E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Marketing Al Amin vs. Marketing Pencitraan

Pilkada DKI putaran pertama telah lewat. Bagi saya yang menekuni bidang marketing, kemenangan Jokowi-Ahok menyimpan sebuah pelajaran berharga yang bisa kita pakai untuk berkaca. Sejak ajang pemilihan kepala negara, legislatif, dan daerah tersulap menjadi sebuah industri yang bergelimang rupiah, marketing capres/caleg/cagub-bup kepada para stakeholders-nya dimaknai secara sempit sebagai proses pencitraan (image building).

Celakanya, proses pencitraan sendiri di dunia politik telah mengalami pemerkosaan dan pembusukan. Begitu mendengar “pencitraan” maka yang keluar di benak adalah pemolesan, pembedakan, atau penggincuan. Dari caleg koruptor di mata publik dipoles menjadi malaikat. Dari capres yang aktivitas bisnisnya menyengsarakan rakyat dibedaki tebal dengan aktivitas social responsibility yang meneduhkan. Dari cagub pemarah dan suka tersingung diberi gincu merah-merona menjadi sosok murah senyum dan penyabar. Dengan pencitraan, semua bisa diperoleh secara instan asal ada duit. Kalau sudah begitu lalu marketing disalahartikan sebagai pembohongan publik.

Marketing Al Amin
Padahal marketing yang saya pahami dan yakini selama ini bukanlah senista itu. Marketing adalah al amin alias trusted dan dapat dipercaya. Kalau produknya jelek harus bloko dibilang jelek. Begitupun kalau produknya bagus dibilang bagus dilandasi kejujuran dan bukti-bukti yang dapat dipercaya. Marketing juga adalah kesesuaian antara janji dengan bukti. Ketika selama kampanye seorang calon pemimpin berjanji kepada masyarakat pemilihnya, maka ketika terpilih ia harus bisa mewujudkan janji tersebut menjadi kenyataan.

Marketing itu tidak ada yang instan. Ya, karena produk yang betul-betul bagus adalah hasil perasan keringat, buah dari kerja keras bertahun-tahun, tak ada yang semalam jadi. Membuat produk jelek menjadi bagus melalui pemolesan/pembedakan/penggincuan di mata publik itu baru instan. Marketing pencitraan memang bisa dibuat instan, tapi marketing al amin butuh kerja keras bertahun-tahun disertai kejujuran dan kearifan.

Oleh karena itu saya memaknai marketing dalam konteks pemilihan capres/caleg/cagub-bup sebagai proses menciptakan capaian (achievement) dan membangun karakter (character-building) dari si calon. Memarketingkan capres atau cagub bukanlah memasang baleho foto si calon di seantero negeri atau menayangkan spot iklan TV si calon 60 kali setiap hari menjelang hari pencoblosan.

Character Matters!
Aktivitas fundamental memarketingkan capres atau cagub adalah bagaimana si calon menciptakan legacy demi legacy prestasinya melalui kerja nyata dan bagaimana melalui perilaku sehari-hari sebagai pemimpin ia membentuk karakternya yang otentik (authentic character). Itu semua dibangunnya jauh sebelum si capres atau cagub menyongsong pencoblosan. Dari track record si calon tesebut terbentuklah ekuitas merek (brand equity) si calon yang baik di mata stakeholders-nya. Ekuitas merek kokoh inilah yang secara genuine akan mengantarkan si calon memenangkan pemilihan.

Bagi saya kemenangan Jokowi-Ahok merupakan kasus menarik karena kemenangan tersebut merupakan cermin keunggulan “marketing al amin” atas “marketing pencitraan”. Proses kemenangan Jokowi tidak diperoleh secara instan beberapa minggu menjelang pencoblosan, tapi sudah dibangun bertahun-tahun sebelumnya melalui capaian-capaian luar biasa selama menjadi walikota Solo. Kemenangan Jokowi juga bukan semata hasil dari aksi merakyat yang dilakukannya selama kampanye, tapi dari karakter kepemimpinan yang ia praktekkan selama menjadi walikota Solo.

Namanya saja karakter, tak mungkin bisa diubah dalam kurun waktu 3 bulan, 6 bulan, atau setahun menjelang pencoblosan. Mana bisa seumur-umur ponggah tiba-tiba menjadi pemurah. Mana bisa seumur-umur tak pernah turun ke masyarakat tiba-tiba menjadi sosok merakyat. Mana bisa seumur-umur menyunat uang rakyat tiba-tiba menjadi malaikat.

Pelajaran Berharga
Kasus kemenangan Jokowi-Ahok mengandung pelajaran berharga bagi para capres/caleg/cagub-bup yang akan maju untuk dipilih rakyat. Bagi mereka pelajarannya jelas bahwa memarketingkan diri (marketing yourself) si calon bukanlah ditempuh melalui proses pencitraan apalagi politik uang, tapi melalui proses character building yang dipraktekkannya jauh sebelum hari pencoblosan. Berkaitan dengan hal ini saya membagi marketing capres/caleg/cagub-bup menjadi tiga tingkatan.

Tingkatan pertama adalah yang paling hina yaitu dengan cara menyogok pemilih. Lebih hina lagi jika uang yang digunakan untuk menyogok itu adalah uang hasil korupsi. Tingkatan kedua adalah dengan cara melakukan pencitraan dimana muka bopeng-bopeng ditutup rapat dengan bedak dan lipstik. Dan tingkatan ketiga adalah yang paling al amin yaitu si calon mempersiapkan diri dengan membangun prestasi dan mengatur sikap dan perilakunya sehingga memiliki karakter arif-bijaksana.

Bagi tim sukses dan konsultan si calon pelajarannya pun jelas, bahwa marketing capres/caleg/cagub-bup bukanlan sesederhana memasang poster/baleho, menayangkan iklan TV si calon, atau melakukan serangan fajar menjelang hari pencoblosan. Upaya memenangkan seorang calon pemimpin adalah sebuah proses etis untuk menemukan sosok yang memiliki kompetensi teruji dan karakter yang agung.

Seperti terlihat pada proses kemenangan Jokowi-Ahok, ketika kompetensi teruji dan karakter agung itu sudah terpenuhi, sesungguhnya marketing cagub itu nggak neko-neko. Nggak perlu teknik marketing yang canggih. Cukup mengkomunikasikan track record dan karakter yang sudah melekat pada si calon pemimpin secara authentic dan genuine, tanpa ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Bahkan mungkin tak perlu baleho besar-besar atau iklan TV yang menggemparkan.

Word of Mouth
Karisma pemimpin yang memiliki track record baik dan karakter agung secara natural akan memancar ke segala penjuru dan memicu promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) dari para pemilihnya. Masyarakat pemilih menjadi ambasador si calon pemimpin yang secara sukarela menyebarkan pesan-pesan positif kepada pemilih lain. Harap diketahui, dalam konsep marketing, promosi dari mulut ke mulut ini adalah bentuk promosi yang paling murah tapi memiliki dampak luar biasa (low budget high impact).

Karena itu, kalau seluruh calon pemimpin cerdas menggunakan pendekatan marketing al amin untuk menghasilkan promosi dari mulut ke mulut yang begitu powerful ini, wow alangkah indahnya negeri ini. Ya, karena dengan begitu tak akan ada lagi capres atau cagub yang repot-repot melakukan korupsi untuk mendanai kampanyenya.

5 comments

1 business update { 07.21.12 at 4:40 pm }

Setuju mas, “marketing al Amin” harusnya lebih dimasyarakatan dengan merujuk pada perilaku Nabi Muhammad yang bergelar al Amin.

2 ahmed { 07.26.12 at 10:43 pm }

keren banget. Jadi ingat peristiwa peletakan hajar aswad. Yang namanya ‘al amin dimana-mana dijadikan pemimpin

3 ahmed { 07.26.12 at 10:44 pm }

keren banget. Yang namanya ‘al amin dimana-mana dijadikan pemimpin

True, ikhlas tanpa korupsi untuk dana kampanye, tanpa nyogok pemilih

4 andy { 08.23.12 at 8:25 pm }

marketing al amin atas hasil pemolesan media disebutnya apa bang yuswo?

Kalau tetap pakai pemolesan (dari jelek dan kotor ditutup-tutupi sehingga menjadi kinclong) maka namanya bukan Al Amin. Yang namanya Al Amin adalah kalau bagus sincere mengatakan bagus, dan kalau jelek bilang jelek (atau minimal nggak ngomong apa-apa). Marketing Al Amin tak pernah over promise under deliver. Marketing Al Amin adalah bersatunya kata dengan perbuatan

5 Double Bubble { 10.31.12 at 4:23 am }

Nice, jadi apapun bentuknya.
Mau jualan barang / jasa / kampanye sekalipun tetap kuncinya ada di branding produk ya Mas..

Leave a Comment