E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Leadership in Marketing

Remote Influence

Salah satu seni dalam memimpin adalah melalui kemampuan memotivasi pegawai. Ketika seorang pemimpin mampu memengaruhi anak buahnya untuk melakukan arahannya, maka tanpa harus diawasi terus-menerus dan tanpa harus bertemu, pegawai tersebut akan selalu bekerja sebaik-baiknya. Mereka akan selalu merasa diawasi meskipun tidak bertemu atasannya sehingga akan menghasilkan kinerja terbaik. Inilah yang disebut: remote influence.

Selama 20 tahun menekuni bidang bisnis dan marketing, guru paling hebat bagi saya adalah para CEO perusahaan yang menjadi klien saya. Banyak dari mereka yang begitu senang memberi saya “kelas MBA privat” yang barangkali tidak mungkin didapatkan di sekolah MBA manapun.

Kali ini saya mendapatkan leadership wisdom mengenai remote influence dari Pak Zulkifli Zaini, Dirut Mandiri 2010-2013. Ya, karena kini saya sedang meriset dan menulis buku mengenai kepemimpinan bisnis Pak Zul sehingga saya berkesempatan mendapatkan “kuliah-kuliah” yang luar biasa mengenai kepemimpinannya.

leadership-penguin

The Power of Influence
Pak Zul menggunakan analogi remote televisi untuk menjelaskan remote influence secara gampang. Meskipun ada jarak antara kita dan televisi namun kita tetap bisa mengontrol apa saja channel acara yang ingin ditonton. Walaupun ada jarak dan tak selalu bertemu anak buah, dengan adanya remote influence si pemimpin tetap bisa memonitor dan mengontrol mereka. Sebaliknya para anak buah juga merasa dimonitor dan dikontrol oleh si pemimpin.

Seorang pimpinan cabang di Papua atau di Pulau Timor misalnya, akan merasa bahwa CEO di kantor pusat memonitornya dan tahu bahwa ia akan muncul jika si pimpinan cabang tak melakukan pekerjaan dengan baik. Padahal si CEO tak ada di sana dan mereka terpisah jarak ribuan kilometer. Inilah hebatnya remote influence.

Dengan adanya remote influence kita tidak perlu memegang terus buntut bawahan tapi mereka tetap punya urgensi dan tanggung jawab untuk menciptakan kinerja terbaik. Inilah seharusnya keahlian terpenting dari seorang pemimpin. Ia tak bisa selalu dekat secara fisik dengan anak buahnya, namun ia harus bisa dekat secara pengaruh.

Seorang pemimpin harus bisa memengaruhi pegawai meskipun dia tidak selalu bertemu dengannya. Ketika si pemimpin tak hadir, pegawai tetap bekerja dengan semangat membara. Ia bekerja bukan karena terus-menerus ditelepon atasan. Ia tetap bekerja sangat keras walaupun atasannya sedang tidak di tempat.

Leadership is about influencing others. Pemimpin bekerja melalui orang lain lewat pengaruhnya. Dengan pengaruh itu orang lain bekerja sungguh-sungguh, walaupun ia tidak ada di situ.

“Karena itu saat memimpin, saya selalu berupaya memastikan the power of influence ini bekerja,” ujar Pak Zul. Dan bagi Pak Zul, ukuran sukses kepemimpinannya ditentukan oleh bekerja atau tidaknya the power of influence ini.

Leadership Means Motivating
Oleh sebab itu, tugas pemimpin tak lain adalah merancang sebuah sistem kepemimpinan yang mampu memotivasi karyawan. Saat karyawan termotivasi, maka mereka akan mempersembahkan kinerja terbaik walaupun si pemimpin tidak ada di sekitarnya.

Kalau seorang pemimpin tidak mampu memengaruhi dan memotivasi karyawannya, maka dia akan kelelahan karena harus terus-menerus berada di dekat mereka, mengawasi, dan memberi arahan. Apalagi saat karyawan yang harus kita pimpin sudah mencapai jumlah ribuan bahkan puluhan ribu, maka tidak mungkin kita mengawasi mereka satu-persatu selama 7 hari 24 jam.

Oleh karena itu, kemampuan memotivasi adalah bagian yang paling penting sekaligus paling sulit. Inilah kunci dari seni memimpin. Kalau seseorang masih belum sampai pada level memotivasi, maka dia masih sebatas seorang manajer yang hanya cakap dalam melakukan planning, organizing, dan controlling.

Kemampuan paling unik dari seorang pemimpin adalah memotivasi pegawai sehingga mereka berdaya (empowered) dan mandiri dalam menjalankan tugas dan misi organisasi tanpa bantuan si pemimpin. Ingat, indikator kesuksesan seorang pemimpin adalah jika orang-orang yang dipimpinnya berdaya dan mandiri. Kesuksesan paripurna seorang pemimpin adalah jika ia mampu menjadikan pegawai tak lagi tergantung kepadanya.

Ketika seorang pemimpin mampu menjalankan remote influence dengan baik maka proses kepemimpinannya akan sangat efektif karena ia bisa mengarahkan dan mengontrol anak buahnya walaupun ia tidak hadir. Pegawai akan tetap alert, karena merasa terus diawasi dan dikontrol untuk mencapai kinerja terbaik.

Ingat, seorang pemimpin bisa menghasilkan kinerja yang luar biasa berkat the power of influence yang ia kembangkan.

 

Sumber gambar: www.omniagroup.com

September 23, 2016   No Comments

Brand in Crisis

Minggu lalu untuk kesekian kali kita dikejutkan oleh berita tak mengenakkan mengenai Lion Air. Kepolisian Resort Bandara Soekarno Hatta membongkar sindikat porter Lion Air yang kerap mencuri barang berharga di bagasi penumpang. Tak tahu kenapa, berita buruk silih berganti menimpa maskapai terbesar hingga brand reputation-nya kian terpuruk.

Akhir Desember lalu maskapai ini terkena skandal memalukan ketika pilot dan pramugarinya kedapatan mengonsumsi narkoba. Masih menyangkut pilot dan pramugari, sebulan sebelumnya pilot Lion Air menawarkan pramugari janda kepada penumpang sebagai kompensasi delay. Sontak, tawaran itu membuat para penumpang terkejut. Sebab, tawaran itu disampaikannya melalui pengeras suara pesawat.

Masih di bulan November, Lion Air juga dirundung kemalangan karena diprotes penumpangnya yang emosi karena pesawat delay berjam-jam. Fatalnya, penumpang yang marah kemudian mencegat pesawat Lion lain dengan rute yang sama yang hendak lepas landas. Seperti kita tahu semua kejadian penumpang Lion Air marah karena pesawat delay merupakan kejadian rutin yang menimpa maskapai ini.

Dan yang paling parah tentu adalah kecelakaan pesawat. Seperti juga kita ketahui bersama, Lion Air adalah juga merupakan langganan kecelakaan. Sejak beroperasi Juni 2000 hingga 2012, maskapai ini setidaknya telah 19 kali mengalami kecelakaan. Saking seringnya mengalami kecelakaan, Lion Air masuk daftar maskapai yang dilarang di Uni Eropa bahkan masuk satu dari lima maskapai paling berbahaya di dunia.

brand hater

Brand Haters
Dengan jumlah armada pesawat yang sangat besar, bahkan yang terbesar di antara maskapai lain, memang Lion Air bisa mengatakan seburuk apapun layanannya konsumen akan tetap menggunakannya. Namun perlu diingat, seperti halnya kanker ganas, masalah demi masalah yang menderanya bisa menggerogoti ekuitas merek (brand equity) nya.

Elemen paling penting dari ekuitas merek adalah apa yang disebut brand evangelism. Brand evangelism adalah ekuitas merek yang terwujud karena adanya konsumen yang merekomendasikan dan membela merek. Itu kalau mereknya bagus dan membanggakan. Kalau sebaliknya, mereknya buruk dan menjengkelkan, maka konsumen justru menjadi brand haters atau bahkan brand terrorists.

Nah, yang saya cemaskan, begitu banyaknya masalah yang menimpa Lion Air di atas bisa menciptakan brand haters, dan itulah yang kini sedang massif terjadi. Don’t underestimate brand haters. Karena seperti kata Pete Blackshaw, seorang pakar branding, “satisfied customers tell three friends, angry customers Tell 3,000”. Wajar saja, karena sesuatu kabar yang buruk memang lebih menarik digosipkan dan lebih gampang menyebar ketimbang kabar yang baik. Kalau Anda dibenci seorang konsumen yang telah Anda telantarkan barangkali tak begitu masalah. Tapi jika si konsumen mengajak 3000 temannya untuk ikut-ikutan membenci merek Anda, itu yang berbahaya.

Gunung Es
Mengamati begitu peliknya masalah yang dihadapai Lion Air, saya melihat maskapai ini sudah sampai pada tahapan krisis secara merek. Lion Air is brand in crisis. Dan celakanya, krisis merek ini tak bisa hanya diobati dengan branding gimmick seperti: kampanye PR, mengubah logo, atau membesut IMC (integrated marketing communications). Ya, karena obat tersebut tak menyembuhkan sumber penyakitnya.

Masalah bertubi-tubi Lion Air selama ini hanyalah tip of the iceberg, masalah yang hanya tampak di permukaan. Masalah sesungguhnya dan jauh lebih besar justru ada di bawah permukaan yaitu masalah manusia. Dan kalau kita bicara manusia, maka sumbernya ada di budaya perusahaan (corporate culture) dan kepemimpinan (brand leadership). Porter yang membobol bagasi penumpang, pilot dan pramugari yang nyabu, karyawan tidak disiplin yang memicu delay berjam-jam, atau crew yang ceroboh hingga mengancam keselamatan pesawat adalah masalah karakter, budaya, dan kepemimpinan yang lemah.

Seperti kebanyakan brand in crisis, yang dibutuhkan Lion Air adalah sebuah creative destruction: pembumihangusan kemapanan budaya dan pola kepemimpinan lama yang sudah terlanjur mengeras. Seluruh jajaran Lion Air harus membangun sense of crisis untuk menggelindingkan perubahan besar-besaran. Bahkan kalau diperlukan Lion Air bisa membawa masuk outside leader untuk memecah kebekuan dan menjadi katalis perubahan. Krisis di IBM tahun 1990-an misalnya, diselesaikan dengan sangat baik berkat kehadiran outside leader seperti Lou Gestner.

Harus diakui, Lion Air adalah salah satu merek loka hebat yang pernah dimiliki negeri ini. Karena itu saya tidak rela jika krisis merek ini terus berlarut hingga menjadikannya terpuruk. Karena itu maskapai ini harus diselamatkan dari krisis. Siapa yang bisa menyelamatkan? Lion Air sendiri terutama para pemimpinnya di seluruh level organisasi.

 

Sumber foto: sodahead.com

January 9, 2016   1 Comment

Great M-S Team

Teamwork is the fuel that allows common people to attain uncommon results” Andrew Carnegie

Sebuah tim marketing-sales (M-S) yang solid adalah impian setiap organisasi. Persis seperti dibilang Andrew Carnegie, dengan tim M-S yang solid potensi masing-masing marketer-sales di dalam tim saling mengisi, berkolaborasi, dan bersinergi membentuk kekuatan maha dahsyat,