E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — EwMC2

Chief Community Officer

Ide tulisan ini datang dari obrolan saya dengan mbak Petty Fatimah dari majalah Femina dan diskusi seru di Twitter mengenai nasib media konvensional (khususnya cetak) di tengah terjangan tsunami digital. Mbak Petty adalah Chief Community Officer (CCO) Femina. Saat pertama mengetahui jabatannya melalui kartu nama yang ia berikan, saya langsung kaget. Saya sudah membaca dan mendengar jabatan itu sejak lama dari majalah-majalah bisnis asing atau dari artikel-artikel di internet mengenai socmed dan community marketing. Tapi itu di Amerika, bukan di sini. Memang jabatan itu kini lagi hot-hot-nya di kalangan corporate America.

Di Indonesia, seumur-umur saya baru melihat title itu ya di kartu nama mbak Petty. Saya pun langsung curiga: “Ini title, title-title-an atau title sungguhan?” Ngobrol cukup lama dengan mbak Petty saya kian tahu bahwa itu title sungguhan. Ya, karena model bisnis Femina sudah berubah sedemikian rupa sehingga title “Pemimpin Redaksi” memang sudah tak relevan lagi disandang oleh pimpinan puncak perusahaan media satu ini. [Read more →]

January 26, 2013   7 Comments

Dunia Narsis Briptu Norman

Sebelum klip Chaiya-Chaiya itu nongkrong di YouTube, Briptu Norman adalah polisi biasa yang tidak kita kenal. Tapi begitu klip diunggah, dan kemudian ditayangkan oleh salah satu stasiun TV nasional, maka sejak itu “BOOOOM!!!”… sang Briptu menjadi idola kita semua.

Mendadak sontak koran-koran, tabloid-tabloid gosip, infotainment-infotainment, kepolisian tempat sang Briptu bekerja, acara-acara talk show telivisi, perusahaan-perusahaan rekaman, seperti kesurupan ikutan “numpang beken” sang Briptu. Semua berlomba agar kebagian rezeki “tenar semalam” sang Briptu. Maka cerita selanjutnya bisa ditebak: eksploitasi membabi-buta pun tak terelakkan lagi.

Kini, dengan adanya media baru HORISONTAL macam YouTube siapapun orang (dari murid SMP, ibu rumah tangga, guru SD inpres, hingga jendral bintang lima) bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, rasa sedih, senang, atau takjub dengan begitu gampangnya.

Tinggal tulis lalu taruh di blog; tinggal potret lalu taruh di situs Flickr; tinggal rekam suaranya lalu taruh pakai podcast; tinggal rekam gambarnya pakai smartphone lalu taruh di YouTube… seperti Briptu Norman. Begitu ditaruh… “BOOOOM!!!” serta-merta jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia melihatnya.

Selamat datang di era yang kian memanjakan kebebasan berekspresi individu!!! Selamat datang di jaman di mana siapapun kita bisa dan boleh tampil!!! Selamat datang di dunia yang kian narsis!!! Welcome to the NARCISSISTIC world!!! [Read more →]

April 21, 2011   2 Comments

Love Is Giving

Law #1 | Twitter Marketing Is LOVE Marketing

Mulai minggu ini, secara berseri saya akan menguraikan satu-persatu 8 prinsip dari konsep pemasaran di Twitter yang saya perkenalkan minggu lalu yaitu “Twitter Marketing Is Love Marketing”. Seperti saya uraikan minggu lalu konsep Twitter Marketing ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), curhat (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship).

Intinya, saya ingin mengatakan bahwa jika Anda menjalankan 8 prinsip cinta tersebut kepada customers (dan stakeholders) Anda di Twitter, maka dengan sendirinya Anda akan membangun emotional connection dengan mereka. Dan ketika emotional connection itu dipupuk — sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, atau bahkan puluhan tahun — maka mereka tak hanya membeli produk Anda, tapi juga loyal, dan bahkan menjadi advocator/evangelist produk Anda.

Hari ini saya akan mulai membahas prinsip yang pertama: “Love Is Giving”.

Reason for Being
Giving saya tempatkan sebagai prinsip pertama dari konsep ini karena ini merupakan “sumber hidup” keberadaan kita di Twitter. Setiap twit kita haruslah dilandasi oleh spirit untuk memberi.

“Giving is your REASON FOR BEING”
“Giving is your FUNDAMENTAL purpose”
“Giving is the HEART of Tweeting” [Read more →]

April 9, 2011   4 Comments

The Rise of Sharing Consumer

Kemunculan platform media sosial (social media platform) memunculkan “mahluk” konsumen baru yang belum ada sebelumnya, yaitu konsumen yang suka berbagi. Berbagi apa saja: pikiran, aspirasi, keluhan, sanjungan, kesukaan, kebencian… apa saja. Inilah yang disebut sebagai “sharing consumer“.  Salah satu ciri dari sharing consumer adalah, mereka suka berbagi (dengan sesama konsumen) saat mereka membeli brand, mengkonsumsi brand, atau sedang merasakan experience dengan sebuah brand. Pesannya bagi para marketers: doronglah mereka untuk berbagi dan menyebarkan hal-hal positif mengenai brand… dan jadikan mereka sebagai evangelist Anda.

Baca artikel lengkapnya di sini:  The Rise of Sharing Consumer

April 8, 2011   No Comments

Social Apponomics

Twitter: @yuswohady

Kemunculan pasar Android dan Apps Store memicu revolusi “platform ekonomi” baru yang disebut Matt Andersen sebagai “Social Apponomics“. Platfotm ini memecah kebuntuan mendasar dari bisnis online yaitu masalah monetisasi. Kebanyakan bisnis online mampu mendatangkan massa puluhan bahkan ratusan juta calon konsumen (yesss… Facebook, YouTube, Twitter) tapi tak berdaya untuk menjadikannya duit. Korbannya MySpace, Friendster, etc.

Ada tiga elemen pembentuk platform ini yaitu: 1. Social media sebagai tempat berkumpulnya massa konsumen. 2 Community-based marketing, gaya pemasaran baru yang berbasis komunitas, bukan broadcast-based dan hard-sell approach. 3. Tailored applications yang memberikan great user experience kepada konsumen. Walaupun belum banyak, pemain yang sukses menerapkannya sudah ada seperti Groupon, Netflix, FarmVille, etc. Bagaimana social apponomics ini bekerja dan apa kiat-kiat untuk sukses di platform bisnis masa depan ini, ikuti tulisan lengkapnya di link berikut ini:

The Coming Wave of Social Apponomics

April 2, 2011   No Comments

Twitter Marketing Is Love Marketing

Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini saya ngetwit. Yup… tweeting with deep passion. Kapanpun, dimanapun saya ngetwit. Pas lagi baca ngetwit, pas lagi nulis ngetwit, pas lagi nonton Glee ngetwit, pas lagi meeting ngetwit (huzzz.. kebiasaan buruk baru saya, karena tak menghargai rekan meeting), pas nglembur kerjaan sampai Subuh masih juga ngetwit, nyetir curi-curi ngetwit. Bahkan seringkali saya mimpi pun lagi ngetwit. Nggak takut “Twitter addict”? Emang gua pikirin!!!

Menikmati, menyelami, menghayati twit demi twit saya selama tiga tahun terakhir, akhirnya saya menemukan “roh” dan “hakikat” kenapa saya begitu passionate untuk ngetwit. Saya mulai menemukan “reason for being” kenapa saya ngetwit. Saya mulai menemukan “fundamental purpose” kenapa saya ngetwit. Saya menemukan “ultimate answer” kenapa saya ngetwit. Apa itu? Satu kata: CINTA.

Selama tiga tahun terakhir juga saya serius mempelajari dan menekuni Twitter untuk bisa diterapkan dan dimanfaatkan di dunia marketing. Saya bereksplorasi dan bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu marketer membangun relationship dan keintiman dengan konsumen. Saya bereksperimen bagaimana Twitter bisa membantu brand curhat dan dicurhati oleh konsumennya “around the clock” 24-7. Apa jawaban paripurna yang saya peroleh? Sama. Satu kata: CINTA.

Karena itu saya sampai pada kesimpulan final bahwa: “Twitter Marketing Is Love Marketing”. Bagaimana Anda bisa meyakinkan komunitas konsumen di Twitter untuk membeli produk Anda. Bagaimana Anda bisa menjadikan komunitas konsumen di Twitter sebagai passionate evangelist Anda? Bagaimana brand Anda bisa punya hubungan emosional (bahkan spiritual) dengan dengan komunitas konsumen di Twitter?  Jawabnya cuma satu: yaitu jika Anda selalu (24-7) menebar CINTA di jagad Twitter.

Bagaimana Anda bisa menebar CINTA di Twitterland? Saya punya 8 prinsip bagaimana menjalankan love marketing di Twiterland. Mari kita simak satu persatu. [Read more →]

March 26, 2011   10 Comments

Horizontal Mobile Marketing

Hampir tiga tahun lalu saat saya menulis “CROWD: Marketing Becomes Horizontal”, (yes… buku pertama di Indonesia yang membahas social media], anggapan saya adalah bahwa facebookan (waktu itu Twitter masih embrio) alias ber-social networking masih dilakukan di warnet atau dengan laptop dan netbook. Namun kini, dalam kurun waktu sekitar setahun, gelombang “Blackberry revolution” (“smartphone revolution”) terjadi. Ini kemudian disusul tahun lalu dengan gelombang revolusi baru yang tak kalah hebat yaitu: “iPad revolution” (yup… “tablet revolution”)

Dampaknya apa? Great! Sejak itu internet seperti “dipindahkan” ke smartpone dan tablet di genggaman kita. Ketika social media content seperti Facebook, Twitter, YouTube, atau Groupon bisa dipindahkan ke smartphone/tablet maka mobile marketing memasuki sebuah era yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia. Saya menyebutnya horizontal mobile marketing atau untuk pendeknya sebut saja: H-mm. Karena itu tak salah kalau Telkom begitu berani mereposisi dirinya untuk “go mobile” dengan tagline-nya yang challenging: “The World in Your Hand”. Kini semua serba mobile: “everything goes mobile. If you don’t follow through, you’ll die”. [Read more →]

March 13, 2011   5 Comments

Social Media Marketing for SME

Kemarin hari Minggu (27 Februari 2011) saya mendapatkan “banjir” permintaan materi presentasi “Social Media Marketing for SME” dari temen-temen Twitter. Materi itu saya bawakan dalam seminar yang diadakan temen-temen komunitas Akademi Berbagi bekerjasama dengan Detik.com dan Telkom Indonesia. Acaranya sendiri dilakukan di kampus Learning Center Telkom Indonesia di Geger Kalong, Bandung pada hari Sabtu, 26 Februari. Temen-temen yang ingin mendapatkan materi presentasi tersebut bisa mendownload-nya di Slideshare melalui link berikut:

February 27, 2011   2 Comments

Social Media Marketing for SME

Twitter: @yuswohady

Tulisan ini dibikin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung kemarin siang (26 Februari 2011). Kebetulan sorenya saya sharing dengan teman-teman pelaku usaha kecil-menengah (UKM) dalam sebuah seminar bertajuk, “Social Media Marketing for Small Medium Enterprise (SME)” yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas Akademi Berbagi (Akber) bareng Detik.com dan Telkom Indonesia. Untuk mempersiapkan presentasi saya melakukan survai kecil mengenai topik ini, maka sekalian saja saya sharing hasil-hasil pikiran saya tersebut dengan para pembaca Sindo.

Terus terang saya bernafsu mengkaji topik ini karena memang media sosial (social media: “socmed”)  memiliki kekuatan super ampuh dalam “memerdekakan” UKM. Media sosial telah memicu terjadinya apa yang saya sebut “democratization of resources” bagi UKM. Kenapa begitu? Karena kehadiran social media tools seperti blog, Facebook, Twitter, YouTube yang murah (praktis gratis..tis..tis) menjadikan UKM mampu melakukan kegiatan promosi, customer service, riset dan pengembangan produk, atau penjualan dengan sangat murah, tapi dengan hasil yang sangat efektif (“low budget high impact”). [Read more →]

February 26, 2011   10 Comments

Media Sosial dan Revolusi Horizontal Mesir

Twitter: @yuswohady

Saat saya menulis CROWD: Marketing Becomes Horizontal tiga tahun lalu, saya tak pernah membayangkan bahwa “kekuatan horizontal” (“horizontal power”) bisa memicu munculnya kekuatan politik dahsyat yang sekarang terjadi di Mesir. Memang dalam buku tersebut saya sudah mengangkat kasus kesuksesan Obama dalam menggerakkan kekuatan horizontal massa pemilihnya dengan memanfaatkan media sosial untuk memenangkan pemilu AS. Namun saat itu sama sekali belum terbayangkan bahwa kekuatan massif media sosial bisa menjadi katalis yang demikian mudah dan cepat untuk menggulingkan rezim-rezim otoriter di Tunisia atau Mesir (yang bakal disusul secara berantai di negara-negara Afrika Utara lain: Yaman, Siria, atau Yordania).

Dalam buku tersebut saya mengemukakan sebuah formula yang menjadi esensi munculnya kekuatan horizontal. Rumus tersebut berbunyi:

E = wMC2

E dalam rumus tersebut saya sebut sebagai “energi marketing horizontal yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Kemudian wM adalah = word of mouth/mouse, yang sering disebut WOM atau buzz, yaitu komunikasi dari mulut ke mulut baik secara fisik maupun berbasis internet. Sementara C2 atau (C kuadrat: C x C) adalah Komunitas: C pertama adalah “offline Community”; dan C kedua adalah “online Community”. Apa esensi dari komunitas? Esensinya adalah orang yang berkumpul karena adanya tujuan/keinginan yang sama (shared interest) dan antar orang yang berkumpul tersebut terkoneksi (“connected”) satu sama lain dalam sebuah jejaring (network).

Melalui formula tersebut saya ingin mengatakan bahwa energi sedahsyat bom nuklir (itu sebabnya saya mengadopsi rumusan Einstein) akan kita dapatkan jika kita mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen wM dan C tersebut. Dalam konteks dunia pemasaran, waktu itu saya katakan: kalau Anda mampu menyebarkan WOM mengenai produk dan layanan Anda, dan WOM itu ”dikembangbiakkan” di dalam habitat komunitas (baik offline maupun online), maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyat!

Revolusi Horizontal
Lalu bagaimana formula di atas bisa diaplikasikan dalam konteks revolusi politik yang sekarang berlangsung di Mesir? Prinsipnya sama persis. Kalau dalam konteks marketing “konten” yang sebarkan melalui WOM dan kemudian dikembangbiakkan di dalam komunitas adalah “brand” atau pesan-pesan pemasaran, dalam kasus revolusi Mesir, “konten” tersebut adalah ide dan keinginan mengenai perubahan, ide dan keinginan bahwa Hosni Mubarak harus lengser setelah 30 tahun lebih berkuasa, atau ide dan keinginan mengenai pembentukan negara yang lebih beradab dan bebas teror. [Read more →]

February 5, 2011   2 Comments