E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Entrepreneur Boom

Akhir tahun lalu saya mengintroduksi fenomena Consumer 3000, yaitu munculnya konsumen kelas menengah di Indonesia dalam jumlah yang cukup siknifikan (saat ini jumlahnya sudah mencapai 100 juta orang) yang terjadi seiring dengan tembusnya GDP/kapita Indonesia ke level $3000 pertahun. Ini merupakan potensi pasar luar biasa yang akan menjadi driver pertumbuhan industri dan perekonomian kita. Ini sekaligus menandai posisi Indonesia yang sudah ancang-ancang masuk dalam jajaran negara maju baru (emerging countries) bersama negara-negara seperti Cina, India, Brasil atau Rusia.

Kalau pada saat itu saya mengatakan bahwa Consumer 3000 merupakan konsumen potensial yang mampu menggeliatkan perekonomian, maka sesungguhnya kemunculan kelas menengah juga menjadi kekuatan potensial terbentuknya kalangan wirausaha (entrepreneur) yang sangat powerful.

Kenapa? Karena kelas menengah memiliki potensi dari sisi mindset dan karakter sebagai seorang entrepreneur; mereka memiliki aset dan modal yang memadai; mereka knowledgable, berwawasan, berpendidikan; dan yang menarik mereka adalah generasi yang melek teknologi (technology savvy) dan terkoneksi (connected) satu sama lain. Itu semua merupakan elemen penting terbentuknya lapis wirausahawan baru yang belum ada sebelumnya.

Franchise Entrepreneur
Dalam salah satu kajiannya, McKinsey&Co. mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan.

Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ketika mereka sudah memiliki cukup dana, berbekal wawasan dan tingkat pendidikan yang dimiliki, mereka akan menggunakan dana sisa itu untuk aktivitas nilai tambah produktif terutama membangun bisnis baru (startup).

Tak heran jika nantinya akan semakin banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di berbagai bentuk bisnis. Salah satu sektor bisnis yang saya ramalkan bakal boom adalah bisnis franchise. Kenapa franchise? Karena bisnis ini memiliki advantages yang cocok bagi kelas menengah baru Indonesia khususnya kaum profesional.

Kenapa begitu? Pertama karena bisnis franchise menawarkan risiko usaha yang relatif kecil dan bisa di-manage karena tak perlu dari awal membangun merek. Kedua, bisnis ini menawarkan return yang cukup reasonable dan menarik.

Socmed Entrepreneur
Salah satu sektor wirausaha yang bakal atraktif di era Consumer 3000 adalah bisnis online berbasis media sosial (social media business). Saya perkirakan boom social media entrepreneur yang terjadi di Amerika sekitar 10-15 sepuluh tahunan lalu, bakal terjadi juga di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Seperti kita tahu boom itu telah melahirkan ikon-ikon seperti Mark Zukerberg (Facebook), Larry Page (Google), atau Evan William (Twitter).

Ikon-ikon itu akan menjadi model dan inspirasi bagi calon-calon social media entrepreneur Tanah Air dalam mengembangkan bisnis ini. Di sisi lain, kesuksesan startup-startup lokal seperti Kaskus, Koprol, atau Bhinneka.com menjadi akselerator tersendiri bagi bermunculannya social media startup di Tanah Air. Apalagi setelah terjadi gelombang akuisisi kelompok usaha besar yang mulai melirik start up lokal seperti Koprol yang dibeli Yahoo!, Kaskus yang dibeli kelompok Djarum, atau Detikcom yang dibeli kelompok TransTV.

Pilihan untuk menjadi social media entrepreneur menarik karena berbagai alasan. Pertama, karena berinvestasi untuk menjadi social media entrepreneur menuntut investasi yang relatif kecil sehingga aksesibel untuk berbagai kalangan terutama kalangan muda dan mahasiswa. Modal utamanya adalah kreativitas dalam mendayagunakan teknologi informasi untuk mengisi peluang yang muncul di pasar. “Brain is your factory!” Kedua, bisnis ini memiliki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business di Indonesia.

Small-Medium Entrepreneur
Saya meramalkan kemunculan konsumen kelas menengah baru Indonesia ini tidak akan akan berjalan smooth, persis seperti yang terjadi di Cina. Meningkat pesatnya daya beli, tingkat konsumsi, tingkat pengetahuan, dan melek teknologi, akan memicu terjadinya perubahan (baca: revolusi) perubahan perilaku konsumen. Perubahan drastis perilaku konsumen ini misalnya bisa kita saksikan dalam fenomena munculnya OKB (“orang kaya baru”) dengan konsumsi yang berlebihan sebagi dampak daya beli mereka yang meningkat cepat.

Lalu apa yang bakal terjadi ketika terjadi revolusi perilaku konsumen ini? Perubahan perilaku konsumen yang luar biasa akan memunculkan peluang-peluang pasar yang luar biasa pula. Nah, munculnya peluang-peluang ini pada gilirannya akan memicu munculnya para entrepreneur dalam jumlah yang luar biasa pula. Mereka akan melakukan inovasi-inavasi bisnis untuk menangkap peluang-peluang tersebut.

Siapa kira-kira jenis entrepreneur yang mampu berinovasi dan secara jeli menangkap peluang itu? Saya kira bukan entrepreneur besar, tapi justru entrepreneur kecil-menengah. Kenapa begitu? Karena pemain-pemain besar umumnya (karena gemuknya dan karena kondisi comfort zone-nya) kehilangan daya sensitivitas terhadap pasar sehingga kurang cepat merespons peluang-peluang tersebut. Pemain kecil lah yang bakal jeli mengendus peluang dan mewujudkannya menjadi bisnis-bisnis baru yang lukratif. Ingat, “The consumer 3000 era is the small business era!!!

Ayo para entrepreneur, kinilah saatnya Anda berkreasi, berinovasi, dan mencipta nilai luar biasa. Masa depan Indonesia ada di tangan Anda.