E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Creator Confidence

Judul tulisan ini saya pinjam dari buku Tom/David Kelley, kakak-beradik pendiri IDEO firma desain produk legendaris di dunia, berjudul Creative Confidence (2014). Intinya, saya sepakat dengan Tom/David bahwa untuk menjadi kreator dan entrepreneur, mengalami secara langsung proses mencipta produk atau menjalankan bisnis merupakan faktor kunci keberhasilan.

Untuk menjadi kreator/entrepreneur tak bisa tidak, Anda harus nyebur langsung mencipta atau menjalankan bisnis riil. Anda tak bisa cuma dengan membaca buku-buku bisnis. Anda tak bisa cuma mendapat inspirasi dari seminar kewirausahaan atau seminar motivasi. Anda juga tak bisa melakukannya cuma dengan simulasi atau case study seperti diajarkan di sekolah-sekolah bisnis.

Dengan mengalami secara langsung jatuh-bangunnya mencipta dan berbisnis maka akan muncul konfiden. Konfiden itulah yang menjadi modal paling berharga bagi sukses seorang kreator/entrrepreneur. Tanpa adanya konfiden, sampai kapanpun Anda tak akan punya nyali untuk menjadi kreator/entrepreneur.

Failure & Success

Sulitnya Memulai
Untuk membentuk konfiden Anda harus mengalami. Dan untuk mengalami Anda harus berani memulai. Nah, inilah handikap terbesar dari kebanyakan calon kreator/entrepreneur: memulai mencipta dan memulai bisnis.

Kenapa memulai mencipta dan berbisnis menjadi handikap terbesar? Karena memulai bisnis dan langsung sukses itu kemungkinan cuma satu dari sejuta kasus yang ada: sangat kecil sekali. Sangat-sangat besar kemungkinannya Anda gagal saat memulai bisnis. Dan kalau gagal, pertama, Anda akan menjadi bahan tertawaan; kedua, Anda sangat berat dan sulit untuk bangkit memulainya kembali.

Dan celaka tigabelas, begitu Anda gagal untuk yang pertama kali, maka kemudian Anda menutup rapat kemungkinan untuk menjadi kreator/entrepreneur dengan mengatakan: “Saya memang ditakdirkan bukan menjadi seorang kreator.” Atau “Dari sono-nya memang saya tak punya bakat bisnis.”

Kalau sudah begitu, maka hukum “self-fulfiling propecy” bekerja: Anda betul-betul tak pernah menjadi kreator/entrepreneur.

Konfiden = Evolusi
Pembentukan creator confidence tidak bisa terjadi secara instan, tapi melalui sebuah proses. Setidaknya Anda harus mengalami keseluruhan siklus mencipta (creating cycle) mulai dari: mencari ide produk/bisnis, menemukan needs produk itu di pasar, merancang produk, memproduksinya, memasarkannya, hingga mendapatkan omset.

Ketika Anda nyebur langsung, maka Anda membenamkan sejumlah uang tertentu, sejumlah waktu tertentu, sejumlah tenaga dan pikiran tertentu ke dalam project tersebut. Nah di situlah degub jantung dan andrenalin Anda dipacu habis-habisan. Ya, karena kalau sampai gagal, duit Anda akan sirna, waktu dan tenaga Anda akan muspro alias sia-sia. Jantungan semacam inilah yang tak bakal diperoleh dari membaca buku, ikut seminar, atau menyelesaikan case study di sekolah bisnis. Karena alasan ini, di Creator School yang saya rintis, siswa harus mengerjakan proyek bisnis riil, bukan simulasi atau case study. Sekali lagi, Anda harus mengalami langsung setiap denyut bisnis dan merasakannya.

Celakanya, Anda mengalami satu creating cycle itu secara penuh tak menjamin bahwa Anda langsung memiliki konfiden yang cukup. Kalau Anda memulai bisnis dan kemudian langsung sukses, maka tentu saja konfiden Anda akan melambung. Dengan ponggah Anda pun kemudian bilang: “wow… ternyata membangun bisnis itu super mudah.”

Namun bagaimana halnya jika yang terjadi justru sebaliknya? Anda gagal; modal habis, produk tak satupun terjual, hutang melilit, reputasi hancur. Maka bukannya konfiden yang Anda dapat, tapi justru kegalauan, pesimisme, dan keputusasaan. Di sinilah pentingnya Anda bangkit dari kegagalan, move-on, dan menjadikan kegagalan itu sebagai vitamin untuk menumbuhkan konfiden. Ingat, “fear of failure is the biggest obstacle people face to success.

Jadi konfiden didapat melalui proses sukses-gagal yang berlangsung secara akumulatif dan evolutif. Itu sebabnya saya mengatakan sukses menjadi kreator/entrepreneur merupakan “marathoner game” bukan “sprinter game”.

Failure Paradox
Anda tentu sepakat, kegagalan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Tapi paradoksnya, justru kegagalan merupakan “vitamin” kesuksesan. Yang umum terjadi, serangkaian kegagalanlah yang membawa kita kepada kesuksesan. Serangkaian kegagalanlah yang membentuk konfiden kita untuk meraih kesuksesan.

Karena itu saya suka rumusan ini: [Kegagalan = Vitamin Kesuksesan]. Dari kegagalan kita menemukan kesalahan dan kelemahan. Dari kegagalan kita menemukan pembelajaran. Kegagalan membawa kita keluar dari area nyaman. Kegagalan menempa keberanian. Kegagalan membangun konfiden kita menuju kesuksesan.

Thomas Alva Edison sukses membuat bola lampu setelah mengalami ribuan kali kegagalan. Wright bersaudara sukses menerbangkan pesawat untuk pertama kali setelah mengalami ribuan kali kegagalan. Karena itu janganlah menghujat kegagalan. Janganlah menghindari atau menolak kegagalan.

Justru sebaliknya, “fail as soon as possible.” Lakukan kegagalan secepat mungkin agar dari situ kita bisa belajar dan menemukan celah kesuksesan. Itu sebabnya salah satu slogan di bagian pengembangan produk Google berbunyi: “Fail Fast!

Creator confidence layaknya otot, semakin kita latih akan semakin kuat. Semakin banyak siklus gagal-sukses kita alami, maka semakin konfiden pula kita dalam melangkah untuk mewujudkan kesuksesan.