E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Core Economy-nya Jokowi

Ada yang menarik dari pernyataan Presiden Jokowi di Sidang Kabinet Paripurna Jumat (9/9) lalu setelah mengikuti KTT G-20 di Tionkok dan Asean Summit di Laos. “Betapa kompetisi antar negara sangat sengit. Betapa nanti pertarungan antar negara dalam hal perebutan kue ekonomi, baik berupa investasi, baik berupa arus uang masuk, arus modal masuk itu, sangat sengit, sangat sengit sekali,” ujar Presiden.

Ia lalu menekankan bahwa semua pihak harus menentukan dan fokus apa yang akan menjadi core economy dan core business negara. Dengan fokus itulah, Jokowi meyakini pemerintah akan bisa membangun positioning, differentiation, dan brand negara. “Sehingga mudah kita. Lebih mudah kita menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa harus kita kejar-kejaran apalagi kalah bersaing dengan negara lain.”

borobudur-2

Competitive Strategy
Pernyataan Jokowi menarik, karena inilah untuk pertama kali presiden di republik ini secara gamblang menggunakan pendekatan strategi bersaing (competitive strategy) dalam mengembangkan ekonomi bangsa di kancah global. Dalam artikelnya di Harvard Business Review (1996) berjudul “What Is Strategy?” Prof. Porter, pencipta konsep tersebut, menyimpulkan bahwa esensinya strategi adalah positioning dan differentiaion: “Strategy is the creation of a unique and valuable position, involving a different set of activities,” ujarnya.

Seperti diungkapkan presiden, persaingan antar negara dalam memperebutkan investasi asing demikian ketat, karena itu Indonesia harus mengembangkan strategi bersaing yang solid dengan merumuskan positioning, differentiation, dan brand yang solid. Apa maksudnya ini? Kata kuncinya adalah positioning, differentiation, dan branding.

Pertama, Indonesia harus secara tepat memosisikan dirinya di pasar global dimana posisi ini harus berfokus pada sektor/industri yang menjadi keunggulannya. Positioning is about portfolio strategy. Artinya Indonesia harus fokus memilih sektor-sektor atau industri-industri unggulan mana yang harus dikembangkan dan memiliki daya saing tinggi di pasar global. Di sektor/industri itulah kita membangun daya saing negara (competitive advantage of nation). Amerika fokus mengembangkan teknologi informasi; Jepang fokus di otomotif; Singapura dan Hong Kong fokus di sektor jasa karena perannya sebagai hub of Asia. Lalu Indonesia apa?

Kedua, sektor dan industri unggulan itu harus memiliki uniqeness (diferensiasi) yang tidak dimiliki oleh negara lain. Persis seperti kata Porter, “strategy is about being different”. Hanya dengan diferensiasi tersebut kita bisa memenangkan persaingan di pasar global. Ekonomi kita saat ini rawan karena ditopang oleh sektor komoditi (migas dan non-migas) yang tak memiliki diferensiasi sehingga harganya terus merosot dan diombang-ambingkan di pasar. Ketika kita memiliki diferensiasi maka kita menjadi price maker. Starbucks yang memiliki diferensiasi kokoh misalnya, harganya tak pernah dipengaruhi oleh naik-turunnya harga komoditas kopi. Starbucks tetap menjadi price maker yang mengendalikan pasar.

Ketiga, setelah kita memilih sektor/industri unggulan (positioning) dan membangun uniqueness (differentiation) di masing-masing sektor/industri tersebut, maka kemudian kita harus mengomunikasikannya ke target market yang kita tuju. Itulah yang disebut branding. Beberapa negara sukses melakukan country branding. Contohnya Swiss. Begitu mendengar kata Swiss apa yang ada di benak kita? Jam. Ya, karena jam-jam hebat di bikin di Swiss. Perancis dikenal dengan produk wine-nya. Jerman dikenal dengan mobil kelas atas kerena memiliki Mercedes dan BMW. Atau Amerika dengan Sillicon Valley-nya dikenal dengan produk-produk berteknologi tinggi. Sekali lagi, Indonesia apa?

Pariwisata: The Rising Star
Berbicara positioning atau sektor/industri yang harus dikembangkan, apa kira-kira sektor/industri yang bisa menjadi competitive advantage of nation bagi Indonesia? Dari banyak sektor/industri yang ada, pariwisata adalah salah satu pilihan terbaik. Ya, karena negeri ini begitu indah dengan kekayaan destinasi wisata alam dan budaya yang begitu mengagumkan. Itulah diferensiasi Indonesia yang sulit dipatahkan oleh negara lain manapun.

Ada dua pertimbangan mengapa sektor pariwisata menjadi kandidat terbaik untuk menjadi sektor unggulan bangsa ini.

Pertama dari sisi pertumbuhan, sektor ini tumbuh luar biasa selama lima tahun terakhir. Coba kita tengok kinerja mengesankan sektor ini beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu sektor ini menyumbang devisa USD12,6 miliar dengan pertumbuhan yang robust dua digit (rata-rata 10,3% pertahun selama 5 tahun terakhir). Dengan acuan kinerja lima tahun terakhir, kalau kita proyeksikan ke depan, maka bisa jadi 3 tahun ke depan sektor migas akan tersalib oleh pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. Dengan kekayaan alam dan budaya, potensi pariwisata kita bisa dibilang tak ada batasnya, tinggal bagaimana kita mampu mengolah dan mengembangkannya.

Kedua dari sisi pemerataan. Sektor ini bisa dibilang memiliki multiplier effect yang paling luas dibanding sektor-sektor lain. Datangnya wisatawan ke suatu obyek wisata akan menimbulkan kegiatan di sektor ekonomi lain seperti perhotelan, restoran, transportasi lokal, layanan paket wisata lokal, produk kerajinan lokal, hingga produk makanan-minuman lokal.

Ketika seorang wisatawan membelanjakan uangnya di suatu obyek wisata, maka uang tersebut akan beredar dalam kurun waktu cukup lama, bisa sampai setahun. Dengan adanya transaksi yang dilakukan oleh wisatawan, maka uang tersebut akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya, dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya. Uang yang beredar itulah yang membawa dampak positif karena mampu menggerakan perekonomian desa secara luas. Semua kalangan akan menerima “tetesan rezeki” yang dibawa oleh si wisatawan.

Tak heran kalau dikatakan bahwa industri pariwisata adalah penghasil multiplier effect yang pada gilirannya mewujudkan pemerataan kemakmuran. Berbeda dengan industri hitech yang umumnya hanya dinikmati kaum bermodal dan berpengetahuan, kucuran rezeki industri pariwisata bisa dinikmati semua kalangan dari lulusan doktor hingga lulusan SD Inpres.

Balik lagi ke judul tulisan ini. Jadi apa core economy yang dimaksudkan Jokowi? Jawaban saya adalah: pariwisata!

 

Sumber gambar: wallpapershome.com