E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Giving Business Model

Sabtu kemarin (29/4) saya memandu diskusi #entrepreneursTalk “Branding Culinary Business” hasil kerja bareng Komunitas Memberi, BCA, dan SmartFM. Obrolan santai ini menampilkan para pembicara hebat: Mas Tantyo Bangun, Kecipir.com; Mbak Vita Datau pakar Gastronomi dan Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar; Nadia Tenggara, Go Food; Sarita Sutedja, Warunk Upnormal. Great speakers, great audiences. Karena itu diskusinya seru.

Dari semua pembicara, Mas Tantyo dan startup yang dirintisnya kecipir.com paling menarik perhatian saya. Terutama bagaiaman idealisme dan model bisnis yang melandasi pendirian kecipir.com. Saya menamakan model bisnis yang dikembangkan kecipir.com dengan sebutan: giving business model (GBM). Kenapa?

Entrepreneur Talk - Branding Culinary Biz 2

 Memberi Kemanfaatan
Kecipir.com dibangun dengan sebuah model bisnis yang “indah”. Ya, karena model bisnis tersebut dilandasi oleh sebuah idealisme yang luar biasa. Ia dibangun tak sebatas untuk mengakumulasi kekayaan bagi pemiliknya, tapi bertumpu pada nilai-nilai kearifan yang teduh dan mulia. Istilah kerennya: “business with principles” atau “business with values”. Tak hanya mengejar kepentingan selfish dari para pendirinya, tapi didedikasikan untuk kalangan bawah dan kaum tertindas, yaitu petani. Di dalamnya sarat dengan spirit of giving.

Kecipir.com adalah sebuah platform digital yang berfungsi sebagai marketplace yang menghubungkan petani organik di desa dengan para konsumen yang umumnya ada di kota. Bagaimana model bisnis kecipir.com bisa membantu petani?

Selama ini petani kita berada pada posisi yang lemah dan tertindas, karena keuntungan yang seharusnya mereka raup “dimakan” oleh para pemain yang ada di dalam rantai distribusi. Di satu sisi para tengkulak membeli hasil panen petani dengan harga sangat murah, namun di sisi lain mereka menjualnya ke konsumen akhir dengan harga selangit.

Jadi, dengan adanya para tengkulak sebagai perantara ini, baik petani maupun konsumen akhir sama-sama dirugikan. ini belum termasuk kalau si tengkulak nakal menimbun barang. Harga bisa dimainkan hingga 2-3 kali lipat. “Selama ini petani hanya memperoleh pendapatan sekitar 15% dari harga di konsumen akhir,” ujar Mas Tantyo. Jadi kalau harga wortel 5 kg di pasar induk Kramatjati Rp 100 ribu, maka petani hanya mendapat “jatah” 15 ribu perak. Siapa yang mengambil 85% sisanya? Ya tengkulak dan para pemain di rantai distribusi.

Nah, dengan platform marketplace yang diusung kecipir.com, maka para tengkulak dan pemain-pemain perantara ini di-bypass sehingga baik petani maupun konsumen mendapatkan manfaat. Rantai nilai menjadi efisien karena kecipir.com menghubungkan secara langsung para petani di desa dan konsumen di kota. “Kami berhasil meningkatkan harga beli di tingkat petani dua kali lipat menjadi sekitar 30%,” ujar mas Tantyo.

Jadi dengan platform digital ini harga yang diterima petani tinggi, sementara harga yang harus ditanggung konsumen rendah. Petani untung, konsumen juga untung. Inilah “indah”-nya model yang diusung kecipir.com.

Ketika iseng saya tanya: “Kan kecipir.com bisa menggencet harga di tingkat petani dan menaikkan harga di tingkat konsumen, sehingga kecipir.com untung besar?” Dengan enteng Mas Tantyo menjawab: “Di situlah letak prinsip dan nilai-nilai bisnis yang kami pegang teguh.” Kata mas Tantyo, ia tak akan melakukannya karena kecipir.com dibangun untuk memberi kemanfaatan baik kepada petani maupun konsumen, bukan cuma menjadi mesin uang bagi pemilik perusahaan.

Rahmatan lil Alamin
Alhamdulillah, selama 10 tahun terakhir GBM menjadi semacam tren di seluruh dunia. Kini mulai banyak perusahaan yang beroperasi dengan mengedepankan spirit of giving. Google, Tesla, Whole Food, The Body Shop, TOMS, Go-jek, adalah sebagian kecil perusahaan hebat yang dikelola dengan pilar-pilar spirit of giving. Mereka didesain dan hadir untuk memberikan kemanfaatan bagi alam semesta (“rahmatan lil alamin”).

Begitupun kecipir.com. Startup ini hadir dengan niat tulus-ikhlas dari para pendirinya untuk mengangkat nasib petani yang selama ini tertindas tak berdaya. Model operasinya adalah fokus memberi (giving-focused) untuk kebaikan petani, bukannya fokus meminta (getting-focused) untuk menimbun kekayaan bagi shareholders. Startup ini diarahkan untuk menjadi “distributor rejeki”, bukannya menjadi “drakula” penghisap rejeki petani.

Saya percaya pada hukum Tuhan bahwa, ketika sebuah perusahaan berbuat kebajikan dan memberi kemanfaatan luar biasa kepada banyak orang, maka mereka akan membalasnya dengan kebajikan dan kemanfaatan yang jauh lebih besar lagi. “The more you give, the more you get”. Di sini prinsip “mestakung” (semesta mendukung) bekerja. Di sini “tangan Tuhan” ikut campur tangan.

Ketika Google misalnya, memberikan kemanfaatan luar biasa kepada kita semua (contonya: cari alamat gang di Jakarta begitu gampangnya dengan Google Map, gratis lagi), maka kita pun akan balik berupaya menyuport dan menjadi evangelist bagi Google. Seluruh umat manusia di seluruh dunia begitu cinta kepada Google. Tak heran jika Google kini menjadi salah satu brand terhebat sejagat dengan kapitalisasi pasar amat besar mencapai Rp. 9.500 triliun (sekitar 70% PDB Indonesia).

Karena itu, seperti halnya kecipir.com, janganlah ragu-ragu untuk give more ke orang banyak, karena pasti Anda akan get more dari mereka. Ketika kecipir.com betul-betul memberi kemanfaatan kepada petani dan konsumen akhir di kota, maka mereka pasti akan cinta setengah mati kepada kecipir.com. Giving is receiving.

Apapun bisnis Anda, terapkanlah giving business model dengan tulus-ikhlas semata-mata untuk kebaikan orang-orang di sekitar Anda, masyarakat, dan negara. Maka saya jamin, brand Anda akan menjadi brand yang dahsyat.