E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

The Diamond #2 of Womanology > CARE: “She wants to be CARED and APPRECIATED. LISTEN to her! UNDERSTAND her!”

Wanita paling suka diperhatikan.
Wanita paling suka didengarkan.
Wanita paling suka dimengerti.
Dan tentu, wanita paling suka disayang.

Inilah resep klasik pria untuk menaklukkan hati wanita, yang tetap sahih berlaku bagi brand-brand yang ingin menarget woman market.

Setiap konsumen wanita akan merasa tersanjung jika sebuah brand mengetahui apa yang sedang ia rasakan dan apa yang ia inginkan. Karena itu satu hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap brand adalah mendengarkan: “pay attention to what women tell you. Ask open-ended questions and listen carefully to the answers.”

Menarik ungkapan John Gray masih di dalam bukunya Men Are from Mars, Women Are from Venus, “Men must listen to women without offering solutions but in order to understand what she is going through.” Seringkali wanita tak butuh persoalannya terpecahkan, yang penting ia didengarkan.

Tentu saja tak cukup Anda mendengarkan, setelah tahu apa yang dia mau maka Anda harus mampu mewujudkan aspirasi dan kemauannya melalui produk-produk yang Anda tawarkan. Inilah sesungguhnya wujud dari perhatian dan rasa cinta brand kepada mereka. Jadi, sesungguhnya produk-produk yang Anda tawarkan adalah refleksi dari perhatian dan rasa sayang Anda kepada mereka. “Your products and services are reflection of your care to her.”

Repotnya, wanita menginginkan Anda tahu apa maunya sedini mungkin. Anda harus memberikan produk-produk yang ia inginkan dan menjadi solusi persoalannya sebelum mereka memintanya.  “If she has to ask, it’s too late,” ujar Faith Popcorn, penulis buku Eveolution: The Eight Truths of Marketing to Women (2000). Anda harus mampu mengantisipasi dan memprediksi kemauannya sebelum mereka memintanya. Kalau itu  mampu Anda lakukan maka serta-merta Anda mengunci loyalitasnya, dan tak mungkin berpaling ke brand lain.

Kalau Anda ikuti kasus-kasus mengenai produk-produk unggul yang dihasilkan MTG maka Anda akan mendapati bahwa produk-produk itu lahir dari upaya terus-menerus mendengarkan suara hati wanita. “Saya terus dan selalu melakukan riset,” itu kalimat yang senantiasa dia katakan, yang tak lain adalah upayanya untuk terus-menerus mendengarkan suara hati wanita konsumennya.

Kisah mengenai lahirnya Tren Warna Sariayu Martha Tilaar pada tahun 1987 misalnya, secara pas menunjukkan ketajaman Martha Tilaar dalam mendengar suara hati wanita. Waktu itu dia datang ke Taman Hiburan Sriwedari, Solo, dan mendapati kondisi yang memprihatinkan. Ia mendengarkan keluhan ibu-ibu pemain wayang orang mengenai kosmetik yang mereka gunakan. Dari kejadian memilukan itulah, kemudian muncul ide Tren Warna Sariayu yang pertama yang diberi tema, “Senja di Sriwedari”.

Tren Warna Sariayu yang diadakan reguler setiap tahun merupakan refleksi dari “perhatian” dan “rasa kasih sayang” MTG kepada konsumen wanitanya karena melalui program tersebut MTG menunjukkan kepeduliannya untuk mengangkat tema-tema tata rias lokal yang sesuai dengan keinginan dan kemauan konsumen di masing-masing daerah yang dijadikan tema tata rias. Karena merasa aspirasinya diakomodasi, maka emotional connection pun terjalin, dan ini menjadi modal sangat berarti untuk mengunci loyalitas mereka.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment