Category — Consumer Insight
Local Wisdom
Kearifan lokal (local wisdom) rupanya bisa menjadi senjata ampuh merek lokal dalam menghadapi serangan agresif merek global. Resep ampuh inilah yang digunakan Martha Tilaar Group (MTG) untuk menghadapi raksasa kosmetik global sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Beberapa hari lalu saya ngobrol santai dengan pak Sam Pranata, Direktur Marketing MTG di sebuah kafe di Kuningan. Kata pak Sam, di lingkungan MTG strategi ini biasa disebut “East Meet West”, yaitu mengambil yang terbaik dari dunia Timur yaitu kekayaan hayati dan kearifan lokal; dan mengambil yang terbaik dari dunia Barat yaitu teknologi dan manajemen. [Read more →]
February 9, 2013 1 Comment
Merayakan Tahun Baru
Dulu waktu saya masih tinggal di kampung, tahun baru adalah hal biasa. Pergantian tahun lewat begitu saja tanpa kembang api memecah-mecah langit, tanpa perayaan glamor di mal-mal, tanpa selebrasi di kafe-kafe atau hotel-hotel berbintang, tanpa konser musik semalaman, tanpa ada “hitung mundur” yang mendebarkan.
Dulu pergantian tahun meluncur mulus dengan kekhusukan, kesederhanaan, dan refleksi penuh makna. Kini tahun baru begitu bersinar, begitu penuh dengan perayaan, begitu penuh dengan glamor dan kehedonisan. Dulu penuh kekhidmatan, kini penuh dengan hingar-bingar. Dulu penuh kepolosan, kini penuh dengan kosmetik.
Wajar saja, karena dulu waktu di kampung saya masih pusing tujuh keliling bergumul dengan urusan perut. Kini, ketika urusan perut sudah terlewati, kebutuhan dan tuntutan kita akan tahun baru menjadi kian sophisticated. Tahun baru yang dulu kita lewati dengan begitu enteng dan sederhana sekarang menjadi begitu kompleks dan neko-neko.
Bagaimana kita semua kini merayakan tahun baru? Saya akan mencoba memberikan laporan pandangan mata langsung dari TeeKaaaPeeee…!!! [Read more →]
December 30, 2012 12 Comments
Siapa Bilang Kelas Menengah Kita Apolitis
Benarkah kelas menengah kita konsumtif dan cuek bebek terhadap persoalan-persoalan negaranya? Benarkah mereka kelas hedonis yang bisanya cuma belanja di mal atau nongkrong di Starbucks, tanpa pernah peduli pada persoalan-persoalan sosial seperti korupsi atau dekadensi moral wakil rakyat? Benarkah mereka “kelas penonton” yang cuma diam dan mandul sebagai elemen perubahan sosial? Awalnya saya menganggap begitu. Tapi dua peristiwa sebulan terakhir ini mengubah pandangan saya mengenai sisi kepedulian sosial kelas menengah kita. [Read more →]
October 14, 2012 1 Comment
Mudik 3000
Salah satu ciri tipikal kelas menengah Indonesia (consumer 3000) adalah bahwa mereka masuk menjadi anggota kelas menengah setelah melalui perjuangan heroik meningkatkan derajat sosial-ekonomi. Mereka menjadi kaum mapan berkecukupan di Jakarta setelah melalui kerja keras mendongkrak status sosial-ekonomi selama belasan bahkan puluhan tahun.
Awalnya mereka dari keluarga miskin tinggal di kampung (yes, Klaten, Gunung Kidul, Wonogiri, Blora, Pacitan, Pasuruan, Nganjuk, dsb) tapi bercita-cita luar biasa untuk menjadi orang sukses. Mereka belajar SD, SMP, SMA, hingga universitas super giat karena yakin itulah senjata pamungkas untuk mendongkrak status sosial-ekonomi. Setelah sukses belajar, lalu mereka berurbanisasi ke Jakarta mengadu nasib mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. Mereka berkarir di Jakarta dengan etos kerja kampung yang bersahaja: prihatin dan ngirit, tak banyak menuntut, jujur dan tidak neko-neko, kerja ulet, tahan banting, dan semangat membaja untuk menjadi kaya. Berbekal itu semua, maka jadilah mereka orang sukses di Jakarta. Jadilah mereka anggota masyarakat kelas menengah yang mapan dan berpengetahuan. [Read more →]
August 16, 2012 8 Comments
Decoupling
Decoupling atau “keterlepasan” antara need (kebutuhan) dan want (keinginan) adalah fenomena yang bakal kian marak di tengah Indonesia yang kian makmur dengan makin banyaknya konsumen kelas menengah (“Consumer 3000”). Kenapa saya sebut “keterlepasan”? Karena jaman saya kecil dulu, orang menginginkan barang yang dibelinya karena ia butuh. Ia membeli beras di pasar karena ia butuh untuk dimakan biar kenyang, dan punya tenaga untuk bekerja di sawah. Sekarang, banyak orang menginginkan barang yang dibelinya bukan karena ia butuh. Jadi nggak nyambung antara keinginan dan kebutuhan.
Contoh paling hot adalah heboh ngantri Blackberry Bold di Pacific Place minggu lalu. Di luar “laskar Roxy” yang memang ngantri untuk cari untung, saya yakin para BB fans mengular untuk mendapatkan BB tergress bukan karena mereka butuh tapi karena ingin menjadi pemilik pertama BB Bold 9790 di dunia atau karena aji mumpung biar dapat diskon 50%.
Yang saya pikirkan dari insiden di Pacific Place itu adalah sebuah ironi. Kalau di kalangan orang miskin “survival” adalah untuk mendapatkan sesuap nasi dengan mengantri pembagian sembako; maka di kalangan BB fans “survival” itu adalah untuk menjadi pemilik BB pertama di dunia. Setali tiga uang, keduanya membawa korban pingsan. Luar biasa. [Read more →]
December 3, 2011 8 Comments
“Pingsan BB”
Untuk kesekian kali gadget bikin heboh. Nggak hanya Crocs saja yang membikin para pemburu diskon kalap. Sudah menjadi kebiasaan di Jakarta sekarang, begitu ada cool gadget diluncurkan di mal, para gadget lover pun kalap. Kita masih ingat heboh launching Galaxi Tabs, iPhone, atau Nexian beberapa bulan lalu yang menimbulkan buzz effect luar biasa.
Itulah yang terjadi pada launching BB Bold 9790 di Pacific Place Jumat kemarin. Beberapa hari sebelumnya memang kita dibikin penasaran dengan iklan satu halaman di koran-koran mengenai kehadiran BB terbaru yang peluncuran perdananya (world launch) dilakukan di Jakarta. Namanya yang pertama, tentu saja para BB mania penasaran ngerasain menjadi pengguna pertama di dunia.
Kira-kira sama dengan sensasi yang dirasakan saat para Apple mania mengular di Apple Store, Fift Avenue New York untuk menjadi pemilik iPad pertama di dunia. Sensasi ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para BB mania, apalagi dengan embel-embel diskon 50%. Dengan background semacam ini, tak heran jika antrian para pemburu diskon gadget menjadi begitu luar biasa seperti kita saksikan dua hari lalu. [Read more →]
November 26, 2011 7 Comments
Civilized Consumer
Sulit saya menjelaskan apa itu “civilized”, tapi gampangnya saya mengambil contoh negara tetangga Singapura. Warga Singapura saya katakan civilized. Kenapa? Karena ketika mereka akan melintasi traffic light, saat lampu menyala merah, maka tak satupun dari mereka yang nyelonong seenaknya. Tak ada yang “curi start” dengan menggerombol di tengah-tengah perempatan seperti kebanyakan dilakukan pengendara sepeda motor di Jakarta.
Warga Singapura juga civilized karena mereka tak sembarangan membuang kertas atau puntung rokok di jalanan, itu sebabnya jalan-jalan di Singapura bersih bukan main. Bersih bukan karena banyak petugas dinas kebersihan yang siap memunguti serpihan sampah, tapi karena kesadaran tak membuang sampah sudah menjadi culture yang mendarah daging.
Akhir tahun lalu saya mengintroduksi fenomena maraknya kemunculan konsumen kelas di Indonesia, yaitu apa yang saya sebut consumer 3000. Saya katakan di situ bahwa salah satu ciri dari konsumen gaya baru ini adalah bahwa mereka adalah konsumen yang lebih civilized. Kenapa begitu? Karena makin tingginya kemakmuran kelas menengah ini akan diikuti meningkatnya pengetahuan (karena akses informasi dan pendidikan yang kian besar), dan pada gilirannya diikuti terdongkraknya tingkat civilization mereka. [Read more →]
September 24, 2011 4 Comments
Laskar Pemudik
Laskar pemudik sebagian besar adalah orang kampung (Klaten, Tegal, Wonogiri, Gresik, Pasuruan) atau dari kota besar (Surabaya, Yogya, Solo, Semarang) yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka bisa dari kalangan super-atas (presiden, menteri, anggota DPR dan partai, pengusaha konglomerat) tapi juga bisa dari kalangan super-bawah (buruh pabrik garmen di Cikampek, tukang batu musiman, penjual bakso di pasar Jatinegara, buruh panggul stasiun Gambir, atau tukang ojek di perempatan Cempaka Mas).
Mereka begitu powerful. Bayangkan jika mereka sepakat mogok tak kembali lagi ke Jakarta nanti setelah lebaran, bisa dipastikan Jakarta akan lemas-lunglai kehabisan darah. Kehidupan ekonomi, sosial-budaya, politik Jakarta (dan Indonesia) praktis ditopang dan dikendalikan oleh kelompok ini. Sayang mereka tidak bersatu-padu membentuk partai. Kalau ya, pasti Golkar atau Demokrat akan keok.
Laskar pemudik punya hajatan besar tahunan, yaitu mudik ke kampung halaman. Inilah ritual keramat yang mereka tunggu-tunggu. Bagi mereka, berkumpul dengan segenap keluarga yang tercerai-berai demi sesuap nasi, sholat Ied bareng dan bermaaf-maafan, atau nyekar makam leluhur, adalah momen-momen indah yang tak terbeli oleh duit se-triliun sekalipun.
Saya adalah anggota laskar pemudik sejak tahun 1997, karena itu saya bisa banyak cerita mengenai kelompok ini. Artikel ini ditulis di tengah kemacetan mudik selepas lolos dari jalur Nagrek dalam perjalanan mobil pribadi menuju Yogya dua hari yang lalu. Berikut ini adalah pengamatan saya terhadap laskar pemudik berikut ritual tahunan mereka.
Heroik
Mudik adalah kesempatan langka yang terjadi setahun sekali, karena itu segala upaya dilakukan oleh laskar pemudik untuk mewujudkannya. Mereka heroik berdesak-desakaan di bandara, stasiun KA, atau terminal bis untuk bisa terangkut ke kampung. Bagi yang menggunakan bis atau mobil pribadi, mereka heroik rela berjam-jam terpuruk dalam kemacetan. Lebih heroik lagi adalah mereka yang naik sepeda motor komplit sekeluarga. Formasinya: si sulung paling depan nangkring di tanki bensin, si bapak sigap mengendalikan motor, si bungsu terselip di antara bapak dan ibu. Sementara di belakang si ibu masih ada kardus bawaan yang nangkring di ekor sepeda motor. Menempuh perjalanan 10-15 jam mereka biasanya mengeluh kaki terasa kram dan kesemutan. Seluruh penderitaan itu sekonyonh-konyong sirna wes ewess.. ewess… begitu mereka sampai di kampung
Mudik Itu Mahal
Ya, karena di saat-saat lebaran semua serba mahal. Harga ayam dan cabe untuk bikin opor mahal nggak keruan walaupun sudah dioperasi pasar. Untuk pulang mahal minta ampun karena harga tiket bus, KA, kapal laut, dan pesawat naik berlipat-lipat. Mau mudik murah pakai sepeda motor dari Jakarta ke Jawa Tengah cukup 30 ribu perak; tapi ya itu, setiap saat maut selalu mengintip. Begitu sampai di kampung, tak ada cerita mudik pakai “jurus tangan kosong“. Ritual bagi-bagi rezeki dan hadiah adalah kewajiban tanpa hitam di atas putih yang harus dipatuhi setiap laskar pemudik. Untuk kedua orang tua harus kasih duit cukup; untuk saudara dan handai tulan harus kasih baju, sarung, mukenah oleh-oleh dari pasar Tanah Abang; untuk keponakan-keponakan harus kasih angpao; Ditotal-jendral cukup lumayan untuk membikin bangkrut keuangan keluarga pasca lebaran.
Euforia Belanja
Setelah sebulan menahan hawa nafsu, maka hari kemenangan menjadi ajang bagi laskar pemudik untuk “balas dendam”. Caranya dengan belanja banyak dan makan banyak. Kalau sebelum lebaran mal-mal di Jakarta penuh, maka selama dan setelah lebaran gantian pasar-pasar dan toko-toko di kampung dijejali pengunjung. Biasanya setelah sholat Ied dan sungkem-sungkeman mereka tanpa sungkan-sungkan langsung mengeluarkan jurus balas dendamnya memadati toko dan pasar untuk belanja sebanyak-banyaknya dan makan sekenyang-kenyangnya. Kalau diadakan survei hubungan masa lebaran dengan meningkatnya kegemukan, kadar kelosterol, dan asam urat, saya yakin pasti ditemukan korelasi positif.
Kalap
Di saat lebaran laskar pemudik selalu takabur dan kalap kalau sudah menyangkut urusan mengeluarkan duit. Demi orang tua dan handai taulan semua barang kalau bisa dibeli, termasuk membeli hal-hal yang tak penting. Sekian lama orang tua menderita karena pakai kompor minyak, kini waktunya dibelikan kompor gas. Sekian lama orang tua kepanasan kalau tidur siang, kini saatnya dibelikan AC. Sekian lama orang tua repot cari es batu, kini saatnya dibelikan lemari es. Laskar pemudik biasanya tipe orang yang jaim (“jaga image”), karena itu tak peduli THR kurang yang penting barang terbeli. Kalau perlu sepeda motor “disekolahkan” di Pegadaian agar jaim tetap bisa dilestarikan. Tak heran jika setelah waktu lebaran, antri di konter Pegadaian mengular panjang.
Pamer Kesuksesan
Laskar pemudik suka pamer kalau sudah di kampung. Salah satunya adalah pamer kesuksesan. Cara untuk memamerkan kesuksesan ini macam-macam bentuknya. Mereka tahu iPad masih langka di kampung, karena itu mereka bawa iPad untuk ditunjuk-tujukkan ke tetangga. Setelah bertahun-tahun bekerja di Jakarta baru tahun ini bisa mengkredit mobil Xenia, maka dibawalah si mobil ke kampung untuk ditujuk-tunjukkan. Simbol kesuksesan juga bisa dicerminkan dari duit dan hadiah yang diberikan ke orang tua dan handai taulan di kampung. Tahun lalu kasih duit 1 juta perak ke orang tua, sekarang kasih 2 juta. Itu pertanda kesuksesan naik dua kali lipat.
Untuk sesama anggota laskar pemudik saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
August 27, 2011 6 Comments
Lebaran Marketing
Bip! Bip! Bip! Blackberry saya menyalak! Sekonyong-konyong kalimat-kalimat ini nongol di grup BBM saya.
Menghadapi Ramadhan:
10 hari pertama: MESJID PENUH
10 hari kedua: MALL PENUH
10 hari ketiga: TERMINAL PENUH
10 hari setelah Ramadhan: PEGADAIAN PENUH
Kata-kata menyentil itu memang dimaksudkan teman grup BBM saya hanya untuk guyonan, tapi diamat-amati dan dirasa-rasakan saya kira kok betul adanya. Kalau sudah menyangkut urusan puasa-lebaran, memang masyarakat kita selalu all-out termasuk dalam urusan belanja dan menghabiskan uang. Saking all-out nya, sampai lupa berapa THR diterima dan berapa duit yang dibelanjakan: besar pasak daripada tiang. Walhasil, betul, 10 hari setelah lebaran orang-orang sibuk ngantri di Pegadaian.
Percaya saya, di bulan puasa kita kuat menahan lapar-dahaga, nafsu amarah, dan nafsu syahwat. Tapi kalau sudah urusan menahan nafsu belanja… ampuuuun, mana kuat!!!
Setelah lewat malam Lailatul Qadar, maka grafik nafsu belanja akan menanjak. Dengan bekal THR di kantong, aksi berbelanja pun kian mengganas. Saat-saat inilah kita sedang demen-demen-nya berboros ria dan menghabiskan uang. Di Jakarta, puncaknya adalah tadi malam dan malam ini saat hampir semua mal menggelar midnight sale, karena minggu depan penduduk Jakarta mulai mudik.
Tak heran, inilah masa-masa indah yang ditunggu-tunggu setiap marketer. Beragam jurus dan trik digunakan para marketer untuk merayu konsumen mulai dari pasang diskon gedhe-gedhean, melakukan bulan promo gencar, jor-joran hadiah, hingga jualan halus “berkedok” pemberian layanan bagi pemudik. Tak jarang Ramadhan dijadikan ajang perang bubat antar merek. Coba Anda buka halaman-halaman iklan surat kabar atau tonton iklan-iklan TV. Di situ Anda dapati perang sengit antar operator seluler, layanan kartu kredit, ponsel murah, hingga mal-mal yang bersaing menggelar sale.
Saya punya beberapa tips jitu bagi para marketer dalam memanfaatkan bulan bertabur nafsu belanja ini, let’s see:
Sale! Sale! Sale! Jurus sale gedhe-gedhean menjadi alat utama marketer untuk menggaet pembeli di masa Lebaran. Banyak trik yang mereka gunakan untuk merayu pembeli mulai dari “best price” dan diskon hingga 70% (diskon 10-15% sudah katrok!!!), obral, pemberian bonus dan beragam hadiah, bundling produk, “beli dua dapat tiga”, pemberian cash-back, trade-in untuk produk-produk elektronik rumah tangga, sampai dengan pemberian voucher belanja. Diskon memang ampuh untuk merayu pembeli, tapi ingat mainkan beragam alat-alat sales promotion secara efektif dan kreatif.
Serve! Serve! Serve! Program promosi yang juga rutin dilakukan oleh produsen tiap tahun semasa puasa-lebaran adalah program layanan yang dikhususkan untuk para pemudik. Di kalangan ATPM (agen tunggal pemegang merek) untuk berbagai merek mulai dari Toyota, Honda maupun Suzuki, sudah menjadi ritual tahunan mereka menyelenggarakan pos-pos servis gratis kepada para pemudik saat menjelang mauun paska lebaran. Hal yang sama dilakukan oleh para operator seluler dengan memberikan layanan informasi mudik. Begitu juga, Sido Muncul memberikan pelayanan kepada para penjual jamu dan karyawannya (internel customer) menggelar program mudik gratis dari ibukota ke kota-kota di Jawa.
Help Customers. Saya suka gaya BRI berpromosi menyongsong mudik Lebaran, karena tone-nya membantu konsumen, bukan melulu jualan. Melalui iklan 1 halaman full color di media cetak, BRI “mendampingi” konsumennya selama mudik dengan layanan-layanannya yang end-to-end. Selama si konsumen masih di Jakarta BRI memberikan diskon beragam produk melalui layanan kartu kreditnya dan pasar murah. Selama dalam perjalanan mudik, BRI memberikan bantuan transportasi mudik bareng untuk nasabah Simpedes/Kupedes, memberikan cash back di SPBU, atau diskon servis bengkel. Dan setelah di sampai di kampung, BRI memberikan layanan remittence, jaraingan kantor dan ATM untuk penarikan dana. Semua bank besar bisa melakukan seperti yang dilakukan BRI, namun bedanya BRI mengemas pendekatan komunikasinya secara terintegrasi dan softsell.
Touch Customer Heart. Mudik adalah tradisi tahunan yang sangat emosional. Bertemu dengan seluruh anggota keluarga di kampung adalah moment of truth yang membawa kesan yang amat mendalam. Karena itu brand Anda akan ”gampang masuk” di hati pelanggan kalau Anda menyentuhnya melalui program-program promo Lebaran yang emosional dan menyentuh. Sariwangi mengusung program Sariwangi Mobil Mudik dengan memberikan fasilitas mobil lengkap dengen bensin dan sopirnya. Mereka yang menang diminta menceritakan pengalaman-pengalaman emosional mereka selama mudik di kampung. Holcim memberikan fasilitas transportasi mudik bareng para tukang batu yang mejadi influencer ampuh bagi produsen semen terkemuka ini. Menariknya, mereka harus diusulkan oleh konsumen pemilik rumah yang mereka bangun.
Community Activation. Astra Honda Motor (AHM) rutin menyelenggarakan Mudik Bareng Honda untuk menghimpun komunitas pengendara Honda. AHM memfasilitasi event ini dengan memberikan pengawalan polisi, fasilitas servis kendaraan dan bantuan bahan bakar gratis. Selain itu, pemudik juga mendapat konsumsi selama perjalanan dan fasilitas berkendara, seperti helm dan sarung tangan. Ingat, masa-masa Ramadhan merupakan momentum pas bagi Anda untuk membangun komunitas pelanggan seperti yang dilakukan Honda.
August 20, 2011 1 Comment
Sinetron (S2)
Tulisan saya, Sinetron, minggu lalu banyak mendapat tanggapan. Tulisan yang juga saya share di media sosial (Facebook dan Twitter) laku bak pisang goreng. Di Twitter misalnya, selama tiga hari berturut-turut tanpa jeda, saya kerepotan menanggapi comment dari para tweeps yang mengalir terus-menerus memenuhi timeline akun Twitter saya. Blog ini saya juga kebanjiran comment yang memberikan aneka-ragam tanggapan pro maupun kontra.
Menyusul kesuksesan tulisan tersebut, saya pun mulai kejangkitan penyakit produser sinetron, yaitu membikinnya bersambung. Alasannya sama persis, yaitu aji mumpung.
Kalau minggu lalu saya banyak membahas mengenai aneh bin ajaib-nya sinetron kita (protragonis yang piawai menangis; antagonis yang hobi melotot dan mendelik; logika cerita yang kacau dan membonsai otak), maka kini di “Season 2” saya akan banyak bercerita kegundahan dan keresahaan hati saya mengenai dampaknya.
Dunia Gelap
Ada dua hal yang selalu tergambar kental dari kebanyakan sinetron-sinetron kita. Pertama adalah hidup yang serba gampang dan bertabur gemerlap kemewahan. Di situ selalu digambarkan si tokoh utama (baik protagonis maupun antagonis) berasal dari keluarga kaya raya, dengan rumah gedhong di kawasan elit, perusahaan bertebaran di mana-mana, mobil mewah, istri cantik, lengkap dengan pembantu, sopir, dan satpam. Semua kemewahan itu didapatkan secara mudah tanpa putar otak, tanpa kerja keras, tanpa cucuran keringat.
Kedua adalah hidup yang kental diliputi intrik dan tipu muslihat, fitnah dan saling memperdaya lawan, dendam dan kasak-kusuk menebar kebencian, segala bentuk aksi menghalalkan segala cara untuk menghancurkan, mencelakakan, bahkan membunuh. Hidup yang tergambar dalam kebanyakan sinetron-sinetron kita adalah hidup yang muram dan diliputi aura kegelapan.
Yang saya resahkan adalah, jikalau hidup yang tergambarkan dalam sinetron-sinetron kita itu merasuk ke benak kita dan kemudian keluar secara bawah sadar (unconsciously) dalam bentuk pola pikir, perilaku, dan tindakan keseharian kita. Yang saya resahkan adalah jikalau tokoh-tokoh absurd dalam sinetron kita menjadi panutan (“role model”) bagi masyarakat kita.
Teach, Illuminate, Inspire
Jangan sepelekan dampak krusial televisi dalam mempengaruhi pola pikir pemirsanya. Survei di Amerika menunjukkan bahwa anak-anak yang sering menonton film-film action dan kekerasan di televisi memiliki kecenderungan perilaku agresif dan menganggap hidupnya diliputi ketakutan seperti tergambar dalam film-film kekerasan tersebut. Edward Murrow seorang jurnalis dan pakar pertelivisian pernah mengatakan bahwa televisi adalah kotak ajaib yang bisa mengajarkan (“teach”), mencerahkan (“illuminate”), dan bahkan menginspirasi (“inspire”) pemirsanya.
Lha, kalau hidup yang tergambarkan dalam sinetron-sinetron kita adalah hidup yang serba mudah dan diwarnai kemewahan, apa jadinya pemirsa yang diajar, dicerahkan, dan diinspirasi oleh sinetron-sinetron tersebut. Begitu pula, kalau dunia yang tergambarkan dalam sinetron-sinetron kita adalah dunia gelap yang dipenuhi intrik, tipu-muslihat, dan kebencian, apa jadinya para pemirsa yang diajar, dicerahkan, dan diinspirasi oleh sinetron-sinetron tersebut.
Saya khawatir jika generasi penonton sinetron kita adalah generasi gampangan yang berpikir bahwa hidup itu mudah tanpa perlu putar otak, tanpa perlu kerja keras, dan tanpa perlu cucuran keringat seperti tergambar dalam sinetron kita. Saya juga khawatir jika generasi penonton sinetron kita menganggap dunia mereka adalah dunia muram yang selalu dipenuhi intrik dan tipu-muslihat.
Koruptor dan Politikus
Bicara mengenai dunia sinetron kita yang dipenuhi kemewahan dan kemudahan, saya jadi ingat sosok koruptor. Saya kira, pola pikir gampangan yang tergambar dalam sinetron kita di atas persis dimiliki oleh para koruptor kita. Kita tahu bahwa para koruptor ini maunya hidup mudah bergelimang harta dan kemewahan (punya rumah mewah, mobil mewah, perusahaan banyak, istri cantik dan selingkuhan, pembantu-sopir-satpam) tapi tanpa kerja keras dan cucuran keringat. Saya jadi curiga, jangan-jangan para koruptor itu menjadi begitu karena mereka kebanyakan nonton sinetron?
Bicara mengenai dunia sinetron yang dipenuhi intrik dan tipu muslihat saya juga jadi ingat politikus kita. Saya kira, dunia penuh intrik dan tipu-muslihat yang tergambar dalam sinetron kita di atas persis terjadi dalam perilaku dan budaya para politikus kita baik di pemerintahan, di DPR, maupun di PSSI. Para politisi ini saling serang, saling menuduh dan memfitnah, saling memperkarakan ke pengadilan, saling mencelakakan dan menghancurkan, saling kasak-kusuk menebar kebencian untuk membela kepentingan pribadi dan kelompoknya. Saya jadi curiga, jangan-jangan para politisi itu menjadi begitu karena mereka kebanyakan nonton sinetron?
Dari bicara sinetron lari ke koruptor dan politikus. Ini tanda-tanda tulisan ini mulai tidak nyambung alias nglantur. Saya nggak mau seperti produser sinetron kita yang suka memaksakan skenario: yang nggak nyambung disambung-sambungkan, demi alasan rating dan fulus. Karena itu sudah waktunya tulisan ini ditutup sampai S2 saja. Tidak ada S3, S4, apalagi S7 seperti sinetron Cinta Fitri dan Tersanjung!!!
August 13, 2011 No Comments








