<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; EwMC2</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/ewmc2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 13:07:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dunia Narsis Briptu Norman</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/04/21/dunia-narsis-briptu-norman/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/04/21/dunia-narsis-briptu-norman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 03:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Luar Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[WOM Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[briptu norman]]></category>
		<category><![CDATA[narcissism and social media]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F21%252Fdunia-narsis-briptu-norman%252F&title=Dunia+Narsis+Briptu+Norman&desc=Sebelum+klip+Chaiya-Chaiya+itu+nongkrong+di+YouTube%2C+Briptu+Norman+adalah+polisi+biasa+yang+tidak+kita+kenal.+Tapi+begitu+klip+diunggah%2C+dan+kemudian+ditayangkan+oleh+salah+satu+stasiun+TV+nasional%2C+m&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Sebelum klip Chaiya-Chaiya itu nongkrong di YouTube, Briptu Norman adalah polisi biasa yang tidak kita kenal. Tapi begitu klip diunggah, dan kemudian ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, maka sejak itu “BOOOOM!!!”&#8230; sang Briptu menjadi idola kita semua.
Mendadak sontak koran-koran, tabloid-tabloid gosip, infotainment-infotainment, kepolisian tempat sang Briptu bekerja, acara-acara talk show telivisi, perusahaan-perusahaan rekaman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F21%252Fdunia-narsis-briptu-norman%252F&title=Dunia+Narsis+Briptu+Norman&desc=Sebelum+klip+Chaiya-Chaiya+itu+nongkrong+di+YouTube%2C+Briptu+Norman+adalah+polisi+biasa+yang+tidak+kita+kenal.+Tapi+begitu+klip+diunggah%2C+dan+kemudian+ditayangkan+oleh+salah+satu+stasiun+TV+nasional%2C+m&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Sebelum klip <strong>Chaiya-Chaiya</strong> itu nongkrong di YouTube, <strong>Briptu Norman</strong> adalah polisi biasa yang tidak kita kenal. Tapi begitu klip diunggah, dan kemudian ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, maka sejak itu “<strong>BOOOOM</strong>!!!”&#8230; sang Briptu menjadi idola kita semua.</p>
<p>Mendadak sontak koran-koran, tabloid-tabloid gosip, infotainment-infotainment, kepolisian tempat sang Briptu bekerja, acara-acara talk show telivisi, perusahaan-perusahaan rekaman, seperti kesurupan ikutan “numpang beken” sang Briptu. Semua berlomba agar kebagian rezeki “<strong>tenar semalam</strong>” sang Briptu. Maka cerita selanjutnya bisa ditebak: eksploitasi membabi-buta pun tak terelakkan lagi.</p>
<p>Kini, dengan adanya media baru HORISONTAL macam YouTube siapapun orang (dari murid SMP, ibu rumah tangga, guru SD inpres, hingga jendral bintang lima) bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, rasa sedih, senang, atau takjub dengan begitu gampangnya.</p>
<p>Tinggal tulis lalu taruh di blog; tinggal potret lalu taruh di situs Flickr; tinggal rekam suaranya lalu taruh pakai podcast; tinggal rekam gambarnya pakai smartphone lalu taruh di YouTube&#8230; seperti Briptu Norman. Begitu ditaruh&#8230; “<strong>BOOOOM</strong>!!!” serta-merta jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia melihatnya.</p>
<p>Selamat datang di era yang kian memanjakan kebebasan berekspresi individu!!! Selamat datang di jaman di mana siapapun kita bisa dan boleh tampil!!! Selamat datang di dunia yang kian narsis!!! <strong>Welcome to the NARCISSISTIC world!!!<span id="more-915"></span></strong></p>
<p><strong>World-Famous in 15 Minutes </strong><br />
Tahun 1968, <strong>Andy Warhol</strong>, pelukis pop culture paling kesohor, pernah membuat ungkapan yang legendaris, “<strong>In the future, everyone will be world-famous in 15 minutes</strong>,” ujarnya. Ketika Warhol mengucapkan itu, tak sebersitpun terpikir di kepalanya sebuah situs bernama YouTube. Tapi seperti kita saksikan bersama, ramalan Warhol itu kini terwujud.</p>
<p>Siapapun Anda bisa menjadi terkenal hanya dengan modal kamera genggam dan sedikit kreativitas. Perangkat media sosial seperti YouTube memungkinkan siapapun — tua-muda, kaya-miskin, bahkan seorang mantan napi (ingat <strong>Bona “Gayus” Maputungan</strong>), dan tentu seorang Briptu — untuk menjadi maha bintang.</p>
<p>“<strong>It is the era of self-recording craze</strong>,” kata <strong>Nicholas Carr</strong>, penulis buku <strong>The Big Switch</strong>. Media sosial memunculkan dunia baru yang penduduknya GENIT suka mengabadikan diri dan membagikannya kepada orang lain. Di era YouTube, orang pada keranjingan untuk mengekspos dirinya untuk DIKONSUMSI publik. Wabah baru yang sangat membahayakan pun menjalar begitu cepat merasuki kita semua. Wabah itu bernama: “sindrom TENAR SEMALAM”</p>
<p>Dulu dengan hadirnya kamera murah pada tahun 1980-an kita bisa mengabadikan peristiwa peristiwa penting seperti pernikahan atau kelahiran. Namun kini, begitu muncul ponsel, cameraphone, kamera digital, personal websites, social networking sites, blogs and podcasts, kita dengan begitu gampang merekam detil-detil keseharian kita dan kemudian MEMPERSILAHKAN siapapun di setiap jengkal bumi ini menyaksikannya. Itu sebabnya YouTube menjadi World’s top site dalam semalam. Itu sebabnya Flickr menjadi World’s top site dalam semalam.</p>
<p>Kalau <strong>Socrates</strong>, seorang filosof, pernah bilang, “T<strong>he unexamined life is not worth living</strong>,” maka ungkapan itu saat ini bisa disempurnakan menjadi, “<strong>UNRECORDED (and UNEXPOSED) life is not worth living</strong>”. Hidup yang tidak diabadikan (dan DIEKSPOS sampai ke titik darah penghabisan) tidak ada nilai dan maknanya.</p>
<p><strong>YOU Are Media Company</strong><br />
Kehebatan orang-orang seperti Sinta-Jojo, Bona Maputungan, dan Briptu Norman semakin menyadarkan saya mengenai era KEJAYAAN INDIVIDU. Anda pasti masih ingat cover majalah <strong>TIME </strong>edisi akhir tahun 2006 yang menempatkan “<strong>YOU</strong>”&#8230; yup kita semua (siapapun kita) sebagai <strong>Person of the Year</strong>. Itu berarti siapapun kita menjadi sejajar dengan tokoh-tokoh hebat penerima Person of the Year majalah TIME sebelumnya seperti Obama, Yasser Arafat, atau Gorbachev</p>
<p>Fenomena Briptu Norman juga mengingatkan saya pada pernyataan Tom Foremsky yang mengatakan bahwa siapapun kita kini sudah menjadi PERUSAHAAN MEDIA. “<strong>YOU are media company</strong>!!!”. Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero; Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero; maka tak terelakkan lagi, ANDA menjadi media company!!! Seperti umumnya perusahaan media, Anda bisa memproduksi konten untuk disebarkan kepada audiens Anda. Dengan bekal smartphone murah bikinan Cina, Anda akan bisa nampang, disaksikan orang dari seluruh pelosok Bumi.</p>
<p>Inilah dunia datar; dunia egaliter; dunia horisontal. Dalam dunia baru macam ini, <strong>SAYA </strong>sejajar dengan Kompas, RCTI, atau bahkan CNN. Kenapa? Karena saya, seperti mereka, mampu memproduksi KONTEN dan menyebarkannya ke seluruh pelosok Bumi. Seperti mereka, saya bisa membikin artikel, tweets, blog posts, quotes, joke, foto, video, status updates, konten apapun, yang mampu menjangkau jutaan audiens di seluruh dunia.</p>
<p>Lebih dari lima tahun lalu saya menulis buku <strong>Marketing in Venus</strong>. Di situ saya bilang bahwa kehadiran SMS waktu itu telah mengubah Bumi menjadi Venus. Penduduk Bumi telah menjadi emosional. Kini dengan kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube bumi telah berevolusi lebih jauh lagi dimana penduduknya menjadi <strong>MAHLUK NARSIS</strong>.</p>
<p>Pertanyaannya: Siapkah Anda <strong>MENGEKSPLOITASI</strong> (dan <strong>DIEKSPLOITASI</strong>) dunia yang kian narsis ini?</p>
<p>Mudah-mudahan Briptu Norman tangguh menghadapinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/04/21/dunia-narsis-briptu-norman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love Is Giving</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/04/09/love-is-giving/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/04/09/love-is-giving/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 03:54:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter Marketing Is Love Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Love]]></category>
		<category><![CDATA[love marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F09%252Flove-is-giving%252F&title=Love+Is+Giving&desc=Law+%231+%7C+Twitter+Marketing+Is+LOVE+Marketing%0D%0A%0D%0AMulai+minggu+ini%2C+secara+berseri+saya+akan+menguraikan+satu-persatu+8+prinsip+dari+konsep+pemasaran+di+Twitter+yang+saya+perkenalkan+minggu+lalu+yaitu+%E2&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Law #1 &#124; Twitter Marketing Is LOVE Marketing
Mulai minggu ini, secara berseri saya akan menguraikan satu-persatu 8 prinsip dari konsep pemasaran di Twitter yang saya perkenalkan minggu lalu yaitu “Twitter Marketing Is Love Marketing”. Seperti saya uraikan minggu lalu konsep Twitter Marketing ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), curhat (conversation), mendengar (listening), berbagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F09%252Flove-is-giving%252F&title=Love+Is+Giving&desc=Law+%231+%7C+Twitter+Marketing+Is+LOVE+Marketing%0D%0A%0D%0AMulai+minggu+ini%2C+secara+berseri+saya+akan+menguraikan+satu-persatu+8+prinsip+dari+konsep+pemasaran+di+Twitter+yang+saya+perkenalkan+minggu+lalu+yaitu+%E2&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p><strong>Law #1 | Twitter Marketing Is LOVE Marketing</strong></p>
<p>Mulai minggu ini, secara berseri saya akan menguraikan satu-persatu 8 prinsip dari konsep pemasaran di Twitter yang saya perkenalkan minggu lalu yaitu “<a href="http://www.yuswohady.com/2011/03/26/twitter-marketing-is-love-marketing/"><strong>Twitter Marketing Is Love Marketing</strong></a>”. Seperti saya uraikan minggu lalu konsep Twitter Marketing ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (<strong>giving</strong>), curhat (<strong>conversation</strong>), mendengar (<strong>listening</strong>), berbagi (<strong>sharing</strong>), peduli (<strong>caring</strong>), empati (<strong>empathy</strong>), kepercayaan (<strong>trust</strong>), pertemanan (<strong>friendship</strong>).</p>
<p>Intinya, saya ingin mengatakan bahwa jika Anda menjalankan 8 prinsip cinta tersebut kepada customers (dan stakeholders) Anda di Twitter, maka dengan sendirinya Anda akan membangun <strong>emotional connection</strong> dengan mereka. Dan ketika emotional connection itu dipupuk — sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, atau bahkan puluhan tahun — maka mereka tak hanya membeli produk Anda, tapi juga loyal, dan bahkan menjadi advocator/evangelist produk Anda.</p>
<p>Hari ini saya akan mulai membahas prinsip yang pertama: “<strong>Love Is Giving</strong>”.</p>
<p><strong>Reason for Being </strong><br />
Giving saya tempatkan sebagai prinsip pertama dari konsep ini karena ini merupakan “sumber hidup” keberadaan kita di Twitter. Setiap twit kita haruslah dilandasi oleh spirit untuk memberi.</p>
<p>“Giving is your REASON FOR BEING”<br />
“Giving is your FUNDAMENTAL purpose”<br />
“Giving is the HEART of Tweeting”<span id="more-890"></span></p>
<p>“<strong>Reason for being</strong>” adalah sebuah ungkapan yang begitu dalam maknanya: “<strong>alasan kita ada</strong>&#8220;. &#8220;<strong>alasan kita hidup</strong>”. “<strong>alasan eksistensi kita</strong>”. “<strong>tujuan paling mendasar kita</strong>”. Artinya, ketika kita menempatkan “giving” sebagai “reason for being” kita di Twitter, maka tujuan mendasar kita ngetwit dan hadir di Twitterland adalah untuk memberi. Memberi ke siapa? Memberi kepada customers kita di jagad Twitter. Mereka bisa follower kita, orang yang kita follow, influencer, tweeps yang terkait dengan produk Anda, teman-teman kita.</p>
<p>Ketika Anda membuka akun Twitter dan siap ngetwit untuk pertama kali, singkirkan jauh-jauh keinginan egois untuk mendapatakan ini dan itu: mendapat jutaan follower seperti <strong>Lady Gaga</strong> atau <strong>Ashton Kutcher</strong>; mendapatkan ketenaran dan kemasyuran seperti para twitcelebrity; mendapatkan evangelists yang menyanjung dan merekomendasikan produk Anda. Hilangkan itu semua, dan mulailah dengan satu pertanyaan yang sederhana tapi dalam maknanya, yaitu: “apa yang bisa saya berikan dari twit saya hari ini?” Lakukan itu tanpa pamrih, dengan satu spirit, yaitu: <strong>memberi</strong>.</p>
<p>Ingat!<br />
Tweeting is not about TAKING, it’s about GIVING.<br />
It must be your MINDSET&#8230; your BELIEF of tweeting.</p>
<p><strong>Content is King!</strong><br />
Kalau di katakan bahwa “Tweeting is giving”, pertanyaannya kemudian adalah: apa yang harus kita berikan? Memberi konten. Konten apa saja, bisa tips praktis yang memudahkan pekerjaan; quote yang mencerahkan; artikel yang berisi data dan informasi penting; chat yang menyejukkan; gambar dan video yang bikin otak enteng; games yang menghibur; podcast yang menginspirasi; webinar yang kaya pengetahuan; kopdar yang mengharukan, dsb-dsb.</p>
<p>Itulah sebabnya saya sering mengatakan bahwa “<strong>cornerstone of Twitter marketing is content marketing</strong>”. Yaitu bagaimana Anda piawai mencari, memproduksi, dan membagikan konten-konten yang dibutuhkan oleh para follower Anda.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya: Konten seperti apa yang harus kita berikan ke konsumen? Anda harus memberikan konten-konten yang dibutuhkan oleh konsumen Anda. Itu sebabnya langkah pertama Anda membangun strategi pemasaran di Twitter adalah mengetahui needs dari konsumen tersebut. Berdasarkan needs tersebut maka Anda bisa membuat konten-konten yang pas dengan needs tersebut.</p>
<p>Ambil contoh gampang saya. Kini saya punya hampir 6 ribu follower. Setelah sekian lama berinteraksi di jagad Twitter, para followers tersebut akhirnya membentuk sebuah komunitas pembelajar di bidang pemasaran. Alasan mereka mem-follow saya adalah untuk mendapatkan update, tips, sharing, informasi, pengetahuan, dan networking di bidang pemasaran. Karena tahu kebutuhan mereka, maka setiap saat saya harus bisa memproduksi konten-konten yang mereka butuhkan.</p>
<p>Habis membaca buku baru tentang pemasaran misalnya, saya langsung bikin resensinya kemudian saya share ke followers saya. Hampir tiap malam saya berselancar di internet untuk berburu artikel-artikel pemasaran terbaru, dan begitu menemukan artikel bagus mengenai branding misalnya, maka serta-merta saya bikin link-nya di twit saya. Begitu juga saat artikel ini selesai saya tulis, maka kemudian saya taruh di blog www.yuswohady.com lalu saya bikin link untuk di-share di Twitterland. Itu semua saya lakukan setiap hari tanpa kenal capek atau bosan karena didorong oleh satu spirit: <strong>spirit of giving</strong>.</p>
<p><strong>Giving.. Giving.. Giving!!!</strong><br />
Seorang pakar psikologi perkawinan pernah mengatakan, “<strong>You CAN give without loving, but you CAN’T love without giving</strong>.” Karena itu sang psikolog selalu menganjurkan kepada setiap pasangan untuk: “<strong>giving, giving, giving.</strong>..” tanpa pamrih, agar perkawinan mereka langgeng dan terus bertabur cinta.</p>
<p>Prinsip yang sama berlaku dalam Twitter marketing. Kepada para follower dan konsumen Anda di Twitter, Anda harus: <strong>giving, giving, giving</strong>. Tunjukkan cinta Anda kepada follower dengan <strong>giving, giving, giving</strong>. “<strong>The more you GIVE; the more you GET</strong>”. Semakin banyak Anda memberi konten kepada konsumen Anda di jagad Twitter; semakin banyak pula Anda dapat dari mereka. Dapat apa? Dapat CINTA.</p>
<p><em>Giving</em> <em>leads to love</em>”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/04/09/love-is-giving/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Rise of Sharing Consumer</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/04/08/the-rise-of-sharing-consumer/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/04/08/the-rise-of-sharing-consumer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2011 09:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[sharing consumer]]></category>
		<category><![CDATA[social consumer]]></category>
		<category><![CDATA[social sharing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F08%252Fthe-rise-of-sharing-consumer%252F&title=The+Rise+of+Sharing+Consumer&desc=Kemunculan+platform+media+sosial+%28social+media+platform%29+memunculkan+%22mahluk%22+konsumen+baru+yang+belum+ada+sebelumnya%2C+yaitu+konsumen+yang+suka+berbagi.+Berbagi+apa+saja%3A+pikiran%2C+aspirasi%2C+keluhan%2C+s&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Kemunculan platform media sosial (social media platform) memunculkan &#8220;mahluk&#8221; konsumen baru yang belum ada sebelumnya, yaitu konsumen yang suka berbagi. Berbagi apa saja: pikiran, aspirasi, keluhan, sanjungan, kesukaan, kebencian&#8230; apa saja. Inilah yang disebut sebagai &#8220;sharing consumer&#8220;.  Salah satu ciri dari sharing consumer adalah, mereka suka berbagi (dengan sesama konsumen) saat mereka membeli brand, mengkonsumsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F08%252Fthe-rise-of-sharing-consumer%252F&title=The+Rise+of+Sharing+Consumer&desc=Kemunculan+platform+media+sosial+%28social+media+platform%29+memunculkan+%22mahluk%22+konsumen+baru+yang+belum+ada+sebelumnya%2C+yaitu+konsumen+yang+suka+berbagi.+Berbagi+apa+saja%3A+pikiran%2C+aspirasi%2C+keluhan%2C+s&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Kemunculan platform media sosial (social media platform) memunculkan &#8220;<strong>mahluk</strong>&#8221; konsumen baru yang belum ada sebelumnya, yaitu konsumen yang suka berbagi. Berbagi apa saja: pikiran, aspirasi, keluhan, sanjungan, kesukaan, kebencian&#8230; apa saja. Inilah yang disebut sebagai &#8220;<strong>sharing consumer</strong>&#8220;.  Salah satu ciri dari sharing consumer adalah, mereka suka berbagi (dengan sesama konsumen) saat mereka membeli brand, mengkonsumsi brand, atau sedang merasakan experience dengan sebuah brand. Pesannya bagi para marketers: doronglah mereka untuk berbagi dan menyebarkan hal-hal positif mengenai brand&#8230; dan jadikan mereka sebagai <strong>evangelist</strong> Anda.</p>
<p>Baca artikel lengkapnya di sini:  <a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/04/The-Rise-of-Sharing-Consumer-Change-This.pdf">The Rise of Sharing Consumer</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/04/08/the-rise-of-sharing-consumer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Apponomics</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/04/02/social-apponomics/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/04/02/social-apponomics/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[apps]]></category>
		<category><![CDATA[community marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Apponomics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=875</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F02%252Fsocial-apponomics%252F&title=Social+Apponomics&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0AKemunculan+pasar+Android+dan+Apps+Store+memicu+revolusi+%22platform+ekonomi%22+baru+yang+disebut+Matt+Andersen+sebagai+%22Social+Apponomics%22.+Platfotm+ini+memecah+kebuntuan+mendasar+d&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Twitter: @yuswohady
Kemunculan pasar Android dan Apps Store memicu revolusi &#8220;platform ekonomi&#8221; baru yang disebut Matt Andersen sebagai &#8220;Social Apponomics&#8220;. Platfotm ini memecah kebuntuan mendasar dari bisnis online yaitu masalah monetisasi. Kebanyakan bisnis online mampu mendatangkan massa puluhan bahkan ratusan juta calon konsumen (yesss&#8230; Facebook, YouTube, Twitter) tapi tak berdaya untuk menjadikannya duit. Korbannya MySpace, Friendster, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F04%252F02%252Fsocial-apponomics%252F&title=Social+Apponomics&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0AKemunculan+pasar+Android+dan+Apps+Store+memicu+revolusi+%22platform+ekonomi%22+baru+yang+disebut+Matt+Andersen+sebagai+%22Social+Apponomics%22.+Platfotm+ini+memecah+kebuntuan+mendasar+d&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Twitter: @yuswohady</p>
<p>Kemunculan pasar Android dan Apps Store memicu revolusi &#8220;platform ekonomi&#8221; baru yang disebut <strong>Matt Andersen</strong> sebagai &#8220;<strong>Social Apponomics</strong>&#8220;. Platfotm ini memecah kebuntuan mendasar dari bisnis online yaitu masalah <strong>monetisasi</strong>. Kebanyakan bisnis online mampu mendatangkan massa puluhan bahkan ratusan juta calon konsumen (yesss&#8230; Facebook, YouTube, Twitter) tapi tak berdaya untuk menjadikannya duit. Korbannya MySpace, Friendster, etc.</p>
<p>Ada tiga elemen pembentuk platform ini yaitu: 1.<strong> Social media</strong> sebagai tempat berkumpulnya massa konsumen. 2 <strong>Community-based marketing</strong>, gaya pemasaran baru yang berbasis komunitas, bukan broadcast-based dan hard-sell approach. 3. <strong>Tailored applications </strong>yang memberikan great user experience kepada konsumen. Walaupun belum banyak, pemain yang sukses menerapkannya sudah ada seperti Groupon, Netflix, FarmVille, etc. Bagaimana social apponomics ini bekerja dan apa kiat-kiat untuk sukses di platform bisnis masa depan ini, ikuti tulisan lengkapnya di link berikut ini:</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/04/Booz-The-Coming-Wave-of-Social-Apponomics.pdf">The Coming Wave of Social Apponomics</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/04/02/social-apponomics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twitter Marketing Is Love Marketing</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/03/26/twitter-marketing-is-love-marketing/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/03/26/twitter-marketing-is-love-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 12:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Sindo]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Love]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F26%252Ftwitter-marketing-is-love-marketing%252F&title=Twitter+Marketing+Is+Love+Marketing&desc=Sudah+sekitar+tiga+tahun+terakhir+ini+saya+ngetwit.+Yup...+tweeting+with+deep+passion.+Kapanpun%2C+dimanapun+saya+ngetwit.+Pas+lagi+baca+ngetwit%2C+pas+lagi+nulis+ngetwit%2C+pas+lagi+nonton+Glee+ngetwit%2C+pa&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini saya ngetwit. Yup&#8230; tweeting with deep passion. Kapanpun, dimanapun saya ngetwit. Pas lagi baca ngetwit, pas lagi nulis ngetwit, pas lagi nonton Glee ngetwit, pas lagi meeting ngetwit (huzzz.. kebiasaan buruk baru saya, karena tak menghargai rekan meeting), pas nglembur kerjaan sampai Subuh masih juga ngetwit, nyetir curi-curi ngetwit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F26%252Ftwitter-marketing-is-love-marketing%252F&title=Twitter+Marketing+Is+Love+Marketing&desc=Sudah+sekitar+tiga+tahun+terakhir+ini+saya+ngetwit.+Yup...+tweeting+with+deep+passion.+Kapanpun%2C+dimanapun+saya+ngetwit.+Pas+lagi+baca+ngetwit%2C+pas+lagi+nulis+ngetwit%2C+pas+lagi+nonton+Glee+ngetwit%2C+pa&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini saya ngetwit. Yup&#8230; tweeting with deep passion. Kapanpun, dimanapun saya ngetwit. Pas lagi baca ngetwit, pas lagi nulis ngetwit, pas lagi nonton <strong>Glee </strong>ngetwit, pas lagi meeting ngetwit (huzzz.. kebiasaan buruk baru saya, karena tak menghargai rekan meeting), pas nglembur kerjaan sampai Subuh masih juga ngetwit, nyetir curi-curi ngetwit. Bahkan seringkali saya mimpi pun lagi ngetwit. Nggak takut “Twitter addict”? Emang gua pikirin!!!</p>
<p>Menikmati, menyelami, menghayati twit demi twit saya selama tiga tahun terakhir, akhirnya saya menemukan “<strong>roh</strong>” dan “<strong>hakikat</strong>” kenapa saya begitu passionate untuk ngetwit. Saya mulai menemukan “<strong>reason for being</strong>” kenapa saya ngetwit. Saya mulai menemukan “<strong>fundamental purpose</strong>” kenapa saya ngetwit. Saya menemukan “ultimate answer” kenapa saya ngetwit. Apa itu? Satu kata: <strong>CINTA</strong>.</p>
<p>Selama tiga tahun terakhir juga saya serius mempelajari dan menekuni Twitter untuk bisa diterapkan dan dimanfaatkan di dunia marketing. Saya bereksplorasi dan bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu marketer membangun relationship dan keintiman dengan konsumen. Saya bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu brand curhat dan dicurhati oleh konsumennya “around the clock” 24-7. Apa jawaban paripurna yang saya peroleh? Sama. Satu kata: <strong>CINTA</strong>.</p>
<p>Karena itu saya sampai pada kesimpulan final bahwa: “<strong>Twitter Marketing Is Love Marketing</strong>”. Bagaimana Anda bisa meyakinkan komunitas konsumen di Twitter untuk membeli produk Anda. Bagaimana Anda bisa menjadikan komunitas konsumen di Twitter sebagai passionate evangelist Anda? Bagaimana brand Anda bisa punya hubungan emosional (bahkan spiritual) dengan dengan komunitas konsumen di Twitter?  Jawabnya cuma satu: yaitu jika Anda selalu (24-7) menebar CINTA di jagad Twitter.</p>
<p>Bagaimana Anda bisa menebar CINTA di Twitterland? Saya punya 8 prinsip bagaimana menjalankan love marketing di Twiterland. Mari kita simak satu persatu.<span id="more-866"></span></p>
<p><strong>Love Is Giving</strong></p>
<p>Cinta yang tulus adalah memberi bukan meminta. Karena itu kiat utama saya dan ngetwit adalah “<strong>Give&#8230; and then Get</strong>”. Beri dulu, baru minta kepada para follower kita. Semakin banyak Anda memberi, maka akan semakin banyak Anda mendapatkan dari followers Anda. Belum apa-apa kok sudah minta follower-nya banyak. Anda akan punya banyak follower hanya jika Anda banyak memberi kepada para follower Anda: “<strong>Tweeting is giving!!!</strong>” Memberi apa? Konten. Itulah sebabnya saya sering mengatakan bahwa “<strong>cornerstone of Twitter marketing is content marketing</strong>”. Yaitu bagaimana Anda piawai mencari, memproduksi, dan membagikan konten-konten yang dibutuhkan oleh para follower Anda. Saya punya konten marketing. Setiap saat saya membaca, mengamati, dan menganalisa apapun mengenai marketing; setelah itu hasil membaca, amatan, dan analisa itu saya jadikan konten yang kemudian saya share kepada para follower saya. Bagi saya <strong>Twitter marketing is spiritual</strong>. Kenapa? Karena bagi saya <strong>tweeting is giving</strong>. Dan.. <strong>giving is very spiritual</strong>.</p>
<p><strong>Love Is Conversations</strong></p>
<p>Cinta yang seutuhnya tidak akan bisa diraih secara sepihak dan satu arah. Cinta yang sesungguhnya hanya bisa digapai jika kita melakukan conversation alias curhat-curhatan dua arah. Karena itu saya mengatakan komunikasi melalui media broadcast seperti TV, Radio atau surat kabar bukanlah komunikasi cinta. Karena TV hanyalah seonggok kotak kaca yang sangat angkuh untuk dicurhati pemirsanya. Komunikasi cinta hanya bisa diperoleh melalui medium dialog dan conversation seperti Twitter. Ajaklah konsumen Anda untuk bercurhat ria di Twitter. Bebaskan mereka mencurahkan seluruh keluh-kesahnya, dan berikan bantuan jika mereka memerlukannya. Ingat iklan <strong>Sariwangi</strong>: Hanya dengan banyak “<strong>ngomong</strong>” cinta bisa bersemi kembali.</p>
<p><strong>Love Is Listening </strong></p>
<p>Perbanyaklah mendengar twit dari followers dan orang-orang yang Anda follow. Dengan bayak mendengar maka kita akan tahu keluh-kesah mereka. Dengan banyak mendengar kita akan memiliki kepekaan terhadap orang-orang di luar kita. Dengan banyak mendengar kita akan banyak belajar. Ingat, mendengar adalah titik awal kita bisa peduli dan berempati. Sebaliknya, ketika kita tak pernah mendengar, maka ini adalah awal mula munculnya penyakit kronis di jagad Twitter yaitu: arogansi, kesombongan, kebebalan.</p>
<p><strong>Love Is Sharing</strong></p>
<p>Ketika kita punya sesuatu, dan sesuatu itu kita kangkangi, kita monopoli, dan tak sudi berbagi, maka itu sesungguhnya adalah puncak dari keegoisan kita. Cinta tak pernah egois, cinta adalah berbagi. Mother Teresa menjadi ikon cinta-kasih, karena ia “membagi” hidupnya untuk kaum papa. Itu sebabnya kiat ampuh saya membangun brand di Twitter adalah tidak pelit untuk berbagi. Saya tak punya banyak duit, saya hanya punya banyak ilmu (yes.. ilmu marketing) karena saya banyak membaca dan sangat mencintai ilmu marketing. Apapun ilmu marketing yang saya dapatkan (dari membaca, dari ngobrol dengan klien, dari mengamati, dari berpikir dan menganalisa, etc.) saya selalu membaginya ke para followers saya di Twitter. Sebuah kebahagian luar biasa jika para followers saya mendapat kemanfaatan dari ilmu yang saya bagi. Ingat, “<strong>Twitterland is a great place to share</strong>”.</p>
<p><strong>Love Is Caring</strong></p>
<p>Hakikat cinta adalah peduli. Ketika Anda tidak peduli kepada istri-suami, pacar, anak, kerabat, atau siapapun yang Anda cintai, maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka. Begitupun jika Anda tidak peduli dengan followers Anda di Twitter maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka. Banyak kalangan yang mengatakan Twitter Marketing dikatakan sukses jika kita punya puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan followers. Saya bilang salah besar. Tak ada gunanya kita punya ratusan ribu followers jika kita tak tahu siapa mereka, kita tak pernah curhat-curhatan dengan mereka, kita tak pernah mendengarkan mereka, dan tak pernah sedikitpun kita peduli kepada mereka.</p>
<p><strong>Love Is Empathy</strong></p>
<p>Ketika Merapi meletus beberapa bulan lalu, kita warga Twitterland dengan sukarela dan ketulusan membuat hashtag #<strong>merapi </strong>dan #<strong>pedulimerapi </strong>untuk menyadarkan dan membangun empati masyarakat tentang bencana nasional tersebut. Melalui gerakan empati itu para tweeps juga menggalang sumbangan dari para donatur untuk membantu masyarakat yang terkena musibah. Ketika Jepang dilanda gempa-tsunami dahsyat berkekuatan 8,9 SR beberapa minggu lalu sekali lagi masyarakat Twitter di seluruh dunia memanfaatkan hashtag <strong>#helpjapan </strong>atau <strong>#prayforjapan </strong>untuk membangun empati dan menggalang bantuan untuk para korban gempa-tsunami.</p>
<p><strong>Love Is Trust</strong></p>
<p>Cinta haruslah dilandasi kejujuran, ketulusan, dan keterbukaan. Karena itu, janganlah Anda menggunakan medium Twitter untuk membohongi komunitas konsumen Anda atau berlaku tidak jujur kepada mereka. Twitter adalah media terbuka. Kita tak bisa menyembunyikan borok-borok kita, kebohongan-kebohongan kita, atau karakter culas kita di media transparan ini. Be yourself; dengan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Katakan bagus kalau produk Anda bagus, dan katakan jelek kalau memang produk Anda jelek. Nabi Muhamad dikenal karena kejujurannya hingga mendapatkan julukan <strong>Al Amin</strong> (dapat dipercaya). Ingat, prinsip Al Amin-nya Muhamad ini kini kian-kian relevan di jagad Twitter.</p>
<p><strong>Love Is Friendship</strong></p>
<p>Ketika kita terus-menerus curhat-curhatan, mendengar, saling berbagi, saling peduli, saling berempati, terbangun saling percaya, maka akhirnya hubungan kita dengan konsumen di Twitter menjadi hubungan yang spesial dalam bentuk pertemanan yang sejati. Tali pertemanan ini jika berlangsung lama dan terus dipupuk dari tahun ke tahun akan menciptakan hubungan emosional bahkan spiritual antara brand Anda dengan konsumen. Mereka tak hanya membeli dan meloyali brand Anda, tapi lebih jauh lagi juga menjadi passionate evangelist bagi brand Anda.</p>
<p>Ketika Twitter dipenuhi dengan CINTA, maka saya meyakini Twitterland adalah tempat terdamai di seantero jagat semesta. Ketika <strong>John Lennon</strong> memimpikan sebuah kehidupan yang damai tanpa perang, tanpa radiasi nuklir, tanpa Hitler, tanpa Khadafi, maka kehidupan penuh damai itu ada di Twitterland. <strong>Mari berCINTA-CINTAAN di Twitter</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/03/26/twitter-marketing-is-love-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Horizontal Mobile Marketing</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/03/13/horizontal-mobile-marketing/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/03/13/horizontal-mobile-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 01:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Sindo]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F13%252Fhorizontal-mobile-marketing%252F&title=Horizontal+Mobile+Marketing&desc=Hampir+tiga+tahun+lalu+saat+saya+menulis+%E2%80%9CCROWD%3A+Marketing+Becomes+Horizontal%E2%80%9D%2C+%28yes...+buku+pertama+di+Indonesia+yang+membahas+social+media%5D%2C+anggapan+saya+adalah+bahwa+facebookan+%28waktu+itu+Twit&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Hampir tiga tahun lalu saat saya menulis “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”, (yes&#8230; buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “Blackberry revolution” (“smartphone revolution”) terjadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F03%252F13%252Fhorizontal-mobile-marketing%252F&title=Horizontal+Mobile+Marketing&desc=Hampir+tiga+tahun+lalu+saat+saya+menulis+%E2%80%9CCROWD%3A+Marketing+Becomes+Horizontal%E2%80%9D%2C+%28yes...+buku+pertama+di+Indonesia+yang+membahas+social+media%5D%2C+anggapan+saya+adalah+bahwa+facebookan+%28waktu+itu+Twit&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Hampir tiga tahun lalu saat saya menulis “<strong>CROWD: Marketing Becomes Horizontal</strong>”, (yes&#8230; buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “<strong>Blackberry revolution</strong>” (“smartphone revolution”) terjadi. Ini kemudian disusul tahun lalu dengan gelombang revolusi baru yang tak kalah hebat yaitu: “<strong>iPad revolution</strong>” (yup&#8230; “tablet revolution”)</p>
<p>Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet seperti “dipindahkan” ke smartpone dan tablet di genggaman kita. Ketika social media content seperti Facebook, Twitter, YouTube, atau Groupon bisa dipindahkan ke smartphone/tablet maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Saya menyebutnya <strong>horizontal mobile marketing</strong> atau untuk pendeknya sebut saja: <strong>H-mm</strong>. Karena itu tak salah kalau Telkom begitu berani mereposisi dirinya untuk “go mobile” dengan tagline-nya yang challenging: “<strong>The World in Your Hand</strong>”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”.<span id="more-850"></span></p>
<p>H-mm memilki paradigma dan pola yang sama sekali berbeda dengan pendekatan mobile marketing konvensional. Kalau mobile marketing konvensional bersifat <strong>broadcast-based</strong>, maka H-mm menggunakan pendekatan yang <strong>conversation-based</strong>. Jadi jangan bayangkan horizontal mobile marketing adalah sebatas memasang banner merek kita di layar HP konsumen. Dalam H-mm, smartphone/tablet bukanlah menjadi channel untuk membroadcast pesan-pesan pemasaran, tapi menjadi enabler bagi terwujudnya koneksi antara satu konsumen dengan konsumen lainnya.</p>
<p>H-mm adalah mobile marketing yang mengandalkan <strong>engagement </strong>dengan komunitas konsumen. Ia bersifat “<strong>permission-based</strong>” artinya pesan merek tak sembarangan nongol di layar smartphone/tablet, tapi atas ijin empunya. Dan tak hanya itu, horizontal mobile marketing juga menggunakan pendekatan komunikasi yang bersifat “<strong>many-to-many</strong>” (bukan <strong>one-to-many</strong>) dan menggunakan “<strong>social platform</strong> atau <strong>community platform</strong>”.</p>
<p>Lalu apa isu-isu yang harus Anda tangkap sebagai marketers untuk bisa survive dalam rule of the game baru yang dibawa pendekatan pemasaran baru ini? Berikut adalah beberapa imperatif  yang patut menjadi perhatian setiap marketer.</p>
<p><strong>#1 Get Permission: Don’t Interupt! </strong></p>
<p>Mobile marketing<strong> </strong>adalah bentuk pemasaran yang nyrempet-nyrempet area sensitif konsumen. Ya, karena telepon genggam merupakan salah satu barang paling pribadi yang dipagari kebebasan dan privasi penggunanya. Anda akan marah kalau istri atau suami Anda ngecek SMS Anda malam-malam kan? Begitu Anda menyampaikan pesan merek yang tak berkenan dan melanggar privasi pelanggan, maka sesungguhnya merek Anda sudah habis di mata pelanggan tersebut. Itu sebabnya SMS penawaran KTA atau KPR adalah SMS yang paling kita benci. Permission adalah tiket pelanggan untuk berpartisipasi dalam kampanye merek Anda. Rule #1: “<strong>Don’t interupt customers</strong>”</p>
<p><strong>#2 Mobile CRM: The Next Great Thing! </strong></p>
<p>Setiap ponsel memiliki nomor yang unik, alamat yang tertentu, usia dan jenis kelamin tertentu, bahkan kebiasaan-kebiasaan penggunannya yang tertentu pula. Data pelanggan yang sangat presisi itu bisa bisa dijadikan aset berharga Anda. Data yang sangat akurat ini akan memudahkan Anda untuk mengidentifikasi dan merumuskan segmen pelanggan Anda yang memungkinkan Anda melayani mereka secara lebih baik dan customized. Tak seperti pendekatan pemasaran tradisional yang menggunakan pendekatan “<strong>tell-and-sell</strong>”, horizontal mobile marketing menggunakan pendekatan “<strong>listen-and-learn</strong>”.</p>
<p><strong>#3 Engagement Is Trully Killer App: The A3 Cubed. </strong></p>
<p>Ketika horizontal mobile marketing menggunakan community atau social platform, maka kata kuncinya terletak pada customer participation &amp; engagement, dimana konsumen memegang kendali hubungan sepenuhnya. Artinya, pelanggan menjadi pemain utama dan merek berfungsi sebagai “facilitator” dan “connector”. Hubungan merek dengan pelanggan tidak lagi bersifat one-way dan broadcast-based tapi harus two-way, dan memfasilitasi adanya conversation di antara pelanggan sehingga tercipta sebuah komunitas pelanggan yang solid.  Engagement di dalam H-mm memiliki dimensi baru yang sangat powerful karena engagement itu dilakukan dalam format “<strong>A3 Cubed”: Anytime, Anywhere, Any device</strong>. Dengan kata lain, “Brand interact with customers whenever they want, wherever thay happen to be, and on whatever device they have.”</p>
<p><strong>#4 Boost Immediacy! Personalized Experience! </strong></p>
<p>Dimensi lain yang sangat powerful dari H-mm adalah personalization. Ya, karena melalui personal media seperti ponsel si marketer bisa masuk dan nyebur dalam ranah personal si pelanggan. Karena karakteristik ini, tak berlebihan jika saya sebut bahwa mobile marketing war is “<strong>personalization war</strong>”. Di samping itu mobile device adalah channel yang memiliki keunggulan karena memungkinkan si pelanggan mendapatkan apa yang mereka inginkan saat itu juga (<strong>immedicacy value: “have-it-right-now; have-it-right-here”</strong>). Ketika Anda bisa memainkan immediacy dan personalization ini secara cantik, maka bisa dipastikan Anda akan menjadi pemenang.</p>
<p><strong>#5 Brand Advocacy Is Your Ultimate Growth Driver </strong></p>
<p>Dan terakhir, jika mobile marketing Anda menggunakan community platform, maka suskes Anda akan banyak ditentukan oleh seberapa banyak Anda memproduksi brand advocators atau evangelists di dalam komunitas yang Anda bangun. Facebook, Blackberry, iPod/iPad sukses bukan karena iklan TV atau aktivitas below the line. Horizontal brand itu sukses karena para brand advocator (kita-kita) yang ngomong bagus mengnai Facebook , ngomong bagus mengnai Blackberry.</p>
<p>Mari kita songsong era horizontal mobile marketing&#8230;<br />
Tak ada pilihan lain Anda harus menjadi the winner&#8230; jangan sampai menjadi the loser</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/03/13/horizontal-mobile-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Media Marketing for SME</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/02/27/social-media-marketing-for-sme-2/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/02/27/social-media-marketing-for-sme-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 02:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[small business]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F27%252Fsocial-media-marketing-for-sme-2%252F&title=Social+Media+Marketing+for+SME&desc=Kemarin+hari+Minggu+%2827+Februari+2011%29+saya+mendapatkan+%22banjir%22+permintaan+materi+presentasi+%22Social+Media+Marketing+for+SME%22+dari+temen-temen+Twitter.+Materi+itu+saya+bawakan+dalam+seminar+yang+diad&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Kemarin hari Minggu (27 Februari 2011) saya mendapatkan &#8220;banjir&#8221; permintaan materi presentasi &#8220;Social Media Marketing for SME&#8221; dari temen-temen Twitter. Materi itu saya bawakan dalam seminar yang diadakan temen-temen komunitas Akademi Berbagi bekerjasama dengan Detik.com dan Telkom Indonesia. Acaranya sendiri dilakukan di kampus Learning Center Telkom Indonesia di Geger Kalong, Bandung pada hari Sabtu, 26 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F27%252Fsocial-media-marketing-for-sme-2%252F&title=Social+Media+Marketing+for+SME&desc=Kemarin+hari+Minggu+%2827+Februari+2011%29+saya+mendapatkan+%22banjir%22+permintaan+materi+presentasi+%22Social+Media+Marketing+for+SME%22+dari+temen-temen+Twitter.+Materi+itu+saya+bawakan+dalam+seminar+yang+diad&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Kemarin hari Minggu (27 Februari 2011) saya mendapatkan &#8220;banjir&#8221; permintaan materi presentasi &#8220;<strong>Social Media Marketing for SME</strong>&#8221; dari temen-temen Twitter. Materi itu saya bawakan dalam seminar yang diadakan temen-temen komunitas <strong>Akademi Berbagi</strong> bekerjasama dengan<strong> Detik.com</strong> dan <strong>Telkom Indonesia</strong>. Acaranya sendiri dilakukan di kampus Learning Center Telkom Indonesia di Geger Kalong, Bandung pada hari Sabtu, 26 Februari. Temen-temen yang ingin mendapatkan materi presentasi tersebut bisa mendownload-nya di Slideshare melalui link berikut:</p>
<div id="__ss_7080708" style="width: 425px;"><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Social Media Marketing for Small Business" href="http://www.slideshare.net/yuswohady/social-media-marketing-for-small-business-7080708">Social Media Marketing for Small Business</a></strong> <object id="__sse7080708" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialmediaforsme-fortwitterfriends-110227124312-phpapp02&amp;stripped_title=social-media-marketing-for-small-business-7080708&amp;userName=yuswohady" /><param name="name" value="__sse7080708" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse7080708" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=socialmediaforsme-fortwitterfriends-110227124312-phpapp02&amp;stripped_title=social-media-marketing-for-small-business-7080708&amp;userName=yuswohady" name="__sse7080708" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/yuswohady">Yuswohady </a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/02/27/social-media-marketing-for-sme-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Media Marketing for SME</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/02/26/social-media-marketing-for-sme/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/02/26/social-media-marketing-for-sme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 00:51:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Sindo]]></category>
		<category><![CDATA[SME]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=835</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F26%252Fsocial-media-marketing-for-sme%252F&title=Social+Media+Marketing+for+SME&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0ATulisan+ini+dibikin+dalam+perjalanan+dari+Jakarta+ke+Bandung+kemarin+siang+%2826+Februari+2011%29.+Kebetulan+sorenya+saya+sharing+dengan+teman-teman+pelaku+usaha+kecil-menengah+%28UKM&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Twitter: @yuswohady
Tulisan ini dibikin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung kemarin siang (26 Februari 2011). Kebetulan sorenya saya sharing dengan teman-teman pelaku usaha kecil-menengah (UKM) dalam sebuah seminar bertajuk, “Social Media Marketing for Small Medium Enterprise (SME)” yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas Akademi Berbagi (Akber) bareng Detik.com dan Telkom Indonesia. Untuk mempersiapkan presentasi saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F26%252Fsocial-media-marketing-for-sme%252F&title=Social+Media+Marketing+for+SME&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0ATulisan+ini+dibikin+dalam+perjalanan+dari+Jakarta+ke+Bandung+kemarin+siang+%2826+Februari+2011%29.+Kebetulan+sorenya+saya+sharing+dengan+teman-teman+pelaku+usaha+kecil-menengah+%28UKM&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Twitter: @yuswohady</p>
<p>Tulisan ini dibikin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung kemarin siang (26 Februari 2011). Kebetulan sorenya saya sharing dengan teman-teman pelaku usaha kecil-menengah (UKM) dalam sebuah seminar bertajuk, “<strong>Social Media Marketing for Small Medium Enterprise (SME)</strong>” yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas <strong>Akademi Berbagi</strong> (Akber) bareng <strong>Detik.com</strong> dan <strong>Telkom Indonesia</strong>. Untuk mempersiapkan presentasi saya melakukan survai kecil mengenai topik ini, maka sekalian saja saya sharing hasil-hasil pikiran saya tersebut dengan para pembaca Sindo.</p>
<p>Terus terang saya bernafsu mengkaji topik ini karena memang media sosial (social media: “socmed”)  memiliki kekuatan super ampuh dalam “<strong>memerdekakan</strong>” UKM. Media sosial telah memicu terjadinya apa yang saya sebut “<strong>democratization of resources</strong>” bagi UKM. Kenapa begitu? Karena kehadiran social media tools seperti blog, Facebook, Twitter, YouTube yang murah (praktis gratis..tis..tis) menjadikan UKM mampu melakukan kegiatan promosi, customer service, riset dan pengembangan produk, atau penjualan dengan sangat murah, tapi dengan hasil yang sangat efektif (“<strong>low budget high impact</strong>”).<span id="more-835"></span></p>
<p>UKM pasti tidak akan mampu membeli slot iklan RCTI yang per 30 detiknya saja mencapai puluhan juta perak. Mereka pasti juga tidak kuat membayar iklan di Kompas yang seperempat halamannya saja bernilai belasan bahkan puluhan juta rupiah. Namun dengan adanya blog, Facebook, atau Twitter, kini mereka mampu menjangkau konsumen seperti yang dijangkau media berbayar (TV, Radio, koran, dsb) dengan biaya yang pratis nol.</p>
<p>Kalau Anda punya warung Padang di ujung gang, maka dengan menggunakan blog, Facebook, Twitter atau Foursquare, Anda bisa menjalankan kampanye promosi, men-service pelanggan, atau meminta masukan-masukan dari pelanggan mengenai menu yang mereka inginkan. Anda bisa membangun komunitas pelanggan dan dengan program-program aktivasi komunitas (<strong>community</strong> <strong>activiation</strong>) Anda bisa membikin mereka loyal, bahkan menjadi pembela (evangelist) warung Anda. Semua bisa Anda lakukan dengan sangat murah tapi efektif. Modalnya cuma satu: kreativitas.</p>
<p>Karena kenyataan ini saya berani mengatakan bahwa “<strong>social media age is small business age</strong>”. Dengan munculnya “democratization of resources” akan muncul usaha-usaha kecil dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan saya meyakini, tak lama lagi kita bakal menyongsong era keemasan UKM. Kembali ke persoalan, bagaimana UKM bisa memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan bisnisnya?</p>
<p>Saya punya model sederhana yang bisa di kembangkan oleh para pelaku UKM untuk memasarkan produk dan mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan media sosial. Kuncinya adalah mereka harus membangun komunitas konsumen. Secara berkelanjutan komunitas konsumen ini harus dijaga dan dibina sehingga terwujud <strong>trust </strong>dan <strong>win-win relationship</strong> antara Anda dengan komunitas pelanggan tersebut. Setelah trust dan relationship terbentuk, maka proses jualan Anda pasti akan bisa berlangsung mulus.</p>
<p>Kongkritnya gimana? Untuk bisa mudah menjelaskannya, saya punya sebuah model sederhana seperti terlihat pada bagan. Model tersebut menjelaskan elemen dan langkah yang harus Anda lakukan untuk membangun komunitas konsumen yang solid.</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/02/Bagan-Socmed-Marketing-Model.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-836" title="Socmed Marketing for SME" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/02/Bagan-Socmed-Marketing-Model-300x205.png" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
<p><strong>Step#1: Define Your Target Consumers</strong><br />
Langkah pertama tentu Anda harus tahu siapa konsumen yang akan dibidik. Kalau Anda membuat perangkat lunak aplikasi keuangan untuk bisnis restoran kecil-menengah misalnya, maka target konsumen Anda adalah para pemiliki atau manajer restoran. Atau kalau Anda mengelola lembaga pendidikan pre-school, maka barangkali target konsumen Anda adalah ibu-ibu yang peduli pada pendidikan anak-anaknya sejak dini. Selama Anda tidak memiliki kejelasan mengenai konsumen yang Anda target, maka sesungguhnya bisnis yang Anda tekuni dengan sendirinya tak akan jelas. Target kosumen inilah yang akan menjadi “member” dari komunitas yang Anda bangun. Melalui berbagai program komunitas yang dibangun mereka akan dibentuk menjadi pelanggan loyal, atau bahkan evangelist yang dengan sukarela memberikan referral kepada konsumen lain.</p>
<p><strong>Step #2: Identify Common Interests </strong><br />
Setelah jelas siapa target konsumen bisnis UKM Anda, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui apa minat bersama (<strong>common interests</strong>) dan kebutuhan bersama (<strong>common needs</strong>) dari komunitas konsumen Anda. Mengambil contoh bisnis aplikasi keuangan di atas, maka mungkin common interest pelanggan Anda adalah keinginan agar bisnis restorannya maju pesat. Atau kalau bisnis UKM Anda menarget ibu-ibu yang punya anak di usia pre-school, maka mungkin common interest-nya adalah, mereka ingin anak-anaknya pintar cas cis cus berbahasa Inggris, hobi menghitung dan matematika, jago bermain piano atau balet, dan sebagainya.</p>
<p><strong>Step #3: Build Conversation, Activation, Cocreation</strong><br />
Berdasarkan pemahaman terhadap common interest konsumen, maka Anda bisa menyusun program-program conversation, activation, dan cocreation. Program <strong>conversation </strong>adalah upaya Anda untuk berkomunikasi intents dengan konsumen (melalui blog post, tweets, status updates atau notes di Facebook) mengenai beragam topik yang terkait dengan common interest mereka. Program <strong>activation </strong>adalah upaya Anda untuk mengajak konsumen aktif dalam beragam kegiatan yang dilakukan bisnis UKM Anda (kopdar, lomba, gathering, promosi diskon, reward, dsb) baik yang bersifat offline ataupun online. Sementara program <strong>cocreation</strong> adalah upaya Anda untuk mengumpulkan feedback dan usulan dari konsumen mengenai produk baru, customer service, promosi baru, dsb.</p>
<p>Untuk bisa mewujudkan 3 langkah tersebut Anda harus membangun blog yang berfungsi sebagai “<strong>landing page</strong>” dan akun Facebook, Twitter, atau YouTube yang berfungsi sebagai “<strong>social media channel</strong>”. Saya sering menyebut landing page sebagai “<strong>rumah</strong>” bagi anggota komunitas yang Anda kumpulkan. Sementara Facebook, Twitter, YouTube adalah “<strong>jalan</strong>” yang mengarahkan konsumen menuju ke “rumah” tersebut.</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/02/Socmed-Platform.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-837" title="Social Media Platform" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2011/02/Socmed-Platform-285x300.png" alt="" width="285" height="300" /></a></p>
<p>Untuk mengumpulkan massa konsumen maka Anda harus rajin “<strong>jalan-jalan</strong>” di Twitter atau Facebook, karena kerumunan konsumen memang ada di situ. Di “jalan” tersebut Anda “menyapa”, “ngobrol”, lalu mengajak mereka “mampir” ke rumah Anda alias blog yang menjadi landing page. Dan jika kerumunan konsumen itu sering-sering diajak mampir ke “rumah” maka dengan sendirinya, blog Anda akan menjadi “rumah” bagi konsumen.</p>
<p>Ketika blog sudah menjadi “rumah” bagi konsumen, maka di situlah <strong>kedekatan</strong>, <strong>pertemanan</strong>, dan <strong>keintiman </strong>pelan-pelan bisa mulai terbangun; sampai pada suatu titik dimana si konsumen telah menjadi <strong>evangelist fanatik </strong>Anda. Di situ pula Anda bisa mulai menyusun program-program penjualan. “<strong>More sales are made with friendship than salesmanship</strong>,” kata <strong>Jeffrey Gitomer</strong> penulis buku fenomenal<strong> Sales Bible</strong>. Artinya, jualan yang paling gampang adalah jualan kepada teman. Ketika Anda dan konsumen telah terjalin pertemanan melalui blog, Facebook, atau Twitter, maka jualan Anda pasti akan sangat gampang.</p>
<p>Tak hanya itu, Anda juga akan punya “<strong>laskar penjualan</strong>” yaitu para evangelist yang siap menebarkan pesan-pesan positif produk kepada konsumen yang lain. Mereka akan menjadi kekuatan ampuh penjualan Anda, karena bisa jadi, <strong>satu evangelist memiliki pengaruh yang lebih powerful dibandingkan 1000 salesmen sekalipun</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/02/26/social-media-marketing-for-sme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Sosial dan Revolusi Horizontal Mesir</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2011/02/05/media-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2011/02/05/media-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 10:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social media egypt revolution]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F05%252Fmedia-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir%252F&title=Media+Sosial+dan+Revolusi+Horizontal+Mesir&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0ASaat+saya+menulis+CROWD%3A+Marketing+Becomes+Horizontal+tiga+tahun+lalu%2C+saya+tak+pernah+membayangkan+bahwa+%E2%80%9Ckekuatan+horizontal%E2%80%9D+%28%E2%80%9Chorizontal+power%E2%80%9D%29+bisa+memicu+munculny&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Twitter: @yuswohady
Saat saya menulis CROWD: Marketing Becomes Horizontal tiga tahun lalu, saya tak pernah membayangkan bahwa “kekuatan horizontal” (“horizontal power”) bisa memicu munculnya kekuatan politik dahsyat yang sekarang terjadi di Mesir. Memang dalam buku tersebut saya sudah mengangkat kasus kesuksesan Obama dalam menggerakkan kekuatan horizontal massa pemilihnya dengan memanfaatkan media sosial untuk memenangkan pemilu AS. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2011%252F02%252F05%252Fmedia-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir%252F&title=Media+Sosial+dan+Revolusi+Horizontal+Mesir&desc=Twitter%3A+%40yuswohady%0D%0A%0D%0ASaat+saya+menulis+CROWD%3A+Marketing+Becomes+Horizontal+tiga+tahun+lalu%2C+saya+tak+pernah+membayangkan+bahwa+%E2%80%9Ckekuatan+horizontal%E2%80%9D+%28%E2%80%9Chorizontal+power%E2%80%9D%29+bisa+memicu+munculny&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Twitter: @yuswohady</p>
<p>Saat saya menulis <strong>CROWD: Marketing Becomes Horizontal</strong> tiga tahun lalu, saya tak pernah membayangkan bahwa “kekuatan horizontal” (“<strong>horizontal power</strong>”) bisa memicu munculnya kekuatan politik dahsyat yang sekarang terjadi di Mesir. Memang dalam buku tersebut saya sudah mengangkat kasus kesuksesan Obama dalam menggerakkan kekuatan horizontal massa pemilihnya dengan memanfaatkan media sosial untuk memenangkan pemilu AS. Namun saat itu sama sekali belum terbayangkan bahwa kekuatan massif media sosial bisa menjadi katalis yang demikian mudah dan cepat untuk menggulingkan rezim-rezim otoriter di Tunisia atau Mesir (yang bakal disusul secara berantai di negara-negara Afrika Utara lain: Yaman, Siria, atau Yordania).</p>
<p>Dalam buku tersebut saya mengemukakan sebuah formula yang menjadi esensi munculnya kekuatan horizontal. Rumus tersebut berbunyi:</p>
<p>E = wMC2</p>
<p>E dalam rumus tersebut saya sebut sebagai “energi marketing horizontal yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Kemudian wM adalah = <strong>word of mouth/mouse</strong>, yang sering disebut WOM atau buzz, yaitu komunikasi dari mulut ke mulut baik secara fisik maupun berbasis internet. Sementara C2 atau (C kuadrat: C x C) adalah Komunitas: C pertama adalah “<strong>offline Community</strong>”; dan C kedua adalah “<strong>online Community</strong>”. Apa esensi dari komunitas? Esensinya adalah orang yang berkumpul karena adanya tujuan/keinginan yang sama (<strong>shared interest</strong>) dan antar orang yang berkumpul tersebut terkoneksi (“<strong>connected</strong>”) satu sama lain dalam sebuah jejaring (network).</p>
<p>Melalui formula tersebut saya ingin mengatakan bahwa energi sedahsyat bom nuklir (itu sebabnya saya mengadopsi rumusan Einstein) akan kita dapatkan jika kita mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen wM dan C tersebut. Dalam konteks dunia pemasaran, waktu itu saya katakan: kalau Anda mampu menyebarkan WOM mengenai produk dan layanan Anda, dan WOM itu ”dikembangbiakkan” di dalam habitat komunitas (baik offline maupun online), maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyat!</p>
<p><strong>Revolusi Horizontal</strong><br />
Lalu bagaimana formula di atas bisa diaplikasikan dalam konteks revolusi politik yang sekarang berlangsung di Mesir? Prinsipnya sama persis. Kalau dalam konteks marketing “konten” yang sebarkan melalui WOM dan kemudian dikembangbiakkan di dalam komunitas adalah “brand” atau pesan-pesan pemasaran, dalam kasus revolusi Mesir, “konten” tersebut adalah<strong> ide dan keinginan mengenai perubahan</strong>, <strong>ide dan keinginan bahwa Hosni Mubarak harus lengser setelah 30 tahun lebih berkuasa</strong>, atau <strong>ide dan keinginan mengenai pembentukan negara yang lebih beradab dan bebas teror</strong>.<span id="more-827"></span></p>
<p>Dalam perspektif formula E = wMC2, momentum tercetusnya revolusi di Mesir minggu lalu sesungguhnya terjadi karena 3 elemen yang saya sebut di atas: “konten”, wM, dan C2. Pertama adalah “konten” yaitu ide mengenai perubahan yang dipicu oleh pembakaran diri pemuda Tunisia yang memicu amuk massa dan kemudian berujung pada penggulingan presiden Ben Ali. Ide perubahan itu menginspirasi sebagian rakyat Mesir, terutama kaum muda dan kalangan kelas menengah kota (mereka cukup mapan secara ekonomi, berpendidikan, memiliki akses informasi global, memiliki kesadaran politik tinggi), yang merasakan kondisi serupa (ketidakadilan, korupsi, teror, keserakahan kekuasaan) terjadi di negara mereka.</p>
<p>Apa yang terjadi di Tunisia sesungguhnya hanyalah “percikan api kecil” yang kemudian menyulut kesadaran mereka mengenai perlunya perubahan. “They see torture. They see corruption. They see rigged elections. What can they do? Of course: The only tool in their hands is their fingertips. And the keyboard,” ujar <strong>Said Sadek</strong>, sosiolog terkemuka Mesir saat diwawancara media internasional. Kaum muda dan kalangan kelas menengah kota ini menuangkan kepincangan sosial dan ide-ide perubahan melalui SMS, email, blog, status update di Facebook, atau ocehan di Twitter.</p>
<p>Dengan kekuatan kedua, yaitu wM atau word of mouth, cerita kepincangan sosial dan ide perubahan itu menyebar begitu massif menjangkau audiens dalam jumlah yang sangat besar (mencapai jutaan orang) dalam waktu yang sangat cepat (dalam ukuran jam, bahkan menit). Informasi mengenai kepincangan sosial dan ide perubahan ini mengalir demikian deras dari ponsel satu ke yang lain, blog satu ke yang lain, dari akun Facebook satu ke yang lain, dari akun Twitter satu ke yang lain, sehingga membentuk kesadaran kolektif (“<strong>collective awareness</strong>”) mengenai perlunya perubahan. Di Twitter misalnya, mereka menggunakan hastag #jan25, #Cairo, atau #Suez untuk mengalirkan WOM dan membentuk collective awareness akan perlunya perubahan.</p>
<p><strong>Clay Sirky</strong>, pakar media sosial dari New York University, dalam tulisan di jurnal politik paling berpengaruh, <a href="http://www.yuswohady.com/2011/01/29/facebook-dan-twitter-menjadi-penggerak-revolusi-politik/" target="_blank"><strong>Foregn Affairs</strong></a> bulan ini (Jan/Feb 2011), mengatakan bahwa media sosial memiliki kemampuan fenomenal dalam memicu gerakan politik karena mampu menciptakan dan mengembangkan “<strong>shared awareness</strong>” di kalangan anggota sebuah gerakan politik. “Shared awareness is the ability of each member of a group to not only understand the situation at hand but also understand that everyone else does, too. Social media increase shared awareness by propagating messages through social networks,” ujarnya.</p>
<p><strong>“Mega-Community” </strong><br />
Begitu collective awareness dalam jumlah yang besar ini terbentuk maka proses pembentukan elemen ketiga C2 atau “komunitas” bakal tak akan terbendung lagi. Pembentukkan komunitas inilah sesungguhnya keunggulan utama yang dimiliki sosial media, yang tak dimiliki oleh media broadcast konvensional (TV, radio, media cetak). Seperti saya uraikan di depan, komunitas terbentuk jika ada dua syarat yaitu adanya tujuan dan kemauan bersama (shared interest) dan jika antar anggota komunitas terkoneksi satu sama lain. Di dalam komunitas inilah ide perubahan mengalami proses “inkubasi” yang akhirnya meletus menjadi gerakan turun ke jalan.</p>
<p>Saya ingin mengatakan bahwa seluruh warga Mesir yang melebur dalam gerakan melengserkan Hosni Mubarak, baik yang turun ke jalan maupun tidak, adalah sebuah “<strong>mega-community</strong>” yang memiliki shared interest yang sama dan terkoneksi satu sama lain di dalam berbagai media sosial yang ada (blog, Facebook, Twitter, SMS, BBM, dll.). Melalui beragam bentuk conversation dan interaksi di media sosial, mereka mengelaborasi ide perubahan hingga akhirnya menggumpal menjadi gerakan politik massif.</p>
<p>Di akun Facebook “<strong>We Are All Khaled Said</strong>” yang terakhir memiliki lebih dari 40 ribu fans misalnya, informasi kepincangan sosial dan ide perubahan dielaborasi dan diinkubasi melalui beragam bentuk aktivitas conversation di dalamnya mulai dari chat, wall, diskusi, komentar, dan berbagi tulisan-foto-video antar anggota. Khaled Said adalah pemuda yang dipukuli polisi Mesir hingga kemudian meninggal dan dijadikan simbol perlawanan terhadap rezim Mubarak. Awalnya gerakan politik ini terbatas di media sosial, tapi karena begitu kuatnya shared interest mereka, akhirnya bermuara menjadi gerakan demonstrasi turun ke jalan.</p>
<p>Peran media sosial menjadi lebih krusial lagi ketika “mega-community” gerakan politik sudah begitu matang dan siap melakukan aksi turun ke jalan. Dalam tahap ini media sosial menjadi alat koordinasi gerakan yang sangat murah, mudah, dan efektif. Dengan blog, Facebook, atau Twitter anggota gerakan akan begitu mudah dan efektif dalam menggalang massa, menyebarkan isu gerakan, dan bahkan membakar semangat massa.</p>
<p>Untuk pertama kali dalam sejarah Timur Tengah, revolusi politik digerakkan oleh kekuatan horizontal dimana media sosial menjadi enabler-nya. “Tradisi” yang telah berlangsung puluhan/ratusan tahun adalah seorang pemimpin diktator ditumbangkan calon diktator berikutnya. Tapi saat ini di Mesir, perubahan fundamental sedang berlangsung. Tinggal tunggu waktu saja, Mubarak bakal dilengserkan, bukan oleh pemimpin-pemimpin hebat sekaliber Khadafi atau Khomeini, tapi oleh rakyat dengan katalis media baru yang anak-anak SD di Wonogiri pun menggunakannya tiap hari.</p>
<p>Revolusi Mesir memberikan pelajaran berharga bagi diktator-diktator, rezim-rezim, dan pemerintah tiran; bahwa Facebook dan Twitter kini menjadi “<strong>musuh paling berbahaya</strong>” mereka. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2011/02/05/media-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Social Media Outlook 2011: &#8220;Five Big Shift in 2011 and Beyond&#8221;</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/12/25/indonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/12/25/indonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 09:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Prediction 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F12%252F25%252Findonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond%252F&title=Indonesia+Social+Media+Outlook+2011%3A+%22Five+Big+Shift+in+2011+and+Beyond%22&desc=Minggu+lalu+saya+sharing+di+teman-teman+FreSh+dalam+sebuah+diskusi+hangat+bertajuk+%E2%80%9CIndonesia+Online+Business+Outlook+2011%E2%80%9D+di+Gedung+Telkom+Jl.+Gatot+Subroto.+Di+situ+saya+sharing+mengenai+Consum&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div>Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai Consumer 3000 yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
							<iframe
								style="height:25px !important; border:none !important; overflow:hidden !important; width:450px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
								src="http://www.linksalpha.com/social?blog=yuswohady.com&link=http%253A%252F%252Fwww.yuswohady.com%252F2010%252F12%252F25%252Findonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond%252F&title=Indonesia+Social+Media+Outlook+2011%3A+%22Five+Big+Shift+in+2011+and+Beyond%22&desc=Minggu+lalu+saya+sharing+di+teman-teman+FreSh+dalam+sebuah+diskusi+hangat+bertajuk+%E2%80%9CIndonesia+Online+Business+Outlook+2011%E2%80%9D+di+Gedung+Telkom+Jl.+Gatot+Subroto.+Di+situ+saya+sharing+mengenai+Consum&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsctr=1&fbslang=en&twlang=en&twmention=en&twrelated1=en&twrelated2=en&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzctr=1&diggctr=1&stblctr=1">
							</iframe>
						</div><p>Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai<strong> Consumer 3000</strong> yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka semakin <strong>technology savvy</strong> dan “<strong>social media freak</strong>”. Thanks to the internet, dengan munculnya social media tool seperti Twitter dan Facebook yang supermurah, supermudah, dan superpowerful, konsumen kita semakin gampang mengadopsi beragam produk konsumsi berteknologi.</p>
<p>Dalam forum itu saya mengintroduksi munculnya lima pergeseran besar dalam lanskap bisnis online dan social media di Indonesia. Pergeseran ini tak terelakkan lagi merupakan dampak dari “<strong>gempa tektonik</strong>” (yang dikuti “<strong>tsunami</strong>”) perilaku konsumen Indonesia sebagai akibat munculnya Consumer 3000. Berikut ini adalah pergeseran-pergeserannya di tahun 2011.</p>
<p><strong>#1. Social Media Euphoria Is Over. It’ll Become a Basic Needs</strong><br />
Yup!!! selama tiga-empat tahun terakhir blog, Facebook, Twitter telah menjadi hype dan eforia luar biasa di Indonesia. Ia menjadi sebuah gerakan massa. Orang beramai-ramai membuka akun Facebook atau Twitter agar tidak disebut jadul atau gaptek; agar disebut keren dan cool. Bermodal “update status” saja sudah cukup, nggak penting berderet fitur yang lain, yang penting bisa ngomong ke teman-teman bahwa mereka sudah menjadi “Facebook freak” atau “Twitter freak”. Di masa eforia, Facebook dan Twitter menjadi alat ekspresi diri, untuk menunjukkan “siapa aku”.<span id="more-779"></span></p>
<p>Kini masa eforia itu sudah lewat. Punya akun Facebook dan Twitter kini sudah tidak lagi keren atau sesuatu yang wah&#8230; biasa saja.  Lalu apa akibatnya? Facebook dan Twitter tidak lagi alat ekspresi diri, tak lagi alat nampang. Penggunaan Facebook dan Twitter memasuki fase kematangannya, yaitu mengarah ke fungsi (<strong>functionality</strong>) yang sesungguhnya. Konsumen Indonesia mulai menggunakan Facebook dan Twitter untuk berkoneksi dengan orang lain, berdiskusi, saling bertukar informasi, mencari berita terbaru, mendapatkan tips-tips, mencari informasi produk, mendapatkan referal sebelum melakukan pembelian, dan sebagainya. Tinggal tunggu waktu&#8230; <strong>social media will be a basic needs</strong>.</p>
<p><strong>#2. iPad 500 Ribu Perak? Why Not!!!</strong><br />
Dulu kita tak bisa membayangkan ponsel harganya Rp. 200 ribu. Kini semua itu terwujud. Akankah tablet seperti iPad menjadi cuma 500 ribu perak? Tentu saja tidak. Apple tentu saja tak akan melego produk legendarisnya semurah itu. Tapi proses yang dialami ponsel di atas tak akan terelakkan lagi bakal dialami oleh iPad. Merek-merek murah lokal tiruan iPad yang dibikin di Cina bakal membanjiri pasar. Celakanya, merek-merek lokal ini bukanlah produk murahan yang asal dibikin, tapi merupakan produk <strong>value for money</strong> yang memiliki functionality tak kalah dari iPad tapi dengan harga jauh lebih murah. Celakanya lagi, di Indonesia akan ada begitu banyak <strong>smart value consumers</strong> yang akan membeli iPad tiruan ini. Di dalam konsep Consumer 3000, saya menyebut konsumen jenis ini sebagai: “<strong>Nexian Hunter</strong>”.</p>
<p>Kombinasi antara kuatnya permintaan (thanks to economies of scale) dan dorongan kompetisi antar iPad-iPad tiruan ini akan menggerus harga tablet ke titik yang sangat murah (hingga di bawah 1 juta perak, bisa-bisa cuma <strong>500 ribu perak</strong>). Dan kalau hal ini terjadi, maka tablet akan menjadi mass product yang bakal dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, tak terbatas hanya kalangan menengah dan atas. Persis seperti yang terjadi pada ponsel sekarang.</p>
<p><strong>#3. Android Explosion</strong><br />
Kalau revolusi tablet terjadi, maka serta-merta revolusi “pasangannya” pun tak terhindarkan. Apa itu? Tak lain adalah revolusi pasar aplikasi (<strong>apps</strong>). Dan revolusi apps tersebut tak lain adalah <strong>revolusi Android</strong>. Kenapa Android? Karena di Android Market nantinya kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan apps (mulai dari koran, majalah, buku, games, entertainment, radio-TV satelit, video &#8230; apapun) secara gratis. Ingat, gratis adalah sesuatu yang paling disukai konsumen kita (&#8230;yup, kualitas apps adalah masalah ke sekian, yang penting gratis!!!). Dan kalau hal ini yang terjadi, maka benar kata Telkom bahwa “<strong>the world is in your hand</strong>”. Apapun bisa kita dapatkan melalui gadget di tangan kita. Dan gadget di tangan itu tak lain adalah tablet yang di dalamnya berisi jutaan apps yang memudahkan, menghibur, mewarnai, dan memperindah hidup kita. Tinggal tunggu waktu saja&#8230; hidup kita bakal “<strong>dikuasai</strong>” oleh Android.</p>
<p><strong>#4. From “Broadcasting” to “Connecting”</strong><br />
Kalau di tingkat konsumen, social media semakin menjadi basic needs, maka di tingkat produsen para brand manager pun mulai menggunakan social media pada tempatnya, dan menurut fungsi yang sesungguhnya. Tantangan terbesar bagi brand manager dalam mengadopsi social media selama ini adalah merubah <strong>mindset </strong>mereka dari pendekatan vertikal atau “<strong>broadcasting</strong>” menjadi pemasaran horisontal atau “<strong>connecting</strong>”. Karena sudah sekian lama para brand manager ini menggunakan media “broadcasting” seperti TV, radio, dan koran/majalah, maka ketika muncul media baru, social media, mindset mereka tetap tidak berubah. Mereka menggunakan media baru tersebut untuk mem-broadcast pesan-pesan pemasaran ke konsumen.</p>
<p>Kini, setelah 3-4 tahun melalui “<strong>masa pembelajaran</strong>”, para brand manager (early adopter) mulai menyadari dan memahami bagaimana seharusnya menggunakan media baru tersebut. Mereka akan mulai menggunakan blog, Facebook atau Twitter untuk menciptakan connection (melalui conversation dan engagement) dengan konsumennya. Terdapat tren, kini semakin banyak brand yang menciptakan conversation melalui medium <strong>blog </strong>atau<strong> portal komunitas</strong> (lihat misalnya, brand pelumas Evalube dengan portal GilaMotor.com-nya; atau brand kosmetik Caring Colours dengan portal komunitas CaringCareer-nya). Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai channel untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Semua dilakukan bukan dengan pendekatan “broadcasting” tapi mulai mengarah ke “connecting”.</p>
<p><strong>#5. The Birth of Millions of Social Media Entrepreneurs</strong><br />
McKinsey&amp;Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (<strong>middle class</strong>) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (<strong>disposable income</strong>, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai <strong>1/3 </strong>dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ketika sudah cukup banyak kelas menengah di Indonesia, menyusul tembusnya GDP/kapita $3000, maka disposable income ini akan cukup besar dan siap untuk diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk venture, termasuk masuk ke bisnis online berbasis social media.</p>
<p>Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis online berbasis social media. Bahkan ketika sudah banyak contoh sukses entrepreneur muda kaya raya di negeri ini karena berbisnis online/social media (lihat sukses <strong>Koprol </strong>dibeli Yahoo!), maka akan semakin banyak orang kantoran ini yang memberanikan diri nyebur menjadi full-time <strong>social media entrepreneur</strong> karena iming-iming kesuksesan.</p>
<p>Kenapa social media entrepreneur? Karena bisnis berbasis social media menuntut investasi yang relatif murah tapi memiliki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business sekaligus blue ocean business. Karena murah meriah, kini muncul tren para fresh graduate mulai tak tertarik menjadi pegawai atau profesional; mereka mulai berani mencoba pertaruhan menjadi social media entrepreneur. Karena itu saya memprediksi social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.</p>
<p><strong>Selamat Datang 2011.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/12/25/indonesia-social-media-outlook-2011-five-big-shift-in-2011-and-beyond/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

