E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

The Benjamin Button Economy

Istilah The Benjamin Button Economy saya peroleh dari Scott Galloway dari buku gress-nya The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google (2017).

Sebagian dari Anda mungkin pernah nonton film pemenang Oscar, The Curious Case of Benjamin Button yang secara cemerlang diperankan oleh Brad Pitt berdasarkan cerita pendek karya sastrawan besar Amerika F. Scott Fitzgerald.

Film ini berkisah perjalanan hidup Benjamin Button yang melawan kodrat. Kalau umumnya kita lahir , menjadi balita, remaja, menua, dan akhirnya mati; maka Benjamin Button sebaliknya: dari tua renta, menjadi muda, dan kemudian menjadi balita seiring dengan berjalannya waktu.

Ujar Benyamin Button di awal film: “My name is Benjamin Button, and I was born under unusual circumstances. While everyone else was agin’, I was gettin’ younger… all alone.”

The Curious Case of Benjamin Button

Makin Lama Makin Muda… dan Perkasa
Perjalanan hidup sebuah perusahaan sesungguhnya tak beda jauh dengan perjalanan hidup manusia: didirikan, berumur muda dan tumbuh begitu cepat, mendapatkan konsumen, menguasai pasar dan menjadi market leader, seiring berjalannya waktu kemudian menua, dan tak sedikit di antara mereka mati karena tak relevan lagi. Ambil contoh Kodak.

Namun sejak dua dekade terakhir muncul organisasi baru (semacam “mutant”) yang justru melawan kodrat, persis seperti yang dialami Benjamin Button. Makin lama, makin bertambah tahun, bukannya menjadi tua, justru sebaliknya menjadi semakin muda.

Itulah The Big Four: Amazon, Google, Apple, Facebook.

It’s the organization of 21st century and beyond. Nantinya seluruh organisasi abad 21 (dan abad-abad setelahnya) akan seperti ini.

Tentu saja The Big Four hanyalah tips of the iceberg, generasi baru perusahaan-perusahaan hebat akan menyusul mereka: Uber, AirBnB, Netflix, Ali Baba, Waze, WhatsApp, dan tentu Bitcoin. Semakin lama mereka bukannya renta tapi makin muda dan perkasa.

Kenapa bisa begitu?

From Network Effect to Machine Learning
Untuk gampangnya ambil contoh Facebook. Jejaring sosial seperti Facebook tak akan ada apa-apanya jika cuma berisi 10 orang. Facebook hanya akan hebat jika dihuni oleh banyak orang hingga 2 miliar penduduk bumi. Semakin banyak penghuninya, maka semakin berlipat-lipat pula nilainya. Inilah yang disebut “network effect”.

Tak hanya itu, dengan bertambahnya penghuni, maka kualitas layanan dan experience yang dihasilkan pun akan makin luar biasa.

Ambil contoh Waze, dengan semakin banyak orang yang mengunduh aplikasi Waze, semakin banyak pengguna yang berkontribusi, maka informasi geolokasi yang diberikannya akan semakin bagus dan presisi.

Fenomena yang sama terjadi untuk berbagai platform digital seperti: sharing (AirBnB), marketplace (iOS App Store), atau commerce (Netflix).

Cara Google menjadi Benjamin Button lain lagi. Ketika yang memakai mesin pencari Google hanya segelintir orang, maka mesin Google tak ada apa-apanya. Namun ketika miliaran penduduk bumi menggunakannya, maka mesin algoritma Google menjadi semakin pintar. Inilah prinsip machine learning.

Luar biasa, kini Google menangani tak kurang dari 3,5 miliar pencarian seharinya. Dan semakin banyak dan sering digunakan, maka algoritma Google akan semakin sempurna. Ini berbeda dengan sepatu Nike yang semakin digunakan akan semakin lusuh dan rusak.

Singkatnya, dari tahun ke tahun Facebook, Google, atau Waze bukannya semakin renta, tapi justru semakin muda dan perkasa seperti Benjamin Button.

The Curious Case of Benjamin Button 2

The Dark Side
Sekilas The Benjamin Button Economy terlihat impresif dan menyejukkan. Namun di balik itu ia punya sisi gelap yang membuat kita cemas.

Di balik kehebatan perusahaan-perusahaan yang semakin lama semakin muda dan perkasa ini terdapat tabiat yang tidak terpuji, karena mereka punya insting memakan sesamanya.

Inilah esensi kapitalisme (baca: keserakahan) yang sudah menjadi “agama” manusia modern.

The Benjamin Button Economy menghasilkan apa yang oleh ekonom di sebut “law of increasing return” yang menciptakan pasar dunia yang semakin monopolistik. Dipimpin oleh The Big Four, segelintir corporate elite nantinya akan memonopoli bisnis apapun yang ada di muka bumi.

Tabiat buruk ini kini kian tampak ketika kita melihat The Big Four menjadi kekuatan korporasi luar biasa, menjadi “vacuum cleaner” yang menghisap dan menguasai seluruh industri yang ada di bumi ini.

Ambil contoh Amazon. Dimulai dari menjual buku, Amazon begitu serakah menguasai dan memonopoli berbagai industri: video dan audio downloads/streaming, software, video games, elektronik, pakaian, furnitur, makanan, mainan anak-anak, perhiasan, transportasi/logistik, cloud, gadget, hingga liburan ke ruang angkasa.

Dengan duit cash yang praktis tanpa batas (melaui kapitalisasi pasar yang terus meroket) mereka memakan satu persatu pesaingnya: Amazon (Whole Foods, Zapoos), Google (DoubleClicks, Motorola, YouTube, Waze), Facebook (Instagram, WhatsApp).

Nantinya yang menguasai Bumi dengan segenap isinya bukanlah negara superpower seperti Amerika Serikat atau Cina, bukan pula lembaga multinasional seperti PBB atau World Bank, tapi corporate elites yang dipimpin oleh The Big Four: Amazon, Google, Apple, dan Facebook.

Welcome The Benjamin Button Economy.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment