E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

UKM Subsisten

Sejak tahun lalu saya punya personal program yang saya beri nama #1Minggu1UKM. Melalui program ini saya menyedekahkan ilmu dan pengalaman di bidang pemasaran yang saya peroleh belasan tahun terakhir kepada teman-teman UKM yang membutuhkan. Setiap minggu saya punya target meng-coach satu UKM, gratis.

Caranya gampang, saya tinggal umumkan saja programnya di Instagram, berikut berbagai persyaratannya, dan siapapun yang memenuhi syarat bisa langsung daftar. Hanya seminggu diumumkan, eh jadwal coaching setahun sudah terpenuhi. Saya berjanji akan melakukannya sampai tutup usia nanti (kalau masih kuat), siapa tahu bisa menjadi bekal ke akhirat.

Coaching Session

Start with the Mindset
Dari serangkaian sesi coaching tersebut, saya mendapati persoalan klasik dari begitu banyak UKM kita. Persoalan ini kelihatannya sepele, namun sesungguhnya sangat fundamental, yaitu masalah mindset atau pola pikir yang keliru. Banyak dari mereka menjalankan bisnis dengan apa yang saya sebut: mindset subsisten (subsistence mindset).

Apa itu mindset subsisten? Maksudnya, mereka menjalankan bisnis sebatas hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-sehari keluarga (self-sufficiency). Mereka tak pernah berpikir dan bermimpi besar untuk mengembangbiakkan usaha. Berkembang syukur, tak berkembang ya nggak masalah. Mimpi dan ambisi mereka minimalis.

Kalau sudah begitu, maka hukum self-fulfiling prophecy pun bekerja. Karena mindset-nya serba minimalis, maka bisnis mereka pun terus-terusan minimalis, terus-terusan liliput tak pernah bisa berkembang. Memang betul: “everything start with the mindset.”

Dicampur
Karena mindset-nya subsisten, maka umumnya wirausahawan UKM tak pernah berpikir untuk memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan perusahaan. Apa implikasinya kalau keuangan perusahaan dicampur-adukkan dengan keuangan perusahaan? Dipastikan mereka sulit menghitung pengeluaran dan biaya-biaya (cost) perusahaan. Kalau perhitungan cost tidak ada, maka otomatis mereka tidak tahu berapa besar profit yang dihasilkan dari bisnisnya.

Nah, kalau mereka tidak tahu besarnya profit yang dihasilkan tiap tahun (celakanya banyak wirausahawan UKM yang tak tahu besarnya omset mereka tiap tahun), maka tentu saja mereka tak tahu bisnisnya makin maju atau justru sebaliknya. Mereka tak tahu usahanya untung atau buntung. Omset memang naik terus, tapi rupanya cost naik jauh lebih kencang. “Maju-nggak maju nggak penting, yang penting masih bisa untuk makan sehari-hari,” begitulah mindset subsisten yang mereka yakini.

Emoh Take Risk
Mindset subsisten menjadikan wirausahawan UKM tak berani dan tak mau berisiko. Padahal take risk adalah prasarat agar bisnis bisa tumbuh dan membesar. Mereka cenderung mengambil jalan aman. Mereka terjebak dalam zona nyaman. Bagi mereka mengambil risiko berarti mencari-cari masalah. Padahal tanpa keberanian mengambil risiko sudah bisa dipastikan usaha akan jalan di tempat.

Contoh umum yang saya temui adalah dalam hal merekrut karyawan yang pertama. Merekrut karyawan pertama bagi kebanyakan wirausahawan UKM merupakan keputusan yang sangat pelik. Sebelumnya mereka menjalankan usahanya secara sendiri (atau bersama istri), namun begitu kapasitas usaha mulai meningkat (scaling-up), maka mau tak mau mereka harus mulai merekrut karyawan untuk yang pertama kali.

Celakanya, merekrut karyawan membawa konsekuensi harus menggaji tiap bulan. Mereka harus mulai memiliki dan mengelola overhead. Di sinilah risiko muncul. Kalau sudah merekrut karyawan, maka mau tak mau omset harus naik siknifikan untuk membiayai gaji si karyawan. Wirausawahan UKM subsisten cenderung tak mau mengambil tantangan ini. Akibatnya, mereka cukup puas menjadi lone entrepreneur tanpa karyawan, dengan konsekuensi usahanya jalan di tempat, tetap saja menjadi liliput.

Growth Mindset
Dalam menjalankan usaha, wirausahawan UKM subsisten cenderung mengalir saja, layaknya menjalankan rutinitas, dengan selalu menjaga kenyamanan dan status quo. Karena tidak tahu cost dan profit dan tak tahu apakah bisnis berkembang tiap tahunnya, maka mereka tak penah mau pusing menetapkan target tahunan untuk membesarkan usaha. Singkatnya, mereka tak memiliki growth mindset.

Bagi saya, growth mindset adalah modal terpenting seorang wirausahawan. Mentalitas inilah yang membuat mereka selalu berpikir untuk membesarkan usaha. Mentalitas ini yang membuat mereka begitu bersemangat menetapkan target 120%, 150%, atau bahkan 200% tiap tahunnya. Dengan mentalitas ini mereka hanya memiliki satu slogan: “grow or die!!!”

Saya menyebut mindset subsisten layaknya “penyakit kanker” yang harus diperangi oleh setiap UKM kita. Ketika penyakit kanker ini masih ganas menggerogoti pola pikir mereka, maka sampai kapanpun mereka tak akan bisa maju.

Karena itu mindset subsisten harus dilawan dengan growth mindset. Agar UKM bisa terus naik kelas dari kecil, menengah, dan akhirnya besar, maka subsistence mindset harus diganti dengan growth mindset.