E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

CROWD dan Horisontalisasi di Dunia Sastra

Kompas Minggu lalu (edisi Minggu, 11 Januari 2009) memuat sebuah artikel panjang 2 halaman di rubrik Urban ditulis oleh Ilham Khoiri dan Budi Suwarna bejudul; Sastra Pun Berdiaspora” yang menggelitik saya. Yang menarik dari artikel itu adalah pengamatan dari Kompas mengenai apa yang saya sebut “horisontalisasi dunia sastra”. Walauapun Kompas tidak menggunakan istilah tersebut namun fenomena yang ada di dalamnya persis sekali dengan fenomena “Horisontalisasi” yang saya gambarkan di buku saya CROWD “Marketing Becomes Horizontal”.

Tulisan itu dibuka dengan sebuah lead menggelitik sbb: “Lama sudah sastra menempati ruang sakral milik kalangan elite sastrawan yang menulis bak empu menempa keris. Ketika teknologi informasi kian canggih dan medan sosial makin terbuka, kini dunia penulisan mencair mengalami ‘booming’. Semua orang seperti keranjingan menulis, komunitas sastra bermunculan, buku-buku terbit, dan internet diramaikan pusisi atau cerpen.”

Paragraf pembuka ini mencoba memberikan gambaran bahwa kini tidak jamannya lagi mencipta sebuah puisi atau cerpen hanya dimonopoli oleh kalangan elite sastrawan tertentu (sastrawan sekaliber Rendra atau Sutardji Calzoum Bachri) yang nyentrik, penyendiri, perenung, dengan karya-karya ”di menara gading”. Kini puisi dan cerpen juga bisa diciptakan oleh anak-anak SMA, remaja-remaja gaul, buruh pabrik, ibu rumah tangga, anak jalanan, hingga pembantu rumah tangga.

Selamat datang ”era demokratisasi sastra”.
Selamat datang ”era horisontalisasi sastra”.

Bagaimana revolusi dunia sastra ini terjadi?
Masih menurut artikel tersebut, biangnya adalah media sosial yang memungkinkan siapaun kita bisa membicarakan, berdiskusi, membaca, dan menulis puisi. Media sosial itu bisa berupa komunitas-komunitas penggandrung sastra (contohnya di tulisan itu: Komunitas Bunga Matahari, Komunitas Lingkar Pena, dsb) juga media-media sosial seperti situs-situs Blogspot, Multiply, Worpress, Friendster, atau Facebook.

Dalam bahasa saya, para penggiat sastra itu membentuk “crowd” yang menjadi medium bagi mereka untuk belajar, bertukar pikiran, berdiskusi, dan akhirnya menghasilkan karya. Proses penciptaan karya sastra kini sudah tidak dilakukan secara sendiri-sendiri (merenung di pucuk gunung atau di pinggir pantai yang sepi) tapi melalui medium sosial seperti komunitas online atau situs jejaring sosial seperti Facebook untuk mengambil manfaat dari apa yang disebut sebagai “collective wisdom”. Ini yang namanya “crowdsourcing” di dunia kesusasteraan.

Karena dialog dan proses belajar di medium-medium sosial itu terbuka untuk siapapun, makanya tak heran jika kini siapapun bisa menjadi sastrawan, persis seperti bunyi motto dari Komunitas Bunga Matahari seperti di sebut di tulisan Kompas: “Semua Orang Bisa Berpuisi”.

Dunia kesusasteraan kita rupanya tak luput dari “Tsunami web 2.0”, yang menghasilkan wajah dunia sastra kita yang “horisontal”, yang “demokratis”.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment