E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Books

Best Business Books 2017 – My Picks

Dua topik seksi masih menjadi favorit saya untuk Best Business Book tahun ini. Pertama adalah behavioral economics (Adaptive Markets). Kedua adalah internet/digital (Move Fast and Break Things, The Four, The Upstarts).

Dan pilihan buku terbaik tahun ini adalah gabungan keduanya, bias perilaku di era internet/digital yaitu: Everybody Lies.

Berikut adalah daftar 10 Best Business Book 2017 pilihan saya:

#1. Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us About Who We Really Are, Seth Stephens-Davidowitz

Everybody Lies - Book Cover New

Problem mendasar sebuah survei adalah responden yang mengatakan hal tak sebenarnya. Mereka mengatakan apa yang “seharusnya” dikatakan kepada peneliti atau apa yang mereka “pilih” untuk dikatakan kepada peneliti (dalam behavioral economics sering disebut: “social desirability bias”). Karena itu, persis seperti dibilang buku ini: “We are all lying”.

Namun di dalam lautan big data mesin pencari Google kita tak bisa lagi berbohong. Apa yang kita tuliskan di text box mesin pencarian Google adalah potret dari pikiran, hasrat, kecemasan, dan kelakuan kita yang sesungguhnya tanpa kita mampu berbohong.

Buku ini membuka cakrawala baru dimana sekitar 8 triliun gigabyte data di mesin pencari Google (dan akan terus bertambah secara eksponensial) akan memberikan jawaban presisi mengenai siapa sesungguhnya kita. Mesin pencari Google bakal menjadi “lab raksasa” dengan responden lebih dari 7 miliar umat manusia.

Apa yang telah kita tuliskan di Google akan menelanjangi seluruh aspek kehidupan kita mulai dari: perilaku investor dan konsumen, relasi sosial, orientasi politik, sentimen rasisme, etika, tendensi LGBT, hingga seluk-beluk kehidupan seks kita.

#2. Principles: Life and Work, Ray Dalio

Principles - Book Cover New

Business wisdom dari salah satu investor/entrepreneur tersukses di dunia, Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associate, hedge fund terbesar di dunia. Melalui buku ini tokoh yang mendapat julukan “Steve Jobs of Investing” ini mengkristalkan butir-butir pemikiran bisnis selama 40 tahun selama ia memimpin Bridgewater.

Prinsip yang disebutnya, “an idea meritocracy that strives to achieve meaningful work and meaningful relationships through radical tranparency,” menjadi fondasi budaya kerja Bridgewater hingga menjadi perusahaan terhebat di dunia.

#3. Move Fast and Break Things: How Facebook, Google, and Amazon Cornered Culture and Undermined Democracy, Jonathan Taplin

Move Fast and Break Things - Book Cover New

Jonathan Taplin mengungkap dengan gamblang sepak terjang segelintir “radical libertarian entrepreneurs” di tahun 1990-an (al: Thiele, Bezos, Page, Zuckerberg) yang “membajak” jagat internet menjadi bagian dari bisnis global yang mereka dominasi.

Gerak agresif mereka telah merampas dan memonopoli bisnis musik, film, televisi, penerbitan, dan berita di seantero jagat. Kerakusan mereka telah membelokkan internet dari visi dan idealisme awalnya yang begitu mulia.

#4. Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy, Sheryl Sandberg dan Adam Grant

Option B - Book Cover New

Dua penulis rising star Sheryl Sandberg (Lean In) dan Adam Grant (Originals & Give and Take) berkolaborasi menghasilkan buku fenomenal ini. Buku ini istimewa terutama bagi Sandberg yang juga COO Facebook karena merupakan refleksi personalnya menyusul kematian secara tiba-tiba sang suami.

Kombinasi pengalaman personal-emosional Sanberg dan keakuratan riset psikologi Grant menghasilkan kajian yang insightful mengenai bagaimana kita tabah (resilient), menemukan kekuatan, dan bertumbuh kembali saat menghadapi cobaan hidup yang pelik.

#5. Adaptive Markets: Financial Evolution at the Speed of Thought, Andrew W. Lo

Adaptive Markets - Book Cover New 2

 

Selama hampir 200 tahun para ekonom meyakini bahwa investor adalah rasional dan pasar adalah efisien. Keyakinan itu dikoreksi oleh para behavioral economist yang secara meyakinkan membuktikan bahwa pasar jauh dari efisien dan para pelakunya tak rasional dalam mengambil keputusan.

Melalui karya terobosan ini Andrew Lo mengusulkan framewok baru “Adaptive Markets Hypothesis” yang mengatakan bahwa teori mengenai pasar yang efisien tidaklah salah, hanya belum komplit. Lo menunjukkan bahwa rasionalitas dan irrasionalitas pelaku pasar berjalan berdampingan.

#6. Hit Makers: The Science of Popularity in an Age of Distraction, Derek Thompson

Hit Makers - Book Cover New

Melalui telusuran investigatif selama seabad terakhir, Derek Thompson editor senior majalah Atlantic, mengungkap bagaimana artis, lagu, film, atau apps menjadi tipping point dan mencapai puncak kepopuleran.

Hit Makers menelusuri dinamika psikologis di balik fenomena blockbuster (dari lukisan Monalisa, Star Wars, iPhone, hingga Donald Trump) yang mendominasi budaya pop dan bisnis. Seperti bunyi subjudulnya, buku ini adalah: a science of popularity.

#7. The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google, Scott Galloway

The Four - Book Cover New

Dunia saat ini dikuasai dan dikendalikan oleh empat perusahaan (“The Four”): Google, Apple, Amazon, dan Facebook. Dengan cerdas The Four memanipulasi kebutuhan purbawi kita dan mensolusikannya dengan kecepatan dan skala yang tak bisa disamai oleh perusahaan lain manapun.

Dengan kritis Galloway mempertanyakan bagaimana mereka menginfiltrasi kehidupan kita hingga kita tak sanggup menolak atau memboikotnya. Ia juga mempertanyakan bagaimana pasar modal dan media bisa begitu “pemaaf” terhadap “dosa-dosa besar” yang mereka perbuat saat membumihanguskan pesaingnya di seluruh muka bumi.

Ketika The Four mengobrak-abrik tatanan ekonomi, industri, dan tatanan sosial dunia, kita hanya menjadi penonton di pinggir lapangan, takjub sekaligus cemas dan pesimis. Itulah kehebatan The Four.

#8. The Captain Class: The Hidden Force That Creates the World’s Greatest Teams, Sam Walker

The Captain Class - Book Cover New

Rahasia sukses sebuah tim olehraga bukan terletak pada pelatih, pemain bintang, atau strateginya, tapi ada di tangan kepemimpinan kapten tim yang hebat dan mumpuni.

Buku ini mencari tahu “the DNA of greatness” dari puluhan tim olahraga terhebat sejagat, beberapa di antaranya adalah: klub baseball New York Yankees (1949–1953), klub hoki Montreal Canadiens (1955–1960), hingga klub sepak bola Barcelona (2008–2013).

Hasilnya, Sam Walker penulisnya, menemukan tujuh kesamaan kualitas dan atribut kepemimpinan dari si kapten. Walaupun mengupas tim olahraga, buku ini memberikan insight tak ternilai bagi pengembangan a great team di berbagai bidang lain termasuk bisnis.

Baca juga:

Best Business Book 2016

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

#9. The Power of Moments: Why Certain Experiences Have Extraordinary Impact, Chip Heath dan Dan Heath

The Power of Moment - Book Cover

Kita semua memiliki apa yang oleh buku ini disebut “defining moment”, sebuah momen hidup yang amat menentukan dan secara mendasar mengubah arah hidup kita sehingga bisa berkontribusi mengubah dunia.

Defining moment itu bisa berupa petuah kecil guru saat kita SD, perjumpaan dengan teman (Steve Jobs ketemu Steve Wosniak), atau datangnya musibah (seperti Sheryl Sandberg yang di tinggal suami tercinta – lihat buku Option B di atas).

Umumnya defining moment muncul karena takdir dan faktor kebetulan. Namun buku ini berpendapat sebaliknya, defining moment bisa kita ciptakan. Chip bersaudara penulis buku ini mencoba merumuskan dan menciptakan momen-momen berharga kehidupan kita. Mereka menunjukkan bahwa kita bisa menjadi “author of our defining moment”.

#10. The Upstarts: How Uber, Airbnb, and the Killer Companies of the New Silicon Valley Are Changing the World, Brad Stone

The Upstarts - Book Cover

Sepuluh tahun lalu sharing lifestyle sama sekali tak terbayangkan di benak kita. Namun kini budaya konsumsi baru itu menjadi sebuah tren global yang akan menentukan nasib peradaban umat manusia ke depan.

Pemicunya tak lain adalah sosok-sosok pendobrak seperti Travis Kalanick (Uber), Brian Chesky (AirBnB), dan entrepreneurs generasi baru yang menggunakan teknologi untuk memporakporandakan industri lama yang telah mapan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya. Brad Stone penulis buku ini menyebut mereka: “The Upstarts”

***

Butuh perjuangan luar biasa untuk mengerucutkan buku-buku terbaik tahun ini menjadi hanya 10 buku. Saya menyadari ke-10 buku tersebut terpilih tak lepas dari faktor subyektivitas dan area yang menjadi minat baca saya. Karena itu ada baiknya saya tampilkan juga long list buku terbaik tahun ini.

Berikut ini daftarnya:

11. Hit Refresh, Satya Nadella
12. Black Edge, Sheelah Kolhatkar
13. Insight, Tara Eurich
14. Pause, Rachael O’Meara
15. Extreme Ownership, Jocko Willink
16. Blue Ocean Shift, Chan Kim, Renee Mauborgne
17. High Performance Habit, Brendon Buchard
18. Unshakeable, Tony Robbin
19. The Wisdom of Finance, Mihir Desai
20. Scale, Geoffrey West
21. Tribe of Mentors, Tim Ferriss
22. Finish, Jon Acuff
23. The Startup Way, Eric Ries
24. One Mission, Chris Fussell
25. The Road to Recognition, Seth Price & Barry Fieldman

December 25, 2017   No Comments

“Dua Dunia” Otak Kita

Judul: Thinking, Fast and Slow

Penulis: Daniel Kahneman
Hal: 512 hal
Penerbit: Farrar, Staus and Giroux, 2011

Mengarungi pemikiran Daniel Kahneman selama empat dasawarsa kita diajak menelanjangi kegagalan mahluk lemah bernama manusia dalam berpikir rasional dan obyektif. Begitu banyak bias dan kekeliruan yang kita buat sehingga penilaian (judgement), pilihan (choice) atau keputusan (decision) yang kita ambil menjadi melenceng dari koridor rasionalitas dan obyektivitas.

Tesis sentral inilah yang mendorong Kahneman bersama mitra intelektualnya, Amos Tversky, mengembangkan teori mengenai bias kognitif (cognitive biases) dan pengaruhnya terhadap proses pengambilan keputusan. Mereka kemudian mengelaborasi teori tersebut ke lapangan ekonomi dan menghasilkan Teori Prospek (Prospect Theory) yang kemudian mengantarkan Kahneman meraih Nobel bidang ekonomi pada tahun 2002.

Thinking, Fast and Slow - Kahneman book cover

Buah pikiran Kahneman-Tversky (keduanya adalah psikolog, bukan ekonom) tersebut sekaligus menjadi fondasi bagi cabang ilmu ekonomi yang kini kian populer, yaitu ekonomi perilaku (behavioral economics). Beberapa buku best seller di bidang ini seperti Freakonomics (Levit-Dubner, 2005), Predictably Irrational (Ariely, 2008), Black Swan (Taleb, 2007), bahkan karya pop Blink (Gladwell, 2005) setidaknya bersumber dari teori yang mereka bangun berdua.

Intellectual Journey
Thinking, Fast and Slow adalah karya masterpiece Kahneman yang merangkum (dengan sangat padat-presisi, kaya detil, komprehensif, tapi tetap entertaining) keseluruhan pemikirannya yang membentang selama 40 tahun terakhir (karya pertamanya bersama Tversky muncul tahun 1971). Saking komprehensifnya buku ini merangkum intellectual journey sang maestro, saya berani bertaruh, ini adalah karya terakhir Kahneman dalam bentuk buku.

Secara umum pemikiran Kahneman tersebut terbagi ke dalam tiga fase. Fase pertama adalah studi mengenai bias kognitif yang mendistorsi pikiran kita dalam melakukan judgement terhadap sebuah realitas. Melalui studi rintisan “Judgement Under Uncertainty: Heuristics and Biases” (1974) yang juga terlampir dalam bagian apendiks buku, Kahneman menemukan adanya kesalahan sistematis (systematic errors) dalam proses penilaian dan pengambilan keputusan akibat adanya bias kognitif.

Fase kedua adalah studi mengenai teori prospek yang merombak asumsi dasar teori ekonomi tradisional mengenai utilitas (expected utility theory). Melalui karya klasik berbuah Nobel, Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk (1979), Kahneman-Tversky melakukan modifikasi terhadap expected utility theory yang mendominasi pemikiran para ekonom sebelumnya. Mereka membuktikan bahwa dalam melakukan pengambilan keputusan ekonomi manusia tidaklah melulu berpikir rasional, tapi tak luput dari pengaruh berbagai bias dan kekeliruan. Mereka menggugurkan teori lama yang berasumsi bahwa manusia adalah rational agent (homo economicus)

Sementara fase pemikiran Kahneman ketiga adalah studi mengenai psikologi hedonis (hedonic psychology) dan kebahagiaan (science of hapiness). Melalui risetnya, Kahneman berhasil membedakan apa yang disebutnya “experienced well-being” dan “remembered well-being” sebagai ukuran kebahagiaan. Ia menemukan bahwa dalam melihat kebahagiaan hidup, penilaian kita bukannya ditentukan oleh durasi waktu (duration-neglected), tapi banyak dipengaruhi oleh puncak kebahagiaan/kesengsaraan yang kita alami (peak-end rule).

Baca Juga: Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru

Dua Sistem
Kalau dirunut lebih jauh, keseluruhan buah pikiran Kahneman di atas berakar pada dua mekanisme kerja otak kita yang menjadi ide sentral buku ini. Kahneman menyebut dua mekanisme yang berbeda satu sama lain tapi saling berkait-erat tersebut dengan nama “Sistem 1” (fast thinking) dan “Sistem 2” (slow thinking). Sistem 1 bekerja secara cepat-seketika, otomatis, bersifat emosional-intuitif, asosiatif, dan seringkali tak disadari (subconscious). Sementara Sistem 2, sebaliknya, bekerja secara lambat, penuh perhitungan, logis, analitikal, dan butuh perhatian tinggi.

Karena Sistem 2 bekerja dengan penuh perhitungan dan rasional, maka seharusnya ia berperan besar dalam menentukan pilihan dan pengambilan keputusan. Namun celaka, Sistem 2 ini cenderung “malas” dan gampang lelah (disebut “ego-depletion”). Karena itu seringkali Sistem 2 ini menerima begitu saja feeding dari Sistem 1 yang memang lebih cepat dan mudah, namun mengandung banyak bias dan kekeliruan.

Inilah, menurut Kahneman, yang menjadi sumber terjadinya begitu banyak bias yang menjangkiti pikiran kita. Konsekuensi dari temuan Kahneman ini sangatlah jelas, bahwa sesungguhnya kita adalah mahluk lemah yang “tidak banyak tahu” tentang alasan-alasan yang melandasi pilihan atau keputusan yang kita ambil.

Terus terang, membaca sampai akhir buku ini saya menjadi ragu atas kebenaran dari keputusan-keputusan besar yang telah saya ambil dalam hidup saya. Misalnya, “apakah sudah benar ketika saya memutuskan konsultan dan penulis sebagai pilihan profesi saya?” Atau, “apakah sudah tepat ketika 15 tahun lalu saya memutuskan untuk menetap di Jakarta?” Atau juga, “apakah sudah tepat saat 7 tahun yang lalu saya memutuskan untuk menikah?”

Barangkali saja semua keputusan besar saya itu keliru. Ya, karena seperti dikatakan Kahneman, proses terbentuknya keputusan-keputusan itu pekat diwarnai bias, ilusi, dan serba ketidaktahuan yang fatal. Wallahu a’lam. ***
Chemistry Dua Jenius

Thinking, Fast and Slow tak hanya scientifically-robust, intellectually-profoking, dan begitu kaya dengan analisis cerdas, tapi juga “menyentuh”. Bukannya kebetulan, karena buku hebat ini secara khusus didedikasikan Kahneman untuk menghormati Amos Tversky. Tversky adalah mitra intelektualnya yang selama belasan tahun bahu-membahu membantunya membangun Teori Prospek yang kemudian menghasilkan Nobel.

Sayang sekali Tversky tak bisa berbagi Nobel karena ia keburu meninggal pada tahun 1996, enam tahun sebelum Kahneman menerimanya. Kahneman mengatakan kepada The New York Times dalam sebuah wawancara sesaat setelah ia menerima hadiah, “I feel it is a joint prize. We were twinned for more than a decade.” Keduanya adalah duo intelektual yang selalu saling berbagi, saling mengisi, dan saling memengaruhi.

Dalam menjelaskan konsep dan argumentasinya, di banyak halaman buku ini Kahneman menggunakan kata-kata “I and Amos”. Itu barangkali karena secara intelektual mereka memang seperti pinang dibelah dua, tak bisa dipisahkan. Dalam menjelaskan teorinya Kahneman juga seringkali terlebih dahulu memberikan background proses dialog intelektualnya bersama Tversky. Tak heran jika membaca buku ini, secara tak sadar kita merasakan detak-detak “hubungan intelektual” sekaligus “hubungan emosional” antar keduanya.

Kahneman pertama kali bertemu dengan Tversky pada tahun 1969 dalam sebuah seminar di Universitas Hebrew, Yerusalem tempat Tversky mengajar. Dalam seminar tersebut mereka terlibat debat intelektual seru yang kemudian berujung pada keinginan mereka berdua untuk berkolaborasi. Sejak awal bertemu, keduanya langsung menemukan chemistry. Mengenai chemistry ini Kahneman berujar, “The pleasure we found in working together made us exceptionally patient, it is much easier to strive for perfection when you are never bored.”

Kerja kolaborasi Kahneman-Tversky akhirnya berlangsung selama 14 tahun, yang begitu produktif menghasilkan dua buku dan 9 tulisan jurnal yang sangat berpengaruh baik di bidang psikologi maupun ilmu ekonomi. Melalui karya bersama ini, keduanya dianggap sebagai pionir psikologi kognitif (cognitive psychology) dan ekonomi perilaku (behavioral economics).***

October 13, 2017   2 Comments

Best Business Book 2016 – My Picks

Saya suka membaca. Hampir setiap minggu saya membeli buku, baik di toko buku atau saat perjalanan di bandara. Selama seminggu ini saya menginventarisir buku-buku yang telah saya baca selama tahun 2016. Dan akhirnya saya mendapatkan 10 buku yang saya nilai paling bagus. Saya yakin buku-buku ini akan menjadi bekal berharga bagi Anda dalam memasuki tahun 2017. Berikut ini ringkasannya.

#1. Thank You for Being Late: “An Optimist’s Guide to Thriving in the Age of Acceleration,” Thomas Friedman

thank-you-for-being-late-book

Tom Friedman memang maestro ketika menjelaskan fenomena perubahan perdaban manusia. Awalnya ia berpikir bahwa The World Is Flat (2005) adalah “akhir” dari sejarah. Namun rupanya ia keliru. Ia menengarai tahun 2007 justru sedang dimulai sebuah pergeseran raksasa, inflection point, yang memicu percepatan kemajuan peradaban manusia. Tahun 2007 (merupakan tahun ditemukannya: iPhone, Android, Kindle, Hadoop, AirBnB, dan komputer super cerdas Watson milik IBM), merupakan titik mula umat manusia memasuki apa yang disebutnya The Age of Acceleration. Ada tiga kekuatan yang membentuknya, yaitu: Moore’s Law (Technology), globalisasi (Market), dan pemanasan global (Mother Nature). Kombinasi percepatan ketiganya membawa dua skenario: kemajuan luar biasa peradaban manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya; atau kerusakan dahsyat yang memusnakan keberadaan manusia di muka bumi. Merupakan buku paling ambisius Tom Friedman yang harus dipahami setiap pemimpin bisnis.

#2. Pre-Suasion: A Revolutionary Way to Influence and Persuade,” Robert Cialdini

pre-suasion-book

Dalam buku klasik sales/pemasaran Influence (1984), Cialdini memberikan 6 panduan ampuh untuk mempersuasi konsumen. Buku ini telah menjadi referensi tak tertandingi bagi para pemasar di lima benua. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, Cialdini hadir kembali dengan proposisi baru: bahwa saat-saat sebelum melakukan penjualan adalah momen sangat penting dalam mempersuasi konsumen. Ia menyebutnya pre-suasion. Melalui buku ini Cialdini menekankan pentingnya pemasar mengidentifikasi hal-hal kunci yang harus dilakukan sebelum mengirim pesan-pesan penjualan ke konsumen. Persis seperti kata Sun Tzu: “every battle is won before it is fought.”

#3. Original: “How Non-Conformists Move the World,” Adam Grant

original-book

Ini adalah buku mengenai orisinalitas. Bagaimana menciptakan sebuah ide, konsep, produk, atau layanan yang sama sekali baru, fresh, keluar dari kerumunan, nyleneh, mungkin menentang arus, tapi menciptakan nilai yang jauh lebih baik. Melalui risetnya yang mendalam Adam Grant menelusuri proses bagaimana melahirkan sesuatu yang orisinil seperti yang dihasilkan sosok-sosok hebat seperti Jobs-Wosniak, Page-Bryn, Einstein, Michelangelo, Leonardo da Vinci, hingga Coppernicus.

#4. The Inevitable: “Understanding the 12 Technological Forces that Will Shape Our Future,” Kevin Kelly

the-inevitable-book

Sebagai technology futurist dan pendiri majalah bergengsi Wired, Kevin Kelly memprediksi ada 12 kekuatan teknologi yang akan mewarnai kehidupan umat manusia selama 30 tahun ke depan. Bagi Kelly perubahan teknologi bukanlah bersifat statis, tapi merupakan sebuah proses yang terus-menerus (continuous actions). Karena itu ia menyebut perubahan teknologi di dalam buku ini bukan sebagai “kata benda”, tapi “kata kerja” seperti: accessing, tracking, atau sharing.

#5. Small Data: The Tiny Clues That Uncover Huge Trends,” Martin Lindstrom

small-data-book

Saat ini kita silau oleh jargon baru big data, revolusi teknologi informasi yang diramalkan akan mengubah 180 derajat seluruh bidang kehidupan kita, termasuk bidang pemasaran. Namun melalui buku ini Martin Lindstrom punya perspektif lain. “Big data doesn’t spark insight,” ujarnya. Sebuah detail kecil data (yes, small data) mengenai perilaku konsumen, seperti gesture konsumen, mungkin bisa menjadi insight berharga untuk mengungkap aspirasi dan latent needs mereka. Insight kecil ini merupakan clue yang mampu melahirkan breakthrough product seperti iPhone atau AirBnB. Dan ini tak mampu dilakukan oleh big data.

#6. Sprint: “How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days,” Jake Knapp, John Zeratsky, Braden Kowitz

sprint-book

Metode super cepat, hanya 5 hari, untuk menghasilkan inovasi (mulai dari menemukan ide, testing, prototyping, hingga keputusan) yang telah sukses dijalankan di Google diceritakan begitu renyah oleh buku ini. Dengan metode Sprint, Google berhasil meluncurkan produk-produk hebat seperti: Chrome, Google Search, Gmail, Google Hangout, hingga Google X. Wajib dibaca oleh para entrepreneur di perusahaan start-up maupun profesional pengembangan produk di perusahaan besar.

 
#7. Platform Revolution: “How Networked Markets Are Transforming the Economy and How to Make Them Work for You,” Geoffrey Parker, Marshall Van Alstyne, Sangeet Paul Choudary

platform-revolution-book

Perusahaan seperti Gojeg, Uber, Airbnb, eBay, Google, Apple, atau PayPal muncul mendisrupsi industri dan kemudian merajai pasar dalam dalam waktu yang sangat singkat. Mereka lahir melalui sebuah platform (two-sided markets) yang merevolusi model bisnis konvensional. Buku ini memberikan panduan bagaimana menyukseskan bisnis berbasis platform. Inilah buku yang paling autoritatif dan paling komprehensif menjelaskan fenomena revolusi bisnis berbasis platform.

#8. Grit: “The Power of Passion and Perseverence,” Angela Duckworth

 grit-book

Sukses, menurut buku ini tidak ditentukan oleh bakat atau kejeniusan, tapi terutama oleh paduan unik antara passion (semangat membara) dan perseverence (daya tahan yang luar biasa). Paduan itu oleh Angela Duckworth disebut Grit yang menjadi judul buku ini. Melalui 8 bab buku ini secara khusus Angela berbagi strategi mengenai bagaimana membangun Grit dalam diri kita.

#9. Deep Work: “Rules for Focused Success in a Distracted World,” Cal Newport

deep-work-book

Di era distracted world saat ini dimana kiriman email, status media sosial, atau pesan WA begitu intens membuyarkan konsentrasi kita, fokus menjadi barang berharga yang sangat menentukan kesuksesan kita. Buku ini memberikan 4 hukum sebagai panduan untuk menjalankan setiap pekerjaan kita dengan konsentrasi penuh (deep work) dan menghasilkan kinerja yang luar biasa.

#10. How to Have a Good Day: “Harness the Power of Behavioral Science to Transform Your Working Life,” Caroline Webb

how-to-have-a-good-day

Caroline Web, mantan partner di McKinsey, menunjukkan kepada kita beberapa temuan terbaru di bidang ekonomi perilaku, psikologi, dan neurosains, dan menggunakan prinsip-prinsipnya untuk memperbaiki kehidupan profesional dan karir kita. Buku ini mencoba mengaplikasikan behavioral sciences untuk menetapkan prioritas, meningkatkan produktivitas, membangun hubungan, mempertahankan daya tahan, hingga menciptakan energi untuk kesuksesan karir kita.

Selamat Tahun Baru 2017.

Best Business Book 2015

Best Business Book 2014

Best Business Book 2013

Best Business Book 2012

December 24, 2016   1 Comment

Menggugat “Pendidikan Bonsai”

Inilah tragedi terbesar pendidikan. Ketika hakikat pendidikan dikerdilkan hanya sebatas sekerup bagi mesin besar kapitalisme. Ketika pendidikan dikooptasi oleh kepentingan sempit industrialisasi. Dan ketika pendidikan hanya sekedar menjadi alat untuk mencari makan, mengejar kekuasaan, menggapai ketenaran. Maka yang muncul kemudian adalah wajah pendidikan yang bopeng-bopeng dan muram. Pendidikan terampas esensi kemanusiawiannya. Pendidikan kehilangan keholistikannya. Pendidikan dirampok keagungannya.

Maka yang terjadi kemudian adalah, pendidikan mandeg terjebak dalam pragmatisme membabi-buta. Menyedihkan ketika kita melihat di akhir program, pendidikan terbonsai hanya sekedar menjadi sebuah bimbingan tes untuk menggapai sekolah-sekolah favorit di seantero negeri. Memilukan ketika pendidikan ujung-ujungnya dikebiri hanya untuk mencapai IPK, GRE, GMAT, atau TOEFL tinggi untuk tujuan menembus universitas-universitas terbaik di dunia. Mengenaskan ketika kita melihat pendidikan ujung-ujungnya bermuara pada tujuan mengisi lowongan buruh di pabrik-pabrik, dokter di rumah-rumah sakit, insinyur di proyek-proyek pembangunan, atau manajer di perusahaan-perusahaan.

Dalam pragmatisme ini pendidikan sekedar memproduksi “robot-robot” dan “zombie-zombie” yang beku akal, kreasi, dan nurani. Tak mengherankan jika dalam banyak kasus pendidikan jenis ini menghasilkan “produk” yang begitu memprihatinkan: Kalau menjadi karyawan mereka adalah sosok karyawan pembebek dan ABS (asal bapak senang); Kalau dokter mereka sosok distributor obat; Kalau pengusaha mereka sosok penyuap; Kalau politisi mereka sosok pencatut nama pejabat; kalau pejabat mereka sosok pengutil uang rakyat. Berkat pendekatan pendidikan keblinger ini pula Pemerintahan Jokowi direpotkan dengan kampanye “Revolusi Mental” di TV dan koran yang menguras duit miliaran.

Menilik pengalaman pribadi, terus-terang saya adalah “korban” dari pendekatan pendidikan kerdil ini. Selama 25 tahun menjalani pendidikan dari TK hingga kuliah, saya terpenjara oleh logika sistem pendidikan yang picik ini. Selama kurun waktu yang panjang itu saya menjadi anak manis-penurut (mendengarkan guru, menulis, menghapal, dites multiple choice, dan kemudian lulus) yang terbonsai potensi dan daya kreasinya. Karena itu saya punya istilah favorit untuk pendidikan macam ini: “pendidikan bonsai”. Sesuai namanya, sistem pendidikan ini membonsai imajinasi, kekritisan, dan keliaran daya cipta anak didik. Sistem ini membonsai olah rasa menuju kedewasaan dan kearifan.

Celakanya, saya baru sadar akan kekerdilan sistem ini di akhir-akhir masa kuliah. Karena tak tahan, saya kemudian memberontak, menjadi alien, lonely, dan akhirnya tersingkir dari sistem itu. Sejak itu saya tak percaya lagi pendidikan bonsai dan memutuskan menjadi self lifetime learner merdeka yang begitu passionate mengembara mengeksplorasi indahnya pengetahuan, daya imajinasi, dan daya kreasi.

Menggugat Pendidikan Bonsai - Quote

Edisi print, Kompas, Senin 11 Januari 2016, hal 29

Back to Basic
Dua buku yang mencerahkan, Creative Schools (Allen Lane, 2015) danCreating Innovators (Scribner, 2015), mencoba menggugat model pendidikan bonsai yang sudah terlanjur menjadi mainstream di seluruh dunia. Keduaya sepakat bahwa pendidikan haruslah membebaskan, persis seperti divisikan Paulo Freire setengah abad lampau. Keduanya mengedepankan pendidikan yang memanusiakan seperti digagas Prof. Driyarkarya. Dan keduanya menolak kapitalisasi pendidikan, politisasi pendidikan, dan pendidikan ala restoran fast food dimana anak didik dipersiapkan secara potong kompas dan instan.

Tak sekedar mengkritik, kedua buku ini mengajukan model pendidikan alternatif yang lebih holistik, humanis, dan kreatif. Dalam Creative Schools misalnya, Ken Robinson si penulis, menyarankan kita semua untuk back to basic dengan membawa pendidikan pada tujuan hakikinya. Hakikat pendidikan mengandung empat dimensi: ekonomis, sosial, kultural, dan personal yang harus mampu mentransformasi anak didik menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan.

Pertama, pendidikan harus membentuk anak didik menjadi manusia yang bertanggung jawab dan independen secara ekonomi melalui pengembangan bakat, penguasaan kompetensi, dan pengasahan keterampilan. Kedua, pendidikan haruslah membentuk anak didik menjadi manusia yang memahami nilai-nilai dan budayanya, dan menghargai nilai-nilai dan budaya orang/bangsa lain. Intinya, pendidikan harus menghasilkan sosok yang toleran terhadap keberagaman. Ketiga, pendidikan harus membentuk anak didik menjadi warganegara yang aktif dan peduli pada nasib masyarakat dan negaranya. Terakhir, pendidikan harus membawa anak didik semakin mumpuni dalam berolah pikir, berolah rasa, dan berolah spiritual sebagai bekal untuk berefleksi dengan dirinya dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

Sementara itu secara lebih praktis, Creating Innovators menekankan pentingnya rasa ingin tahu (curiousity), daya khayal (imagination), dan daya kreasi (creativity) sebagai elemen substansial pendidikan dalam membebaskan (unleash) potensi anak didik. Menurut TonyWagner si penulis, proses belajar haruslah mengedepankan eksplorasi bakat anak, kolaborasi antar disiplin ilmu, eksperimentasi dan pencarian solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat lingkungannya. Berbeda 180 derajat dengan pendidikan bonsai yang menempatkan anak didik sebagai obyek pasif, pendekatan ini menempatkannya sebagai aktor sentral dari proses belajar.

Metafor
Logika kapitalisme dan industrialisasi membonsai pendidikan kita melalui tiga mekanisme: standarisasikompetisi, dankorporatisasi. Pertama, sekolah disamakan (kurikulum, pengajaran, dan evaluasinya) agar bisa diperbandingkan dan diukur kinerjanya secara standar. Kedua, setelah bisa diperbandingkan lalu dikompetisikan layaknya kontes kecantikan. Maka kemudian muncul istilah SMA favorit, universitas terbaik, Ive League, dan semacamnya. Ketiga, pemodal masuk ke jantung industri pendidikan dimana fokus utama mereka adalah profit bukanlah pembelajaran. Inilah biang dari instanisasi, dehumanisasi, dan dekadensi pendidikan kita.

Robinson yang ceramahnya “How Schools Kill Creativity” ditonton jutaan pemirsa dan merupakan yang tertinggi dalam sejarah TED, mengambil metafor pertanian industrial (industrial farming) untuk menggambarkan logika pendidikan bonsai. Tujuan utama pertanian industrial adalah memproduksi sebanyak mungkin panen, at all cost. Caranya, menanam bibit monokultur (kalau perlu bibit transgenik), menggunakan pupuk kimia tak peduli tanahnya terdegradasi, menggunakan pestisida untuk memberangus hama tak peduli kerusakan lingkungan. Buah dari pendekatan industrial adalah hasil panen yang maksimal, tapi dengan ongkos yang sangat mahal berupa bencana kesehatan (seperti meluasnya penyakit kanker) dan kerusakan lingkungan. Beginilah kira-kira pendidikan kita saat ini dikelola.

Lawannya adalah pertanian organik (organic farming) yang menempatkan bertanam sebagai bagian dari jejaring kehidupan (web of life) yang lebih luas. Berbeda dengan pertanian industrial, pertanian organik melihat vitalitas kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari proses produksi tanaman. Nah, beginilah seharusnya pendidikan kita dikelola dan dikembangkan. Alih-alih melulu mengejar target menghasilkan lulusan terbanyak dan terbaik (melalui tes multiple choice), sekolah harusnya mampu membentuk pribadi-pribadi dewasa yang mumpuni dan bernurani melalui inovasi dan kreatifitas metode pembelajaran.

Seperti halnya pertanian organik, pendidikan organik mensyaratkan empat hal. Pertama, harus mengembangkan dan mendewasakan anak didik secara multidimensi dan holistik (fisikal, intelektual, sosial, dan spiritual). Kedua, harus terkait-erat dengan lingkungan komunitas dan masyarakatnya, tak boleh tercerabut dan ada di menara gading. Ketiga, harus mengembangkan potensi anak didik melalui sinergi antar si anak, pengajar, orang tua, dan masyarakat lingkungannya. Terakhir, pendidikan harus dilakukan secara personal/customized untuk tiap individu karena masing-masing mereka memiliki bakat, minat, dan keunikan sendiri-sendiri.

Celakanya pendekatan baru ini tak bisa dilakukan secara instan dan mudah semudah menyelenggarakan ujian multiple choice. Karena itu yang kini dibutuhkan dalam dunia pendidikan bukanlah program percepatan, crash program, atau semacamnya, tapi justru “slow movement” dan “slow education”. Yang kita butuhkan adalah creative destruction, alias memusnahan dan membumi-hanguskan sistem pendidikan bonsai untuk menggantinya dengan sistem yang sama sekali baru. Dua buku ini mengusulkan sebuah revolusi dan pendekatan out of the box dalam pengelolaan pendidikan kita. Tanpa revolusi, maka SD, SMP, SMA, dan universitas hanya menjadi pabrik zombie.

 

*Melahirkan Pengubah Dunia

Sosok pengubah dunia tak mungkin bisa dihasilkan dari anak didik yang piawai menghapal. Sosok pengubah dunia juga tak bisa lahir dari tes multiple choice. Sosok pengubah dunia, menurut Robinson dan Wagner, hanya bisa lahir dari sistem pendidikan yang mengedepankan kolaborasi dan kerja tim (bukan mengagungkan capaian individual melalui tes multiple choice); menekankan pembelajaran multidisiplin (bukan terjebak dalam sekat-sekat disiplin ilmu); merangsang proses penciptaan (bukan pasif mengonsumsi pengetahuan dari guru); dan harus datang dari kemauan kuat si anak didik (intrinsic motivation) untuk mengubah dunia, bukan dalam rangka sekedar mendapatkan nilai bagus.

Walaupun belum menjadi mainstream, benih-benih koreksi terhadap pendidikan bonsai telah muncul dengan berbagai model dan pendekatan.Finlandia yang kini dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia misalnya, menerapkan model pendidikan organik yang menuai sukses. Berbeda dengan sistem pendidikan di negara manapun, sekolah-sekolah di Finlandia sangat mengedepankan kreativitas anak didik dan menempatkan guru sebagai profesi paling bergengsi dan paling mulia. Alih-alih berkompetisi, Finlandia mendorong sekolah dan gurunya berkolaborasi dengan berbagi sumber daya, ide, dan ekspertis. Tak hanya itu, sekolah harus memiliki keintiman dengan orang tua murid dan masyarakat sekitar.

Model lain adalah Innova School di Peru yang sistemnya dirancang oleh IDEO, perusahaan disain produk terkemuka di dunia. Sekolah tingkat menengah ini unik karena pembelajarannya customized untuk tiap murid, memacu kolaborasi dan eksperimentasi, serta melibatkan partisipasi aktif orang tua dan masyarakat sekitar. Dan yang menarik, semua itu dijalankan dengan menggabungkan praktek lapangan (hands-on experience) dengan pembelajaran berbasis digital (digital learning) melalui komputer dan telepon pintar.

Yang lebih revolusioner adalah The Demoratic School of Hadera diIsrael. Sesuai namanya, kurikulum sekolah tingkat menengah ini memang beda karena dirumuskan melalui voting yang melibatkan murid, guru, dan orang tua. Di sini murid dibebaskan untuk memilih mata pelajaran yang hendak dipelajarinya, begitu pula metodenya. Evaluasi sekolah ini inovatif karena berfokus ke individu tanpa mengenal kompetisi antar siswa, ujian, dan nilai. Model sekolah demokratis kini berkembang pesat. Sejak dirintis tahun 1987 di Israel kini telah mencapai jumlah ratusan di seluruh dunia.

Itu di tingkat pendidikan dasar dan menegah, lalu bagaimana untuk pendidikan tinggi? Di tingkat universitas barangkali d.school(Universitas Stanford bersama Hasso Plattner), Olin College, dan MIT(Massachusetts Institute of Technology) Media Lab bisa menjadi contoh terbaik. Di sini mahasiswa diwajibkan membuat sebuah proyek inovasi riil dengan mendirikan start-up yang prosesnya bisa berlangsung beberapa bulan hingga beberapa tahun dari mulai identifikasi masalah, pemetaan potensi pasar, inovasi produk, hingga komersialisasi.

Menariknya, setiap hands-on project tersebut harus mampu menyolusikan masalah-masalah riil di lapangan dan tak jarang diimplementasikan di negara-negara berkembang. Salah satu mahasiswa MIT Media Lab misalnya, menciptakan start-up Global Cycle Solutionyang memproduksi massal semacam sepeda canggih untuk mesin panen jagung masyarakat pedesaan di Tanzania.

Di sekolah-sekolah pengubah dunia itu kita menemukan beberapa kesamaan. Pertama, para murid di situ bersekolah dengan satu passion yang kuat untuk change the world. Kedua, mereka bersekolah untuk mengasah rasa ingin tahu, merangsang imajinasi, dan berolah kreativitas dan daya cipta. Dan yang paling penting, sekolah-sekolah itu tak tercabut dari lingkungan masyarakatnya, mereka bukanlah enclave, mereka hadir untuk menjadi solusi bagi persoalan riil masyarakatnya. Pertanyaannya: kapan sekolah-sekolah di Indonesia menjadi seperti ini?

 

Judul: Creative Schools: Revolutionizing Education from the Ground Up
Penulis: Ken Robinson (bersama Lou Aronica)
Penerbit: Allen Lane, 2015
Halaman: xx + 292

Creative Schools - Book Cover

 

Judul: Creating Innovators:
The Making of Young People Who Will Change the World
Penulis Tony Wagner
Penerbit: Scribner; 2015 (paperback edition)
Halaman: xiv + 304

Creating Innovators - Book Cover

January 11, 2016   4 Comments

Best Business Book 2015 – My Picks

Memasuki pergantian tahun, menjadi rutinitas saya untuk menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2015 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah sepuluh buku terbitan 2015 pilihan saya, semoga bisa menjadi referensi dan inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. The Rise of Robots: “Technology and the Threat of a Jobless Future”, Martin Ford

The Rise of Robot

Di era big data dan algoritma, artificial intelligence menjadi kian cerdas. Memang teknologi paling cool ini membuat hidup kita kian mudah, namun ia juga membawa bencana karena membuat begitu banyak pekerjaan menjadi obsolet karena telah diotomasi. Pertanyaannya, bagaimana nasib kita-kita yang tak cukup cerdas untuk bisa survive di tengah pergeseran dari ekonomi berbasis tenaga kerja manusia ke algoritma dan komputasi? Buku ini memberikan tinjauan kritis mengenai bagaimana jika sopir, pekerja pabrik, lawyer, dokter, guru, bahkan programer tergantikan oleh mesin dan robot cerdas.

2. Misbehaving: “The Making of Behavioral Economics”, Richard Thaler

Misbehaving

Sebuah buku yang begitu renyah menelusuri perjalanan teori baru ekonomi yang kini populer disebut behavioral economics. Teori ini menumbangkan teori ekonomi lama yang telah berusia 200 tahun lebih. Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human).

3. Creative Schools: “Revolutionizing Education from the Ground Up”, Ken Robinson

Creative Schools - Book Cover

Sebuah kritik menohok terhadap sistem pendidikan kita yang sudah terlanjur dikooptasi mesin besar industrialisasi. Tak sekedar mengkritik, buku ini mengajukan model pendidikan alternatif yang lebih holistik, humanis, dan kreatif. Ken Robinson si penulis, menyarankan kita semua untuk back to basic dengan membawa pendidikan pada tujuan hakikinya dalam mentransformasi anak didik menjadi manusia dewasa yang berpengetahuan, berkepribadian, dan sarat kearifan.

4. Rising Strong: “The Reckoning, the Rumble, the Revolution”, Brene Brown

Rising Strong

Buku ini tentang keberanian, kegalauan, dan keteguhan menghadapi berbagai tantangan bisnis dan hidup. Penulis mengingatkan bahwa menemukan kembali pijakan di tengah keterpurukan adalah saat dimana keberanian kita diuji dan nilai-nilai kita ditempa. Menjadi semakin kuat di tengah cobaan yang pelik adalah sebuah proses yang menunjukkan kepada kita, siapa kita sesungguhnya. Bacaan wajib bagi entrepreneur yang ingin tetap tabah dan kuat di belantara cobaan kegagalan bisnis.

5. The Achievement Habit: “Stop Wishing, Start Doing, and Take Command of Your Life”, Bernard Roth

Achievement Habit

Pendiri d.School, Universitas Stanford ini berbagi strategi bagaimana menggunakan design thinking untuk mencapai tujuan-tujuan yang secara konvensional tak bisa diwujudkan. Menurutnya, capaian fenomenal bisa dipelajari dan seperti layaknya bisep, bisa dilatih guna mencapai tujuan-tujuan luar biasa. Dengan menggabungkan design thinking, problem solving, dan kreativitas yang selama beberapa dekade diajarkan di Stanford, buku ini membantu kita membangun perilaku pencapaian yang menjadi modal kita mewujudkan mimpi-mimpi besar.

6. Big Magic: “Creative Living Beyond Fear”, Elizabeth Gilbert

Bi Magic

Penulis novel laris “Eat, Pray, and Love”, di sini tidak sedang mengumbar imaginasi fiksinya, tapi runtut bercerita mengenai proses kreatif di balik penulisan novel-novel indahnya. Melalui buku ini ia mengajak kita mengambil apa-apa yang paling kita cintai, dan mengenyahkan apa-apa yang paling menakutkan dalam hidup kita. Ia membahas sikap, pendekatan, dan kebiasaan yang harus kita tempa untuk mengembangkan kehidupan paling kreatif kita. Bagi kalangan bisnis ini menawarkan perspektif unik mengenai bagaimana menjadi sosok kreatif.

7. Altruism: “The Power of Compassion to Change Yourself and the World”, Matthieu Ricard

Altruism

Buku ini bisa menjadi semacam ensiklopedia mengenai altruisme (perhatian terhadap kesejahteraan dan kebaikan orang lain) yang menyajikan pengalaman personal penulis, insights, dan telusuran literatur ilmiah mengenai topik yang kini naik daun ini. Penulis berargumen bahwa altruisme merupakan jawaban bagi tantangan utama dunia saat ini mulai dari kesenjangan ekonomi, kepuasan hidup, dan kesinambungan lingkungan.

8. Mindful Work: “How Meditation Is Changing Business from the Inside Out”, David Gelles

Mindful Work

Tak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia kejeniusan Steve Jobs adalah mindfulness. Ya, karena Steve adalah pemimpin bisnis menjalani laku meditasi yang menjadikannya efektif dan fokus dalam mengolah ide, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas kepemimpinannya. Mindful Work adalah buku pertama yang secara sistematis menjelaskan peran krusial praktek mindfulness seperti meditasi atau yoga dalam mendongkrak kinerja perusahaan. Beberapa alasannya, karena praktek mindfulness mengurangi stress, meningkatkan fokus mental, dan mengurangi depresi di kalangan karyawan.

9. Cool: “How the Brain’s Hidden Quest for Cool Drives Our Economy and Shapes Our World”, Steven Quartz & Anette Asp

Cool

Saat ini kita hidup di era konsumsi berlebihan (conspicuous consumption) dimana baju yang kita pakai, makanan yang kita santap, atau mobil yang kita kendarai tak melulu untuk memenuhi kebutuhan kita, namun juga sumber identitas, aspirasi, dan nilai-nilai yang kita pegang. Penulis menyajikan temuan ilmiah terbaru di bidang neuroscience, ekonomi, dan evolusi biologi untuk menguak apa dan bagaimana kita mengonsumsi brand.

10. Elon Musk: “Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future”, Ashlee Vance

Elon Musk

Kisah entrepreneur di balik sukses PayPal, Tesla, SpaceX, dan SolarCity ini selalu menarik dan inspiratif. Penulis memotret sisi-sisi menarik dari entrepreneur paling brilian, paling visioner, dan paling ambisius di Sillicon Valley saat ini. Ia melihat kepribadian unik, drive-nya yang luar biasa, hingga ketajaman dalam menerawang arah bisnis masa depan. Sebagai entrepreneur Anda harus belajar dari Musk mengenai satu hal ini: ketika entrepreneur pada umumnya menempuh cara gampang mencari uang dengan memasuki bisnis-bisnis konvensional, Musk justru mencari cara sulit dengan masuk ke bisnis-bisnis yang belum dirambah entrepreneur manapun seperti mobil listrik, energi surya, hingga penjelajahan ruang angkasa.

December 28, 2015   2 Comments

Diskusi Buku “Life Science for a Better Life”

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang tak tertandingi oleh negara manapun di dunia. Dengan sekitar 17.000 jumlah pulau dan 2/3 dari seluruh wilayah merupakan perairan, negeri ini memiliki sekitar 10% spesies tanaman, 12% spesies mamalia, dan 15% terumbu karang yang dimiliki dunia. Indonesia is the mega biodiversity country.

Namun sayang, di tengah kekayaan yang luar biasa tersebut kita justru abai. Kita mengesampingkannya dan cenderung menoleh ke Barat dengan mengembangkan industri otomotif, elektronik, kimia, pesawat terbang, bahkan teknologi nuklir. Seharusnya industri yang kita kembangkan adalah industri yang berbasis life science seperti pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata, pengobatan, energi terbarukan, dan lain-lain.

Poster Diskusi & Peluncuran Buku Bio Farma

Buku Life Science for a Better Life (Gramedia Pustaka Utama, 2015) menawarkan Solusi Kemakmuran, yaitu sebuah konsep pengembangan bioproduk (bioproduct), bioindustri (bioindustry), dan bioekonomi (bioeconomy) yang akan menjadi jembatan kemandirian Indonesia. Ide dasar konsep ini adalah memanfaatkan kekayaan sumber daya hayati yang kita miliki dengan mengolahnya menggunakan life science dalam rangka menciptakan kemakmuran dan kemandirian Indonesia di bidang ekonomi, budaya, dan politik.

Dengan konsep Solusi Kemakmuran ribuan desa di tanah air bisa mengembangkan bioproduk unggul yang bersumber dari potensi sumber daya hayati desa melalui konsep OVOB (one village one bioproduct). Kalau itu terwujud, maka negeri ini tak akan tergantung lagi pada daging sapi impor, kedelai impor, buah impor, atau garam impor. Penulis buku ini meyakini Solusi Kemakmuran akan membawa negeri ini mencapai kedaulatan yang hakiki.

Tema yang sangat menarik dan kini menjadi urgensi nasional (di bawah slogan: “Nawa Cita”) di atas akan kita diskusikan dengan nara sumber penulisnya langsung, Iskandar (Direktur Utama Bio Farma), Yuswohady (moderator), dan pembahas Dr. Anton Apriantono (pakar teknologi pangan IPB), dan M.R. Karliansyah, Deputi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebuah diskusi yang diharapkan mengkristalkan pemikiran, inisiatif, dan sebuah gerakan untuk kemandirian Indonesia.

Waktu: Kamis, 15 Oktober 2015, pukul 08.30 – 12.00 WIB
Tempat: Kembang Goela, Jl. Sudirman Kav. 50, Jakarta
Tema: “Life Science untuk Kemandirian Indonesia”

Yuk ikutan!!!

October 7, 2015   3 Comments

Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru

13-15 Oktober 1985, bertempat di auditorium Sekolah Bisnis Universitas Chicago. Di situ berkumpul sosok-sosok paling disegani dalam ilmu ekonomi. Para ekonom di ruangan itu terbelah ke dalam dua kubu: rationalist dan behavioralist. Di kubu rationalist terdapat “dewa-dewa” ekonom yang telah menentukan arah teori ekonomi dekade-dekade sebelumnya. Mereka antara lain: Robert Lucas (pemenang Nobel 1995), Merton Miller (pemenang Nobel 1990), Eugene Fama (pemenang Nobel 2013), dan Sherwin Rosen (belakangan menjadi presiden American Economic Association, 2001). Sebagian besar mereka adalah ekonom eksponen Chicago School, suatu mazhab yang percaya pada kekuatan pasar bebas.

Sementara kubu behavioralist terdiri dari para ekonom progresif seperti Herbert Simon (pemenang Nobel 1978), Kenneth Arrow (pemenang Nobel 1972), Amos Tversky, Daniel Kahneman (pemenang Nobel 2002), Richard Thaler, dan Robert Shiller (pemenang Nobel 2013). Dirintis oleh Tversky dan Kahneman, gerakan teori ekonomi baru yang kini dikenal luas sebagai teori ekonomi perilaku (behavioral economics), kala itu sedang mencari bentuk dan menghimpun kekuatan untuk bisa diterima sebagai mazhab teori ekonomi baru.

Baca juga: “Dua Dunia” Otak Kita… Mengenai Daniel Kahneman

Ekonom dari dua kubu ini berkumpul melakukan debat terbuka untuk menentukan arah teori ekonomi ke depan. Di forum bergengsi tersebut nasib teori ekonomi modern yang sudah berusia lebih dari 200 tahun bakal ditentukan. Risiko terbesarnya terpampang di depan mata: pilar teori ekonomi lama yang dirintis Adam Smith dan kemudian disempurnakan oleh Ricardo, Marshall, Keynes, hingga Samuelson, akan ambruk berkeping. Ya, karena asumsi-asumsi dasar yang melandasi teori lama itu terpatahkan sehingga tak layak dipertahankan lagi.

Memang yang kemudian terjadi tak sefatal itu. Dalam tiga hari debat maraton, kedua kubu bersikukuh dengan argumentasi masing-masing, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun konferensi di Universitas Chicago itulah yang menjadi titik awal perdebatan panjang untuk mengoreksi teori ekonomi lama (rationalist) dengan teori baru (behavioralist) yang lebih relevan dan down-to-earth. Kini, 30 tahun kemudian, perjuangan para ekonom behavioralists mulai membuahkan hasil ketika behavioral economics mulai diterima sebagai teori ekonomi mainstream.

Econ vs Human
Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human). Econ adalah sosok fiktif dengan rasionalitas, kecerdasan, obyektivitas, dan kontrol diri yang nyaris sempurna. Econ adalah sosok berdarah dingin yang berpikir datar, super-sistematis, dan nir-emosi (kira-kira mirip dengan sosok robot T-800 yang diperankan Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator Genisys). Manusia langka macam ini tak akan kita temukan di manapun di muka bumi ini.

Yang ada adalah sosok Human yang penuh kekeliruan, kealpaan, kebingungan, kebimbangan, emosi, bias, bahkan kesesatan pikir dalam menetapkan pilihan dan mengambil keputusan untuk dirinya. Human adalah sosok irasional yang menjadi obyek beragam bias dan blunder dalam melakukan pengambilan keputusan. Human adalah kebanyakan kita. Perilaku ganjil sosok Human dalam berpikir rasional ini oleh Richard Thaler disebut “misbehaving” yang menjadi judul buku ini. Celakanya, perilaku ganjil ini berlangsung terus-menerus, konsisten, dan terprediksi. Karena itu Dan Ariely, seorang psikolog ternama, menyebutnya: irasionalitas yang terprediksi (predictably irrational).

Ketika asumsi yang digunakan keliru, maka teori yang dihasilkan pun akan keliru dan misleading. Oleh karena itu tak mengherankan jika kian banyak fenomena ekonomi mutakhir saat ini yang tak bisa dijelaskan oleh model ekonomi yang ada, termasuk yang terakhir krisis ekonomi 2008. “Hampir tak ada ekonom yang mampu memprediksi datangnya krisis ekonomi 2008. Celakanya lagi, banyak dari para ekonom tersebut justru berkeyakinan bahwa krisis tersebut seharusnya tak mungkin terjadi,” ujar Prof. Thaler. Nah, kegagalan demi kegagalan ekonom rationalist dalam membaca perubahan ekonomi inilah yang semakin meyakinkan para ekonom behavioralist untuk meluruskan teori lama yang telah usang.

Heroik dan “Subversif”
Perjuangan untuk menumbangkan paradigma keilmuan lama menjadi sesuatu yang sama sekali baru selalu saja heroik. Contoh klasiknya adalah Copernicus yang menumbangkan anggapan mapan lama bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Begitupun perjuangan para ekonom behavioralists yang begitu atraktif dan mengalir diceritakan Thaler dalam buku ini. Jalinan cerita yang dibangun Thaler dalam buku ini demikian runut dan menawan karena Thaler sendiri adalah salah satu bapak pendiri mazhab baru ini di samping Tversky dan Kahneman.

Seperti diungkap Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1962), perubahan paradigma keilmuan selalu diawali dengan adanya beberapa anomali yang diterima umum sebagai penyimpangan dari teori yang telah mapan sebelumnya. Anomali-anomali ini ditemukan oleh para ilmuwan visioner yang nyentrik dan berani tampil beda. Berdasarkan anomali inilah mereka memulai perburuan intelektual untuk mencari penjelasan dan menemukan jawab atas keganjilan anomali.

Walaupun dianggap “subversif” dan mendapat banyak serangan kritik dari ilmuwan ortodoks, mereka tak gentar bereksplorasi mencari bukti-bukti dan landasan teoritik dan menggalang pengikut untuk bersama-sama mendirikan bangunan teori baru. Menariknya, di bidang ekonomi, ilmuwan-ilmuwan subversif yang mendobrak kemapanan teori ekonomi lama itu justru bukan datang dari ekonom, tapi dari psikolog. Perintis behavioral economics Simon, Tversky, dan Kahneman, ketiganya adalah psikolog, bukan ekonom. Barangkali karena semua ekonom sudah terkungkung dalam zona nyaman dan matanya rapat tertutup oleh kaca mata kuda.

Tabir misteri di balik anomali ini pertama kali disingkap oleh Herbert Simon dengan teori “Bounded Rationality” (1957) yang menemukan bahwa manusia memiliki keterbatasan kognitif untuk memecahkan permasalahan yang kompleks. Simon adalah ilmuwan jenius yang kepakarannya merambah berbagai bidang mulai dari ilmu psikologi, politik, sosiologi, ilmu komputer dan intelegensia artifisial, di samping tentu ekonomi. Walaupun diganjar hadiah Nobel, namun temuan Simon belum cukup memiliki pengaruh kuat untuk menggeser paradigma teori ekonomi lama. Para ekonom ortodoks mengesampingkan temuan Simon dan menganggap temuannya “true, but unimportant”.

Terobosan fenomenal baru terwujud melalui karya Tversky dan Kahneman mengenai “Judgement under Uncertainty” (1973) dan “Prospect Theory” (1979). Melalui karya rintisan ini, Tversky-Kahneman berhasil merumuskan model ekonomi deskriptif yang lebih akurat memotret perilaku manusia yang sesungguhnya (yup, Human). Inilah model yang pertama kali mencangkokkan psikologi dan ilmu sosial ke jantung teori ekonomi. Sebuah model yang secara mendasar mengubah wajah teori ekonomi yang telah mapan dan mengeras selama dua abad. Untuk karya terobosan ini Kahneman memperoleh hadiah Nobel 2002. Anugerah ini sekaligus mengangkat behavioral economics ke panggung teori ekonomi mainstream.

Populer dan Relevan
Di tahun 1990-an behavioral economics kian populer dan mendapatkan eksposur yang luas baik secara teoritis maupun praktis, khususnya di sektor keuangan dan pasar modal (kemudian disebut behavioral finance). Biangnya tak lain adalah adanya serangkaian krisis ekonomi (dari Black Monday Oktober 1987, krisis ekonomi Asia 1998, internet bubble 2000, hingga terakhir krisis perumahan 2008) yang kian sulit dianalisis dengan menggunakan teori ekonomi konvensional. Dalam waktu singkat behavioral finance menjadi populer seiring luasnya publikasi media global mengenai krisis ekonomi dunia. Seiring dengan itu, Alan Greenspan, ketua The Fed waktu itu, memunculkan terminologi “irrational exuberance” di tahun 1996 yang tak pelak lagi kian meroketkan behavioral finance di kancah ilmu ekonomi keuangan di seluruh dunia.

Di tengah gegap-gempita ini Robert Shiller, salah satu eksponen behavioralist, menjadi ikon baru di kalangan ekonom. Risetnya “Do Stock Prices Move Too Much to Be Justified by Subsequent Changes in Dividends” (1981) mengenai volatilitas harga saham yang jauh melebihi nilai dividen menjadi acuan untuk menjelaskan rangkaian krisis keuangan yang terjadi kala itu. Karya monumental itu sekaligus mematahkan teori sebelumnya bahwa pasar efisien dan bahwa faktor-faktor irasional pelaku pasar dominan memengaruhi harga saham. Untuk karya terobosannya ini Shiller diganjar hadiah Nobel tahun 2013.

Dengan pisau analisis behavioralist, Shiller dianggap sebagai ekonom yang paling tahu mengenai krisis keuangan global. Bahkan melalui buku larisnya Irrational Exuberance (2000), Shiller dianggap mampu meramalkan datangnya dotcom crash di tahun 2000 dan krisis perumahan di tahun 2008. Dengan kepresisian tinggi, Shiller berhasil memprediksi bahwa harga saham teknologi (tahun 2000) dan harga rumah (tahun 2008) di Amerika sudah terlalu tinggi (overvalued) dan berada di ambang kejatuhan. Keberhasilan behevioral economics/finance menjelaskan perubahan-perubahan ekonomi mutakhir menjadi genderang kemenangan mazhab baru ini dan menempatkannya sebagai teori ekonomi mainstream yang diterima para ekonom di seluruh dunia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, behavioral economics kian terdongkrak popularitasnya seiring dengan munculnya buku-buku bestseller dunia yang menggunakan kerangka ide yang sama. Beberapa contoh di antaranya adalah: Predictably Irrational (Dan Ariely, 2008), Black Swan (Nassim Nicholas Taleb, 2007), dan Freakonomics (Stephen Levitt, 2005). Kisah 40 tahun perjalanan heroik mazhab baru ini ditutup dengan sebuah happy-ending yang melegakan.

Storytelling Matters

Misbehaving menjadi begitu menawan dan renyah dibaca karena disampaikan dalam format berkisah (storytelling). Secara isi buku ini mirip dengan karya fenomenal Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow (2011), namun berbeda secara format. Buku ini seharusnya berat dan menjemukan, karena sarat dengan kajian literatur yang njlimet dan teknis. Namun di tangan Prof. Thaler, tali-temali kajian tersebut berubah menjadi jalinan cerita yang menarik dan mengalir deras.

Seperti umumnya cerita, di dalamnya terdapat plot mengalir, dikotomi protagonis-antagonis, klimaks-antiklimaks, sentuhan-sentuhan emosional, dan tentu tak ketinggalan happy-ending di akhir kisah. Ia misalnya, menempatkan dua kubu ekonom behavioralist-rationalist layaknya protagonis-antagonis. Sementara sentuhan emosional salah satunya ditampilkan di halaman pertama buku, ketika dia mengenang kebersamaan memilukan dengan Amos Tversky, mentor dan kolega kentalnya, di 5 bulan terakhir sebelum sang jenius meninggal Juni 1996 oleh kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Karena kepiawaiannya berkisah, tak heran jika Daniel Kahneman memberi pujian kepada buku ini dengan menyebut Thaler sebagai, “the creative genius who invented the field of behavioral economics is also a master storyteller and a funny man…
Pelajaran Bagi Indonesia

Ketika pendekatan behavioral lebih ampuh memotret sosok pelaku ekonomi yang sesungguhnya (Human, bukan Econ), maka konsekuensinya kebijakan publik (public policy) yang dihasilkan dari pendekatan baru ini akan memiliki presisi, relevansi, dan efektivitas yang lebih tinggi. Karena itu tak heran jika dalam 5 tahun terakhir, berbagai negara mulai berlomba-lomba mencangkokkan pendekatan behavioral economics dan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka untuk menciptakan human-focused government.

Di Inggris misalnya, pemerintahan David Cameron membentuk Behavioral Insight Team (BIT) pada tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan efektivitas kebijakan publik melalui penerapan prinsip-prinsip behavioral economics. Di Amerika Serikat, tahun lalu pemerintah Obama telah membantuk White House Social and Behavioral Science Team (SBST) dengan misi dan fungsi yang mirip dengan BIT. Survei dari Economic and Social Research Council, tahun lalu setidaknya telah ada 134 negara yang mulai memasukkan pendekatan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka.

Di Indonesia, pemerintahan Jokowi seharusnya mulai berpikir untuk mengadopsi pendekatan yang sama untuk mendongkrak kualitas dan efektivitas kebijakan publik. Cakupan kebijakan yang digarap bisa sangat luas mulai dari kebijakan makroenonomi, kebijakan industri, dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di bidang kesehatan, pendidikan, hingga kriminalitas. Let’s see…

August 16, 2015   3 Comments

My Brand New Book: “8 Wajah Kelas Menengah”

Alhamdulillah, buku baru saya terbit lagi. Buku berjudul: 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia Pustaka Utama, 2015) ditulis bersama Kemal E. Gani (Pemimpin Umum Majalah SWA) dan tim riset dari majalah SWA dan Inventure. Buku ini rencananya diluncurkan pada gelaran Indonesia Middle Class Forum (MCF) 2015 bertema “Value Innovator” pada tanggal 11 Juni 2015, di Hotel Intercontinental, Jakarta.

Cover 8 Wajah Kelas Menengah - Final

Sesuai judulnya, buku ini membahas 8 sosok konsumen kelas menengah Indonesia yaitu: Expert, Climber, Aspirator, Performer, Trendsetter, Follower, Settler, dan Flow-er. Buku dengan 11 bab ini membahas nilai-nilai dan perilaku dari 8 sosok konsumen kelas menengah berdasarkan survei yang dilakukan Middle Class Institute (MCI) di 9 kota utama Indonesia. Buku ini merupakan buku wajib bagi setiap pemasar dan pebisnis yang ingin menarget pasar paling besar dan paling profitable di Indonesia saat ini yaitu pasar kelas menengah.

Bukunya baru tersedia di toko buku Gramedia sekitar awal bulan Juli, namun sudah bisa dipesan sejak 11 Juni ke: Nurkamalia (@Liamakinuddin): 0857 8078 9897

June 2, 2015   4 Comments

Best Business Book 2014: My Picks

Memasuki tahun 2015, ada baiknya jika kita menengok kembali buku-buku hebat di tahun 2014 yang layak kita baca dan ambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Berikut ini adalah buku-buku pilihan saya di tahun 2014, semoga bisa menjadi inspirasi Anda di tahun yang baru.

1. Zero to One: Notes on Startups or How to Build the Future, by Peter Thiel, Blake Master (September, 2014)

See the Book: Zero to One, Peter Thiel

“The next Bill Gates will not build an operating system. The next Larry Page and Sergey Brin won’t make a search engine. The next Mark Zuckerber won’t create a social network.” ujar Peter Tiel, pendiri Paypal dan sang penulis, mengawali buku ini. Lanjutnya, jika Anda meniru Gates atau Zuckerberg, maka Anda tak akan belajar dari mereka. Anda tak akan mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa jika hanya menyempurnakan sesuatu yang sudah ada. Anda akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa hanya jika menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, aneh, dan fresh. Yang pertama membawa dunia “dari 1 ke n”, sementara yang kedua “dari 0 ke 1”. Sari pati wisdom dari legendary venture capitalist yang ikut membidani PayPal, Facebook, LinkedIn, dan Airbnb. A great book on inventing the next big things.

2. The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies, by Erik Brynjolfsson, Andrew McAfee (Januari, 2014)

The Second Machine Age - Cover 2

Kalau “first machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan fisik/manual manusia (mesin uap, mobil, pabrik), maka “second machine age” adalah era otomasi pekerjaan-pekerjaan pengetahuan (knowledge works) dengan memanfaatkan big data, algoritma, predictive analytic, machine learning, atau internet of things. Tak pelak lagi teknologi digital menjadi dusruptive technology yang akan memorak-porandakan lanskap bisnis baru yang menghasilkan produk, layanan, pekerjaan, dan ekonomi baru yang tak terbayangkan saat ini. Era “second machine age” itu kini sedang berjalan. Dan, dua profesor dari Center for Digital Business MIT ini mencoba mengidentifikasi strategi terbaik untuk bisa survive di era baru tersebut.

3. Hooked: How to Build Habit-Forming Products, by Nir Eyal (November, 2014)

Hooked - Cover

Lupakan ATL (above the line). Lupakan BTL (below the line). Lupakan kampanye media sosial. Yang sesungguhnya kita butuhkan bukanlah promosi, tapi produk yang menjadikan konsumen keranjingan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi. Lihat bagaimana Facebook menjadikan kita keranjingan meng-update status. Lihat bagaimana Instagram menjadikan kita begitu ketagihan meng-upload foto. Atau 7-Eleven menjadikan para ABG demen nongkrong dan kopdar di akhir pekan. Buku ini memberikan insight luar biasa bagi entrepreneur, product manager, designer, marketer, start-up founder, atau siapapun yang ingin menciptkan produk yang membentuk kebiasaan konsumen (habit-forming product). Dengan The Hook Model yang dikembangkan penulis, kita bisa memahami dengan lebih baik bagaiamana kebiasaan konsumen itu terbentuk dan bagaiamana marketer harus menyikapinya.

4. Thrive: The Third Metric to Redefining Success and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder, by Arianna Huffington (Maret, 2014)

Thrive - Cover

Sebuah refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran setelah sang penulis, Arianna Huffington, pendiri koran online paling berpengaruh di Amerika saat ini, bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan palsu. Berkaca dari pegaalaman personal tersebut, ia merumuskan ukuran kesuksesan baru (the third metric) yaitu: kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini sukses haruslah berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive).

5. The Promise of a Pencil: How an Ordinary Person Can Create Extraordinary Change, by Adam Braun (Maret 2014)

The Promise of a Pencil - Cover

Sebuah kisah heroik dari anak muda hebat, Adam Braun si penulis, dalam menemukan panggilan hidup membangun ratusan sekolah untuk kaum papa di seluruh dunia dengan hanya bermodal awal $25. Semuanya berawal saat ia berlibur ke India dan mendapati seorang anak jalanan miskin. Ketika ditanya apa keinginan terbesarnya, jawaban si anak singkat: sebatang pensil untuk menulis. Jawaban si anak membawa kegundahan dalam hati Adam. Kegundahan ini mendorongnya keluar dari pekerjaan mapan di sebuah consulting firm di New York dan kemudian mendirikan Pencil of Promise, sebuah LSM yang bermimpi besar memerangi kebodohan melalui pendidikan untuk kaum papa. Sebuah cerita inspiratif mengenai kewirausahaan sosial yang mengubah dunia.

6. Creativity, Inc: Overcoming the Unseen Forces that Stand in the Way of True Inspiration, by Ed Catmull, Amy Wallace (April, 2014)

Creativity Inc - Cover

Selama hampir dua dekade Pixar telah mendominasi jagat film animasi dengan menelorkan blockbusters seperti: Toy Story, Finding Nemo, hingga The Incredibles. Tak hanya sukses komersial, Pixar juga piawai mencipta karya-karya artistik hingga diganjar 27 piala Oscar. Di balik kerja besar Pixar tersimpan harta karun berupa pembelajaran-pembelajaran luar biasa mengenai bagaimana seharusnya organisasi mengelola proses, budaya perusahaan, talenta, dan iklim yang kondusif untuk memompa kreativitas. Di tulis langsung oleh sang pendiri, buku ini mencoba menguak harta karun tak ternilai tersebut.

7. How Google Works, by Eric Schmidt, Jonathan Rosenberg (September, 2014)

How Google Works - Cover

Buku ini menelusuri perjalanan bisnis Google, perusahaan paling sukses abad ini, di masa-masa keemasannya (2001-2011) di bawah sang Nakhoda, Eric Schmidt. Kunci sukses Google menurut penulis ditentukan oleh kepiawaian menghasilkan inovasi-inovasi produk yang luar biasa dan kemampuan menarik talenta-talenta mumpuni, yang di Google di sebut: Smart Creatives. Buku ini menjadi istimewa karena ditulis sendiri oleh sang Nakhoda, Eric Schmidt bersama Senior Vice President (SVP) Produk (sekarang advisor Google). Di tangan mereka Google menghasilkan produk-produk luar biasa seperti: AdSense, AdWords, Gmail, Drive, Docs, Maps, Google+, Chrome, hingga Android dan akuisisi YouTube.

8. The Gen Z Effect: The Six Forces Shaping the Future Business, by Tom Koulopoulos, Dan Keldsen (November, 2014)

The Gen Z Effect - Cover

Salah satu perubahan besar (disruption) dalam bisnis dan sosial-ekonomi adalah munculnya generasi pasca Millenial (Gen Y) yang kini sering disebut sebagai: Gen Z. Generasi yang lahir antara 1995 hingga 2015 ini adalah generasi yang paling socially-connected dalam sejarah umat manusia. Buku ini mengidentifikasi enam kekuatan yang akan memicu disruptive changes yang akan membentuk masa depan bisnis Anda. Pemahaman terhadap keenam kekuatan itu akan menentukan apakah Anda menjadi pemenang atau pecundang di era Gen Z.

9. Show Your Work: 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered, by Austin Kleon (Maret, 2014)

Show Your Work - Cover

“Crafting something is a long, uncertain process. A maker should show her work,” demikian Austin Kleon, penulis buku ini, mengawali buku ini dengan kalimat yang sekaligus merangkum ide dasar buku. Buku ini mendobrak mitos bahwa karya hebat haruslah diciptakan oleh seorang jenius yang bekerja sendirian (lone genius). Di era connected world, karya-karya kreatif yang mengubah dunia haruslah diciptakan secara berjamaah. Kita harus bergabung dalam apa yang disebut Kleon, “new ecology of talent”. Kata Kleon: “It is about getting found by being findable. It is about being a connector, a teacher, and an open node. You have to be an artist that other artists will steal from.”

10. The Art of Thinking Clearly, by Rolf Dobelli (Mei, 2014)

The Art of Thinking Clearly - Cover

Buku ini secara menarik mengumpulkan 99 jenis bias pikiran (cognitive bias) yang menjadikan kita blunder dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Ambil contoh Anda berlibur ke luar kota dan Anda tak tahu mana restoran yang enak. Maka yang Anda lakukan adalah mencari restoran yang terlihat pengunjungnya ramai. Apakah restoran itu benar enak? Belum tentu. Itulah salah satu cognitive bias yang disebut “social proof” (Bab 4). Selesai membaca 99 bab buku ini kita akan menyadari bahwa manusia adalah mahluk lemah yang tak berdaya melawan blunder pikiran.

11. Think Like a Freak: The Authors of Freakonomics Offer to Retrain Your Brain, by Steven Levitt, Stephen Dubner (Mei, 2014)

Think Like  Ffreak - Cover

Sekuel dari Freakonomics dan Superfreakonomics, buku ini mengeksplorasi lebih jauh dua buku bestseller sebelumnya dengan memberikan resep-resep memecahkan masalah dengan pendekatan yang tak biasa. Levitt-Dubner mengajak kita melihat dan memecahkan masalah dengan pendekatan yang seringkali menyimpang dari conventional wisdom. Dengan analisis ekonomi yang kreatif Levitt-Dubner melihat dunia dari kaca mata yang berbeda dari kebanyakan kita. Melalui buku ini mereka berbagi resep bagaimana kita bisa berpikir beda: think like a freak.

Selamat Tahun Baru 2015.

 

See: Best Business Book 2013

See: Best Business Book 2012

January 1, 2015   1 Comment

Meredefinisi Ukuran Sukses

Beberapa bulan lalu, aktor hebat peraih Oscar, Robin Williams, dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Seluruh dunia terenyak, tak habis pikir bagaimana seseorang yang begitu sukses, bergelimang harta, dan bertabur ketenaran justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu hina dan konyol. Mengenai sebab kematian, sang istri mengatakan, beberapa waktu terakhir sebelum meninggal, sang aktor menghadapi masalah depresi, kecemasan akut, kesulitan tidur, hingga keluhan penyakit parkinson.

Kematian Williams adalah tragedi kemanusiaan di dalam dunia, ketika materialisme menjadi panglima, ketika kekayaan, jabatan, dan ketenaran menjadi dewa yang diagung-agungkan. Dalam dunia picik macam ini, kekuasaan dan uang harus dikejar hingga ke ujung dunia secara membabibuta, at all cost. Untuk menggapai semua itu, dimensi-dimensi lain kemanusiaan kita cenderung terabaikan. Akibatnya, keletihan karena kerja berlebih, stres, dan depresi menjadi penyakit sosial yang kian meradang. Celakanya lagi, kondisi menghimpit itu menjadi sumber bagi beragam penyakit dari diabetes, kanker, hingga parkinson.

Karena kenyataan mengenaskan itu, kini kesuksesan harus diredefinisi secara fundamental agar tidak melenceng lebih jauh. Sukses tak melulu menyangkut gelimang kekayaan, tak sebatas jabatan atau gemerlap ketenaran. Sukses adalah penghargaan terhadap kemanusiaan kita secara utuh, tanpa disunat sana-sini. Di sinilah diperlukan “ukuran ketiga” (third metric) untuk mendefinisikan ulang hakiki kesuksesan. Diperlukan kriteria ketiga karena dua kriteria sebelumnya, yaitu kekayaan (money) dan kekuasaan (power) sudah tidak memadai lagi.

Ukuran ketiga

Dalam Thrive, Arianna Huffington, pendiri koran daring (online) paling berpengaruh di Amerika saat ini, merumuskan ukuran kesuksesan ketiga tersebut mencakup empat elemen, yaitu kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini, sukses harus berbanding lurus dengan kebahagiaan; sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Sukses adalah jiwa yang terus bertumbuh (thrive). “How we measure success is changing,” ujarnya.

Bagi Arianna, buku ini sangat emosional karena merupakan refleksi atas pengalaman personal yang sarat pembelajaran. Buku ini tercipta setelah ia bangkit dari keterpurukan karena terlalu terobsesi mengejar kesuksesan material, yaitu kekayaan dan kekuasaan. Untuk mewujudkan Huffington Post, ia superstres dan supersibuk bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Hasilnya, awal April 2007, ia kolaps jatuh tak sadarkan diri, bersimbah darah, nyaris menyongsong ajal karena terlalu lelah bekerja.

Menurut ukuran konvensional, Arianna telah mencapai puncak sukses. Berkat sukses Huffington Post, ia masuk jajaran orang terkaya di Amerika. Namanya masuk dalam World’s 100 Most Influential People-nya majalah Time. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah terkemuka dunia. Kurang apa? Namun, di tengah puncak kesuksesan tersebut, justru muncul pertanyaan eksistensial dari lubuk hatinya yang terdalam, “Seperti inikah kesuksesan yang saya cari, seperti inikah hidup yang saya dambakan?

Ukuran ketiga mendesak dimasukkan dalam kriteria sukses agar kita tak terperosok lebih jauh menjadi “robot pengumpul uang” atau “mesin penimbun kekuasaan”, atau bahkan “monster pemburu ketenaran”. Sukses bukanlah to take you at the top of the world, melainkan to change the world. Sukses haruslah sarat dengan kerendahan hati, kontribusi kepada umat manusia, kekayaan nurani, kearifan budi, dan hidup yang penuh makna.

“How Will You Measure Your Life”

Dalam ungkapan yang berbeda, Prof Clayton Christensen, pencipta teori inovasi (disruptive innovation) dan penulis buku fenomenal The Innovator’s Dilemma, menempatkan ukuran sukses dalam posisi penting sebagai titik simpul dari keseluruhan perjalanan hidup untuk mencapai kebahagiaan. Dalam buku barunya, How Will You Measure Your Life?, profesor di sekolah bisnis Harvard ini menekankan, ukuran sukses merupakan kompas yang akan menuntun arah kehidupan kita. How will you measure your life, ujarnya, adalah pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum kita menentukan arah kemudi kehidupan dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip scientific management yang menjadi bidang keahliannya, Clayton berargumen bahwa ukuran sukses dalam meniti karier, membina keluarga, dan membangun relasi dengan orang lain merupakan batu pijakan dalam mengalokasikan waktu, tenaga, talenta, dan uang yang kita punya untuk mewujudkan kebahagiaan hidup. Selama tak mampu merumuskan ukuran sukses hidup, maka selama itu pula kita tak akan mampu mengisi hidup dengan hal-hal bermakna yang memperkaya jiwa dan nurani.

Buku ini memiliki perspektif unik, berbeda sama sekali dengan kebanyakan buku mengenai inspirasi sukses lain, karena menggunakan teori-teori manajemen perusahaan sebagai tools dalam memandu kita melakukan pilihan-pilihan hidup yang tepat guna mencapai kehidupan yang bermakna. “Good theory help people steer to good decisions, not just in business, but in life, too,” ujar Clayton. Dengan bekal teori tersebut, buku ini memberikan arahan how to mengenai bagaimana kita menyusun visi dan tujuan hidup, menemukan passiondalamkarier,melakukan alokasi sumber daya (waktu, tenaga, pikiran, kekayaan, talenta), menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan, hingga membesarkan anak. Yang menarik, dalam menjelaskan teorinya, Prof Clayton menggunakan contoh-contoh kasus perusahaan seperti Honda, Dell, dan IKEA.

Wong urip iku mung mampir ngombe (orang hidup itu sekadar istirahat sejenak untuk mampir minum), begitu kata ungkapan bijak orang Jawa. Hidup itu hanya sebentar, maka kita harus mengisinya dengan hal-hal penuh makna. Kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki jika bisa menemukan makna di setiap detik hidup. Persis seperti kata Prof Clayton, untuk mewujudkannya, kita harus bisa menjawab pertanyaan how will you measure your life.

***

Titik Balik

Dua buku ini memiliki kemiripan substansi dan latar belakang penciptaan walaupun penulisnya tidak pernah janjian. Dua buku ini lahir sebagai refleksi personal penulisnya setelah mereka mengalami titik balik kehidupan. Arianna menulis Thrive setelah kolaps hampir menjemput ajal akibat kelelahan bekerja, sementara Prof Clayton menulis How Will You Measure Your Life setelah teridentifikasi mengidap follicular lymphoma (penyakit kanker yang telah menewaskan ayahnya) dan terkena stroke pada 2010.

Ketika berada di puncak sukses, Arianna sebagai pengusaha/jurnalis dan Clayton sebagai ilmuwan, mereka justru mengalami cobaan hidup begitu berat hingga terpuruk di titik terbawah. Di tengah kegalauan di titik nol, mereka melakukan perenungan mengenai hakikat sukses kehidupan dan menemukan bahwa sukses yang diraup selama ini semu belaka. Becermin pada pengalaman personal itu, mereka mencoba merumuskan jalan sukses yang lebih arif dan manusiawi.

Ide besar yang ingin disampaikan kedua penulis ini sama, yaitu bagaimana menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dengan mengisinya dengan hal-hal bermakna. Becermin pada pengalaman personalnya, Arianna akhirnya menyadari bahwa uang dan jabatan ternyata bukanlah jawaban paripurna. Ada hal lain yang juga mendesak untuk digapai di tengah ajal yang selalu sigap mengintai, seperti kesehatan raga tak terjangkit beragam penyakit, ketenangan jiwa tak tertawan oleh stres karena bekerja, atau kearifan hidup yang diperoleh dari segudang pengalaman masa lalu.

Sementara itu, Prof Clayton, dengan kerangka teori manajemennya yang disiplin, menganjurkan kita menjalani hidup secara “strategis” dengan menetapkan arah, prioritas, strategi, dan alokasi sumber daya yang dimiliki. Menjalani hidup, dalam kacamata Prof Clayton, sesungguhnya tak banyak berbeda dengan mengoperasikan sebuah perusahaan, prinsip-prinsipnya sama. Ketika kita terlalu sibuk bekerja dan mengesampingkan keluarga misalnya, itu tak lain merupakan bentuk dari alokasi sumber daya yang tak benar (misallocation of resources). Ketika alokasi waktu, tenaga, pikiran, dan talenta kita terlalu banyak ditumpahkan kepada karier dan pekerjaan, “kepentingan” keluarga akan terkorbankan, dan dari sini akan timbul bibit-bibit masalah.

Karena menulis di tengah duka mendalam akibat titik balik hidup yang sangat tragis, tak heran jika energi, emosi, dan keterlibatan penulis dalam melahirkan buku ini begitu total. Barangkali karena totalitas ini, dua buku ini menjadi bestseller dunia. Dengan peristiwa tragis yang menimpanya, barangkali mereka merasa menjadi “orang terpilih” untuk mengingatkan kita semua untuk tidak terperosok dalam kesuksesan hidup yang semu.

Mengenai sukses yang sesungguhnya, ada satu benang merah yang menyatukan buah pikiran mereka (yang sekaligus menjadi happy-ending dari kedua buku ini), yaitu memberi (giving). Sukses yang sesungguhnya bukanlah menyangkut diri kita, melainkan orang lain. Sukses adalah kontribusi kepada orang lain. Sukses adalah memberi untuk orang lain. Persis seperti dibilang Albert Einstein, “only a life lived for others is the life worthwhile.”

***

Judul: Thrive: The Third Metric to Redefining Success  and Creating a Life of Well-Being, Wisdom, and Wonder. Penulis: Arianna Huffington Penerbit: HarmonyBooks, 2014 Halaman: 352 Cover Thrive, Arianna Huffington

 

Judul: How Will You Measure Your Life? Penulis: Clayton Christensen, James Allworth, Karen Dillon Penerbit: HarperBusiness, 2012 Halaman: 240

 

Cover How Will You Measure - Clayton Christensesn

 

*Artikel ini telah dimuat di KompasKlass, Jumat 12 Desember 2014

December 12, 2014   3 Comments