E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Spiritual Company

Akhir Oktober lalu buku terbaru yang saya editori keluar juga. Buku berjudul Great Spirit, Grand Strategy (Gramedia Pustaka Utama, 2013) ini ditulis oleh Arief Yahya, Direktur Utama Telkom. Buku ini berisi platform strategi yang menjadi landasan pak AY (begitu ia biasa dipanggil di internal Telkom) dalam memanajemeni Telkom.

Pak AY bukanlah orang baru bagi saya. Saya sudah kenal sekitar 10 tahun lalu saat ia menjadi Kepala Divisi Regional (Kadivre) Telkom di Balikpapan. Kita pertama kali ketemu saat saya mewawancarainya dalam rangka riset buku saya. Karena kenal cukup lama dan intens berinteraksi, saya tahu betul butir-butir pemikiran manajemennya. Salah satu butir pemikiran yang saya sukai adalah mengenai peran spiritualism dalam membangun organisasi.

Karakter
Pak AY percaya  bahwa faktor paling esensial penopang kesuksesan organisasi adalah karakter mulia dari orang-orang di dalam organisasi tersebut. “Character building adalah pekerjaan pertama dan paling utama bagi setiap pemimpin, apakah itu pemimpin perusahaan ataupun negara,” ujarnya.

Pertanyaannya kemudian, karakter macam apa yang harus kita bangun? Nah, pak AY melihat bahwa Indonesia memiliki keunikan yang tak banyak di miliki oleh negara lain, yaitu bahwa bangsa ini adalah bangsa religius. Sekitar 240 juta rakyat Indonesia adalah orang-orang yang memiliki keyakinan kokoh dan patuh menjalankan ibadah kepada Tuhan menurut agama mereka masing-masing, apakah Islam, Kristen, Hindu atau Budha.

Karena itu ia berprinsip bahwa karakter yang dibangun di dalam perusahaan haruslah dilandasi dan bersumber pada nilai-nilai spiritual yang agung dan mulia. Untuk dapat membangun budaya perusahaan yang kokoh maka setiap organisasi haruslah menempatkan nilai-nilai spiritual pada posisi sentral dan menjadi roh keberlangsungan organisasi tersebut.

Ia berkeyakinan, apabila nilai-nilai spiritual melandasi tugas dan pekerjaan setiap karyawan, maka ini akan menjadi sebuah power yang luar biasa. Ketika setiap karyawan memiliki keyakinan bahwa setiap pekerjaan yang mereka lakukan bernilai ibadah kepada Tuhan, maka pasti mereka akan mempersembahkan yang terbaik kepada perusahaan. “Ketika karyawan menyikapi pekerjaan-pekerjaannya di kantor sebagai perwujudan ibadah kepada Tuhan, maka tentu saja hasil akhir pekerjaan mereka akan luar biasa,” tambahnya.

Ketika sebuah perusahaan bisa menyatukan/menyelaraskan dua misi karyawannya: pertama, misi profesional memajukan perusahaan; dan kedua misi personal/spiritual beribadah kepada-Nya; maka bisa dipastikan perusahaan tersebut akan mampu tumbuh luar biasa, tak hanya menjadi good company tapi juga great company.

Spiritualitas
Ketika spiritualitas menjadi “roh” terwujudnya kinerja luar biasa, maka setiap organisasi haruslah membangunnya. Pertanyaannya, bagaimana membangun spiritualitas sebuah organisasi?

Menurut pak AY membangun spiritualitas organisasi tak lain adalah membangun karakter karyawan yang berbasis spiritual. Yaitu karakter yang mengacu dan berlandaskan nilai-nilai luhur universal yang terkandung dalam ajaran agama-agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan sebagainya. Karena nilai-nilai kebaikan yang luhur ini bersifat universal maka ia ada di semua agama dan tak bertentangan satu sama lain.

Jika sebuah organisasi terbangun oleh karyawan-karyawan yang berkarakter mulia dan karakter itu bersumber pada nilai-nilai universal agama, maka karakter mulia itu akan bermuara pada terwujudnya kinerja organisasi yang luar  biasa. Jadi dengan menumbuh-suburkan karyawan-karyawan berkarakter spiritual, maka akan terwujud kinerja bisnis yang luar biasa. Di Telkom, hal ini dikenal dengan ungkapan: “From Character to Commerce”.

Bagi pak AY setiap organisasi haruslah mengemban misi spiritual untuk membawa kemanfaatan kepada segenap umat manusia (“rahmatan lil alamin“) dalam rangka ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Jika segenap karyawannya meyakini bahwa misi spiritual organisasi tersebut selaras (align) dengan misi spiritual si karyawan secara individual, maka dengan sendirinya si karyawan akan menyikapi pekerjaan yang mereka lakukan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.

1000% saya sependapat dengan pak AY, bahwa spirit kecintaaan kepada Tuhan yang tertanam di hati-sanubari karyawan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Spirit kecintaan kepada Tuhan akan melahirkan militansi karyawan untuk mewujudkan mahakarya bagi konsumen, negara, dan umat manusia. Semua itu hanya terwujud jika setiap karyawan memiliki karakter spiritual.

Pikiran saya menerawang, alangkah indahnya jika seluruh perusahaan yang ada di negeri ini kecil, menengah, maupun besar, bisa menjadi organisasi seperti yang dipikirkan pak AY. Kalau itu terjadi, 1000% saya percaya Indonesia akan gampang melibas Amerika atau China untuk menjadi kekuatan ekonomi paling hebat di dunia.

3 comments

1 santi djiwandono { 11.19.13 at 11:10 pm }

Benar banget ini Pak, tantangan selanjutnya adalah strategi mengkomunikasikan ini ke dalam seluruh organisasi, dengan perilaku konsisten para pemimpinnya, dan ada ukurannya. Sayang, visi dan budaya yang dicita-citakan selalu bagus, tapi penetrasi engga krasa ya Pak?

2 @BrandingLokal { 11.22.13 at 9:47 am }

Spiritual sudah menjadi dasar dari karakter unik bangsa ini. Bila benar-benar diuraikan lebih dalam, saya yakin akan menemukan banyak kekayaan varian yg semakin unik dan kuat. Percayalah.

Selamat buat pak AY. Bukunya menyadarkan saya begitu unik bangsa inj. Keren pak

3 wahyu { 11.24.13 at 12:21 am }

sebenernya saya masih agak bingung sih dengan spiritual company itu kayak gimana. dan gimana pula penerapan praktisnya :)

Leave a Comment