E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Consumer 3000

The Indonesian Dream

The American Dream” adalah sebuah ungkapan sangat populer yang menggambarkan etos bangsa Amerika dalam melakukan mobilitas sosial untuk menggapai puncak kesuksesan terlepas dari kelas, kasta, ras, agama, atau dari etnik mana mereka berasal. Dalam karya klasiknya Epic of America (1931), penulis James Truslow Adams mendefinisikan The American Dream sebagai berikut: “Life should be better and richer and fuller for everyone, with opportunity for each according to ability or achievement, regardless of social class or circumstances of birth.”

Dengan spirit “all men are created equal” setiap rakyat Amerika, apapun latar belakang mereka, punya kesempatan yang sama untuk menjadi milyarder, bintang Hollywood yang moncer di seluruh jagad, atau tokoh politik yang berlimpah kekuasaan. Karena itu The American Dream kemudian menjadi sebuah obsesi bagi setiap rakyat Amerika dalam berjuang melakukan mobilitas sosial. Obsesi ini mulai menjadi populer setelah Great Depression tahun 1930-an dan mencapai critical mass menyusul berakhirnya perang Dunia II yang kemudian diikuti boom ekonomi Amerika.

Sosok-sosok “rakyat jelata” yang berjuang dari nol hingga menjadi tokoh sukses (from zero to hero) biasanya didapuk sebagai ikon dari The American Dream. Sebut saja tokoh-tokoh hebat seperti Sam Walton, Elvis Presley, Bill Gates, Steve Jobs, Donald Trump, Barrack Obama, Oprah Winfrey, hingga Mark Zuckerberg. Mereka sering disebut sebagai ikon-ikon yang sukses mewujudkan The American Dream karena kerja keras sampai titik darah penghabisan.

The Chinese Dream
Seiring dengan munculnya keajaiban ekonomi China, ide The American Dream pun kemudian diekspor ke negeri Tirai Bambu ini. Seperti kita tahu, selama 15 tahun terakhir China menikmati pertumbuhan yang luar biasa. Kalau pada tahun 1995 pendapatan perkapitanya hanya sekitar $600, tahun lalu telah naik hingga 10 kali lipat di atas $6000. Dalam kurun waktu yang sama proporsi masyarakat kelas menengahnya (dengan pengeluaran rata-rata sehari sebesar $2-20) meroket dari 55% menjadi di atas 90%.

Kemajuan ekonomi luar biasa itu mendorong rakyat China memiliki obsesi mobilitas sosial persis seperti yang terjadi di Amerika. “The Chinese Dream” dalam bentuk obsesi untuk menjadi kaya raya kini melanda masyarakat China. Dalam bukunya, The Chinese Dream, Helen Wang menemukan bahwa kalangan kelas menengah China kini banyak yang terobsesi oleh apa yang ia sebut “the Chinese dream” yang menjadi simbolisasi masyarakat mengenai kesuksesan yang ideal: memiliki rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, dan hidup bergelimang harta.

Tak heran jika kelas menengah China sangat American-minded. Ujar Helen Wang, “Many middle class Chinese are influenced by the American way of life. They are bombarded by many material temptations and proliferating choices. TV commercials, the Internet, and Hollywood movies give them a rosy picture of the American middle class.” Sosok-sosok sukses bergelimang harta seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg selalu mengiang-ngiang, menggoda otak dan sanubari mereka.

Peluang ekonomi luar biasa yang muncul akibat era keemasan China menjadikan masyarakat di negeri Panda ini tak mau kehilangan momentum berharga untuk mendongkrak status sosial ekonomi. Mereka yang menjadi profesional bekerja keras hingga larut malam untuk mendapatkan promosi dan kenaikan gaji. Sementara mereka yang membangun usaha berjuang keras untuk mencari peluang-peluang agar bisnisnya mereka maju pesat. Hanya satu “agama” mereka, yaitu: “s-u-k-s-e-s”

Obsesi Kaya Raya
Nah, melihat perkembangan ekonomi Indonesia yang luar biasa sejak 5 tahun terakhir, saya mengamati, The American Dream rupanya tak hanya mempengaruhi China, tapi juga mulai merasuki masyarakat kelas menengah Indonesia. Spirit masyarakat kelas menengah kita untuk berjuang menaikkan status sosial kini sedang hot-hot nya. Mereka berlomba-lomba bekerja keras untuk mewujudkan mimpi mencapai kemapanan ekonomi. Mereka terobsesi untuk mewujudkan “The Indonesian Dream”.

Tak mengherankan jika hasil survei terhadap konsumen kelas menengah yang saya lakukan akhir tahun lalu menghasilkan temuan yang mengkonfirmasi hal ini. Dari delapan segmen konsumen kelas menengah yang saya identifikasi, dua segmen dengan ukuran terbesar yaitu climber (21,5%) dan performer (18%) adalah kelompok masyarakat yang berorientasi menaikan status sosial dan kesuksesan ekonomi. Mereka terobsesi oleh The Indonesian Dream: rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, hidup bergelimang harta.

Komposisi Konsumen Kelas Menengah Indonesia

Saya punya contoh gampang betapa obsesi The Indonesian Dream itu telah merasuki masyarakat kita. Pertama adalah seminar. Coba buka koran, lalu cari apa saja jenis seminar yang sedang hot dan diminati masyarakat? Pasti Anda akan mendapati bahwa yang diminati masyarakat tak jauh-jauh dari seminar motivasi dan workshop yang memberikan trik-trik jitu untuk menjadi kaya-raya. Bisa melalui jual beli saham, investasi emas (ups… banyak yang tertipu!?!), atau tentu yang paling hot adalah melalui jual-beli properti.

Yang paling ideal tentu adalah obsesi menjadi kaya raya diwujudkan melalui kerja keras dan ketekunan. Dan itulah yang juga saya lihat kini terjadi di Indonesia. Setidaknya di Jakarta, coba saja lihat di gerai-gerai Starbucks, McCafe, atau 7-Eleven pada pukul 12 malam atau 1 dini hari. Di situ kita temui gerai tersebut penuh sesak orang-orang yang sibuk bekerja: ada yang bersibuk ria dengan laptopnya, ada yang sedang meeting, atau ada yang mendiskusikan pekerjaan atau bisnis dengan kolega.

Karena itu saya berharap, seperti halnya yang terjadi di Amerika dan China, obsesi The Indonesia Dream ini akan menjadi “lokomotif” dari kemajuan ekonomi Indonesia di tengah momentum revolusi kelas menengah dan bonus demografi beberapa tahun ke depan. Ketika semua orang berpikir untuk melakukan mobilitas sosial untuk menaikan kualitas hidupnya, maka daya kreasi, inovasi, kewirausahaan, dan etos kerja keras akan tumbuh subur di negeri ini. Ketika semua orang di negeri ini optimis dan percaya diri bahwa kehidupan mereka akan lebih baik di masa depan, maka itu merupakan “bahan bakar” yang luar biasa bagi negeri ini untuk menggulirkan ekonomi lebih kencang lagi.

Tapi segala sesuatu selalu ada sisi gelapnya. Barangkali korupsi adalah sisi gelap dari The Indonesia Dream. Terus terang saya curiga, kenapa para koruptor kita selalu punya semangat baja pantang-menyerah untuk mengkorupsi harta negara. Saya juga heran kenapa para koruptor itu tak kunjung punya budaya malu menyunat uang rakyat, padahal sudah puluhan bahkan ratusan koruptor dijebloskan ke penjara dan diekspose di TV besar-besaran.

Kesimpulan sementara saya hanya satu: barangkali budaya malu itu terkalahkan oleh obsesi The Indonesian Dream yang begitu membara di dada para koruptor… obsesi untuk punya rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, hidup bergelimang harta. Uppsss…

June 8, 2013   2 Comments

Property Boom

Akhir tahun 2012 lalu iseng-iseng saya cari ruko untuk keperluan investasi seorang kerabat. Saya temukan lokasi pas di Mal of Indonesia (MOI). Si empunya ruko mematok harga pas Rp.3,5M. Saya coba tanya-tanya ke bank yang mendanai pembelian ruko tersebut berapa sesungguhnya harga pasar dari ruko tersebut. Kaget juga dengan informasi yang diberikan pihak bank, karena persis setahun, Desember 2011 ruko tersebut dilepas dengan harga Rp.1,7M. Itu berarti harga naik sekitar dua kali lipat dalam setahun.

Jengkel dengan harga yang melambung tak keruan, saya coba istirahat berburu. Tapi karena penasaran, iseng-iseng beberapa hari lalu iseng-iseng saya tanya-tanya ke teman-teman agen properti. Saya tambah kaget karena rupanya telah meroket lebih jauh lagi. Kata si teman, mencari ruko di kawasan Kelapa Gading dengan harga di bawah Rp.5M kini kian sulit. Padahal rentang waktu dari saya mengecek harga sebelumnya belum genap enam bulan.

Saya pun mencoba mencari tahu, apakah naiknya harga properti yang melesat cepat ini karena permainan para spekulan. Setelah selidik sana, selidik sini, saya pun berkesimpulan: bukan. Kesimpulan saya adalah, karena permintaan orang terhadap rumah atau ruko di Jakarta memang sedang tinggi-tingginya. Ketika pembeli yakin bahwa harga properti akan terus naik, maka berapapun harga ditawarkan, ia akan tetap membeli. Inilah biang dari meroketnya harga. Saya pun kemudian termagu-magu, dalam hati saya bilang: “Hebat! Banyak betul ya orang kaya di Jakarta!?!?”

Optimis
Harga properti di Jakarta yang melambung demikian fantastis itu adalah cerminan dari ekonomi Indonesia yang sedang ranum-ranumnya, sedang di era keemasan. Inilah dampak revolusi kelas menengah (“Consumer 3000”) yang ditandai dengan meningkatnya daya beli masyarakat seiring meningkatnya pendapatan. Saya sering menyebut bahwa aset-aset properti seperti rumah (landed house), ruko, atau apartemen kini sudah menjadi mass luxury. Maksudnya aset-aset yang dulunya hanya mampu dibeli oleh kalangan masyarakat atas (super kaya), kini sudah terbeli oleh kalangan kelas menengah, apalagi fasilitas kredit juga semakin bersahabat.

Studi kualitatif yang saya lakukan terhadap mindset dan perilaku kelas menengah di Indonesia menunjukkan bahwa mereka adalah kaum optimis yang melihat masa depan mereka begitu terang-benderang. Pandangan optimis ini saya kira tak bisa lepas dari kondisi ekonomi Indonesia yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Apa akibatnya kalau mereka adalah kaum optimis? Yang paling jelas adalah nafsu untuk menaikkan kehidupan ekonomi demikian membara. Tak heran jika segmen kelas menengah yang paling besar ukurannya adalah segmen yang saya beri nama “climber”, yaitu mereka yang sedang berjuang untuk menaikan status ekonomi-sosial menjadi kelompok kaya dan mapan.

Saya menduga, naiknya harga properti yang gila-gilaan di atas terjadi karena pasar dipenuhi oleh kelompok konsumen optimis ini. Dalam ilmu ekonomi properti, mereka ini sering disebut sebagai “the fools” yang berani membeli aset yang kemahalan (overvalued). Harapannya, ia akan bisa menjualnya kepada “the greater fools” pada harga yang lebih tinggi. Mereka melihat kondisi Indonesia yang sedang di masa keemasan ini sebagai peluang “once in a lifetime” yang tidak boleh disia-siakan. Meminjam lagu Elvis Presley, “Now or Never”: nggak beli sekarang, tak akan dapat selama-lamanya. Kalau menggunakan istilah Jawa, kira-kira guyonannya berbunyi seperti ini: “Ayo podo ngedan, yen ora ngedan ora keduman” (ayo pada ikutan gila, kalau nggak nanti nggak kebagian).

Kaya Raya
Maraknya bisnis properti di Indonesia menjadi semacam magnet yang menggaet banyak climbers yang ingin cepat kaya-raya untuk nyemplung di sektor yang sedang merekah ini. Makanya tak heran jika hampir setiap hari di koran saya menemukan iklan seminar dan workshop di Jakarta yang memberikan trik-trik jitu untuk menjadi kaya-raya melalui jual-beli properti. Saya kira salah satu buku yang lagi hot dan laris saat ini adalah buku-buku yang memberikan kiat-kiat cespleng untuk cepat kaya melalui bisnis properti.

Salah satu seminar misalnya, memasang iklan di koran nasional dengan kata-kata yang sangat menggiurkan: “Ikuti strategi membeli properti TANPA UTANG, tanpa takut harga mahal”. Sementara di seminar yang lain bunyinya tak kalah menantang: “Pintu gerbang Anda untuk menjadi KAYA-RAYA melalui bisnis properti.” Fenomena ini kini mulai menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, karena boom properti rupanya tidak hanya monopoli Jakarta.

Memang, bagi kaum climber ini mimpi terbesar dalam hidup adalah menjadi kaya-raya, pensiun dini dengan duit segudang, dan tiap bulan liburan ke seantero jagat.  Jadi kalau di Amerika sejak lama kita mengenal istilah “The American Dream” yaitu mimpi orang jelata Amerika untuk menjadi kaya raya seperti Donald Trump atau Warren Buffet; maka kini di Indonesia pun kita mulai mengenal: “The Indonesian Dream”.

Melihat boom properti yang hot luar biasa ini, yang saya takutkan hanya satu hal: jangan sampai semua ini mengarah pada “property bubble”. Mudah-mudahan pasar properti di Indonesia memang ditopang oleh daya beli masyarakat yang sedang hot karena banyaknya orang kaya baru di negeri ini. Jangan sampai mortgage crash di Amerika atau semacamnya melumat negeri ini. Saya sudah bosen euy kena krisis lagi kayak tahun 1998… :D

April 20, 2013   3 Comments

Long Weekend

Long weekend adalah momen yang super istimewa bagi warga kelas menengah Jakarta (dan tentu juga kota-kota besar lain di seantero Nusantara). Tak heran jika mulai Kamis siang (28/3) kemarin kehebohan mulai terasa. Di mana-mana jalanan Jakarta macet minta ampun. Macet parah mencapai puncak memasuki waktu Magrib dan kian menjadi-jadi hingga tengah malam. Penyebabnya dua hal. Pertama, rombongan keluarga-keluarga yang bersiap liburan ke luar kota baik melalui jalur darat, laut, maupun udara. Kedua, kaum profesional yang berburu tempat hiburan mulai dari mal, kafe, hingga kawasan wisata seperti Ancol atau Kemang.

Yup, akhir minggu ini adalah long weekend karena hari Jumat ada libur Paskah. So, warga kelas menengah Jakarta punya waktu libur tiga hari Jumat, Sabtu, Minggu. Masih kurang puas, banyak dari mereka yang nambah cuti di hari Kamis atau hari Senin minggu depannya: “Yes, it’s a perfect holiday time!”

Intens mengamati tren kelas menengah Jakarta tiga tahun terakhir, saya menangkap pergeseran perilaku bagaimana mereka menyikapi momen istimewa bernama: long weekend. Berikut ini tiga di antaranya.

Balas Dendam
Bagi kelas menengah Jakarta, long weekend merupakan ajang untuk melakukan “balas dendam”. Lho, kok balas dendam? Ya, karena sehari-hari penat bekerja dari pagi hingga larut malam, badan terasa capek luar biasa, otak terasa stres luar biasa. Karena itu mereka memerlukan pelepasan agar badan kembali enteng; agar otak kembali encer. Sehari-hari menjadi “budak pekerjaan”, mereka membutuhkan pelampiasan agar tetap menjadi manusia seimbang; manusia yang penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian. Nah, tenaga dan pikiran yang terkuras selama hari-hari bekerja tersebut harus “dikompensasi” dengan kesenangan di momen-momen yang pas seperti long weekend ini.

Bagaimana cara mereka melakukan balas dendam? Caranya macam-macam. Ada yang melepaskan stress dengan cara berbelanja di mal yang lagi getol sale. Itu sebabnya sepanjang long weekend mal-mal krodit oleh para passionate shoppers. Ada yang melepaskan kesuntukan dengan ngerumpi dan narsis di kafe atau tempat-tempat nongkrong. Itu sebabnya sepanjang long weekend kawasan seperti Kemang selalu penuh oleh mereka-mereka yang haus hiburan. Atau, ada juga yang melepaskan kepenatan dengan makan. Itu sebabnya sepanjang long weekend pusat-pusat kuliner seperti Kelapa Gading atau Kebayoran Baru penuh oleh para food lovers.

Siapa “korban” langsung dari aksi balas dendam ini? Yang jelas adalah isi dompet. Namanya saja balas dendam, biasanya mereka takabur alias kalap dalam urusan berbelanja, berburu hiburan, dan makan: semua dibeli, semua dinikmati, semua dimakan. Urusan tagihan kartu kredit? “Emang gue pikirin… itu mah urusan bulan depan!” Upsss!!!

Temu kangen
Long weekend juga digunakan oleh warga kelas menengah Jakarta untuk acara “temu kangen” dengan suami/istri dan anak-anak. Lho, dengan suami/istri dan anak-anak kok temu kangen? Iya, soalnya pekerjaan-pekerjaan yang menghimpit tiada henti menjadikan si suami jarang ketemu istri; si istri jarang ketemu suami; dan si suami/istri jarang ketemu anak-anak.

Lho, bagaimana mereka bisa jarang ketemu, kan satu rumah? Coba saja lihat, katakanlah si istri bekerja di kawasan Sudirman atau Kuningan. Untuk bisa ngantor pukul 8 pagi, dari rumah ia harus berangkat pukul 6. Lalu pulang kantor sekitar pukul 6 sore, tapi karena jalanan Jakarta macet minta ampun, paling cepat sampai di rumah baru sekitar pukul 8 atau 9 malam. Si suami setali tiga uang, berangkat pukul 6 pagi dan pulang pukul 9 malam. Begitu mereka berdua sampai di rumah, tenaga dan pikiran terkuras habis, ujung-ujungnya mereka langsung tepar di tempat tidur dan rutinitas yang sama berlanjut di hari-hari berikutnya.

Lalu bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak tak kalah sibuk dibanding orang tua. Masuk sekolah jam 7 pagi, jam 5.30 atau 6 harus sudah bergegas dari rumah. Sepulang sekolah sekitar jam 1 siang mereka harus mengikuti segudang les, mulai dari les matematika, les piano, les balet, hingga les cas cis cus bahasa Inggris. Ujung-ujungnya mereka baru bisa pulang ke rumah menjelang Mangrib. Sama persis dengan orang tua, si anak sampai di rumah dalam kondisi tenaga dan pikiran terkuras habis, dan langsung lelap tidur kecapekan.

Banyak ragam cara dilakukan untuk acara temu kangen keluarga. Ada yang jalan-jalan dan makan-makan di mal. Ada yang liburan ke Puncak atau ke Bandung. Atau yang rejekinya lumayan, mereka pergi ke Universal Studio di Singapura atau Disneyland di Hong Kong.

Ekspor Kemacetan
Kelas menengah Jakarta kini umumnya sudah punya mobil. Kehadiran mobil sejuta umat Avanza/Xenia sejak sepuluh tahun lalu menjadikan mobil kini sudah menjadi mass luxury di Jakarta. Membengkaknya jumlah mobil milik kelas menengah inilah yang menjadikan jalanan Jakarta makin hari makin macet.. cet.. cet. Nah, saat long weekend tiba, sekonyong-konyong jalanan-jalanan di Jakarta menjadi lengang penuh kedamaian. Ada apa rupanya?

Tunggu dulu. Ini bukan sulap, bukan sihir. Ini karena warga kelas menengah Jakarta sudah penat dengan hiruk-pikuk Jakarta. Karena itu dengan Avanza kesayangan, mereka mencari tempat-tempat liburan yang membikin pikiran terang-benderang. Kemana tujuan mereka? Tak jauh dari Puncak, Bogor, Bandung; atau kalau mau lebih jauh lagi Yogya, Solo, atau Semarang. Itu sebabnya, seiring dengan lengangnya jalanan Jakarta di saat long weekend, jalanan di kota-kota tersebut sekonyong-konyong macet.. cet..cet.

Itu sababnya, di saat long weekend, kini Jakarta mendapat julukan baru. Apa julukan baru itu? Julukannya: “kota pengekspor kemacetan”… kwkkwwkkwkkk!!!

Happy long weekend :D

March 30, 2013   1 Comment

Orang Beken Baru

Selama ini kita mengenal istilah “orang kaya baru” disingkat OKB. Kini, saya punya “mahluk baru” lain di era Consumer 3000. Mahluk baru tersebut saya beri nama “orang beken baru”, disingkat: OBB.

OKB adalah orang yang sebetulnya belum kaya-kaya amat, tapi sudah merasa kaya. Akibatnya lagak-gayanya sudah kayak orang kaya, bahkan melebihi orang kaya yang beneran.

Misalnya, punya kartu kredit nggak cukup satu, tapi lima atau bahkan sepuluh. Ditaruh berjejal-jejal di dompet agar waktu membayar di mal kartu kreditnya kelihatan semua. Misalnya lagi, punya smartphone nggak cukup satu. Bisa dua, bisa tiga: satu untuk nelpon, satu untuk BBM-an, satu lagi untuk berburu apps.

OBB setali tiga uang. Mereka sebetulnya belum beken-beken amat. Tapi lagak-gayanya sudah kayak orang beken, bahkan melebihi artis dan selebriti kondang. Jaim (“jaga image”) abis. Pokoknya sok beken abiiiissss!!!

Di era “revolusi media sosial”, dimana Twitter, Facebook, atau Youtube memungkinkan seseorang begitu gampang menjadi beken, wabah OBB menjalar begitu cepat layaknya wabah kolera. Di era “revolusi narsis”, dimana siapapun kini punya kesempatan untuk menjadi pusat perhatian dan sorotan khalayak, wabah OBB meluas begitu cepat layaknya wabah flu burung. Ingat, “connected customers create a narcissistic world”.

Dulu, untuk menjadi orang beken jalan yang ditempuh begitu panjang-berliku. SBY misalya, untuk bisa beken seperti sekarang harus berpuluh tahun merintis karir di kemiliteran, mendirikan Partai Demokrat, berjuang memenangkan pemilu, hingga kemudian menjadi presiden. Agnes Monica untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis sejak dini menjadi penyanyi anak-anak, bertransformasi menjadi penyanyi remaja, hingga akhirnya menyandang sebutan sebagai diva pop. Atau, Anas Urbaningrum untuk bisa beken seperti sekarang harus merintis karir politik sejak mahasiswa di HMI, nyemplung di partai Demokrat hingga menduduki posisi puncak, dan akhirnya tersandung kasus Hambalang dan keluar pameo: “Gantung Anas di Monas” yang meroketkan popularitas.

Kini, untuk menjadi beken gampangnya minta ampun. Cukup punya 1000 follower di Twitter, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup punya teman 1000 orang di Facebook, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken. Cukup pasang video di Youtube dilihat 1000 orang, kita sudah memproklamirkan diri sebagai orang beken.

Makanya di ranah Twitter, Facebok, atau Youtube kini penuh berjejal orang-orang yang menganggap dirinya beken. Dan mereka memutar otak melakukan personal branding, social media marketing, Twitter marketing, atau apapun namanya, untuk menjadi kian beken dan menjadi yang terbeken di antara orang-orang beken lain. Di tengah perlombaan orang beken tersebut narsis menjadi panglima: “narsis becomes way of life

Seperti layaknya artis dan seleb kondang, para OBB ini jaim minta ampun. Pas ia sarapan di warteg kolong gang, twit tiarap, diam seribu basa. Tapi giliran ia nongkrong di Starbucks atau Sevel, twit seperti mitraliur memuntahkan peluru memberondong musuh. Ditel-ditel ia ceritakan: mulai dari Iced Caramel Macchiato yang dipesan, cewek yang jadi teman ngobrol, gadget yang dibawa, di samping tentu, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.

Pas nonton plus joget dangdut di hajatan sunatan tetangga twit berhenti berkoar. Tapi giliran nonton Java Jazz di JIExpo Kemayoran twit tak hentinya berkoar-koar. Panggung yang dikunjungi, artis yang ditonton, lagu-lagu yang dimainkan, merchandise yang dibeli, semuanya diobral ke followers. Tentu saja tak ketinggalan, “jepret-jepret-jepret” foto narsis untuk update status.

Tiap kali ada OBB yang obral narsis seperti ini, dalam hati saya selalu bergumam: “Terus gue harus bilang WOW gitu!?!”

Di Twitter dan Facebook, OBB adalah sosok yang baik hati dan tidak sombong. Pokonya mirip sosok “Boy” dalam film “Catatan Si Boy” jaman saya muda dulu. Di Twitter atau Facebook mereka harus tampil all-out sehingga pantas dipuja dan dikagumi oleh followers. Tipenya ada dua. Pertama, ada yang selalu bertutur halus, bijak, suka menasehati, banyak ilmu, menginspirasi, suka mengutip puisi-puisi cinta Khalil Gibran atau Taufik Ismail. Kedua, ada yang slengekan, nyentrik, jahil, usil, sok akrab. Walaupun selintas berbeda, sesungguhnya tujuan mereka sama: membangun citra berkilau yang pantas dikagumi dan digilai followers.

Sosok OBB paling gampang terlihat dari foto profil di Twitter atau Facebook. OBB paling suka gonta-ganti foto profil dan setiap foto tersebut selalu tampil prima. Tak peduli wajah berantakan, dipermak kanan-kiri pakai Photoshop, tampilan wajah pun berubah menjadi kinclong. Jerawat dihilangkan, hidung sedikit dimancungkan, jidat diratakan. Atau kalau wajah sudah terlalu berantakan dan tak tertolong lagi, berbagai efek Photoshop atau Instagram siap memanipulasi: dikaburkan, efek siluet, efek black & white, efek glow, dsb.

OBB juga paling gila sapaan, retweet, atau mention dari para followers atau teman. Sejam saja nggak mendapat sapaan atau mention dari followers atau teman, rasanya dunia mau kiamat. Ya karena itu berarti dia tidak menjadi sorotan, dia tidak sedang menjadi pusat perhatian, ia tidak sedang menjadi bintang.

Anda OBB? Tak usah malu, tak usah takut, tak usah sungkan-sungkan. Anda punya teman. Ya, karena perasaan saya juga mulai kejangkitan wabah OBB, uppss! Ssssst… jangan bilang-bilang!!! :D :D :D

March 9, 2013   7 Comments

Java Jazz, Gamelan, #Stayrelevant

Artis yang paling saya tunggu-tunggu di Java Jazz tahun ini adalah Dave Grusin, Ya, karena ini adalah kali pertama musisi jazz legendaris ini tampil di Java Jazz. Yang belum tahu, Dave (kini berusia 79 tahun) adalah pianis, komposer, produser gaek pendiri GRP record, label yang begitu berpengaruh di jagad jazz tahun 1980-an. Saking spesialnya, Peter Gontha, pendiri Java Jazz, menyempatkan diri menyambut secara khusus sebelum sang maestro tampil Jumat malam (1/3) lalu.

Saat Dave menyapa penonton di awal penampilannya, ia mengungkapkan keheranannya bahwa Indonesia memiliki event jazz yang demikian besar. “Saya kaget luar biasa, begitu banyak musisi jazz dan penonton di sini,” ujarnya. Dave takjub, ternyata ada festival jazz begitu sukses, diselenggarakan oleh negara yang selama ini tak diperhitungkan. Mendengar kekagetan Dave tersebut saya pun bergumam, “Baru tahu dia…” [Read more →]

March 2, 2013   2 Comments

Indonesia Middle-Class Consumer Forum 2013

Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS) yang didukung oleh Inventure dan majalah SWA akan menggelar event: Indonesia Middle-Class Consumer Forum (IMC Forum) 2013: New Consumers, Big Opportunities, di Hotel Gran Melia Jl. Rasuna Said, Jakarta, Rabu, 27 Februari, 2013, pk.13-17. Seminar ini akan ditutup dengan penyerahan penghargaan: Indonesia Middle-Class Brand Champion 2013 kepada merek-merek di 54 kategori produk dari bank hingga FMCG, dari gadget sampai penerbangan.

Dalam forum ini juga akan dipresentasikan executive summary dari: Indonesia Middle-Class Consumer Report 2013, sebuah laporan hasil survei konsumen kelas menengah yang dilakukan di 9 kota utama Indonesia. Laporan berjudul: Uncovering the Aspirations, Values, and Behaviors ini merupakan hasil survei paling mendalam dan paling komprehensif mengenai konsumen kelas menengah di Indonesia.

February 22, 2013   1 Comment

Ikutan Seminar Kelas Menengah Yuk…

Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS) yang didukung oleh Inventure dan majalah SWA akan menggelar event: Indonesia Middle-Class Consumer Forum (IMC Forum) 2013: New Consumers, Big Opportunities, di Hotel Gran Melia Jl. Rasuna Said, Jakarta, Rabu, 27 Februari, 2013, pk.13-17. Seminar ini akan ditutup dengan penyerahan penghargaan: Indonesia Middle-Class Brand Champion 2013 kepada merek-merek di 54 kategori produk dari bank hingga FMCG, dari gadget sampai penerbangan.

Dalam forum ini juga akan dipresentasikan executive summary dari: Indonesia Middle-Class Consumer Report 2013, sebuah laporan hasil survei konsumen kelas menengah yang dilakukan di 9 kota utama Indonesia. Laporan berjudul: Uncovering the Aspirations, Values, and Behaviors ini merupakan hasil survei paling mendalam dan paling komprehensif mengenai konsumen kelas menengah di Indonesia.

Temen-temen, karena rupanya banyak banget temen-temen yang berminat, saya punya 5 tiket lagi untuk mengikuti event luar biasa ini. Temen-temen yang berminat ikutan, silahkan mention via Twitter saya @yuswohady atau respon melalui blog saya ini. Cepetan ya… soalnya event-nya tinggal besok.

CU @ Grand Melia… :)

February 22, 2013   12 Comments

Local Challenger

Hari Jumat lalu (11/1) saya ketemu dan ngobrol gayeng dengan mbak Petty Fatimah, pemimpin redaksi majalah Femina di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta. Banyak hal kita obrolkan, namun yang menarik adalah ngobrolin bagaimana Femina bertransformasi dan membangun strategi untuk merespons dua biggest challenges yang dihadapinya.

Pertama adalah serangan bertubi-tubi dari pesaing global yang sejak beberapa tahun terakhir tiba-tiba begitu agresif menyerbu Tanah Air. Seperti kita tahu, 5-10 tahun terakhir majalah-majalah wanita global seperti koor tiba-tiba berebutan masuk ke Indonesia dengan menawarkan konten bernuansa global woman lifestyle. Kedua, serangan “tsunami digital” yang secara disruptive menyapu seluruh print media tanpa pandang bulu. Terakhir kita mendengar kabar mengejutkan, Newsweek yang sudah beredar 80 tahun akhirnya keok juga. [Read more →]

January 12, 2013   1 Comment

Tiga Sosok #e3000

Consumer 3000 (#c3000) adalah sebutan saya untuk konsumen kelas menengah Indonesia, sementara entrepreneur 3000 (#e3000) adalah sebutan saya untuk wirausahawan kita yang berasal dari kalangan kelas menengah. Kenapa entrepreneur 3000? Ya, karena pertumbuhan kelas menengah yang luar biasa di Indonesia (jumlahnya mencapai 8-9 juta kelas menengah baru per tahun) berpotensi memicu gelombang tumbuhnya wirausaha yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, kelas menengah merupakan sumber potensial bagi terbentuknya kelompok wirausahawan (pool of entrepreneurs) yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Pertama, karena kelas menengah merupakan kelompok masyarakat yang berpengetahuan (kowledgeable) dan punya potensi inovasi dan kreativitas amat tinggi (Richard Florida menyebutnya “creative class”). Kedua, mereka memiliki kemampuan pemupukan modal yang baik karena memiliki cukup duit menganggur (discretionary income). Ketiga, mereka juga kelompok masyarakat yang paling melek teknologi, terutama ICT (information & telecommunication technology). [Read more →]

January 5, 2013   8 Comments

Merayakan Tahun Baru

Dulu waktu saya masih tinggal di kampung, tahun baru adalah hal biasa. Pergantian tahun lewat begitu saja tanpa kembang api memecah-mecah langit, tanpa perayaan glamor di mal-mal, tanpa selebrasi di kafe-kafe atau hotel-hotel berbintang, tanpa konser musik semalaman, tanpa ada “hitung mundur” yang mendebarkan.

Dulu pergantian tahun meluncur mulus dengan kekhusukan, kesederhanaan, dan refleksi penuh makna. Kini tahun baru begitu bersinar, begitu penuh dengan perayaan, begitu penuh dengan glamor dan kehedonisan. Dulu penuh kekhidmatan, kini penuh dengan hingar-bingar. Dulu penuh kepolosan, kini penuh dengan kosmetik.

Wajar saja, karena dulu waktu di kampung saya masih pusing tujuh keliling bergumul dengan urusan perut. Kini, ketika urusan perut sudah terlewati, kebutuhan dan tuntutan kita akan tahun baru menjadi kian sophisticated. Tahun baru yang dulu kita lewati dengan begitu enteng dan sederhana sekarang menjadi begitu kompleks dan neko-neko.

Bagaimana kita semua kini merayakan tahun baru? Saya akan mencoba memberikan laporan pandangan mata langsung dari TeeKaaaPeeee…!!! [Read more →]

December 30, 2012   12 Comments