<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; EwMC2</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/ewmc2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 05:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Model Bisnis Horisontal Ala Google</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 05:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blue Ocean Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Google business model]]></category>
		<category><![CDATA[Google marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu saya diundang oleh Young Professional Caring Award (YPCA 2010) Caring Colors Martha Tilaar Group (MTG) untuk mengunjungi kantor Google South East Asia di Singapura. Saya diundang ke markas Google dalam rangka mendampingi para pemenang YPCA 2010. YPCA 2010 adalah event yang diselenggarakan oleh Caring Colors MTG untuk memilih ambasador di kalangan profesional yang berprestasi di bidang profesinya masing-masing; ada manajer perusahaan besar, penulis/wartawan, social media entrepeneur, pegawai pemerintah, bahkan guru TK. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk mamahami perusahaan yang mendominasi bisnis online sejagat itu.</p>
<p>Selama berkunjung di markas Google, saya mendapatkan pecerahan dari para <strong>Googlers</strong> (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google. Exciting, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen. Berikut ini adalah beberapa inspiring lessons-learned yang saya peroleh dari Google.</p>
<p><strong>#1. Be a Platform; Not Only Product</strong><br />
Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform. Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads.</p>
<p>Ambil contoh Blogger yang diperoleh Google melalui akuisisi. Blogger merupakan sebuah platform karena memberikan “wadah” bagi para bloggers untuk memproduksi dan mempublikasikan konten yang mereka miliki. Dari blog yang dibangun di Blogger.com para blogger meng-create value melalui konten-konten menarik yang mereka publikasikan; yang kemudian bisa mendatangkan massa pembaca dan pengiklan. Menariknya, ketika para blogger tersebut create value, maka dengan sendirinya mereka akan add value ke platform Blogger.com. Jadi, semakin besar value diciptakan oleh si konsumen, maka semakin besar pula value yang ditambahkan oleh si konsumen tersebut kepada platformnya. Inilah hebatnya platform, Anda akan bekerja bersama-sama dengan si konsumen untuk membesarkan platform tersebut.</p>
<p><strong>#2. It’s Not Destination&#8230; It’s a Mean</strong><br />
Banyak perusahaan berpikir bahwa konsumen harus datang ke website mereka. Kalau mereka datang, maka traffic website tersebut akan tinggi, dan dari situ pemasang iklan akan mau membayar mahal untuk iklan-iklan yang dipajang di situ. Google berpikir sebaliknya. Ia menjadikan home page-nya bukan sebagai “tujuan akhir”, tapi “alat” yang akan membawa Anda ke tempat yang Anda inginkan. Alih-alih minta didatangi, Google justru “menyambangi” konsumennya. Akibatnya, jutaan jalan bisa Anda tempuh untuk mengakses Google. “<strong>Google democratize its channels</strong>”. Search box-nya Google bisa Anda pakai dan hadir di situs manapun di internet. Anda juga bisa menggunakan Google AdSense atau YouTube di blog dan website Anda. Ketika Anda begitu gampang diakses, bisa dipastikan jutaan peluang akan menghampiri Anda. Ini pelajaran penting dari Google!!!</p>
<p><strong>#3. Democratize Resources; Don’t Control!!!</strong><br />
Teori bisnis sebelumnya mengatakan: “Kuasailah sumber daya terbatas dan krusial (di bidang produksi, distribusi, marketing, paten, dsb.), maka Anda akan menuai keuntungan premium sesuai dengan hukum supply &amp; demand. Google justru berpikir sebaliknya. Alih-alih menguasai dan mengontrol produksi, distribusi, pemasaran, atau paten; Google justru sejauh mungkin menyerahkan ke pihak lain untuk kemudian diajak berkolaborasi. Umumnya perusahaan menggunakan logika “<strong>scarcity economy</strong>”; Google menggunakan logika “<strong>abundance economy</strong>”. Ambil contoh Google AdSense. AdSense merupakan platform untuk “mendistribusikan” bisnis iklan Google ke para pemilik blog atau website di manapun di internet. Jadi Google tidak rakus memakan bisnis iklannya sendiri, tapi mengajak “distributor’-nya yaitu para pemiliki blog dan website untuk berkolaborasi menciptakan dan membagun bisnis secara bersama-sama. Tak heran jika pemilik blog dan website tersebut kemudian menjadi evangelist fanatik bagi Google.</p>
<p><strong>#4. Never STOP Improving&#8230; Involve Customers</strong><br />
Hampir semua produk yang dibikin Google meluncur dengan label “Beta”. Versi Beta berarti produk tersebut masih dalam proses testing dan eksperimen; masih dalam proses perbaikan; atau masih dalam proses penyempurnaan. Cara seperti ini bertentangan denga conventional wisdom yang berlaku sebelumnya, bahwa produk harus sempurna begitu meluncur di pasar. Inilah cara Google untuk mengatakan kepada konsumennya: “Kami memang masih jauh dari sempurna; marilah kita sempurnakan bersama-sama.” Itulah cara Google untuk melibatkan konsumen menyempurnakan produk. Harus diingat, konsumen lah yang paling tahu apa kebutuhannya; karena itu konsumen lah yang paling layak menyempurnakan produk yang dibutuhkannya.</p>
<p><strong>#5. &#8220;Don&#8217;t Be Evil&#8221;</strong><br />
“Don’t be evil” adalah motto yang diungkapkan oleh Paul Buchheit dan Amit Patel pencipta Gmail. Melalui motto yang sangat spiritual tersebut mereka ingin mengatakan bahwa ketika informasi konsumen sudah ada di Google maka data itu bisa dieksploitasi dan rekayasa sedemikian rupa untuk kepentingan apapun, termasuk untuk kepentingan yang jahat. Karena itu, motto tersebut menjadi semacam “pagar-pagar etika” bagi setiap Googlers agar tidak berperilaku dan berbisnis jahat. Poin ke-6 dari corporate philosophy mengatakan: “<strong>You can make money without doing evil</strong>”. Sehebat apapun strategi dan model bisnis Anda; semua itu tak ada artinya tanpa adanya landasan moral dan etik yang kokoh.</p>
<p>Berbeda dari kebanyakan perusahaan konvensional yang bersifat vertikal; Google unik dan revolusioner karena menggunakan pendekatan dan logika bisnis yang <strong>horisontal</strong>.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/08/17/model-bisnis-horisontal-ala-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Community Is the World&#8217;s HOTTEST Business!!!</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 03:01:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;
#3. Lalu jadikan mereka duit.
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.
“There is a lot of money to be made if [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perusahaan hebat seperti halnya Facebook, Twitter, YouTube, atau Ning yang memiliki value miliaran dollar sesungguhnya adalah bentuk BISNIS KOMUNITAS. Model bisnisnya gampang, cuma tiga langkah:<br />
#1. Kumpulkan massa sebanyak mungkin;<br />
#2. Bangun mereka menjadi komunitas yang solid;<br />
#3. Lalu jadikan mereka duit.<br />
Itulah yang dilakukan Zuckerberg, Evan William, atau Andreseen.</p>
<p><strong>“There is a lot of money to be made if you could gather a lot of customers talking and then sell the conversations to brands or companies.”</strong></p>
<p>Kalau Anda bisa mengumpulkan banyak konsumen, dan konsumen tersebut ngomongin, mereview, memberikan rating/ranking (tentang kepuasan terhadap produk misalnya), memberikan rekomendasi kepada konsumen lain, atau mereview suatu kategori produk tertentu; maka bisa saya pastikan Anda akan dikejar-kejar merek di kategori produk tersebut. Anda bisa pura-pura jual mahal&#8230; Mereka pasti mau membayar untuk informasi berharga yang ada di komunitas yang Anda bangun.</p>
<p>Revenue model-nya bisa macam-macam:<br />
<strong>Ads</strong>. Yang paling sederhana dan paling purbakala adalah pemilik merek pasang banner iklan di blog atau portal komunitas yang Anda bangun. Eit.. jangan salah, bahkan Twitter masih menggunakan model ini.<span id="more-652"></span></p>
<p><strong>Sponsorship&#8230; “Powered By”</strong>. Karena massa konsumen sudah ada di tangan Anda, maka Anda bisa melakukan kegiatan apapun yang melibatkan pelanggan dan pemilik merek. Event Anda biasanya diberi embel-embel “Powered by&#8230;” TDA melakukannya dengan event Pesta Wirausaha yang cukup sukses beberapa bulan lalu. Check out: http://www.rodeochick.com dan http://www.iboats.com</p>
<p><strong>Subscriptions</strong>. Kata Chris Anderson (penulis <em>The Long Tail</em> dan <em>Free</em>) di dunia online “everything becomes FREE!” Namun tidak semuanya begitu. Di beberapa industri tertentu konsumen mau bayar langganan untuk informasi berharga yang ingin mereka dapat. Contohnya adalah sermo.com yang mengumpulkan dokter-dokter dan menangkap conversation di antara mereka untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan farmasi. Check out: http://www.sermo.com</p>
<p><strong>Recomender</strong>. Komunitas Oprah Winfrey sangat powerful dalam memberikan rekomendasi buku-buku bagus yang wajib dibaca. Karena itu komunitas ini mampu menghimpun para penerbit untuk berbagai bentuk kerjasama yang menghasilkan fulus. Check out: http://www.patientslikeme.com</p>
<p><strong>Be a Research Company</strong>. Anda bisa menjual report yang berisi omongan konsumen mengenai suatu merek&#8230; Yes, <strong>netnography</strong>. Omongan-omongan spontan konsumen di Kaskus mengenai suatu merek merupakan ungkapan paling jujur mengenai suatu merek. Pemilik merek sangat berkepentingan untuk secara periodik mengambil informasi ini. Check out: http://www.consumerist.com dan http://www.bazaarvoice.com</p>
<p><strong>Be a Rating Company</strong>. Anda bisa meminta anggota komunitas untuk me-ranking, me-rating, atau me-reveiew suatu kategori produk tertentu. Hasilnya bisa dipublikasikan atau menjadi event tahunan penghargaan seperti halnya ICSA atau IBBA. Dari situ berbagai bentuk bisnis akan bisa diciptakan. Check out: http://www.creditefficiencies.com</p>
<p>Daftar revenue model di atas tentu saja hanya sebagian kecil saja dari revenue model yang bisa Anda ciptakan; itu semua tergantung dari kreativitas Anda sebagai “community entrepreneur” dalam menghasilkan fulus dari situ.</p>
<p>Di atas semua revenue model yang Anda ciptakan, tentu saja yang paling WOW adalah yang dilakukan Koprol; yaitu meng<strong>KONTANKAN</strong> komunitas Anda alias melegonya ke investor.</p>
<p>Kalau Anda sudah bisa mengumpulkan banyak massa konsumen dan massa itu solid, maka siap-siaplah Anda ditelpon Yahoo, Google, atau Telkom untuk minta berunding menentukan harga komunitas Anda. Maka jadilah Anda Triliuner seperti pemilik koprol</p>
<p>Sampai di sini rasanya semua indah dan gampang.<br />
Namun perlu diingat, berbisnis komunitas tidaklah gampang.<br />
<strong>TRUST</strong> dan <strong>AUTHENTICITY </strong>merupakan nyawa dari sebuah komunitas. Secara ke dalam, trust di antara member merupakan “fondasi” utama sebuah komunitas (Kaskus pernah mengalami friksi ini). Sementara ke luar, otentisitas komunitas Anda di mata pemilik merek merupakan “jantung” keberhasilan Anda berbisnis komunitas.</p>
<p>Apa itu Otentisitas? Ketika anggota komunitas ngomong, merekomendasikan, atau me-rating sebuah produk bukan atas pengaruh, tekanan, atau bayaran pemilik komunitas, tapi atas aspirasi murni mereka; itulah yang disebut sebagai “otentitas” sebuah komunitas.</p>
<p>Jadi dua pekerjaan besar harus Anda lakukan sebagai community entrepreneur agar bisnis komunitas Anda sukses: ke dalam bangun TRUST di antara member; Ke luar ciptakan persepsi AUTHENTICITY di mata pemilik merek.</p>
<p>Siip!!! Selamat mencoba bisnis yang masih <strong>BLUE OCEAN</strong> ini&#8230;<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/05/29/community-is-the-worlds-hottest-business/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Milad TDA 4: &#8220;Cocreation for Value Creation&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 02:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, Pesta Wirausaha 2010. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “Fight-Grow-Win” sebuah slogan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu ini komunitas Tangan Di Atas mengadakan perhelatan besar Milad ke-4 di Balai Kartini Jakarta, dengan kemasan baru yang lebih cool, <strong>Pesta Wirausaha 2010</strong>. Hari pertama kemarin ajang ini dihadiri tak kurang 2000 TDAers dari seluruh tanah air. Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA mengungkapkan bahwa Pesta Wirausaha kali ini memiliki semangat “<strong>Fight-Grow-Win</strong>” sebuah slogan yang sangat lekat dengan daya juang temen-teman wirausahawan.</p>
<p>Sejak saya “meneliti” komunitas ini dua tahun terakhir, komunitas ini membuat saya takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “<strong>value-creating community</strong>” berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia 4 tahun ini. Dan komunitas yang kini beranggotakan 12.000 orang ini tumbuh secara eksponensial karena kekuatan horizontal dengan platform <strong>C2C </strong>(“<strong>customers to customers</strong>”).</p>
<p>Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat seperti komunitas Linux, komunitas Mozila Firefox, komunitas programer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Tapi rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.</p>
<p><span id="more-615"></span>TDA adalah komunitas (offline-online) yang menghimpun orang-orang yang mau dan sudah menjadi entrepreneur. Aktivitas online dilakukan melalui conversation di media sosial seperti blog, Facebook, atau Twitter; sementara aktivitas offline dilakukan melalui seminar, workshop, Mastermind, atau ajang kumpul seperti Pesta Wirausaha ini. Dalam visi-misinya, komunitas ini memiliki tujuan mulia mencetak 10.000 pengusaha miliarder sampai dengan tahun 2018. Komunitas ini meyakini bahwa dengan berbagi, saling mendukung, memecahkan persoalan bersama, dan bersinergi satu sama lain dianatar wirausahawan atau calon wirausahawan, mereka mampu “memproduksi wirausahan hebat dalam jumlah massal.</p>
<p>TDA saya sebut value-creating community karena sekelompok orang yang punya minat, keinginan, dan visi yang sama bergabung, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berdiskusi, saling belajar, saling bertukar informasi, saling memberi ide, dan saling memberi solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Melalui media sosial seperti blog, Facebook, twitter, juga aktivitas Mastermind, cocreation dilakukan di dalam komunitas ini. Spiritnya adalah pelibatan anggota untuk memecahkan persoalan atau visi bersama komunitas.</p>
<p>Mereka membentuk komunitas untuk mengambil manfaat dari apa yang oleh James Surowiecki disebut ”<strong>wisdom of crowd</strong>”. Mereka meyakini prinsip dasar bahwa ”WE are smarter than ME”: bahwa sesuatu yang dikerjakan secara berjamaah pasti hasilnya jauh lebih bagus, lebih sempurna, lebih hebat, lebih solid, lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. Seperti saya tulis dalam buku saya: “<strong>CROWD: Marketing Becomes Horizontal</strong>”, komunitas seperti TDA adalah contoh dari kekuatan <strong>HORIZONTAL</strong> yang merevolusi seluruh aspek kehidupan kita!!!</p>
<p>“It’s the power of CROWD!!!”<br />
“It’s the power of CONVERSATION!!!”<br />
”It’s the power of MASS COLLABORATION!!!”<br />
“It’s the power of COCREATION!!!”<br />
“COCREATION for VALUE-CREATON”</p>
<p>Happy Anniversary TDA.</p>
<p>Twitter: @yuswohady</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/04/10/refleksi-milad-tda-4-cocreation-for-value-creation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukseskah Plasa.com?</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 05:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Corporate Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[e-commerce indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[plasa.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment). Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beberapa tahun terakhir adem-ayem, belantara e-commerce di Indonesia bakal menggeliat, menyusul di-relaunch nya Plasa.com oleh Telkom Kamis minggu lalu. Optimisme ini muncul mengingat Telkom memiliki ”energi baru” buah dari transformasi bisnis yang dilakukannya menuju <strong>TIME (telecommunication, Information, Media, Edutainment)</strong>. Artinya, kini Telkom harus 125% komit mengembangkan Plasa.com karena adanya business vision yang jelas, tak lagi angot-angotan seperti sebelumnya.</p>
<p>Tak hanya itu, saya melihat proyek Plasa.com merupakan test case pertama dari keseluruhan transformasi Telkom menuju TIME. Saat ini banyak proyek rintisan sudah dijalankan di tubuh Telkom untuk mewujudkan TIME, namun Plasa.com inilah quick win yang tidak boleh tidak harus menuai kesuksesan. Begitu ini gagal, maka inisiatif-inisiatif bisnis lain akan berada di ujung tanduk, inilah peliknya transformasi bisnis. Artinya, manajemen Telkom at all cost akan menyukseskan Plasa.com,</p>
<p>Dengan koki baru, Mbak Shinta Bubu di bawah bendera Mojopia, perombakan yang dilakukan cukup substansial. Yang paling jelas adalah “<strong>refocusing</strong>” Plasa.com untuk lebih berkonsentrasi ke e-commerce (online shopping), walaupun layanan agregasi konten masih disediakan. Refocusing juga diarahkan pada target tenant yang dibidiknya yaitu UKM. Captive market-nya, Telkom menyebut punya 30.000 mitra binaan UKM yang siap digadang ke Plasa.com.</p>
<p><span id="more-612"></span>Kembali ke judul tulisan ini: “<strong>Sukseskah Plasa.com</strong>?” Saya tak akan menjawab pertanyaan tersebut, saya hanya memberi catatan dua hal yang barangkali akan menjadi “<strong>chasm</strong>” alias “parit menganga” yang tak memungkinkan layanan ini mencapai critical mass-nya menuju pasar massal (mainstream market).</p>
<p><strong>Isu #1</strong>. Terkait dengan keyakinan konsumen akan keamanan transaksi online. Tantangan yang bakal dihadapai Plasa.com persis seperti yang dihadapi BCA saat memasalkan layanan ATM sekitar 15 tahun lalu. Mengenai ini Telkom sudah merespons nya dengan beragam model alat pembayaran. “Ke depannya, kami sedang mengembangkan online payment lainnya melalui T-Cash dan Flexi Cash,” kata mbak Shinta. “Untuk skala internasional, kita juga menjajaki kerjasama dengan PayPal.” Cukupkah itu meyakinkan konsumen kita?</p>
<p><strong>Isu #2</strong>. Setelah isu keamanan lolos, tantangan yang lebih mendasar adalah, apakah perilaku konsumen Indonesia sudah siap dibawa ke online shoping? Saya sulit menemukan survei perilaku online shopping di Indonesia. Saya hanya punya gambarannya untuk Asia, seperti ditunjukkan oleh hasil survei Visa eCommerce Consumer Monitor (2009). Menurut survei tersebut, hampir sembilan dari sepuluh orang atau 89 persen responden mengaku telah berbelanja online dalam 12 bulan terakhir. Jadi orang Asia siap dengan online shopping. Cuma celakanya, respondennya diambil di “negara-negara maju” Asia, yaitu Jepang, Hong Kong, Cina, India, Korea, Singapura, dan Australia, Indonesia tak terjamah.</p>
<p>Feeling saya, temuan tersebut jauh mencerminkan kondisi yang ada di Indonesia. Seperti halnya saya, kalau mau beli laptop atau HP, kenceng banget surving di internet. Tapi begitu sampai ke urusan beli&#8230; langsung ngacir deh ke Ambasador atau Cempaka mas. Kalau nggak ketemu mbak-mbak SPG yang cantik-cantik atau berjibaku tawar-menawar rasanya kok nggak plong gitu!!! Saya yakin, yang saya alami ini terjadi di sebagian besar konsumen kita.</p>
<p>So&#8230; balik ke pertanyaan semula: “<strong>Sukseskah Plasa.com?</strong>”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/30/sukseska-plasa-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Media Strategy &#8211; An Example</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/27/social-media-strategy-an-example/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/27/social-media-strategy-an-example/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 18:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media framework]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[Saya menelusur ke sana-kemari&#8230; eee ketemu model berikut, siapa tahu berguna&#8230;

Social Media Marketing Framework

View more presentations from sanandreas86.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_3454747" style="width: 425px;">Saya menelusur ke sana-kemari&#8230; eee ketemu model berikut, siapa tahu berguna&#8230;</div>
<div style="width: 425px;"></div>
<div style="width: 425px;"><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Social Media Marketing Framework" href="http://www.slideshare.net/sanandreas86/smm-framework-3454747">Social Media Marketing Framework</a></strong><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=smmframework-100317065527-phpapp02&amp;stripped_title=smm-framework-3454747" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=smmframework-100317065527-phpapp02&amp;stripped_title=smm-framework-3454747" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<div id="__ss_3454747" style="width: 425px;">
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/sanandreas86">sanandreas86</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/27/social-media-strategy-an-example/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Networks Around the World: A Survey</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/24/social-networks-around-the-world-a-survey/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/24/social-networks-around-the-world-a-survey/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 03:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah hasil survei mengenai profil Social Network di seluruh dunia (InSites Consulting 2010), silahkan cek, very insightful:

Social networks around the world 2010

View more presentations from stevenvanbelleghem.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_3435531" style="width: 425px; text-align: left;">Ini adalah hasil survei mengenai profil Social Network di seluruh dunia (InSites Consulting 2010), silahkan cek, very insightful:</div>
<div style="width: 425px;"></div>
<div style="width: 425px;"><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Social networks around the world 2010" href="http://www.slideshare.net/stevenvanbelleghem/social-networks-around-the-world-2010">Social networks around the world 2010</a></strong><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialnetworks2010-100315142040-phpapp01&amp;stripped_title=social-networks-around-the-world-2010" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialnetworks2010-100315142040-phpapp01&amp;stripped_title=social-networks-around-the-world-2010" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<div id="__ss_3435531" style="width: 425px;">
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/stevenvanbelleghem">stevenvanbelleghem</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/24/social-networks-around-the-world-a-survey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Twitter MENJUAL Java Jazz</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/bagaimana-twitter-menjual-java-jazz/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/bagaimana-twitter-menjual-java-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 15:43:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media marketing]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini suntuk nyelesaiin buku, 3 hari karantina ngejar deadline.
Ujungnya&#8230; “miss Java Jazz tahun ini deh&#8230;”  
Tiba-tiba dilayar BB, bip&#8230;bip&#8230;bip
Tweet mas Roni (Badroni Yuzirman) nongol&#8230;
&#60;Tweeps yg mau nonton @JavaJazz2010 besok, be prepared deh, rame banget, macet, mbl susah msk. Sy td turun di jln, supir parkir entah di mana&#62;
“Ah, mas Roni iseng&#8230;”
Lima menit kemudian&#8230; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini suntuk nyelesaiin buku, 3 hari karantina ngejar deadline.<br />
Ujungnya&#8230; “miss Java Jazz tahun ini deh&#8230;” <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tiba-tiba dilayar BB, bip&#8230;bip&#8230;bip<br />
Tweet mas Roni (Badroni Yuzirman) nongol&#8230;</p>
<p>&lt;Tweeps yg mau nonton @JavaJazz2010 besok, be prepared deh, rame banget, macet, mbl susah msk. Sy td turun di jln, supir parkir entah di mana&gt;</p>
<p>“Ah, mas Roni iseng&#8230;”<br />
Lima menit kemudian&#8230; bip&#8230;bip&#8230;bip&#8230;</p>
<p>&lt;RT @kompasdotcom: presents LIVE STREAMING Java Jazz 2010 at http://bit.ly/c0uPpr http://bit.ly/bZnTAn&gt;</p>
<p>“Ah&#8230; tahun lalu sudah nonton!!!”<br />
Tiga menit kemudian&#8230; bip&#8230; bip&#8230; bip&#8230;</p>
<p>&lt;#nowwatching Super Group Java Jazz w/ @indralesmana. Memang super!!!!<br />
Gilang Ramadhan, amazing! Dave Weckl-nya Indonesia&gt;</p>
<p>“Juancuk!!!&#8230; Indra Lesmana man!!!”<br />
“Gilang man!!!”<br />
“Dave Weckl-nya Indonesia man!!!”<br />
Semenit  kemudian&#8230; bip&#8230; bip&#8230;bip&#8230;</p>
<p>&lt;#nowplaying Bulan Di Atas Asia, hits dr Java Jazz @indralesmana&gt;</p>
<p>“Juancuk lagi!!!&#8230; Bulan Di Atas Asia man!!!”</p>
<p>“Juancuk!!! Juancuk!!! Juancuk!!!”<br />
“SUMPAH SETENGAH MATI TIGA KALI!!!”<br />
“Besok saya HARUS nonton Indra!!!”</p>
<p>***</p>
<p>Itulah hebatnya Twitter menjual Java Jazz!<br />
Saya jadi korban tak berdaya!<br />
Persis dibilang di buku CROWD saya:<br />
<strong>“Customer is your TRULLY SALESMAN”</strong><br />
Hehehe&#8230;<br />
Tx mas Roni</p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/05/bagaimana-twitter-menjual-java-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BB x FB = gHmM*</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/bb-x-fb-ghmm/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/bb-x-fb-ghmm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:49:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Mix]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[*) GhMm = great Horizontal mobile Marketing
Nggak ngerti rumus di atas? BB adalah “Blackberry”; FB adalah “Facebook”; dan gHmM sudah saya tulis di situ, adalah “great Horizontal mobile Marketing”. Tentu saja “BB” di sini representasi dari mobile device secara umum termasuk iPhone, netbook, iPad, dsb. Begitu juga FB merepresentasi social media tools secara umum termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*) GhMm = great Horizontal mobile Marketing</p>
<p>Nggak ngerti rumus di atas? <strong>BB </strong>adalah “Blackberry”; FB adalah “Facebook”; dan <strong>gHmM </strong>sudah saya tulis di situ, adalah “great Horizontal mobile Marketing”. Tentu saja “BB” di sini representasi dari mobile device secara umum termasuk iPhone, netbook, iPad, dsb. Begitu juga FB merepresentasi social media tools secara umum termasuk Twitter, Windows Live, YouTube, dsb. Apa maksudnya rumus itu?</p>
<p>Lebih setahun yang lalu saat saya menulis “<strong>CROWD: Marketing Becomes Horizontal</strong>”, [yes... buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “<strong>Blackberry</strong> <strong>Revolution</strong>” (sebut juga “Smartphone Revolution”) terjadi. Saya nggak tahu, karena BB-nya yang murah atau orang Indonesia nya yang kaya-kaya, tiba-tiba semua orang pakai BB untuk facebookan.</p>
<p>Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet “dipindahkan” ke smartpone di genggaman kita. Ketika Facebook, Twitter, Google, YouTube, Wikipedia dan apapun konten internet bisa dipindahkan ke smartphone kita maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Karena itu tak salah kalau Telkom sangat berani mereposisi dirinya dengan ungkapan tagline yang challenging: “The World in Your Hand”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”. Karena itu pula tak berlebihan jika saya katakan bahwa, “<strong>the future of marketing is MOBILE MARKETING</strong>”<span id="more-577"></span></p>
<p>Balik lagi kenapa [BB x FB = gHmM]? BB x FB bakal menjadi mobile marketing yang demikian hebat karena gaya pemasaran di era web 2.0 berbeda 180 derajat dengan gaya pemasaran lama yang broadcast-based. Ketika semua konten internet (terutama web 2.0 tools) bisa dipindahkan ke mobile device kita maka mobile marketing memasuki sejarah baru yaitu era “<strong>web 2.0-based mobile marketing</strong>” atau saya sebut saja “<strong>Horizontal Mobile Marketing</strong>”. Kalau di depan saya katakan bahwa “the future of marketing is MOBILE MARKETING”, maka kini selangkah lagi saya katakan bahwa “<strong>the future of mobile marketing is HORIZONTAL MOBILE MARKETING</strong>”</p>
<p>Jadi jangan bayangkan mobile marketing adalah sebatas memasang banner merek kita di layar HP konsumen. Itu sebabnya layanan i-klan Indosat, layanan mobile advertising pertama di Indonesia, gagal total, layu sebelum berkembang. Horizontasl mobile marketing adalah mobile marketing yang “cornversation-based” bukan “broadcast-based”, “engagement-based”, “viral-based”, “permission-based” artinya pesan merek tak sembarangan nongol, tapi atas ijin empunya; bersifat “many-to-many” dan menggunakan “social atau community platform”. Ayo bertaruh dengan saya: Tiga tahun ke depan kita akan menyaksikan era “<strong>Horizontal Mobile Marketing Revolution</strong>” di Indonesia.</p>
<p>Lalu apa isu-isu yang harus ditangkap Anda para marketers untuk bisa survive dalam rule of the game baru yang dibawa horizontal mobile marketing ini? Berikut adalah beberapa imperatif  yang saya kumpulkan di tengah malam-malam sepi saya.</p>
<p><strong>#1 Permission Marketing  in Mind: Don’t Interrupt Customers</strong>. Mobile marketing adalah bentuk pemasaran yang nyrempet-nyrempet area sensitif konsumen. Ya, karena telepon genggam merupakan salah satu barang paling pribadi yang dipagari kebebasan dan privasi penggunanya. Anda akan marah kalau istri atau suami Anda ngecek SMS Anda malam-malam kan? Begitu Anda menyampaikan pesan merek yang tak berkenan dan melanggar privasi seorang pelanggan Anda, maka sesungguhnya merek Anda sudah HABIS di mata pelanggan tersebut. Permission adalah tiket pelanggan untuk berpartisipasi dalam kampanye merek Anda. Rule #1: “Don’t interupt customers”</p>
<p><strong>#2 Mobile CRM: The Next Great Thing!</strong> Setiap telepon genggam memiliki nomor yang unik, alamat yang tertentu, usia dan jenis kelamin tertentu, bahkan kebiasaan-kebiasaan penggunannya yang tertentu pula. Data pelanggan yang sangat presisi itu bisa bisa dijadikan aset berharga Anda. Data yang sangat akurat ini akan memudahkan Anda untuk mengidentifikasi dan merumuskan segmen pelanggan Anda yang memungkinkan Anda melayani mereka secara lebih baik dan customized. Tak seperti pendekatan pemasaran tradisional yang menggunakan pendekatan “tell-and-sell”, horizontal mobile marketing menggunakan pendekatan “listen-and-learn”.</p>
<p><strong>#3 Engagement Is Trully Killer App: The A3 Cubed.</strong> Ketika horizontal mobile marketing menggunakan community atau social platform, maka kata kuncinya terletak pada customer participation &amp; engagement, dimana konsumen memegang kendali hubungan sepenuhnya. Artinya, pelanggan menjadi pemain utama dan merek berfungsi sebagai “facilitator” dan “connector”. Hubungan merek dengan pelanggan tidak lagi bersifat one-way dan broadcast-based tapi harus two-way, dan memfasilitasi adanya conversation di antara pelanggan sehingga tercipta sebuah komunitas pelanggan yang solid. Engagement di dalam horizontal mobile marketing memiliki dimensi baru yang sangat powerful karena engagement itu dilakukan dalam format “A3 Cubed”: Anytime, Anywhere, Any device. Dengan kata lain, “Brand interact with customers whenever they want, wherever thay happen to be, and on whatever device they have.”</p>
<p><strong>#4 Boost Immediacy and Personalized Experience.</strong> Dimensi lain yang sangat powerful dari horizonatal mobile marketing adalah personalization. Ya, karena melalui personal media seperti telepon genggam si marketer bisa masuk dan nyebur dalam ranah personal si pelanggan. Karena karakteristik ini, tak berlebihan jika saya sebut bahwa mobile marketing war is “personalization war”. Di samping itu mobile device adalah channel yang memiliki keunggulan karena memungkinkan si pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan saat itu juga (immedicacy value: “have-it-right-now; have-it-right-here”). Ketika Anda bisa memainkan immediacy dan personalization ini secara cantik, maka bisa dipastikan Anda akan menjadi pemenang.</p>
<p><strong>#5 Brand Advocacy Is Your Ultimate Growth Driver</strong>. Dan terakhir, jika mobile marketing Anda menggunakan community platform, maka suskes Anda akan banyak ditentukan oleh seberapa banyak Anda memproduksi BRAND ADVOCATORS di dalam komunitas yang Anda bangun. Facebook, Blackberry, iPod sukses bukan karena iklan TV atau aktivitas below the line. Horizontal brand itu sukses karena para brand advocator (kita-kita) yang ngomong bagus mengnai Facebook , ngomong bagus mengnai Blackberry.</p>
<p><strong>“Selamat datang great Horizontal mobile Marketing!!!”</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/02/28/bb-x-fb-ghmm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fenomena “Say No To…” dan Sisi Gelap PR 2.0</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2009/04/18/fenomena-%e2%80%9csay-no-to%e2%80%a6%e2%80%9d-dan-sisi-gelap-pr-20/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2009/04/18/fenomena-%e2%80%9csay-no-to%e2%80%a6%e2%80%9d-dan-sisi-gelap-pr-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 18:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Faceebook effect]]></category>
		<category><![CDATA[PR 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang pemungutan suara Pemilu lalu, secara beruntun keluar akun bernada “Say No To&#8230;” di FB. Diawali dengan “Say No To Megawati” yang heboh banget, lalu disusul untuk SBY, Kalla, dan capres-capres lain. Yang ketiban pulung rupanya mbak kita, mbak Mega.
Siapa yang membikin akun itu tak begitu jelas identitasnya, tapi suatu aksi yang mungkin bermotif keisengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang pemungutan suara Pemilu lalu, secara beruntun keluar akun bernada “Say No To&#8230;” di FB. Diawali dengan “Say No To Megawati” yang heboh banget, lalu disusul untuk SBY, Kalla, dan capres-capres lain. Yang ketiban pulung rupanya mbak kita, mbak Mega.</p>
<p>Siapa yang membikin akun itu tak begitu jelas identitasnya, tapi suatu aksi yang mungkin bermotif keisengan (atau mungkin sangat serius dan sarat muatan politik) itu serta-merta direspons begitu antusias oleh begitu banyak warga FB. Dalam kasus Megawati misalnya, hanya sekitar 3 hari saja, “simpatisan” nya sudah mencapai hampir 100 ribu orang.</p>
<p>“It’s the power of HORIZONTAL (new wave) energy!!!”<br />
“It’s the power of [E = wMC2]!!!”<br />
“It’s the power of MANY TO MANY marketing!!!”</p>
<p>Lepas dari dampak politis yang diakibatkan, fenomena itu memberikan indikasi bahwa ada semacam “COMMON DESIRE”, “KEBIMBANGAN BERSAMA”, atau “ASPIRASI BERSAMA” yang kita semua rasakan untuk menolak Megawati menjadi presiden 2009. Common desire ini kemudian diwadahi oleh akun “Say No To&#8230;” di atas, dan hasilnya… BUZZZZZZZZZZ… reputasi seorang capres melayang.</p>
<p>Jujur lho, saya tidak sedang dibayar SBY, atau Kalla, atau Prabowo, untuk menulis artikel ini. Saya 100% non partisan. Tapi saya nyoblos lho, walaupun nyoblos apa nggak jelas&#8230; habis bingung sih kebanyakan foto, apalagi fotonya cantik-cantik &amp; ganteng-ganteng. </p>
<p>Celakanya, beberapa hari kemudian saya mendapati akun “Say No To…” memakan korban berikutnya. Kali ini korbannya adalah pakar telematika kita, Roy Suryo. Kasusnya sama persis, ada semacam “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama” untuk menolak kepakaran dari sang pakar. Common desire itu diwadahi oleh sebuah media sosial (social media), dan kemudian muncul TENAGA HORIZONTAL untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap kepakaran sang pakar.</p>
<p>Hasil akhirnya sama persis… BUZZZZZZZZZZZZ…reputasi sang pakar pun berada di ujung tanduk.</p>
<p>Kalau akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” demikian gampang melenggang dan memakan korban, keresahan saya kemudian adalah: niiscaya fenomena yang sama akan gampang terjadi pula untuk kasus perusahaan (korporasi).</p>
<p>Ambil contoh sederhana untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki operasi yang sensitif terhadap isu-isu sosial. Misalnya: perusahaan rokok yang sensitif dengan isu kesehatan; perusahaan penambangan atau HPH yang sensitif dengan pencemaran lingkungan; perusahaan obat dan makanan yang sensitif dengan isu keracunan atau penyakit; perusahaan padat karya yang sensitif terhadap isu eksploitasi tenaga kerja; dsb-dsb).  Bisa dong kasus akun “Say No To Megawati” dan “Say No To Roy Suryo” dengan gampang menimpa mereka?</p>
<p>Dengan bungkus “common desire”, “aspirasi bersama”, “kebimbangan bersama”, maka monster akun “Say No To…” akan BERGENTAYANGAN memakan satu demi satu korbannya. Kalau ini benar terjadi, maka tentu saja temen-temen yang berkecimpung di dunia ke-PR-an akan makin sibuk, dan tak nyenyak tidur.</p>
<p>Inilah sisi gelap web 2.0<br />
Inilah sisi gelap PR 2.0<br />
Inilah sisi gelap dunia baru yang kita belum jelas betul, apa JUNTRUNGANNYA.</p>
<p>Apakah ujung-ujungnya SPIRITUALISME menjadi oasis penyejuk di padang yang gersang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2009/04/18/fenomena-%e2%80%9csay-no-to%e2%80%a6%e2%80%9d-dan-sisi-gelap-pr-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Are You Workaholic? How to Quit&#8230;?</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2009/04/02/are-you-workaholic-how-to-quit/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2009/04/02/are-you-workaholic-how-to-quit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 15:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Facebookaholic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda adalah Facebookers, dan telah terjangkiti penyakit FACEBOOKAHOLIC, maka Anda harus mulai memikirkan dua langkah berikut: pertama, me-manage waktu memakai FB. Atau kedua, memutuskan keluar dari belenggu FB. Berikut ini adalah tips-tips untuk keluar dari ketergantungan FB yang coba disarikan dari berbagai sumber:
Tips #1: Admit you have a problem with what you do on [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau Anda adalah Facebookers, dan telah terjangkiti penyakit FACEBOOKAHOLIC, maka Anda harus mulai memikirkan dua langkah berikut: pertama, me-manage waktu memakai FB. Atau kedua, memutuskan keluar dari belenggu FB. Berikut ini adalah tips-tips untuk keluar dari ketergantungan FB yang coba disarikan dari berbagai sumber:</p>
<p><strong>Tips #1: Admit you have a problem with what you do on FB.</strong><br />
Langkah penting pertama adalah AKUI dengan sejujurnya bahwa Anda punya masalah dengan waktu yang Anda buang untuk Facebooking. Selama Anda merasa bahwa everything is OK, Anda tak mengakui punya masalah dengan waktu penggunaan FB, maka dipastikan Anda tak akan bisa keluar dari FB. Itu artinya memang Anda senang dan puas dengan “kehidupan” FB Anda.</p>
<p><strong>Tips #2 Keep track of what you do on FB</strong><br />
Tiap kali Anda selesai Facebooking, evaluasi sejenak apa saja yang telah Anda lakukan selama, katakan dua jam, ber-FB ria? Apakah aktivitas itu cukup bermanfaat bagi Anda? Atau sesungguhnya Anda buang-buang waktu saja? Biasanya Anda masuk ke FB pertama-tama untuk meng-confirm temen yang minta di-add; lalu Anda mencek temen-temen yang merubah foto profil, menulis note, atau menambahkan lagu atau video baru. Coba renungkan, apakah itu KEBERMANFAATAN atau KEMUBAZIRAN. Mereview apa-apa yang sudah Anda lakukan setiap kali akan log out dari FB membuat Anda menjadi peka terhadap pemborosan waktu yang telah Anda lakukan.</p>
<p><strong>Tips # 3 Define your goals on Facebook.</strong><br />
Sebelum Anda memutuskan bergabung di FB, rumuskan terlebih dahulu, apa sesungguhnya TUJUAN Anda. Apakah untuk mencari teman; berbagi ide sesama teman seminat; memaintain teman atau menjalin relasi dengan klien Anda; dsb-dsb. Apapun tujuannya, Anda harus menyediakan waktu Anda untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ketika Anda tak memiliki tujuan apapun di FB, maka Anda harus siap menanggung resiko melakukan kesia-siaan. Itu akan menjadikan FB merupakan liabilities bukanlah aset bagi Anda.</p>
<p><strong>Tips #4 Think of other things you could be doing with your time spent on Facebook.</strong><br />
Hitung berapa lama rata-rata dalam seminggu Anda menghabiskaan waktu untuk Facebooking: 5, 7, atau mungkin 10 jam? Lalu pikirkanlah aktivitas lain yang bisa Anda lakukan dengan waktu sebanyak itu. Membaca buku misalnya, atau mengambil part time job, atau mungkin mungkin main futsal. Lalu coba timbang-timbang mana yang lebih bermanfaat. FB atau kegiatan lain itu?</p>
<p><strong>Tips #5 Leave Facebook.</strong><br />
Ketika berbagai upaya di atas sudan coba Anda lakukan, tapi tetap saja Anda tak kuasa MELEPASKAN DIRI dari belenggu FB, maka itu berarti Anda harus mengambil keputuan besar: meninggalkan FB, say good bye to FB!!!. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (( Caranya…</p>
<p>o Kirim imel ke seluruh jringan teman Anda untuk menjelaskan keputusan Anda ini. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
o Tanggalkan seluruh jaringan teman dan grup. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (<br />
o Delete semua informasi di Profile, termsuk foto. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
o Delete semua pesan di wall. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
o Delete semua komen/note yang Anda pernah buat. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (<br />
o Delete semua pesan apakah yang “sent” maupun “received”. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
o Deaktifasikan akun Anda. <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (( hikhikhikhkkhkhkhikkkkhk<br />
o Cari pengganti FB untuk mengisi waktu-waktu berharga Anda: bisa main futzal, makan, ndengerin musik, etc.</p>
<p>Sambil nyanyikan lagunya John Lennon:</p>
<p>Imagine there&#8217;s no Facebook,<br />
It&#8217;s so hard to try&#8230;.<br />
No people adding us, above us only sky<br />
Imagine all the people, living on lonely&#8230;.</p>
<p>Semoga bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2009/04/02/are-you-workaholic-how-to-quit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
