<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady.com &#187; Consumer Insight</title>
	<atom:link href="http://www.yuswohady.com/category/consumer-insight/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yuswohady.com</link>
	<description>E=wMC2 &#124; Marketing Becomes Horizontal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 05:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Social Media for Qualitative Research</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2010/03/29/social-media-for-qualitative-research/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2010/03/29/social-media-for-qualitative-research/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 01:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consumer Insight]]></category>
		<category><![CDATA[qualitative research]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Saya dapat ini dari Slideshare, menarik sekali mengenai riset kualitatif melalui social media, siapa tahu berguna&#8230;   

Introduction to social media for qualitative research

View more presentations from Francesco D’Orazio.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="__ss_1384667" style="width: 425px;">Saya dapat ini dari Slideshare, menarik sekali mengenai riset kualitatif melalui social media, siapa tahu berguna&#8230;  <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </div>
<div style="width: 425px;"></div>
<div style="width: 425px;"><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Introduction to social media for qualitative research" href="http://www.slideshare.net/abc3d/introduction-to-social-media-for-qualitative-research">Introduction to social media for qualitative research</a></strong><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=analyticslab-iulm-qualresearch-090504154409-phpapp02&amp;stripped_title=introduction-to-social-media-for-qualitative-research" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=analyticslab-iulm-qualresearch-090504154409-phpapp02&amp;stripped_title=introduction-to-social-media-for-qualitative-research" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></div>
<div id="__ss_1384667" style="width: 425px;">
<div style="padding: 5px 0 12px;">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/abc3d">Francesco D’Orazio</a>.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2010/03/29/social-media-for-qualitative-research/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>VALENTINE DAY 2.0</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2009/02/15/valentine-day-20/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2009/02/15/valentine-day-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 04:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consumer Insight]]></category>
		<category><![CDATA[EwMC2]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0 behavior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Di hari spesial Valentine Day 14 Feb ini saya iseng2 Googling, saya ketik di situ &#8220;valentine day kasih sayang&#8221;. Lalu saya dapatkan banyak pernyataan, pengungkapan, cerita, puisi, surat, gift, apapun yang berbau CINTA. Lalu saya menemukan sepotong cerita dengan judul &#8220;LOVE IS SO SIMPLE&#8221; dari sebuah blog. Saya kutipkan bagian awalnya saja sebagai berikut:

 
&#8220;Pasangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari spesial Valentine Day 14 Feb ini saya iseng2 Googling, saya ketik di situ &#8220;valentine day kasih sayang&#8221;. Lalu saya dapatkan banyak pernyataan, pengungkapan, cerita, puisi, surat, gift, apapun yang berbau CINTA. Lalu saya menemukan sepotong cerita dengan judul &#8220;LOVE IS SO SIMPLE&#8221; dari sebuah blog. Saya kutipkan bagian awalnya saja sebagai berikut:<br />
<!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><em>&#8220;Pasangan saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami Dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.</em></p>
<p><em>Tiga tahun dalam masa perkenalan, Dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.</em></p>
<p><em>Saya seorang wanita yang sentimentil Dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.</em></p>
<p><em>Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.</em></p>
<p><em>Suatu Hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.</em></p>
<p><span id="more-509"></span><em><span lang="SV">“Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut.</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">Suami saya terdiam Dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?”</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">Saya menatap matanya dalam-dalam Dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg Ada di tebing gunung. </span><span lang="FI">Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?”</span></em></p>
<p><em><span lang="FI">Dia termenung Dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.</span></em></p>
<p><em><span lang="FI">Keesokan paginya, dia tidak Ada di rumah, Dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ……<br />
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”</span></em></p>
<p><em><span lang="FI">Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.<br />
Saya melanjutkan untuk membacanya.<br />
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, Dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="FI">“Kamu senang diam di rumah, Dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="FI">“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, Dan itu tidak baik untuk kesehatan Mata kamu. Saya harus menjaga Mata saya agar ketika Kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu Dan mencabuti uban kamu.”<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi Dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar Dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang Ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air Mata kamu mengalir.<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">“Sayang, saya tahu, Ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, Mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, Dan Mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”<br />
</span></em></p>
<p><em><span lang="SV">Air Mata saya jatuh ke atas tulisannya Dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.<br />
</span>“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.</em></p>
<p><em>Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, Dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah Kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”</em></p>
<p><em>“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, Dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”</em></p>
<p><em>Saya segera berlari membuka pintu Dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu Dan roti kesukaan saya.</em></p>
<p><em>Oh, kini saya tahu, tidak Ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.</em></p>
<p><em>Itulah cinta, di saat Kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan Kita, karena Kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang Kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah Kita bayangkan sebelumnya.</em></p>
<p><em>Seringkali yang Kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan Kita, Dan bukan mengharapkan wujud tertentu.</em></p>
<p><em>Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.</em></p>
<p>Itu tadi ceritanya:<br />
Jangan salah, cerita tulisan itu berakhir indah, happy ending, layaknya kisah Cinderella, kayak film-film Hollywood yang menguras air mata. trenyuh, menyentuh, very emosional, manusiawi, dan berakhir dengan indah. Hampir saja saya melelehkan air mata (tapi belom lho&#8230;. hehehe).</p>
<p>Saya berpikir, itulah kekuatan web 2.0 tools. Bagaimana kita bisa mengungkapkan emosi dan perasaan kita demikian powerful, demikian menyentuh, demikian emosional, penuh perasaan, demikian manusiawi, demikian detil bahkan telanjang, demikian indah&#8230; demikian SEMPURNA.</p>
<p>Dengan FB, Blog, Friendster, kita begitu gampang &#8220;MENGURAS HABIS&#8221; seluruh isi perasaan dan isi hati kita. Dengan begitu maka potensi kemanusiaan kita juga bisa TERBEBASKAN dan TERLAMPIASKAN demikian sempurnanya. Dengan begitu pula kita menjadi MANUSIA SEMPURNA. wow&#8230;. betapa indahnya.</p>
<p>Dengan kehadiran web 2.0 tools, tanpa kita sadari cara kita mengungkapkan CINTA di hari VALENTINE telah berubah 180 derajat.</p>
<p>VALENTINE DAY kini telah berubah menjadi lebih powerful, lebih emosional, lebih menyentuh, lebih indah.</p>
<p>Saya sebut itu: VALENTINE DAY 2.0.</p>
<p>Mau tahu sedikit cirinya:<br />
<span> #1. 1000.000 kali lebih personal-emosional-menyent</span></p>
<div>uh<br />
#2. 1000.000 kali lebih narsis<br />
#3. 1000.000 kali lebih telanjang<br />
#4. 1000.000 kali lebih menguras isi hati &#8230;. dan air mata<br />
#5. 1000.000&#8230;hmmmm&#8230;. apa lagi ya?????</p>
<p>&#8230;silahkan teruskan #6 #7, dan nomor-nomor berikutnya.</p>
<p>Happy Valentine <img src='http://www.yuswohady.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Dengan CINTA hidup kita menjadi lebih indah&#8230;</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2009/02/15/valentine-day-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etnographic Research</title>
		<link>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/etnographic-research/</link>
		<comments>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/etnographic-research/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 19:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business Review]]></category>
		<category><![CDATA[Consumer Insight]]></category>
		<category><![CDATA[etnographic research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yuswohady.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Riset pemasaran adalah adalah “titik hulu” dari keseluruhan perumusan strategi produk dan merek. Kalau riset yang Anda lakukan untuk menangkap keinginan dan perilaku pelanggan keliru, maka proses perumusan strategi Anda menjadi keliru semua. Kalau depannya keliru maka semua proses ke belakang akan keliru. Sama halnya dengan penyakit Anda: kalau diagnosis si dokter keliru, maka sehebat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Riset pemasaran adalah adalah “titik hulu” dari keseluruhan perumusan strategi produk dan merek. Kalau riset yang Anda lakukan untuk menangkap keinginan dan perilaku pelanggan keliru, maka proses perumusan strategi Anda menjadi keliru semua. Kalau depannya keliru maka semua proses ke belakang akan keliru. Sama halnya dengan penyakit Anda: kalau diagnosis si dokter keliru, maka sehebat dan semanjur apapun resep yang diberikan pasti tak akan bisa mengobati penyakit Anda.</p>
<p>Kalau kita sadar hal ini, maka seharusnya kita sadar bahwa ada something wrong dalam pendekatan riset yang selama ini banyak kita gunakan, yang dampaknya fatal kepada penyusunan strategi pemasaran. Setidaknya ada dua hal nggak beres yang saya lihat dari pendekatan riset konvensional (kuesioner, indepth interview, FGD: focus group discussion, dan sebagainya) yang mendominasi seluruh riset pemasaran yang kita lakukan selama ini. <span id="more-262"></span></p>
<p><strong>Pertama</strong>, riset tersebut menggunakan pendekatan formal-verbal baik dengan direct maupun indirect questions. Formal artinya si responden tahu ia sedang menjadi obyek amatan, tidak di dalam lingkungan yang natural (natural environment) apa adanya. Verbal artinya ia ditanya melalui kata-kata dan tulisan. Satu hal ini perlu kita camkan: <strong>Human beings think in images, not in words. But most market research uses words, not images</strong>. Sebagian besar otak kita mengolah informasi melalui kelebatan-kelebatan gambar yang diterima mata, bukan melalui kata-kata dan tulisan. Tapi kita tahu sebagian besar riset kita menggunakan kuesioner belasan bahkan puluhan halaman yang bikin si responden bete abis.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, riset yang selama ini kita gunakan banyak menggunakan pendekatan kognitif, behavioral, dan affective, bukannya <strong>sosial-kultural</strong>. Bukannya pendekatan konvensional itu tidak perlu! Tetap diperlukan, tetapi pendekatan itu harus diperlengkapi juga dengan pendekatan sosial-kultural. Kenapa? Karena keputusan pelanggan menetapkan pembelian, perilaku mereka mengonsumsi produk, dan emotional relationship antara pelanggan dengan merek, sangat-sangat ditentukan oleh relasi sosial dan konteks kultural si pelanggan. Sistem sosial di mana si pelanggan hidup mempengaruhi identitas, belief system mereka, cara mereka memandang dunia, dan bagaimana mereka memaknai sebuah fenomena, yang ujung-ujungnya akan membentuk perilaku, termasuk perilaku membeli dan mengonsumsi barang.</p>
<p>Dengan adanya handikap kronis macam ini, riset pemasaran membutuhkan pendekatan baru yang lebih komprehensif-holistik dengan menggunakan bantuan studi antropologi dan etnografi. Dengan pendekatan baru ini marketer tak hanya tahu needs, wants, dan expectations si pelanggan dari kulit-kulitnya, tapi bisa lebih jauh mendalaminya sampai ke latent needs dan hidden desire. Ini hanya bisa dilakukan jika kita menganalisa si pelanggan tak hanya melulu melalui si pelanggan sebagai obyek, tapi juga relasi pelanggan tersebut dengan komunitas dan lingkungan kulturalnya.</p>
<p>Beberapa pendakatan riset etnografi saat ini telah dikembangkan oleh para pakar pemasaran dan sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan top dunia seperti Intel, Microsoft, Apple, Xerox, Motorola, Ogilvy&amp;Mather, IDEO, bahkan GE. Ambil contoh metaphor approach dan visual mapping yang menggunakan gambar dan simbol-simbol untuk mengungkap keinginan dan aspirasi terdalam (deep aspirations) pelanggan.</p>
<p>Juga, pendekatan participant observations dan metode “days in the life of customers”, yaitu pengamatan terhadap pelanggan  yang dilakukan dalam setting kondisi lingkungan apa adanya (natural environment setting) dengan mengikuti keseharian pelanggan. Atau juga apa yang disebut contextual inquiry yaitu metode riset dengan memberikan pertanyaan spesifik dan fokus kepada responden tapi dilakukan dalam lingkungan yang natural untuk memahami konteks kultural responden.</p>
<p>Menarik sekali mengamati bagaimana IDEO, sebuah konsultan pengembangan produk paling top di dunia, melakukan riset pemasaran untuk mengungkap hidden desire pelanggan. Di situ tak ada riset kuantitatif pakai kuesioner, juga tak ada FGD. Riset mereka lakukan melalui observasi dan ide-ide produk diperoleh melalui brainstorming maraton kadang sampai berhari-hari nonstop. Menariknya, riset dan brainstorming itu melibatkan pakar-pakar berbagai disiplin ilmu. Di situ ada psikolog, antropolog, sosiolog, insinyur, sejarawan, filosof, seniman, penulis novel, hingga wartawan…. WOW!!! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yuswohady.com/2008/07/28/etnographic-research/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
