Category — EwMC2
Great Model to Measure Word of Mouth Marketing
Temen-temen, saya menemukan sebuah survei dari McKinsey&Co yang dimuat di McKinsey Quarterly yang membahas pendekatan baru untuk mengukur word of mouth marketing (WOMM) yang dijalankan oleh marketer. Berdasarkan model tersebut diperkenalkan sebuah metric yang disebut Word of Mouth Equity (WOME) yang merefleksikan kemampuan sebuah brand atau program pemasaran dalam menghasilkan efek WOM. Nilai WOME ditentukan oleh berbagai variable yaitu: Message Volume, Network, Sender, Message Content, dan Message Source.
Saya kira sebuah model yang simpel dan bisa menjadi inspirasi temen-temen marketer dalam merancang sebuah program WOM untuk merek Anda. Berikut ini link-nya, silahkan kalau mau didownload. Measuring WOM Marketing – McKinsey Quarterly
November 17, 2010 No Comments
Model Bisnis Horisontal Ala Google
Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.
Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para Googlers (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.
#1. Be a Platform; Not Only Product
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads. [Read more →]
August 17, 2010 9 Comments
Community Is the World’s HOTTEST Business!!!
Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;
#3. Lalu jadikan mereka duit.
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.
“There is a lot of money to be made if you could gather a lot of customers talking and then sell the conversations to brands or companies.”
Kalau Anda bisa mengumpulkan banyak konsumen, dan konsumen tersebut ngomongin, mereview, memberikan rating/ranking (tentang kepuasan terhadap produk misalnya), memberikan rekomendasi kepada konsumen lain, atau mereview suatu kategori produk tertentu; maka bisa saya pastikan Anda akan dikejar-kejar merek di kategori produk tersebut. Anda bisa pura-pura jual mahal… Mereka pasti mau membayar untuk informasi berharga yang ada di komunitas yang Anda bangun.
Revenue model-nya bisa macam-macam:
Ads. Yang paling sederhana dan paling purbakala adalah pemilik merek pasang banner iklan di blog atau portal komunitas yang Anda bangun. Eit.. jangan salah, bahkan Twitter masih menggunakan model ini. [Read more →]
May 29, 2010 6 Comments
Refleksi Milad TDA 4: “Cocreation for Value Creation”
Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, Pesta Wirausaha 2010. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “Fight-Grow-Win” sebuah slogan yang sangat lekat dengan daya juang temen-teman wirausahawan.
Sejak saya “meneliti” komunitas ini dua tahun terakhir, komunitas ini membuat saya takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community” berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia 4 tahun ini. Dan komunitas yang kini beranggotakan 12.000 orang ini tumbuh secara eksponensial karena kekuatan horizontal dengan platform C2C (“customers to customers”).
Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat seperti komunitas Linux, komunitas Mozila Firefox, komunitas programer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Tapi rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.
April 10, 2010 3 Comments
Sukseskah Plasa.com?
Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment). Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak lagi angot-angotan seperti sebelumnya.
Tak hanya itu, saya melihat proyek Plasa.com merupakan test case pertama dari keseluruhan transformasi Telkom menuju TIME. Saat ini banyak proyek rintisan sudah dijalankan di tubuh Telkom untuk mewujudkan TIME, namun Plasa.com inilah quick win yang tidak boleh tidak harus menuai kesuksesan. Begitu ini gagal, maka inisiatif-inisiatif bisnis lain akan berada di ujung tanduk, inilah peliknya transformasi bisnis. Artinya, manajemen Telkom at all cost akan menyukseskan Plasa.com,
Dengan koki baru, Mbak Shinta Bubu di bawah bendera Mojopia, perombakan yang dilakukan cukup substansial. Yang paling jelas adalah “refocusing” Plasa.com untuk lebih berkonsentrasi ke e-commerce (online shopping), walaupun layanan agregasi konten masih disediakan. Refocusing juga diarahkan pada target tenant yang dibidiknya yaitu UKM. Captive market-nya, Telkom menyebut punya 30.000 mitra binaan UKM yang siap digadang ke Plasa.com.
March 30, 2010 9 Comments
Social Media Strategy – An Example
March 27, 2010 No Comments
Social Networks Around the World: A Survey
March 24, 2010 No Comments
Bagaimana Twitter MENJUAL Java Jazz
Malam ini suntuk nyelesaiin buku, 3 hari karantina ngejar deadline.
Ujungnya… “miss Java Jazz tahun ini deh…”
Tiba-tiba dilayar BB, bip…bip…bip
Tweet mas Roni (Badroni Yuzirman) nongol…
<Tweeps yg mau nonton @JavaJazz2010 besok, be prepared deh, rame banget, macet, mbl susah msk. Sy td turun di jln, supir parkir entah di mana>
“Ah, mas Roni iseng…”
Lima menit kemudian… bip…bip…bip…
<RT @kompasdotcom: presents LIVE STREAMING Java Jazz 2010 at http://bit.ly/c0uPpr http://bit.ly/bZnTAn>
“Ah… tahun lalu sudah nonton!!!”
Tiga menit kemudian… bip… bip… bip…
<#nowwatching Super Group Java Jazz w/ @indralesmana. Memang super!!!!
Gilang Ramadhan, amazing! Dave Weckl-nya Indonesia>
“Juancuk!!!… Indra Lesmana man!!!”
“Gilang man!!!”
“Dave Weckl-nya Indonesia man!!!”
Semenit kemudian… bip… bip…bip…
<#nowplaying Bulan Di Atas Asia, hits dr Java Jazz @indralesmana>
“Juancuk lagi!!!… Bulan Di Atas Asia man!!!”
“Juancuk!!! Juancuk!!! Juancuk!!!”
“SUMPAH SETENGAH MATI TIGA KALI!!!”
“Besok saya HARUS nonton Indra!!!”
***
Itulah hebatnya Twitter menjual Java Jazz!
Saya jadi korban tak berdaya!
Persis dibilang di buku CROWD saya:
“Customer is your TRULLY SALESMAN”
Hehehe…
Tx mas Roni
March 5, 2010 2 Comments
BB x FB = gHmM*
*) GhMm = great Horizontal mobile Marketing
Nggak ngerti rumus di atas? BB adalah “Blackberry”; FB adalah “Facebook”; dan gHmM sudah saya tulis di situ, adalah “great Horizontal mobile Marketing”. Tentu saja “BB” di sini representasi dari mobile device secara umum termasuk iPhone, netbook, iPad, dsb. Begitu juga FB merepresentasi social media tools secara umum termasuk Twitter, Windows Live, YouTube, dsb. Apa maksudnya rumus itu?
Lebih setahun yang lalu saat saya menulis “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”, [yes... buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “Blackberry Revolution” (sebut juga “Smartphone Revolution”) terjadi. Saya nggak tahu, karena BB-nya yang murah atau orang Indonesia nya yang kaya-kaya, tiba-tiba semua orang pakai BB untuk facebookan.
Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet “dipindahkan” ke smartpone di genggaman kita. Ketika Facebook, Twitter, Google, YouTube, Wikipedia dan apapun konten internet bisa dipindahkan ke smartphone kita maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Karena itu tak salah kalau Telkom sangat berani mereposisi dirinya dengan ungkapan tagline yang challenging: “The World in Your Hand”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”. Karena itu pula tak berlebihan jika saya katakan bahwa, “the future of marketing is MOBILE MARKETING” [Read more →]
February 28, 2010 7 Comments
Fenomena “Say No To…” dan Sisi Gelap PR 2.0
Menjelang pemungutan suara Pemilu lalu, secara beruntun keluar akun bernada “Say No To…” di FB. Diawali dengan “Say No To Megawati” yang heboh banget, lalu disusul untuk SBY, Kalla, dan capres-capres lain. Yang ketiban pulung rupanya mbak kita, mbak Mega.
Siapa yang membikin akun itu tak begitu jelas identitasnya, tapi suatu aksi yang mungkin bermotif keisengan (atau mungkin sangat serius dan sarat muatan politik) itu serta-merta direspons begitu antusias oleh begitu banyak warga FB. Dalam kasus Megawati misalnya, hanya sekitar 3 hari saja, “simpatisan” nya sudah mencapai hampir 100 ribu orang.
“It’s the power of HORIZONTAL (new wave) energy!!!”
“It’s the power of [E = wMC2]!!!”
“It’s the power of MANY TO MANY marketing!!!”
Lepas dari dampak politis yang diakibatkan, fenomena itu memberikan indikasi bahwa ada semacam “COMMON DESIRE”, “KEBIMBANGAN BERSAMA”, atau “ASPIRASI BERSAMA” yang kita semua rasakan untuk menolak Megawati menjadi presiden 2009. Common desire ini kemudian diwadahi oleh akun “Say No To…” di atas, dan hasilnya… BUZZZZZZZZZZ… reputasi seorang capres melayang.
Jujur lho, saya tidak sedang dibayar SBY, atau Kalla, atau Prabowo, untuk menulis artikel ini. Saya 100% non partisan. Tapi saya nyoblos lho, walaupun nyoblos apa nggak jelas… habis bingung sih kebanyakan foto, apalagi fotonya cantik-cantik & ganteng-ganteng.
Celakanya, beberapa hari kemudian saya mendapati akun “Say No To…” memakan korban berikutnya. Kali ini korbannya adalah pakar telematika kita, Roy Suryo. Kasusnya sama persis, ada semacam “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama” untuk menolak kepakaran dari sang pakar. Common desire itu diwadahi oleh sebuah media sosial (social media), dan kemudian muncul TENAGA HORIZONTAL untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap kepakaran sang pakar.
Hasil akhirnya sama persis… BUZZZZZZZZZZZZ…reputasi sang pakar pun berada di ujung tanduk.
Kalau akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” demikian gampang melenggang dan memakan korban, keresahan saya kemudian adalah: niiscaya fenomena yang sama akan gampang terjadi pula untuk kasus perusahaan (korporasi).
Ambil contoh sederhana untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki operasi yang sensitif terhadap isu-isu sosial. Misalnya: perusahaan rokok yang sensitif dengan isu kesehatan; perusahaan penambangan atau HPH yang sensitif dengan pencemaran lingkungan; perusahaan obat dan makanan yang sensitif dengan isu keracunan atau penyakit; perusahaan padat karya yang sensitif terhadap isu eksploitasi tenaga kerja; dsb-dsb). Bisa dong kasus akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” dengan gampang menimpa mereka?
Dengan bungkus “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama”, maka monster akun “Say No To…” akan BERGENTAYANGAN memakan satu demi satu korbannya. Kalau ini benar terjadi, maka tentu saja temen-temen yang berkecimpung di dunia ke-PR-an akan makin sibuk, dan tak nyenyak tidur.
Inilah sisi gelap web 2.0
Inilah sisi gelap PR 2.0
Inilah sisi gelap dunia baru yang kita belum jelas betul, apa JUNTRUNGANNYA.
Apakah ujung-ujungnya SPIRITUALISME menjadi oasis penyejuk di padang yang gersang?
April 18, 2009 2 Comments






