E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Love Is Sharing

Twitter: @yuswohady

Ini adalah minggu kelima saya menulis seri tulisan Twitter Marketing Is LOVE Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui Twitter. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di Twitter akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada konsumen di Twitter. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang keempat yaitu: “Love Is Sharing”.

Ketika kita punya sesuatu, dan sesuatu itu kita kangkangi, kita monopoli, dan tak sudi berbagi, maka itu sesungguhnya adalah puncak dari keegoisan kita. Cinta tak pernah egois. Cinta tak pernah mementingkan diri sendiri. Cinta yang tulus selalu fokus pada siapapun yang kita cintai: apakah pacar, istri/suami, anak-anak kita, juga tentu Tuhan. Cinta adalah memberi. Cinta adalah berbagi. Mother Teresa menjadi ikon cinta-kasih, karena ia mendedikasikan dirinya untuk orang lain. Mother Teresa menebar cinta dengan “membagikan” hidupnya untuk kaum papa.

Great Place to Share
Karena saya punya prinsip love is sharing, maka kiat ampuh saya membangun brand di Twitter adalah tidak pelit untuk berbagi. Berbagi apa? Karena saya bukanlah konglomerat yang punya banyak duit, maka saya tak mampu bagi-bagi duit kepada para follower saya. Saya hanya punya banyak ilmu (yes.. ilmu marketing) karena saya banyak membaca dan sangat mencintai ilmu marketing. Apapun ilmu marketing yang saya dapatkan (dari membaca, dari ngobrol dengan klien, dari mengamati, dari berpikir dan menganalisa) saya selalu membaginya ke para followers saya di Twitter.

Inilah rutinitas yang saya lakukan hampir setiap hari: berselancar di jagad internet atau menelusuri orang-orang hebat yang saya follow; lalu saya temukan konten-konten yang menarik dan relevan dengan follower saya; kemudian saya bikin link dan di-shorten pakai bit.ly; lalu ditwit dan dalam sekejap seluruh follower saya bisa membaca konten yang saya share. Ketika konten itu di-retweet oleh salah satu follower, maka dalam sekejap follower dari follower saya akan bisa membacanya. Inilah hebatnya Twitter: “Twitterland is a great place to share”.

Hampir setiap hari, selalu saja ada tweeps yang bertanya atau minta pendapat saya mengenai berbagai hal mengenai marketing. Tak jarang teman-teman yang sedang menyusun skripsi bertanya melalui Twitter mengenai buku-buku referensi untuk topik skirpsi yang mereka ambil atau minta waktu untuk mendiskusikannya. Sejauh mampu memenuhi, dengan spirit melayani saya akan memenuhinya.

Seperti halnya Mother Teresa, berbagi ilmu adalah manifestasi cinta saya pada follower. Berbagi ilmu adalah cara saya menebar cinta kepada para follower.

Sebuah kebahagian luar biasa jika para followers saya mendapat kemanfaatan dari ilmu yang saya bagi. Saya trenyuh setiap kali membaca twit atau posting di blog saya yang bilang: “Thx pak Siwo, artikelnya sungguh menginspirasi saya” atau “tulisan pak Siwo membuka wawasan saya, saya akan coba mempraktekkannya”.

Spread Love
Saya tidak sendiri. Banyak para tweeps hebat yang dengan ketulusan hati berbagi untuk menebar cinta kepada follower-nya. Ada Goenawan Mohamad (@gm_gm) dengan kultwit mengenai kebudayaan yang mengusik kesadaran dan kepedulian kita. Ada ibu Fahira Idris (@fahiraidris) dengan inspirational quotes yang mencerahkan pikiran kita. Ada Poltak Hotradero (@hotradero) dengan twit-twit yang membuka wawasan dan memperkaya khasanah pengetahuan kita. Ada mas Safir Senduk (@safirsenduk) dengan tips-tips keuangan yang simpel dan praktis. Mereka semua menebar cinta kepada para follower dengan cara yang sangat elegan, yaitu berbagi ilmu.

Beberapa akun Twitter juga secara cerdas memposisikan diri sebagai medium untuk sharing dengan menggunakan platform co-creation. Contohnya adalah Infolalulintas.com (@infoll) yang menggerakkan partisipasi masyarakat untuk berbagi informasi mengenai kemacetan lalu-lintas di Jakarta melalui medium Twitter. Jalin Merapi (@jalinmerapi) menjadi wadah bagi siapapun untuk berbagi kepedulian terhadap bencana gunung Merapi yang terjadi beberapa bulan lalu. Ada juga Fiksi Mini (@fiksimini) yang menjadi ajang bagi para penyair dan cerpenis untuk berbagi dan mengekspresikan karya-karya mereka berupa “cerita mini” tak lebih dari 140 karakter.

Bersama beberapa teman Twitter, saya menginisiasi sebuah komunitas pembelajar di Twitter yang diberi nama komunitas LifeTimeLearner (@LTLearnerID). Misi komunitas yang sangat cair ini adalah untuk mendorong siapapun yang bergabung untuk berbagi ilmu mengenai marketing, entrepreneurship, social media, dan creativity. Di dalam komunitas ini seluruh anggota secara voluntary aktif memberikan kultwit (kuliah Twitter), livetwit, saling me-retweet, dan memberikan mention mengenai konten tertentu. Hasilnya, semua orang belajar, semua orang menerima manfaat, dan ujung-ujungnya semua orang bertumbuh.

Komunitas berbagi ini dibentuk karena keyakinan bahwa:                                                                                                                                             Sharing makes you learning.  Sharing makes you growing. Sharing makes you loving. It’s the power of sharing.

So,                                                                                                                                                                                                                                                          share… and spread love.

I love you, my followers :)