E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — EwMC2

Indonesia Social Media Outlook 2011: “Five Big Shift in 2011 and Beyond”

Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai Consumer 3000 yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka semakin technology savvy dan “social media freak”. Thanks to the internet, dengan munculnya social media tool seperti Twitter dan Facebook yang supermurah, supermudah, dan superpowerful, konsumen kita semakin gampang mengadopsi beragam produk konsumsi berteknologi.

Dalam forum itu saya mengintroduksi munculnya lima pergeseran besar dalam lanskap bisnis online dan social media di Indonesia. Pergeseran ini tak terelakkan lagi merupakan dampak dari “gempa tektonik” (yang dikuti “tsunami”) perilaku konsumen Indonesia sebagai akibat munculnya Consumer 3000. Berikut ini adalah pergeseran-pergeserannya di tahun 2011.

#1. Social Media Euphoria Is Over. It’ll Become a Basic Needs
Yup!!! selama tiga-empat tahun terakhir blog, Facebook, Twitter telah menjadi hype dan eforia luar biasa di Indonesia. Ia menjadi sebuah gerakan massa. Orang beramai-ramai membuka akun Facebook atau Twitter agar tidak disebut jadul atau gaptek; agar disebut keren dan cool. Bermodal “update status” saja sudah cukup, nggak penting berderet fitur yang lain, yang penting bisa ngomong ke teman-teman bahwa mereka sudah menjadi “Facebook freak” atau “Twitter freak”. Di masa eforia, Facebook dan Twitter menjadi alat ekspresi diri, untuk menunjukkan “siapa aku”. [Read more →]

December 25, 2010   5 Comments

Great Model to Measure Word of Mouth Marketing

Temen-temen, saya menemukan sebuah survei dari McKinsey&Co yang dimuat di McKinsey Quarterly yang membahas pendekatan baru untuk mengukur word of mouth marketing (WOMM) yang dijalankan oleh marketer. Berdasarkan model tersebut diperkenalkan sebuah metric yang disebut Word of Mouth Equity (WOME) yang merefleksikan kemampuan sebuah brand atau program pemasaran dalam menghasilkan efek WOM. Nilai WOME ditentukan oleh berbagai variable yaitu: Message Volume, Network, Sender, Message Content, dan Message Source.

Saya kira sebuah model yang simpel dan bisa menjadi inspirasi temen-temen marketer dalam merancang sebuah program WOM untuk merek Anda. Berikut ini link-nya, silahkan kalau mau didownload. Measuring WOM Marketing – McKinsey Quarterly

November 17, 2010   1 Comment

Model Bisnis Horisontal Ala Google

Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.

Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para Googlers (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.

#1. Be a Platform; Not Only Product
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads. [Read more →]

August 17, 2010   14 Comments

Community Is the World’s HOTTEST Business!!!

Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;
#3. Lalu jadikan mereka duit.
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.

“There is a lot of money to be made if you could gather a lot of customers talking and then sell the conversations to brands or companies.”

Kalau Anda bisa mengumpulkan banyak konsumen, dan konsumen tersebut ngomongin, mereview, memberikan rating/ranking (tentang kepuasan terhadap produk misalnya), memberikan rekomendasi kepada konsumen lain, atau mereview suatu kategori produk tertentu; maka bisa saya pastikan Anda akan dikejar-kejar merek di kategori produk tersebut. Anda bisa pura-pura jual mahal… Mereka pasti mau membayar untuk informasi berharga yang ada di komunitas yang Anda bangun.

Revenue model-nya bisa macam-macam:
Ads. Yang paling sederhana dan paling purbakala adalah pemilik merek pasang banner iklan di blog atau portal komunitas yang Anda bangun. Eit.. jangan salah, bahkan Twitter masih menggunakan model ini. [Read more →]

May 29, 2010   6 Comments

Refleksi Milad TDA 4: “Cocreation for Value Creation”

Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, Pesta Wirausaha 2010. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “Fight-Grow-Win” sebuah slogan yang sangat lekat dengan daya juang temen-teman wirausahawan.

Sejak saya “meneliti” komunitas ini dua tahun terakhir, komunitas ini membuat saya takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community” berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia 4 tahun ini. Dan komunitas yang kini beranggotakan 12.000 orang ini tumbuh secara eksponensial karena kekuatan horizontal dengan platform C2C (“customers to customers”).

Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat seperti komunitas Linux, komunitas Mozila Firefox, komunitas programer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Tapi rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.

[Read more →]

April 10, 2010   3 Comments

Sukseskah Plasa.com?

Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment). Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak lagi angot-angotan seperti sebelumnya.

Tak hanya itu, saya melihat proyek Plasa.com merupakan test case pertama dari keseluruhan transformasi Telkom menuju TIME. Saat ini banyak proyek rintisan sudah dijalankan di tubuh Telkom untuk mewujudkan TIME, namun Plasa.com inilah quick win yang tidak boleh tidak harus menuai kesuksesan. Begitu ini gagal, maka inisiatif-inisiatif bisnis lain akan berada di ujung tanduk, inilah peliknya transformasi bisnis. Artinya, manajemen Telkom at all cost akan menyukseskan Plasa.com,

Dengan koki baru, Mbak Shinta Bubu di bawah bendera Mojopia, perombakan yang dilakukan cukup substansial. Yang paling jelas adalah “refocusing” Plasa.com untuk lebih berkonsentrasi ke e-commerce (online shopping), walaupun layanan agregasi konten masih disediakan. Refocusing juga diarahkan pada target tenant yang dibidiknya yaitu UKM. Captive market-nya, Telkom menyebut punya 30.000 mitra binaan UKM yang siap digadang ke Plasa.com.

[Read more →]

March 30, 2010   9 Comments

Social Media Strategy – An Example

Saya menelusur ke sana-kemari… eee ketemu model berikut, siapa tahu berguna…
View more presentations from sanandreas86.

March 27, 2010   No Comments

Social Networks Around the World: A Survey

Ini adalah hasil survei mengenai profil Social Network di seluruh dunia (InSites Consulting 2010), silahkan cek, very insightful:

March 24, 2010   No Comments

Bagaimana Twitter MENJUAL Java Jazz

Malam ini suntuk nyelesaiin buku, 3 hari karantina ngejar deadline.
Ujungnya… “miss Java Jazz tahun ini deh…” :(

Tiba-tiba dilayar BB, bip…bip…bip
Tweet mas Roni (Badroni Yuzirman) nongol…

<Tweeps yg mau nonton @JavaJazz2010 besok, be prepared deh, rame banget, macet, mbl susah msk. Sy td turun di jln, supir parkir entah di mana>

“Ah, mas Roni iseng…”
Lima menit kemudian… bip…bip…bip…

<RT @kompasdotcom: presents LIVE STREAMING Java Jazz 2010 at http://bit.ly/c0uPpr http://bit.ly/bZnTAn>

“Ah… tahun lalu sudah nonton!!!”
Tiga menit kemudian… bip… bip… bip…

<#nowwatching Super Group Java Jazz w/ @indralesmana. Memang super!!!!
Gilang Ramadhan, amazing! Dave Weckl-nya Indonesia>

“Juancuk!!!… Indra Lesmana man!!!”
“Gilang man!!!”
“Dave Weckl-nya Indonesia man!!!”
Semenit  kemudian… bip… bip…bip…

<#nowplaying Bulan Di Atas Asia, hits dr Java Jazz @indralesmana>

“Juancuk lagi!!!… Bulan Di Atas Asia man!!!”

“Juancuk!!! Juancuk!!! Juancuk!!!”
“SUMPAH SETENGAH MATI TIGA KALI!!!”
“Besok saya HARUS nonton Indra!!!”

***

Itulah hebatnya Twitter menjual Java Jazz!
Saya jadi korban tak berdaya!
Persis dibilang di buku CROWD saya:
“Customer is your TRULLY SALESMAN”
Hehehe…
Tx mas Roni

March 5, 2010   2 Comments

BB x FB = gHmM*

*) GhMm = great Horizontal mobile Marketing

Nggak ngerti rumus di atas? BB adalah “Blackberry”; FB adalah “Facebook”; dan gHmM sudah saya tulis di situ, adalah “great Horizontal mobile Marketing”. Tentu saja “BB” di sini representasi dari mobile device secara umum termasuk iPhone, netbook, iPad, dsb. Begitu juga FB merepresentasi social media tools secara umum termasuk Twitter, Windows Live, YouTube, dsb. Apa maksudnya rumus itu?

Lebih setahun yang lalu saat saya menulis “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”, [yes... buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “Blackberry Revolution” (sebut juga “Smartphone Revolution”) terjadi. Saya nggak tahu, karena BB-nya yang murah atau orang Indonesia nya yang kaya-kaya, tiba-tiba semua orang pakai BB untuk facebookan.

Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet “dipindahkan” ke smartpone di genggaman kita. Ketika Facebook, Twitter, Google, YouTube, Wikipedia dan apapun konten internet bisa dipindahkan ke smartphone kita maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Karena itu tak salah kalau Telkom sangat berani mereposisi dirinya dengan ungkapan tagline yang challenging: “The World in Your Hand”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”. Karena itu pula tak berlebihan jika saya katakan bahwa, “the future of marketing is MOBILE MARKETING[Read more →]

February 28, 2010   7 Comments