh yang terus mengobarkan semangat fanatisme Apple yang sulit ditiru pesaing. Produk Apple yang mengombinasikan <strong>cool design</strong>, <strong>user-friendliness</strong>, dan <strong>great technology</strong> menjadikan Apple memiliki posisi unik di hati setiap konsumennya. Tak hanya itu, Apple sudah identik dengan nilai-nilai: young, fun, hyper-creative, cool, different, rebel (yes, seperti kata Steve: “<strong>It’s better to be pirates than to join the Navy</strong>). Itu sebabnya Apple begitu diloyali, dicintai, difanatiki konsumennya. Apple sudah seperti <strong>sekte</strong>.</p>
<p><strong>Great Products Advertise Themselves</strong><br />
Soal buzz marketing, kita harus banyak belajar dari apa yang dilakukan Steve dan Apple. Pendekatan pemasaran Apple sangat unik dan canggih: kombinasi antara kehebatan produk, kehebatan PR, kecanggihan community marketing, yang diramu dengan buzz marketing yang mewabah meracuni kita semua. Salesman utama Apple adalah produknya sendiri: “<strong>great products advertise themselves!</strong>” Kehabatan produk inilah yang kemudian menimbulkan efek word-of-mouth yang menjalar luar biasa melalui internet ke seluruh dunia.</p>
<p><strong>Follow Your Heart</strong><br />
Marketing is not only about <strong>science</strong>. It’s about <strong>art</strong>. Di dalam marketing 1+1 tak mesti 2, bisa 5 bisa 10. Itu terjadi karena seorang marketer menghadapi dinamika perubahan lingkungan bisnis yang sangat kompleks dan dinamis. Dalam kondisi semacam itu analisis logis berbekal data-data pasar yang komplit terkadang tak mencukupi. Lalu bagaimana seorang marketer meresponsnya? Steve mengajarkan kepada kita pentingnya <strong>suara hati</strong> dan <strong>intuisi</strong>. “<strong>Don&#8217;t let the noise of other&#8217;s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition</strong>,” ujarnya. Suara hati dan intuisi adalah senjata pamungkas yang menentukan sukses kita dipasar, karena itu dengarkanlah bisikan-bisikannya.</p>
<p><strong>Blue Ocean Hunter</strong><br />
Steve adalah blue ocean hunter sejati. Ia menyukai sepi menyendiri, keluar dari hiruk-pikuk persaingan para medioker. Ia seorang visionary yang selalu mencipta kategori baru, membesarkan pasarnya, dan kemudian mendominasinya. Di pertengahan tahun 1970-an, ketika komputer mainframe IBM mendominasi pasar, Steve mengambil jalan sepi dengan menciptakan kategori baru yang belum pernah ada sebelumnya, <strong>PC</strong>. Ketika pasar PC kemudian boom dipenuhi pemain-pemain medioker, Steve pun mengarahkan Apple mengambil jalan sunyi dengan produk legendaris <strong>Macintosh</strong>, walaupun kemudian terperosok.</p>
<p>Ketika internet marak, kembali Steve membawa Apple keluar dari mainstream dengan menciptakan kategori baru yang breakthrough yaitu <strong>iPod</strong>/<strong>iTunes </strong>(2001). Dari bisnis komputer yang mulai berdarah-darah, Apple meloncat ke blue ocean market baru yaitu bisnis musik digital. Tak hanya itu, seperti kita saksikan sekarang, Steve kemudian membawa Apple lebih jauh lagi berburu lahan blue ocean market baru untuk mendongkrak kinerjanya. Masuklah Apple ke bisnis smartphone (<strong>iPhone</strong>, 2007) dan tablet (<strong>iPad</strong>, 2010). Kiatnya? Kata Steve: “<strong>Stay Hungry</strong>, <strong>Stay Foolish!</strong>”</p>
<p><strong>The Real Hero</strong><br />
Steve adalah the real hero. Seorang the real hero tak hanya mengecap kesuksesan semata. Ia juga pernah gagal, bahkan kegagalan di titik terbawah dan terpuruk. Namun dia bisa bangkit lagi dan menuai kejayaannya kembali. Steve mengalami kegagalan fatal saat dia dipecat dari Apple saat Machintos tak mampu mengembalikan kejayaan Apple. Apa komentar dia mengenai pemecatan tersebut? “&#8230;<strong>getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life</strong>.”</p>
<p>Hebatnya Steve, ia tidak menyikapi pemecatannya secara negatif dan pesimistik sebagai sebuah kekalahan, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif  dalam perjalanan hidupnya. Yang menarik, memulai kembali di titik nol justru menjadikan Steve punya energi luar biasa untuk berkreasi, yang kita tahu akhirnya mengantarkannya untuk mencipta produk-produk paling kreatif dalam sejarah umat manusia. Kondisi serba keterbatasan di titik nol ini justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan.</p>
<p>Menutup tulisan ini saya ingin mengutip petuah Steve saat memberikan orasi di depan mahasiswa Universitas Stanford tahun 2005: “<strong>And yet, death is the destination we all share. No one has ever escaped it. &#8230;death is very likely the single best invention of life. It’s life’s change agent; it clears out the old to make way for the new …Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life</strong>.”</p>
<p>Tentu saja Steve tidak membuang-buang waktunya yang pendek untuk memberikan kontribusi terbaik bagi peradaban manusia. Di umurnya yang pendek ia telah menghasilkan 6 masterpiece — <strong>Apple II</strong>, <strong>Macintosh</strong>, <strong>Pixar</strong>, <strong>iPod</strong>, <strong>iPhone</strong>, <strong>iPad </strong>— yang membawa hidup umat manusia menjadi jauh lebih baik.</p>
<p>Saya malu. Karena diberi Tuhan waktu 24 jam sehari dan umur yang kira-kira bakal sama seperti Steve, tapi belum berbuat apa-apa. Anda mestinya juga malu seperti saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/10/08/steve/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The &#8220;Solo Entrepreneur&#8221; Manifesto</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/03/10/the-solo-entrepreneur-manifesto/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/03/10/the-solo-entrepreneur-manifesto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 00:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[micropreneur]]></category>
		<category><![CDATA[social media entrepreneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F10%252Fthe-solo-entrepreneur-manifesto%252F&title=The+%22Solo+Entrepreneur%22+Manifesto&desc=Dalam+tulisan+saya+Social+Media+Outlook+2011%3A+The+5+Big+Shifts+in+Indonesia+Social+Media+Landscape+saya+menyebut+bahwa+di+Indonesia+akan+marak+oleh+kemunculan+%22social+media+entrepreneur%22.+Salah+satu+a&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Dalam tulisan saya Social Media Outlook 2011: The 5 Big Shifts in Indonesia Social Media Landscape saya menyebut bahwa di Indonesia akan marak oleh kemunculan &#8220;social media entrepreneur&#8221;. Salah satu alasan yang saya kemukakan di situ adalah karena social media tools sebagai &#8220;modal&#8221; untuk membangun bisnis berbasis social media begitu mudah dan murah didapatkan. Akibatnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F10%252Fthe-solo-entrepreneur-manifesto%252F&title=The+%22Solo+Entrepreneur%22+Manifesto&desc=Dalam+tulisan+saya+Social+Media+Outlook+2011%3A+The+5+Big+Shifts+in+Indonesia+Social+Media+Landscape+saya+menyebut+bahwa+di+Indonesia+akan+marak+oleh+kemunculan+%22social+media+entrepreneur%22.+Salah+satu+a&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Dalam tulisan saya <a href="http://www.yuswohady.com/2010/12/25/indonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond/"><strong>Social Media Outlook 2011: The 5 Big Shifts in Indonesia Social Media Landscape</strong></a> saya menyebut bahwa di Indonesia akan marak oleh kemunculan &#8220;social media entrepreneur&#8221;. Salah satu alasan yang saya kemukakan di situ adalah karena social media tools sebagai &#8220;modal&#8221; untuk membangun bisnis berbasis social media begitu mudah dan murah didapatkan. Akibatnya, social media entrepreneur tak perlu membangun perusahaan yang besar dengan modal miliaran rupiah dan ribuan karyawan. Bahkan saya melihat nantinya social media entrepreneur ini kebanyakan adalah &#8220;<strong>solo entrepreneur</strong>&#8221; alias entrepreneur yang bekerja sendirian yang &#8220;kantor&#8221;-nya di Starbucks, kafe-kafe, atau mal-mal.</p>
<p>Artikel berikut ini memberikan insight luar biasa mengenai bagaimana kita menjadi solo entrepreneur yang hebat. Tulisan saya ambil dari blog Change This, berjudul: <strong>The Micropreneur Manifesto</strong>. Silahkan temen-temen kalau mau download di sini:</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/03/Micropreneur-Manifesto.pdf">Micropreneur Manifesto</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/03/10/the-solo-entrepreneur-manifesto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Great Leader Is A Teacher</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 04:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[leader is teacher]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F08%252F14%252Fa-great-leaders-are-teachers%252F&title=A+Great+Leader+Is+A+Teacher&desc=Ya%2C+pemimpin+yang+hebat+adalah+guru+yang+mumpuni.+Kenapa+begitu%3F+Coba+saja+lihat%2C+tugas+seorang+guru.+Tugas+dan+misi+termulia+dari+seorang+guru+adalah+%E2%80%9Cmewariskan%E2%80%9D+apa+yang+dimilikinya+kepada+para&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Ya, pemimpin yang hebat adalah guru yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “mewariskan” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (knowledge), keahlian dan pengalaman (skill), dan sikap, perilaku, budi pekerti (attitude). Berbekal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F08%252F14%252Fa-great-leaders-are-teachers%252F&title=A+Great+Leader+Is+A+Teacher&desc=Ya%2C+pemimpin+yang+hebat+adalah+guru+yang+mumpuni.+Kenapa+begitu%3F+Coba+saja+lihat%2C+tugas+seorang+guru.+Tugas+dan+misi+termulia+dari+seorang+guru+adalah+%E2%80%9Cmewariskan%E2%80%9D+apa+yang+dimilikinya+kepada+para&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Ya, pemimpin yang hebat adalah <strong>guru</strong> yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “<strong>mewariskan</strong>” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (<strong>knowledge</strong>), keahlian dan pengalaman (<strong>skill</strong>), dan sikap, perilaku, budi pekerti (<strong>attitude</strong>). Berbekal knowledge-skill-attitude (untuk singkatnya sebut saja: KSA) itu si guru berupaya membentuk si murid untuk menjadi seperti dirinya. Jadi by-default seorang guru haruslah menjalankan fungsi role-modeling. Nggak bisa si guru mengajarkan kepada si murid tapi cuma omong doang tanpa dia mempraktekkannya.</p>
<p>“Karya terbesar” seorang guru adalah “warisannya” yaitu, si murid yang sudah tertempa KSA-nya hingga menjadi seperti dia, bahkan melebihinya. Guru yang baik adalah mereka yang total menumpahkan KSA yang dimilikinya kepada si murid<strong> tanpa tersisa sedikitpun</strong>. Karena itu kalau kita nonton film Star Wars, saat-saat Yoda memberikan ilmu terakhir yang dimilikinya kepada si murid Luke Skywalker adalah momen-momen berharga yang digambarkan secara dramatik dan sarat makna.</p>
<p>Guru juga selalu melayani (<strong>serve</strong>) dan berkorban (<strong>sacrifice</strong>) untuk kebaikan dan keutamaan si murid. Itu sebabnya oleh pemerintah jaman Orde Baru mereka mendapatkan julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang hebat adalah mereka yang secara tulus-ikhlas berkorban demi untuk kebaikan, kesuksesan, dan kejayaan murid-muridnya. Guru bukanlah pekerjaan yang<strong> selfish</strong>. Guru yang hebat peduli pada muridnya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang guru adalah pelayanan, pengabdian, dan dedikasi diri kepada orang lain. <strong>Guru adalah sebuah compassion</strong>.<span id="more-661"></span></p>
<p>Itu guru. Lalu bagaimana dengan pemimpin? Katanya pemimpin yang hebat pasti guru yang hebat pula? Saya 100% setuju dengan James Kouzes dan Barry Posner (baca buku terakhirnya: <strong>A Leader’s Legacy</strong>) bahwa: “<strong>leadership is about leaving a lasting legacy</strong>”. Pekerjaan utama seorang pemimpin adalah meninggalkan “warisan” yang tak lekang ditelan jaman. Gandhi meninggalkan prinsip perlawanan penjajah dengan tanpa kekerasan; Bill Gates meninggalkan Microsoft dan Gates &amp; Melinda Foundation; Mohammad Yunus meninggalkan Grameen Bank berikut aktivitasnya memberdayakan kaum papa; Soekarna meningalkan Kemedekaan Indonesia.</p>
<p>Tapi warisan para pemimpin besar itu tak hanya sebatas itu. Ada warisan lain yang justru lebih substansial. Soekarno adalah pemimpin hebat karena seluruh hidupnya diabdikan dan didedikasikan untuk menghasilkan dan (setelah mati) meninggalkan warisan tak ternilai, kemerdekaan Indonesia. Namun bagi saya warisan sesungguhnya yang ditinggalkan oleh Soekarno adalah para pemimpin penerusnya yang mengisi dan “merawat” kemerdekaan itu.</p>
<p>Warisan terbesar Soekarno sebagai pemimpin adalah “<strong>murid-murid</strong>”-nya, yaitu para pemimpin penerus bangsa yang selalu terinspirasi untuk mewujudkan impian-impiannya mengenai kemerdekaan Indonesia yang sesungguh-sungguhnya. Jadi warisan Soekarno masih cacat dan belum paripurna kalau para pemimpin yang meneruskannya berperangai bukan pemimpin: suka korupsi, selfish, rakus kekuasaan, greedy, munafik. <strong>Leader must create other leaders</strong>, pemimpin harus menghasilkan pemimpin lain yang lebih hebat darinya. Sama dengan guru harus menghasilkan murid-murid yang lebih hebat darinya.</p>
<p>Lalu, seperti juga guru, seorang pemimpin juga harus mentransfer dan mengopi KSA yang dimilikinya kepada orang-orang yang dipimpinnya (followers). Itu atinya, ia harus memainkan peran role modeling bagi para follower-nya. Untuk memainkan peran ini maka seorang pemimpin harus beres KSA-nya. Bagaimana kalau KSA-nya belepotan? Ya, tentu saja si pemimpin akan kehilangan kredibilitasnya, karena: <strong>he doesn’t practice what he preach</strong>. Dan kita tahu kredibiltas adalah ”nyawanya” kepemimpinan. Anda nggak kredibel di mata anak buah, maka habislah Anda.</p>
<p>Dan akhirnya, seperti halnya guru, seorang pemimpin haruslah <strong>serve &amp; sacrifice</strong>. Pemimpin yang ikhlas selalu melayani dan berkorban agar orang-orang yang dipimpinnya berkembang. Tugas berat seorang pemimpin adalah mentransformasi para follower-nya dari good menjadi great, dari orang biasa-biasa saja menjadi orang luar biasa. Seorang pemimpin harus memfasilitasi dan menjadi enabler bagi para follower-nya untuk sukses, untuk make a difference, untuk make a legacy.</p>
<p>Sama dengan guru, pemimpin yang jujur dan ikhlas peduli pada follower-nya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang pemimping adalah<strong> pelayanan</strong>,<strong> pengabdian</strong>, dan<strong> dedikasi</strong> diri kepada orang lain. Pekerjaan memimpin adalah sebuah <strong>compassion</strong>. Kalau sudah begini kita menjadi sadar bahwa pekerjaan seorang pemimpin demikian mulianya. Karena itu pemimpin yang jujur dan ikhlas seharusnya pantas mendapatkan penghargaan <strong>Pahlawan Tanpa Tanda Jasa</strong>—seperti halnya guru.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/14/a-great-leaders-are-teachers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Passion &#8211; &#8220;The Ultimate Ingredient of Success&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 08:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[success]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F04%252F18%252Fpassion%252F&title=Passion+-+%22The+Ultimate+Ingredient+of+Success%22&desc=%22Passionate+people+are+risk-taking+explorers+driven+by+a+desire+to+learn+and+drive+performance+to+the+next+level.%22%0D%0AJohn+Hagel+III%2C+%E2%80%9CThe+Power+of+Pull%E2%80%9D%0D%0ABagi+saya+kunci+sukses+seseorang+bukanlah+k&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>&#8220;Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level.&#8221;
John Hagel III, “The Power of Pull”
Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F04%252F18%252Fpassion%252F&title=Passion+-+%22The+Ultimate+Ingredient+of+Success%22&desc=%22Passionate+people+are+risk-taking+explorers+driven+by+a+desire+to+learn+and+drive+performance+to+the+next+level.%22%0D%0AJohn+Hagel+III%2C+%E2%80%9CThe+Power+of+Pull%E2%80%9D%0D%0ABagi+saya+kunci+sukses+seseorang+bukanlah+k&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p style="text-align: center;">&#8220;<em>Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level</em>.&#8221;<br />
<strong>John Hagel III, “The Power of Pull”</strong></p>
<p>Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi tak menjamin sukses seseorang.</p>
<p>Saya berani bertaruh: kunci paripurna kesuksesan seseorang adalah PASSION, titik.</p>
<p>Sekitar 15 tahun lalu saya kuliah di jurusan teknik mesin UGM Yogya. Saya memilih jurusan itu karena waktu di SMA jurusan itulah yang paling keren, paling bergengsi, dan paling cepat diterima kerja. Tapi celaka, di bangku kuliah saya nggak betah belajar teknik mesin. Pelariannya, seringkali saya berbulan-bulan nggak kuliah sibuk menjadi aktivis: lontang-lantung menjadi wartawan kampus dan demonstran.</p>
<p>Bukannya sibuk dengan diktat kuliah perteknikmesinan, saya justru menekuni dunia manajemen dan marketing secara otodidak. Saya ingat betul, saat itu waktu lebih banyak saya pakai mengunjungi perpustakaan fakultas ekonomi ketimbang teknik. Waktu lulus pun (hehe&#8230; dengan IP pas-pasan) saya pun merasa lebih kompetitif bersaing dengan lulusan manajemen/marketing ketimbang teknik.</p>
<p>Ka<span id="more-618"></span>rena alasan itu pula kemudian saya memutuskan bekerja di dunia manajemen/marketing, menjadi penulis dan konsultan manajemen/marketing. Amazing&#8230; karena saya mencintai dunia ini, karir, capaian, karya yang saya hasilkan maju pesat tak terbendung. Layaknya dam Situ Gintung jebol saja. Karena menemukan dunianya, saya bekerja amat keras, namun di balik kerja keras itu saya justru merasakan layaknya sedang bermain: asyik bukan main!</p>
<p>Sebelum saya menikah, bahkan sampai seminggu bahkan dua minggu saya nggak pulang ke rumah, sibuk menulis dan mengerjakan laporan. Musuh saya satu waktu itu: satpam. Ya, karena untuk bisa tidur terus-terusan di kantor selama 1-2 minggu harus adu mulut dengan satpam tiap malam. Orang dari kantor sebelah mengira saya menjadi pekerja rodi. 100% keliru! Tak ada seorang pun yang meminta saya lembur! Saya menikmati pekerjaan itu, saya melakukan dengan exiting, dan karena itu hasil-hasil yang saya capai juga extraordinary.</p>
<p>Saya mengalami kondisi “kesurupan” yang oleh Mihaly Csikszentmihalyi, pakar psikologi, disebut sebagai “<strong>FLOW</strong>”, yaitu kondisi dimana saya hanyut dan terhisap (immersed &amp; absorbed), menikmati kesenangan (joy) dan mencapai totalitas (total concentration) dalam melakukan pekerjaan itu. Buahnya: produktivitas kerja yang berlipat-lipat.</p>
<p>Ya, itu terjadi karena saya melakukan pekerjaan itu dengan PASSION!!!</p>
<p>Passion memberi kita optimisme luar biasa yang memungkinkan kita menuai capaian-capaian yang extraordinary. Passion memunculkan produktivitas luar biasa, produktivitas di luar batas kemampuan kita. Passion membalik beban dan stress menjadi energi kerja yang luar biasa. Passion memberikan kita keyakinan dalam mencapai apa-apa yang kita inginkan. Passion memicu kita untuk memiliki daya kreasi yang tak mengenal batas.</p>
<p>Berkat Twitter saya mendapatkan sebuah blog post berjudul, “<strong>Pursuing Passion</strong>” ditulis oleh John Hagel yang secara khusus melakukan studi mengenai seluk-beluk passion. Dari studi tersebut, ia menemukan beberapa tesis menarik. Berikut saya ambil beberapa diantaranya.</p>
<p><strong>Passion is about performance</strong>.  Orang yang memiliki passion akan memiliki sense of achievement dan selalu tergoda untuk menciptakan karya dan capaian luar biasa. Ia selalu mencari tantangan dan peluang untuk mewujudkan capaian-capaian di luar zona kenyamanan yang melingkupinya. Dalam mewujudkan capaian yang luar biasa mereka tidak memerlukan insentif atau penghargaan dari luar, karena energi untuk mencapai yang terbaik selalu datang dari dalam dirinya sendiri: “Passion is ultimately driven by intrinsic motivation rather than extrinsic rewards”.</p>
<p><strong>Passion is about risk-taking</strong>. Bagi orang yang memiliki passion, gelas yang terisi air setengahnya, akan dikatakan gelas itu “setengah penuh”, bukannya “setengah kosong”. Segala bentuk tantangan dan risiko akan mereka lihat sebagai “jembatan” untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ada. Karena itu orang yang memiliki passion selalu bisa lepas dari segala bentuk krisis dan ketidakmenentuan. “For passionate person, risk becomes reward. They see that risk is the only way to discover new things and explore new territories.”</p>
<p><strong>Passion is about connecting</strong>. Orang yang memiliki passion selalu mencari orang lain yang memiliki passion yang sama untuk berbagi dan bersama-sama mewujudkan apa yang ingin mereka capai. Ia selalu menyadari bahwa cara terbaik untuk mewujudkan tujuan dan misi adalah dengan berhimpun, berbagi, dan belajar dengan orang lain. “Passion lead us to seek out and connect with others sharing our passion. A passionate person is not a lone hero.”</p>
<p><strong>Passion is about authenticity</strong>. Passion datang dari lubuk hati yang paling dalam, tanpa dibuat-buat, tanpa direkayasa. Ia merupakan “suara hati” memberi energi dan tenaga hidup luar biasa. Ketika seseorang memiliki passion terhadap sesuatu hal, maka sesuatu hal itu memberinya makna hidup dan identitas hakiki, dan dengan itu ia mengabdikan dan mengontribusikan seluruh hidupnya untuk orang banyak. Dalan <strong>The 8th Habit</strong>, Stephen Covey menyebutnya sebagai “<strong>VOICE</strong>”. Kata Covey: “<strong>Find your Voice, and inspire others to find theirs</strong>”</p>
<p>Bill Gates is a passionate person!<br />
Steve Jobs is a passionate person!<br />
Mohammad Yunus is passionate person!<br />
Einstein is a passionate person!<br />
Gandi is a passionate person!<br />
Soekarno is a passionate person!<br />
Mbah Surip is a passionate person!</p>
<p>Saya berani bertaruh: “Orang hebat pasti memiliki PASSION luar biasa!!!”</p>
<p>follow me at: @yuswohady</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/18/passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Honda&#8217;s Strike Back! Ampuhkah?</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 04:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[honda vs yamaha]]></category>
		<category><![CDATA[marketing war]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F03%252F18%252Fhondas-strike-back-ampuhkan%252F&title=Honda%27s+Strike+Back%21+Ampuhkah%3F&desc=Setelah+lama+ditunggu+akhirnya+Honda+bereaksi.+Minggu+ini+saya+kaget+melihat+iklan+Honda+di+surat+kabar+yang+kini+tampil+lebih+pede+dan+sedikit+high+profile+dengan+mengatakan+bahwa+Honda+adalah%3A+%E2%80%9CPe&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Setelah lama ditunggu akhirnya Honda bereaksi. Minggu ini saya kaget melihat iklan Honda di surat kabar yang kini tampil lebih pede dan sedikit high profile dengan mengatakan bahwa Honda adalah: “Pemimpin pasar motor Indonesia tahun 2009 dan selama 36 tahun”. Honda juga mengatakan “Populasi motor paling banyak”; “Jaringan purna jual terbesar dan terpadu”; “500 kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F03%252F18%252Fhondas-strike-back-ampuhkan%252F&title=Honda%27s+Strike+Back%21+Ampuhkah%3F&desc=Setelah+lama+ditunggu+akhirnya+Honda+bereaksi.+Minggu+ini+saya+kaget+melihat+iklan+Honda+di+surat+kabar+yang+kini+tampil+lebih+pede+dan+sedikit+high+profile+dengan+mengatakan+bahwa+Honda+adalah%3A+%E2%80%9CPe&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Setelah lama ditunggu akhirnya Honda bereaksi. Minggu ini saya kaget melihat iklan Honda di surat kabar yang kini tampil lebih pede dan sedikit high profile dengan mengatakan bahwa Honda adalah: “Pemimpin pasar motor Indonesia tahun 2009 dan selama 36 tahun”. Honda juga mengatakan “Populasi motor paling banyak”; “Jaringan purna jual terbesar dan terpadu”; “500 kali menjuarai MotoGP”; “Rajanya motor irit”. Rupanya Honda mulai “keluar dari sarang” untuk menghadapi gempuran klaim pemimpin pasar yang terus dibangun dan digaungkan Yamaha.</p>
<p>“Serangan balik” Honda semacam ini memang ditunggu-tunggu, karena dengan demikian perang di benak konsumen (consumer&#8217;s mind) mengenai klaim pemimpin pasar menjadi lebih berimbang. Tanpa adanya &#8220;jawaban&#8221; dari Honda semacam ini, maka persepsi yang terbentuk di benak konsumen adalah bahwa memang Yamaha lah si pemimpin pasar. Harus diakui memang Yamaha beberapa tahun terakhir sangat cerdik mengklain diri sebagai pemimpin pasar baru. Setiap prestasi yang ia raih selalu ia kampanyekan ke khalayak untuk memperkokoh persepsi sebagai pemimpin pasar. Dan aksi ini memang efektif.<span id="more-599"></span></p>
<p>Respons Honda yang cenderung diam bisa dipahami, karena sebagai pemimpin pasar yang sesungguhnya, Honda tak mau terlihat gegabah. Sebagai pemimpin pasar selama 36 tahun Honda harus terlihat tenang dan bijak merespons gerak Yamaha. Namun dalam amatan saya Honda terlalu tenang dan terlalu low profile sehingga muncul kesan lamban dan sulit melakukan perubahan: “market leader syndrome”. Muncul juga kesan Honda tak tahu apa yang harus diperbuat untuk membedung serangan bertubi Yamaha. Inilah yang berbahaya.</p>
<p>Saya berharap aksi terakhir Honda di atas, merupakan babakan baru serangan balik Honda. Sebuah serangan yang lebih high profile, sistematis, dan penuh ketenangan seperti layaknya serangan pemimpin pasar. Dari sisi “konten” saya melihat pesan yang disampaikan cukup baik, yaitu mengembalikan persepsi publik bahwa Honda lah si pemimpin pasar yang sesungguhnya: “the real leader”. Caranya, dengan mengungkapkan fakta-fakta kepemimpinan pasarnya seperti: menjadi pemimpin pasar berturut-turut selama 36 tahun; kinerja dan inovasi produk yang tak terkalahkan; kemampuan 3S (sales, service, spare part) termassif dan terintegrasi; dan sebagainya.</p>
<p>Strategi ini mengingatkan saya pada kampanye “<strong>The Real Thing</strong>” yang dilakukan Coca Cola untuk meredam gempuran Pepsi yang mencoba mengacaukan persepsi pemimpin pasar yang disandang Coca Cola. Seperti kita tahu, Coca Cola menetralisirnya dengan sangat cantik dengan mengatakan bahwa Coca Cola lah “kola yang sesunguh-sungguhnya”. Dengan kampanye ini kita tahu Coca Cola mampu membangun persepsi di pasar bahwa Coca Cola lah pemimpin pasar yang sesungguh-sungguhnya, sekaligus mencitrakan bahwa Pepsi bukanlah “the real cola”. Strategi mengunci perspsi kepemimpinan pasar ini juga dilakukan AMild dengan sangat jitu dengan mengatakan bahwa: “Others Only Can Follow”.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Yamaha dengan adanya serangan balik Honda ini? Kalau kampanye “<strong>the real leader</strong>” Honda ini dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup panjang, pasti Yamaha akan kerepotan. Ketakutan saya adalah jika kampanye tersebut dilaksanakan secara sporadis, dan sifatnya “menggarami air laut” seperti sajak Chairil Anwar: “sekali habis itu mati”. Namun saya yakin, walaupun kerepotan Yamaha tetap akan punya 1001 cara untuk merecoki Honda mengingat posisinya yang menguntungkan karena  second-leader advantages yang dimilikinya.</p>
<p>Apapun episode lanjutan perseteruan Honda-Yamaha ini, saya meyakini hasilnya akan positif, karena persaingan selalu saja membawa dampak positif, baik bagi pendewasaan pemain maupun tentu saja bagi konsumen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/18/hondas-strike-back-ampuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marketer Harus Belajar dari Einstein</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 13:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurial leadership]]></category>
		<category><![CDATA[marketing leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F03%252F14%252Fmarketer-harus-belajar-dari-einstein%252F&title=Marketer+Harus+Belajar+dari+Einstein+&desc=Bip...+bip...+bip...%0D%0ATwitter+di+BB-ku+meraung-raung.%0D%0ALalu+pop-up%2C+muncul+tweet+dari+seorang+teman+nggak+tahu+dari+belahan+bumi+mana%3A%C2%A0+%E2%80%9Cjhagel%3A+10+Amazing+Life+Lessons+You+Can+Learn+From+Albert+Ei&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Bip&#8230; bip&#8230; bip&#8230;
Twitter di BB-ku meraung-raung.
Lalu pop-up, muncul tweet dari seorang teman nggak tahu dari belahan bumi mana:  “jhagel: 10 Amazing Life Lessons You Can Learn From Albert Einstein http://j.mp/b4SEtM”. Saya coba telusur link-nya, lalu sejenak kemudian mata saya membelalak: “hebat betul pelajaran-pelajaran hidup yang diwariskan Albert Einstein untuk kita semua”. Saya harus sharing-kan ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F03%252F14%252Fmarketer-harus-belajar-dari-einstein%252F&title=Marketer+Harus+Belajar+dari+Einstein+&desc=Bip...+bip...+bip...%0D%0ATwitter+di+BB-ku+meraung-raung.%0D%0ALalu+pop-up%2C+muncul+tweet+dari+seorang+teman+nggak+tahu+dari+belahan+bumi+mana%3A%C2%A0+%E2%80%9Cjhagel%3A+10+Amazing+Life+Lessons+You+Can+Learn+From+Albert+Ei&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Bip&#8230; bip&#8230; bip&#8230;<br />
Twitter di BB-ku meraung-raung.<br />
Lalu pop-up, muncul tweet dari seorang teman nggak tahu dari belahan bumi mana:  “jhagel: 10 Amazing Life Lessons You Can Learn From Albert Einstein http://j.mp/b4SEtM”. Saya coba telusur link-nya, lalu sejenak kemudian mata saya membelalak: “hebat betul pelajaran-pelajaran hidup yang diwariskan Albert Einstein untuk kita semua”. Saya harus sharing-kan ke banyak orang!</p>
<p>Saya tak menelan mentah-mentah 10 pelajaran itu tapi saya ambil cuma lima, biar gampang dicerna para pembaca (Ingat! Kalau Anda punya 100 item prioritas, maka sesungguhnya Anda TAK punya prioritas!!!). Penginnya tahu semua eh&#8230; malah lupa semua, karena kebanyakan. Tak hanya itu, saya coba interpretasi 5 pelajaran berharga dari `Einstein itu secara khusus dalam konteks pemasaran, khusus saya peruntukkan bagi para marketers. Berikut ke-lima pelajaran berharga tersebut.</p>
<p><strong>#1 Be Passionatelly Curious</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “I have no special talent. I am only passionately curious.”</p>
<p>KEINGINTAHUAN adalah sumber kekuatan paling dasar seorang marketer. Dari sebuah keingintahuan, seorang marketer akan bisa menciptakan breakthrough product sehebat iPad atau kopi Starbuck (hehehe&#8230; soalnya artikel ini ditulis pas di warungnya Starbuck). Dari rasa keingintahuan yang menggelora, seorang marketer akan tahu persis apa yang diperlukan oleh konsumennya. Dari rasa keingintahuan, seorang marketer akan tahu betul bagaimana harus melakukan enggagement dan menjadi “curhat center” bagi konsumennya.<span id="more-596"></span></p>
<p>Dyonius Beti, merevolusi industri motor di Tanah Air salah satunya karena ia sukses meluncurkan breakthrough product sehebat Yamaha Mio. Sumbernya adalah rasa keingintahuan pak Dion mengenai apakah perempuan butuh motor yang pas dan khusus dirancang untuk mereka. Steve Jobs mampu meluncurkan produk-produk hebat sepanjang sejarah—The three “iP”: iPod, iPhone, iPad—karena Steve selalu “merasa bodoh”; nggak “keminter” kata orang Jawa; “Stay foolish,” kata Steve. Semua produk hebat itu lahir karena rasa keingintahuan Steve yang terus menggelora, tak ada matinya. Ingat satu hal ini: “The pursuit of your curiosity is the secret to your success.”</p>
<p><strong>#2 Perseverance is Priceless</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “It&#8217;s not that I&#8217;m so smart; it&#8217;s just that I stay with problems longer.”</p>
<p>Bahasa gampangnya adalah TAHAN BANTING!!! PANTANG MENYERAH!!! Untuk menjadi marketer sukses Anda harus tahan banting, tak gampang menyerah, gagal satu tumbuh seribu, gagal seribu tumbuh semilyar. Kata Einstein: jadilah perangko, karena perangko itu selalu setia nempel di surat, nggak pernah lepas, sampai tujuan surat dituntaskan, yaitu sampai ke tempat tujuan. “The entire value of the postage stamp consist in its ability to stick to something until it gets there. Be like the postage stamp; finish the race that you’ve started!” ujarnya bijak.</p>
<p>Coba kita lihat bagaimana Putera Sampoerna melahirkan A Mild. Pak Putera memang visioner, ia tahu betul bahwa masa depan rokok di Indonesia adalah rokok mild, bukan rokok kretek yang waktu itu mendominasi. Tapi jangan salah, langkah pak Putera menyukseskan A Mild bukanlah gampang, penuh dengan onak dan duri. Hampir lima tahun gagal, merugi, setelah akhirnya meledak menyusul suksesnya kampanye “How Low Can You Go” pada tahun 1994. Pak Putera yakin betul pada intuisinya, karena itu begitu A Mild gagal, dia mencoba bangkit; begitu gagal lagi, dia bangkit lagi; sampai akhirnya dari kegagalan beruntun itu lahirlah kesuksesan. A Mild menjadi rokok mild pertama di Indonesia dan memimpin pasar. Ingat kata-kata bijak Einstein lagi: “A person who never made a mistake never tried anything new.”</p>
<p><strong>#3 Imagining Is Your “Reason for Being”</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “Imagination is everything. It is the preview of life&#8217;s coming attractions. Imagination is more important than knowledge.”</p>
<p>Ya, pelajaran terpentingnya adalah: IMAJINASI lebih powerful ketimbang pengetahuan. Anda punya pengetahuan hebat mengenai pasar, produk, pesaing, teknologi, tapi imajinasinya tumpul, maka Anda akan menjadi marketer medioker, marketer setengah-setengah, marketer kelas teri. Imaginasi adalah KACA PEMBESAR Anda untuk melihat masa depan.</p>
<p>Jimmy Wells, perintis Wikipedia, mampu mewujudkan ensiklopedia paling lengkap di seluruh jagat karena daya imajinasinya yang kepalang gila yaitu dengan cara mengajak setiap orang di seluruh dunia untuk berkontribusi menuliskan ensiklopedia tersebut. Sebelumnya tak terbayangkan oleh akal sehat bagaimana mengajak jutaan orang di seluruh untuk ikutan “berjamaah” menulis isi Wikpedia. Namun berkat wiki, buah imajinasinya, akhirnya sesuatu yang tidak mungkin itu mampu diwujudkan.</p>
<p>Ingat! Imajinasi adalah seperti layaknya otot. Semakin sering imajinasi Anda dilatih, maka semakin tajam setajam mata pedang pula imajinasi Anda. Teruslah berimajinasi, walaupun orang menganggap Anda gila. John Lennon terus berimajinasi hingga detik-detik menjelang kematiannya, walaupun sampai detik ini imajinasinya belum kunjung terwujud: “dunia tanpa perang”.</p>
<p><strong>#4 Different Actions, Different Results</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.”</p>
<p>Anda tak bisa terus saja melakukan sesuatu hal yang sama, tapi mengharapkan hasil yang beda. Anda harus terus berubah, tak boleh terbius oleh kemapanan. Anda tidak boleh silau oleh kesuksesan masa lalu. Karena kesuksesan selalu ada kadaluwarsanya. Anda harus berani “merusak” resep kesuksesan lama untuk diganti dengan yang baru. Kesuksesan yang berkelanjutan sesungguhnya tergantung dari keberanian Anda “merusak” kesuksesan di masa lalu untuk diganti dengan kesuksesan baru. Ingat: timeless successes are about destructing your past success.</p>
<p>Nokia dulu adalah unbeatable leader, kini gerah oleh serbuan Blackberry. Honda motor di Indonesia dulu unbeatable leader, kini gerah disodok Yamaha. Metro TV dulu the only leader, kini direbut TVOne. Petuah Einstein, obat bagi ketiga merek top itu cuma satu: “Do the same things differently”.</p>
<p><strong>#5 Take Action. NOW!!!</strong><br />
<strong>Kata Einstein</strong>: “I never think of the future &#8211; it comes soon enough.”</p>
<p><strong>Kata Einstein lagi</strong>: “The only way to properly address your future is to be as present as possible “in the present.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/14/marketer-harus-belajar-dari-einstein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DESTRUCTION Is Your Job #1</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[marketing leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F02%252F28%252Fdestruction-is-your-job-1%252F&title=DESTRUCTION+Is+Your+Job+%231&desc=Destruction+is+cool%21+%0D%0AEasier+to+KILL+an+organization+than+change+it+substansially.%0D%0ALearn+to+swallow+it%3A+DESTRUCTION+IS+JOB+%231+%0D%0A%28before+the+competition+does+it+to+you%29.%0D%0A%0D%0AIni+adalah+kata-kata+nyent&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Destruction is cool! 
Easier to KILL an organization than change it substansially.
Learn to swallow it: DESTRUCTION IS JOB #1 
(before the competition does it to you).
Ini adalah kata-kata nyentrik dan profokatif dari Tom Peters. Pakar satu ini memang “gendheng” tapi oke. Pemikiran-pemikiran manajemennya selalu revolusioner, breakthrough, menjangkau jauh ke depan. Ia punya mata elang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F02%252F28%252Fdestruction-is-your-job-1%252F&title=DESTRUCTION+Is+Your+Job+%231&desc=Destruction+is+cool%21+%0D%0AEasier+to+KILL+an+organization+than+change+it+substansially.%0D%0ALearn+to+swallow+it%3A+DESTRUCTION+IS+JOB+%231+%0D%0A%28before+the+competition+does+it+to+you%29.%0D%0A%0D%0AIni+adalah+kata-kata+nyent&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p><strong>Destruction is cool! </strong><br />
Easier to KILL an organization than change it substansially.<br />
Learn to swallow it: <strong>DESTRUCTION IS JOB #</strong><strong>1 </strong><br />
(before the competition does it to you).</p>
<p>Ini adalah kata-kata nyentrik dan profokatif dari Tom Peters. Pakar satu ini memang “gendheng” tapi oke. Pemikiran-pemikiran manajemennya selalu revolusioner, breakthrough, menjangkau jauh ke depan. Ia punya mata elang yang mampu secara tajam melihat masa depan, melihat fenomena yang secuil pun kita belum pernah memikirkannya. Karena tak paham, yang bisa kita lakukan kemudian cuma satu: “mengumpat” dengan mengatakan “dia memang gendheng”. Itulah Tom Peters.</p>
<p>Yang sering kita dengar tentu adalah Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, Chief Operating Officer, atau Chief Marketing Officer. Eh… kini ada binatang baru lagi namanya “<strong>Chief Destruction Officer</strong>”. Dari arti harafiahnya saja sangat aneh dan “nggak nyambung”. Destruction artinya “perusakan” atau “penghancuran”. Jadi, kalau CEO bertugas mengelola seluruh strategi dan operasi perusahaan; CFO mengelola keuangan perusahaan; CMO merancang dan mengeksekusi strategi pemasaran; lha si CDO ini tugasnya “menghancurkan” perusahaan. Memang GENDHENG!!!<span id="more-573"></span></p>
<p>Sekilas memang gendheng. Tapi jangan salah! Komentar nakal dan profokatif di atas bukanlah celotehan main-main. Bukan pula gurauan siang bolong para kernet angkot yang sedang menunggu penumpang. Kata demi  kata itu keluar dari mulut seorang maha guru manajemen (“guru of gurus”) yang memiliki arti yang amat dalam, yang kalau kita “mampu mencernanya” akan menyentak kesadaran kita. Kata demi kata itu akan membangunkan “sense of crisis” kita.</p>
<p>Mari pelan-pelan kita coba mencernanya. Lanskap bisnis sekarang ini bergerak dengan kecepatan tinggi secepat kecepatan cahaya—“chaotic”, “radical”, “turbulent”, volatile”, “uncertain”, “unpredictable”, dan masih banyak lagi istilah yang digunakan untuk menggambarkannya. Lanskap bisnis yang bergerak dengan kecepatan cahaya ini bukannya tanpa resiko dan bahaya. Bahayanya sangat-sangat besar.</p>
<p>Mau contoh?<br />
Layanan pos “mati suri” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM! Dunia penerbitan buku kebit-kebit oleh “predator” bernama Amazon Kindle atau Apple iPad! Nokia limbung oleh serbuan Blackberry! Bisnis rekaman melumer oleh kehadiran RBT dan iPod + iTunes! Majalah dan koran cetak babak-belur oleh blog dan citizen journalism.</p>
<p>Itu adalah sisi gelapnya. Di samping membawa racun, menggilanya perubahan lanskap bisnis juga selalu membawa madu semanis angpao Imlek. Di samping menghasilkan the loser, setiap perubahan radikal selalu menyisakan the winner. Di tengah kontes “survival of the fittest” selalu akan muncul para survivors yang tetap mampu bertahan, bahkan kemudian sukses.</p>
<p>Untuk menjadi the survivors dan the winner, persis seperti yang dikatakan Tom Peters, kuncinya terletak pada satu kata: “<strong>penghancuran</strong>”. Untuk sukses di era light-speed changes Anda tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu Anda—“break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang. Kalau perlu, Anda harus tega “membunuh” organisasi Anda, dan kemudian merubahnya menjadi organisasi yang sama sekali baru. <strong>REBORN</strong>!!!</p>
<p>Kalau krisis bisa kapan pun datang dan terus “mengintai”, tanpa sinyal, tanpa pemberitahuan, maka perusakan atau bahasa kerennya “creative destruction” haruslah menjadi “keseharian” operasi perusahaan Anda. Organisasi Anda, orang Anda, sistem yang Anda bangun, budaya perusahaan Anda, haruslah memiliki kapasitas dan kepiawaian untuk melakukan creative destruction dari waktu ke waktu. Organisasi Anda haruslah memiliki “alert system” untuk mengendus munculnya krisis, dan kemudian dengan agilitas yang tinggi mampu mereseponsnya dengan creative destruction yang terkelola secara baik.</p>
<p>Kalau sudah demikian, menjadi jelas bahwa, “winning in the light-speed change era is about survival”. Dan daya survival organisasi Anda akan ditentukan oleh kapasitasnya melakukan creative destruction secara kontinyu. Dan kalau kita sepakat bahwa sustainability adalah tujuan akhir dari sukses perusahaan, maka saya berani katakan bahwa sesungguhnya: <strong>sustainability is a </strong> <strong>“journey of destruction”; it is “a destruction safari”</strong> for long-term survival. Sebuah perjalanan panjang di mana kita melompat dari satu creative destruction ke creative destruction yang lain.</p>
<p>Telkom bingung menghadapi revolusi TI; Honda limbung menghadapi gempuran Yamaha; Nokia gusar oleh serangan mematikan Blackberry.</p>
<p>Mau tahu apa obatnya?<br />
Obatnya cuma satu: operasi sesar!!!<br />
Obatnya cuma satu: <strong>creative DESTRUCTION</strong>!!!</p>
<p>Percayalah saya: “Your success ia a <strong>LONG JOURNEY OF DESTRUCTION</strong>!!!”<br />
Dan 125% saya percaya Tom Peters bahwa: “<strong>DESTRUCTION IS YOUR JOB #1</strong>”.<br />
(before the competition does it to you).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/destruction-is-your-job-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Entrepreneurial Leader Model</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 12:35:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership in Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[My Presentation]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurial marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F22%252Fentrepreneurial-leader-model%252F&title=Entrepreneurial+Leader+Model&desc=Dari+pengalaman+memfasilitasi+berbagai+workshop+di+berbagai+perusahaan%2C+saya+mencoba+menyusun+sebuah+model+sederhana+mengenai+kualitas+seorang+entrepreneurial+leader.+Dalam+model+tersebut+saya+melihat&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2008%252F09%252F22%252Fentrepreneurial-leader-model%252F&title=Entrepreneurial+Leader+Model&desc=Dari+pengalaman+memfasilitasi+berbagai+workshop+di+berbagai+perusahaan%2C+saya+mencoba+menyusun+sebuah+model+sederhana+mengenai+kualitas+seorang+entrepreneurial+leader.+Dalam+model+tersebut+saya+melihat&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: “<strong>Opportunity-Seeker</strong>”, &#8220;<strong>Risk-Taker</strong>”, “<strong>Resource-Allocator</strong>”, dan “<strong>Innovator</strong>”. Berikut ini model ringkasnya.</p>
<div id="__ss_612917" style="width: 425px; text-align: left;"><a style="font:14px Helvetica,Arial,Sans-serif;display:block;margin:12px 0 3px 0;text-decoration:underline;" title="Entrepreneurial Leader Model" href="http://www.slideshare.net/yuswohady/entrepreneurial-leader-model-presentation?type=powerpoint">Entrepreneurial Leader Model</a><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=entrepreneurial-leader-model-1222154278040963-8&amp;stripped_title=entrepreneurial-leader-model-presentation" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=entrepreneurial-leader-model-1222154278040963-8&amp;stripped_title=entrepreneurial-leader-model-presentation" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="font-size: 11px; font-family: tahoma,arial; height: 26px; padding-top: 2px;">View SlideShare <a style="text-decoration:underline;" title="View Entrepreneurial Leader Model on SlideShare" href="http://www.slideshare.net/yuswohady/entrepreneurial-leader-model-presentation?type=powerpoint">presentation</a> or <a style="text-decoration:underline;" href="http://www.slideshare.net/upload?type=powerpoint">Upload</a> your own. (tags: <a style="text-decoration:underline;" href="http://slideshare.net/tag/entrepreneurial">entrepreneurial</a> <a style="text-decoration:underline;" href="http://slideshare.net/tag/leader">leader</a>)</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/09/22/entrepreneurial-leader-model/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

