E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Yuswohady Book Club

Best Business Book 2016 – My Picks

Saya suka membaca. Hampir setiap minggu saya membeli buku, baik di toko buku atau saat perjalanan di bandara. Selama seminggu ini saya menginventarisir buku-buku yang telah saya baca selama tahun 2016. Dan akhirnya saya mendapatkan 10 buku yang saya nilai paling bagus. Saya yakin buku-buku ini akan menjadi bekal berharga bagi Anda dalam memasuki tahun 2017. Berikut ini ringkasannya.

#1. Thank You for Being Late: “An Optimist’s Guide to Thriving in the Age of Acceleration,” Thomas Friedman

thank-you-for-being-late-book

Tom Friedman memang maestro ketika menjelaskan fenomena perubahan perdaban manusia. Awalnya ia berpikir bahwa The World Is Flat (2005) adalah “akhir” dari sejarah. Namun rupanya ia keliru. Ia menengarai tahun 2007 justru sedang dimulai sebuah pergeseran raksasa, inflection point, yang memicu percepatan kemajuan peradaban manusia. Tahun 2007 (merupakan tahun ditemukannya: iPhone, Android, Kindle, Hadoop, AirBnB, dan komputer super cerdas Watson milik IBM), merupakan titik mula umat manusia memasuki apa yang disebutnya The Age of Acceleration. Ada tiga kekuatan yang membentuknya, yaitu: Moore’s Law (Technology), globalisasi (Market), dan pemanasan global (Mother Nature). Kombinasi percepatan ketiganya membawa dua skenario: kemajuan luar biasa peradaban manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya; atau kerusakan dahsyat yang memusnakan keberadaan manusia di muka bumi. Merupakan buku paling ambisius Tom Friedman yang harus dipahami setiap pemimpin bisnis.

#2. Pre-Suasion: A Revolutionary Way to Influence and Persuade,” Robert Cialdini

pre-suasion-book

Dalam buku klasik sales/pemasaran Influence (1984), Cialdini memberikan 6 panduan ampuh untuk mempersuasi konsumen. Buku ini telah menjadi referensi tak tertandingi bagi para pemasar di lima benua. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, Cialdini hadir kembali dengan proposisi baru: bahwa saat-saat sebelum melakukan penjualan adalah momen sangat penting dalam mempersuasi konsumen. Ia menyebutnya pre-suasion. Melalui buku ini Cialdini menekankan pentingnya pemasar mengidentifikasi hal-hal kunci yang harus dilakukan sebelum mengirim pesan-pesan penjualan ke konsumen. Persis seperti kata Sun Tzu: “every battle is won before it is fought.”

#3. Original: “How Non-Conformists Move the World,” Adam Grant

original-book

Ini adalah buku mengenai orisinalitas. Bagaimana menciptakan sebuah ide, konsep, produk, atau layanan yang sama sekali baru, fresh, keluar dari kerumunan, nyleneh, mungkin menentang arus, tapi menciptakan nilai yang jauh lebih baik. Melalui risetnya yang mendalam Adam Grant menelusuri proses bagaimana melahirkan sesuatu yang orisinil seperti yang dihasilkan sosok-sosok hebat seperti Jobs-Wosniak, Page-Bryn, Einstein, Michelangelo, Leonardo da Vinci, hingga Coppernicus.

#4. The Inevitable: “Understanding the 12 Technological Forces that Will Shape Our Future,” Kevin Kelly

the-inevitable-book

Sebagai technology futurist dan pendiri majalah bergengsi Wired, Kevin Kelly memprediksi ada 12 kekuatan teknologi yang akan mewarnai kehidupan umat manusia selama 30 tahun ke depan. Bagi Kelly perubahan teknologi bukanlah bersifat statis, tapi merupakan sebuah proses yang terus-menerus (continuous actions). Karena itu ia menyebut perubahan teknologi di dalam buku ini bukan sebagai “kata benda”, tapi “kata kerja” seperti: accessing, tracking, atau sharing.

#5. Small Data: The Tiny Clues That Uncover Huge Trends,” Martin Lindstrom

small-data-book

Saat ini kita silau oleh jargon baru big data, revolusi teknologi informasi yang diramalkan akan mengubah 180 derajat seluruh bidang kehidupan kita, termasuk bidang pemasaran. Namun melalui buku ini Martin Lindstrom punya perspektif lain. “Big data doesn’t spark insight,” ujarnya. Sebuah detail kecil data (yes, small data) mengenai perilaku konsumen, seperti gesture konsumen, mungkin bisa menjadi insight berharga untuk mengungkap aspirasi dan latent needs mereka. Insight kecil ini merupakan clue yang mampu melahirkan breakthrough product seperti iPhone atau AirBnB. Dan ini tak mampu dilakukan oleh big data.

#6. Sprint: “How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days,” Jake Knapp, John Zeratsky, Braden Kowitz

sprint-book

Metode super cepat, hanya 5 hari, untuk menghasilkan inovasi (mulai dari menemukan ide, testing, prototyping, hingga keputusan) yang telah sukses dijalankan di Google diceritakan begitu renyah oleh buku ini. Dengan metode Sprint, Google berhasil meluncurkan produk-produk hebat seperti: Chrome, Google Search, Gmail, Google Hangout, hingga Google X. Wajib dibaca oleh para entrepreneur di perusahaan start-up maupun profesional pengembangan produk di perusahaan besar.

 
#7. Platform Revolution: “How Networked Markets Are Transforming the Economy and How to Make Them Work for You,” Geoffrey Parker, Marshall Van Alstyne, Sangeet Paul Choudary

platform-revolution-book

Perusahaan seperti Gojeg, Uber, Airbnb, eBay, Google, Apple, atau PayPal muncul mendisrupsi industri dan kemudian merajai pasar dalam dalam waktu yang sangat singkat. Mereka lahir melalui sebuah platform (two-sided markets) yang merevolusi model bisnis konvensional. Buku ini memberikan panduan bagaimana menyukseskan bisnis berbasis platform. Inilah buku yang paling autoritatif dan paling komprehensif menjelaskan fenomena revolusi bisnis berbasis platform.

#8. Grit: “The Power of Passion and Perseverence,” Angela Duckworth

 grit-book

Sukses, menurut buku ini tidak ditentukan oleh bakat atau kejeniusan, tapi terutama oleh paduan unik antara passion (semangat membara) dan perseverence (daya tahan yang luar biasa). Paduan itu oleh Angela Duckworth disebut Grit yang menjadi judul buku ini. Melalui 8 bab buku ini secara khusus Angela berbagi strategi mengenai bagaimana membangun Grit dalam diri kita.

#9. Deep Work: “Rules for Focused Success in a Distracted World,” Cal Newport

deep-work-book

Di era distracted world saat ini dimana kiriman email, status media sosial, atau pesan WA begitu intens membuyarkan konsentrasi kita, fokus menjadi barang berharga yang sangat menentukan kesuksesan kita. Buku ini memberikan 4 hukum sebagai panduan untuk menjalankan setiap pekerjaan kita dengan konsentrasi penuh (deep work) dan menghasilkan kinerja yang luar biasa.

#10. How to Have a Good Day: “Harness the Power of Behavioral Science to Transform Your Working Life,” Caroline Webb

how-to-have-a-good-day

Caroline Web, mantan partner di McKinsey, menunjukkan kepada kita beberapa temuan terbaru di bidang ekonomi perilaku, psikologi, dan neurosains, dan menggunakan prinsip-prinsipnya untuk memperbaiki kehidupan profesional dan karir kita. Buku ini mencoba mengaplikasikan behavioral sciences untuk menetapkan prioritas, meningkatkan produktivitas, membangun hubungan, mempertahankan daya tahan, hingga menciptakan energi untuk kesuksesan karir kita.

Selamat Tahun Baru 2017.

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

Best Business Book 2013

Best Business Book 2012

December 24, 2016   No Comments

Best Business Book 2015 – My Picks

Memasuki pergantian tahun, menjadi rutinitas saya untuk menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2015 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah sepuluh buku terbitan 2015 pilihan saya, semoga bisa menjadi referensi dan inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. The Rise of Robots: “Technology and the Threat of a Jobless Future”, Martin Ford

The Rise of Robot

Di era big data dan algoritma, artificial intelligence menjadi kian cerdas. Memang teknologi paling cool ini membuat hidup kita kian mudah, namun ia juga membawa bencana karena membuat begitu banyak pekerjaan menjadi obsolet karena telah diotomasi. Pertanyaannya, bagaimana nasib kita-kita yang tak cukup cerdas untuk bisa survive di tengah pergeseran dari ekonomi berbasis tenaga kerja manusia ke algoritma dan komputasi? Buku ini memberikan tinjauan kritis mengenai bagaimana jika sopir, pekerja pabrik, lawyer, dokter, guru, bahkan programer tergantikan oleh mesin dan robot cerdas.

2. Misbehaving: “The Making of Behavioral Economics”, Richard Thaler

Misbehaving

Sebuah buku yang begitu renyah menelusuri perjalanan teori baru ekonomi yang kini populer disebut behavioral economics. Teori ini menumbangkan teori ekonomi lama yang telah berusia 200 tahun lebih. Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human).

3. Creative Schools: “Revolutionizing Education from the Ground Up”, Ken Robinson

Creative Schools - Book Cover

Sebuah kritik menohok terhadap sistem pendidikan kita yang sudah terlanjur dikooptasi mesin besar industrialisasi. Tak sekedar mengkritik, buku ini mengajukan model pendidikan alternatif yang lebih holistik, humanis, dan kreatif. Ken Robinson si penulis, menyarankan kita semua untuk back to basic dengan membawa pendidikan pada tujuan hakikinya dalam mentransformasi anak didik menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan.

4. Rising Strong: “The Reckoning, the Rumble, the Revolution”, Brene Brown

Rising Strong

Buku ini tentang keberanian, kegalauan, dan keteguhan menghadapi berbagai tantangan bisnis dan hidup. Penulis mengingatkan bahwa menemukan kembali pijakan di tengah keterpurukan adalah saat dimana keberanian kita diuji dan nilai-nilai kita ditempa. Menjadi semakin kuat di tengah cobaan yang pelik adalah sebuah proses yang menunjukkan kepada kita, siapa kita sesungguhnya. Bacaan wajib bagi entrepreneur yang ingin tetap tabah dan kuat di belantara cobaan kegagalan bisnis.

5. The Achievement Habit: “Stop Wishing, Start Doing, and Take Command of Your Life”, Bernard Roth

Achievement Habit

Pendiri d.School, Universitas Stanford ini berbagi strategi bagaimana menggunakan design thinking untuk mencapai tujuan-tujuan yang secara konvensional tak bisa diwujudkan. Menurutnya, capaian fenomenal bisa dipelajari dan seperti layaknya bisep, bisa dilatih guna mencapai tujuan-tujuan luar biasa. Dengan menggabungkan design thinking, problem solving, dan kreativitas yang selama beberapa dekade diajarkan di Stanford, buku ini membantu kita membangun perilaku pencapaian yang menjadi modal kita mewujudkan mimpi-mimpi besar.

6. Big Magic: “Creative Living Beyond Fear”, Elizabeth Gilbert

Bi Magic

Penulis novel laris “Eat, Pray, and Love”, di sini tidak sedang mengumbar imaginasi fiksinya, tapi runtut bercerita mengenai proses kreatif di balik penulisan novel-novel indahnya. Melalui buku ini ia mengajak kita mengambil apa-apa yang paling kita cintai, dan mengenyahkan apa-apa yang paling menakutkan dalam hidup kita. Ia membahas sikap, pendekatan, dan kebiasaan yang harus kita tempa untuk mengembangkan kehidupan paling kreatif kita. Bagi kalangan bisnis ini menawarkan perspektif unik mengenai bagaimana menjadi sosok kreatif.

7. Altruism: “The Power of Compassion to Change Yourself and the World”, Matthieu Ricard

Altruism

Buku ini bisa menjadi semacam ensiklopedia mengenai altruisme (perhatian terhadap kesejahteraan dan kebaikan orang lain) yang menyajikan pengalaman personal penulis, insights, dan telusuran literatur ilmiah mengenai topik yang kini naik daun ini. Penulis berargumen bahwa altruisme merupakan jawaban bagi tantangan utama dunia saat ini mulai dari kesenjangan ekonomi, kepuasan hidup, dan kesinambungan lingkungan.

8. Mindful Work: “How Meditation Is Changing Business from the Inside Out”, David Gelles

Mindful Work

Tak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia kejeniusan Steve Jobs adalah mindfulness. Ya, karena Steve adalah pemimpin bisnis menjalani laku meditasi yang menjadikannya efektif dan fokus dalam mengolah ide, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas kepemimpinannya. Mindful Work adalah buku pertama yang secara sistematis menjelaskan peran krusial praktek mindfulness seperti meditasi atau yoga dalam mendongkrak kinerja perusahaan. Beberapa alasannya, karena praktek mindfulness mengurangi stress, meningkatkan fokus mental, dan mengurangi depresi di kalangan karyawan.

9. Cool: “How the Brain’s Hidden Quest for Cool Drives Our Economy and Shapes Our World”, Steven Quartz & Anette Asp

Cool

Saat ini kita hidup di era konsumsi berlebihan (conspicuous consumption) dimana baju yang kita pakai, makanan yang kita santap, atau mobil yang kita kendarai tak melulu untuk memenuhi kebutuhan kita, namun juga sumber identitas, aspirasi, dan nilai-nilai yang kita pegang. Penulis menyajikan temuan ilmiah terbaru di bidang neuroscience, ekonomi, dan evolusi biologi untuk menguak apa dan bagaimana kita mengonsumsi brand.

10. Elon Musk: “Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future”, Ashlee Vance

Elon Musk

Kisah entrepreneur di balik sukses PayPal, Tesla, SpaceX, dan SolarCity ini selalu menarik dan inspiratif. Penulis memotret sisi-sisi menarik dari entrepreneur paling brilian, paling visioner, dan paling ambisius di Sillicon Valley saat ini. Ia melihat kepribadian unik, drive-nya yang luar biasa, hingga ketajaman dalam menerawang arah bisnis masa depan. Sebagai entrepreneur Anda harus belajar dari Musk mengenai satu hal ini: ketika entrepreneur pada umumnya menempuh cara gampang mencari uang dengan memasuki bisnis-bisnis konvensional, Musk justru mencari cara sulit dengan masuk ke bisnis-bisnis yang belum dirambah entrepreneur manapun seperti mobil listrik, energi surya, hingga penjelajahan ruang angkasa.

December 28, 2015   1 Comment

Best Business Book 2014: My Picks

Memasuki tahun 2015, ada baiknya jika kita menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2014 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah buku-buku pilihan saya di tahun 2014, semoga bisa menjadi inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. Zero to One: Notes on Startups or How to Build the Future, by Peter Thiel, Blake Master (September, 2014)

See the Book: Zero to One, Peter Thiel

“The next Bill Gates will not build an operating system. The next Larry Page and Sergey Brin won’t make a search engine. The next Mark Zuckerber won’t create a social network.” ujar Peter Tiel, pendiri Paypal dan sang penulis, mengawali buku ini. Lanjutnya, jika Anda meniru Gates atau Zuckerberg, maka Anda tak akan belajar dari mereka. Anda tak akan mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa jika hanya menyempurnakan sesuatu yang sudah ada. Anda akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa hanya jika menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, aneh, dan fresh. Yang pertama membawa dunia “dari 1 ke n”, sementara yang kedua “dari 0 ke 1”. Sari pati wisdom dari legendary venture capitalist yang ikut membidani PayPal, Facebook, LinkedIn, dan Airbnb. A great book on inventing the next big things.

2. The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies, by Erik Brynjolfsson, Andrew McAfee (Januari, 2014)

The Second Machine Age - Cover 2

Kalau “first machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan fisik/manual manusia (mesin uap, mobil, pabrik), maka “second machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan pengetahuan (knowledge works) dengan memanfaatkan big data, algoritma, predictive analytic, machine learning, atau internet of things. Tak pelak lagi teknologi digital menjadi dusruptive technology yang akan memorak-porandakan lanskap bisnis baru yang menghasilkan produk, layanan, pekerjaan, dan ekonomi baru yang tak terbayangkan saat ini. Era “second machine age” itu kini sedang berjalan. Dan, dua profesor dari Center for Digital Business MIT ini mencoba mengidentifikasi strategi terbaik untuk bisa survive di era baru tersebut.

3. Hooked: How to Build Habit-Forming Products, by Nir Eyal (November, 2014)

Hooked - Cover

Lupakan ATL (above the line). Lupakan BTL (below the line). Lupakan kampanye media sosial. Yang sesungguhnya kita butuhkan bukanlah promosi, tapi produk yang menjadikan konsumen keranjingan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi. Lihat bagaimana Facebook menjadikan kita keranjingan meng-update status. Lihat bagaimana Instagram menjadikan kita begitu ketagihan meng-upload foto. Atau 7-Eleven menjadikan para ABG demen nongkrong dan kopdar di akhir pekan. Buku ini memberikan insight luar biasa bagi entrepreneur, product manager, designer, marketer, start-up founder, atau siapapun yang ingin menciptkan produk yang membentuk kebiasaan konsumen (habit-forming product). Dengan The Hook Model yang dikembangkan penulis, kita bisa memahami dengan lebih baik bagaiamana kebiasaan konsumen itu terbentuk dan bagaiamana marketer harus menyikapinya.

4. Thrive: The Third Metric to Redefining Success and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder, by Arianna Huffington (Maret, 2014)

Thrive - Cover

Sebuah refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran setelah sang penulis, Arianna Huffington, pendiri koran online paling berpengaruh di Amerika saat ini, bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan palsu. Berkaca dari pegaalaman personal tersebut, ia merumuskan ukuran kesuksesan baru (the third metric) yaitu: kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini sukses haruslah berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive).

5. The Promise of a Pencil: How an Ordinary Person Can Create Extraordinary Change, by Adam Braun (Maret 2014)

The Promise of a Pencil - Cover

Sebuah kisah heroik dari anak muda hebat, Adam Braun si penulis, dalam menemukan panggilan hidup membangun ratusan sekolah untuk kaum papa di seluruh dunia dengan hanya bermodal awal $25. Semuanya berawal saat ia berlibur ke India dan mendapati seorang anak jalanan miskin. Ketika ditanya apa keinginan terbesarnya, jawaban si anak singkat: sebatang pensil untuk menulis. Jawaban si anak membawa kegundahan dalam hati Adam. Kegundahan ini mendorongnya keluar dari pekerjaan mapan di sebuah consulting firm di New York dan kemudian mendirikan Pencil of Promise, sebuah LSM yang bermimpi besar memerangi kebodohan melalui pendidikan untuk kaum papa. Sebuah cerita inspiratif mengenai kewirausahaan sosial yang mengubah dunia.

6. Creativity, Inc: Overcoming the Unseen Forces that Stand in the Way of True Inspiration, by Ed Catmull, Amy Wallace (April, 2014)

Creativity Inc - Cover

Selama hampir dua dekade Pixar telah mendominasi jagat film animasi dengan menelorkan blockbusters seperti: Toy Story, Finding Nemo, hingga The Incredibles. Tak hanya sukses komersial, Pixar juga piawai mencipta karya-karya artistik hingga diganjar 27 piala Oscar. Di balik kerja besar Pixar tersimpan harta karun berupa pembelajaran-pembelajaran luar biasa mengenai bagaimana seharusnya organisasi mengelola proses, budaya perusahaan, talenta, dan iklim yang kondusif untuk memompa kreativitas. Di tulis langsung oleh sang pendiri, buku ini mencoba menguak harta karun tak ternilai tersebut.

7. How Google Works, by Eric Schmidt, Jonathan Rosenberg (September, 2014)

How Google Works - Cover

Buku ini menelusuri perjalanan bisnis Google, perusahaan paling sukses abad ini, di masa-masa keemasannya (2001-2011) di bawah sang Nakhoda, Eric Schmidt. Kunci sukses Google menurut penulis ditentukan oleh kepiawaian menghasilkan inovasi-inovasi produk yang luar biasa dan kemampuan menarik talenta-talenta mumpuni, yang di Google di sebut: Smart Creatives. Buku ini menjadi istimewa karena ditulis sendiri oleh sang Nakhoda, Eric Schmidt bersama Senior Vice President (SVP) Produk (sekarang advisor Google). Di tangan mereka Google menghasilkan produk-produk luar biasa seperti: AdSense, AdWords, Gmail, Drive, Docs, Maps, Google+, Chrome, hingga Android dan akuisisi YouTube.

8. The Gen Z Effect: The Six Forces Shaping the Future Business, by Tom Koulopoulos, Dan Keldsen (November, 2014)

The Gen Z Effect - Cover

Salah satu perubahan besar (disruption) dalam bisnis dan sosial-ekonomi adalah munculnya generasi pasca Millenial (Gen Y) yang kini sering disebut sebagai: Gen Z. Generasi yang lahir antara 1995 hingga 2015 ini adalah generasi yang paling socially-connected dalam sejarah umat manusia. Buku ini mengidentifikasi enam kekuatan yang akan memicu disruptive changes yang akan membentuk masa depan bisnis Anda. Pemahaman terhadap keenam kekuatan itu akan menentukan apakah Anda menjadi pemenang atau pecundang di era Gen Z.

9. Show Your Work: 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered, by Austin Kleon (Maret, 2014)

Show Your Work - Cover

“Crafting something is a long, uncertain process. A maker should show her work,” demikian Austin Kleon, penulis buku ini, mengawali buku ini dengan kalimat yang sekaligus merangkum ide dasar buku. Buku ini mendobrak mitos bahwa karya hebat haruslah diciptakan oleh seorang jenius yang bekerja sendirian (lone genius). Di era connected world, karya-karya kreatif yang mengubah dunia haruslah diciptakan secara berjamaah. Kita harus bergabung dalam apa yang disebut Kleon, “new ecology of talent”. Kata Kleon: “It is about getting found by being findable. It is about being a connector, a teacher, and an open node. You have to be an artist that other artists will steal from.”

10. The Art of Thinking Clearly, by Rolf Dobelli (Mei, 2014)

The Art of Thinking Clearly - Cover

Buku ini secara menarik mengumpulkan 99 jenis bias pikiran (cognitive bias) yang menjadikan kita blunder dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Ambil contoh Anda berlibur ke luar kota dan Anda tak tahu mana restoran yang enak. Maka yang Anda lakukan adalah mencari restoran yang terlihat pengunjungnya ramai. Apakah restoran itu benar enak? Belum tentu. Itulah salah satu cognitive bias yang disebut “social proof” (Bab 4). Selesai membaca 99 bab buku ini kita akan menyadari bahwa manusia adalah mahluk lemah yang tak berdaya melawan blunder pikiran.

11. Think Like a Freak: The Authors of Freakonomics Offer to Retrain Your Brain, by Steven Levitt, Stephen Dubner (Mei, 2014)

Think Like  Ffreak - Cover

Sekuel dari Freakonomics dan Superfreakonomics, buku ini mengeksplorasi lebih jauh dua buku bestseller sebelumnya dengan memberikan resep-resep memecahkan masalah dengan pendekatan yang tak biasa. Levitt-Dubner mengajak kita melihat dan memecahkan masalah dengan pendekatan yang seringkali menyimpang dari conventional wisdom. Dengan analisis ekonomi yang kreatif Levitt-Dubner melihat dunia dari kaca mata yang berbeda dari kebanyakan kita. Melalui buku ini mereka berbagi resep bagaimana kita bisa berpikir beda: think like a freak.

Selamat Tahun Baru 2015.

 

See: Best Business Book 2013

See: Best Business Book 2012

January 1, 2015   1 Comment

Meredefinisi Ukuran Sukses

Beberapa bulan lalu, aktor hebat peraih Oscar, Robin Williams, dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Seluruh dunia terenyak, tak habis pikir bagaimana seseorang yang begitu sukses, bergelimang harta, dan bertabur ketenaran justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu hina dan konyol. Mengenai sebab kematian, sang istri mengatakan, beberapa waktu terakhir sebelum meninggal, sang aktor menghadapi masalah depresi, kecemasan akut, kesulitan tidur, hingga keluhan penyakit parkinson.

Kematian Williams adalah tragedi kemanusiaan di dalam dunia, ketika materialisme menjadi panglima, ketika kekayaan, jabatan, dan ketenaran menjadi dewa yang diagung-agungkan. Dalam dunia picik macam ini, kekuasaan dan uang harus dikejar hingga ke ujung dunia secara membabibuta, at all cost. Untuk menggapai semua itu, dimensi-dimensi lain kemanusiaan kita cenderung terabaikan. Akibatnya, keletihan karena kerja berlebih, stres, dan depresi menjadi penyakit sosial yang kian meradang. Celakanya lagi, kondisi menghimpit itu menjadi sumber bagi beragam penyakit dari diabetes, kanker, hingga parkinson.

Karena kenyataan mengenaskan itu, kini kesuksesan harus diredefinisi secara fundamental agar tidak melenceng lebih jauh. Sukses tak melulu menyangkut gelimang kekayaan, tak sebatas jabatan atau gemerlap ketenaran. Sukses adalah penghargaan terhadap kemanusiaan kita secara utuh, tanpa disunat sana-sini. Di sinilah diperlukan “ukuran ketiga” (third metric) untuk mendefinisikan ulang hakiki kesuksesan. Diperlukan kriteria ketiga karena dua kriteria sebelumnya, yaitu kekayaan (money) dan kekuasaan (power) sudah tidak memadai lagi.

Ukuran ketiga

Dalam Thrive, Arianna Huffington, pendiri koran daring (online) paling berpengaruh di Amerika saat ini, merumuskan ukuran kesuksesan ketiga tersebut mencakup empat elemen, yaitu kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini, sukses harus berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive). “How we measure success is changing,” ujarnya.

Bagi Arianna, buku ini sangat emosional karena merupakan refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran. Buku ini tercipta setelah ia bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan material, yaitu kekayaan dan kekuasaan. Untuk mewujudkan Huffington Post, ia superstres dan supersibuk bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Hasilnya, awal April 2007, ia kolaps jatuh tak sadarkan diri, bersimbah darah, nyaris menyongsong ajal karena terlalu lelah bekerja.

Menurut ukuran konvensional, Arianna telah mencapai puncak sukses. Berkat sukses Huffington Post, ia masuk jajaran orang terkaya di Amerika. Namanya masuk dalam World’s 100 Most Influential People-nya majalah Time. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah terkemuka dunia. Kurang apa? Namun, di tengah puncak kesuksesan tersebut, justru muncul pertanyaan eksistensial dari lubuk hatinya yang terdalam, “Seperti inikah kesuksesan yang saya cari, seperti inikah hidup yang saya dambakan?

Ukuran ketiga mendesak dimasukkan dalam kriteria sukses agar kita tak terperosok lebih jauh menjadi “robot pengumpul uang” atau “mesin penimbun kekuasaan”, atau bahkan “monster pemburu ketenaran”. Sukses bukanlah to take you at the top of the world, melainkan to change the world. Sukses haruslah sarat dengan kerendahan hati, kontribusi kepada umat manusia, kekayaan nurani, kearifan budi, dan hidup yang penuh makna.

“How Will You Measure Your Life”

Dalam ungkapan yang berbeda, Prof Clayton Christensen, pencipta teori inovasi (disruptive innovation) dan penulis buku fenomenal The Innovator’s Dilemma, menempatkan ukuran sukses dalam posisi penting sebagai titik simpul dari keseluruhan perjalanan hidup untuk mencapai kebahagiaan. Dalam buku barunya, How Will You Measure Your Life?, profesor di sekolah bisnis Harvard ini menekankan, ukuran sukses merupakan kompas yang akan menuntun arah kehidupan kita. How will you measure your life, ujarnya, adalah pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum kita menentukan arah kemudi kehidupan dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip scientific management yang menjadi bidang keahliannya, Clayton berargumen bahwa ukuran sukses dalam meniti karier, membina keluarga, dan membangun relasi dengan orang lain merupakan batu pijakan dalam mengalokasikan waktu, tenaga, talenta, dan uang yang kita punya untuk mewujudkan kebahagiaan hidup. Selama tak mampu merumuskan ukuran sukses hidup, maka selama itu pula kita tak akan mampu mengisi hidup dengan hal-hal bermakna yang memperkaya jiwa dan nurani.

Buku ini memiliki perspektif unik, berbeda sama sekali dengan kebanyakan buku mengenai inspirasi sukses lain, karena menggunakan teori-teori manajemen perusahaan sebagai tools dalam memandu kita melakukan pilihan-pilihan hidup yang tepat guna mencapai kehidupan yang bermakna. “Good theory help people steer to good decisions, not just in business, but in life, too,” ujar Clayton. Dengan bekal teori tersebut, buku ini memberikan arahan how to mengenai bagaimana kita menyusun visi dan tujuan hidup, menemukan passiondalamkarier,melakukan alokasi sumber daya (waktu, tenaga, pikiran, kekayaan, talenta), menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan, hingga membesarkan anak. Yang menarik, dalam menjelaskan teorinya, Prof Clayton menggunakan contoh-contoh kasus perusahaan seperti Honda, Dell, dan IKEA.

Wong urip iku mung mampir ngombe (orang hidup itu sekadar istirahat sejenak untuk mampir minum), begitu kata ungkapan bijak orang Jawa. Hidup itu hanya sebentar, maka kita harus mengisinya dengan hal-hal penuh makna. Kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki jika bisa menemukan makna di setiap detik hidup. Persis seperti kata Prof Clayton, untuk mewujudkannya, kita harus bisa menjawab pertanyaan how will you measure your life.

***

Titik Balik

Dua buku ini memiliki kemiripan substansi dan latar belakang penciptaan walaupun penulisnya tidak pernah janjian. Dua buku ini lahir sebagai refleksi personal penulisnya setelah mereka mengalami titik balik kehidupan. Arianna menulis Thrive setelah kolaps hampir menjemput ajal akibat kelelahan bekerja, sementara Prof Clayton menulis How Will You Measure Your Life setelah teridentifikasi mengidap follicular lymphoma (penyakit kanker yang telah menewaskan ayahnya) dan terkena stroke pada 2010.

Ketika berada di puncak sukses, Arianna sebagai pengusaha/jurnalis dan Clayton sebagai ilmuwan, mereka justru mengalami cobaan hidup begitu berat hingga terpuruk di titik terbawah. Di tengah kegalauan di titik nol, mereka melakukan perenungan mengenai hakikat sukses kehidupan dan menemukan bahwa sukses yang diraup selama ini semu belaka. Becermin pada pengalaman personal itu, mereka mencoba merumuskan jalan sukses yang lebih arif dan manusiawi.

Ide besar yang ingin disampaikan kedua penulis ini sama, yaitu bagaimana menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dengan mengisinya dengan hal-hal bermakna. Becermin pada pengalaman personalnya, Arianna akhirnya menyadari bahwa uang dan jabatan ternyata bukanlah jawaban paripurna. Ada hal lain yang juga mendesak untuk digapai di tengah ajal yang selalu sigap mengintai, seperti kesehatan raga tak terjangkit beragam penyakit, ketenangan jiwa tak tertawan oleh stres karena bekerja, atau kearifan hidup yang diperoleh dari segudang pengalaman masa lalu.

Sementara itu, Prof Clayton, dengan kerangka teori manajemennya yang disiplin, menganjurkan kita menjalani hidup secara “strategis” dengan menetapkan arah, prioritas, strategi, dan alokasi sumber daya yang dimiliki. Menjalani hidup, dalam kacamata Prof Clayton, sesungguhnya tak banyak berbeda dengan mengoperasikan sebuah perusahaan, prinsip-prinsipnya sama. Ketika kita terlalu sibuk bekerja dan mengesampingkan keluarga misalnya, itu tak lain merupakan bentuk dari alokasi sumber daya yang tak benar (misallocation of resources). Ketika alokasi waktu, tenaga, pikiran, dan talenta kita terlalu banyak ditumpahkan kepada karier dan pekerjaan, “kepentingan” keluarga akan terkorbankan, dan dari sini akan timbul bibit-bibit masalah.

Karena menulis di tengah duka mendalam akibat titik balik hidup yang sangat tragis, tak heran jika energi, emosi, dan keterlibatan penulis dalam melahirkan buku ini begitu total. Barangkali karena totalitas ini, dua buku ini menjadi bestseller dunia. Dengan peristiwa tragis yang menimpanya, barangkali mereka merasa menjadi “orang terpilih” untuk mengingatkan kita semua untuk tidak terperosok dalam kesuksesan hidup yang semu.

Mengenai sukses yang sesungguhnya, ada satu benang merah yang menyatukan buah pikiran mereka (yang sekaligus menjadi happy-ending dari kedua buku ini), yaitu memberi (giving). Sukses yang sesungguhnya bukanlah menyangkut diri kita, melainkan orang lain. Sukses adalah kontribusi kepada orang lain. Sukses adalah memberi untuk orang lain. Persis seperti dibilang Albert Einstein, “only a life lived for others is the life worthwhile.”

***

Judul: Thrive: The Third Metric to Redefining Success  and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder. Penulis: Arianna Huffington Penerbit: HarmonyBooks, 2014 Halaman: 352 Cover Thrive, Arianna Huffington

 

Judul: How Will You Measure Your Life? Penulis: Clayton Christensen, James Allworth, Karen Dillon Penerbit: HarperBusiness, 2012 Halaman: 240

 

Cover How Will You Measure - Clayton Christensesn

 

*Artikel ini telah dimuat di KompasKlass, Jumat 12 Desember 2014

December 12, 2014   2 Comments

Best Business Book 2013: My Picks

Kita sudah berada di penghujung tahun 2013, menjemput tahun 2014. Untuk refleksi memasuki tahun yang baru, ada baiknya kita melihat kembali buku-buku bagus di tahun 2013 yang harus kita baca dan ambil manfaatnya. Berikut ini adalah buku-buku pilihan saya di tahun 2013, semoga bisa menjadi inspirasi Anda di tahun yang baru. [Read more →]

December 31, 2013   5 Comments

2012′s Best Book and CD

Dua hal menjadi passion saya: membaca buku dan mendengarkan jazz. Hampir tiap minggu saya mencek buku-buku terbaru di Periplus atau Kinokuniya dan berburu CD di Musik Plus, Duta Suara Sabang atau Aquarius Kebayoran. Buku dan musik membuat hidup saya begitu indah. Untuk menutup tahun 2012 akan awasome jika saya berbagi cerita mengenai buku-buku dan album-album hebat yang saya baca dan dengar di tahun 2012. Berikut ini list-nya: lima untuk buku dan lima untuk album jazz.

Yuswohady’s 2012 Biz Book Picks

1. Thinking, Fast and Slow, by Daniel Kahneman
Mengarungi pemikiran Daniel Kahneman, penerima Nobel bidang ekonomi tahun 2002, dalam buku ini kita diajak menelanjangi kegagalan manusia sebagai pelaku ekonomi dalam berpikir rasional dan obyektif. Begitu banyak bias dan kekeliruan yang kita buat sehingga penilaian (judgement), pilihan (choice) atau keputusan (decision) yang kita ambil menjadi melenceng dari koridor rasionalitas dan obyektivitas. Buku ini adalah sebuah  karya masterpiece yang merangkum (dengan sangat padat-presisi, kaya detil, komprehensif, tapi tetap entertaining) keseluruhan pemikiran Kahneman yang membentang selama 40 tahun terakhir. [Read more →]

January 1, 2013   2 Comments

The Dentsu Way

Penulis: Kotara Sugiyama, Tim Andree
Halaman:  xxiv  + 310 halaman
Penerbit: McGraw-Hill – New York, 2011

Pondasi dari sebuah professional service provider seperti konsultan manajemen atau agensi periklanan ditentukan oleh metode dan pendekatan yang mereka gunakan dalam memberikan solusi ke klien. McKinsey&Co. punya 7S yang legendaris, Boston Consulting Group punya BCG Matrix yang fenomenal, Ogilvy punya pendekatan kreatif unik yang diinspirasi oleh sang pendiri David Ogilvy.  Pendekatan inilah yang menjadi faktor keunikan dan point of differentiation agensi tersebut dibandingkan para pesaingnya.

Membaca buku The Dentsu Way kita diajak mengarungi seluk-beluk pendekatan yang digunakan oleh agensi IMC (integrated marketing communication) terbesar di Jepang ini dalam memberikan solusi ke klien. Dentsu mengumpulkan serpihan-serpihan pengalamannya selama lebih dari 100 tahun, kemudian mengkristalkannya menjadi sebuah pendekatan konseptual yang komprehensif, yang mereka sebut sebagai The Dentsu Way.

Proyek prestisius mengumpulkan wisdom itu dimulai tahun 2006 dengan membentuk The Dentsu Cross Switch Team dan terumus tahun 2008 (buku versi awal berjudul: Cross Switch: How to Creat Cross Communication terbit pertama kali di Jepang), dan kemudian diperkenalkan secara global tahun ini melalui buku ini. [Read more →]

April 17, 2011   6 Comments

Yoris, Creative Junkies, & Brand Building

Positioning sebagai sebuah “tools” pemasaran secara ampuh diterapkan oleh para tokoh-tokoh figur publik kita untuk membangun dan mengembangkan personal brand-nya. Mereka cerdas sekali menciptakan kategori, kemudian menghegemoni kategori tersebut untuk kemudian dijadikan elemen utama positioning mereka. Dengan cerdas mereka menjadi “the first in the customer’s mind” dan dari situlah reputasi merek dibangun.

Dengan cerdas Hermawan Kartajaya menjadi the first in the customer’s mind untuk “marketing”; Andri Wongso untuk “motivator no.1 di Indonesia”; Safir Senduk untuk “financial planning”; Aa Gym untuk “manajemen qolbu”; Ary Ginanjar dengan “ESQ”, dan seterusnya. Dan saya kira, Yoris Sebastian dengan cantik melakukan hal yang sama untuk “creativity” [Read more →]

April 27, 2010   6 Comments

My BRAND NEW Book: CROWD – “Marketing Becomes Horizontal”

Hari Kamis 11 Desember 2008 ini saya meluncurkan buku, judulnya, CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”. Peluncurannya sendiri dilakukan di ajang MarkPlus Conference di Pacific Place, Ritz Carlton, yang saat ini 4000 tiketnya sudah ludes terjual. Itu artinya, kalau tak ada aral melintang 4000 marketer dari seluruh tanah air akan hadir.

CROWD

CROWD

http://books.yuswohady.com/crowd/

Dalam buku ini saya bilang, kelahiran web technologies seperti blog, vblog, tags, chat, wikis, RSS, digg, coComment, internet messenger (IM), podcast, social networking telah merubah DNA konsumen. Tools tersebut telah “membebaskan” potensi konsumen untuk berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, dan berkomunitas. Akibatnya, secara natural konsumen pun bermetamorfose menjadi mahluk yang semakin mengelompok, berinteraksi intens satu sama lain, dan berkomunitas—membentuk “crowd”. Ya…itu sebabnya kenapa buku ini diberi judul: “CROWD”

Ketika konsumen berubah maka pendekatan pemasaran juga harus diputar haluan. Anda harus bisa menemukan strategi baru. Anda harus bisa meramu sumber-sumber kesuksesan baru. Karena perubahan itu, saya menciptakan Formula:

E = wMC2

Di mana: E: Energi marketing yang dahsyat sedahsyat bom nuklir; wM: word of mouth atau rekomendasi pelanggan; dan C2: customer community baik offline maupun online. Tesis dasarnya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabungkan dan menyintesakan kekuatan dua elemen penting pemasaran masa depan, yaitu word of mouth (sering juga disebut “evangelism” atau net promoter) dan komunitas pelanggan.

Untuk menerjemahkan rumus tersebut ke dataran praktis, saya menurunkannya menjadi apa yang saya sebut: The 11 Manifesto of Horizontal Marketing. Berikut ini adalah ke-11 manifesto tersebut:

#1: Net Creates NETWORKED Customers. Internet yang sudah teragregasi menjadi menjadi ribuan bahkan jutaan komunitas umat manusia melalui situs-situs seperti Friendster, YouTube, Facebook, MySpace, Secon Life, atau Blogger memunculkan potensi luar biasa untuk membentuk komunitas konsumen yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

#2: Your Customers Are EVANGELIST. Ketika Anda memiliki komunitas pelanggan yang solid, maka Anda punya potensi besar untuk menjadikan pelanggan tersebut sebagai “evangelists” atau “advocators” yang ngomomg bagus tentang produk Anda, yang merekomendasikan produk Anda. Mereka adalah selesmen sejati Anda.

#3: CONNECTING Your Customers. Ketika formula E = wMC2 bisa Anda wujudkan, Anda akan sadar bahwa keunggulan kompetitif akan ditentukan oleh kemampuan Anda dalam menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lain di dalam sebuah media komunitas. [Read more →]

December 6, 2008   11 Comments

“Daftar Isi” dan “Pendahuluan” buku CROWD “Marketing Becomes Horizontal”

Bagi pembaca yang ingin tahu gambaran umum isi buku saya CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”, berikut ini saya ambilkan Daftar Isi dan Pendahuluan buku tersebut dalam bentuk file pdf. Silahkan menyimak.

CROWD-pendahuluan

December 5, 2008   1 Comment