E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Kisah Heroik Mazhab Ekonomi Baru

13-15 Oktober 1985, bertempat di auditorium Sekolah Bisnis Universitas Chicago. Di situ berkumpul sosok-sosok paling disegani dalam ilmu ekonomi. Para ekonom di ruangan itu terbelah ke dalam dua kubu: rationalist dan behavioralist. Di kubu rationalist terdapat “dewa-dewa” ekonom yang telah menentukan arah teori ekonomi dekade-dekade sebelumnya. Mereka antara lain: Robert Lucas (pemenang Nobel 1995), Merton Miller (pemenang Nobel 1990), Eugene Fama (pemenang Nobel 2013), dan Sherwin Rosen (belakangan menjadi presiden American Economic Association, 2001). Sebagian besar mereka adalah ekonom eksponen Chicago School, suatu mazhab yang percaya pada kekuatan pasar bebas.

Sementara kubu behavioralist terdiri dari para ekonom progresif seperti Herbert Simon (pemenang Nobel 1978), Kenneth Arrow (pemenang Nobel 1972), Amos Tversky, Daniel Kahneman (pemenang Nobel 2002), Richard Thaler, dan Robert Shiller (pemenang Nobel 2013). Dirintis oleh Tversky dan Kahneman, gerakan teori ekonomi baru yang kini dikenal luas sebagai teori ekonomi perilaku (behavioral economics), kala itu sedang mencari bentuk dan menghimpun kekuatan untuk bisa diterima sebagai mazhab teori ekonomi baru.

Baca juga: “Dua Dunia” Otak Kita… Mengenai Daniel Kahneman

Ekonom dari dua kubu ini berkumpul melakukan debat terbuka untuk menentukan arah teori ekonomi ke depan. Di forum bergengsi tersebut nasib teori ekonomi modern yang sudah berusia lebih dari 200 tahun bakal ditentukan. Risiko terbesarnya terpampang di depan mata: pilar teori ekonomi lama yang dirintis Adam Smith dan kemudian disempurnakan oleh Ricardo, Marshall, Keynes, hingga Samuelson, akan ambruk berkeping. Ya, karena asumsi-asumsi dasar yang melandasi teori lama itu terpatahkan sehingga tak layak dipertahankan lagi.

Memang yang kemudian terjadi tak sefatal itu. Dalam tiga hari debat maraton, kedua kubu bersikukuh dengan argumentasi masing-masing, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun konferensi di Universitas Chicago itulah yang menjadi titik awal perdebatan panjang untuk mengoreksi teori ekonomi lama (rationalist) dengan teori baru (behavioralist) yang lebih relevan dan down-to-earth. Kini, 30 tahun kemudian, perjuangan para ekonom behavioralists mulai membuahkan hasil ketika behavioral economics mulai diterima sebagai teori ekonomi mainstream.

Econ vs Human
Sebelum teori baru ini lahir, asumsi-asumsi dasar yang membangun teori ekonomi keliru fatal karena dilandasi oleh sebuah pemodelan yang menempatkan pelaku ekonomi sebagai homo economicus (untuk singkatnya disebut: Econ), bukannnya homo sapiens (Human). Econ adalah sosok fiktif dengan rasionalitas, kecerdasan, obyektivitas, dan kontrol diri yang nyaris sempurna. Econ adalah sosok berdarah dingin yang berpikir datar, super-sistematis, dan nir-emosi (kira-kira mirip dengan sosok robot T-800 yang diperankan Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator Genisys). Manusia langka macam ini tak akan kita temukan di manapun di muka bumi ini.

Yang ada adalah sosok Human yang penuh kekeliruan, kealpaan, kebingungan, kebimbangan, emosi, bias, bahkan kesesatan pikir dalam menetapkan pilihan dan mengambil keputusan untuk dirinya. Human adalah sosok irasional yang menjadi obyek beragam bias dan blunder dalam melakukan pengambilan keputusan. Human adalah kebanyakan kita. Perilaku ganjil sosok Human dalam berpikir rasional ini oleh Richard Thaler disebut “misbehaving” yang menjadi judul buku ini. Celakanya, perilaku ganjil ini berlangsung terus-menerus, konsisten, dan terprediksi. Karena itu Dan Ariely, seorang psikolog ternama, menyebutnya: irasionalitas yang terprediksi (predictably irrational).

Ketika asumsi yang digunakan keliru, maka teori yang dihasilkan pun akan keliru dan misleading. Oleh karena itu tak mengherankan jika kian banyak fenomena ekonomi mutakhir saat ini yang tak bisa dijelaskan oleh model ekonomi yang ada, termasuk yang terakhir krisis ekonomi 2008. “Hampir tak ada ekonom yang mampu memprediksi datangnya krisis ekonomi 2008. Celakanya lagi, banyak dari para ekonom tersebut justru berkeyakinan bahwa krisis tersebut seharusnya tak mungkin terjadi,” ujar Prof. Thaler. Nah, kegagalan demi kegagalan ekonom rationalist dalam membaca perubahan ekonomi inilah yang semakin meyakinkan para ekonom behavioralist untuk meluruskan teori lama yang telah usang.

Heroik dan “Subversif”
Perjuangan untuk menumbangkan paradigma keilmuan lama menjadi sesuatu yang sama sekali baru selalu saja heroik. Contoh klasiknya adalah Copernicus yang menumbangkan anggapan mapan lama bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Begitupun perjuangan para ekonom behavioralists yang begitu atraktif dan mengalir diceritakan Thaler dalam buku ini. Jalinan cerita yang dibangun Thaler dalam buku ini demikian runut dan menawan karena Thaler sendiri adalah salah satu bapak pendiri mazhab baru ini di samping Tversky dan Kahneman.

Seperti diungkap Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1962), perubahan paradigma keilmuan selalu diawali dengan adanya beberapa anomali yang diterima umum sebagai penyimpangan dari teori yang telah mapan sebelumnya. Anomali-anomali ini ditemukan oleh para ilmuwan visioner yang nyentrik dan berani tampil beda. Berdasarkan anomali inilah mereka memulai perburuan intelektual untuk mencari penjelasan dan menemukan jawab atas keganjilan anomali.

Walaupun dianggap “subversif” dan mendapat banyak serangan kritik dari ilmuwan ortodoks, mereka tak gentar bereksplorasi mencari bukti-bukti dan landasan teoritik dan menggalang pengikut untuk bersama-sama mendirikan bangunan teori baru. Menariknya, di bidang ekonomi, ilmuwan-ilmuwan subversif yang mendobrak kemapanan teori ekonomi lama itu justru bukan datang dari ekonom, tapi dari psikolog. Perintis behavioral economics Simon, Tversky, dan Kahneman, ketiganya adalah psikolog, bukan ekonom. Barangkali karena semua ekonom sudah terkungkung dalam zona nyaman dan matanya rapat tertutup oleh kaca mata kuda.

Tabir misteri di balik anomali ini pertama kali disingkap oleh Herbert Simon dengan teori “Bounded Rationality” (1957) yang menemukan bahwa manusia memiliki keterbatasan kognitif untuk memecahkan permasalahan yang kompleks. Simon adalah ilmuwan jenius yang kepakarannya merambah berbagai bidang mulai dari ilmu psikologi, politik, sosiologi, ilmu komputer dan intelegensia artifisial, di samping tentu ekonomi. Walaupun diganjar hadiah Nobel, namun temuan Simon belum cukup memiliki pengaruh kuat untuk menggeser paradigma teori ekonomi lama. Para ekonom ortodoks mengesampingkan temuan Simon dan menganggap temuannya “true, but unimportant”.

Terobosan fenomenal baru terwujud melalui karya Tversky dan Kahneman mengenai “Judgement under Uncertainty” (1973) dan “Prospect Theory” (1979). Melalui karya rintisan ini, Tversky-Kahneman berhasil merumuskan model ekonomi deskriptif yang lebih akurat memotret perilaku manusia yang sesungguhnya (yup, Human). Inilah model yang pertama kali mencangkokkan psikologi dan ilmu sosial ke jantung teori ekonomi. Sebuah model yang secara mendasar mengubah wajah teori ekonomi yang telah mapan dan mengeras selama dua abad. Untuk karya terobosan ini Kahneman memperoleh hadiah Nobel 2002. Anugerah ini sekaligus mengangkat behavioral economics ke panggung teori ekonomi mainstream.

Populer dan Relevan
Di tahun 1990-an behavioral economics kian populer dan mendapatkan eksposur yang luas baik secara teoritis maupun praktis, khususnya di sektor keuangan dan pasar modal (kemudian disebut behavioral finance). Biangnya tak lain adalah adanya serangkaian krisis ekonomi (dari Black Monday Oktober 1987, krisis ekonomi Asia 1998, internet bubble 2000, hingga terakhir krisis perumahan 2008) yang kian sulit dianalisis dengan menggunakan teori ekonomi konvensional. Dalam waktu singkat behavioral finance menjadi populer seiring luasnya publikasi media global mengenai krisis ekonomi dunia. Seiring dengan itu, Alan Greenspan, ketua The Fed waktu itu, memunculkan terminologi “irrational exuberance” di tahun 1996 yang tak pelak lagi kian meroketkan behavioral finance di kancah ilmu ekonomi keuangan di seluruh dunia.

Di tengah gegap-gempita ini Robert Shiller, salah satu eksponen behavioralist, menjadi ikon baru di kalangan ekonom. Risetnya “Do Stock Prices Move Too Much to Be Justified by Subsequent Changes in Dividends” (1981) mengenai volatilitas harga saham yang jauh melebihi nilai dividen menjadi acuan untuk menjelaskan rangkaian krisis keuangan yang terjadi kala itu. Karya monumental itu sekaligus mematahkan teori sebelumnya bahwa pasar efisien dan bahwa faktor-faktor irasional pelaku pasar dominan memengaruhi harga saham. Untuk karya terobosannya ini Shiller diganjar hadiah Nobel tahun 2013.

Dengan pisau analisis behavioralist, Shiller dianggap sebagai ekonom yang paling tahu mengenai krisis keuangan global. Bahkan melalui buku larisnya Irrational Exuberance (2000), Shiller dianggap mampu meramalkan datangnya dotcom crash di tahun 2000 dan krisis perumahan di tahun 2008. Dengan kepresisian tinggi, Shiller berhasil memprediksi bahwa harga saham teknologi (tahun 2000) dan harga rumah (tahun 2008) di Amerika sudah terlalu tinggi (overvalued) dan berada di ambang kejatuhan. Keberhasilan behevioral economics/finance menjelaskan perubahan-perubahan ekonomi mutakhir menjadi genderang kemenangan mazhab baru ini dan menempatkannya sebagai teori ekonomi mainstream yang diterima para ekonom di seluruh dunia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, behavioral economics kian terdongkrak popularitasnya seiring dengan munculnya buku-buku bestseller dunia yang menggunakan kerangka ide yang sama. Beberapa contoh di antaranya adalah: Predictably Irrational (Dan Ariely, 2008), Black Swan (Nassim Nicholas Taleb, 2007), dan Freakonomics (Stephen Levitt, 2005). Kisah 40 tahun perjalanan heroik mazhab baru ini ditutup dengan sebuah happy-ending yang melegakan.

Storytelling Matters

Misbehaving menjadi begitu menawan dan renyah dibaca karena disampaikan dalam format berkisah (storytelling). Secara isi buku ini mirip dengan karya fenomenal Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow (2011), namun berbeda secara format. Buku ini seharusnya berat dan menjemukan, karena sarat dengan kajian literatur yang njlimet dan teknis. Namun di tangan Prof. Thaler, tali-temali kajian tersebut berubah menjadi jalinan cerita yang menarik dan mengalir deras.

Seperti umumnya cerita, di dalamnya terdapat plot mengalir, dikotomi protagonis-antagonis, klimaks-antiklimaks, sentuhan-sentuhan emosional, dan tentu tak ketinggalan happy-ending di akhir kisah. Ia misalnya, menempatkan dua kubu ekonom behavioralist-rationalist layaknya protagonis-antagonis. Sementara sentuhan emosional salah satunya ditampilkan di halaman pertama buku, ketika dia mengenang kebersamaan memilukan dengan Amos Tversky, mentor dan kolega kentalnya, di 5 bulan terakhir sebelum sang jenius meninggal Juni 1996 oleh kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Karena kepiawaiannya berkisah, tak heran jika Daniel Kahneman memberi pujian kepada buku ini dengan menyebut Thaler sebagai, “the creative genius who invented the field of behavioral economics is also a master storyteller and a funny man…
Pelajaran Bagi Indonesia

Ketika pendekatan behavioral lebih ampuh memotret sosok pelaku ekonomi yang sesungguhnya (Human, bukan Econ), maka konsekuensinya kebijakan publik (public policy) yang dihasilkan dari pendekatan baru ini akan memiliki presisi, relevansi, dan efektivitas yang lebih tinggi. Karena itu tak heran jika dalam 5 tahun terakhir, berbagai negara mulai berlomba-lomba mencangkokkan pendekatan behavioral economics dan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka untuk menciptakan human-focused government.

Di Inggris misalnya, pemerintahan David Cameron membentuk Behavioral Insight Team (BIT) pada tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan efektivitas kebijakan publik melalui penerapan prinsip-prinsip behavioral economics. Di Amerika Serikat, tahun lalu pemerintah Obama telah membantuk White House Social and Behavioral Science Team (SBST) dengan misi dan fungsi yang mirip dengan BIT. Survei dari Economic and Social Research Council, tahun lalu setidaknya telah ada 134 negara yang mulai memasukkan pendekatan behavioral science ke dalam kebijakan publik mereka.

Di Indonesia, pemerintahan Jokowi seharusnya mulai berpikir untuk mengadopsi pendekatan yang sama untuk mendongkrak kualitas dan efektivitas kebijakan publik. Cakupan kebijakan yang digarap bisa sangat luas mulai dari kebijakan makroenonomi, kebijakan industri, dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di bidang kesehatan, pendidikan, hingga kriminalitas. Let’s see…