Category — Leadership in Marketing
Titik Nol
Kegagalan, apalagi jika kegagalan itu adalah keterpurukan hingga di titik terbawah, seringkali kita sikapi sebagai malapetaka, sebagai akhir segalanya. Keterpurukan di titik nol seringkali menjadikan kita ciut hati, undermotivated, dan berat memulai lagi dari bawah. Akibatnya, keterpurukan menjadikan kita makin terpuruk. Kita kian terjebak dalam pusaran keterpurukan.
Tapi kenapa kita tidak berpikir sebaliknya? Kenapa kita tidak menjadikan posisi terpuruk di titik nol sebagai sebuah energi luar biasa untuk bangkit. Kenapa kita tidak menjadikan keterpurukan di titik nol sebagai sinyal bahwa kita harus membangun sense of crisis, sinyal untuk mengetatkan ikat pinggang. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak menjadikan kita ringan melenggang menggapai capapian-capaian luar biasa di depan. Kenapa keterpurukan di titik nol tidak kita jadikan momentum untuk change the world.
Saya melihat keterpurukan di titik nol adalah “harta karun” bagi kesuksesan kita karena ia menyimpan begitu banyak pelajaran, keutamaan, dan wisdom luar biasa. Karena itu, bahkan ketika kita tidak sedang terpuruk, kita harus menciptakan mindset keterpurukan di titik nol agar kita tidak ponggah, tidak sombong, tidak sok tahu, tidak malas, tidak terjebak di zona nyaman.
Bicara mengenai keterpurukan di titik nol, role model saya adalah Steve Jobs. Banyak orang mengagumi Steve karena kepiawaiannya mencipta inovasi hebat: Mac, iPod, iPhone, iPad. Saya justru mengagumi dia karena kemampuannya bangkit dari keterpurukan di titik nol. [Read more →]
November 12, 2011 5 Comments
Energi Positif
Kolom ini saya tulis di atas pesawat Garuda Indonesia GA305 20 Oktober lalu dalam perjalanan Surabaya-Jakarta. Ada dua kejadian kontras yang begitu mengesankan saya persis sebelum saya naik tangga pesawat yang kemudian memacu andrenalin saya untuk menulis kolom ini.
Kejadian 1: saat sehari sebelumnya di Surabaya saya bertemu beberapa kepala cabang dan kepala wilayah Adira Finance se-Jawa Timur. Kejadian 2: saat di bandara Juanda sambil menunggu keberangkatan pesawat ke Jakarta saya membaca headline koran mengenai resuffle kabinet SBY. Andrenalin saya begitu menggelora hingga saya seperti kesurupan dan tak terasa menit-menit sebelum pesawat menclok di Bandara Soekarno-Hatta, kolom pun tuntas ditulis.
Kejadian 1
Di Surabaya sehari sebelumnya saya melakukan brainstorm session dengan para kepala cabang dan kepala wilayah Adira dalam rangka riset untuk mengungkap leadership style Stanley Atmaja yang selama 20 tahun lebih merintis dan membawa perusahaan mencapai sukses luar biasa. Teka-teki terbesar yang terus mengganggu otak saya adalah menjawab pertanyaan: kenapa demikian banyak inisiatif yang dijalankan perusahaan (implementasi IT, budaya perusahaan, Balanced Scorecard, beragam program pengembangan produk baru, dsb-dsb) selalu bisa dituntaskan dengan hasil-hasil luar biasa. [Read more →]
October 21, 2011 2 Comments
Steve
Steve Jobs meninggalkan kita hari Rabu lalu. Seperti umumnya great leader — Gandhi, Soekarno, Mother Teresa, — ia pergi meninggalkan legacy yang menginspirasi jutaan anak manusia; inspirasi yang kekal sampai ke ujung jaman. Sepak terjang Steve selama 36 tahun membangun bisnis Apple dan mencipta produk-produk hebat (dari Mac hingga iPad) menyisakan pelajaran-pelajaran bisnis dan marketing sangat berharga. Saya mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan pelajaran yang saya dapat dari seorang Steve. Berikut ini beberapa di antaranya.
Market-Driving
“Market-focused”, “market-driven”, “market-orientation” adalah jargon yang menjadi pakem pemikiran dunia pemasaran yang selalu dikumandangkan ribuan pakar bisnis di seluruh dunia. Konsepnya indah sekali: Anda harus mengetahui dulu apa kebutuhan dan keinginan konsumen. Lalu dari situ Anda merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Steve punya prinsip yang berlawanan dengan pakem itu. Ini ucapan dia yang sangat saya suka: “It’s really hard to design products by focus groups. A lot of times, people don’t know what they want until you show it to them.” [Read more →]
October 8, 2011 4 Comments
The “Solo Entrepreneur” Manifesto
Dalam tulisan saya Social Media Outlook 2011: The 5 Big Shifts in Indonesia Social Media Landscape saya menyebut bahwa di Indonesia akan marak oleh kemunculan “social media entrepreneur”. Salah satu alasan yang saya kemukakan di situ adalah karena social media tools sebagai “modal” untuk membangun bisnis berbasis social media begitu mudah dan murah didapatkan. Akibatnya, social media entrepreneur tak perlu membangun perusahaan yang besar dengan modal miliaran rupiah dan ribuan karyawan. Bahkan saya melihat nantinya social media entrepreneur ini kebanyakan adalah “solo entrepreneur” alias entrepreneur yang bekerja sendirian yang “kantor”-nya di Starbucks, kafe-kafe, atau mal-mal.
Artikel berikut ini memberikan insight luar biasa mengenai bagaimana kita menjadi solo entrepreneur yang hebat. Tulisan saya ambil dari blog Change This, berjudul: The Micropreneur Manifesto. Silahkan temen-temen kalau mau download di sini:
March 10, 2011 4 Comments
A Great Leader Is A Teacher
Ya, pemimpin yang hebat adalah guru yang mumpuni. Kenapa begitu? Coba saja lihat, tugas seorang guru. Tugas dan misi termulia dari seorang guru adalah “mewariskan” apa yang dimilikinya kepada para muridnya. Apa saja yang diwariskan? Saya membaginya menjadi tiga elemen utama yaitu: pengetahuan (knowledge), keahlian dan pengalaman (skill), dan sikap, perilaku, budi pekerti (attitude). Berbekal knowledge-skill-attitude (untuk singkatnya sebut saja: KSA) itu si guru berupaya membentuk si murid untuk menjadi seperti dirinya. Jadi by-default seorang guru haruslah menjalankan fungsi role-modeling. Nggak bisa si guru mengajarkan kepada si murid tapi cuma omong doang tanpa dia mempraktekkannya.
“Karya terbesar” seorang guru adalah “warisannya” yaitu, si murid yang sudah tertempa KSA-nya hingga menjadi seperti dia, bahkan melebihinya. Guru yang baik adalah mereka yang total menumpahkan KSA yang dimilikinya kepada si murid tanpa tersisa sedikitpun. Karena itu kalau kita nonton film Star Wars, saat-saat Yoda memberikan ilmu terakhir yang dimilikinya kepada si murid Luke Skywalker adalah momen-momen berharga yang digambarkan secara dramatik dan sarat makna.
Guru juga selalu melayani (serve) dan berkorban (sacrifice) untuk kebaikan dan keutamaan si murid. Itu sebabnya oleh pemerintah jaman Orde Baru mereka mendapatkan julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang hebat adalah mereka yang secara tulus-ikhlas berkorban demi untuk kebaikan, kesuksesan, dan kejayaan murid-muridnya. Guru bukanlah pekerjaan yang selfish. Guru yang hebat peduli pada muridnya ketimbang dirinya sendiri. Hakiki seorang guru adalah pelayanan, pengabdian, dan dedikasi diri kepada orang lain. Guru adalah sebuah compassion. [Read more →]
August 14, 2010 1 Comment
Passion – “The Ultimate Ingredient of Success”
“Passionate people are risk-taking explorers driven by a desire to learn and drive performance to the next level.”
John Hagel III, “The Power of Pull”
Bagi saya kunci sukses seseorang bukanlah karena kepintarannya, bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena bokap-nyokap kaya raya minta ampun. Siapa bilang pintar, cerdas, tajir tidak penting untuk kesuksesan. Itu semua penting, tapi tak menjamin sukses seseorang.
Saya berani bertaruh: kunci paripurna kesuksesan seseorang adalah PASSION, titik.
Sekitar 15 tahun lalu saya kuliah di jurusan teknik mesin UGM Yogya. Saya memilih jurusan itu karena waktu di SMA jurusan itulah yang paling keren, paling bergengsi, dan paling cepat diterima kerja. Tapi celaka, di bangku kuliah saya nggak betah belajar teknik mesin. Pelariannya, seringkali saya berbulan-bulan nggak kuliah sibuk menjadi aktivis: lontang-lantung menjadi wartawan kampus dan demonstran.
Bukannya sibuk dengan diktat kuliah perteknikmesinan, saya justru menekuni dunia manajemen dan marketing secara otodidak. Saya ingat betul, saat itu waktu lebih banyak saya pakai mengunjungi perpustakaan fakultas ekonomi ketimbang teknik. Waktu lulus pun (hehe… dengan IP pas-pasan) saya pun merasa lebih kompetitif bersaing dengan lulusan manajemen/marketing ketimbang teknik.
April 18, 2010 15 Comments
Honda’s Strike Back! Ampuhkah?
Setelah lama ditunggu akhirnya Honda bereaksi. Minggu ini saya kaget melihat iklan Honda di surat kabar yang kini tampil lebih pede dan sedikit high profile dengan mengatakan bahwa Honda adalah: “Pemimpin pasar motor Indonesia tahun 2009 dan selama 36 tahun”. Honda juga mengatakan “Populasi motor paling banyak”; “Jaringan purna jual terbesar dan terpadu”; “500 kali menjuarai MotoGP”; “Rajanya motor irit”. Rupanya Honda mulai “keluar dari sarang” untuk menghadapi gempuran klaim pemimpin pasar yang terus dibangun dan digaungkan Yamaha.
“Serangan balik” Honda semacam ini memang ditunggu-tunggu, karena dengan demikian perang di benak konsumen (consumer’s mind) mengenai klaim pemimpin pasar menjadi lebih berimbang. Tanpa adanya “jawaban” dari Honda semacam ini, maka persepsi yang terbentuk di benak konsumen adalah bahwa memang Yamaha lah si pemimpin pasar. Harus diakui memang Yamaha beberapa tahun terakhir sangat cerdik mengklain diri sebagai pemimpin pasar baru. Setiap prestasi yang ia raih selalu ia kampanyekan ke khalayak untuk memperkokoh persepsi sebagai pemimpin pasar. Dan aksi ini memang efektif. [Read more →]
March 18, 2010 3 Comments
Marketer Harus Belajar dari Einstein
Bip… bip… bip…
Twitter di BB-ku meraung-raung.
Lalu pop-up, muncul tweet dari seorang teman nggak tahu dari belahan bumi mana: “jhagel: 10 Amazing Life Lessons You Can Learn From Albert Einstein http://j.mp/b4SEtM”. Saya coba telusur link-nya, lalu sejenak kemudian mata saya membelalak: “hebat betul pelajaran-pelajaran hidup yang diwariskan Albert Einstein untuk kita semua”. Saya harus sharing-kan ke banyak orang!
Saya tak menelan mentah-mentah 10 pelajaran itu tapi saya ambil cuma lima, biar gampang dicerna para pembaca (Ingat! Kalau Anda punya 100 item prioritas, maka sesungguhnya Anda TAK punya prioritas!!!). Penginnya tahu semua eh… malah lupa semua, karena kebanyakan. Tak hanya itu, saya coba interpretasi 5 pelajaran berharga dari `Einstein itu secara khusus dalam konteks pemasaran, khusus saya peruntukkan bagi para marketers. Berikut ke-lima pelajaran berharga tersebut.
#1 Be Passionatelly Curious
Kata Einstein: “I have no special talent. I am only passionately curious.”
KEINGINTAHUAN adalah sumber kekuatan paling dasar seorang marketer. Dari sebuah keingintahuan, seorang marketer akan bisa menciptakan breakthrough product sehebat iPad atau kopi Starbuck (hehehe… soalnya artikel ini ditulis pas di warungnya Starbuck). Dari rasa keingintahuan yang menggelora, seorang marketer akan tahu persis apa yang diperlukan oleh konsumennya. Dari rasa keingintahuan, seorang marketer akan tahu betul bagaimana harus melakukan enggagement dan menjadi “curhat center” bagi konsumennya. [Read more →]
March 14, 2010 7 Comments
DESTRUCTION Is Your Job #1
Destruction is cool!
Easier to KILL an organization than change it substansially.
Learn to swallow it: DESTRUCTION IS JOB #1
(before the competition does it to you).
Ini adalah kata-kata nyentrik dan profokatif dari Tom Peters. Pakar satu ini memang “gendheng” tapi oke. Pemikiran-pemikiran manajemennya selalu revolusioner, breakthrough, menjangkau jauh ke depan. Ia punya mata elang yang mampu secara tajam melihat masa depan, melihat fenomena yang secuil pun kita belum pernah memikirkannya. Karena tak paham, yang bisa kita lakukan kemudian cuma satu: “mengumpat” dengan mengatakan “dia memang gendheng”. Itulah Tom Peters.
Yang sering kita dengar tentu adalah Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, Chief Operating Officer, atau Chief Marketing Officer. Eh… kini ada binatang baru lagi namanya “Chief Destruction Officer”. Dari arti harafiahnya saja sangat aneh dan “nggak nyambung”. Destruction artinya “perusakan” atau “penghancuran”. Jadi, kalau CEO bertugas mengelola seluruh strategi dan operasi perusahaan; CFO mengelola keuangan perusahaan; CMO merancang dan mengeksekusi strategi pemasaran; lha si CDO ini tugasnya “menghancurkan” perusahaan. Memang GENDHENG!!! [Read more →]
February 28, 2010 No Comments
Entrepreneurial Leader Model
Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: Dari pengalaman memfasilitasi berbagai workshop di berbagai perusahaan, saya mencoba menyusun sebuah model sederhana mengenai kualitas seorang entrepreneurial leader. Dalam model tersebut saya melihat bahwa seorang entrepreneurial leader harus memiliki 4 kapasitas, yaitu: “Opportunity-Seeker”, “Risk-Taker”, “Resource-Allocator”, dan “Innovator”. Berikut ini model ringkasnya.
September 22, 2008 No Comments






