E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Merayakan Tahun Baru

Dulu waktu saya masih tinggal di kampung, tahun baru adalah hal biasa. Pergantian tahun lewat begitu saja tanpa kembang api memecah-mecah langit, tanpa perayaan glamor di mal-mal, tanpa selebrasi di kafe-kafe atau hotel-hotel berbintang, tanpa konser musik semalaman, tanpa ada “hitung mundur” yang mendebarkan.

Dulu pergantian tahun meluncur mulus dengan kekhusukan, kesederhanaan, dan refleksi penuh makna. Kini tahun baru begitu bersinar, begitu penuh dengan perayaan, begitu penuh dengan glamor dan kehedonisan. Dulu penuh kekhidmatan, kini penuh dengan hingar-bingar. Dulu penuh kepolosan, kini penuh dengan kosmetik.

Wajar saja, karena dulu waktu di kampung saya masih pusing tujuh keliling bergumul dengan urusan perut. Kini, ketika urusan perut sudah terlewati, kebutuhan dan tuntutan kita akan tahun baru menjadi kian sophisticated. Tahun baru yang dulu kita lewati dengan begitu enteng dan sederhana sekarang menjadi begitu kompleks dan neko-neko.

Bagaimana kita semua kini merayakan tahun baru? Saya akan mencoba memberikan laporan pandangan mata langsung dari TeeKaaaPeeee…!!!

Hedonis
Merayakan tahun baru berarti pesta, pesta, pesta. Pesta dan hedonisme di urutan pertama; sementara refleksi, perenungan, dan resolusi di urutan ke-11, ke-12, dan ke-13. Kini pesta paling seru untuk merayakan pergantian tahun kita lakukan di mal. Hampir semua mal di Jakarta menggelar acara Old & New yang serba gemerlap, glamor, dan berbiaya mahal. Acaranya macam-macam mulai dari pesta kembang api yang spektakuler, pentas musik artis ternama, hingga mengumbar nafsu belanja dengan late nite sale.

Berpesta ria menyongsong tahun baru tak mesti harus mahal, yang murah-meriah bahkan gratisan juga banyak. Malam tahun baru nanti Jl. Sudirman-Thamrin bakal ditutup dan disulap menjadi panggung hiburan untuk pesta perayaan tahun baru. Ada karnaval, pentas dangdut hingga jazz, juga tentu pesta kembang api. Di Ancol setali tiga uang. Bintang-bintang top seperti Nidji, Noah, hingga Ayu Ting Ting tumplek-blek di Ancol untuk memeriahkan pesta setahun sekali hingga subuh. Pokoknya dijamin, tengah malam tahun baru kita semua bakal kalap berpesta.

Hedonisme tak hanya menyangkut urusan pesta kembang api dan konser musik, tapi juga untuk urusan perut. Masa-masa menyongsong tahun baru adalah masa-masa mengumbar nafsu makan. Mendadak kita rakus menyantap apapun yang enak-enak, tak peduli kolesterol, tak peduli asam urat. Urusan kenikmatan didahulukan, mumpung tahun baru, urusan kesehatan disingkirkan dulu jauh-jauh.

Boros
Kita juga merayakan tahun baru dengan berboros ria berbelanja di mal-mal: “buy more, consume more, pay more”. Ini tak mungkin terhindarkan, karena rayuan diskon di mal-mal di seantero kota terus melambai-lambai menggoda isi kantong. New Year Sale, Year End Sale, Midnight Sale, Christmas Sale, Old & New Promo, Year End Clearance, apapun namanya, seperti dikomando menggoda iman kita untuk berbelanja. Dulu cuma 50%, kini tambah seru: “50% + 20% + 10%” seperti saya lihat pada iklan satu halaman full color salah satu department store papan.

Pucuk dicinta ulam tiba, ketika diskon merajalela, bonus-bonus hasil memeras keringat sepanjang tahun pun mulai dibagikan. Dampaknya gampang ditebak: nafsu belanja tak terbendung lagi layaknya luapan banjir pintu air Katulampa. Kita menjadi kalap berbelanja. Apapun kita beli, mulai dari smartphone terbaru, tablet termutakhir, TV LED tercanggih, sepatu branded tergress, furnitur China yang murah tapi bagus, hingga mobil keluaran terbaru. Celakanya, seringkali semua itu kita beli bukan karena kita butuh, tapi karena lagi ada diskon, titik.

Sehari atau dua hari menjelang tahun baru, kita semua begitu takabur menyerbu mal-mal untuk memuaskan nasfu berbelanja. Pengelola mal pun panen. Senayan City misalnya, menjelang pergantian tahun besok bakal dibanjiri 150 ribu pengunjung perhari, naik dua kali lipat dari hari biasa. Omsetnya tak tanggung-tanggung, bakal naik 300%.

Mahal
Momen pergantian tahun adalah momen yang spesial. Karena itu harus dirayakan secara super spesial. Banyak polah-tingkah yang kita lakukan untuk membikin detik-detik pergantian tahun menjadi super spesial. Kini mulai muncul tren masyarakat kita merayakan tahun baru di hotel. Itu sebabnya hotel-hotel di manapun di seluruh pelosok negeri ini sold-out di ujung tahun.

Manajemen hotel paling piawai mengelola detik-detik pergantian tahun dengan acara-acara yang mengharu-biru. Mulai dari new year eve gala dengan mengusung konser musik artis terkenal, termasuk artis impor yang menguras devisa (tahun ini Rick Price dan Adam Lambert menggoyang Tanah Air);  new year’s eve dinner yang melankolis; hingga countdown party yang mendebarkan lengkap dengan champagne toast. Tentu saja, untuk mendapatkan momen pergantian tahun yang indah tak terlupakan ini kita harus merogoh kantung dalam-dalam: yess, mahal minta ampun.

Cara lain kita merayakan pergantian tahun baru adalah dengan bepergian jauh dari rumah. Ada yang ramai-ramai bersama keluarga menyewa vila di Puncak atau Batu Malang. Ada yang mau repot bergumul kemacetan di Bandung atau Yogya. Bahkan kini mulai muncul tren masyarakat kita yang merayakan malam tahun baru di negara tetangga Singapura, Thailand, atau Hong Kong. Pokoknya asal tidak di rumah. Nggak seru kalau malam tahun baru cuma ngendon di rumah… jadul alias katrok!

Kita tahu masa-masa natal dan tahun baru adalah masa peak season dimana tiket pesawat dan hotel mahal nggak ketulungan. Tapi nggak masalah, karena hari-hari menjelang tahun baru adalah momen-momen indah untuk menghabiskan uang hasil kerja sepanjang tahun. Jadi, tiket naik tiga kali lipat dilalap; tarif kamar hotel naik dua kali lipat disikat. Pokoknya berapapun dibayar untuk perayaan tahun baru yang menghebohkan. Makin mahal makin heboh karena bisa menjadi bahan cerita untuk tetangga kiri-kanan.

Refleksi
Tahun baru kali ini saya beruntung karena sendirian di rumah. Anak-istri kebetulan boyongan ke Yogya. Beruntung, karena dengan begitu saya bisa menyendiri di rumah. Saya akan persiapkan momen-momen indah pergantian tahun dengan kesepian, kepolosan, dan kekhusukan persis seperti saya lakukan puluhan tahun lalu di kampung.

Saya akan berdiam diri menerawang ke belakang menyelami keburukan-keburukan yang sudah saya jalani; kegagalan-kegagalan yang sudah saya alami; dan dosa-dosa yang sudah saya lakukan. Saya meyakini semua itu akan membikin saya kuat. Semua itu menjadi energi luar biasa untuk melanjutkan hidup. Energi untuk mengarungi tahun 2013 yang bakal berat.

Nikmat rasanya jika itu semua saya lakukan di tengah keheningan malam: tanpa kembang api yang memecah-mecah langit, tanpa champagne toast, tanpa pesta yang memabukkan.

Selamat tahun baru 2013

12 comments

1 Lusi { 12.30.12 at 1:18 am }

Saya juga tidak suka hura-hura. Kalau saya ingin bersosialisasi, saya pilih momen dan tempat yg nyaman untuk ngobrol. Hidup kan sebenarnya tdk seperti laporan keuangan tahunan, harus ada perbaikan tiap detik, tiap hari karena umur kita juga tidak sepredictable laporan tahunan dan rencana anggaran belanja. Jadi saya tidak pernah beresolusi tahunan. Tiap akan tidur saya selalu niatkan bangun dengan perbaikan-perbaikan.

setuju, “apalah artinya sebuah tahun baru”… refleksi mestinya ya tiap malan, kata bapak saya dulu: “terus eling lan waspodo le”… hehehe

2 Ahsan { 12.30.12 at 1:32 am }

Trims mas sudah menggelitik nurani saya, mengingatkan untuk tidak tergoda oleh nafsu dunia yg makin menggoda. Akhir tahun seharusnya jadi sarana utk refleksi diri, dan membuat resolusi2 baru utk tahun depan, dan untuk melakukan itu memerlukan ketenangan, bukan suasana hingar bingar

Hingar bingar mana mungkin bisa refleksi, refleksinya paling kulit-kulit :D

3 Muadzin { 12.30.12 at 2:52 am }

Selamat Tahun Baru 2013 mas Siwo.
Moga makin sukses, makin banyak berbagi ilmu!

Met taon baru mas Muadzin, tahun depan Semerbak Coffee harus lebih oke dar Starbucks :)

4 ayip { 12.30.12 at 4:01 am }

Selamat Tahun Baru 2013 mas yuswo, selalu menginspirasi lewat analisa nya terutama di tahun 2013 mendatang..

Met taon baru juga ya

5 Djarot { 12.30.12 at 5:23 am }

Selamat tahun baru, bro.

6 Dwi { 12.30.12 at 9:42 am }

Ana kancane mas. Setiap saat refleksi diri, utk lbh baik, lbh manfaat, dan lbh tentram . Selamat tahun baru m. Siwo. Sukses u kita semua .

Met taon baru ya :)

7 @hattaboer { 12.30.12 at 11:14 am }

Buat sebagian besar orang Indonesia, sebenarnya tahun barunya 1 Muharram kemarin. Tapi keluguan membuat kita tidak sadar bahwa kita telah terseret arus kuat politik budaya sistemik. Hingga membuat kita merasa bahwa “kepolosan” kita sebaiknya dihias “kosmetik” agar diterima jaman.
Terima kasih sudut pandangnya yang tajam Mas Yuswo. Sukses selalu.

Bener juga ya?!?!?

8 Wahyu Awaludin { 12.30.12 at 6:40 pm }

ini renungan yang baik mas :)

9 khairun nisa { 12.30.12 at 9:48 pm }

Saya setuju mas, tahun baru harusnya diisi dengan perenungan, semoga tahun depan lebih baik dari tahun kmarin, semoga qt termasuk dalam hamba2 اَللّهُ yang beruntung. آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

10 Ririn { 12.30.12 at 11:00 pm }

Di hari terakhir th 2012 sy malah ngantor nih mas…nasib kuli pabrik hehehe. Selama ini kalau malam tahun baru ya di rumah saja, suami gamang pergi2 kena macet, bukan nikmat malah merana. Nanti malam mau menikmati kembang api gratis di pelataran kompleks rumah, bareng anak dan suami. Gak papa juga dibilang katrok hehehe. Btw, kalau tahun baru begini, ibu saya yang punya penginapan dan RM. di Parangtritis langsung panen raya mas. Ikut seneng sih, warga Parangtritis meraup banyak rejeki di setiap pergantian tahun :-)

Selamat tahun baru ya mas. Semoga kesendirian nya melewati detik2 pergantian tahun dapat menghimpun banyak energi untuk mencapai resolusi 2013. Salam buat istri dan anak di Jogja. Saya tiap akhir tahun gak pernah bisa pulkam ke Jogja nih :-)

11 Wihinggil Prayogi { 12.31.12 at 5:44 am }

Bener, om..
Kan sekarang era digital, mending ngrayain di Social Media, Om :D

12 Sigit Kurniawan { 01.05.13 at 11:57 pm }

Refleksi tentang ruang dan waktu yang begitu dalam. Memang begitulah, kebaruan yang sejati tidak semata-mata bergantinya tahun, tapi bagaimana kita bisa menjadi “manusia-manusia baru” usai melakukan refleksi atas perjalanan hidup yang telah lalu. Tahun-tahun istimewa bukanlah tahun-tahun penuh glamour, kosmetik, maupun ingar-bingar yang banal, tapi tahun-tahun yang kepadanya kita bisa memaknainya menjadi tahun-tahun istimewa. Jadi ingat pesan guru kebijaksanaan Socrates: “Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani.” Selamat tahun baru, Mas!

TOP!!!

Leave a Comment