E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

Laskar Pelangi, Laskar Franchisee

Di dalam novel dan film Laskar Pelangi, kita mengenal sosok-sosok guru dan murid hebat yang begitu gigih dan tegar menggapai cita-cita, berani mengambil jalan beda, dan kreatif dalam mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam dunia waralaba saya juga punya istilah ”Laskar Franchisee”. Seperti halnya Laskar Pelangi, Laskar Franchisee ini gigih dan tegar menggapai apa yang mereka cita-citakan, berani mengambil jalan beda tak sekedar ikut mainstream, dan kreatif abis dalam mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Mereka adalah (…sayangnya) sekelompok kecil franchisee yang lain dari yang lain. Mereka adalah franchisee yang masuk dalam ”club of excellence”. Seperti halnya Laskar Pelangi, mereka berani bermimpi besar, dan tak sebatas itu, mereka juga mampu mewujudkan mimpi-mimpi besar tersebut. Mereka mampu membesarkan franchise yang dipegangnya secara extraordinary sebagai buah dari kerja keras, inovasi, keberanian mengambil risiko, imajinasi, dan kengototan dalam menggapai visi yang sudah mereka gariskan.

Fabian Gelael adalah salah satu sosok ”anggota” dari Laskar Franchisee ini. Kenapa? Karena orang ini hebat. Sebagai franchisee merek global Kentcky Fried Chicken (KFC) Fabian punya cara nyleneh-kreatif-inovatif dalam membesarkan bisnis franchise-nya. Terobosannya ”out-of-the-box” sehingga sama sekali tak terpikirkan oleh satupun pemain di industrinya. Menariknya, karena idenya keterlaluan dan tak umum, si franchisor di Amerika tegas-tegas menentangnya. Tapi, seperti halnya anggota Laskar Pelangi, Fabian tak gapang gentar, tetap ngotot, dan ngeyel dengan ide gilanya. Kengototannya berbuah, ide yang belum pernah diterapkan oleh satupun gerai KFC di seluruh dunia itu pun diterima.

Ceritanya bermula ketika pamor KFC di Indonesia memudar di akhir tahun 1990-an oleh serangan membabi-buta McDonald’s yang memang waktu itu brand-nya lebih cool, lebih fresh, dan lebih menggigit di mata konsumen. Memang KFC datang ke Indonesia lebih dulu dengan gerai yang jauh lebih banyak, namun karena brand kurang terkelola secara baik KFC menjadi menua dan kehilangan rohnya.

Ide gila yang dijalankannya adalah membentuk perusahaan musik, sebuah label indie yang dijadikannya senjata pemasaran ampuh, yaitu Music Factory. Dari sini ia membesut program KFC Music Hit List dan meluncurkan album-album indie baik single maupun kompilasi. Karena gerai KFC bertebaran di seantero negeri, maka album-album itu diputar dan dijual di seluruh gerai KFC. Jadi di samping jualan ayam goreng, KFC juga jualan album Indie.

Tak hanya itu, Fabian juga me-repositioning konsep gerainya dari ”warung ayam goreng” menjadi ”kafe gaul” tempat anak muda nongkrong. Mau tahu? Lihatlah flagship-nya di KFC Kemang. Positioning ”kafe gaul tempat anak muda nongkrong” ini belakangan terbukti ampuh untuk membedakan diri dari positioning McD yang sudah terlanjur kokoh dipersepsi sebagai ”tempat kumpul keluarga bersama anak-anak.”

Kenapa Fabian mendirikan label indie? Karena ia bermimpi mencetak bintang yang akan menjadi duta, menjadi brand ambasador bagi KFC — Juliette, Antique, cs. Brand ambasador inilah yang kemudian dikelilingkan konser di SMA-SMA untuk membangun komunitas dan fanatisme pelanggan. Ambasador ini terbukti ampuh tak hanya dalam memperkuat ekuitas merek KFC tapi juga menghasilkan penjualan, karena di setiap konser KFC tak ketinggalan untuk jualan ayam goreng.

Anggota lain Laskar Franchisee adalah teman saya, Yoris Sebastian. Pada saat menjadi GM Hard Rock Cafe Yoris juga melakukan gebrakan-gebrakan nyleneh yang justru tidak dikenal di negeri asal franchisor-nya. Kalau Fabian adalah owner maka Yoris adalah profesional. Pada masa kepemimpinanya, Hard Rock Cafe diekstensi menjadi stasiun radio dan hotel di Bali yang sukses. Menariknya, konsep ekstensi ini sebelumnya tak dikenal di negeri asal franchise tersebut.

Anggota Laskar Franchisee memang belum banyak. Tahu sebabnya? Sebabnya kebanyakan franchisee kita mengambil jalan aman, konvensional, dan tak nyrempet-nyrempet risiko. Cukup berpangku-tangan, pasif kalau soal membangun merek. Ya, karena mereka berpikir membangun merek adalah jatah pekerjaan franchisor. Cukup mengikuti SOP yang dipatok franchisor tanpa pernah berpikir kreatif, inovatif, apalagi nyeleneh. Pokoknya business as usual. Menjadi robot yang dijalankan (melalui ”remote control”) oleh sang franchisor dari negeri seberang sono. Meyedihkan memang!!!

Pertanyaan penutup saya singkat saja:
”Siapa mau menyusul menjadi anggota baru Laskar Franshisee?”

14 comments

1 Tom Stanley { 10.17.08 at 7:45 am }

I was on Yahoo and found your blog. Read a few of your other posts. Good work. I am looking forward to reading more from you in the future.

Tom Stanley

2 yuswohady { 10.17.08 at 1:05 pm }

Tx. I will check your blog also soon.

Yuswohady

3 Edo su Edo { 10.18.08 at 12:58 am }

Hallo mas apakabar,kalo sudah ada laskar Franchise tentunya harus ada laskar franchisor-nya donk?ok bagaimana kalo mas berkunjung ke blog saya dan melihat konsep saya apakah konsep waralaba saya ini tergolong laskar franchise yang mas maksud dan kalo ga keberatan bisa ga untuk direview untuk menjadi testimoniKu ,aku tunggu ya mas
Salama Sahabat Selalu
Edo su Edo

4 yuswohady { 10.18.08 at 2:20 pm }

Off course, i ill check mas Edo. mudah-mudahan bisa kasih comments.

tx
yuswohady

5 Yodhia : Blog Strategi + Manajemen { 10.18.08 at 9:56 pm }

Blog kamu keren banget….also great contents….tinggal dipromosikan saja….

Semua marketer WAJIB membaca blog ini, wo….hahahaha.

6 anang { 10.23.08 at 5:31 am }

Kesuksesan selalu dimulai dari hal kecil dan sederhana, ga pernah ada ceritanya dari hal besar. Dan memang kuncinya, jump of the box.
Begitu banyak hal yang sebenarnya ‘luar biasa’ tapi dikerjakan dengan ‘tangan biasa’, so hasilnya jadi biasa-biasa aja. Lihat, Laskar Pelangi, ‘dimulai’ dari hal yang sangat sederhana. Itu cerita anak-anak yang bener-bener hidup dan riil. Ga ngoyoworo kaya sinetron, begitu istilah Mas Siwo. Kalau kemudian bisa jadi franchise, hal yang memang lumrah. Istilahnya tinggal nunggu waktu.
Good idea, Mas Siwo. Aku juga punya beberapa konsep marketing and human development, mungkin bisa kunjung ke blog aku. Bukan untuk popularitas, tapi menyebarkan idealisme. Lebih baik diasingkan, daripada hidup dalam kemunafikan. So, idealisme mesti harus ada jika kita ingin survive dan sustain. Gmana, Mas?

7 zahidayat { 01.25.09 at 8:40 am }

Mas… comment Tom Stanley itu cuma spam. Dia nyelonong begitu saja. Isi comment-nya memang aduhai… yaitu tadi biar dikunjungi oleh yg empunya blog.

8 febert { 02.28.09 at 10:44 am }

bapak hady…saya tertarik membaca tulisan bapak ini dan saya ingin menyalin tulisan bapak ini sebagai sumber informasi untuk komunitas saya…dengan tidak mengurangi sedikit pun apa yang telah bapak tulis dan saya yakin tulisan bapak ini sangat bermanfaat buat orang yang ingin memulai bisnis franchise…

regrads

febert frietz k

9 yuswohady { 02.28.09 at 5:14 pm }

Silahkan mas… semoga bermanfaat. tx

10 Aswin { 04.14.10 at 11:49 pm }

Hebat dan kren blognya mas!
Mas, saya minta tolong informasi orang yang memiliki tiga franchise (franchisee). Mohon dibantu ya Mas, kirim ke email saya saja. Terima kasih

11 yuswohady { 04.18.10 at 4:14 am }

Saya kenal Tri Raharja mas, dia Pemimpin Umum Majalah Info Franchise, mas Aswin langsung hubungi beliau saja, pasti banyak info, bilang aja dapat nomor HPnya dari saya ini no HP nya: 081311142970. Tx

12 DS Rachmat { 06.14.10 at 8:13 am }

Saya sedang mempertimbangkan membeli sebuah franchise kecil, untuk kemudian saya besarkan.

Any suggestion?

DS Rachmat

13 yuswohady { 06.14.10 at 8:56 pm }

Franchise yg diambil apa mas Rahmat? Sy skrg kebetulan sama mas Tri Raharja, Pemimpin Umum mjl Franchise, sdg mempersiapkan buku Marketing for Franchise Business, tapi masih riset n saya msh belajar karakteristik bisnis Franchise.

14 Agus Hadi Prayitno { 10.16.12 at 6:01 am }

Saya baru mencoba menjadi Fabian dari Indonesia Mas Yuswohady, dengan memulai usaha rumah makan D’Gejrot saya mencoba berkreasi dan berinovasi baik di produk maupun dipemasaran yang menurut saya sangat dibutuhkan tingkat kreativitas yang tinggi dan menjadi tantangan paling besar buat saya untuk dapat mengedukasi produk D’Gejrot yang sebagian konsumen sudah populer dengan kata gejrot yang diikuti dengan tahu gejrot padahal D’Gejrot itu sebuah brand untuk rumah makan yang diambil dari kata digejrot sebagai proses penyajian produk kami dan yang menjadi tantangan terbesar kami adalah bagaimana mengedukasi konsumen dan membangun brand awareness?
Makasih,

Leave a Comment