E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Brand “Indonesia”

Beberapa tahun silam saya ikutan nimbrung menyusun strategi branding Yogyakarta ber-tagline “Jogja Never Ending Asia”. Saya masih ingat, waktu itu terjadi diskusi seru menyangkut bagaimana memosisikan Yogya di benak konsumen yaitu trader, tourists, dan investor (TTI). Opsinya adalah apakah Yogya dilekatkan ke Indonesia atau Asia. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya diputuskan Asia, bukan Indonesia. Makanya tagline yang kemudian muncul adalah: “Jogja Never-Ending Asia”, bukan “Jogja Never-Ending Indonesia”.

Kenapa? Karena image Indonesia waktu itu memang masih compang-camping. Begitu mendengar kata “Indonesia”, maka yang muncul di benak nggak jauh-jauh dari kerusuhan, penjarahan, dan korupsi. Ya, memang waktu itu Indonesia sedang marak-maraknya kerusuhan dan penjarahan akibat krisis ekonomi 1998. Kalau image Indonesia amburadul, bagaimana trader, tourist, dan investor mau membanjiri Yogya?

Inilah hebatnya country brand. Merek jam begitu dilekatkan dengan negeri Swiss akan langsung terdongkrak ekuitasnya. Merek mobil begitu dilekatkan dengan negeri Jerman akan terdogkrak ekuitasnya. Produk elektronik begitu dilekatkan dengan negeri Jepang akan terdongkrak ekuitasnya. Waktu itu, kalau Yogya dilekatkan ke Indonesia, maka ekuitasnya akan ikut-ikutan amburadul. Bagi Yogya, Indonesia waktu itu bukanlah asset, tapi liablitities.

Indonesia Bangkit
Tapi itu adalah cerita 10 tahun lalu saat Indonesia tengah terpuruk dihajar krisis. Kini kondisinya sudah banyak berubah. Lebih setahun lalu, untuk pertama kalinya GDP perkapita Indonesia menembus ambang batas $3000, itu artinya kita merayap menjadi negara maju. Kelas menengah (middle-class consumers) kita cukup solid mencapai 54% dari total jumlah penduduk. Menurut Goldman Sach, tahun 2050 Indonesia merupakan ekonomi terbesar ke-11 di dunia beda tipis dengan Perancis, Inggris, dan Jerman.

Saya menggambarkan Indonesia sebagai “gadis desa” yang sedang ranum-ranumnya di lirik seluruh dunia. Di tengah mendung krisis Eropa saat ini kita justru mendapatkan status investment grade dari lembaga bergengsi Fitch dan Moody’s. Ketika pasar kita demikian besar dengan 240 juta penduduk, maka investor dari manapun berduyun-duyun datang ke sini. Energi positif melingkupi negeri ini karena seluruh anak negeri optimis menyongsong Indonesia menjadi ekonomi utama dunia menyusul Cina dan India.

Kalau sudah demikian, apa akibatnya ke brand Indonesia? Indonesia sebagai country brand pun pasti ikutan terkerek naik. Beberapa tahun terakhir saya melihat tren produk-produk (tak hanya lokal tapi juga global) sudah mulai confident mengusung citra Indonesia. Merek-merek seperti Sido Muncul, Kapal Api, Martha Tilaar, Telkomsel, Pertamina, hingga Multiply atau Chevron mulai tak malu-malu lagi menggunakan simbol-simbol kebanggaan Indonesia dalam komunikasi merek.

Kapal Api misalnya mengusung tagline baru “Secangkir Semangat Untuk Indonesia”. Sido Muncul sejak lama menggunakan tema nasionalisme dan cinta produk Indonesia dalam kampanye mereknya. Multiply bahkan memindahkan kantor pusatnya dari Florida ke Jakarta. Muncul tren yang makin menguat bahwa merek-merek kita mulai confident, tidak malu lagi, melekatkan diri ke brand hebat baru bernama: Indonesia.

Merangkak
Jangan dikira produk elektronik atau otomotif Jepang memperoleh status brand hebat seperti sekarang ini dengan mudah. Jalannya cukup panjang dimulai sejak tahun 1950-an. Kala itu produk Jepang selalu identik dengan citra produk kelas kambing. Tapi berkat rintisan dari merek-merek pionir seperti Sony, Toyota, atau Panasonic pelan-pelan brand Jepang di pasar dunia mulai terdongkrak naik.

Di tahun 1980-an, hal yang sama dilakukan Korea. Kala itu merek-merek seperti Samsung, Hyundai, atau Kia dianggap sebagai merek-merek nomor buncit dengan kualitas asal-asalan. Tapi karena terus memperbaiki diri, merek-merek itu akhirnya mulai diperhitungkan di dunia, dan ujung-ujungnya Korea sebagai country brand menjadi harum namanya. Kini giliran Cina dan India berpacu untuk mendongkrak country brand-nya menjadi kekuatan baru seperti pendahulunya Jepang, Hong Kong, dan Korea.

Pertanyaannya, kapan giliran Indonesia? Jawabnya adalah sekarang! Ya, karena saat inilah momentum yang tepat di tengah kebangkitan Indonesia menjadi negara maju baru. Karena itu saya berharap makin banyak merek-merek hebat lokal yang dengan kebesaran hati mendorong country brand Indonesia persis seperti yang dilakukan Sony di Jepang atau Samsung di Korea. Produk-produk kita tak boleh malu atau minder lagi menggunakan atribut “Indonesia” dalam melakukan brand-building. Ya, karena Indonesia sedang melaju menjadi negeri kelas kakap, bukan kelas teri.

Saya bermimpi 10 tahun lagi atau paling lama 20 tahun lagi dari sekarang brand Indonesia sudah menjadi seperti raja Midas, apapun yang disentuh bakal menjadi emas. Saya bermimpi, apapun merek lokal ketika ditempeli label “Indonesia” akan laris manis selaris iPad.

14 comments

1 Ahmad Turamsili { 02.04.12 at 9:27 am }

Keren Mas! Tajam!

2 adzan { 02.04.12 at 9:54 am }

Inspiring mas siwo! Bikin smangat!

3 Kaos Bola { 02.04.12 at 10:57 am }

ini namanya patriotisme!

4 Muadzin { 02.05.12 at 12:17 am }

Mantap mas!
Ramalan saya, benar beberapa brand besar lokal yg bagus akan menohok ke atas, tapi secara kolektif yg mendongkrak perekonomian & brand Indonesia adalah kebangkitan kolektif & massive para wirausaha UKM yg tangguh & berkarakter.

5 Mukena Bordir { 02.05.12 at 4:12 am }

Ulasanya bagus, bikin tambah semangat kita2, para UKM

6 lywa { 02.05.12 at 12:00 pm }

di Industri properti semakin memperbaiki diri, yang tadinya menyajikan kemewahan sekarang sdh menyajikan yang lebih rasional… karena memang masyarakt #3000 adalah masarakat yang cerdas dlam membeli, praktis dalam pengambilan keputusan

Apartemen kelas studio yang 10 tahun lalu menjadi nomor buncit dalam tingkat penjualan, sekarang jadi primadona. Apartemen kelas Rusunami seperti kalibata city yang kamarnya RSSSSSS (Ruangan susah selonjor sangat sempit serasa susah sekali sembunyi …) tiba2 laku keras…

Office strata title yang tidak ditengok oleh market 10 tahun, sekarang lack of supply. Office strata title dengan luasan dibawah 100 m2 menjadi rebutan karena teknologi komputer sdh membuat downsizing dalam dokumentasi, tidak perlu lagi kantor yang luas…

Di industri properti hotel, hotel-chain bintang lima rame2 bikin kelas bisnis karena inilah yang didatangi massa #3000, tentu saja pengecualian di Bali yang memang tourist destination.

wah… masih banyak sebenarnya proses “evolusi” di industri properti yang masi pengen kutulis… insyaAlloh

Banyak belajar banyak nih mengenai industri properti pak… keep sharing pak :)

7 Afrizal Mustafa { 02.06.12 at 9:46 am }

Editorial Media Indonesia hari ini: “Kemudahan Berbisnis yang Memprihatinkan”. Isinya? International Finance Cooperation (IFC) World Bank yg menempatkan Indonesia sbg negara dg tingkat kemudahan berinvestasi yg “payah & parah” yg berujung pd ekonomi biaya tinggi. Simpulan saya: Investment Grade Indonesia adalah hasil manis dr kerja keras pihak swasta, terutama UKM. Dan ekonomi biaya tinggi adalah cermin buram kinerja pemerintah dalam pembangunan perekonomian yg hanya sibuk bersolek, tapi performanya masih tak berubah. So, optimisme yg tak lelah diusung Mas Yuswohadi barangkali hanya pantas dinisbahkan pd kaum entrepreneur, sambil mengabaikan mimpi partisipasi pemerintah yg optimal dalam jangka waktu yg panjang. Auto pilot country…sampai kapan ya?

Saya salut para entrepreneur sejati kita (yang bukan minta2 proyek pemerintah or Banggar, yang nggak korup), mereka kerja dan kerja terus, nggak banyak omong, nggak nunggu belas kasihan pemerintah, pokoknya kenceng berkarya. Beda abis dengan para politisi yang kerjanya ngomong terus tapi tidak ada kerja, tidak ada karya. Hidup entrepreneur sejati!!!

8 Budi Wiyono { 02.07.12 at 9:58 pm }

Mas Siwo,

Yg sifatnya sangat URGENT adalah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Brand “Indonesia” perlu sumbangan pemikiran road map yg efektif.
Challengenya adalah: banyak riset mengatakan pasar lokal menggilai brand luar negeri.
Opsi solusinya adalah Glocal branding, seperti di contohkan oleh JCo, Hokben, dll.
Jadi pasar local dengan enaknya mengkonsumsi produk yg “dikiranya” sbg global brand.

Glocal Branding juga bagus untuk path selanjutnya menuju Go International.

Kenapa dulu produk yang diluncurkan di Amerika lebih mudah go international? Karena pasar lokal Amerika saja volume nya sdh besar, shg jk sdh sukses di US path go internationalnya lebih ringan.

Jangan sampai pulak kita “dijajah” lagi khan mas? :D

Pasar local yg menjadi sangat prospektif, tapi jangan sampai yang merajai malah pemain luar negeri.

Keren! Setuju glocal branding. Banyak jalan menuju Roma, yang penting tujuan mulia tercapai, walaupun caranya berkelok-kelok :)

9 ny. If { 02.09.12 at 11:59 pm }

Yap, sebagai pedagang siap mendukung produk anak negri, Indonesia negara besar dan maju. Apapun yg dilakukan para penjahat berkedok pemerintah, politisi, aparat dll, 250 juta rakyat yg hidup dan tumbuh pasti punya kekuatan dan kedigdayaan negri kita akan menemukan jalanya..InsyaAllah.

10 Ida Masruroh { 05.02.13 at 9:50 am }

Mari bangga dengan produk sendiri seraya tetap berjuang perbaiki kualitas produk kita agar mampu bersaing dgn produk dari luar.

Berhentilah mengemis pada pemirintah, karena ujung-ujungnya secara tidak langsung kita ikut korupsi.

MUKENA DISTRO siap bersaing untuk nama harum Indonesia

11 belajar bisnis online { 01.21.14 at 3:53 pm }

wah bagus juga nih bicara mengenai brand indonesia..
saya juga siap bersaing dengan usaha saya yaitu Kursus Online gratis tentang belajar bisnis Online gratis
oya sbelumnya salam kenal,nama saya sutopo dari blogger jogja yang punya kursus seo dan Ebook SEO

12 caknun { 10.10.14 at 3:53 am }

terima kasih informasinya

Salam Hangat dari kami dompet kulit dan ikat pinggang kulit

13 Marzuqi { 02.19.15 at 5:15 am }

terima kasih gan atas informasinya, semoga bermanfaat buat semua orang

best regard
zuqi

14 Adi Supriadi { 06.19.15 at 2:36 am }

semoga indonesia bisa kayak negara korea, china dan jepang

Leave a Comment