E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Category — Books

The Dentsu Way

Penulis: Kotara Sugiyama, Tim Andree
Halaman:  xxiv  + 310 halaman
Penerbit: McGraw-Hill – New York, 2011

Pondasi dari sebuah professional service provider seperti konsultan manajemen atau agensi periklanan ditentukan oleh metode dan pendekatan yang mereka gunakan dalam memberikan solusi ke klien. McKinsey&Co. punya 7S yang legendaris, Boston Consulting Group punya BCG Matrix yang fenomenal, Ogilvy punya pendekatan kreatif unik yang diinspirasi oleh sang pendiri David Ogilvy.  Pendekatan inilah yang menjadi faktor keunikan dan point of differentiation agensi tersebut dibandingkan para pesaingnya.

Membaca buku The Dentsu Way kita diajak mengarungi seluk-beluk pendekatan yang digunakan oleh agensi IMC (integrated marketing communication) terbesar di Jepang ini dalam memberikan solusi ke klien. Dentsu mengumpulkan serpihan-serpihan pengalamannya selama lebih dari 100 tahun, kemudian mengkristalkannya menjadi sebuah pendekatan konseptual yang komprehensif, yang mereka sebut sebagai The Dentsu Way.

Proyek prestisius mengumpulkan wisdom itu dimulai tahun 2006 dengan membentuk The Dentsu Cross Switch Team dan terumus tahun 2008 (buku versi awal berjudul: Cross Switch: How to Creat Cross Communication terbit pertama kali di Jepang), dan kemudian diperkenalkan secara global tahun ini melalui buku ini. [Read more →]

April 17, 2011   4 Comments

Women on the Web: How Women Are Shaping the Internet

Berikut ini saya share hasil survei mengenai “Women Social Media Habits 2010″ yang dilakukan oleh ComScore. Banyak temuan menarik salah satunya adalah: “Women tweet like VENUS; Men tweet like MARS”  Menarik dibaca:  Women on the Web: How Women Are Shaping the Internet

October 16, 2010   2 Comments

Diamond #5 of WOMANOLOGY > TRUST: “Remember, TRUST is the MOST important emotion in a sale to woman. If you’re NOT trusted, you’ll NEVER earn her heart”

Trust adalah elemen paling penting, paling krusial, dan paling esensial dalam pemasaran ke woman market. Kenapa begitu? Karena trust lah yang melandasi konsumen wanita mau membeli dan menjalin relationship dengan brand Anda. “If you’re not trusted, you’ll never earn her heart.” Tanpa trust habislah brand Anda di depan mereka.

Karena pentingnya trust bagi konsumen wanita, maka kami berani mengatakan bahwa, “marketing to woman is about wining her trust”. Trust menjadi sumber dari adanya saling pengertian, saling mencintai, saling peduli, saling memberi, dan saling komitmen antara konsumen wanita dengan brand.

Kalau trust demikian penting, lalu bagaimana seharusnya brand membangun trust di depan konsumen wanita? Tak ada cara lain membangun kecuali Anda harus jujur dan menepati janji, tidak boleh “over promise under deliver”. Wanita paling sensitif kalau sudah menyangkut janji. Begitu Anda meleset tidak memenuhi apa yang Anda janjikan kepadanya, maka sampai kiamat brand Anda akan selalu diingat dan dianggap cacat. Begitu ia mencap brand Anda cacat, maka sampai kapanpun ia tak akan akan memaafkannya. [Read more →]

September 26, 2010   No Comments

Diamond #3 of Womanology > VALUE: “Woman is the most VALUE-ORIENTED creature. She will pay to get EXACTLY what she wants. Offer her a SOLUTION, not just a list of features”

Wanita adalah konsumen yang sangat value-oriented. Dia akan menghitung dengan sangat cermat seberapa dia bayar dan seberapa dia dapat. “They are highly value orientated and will pay to get exactly what they want”. Karena value-focused maka konsumen wanita selalu menginginkan mendapatkan benefit produk sebanyak mungkin di satu sisi; sementara di sisi lain mengeluarkan biaya sesedikit mungkin. Karena itu konsumen wanita paling hobi menawar. Karena sifat dasar ini, tak mengherankan jika ia sering dianggap sebagai konsumen yang price-conscious. Inilah sisi “rasional” dari konsumen wanita.

Wanita adalah juga smart customer. Ia membeli produk setelah tahu betul keadaan produk yang dibelinya. Dengan teliti ia melakukan survei mengenai kualitas suatu produk sebelum ia melakukan pembelian. Ia paling suka membandingkan produk yang akan dibelinya dengan produk-produk sejenis untuk mengetahui mana di antara produk tersebut yang paling menguntungkan baginya. Dan ia suka mencari rekomendasi dan referal dari sesama konsumen wanita lain agar mendapatkan keputusan yang tepat dalam membeli suatu produk.

Dengan berkembangnya teknologi internet dan social media, kini konsumen wanita memiliki kebiasaan baru melakukan searching di internet untuk mengumpulkan informasi produk-produk yang akan dibelinya. Konsumen wanita juga mulai suka berkomunitas di situs-situs jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter untuk bisa berdiskusi dan mendapatkan rekomendasi mengenai produk-produk yang akan dibelinya. Dengan media-media baru ini maka mereka menjadi konsumen yang semakin knowledgable. [Read more →]

September 23, 2010   1 Comment

The Diamond #2 of Womanology > CARE: “She wants to be CARED and APPRECIATED. LISTEN to her! UNDERSTAND her!”

Wanita paling suka diperhatikan.
Wanita paling suka didengarkan.
Wanita paling suka dimengerti.
Dan tentu, wanita paling suka disayang.

Inilah resep klasik pria untuk menaklukkan hati wanita, yang tetap sahih berlaku bagi brand-brand yang ingin menarget woman market.

Setiap konsumen wanita akan merasa tersanjung jika sebuah brand mengetahui apa yang sedang ia rasakan dan apa yang ia inginkan. Karena itu satu hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap brand adalah mendengarkan: “pay attention to what women tell you. Ask open-ended questions and listen carefully to the answers.”

Menarik ungkapan John Gray masih di dalam bukunya Men Are from Mars, Women Are from Venus, “Men must listen to women without offering solutions but in order to understand what she is going through.” Seringkali wanita tak butuh persoalannya terpecahkan, yang penting ia didengarkan. [Read more →]

September 22, 2010   No Comments

Diamond #1 of Womanology > CONNECTION: “Build sincere EMOTIONAL CONNECTION. RELATE her with your brand. LINK her with each other”

Wanita membeli produk bukan melulu karena alasan fungsional seperti kualitas nomer satu, awet dan tahan lama, atau murah meriah. Wanita membeli brand juga untuk membentuk emotional connection dengan brand tersebut. Kaum hawa membeli sebuah brand karena mereka menyukai dan bisa mengkoneksikan dirinya dengan brand tersebut. Ini berbeda dengan konsumen pria yang umumnya membeli brand karena superioritasnya. Dalam beberapa kategori produk tertentu brand bahkan dijadikan wanita sebagai alat untuk ekspresi diri (self-expression).

Kenyataan ini relevan dengan amatan John Gray, penulis buku laris Men Arew from Mars, Women Are from Venus, yang mengatakan. “Men value power, competence, and achievement. They need to achieve results by themselves. Women value feelings and the quality of relationships,” Ya, reason to buy konsumen wanita banyak dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan emosional; sementara konsumen pria lebih dipengaruhi alasan rasional. Tak heran, karena menurut survei Harvard University (2001), limbic cortex yaitu bagian otak yang bertanggung-jawab mengatur emosi seseorang, memiliki ukuran yang lebih besar untuk wanita dibandingkan pria. [Read more →]

September 21, 2010   1 Comment

WOMANOLOGY: “The Art of Marketing to Woman”

Note: Tanggal 28 September 2010 ini saya (bersama dua co-author lain Dyah Hasto Palupi dan Teguh S. Pambudi, keduanya wartawan majalah SWA) akan meluncurkan buku Womanology: The Art of Woman Marketing yang berisi analisis mengenai 40 kasus pemasaran di Martha Tilaar Group (MTG). Dari analisis kasus tersebut kami merumuskan model “The Diamond of Womanology“. Berikut ini adalah tulisan singkat mengenai gambaran isi buku.

***

Needs, want, dan expectation berikut perilaku konsumen wanita (woman customers) dengan berbagai kompleksitasnya merupakan “black box” yang sulit diurai oleh marketers. Di sisi lain wanita (terutama ibu) memegang keputusan pembelian — mulai dari keperluan rumah tangga, pendidikan dan kesehatan anak, hiburan, hingga asuransi — dengan nilai uang yang sangat besar. Itu sebabnya pasar wanita (woman market) merupakan pasar yang selalu challenging untuk ditarget. Membaca buku ini Anda akan diajak melakukan “journey” memahami dan menyelami woman market di Indonesia.

Journey tersebut dilakukan dengan menelusuri 40 kasus pemasaran dari merek-merek yang ada di lingkungan Martha Tilaar Group (MTG). Mencermati kasus-kasus pemasaran orisinil MTG ini Anda akan terbawa lebih jauh lagi untuk mendalami seluk-beluk kondisi psikografis dan perilaku konsumen wanita Indonesia. Itu sebabnya buku ini kami beri judul “Womanology”. Ya, karena pemahaman terhadap kondisi psikografis dan perilaku konsumen wanita tersebut membentuk semacam “bangunan pengetahuan” mengenai dunia wanita Indonesia. Kalau Anda teliti, kasus-kasus pemasaran dalam buku ini merefleksikan pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik konsumen wanita di Indonesia. Ini akan memberi Anda perspektif yang sangat kaya mengenai “ilmu tentang wanita Indonesia”.

Berdasarkan analisis kritis terhadap 40 kasus pemasaran tersebut, penulis ini merumuskan sebuah konsep pemasaran untuk menarget pasar wanita, yang diberi nama, “The Diamond Model of Womanology”. Konsep ini mengandung 5 unsur, yaitu: Connection, Value, Care, Empathy, Trust. Lima unsur ini adalah elemen-elemen kunci yang harus diperhatikan setiap marketers untuk bisa menaklukkan dan memnangkan hati wanita. Lima hal inilah butir-butir pelajaran paling berharga dari buku ini. Secara lebih sistematis ke-lima unsur tersebut kami formulasikan sebagai berikut:

#1. CONNECTION

Build sincere emotional connection.

Relate her with your brand. Link her with each other

#2. CARE

She wants to be cared and appreciated.

Listen to her! Understand her!

#3. VALUE

Woman is the most value-oriented creature.

She will pay to get exactly what she wants.

Offer her a solution, not just a list of features

#4. EMPATHY

Be an empathetic brand.

Touch woman’s deepest heart with your love and passion.

#5. TRUST

Remember, trust is the most important emotion in a sale to woman.

If you’re not trusted, you’ll never earn her heart

September 20, 2010   2 Comments

Yoris, Creative Junkies, & Brand Building

Positioning sebagai sebuah “tools” pemasaran secara ampuh diterapkan oleh para tokoh-tokoh figur publik kita untuk membangun dan mengembangkan personal brand-nya. Mereka cerdas sekali menciptakan kategori, kemudian menghegemoni kategori tersebut untuk kemudian dijadikan elemen utama positioning mereka. Dengan cerdas mereka menjadi “the first in the customer’s mind” dan dari situlah reputasi merek dibangun.

Dengan cerdas Hermawan Kartajaya menjadi the first in the customer’s mind untuk “marketing”; Andri Wongso untuk “motivator no.1 di Indonesia”; Safir Senduk untuk “financial planning”; Aa Gym untuk “manajemen qolbu”; Ary Ginanjar dengan “ESQ”, dan seterusnya. Dan saya kira, Yoris Sebastian dengan cantik melakukan hal yang sama untuk “creativity” [Read more →]

April 27, 2010   5 Comments

My BRAND NEW Book: CROWD – “Marketing Becomes Horizontal”

Hari Kamis 11 Desember 2008 ini saya meluncurkan buku, judulnya, CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”. Peluncurannya sendiri dilakukan di ajang MarkPlus Conference di Pacific Place, Ritz Carlton, yang saat ini 4000 tiketnya sudah ludes terjual. Itu artinya, kalau tak ada aral melintang 4000 marketer dari seluruh tanah air akan hadir.

CROWD

CROWD

http://books.yuswohady.com/crowd/

Dalam buku ini saya bilang, kelahiran web technologies seperti blog, vblog, tags, chat, wikis, RSS, digg, coComment, internet messenger (IM), podcast, social networking telah merubah DNA konsumen. Tools tersebut telah “membebaskan” potensi konsumen untuk berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, dan berkomunitas. Akibatnya, secara natural konsumen pun bermetamorfose menjadi mahluk yang semakin mengelompok, berinteraksi intens satu sama lain, dan berkomunitas—membentuk “crowd”. Ya…itu sebabnya kenapa buku ini diberi judul: “CROWD”

Ketika konsumen berubah maka pendekatan pemasaran juga harus diputar haluan. Anda harus bisa menemukan strategi baru. Anda harus bisa meramu sumber-sumber kesuksesan baru. Karena perubahan itu, saya menciptakan Formula:

E = wMC2

Di mana: E: Energi marketing yang dahsyat sedahsyat bom nuklir; wM: word of mouth atau rekomendasi pelanggan; dan C2: customer community baik offline maupun online. Tesis dasarnya, energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabungkan dan menyintesakan kekuatan dua elemen penting pemasaran masa depan, yaitu word of mouth (sering juga disebut “evangelism” atau net promoter) dan komunitas pelanggan.

Untuk menerjemahkan rumus tersebut ke dataran praktis, saya menurunkannya menjadi apa yang saya sebut: The 11 Manifesto of Horizontal Marketing. Berikut ini adalah ke-11 manifesto tersebut:

#1: Net Creates NETWORKED Customers. Internet yang sudah teragregasi menjadi menjadi ribuan bahkan jutaan komunitas umat manusia melalui situs-situs seperti Friendster, YouTube, Facebook, MySpace, Secon Life, atau Blogger memunculkan potensi luar biasa untuk membentuk komunitas konsumen yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

#2: Your Customers Are EVANGELIST. Ketika Anda memiliki komunitas pelanggan yang solid, maka Anda punya potensi besar untuk menjadikan pelanggan tersebut sebagai “evangelists” atau “advocators” yang ngomomg bagus tentang produk Anda, yang merekomendasikan produk Anda. Mereka adalah selesmen sejati Anda.

#3: CONNECTING Your Customers. Ketika formula E = wMC2 bisa Anda wujudkan, Anda akan sadar bahwa keunggulan kompetitif akan ditentukan oleh kemampuan Anda dalam menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lain di dalam sebuah media komunitas. [Read more →]

December 6, 2008   8 Comments

“Daftar Isi” dan “Pendahuluan” buku CROWD “Marketing Becomes Horizontal”

Bagi pembaca yang ingin tahu gambaran umum isi buku saya CROWD: “Marketing Becomes Horizontal”, berikut ini saya ambilkan Daftar Isi dan Pendahuluan buku tersebut dalam bentuk file pdf. Silahkan menyimak.

CROWD-pendahuluan

December 5, 2008   1 Comment