E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Entrepreneurial Skills for Kids

Beberapa bulan terakhir ini saya banyak bergumul dengan para entrepreneur cilik. Ya, karena sejak awal tahun ini saya mendirikan Creator School, sebuah sekolah yang mempersiapkan anak-anak SMP-SMA untuk menjadi entrepreneur handal.

Selama tiga bulan (12 minggu) mereka harus mengerjakan proyek bisnis riil mulai dari mencari ide produk, menyusun konsep produk, melakukan riset pasar, menyusun business plan, membuat prototip produk, melakukan product testing di pasar, meluncurkannya, dan akhirnya memasarkannya.

Dari banyak bergaul dengan mereka saya semakin yakin bahwa memang entrepreneurial mindset haruslah ditumbuhkan sejak kecil. “It ‘s a learning of a lifetime.” Belajar menjadi entrepreneur adalah belajar seumur hidup dan harus dimulai sedini mungkin, bahkan sejak balita.

Kids Entrepreneur

Karena itu orang tua harus memiliki apa yang saya sebut “entrepreneurial vision” terhadap anak-anak mereka, sebuah visi untuk menjadikan anak-anak mereka menjadi generasi entrepreneur yang hebat di masa datang. Kalau generasi masa depan Indonesia didominasi oleh entrepreneur-entrepreneur hebat, maka 1000% saya yakin Indonesia bakal menjadi negara hebat. Negara hebat sekelas Amerika Serikat atau Cina pasti bisa kita libas.

Karena banyak bergaul dengan para entrepreneur cilik di Creator School, akhirnya saya teroda untuk mengidentifikasi kemampuan apa saja yang harus diajarkan ke anak-anak kita agar mereka bisa menjadi entrepreneur hebat kelak. Berikut ini adalah 7 entrepreneurial skill yang harus diajarkan ke anak sejak dini.

#1. Innovation
Modal dasar seorang entrepreneur adalah kemampuan mencari ide-ide produk/bisnis yang unik dan merealisasikannya. Karena itu sejak dini anak-anak harus dibiasakan di manapun dan kapanpun mengamati setiap kejadian yang ada di sekitarnya untuk dijadikan ide produk/bisnis. Setiap kejadian di sekitar kita (di jalan, di pasar, di mal, bahkan di tempat pembuangan sampah) bisa menjadi sumber ide yang luar biasa untuk produk/bisnis.

Karena itu, saat orang tua mengajak si anak jalan-jalan ke pasar atau ke mal, itulah saat yang tepat untuk melatih daya inovasi dan kreativitas. Alih-alih mengumbar nafsu si anak dalam berbelanja, orang tua bisa mengarahkan dan memancing imajinasi si anak untuk menemukan ide produk/bisnis. Saat melihat mainan-mainan di mal misalnya, si orang tua bisa tanya: “bisa nggak kamu punya ide yang lebih baik dari ini?”

#2. Take Risk
Ciri unik seorang entrepreneur adalah keberaniannya dalam mengambil risiko. Mengambil risiko tak bisa diajarkan dengan ceramah, tapi harus praktek langsung dengan memberinya modal riil untuk berbisnis. Tentu awalnya dari bisnis-bisnis yang gampang dan kecil risikonya. Pelan-pelan seiring usianya tingkat risiko itu ditingkatkan. Di Creator School, selama 12 minggu mereka harus mengerjakan proyek bisnis riil dimana mereka diberi modal riil pula. Dengan menjalankan bisnis secara riil dengan modal riil maka mereka akan merasakan bagaimana beratnya menanggung sebuah risiko bisnis.

#3. Making Money
Motivasi paling ampuh bagi seorang entrepreneur adalah bisa menghasilkan banyak uang. Karena itu sejak kecil anak-anak perlu ditanamkan untuk bisa menghasilkan uang, bukan sebaliknya hobi menghabiskan uang. Hal yang perlu ditanamkan kepada si anak bukanlah semata uangnya, tapi kerja keras yang sudah mereka lakukan dalam menghasilkan uang. Jadi uang adalah bentuk “penghargaan” atas kerja keras tersebut. Kita tahu menghasilkan duit itu tidak gampang. Karena itu begitu si anak tahu susahnya mencari duit, maka mereka akan sangat arif dan bijaksana dalam membelanjakan uang yang dipunyainya.

#4. Selling
Untuk bisa menghasilkan duit, seorang entrepreneur harus piawai menjual. Karena itu si anak harus sejak dini dilatih untuk bisa menjual dan menghasilkan profit. Caranya harus praktek langsung, dimulai dari yang simpel-simpel. Ketika masih TK atau SD misalnya, mereka bisa menjual permen ke teman-teman di sekolah. Ketika si anak praktek langsung jualan maka mereka akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman luar biasa dalam: berkomunikasi, meyakinkan konsumen, bernegosiasi harga, bahkan menerima penolakan. Ingat, anak Anda tak akan bisa menjadi entrepreneur hebat kalau tidak bisa jualan.

#5. Service
Seorang entrepreneur tak cukup hanya piawai dalam menjual. Setelah konsumen didapat maka ia harus bisa terus membuat si konsumen happy dan satisfied agar mereka terus membeli produk kepadanya. Di sinilah keterampilan servis (service skill) dibutuhkan. Kalau selling diarahkan untuk “mendapatkan” konsumen, maka service diarahkan untuk “menjaga” konsumen agar loyal. Karena itu setelah si anak bisa menghasilkan konsumen yaitu teman-temannya di sekolah, maka ia juga harus “menjaganya” agar terus membeli produk kepadanya.

#6. Perseverance
Seorang entrepreneur haruslah tahan banting. Sukses-gagal adalah makanan tiap hari seorang entrepreneur. Karena itu anak-anak juga harus dilatih sejak dini untuk tahan banting. Kalau menerima kesuksesan itu mudah. Yang sulit adalah menerima kegagalan. Ketika si anak sudah mulai berbisnis kecil-kecilan lalu gagal, maka perasaan bersalah, putus asa, nggak pede, hingga rasa frustasi akan menghampiri. Ketika ini terjadi, orang tua harus bisa memainkan peran sebagai coach dan mentor untuk membangkitkan semangatnya kembali. Anak harus dilatih untuk bisa menerima kegagalan, dan bangkit kembali dari keterpurukan.

#7. Leadership
Seorang entrepreneur tak bisa kerja sendirian. Ia harus bekerja di dalam sebuah tim dan di dalam tim tersebut ia harus memainkan peran sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin ia harus bisa memotivasi dan menggerakkan rekan-rekannya di dalam tim untuk mencapai tujuan tim. Karena itu sejak dini si anak juga harus dibiasakan bekerja secara bersama dan bisa memotivasi/menggerakkan teman-temannya.

Di Creator School proyek bisnis yang dijalankan harus berisi empat anak yang masing-masing memainkan peran sebagai CEO (Chief Executive Officer), CPO (Chief Product Officer), CFO (Chief Financial Oficer), dan CMO (Chief Marketing Officer). Antar mereka harus terjadi kerjasama tim yang solid untuk bisa mewujudkan sebuah produk/bisnis. Di sinilah mereka berlatih mengasah kemampuan kepemimpinan.

 

Sumber foto: https://www.proposify.biz/blog