E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Social Media Marketing for SME

Twitter: @yuswohady

Tulisan ini dibikin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung kemarin siang (26 Februari 2011). Kebetulan sorenya saya sharing dengan teman-teman pelaku usaha kecil-menengah (UKM) dalam sebuah seminar bertajuk, “Social Media Marketing for Small Medium Enterprise (SME)” yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas Akademi Berbagi (Akber) bareng Detik.com dan Telkom Indonesia. Untuk mempersiapkan presentasi saya melakukan survai kecil mengenai topik ini, maka sekalian saja saya sharing hasil-hasil pikiran saya tersebut dengan para pembaca Sindo.

Terus terang saya bernafsu mengkaji topik ini karena memang media sosial (social media: “socmed”)  memiliki kekuatan super ampuh dalam “memerdekakan” UKM. Media sosial telah memicu terjadinya apa yang saya sebut “democratization of resources” bagi UKM. Kenapa begitu? Karena kehadiran social media tools seperti blog, Facebook, Twitter, YouTube yang murah (praktis gratis..tis..tis) menjadikan UKM mampu melakukan kegiatan promosi, customer service, riset dan pengembangan produk, atau penjualan dengan sangat murah, tapi dengan hasil yang sangat efektif (“low budget high impact”).

UKM pasti tidak akan mampu membeli slot iklan RCTI yang per 30 detiknya saja mencapai puluhan juta perak. Mereka pasti juga tidak kuat membayar iklan di Kompas yang seperempat halamannya saja bernilai belasan bahkan puluhan juta rupiah. Namun dengan adanya blog, Facebook, atau Twitter, kini mereka mampu menjangkau konsumen seperti yang dijangkau media berbayar (TV, Radio, koran, dsb) dengan biaya yang pratis nol.

Kalau Anda punya warung Padang di ujung gang, maka dengan menggunakan blog, Facebook, Twitter atau Foursquare, Anda bisa menjalankan kampanye promosi, men-service pelanggan, atau meminta masukan-masukan dari pelanggan mengenai menu yang mereka inginkan. Anda bisa membangun komunitas pelanggan dan dengan program-program aktivasi komunitas (community activiation) Anda bisa membikin mereka loyal, bahkan menjadi pembela (evangelist) warung Anda. Semua bisa Anda lakukan dengan sangat murah tapi efektif. Modalnya cuma satu: kreativitas.

Karena kenyataan ini saya berani mengatakan bahwa “social media age is small business age”. Dengan munculnya “democratization of resources” akan muncul usaha-usaha kecil dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan saya meyakini, tak lama lagi kita bakal menyongsong era keemasan UKM. Kembali ke persoalan, bagaimana UKM bisa memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan bisnisnya?

Saya punya model sederhana yang bisa di kembangkan oleh para pelaku UKM untuk memasarkan produk dan mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan media sosial. Kuncinya adalah mereka harus membangun komunitas konsumen. Secara berkelanjutan komunitas konsumen ini harus dijaga dan dibina sehingga terwujud trust dan win-win relationship antara Anda dengan komunitas pelanggan tersebut. Setelah trust dan relationship terbentuk, maka proses jualan Anda pasti akan bisa berlangsung mulus.

Kongkritnya gimana? Untuk bisa mudah menjelaskannya, saya punya sebuah model sederhana seperti terlihat pada bagan. Model tersebut menjelaskan elemen dan langkah yang harus Anda lakukan untuk membangun komunitas konsumen yang solid.

Step#1: Define Your Target Consumers
Langkah pertama tentu Anda harus tahu siapa konsumen yang akan dibidik. Kalau Anda membuat perangkat lunak aplikasi keuangan untuk bisnis restoran kecil-menengah misalnya, maka target konsumen Anda adalah para pemiliki atau manajer restoran. Atau kalau Anda mengelola lembaga pendidikan pre-school, maka barangkali target konsumen Anda adalah ibu-ibu yang peduli pada pendidikan anak-anaknya sejak dini. Selama Anda tidak memiliki kejelasan mengenai konsumen yang Anda target, maka sesungguhnya bisnis yang Anda tekuni dengan sendirinya tak akan jelas. Target kosumen inilah yang akan menjadi “member” dari komunitas yang Anda bangun. Melalui berbagai program komunitas yang dibangun mereka akan dibentuk menjadi pelanggan loyal, atau bahkan evangelist yang dengan sukarela memberikan referral kepada konsumen lain.

Step #2: Identify Common Interests
Setelah jelas siapa target konsumen bisnis UKM Anda, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui apa minat bersama (common interests) dan kebutuhan bersama (common needs) dari komunitas konsumen Anda. Mengambil contoh bisnis aplikasi keuangan di atas, maka mungkin common interest pelanggan Anda adalah keinginan agar bisnis restorannya maju pesat. Atau kalau bisnis UKM Anda menarget ibu-ibu yang punya anak di usia pre-school, maka mungkin common interest-nya adalah, mereka ingin anak-anaknya pintar cas cis cus berbahasa Inggris, hobi menghitung dan matematika, jago bermain piano atau balet, dan sebagainya.

Step #3: Build Conversation, Activation, Cocreation
Berdasarkan pemahaman terhadap common interest konsumen, maka Anda bisa menyusun program-program conversation, activation, dan cocreation. Program conversation adalah upaya Anda untuk berkomunikasi intents dengan konsumen (melalui blog post, tweets, status updates atau notes di Facebook) mengenai beragam topik yang terkait dengan common interest mereka. Program activation adalah upaya Anda untuk mengajak konsumen aktif dalam beragam kegiatan yang dilakukan bisnis UKM Anda (kopdar, lomba, gathering, promosi diskon, reward, dsb) baik yang bersifat offline ataupun online. Sementara program cocreation adalah upaya Anda untuk mengumpulkan feedback dan usulan dari konsumen mengenai produk baru, customer service, promosi baru, dsb.

Untuk bisa mewujudkan 3 langkah tersebut Anda harus membangun blog yang berfungsi sebagai “landing page” dan akun Facebook, Twitter, atau YouTube yang berfungsi sebagai “social media channel”. Saya sering menyebut landing page sebagai “rumah” bagi anggota komunitas yang Anda kumpulkan. Sementara Facebook, Twitter, YouTube adalah “jalan” yang mengarahkan konsumen menuju ke “rumah” tersebut.

Untuk mengumpulkan massa konsumen maka Anda harus rajin “jalan-jalan” di Twitter atau Facebook, karena kerumunan konsumen memang ada di situ. Di “jalan” tersebut Anda “menyapa”, “ngobrol”, lalu mengajak mereka “mampir” ke rumah Anda alias blog yang menjadi landing page. Dan jika kerumunan konsumen itu sering-sering diajak mampir ke “rumah” maka dengan sendirinya, blog Anda akan menjadi “rumah” bagi konsumen.

Ketika blog sudah menjadi “rumah” bagi konsumen, maka di situlah kedekatan, pertemanan, dan keintiman pelan-pelan bisa mulai terbangun; sampai pada suatu titik dimana si konsumen telah menjadi evangelist fanatik Anda. Di situ pula Anda bisa mulai menyusun program-program penjualan. “More sales are made with friendship than salesmanship,” kata Jeffrey Gitomer penulis buku fenomenal Sales Bible. Artinya, jualan yang paling gampang adalah jualan kepada teman. Ketika Anda dan konsumen telah terjalin pertemanan melalui blog, Facebook, atau Twitter, maka jualan Anda pasti akan sangat gampang.

Tak hanya itu, Anda juga akan punya “laskar penjualan” yaitu para evangelist yang siap menebarkan pesan-pesan positif produk kepada konsumen yang lain. Mereka akan menjadi kekuatan ampuh penjualan Anda, karena bisa jadi, satu evangelist memiliki pengaruh yang lebih powerful dibandingkan 1000 salesmen sekalipun.

10 comments

1 rina wati { 02.26.11 at 10:31 pm }

Mas Yuswo hady…sy bisa dikirimkan Presentasi yg di Telkom Bandung kemarin ya mas…value able, full inspiration n tentunya Passionate :) tks ya….Salam Always the best….:)

2 yenni { 02.26.11 at 11:10 pm }

Mas, saya pemula bisnis yg tidak baik, makanya usaha saya skrg kurang maju krn tidak ada perispan atw prinsip yg matang, bagaimna biar usaha say tetap lanjut meski awalnya tak ada konsep atw pemikiranya yg ma sjabarkan diatas, saya buka usaha laundry+cafe

Just do it mas, pokonya harus tahan banting and terus belajar; dan fleksibel merespons perubahan

3 Ezra Joza { 02.27.11 at 12:59 am }

Yes! Luar biasa! Ulasan bp sungguh berguna, memang sekarang socmed marupakan masyarakat virtual baru yang potensial didekati dengan lowcost marketing. Cocok sekali bagi pengembangan ukm tapi harus ukm yang minimal tidak gaptek. Kalo saya boleh usul bp bisa ga bahas soal tatanan masyarakat cyber di socmed ini kira2 apa nilai2 atau kode etik dalam proses marketing di socmed supaya org mjd evangelist dan apa yg membuat mereka annoyed/terganggu dgn cara marketing kita, makasih pak Yus, God Bless U

4 fitri { 02.27.11 at 3:08 am }

Bagus banget pak..

5 ariefwick { 02.27.11 at 7:05 am }

saya tertarik dgn tulisan mas,kapan2 kita bs sharing?terimakasih

Dengan senang hati

6 endah { 02.27.11 at 8:30 pm }

penampilan kemaren keren abis!
kalo boleh, saya juga mau dikirim presentasinya ya mas.
makasih..

7 ariseko { 02.27.11 at 11:39 pm }

Khabar baik mas. Sukses selalu yah mas. Mhon bantuan kiranya aku juga bisa dikirimi paparan acr di Bandung pekan lalu.
Suwun

8 djoened { 03.15.11 at 1:55 pm }

Boss, tulisan keren en bermanfaat. Ane minta izin nge-tag di portal ane yak.

klik di sini: http://www.tnol.co.id/id/index-myblog/8615-social-media-marketing-for-sme.html

Thx, salam,
djoened

9 Tiga Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis | New Wave Marketing - Marketeers { 07.04.11 at 12:25 am }

[...] untuk bisnis. Ini adalah salah satu referensi , khususnya untuk SME (Small Medium Enterprise): Social Media Marketing for SME. Bagaimana menurut Anda? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar [...]

10 Jhade { 07.05.11 at 12:31 pm }

Wow tulisan nya menarik bangat pak dan lengkap membahas mengenai sosial media nya.

Leave a Comment