E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Best Business Story 2017

Tahun 2017 telah menghasilkan kisah-kisah bisnis yang inspiratif: Kisah sukses dan gagalnya perusahaan, tren pasar dan konsumen, atau disrupsi yang menggoncang lanskap bisnis.

Karena itu di hari pertama 2018 ini ada baiknya kita menengok sejenak ke berbagai kisah tersebut agar kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga darinya. Tentu agar bisa menjadi bekal di tahun yang baru.

Best Business Story 2017 - New

Berikut ini 7 Best Business Stories tahun ini:

#1. The End of Department Store Era: The Retail Story
Tahun ini peritel tradisional mulai berguguran: Glodok dan Roxi sepi, beberapa gerai Matahari dan Ramayana tutup, begitupun peritel global Dabenhams, Lotus, H&M menghentikan operasinya.

Dua kekuatan disruptif menyapu sektor ritel sekaligus:

Pertama, disrupsi digital yang memicu munculnya e-commerce yang kini bergerak menuju mainstream. Tiga value (convenience, cost, time-efficient) e-commerce mampu mengubah perilaku belanja konsumen ke ranah online.

Kedua, pergeseran konsumen dari good-based consumption ke experience-based consumption menjadikan milenial pelan-pelan mengurangi belanja barang-barang yang dijual di departmen store seperti: baju, sepatu, atau tas.

Tragedi ritel ini menyadarkan kita bahwa tsunami disrupsi telah di depan mata dan tak bisa dihindari lagi. Peritel tradisional harus mentransformasi diri dengan mengusung mengusung konsep “leisuretail” dengan mencangkokkan leisure ke dalam model bisnis mereka.

Peritel juga harus go digital dengan mengembangkan omnichannel baik offline, online, mobile.

Baca Juga -> eBook: Marketing Outlook 2018: Welcome Leisure Economy

#2. Consumer Disruption: The Millennials Story
Populasi milenial kini hampir mencapai 35% dari penduduk Indonesia dan dalam 5 tahun ke depan akan menjadi kekuatan pasar dominan di tanah air. Milenial memiliki nilai-nilai dan perilaku yang berbeda dengan generasi sebelumnya (saya sebut: “generational cut-off”) yang berpotensi mendisrupsi berbagai industri.

Consumer Goods: Konsumsi milenial akan barang-barang konsumsi akan semakin menurun. Data Nielsen mengonfirmasi hal ini, dimana sejak tahun 2014 pertumbuhan penjualan produk-produk konsumer (FMCG, fast-moving consumer goods seperti: makanan-minuman kemasan, personal care, dan home care) pertumbuhannya mulai terlihat flat cenderung turun.

Properti: Milenial cenderung mencari rumah berukuran kecil dan fungsional-minimalis dengan perabot dan perlengkapan rumah tangga yang minimal pula. Karena rumah di tengah kota harganya tak terjangkau, rumah di pinggir kota dengan aksebilitas baik (transit-oriented development, TOD) menjadi solusi.

Bank: Milenial merasa kewajiban cicilan KPR, KKB, atau tagihan kartu kredit kian mengungkung kebebasan hidup mereka. Pertanyaannya: ditambah dengan kehadiran fintech yang mendisrupsi sektor ini, akankah memang bank semakin tak relevan lagi di era generasi milenial?

Transportasi: Keinginan milenial membeli mobil/motor semakin menyurut. Alasannya ada dua. Pertama, memiliki mobil sendiri merepotkan dan tidak ramah lingkungan. Kedua, mereka lebih memilih sharing lifestyle dengan menggunakan jasa seperti Grab atau Gojek.

Consumer Electronic/Gadget: Era bulan madu membeli/memiliki gadget telah lewat. Puncaknya terjadi pada saat Nokia, disusul Blackberry, dan terakhir Apple/Samsung mencapai masa jaya. Kala itu konsumen mengular antri untuk mendapatkan gadget terbaru. Kini milenial membeli/memiliki perangkat elektronik/gadget seperlunya, tidak berlebihan seperti generasi sebelumnya.

Retail: Dampaknya kini sudah terasa, pusat-pusat perbelanjaan yang sebatas menawarkan barang dan tidak menawarkan experience/leisure makin ditinggalkan konsumen milenial. Sebaliknya, mal-mal modern yang menyediakan coffee shop, dine-out resto, atau hiburan justru mengalami pertumbuhan luar biasa.

#3. Innovation Fallacies: The Sevel Story
Tepat 30 Juni 2017 Sevel menghentikan operasinya. Banyak analisis mengupas kegagalan Sevel. Ada yang melihatnya secara taktikal dari sisi operasional yang terus berdarah-darah. Ada yang melihat secara strategis karena model bisnisnya yang keliru dan tak sustainable. Ada juga yang menyalahkan regulasi pemerintah sebagai biang kejatuhan Sevel.

Kejatuhan Sevel

Namun saya melihat kejatuhan Sevel dari sisi disiplin inovasi. Saya menyebutnya “innovation fallacies” atau pemahaman umum yang keliru mengenai inovasi, yang hingga kini banyak diyakini oleh para inovator.

Seperti halnya Go-Jek, awalnya Sevel adalah “innovation hero” karena telah melakukan inovasi terobosan di tengah industri ritel nasional paceklik ide-ide bisnis segar sejak duo Indomaret-Alfamart menghegemoni pasar ritel.

Namun kesuksesan awal membuat Sevel gegabah dan kendor disiplin inovasinya. Yang paling parah adalah melakukan kesalahan yang saya sebut “smash-hit fallacy”. Begitu konsep bisnis inovatif Sevel meluncur 2009 dan menuai sukses luar biasa, ia silau oleh kesuksesan itu. Ia tak melakukan inovasi-inovasi lanjutan untuk menyempurnakan konsep bisnisnya.

Sevel juga melakukan kesalahan yang saya sebut “sprinter game fallacy”. Ia menganggap inovasi sebagai “sprinter game” bukannya “marathon game”.

Inovasi bukanlah lomba lari cepat 100 meter, tapi lomba lari maraton. Maksudnya, setelah “inovasi besar” terwujud, maka diperlukan “inovasi-inovasi kecil” dalam kurun waktu yang panjang. Itulah yang dengan sangat baik dilakukan oleh Go-Jek.

#4. Focus on Ecosystem: The Go-Pay Story
Metamorfose Go-Jek dari “transportation company” menjadi “financial services company” merupakan model kesuksesan digital champion di Indonesia yang patut dicatat sejarah.

Awalnya Go-Jek memecah kebuntuan platform berbagi (sharing platform) yang kemudian menjadikannya pionir industri. Setelah sukses, ia kemudian melebarkan portofolia layanannya ke pasar-pasar lain (adjacent markets). Maka meluncurlah layanan seperti Go-Food, Go-Send, Go-Box, Go-Massage, Go-Glam, hingga Go-Tix yang juga menuai sukses.

Go-Pay

Mengembangkan portofolio begitu banyak dan begitu cepat, Go-Jek mampu mengumpulkan crowd pelanggan yang cukup besar. Maka Go-Jek mulai mengembangkan ekosistem bisnisnya dengan menyediakan alat pembayaran untuk “gotizen”, istilah saya untuk “para warga” di ekosistem bisnis Go-Jek. Maka lahirlah Go-Pay.

Pola sama yang terjadi di bisnis transportasi diulang untuk bisnis layanan keuangan, yaitu Go-Pay melebarkan sayapnya ke berbagai lini layanan lain seperti Go-Bill, G-Point, hingga Go-Pulsa. Lebih agresif lagi, tahun 2018 nanti Go-Pay akan mandiri keluar dari ekosistem Go-Jek dan bakal menjamah portofolio bisnis yang lebih luas termasuk mungkin bank.

Dalam istilah Peter Thiele (Zero to One, 2014), Go-Jek sukses mengeksekusi inovasi “0 ke 1” yang betul-betul baru dan fresh. Dan kemudian melanjutkannya menjadi inovasi “1 ke n” dengan penyempurnaan terus-menerus untuk melengkapi kesuksesan.

Inovasi tiada henti; fokus ke ekosistem tak hanya produk/layanan; dan ekspansi portofolio bisnis dari core market ke adjacent market adalah pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita petik dari business journey Go-Jek.

#5. Empire Strikes Back: The Blue Bird Story
Blue Bird bisa menjadi model sukses perusahaan inkumben yang terdampak tsunami digital: Awalnya gusar oleh gelombang uberization, belajar cepat, beradaptasi cepat, dan kemudian menemukan track-nya kembali.

Platform berbagi (sharing platform) telah merevolusi layanan taksi di tanah air. Ia menawarkan segudang keunggulan: harga yang super murah, cara pemesanan yang super convenient, sopir yang piawai karena dibekali teknologi GPS canggih.

Taksi online juga asset-light dan overhead-nya bisa dipangkas serendah mungkin. Ya, karena mereka tak perlu memiliki sopir atau kendaraan. Itu sebabnya mereka bisa memangkas harga semurah mungkin yang membuat taksi konvensional tak mampu bersaing lagi.

My Blue Bird

Akibatnya gampang ditebak, migrasi konsumen pun terjadi dari taksi tradisional ke taksi online. Blue Bird pun lesu karena kehilangan darah karena ditingglkan pelanggannya.

Namun taksi online seperti Grab atau Uber punya kelemahan mendasar karena tak mampu membentuk budaya perusahaan kokoh seperti halnya perusahaan taksi konvensional (cultureless organization).

Membangun budaya di dalam organisasi membutuhkan interaksi personal antar karyawan, pendekatan emosional, pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi mereka, sikap saling pengertian, spirit kebersamaan dan sense of family, sikap saling percaya, dan sentuhan hati dan cinta. Hni rupanya kekuatan inti Blue Bird selama bertahun-tahun.

Setelah berjuang 3 tahun terakhir, Blue Bird akhirnya menemukan diferensiasi layanannya dibanding taksi online. Blue Bird identik dengan: “sopirnya hapal jalan”, “mobilnya standar dan bersih”, atau “tak pernah membatalkan order”.

Sementara taksi online kuat dipersepsi sebagai taksi yang “pilih-pilih penumpang”, “merepotkan penumpang karena kebingungan memilih jalan”, atau “sering tertangkap di jalur ganjil-genap”.

Hasilnya: Blue Bird tetap menjad pilihan pelanggan.

Pelajarannya: culture still matters. Di era digital disruption saat ini, manusia dan budaya perusahaan yang kokoh masih merupakan faktor kunci kesuksesan. “Technology isn’t everything, people are”.

#6. Selling the Future Now: The Meikarta Story
Strategi yang dijalankan Meikarta dengan megaproyek Rp 278 triliunnya sesungguhnya tak beda jauh dengan yang dijalankan oleh Facebook, Tesla, atau Go-Jek, yaitu menjual masa depan. Persis seperti bunyi tagline-nya: “The Future Is Here Today”. Sebuah strategi yang khas Lippo.

Meikarta New

Mulai dibangun awal 2016, Meikarta menjual unit apartemennya dengan segudang iming-iming: harga miring, dukungan infrastruktur kelas dunia (bandara, pelabuhan, kereta cepat, LRT, monorail), tentu dengan anggaran promosi gila-gilaan lebih dari Rp 1 trilun.

Anggaran triliunan rupiah itu digelontorkan untuk satu tujuan: menjual masa depan, ke konsumen maupun ke investor.

Tujuannya adalah mengumpulkan crowd pelanggan baik individu maupun perusahaan. Lippo berambisi mendatangkan 1 juta orang ke Meikarta dan 4000 perusahaan ke Cikarang. Mereka adalah kelas menengah dan korporasi top nasional/global yang ke depan memberikan recurring income ke Lippo.

Sama dengan Facebook atau Go-Jek, crowd pelanggan inilah sesungguhnya harta karun tak ternilai bagi Lippo yang nantinya akan di jual ke investor di pasar modal (kita tunggu saja tanggal main IPO-nya).

Jadi Lippo bermain dan meraup untung besar melalui dua pasar sekaligus: pasar komersial (jualan apartemen) dan pasar modal (mendapatkan nilai kapitalisasi pasar tinggi).

Sampai di sini Anda pasti sudah bisa menebak dari mana Lippo bakal mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Seperti startup di Silicon Valley keuntungan berlipat-lipat itu justru diperoleh dari pasar modal, bukan dari jualan apartemen.

#7. Shifting of the Year: The Leisure Story
Sejak tahun 2015 telah terjadi pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure”. Pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser dari “goods-based consumption” menuju ke “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” meningkat pesat.

Menurut data BPS, untuk kuartal II-2017, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%.

Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana berikut ini semakin meyakinkan maraknya sektor leisure di Indonesia. Bandara ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung.

Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia. Welcome leisure economy.

Happy New Year 2018